<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suparto Brata Blog</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://supartobrata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 Feb 2013 09:32:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Edisi HUT 81 tahun Suparto Brata</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1038</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1038#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2013 09:32:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suparto Brata</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1038</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/02/hut-81.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1039" title="hut 81" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/02/hut-81-217x300.jpg" alt="" width="217" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1038</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanam Sebelas Ribu Pohon Masih Kurang</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1033</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1033#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2013 01:08:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suparto Brata</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1033</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/02/001.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1034" title="001" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/02/001-300x222.jpg" alt="" width="300" height="222" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1033</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TRAGEDI MENEBANG POHON DI SURABAYA</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1023</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1023#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2013 02:55:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suparto Brata</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1023</guid>
		<description><![CDATA[Sejak Walikota Surabaya Bambang DH bersemboyan Surabayaku Hijau, tahun 2007 saya menanam pohon duwet dari bijinya yang tumbuh, di tepi sungai Jl. Rungkut Asri Utara sisi selatan (seberang rumah Bapak Menteri Pendidikan Nasional M.Nuh), dan di berm sisi barat rumah Rungkut Asri Utara no. 2 Surabaya. Tepi sungai itu semula merupakan tempat pembuangan sampah, sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/02/4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1024" title="Tanam Juwet" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/02/4-300x228.jpg" alt="" width="300" height="228" /></a>Sejak Walikota Surabaya Bambang DH bersemboyan Surabayaku Hijau, tahun 2007 saya menanam pohon duwet dari bijinya yang tumbuh, di tepi sungai Jl. Rungkut Asri Utara sisi selatan (seberang rumah Bapak Menteri Pendidikan Nasional M.Nuh), dan di berm sisi barat rumah Rungkut Asri Utara no. 2 Surabaya. Tepi sungai itu semula merupakan tempat pembuangan sampah, sehingga waktu saya menanam tumbuhan biji duwet itu saya harus membersihkan sampah plastik yang mendominasi lahan. Saya gali hingga tanah asalnya terlihat, saya belikan pupuk kandang beberapa karung untuk menggantikan sampah plastik. Sedang rumah Rungkut Asri Utara no.2 merupakan rumah kontrakan, berganti-ganti para pengontraknya tidak merawat berm sekeliling rumahnya, hingga bermnya kumuh tumbuh rumput liar ilalang tak terpelihara, tak sedap dipandang mata tetangga seputar lingkungannya, termasuk rumah saya yang berjarak sekitar 200 meter. Untuk ditanami tumbuhan biji duwet di lahan berm tadi harus saya babat rumputnya, saya gali bermnya, ternyata dasar berm itu merupakan kuburan sisa bangunan rumah seperti pecahan keramik dan penggalan batu semen. Saya harus membongkari tanah berm itu, akar ilalang dan penggalan beton saya ganti pupuk kandang atau pupuk organik, agar tumbuhan biji duwetku tumbuh subur. Selanjutnya tumbuhan biji duwet tadi saya rawat, tiap sore setelah sholat asar saya sirami tak pernah jeda, meski rumahku terletak 200 meter dari situ.</p>
<p>Dari kecambah tumbuhan biji duwet, akhirnya tumbuh batang pohon duwet. Kian lama kian tinggi. Jumlah pohon duwet di pinggir sungai sebanyak 35 batang, di berm tetangga sebanyak 25 batang. Subur, karena selain saya sirami, saya rawat tumbuhnya, saya beri tambahan pupuk segala.</p>
<p>Ketika Mbak Veronica Myra Wijaya, mahasiswi aktif jurusan Desain Komunikasi Visual Universistas Krinten Petra Surabaya pada tahun 2009 mendapat tugas dari dosennya membranding seseorang untuk dijadikan objek karya latihan semesternya, dia memilih saya sebagai tokoh yang dibranding. Jadilah karyanya yang merupakan buku sangat lux penuh cetak gambar tatawarna dan kertas tebal mengkilap, diberi judul: SUPARTO BRATA Begawan Sastra Jawa. Selain menceritakan kehidupan saya dengan foto-foto dokumen hitam-putih saya sejak kecil hingga dewasa, juga dicantumkan foto-foto segala sesuatunya tentang saya waktu itu (2009), ya foto keluarga saya (anak, mantu, cucu, lengkap), sejumlah foto-foto halaman depan buku-buku karya saya, rumah saya, dan juga aktivitas saya MENANAM POHON DUWET yang waktu itu sudah berumur 2 tahun. Foto-foto karya Mbak Myra Wijaya ini semua tatawarna. Saya membawa ember mau menyiram pohon duwet, sedang menyiram pohon duwet di tepi kali Rungkut Asri Utara Surabaya, semua dipotret dan dicantumkan pada buku karya Veronica Myra Wijaya: SUPARTO BRATA Begawan Sastra Jawa, 2009.</p>
<p>Ketika di Surabaya diselenggarakan Lomba Kampung menanam 1000 pohon, juaranya sudah diumumkan,  ada yang kampungnya menjadi sangat rindang mendapat pujian. RW saya tidak ikut lomba. Namun diam-diam saya bangga, betapa pun dari 1000 pohon di RW saya, saya telah menyumbang 60 batang pohon duwet, yang tingginya sudah mencapai 2-3 bahkan 4 meter di kampung saya. Dan ditambah pohon buah lainnya (pohon mangga, srikaya, sawo kecik) yang juga saya tanam di lahan duwet saya. Meski belum serindang pohon kampung juara lomba menanam 1000 pohon. Dan tetap bersemangat merasa bangga, selama 2007 -2013 sejak tumbuh dari kecambah menjadi pohon-pohon tadi tiap sehabis sholat asar saya sirami, tiap batang satu ember air. Sudah berganti-ganti RW/RT dan para tetangga sama tahu kerja saya menyirami pohon-pohon saya itu. “Sudah besar, Pak, tidak usah disiram pasti hidup,” banyak tetangga yang menegur. “Sudah mendung, mau hujan, Pak, tidak usah disirami”, tegur yang lain. “Sore mundung, belum tentu hujan jatuh. Dan menyiram 60 batang pohon duwet begini termasuk seni olahraga saya, dan kecintaan saya seni menanam pohon,” jawab saya.</p>
<p>Sampai tanggal 24 Januari 2013, ketika musim hujan sudah tiba tetapi daerah Rungkut Asri belum turun hujan, saya masih berolah seni menyirami pohon-pohon saya itu. Saya sirami 60 ember air 60 batang pohon duwet di tepi sungai dan di berm tetangga yang jaraknya 200 meter dari rumah saya, bukan setelah sholat asar lagi, jadwalnya saya pindah pagi hari panas jam 10-12 siang sebelum sholat lohor, menghindari ramainya jalan sekitarnya. Sebab pada akhir-akhir ini lahan sekitar tanamanku duwet dipakai bermain sepakbola oleh warga (dewasa) kampung Rungkut Lor.</p>
<p>Setelah itu hujan deras jatuh di Rungkut Asri Utara. Saya tidak menyirami lagi tanamanku. Dan tidak saya tengok, karena rumah saya sendiri bocor, hari-hari hujan konsentrasi memperbaiki atap rumah yang bocor. Tapi pagi hari terang cuaca tanggal 28 Januari 2013 saya menengoki tanaman duwet saya, sangat terkejut, karena pohon duwet yang di berm, semua dipangkas pucuk pohonnya 1-2 meter, dan sebanyak 15 batang pohon yang tingginya sudah 3-4 meter, yang saya rawat seperti merawat bayi manusia selama 2007-2013, ditebang pada pokoknya, pasti mati.</p>
<p>Siapa yang menebangi saya tidak tahu. Tapi pasti bukan para tetangga, bukan penguasa RT/RW setempat, bukan pekerja pembuang sampah yang sering dimintai tolong untuk mempercantik taman rumah tetangga, karena mereka semua tahu benar saya telah merawat bayi tumbuhan duwet dengan susah payah sejak lama, sejak biji bayi tumbuhan duwet hingga kini waktunya berkembang.</p>
<p>Ini contoh mini tragedi penebangan hutan di Indonesia yang berlangsung di Surabaya. Untuk membesarkan tanaman pohon (hutan ataupun duwet) dibutuhkan waktu bertahun-tahun dan perawatan yang penuh kasih sayang, tapi untuk menebang pohon dibutuhkan waktu setengah hari, habis!</p>
<p>Suparto Brata, pecinta seni menanam pohon di Surabaya.</p>
<p>Jl. Rungkut Asri III/12, Perum. YKP RL-I-C 17 Surabaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1023</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GAGASAN</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1018</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1018#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2012 22:14:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suparto Brata</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1018</guid>
		<description><![CDATA[POHON KURMA BERBUAH DI SURABAYA Tanggal 24 November 2012 tetangga saya mengunduh buah kurma dari pohon yang tumbuh di berm depan rumahnya Jalan Rungkut Asri III Surabaya. Sayang sekali mereka tidak tahu caranya membumbui buah kurma yang masak tadi supaya bisa dimakan enak. Ternyata pohon kurma bisa tumbuh dan berbuah masak di Surabaya. Apakah pihak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>POHON KURMA BERBUAH DI SURABAYA</strong></p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/12/siram-001.jpg"><img class="size-medium wp-image-1019 alignleft" title="siram 001" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/12/siram-001-300x266.jpg" alt="" width="300" height="266" /></a>Tanggal 24 November 2012 tetangga saya mengunduh buah kurma dari pohon yang tumbuh di berm depan rumahnya Jalan Rungkut Asri III Surabaya. Sayang sekali mereka tidak tahu caranya membumbui buah kurma yang masak tadi supaya bisa dimakan enak. Ternyata pohon kurma bisa tumbuh dan berbuah masak di Surabaya.</p>
