CULTURE SHOCK PADA TOKOH DARWAN DALAM NOVEL MENCARI SARANG ANGIN KARYA SUPARTO BRATA

| |

Oleh: Dheny Jatmiko

1.      Latar Belakang

Sastra sebagai sebuah karya imaji yang dipandang lebih menenkan sisi fiksionalitas, sebenarnya menyimpan beragam persoalan yang dekat dengan kehidupan manusia. Karya sastra merupakan sebuah dokumen yang sangat berharga. Sebab karya sastra hadir dari interpretasi terhadap realitas yang ada. Realitas dibaca oleh pengarang dan diinterpretasi lalu dibentuk dalam dunia yang lain dalam sebuah karya. Maka untuk mengungkap isi dari karya sastra diperlukan kecermatan dan ketepatan memaknai tanda-tanda yang hadir.

Karya sastra merupakan entitas budaya yang mana di dalamnya juga membicarakan persoalan-persoalan budaya. Karya sastra selalu membentuk sebuah ruang yang mana unsur-unsur dalam karya sastra merupakan tanda-tanda yang mempresentasikan kebudayaan tersebut. Sebagai contoh, ketika karya sastra menggunakan ruang A, maka unsur-unsur yang lain seperti tokoh dan penokohan akan membentuk satu unity kebudayaan A. Pembentukan tersebut dapat dilakukan dengan membentuk tokoh-tokoh yang mencerminkan kebudayan ruang tersebut atau menghadirkan tokoh dengan kebudayaan lain yang dijadikan untuk membaca atau menarik garis hubungan antarbudaya.

Sehubungan dengan hal di atas, novel Mencari Sarang Angin karya Supato Brata menggunakan Surabaya sebagai latar penciptaan novelnya. Lebih dari itu, novel tersebut mempresentaikan persoalan benturan budaya di dalam tokohnya. Pertemuan antara budaya keraton Surakarta dengan budaya Surabaya menyebabkan adanya benturan budaya pada tokohnya. Benturan budaya mengakibatkan terjadinya culture shock pada tokoh tersebut, sebagaimana yang dialami tokoh Darwan.

Untuk litu, tulisan ini akan membahas tentang wujud culture shock yang ada dalam novel Mencari Sarang Angin. Pembahasan ini dengan sendirinya juga akan membahas entitas budaya Surabaya dan budaya keraton Surakarta.

2.      Landasan Teori

2.1.   Interkulturalisme

Berbeda dengan multikultural yang lebih menekankan pada perbedaan budaya tetapi memandang dalam derajat yang sama, interkultural justru beroperasi dengan saling bergantian antara sikap yang membedakan dan proses berfikir yang merekonstruksi universalitas. Multikultural memberikan penghargaan terhadap perbedaan serta memandang suatu keberagaman sebagai suatu kewajaran sehingga konflik yang dilatrarbelakangi perbedaan kebudayaan dapat tekan. Artinya sisi perbedaan yang ditonjolkan. Sedangkan interkultural pada satu sisi menyadari bahwa terdapat perbedaan antara budaya satu dengan budaya lain, tetapi bukan perbedaan tersebut yang ditonjolkan, melainkan relasi (hubungan) yang mengkonstruksi satu kesatuan dengan mencari persamaan-persamaan antara budaya satu dengan budaya lain.

Menurut Leonard Hammer (2004:9), pendekatan interkultural mengakui peran yang luas dalam hubungan sosial budaya. Tidak seperti multikulturalisme di mana gagasan budaya terkait dengan otonomi pribadi atau untuk klaim universalisme konteks yang berbeda, interkulturalisme mengakui pentingnya pemahaman yang luas dari budaya yang berkaitan dengan identitas dan komposisi pribadi individu dan hubungan ke masyarakat yang lebih besar. Interkultural dapat diartikan sebagai pemahaman bahwa persepsi diri dan sosial menentukan cara melihat dan menempatkan kebudayaan lain dalam kebudayaan sendiri.

