Menulis Buku Untuk Apa?

| |

Menulis cerita dan diterbitkan jadi buku adalah kerja intelektual. Tanpa berbudaya membaca buku dan menulis buku seseorang tidak pantas disebut intelek, terpelajar ataupun ilmuwan.

Orang menulis cerita dan diterbitkan jadi buku pasti ada niatan (berambisi):

  1. Bukunya dibaca oleh orang lain.
  2. Namanya menjadi terkenal.
  3. Mendapat keuntungan finansial.

Untuk tercapainya ke tiga niatan itu, pengarang cerita harus menyebarkan bukunya sebanyak mungkin, dan banyak berpromosi tentang bukunya. Memperbanyak karya tulisannya berawal dari mengirimkan naskah agar diterbitkan oleh Penerbit profesional komersial, pengarang tinggal menunggu royaltinya. Hal ini sangat umum dilaksanakan oleh tiap pengarang cerita untuk diterbitkan jadi buku. Kalau tidak satupun Penerbit profesional komersial mau menerbitkan naskahnya, bisa pengarang mencetak bukunya lewat penerbitan buku atau pencetakan buku, dengan syarat penyebaran dan penjualan buku terbitannya itu ditanggung sendiri oleh pengarang. Berarti pengarang harus membeayai sendiri produksi penerbitan bukunya, serta menjualnya. Sangat penting untuk memperoleh hak cipta (Copyright), maka dalam penerbitan bukunya sebaiknya terdaftar memperoleh pengayoman internasional ISBN dan Katalog Dalam Terbitan (KDT) Perpusnas RI. Pendaftaran ISBN maupun KDT bisa dilakukan perorangan, maupun oleh pencetak buku atau penerbit buku. Dengan diperolehnya Copyright, maka kapan pun buku itu diterbitkan ulang oleh siapa pun, pengarangnya harus mendapat royalty. Kalau tidak, pencetak atau penerbit ulang disebut membajak, melanggar hukum intelektual.

Namun ada pengarang atau penulis buku yang paling penting adalah bukunya dibaca orang lain, terutama orang lain yang disasar atau ditebak agar membaca karangannya, menerbitkan buku tidak usah pakai terdaftar di ISBN maupun KDT. Buku seperti itu biasanya buku propaganda, iklan, katalog atau brosur. Sebagai contoh, buku berjudul: Orang-orang Yang Berlawan, karangan Wilson terbitan Opressiabook; Copyleft: Buku ini dapat diperbanyak tanpa seijin penulis. Tidak memerlukan Copyright.

Untuk niatan (1) agar buku dibaca oleh orang lain: buku bisa diberikan begitu saja kepada orang lain tanpa dibeli, maka rugi finansial (keuntungan finansial tidak tercapai). Promosi bisa ditempuh dengan pasang iklan, penyelenggaraan bedah buku, banyak berdiskusi tentang bukunya, mengirimkan ke teman atau kenalan, ke redaksi penerbit majalah/suratkabar, yang diharapkan bukunya bisa diresensi. Kalau soal tulisannya agar bisa dibaca oleh orang lain pada zaman ini ada yang lebih praktis, yaitu ditulis pada akun website atau facebook. Tapi kita sekarang bicara soal Menulis Buku Untuk Apa?

Untuk niatan (2) agar nama pengarang menjadi terkenal: isi buku harus istimewa menarik, dibutuhkan pengarang yang benar-benar berbakat menulis cerita. Bentuk buku diusahakan harus menarik, termasuk gambar samak depan dan endrosmen samak luar belakang. Untuk isi yang istimewa pengarang harus betul-betul tepat menebak keinginan orang membaca bukunya. Antara lain isi cerita buku harus (1) sangat mirip dengan buku yang sangat populer, (2) sangat beda dengan buku cerita yang lain, (3) ceritanya inovatif, (4) pengarangnya produktif. Imajinasi pengarang buku ceritanya ditujukan kepada: (a) orang kuasa, (b) orang kaya, (c) orang pintar, (d) orang muda. Untuk menjadi terkenal seorang pengarang belum tentu dengan sendirinya harkat kepengarangannya bisa digunakan untuk pembeayaan hidupnya. Belum tentu pengarang menjadi kaya raya. Tidak semua penciptaan orang yang menjadikan dia terkenal membuat penciptanya memetik hasil ciptaannya bisa untuk hidup.