<p>Apakah pihak Dinas Pertanian, atau Dinas Petamanan atau pihak lain di Surabaya tidak ada yang ingin menanam lebih banyak lagi pohon kurma di Surabaya? Ya meskipun tidak berupa perkebunan kurma yang ditanam dengan tujuan berpanen buah kurmanya berkilo-kilo, namun tumbuhnya pohon kurma bisa untuk variasi jenis pepohonan di Surabaya sebagai hiasan kota. Misalnya ditanam berderet di tengah boulevard, tepi sungai, taman wisata. Waktu yang baik pertama menanam pohon 20 tahun yang lalu, waktu terbaik kedua menanam pohon hari ini.</p>
<p>Suparto Brata</p>
<p>Penggemar menanam pohon di Surabaya</p>
<p>Jalan Rungkut Asri Surabaya 60293</p>
<p>dimuat di Jawa Pos, Sabtu 8 Desember 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1018</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DIA TETAP DATANG DI KANTOR PALING PAGI</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1009</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1009#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Sep 2012 02:20:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suparto Brata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan Toto Sonata BADAN boleh menua, tapi jiwa tetap muda. Barangkali ungkapan ini terasa tepat untuk menggambarkan semangat Suparto Brata, 80, pengarang bereputasi nasional dari Surabaya, yang tetap produktif menulis hingga saat ini. Di usia senjanya, setiap hari dia mendisiplinkan dirinya untuk menulis, menulis dan menulis. Tentunya, diselingi dengan kegiatan membaca. Dalam perbincangan dengan Alur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tulisan Toto Sonata</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/09/Aku-dan-Bu-Walikota-001.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1011" title="Aku dan Bu Walikota 001" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/09/Aku-dan-Bu-Walikota-001-300x227.jpg" alt="suparto brata" width="300" height="227" /></a>BADAN boleh menua, tapi jiwa tetap muda. Barangkali ungkapan ini terasa tepat untuk menggambarkan semangat Suparto Brata, 80, pengarang bereputasi nasional dari Surabaya, yang tetap produktif menulis hingga saat ini. Di usia senjanya, setiap hari dia mendisiplinkan dirinya untuk menulis, menulis dan menulis. Tentunya, diselingi dengan kegiatan membaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perbincangan dengan Alur di rumahnya Rungkut Asri III/12 kompleks perumahan YKP RL-I-C 17 Surabaya, dia bercerita setiap hari mulai menulis jam 03.00 sampai jam 06.00 pagi. “Lalu baca-baca apa saja. Kalau mata sudah lelah membaca, jam 10.00 pagi, biasanya saya tertidur,” tuturnya tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Produktivitasnya dalam berkarya agaknya sulit dicari tandingannya di negeri ini. Dia mulai menulis di media massa sejak tahun 1951. Sejak saat itulah mengalir karya-karyanya, baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Tercatat, hingga saat ini, daftar karya yang dihasilkannya sebanyak 135 buku karya tulis. Baik berupa karya fiksi maupun nonfiksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sejumlah itu, hampir separuhnya berbahasa Jawa. Sedangkan karya-karyanya yang berbahasa Indonesia, telah dipublikasikan berbagai koran seperti <em>Kompas, Jawa Pos, Surabaya Post, Sinar Harapan, Indonesia Raya, </em>dan berbagai majalah seperti <em>Garuda, Aneka, Tanahair, Gelanggang Siasat, Kisah, Mimbar Indonesia, Roman, Indonesia, Sadar, Majalah sastra Horison </em>dan lain-lain. Dia menulis berita, feature, ulasan, artikel dan cerita fiksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Menulis bahasa Jawa sejak 1958, dimuat di <em>Panjebar Semangat, Mekar Sari, Jaya Baya, Djaka Lodhang, Jawa Anyar, Dharma Nyata. </em>Dharma Nyata kemudian bernama <em>Nyata</em> setelah pada tahun 1990-an di<em>-take over</em> grup <em>Jawa Pos, </em>dan berubah menjadi tabloid hiburan dan keluarga yang tetap terbit hingga kini.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir media massa cetak baik koran maupun majalah pernah memuat karyanya. Karena itulah, namanya begitu dikenal oleh kebanyakan pembaca. Baik tua maupun muda. Para pengarang dan penyair terkemuka Indonesia, di antaranya Goenawan Mohammad dan Sapardi Djoko Damono, mengenal Suparto Brata sejak mereka duduk di bangku SMA. Begitu juga Gubernur Jatim Soekarwo membaca karyanya sejak Pakde Karwo masih SMA. Ketika bertemu Gubernur Jatim dalam peringatan hari Pancasila di Balai Pemuda tahun 2011 lalu, Pakde Karwo untuk pertama kalinya bertemu dengan Suparto Brata sempat berkata bahwa beliau (Pakde Karwo) masih ingat membaca ceritanya yang dimuat bersambung di Majalah Panjebar Semangat  1963 berjudul <em>“Kadurakan Ing Kidul Dringu”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dia tak merasa dirinya sastrawan besar karena mendapat pujian orang nomor satu di Jatim itu. Ya, begitulah Suparto Brata: Sosok pribadi rendah hati, dan sejak lama dikenal tidak suka menonjolkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Patut Jadi Contoh</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika masih berdinas sebagai PNS di kantor Hubungan Masyarakat (HUMAS) Pemerintah Daerah Kodya Surabaya, dia lebih mengesankan sebagai pegawai biasa, meski banyak wartawan mengenalnya sebagai sosok yang luar biasa. Agaknya, itulah pilihan sikapnya: emoh dianggap terkenal, meski sesungguhnya  ~ diluar konteks kepegawaiannya ~ dia adalah pengarang terkenal, dan tergolong punya peran penting dalam khazanah sastra Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/09/Alur-Agustus-2012-001.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1013" title="Alur Agustus 2012 001" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/09/Alur-Agustus-2012-001-219x300.jpg" alt="suparto brata" width="219" height="300" /></a>Ketika masih menjadi abdi negara itulah, kinerja lelaki tua itu patut dijadikan contoh. Pagi-pagi sudah di kantor. Sampai suatu pagi Walikota Surabaya kala itu, Dokter Purnomo Kasidi, mengadakan sidak pagi-pagi jam 07.30 semua ruangan kantor masih banyak yang kosong, sampai di bagian HUMAS, melihat seorang pegawai dengan pakaian seragam dan eblek tanda pegawai, giat bekerja mengetik sendirian di sudut ruangan. Semangatnya luar biasa. Walikota yang diiringi para wartawan ketika sidak itu, antusias memberi pujian, menyuruh para wartawan memotretnya. Para wartawan hanya tersenyum. Ya, lelaki itu, siapa lagi kalau bukan Suparto Brata, memang tidak asing di kalangan wartawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Walikota itulah yang malah kurang mengenalnya. Walikota Surabaya silih berganti. Suparto Brata kurang dikenal oleh petingginya, sementara dia sebetulnya termasuk salah seorang pegawai yang menjalankan tugas kehumasan sejak lembaga itu dibentuk pertama kali di zaman Walikota Soekotjo pada tahun 1967. Bahkan, dia penulis teks pidato Walikota Soekotjo. Di tengah hiruk-pikuk pergantian walikota dan kepangkatan, Suparto Brata tetap berpangkat rendah.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, seperti pernah ditulis wartawan senior <em>Kompas, </em>Max Margono, pada masa awal lembaga kehumasan ini berjalan, dialah yang membuat rilis, memotret, dan memproses sendiri hasil <em>jepretannya.</em> Suparto Brata yang memberi contoh bagaimana para pegawai Humas yang baru caranya meliput berita pembangunan, caranya memotret, bahkan caranya membuat dokumen pembangunan atau sejarah kota Surabaya berupa buku tanpa menggunakan anggaran Humas. Karena itu sewaktu dia belum pensiun, banyak buku-buku sejarah maupun pembangunan Kota Surabaya dalam prosesnya didokumen menjadi buku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika lembaga humas makin maju, gedungnya baru, para sarjana masuk jadi pegawai, dia menjadi tertinggal.Termasuk tertinggal pangkat dan jabatannya. Ibaratnya, Suparto Brata “masuk kotak”. Dia tidak diberi tugas luar. Dia tidak terlibat dalam proyek-proyek yang mengucurkan uang. Dia tidak dapat kendaraan dinas seperti teman-temannya yang kariernya lebih meroket. Toh dia tetap setia. Dia tetap datang ke kantor paling pagi, meninggalkan kantor paling petang. Malah, tak jarang dia yang pagi hari membuka ruang kantornya, petang hari mengunci ruang kantornya.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah kenangan tentang Suparto Brata, semasa dia menjadi pegawai Pemda Surabaya (sekarang Pemkot Surabaya) di bagian Humas. Dia pensiun tahun 1988. Dengan demikian, dia memang tidak di tengah wartawan-wartawan lama, membuat rilis, dan semacamnya. Tidak lagi. Namun, ada yang tetap dikerjakannya, yakni mengetik, mengetik dan mengetik. Ketika kini penggunaan mesin ketik manual berubah ke komputer, Suparto pun menulis dengan komputer.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu pula dunia yang sebenarnya dari Suparto Brata. Dari sikapnya yang tidak ingin menonjol diri sejak menjadi pegawai Pemda Surabaya dulu ~ bahkan dia terbilang <em>clingus, </em>pemalu ~ Suparto Brata terus menggelontorkan karyanya ke tengah publik. Dia adalah pengarang produktif. Dia kamus berjalan sejarah kota Surabaya, namun lebih terkenal tulisan sejarahnya daripada sebagai narasumber wawancara atau seminar (karena tidak fasih bicara, <em>clingus</em>), hingga wajahnya jarang yang tahu, tidak dikenal publik. Berkat reputasi kepengarangannya, lelaki tua yang tetap energik ini namanya tercatat dalam buku <em>Five Thousand Personalities of the World Sixth Edition, </em>1998, terbitan The American Biographia Institute, Inc, 5126 Bur Oak Circle, P.O.Box 31226, Raleight, North Carolina 27622, USA.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain menulis buku fiksi dalam bahasa Jawa, dia juga menghasilkan karya tulis yang dikerjakan bersama tim, dan dengan riset. Beberapa di antaranya risalah <em>Hari Jadi Kota Surabaya </em>bersama Kolonel Laut Dokter Sugiyarto Tirtoatmojo. Tim riset dan penulisan buku atas prakarsa dan dibiayai oleh Pemda Tk. II Kotamadya Surabaya 1975.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku <em>Master Plan Surabaya 2000, </em>bersama Ir. Johan Silas. Tim diketuai oleh Kolonel Imam Sudrajat, dibiayai Pemda Tk. II Kotamadya Surabaya, 1976. Menulis buku <em>Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, </em>bersama Drs. Aminuddin Kasdi (sekarang Prof. DR) dan Drs Soedjijo. Tim diprakarsai dan dibiayai oleh Panitia Pelestarian Nilai-nilai Kepahlawanan 10 November 1945 di Surabaya, 1986, diketuai oleh Blegoh Soemarto (Ketua DPRD Tk.I Jawa Timur).</p>