Interkultural menekankan proses dan interaksi yang bersatu dan menentukan individu dan kelompok dalam suatu relasi antara satu dengan lainnya. Relasi antarbudaya merupakan penekanan dalam perspektif interkultur. Lebih jauh, perspektif interkultu mengambil pemikiran dari Balandier (1985) bahwa pengetahuan bukan dipahami melalui karakteristik, tetapi melalui fenomena budaya dan proses: akulturasi, assimilasi, identitas, hibriditas, dll. (Abdallah-Pretceille, 2006:476)

2.2. Culture Shock

Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Kalervo Oberg (1958) untuk menyatakan apa yang disebutnya sebagai suatu penyakit jabatan dari orang-orang yang tiba-tiba dipindahkan ke dalam suatu kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaannya sendiri. Semacam penyakit mental yang tidak disadari oleh korbannya.[1]

Culture shock biasanya dipicu oleh rasa kecemasan sebagai akibat dari kehilangan semua tanda-tanda akrab seorang atau sekelompok orang, dan simbol-simbol hubungan sosial. Tanda-tanda atau isyarat-isyarat dan berbagai cara  yang dapat dilakukan seorang atau sekelompok orang tersebut dalam mengorientasikan diri pada situasi kehidupan sehari-hari. Ketika seorang individu memasuki suatu kebudayaan asing, semua atau sebagian besar isyarat dikenalnya ini dihapus.[2]

Apa yang kita katakan sebagai identitas sosial (subjektivitas seorang individu) di atas, berbenturan dengan identitas sosial yang lain. Simbol-simbol atau tanda-tanda yang terkandung dalam sebuah esensi kebudayaan suatu kelompok masyarakat—yang dapat dimaknai melalui tanda selera, kepercayaan, sikap dan gaya hidup—, harus dihilangkan oleh simbol-simbol kebudayaan lain.

Konsep identitas—seperti yang sudah diutarakan di atas—terkait erat dan secara virtual tak dapat dipisahkan dengan subjektivitas. Maka, setiap individu sangat berbeda dalam tingkat kejutan budaya yang mempengaruhi mereka. Ada beberapa tahap yang membentuk terjadinya siklus culture shock, di antaranya yaitu;

  1. Tahap inkubasi, atau biasa disebut juga tahap bulan madu. Pada tahapan ini seorang individu merasa tertarik akan pengalaman barunya tinggal di lingkungan dengan kondisi sosio-kultural yang berbeda dengan tempat asalnya. Hal ini dapat terjadi selama beberapa hari, minggu atau bahkan hingga enam bulan. Sepulang dari tempat tersebut, mungkin ia akan menulis atau bercerita tentang pengalaman pertamanya di tempat tersebut kepada orang lain.
  2. Tahap krisis. Pada tahapan ini ditandai dengan adanya suatu perasaan dan sikap menolak, bermusuhan dan agresif terhadap sosio-kultural tempat tersebut. Sikap antipati atau permusuhan ini timbul dari kesulitan yang dialami seorang individu dalam proses penyesuaian dengan lingkungan barunya.
  3. Tahap kesembuhan. Pada tahapan ini, seorang individu berhasil mendapatkan pengetahuan tentang bahasa dan kehidupan sosial lingkungan barunya. Meskipun masih mengalami beberapa kesulitan, tetapi kini ia mulai membuka jalan ke lingkungan budaya yang baru.
  4. Tahap penyesuaian diri. Pada tahap ini seorang indivudu sudah menerima kebiasaan sosio-kultural yang baru itu sebagai cara lain untuk hidup. Seorang individu bersosialisasi dengan lingkungan barunya tanpa rasa kecemasan meskipun sesekali terjadi ketegangan. Dalam tahapan ini, seorang individu tidak hanya menerima makanan, minuman, kebiasaan, dan adat istiadat tetapi sebenarnya mulai menikmatinya.[3]

Penyesuaian diri antar budaya dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor intern dan faktor ekstern. Fakotr intern, menurut Brislin (1981), ialah faktor watak (traits) dan kecakapan (skills). Watak adalah segala tabiat yang membentuk keseluruhan kepribadian seseorang. Kecakapan atau skills menyangkut segala sesuatu yang dapat dipelajari mengenai lingkungan budaya yang akan dimasuki, seperti bahasa, adat-istiadat, tata krama, keadaan geografi, keadaan ekonomi, situasi politik dan sebagainya.

