MENGAJAR SASTERA JAWA ITU MUDAH

| |

Aku masuk sekolah pertama kalinya tahun 1938 di Sekolah Angka Loro Sragen Wetan, kota Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Gedung sekolahnya sekarang sudah jadi terminal angkutan kota. Sekolah Angka Loro adalah sekolah paling rendah pada zaman Hindia Belanda. Lima tahun tamat (selesai). Tidak diajari bahasa Belanda. Bahasa pengantarnya bahasa Jawa.

Kelas I Sekolah Angka Loro.

Masuk kelas sekolah kelas satu, diajari membaca huruf Hanacaraka. Tidak disuruh menghafalkan jenis-jenis banyaknya huruf HA-NA-CA-RA-KA sampai hafal semua, melainkan langsung diajari satu dua huruf yang disusun sudah punya arti kata. Misalnya hanya dua huruf MA dan TA ditulis oleh guru di papantulis, dan murid sekelas disuruh menghafal bentuknya, disuruh mengucapkan tuturnya, disuruh menulisnya di batutulisnya. Batutulis atau sabak adalah ajang penulisan terbuat daripada batu, dipinjami dari sekolah, tetap ditinggal di kelas, tidak boleh dibawa pulang. Sebagai pensilnya juga dari batu disebut anak batutulis (grip), diberi gratis secara periodik oleh sekolah, jadi milik peribadi, boleh dibawa pulang. Grip milik pribadi kalau hilang atau patah, tidak bisa dapat lagi gratis dari sekolah, harus menunggu pembagian gratis periodik. Terpaksa murid harus beli grip dari toko-toko di luar sekolah. Menulis di batutulis dengan anak batutulis hasilnya hanya untuk sementara, bisa dengan mudah dihapus. Jadi kalau hasil tulisan sudah tidak dipakai lagi, ya dihapus saja. Batutulisnya bisa untuk ditulis-tulisi lagi dengan anak batutulis. Dengan menulis di batutulis murid bisa mudah dilatih menulis dan dihapus, tidak perlu tiap kali ganti ajang penulisan.

Guru menulis lagi susunan huruf LA dan RA, dan lagi murid disuruh menghafal bentuknya, disuruh mengucapkan tuturnya (membacanya lantang), disuruh menulisnya di batutulisnya. Dengan tulisan guru di papan tulis MA TA dan LA RA, maka murid sekelas yang jumlahnya 30 anak, mulai mengenal huruf-huruf tadi, dan kalau disusun begitu sudah menjadi kata yang berarti. MATA artinya mata, LARA artinya sakit. Tambah hari guru menulis di papan tulis tambah banyak jenis huruf, dan murid pun tambah hari tambah banyak mengenali jenis huruf Jawa Hanacaraka, bisa membaca huruf, bisa menulisnya, hafal bentuknya, mengerti kegunaannya, dan bisa mengucapkannya.

Huruf Hanacaraka jumlahnya ada 20. Cara membacanya bersuara a semua. Disebut nglegena (= telanjang). Agar bisa bersuara i huruf nglegena tersebut harus diberi pakaian, yang berupa bulatan kecil di atas huruf nglegena tadi, disebut wulu. Huruf MA diberi pakaian wulu dibaca MI, huruf TA diberi pakaian wulu di atasnya dituturkan menjadi TI. Begitu seterusnya. Jenis-jenis pakaian berguna untuk mengubah bunyi huruf nglegena, misalnya pakaian suku yang diletakkan di kaki huruf nglegena MA, huruf MA bunyinya berubah menjadi MU. Diberi pakaian taling yang terletak di depan huruf nglegena MA, huruf MA bunyinya berubah menjadi MĒ, diberi pakaian taling tarung yang terletak di depan dan belakang huruf nglegena MA, huruf MA bunyinya berubah menjadi MO. Selanjutnya huruf nglegena MA diberi pakaian wignyan jadi MAH, diberi pakaian cakra jadi MRA, diberi pakaian cecak jadi MANG, diberi pakaian layar menjadi MAR. Dan seterusnya dan seterusnya.

Untuk menghafal beberapa bentuk huruf dengan diberi pakaian ganti-ganti saja guru harus berulang-ulang mengajarkan bagaimana agar murid hafal menengarai bentuk huruf dan bagaimana suara bacaannya. Memerlukan latihan berulang-ulang pada jam pelajaran di kelas.

Dari mulanya dua huruf MA dan TA, kemudian ditambah LA dan RA, ditambah lagi NA, DA, GA dan seterusnya, maka setelah berminggu lamanya belajar di kelas guru bisa menulis dari kata menjadi kalimat. Dan murid juga harus hafal membacanya dan hafal menulisnya. Misalnya ketika baru diajari beberapa huruf nglegena dan pakaian wulu, guru sudah bisa mengajari susunan huruf yang berupa kalimat:  NINI LARA MATA (nenek sakit mata), SIWA DIPA SILA (paman Dipa duduk bersila). Kian hari kian banyak huruf, kata, kalimat yang bisa disusun di papan tulis oleh guru dan murid menghafalkan tulisannya, menulisnya dan membacanya. Tiap hari di kelas, guru menunjuk tulisan di papan tulis, murid seorang demi seorang disuruh membacanya dengan lantang. Kalau suara lantangnya tidak benar, murid lainnya yang tahu hal itu salah berteriak, “Lepaaat!”(bahasa Jawa artinya “Salaaah!”).

Setelah berminggu-minggu tiap hari guru mengajar membaca dan menulis huruf-huruf, kata-kata dan kalimat-kalimat di papan tulis, dan murid sudah pandai membacanya tiap tulisan guru di papan tulis, maka guru mengeluarkan setumpuk buku bacaan dari dalam almari kelas. Sebanyak murid di kelas (30 anak) mendapat pinjaman buku tadi seorang satu. Buku bacaan tadi hanya dibaca di kelas, tidak boleh dibawa pulang, selesai pelajaran membaca buku, ya buku ditumpuk dan dimasukkan lagi ke dalam almari kelas. Buku dibuka oleh murid, ternyata lembar-lembar pertama buku tadi juga berisi huruf, kata, kalimat tulisan Hanacaraka yang pernah ditulis oleh guru dan dihafalkan oleh murid selama belajar di kelas sebelumnya. Jadi, segera saja para murid bisa membaca pada lampir-lampir halaman awal dari buku tadi. Apa lagi di buku tadi ada gambarnya. MATA ada gambarnya mata. KALA ada gambarnya jerat atau laso. LAWA ada gambarnya kelelawar. Murid menjadi lebih tertarik membacai huruf, kata, kalimat pada buku yang bergambar menerangkan arti kata-kata tadi. Sejak itulah saya sebagai murid diperkenalkan dengan buku dan membaca tulisan-tulisan di dalamnya.

Tiap hari tidak pernah lowong, buku pelajaran membaca tadi dibagikan pada murid. Berganti-ganti murid disuruh membacanya. Seorang membaca, yang lain menyemak. Apabila bacaan salah, para penyemak menegur, “Lepaat!”. Bergiliran membaca begitu kepandaiannya tiap anak dicatat oleh guru, nilainya sebagai bahan kenaikan kelas muridnya. Kadang-kadang cara menggilir pembacaan buku diwarnai kejutan. Seseorang sedang membaca, tiba-tiba disuruh berhenti, dan guru menunjuk murid lain untuk meneruskan bacaannya. Kalau murid yang ditunjuk tadi tidak menyemak dengan saksama, tentu tidak bisa membaca lanjutan cerita pada buku. Jadi, sementara seorang murid membaca lantang, murid lainnya harus terus  menyemaknya, ikut membaca buku yang sama-sama dipelajari.

Selain membaca buku setiap hari, guru juga tetap mengajari murid menulis. Guru menulis di papantulis, murid menulis pada sabaknya. Guru menulis suatu kalimat dengan tulisan halus SIWA DIPA LARA MATA. Murid disuruh menulis di sabaknya berkali-kali,, tiap kali harus menunggu aba-aba dari guru. Guru menyuruh, “Selarik!”, maka murid mulai menulis halus di batutulis masing-masing mencotoh tulisan guru di papantulis. Ditulis sebaik-baiknya sehingga tulisan tadi secara metodik bisa dibaca oleh orang lain. Guru memeriksa baik hasil tulisan maupun cara murid-muridnya menulis. Kalau ada murid yang tulisannya jelek (tidak metodik) guru memberi contoh tulisan di batutulisnya, sehingga murid tidak lagi perlu mencotoh tulisan di papantulis. Cara-cara menulis juga diperhatikan oleh guru. Bagaimana cara memegang anak batutulis, metode tulisan harus miring sehingga batutulisnya harus juga miring (diganjal alat kayu segitiga), jarak antara mata dan tulisan harus 30 Cm. Kalau semua murid sudah selesai menulis tulisan guru di papantulis (dan guru sudah memeriksanya dengan baik-baik), maka guru memerintahkan menulis lagi tulisan SIWA DIPA LARA MATA di bawah tulisan yang pertama. “Rong larik!” perintah guru. Dan setelah selesai penulisan deretan ke dua, guru memerintahkan lagi menulis di bawahnya, “Telung larik!” Murid pun mulai menulis deretan ke tiga SIWA DIPA LARA MATA.

Dengan pelajaran menulis cara begitu, anak (murid) bisa menulis dengan metode yang benar, hasil tulisan terbaca dengan baik, dan badan (mata) pun sehat.

Bukan saja caranya menulis halus dengan mencontoh tulisan di papan tulis, murid pun diberi pelajaran menulis dari ucapan guru (dikte). Guru bicara, murid menulis apa yang diucapkan guru.

Jadi sejak kelas I sekolah Angka Loro, anak sekolah di desa generasiku, paling penting adalah diajari MEMBACA BUKU dan menulis kata dengan baik-baik dan sehat. Karena sekolahnya Angka Loro, tulisan yang diajarkan oleh guru ya tulisan Jawa Ha-na-ca-ra-ka.

Setelah berlangsung berbulan-bulan, murid-murid kelas I Sekolah Angka Loro tahun 1938 sudah pandai membaca cerita di buku bacaan sekolah:

ASUNĒ SĒNA

Asuné Séna ana loro. Asuné Séna lemu-lemu.

Asuné Séna mlayu mrana. Asuné Séna ora lara.

Membaca cerita yang ditulis, berarti membaca sastera. Tulisan yang dibaca tulisan Jawa huruf Ha-na-ca-ra-ka, berarti yang diajarkan oleh guru adalah sastera Jawa. Jadi sejak kelas I sekolah dasar Angka Loro sudah diajari membaca sastera Jawa.

Cara guru mengajarkan membaca cerita, juga tidak asal bisa baca saja. Melainkan diajarkan juga cara-cara memaknai tanda-tanda baca. Kalau bacaan kalimatnya diberi tanda baca pada lingsa (= koma), bagaimana irama lagunya, kalau bacaan kalimatnya diberi tanda baca pada lungsi (= titik), nada suaranya harus bagaimana. Murid bergiliran membaca cerita yang sama dari buku, guru memperbaiki nada lagunya. Juga diajari cara-cara agar murid bisa membaca dengan cepat. Selalu dilatih.

Pada kelas I, tiap hari hanya diberi 3 jam pelajaran. Jumlah murid kelas I ada 60 orang, maka bergantian tiap bulan bertukar waktu pagi dan siang, sementara separoh (30 anak) masuk pagi, separoh masuk siang. Tiap hari diajari membaca buku yang dikeluarkan dari almari kelas. Dan ada jam pelajaran menulis tersendiri, untuk melatih menulis halus, dikte dan semacamnya, juga hampir tiap hari. Sedang sisa jam pelajaran lainnya digunakan untuk pelajaran Mendongeng, Nembang (menyanyi), Berhitung, Pekerjaan tangan, Budi Pekerti. Mata pelajaran Membaca Buku tiap hari diajarkan, berarti seminggu 6 kali. Saban masuk sekolah pasti ada pelajaran membaca buku. Berhitung 3 kali, Mendongeng, Nembang, Pekerjaan tangan, Budi Pekerti masing-masing 1 kali. Membaca buku dan menulis lebih penting daripada mata pelajaran yang lain.

Kelas II Sekolah Angka Loro.