<p style="text-align: justify;">Menulis <em>Sejarah Pers Jawa Timur, </em>bersama Drs.Moechtar, Drs.Anshari Thayib, Soemijatno, dan Drs.Issatriadi. Diprakarsai dan dibiayai oleh Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Jawa Timur, 1987.</p>
<p style="text-align: justify;">Menulis <em>Sejarah Panglima-panglima Brawijaya (1945-1990), </em>bersama Drs.Nurinwa, Drs.Wawan Setiawan (keduanya kini Doktor) dan Dr.Wuri Sudjatmiko. Dibiayai LIPI Jakarta dan Kodam Brawijaya, 1988.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa penghargaan yang diterimanya seperti mendapat Hadiah Gubernur Jawa Timur Sularso 1993, sebagai seniman pengarang tradisional. Mendapat Hadiah Rancage 2000 sebagai jasanya mengembangkan sastra dan bahasa Jawa. Mendapat Hadiah Rancage 2001, karena telah membuktikan kreativitasnya dalam sastra Jawa dengan terbitnya buku <em>Trèm </em>karangannya. Mendapat Hadiah Rancage 2005, karena terbitnya buku <em>Donyané Wong Culika.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Mendapat Hadiah Gubernur Jawa Timur Imam Utomo 2002, sebagai seniman Jawa Timur (bersama 100 orang seniman se Jawa Timur lainnya).</p>
<p style="text-align: justify;">Mendapat Hadiah dari Pusat Bahasa 2007 sebagai salah seorang dari tiga sastrawan Indonesia, dan ditunjuk sebagai penerima <em>The SEA Write Award 2007 </em>di Bangkok.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">SUPARTO BRATA lahir di Rumah Sakit Simpang Surabaya (kini rumah sakit itu sudah lenyap berganti jadi bangunan mal Plaza Surabaya), Sabtu Legi, 27 Februari 1932 (sama dengan kelahiran Elizabeth Taylor, seorang bintang film Hollywood yang cantik jelita). Namun, di ijazah dan KTP tertulis 16 Oktober 1932. Dia putra pasangan Raden Suratman Bratatenaya dengan Raden Ajeng Jembawati (keduanya dari Surakarta Hadiningrat).</p>
<p style="text-align: justify;">Sewaktu bersekolah di SMAK St.Louis Jalan Dr.Sutomo 7 Surabaya ~ tamat 1996 ~ dia sekelas dengan Ir.Johan Silas. Dia pernah bekerja sebagai pegawai kantor Telegrap (PTT), 1952-1960). Jadi, waktu bersekolah di SMAK St.Louis berstatus “sekolah sambil bekerja”.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu menjadi karyawan Perusahaan Dagang Negara Djaya Bhakti (1960-1967), sekantor dengan Eddy E.Samson, BA (kini pemerhati cagar budaya). Pernah menjadi wartawan <em>freelancer </em> di beberapa media cetak. Setelah pensiun dari Pemda Surabaya 1988, pernah direkrut Arswendo Atmowiloto/group Komas-Gramedia 1990, jadi pemimpin redaksi <em>Tabloid Praba, </em>tabloid bahasa Jawa di Jogyakarta. <em>Tabloid Praba </em>tidak dapat izin SIUPP dari Menteri Penerangan Harmoko, Suparto Brata pulang ke Surabaya. Lalu direkrut oleh Drs.N.Sakdani Solo untuk menjadi pemimpin redaksi <em>Tabloid Jawa Anyar </em>(group Jawa Pos) 1991-1992. Merasa sudah tua, sebagai kepala rumah tangga sudah selesai karena anak-anaknya sudah <em>mentas </em>semua, maka dia mengundurkan diri <em>Jawa Anyar</em>, mau bekerja bebas merdeka saja, tidak tergantung kepada siapa-siapa. Sejak itulah dia menjadi pengarang merdeka sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Suparto Brata menikah dengan Rara Ariyati, dan dikaruniai empat anak, masing-masing Tatit Merapi Brata, Teratai Ayuningtyas, Neo Semeru Brata dan Tenno Singgalang Brata. Keempat anaknya lulusan pendidikan tinggi, dan semuanya sudah berkeluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam acara memperingati 40 hari wafatnya Sang Isteri diselenggarakan pertemuan dengan para penulis di rumahnya, sekali gus memperbincangkan terbitnya buku karyanya, <em>Kremil, (</em>yang pernah dimuat secara bersambung di harian <em>Kompas), </em>Suparto Brata sempat bercerita tentang kehidupan rumahtangga bersama istri tercinta yang meninggal dunia di Surabaya pada 2 Juni 2002. Selama hidup berumahtangga bersama istri yang dinikahi pada 22 Mei 1962, yang diingatnya tidak pernah terjadi pertengkaran di dalam rumah tangga. Sekali pun itu cekcok kecil. Memang Suparto Brata tidak pernah cekcok dengan siapa pun juga, berbantah pun tidak, mendesakkan kemauannya pun hanya di tulisannya. “Dalam kesempatan ini, sudilah bapak atau ibu serta saudara-saudara yang mengenal istri saya, saya mohon maaf bila ada kesalahan baik disengaja atau tidak semasa hidupnya. Saya juga mohon doanya untuk istri saya,” ujarnya saat itu dalam bahasa Jawa halus, dengan mata berkaca-kaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Hadirin hanya bisa terdiam seperti tenggelam dalam momen yang mengharukan. Sekelumit cerita pengalaman hidup rumahtangganya, yang tak sekali pun terjadi cekcok pasutri itu, benar-benar amat langka sekaligus sungguh membanggakan. Dengan demikian, itu menunjukkan keberhasilannya dalam membina rumahtangga. Dan itu, kiranya patut dijadikan contoh.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Budaya Membaca dan Menulis</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Saya sudah tua. Tanggungjawab sebagai kepala keluarga sudah selesai. Namun masih Dianugerahi oleh Allah (1) sehat, (2) bebas memilih, mengerjakan apa saja yang saya anggap bermanfaat bebas, menolak pekerjaan dari siapapun juga bebas, (3) mampu membaca buku dan menulis buku. Tiga anugerah Allah ini saya anggap amanah, harus saya syukuri, saya ibadahkan, dan sekaligus jadi barkah saya. Karena amanah, maka sisa hidup saya ini paling banyak akan saya gunakan untuk membaca buku dan menulis buku,” ujar pengarang yang saat ini sedang dalam proses menulis buku tentang seorang pahlawan pejuang pada Revolusi Surabaya 1945, yaitu HR.Mohamad Mangoendiprodjo.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menuturkan, pengalaman hidupnya sejak awal merintis karier sebagai penulis hingga memiliki reputasi sebagai penulis terkenal seperti sekarang penuh liku-liku perjuangan. Dia mengaku, dari pekerjaannya menulis belum bisa dijadikan sebagai sumber mata pencaharian pokok. “Namun, bisa saya jadikan sport dan support segalanya dalam perjalanan hidup saya, baik jasmani, rohani, ekonomi, etika, intelektualitas, dan bidang lain kehidupan,” ujarnya sambil menambahkan, membaca buku dan menulis buku dipahaminya sebagai laku amanah, ibadah dan barokah.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, dia merasa amanah itu tetap diperjuangkan dengan mendorong terciptanya budaya membaca buku dan menulis buku. Perjuangan yang dianggap paling penting adalah mengubah kurikulum pendidikan nasional. Yaitu pelajaran membaca buku dan menulis buku menjadi tujuan dasar utama di sekolah dasar (kelas I SD) hingga sekolah menengah atas (kelas XII SMA). Artinya, di mana pun anak sekolah berhenti bersekolah, mereka sudah punya dasar berbudaya membaca buku. Apalagi lulus SMA, harus sudah punya budaya (kegemaran) membaca buku dan menulis buku. Sedangkan pelajaran lain, seperti matematika, IPS, bahasa, KB, Lalu-lintas dan lain-lain itu muatan ilmu. Bisa diajarkan atau tidak, boleh pilih-pilih menurut keinginan dan kemampuan murid. Tetapi membaca buku dan menulis buku, di sekolah jurusan apa pun, apa agama, tata boga, teknik, dokter, hukum harus menjadi budaya putera bangsa. Dalam sekolah agama, tidak diajari tata boga ya tidak apa-apa, tapi fasih membaca kitab suci harus; dan itu akan sulit kalau tidak sejak kelas I SD – kelas XIX SMP tidak diajari membaca buku bahasa dan huruf macam-macam. Dalam sekolah tata boga, tidak diajari pengetahuan teknik ya tidak apa-apa, tetapi membaca buku resep-resep masakan harus menjadi budayanya; dan membaca dan menulis buku resep itu akan lancar kalau sejak kelas I SD – kelas XIX SMP setidaknya sudah lancar membaca buku dan menulis buku. Untuk meneruskan study di teknik, tidak diajari tentang ilmu hewan ya tidak apa-apa, tetapi membaca buku teknik harus lancar. Pendeknya membaca buku dan menulis buku itu harus jadi dasar utama putera bangsa pada awal umur sekolah 12 tahun, sehingga membaca buku dan menulis buku itu menjadi budaya putra-puteri bangsa (seperti putera-puteri bangsa maju yang lain).</p>