Selain kedua faktor ini, sikap (attitude) seseorang berpengaruh terhadap penyesuaian diri antar budaya. Menurut Alport, yang dimaksud dengan sikap di sini adalah kesiagaan mental atau saraf yang terbina melalui pengalaman yang memberikan pengarahan atau pengaruh terhadap seseorang dalam menanggapi segala macam objek atau situasi yang dihadapinya.

Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap penyesuaian diri antar budaya, diantaranya yakni;

  1. besar kecilnya perbedaan antara kebudayaan tempat asalnya dengan kebudayaan lingkungan yang dimasukinya.
  2. pekerjaan dan kegiatan yang dilakukannya.
  3. suasana lingkungan sosial tempat ia tinggal.

Culture shock—seperti yang sempat disinggung pada pembahasan sebelumnya—yang dialami oleh seorang individu maupun sekelompok individu dapat terjadi karena adanya perbedaan (benturan) satu atau lebih simbol-simbol dari esensi kebudayaan. Misalnya berupa tanda kepercayaan, sikap, gaya hidup, atau tanda selera, sebagai produk budayanya.

3.      Culture Shock pada Tokoh dalam Novel Mencari Sarang Angin

Novel Mencari Sarang Angin karya Suparto Brata (2005) mengambil Surabaya sebagai latar penceritaannya. Kebudayaan Surabaya dipresentasikan melaui bahasa dan peristiwa-peristiwa budaya. Namun dalam novel ini, budaya Surabaya tidak hadir sendirian, tetapi ada kebudayaan lain yang dibawa oleh tokoh Darwan.

Tokoh Darwan adalah tokoh dengan atribut budaya keraton Surakarta yang hadir dalam ruang kultural Surabaya. Kehadiran tokoh ini mengakibatkan terjadinya proses benturan budaya, sehingga tokoh Darwan mengalami culture shock. Culture shock yang dialami dapat ditemukan dari beberapa tanda budaya, yaitu bahasa dan adat istiadat. Meskipun sama-sama dalam teritori budaya Jawa, ternyata terdapat perbedaan dalam hal pemakaian bahasa.

Selain bahasa, peristiwa budaya lain yang mengakibatkan Darwan mengalami culture shock adalah adat. Adat yang merupakan gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Selain sebagai sebuah kebiasaan, adat juga dipandang memiliki nilai-nilai dalam tata kehidupan manusia. Tiap daerah memiliki adat yang berbeda-beda. Jika adat yang telah dipercaya tidak dijalankan, maka dipercaya akan menimbulkan dampak negatif.

Dalam novel Mencari Sarang Angin dimunculkan dua adat masyarakat Surabaya, yaitu tentang andhokan atau adu doro (balap merpati) dan perkawinan. Dua adat tersebut merupakan adat yang tidak ada atau berbeda dalam kehidupan keraton Surakarta.

3.1.   Bahasa

Mata pencaharian masyarakat Jawa pada umumnya adalah petani. Pada masyarakat petani terdapat susunan hirarki yang menjadi pedoman bermasyarakat di dalam pola kehidupannya. Sistem semacam ini juga mengarah pada sistem kepemilikan tanah ataupun feodalisme, dan berpengaruh pada bahasa juga, karena harus menghormat kepada orang-orang yang lebih tinggi baik dari usia, status di masyarakat, maupun wibawanya.