Untuk niatan (3) agar penerbitan bukunya bisa membuat si pengarang kayaraya: diupayakan penerbitan bukunya bisa terjual banyak-banyak. Untuk itu segala cara bisa ditempuh. Misalnya terjadi pada tahun 1970-1985 di mana ada buku Impres untuk sekolah dasar. Pengarang buku cerita kanak-kanak yang bukunya per judul dibeli oleh Pemerintah sebanyak 80.000 exp untuk disebarkan di seluruh sekolah dasar di Indonesia, pengarangnya tiap judul buku mendapat uang jutaan rupiah. Pada tahun-tahun belakangan tidak ada lagi buku Inpres. Waktu itu bukan pengarang pun bisa menjadi pengarang dadakan, asal bisa menerbitkan buku cerita, yang naskahnya di-acc oleh dewan juri buku Inpres. Hasil produksi buku Inpres selama 15 tahun itu sekarang di mana? Sama sekali tidak ada bekasnya. Baik bekas bukunya, maupun putra bangsa yang berbudaya membaca buku lewat membaca buku di perpustakaan sekolah dasar, di mana buku Inpres digelar pada tiap sekolah dasar. Mengapa begitu? Karena yang diperbanyak produksinya dengan dana Inpres hanya buku. Sedang murid sekolah tidak diajari berbudaya membaca buku. Jadi sekian buku hasil Inpres selama 15 tahun dulu itu hasilnya kosong melompong.

Kini baik pemerintah, pihak swasta, penerbit buku maupun para pengarang buku pada cenderung meningkatkan produksi buku. Dengan produksi buku diperbanyak, perpustakaan diperbanyak agar dekat dengan orang sekitarnya, toko buku diperbanyak dan memberi diskon lumayan besar agar harga buku terjangkau oleh peminat baca buku, dan banyak kelompok masyarakat mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan pembacaan buku maupun menulis buku. Bahkan Menteri pun mulai Agustus 2012 nanti memberi sanksi siapapun calon sarjana harus sudah menulis karya ilmiah yang disebarkan ke masyarakat. Calon sarjana diharuskan biasa menulis karangan ilmiah. Tapi, putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku tidak diproduksi, tidak ikut diperbanyak, maka usaha memproduksi buku tadi agar bukunya banyak dibaca oleh masyarakat tidak akan mencapai hasil yang diinginkan. Karena memproduksi massal putra bangsa membaca buku dan menulis buku tidak dilakukan di negeri ini, maka memperbanyak produksi buku dan usaha lain pendekatan buku kepada masyarakat dengan harapan putra bangsa juga membeli dan membaca buku, tidak akan berhasil maksimal. Sebab putera bangsa memang tidak punya kebiasaan membaca buku dan menulis buku.

Membaca buku dan menulis buku itu harus dibudayakan. Untuk membudayakan, tidak mungkin hanya diserahkan pada kegiatan kelompok masyarakat mengadakan kursus gemar membaca buku dan menulis buku. Ya, kalau matematika atau ilmu sosial yang mau diujikan pada UNAS, agar bisa lulus UNAS bisa lewat bimbingan belajar selama 3 bulan. (Lalu apa gunanya bersekolah 3 tahun di SMA?). Tapi kalau berbudaya membaca buku maupun menulis buku, tidak mungkin kita produksi massal lewat bimbingan belajar selama 3 bulan bahkan selama 1 tahun. Misalnya bisa lewat bimbingan belajar satu tahun putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku, apakah kita akan memproduksi massal putera bangsa lewat bimbingan belajar saja? Lalu apa gunanya bersekolah selama 12 tahun? Belajar membaca buku dan menulis buku, bisa diajarkan selama 3 bulan atau 1 tahun. Tetapi membudayakan membaca buku dan menulis buku, sarananya adalah bersekolah selama 12 tahun usia dini. Itulah mengapa negara di seluruh dunia ini mendirikan rumah sekolah yang kurun waktu belajarnya selama 12 tahun. Gunanya yang utama agar putera manusia punya budaya membaca buku dan menulis buku.