<p style="text-align: justify;">“Sejak Kurikulum Pendidikan Nasional 1975, pelajaran Sastra dan Bahasa Indonesia digabung. Mempelajari bahasa Indonesia saja amat sulit (bisa dilihat dari hasil UNAS tiap tahun, bahasa Indonesia banyak yang angkanya jeblok), sehingga menghabiskan waktu. Dan pelajaran membaca sastra tidak sempat diajarkan di sekolah, waktunya habis untuk menerangkan pelajaran bahasa Indonesia. “Namun para selebritis ketika tampil di TV masih saja bilang <em>‘goa ditemenin bokap datang ke sini’,</em> meskipun bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak ada akhiran <em>in; </em>menandakan bahwa orang di TV itu gagal menyerap bahasa Indonesia selama sekolah 12 tahun di SD-SMA”, kata Suparto Brata memberi contoh betapa sulitnya mempelajari bahasa Indonesia di sekolah.<em> </em>“Mestinya sastera menjadi pelajaran tersendiri, ada sempat waktu mempelajari sastra, yang tidak lain terutama adalah membaca buku, membaca buku, membaca buku. Dengan begitu, para siswa akan terangsang kegemarannya membaca buku. Dari kegemaran membaca akan timbul keinginan untuk menulis,” papar Suparto Brata dalam wawancara dengan Alur di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurikulum pendidikan nasional kita 12 tahun awal sekolah sejak berlakunya kurikulum pendidikan nasional 1975 hingga sekarang tidak memperlembut karakter bangsa. Mungkin mencerdaskan bangsa karena matematikanya hebat, tetapi karakternya&#8230;. banyak yang menjadi curang, suka tawuran, gampang tersinggung, jadi konflik kekerasan. Itu akibat karena putera bangsa lulus SMA tidak punya budaya atau kegemaran membaca buku (sastera). “Jangankan siswa SMA, para sarjana lulusan SMA kurikulum pendidikan nasional 1975 sekarang pun susah payah membaca buku, apalagi menulis buku. Mereka yang mampu menulis buku dan gemar membaca buku, bukan karena hasil pendidikan sekolah di Indonesia dan/atau kurikulum Indonesia, tapi sekolah asing baik di Indonesia ataupun di luar negeri. Atau, orang Indonesia yang mampu menulis buku dan gemar membaca buku tadi adalah karena mereka bertemu dengan para penggemar baca buku (orangtua, guru, atau sahabat) secara pribadi atau belajar secara otodidak. Bukan hasil pendidikannya di SD sampai SMA. Apakah kurikulum pendidikan nasional kelas 1 SD sampai kelas 12 SMA (Kurikulum 1975) yang tidak membudayakan membaca dan menulis buku seperti ini akan kita lanjutkan begitu terus?” ujarnya lagi dengan nada menggugat kebijakan pendidikan nasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut dia, sekarang ini dengan pendidikan tidak membaca buku, maka kita hidup dalam budaya “melihat dan mendengar”. Ini hanya mengaktifkan panca indera saja, alias hidup kodrati, hidup menurut kodratnya. Melihat dan mendengar itu kodrat. Anak umur 3 tahun menonton TV sudah mengerti artinya. Untuk bisa hidup orang tidak hanya menggantungkan diri pada kodrat, tapi harus menempuh kesukaran. Untuk hidup menjadi sopir taksi, ya tidak bisa tiba-tiba bisa menyopir taksi, karena menyopir taksi bukan kodrat. Untuk bisa menyopir taksi, harus menempuh kesukaran, yaitu mengadakan latihan-latihan menyopir dulu. Begitu juga membaca buku dan menulis buku, bukan kodrat. Harus ada pelatihan. Kalau menyopir taksi dilatih satu bulan sudah mahir, kalau membaca buku dan menulis buku harus menjadi budaya, tidak bisa ditempuh hanya dalam 3-6 bulan seperti les matematika di bimbingan belajar. Pelatihan membaca buku dan menulis buku harus terus menerus sehingga menjadi budaya, yang tepat ya selama 12 tahun di sekolah. Semua orang pintar di seluruh dunia ini pasti membaca buku dan menulis buku. Tapi bangsa Indonesia yang kiat hidupnya berbudaya membaca buku dan menulis buku setelah berlakunya kurikulum 1975, tidak sampai 10%.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir semua kehidupan orang Indonesia hanya didasari kodratnya, terutama kemampuan  “melihat dan mendengar” saja. Pelatihan ketrampilan fisik ditempuh hanya sampai “bisa” atau mahir. Budaya membaca buku dan menulis buku yang selain pemberdayaan intelektual juga penghalus budi pekerti, tidak disertakan sebagai kiat kehidupan bangsa. Lalu, di mana dan bagaimana agar putera bangsa berkarakter baik, berbudaya membaca buku dan menulis buku? “Dimulai dari keluarga,” banyak yang bilang begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, tidak! Jangan dimulai dari keluarga. Sebab keluarga di Indonesia sekarang, Ibu-Bapak bekerja keluar rumah, yang di rumah pembantu. Kalau murid sekolah punya PR, dibawa di rumah, yang ikut mengerjakan PR ya pembantu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak. Bukan dari keluarga, tetapi di sekolah. Di sekolah pelajaran membaca buku dan menulis buku harus menjadi dasar pendidikan dan kebudayaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu cerita Suparto Brata dalam obrolannya dengan Alur di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika disinggung soal kurangnya penghargaan terhadap bangunan cagar budaya di Surabaya sebagai “dokumen kota”, kata dia, itu salah satu dampak akibat tidak membaca dan menulis buku. sehingga tidak ada kesadaran sejarah, dan pentingnya menjaga dokumen sejarah kotanya. <em>No document no history.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, dia mengajak untuk mengubah keadaan itu. Keadaan (yang sekarang) memang tidak bisa diubah, namun kita bisa dan sempat mengubah keadaan yang akan datang. Dimulai dari sekarang! Sekolah usia dini 12 tahun putra bangsa dididik massal, berbudaya membaca buku dan menulis buku, tiap hari tanpa jeda. Di sekolah. Bersekolah gunanya yang paling utama putera bangsa harus punya kiat hidup berbudaya membaca buku dan menulis buku. Diajarkan sebanyak mungkin berbagai tulisan dan berbagai bahasa sebanyak-banyaknya. Jangan hanya satu bahasa Indonesia dan tulisan ABC saja. Ajarkanlah di Aceh bahasa Indonesia, Aceh, Inggris, Arab, masing-masing dengan hurufnya. Ajarkanlah di Tanah Jawa bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Madura, Inggris, Cina, Jepang, masing-masing dengan hurufnya. Begitu pula di daerah lain, masing-masing dengan bahasa daerahnya juga. Kalau seperti sekarang, sejak TK sampai PT putera bangsa hanya diajari satu bahasa, bahasa Indonesia (amanat kurikulum 1975) maka jelas setelah dewasa bangsa Indonesia jadi orang yang bodoh. Mengajarkan membaca buku dan menulis buku berbagai bahasa dan huruf akan membawa bangsa kita pintar, dengan sendirinya memberantas kemiskinan dan kebodohan. “Membaca buku itu jalan mengubah takdir, dan menjadikan nurani lebih bijak,” ujar Suparto Brata.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Dikutip dan disesuaikan dari:</span> MAJALAH <strong>ALUR </strong>majalah seni dan budaya edisi 006 / juli-agustus 2012.</p>
<p style="text-align: justify;">Diterbitkan oleh <strong>Dewan Kesenian Surabaya</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1009</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KETERKAITAN HUMOR DAN SEJARAH</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1005</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1005#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2012 23:16:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suparto Brata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1005</guid>
		<description><![CDATA[Dari Surabaya Untuk Indonesia adalah motivasi hidupku setelah saya menjalani hidup sepanjang umurku ini di Surabaya. Dan kebetulan saya lahir di Surabaya. Surabaya Kota Pahlawan, memang tercipta dengan terjadinya perang kemerdekaan 10 November 1945 di Surabaya. Tanggal itu terjadi setelah Gubernur Jawa Timur pertama, RMTA Suryo menolak ultimatum Commander Alied Land-Forces East-Java Maj. Gen. E.C.Mansergh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/09/buku-sampul-galajapo-001.jpg"><img class="size-medium wp-image-1006 alignleft" title="buku sampul galajapo 001" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/09/buku-sampul-galajapo-001-208x300.jpg" alt="" width="208" height="300" /></a>Dari Surabaya Untuk Indonesia </strong>adalah motivasi hidupku setelah saya menjalani hidup sepanjang umurku ini di Surabaya. Dan kebetulan saya lahir di Surabaya. Surabaya Kota Pahlawan, memang tercipta dengan terjadinya perang kemerdekaan 10 November 1945 di Surabaya. Tanggal itu terjadi setelah Gubernur Jawa Timur pertama, RMTA Suryo menolak ultimatum Commander Alied Land-Forces East-Java Maj. Gen. E.C.Mansergh (pasukan Inggeris pemenang Perang Dunia II) agar Arek-arek Surabaya meletakkan senjatanya, menyerahkan kepada pasukan Inggris paling akhir tanggal 9 November 1945. Tetapi RMTA Suryo menjawab dalam pidato radionya di pemancar RRI Surabaya di Embong Malang, <em>“Lebih baik hancur daripada dijajah kembali!”.</em> Dan mengucapkan <em>“Selamat berjuang!” </em>kepada rakyat Indonesia di Surabaya waktu itu. Maka keesokan harinya, Kota Surabaya dihujani bom dan peluru dari darat, laut dan udara oleh pasukan Sekutu (Inggris). Pertempuran 10 November 1945 pun mulai.</p>
<p>Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah yang pertama kali rakyat negeri koloni yang telah terjajah bertahun-tahun memberontak dengan senjata perang modern untuk mencapai kemerdekaan dan berhasil. Pertempuran diawali dari Surabaya 10 November 1945, dan setelah perjuangan bersenjata selama lima tahun berakhir Indonesia merdeka 100% pada Desember 1949. Dan setelah itu pemberontakan bersenjata rakyat negeri-negeri koloni di Asia dan Afrika juga berjuang untuk mencapai kemerdekaannya, seolah-olah menirukan hasil perjuangan rakyat Indonesia yang dimulai dari Surabaya 10 November 1945. Pertempuran 10 November 1945 di Surabayalah awalnya. Apabila tidak terjadi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, mungkin sekali Indonesia dan negeri-negeri koloni di Asia dan Afrika tidak merdeka. Atau merdeka bukan dengan perjuangan bersenjata, melainkan karena mendapat hadiah dari Sang Kolonialis, negeri yang telah menjajahnya ratusan tahun lamanya. Dan Surabaya pun tidak disebut Kota Pahlawan.</p>