Naik kelas II jam pelajarannya masih sama, separoh murid masuk pagi, separoh masuk siang, bergantian waktu tiap bulan. Pelajaran membaca buku tetap tiap hari diajarkan, caranya pun tetap sama. Buku dikeluarkan dari almari kelas, dibagi, dibaca lantang bergiliran seorang demi seorang, selesai jam pelajaran buku ditumpuk dan dimasukkan ke dalam almari lagi. Pada kelas II bahan ajar yang dibaca tiap hari adalah buku Siti Karo Slamet, merupakan kumpulan cerita suatu keluarga. Cerita lelakon buku Siti Karo Slamet diterbitkan dalam bahasa Jawa, dengan tulisan Hanacaraka. Berarti mengajari membaca buku cerita Siti Karo Slamet adalah mengajarkan sastera Jawa. Dibaca di kelas tiap hari, bergiliran dan disemak bersama sehingga semua murid dapat giliran membaca lantang. Dengan cara begitu maka satu bab saja bisa dibaca bersama berkali-kali, memerlukan waktu pembelajaran selama satu bulan. Ceritanya dan tulisan pada bukunya merasuk ke sanubari tiap murid, karena membaca berulang-ulang satu bab tadi. Setelah semua dapat giliran membaca lantang di kelas, kecakapan tiap murid dicatat oleh guru untuk bahan kenaikan kelas, maka baru cerita bab selanjutnya diajarkan membaca oleh guru. Karena dibaca berkali-kali, sampai sekarang saya masih hampir hafal cerita pada bab III:

III. TAMPA BESTELAN.

Wong-wong lagi wiwit padha mangan, krungu swara, “Kulanuwun.”

Slamet metu, cangkemé isih mucu-mucu.

“Ana wong nggawa bèsèk, Pak.”

“Cangkemu resikana dhisik. Banjur wongé takonana, arep apa.”

Begitu sasteranya huruf Hanacaraka. Harus dibaca tiap hari di kelas tiap bab berulang-ulang, agar murid biasa membaca cerita buku sastera Jawa huruf Jawa, memahami dan menggemari baik tulisannya (Hanacaraka) maupun ceritanya. Menggemari ceritanya harus didapatkan dari membaca tulisannya. Saya hafal kalimat-kalimat ceritanya, karena saya mulai senang mambaca cerita itu yang dicetak dalam huruf Hanacaraka.

Selain pengajaran membaca huruf Hanacaraka dengan jalan membaca buku Siti Karo Slamet yang tiap bab harus dibaca di bangku sekolah bergiliran seorang demi seorang sehingga sampai berminggu-minggu menyemak bab itu, ada cara lain guru memperlancar pembacaan aksara Hanacaraka kepada murid-muridnya. Yaitu pada pelajaran Nembang atau Menyanyi yang diajarkan pada hari Sabtu jam terakhir. Kalau pada kelas I pelajaran Nembang itu hanya dengan menirukan guru menyanyi, lalu para murid disuruh mengikuti sekalimat demi sekalimat bersama, sehingga seluruh tembang bisa dilagukan oleh murid-murid karena menirukan tuturan guru, maka pada kelas II guru tidak hanya menyanyikan dengan suara. Guru memperkenalkan tembang yang diajarkan dengan menulis di papantulis. Yang diajarkan tembang dolanan kanak-kanak. Ditulis dengan huruf Hanacaraka. Selesai ditulis oleh guru, guru mengajari menyanyikannya dengan menunjuk tulisan di papantulis. Dengan sendirinya murid yang coba menembang harus awas melihat tulisan Hanacaraka yang ditunjuk oleh guru, yang iramanya dinyanyikan oleh guru. Dengan begitu bertambah pandailah murid-murid membaca huruf Hanacaraka. Tidak saja di BUKU cerita (sastra Jawa)  Siti Karo Slamet, melainkan murid juga lancar membaca aksara Hanacaraka yang ditulis di papantulis, disuarakan dengan irama tembang. Membaca tulisan Hanacaraka bisa berguna untuk nembang. Akhirnya setelah para murid diajari menuruti irama gurunya dalam pelajaran Nembang lancar, maka para murid seorang demi seorang disuruh membaca huruf Hanacaraka di papantulis dengan melagukan sebagai tembang. Suara bacaan para murid dan irama cengkoknya masing-masing murid dicatat oleh guru, untuk bahan kenaikan tingkat.

Di kelas II pelajaran Nembang caranya mengajari beda dengan ketika di kelas I. Di kelas I gurunya memberi contoh menyanyi, para murid menirukan; di kelas II guru menulis tembang di papantulis, dan lalu menyanyi dengan menunjuk-nunjuk tulisan di papantulis, agar murid selain hafal irama lagunya juga membaca dengan tekun tulisan di papantulis. Yang ditulis dan diajarkan adalah lagu-lagu dolanan seperti: Cempa, Kupu Kuwi, Ménthok-ménthok, Ilir-ilir, Katé Dipanah, Pendhisil, Soyang, Jalak Pita dan lain-lain. Saya masih hafal lagu-lagu itu.

JALAK PITA

Jalak-jalak pita, dolanan wis ditata,

Ayo para kanca padha suka-suka,

Sing ramé, sing tata, gawé ramé nèng negara,

Dhuk-nong dhuk-gung, dhuk-nong dhuk-gung,

Jèjèr sandhing ringin kurung, atepung temu gelang,

Yèn diétung aja kurang.

Priyagung padha nyawang, priyagung padha nyawang.

Tandang tulung saguh wadhang.

Selain pelajaran Nembang yang caranya mengajar di kelas I dan kelas II kadang-kadang beda, adalah pelajaran Mendongèng. Pelajaran Mendongèng di kelas I guru bercerita bahasa Jawa, murid mendengarkan, kemudian ganti-gantian murid disuruh maju ke depan kelas menceritakan cerita guru yang tadi didongengkan, juga dengan bahasa Jawa. Di kelas II, juga begitu. Hanya apa yang didongengkan oleh guru, kadang-kadang pada dinding kelas sudah dipasang gambar-gambar cerita yang didongengkan oleh guru. Gambar tadi luasnya 20X30 Cm2, dicetak pada kertas putih. Di dalamnya dibagi menjadi 4 frame pesegi panjang. Tiap frame, dari 1 sampai 4 urut, digambari urut lakon yang didongengkan oleh guru. Jadi setelah didongengkan oleh guru, murid-murid melihat gambar hiasan dinding ruang kelas tadi seperti melihat gambar komik yang besar. Gambar itu diambil dipindahkan ke papantulis di depan kelas, waktu dongeng itu sedang diajarkan, dan ketika para murid seorang demi seorang disuruh guru bercerita di depan kelas. Dengan begitu murid sama dengan anak menikmati melihat gambar komik zaman sekarang. Hanya berbeda pelajaran di kelas, si murid harus bercerita runtut di depan kelas dengan bahasa Jawa, cerita dalam gambar tadi. Melihat bahwa gambar cerita di dinding kelas tadi sudah lama digantung di sana, maka saya mengira bahwa murid-murid senior saya waktu di kelas II juga diajari cara mendongeng seperti itu dengan cerita itu juga. Yang didongengkan guru sudah diprogram dari Dinas Pendidikan setempat.

Di kelas II mulai diajarkan tulisan ABC. Caranya mengajarkan juga seperti waktu mengajarkan aksara Hanacaraka. Tidak disuruh menghafal banyaknya huruf ABC melainkan diajarkan membaca susunan huruf ABC yang sudah berbentuk kata. Misalnya BATA, BABI, DADA, GADA. Lalu disusun jadi kalimat pendek-pendek. Guru menulis di papan tulis, murid disuruh membacanya dan menulis pada bukunya.

Di kelas II sudah tidak dipinjami batutulis lagi, melainkan diberi buku tulis secara gratis. Pada buku tulis itulah para murid disuruh belajar menulis baik-baik, tulisannya baik-baik, cara menulisnya juga baik-baik. Dan itu juga memerlukan jam-jam pelajaran tersendiri. Pada buku tulis itulah murid-murid mencontoh tulisan di papan tulis. Menulisnya menggunakan tangkai pena, yang penanya dicelup pada tinta. Tangkai pena, pena tiap murid diberi, dan tinta di kelas disediakan. Seperti waktu di kelas I, bagaimana caranya pegang tangkai pena, bagaimana caranya menulis yang baik dan sehat, selalu dibimbing oleh guru. Dan cara menulis halus seperti itu tentu saja memerlukan pelajaran menulis yang memakan waktu pelajaran tersendiri berbulan-bulan. Tidak dilepas dari pelajaran di sekolah, harus menurut sebagaimana ajaran guru. Pelajaran menulis halus pada buku tulis murid, murid juga tetap harus sesuai dengan perintah guru. Guru menulis suatu kalimat dengan huruf ABC di papantulis, murid menulis di bukunya kalimat itu. Satu kalimat itu ditulis berderet-deret ke bawah sampai 10 kali. Dan murid menulisnya juga menunggu perintah guru. Setelah guru memerintah menulis, “Selarik!” baru semua menulis kalimat di papantulis di bukunya satu baris. Guru berkeliling kelas mengawasi para murid menulis kalimat yang pertama. Setelah semua sudah selesai, maka guru memerintahkan lagi, “Rong larik!” (artinya mulailah menulis kalimat yang sama pada deret garis ke dua). Murid menulis kalimat yang sama di buku tulisnya di bawah tulisan yang pertama. Setelah selesai semua, guru memerintahkan lagi, “Telung larik!” yang berarti murid disuruh mulai menulis kalimat yang itu juga untuk deret yang ke tiga. Begitu seterusnya hingga 10 deret ke bawah tulisan murid pada buku tulisnya. Sementara mengajari menulis kalimat pada buku tulis tadi, guru seringkali memberi contoh tulisannya di buku tulis muridnya. Dengan begitu murid selanjutnya tidak perlu harus menoleh ke papantulis, cukup melihat contoh tulisan yang dibuat oleh guru di buku tulisnya. Contoh tulisan guru di buku tulis murid menggunakan tinta merah (jadi guru sudah siap dengan tangkai pena tersendiri, dan juga tinta merahnya tersendiri, bukan yang digunakan oleh para murid).

O, ya. Buku tulis yang dibagikan kepada murid ada 3. Satu untuk menulis halus kalimat huruf ABC, satu untuk menulis halus kalimat huruf Hanacaraka, dan satu untuk mengerjakan hitung, dikte, dan lain-lain. Tiap kali guru memeriksa tulisan murid pada buku-buku tulis tadi, dan diberi angka (nilai) dengan tinta merah. Banyakny angka nilai 0 – 10. Buku yang ke-3 (untuk mengerjakan hitung dan lain-lain) ini paling cepat habis lembarannya, maka murid segera diberi buku tulis baru sebagai ganti yang lama yang sudah penuh coretan. Buku yang penuh coretan boleh dibawa pulang..

Sewaktu masih digunakan di kelas, buku-buku tulis tadi semua tidak dibawa pulang oleh murid, tetapi selalu ditumpuk di kelas. Hanya pada waktu untuk ditulisi pada pelajaran menulis pada buku tulis buku-buku tadi dibagikan pada murid di kelas. Jadi pada kelas II, murid-murid pergi ke sekolah dan pulang dari sekolah TIDAK MEMBAWA APA-APA. Juga tidak diberi beban mengerjakan apa-apa di luar sekolah. Tidak ada Pekerjaan Rumah (PR). Kegiatan utama di sekolah adalah: pelajaran membaca-menulis-membaca-menulis-membaca-menulis. Yang jadi bacaan utama ya buku Siti Karo Slamet itu. Tiap hari pasti ada pelajaran membaca buku Siti Karo Slamet. Berarti tiap hari diajari, dibiasakan, dibudayakan MEMBACA BUKU SASTERA (cerita yang ditulis adalah sastera). Dalam hal buku Siti Karo Slamet, adalah buku bahasa Jawa tulisan Hanacaraka, maka tiap hari di Sekolah Angka Loro saya (dan teman-teman generasi saya) diajar membaca buku sastera Jawa.

Membaca buku adalah dasar anak bersekolah.

Di kelas II sudah mulai diajari membaca dan menulis huruf ABC. Tetapi belum ada buku bacaan yang dibaca bersama di kelas. Di kelas III sehari ada 7 jam pelajaran, kecuali hari Jumat 5 jam pelajaran. Baru di kelas III itulah pelajaran membaca buku cerita tulisan huruf ABC diajarkan. Yaitu buku yang judulnya Tataran. Seperti halnya buku Siti Karo Slamet yang diajarkan di kelas II, buku Tataran juga merupakan buku cerita yang menceritakan kehidupan sehari-hari Kuncung dan Bawuk. Juga guru cara mengajarnya sama, yaitu tiap hari murid dibagikan buku Tataran, berganti-ganti murid disuruh baca lantang-lantang yang lain menyemak, habis jam pelajaran membaca buku dikumpulkan lagi, dimasukkan almari kelas. Hasil kepandaian para murid membaca diberi angka oleh guru, dijadikan bahan kenaikan kelas.