Hal inilah yang menyebabkan bahasa Jawa mengenal beberapa ragam, yaitu  kromo, madya dan ngoko. Pembagian semacam ini muncul pada masa awal Kerajaan Mataram pimpinan Sultan Agung. Sebelumnya, bahasa Jawa Kuno tidak mengenal bentuk-bentuk semacam ini. Dalam tingkat tutur ngoko, tidak ada perbedaan antara lawan bicara disamping digunakan kepada orang-orang yang ada di lapisan sama ataupun sebaya. Sedangkan kromo dicitrakan sebagai tingkatan sopan santun dalam berbicara, menunjukkan ‘keanggunan’ dalam berbicara serta dianggap njawani. Tingkatan ini dipakai oleh para bawahan atau orang-orang dibawah maupun dalam keadaan resmi, serta untuk orang yang belum dikenal.

Dalam novel Mencari Sarang Angin, persoalan bahasa direpresentasikan sebagai persoalan yang problematik. Persoalan tersebut ditunjukkan dengan kehadiran Darwan, sebagai tokoh yang berasal dari Keraton Surakarta, ke Surabaya, yang mana terdapat perbedaan pemahaman tentang bahasa. Darwan yang dibesarkan di lingkungan keraton Surakarta dengan tradisi bahasa Jawa keraton (hirearki bahasa Jawa), datang ke Surabaya yang mana Surabaya adalah sebuah ruang dengan bahasa yang ngoko yang kurang mengindahkan hirearki bahasa. Perbedaan tersebut menjadikan Darwan mengalami perasaan-perasaan yang tidak nyaman, yang diperlihatkan dengan kekikukannnya. Hal tersebut tampak pada kutipan di bawah ini:

[...] Tanggapan dengan bahasa ngoko tadi saja sudah kikuk. Meskipun di rumah Darwan termasuk bangsawan yang layak saja bicara ngoko terhadap budak maupun abdinya, juga yang umurnya lebih tua, namun percakapan pertama dengan kenalan baru biasanya menggunakan bahasa kromo. [...] (Brata, 2005:12)

Bahasa merupakan sebuah kebiasaan, merupakan tanda budaya yang akrab pada diri seseorang. Maka ketika seseorang kehilangan tanda-tanda budayanya secara tiba-tiba, orang tersebut akan mengalami culture shock. Pengalaman Darwan terhadap persoalan bahasa dapat dikatakan bahwa Darwan mengalami culture shock yang ditunjukkan dengan rasa kikuk yang disebabkan perbedaan tanda budaya: bahasa. Namun, orang yang mengalami culture shock memiliki kecenderungan untuk segera menyembuhkan penyakitnya tersebut. Demikian juga dengan Darwan, meskipun terdapat beberapa kesulitan. Proses adaptasi (penyembuhan) Darwan dalam Mencari Sarang Angin juga mendapat bantuan dari faktor eksternal yaitu tempat Darwan bekerja. Dalam kutipan di bawah ini ditunjukkan bagaimana proses adaptasi Darwan:

Ia namanya Slamet, bicara ngoko seperti bahasa Jawa yang digunakan dalam Dagblad Expres. (Brata, 2005:4)

Slamet bercerita banyak, bertanya. Ketika Darwan menjawab dengan bahasa kromo, langsung dicegah oleh Slamet. “Jangan kromo. Bericaralah ngoko. Kami membiasakan bicara ngoko. Lebih demokratis, ya, to? Tidak feodalistis!”

Darwan mengangguk. Ia sebenarnya sudah membiasakan hal itu dalam menulis untuk Dgblad Expres. Tetapi dalam praktik bicara, rasanya masih sulit. Apalagi dengan Slamet yang beru dikenal dan umurnya jelas lebih tua daripada dirinya. Canggung, merasa kurang sopan, dan berdosa. Tapi Darwan harus merombak perasaan itu karena ia sadar bahwa pemikiran bangsa Jawa baru mulai tumbuh, mau melangkah maju menuju tingkat kesetaraan bersama, dan membedakan taraf hidup dari cara berpikirnya, bukan dari derajat keturunan atau kekayaan warisannya. Dan, Darwan ingin ikut saham dalam menuntun memajukan bangsanya. (Brata, 2005:5)

Yang terpenting dari proses adaptasi adalah sikap (attitude). Sikap (attitude) seseorang berpengaruh terhadap penyesuaian diri antar budaya. Menurut Alport, yang dimaksud dengan sikap di sini adalah kesiagaan mental atau saraf yang terbina melalui pengalaman yang memberikan pengarahan atau pengaruh terhadap seseorang dalam menanggapi segala macam objek atau situasi yang dihadapinya. Dari kutipan di atas, tampak jelas bahwa Darwan memiliki kesiagaan dalam menghadapi perbedaan kebudayaan tersebut.