Jadi kalau hanya buku dan perbukuan yang diperbanyak, diproduksi maupun didekatkan kepada masyarakatnya, tetapi putera bangsa tidak diproduksi massal membaca buku dan menulis buku di sekolah selama 12 tahun usia dini, maka peristiwa buku Inpres 1970-1985 yang dibeayai oleh UNESCO akan berulang lagi. Penghamburan dana dan tahun-tahun ajaran yang sia-sia. Tolong diingat peristiwa itu!

Kalau hanya buku yang diproduksi banyak-banyak, disodor-sodorkan kepada masyarakat, tetapi Pemerintah TIDAK memproduksi massal putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku, ya selama negara Indonesia merdeka warga negaranya akan tetap menjadi bodoh, bukan ilmuwan ataupun orang terpelajar. Sebab orang yang disebut ilmuwan masa kini, pasti berbudaya membaca buku dan menulis buku. Orang pintar seluruh dunia ini, pasti membaca buku dan menulis buku. Kalau rakyat Indonesia tidak membaca buku dan menulis buku, ya bukan orang pintar pada zaman ini.

Kita ambil contoh di Jepang. Untuk menjadi orang terpelajar harus berbudaya membaca buku dan menulis buku. Membaca buku dan menulis buku bahasa Jepang, hurufnya kanji. Hampir tiap kata bahasa Jepang punya huruf kanji sendiri. Kalau kata bahasa Jepang banyaknya ada 2000, tulisannya juga 2000 huruf kanji. Kalau belajar 12 tahun sekolah usia dini tidak diajari membaca dan menulis huruf kanji, apa setelah lulus UNAS dan menjadi mahasiswa langsung bisa hafal 2000 huruf kanji dan lalu bisa membaca buku dan menulis buku? Tidak mungkin. Jadi huruf kanji yang banyaknya 2000 itu harus diangsur diajarkan selama bersekolah 12 tahun itu. Padahal bersekolah 12 tahun di Indonesia sekarang ini (sejak berlakunya kurikulum pendidikan nasional 1975) tidak dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Lulus SMA putera Indonesia membaca buku 0 buku (penelitian Dr.Taufik Ismail 1996). Jadi kalau bersekolah 12 tahun Indonesia ini mulai tahun 2012 diterapkan di Jepang, di sekolah tidak diangsur diajari membaca dan menulis huruf kanji, maka setelah 10 tahun berjalan (2012-2022) orang Jepang lulus SMA juga membaca 0 buku, dan goblognya juga seperti bangsa Indonesia saat ini (karena tidak berbudaya membaca buku huruf kanji dan menulis buku huruf kanji)..

Zaman sekarang usaha penerbitan buku bisa dijual kepada kawan, handai taulan, pejabat atasannya, dijual kepada muridnya, pokok harga buku dipenuhi (buku dibeli). Tapi cara ini memang untuk memenuhi niatan 3, agar penerbitan buku tidak merugi finansial saja. Penerbitan buku tidak merugi, namun mungkin tidak memenuhi niatan 1, yaitu pembeli buku (pejabat, murid-murid) tidak membaca bukunya. Mereka membeli buku karena kenal dengan pengarang, atau memang ada sistem memaksa pembelian buku karangan pengarang.

PRODUKSI BUKU TIDAK BERBANDING LURUS DENGAN PRODUKSI PEMBACA

Hambatan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang terpelajar adalah karena sebagian besar putera bangsa Indonesia tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku.