Tataran bukan satu-satunya buku cerita yang harus dibaca bergiliran di kelas tiap hari. Tataran adalah buku cerita bahasa Jawa huruf ABC. Selain itu di kelas III murid juga harus membaca bergiliran buku cerita bahasa Jawa dengan huruf Hanacaraka judulnya Ngrewangi Apa Ngrusuhi. Buku Ngrewangi Apa Ngrusuhi ada tiga jilid, masing-masing jilid menceritakan kehidupan binatang yang berbeda-beda. Jilid I menceritakan kehidupan anak bajing yang bernama Perkis. Jilid II menceritakan kehidupan nyamuk yang bernama Gothang lan Klentreng. Jilid yang lain menceritakan kehidupan ular, saya lupa nama ularnya, karena baru dibaca beberapa bab saya harus naik ke kelas IV.Di kelas III itu juga diajarkan membaca buku bahasa Jawa huruf Hanacaraka berjudul Kembang Setaman. Buku Kembang Setaman bukunya tebal, berisi kumpulan cerita pendek. Juga berjilid-jilid. Namun di kelas III saja kami tidak habis membaca Kembang Setaman jilid I sampai habis. Jilid II dan III akan dibaca di kelas lanjutan (kelas IV).

Ya. Buku-buku bacaan di kelas III tadi tiap hari harus dibaca di kelas bergiliran, yang lain menyemak. Tiap murid harus pernah mendapat giliran membaca tiap bab, dan membacanya harus lancar. Kalau tidak lancar, murid tadi disuruh mengulang-ulang lagi bab itu diberi kesempatan giliran ulang. Dengan cara begitu, maka satu bab dari tiap buku saja bisa dibaca berulang tiap hari di kelas selama kurun waktu satu bulan. Baru beranjak bab baru berikutnya. Karena tiap hari murid sekelas menyemak ikut membaca giliran satu bab berulang-ulang, tiap hari membaca bersama bergiliran cerita Kuncung Karo Bawuk, tiap hari membaca cerita kehidupan Perkis, tiap hari membaca cerita pendek dari buku Kembang Setaman, maka ada beberapa kalimat atau ungkapan yang mengesan sekali hingga sampai sekarang saya masih hafal. Dari buku Tataran (bahasa Jawa huruf ABC) misalnya, saya masih hafal bab I, “Man, Man, Sariman!” Sariman isih énak-énak olèhé dhudhuk-dhudhuk. Mesthi waé ora gelem sumaur. Wong sing karan parabané; yaiku Kuncung. Dari buku Kembang Setaman (bahasa Jawa huruf Hanacaraka) saya hafal beberapa ungkapan: “Wong tangi ésuk kuwi cepak rejekiné”. “Aja nganti reged ora bisa, aja tansah reged kuwi bisa”.

Selain Tataran di kelas III itu kami juga harus baca tiap hari bergiliran buku bahasa Jawa huruf ABC berjudul Ontjèn-Ontjèn. Ontjèn-Ontjèn merupakan buku kumpulan cerita pendek. Saya juga masih hafal cerita pendek di antaranya, meskipun tidak hafal per kata atau kalimat, karena membaca huruf ABC kami baru awal pembelajaran, sangat sulit membacanya. Namun karena ceritanya menarik, saya juga dengan semangat ingin menguasainya (membaca buku itu). Yaitu cerita tentang Petruk-Gareng-Bagong mau bepergian naik pesawat terbang. Petruk lubang telinganya kemasukan semut, Dikorek-korek tetap saja semutnya tidak kena atau mati. Maka oleh Petruk lubang telinganya dimasuki daging dendeng. Dengan harapan ujung dendeng nanti digigit oleh semut, lalu dendeng ditarik keluar, seperti orang mancing. Ternyata daging dendeng tadi seluruhnya masuk ke lubang telinganya. Petruk lalu mencari tikus, ditangkap dimasukkan ke lubang telinganya. Tikus diharapkan bisa makan daging dendeng yang di dalam lubang telinganya. Ternyata tikus tadi juga masuk ke lubang telinga Petruk. Lalu Petruk segera mencari kucing. Karena kucing adalah binatang yang suka makan tikus, diharapkan kalau dimasukkan ke lubang telinganya, kucing akan mengganyang tikus……! Begitulah cerita dari buku Ontjèn-Ontjèn yang diajarkan di kelas III (taun 1940) Sekolah Angka Loro di desa, yang masih saya hafal pokok ceritanya. Banyak ceritanya yang menarik hati, sehingga meskipun waktu itu membaca buku tulisan ABC masih sangat susah, namun semangat murid-murid begitu menggebu untuk membacanya. Saya ingat buku bacaan di kelas biasanya hanya dibaca pada jam pelajaran, buku Ontjèn-Ontjèn diminta oleh para murid untuk dibaca di luar kelas waktu mengaso. Dan guru memperbolehkan.

Di kelas III, sudah tiap hari pada jam pelajaran kami diharuskan membaca bergiliran buku-buku sebanyak itu, masih juga kurang banyak. Kami masih harus belajar membaca buku bahasa Melayu. Yaitu Matahari Terbit. Jadi mengajar bahasa Melayu itu bukan dengan mencari arti kata-kata, bukan bagaimana menguraikan kalimat, bukan mencari kesamaan kata atau lawan kata, bukan begitu. Tetapi langsung membaca buku cerita bahasa Melayu. Buku Matahari Terbit itu juga kumpulan cerita bahasa Melayu huruf ABC. Buku Matahari Terbit setahuku sampai 3 jilid. Tetapi saya paling ingat membaca jilid I pada pelajaran di kelas.

Kitab jang baharoe.

Kemarin kami disekolah. Djam jang ketiga kami akan membatja.

Tetapi kitab batjaan tak ada. Kitab jang lama soedah tammat.

Dipapan toelispoen tak poela ada batjaan.

Kami amat heran. Kami memandang kepada goeroe. Ia menoenggoe

sampai kami diam sekaliannja. Soedah itoe ia pergi kelemari.

Apa dikeloearkannja dari dalam lemari itoe?

Jadi di kelas III, Sekolah Angka Loro di desa 1940, pelajaran yang kami terima adalah: tiap hari membaca buku Tataran (bahasa Jawa huruf ABC), Ngréwangi Apa Ngrusuhi (bahasa Jawa huruf Hanacaraka), Kembang Setaman (bahasa Jawa huruf Hanacaraka), Ontjèn-Ontjèn (bahasa Jawa huruf ABC), Matahari Terbit (bahasa Melayu huruf ABC). Jam-jam pelajaran sehari-hari habis digunakan untuk belajar membaca buku. Dan buku tadi buku cerita, bukan buku pelajaran matematika, atau buku pelajaran bahasa Jawa. Buku cerita sama artinya dengan sastera. Cerita yang ditulis adalah sastera. Jadi artinya pelajaran awal sekolah itu yang paling penting adalah MEMBACA BUKU CERITA, alias membaca buku sastera. Karena selain Matahari Terbit semua buku cerita bahasa Jawa, berarti yang diajarkan utama sekolah di Sekolah Angka Loro tadi adalah MEMBACA BUKU SASTERA JAWA.

Jadi mengajar sastera Jawa itu mudah. Yaitu asal ada guru yang bisa lancar membaca buku cerita bahasa Jawa. Ada buku cerita bahasa Jawa. Dan ada muridnya. Padahal orang yang lancar membaca buku cerita bahasa Jawa banyak. Tidak harus sarjana S1, S2 atau S3. Asal pelajaran sastera Jawa dilakukan seperti ketika saya kelas III Sekolah Angka Loro (1938-1941), yakni murid tiap hari diajari membaca buku cerita bahasa Jawa, maka murid pasti gemar membaca buku sastera Jawa.

Pada kelas III Sekolah Angka Loro di Sragen (desa) tahun 1941 itu, pada pelajaran membaca buku bergiliran, tiap hari membaca 5 judul buku yang ditulis dengan 2 macam huruf (Hanacaraka dan ABC) dan dalam 2 bahasa (bahasa Jawa dan bahasa Melayu). Berbagai cara membaca buku diajari oleh guru. Guru mengajar dan membimbing bagaimana murid agar bisa membaca buku dengan cepat, sehat, tekun dan senang. Kalau membaca kepalanya jangan ikut menggeleng-geleng, yang bergerak pandang matanya saja. Adanya tanda-tanda bacaan, harus mengatur nada dan irama caranya membaca: kalau ada koma membacanya bagaimana, kalau ada tanda tanya caranya bersuara bagaimana. Itu tiap kali diajarkan kepada murid-muridnya ketika pelajaran membaca buku cerita itu. Cara membaca cepat, tidak lamban, bagaimana. Misalnya setelah sebulan para muridnya disuruh bergiliran membaca pada bab III buku Ontjèn-Ontjèn, semua sudah mendapat giliran dan membacanya sudah cukup baik, maka buku dibagi lagi pada awal pelajaran membaca buku, murid-murid disuruh membuka bab IV. Tidak disuruh membaca langsung bergiliran, melainkan selama 15 menit murid-murid disuruh membaca dalam hati cerita dalam bab IV, bab yang baru. Tiap murid membaca dalam hati bab IV yang baru mulai dibaca hari itu. Selagi para murid membaca dalam hati, guru tetap membimbing caranya membaca: Kalau membaca dalam hati bibirnya jangan ikut bergerak. Setelah 15 menit, beberapa murid disuruh menceritakan apa saja yang baru saja dibaca dalam hati tadi. Di situ bisa dilihat, kalau seorang murid betul membaca ceritanya tentu bisa menceritakan kisahnya.

Jadi, selain tiap hari membaca buku di sekolah, juga diajari caranya membaca cepat, membaca tekun, membaca dalam hati. Tidak dibiarkan asal bisa membaca saja.

Apakah selain membaca buku cerita tidak ada pelajaran lain?

Ada. Ada pelajaran Bahasa Jawa (2X seminggu, bukan pelajaran membaca buku); Berhitung (3X seminggu); Olahraga (2X mata pelajaran, waktunya digabung, sehingga seminggu ada pelajaran olahraga 1X), Nembang (1X seminggu), Mendongeng (1X seminggu), Budi Pekerti (1X seminggu, yang mengajarkan Budi Pekerti bukan guru kelas, tetapi Kepala Sekolah). Kepada murid-murid juga dibagikan buku tulis untuk pelajaran menulis halus, dikte, berhitung seperti waktu di kelas II. Buku tulisnya tidak boleh dibawa pulang, tetap ditumpuk di kelas. Baru setelah buku tulisnya habis ditulisi, boleh dibawa pulang oleh murid yang bersangkutan, dan murid tadi diberi lagi buku tulis gratis.

Pelajaran Bahasa Jawa.

Pelajaran Bahasa Jawa bukan dengan membaca buku bahasa Jawa. Pelajaran Bahasa Jawa bukan pelajaran sastera Jawa. Pelajaran Bahasa Jawa adalah pelajaran bagaimana murid bisa menulis bahasa Jawa dengan baik, dikte, mencari padanan kata, makna kata, menyusun kalimat. Untuk itu ada sendiri buku ajarnya (bukan buku bacaan cerita), yaitu judulnya: Maca Titi, Basa lan Carita. Buku ajar bahasa Jawa ini tidak tiap hari harus dibagi dan disuruh mempelajari, tetapi hanya 2 kali dalam seminggu. Tiap bab isinya: suatu cerita sangat pendek. Lalu di bawahnya ditulis ajaran bahasa yang harus dipelajari. Yaitu: (1) Ceritakan kembali luar kepala cerita tadi, (2) Uraikan arti kata-kata, cari persamaan dan lawan (kosokbaliné) sebuah kata, (3) Buatlah kalimat dengan suatu kata sehingga kalimat tadi bisa jelas arti katanya ( kata yang digunakan untuk membuat kalimat harus yang ada di bacaan cerita sangat pendek tadi), (4) Tulislah lagi cerita di atas dengan kalimatmu sendiri.

Di situlah guru betul mengajarkan BAHASA Jawa. Itulah buku ajar bahasa Jawa, bukan buku sastera Jawa. (Catatan: Pada kurikulum Pendidikan Nasional Indonesia 1975, pelajaran Sastera Indonesia disatukan dengan pelajaran Bahasa Indonesia, maka sejak itu pelajaran Sastera Indonesia tidak sempat lagi diajarkan di sekolah karena untuk membahas pelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar saja sudah sangat susah, sampai detik ini pun para selibriti tidak sanggup berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sastera Indonesia pun tidak di-UNAS-kan. Dan karena itu orang Indonesia tidak membaca sastera, tidak gemar membaca buku, tidak punya budaya membaca buku. Tapi sungguh mengherankan mengapa mendirikan Fakultas Sastera, dan di situ justru ada Sastera Jepang, Sastera Inggris. Artinya SASTERA ITU PENTING BAGI KEHIDUPAN MANUSIA. Mengapa pelajaran sastera ~ dibiasakan membaca buku cerita ~ dihilangkan dari sekolah dasar kelas I SD – kelas XII SMA?).