3.2.   Budaya Adu Doro

Adu doro adalah mengadu kecepatan merpati, dan orang-orang diperbolehkan untuk memasang taruhan. Suparto Brata mendeskripsikan tentang kegemaran orang kampung Surabaya dalam kutipan di bawah ini:

“Mereka sedang apa?” tanya Darwan

Andhokan. Mengadu merpati dengan taruhan. Kau belum mengerti? Ah, asyik. Merpatiku, Gambiran, seminggu ini jadi andalam kampung. Banyak yang bertaruh memuhakku. Kemarin saja aku hampir menang dua ketip. Huh, kalau terus menerus menang besar begitu rasanya malas bekerja. […] (Brata, 2005:56)

Permaian adu doro merupakan permainan khas Surabaya yang menjadi kegemaran masyarkat, terutama kaum laki-laki. R.N. Bayu Aji (2007) menjelaskan bahwa terdapat dua argumen tentang kegemaran masyarakat kampung Surabaya tersebut. Pertama, adu doro merupakan ajang untuk melupakan sejenak kepenatan hidup dan persoalan-persoalan pelik dalam kehidupan. Sehingga, banyak orang mendapatkan kepuasan dengan menyaksikan kehebatan doro ketika menukik tajam menuju ke sangkaranya. Kedua, adu doro merupakan ajang sampingan mencari uang. Jika nasib baik menghampiri, lumayan bisa mendapat uang kejutan apabila doro jagoannya menang dalam aduan.

Pada satu sisi, adu doro merupakan perjudian, tetapi pada sisi lain ada lain di luar judi yang membuat adu doro menjadi permainan yang menarik. Taruhan, mungkin, mula-mula hanyalah untuk membuat meriah permainan tersebut. Namun, seperti halnya adat dan kesenian yang memiliki sisi (yang dianggap) negatif, maka ke-negatif-an tersebut yang justru diekspos berlebihan, sehingga sisi permainan dan hal-hal yang bersifat menghibur dan menyenangkan semakin tereduksi, seperti yang terjadi ada kesenian tayub, sandhor di Madura, dan adu doro. Sisi menyenangkan dari permainan adu doro diurai dalam kutipan di bawah ini:

Rokhim tampak senang sekali menceritakan keunggulan burung merpatinya. Agaknya bertaruh adu merpati demikian mempunyai keindahan seni sendiri sehingga disenangi oleh penduduk kampung Surabaya. (Brata, 2005:57)

Kalau bicara soal pekerjaan, wajah Rokhim ditinggalkan senyum. Bicara soal merpati, matanya bersinar-sinar, bicaranya lepas berjejal-jejalan, dan dengan rasa bangga ia berkisah. Darwan kurang tertarik karena banyak istilah asing yang sama sekali tidak diketahui maknanya. (Brata, 2005:57-58)

Tentang adat adu doro ini, Darwan menunjukkan sikap yang tidak tertarik. Dalam novel Mencari Sarang Angin dijelaskan bahwa ketidaktertarikan Darwan dikarenakan ketidakpahamannya terhadap istilah-istilah dalam adu doro. Namun jika diteliti lebih jauh, maka ketidaktertarikan Darwan merupakan wujud dari culture shock.

