PETUALANGAN SABARUDIN

| |

Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia 17 Agustus 1945 tidak segera disambut dengan perubahan keadaan di Surabaya. Kekuasaan Balatentera Jepang masih terlihat begitu menakutkan. Rakyat Surabaya yang terlihat berjalan di jalan-jalan tengah kota masih seperti sedia kala, yaitu tidak bersemangat, tunduk karena ketakutan, dan tampak miskin akibat dijajah Jepang tiga setengah tahun. Datangnya orang-orang Belanda yang menyelundup ke Surabaya hampir bersamaan waktunya dengan dibebaskannya kaum interniran Belanda dari kamp-kamp tawanan, maka suasana Surabaya mulai panas karena terjadi saling mencurigai antara fihak pemuda dengan fihak Palang Merah International. Pemuda Surabaya baru saja melakukan serangkaian kegiatan memperingati sebulan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan menyelenggarakan rapat umum di Lapangan Pasarturi pada tanggal 17 September 1945. Pada saat itu ada provokasi baru tentang datangnya kelompok orang Sekutu yang pertama dari Mastiff Carbolic dibawah pimpinan Letnan Antonissen diterjunkan dengan parasut di Gunungsari Surabaya. Mastiff Carbolic Party merupakan salah satu dari sejumlah kelompok yang diorganisir oleh Anglo Dutch County Section (ADCS) angkatan 136. ADCS selama Perang Dunia II adalah organisasi spionase yang dikirim ke Sumatera, Malaya, dan Jawa secara rahasia. Setelah Jepang menyerah mereka diterjunkan antara lain di Jakarta dan Surabaya untuk menghimpun informasi tentang keadaan kamp-kamp tawanan dengan pihak RAPWI (Rehabilitation Allied Priseners of War and Internees = pemulangan tawanan perang asing dan interniran yang dibentuk oleh badan dunia pemenang perang).

Kisah selengkapnya silahkan klik disini

Posted by admin on Sunday, October 26th, 2008. Filed under Stories. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

2 Comments for “PETUALANGAN SABARUDIN”

  1. Pak Parto,semoga tambahan tulisan yang saya kirim dapat menambah nformasi tokoh controversial ini. Tambahan laina akan saya kirim. Dua hari yang lalu saya kirim tulisan saya “Universitas kelas Dunia”. Semoga telah diterima.
    Salam hormat,Bambang Hidayat.

  2. jarang saya bisa membaca referensi sejarah seperti ini, terutama mengenai sosok yang kontroversial di masa revolusi, yang pastinya tidak diceritakan dalam buku sejarah. saya dukung tulisan ini diterbitkan dalam bentuk buku

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*