Ada beberapa bab dalam buku Maca Titi, Basa lan Carita tadi dihiasi dengan gambar cerita seperti komik. Satu cerita gambar terdiri dari 3 atau 4 frame, isi gambarnya urut dari gambar terkiri menuju ke kanan gambar anak desa menangis ditinggal emaknya pergi, dan gambar yang kemudian anak tadi kegirangan karena emaknya kembali membawa olèh-olèh. Seperti halnya bab lain yang menceritakan cerita sangat pendek, maka di bawah cerita gambar tadi juga ditanyakan: Ceritakan rangkaian gambar itu dengan kalimatmu sendiri, atau tulislah dengan kata-katamu sendiri cerita gambar di atas. Gambar-gambar pada buku itu mengingat saya pada gambar-gambar dongeng yang digantungkan di dinding kelas II. Jadi di dinding kelas II dulu itu gambar komik yang dicetak besar, dan yang di buku ajar bahasa Jawa tadi gambar komik di buku. Pada zaman saya itu, cara melihat komik saja dihubungkan dengan cara belajar bahasa Jawa.

Pada zaman itu, zaman Hindia Belanda, 1938-1941, di Sragen tidak beredar suratkabar atau majalah. Hampir seluruh penduduk buta huruf, hanya orang-orang tertentu bisa membaca dan menulis. Meskipun hanya sangat sedikit, mereka yang bisa membaca dan menulis tadi PASTI berbudaya membaca buku cerita/sastera. Ini bisa ditilik di Sragen waktu itu ada persewaan buku swasta, yang saya tahu dan pernah menyewa bukunya di Kuwungsari dan di Sragen Wetan dekat sekolah saya. Perpustakaan swasta tadi meminjam-sewakan buku cukup banyak, dan para peminjamnya juga cukup banyak. Sehingga bisa ditarik kesimpulan meskipun di Sragen (kota kecil) hampir seluruh penduduknya buta huruf, hanya sedikit yang melek huruf, namun membuka perpustakaan bisa mendapatkan penghasilan mencukupi. Yang disewa-pinjamkan setahu saya, atau yang saya mau pinjam, hanya buku cerita, baik buku cerita bahasa Jawa, Melayu, Belanda, baik buku cerita huruf ABC dan huruf Hanacaraka. Tidak menyewakan buku komik, majalah maupun suratkabar. Tidak menyediakan ruangan baca, jadi yang datang ke situ hanya untuk meminjam/menyewa buku, buku cerita atau sastera. Bukunya terletak berderet pada rak buku, para penyewa bisa mencarinya dan memilih sendiri langsung.

Saya pun, meskipun waktu itu masih kelas III dan naik kelas IV Sekolah Angka Loro, suka meminjam buku di perpustakaan swasta tadi, dengan membayar dua sèn (f 0,02) tiap pinjam, boleh pinjam 2 buku dan lamanya meminjam 2 minggu. Pelajaran membaca buku cerita di sekolah membuat saya ingin membaca buku cerita buku-buku di luar pelajaran sekolah. Ingin membaca buku cerita yang beredar di masyarakat umum. Karena membaca buku cerita/sastera itu menyenangkan hati, menambah pengetahuan saya lebih meluas, mengubah takdir saya mengarungi hidup masa depan dengan arif bijaksana dan penuh cita-cita yang positif. Dulce et utile, kata Horace. Berpikir positif.

Pelajaran Nembang.

Pelajaran Berhitung, Pelajaran Olahraga, Pelajaran Budi Pekerti, merupakan mata pelajaran baru di kelas III, tetapi tidak menimbulkan perubahan mendasar dalam cara ajar-mengajar di kelas III. Pelajaran Mendongeng, caranya seperti pelajaran Mendongeng di kelas I dan II. Guru mendongeng, murid pada pelajaran mendongeng minggu berikutnya disuruh mendongengkan cerita yang diajarkan guru minggu lalu bergiliran seorang demi seorang di depan kelas. Tidak lagi menggunakan gambar komik yang di dinding kelas II tahun lalu.

Pelajaran Nembang, caranya masih seperti pelajaran Nembang pada kelas II, yaitu guru menulis tembang di papantulis dengan huruf Hanacaraka, dan guru mengajarkan caranya murid harus menyanyikan lagu dolanan dengan menunjuk-nunjuk tulisan di papantulis. Tapi objek lagunya yang berbeda. Yang ditulis di papantulis bukan lagi lagu dolanan, melainkan tembang macapat alias SASTRA JAWA tingkat tinggi. Jadi sejak kelas III Sekolah Dasar Angka Loro, kami telah diajari bagaimana luhurnya penciptaan sastra Jawa zaman itu. Yang ditulis guru di papantulis dan para murid disuruh menghafalkan nada dan irama lagunya adalah syair lagu tembang Kinanthi: Padha gulangen ing kalbu…., tembang Mijil: Dedalané guna lawan sekti…., tembang Dhandhanggula: Yogyanira kang para prajurit, ingkang bisa sira anulada….., tembang Sinom: Sun iki dhutaning nata, Prabu Kenya Majapait…..Sasstra Jawa gaya lama semua dicipta menggunakan tembang, ceritanya dicipta dengan dasar memperhitungkan guru gatra, guru lagu, guru wilangan. Tiap kalimat, baris maupun kata akhir harus disesuaikan dengan aturan tembang macapat tadi. Peraturan mencipta cerita atau sastera seperti itu tidak mungkin bisa kita nikmati kalau kita tidak diajari sastra Jawa, dan tidak mungkin kita tiba-tiba menciptakan cerita sastra Jawa dengan berlagu seperti itu kalau sebelumnya kita tidak diajari aturan-aturan menulis sastra Jawa adiluhung seperti itu. Lalu di mana kita bisa belajar menikmati dan mencipta peraturan sastra Jawa seperti itu kalau di sekolah tidak diajarkan sastra Jawa?

Pelajaran Nembang di kelas III waktu itu yang diajarkan oleh guru tembang macapat, dan pada jam pelajaran Nembang minggu berikutnya para murid disuruh menirukan Nembang di depan kelas, tidak membuat murid sangat kesukaran. Sebab pada zaman itu, semua penduduk Kota Sragen berbicara bahasa Jawa, dan meskipun buta huruf tidak bisa membaca buku, mereka dengan nonton wayang maupun kethoprak atau tontonan yang lain, telah hafal pula lagu-lagu tembang macapat seperti itu. Oleh para penggiat seni Jawa, buku-buku sastera Jawa sudah disawalakan, dijabarkan dan disiarkan menjadi senisuara dan senitontonan yang bisa diperdengarkan dan ditonton. Dari pusat kerajaan yang pusatnya seniman Jawa terpelihara dan berkreasi/inovasi hingga bocah angon (penggembala ternak) di puncak gunung sudah hafal secara lisan jenis-jenis lagu sastera Jawa yang dicipta tertulis dan terdapat di buku-buku.

Dengan mengajari Nembang seperti yang dilakukan oleh guru kelas III Sekolah Angka Loro di desa seperti itu, maka mengajarkan sastera Jawa yang penuh aturan sehingga peliknya begitu rupa ya ternyata gampang saja. Yaitu asal ada guru yang bisa menulis dan menuturkan nada tembang sastera Jawa adiluhung, ada tulisan yang dijadikan pedomannya, dan ada muridnya, ya teknik mengajarkan sastera Jawa itu mudah. Para murid tidak usah mencatat tulisan guru di papantulis. Hanya mengikuti saja apa yang guru memimpinnya menyuarakan nada tembang sambil menunjuk tulisannya di papantulis, maka pada pelajaran Nembang minggu berikutnya ketika para murid seorang demi seorang berdiri di depan kelas untuk menyanyikan tembang macapat yang diajarkan minggu lalu sudah pada hafal. Gampang banget. Namun, juga harus diajarkan di sekolah oleh guru. Kalau tidak, ya sastera Jawa adiluhung hanya akan ditemukan oleh orang Jawa dalam bentuk lisan dari mulut ke mulut (karena banyak orang Jawa zaman itu ~ dan zaman sekarang ~ tidak membaca buku, maka ‘pelajaran hidup’ yang diterimanya (termasuk tembang Jawa adiluhung) pelajaran hidup yang diubah-ubah secara lisan mungkin sekali sudah berubah menjadi pelajaran hidup yang menyesatkan. Segala hal yang diterima secara indrawi, atau secara lisan, sangat rawan diterima dengan baik, hingga menimbulkan salah tangkap dan kalau dijadikan pedoman hidup menjadi kelakuan yang melenceng dari kebaikan.

Kelas IV Sekolah Angka Loro (1941-1942)

Saya naik kelas IV tahun 1941. Mata pelajaran yang diajarkan di kelas banyak berubah dari mata pelajaran di kelas III. Tambahan mata pelajaran yang baru adalah Ilmu Bumi. Di kelas III belum diajari Ilmu Bumi. Ilmu Bumi diajarkan 2X seminggu.

Pada mata pelajaran Ilmu Bumi yang diajarkan pertama kalinya adalah menggambar peta wilayah Kabupaten Sragen. Di dinding kelas IV ada tergantung gambar-gambar besar peta wilayah Kabupaten Sragen, peta wilayah Kerajaan Surakarta, peta wilayah Kerajaan Jogjakarta, peta wilayah Jawa Tengah, serta gambar peta seluruh dunia. Gambar peta wilayah Kabupaten Sragen, Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Jogjakarta, dasarnya putih, gambarnya garis-garis hitam dan merah (dua warna). Sedangkan peta wilayah Jawa Tengah dan Dunia cetakannya warna warni, misalnya untuk laut berwarna biru, untuk darat dataran rendah berwarna hijau, daerah pegunungan dan gunungnya berwarna cokelat. Saya ingat, pada peta wilayah Kerajaan Surakarta ada dimasukkan wilayah Imagiri juga digambar, gambarnya terlihat di luar batas wilayah Kerajaan Surakarta, sehingga pada peta tadi gambar wilayah Imagiri seperti merupakan pulau di luar batas wilayah Kerajaan Surakarta..

Untuk pelajaran menggambar peta wilayah Kabupaten Sragen, kami diberi buku gambar (polos, tidak bergaris, dan kertasnya tebal) gratis. Kami juga diberi buku tulis yang bergaris seperti waktu di kelas II dan kelas III. Bahkan banyaknya sampai 5 buku tulis, untuk mencatat beberapa mata pelajaran. Pada kelas IV ini buku tulis yang dipakai untuk mencatat pelajaran boleh dibawa pulang. Oleh karena itu sejak kelas IV murid-murid bersekolah membawa tas.

Satu dari mata pelajaran Ilmu Bumi digunakan menggambar peta, satu yang lain digunakan untuk mencatat (mencoto) tulisan guru di papantulis. Pelajaran menggambar peta wilayah Kabupaten Sragen, guru hanya memindahkan gambar besar peta wilayah Kabupaten Sragen dari dinding kelas ke papantulis. Lalu menerangkan sedikit bahwa untuk batas-batas kabupaten tandanya deretan tanda “tambah-titik-tambah-titik” (+.+.+.+), untuk batas kaonderan (kecamatan) tanda “suda-titik-suda-titik” (~.~.~.~). Lalu jalan raya digambar dengan warna merah, pegunungan dengan warna cokelat. Warna-warna lainnya (tanah datar warna hijau seperti gambar peta wilayah Jawa Tengah, laut berwarna biru) tidak usah diikuti pada gambar yang dibuat oleh murid-murid. Pensil warna disediakan oleh sekolah, dipakai berganti-gantian oleh murid, tidak boleh dibawa pulang. Buku gambarnya boleh dibawa pulang, tetapi pensilnya tidak.

Pelajaran menggambar peta wilayah Kabupaten Sragen berlangsung tiga empat kali jam pelajaran (satu bulan), satu gambar selesai. Diberi angka oleh guru. Namun pelajaran menggambar peta Kabupaten Sragen tidak hanya digambar satu kali. Tetapi sampai tiga kali. Jadi untuk pelajaran menggambar peta wilayah Kabupaten Sragen saja dibutuhkan waktu 3 bulan. Setelah itu baru pada pelajaran menggambar peta, murid disuruh menggambar peta wilayah Kerajaan Surakarta. Seperti halnya menggambar peta wilayah Kabupaten Sragen, murid juga disuruh menggambar tiga kali wilayah Kerajaan Surakarta.