Para penggemar atau mereka yang berbudaya membaca buku dan menulis buku pada umumnya bukanlah hasil pendidikan sekolah Indonesia. Gemar membaca buku bukan karena di sekolah Indonesia dididik berbudaya membaca buku dan menulis buku. Mereka kemudian hari menjadi penggemar membaca buku dan juga berbudaya menulis buku karena dalam lintas hidupnya mereka mengalami pertemuan dengan para penggemar buku (misalnya gurunya, atau orangtuanya). Jadi gemar membaca buku karena pengaruh pergaulan mereka. Siapapun putera bangsa Indonesia yang sekarang ini suka pergi ke perpustakaan, suka pergi ke toko buku dan membeli buku, suka hadir pada acara bedah buku, pasti mereka sudah tahu gunanya buku, sudah punya wawasan bahwa buku itu sangat berguna untuk memperluas keilmuannya. Tapi berapa jumlah mereka yang suka pergi ke toko buku dan membeli buku, serta membaca buku, dibanding dengan masyarakat yang tidak pernah pergi ke toko buku, tidak pernah membeli buku, tidak pernah membaca buku? Lebih dari 90% bangsa Indonesia tidak berbudaya membaca buku dan menulis buku. Sebagian besar bangsa Indonesia bisa hidup puas bukan sebagai orang terpelajar, mengandalkan hidup dengan melihat dan mendengar dan berlatih menggunakan alat, maka itulah yang menjadi nafkah pencahariannya. Kakek saya seorang petani, bisa menanam padi dan menuai padi dengan baik, karena melihat dan mendengar cara menanam padi sawah para tetangganya, kakek saya menjadi petani yang berhasil. Ada tetangga belajar menyopir selama satu bulan, melihat dan mendengar bagaimana cara-cara mengemudikan mobil, maka tetangga tadi mata pencahariannya menjadi sopir angkot. Ada teman suka melihat sepakbola, maka dengan mengandalkan penglihatannya dan pendengarannya dia berlatih sepak bola, akhirnya dia bisa hidup dengan sepak bola. Kakek saya, tetangga saya, teman saya, bisa hidup tanpa kegiatan membaca buku dan menulis buku. Mereka bukan orang-orang terpelajar. Tetapi untuk menjadi sasterawan, untuk menjadi dosen, untuk menjadi dokter atau hakim atau insinyir, dapatkah orang hanya pergi ke kampus melihat dan mendengarkan dosen mengajar, lalu pulang, dan ke kampus lagi terus begitu selama 9 tahun tanpa membaca buku dan menulis-nulis bisa menjadi sasterawan, dosen, dokter, hakim atau insinyir? Tidak mungkin. Sasterawan atau ahli sastera, dosen, dokter, hakim, insinyir itu orang terpelajar. Kiat hidupnya harus membaca buku dan menulis buku. Maka untuk menjadikan mereka orang terpelajar, haruslah pada sekolah usia dini selama 12 tahun selagi bocah dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Tidak usah diajari matematika secara mendalam di sekolah, asal berbudaya membaca buku dan menulis buku, orang bisa menjadi sasterawan, ahli sastera, dosen, insinyir dan lain-lain. Pandai matematika, tetapi tidak berbudaya membaca buku dan menulis buku, tidak mungkin jadi sasterawan, dosen, dokter, insinyir dan lain-lain pekerjaan orang terpelajar.