<p>Dari pengamatan dan pengalaman saya hidup panjang, bukan Gubernur Jawa Timur RMTA Suryo dengan generasinya saja yang berjuang dari Surabaya untuk Indonesia. Kota Surabaya memang sumbernya kepahlawanan dari Surabaya untuk Indonesia. Coba saya catat: <strong>Raden Wijaya </strong>mengusir tentara Tartar dari Surabaya. <strong>Sunan Ampel </strong>berjasa sebagai pelopor berkembangnya agama Islam pemula, sebagai Wali Sanga tertua. <strong>Dokter Soetomo </strong>pendiri Budi Utomo yang tercatat sebagai peristiwa Kebangkitan Nasional (1908) dan mendirikan partai politik Parindra (Partai Indonesia Raya) yang markasnya (dan makamnya) di Bubutan 87 Surabaya. <strong>Tjokroaminoto </strong>berjasa mendirikan Sarekat Dagang Islam yang kemudian menjadi partai politik Sarekat Islam 1929. <strong>WR Soepratman, </strong>pencipta lagu Indonesia Raya, meskipun bukan kelahiran Surabaya tapi makamnya jelas di Surabaya, pernah tinggal di Surabaya Jalan Mangga di Tambaksari. <strong>Bung Karno, </strong>yang konon kelahiran Kampung Pandean Surabaya dan pernah sekolah HBS (Kompleks SMAN Wijayakusuma) Surabaya<strong> </strong>memproklamasikan Indonesia Merdeka. <strong>Gubernur Mohammad Noer </strong>berjasa<strong> </strong>membuat <em>wong cilik  gumuyu.</em></p>
<p>Tidak pada zaman yang sama, dan juga tidak pada garapan yang sama tapi tetap serupa pada <em>Dari Surabaya Untuk Indonesia, </em>yang sudah tiada maupun yang sedang kuncup dan berkembang misalnya para pelantun lagu: <strong>Dara Puspita, Gombloh, Leo Kristi, Mus Mulyadi, Franky Sahilatua, Dewa, Padi, </strong>dan terbaru <strong>Klantink. </strong>Mereka juga tersohor <em>Dari Surabaya Untuk Indonesia. </em>Dari bidang lainnya, dari pentas ludruk, sandiwara, sastra, olehraga, masih banyak sekali yang bermotif <em>Dari Surabaya Untuk Indonesia. </em>Tak terkecuali dari bidang <strong>pelawak. </strong>Kota Surabaya sudah sangat terkenal gudangnya pelawak, baik dari pentas <strong>Srimulat, </strong>maupun ludruk. Menyebut ludruk orang Surabaya tentu tidak lupa menyebutkan <strong>Cak Kartolo </strong>bersama grupnya.</p>
<p>Itulah sebabnya saya menulis catatan di buku ini. <strong>HM Cheng Ho Djadi Galajapo, </strong>adalah seorang pelawak, yang semula muncul tahun 1980-an dengan karakter perorangan bernama Djadi, lalu ada ide dari wartawan Jawa Pos (Sam Abede Pareno) menggabungkan berkelompok dengan pelawak munculan baru juga: Priyo dan Lufti. Nama gabungannya jadi Galajapo, singkatan dari Gabungan Lawak Jawa Pos. Nama Gala juga sedang terinspirasi dari banyaknya kata gala yang beredar zaman itu seperti Galatama, Galarama, Galatawa. Ide yang membidani nama Galajapo dan getol mencarikan job grup pelawak baru Galajapo itu adalah Kris Maryono, wartawan RRI Surabaya.</p>
<p>Munculnya grup lawak Galajapo sebenarnya sudah zaman masa laluku. Saya sudah menghindar dari perkembangan riang-riuh masyarakat yang bersifat hiburan. Menjelang pensiun saya bersiap-siap lebih menekuni bidang penulisan sastra, selain untuk mempersiapkan diri tetap berkarya tekun pada bidang penulisan buku, juga berusaha tidak <em>nganggur </em>seolah hidup sudah selesai<em> </em>setelah pensiun. Saya sudah jauh dari mengamati perkembangan dunia hiburan, baik hiburan umum apalagi khusus dunia pelawak. Namun, selama saya hidup di Surabaya, betapa pun jauhnya perhatian saya, berita-berita “kemasyuran” pada zaman yang berlangsung, tentu masih juga tertangkap pada perhatian saya. Apalagi kemasyuran orang-orang Surabaya.</p>
<p>Meski dalam perhatian yang minim, saya dengar juga bahwa grup pelawak Galajapo, suatu nama baru, sering naik pentas dan cukup termasyur jadi pesaing job-job petilan tanggapan pelawak dari Srimulat. Mengapa jadi termasyur, karena caranya melawak memang beda daripada yang telah termasyur. Tampil beda, tetapi tetap berkualitas sama, akan merupakan penyegaran baru di dunia hiburan. Dan itu akan jadi pilihan utama untuk ditanggapi masyarakat.</p>
<p>Selanjutnya hiruk-pikuk politik berkembang membuat banyak aspek kehidupan masyarakat bermuram durja. Termasuk dunia pelawak yang tugasnya menghibur masyarakat, sulit berkembang. Grup-grup pelawak tetap mencoba eksis lewat pentas panggung maupun televisi, dan media suara radio, namun hasilnya tetap sulit seperti halnya aspek kehidupan lain misalnya tentang memasukkan sekolah para anak-anaknya, kesulitan mencari pekerjaan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Namun dari dunia yang berimpit-impit kesulitan tadi, dari bilik hati saya yang sudah menarik diri dari kericuhan masyarakat, saya masih mendengar gelak tertawa riang yang dipancarkan dari pelawak perorangan dengan nama panjang: HM Cheng Hoo Djadi Galajapo. Tidak hanya panjang namanya yang berbisik di telinga saya, tapi juga panjang kemasyurannya. Termasyur dari nama yang panjang dan terkesan beda. Baik nama Cheng Hoo (setahuku dalam sejarah itu nama Laksamana Cina yang membawa agama Islam ke Nusantara) maupun Galajapo yang sudah saya kenali menjelang saya pensiun, namun kemasyurannya sebagai mesin pembuat geli mengapa menjadi nama panjang seseorang? Itu saja sudah beda, dan menyangkut banyak hal. Kemudian nama itu dalam segala kesempatan yang sempit saya pergoki pada pentas dan media yang berbeda, dan tetap sebagai penyiar hiburan yang segar, cerdas, terpelajar, spontan, membimbing moral seperti berdahwah, menggairahkan dan mempesona kepada mereka yang mendengar dan menonton. Suara pancaran hiburan dari seorang HM Cheng Hoo Djadi Galajapo sering saya pergoki tak sengaja lewat siaran radio, televisi, sebagai MC pada acara orang mantu baik di desa maupun di kota besar, bahkan di acara-acara di Ibu Kota, sebagai pembawa acara pada seminar keilmuan, pada acara pemerintahan baik di lurah, camat, walikota, kapolda, gubernur, menteri sampai juragannya para menteri. Tiap kali kepergokan, terdengar riuh-rendah gelak tertawa para yang menyaksikan maupun yang mendengarkan. Pertanda bahwa pelawak atau pembawa acara yang namanya HM Cheng Hoo Djadi Galajapo itu kecerdasannya melawak bisa diterima oleh segala lapisan masyarakat, baik di desa maupun di Ibu Kota, baik masyarakat awam maupun para intelektual, baik muda maupun orang tua. Bahkan saya yang telah bersembunyi di kamar saya ukuran 5X4 meter setiap hari, juga tertembus namanya. Hebat sekali.</p>
<p>Dan ia orang Surabaya. Kemasyurannya melawak beredar dari Surabaya untuk Indonesia. Layaklah kemasyurannya membuat saya termotivasi mencatat dia menjadi “pahlawan”, tidak bedanya dengan Gubernur Muhammad Noer yang mampu membuat <em>wong cilik gumuyu. Dari Surabaya untuk Indonesia.</em></p>
<p>Motivasi pencatatan menjadi “pahlawan” <em>dari Surabaya untuk Indonesia </em>begini juga saya tawarkan kepada semua saja yang pernah dan sedang hidup di Surabaya. Mumpung belajar atau bertempattinggal di Surabaya, catatkanlah dirimu menjadi “pahlawan” <em>dari Surabaya untuk Indonesia. </em>“Pahlawan” tidak perlu berarti perang, atau hiruk-pikuk demonstrasi mencoba mengubah zaman secara radikal revolusioner atau tindak kekerasan yang lain. Jadi “pahlawan” juga tidak penting harus memangku jabatan mapan atau kaya; lebih penting kemasyuran positif yang bermanfaat bagi sesama umat. Seperti kata Einstein: <strong><em>“Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil, tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna”. </em></strong>Curahkan tenaga untuk berusaha keras jujur sabagaimana potensi bakat kemampuan diri untuk kepentingan masyarakat agar sejahtera makmur dan damai, itulah yang saya maknai dengan “pahlawan”. Dan, Kota Surabaya sudah terkenal sebagai Kota Pahlawan. Kepahlawanan bisa tumbuh subur di kota ini. Kapan saja, pada zaman apa saja dan bentuk sifat serta caranya bagaimana, terserah bakat, kemampuan, serta kejujuran suara hati nurani seseorang maupun kelompok. Di sinilah HM Cheng Hoo Djadi Galajapo saya tempatkan sebagai “pahlawan” <em>dari Surabaya untuk Indonesia. </em>Meski dalam suasana negeri dilanda hiruk-pikuk politik yang tokohnya cakar-cakaran saling ingin menang sendiri dan serba menyalahkan tindakan pesaingnya, HM Cheng Hoo Djadi Galajapo tetap menghibur, melawak secara cerdas, santun dan menuntun ke arah bijak kepada yang dihibur, tanpa merasa lelah. Pokok menghibur sehat kepada masyarakat itulah yang utama, jabatan dan kekayaan itu bukan tujuan. Itulah karmanya, tingkah laku budaya HM Cheng Hoo Djadi Galajapo yang berbisik menggelitik di telingaku. Maka kutulis catatan ini.</p>
<p>II.</p>
<p>Motivasi yang lain pada hidupku yang panjang ini adalah menerbitkan buku. Itulah sebabnya sekarang ini saya menulis catatan ini. Cerita tentang HM Cheng Hoo Djadi Galajapo diterbitkan jadi buku. Itulah juga motivasiku.</p>
<p>Dinasaurus mati punah beribu tahun yang lalu meninggalkan fosil. Dari fosilnya orang dapat meneliti bahwa dinasorus adalah binatang sebangsa reptil yang besar berkembang-biak dengan bertelur (ovovivipar).</p>
<p>Lagu <em>Tak Gendhong, Di Mana-mana </em>sangat populer dinyanyikan oleh Mbah Surip. Mbah Surip meninggal dunia belum tiga tahun yang lalu. Tetapi siapakah dia, lahir di mana, kapan, isterinya berapa, kita tidak tahu. Terlupakan.</p>
<p>Sajak bahasa Jawa: <em>Amenangi jaman edan/ Ewuh aya ing pambudi/ Melu edan nora keduman/ Yen tan melu anglakoni/ Boya keduman milik/ Kaliren wekasanipun/ Ndilalah kersaning Allah/ Begja-begjane kang lali/ Begja kang eling lamun waspada. </em>(Mengalami zaman gila, serba sulit dalam alam pikiran, ikut menjadi gila hati tak kuat, apabila tidak ikut tidak akan mendapatkan bagian, yang dapat berakhir dengan kelaparan. Namun, menurut takdir Tuhan, betapa pun bahagia orang yang lupa, lebih bahagia orang yang sadar dan waspada). Penggemar sastra Jawa sudah sangat mengerti bahwa sajak yang menekan filsafat hidup tadi karangan Ranggawarsita, yang telah meninggal 1874 (137 tahun yang lalu). Namun siapa Ranggawarsita sampai sekarang pun banyak para ahli sastra yang tahu, karena dia adalah pujangga Kraton Surakarta yang telah banyak menulis buku. Karena tulisannya diterbitkan jadi buku itulah sampai sekarang buku-buku Ranggawarsita masih banyak didiskusikan di Inggris, Prancis dan Belanda.</p>