Sebelum kami beranjak menggambar peta wilayah berikutnya (Jogjakarta atau Jawa Tengah?) Balatentara Dai Nippon datang menyerbu Pulau Jawa (Maret 1942). Dan saya dibawa Ibu pindah ke Surabaya.

Pada jam pelajaran Ilmu Bumi yang lain digunakan untuk mencatat pelajaran Ilmu Bumi yang ditulis oleh guru di papantulis. Guru menulis di papantulis dengan huruf ABC Latin (tulis tangan, bukan tulis huruf cetak). Karena di kelas III murid-murid sudah dengan tekun disuruh belajar menulis tangan huruf ABC, maka mencoto tulisan guru di papantulis tidak menimbulkan kesulitan. Kami murid-murid sudah dengan cepat dan lancar menulis huruf Hanacaraka dan huruf ABC tulisan tangan (bersambung, tidak per huruf seperti huruf cetak, dan biasanya kami menyebut tulisan latin). Yang ditulis guru di papantulis juga tidak banyak. Misalnya:

Kabupaten Sragen

Kabupaten Sragen klebu wengkoné Krajan Surakarta Hadiningrat.

Watesé: Sisih wétan Kabupaten Ngawi. Kulon Kabupaten Bojolali.

Elor Kabupaten Jepara-Rembang. Kidul Kabupaten Wonogiri.

Seterusnya ditulis terbagi jadi berapa Kawedanan utawa Onder-district, masing-masing Onder-district disebut namanya, misalnya Sambung-macan, Kedhawung, Sukoharjo, Masaran, Tangen, Gemolong. Keadaan tanahnya: bagian besar dataran rendah yang subur, dipetak-petak jadi persawahan dan perdesaan. Hasil sawah digilir antara padi yang digarap oleh petaninya, dan tebu yang digarap/sewa oleh pabrik gula Mojosragen. Tanah di sebelah utara ada Pegunungan Kendeng yang berbatu kapur, ditanami hutan jati milik Pemerentah Hindia Belanda. Di manapun pohon jati tumbuh, misalnya di kebun seorang warga di luar hutan jati, adalah milik Pemerintah Hindia Belanda, semua warga perorangan tidak boleh memilikinya, menebang, dan menjual-belikan. Di sebelah selatan termasuk sedikit kaki Gunung Lawu, tanahnya subur, dijadikan tanah onderneming (= budidaya perkebunan) hutan karet dan kopi juga milik perusahaan Belanda. Penduduk Kabupaten Sragen paling banyak petani, hidup dari menanam padi dan hasil persewaan kebun tebu.

Ya, Ilmu Bumi seperti itulah yang dicatat oleh guru di papantulis, yang juga dicontoh oleh murid-murid kelas IV. Kalau penulisan selesai, lalu diterangkan (diulas) oleh guru. Guru menunjuk gambar batas Onder-district Tangen yang letaknya pada bagian atas (utara) dari gambar peta Kabupaten Sragen, murid disuruh melihat dan menghafalkan. Pada pelajaran selanjutnya, murid disuruh berdiri di depan kelas, menjawab pertanyaan guru tentang Ilmu Bumi yang ditulis oleh guru di papantulis pelajaran yang lalu, atau disuruh menunjuk di gambar peta Kabupaten Sragen di mana batas-batas Onder-district Sambung-macan. Tentu saja pelajaran Ilmu Bumi tentang Kabupaten Sragen begitu harus berlangsung berminggu-minggu. Kalau semua murid sudah mendapat giliran menjawab pertanyaan guru, baru pelajaran Ilmu Bumi seperti itu dilanjutkan dengan Wilayah Karesidenan Surakarta, yang terdiri atas dua wilayah Kerajaan, yaitu Kerajaan Surakarta Hadiningrat dan Kerajaan Mangkunegaran.

Membaca buku cerita di kelas bergiliran masih berlanjut, yaitu buku Kembang Setaman jilid III (kumpulan cerita pendek bahasa Jawa huruf Hanacaraka), Ontjèn-ontjèn (kumpulan cerita pendek bahasa Jawa huruf ABC), Matahari Terbit jilid II (kumpulan cerita pendek bahasa Melayu huruf ABC). Buku cerita satu buku satu lelakon keluarga seperti Siti Karo Slamet, Kuncung Karo Bawuk, Gothang Karo Klentreng, yang pernah diajarkan di kelas II dan III, tidak ada lagi. Tetapi ada keharusan tiap murid harus meminjam buku (gratis) ke perpustakaan sekolah, yaitu buku-buku penerbitan Balai Pustaka. Letak buku perpustakaan tadi di kelas V, tiap jam istirahat pertama ada guru yang melayani peminjaman buku-buku tadi. Yang boleh dan harus pinjam buku murid kelas IV. Murid kelas V saya tidak tahu, karena waktu pinjam buku di perpustakaan kelas V yang saya lihat hanya murid-murid kelas IV teman saya sekelas, itupun murid kelas IV waktunya dibagi 6 hari, dilayani pinjam buku sejak hari Senin sampai dengan Sabtu. Jadi jumlah yang dilayani peminjaman buku tiap hari tidak terlalu banyak.

Tiap murid kelas IV boleh meminjam buku tiap kali 2 buku, dipinjam dibawa ke rumah paling lama selama 2 minggu. Selain yang melayani peminjaman di perpustakaan, murid kelas IV yang pinjam buku pun bukunya dicatat oleh guru kelas IV (ditunjukkan kepada guru kelas IV). Nah, meskipun tidak lagi diajari membaca satu buku cerita keluarga berganti-ganti bersama murid satu kelas di kelas IV, dari buku pinjaman perpustakaan sekolah kami membaca buku lakon-lakon cerita (novel atau roman). Bagaimana pun juga, setelah diajari budaya membaca buku cerita (sastera), di kelas IV kami sudah punya kegemaran baca buku cerita lakon seperti itu. Buku Balai Pustaka di perpustakaan sekolah dibagi jadi 3 golongan, yaitu A (bahasa Jawa huruf Hanacaraka), B (bahasa Jawa huruf ABC), dan C (bahasa Melayu huruf ABC). Murid kelas IV bebas memilih buku yang dipinjam. Tapi kebanyakan yang dipinjam golongan A dan B. Ceritanya mudah (karena bahasa Jawa) dan jadi populer karena para murid kelas IV yang telah meminjam dan membaca buku tadi lalu bercerita kepada temannya. Dan teman yang lain juga bergairah untuk membaca buku tadi. Yang meminjam dan membaca buku golongan C jarang, dan tidak terdengar cerita tentang buku bahasa Melayu yang dipinjam tadi. Saya sendiri juga tidak pernah pinjam buku golongan C. Selain bukunya tebal-tebal, bahasanya bukan bahasa Jawa, ceritanya lelakon yang asing.

Meskipun begitu, dengan meminjam gratis di perpustakaan sekolah, kegiatan dan kegairahan kami murid kelas IV membaca buku sangat tinggi. Belum sampai 2 minggu, sudah habis kami baca, lalu kami kembalikan dan meminjam lagi 2 buku cerita yang lain. Dari meminjam dan membaca buku dari perpustakaan sekolah tadi, di kelas IV saya sudah membacai buku-buku: Alap-alap Dursilawati, Alap-alap Surtikanthi, Abimanyu Kerem, Srikandhi Meguru Manah (cerita wayang, huruf Hanacaraka, format bukunya besar, mungkin 21X28Cm, ada gambar-gambar wayang yang sedang dalam cerita, kebanyakan gambar wayang tadi lukisan A.Kasidi), Pak Banjir Jamu Turu, Kraton Marmer, Ni Wungkuk, Sri Kumenyar, Ngulandara (bahasa Jawa huruf ABC). Sangat biasa, sebelum memilih pinjam buku yang judulnya Anu, kami sudah diceritai dulu oleh murid cerita tentang buku Anu tadi. Dan setelah sama-sama kami baca, kami jadi saling bicara mengenai buku Anu tadi waktu mengaso. Buku Anu tadi jadi hidup di antara kami murid-murid kelas IV Sekolah Angka Loro tahun 1941-1942.

Peminjaman buku di perpustakaan sekolah bukan saja diperbolehkan, melainkan oleh guru kelas IV diharuskan. Karena pasti buku yang dipinjam ditunjukkan kepada guru kelas IV, dicatat. Dan ada jam pelajaran khusus seminggu 2X guru kelas IV menanyai murid-muridnya bagaimana saja cerita buku yang dipinjam oleh murid. Dari tanya jawab tadi guru kelas IV mengetahui buku-buku yang dipinjam dari perpustakaan kelas itu dibaca dinikmati atau tidak. Jawaban murid tadi diberi angka yang menentukan kenaikan kelas.

Pada dasarnya para murid kelas IV bebas memilih buku apa saja yang dipinjam di perpustakaan sekolah. Namun, dari pelajaran membaca buku bersama di kelas yang masih diajarkan, guru kelas IV tahu kemampuan para muridnya membaca buku. Kalau ada yang lambat membaca buku di pelajaran kelas, guru bisa menganjurkan agar murid tadi meminjam buku judul tertentu di perpustakaan sekolah. Dan pembacaannya pun diperhatikan khusus oleh guru kelas IV. Jadi, meskipun di luar pelajaran membaca buku bersama di kelas, guru tetap membimbing murid-muridnya membaca buku.

Pada kelas IV tadi beberapa teman kegairahannya membaca buku cerita sangat tinggi, mereka pun mengajak mencari bacaan buku lain di luar perpustakaan kelas. Saya ikut ajakannya, meminjam buku di perpustakaan swasta di dekat sekolah kami, dan bahkan di persewaan buku di Kuwungsari (yang letaknya jauh dari tempat tinggal saya). Selain itu, suasana sekeliling saya mendukung kegemaran saya membaca buku. Yaitu Ibu saya bekerja sebagai pembantu di rumah Bupati Sragen (Mr. Wongsonegoro), saya bergaul serumah dengan putera-putera Pak Bupati, yang sebaya dengan saya bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School). ELS adalah sekolah dasar untuk orang-orang Belanda, hanya orang Jawa yang sangat berpengaruh (seperti halnya Bupati) anaknya boleh masuk sekolah di ELS. Masuk halaman sekolah sudah harus bicara bahasa Belanda. Lama belajar 7 tahun tamat. Bergaul dan bertempat tinggal dengan mereka, maka suasana kehidupan saya berbeda. Di sana tersedia juga trommel-tijdschrift, yaitu persewaan berbagai majalah dan tabloid bahasa Belanda yang terbit di Hindia Belanda, ditempatkan pada sebuah kotak. Penghuni rumah Bupati, termasuk putera-puteranya dan saya juga, bebas melihat-lihat majalah apa saja yang berada di kotak sewaan tadi. Di situ saya mengenal majalah-majalah bahasa Belanda, dengan gambar-gambarnya yang bagus, ada juga strip atau cerita gambar (komik). Ada putera Pak Bupati (Ndrajeng Tanti) yang sekolahnya sudah kelas V ELS, bahasa Belandanya sudah flot, suka menterjemahkan cerita yang sedang kami lihati. Suasana membukai majalah-majalah bahasa Belanda kian menarik bagi saya. Tiap 2 minggu sekali kotak berisi majalah dan tabloid itu diganti oleh pemilik kotak. Tiap kali ada majalah dan tabloid serta gambar komik baru yang dengan gairah kami lihati. Majalah yang saya ingat dan suka menyemaknya adalah: De Lacht (cerita dan gambarnya lucu-lucu). Dan ada majalah D’Oriënt, yang sangat terkesan ketika salah satu cerita yang dimuat di situ diterjemahkan oleh Ndrajeng Tanti. Ndrajeng Tanti sangat menyukai buku-buku yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Kami seringkali bersawala dengan buku-buku yang habis kami baca. Akhirnya buku pinjaman dari perpustakaan sekolah tidak lagi memuasakan, saya pun mencari buku bacaan di persewaan buku swasta, di dekat sekolah saya dan di Kuwungsari. Dari perpustakaan swasta tadi saya ingat berhasil membacai buku yang bukan diterbitkan oleh Balai Pustaka, misalnya: Solo Peteng, Topèng Emas, Tarzan Kethèk Putih, Tarzan Bali.