Seperti yang telah dijelaskan bahwa Darwan berlatar belakang keraton Surakarta yang ke Surabaya untuk mencari pengalaman hidup, yaitu dengan menjadi redaktur (sekaligus wartawan) di Dagblad Expres. Berpindah dari satu ruang ke ruang lain yang memilki perbedaan kebudayaan, tentunya memiliki konsekwensi logis untuk melakukan adaptasi. Salah satu adaptasi yang dilakukan adalah dengan mempelajari segala kebudayaan baru, apalagi Darwan adalah seorang redaktur yang semestinya memiliki kepekaan terhadap fenomena-fenomena yang baru.

Uraian tersebut mengindikasikan bahwa ketidaktertarikan Darwan terhadap budaya adu doro bukan sekedar karena ketidakpahamannya terhadap istilah-istilah, melainkan karena terdapat benturan budaya antara budaya yang membentuk Darwan (keraton Surakarta) dan budaya baru (budaya Surabaya). Budaya keraton tentunya merupakan budaya tinggi (jika menggunakan terma dikotomi budaya tinggi dan budaya rendah) yang mana hal-hal yang dianggap barbar dan tidak beradab dapat merusak kemapanan budayanya. Hal ini diperkuat dengan latar belakang Darwan yang merupakan seorang kaum terpelajar. Perjudian dan hal-hal yang sifatnya hanya pemenuhan hasrat (fetis) merupakan hal-hal yang harus dihindari.

3.3.   Adat-istiadat Perkawinan

Upacara perkawinan merupakan upacara yang penuh keskralan. Dalam pelaksanaannya terdapat tata aturan yang harus dilaksanakan, sebab perkawinan merupakan peralihan manusia pada dunia yang baru, yaitu peralihan dari sendiri ke dunia bersama, dunia dimana seseorang harus keluar dari keluarga dan membentuk keluarga sendiri. Tata aturan perkawinan setiap budaya berbeda-beda. Novel Mencari Sarang Angin menceritakan pula tata perkawinan masyarakat Surabaya, yang tentunya dengan kehadiran tokoh Darwan, sekaligus membandingkannya dengan adat perkawinan di keraton Surakarta.

Dimulai dengan upacara srah-srahan (penyerahan), Suparto Brata menceritakan bahwa pada masyarakat Surabaya penyerahan pengantin lelaki pada pengantin perempuan dilakukan dengan membuat mabuk pengantin laki-laki, sebagaimana yang tertera dalam kutipan di bawah ini:

[…] Begitu selesai penyerahan, para tamu langsung pulang. Rokhayah juga mengajak Darwan berdiri, dan pergi mengikuti rombongannya. Kini rombongan pengiring pengantin lelaki bergegas melalui gang becek yang panjang dan gelap, menuju dokar yang telah diputar balik ke arah pulang. Darwan heran, mereka sama sekali tidak disuguh minum atau makanan kecil oleh tuan rumah, meskipun di sana tadi makanan dalam stoples dipajang di atas meta.

Mana sempat, Cak. Tugas kita malam ini menyerahkan pengantin laki-laki, tanda bahwa Cak Rokhim sudah siap dinikahkan. Terserah situ, bagaimana perlakuannya terhadap Cak Rokhim,” keterangan Rokhayah.

“Tetapi mengapa Cak Rokhim dibuat mabuk tak berdaya demikian?”

“Harus pada keadaan yang paling jelek mereka menerima calon pengantin laki-laki. Biar tidak terkejut nanti kalau keadaan Cak Rokhim begitu!” (Brata, 2005:397)

Upacara srah-srahan yang dilakukan masyarkat Surabaya berbeda dengan adat Jawa (adat Jawa di sini menunjuk pada adat keraton). Masyarakat Surabaya justru menunjukkan segala hal yang jelek dengan tujuan agar pihak keluarga perempuan dapat menerima pengantin laki-laki secara apa adanya, sebab pada dasarnya manusia memiliki sifat baik dan buruk sehingga ketika pengantin laki-laki, yang nantinya menjadi bagian keluarga pengantin perempuan, tidak membuat kaget keluarga perempuan. Penerimaan secara menyeluruh, secara utuh, merupakan nilai yang terkandung dari pelaksanan ucapa srah-srahan masyarakat Surabaya.