<p>Meskipun lagu <em>Tak Gendhong Di Mana-mana </em>pernah populer, namun karena lelakon budayanya tidak ditulis jadi buku, baru meninggal beberapa tahun saja nama penciptanya maupun lagunya lenyap begitu saja. Hilang dari ranah sejarah. Tetapi Ranggawarsita, meskipun telah wafat seratus tahun lebih, namanya maupun karyanya tetap dibicarakan orang sampai sekarang, karena dia menulis buku dan bukunya diterbitkan. Jadi penerbitan buku adalah pelestarian karya budaya, atau seperti fosil pada dinasaurus. Dengan karya budaya diterbitkan menjadi buku, meskipun sudah mati ratusan tahun yang lalu, karya budaya tadi masih bisa diteliti bagaimana kejadiannya. Seperti kehidupan dinasaurus bisa diteliti dari fosilnya.</p>
<p>Peristiwa di dunia ini sudah berlangsung 21 abad, namun kalau tidak tercatat dan diterbitkan jadi buku tidak akan terdeteksi sejarahnya. Tetapi yang ditulis pada buku, akan terus diketahui oleh generasi manusia berabad berikutnya dengan cara membacai bukunya. Oleh karena itu saya menyebutkan <em>menerbitkan buku dan membaca buku itu kiat hidup modern. <strong>Dan mengubah takdir. Dengan banyak membaca buku hidupnya menjadi lebih baik, lebih bijak.</strong></em></p>
<p>Bagaimana kegiatan budaya pelawak HM Cheng Hoo Djadi Galajapo ditulis dan diterbitkan jadi buku, itulah apa yang saya motivasikan pada putera bangsa selama ini. Membaca buku dan menulis buku adalah kiat hidup modern, karena itu membaca buku dan menulis buku harus dibudayakan pada putera bangsa. Meskipun usia budaya membaca buku dan menulis buku sebagai kiat hidup modern itu sudah berawal dari 400-an tahun Sebelum Masehi, namun amat sayang bahwa putera bangsa Indonesia sampai abad ke-21 ini masih amat jarang yang harkat hidupnya berkiat membaca buku dan menulis buku. Sehingga peristiwa budaya atau sejarah yang penting seperti peristiwa 10 November 1945 di Surabaya tidak banyak pemuda Indonesia yang tahu rincinya karena tidak diterbitkan jadi buku. Dan putera bangsa tidak tahu peristiwa rincinya karena tidak punya budaya membaca buku. Sungguh sayang sekali.</p>
<p><strong><em>Orang pintar seluruh dunia ini pasti membaca buku dan menulis buku. </em></strong>Sedang bangsa Indonesia hingga sekarang, 90% kiat hidupnya tidak berbudaya membaca buku, apalagi menulis buku. Dan oleh karena banyak putera bangsa tidak berbudaya membaca buku, bangsa Indonesia boleh dikata bukan orang pandai, mungkin cerdas tetapi curang, dan tidak hidup dengan kiat modern. Itu bisa kita rasakan keadaan Indonesia sekarang. Tidak modern berarti kuna, primitif. Dan orang primitif tertinggal zaman, bodoh, miskin, tidak kreatif, tidak inovatif, sulit diatur, tidak berperadaban baik, serakah, korup. Buku itu jendela dunia, membaca buku itu bukan saja sama dengan melihat dunia, tetapi juga <strong><em>mengubah takdir. </em></strong>Kalau tidak membaca buku mungkin seseorang tertakdir menjadi dukun, kalau profesinya dengan cara membaca buku dia bisa menjadi dokter. Tidak membaca buku profesinya jadi tukang, dengan membaca buku takdir profesinya bisa diubah jadi insinyir. Sudah jadi guru selama 5 tahun, untuk meningkatkan posisinya menjadi dosen harus menempuh tesis S2 tidak mungkin si guru tidak berbudaya membaca buku dan menulis buku. Ya, pendeknya membaca buku dan menulis buku itu mengubah takdirnya (hidupnya) menjadi lebih baik.</p>
<p>Dengan ditulisnya dan diterbitkannya riwayat kemasyuran HM Cheng Hoo Djadi Galajapo, baik itu ditulis sendiri maupun oleh orang lain, riwayatnya pasti akan lebih tersiar lagi dengan membaca bukunya, dan karmanya juga akan lestari untuk dilacak dan ditelusuri. Ia sudah meninggalkan fosil. Dan sekali gus (dari pandanganku) dia sudah menempuh kiat hidup modern. Amal perbuatannya telah terabadikan atau <em>difosilkan</em> dalam dokumen buku, karma perbuatannya bisa menjadi keteladanan siapapun yang membaca bukunya.</p>
<p>Banyak contoh tokoh dan peristiwa yang dibukukan, meskipun yang menulis bukan sang tokoh, lalu buku itu jadi bacaan orang sedunia, dan tokoh serta peristiwanya jadi termasyur. Termasyur karena bukunya dibacai oleh banyak orang. Dan orang yang membaca bukunya jadi tahu kemasyuran tokoh tadi yang mungkin hidup si tokoh sudah berabad yang lalu. Maka orang yang membaca bukunya dan menyiarkan bukunya itu disebut sastrawi atau <strong>modern.</strong> Dan orang yang tidak berbudaya membaca buku, tidak tahu kemasyuran tokoh dalam buku, ketinggalan ilmu pengetahuan, disebut hidup kodrati, alias <strong>primitif.</strong></p>
<p>Socrates (470-399 SM) adalah tokoh yang paling banyak menyiarkan ilmunya dalam seluruh sejarah filsafat, sehingga dia merupakan salah seorang filosuf yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemikiran Eropa selama hampir 2500 tahun ini. Socrates banyak menyiarkan pemikiran filsafatnya hanya melalui pidato-pidatonya (bersuara, didengarkan, ditonton, seperti halnya kegiatan HM Cheng Hoo Djadi Galajapo). Juga ketika Socrates mengadakan pembelaan atas hukuman mati minum racun oleh pengadilan di Athena, hanya dipidatokan. Baik pemikiran filsafatnya maupun pidato pembelaannya, menjadi misi kemanusiaan yang tersebar di seluruh dunia hingga berabad-abad lamanya karena pidato-pidatonya tadi ditulis oleh Plato (murid Socrates) setelah kematian Socrates. Plato menuliskan pidato pembelaan Socrates pada buku <em>Apologi. </em>Di samping <em>Apologi </em>Plato juga melestarikan (ditulis jadi buku) seluruh karya utama Socrates yang dipidatokan di depan banyak orang kumpulan <em>Epistles </em>dan kira-kira 25 <em>Dialog </em>filsafat yang pernah didiskusikan dan dipidatokan Socrates. Kita bisa mendapatkan karya-karya ini berupa buku sekarang berkat tindakan Plato menuliskannya jadi buku yang bisa dibaca dan dipelajari sejak Plato mendirikan akademi (semacam sekolah zaman sekarang). Kalau  tidak jadi buku dan dibaca pada buku, apa manfaat filsafat Socrates yang diuraikan secara lisan demi untuk menata kehidupan manusia ~ kebenaran, etika, kebaikan dan kejahatan  ~ masa depan yang ideal? Lenyap seperti lagu <em>Tak Gendhong Di Mana-mana.</em> Muspra!</p>
<p>Pada misal ini, HM Cheng Hoo Djadi Galajapo semisal Socratges, sedang Arifin BH (penulis buku ini) menjadi Plato. Dan kita yang membaca bukunya, sebagai orang yang ingin mengubah takdir kita, kesejahteraan dan kebijaksanaan kita, agar menjadi lebih baik.</p>
<p>Baik Yesus, maupun Socrates adalah contoh yang penuh teka-teki, juga bagi rekan-rekan sezaman mereka. Tidak seorang pun di antara mereka menuliskan sendiri ajaran-ajarannya, maka terpaksa kita mempercayai gambaran aktivitas mereka pada buku yang ditulis oleh murid-murid mereka (Socrates dan Yesus). Tapi kita tahu bahwa Socrates maupun Yesus adalah jagoan dalam seni beraudensi maupun berdiskusi (seperti HM Cheng Hoo Djadi Galajapo di depan pendengar atau penontonnya). Mereka menentang kekuasaan masyarakat dengan mengecam segala bentuk ketidakadilan dan korupsi. Dan akhirnya, aktivitas-aktivitas mereka mengakibatkan mereka kehilangan nyawa (dihukum mati). Socrates dan Yesus tidak menuliskan sekalimat pun tentang ajaran-ajarannya. Plato menyelamatkan dan mengembangkan ajaran Socrates dengan cara menuliskannya jadi buku. Lucas, Mateus, Markus dan Johanes menyelamatkan mengabadikan, menyiarkan dengan mengembangkannya dengan menulis ajaran Yesus jadi Kitab Injil.</p>
<p>Begitu juga Muhammad. Juga tidak menulis sekalimat pun aktivitasnya. Agama Islam berhasil disiarkan dan banyak pemeluknya hingga pada masyarakat zaman sekarang lewat pembacaan Al-Qur’an yang ditulis dan dikumpulkan oleh Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit sejak umur 12 tahun menjadi “sekretaris” Rasulullah, menulis <em>wahyu </em>yang diterima oleh Rasulullah, namun berupa tulisan bait-bait Al-Qur’an yang masih berlepasan. Baru ketika Abu Bakar menjadi khalifah, tulisan-tulisan Al-Qur’an yang berserakan dikumpulkan dan disatukan. Zaid bin Tsabit yang diperintahkan oleh Abu Bakar yang menyetujui usul Umar bin Khattab, memimpin kodifikasi Al-Qur’an yang semula tulisan lepas-lepas berserakan itu.</p>
<p>Demikianlah beberapa contoh tentang penulisan buku, penerbitan buku, pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dibaca dari buku. Dengan penerbitan buku, dan kebudayaan membaca buku dan menulis buku sebagai kiat seseorang atau bangsa hidup modern, maka penerbitan buku <strong>“PELAWAK, PENUNTUN LAKU DI SEGALA WAKTU” </strong>ini semoga juga banyak yang membacanya, sebagai pertanda bahwa bangsa Indonesia ini juga berbudaya membaca buku, hidup sasterawi, modern dan tidak primitif.</p>
<p>Agar bangsa Indonesia hidup sasterawi, modern dan tidak primitif, marilah kita bersama <strong><em>memproduksi massal</em></strong> putera bangsa Indonesia berbudaya <strong><em>membaca buku (dan menulis buku). </em></strong>Dengan cara: <strong><em>Membaca buku dan menulis buku menjadi DASAR kurikulum awal sekolah putera bangsa selama 12 tahun, dari kelas I SD hingga kelas XII SMA. </em></strong>Membaca buku dan menulis buku diajarkan SETIAP HARI TANPA JEDA di sekolah (kelas I SD s/d kelas XII SMA). Saya ingat tulisan Multatuli (drama Saidah dan Adinda): <em>“Kita tidak berpesta panen padi di sawah, melainkan kita berpesta panen padi <strong>yang kita tanam </strong>di sawah”. </em>Inilah kegagalan kita memperbanyak buku diterbitkan, diperbanyak para pengarang, diperbanyak perpustakaan, dipermurah harga buku, namun buku tidak laku, tiap kali penerbit buku mengadakan <strong><em>obral </em></strong><em>buku murah, </em>perpustakaan <strong><em>kosong melompong. </em></strong>Karena niat-niat kita memperbanyak penerbitan buku, memperbanyak pengarang, memperbanyak perpustakaan agar putera bangsa membaca buku, (semua tahu dengan membaca buku putera bangsa menjadi pintar, berbudi-pekerti baik, tidak curang, tidak korup), dalam bahasa Multatuli seperti <strong><em>pesta panen padi di sawah, </em>TETAPI KITA LUPA <em>tidak menanam padi, kita tidak memproduksi massal putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku. </em></strong>Kita gagal memperbanyak pembaca/pembeli buku, karena hanya tiba-tiba putera bangsa kita sodori buku-buku (supaya membaca buku dan pintar). Maka sekali lagi saya usulkan: <strong>ubah kurikulum pendidikan nasional kita: <em>AWAL UMUR SEKOLAH 12 TAHUN DARI KELAS I SD SAMPAI KELAS XII SMA DIBUDAYAKAN MEMBACA BUKU MEMBACA BUKU MEMBACA BUKU DAN MENULIS BUKU. </em></strong>MEMBACA BUKU SEGALA BAHASA DAN SEGALA HURUF, jangan hanya SATU BAHASA, bahasa Indonesia. Sehingga nantinya lulus SMA, mereka berbudaya (gemar) membaca buku apa saja, bahasa apa saja, huruf apa saja. Pasti penerbitan buku Mizan atau Gramedia tidak sampai diobral meskipun menerbitkan buku 100 judul dalam setahun.</p>