Bulan Maret 1942 Jepang datang ke Indonesia. Suasana di rumah Bupati Sragen Wongsonegoro berubah. Ibu keluar dari menjadi pembantu di sana, dan mengajak pindah ke Surabaya (bulan Agustus 1942).  Di Surabaya Ibu menjadi pembantu kemenakannya, yang suaminya menjadi Asisten Bupati Kabupaten Surabaya (kantor dan rumah bupatinya di Jalan Gentengkali 85 – 87 Surabaya). Dengan begitu saya mendapat pelajaran di kelas IV Sekolah Angka Loro di Sragen terputus di tengah jalan. Namun, saya sudah suka membaca buku, terutama buku bahasa/sastera Jawa. Pelajaran sastera Jawa yang diajarkan di Sekolah Angka Loro di Sragen itu yang membuat saya gemar membaca buku. Yaitu tiap hari masuk sekolah pelajaran yang paling utama ya membaca buku cerita, membaca buku cerita, membaca buku cerita, membaca buku cerita. Cerita yang tertulis adalah sastera. Jadi membaca buku cerita bahasa Jawa ya artinya membaca buku sastera Jawa.

Ternyata mengajar sastera Jawa itu mudah. Yaitu ada guru yang bisa membaca bahasa Jawa, ada bukunya sastera Jawa, dan ada muridnya yang belajar sastera Jawa. Tiap hari guru membimbing murid membaca buku sastera Jawa. Hanya begitu setiap hari masuk sekolah, maka selama 4 tahun sekolah di Sekolah Angka Loro di Sragen saya (dan teman-teman sekelas saya) sudah gemar membaca buku sastera Jawa.

Mengingat-ingat pelajaran yang diberikan guru sejak kelas I sampai kelas IV di Sekolah Angka Loro di Sragen, tiap tahun berganti-ganti murid, pelajaran yang diajarkan di tiap kelas sama seperti yang saya alami. Di kelas I (1938), saya diajari membaca huruf Hanacaraka, dan membaca kalimat di buku: NINI LARA MATA. SIWA DIPA SILA. Setelah saya kelas IV (1941-1942) saya dengar adik-adik saya di kelas I juga diajari membaca buku seperti itu: NINI LARA MATA. SIWA DIPA SILA. Lalu waktu tahun ajaran berjalan agak lama terdengar murid kelas I belajar membaca: ASUNĒ SĒNA. Ketika saya di kelas III dan IV, saya dengar murid kelas I waktu itu diajari lagu dolanan, lagu-lagu yang diajarkan ya lagu yang diajarkan kepada saya waktu saya kelas I. Dan saya dengar murid kelas II diajari nembang lagu dolanan dengan cara guru menulis lagunya dengan huruf Hanacaraka di papantulis, lagu: Pendhisil, Katé Dipanah, Jalak Pita, persis yang saya alami waktu kelas II dulu. Dan ketika saya di kelas IV, pelajaran nembang di kelas III cara mengajarnya guru menulis di papantulis huruf Hanacaraka, murid diajari nembang bait-bait sastera Jawa adiluhung seperti: Padha gulangen ing kalbu…. Dedalané guna lawan sekti…. Yogyaniru kang para prajurit….. Suniki dutaning Nata…. Begitu pula pelajaran mendongeng. Yang didongengkan di kelas I ya dongeng yang dulu waktu saya kelas I. Di kelas II ya dongeng yang diajarkan kepada saya sewaktu saya kelas II, dan caranya pun menggunakan gambar komik yang besar yang digantung di dinding kelas II. Dan eloknya, guru kelas I, guru kelas II, dan seterusnya ya guru-guru yang dulu mengajar saya waktu kelas I, kelas II dan seterusnya. Dengan cara mengajarkan mambaca ASUNĒ SĒNA tiap tahun ganti murid seperti itu, mengajarkan lagu: Jalak-jalak pita tiap tahun ganti murid seperti itu, mengajarkan tembang: Dedalané guna lawan sekti tiap tahun ganti murid seperti itu, tentu saja para guru tadi pasti sudah hafal betul bagaimana mengajarnya tiap tahun ganti murid. Dan karena hal itu selalu berulang pada tahun pengajaran yang sama, maka saya berkesimpulan bahwa semua apa yang diajarkan di kelas-kelas Sekolah Angka Loro sudah diprogramkan secara baku dari dinas pendidikan setempat (Kabupaten), atau bahkan se-Karesidenan, se-Provinsi. Pengetahuan saya lebih jauh tentang cara mengajar dan bahan ajar di sekolah dasar seperti itu tetap diterapkan pada zaman awal Kemerdekaan RI (1950-1960), Mas Tamsir AS, yang usianya 5 tahun lebih muda daripada saya, belajar di Sekolah Dasar pada tahun-tahun Indonesia telah merdeka di Tulungagung, juga diajari membaca buku Kuntjung Karo Bawuk. Mas Tamsir AS adalah sasterawan Jawa yang terkenal dengan mendirikan Sanggar Sastera Triwida di Blitar, Tulungagung, Trenggalek. Dalam pimpinan dan bimbingannya Sanggar Sastera Triwida melahirkan banyak pengarang sastera Jawa dan panulis buku-buku ajar bahasa Jawa dan Indonesia. Mas Tamsir AS sangat cenderung membimbing anggota sanggarnya atau juga muridnya (dia guru SD) agar gemar membaca buku dan sedapat mungkin menulis buku.

Bahwa pergantian guru kelas tentulah pasti berlangsung, itu bisa ditandai dengan adanya calon guru yang diikutkan suruh praktik mengajar ketika saya kelas II. Beberapa calon guru disuruh mengajar beberapa mata pelajaran, ditunggui dan diamati oleh guru kelas kami. Para calon guru tadi ikut mengajar hanya pada jam-jam tertentu, atau pelajaran tertentu saja. Setelah itu pergi. Sekali gus yang ikut praktik mengajar sampai 3-4 orang. Dan mereka juga datang praktik mengajar begitu sampai berulang kali datang.

II

MENGAJAR SASTERA JEPANG ITU MUDAH

Oleh Suparto Brata

Jepang menyerbu Tanah Jawa bulan Maret 1942. Saya pindah dari Sragen ke Surabaya bulan Agustus 1942. Masuk Sekolah Rakyat di Moendoeweg, tempatnya di depan Stadion Tambaksari. Sekolah Rakyat di Moendoeweg ketika itu sudah dibuka sejak kelas I sampai kelas VI. Saya langsung masuk belajar di kelas IV.

Sekolah Rakyat Moendoeweg.

Pada zaman Jepang, tingkat-tingkat sekolah disamakan. Awal belajar di sekolah namanya Sekolah Rakyat (Kokumin Gakkõ), lama belajar 6 tahun tamat. Jadi lain dengan pada zaman Hindia Belanda, ada Sekolah Angka Loro (sekolah desa, 5 tahun tamat), ada sekolah HIS, HCS, ELS (7 tahun tamat). Sampai sekarang sekolah rakyat 6 tahun tamat tadi terus berlangsung.

Gedung Sekolah Rakyat Moendoeweg jelas bahwa dulunya yang menggunakan anak-anak bangsa Belanda (Europeesche Lagere School). Bangunan gedungnya maupun fasilitas alat-alat sekolahnya sangat mewah. Ya karena dulu yang sekolah di situ anak Belanda melulu, pada zaman Jepang muridnya kosong. Sekolahnya ditutup. Karena yang dimusuhi Jepang adalah penjajah Belanda. Jadi kini dibuka sebagai Sekolah Rakyat oleh pemerintah Balatentara Dai Nippon, guru-gurunya dan murid-muridnya juga baru semua. Baru dikumpulkan dari sekolah-sekolah yang dulunya dari sekolah swasta atau Sekolah Angka Loro seperti sekolah saya di Sragen itu. Langsung dibuka dari kelas I – VI lengkap dengan guru-gurunya yang semuanya juga orang Jawa. Muridnya anak-anak Jawa semua yang rumahnya di dekat-dekat sekolah Moendoeweg itu, yaitu anak-anak dari kampung Tambaksari, Bogen, Jagiran, Karanggayam, Ora-Ora. Betul-betul arèk-arèk kampung Surabaya. Orangtuanya bekerja sebagai kuli, buruh pabrik, tukang bangunan, petani. Semua anak laki-laki. Tidak ada anak perempuan kampung bersekolah. Semua murid Sekolah Rakyat Moendoeweg telanjang kaki (tidak bersepatu), kepalanya semua digundul. Begitu juga saya.

Pak Suwarno Guru sastera Jepang.

Di seluruh sekolah yang saya tahu yang mengajar bahasa Jepang Pak Suwarno. Yang jelas Pak Suwarno mengajar bahasa Jepang di kelas IV, V dan VI. Kelas I, II, III entah siapa yang mengajar bahasa Jepang, atau apakah di kelas I, II, III juga sudah diajari bahasa Jepang.

Pak Suwarno caranya mengajar bahasa Jepang seperti halnya guru kelas II atau kelas III Sekolah Angka Loro di Sragen mengajarkan pelajaran Nembang. Yaitu guru menulis di papantulis, lalu mengajari murid mengucapkan tulisan guru di papantulis sambil menunjuk huruf demi huruf banyi haruf yang ditulis oleh guru tadi. Bedanya, guru yang mengajarkan pelajaran Nembang dulu kami murid-murid tidak disuruh mencatatnya. Karena yang diajarkan tembang bahasa Jawa, dan murid semua di Sragen bertutur bahasa Jawa, bunyi tembang tadi setelah diajari caranya menuturkan (menyuarakan/menyanyikan) segera hafal karena artinya pun dengan sendirinya sudah pada dimengerti (bahasa Jawa). Sedang yang diajarkan oleh Pak Suwarno bahasa Jepang, yang ditulis di papantulis juga bahasa Jepang huruf Katakana, oleh karena muridnya tidak bertutur bahasa Jepang, jadi murid harus mencatat apa yang ditulis di papantulis oleh Pak Suwarno, agar di luar kelas murid bisa menghafalkan bahasa Jepang yang ditulis oleh Pak Suwarno dari catatan tulisannya si murid sendiri. Dengan begitu, selain murid belajar membaca huruf Katakana dan tahu artinya, juga dibiasakan menulis huruf Katakana.

Pak Suwarno menulis di papantulis bahasa Jepang dengan huruf Katakana. Huruf Katakana itu coraknya (gambarnya) sangat beda dengan huruf Hanacaraka, tetapi sistemnya hampir sama dengan huruf Hanacaraka. Yaitu tiap bunyi, ada gambar hurufnya. Ada bunyi HA, maka gambar hurufnya ada satu buah. Ada bunyi Na, maka gambar hurufnya juga ada satu buah. Kalau bunyinya digabung HANA, maka gambar huruf Hanacarakanya juga dua buah, dan huruf Katakananya juga dua buah, yaitu gambar huruf HA dan gambar huruf NA. Hanya bedanya, kalau huruf Hanacaraka, jumlah seluruhnya 20 gambar bunyinya “aaa” semua, kalau mau mengganti bunyi jadi “iii” tiap huruf harus diberi tambahan “pakaian” (sandhangan), tanda bulatan kecil di atas huruf “aaa”, kalau mau diganti bunyi “uuu” huruf yang bunyinya semula “aaa” ditambah “pakaian” tanda panjang di bawah huruf “aaa”, dan seterusnya bisa diubah bunyi huruf yang asalnya bernada “aaa” menjadi “iii” atau “uuu”. Asal muasal 20 huruf Hanacaraka yang nadanya (bunyinya) “aaa” disebut “nglegena” (= telanjang). Agar berbunyi “iii”, “uuu”, “ééé”, “ooo”, diberi “pakaian” (= sandhangan) yang tandanya berbeda-beda pula tetapi huruf  asal muasal “nglegena” harus ditulis. Tanda gambar “pakaian” “iii” namanya “wulu”, “pakaian” “uuu” namanya “suku”, “ééé” namanya “taling”, “ooo” namanya “taling-tarung”. Maka, huruf Hanacaraka yang asal mulanya telanjang berbunyi Hanacaraka, agar bisa berbunyi Hiniciriki tiap huruf harus diberi pakaian “wulu”, agar bisa berbunyi Hunucuruka tiap huruf harus diberi pakaian “suku”, kalau bunyinya Hénécéréké pakaiannya “taling”, kalau bunyinya Hoonoocoorookoo pakaiannya “Taling-tarung”. Sedang huruf gambar hurf Katakana jumlahnya ada 50, karena tiap huruf yang nglegena pada huruf Hanacaraka, agar bunyinya menjadi “iii”, “uuu”, “ééé”, “ooo”, bukan diberi tanda “pakaian” melainkan ada gambarnya sendiri. Jumlah gambar huruf Katakana adalah gambar huruf  A, KA, SA, TA, NA, HA, MA, YA, RA, WA (10 gambar huruf) dikalikan huruf yang bersuara “aaa”, “iii”, “uuu”, “ééé’,”ooo” (5 macam bunyi), (10X5) ada 50 huruf. Ada beberapa bunyi huruf yang sama gambarnya, yaitu huruf KA = GA, TA = DA, HA=PA=BA, hanya diberi semacam tanda kutip, sehingga dengan demikian gambar hurufnya tidak bertambah (tetap 50 macam gambar).