Berbeda dengan upacara srah-srahan pada adat Jawa yang menyerahkan pengantin laki-laki dalam keadaan yang baik dan membawa hadiah serta benda-benda simbolik. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa pengantin laki-laki bukanlah pilihan yang salah, bahwa pengantin laki-laki adalah laki-laki baik-baik. Selain itu pengantin laki-laki juga membawa benda-benda yang memiliki makna, yiatu cincin emas, yang dibuat bulat tidak ada putusnya, maknanya agar cinta mereka abadi tidak terputus sepanjang hidup; seperangkat busana putri, yang bermakna bahwa masing-masing pihak harus pandai menyimpan rahasia terhadap orang lain; perhiasan yang terbuat dari emas, intan dan berlian, yang mengandung makna agar calon pengantin putri selalu berusaha untuk tetap bersinar dan tidak membuat kecewa; makanan tradisional yang semuanya terbuat dari beras ketan, yang mana beras ketan sebelum dimasak hambur, tetapi setelah dimasak, menjadi lengket, begitu pula harapan yang tersirat, semoga cinta kedua calon pengantin selalu lengket selama-lamanya; buah-buahan, yang bermakna penuh harap agar cinta mereka menghasilkan buah kasih yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.; dan daun sirih, yang memiliki makna bermakna satu hati, berbulat tekad tanpa harus mengorbankan perbedaan, sebab daun sirih memiliki muka dan punggung yang berbeda rupa, tetapi kalau digigit sama rasanya. (lubisgrafura.wordpress.com/f-kejawen/mengenal-tata-upacara-pengantin-adat-jawa/).

Dalam hal pesta pernikahan, juga terjadi perbedaan. Meskipun ada persamaan bahwa dalam masyarakat Jawa semua tamu yang hadir dalam pesta pernikahan (resepsi) selalu memberikan sumbangan berupa bahan makanan dan uang, namun cara pemberian sumbangan tersebut berbeda. Pada masyarakat Surbaya, Suparto Brata menjelaskan sebagai berikut:

“Yang menyumbang lewat duduk di kursi begitu jamaknya perempuan. Tamu atau undangan yang laki-laki, cara memberikan sumbangan lewat main kartu, minum-minuman, atau nanti kalau nanggap tayuban. […] Semua tetangga laki-laki yang sudah punya penghasilan tentu diulemi dan pasti datang, bahkan kalau tidak diundang bisa sakit hati. Sebab di arena perayaan itulah mereka pamer terbuka ramai-ramai bagaimana kekayaannya, bagaimana kejantanannya dalam minum atau nayub tandhak, bagaimana bisa menang main kartu dan untung besar. Tapi, yang paling untung besar adalah yang punya gawe. Oleh karena itu di Surabaya banyak orang mampu yang mau menjadi wali untuk menyunatkan atau menikahkan anak orang miskin, dirayakan besar-besaran untuk meraup keuntungan.” (Brata, 2005:403-404)

“Ya, itu memang tempat tamu mabuk-mabukan. Mereka bergiliran minum tuak, tiap minum juga harus bayar. Yang melayani disebut ‘bandar’, uang yang terkumpul untuk yang punya gawe. (Brata, 2005:405)

Masyarakat Surabaya memberikan sumbangan melalui pesta mabuk dan judi. Di sini judi dan mabuk bukan menjadi hal yang buruk, justru menjadi hal yang membahagiakan, hal yang bermanfaat. Hal ini sungguh berbeda dengan adat Jawa, yang mana sumbangan dilakukan secara wajar, yaitu dengan membawa beras, gula atau bahan makanan lainnya serta uang yang dimasukkan ke kotak sumbangan atau diserahkan langsung ke pihak pengantin.

Dari kutipan di atas juga dapat dilihat bagaimana pola pikir masyarakat Surabaya yang cenderung ekonomis, yang mana beberapa hajat seperti pernikahan, sunatan, atau kelahiran digunakan untuk mencari keuntungan. Sifat semacam ini mungkin ada hubungannya dengan kota Surabaya sebagai kota kerja[4]. Kota dengan iklim kerja yang tinggi sangat memungkinkan mempengaruhi pola pikir masyarakat, yaitu pola pikir untuk memanfaatkan segala kemungkinan yang dapat memberikan keuntungan.