<p>Akhirul-kalam, semoga penerbitan buku <strong>“PELAWAK, PENUNTUN LAKU DI SEGALA WAKTU” </strong>ini tidak hanya merekam, menyiarkan dan melestarikan aktivitas kepiawian HM Cheng Hoo Djadi Galajapo mengelola <strong><em>kegiatan seni budaya melawak menghibur masyarakat pada segala waktu dan tempat,</em></strong> melainkan juga mengajak para putera bangsa Indonesia untuk melaksanakan hidup sastrawi atau modern, dan tidak hidup kodrati primitif keterbelakangan mengikuti gerak zaman; yakni menimba ilmu pengetahuan dengan kiat membiasakan diri membaca buku, menulis buku dan menerbitkan buku.</p>
<p>Semoga demikian. Amin.</p>
<p>Surabaya, 7 Juli 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1005</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Korsakov</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1000</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1000#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Sep 2012 23:33:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suparto Brata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[Wina Bojonegoro Sebuah cerita adalah tapak kaki yang menempel pada semen basah. Ia melekat selamanya, pada jalan setapak yang kit lalui, hingg waktu memaksa kita mengambil seluruh kesempatan. Jalan setapak kehidupan yang kita tinggalkan untuk generasi di belakang kita. Di sinilah eksistensi kita dipertaruhkan: peperangan antara kejujuran, idealisme dan keindahan (Wina Bojonegoro). REFLEXI SUPARTO BRATA: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wina Bojonegoro</strong></p>
<p><strong><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/09/KORSAKOV-2012-001.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1001" title="KORSAKOV 2012 001" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/09/KORSAKOV-2012-001-202x300.jpg" alt="" width="202" height="300" /></a><br />
</strong></p>
<p><strong>Sebuah cerita adalah tapak kaki yang menempel pada semen basah. Ia melekat selamanya, pada jalan setapak yang kit lalui, hingg waktu memaksa kita mengambil seluruh kesempatan. Jalan setapak kehidupan yang kita tinggalkan untuk generasi di belakang kita. Di sinilah eksistensi kita dipertaruhkan: peperangan antara kejujuran, idealisme dan keindahan (Wina Bojonegoro).</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>REFLEXI SUPARTO BRATA:</p>
<p><em>Mbak, Sampeyan gak ngerti. </em>Sudah 10 tahun lebih saya tidak menulis cerpen. Membaca juga tidak. Seliweran di koran, <em>babahna.</em> <em>Ndadakna, Riyaya 1432 H </em>tidak dikirimi ketupat, dikirimi cerpen2. Minta testimony. Dikirim lewat email. <em>Emoh, Mbak. Wegah! </em>Email kututup, aku tidur. Gak bisa tidur. Ingat Kanigoro Blitar 2005, 2 malam di rumah Putu Parto. Cuma saling pandang. Terkesan nama dan wajah. Wajah cantik kemudian terbaur dengan cantik yang lain, hilang. Nama yang tidak mau hilang. Kucari lewat nama. Tapi lupa wajah. Meski tatapan wajah di Balai Pemuda 2010, ya tidak komit. Kubiarkan lepas, tanpa kesan. Baru pertemuan yang berulang kali aku paham. Bukan <em>Musashi. The Souls Moonlight Sonata </em>yang menyatakan jiwa pecinta dan cintanya! Saya tergagap bangun. Komputer kunyalakan. Kiriman “bukan ketupat” kubaca. Jam 3 subuh, memang waktuku menulis di komputer.</p>
<p>Kata-kata dirangkai. Jadi kalimat. Kalimat pendek. Bersambung, jadi berarti dan hidup. Tidak landai, tapi bergejolak. Cerita yang bergejolak karena pilihan kata, susunan kalimat, dialog dan alur yang tak terduga, tema yang nyleneh, tidak wajar. Menggelitik karena tidak wajar, setelah tamat dibaca jadi wajar. Kesan yang menyegarkan. Cerpen yang singkat tulisannya, tapi padat kata-kata berjiwa, jadi lelakon hidup penuh gejolak jiwa. Luar biasa! Saya ingat ketika masih remaja, menikmati karangan Marah Rusli, Ali Syahbana, Marari Siregar. Tiba-tiba membaca karangan Idrus dan Ananta Toer. Baru belajar menulis gurindam, tiba-tiba disodori Chairil Anwar. Terkesima. Terbelalak. Tergugah. Ada cara baru menulis sastera, mengungkapkan gelisah jiwa. Seperti itulah perasaanku jam 3 malam 7 Oktober 2011. Segera kurekam.</p>
<p>Tentang tidak wajar yang wajar, sebagai pengarang saya pernah pegang teguh cara berkisah seperti itu. Tulislah cerita yang wajar dengan cara yang tidak wajar, atau tulislah cerita yang tidak wajar dengan cara yang masuk akal (wajar). Namun, Mbak, kiriman cerpenmu lebih menggugah seleraku daripada menikmati ketupat riyaya kiriman perempuan cantik yang mana saja. Aku suka dan tergugah. Aku ingin berguru kepadamu menulis cerita seperti itu. Terutama dalam bahasa Jawa. Saya ingin juga para pengarang sastera Jawa tergugah jiwanya, sehingga sastera Jawa pun menjadi bacaan sastera dunia. Harus ada perubahan jiwa dan cara pandangnya. Cerpen Mbak kujadikan mata pelajaran. Mungkin saya terjemahkan. <em>Pareng nggih?</em></p>
<p>Sepuluh tahun lebih saya tidak baca cerpen, Mbak. Tapi kalau cerkak, saya masih baca dan karang. Kini mau berguru kepada Mbak. Tapi tulang-tulang penaku sudah seperti fosil. Apa masih bisa dibengkok-bengkokkan menjadi sesuai tulang-tulang Mbak Wina?</p>
<p>Mbak, aku baca cerita pendekmu <em>“Lelaki Asing yang Menemaniku Ngopi Malam Itu” </em>dari buku <em>Kumpulan Cerpen Pilihan KORSAKOV. </em>Perkenankan aku jadi lelaki asing yang menemanimu ngopi malam ini. Sumpah, aku tidak akan mengenal Nina temanmu kuliah dulu. Dan tidak mungkin akan menggandengnya. Tidak mungkin aku selingkuh.</p>
<p>Mbak, ini rekaman tulisan perasaanku. Bukan obat bius lelaki berbulu untukmu, dari cerpenmu <em>“Lelaki Berbulu”</em>. Mbak jangan terbius <em>nggih!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1000</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Hidup Jokowi Masa kecil</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=994</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=994#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Aug 2012 00:52:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suparto Brata</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=994</guid>
		<description><![CDATA[Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya. Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya.<br />
Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusiri tanpa rasa kemanusiaan, pedagang ketakutan untuk berdagang. Ia prihatin, ia merasa sedih kenapa kota tak ramah pada manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk dikumpulkan biaya sekolah, ia mandiri sejak kecil tak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu. Ia mengumpulkan uang receh demi receh dan ia celengi di tabungan ayam yang terbuat dari gerabah. Kadang ia juga mengojek payung, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, ia jadi kuli panggul. Sejak kecil ia tau bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi di sini ia menemukan sisi kegembiraannya.<br />
Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki. Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia gembira menjalani kehidupan itu, baginya “Luwih becik rengeng-rengeng dodol dawet, tinimbang numpak mercy mbrebes mili”. Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ia berangkat ke Yogyakarta, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, jurusan kehutanan. Ia pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana pemanfaatannya serta teknologinya. Di masa kuliah ia jalani dengan amat prihatin, karena tak ada biaya hidup yang cukup. Kuliahnya disambi dengan kerja sana sini untuk biaya makan, ia sampai lima kali indekost karena tak mampu membayar biaya kost dan mencari yang lebih murah.<br />
Setamat kuliah ia tetap menjadi tukang gergaji kayu, tapi ia sudah memiliki wawasan, ia melihat industri kayu berkembang pesat, ia mendalami mebel. Di sini ia pertaruhkan segalanya, rumah kecil satu-satunya milik bapaknya ia jaminkan ke Bank. Dan ia berhasil, ia bukan saja pengambil resiko yang cerdas, ia berhasil dari sebuah bengkel mebel dengan gedek di samping pasar yang kumuh berhasil dikembangkan. Ia menangis ketika pekerja-pekerjanya bisa makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu saat ia kedatangan orang Jerman bernama Micl Romaknan, orang Jerman ini kebetulan tidak membawa grader (ahli nilai) kayu, ia ngobrol dengan Jokowi, kata orang Jerman itu : “Wah, di Jepara saya ketemu orang namanya Joko, baiklah kamu kunamakan saja Djokowi, kan mirip Djokovich” akhirnya terciptalah sebuah nickname Jokowi yang melegenda itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan bisnisnya bagus, ia dipercaya kerena ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan pekerja keras, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja. Ia tak pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri. Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan kontainer dan ia berjalan-jalan di Eropa.<br />
Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura atau foto sana, foto sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya. Jokowi di Eropa berpikir reflektif. “Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap ruang gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan” lama ia merenung ini, akhirnya ia menemukan jawabannya “Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran”. Tiga cara itulah yang kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo.<br />
Setelah sukses di bisnis, Jokowi berpikir “Bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya” lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan seluruh rasa tanggung jawab. Pertanggung jawaban politiknya adalah pertanggungjawaban moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, ia ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih pada bangsanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia masuk ke dalam dunia politik, awalnya tidak dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun kidul tinimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan ‘bleger’ yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok kurus, ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung bagi Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu saja, mereka mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Jokowi menang tipis.<br />
Masyarakat mempercayainya dan ia menjawabnya dengan “Kerja” ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia datangi tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan, ia hadir pada selamatan-selamatan kecil, ia terus diundang bahkan untuk meresmikan pos ronda sebuah RW sekalipun. Ia bekerja dari akarnya sehingga ia mengerti anatomi masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari Jokowi didatangi Kepala Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada perintah pemberian senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak meja “Gila apa aku menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku sendiri…keluar kamu…!!” kepala Satpol PP itupun dipecat dan diganti dengan seorang perempuan, pesan Jokowi pada kepala Satpol PP perempuan itu “Kerjalah dengan bahasa cinta, karena itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah Jokowi membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta….”.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah di Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta. Tapi apa kata Jokowi “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan”</p>
<p style="text-align: justify;">Jokowi berangkat dalam alam paling realistisnya. Kepemimpinan yang realistis, bertanggungjawab dan kredibel. Beruntung Indonesia masih memiliki Jokowi, pada Jokowi : “Merah Putih ada harapan berkibar kembali dengan rasa hormat dan bermartabat sebagai bangsa.</p>
<p style="text-align: justify;">ANTON DH NUGRAHANTO</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=994</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Produk surabaya</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=956</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=956#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2012 09:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suparto Brata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=956</guid>
		<description><![CDATA[THIS IS THE BEST ,MOST ORIGINAL FWD OF THE YEAR !! : SURABAYA UBER ALLES ! SURABOYO NDIK NDUWUR ! REK AYO REK ! MLAKU MLAKU YG TUNJUNGAN&#8230;&#8230;..! &#8230;&#8230; produk teko suroboyo &#8230;&#8230;.. &#8221; Surabaya&#8230;., Oh Surabaya&#8230;.&#8221; .]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>THIS IS THE BEST ,MOST ORIGINAL  FWD OF THE YEAR  !!</p>
<p>:  SURABAYA UBER ALLES  !  SURABOYO NDIK NDUWUR !</p>
<p>   REK AYO REK !  MLAKU MLAKU YG TUNJUNGAN&#8230;&#8230;..!</p>
<p>    &#8230;&#8230;  produk teko suroboyo  &#8230;&#8230;..</p>
<p>    &#8221; Surabaya&#8230;., Oh Surabaya&#8230;.&#8221; .</p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0012.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-960" title="image0012" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0012-251x300.jpg" alt="" width="251" height="300" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image00212.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-963" title="image00212" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image00212-300x213.jpg" alt="" width="300" height="213" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image00418.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-967" title="image00418" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image00418-284x300.jpg" alt="" width="284" height="300" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0036.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-965" title="image0036" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0036-300x240.jpg" alt="" width="300" height="240" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0053.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-970" title="image0053" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0053-202x300.jpg" alt="" width="202" height="300" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0067.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-972" title="image0067" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0067-233x300.jpg" alt="" width="233" height="300" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0071.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-973" title="image0071" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0071-300x157.jpg" alt="" width="300" height="157" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image00813.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-975" title="image00813" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image00813-227x300.jpg" alt="" width="227" height="300" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image00914.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-976" title="image00914" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image00914-250x300.jpg" alt="" width="250" height="300" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image01017.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-978" title="image01017" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image01017-231x300.jpg" alt="" width="231" height="300" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image01115.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-980" title="image01115" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image01115-300x282.jpg" alt="" width="300" height="282" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image012101.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image012101-264x300.jpg" alt="" title="image01210" width="264" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-982" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0138.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0138-233x300.jpg" alt="" title="image0138" width="233" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-984" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image01519.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image01519-300x234.jpg" alt="" title="image01519" width="300" height="234" class="aligncenter size-medium wp-image-985" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image01611.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image01611-300x160.jpg" alt="" title="image01611" width="300" height="160" class="aligncenter size-medium wp-image-987" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0179.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0179-232x300.jpg" alt="" title="image0179" width="232" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-988" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0184.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image0184-252x300.jpg" alt="" title="image0184" width="252" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-990" /></a></p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image01953.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-958" title="image0195" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/image01953-280x300.jpg" alt="" width="280" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=956</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanggapan Wisata Petjinan</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=943</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=943#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2012 06:38:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suparto Brata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=943</guid>
		<description><![CDATA[Foto Suparto Brata, baju putih berdiri nomer 4 dari kanan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/pecinan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-947" title="pecinan" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/pecinan-213x300.jpg" alt="" width="213" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/530041_10150950918092400_793950143_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-946" title="530041_10150950918092400_793950143_n" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/530041_10150950918092400_793950143_n-300x225.jpg" alt="Masjid ChengHoo" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Foto Suparto Brata, baju putih berdiri nomer 4 dari kanan.</p>
<p style="text-align: center;">
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/makamtjoa1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-945" title="makamtjoa" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/makamtjoa1-300x224.jpg" alt="makam tjoa" width="300" height="224" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=943</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