Tentang belajar menghafal corak huruf Katakana (sebanyak 50 macam gambar tadi), sewaktu saya masih di kelas IV Sekolah Angka Loro di Sragen, setelah Jepang mendarat di Pulau Jawa, sudah diajari menghafal 50 macam huruf Katakana. Dan ditambah gambar yang diberi tanda kutip KA, TA, HA. Serta diajari bagaimana cara menulisnya. Diajari selama April-Agustus 1942 (pendudukan Jepang sampai saya pindah ke Surabaya), yang mengajari ya guru kelas IV Sekolah Angka Loro, maka kami semua ~ termasuk saya ~ sudah hafal. Namun, waktu di kelas IV di Sragen tadi, kami belajar dengan menggunakan buku Maki It, (buku pelajaran bahasa Nippon jilid I yang juga dibagi, dibaca dan disemak bersama satu kelas, dan disimpan lagi di almari sekolah). Caranya belajar-mengajar ya seperti ketika kami di kelas I, membaca dan menulis Hanacaraka, dan mulai membaca Nini lara mata, Siwa Dipa Sila, tetapi kini bahasa Jepang dengan huruf Katakana: Inu to Neko. Kono kami wa shiroi desû. Guru kelas IV di Sragen, dengan sangat patuh mengikuti pelajaran di buku Maki It. Persis seperti guru kelas I Sekolah Angka Loro dulu mengajarkan membaca dan menulis Hanacaraka, yaitu membaca cerita-cerita mengikuti petunjuk yang ada di buku. Dasarnya belajar di sekolah adalah membaca buku, membaca buku, membaca buku. Bukunya bahasa apa saja, tulisannya huruf apa saja, tapi yang paling penting tujuan anak bersekolah adalah membaca buku, membaca buku, membaca buku. Ini terbukti dari bagaimana saya harus bersekolah pada zaman di Sekolah Angka Loro belajar membaca huruf Hanacaraka, ABC, Katakana, dan bahasa Jawa, Melayu (Matahari Terbit), Nippon (Maki It).

.

Apa yang ditulis di papantulis oleh Pak Suwarno adalah cerita pendek yang terdiri dari 10-15 kalimat bahasa Nippon huruf Katakana. Setelah murid juga mencatatnya, Pak Suwarno dengan suara lantang mengajari bagaimana membacanya cerita yang ditulis di papantulis. Mengajar membaca begitu berulang-ulang. Dan murid pun setelah bersama bersuara mengikuti pelajaran guru membaca di papantulis, ganti-berganti tiap murid disuruh membaca lantang tulisan Pak Suwarno di papantulis. Begitu sampai semua dapat giliran membaca. Untuk melaksanakan begitu, kadang diperlukan dua tiga hari jam pelajaran bahasa Nippon. Tulisan Pak Suwarno di papantulis tidak dihapus dulu. Baru dihapus setelah dikira semua sudah lancar membacanya.

Pelajaran bahasa Nippon selanjutnya, murid satu per satu disuruh berdiri di depan kelas, membaca cerita pendek yang diajarkan oleh Pak Suwarno, membaca dari catatan murid sendiri. Buku catatan murid sendiri itu dipegang oleh kedua tangan, lengan direntangkan lurus-lurus ke depan wajah, lalu murid membaca catatannya sendiri tadi. Sementara seorang murid mendapat giliran membaca dari catatannya sendiri di depan kelas, murid yang lain juga menyemak dari kertas catatannya sendiri cerita yang sama. Jadi kalau yang membaca ada yang salah, para murid lain bisa menegurnya, “Salah!”. Pelajaran bahasa Nippon dengan murid membaca catatannya sendiri begitu namanya Yomikata.

Jadi pelajaran bahasa Nippon seperti itu sebenarnya sama saja metodenya dengan ketika di kelas II seluruh kelas membaca buku Siti Karo Slamet, di kelas III murid seluruh kelas membaca buku-buku cerita Kuncung Karo Bawuk, Gothang Karo Klentreng, dan buku wajib baca bersama di kelas III seperti buku Kembang Setaman (bahasa Jawa, tulisan Hanacaraka), Ontjèn-ontjèn (bahasa Jawa huruf ABC), Matahari Terbit (bahasa Melayu huruf ABC). Yang diajarkan oleh Pak Suwarno itu juga pelajaran membaca bersama murid seluruh kelas, cuma yang dibaca bukan berupa buku, melainkan catatan murid-murid sendiri. Kalau buku-buku yang dibaca di kelas III terdiri dari berbagai bahasa dan huruf-huruf yang berbeda, maka yang dibaca bersama pada pelajaran Pak Suwarno adalah bahasa Nippon huruf Katakana. Dan cerita yang dibaca tadi adalah cerita bahasa Nippon, yang tertulis. Cerita yang tertulis adalah sastera. Jadi Pak Suwarno dengan metode yang sama dengan guru yang mengajar di kelas III mengajari sastera Jawa, sastera Melayu dengan cara membaca cerita tertulis pada buku (bahasa Jawa huruf Hanacaraka), membaca cerita tertulis pada buku (bahasa Jawa huruf ABC), membaca cerita tertulis pada buku (bahasa Melayu huruf ABC), Pak Suwarno mengajarkan membaca cerita tertulis pada catatan murid: sastera Nippon huruf Katakana.

Tiap hari Yomikata, Hanashikata.

Setelah seminggu dua minggu diajari membaca cerita bahasa Nippon tulisan Katakana begitu (= Yomikata) semua murid dapat giliran, maka hari-hari pelajaran bahasa (sastera) Nippon tidak lagi membaca (= Yomikata), melainkan bicara menghafalkan cerita yang telah dipelajari minggu-minggu yang lalu. Murid-murid disuruh maju ke depan kelas tanpa membawa catatan, melainkan disuruh mengucapkan hafalannya pelajaran bahasa Nippon tadi, luar kepala. Pelajaran menghafal bahasa Nippon begitu namanya Hanashikata. Setelah pelajaran bahasa (sastera) Nippon berjalan berbulan-bulan, cerita yang ditulis oleh Pak Suwarno dan diajarkan kepada para muridnya telah menginjak beberapa judul cerita, misalnya judulnya Gakkõ (= sekolah), Jitengsia (= sepeda), Semeru no Yama (= Gunung Semeru), Kin no Ushi (= Sapi Emas), maka pelajaran Yomikata dan Hanashikata bisa tiap hari dilaksanakan. Tiap hari ada pelajaran Yomikata, yaitu membaca pelajaran yang dicatat oleh murid di depan kelas, bisa catatan/judul yang lama maupun yang baru saja ditulis oleh guru, dan juga pelajaran berbicara bahasa Nippon hafalan para murid yang pernah diajarkan, baik judul yang lama maupun yang baru.

Dengan adanya pelajaran bahasa Nippon Yomikata dan Hanashikata cara begitu, di rumah saya juga harus belajar dengan giat membacai secara lantang, dan menghafal luar kepala juga berbicara secara lantang. “Gakkõ. Gakkõ wa haji jihan ni hajimarimasu!” Itu kalau cerita pendeknya berjudul “Gakkõ” (= Sekolah).

Jam pelajaran bahasa Nippon seminggu 7X. Seminggu diajar masuk kelas 5 hari, yaitu hari Senin-Selasa-Rabu-Kamis-Jumat. Hari Sabtu tidak masuk kelas, dan tidak diajar oleh guru, melainkan hari krida, Kerja Bakti. Bahasa Nipponnya: Kingrohoshi no Doyõ-bi.

Dengan tiap hari masuk kelas murid harus membaca cerita pendek huruf Katakana terus-terusan begitu, kadang-kadang sehari diajari bahasa Nippon 2X jam pelajaran, lama-lama para murid pada bisa membaca, menulis dan berbicara bahasa Nippon. Karena cerita yang kami hafalkan ditulis dengan huruf Katakana (huruf Jepang), maka artinya oleh Pak Suwarno kami diajar Sastera Jepang. Mengajar Sastera Jepang tidak sulit.

Sekolah Rakyat Canalaan.

Tahun berikutnya kenaikan kelas. SR.Moendoeweg dibubarkan, seluruh muridnya dipindah ke bekas gedung sekolah HCS (Holland Chineesch School) di Canalaan nomer 121 Surabaya. Jalan Canalaan sekarang namanya diubah menjadi Jalan Kusuma Bangsa. Gedung sekolahnya ya besar dan halamannya luas. Murid etnis Cina yang dulu menempati gedung sekolah tadi sudah tidak ada. Diganti murid sekolah pindahan dari SR.Moendoeweg. Selain dari sekolahku SR.Moendoeweg juga dimasuki murid pindahan gabungan dari sekolah-sekolah HIS atau ELS yang pada zaman Jepang semua sudah diubah menjadi Sekolah Rakyat 6 tahun tamat. Jumlah kelasnya SR.Canalaan bertambah banyak dibandingkan dengan SR.Moendoeweg. Kelas III, IV, V, VI jumlahnya dua kali lipat, masing-masing ditempati oleh murid laki-laki saja, atau perempuan saja. Jadi murid laki-laki tidak campur sama murid perempuan. Adanya murid perempuan masuk ke SR.Canalaan menandakan bahwa mereka itu pada zaman Hindia Belanda bersekolah di HIS atau ELS. Yang bisa diterima di HIS atau ELS hanya anaknya orang kaya atau pejabat. Dan hanya anaknya orang kaya atau pejabat anak perempuan bisa masuk sekolah di situ. Beda dengan Sekolah Angka Loro (sekolahku di Sragen), dan yang muridnya anak petani atau buruh pabrik (sekolahku SR.Moendoeweg), tidak ada anak perempuannya yang masuk sekolah pada zaman itu (zaman Hindia Belanda). Guru-gurunya juga tambah banyak, tidak seorangpun guru kami dari SR.Moendoeweg yang ikut dipindah ke SR.Canalaan. Jadi bagi kami, seluruh guru di SR.Canalaan juga baru, tidak ada yang kami kenal sebelumnya.

Karena banyaknya kelas, guru bahasa Nipponnya juga tidak hanya seorang. Pak Suwarno sudah tidak mengajar lagi di sekolahku yang baru (SR.Canalaan). Entah dipindah ke mana. Guru bahasa Nipponnya semua laki-laki, yaitu Pak Wiyasmo, Pak Imam Kurmen, dan Pak Gunadi. Yang saya ketahui, guru-guru tadi mengajar di kelas III, IV, V, VI. Selama bersekolah di SR.Canalaan tahun 1943, 1944, 1945, saya pernah diajar bahasa Nippon oleh ketiga guru laki-laki tadi. Caranya mengajar persis sama dengan Pak Suwarno di kelas IV SR.Moendoeweg dulu. Guru menulis cerita pendek (10-15 kalimat huruf Katakana) di papantulis, murid disuruh mencatat di buku tulisnya masing-masing, murid harus membacanya berkali-kali hingga hafal di luar kepala cerita pendek tadi. Jadi ya tiap hari diajar Yomikata (= membaca huruf Katakana) dan Hanashikata (= berbicara bahasa Jepang). Pelajaran bahasa Nippon, tidak lain ya murid tiap hari disuruh membaca cerita yang ditulis Katakana, tiap hari tanpa jeda, diulang-ulang sampai lancar dan hafal. Gampang saja. Asal ada orang (guru) yang bisa membaca dan menerangkan apa artinya tulisan sastera tadi, ada cerita yang dibaca dan dihafalkan, ada murid yang diajari, maka mengajar sastera Jepang (atau sastera bahasa dan huruf apa saja), pasti beres. Yang paling penting, dibiasakan setiap hari pada jam pelajaran sekolah di kelas, dibimbing oleh guru.

Dalam pelajaran bahasa/sastera Jepang pada zaman itu (1942-1945) di Sekolah Rakyat yang agak mengherankan adalah adanya guru yang mengajar bahasa/sastera Jepang. Kok ada guru orang Jawa (Pak Suwarno, Pak Wiyasmo, Pak Imam Kurmen, Pak Gunadi, semua orang Jawa) yang bisa mengajar bahasa/sastera Jepang seperti yang dilakukan seperti pada zaman itu. Jepang menduduki Pulau Jawa pada bulan Maret 1942, bulan Agustus 1942 ketika saya masuk SR.Moendoeweg kok Pak Suwarno sudah bisa mengajar bahasa dan sastera Nippon begitu lancar. Apa Pak Suwarno (orang Jawa, guru) dulu-dulunya sebelum Jepang datang sudah bisa berbahasa Nippon? Padahal, Sekolah Rakyat di Surabaya waktu Jepang baru menduduki Pulau Jawa (Surabaya) bukankah tidak hanya SR.Moendoeweg saja? Banyak sekolah HIS, HCS, ELS, Angka Loro yang sekaligus dilebur jadi Sekolah Rakyat (Kokumin Gakkõ) yang dibuka lengkap dengan murid dan gurunya? Tiap Sekolah Rakyat harus guru pengajar bahasa/sastera Nippon. Lalu dibutuhkan berapa guru bahasa/sastera Nippon-kah waktu itu. Apakah banyaknya sekolah dan kelas yang membutuhkan guru bahasa/sastera Nippon bisa dipenuhi dengan guru orang Jawa yang sudah fasih bahasa Nippon saat itu?