Sehgala Perbedaan inilah yang membuat Darwan menjadi terheran-heran dan tidak mengerti makna tata upacara perkawinan masyarakat Surabaya. Culture shock memang tidak sebera terlihat pada peristiwa ini, selain sebuah sikap heran. Hal ini dikarenakan Darwan sudah tinggal cukup lama tempatnya yang baru, di Surabaya. Culture shock yang terjadi pada Darwan pada peristiwa budaya ini justru hadir melalui tindakan Darwan yang menuliskan upacara perkawinan masyarakat Surabaya pada sebuah media Belanda. Penulisan ini dilatarbelakangi karena rasa heran yang berlebih yang dirasakan Darwan. Selain itu, keheranan Darwan juga terlihat dari ujarannya: “Wah! Orang Surabaya ini memang rukun kalau mabuk-mabukan! Mau saling ikhlas mentraktir teman,” komentar Darwan.

4.      Simpulan

Dari peneltian singkat ini, maka simpulan yang dapat ditarik adalah bahwa meskipun sama-sama berakar budaya Jawa terdapat perbedaan antara budaya Jawa Keraton dan budaya Surabaya. Perbedaan budaya ini mengakibatkan terjadinya culture shock pada masyarakat yang masuk pada ruang kultural lainnya, seperti yang terjadi pada tokoh Darwan.


Daftar Pustaka

Abdallah-Preceille, Martine. 2006. “Interculturalism as a paradigm for thinking abaout diversity” dalam Intercultural Educatin Vol. 17, No. 5, Desember. Routledge.

Aji, R.N. Bayu. 2007. “Budaya Adu Doro dalam Masyarakat Suroboyo” dalam Purnawan Basundoro, dkk (ed). Tempoe Doeloe Selaloe Aktoeal. Yogyakarta: Ar-Ruzz.

Brata, Suparto. 2005. Mencari Sarang Angin. Jakarta: Grasindo.

Dick, Howard D. 2002. Surabaya City of Work, A Socioeconomic History 1900-2000. Ohio: Ohio University Press.

Hammer, Leonar. 2004. “Interculturalism and Migrant Workers in Israel” dalam Diane Powell and Fiona Sze. Interculturalism: Exploring Critical Issues. Oxford: Inter-Disciplinary Press.

Soelaeman. 2005. Ilmu Budaya Dasar: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Refika Aditama.

Oberg, Kalervo. 1954. “Culture Shock” dalam makalah yang disajikan pada Women’s Club of Rio de Janeiro, Brazil, 3 Agustus 1954 (Copyright, 1954, Kalervo Oberg All rights reserved).

Sumber Internet

http://lubisgrafura.wordpress.com/f-kejawen/mengenal-tata-upacara-pengantin-adat-jawa/


[1] Soelaeman. Ilmu Budaya Dasar: Suatu Pengantar. Cetakan Kesembilan  (Bandung: PT. Refika Aditama, 2005), 48.

[2] Oberg, “Culture Shock”. Makalah yang disajikan pada Women’s Club of Rio de Janeiro, Brazil, 3 Agustus 1954 (Copyright, 1954, Kalervo Oberg All rights reserved).

[3] Soelaeman, 2005, 48-49; Oberg, 1954.

[4] Howard W. Dick dalam Surabaya City of Work, A Socioeconomic History 1900-2000 mengungkap sisi lain dari Surabaya, dengan menelusuri aspek sejarah ekonomi kota yang pernah menjadi penentu perekonomian kolonial Belanda, sejak abad ke-18, sampai terjadi resesi dunia di awal abad ke-20, hingga kondisi Surabaya pada masa kemerdekaan yang menjadi kota kedua setelah Jakarta atau Batavia.

Posted by admin on Tuesday, April 3rd, 2012. Filed under Artikel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*