Sebagian besar bangsa Indonesia saat ini bisa hidup tanpa membaca buku dan menulis buku. Dan tidak masalah disebut bukan orang intelek, bukan terpelajar, bukan ilmuwan. Sedang pengarang dan penerbit buku yang ingin bukunya dibaca oleh orang lain, pada memproduksi buku sebanyak-banyaknya agar ambisi mencapai 3 niatan itu terlaksana. Pihak penyelenggara negara pun ingin warga negaranya terpelajar. Produksi buku pun sangat disokong, difasilitasi, dibeayai oleh negara. Maka, hasilnya produksi buku berhamburan mubajir banyak sekali, tapi sulit laku alias tidak sampai ke tangan pembacanya. Mengapa? Sebab produksi buku tidak berbanding lurus dengan produksi pembaca buku. Produksi buku dengan segala caranya, disebar-edarkan sebanyak mungkin dan seluas mingkin, dijual semurah mungkin, bahkan dibagikan secara gratis, diperbanyak perpustakaan, namun tujuan utama orang Indonesia memproduksi buku tidak tercapai. Sebab orang Indonesia rata-rata bukan orang terpelajar. Bisa hidup tanpa membaca buku. Bahkan meskipun sudah sarjana, mungkin masih susah membaca buku apalagi menulis buku. Mengapa begitu?

Karena kurikulum pendidikan nasional Indonesia tidak membudayakan putra bangsa membaca buku dan menulis buku secara massal selama bersekolah 12 tahun usia dini. Putera bangsa Indonesia tidak diproduksi secara massal membaca buku dan menulis buku. Itulah kurikulum pendidikan nasional Indonesia sejak tahun 1975 hingga sekarang. Tidak mencerdaskan bangsa! Tidak menjadikan warga negara Indonesia terpelajar!

Oleh karena itu, marilah kurikulum pendidikan nasional ini kita ubah. Menyongsong generasi emas 100 tahun NKRI, marilah selama bersekolah 12 tahun usia dini putera bangsa Indonesia harus diproduksi massal berbudaya membaca buku dan menulis buku. Tiap hari selama sekolah 12 tahun usia dini putra bangsa Indonesia harus diajari membaca buku, membaca buku, membaca buku, membaca buku, terus saja. Tiap hari berbagai buku diajarkan dibaca di sekolah. Tidak hanya buku bahasa Indonesia, tetapi juga dibudayakan membaca buku cerita berbagai bahasa dan berbagai macam tulisan. Dengan begitu lulus SMA putra bangsa gemar membaca buku, menulis buku dan pandai bertutur dan bertulis berbagai huruf dan bahasa, tidak hanya satu bahasa Indonesia saja, tapi juga bahasa ibu, bahasa daerah, bahasa asing sebanyak-banyaknya, tulisan hanacaraka, katakana, latin, arab, paku dan sebagainya dikuasai.

Dengan keterpelajaran mereka lalu mereka juga membeli buku, dibaca, menambah ilmu, jadi pintar. Orang pintar seluruh dunia ini pasti membaca buku dan menulis buku. Kamu? Anakmu? Sarjana kita? Ya harus jadi orang pintar alias terpelajar.

Mari kita produksi buku-buku, mari juga kita produksi massal putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku. Membaca buku dan menulis buku harus menjadi kiat hidup generasi emas bangsa Indonesia. Tanpa memproduksi pembaca buku dan penulis buku, generasi 100 tahun NKRI akan menjadi bangsa Indonesia seperti sekarang ini. Banyak orang curang, tidak jujur, korupsi, anarkitis. Indonesia menjadi Donyané Wong Culika, “The State of Treacherous People”.

Memproduksi massal putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku pada kurun waktu 12 tahun bersekolah usia dini, itulah usaha kita agar putera bangsa Indonesia bisa menjadi terpelajar, intelek, tidak bodoh, tidak malas, tidak miskin, tidak konsumtip, tidak curang, jujur, banyak kreatif, inovatif, moral dan karakter baik. Mari kita perjuangkan, kurikulum utama bersekolah 12 tahun usia dini adalah membudayakan putera bangsa membaca buku dan menulis buku, membaca dan menulis buku segala bahasa dan berbagai tulisan, bahasa daerah, bahasa asing, tulisan apa saja, tidak hanya satu bahasa Indonesia saja. Taal is macht. Banyak menguasai bahasa itu adalah kesaktian.

Suparto Brata, email: sbrata@yahoo.com www.supartobrata.com telp.(031)8702759

Posted by admin on Wednesday, May 9th, 2012. Filed under Artikel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*