Pada zaman sekarang kata orang pengajaran bahasa/sastera Jawa TERPAKSA TIDAK diberikan di SD, SMP, SMA karena guru ahli (sarjana) bahasa Jawa tidak ada, buku ajar dan buku cerita/sastera bahasa Jawa tidak ada. Tapi mengapa pada zaman saya sekolah Kokumin Gakkõ 1943-1945 bahasa/sastera Nippon bisa diajarkan 7X dalam seminggu? Begitu ketat dan semangat pelajaran bahasa/sastera Nippon waktu itu hingga murid-murid kelas III, IV, V, VI Kokumin Gakkõ pada fasih Yomikata dan Hanashikata! Apa pada waktu itu sudah banyak orang Jawa guru yang sudah fasih bahasa Nippon?

Saya kira jika pada zaman sekarang bahasa/sastera Jawa tidak diajarkan di SD, SMP, SMA bukan karena gurunya tidak ada, melainkan karena politik pengajaran bahasa Jawa memang dibikin sulit. Atau memang metode guru mengajar murid tidak difahami dan dijiwai oleh para pendidik kita (guru/dosen).

Mulai diajar huruf kanji.

Ada proses yang beda setelah setahun Balatentera Dai Nippon menduduki Pulau Jawa.  Saya sudah kelas V di SR.Canalaan (1943-1944). Yang mengajar bahasa Nippon Pak Wiyasmo. Yang mengajar bahasa Nippon di kelas VI Pak Gunadi. Cara menulis cerita pendek-pendek bahasa Nippon di papantulis para guru tidak lagi melulu menggunakan huruf Katakana, melainkan disela huruf Kanji. Huruf Kanji adalah huruf Nippon cara lain dengan huruf Katakana. Huruf kanji digunakan untuk menulis buku, suratkabar dan tulisan umum lainnya. Kalau Katakana per gambar menerangkan huruf, kalau gambar huruf Kanji per gambar menerangkan kata. Bukan huruf lagi. Tiap kata bahasa Nippon punya gambarnya sendiri huruf Kanji.  Misalnya kata YAMA (=gunung), jika ditulis dengtan huruf Katakana akan terdiri dari dua gambar huruf, yaitu huruf YA dan MA (sama dengan huruf Jawa Hanacaraka, dua suku kata ya dua huruf Jawa). Tetapi kalau dieja dengan huruf Kanji, kata YAMA hanya digambar dengan satu gambar saja. Begitu juga kata-kata lain bahasa Nippon, kalau ditulis dengan huruf Kanji, tiap kata punya gambar hurufnya sendiri-sendiri. Andaikata kata-kata Jepang banyaknya 8000 kata, ya gambarnya huruf Kanji 8000 juga.

Cara para guru menulis 10-15 kalimat cerita pendek bahasa Nippon di papantulis dengan huruf Katakana seperti biasanya. Hanya di antara kalimat-kalimat huruf Katakana tadi, disela gambar huruf Kanji untuk suatu kata. Misalnya pada kalimat: Anata no tokei wa kin desu ka? Semua ditulis dengan huruf Katakana, artinya tiap suku kata dapat satu huruf Katakana, hanya pada kata tokei (=arloji) ditulis dengan huruf Kanji (hanya satu gambar huruf Kanji). Pada satu pelajaran cerita pendek bahasa Nippon yang terdiri dari 10-15 kalimat ditulis oleh guru di papantulis dengan huruf Katakana, hanya 4 – 5 kata yang digambar dengan huruf Kanji. Huruf Katakana murid sudah hafal semua sejak setahun lalu (1942) diajar bahasa Nippon. Tahun ke-2 (1943-1944) pelajaran bahasa Nippon, saya duduk di kelas V, murid mulai diperkenalkan dengan huruf Kanji. Cara memperkenalkan huruf Kanji tidak serentak seluruh huruf Kanji diperkenalkan, melainkan sedikit demi sedikit. Yaitu dalam suatu pelajaran cerita pendek bahasa Nippon yang ditulis oleh guru di papantulis dengan huruf Hanacaraka, ada disela 4 – 5 kata ditulis dengan huruf Kanji. Pada setahun di kelas V guru sempat mengajarkan 10 cerita pendek, dan tiap cerita pendek disela 4 – 5 kata ditulis dengan huruf Kanji, maka selesai kelas V saya hafal huruf Kanji 10X5 = 50 huruf Kanji. 50 kata bahasa Nippon bisa saya tulis dengan huruf Kanji. Andaikata saya bisa belajar sampai jadi mahasiswa, dengan cara mengenalkannya huruf Kanji sejak kelas 5 begitu, maka ketika saya duduk sebagai mahasiswa, saya sudah mengenal huruf Kanji sebanyak 3000 gambar. 3000 kata bahasa Nippon sudah saya kuasai gambar huruf Kanjinya, berarti saya sudah bisa MEMBACA BUKU, SURATKABAR, dan tulisan umum lain bahasa Nippon.

Sayangnya saya kelas VI belum sampai setahun, Jepang kalah perang. Dan setelah Jepang kalah perang (1945), sampai sekarang saya tidak belajar bahasa Nippon lagi, bahkan membaca cerita pendek bahasa Nippon dengan huruf Katakana pun tidak saya biasakan (tidak ada lagi cerita pendek (sastera Jepang) yang ditulis dengan huruf Katakana sampai di tanganku sejak itu. Saya pun tidak bisa berbahasa Nippon (lagi).

Lomba Yomikata, Hanashikata, Ongaku.

Pelajaran bahasa/sastera Nippon pada Sekolah Rakyat (Kokumin Gakkõ) 1942-1945 sangat terkesan di hati para murid (termasuk saya) sebab tiap 4 bulan sekali diselenggarakan lomba bahasa/sastera Nippon untuk seluruh Sekolah Rakyat se-Surabaya Shi. Yang dilombakan adalah Yomikata (membaca bahasa Nippon tulisan Katakana), Hanashikata (berbicara bahasa Nippon), dan Ongaku (menyanyikan lagu-lagu Nippon). Tempat menyelenggarakan lomba di aula Dinas Pendidikan Surabaya-Shi, di Jalan Jimerto no. 25 yang sekarang jadi bangunan Masjid Muhajirin. Dahulu di situ terdapat gedung yang memiliki aula cukup luas, dan di sampingnya terdapat lapangan tennis. Untuk mengikuti lomba-lomba bahasa Nippon tadi, tiap Sekolah Rakyat harus mengirimkan 2 anak untuk tiap jenis mata lomba, seorang laki-laki, dan seorang perempuan.

Jadi tiap 4 bulan sekali, murid SR se-Surabaya-Shi (Kota Besar Surabaya) dengan bimbingan guru masing-masing menyiapkan diri untuk menjadi peserta lomba bahasa Nippon. Seperti penyelenggaraan Indonesia Idol atau Indonesia Mencari Bakat pada acara TV zaman sekarang. Selama 4 bulan menjelang lomba berikutnya, para guru bahasa Nippon Sekolah Rakyat pada bekerja keras menyiapkan murid-muridnya untuk dipilih menjadi peserta lomba di Kantor Dinas Pendidikan Surabaya nantinya. Yang boleh menjadi peserta lomba adalah murid-murid SR kelas III, IV, V, VI. Siapa pun murid dari keempat kelas itu yang dinilai paling baik dalam jenis-jenis lomba Yomikata, Hanashikata dan Ongaku, bisa diajukan jadi peserta lomba. Tiap jenis lomba dari satu sekolah SR hanya bisa mengajukan seorang murid laki-laki, dan seorang murid perempuan untuk jenis lomba yang sama. Meskipun murid tadi masih di kelas III, tetapi kalau caranya membaca cerita pendek bahasa Nippon yang diajarkan oleh guru lebih baik daripada murid kelas V atau VI, ya murid kelas III ini yang diikutsertakan menjadi peserta lomba Yomikata. Begitu pula kalau murid yang diajari guru menghafalkan cerita bahasa Nippon yang ditulis oleh guru saat itu bisa bercerita hafalannya dengan amat baik, dialah yang dijadikan peserta lomba Hanashikata mewakili Sekolah Rakyat tempat dia belajar.

Bagaimana caranya menyaring para murid dari kelas III sampai VI terpilih menjadi yang terbaik? Ternyata selama periode 4 bulan menjelang lomba yang sama, para guru pengajar bahasa Nippon sudah mengajarkan cerita pendek huruf Katakana (ditulis di papantulis) yang sama, baik di kelas III, IV, V dan VI. Misalnya murid kelas III diajari pelajaran bahasa Nippon cerita pendek judul baru: Momotaro. Pada periode 4 bulan yang sama di kelas IV, V, VI juga diajarkan cerita pendek Momotaro, meski yang mengajar Pak Wiyasmo di kelas III dan V, dan Pak Imam Kurmen di kelas IV, dan Pak Gunadi di kelas VI. Tulisannya Katakana yang disela huruf Kanji pada pelajaran cerita pendek Momotaro semua ya sama apa saja huruf Kanji yang diperkenalkan. Dan pelajaran cerita pendek Momotaro tadi diajarkan secara ketat pada waktu 4 bulan di kelas masing-masing, oleh guru bahasa Nippon masing-masing. Kemudian nanti dipilih secara intern di sekolah oleh guru pengajar bahasa Nippon siapa yang akan maju jadi peserta lomba Yomikata dan Hanashikata di Dinas Pendidikan Jalan Jimerto 25 mendatang. Yang dipilih juga dari murid kelas III – VI, yang sudah diajari (membaca dan menghafal) cerita pendek Momotaro.

Dan selanjutnya yang dilombakan di Dinas Pendidikan Jalan Jimerto 25 untuk Yomikata dan Hanashikata, juga pelajaran cerita pendek terbaru tadi, Momotaro. Tiap 4 bulan sekali, judul cerita pendeknya juga baru. Empat bulan ini yang jadi bahan bacaan Yomikata dan bercakap-cakap Hanashikata judulnya MOMOTARO. Pada lomba 4 bulan yang lain judulnya: SAN-NIN NO KATAWA-MONO (Tiga Orang Cacad) dan HOMON (Bertamu). Ya, ternyata apa yang dilombakan 4 bulan sebelum lomba diselenggarakan sudah diajarkan di sekolah-sekolah. Dengan kata lain, apa bahan yang mau dilombakan telah diprogram oleh Dinas Pendidikan Sekolah Rakyat wilayah Surabaya-Shi.

Dari penemuan bahwa segala bahan untuk lomba Yomikata dan Hanashikata di Dinas Pendidikan 4 bulan sekali sebelumnya sudah diajarkan oleh guru di Sekolah Rakyat masing-masing, maka akhirnya saya tidak heran lagi mengapa para guru bahasa/sastera Nippon seperti Pak Suwarno, Pak Wiyasmo, Pak Imam Kurmen dan Pak Gunadi fasih mengajar bahasa/sastera Nippon, sekali pun sebelum Jepang menduduki Pulau Jawa mereka itu sama sekali tidak bisa berbahasa Nippon. Ternyata para guru itu, pada sore hari harus berkumpul di Dinas Pendidikan. Di sana mereka diajari caranya mengajar murid berbahasa Nippon. Yaitu masing-masing diberi selembar kertas, misalnya yang berisi cerita pendek Gakkõ yang ditulis dengan huruf Katakana. Semua guru calon pengajar bahasa Nippon disuruh menghafalkan caranya menulis (Katakana), dan membaca. Tiap sore diajari begitu, setelah hafal, maka serentak di seluruh kelas III, IV, V, VI Sekolah Rakyat di Surabaya-Shi diajari Yomikata dan Hanashikata dengan bahan ajar cerita/sastera Gakkõ. Karena sudah dilatih tiap sore di Dinas Pendidikan, maka para guru pengajar bahasa/sastera Nippon dengan fasih bicara menjelaskan arti kata pada bahan ajar bahasa Nippon yang judulnya Gakkõ tadi di Sekolah Rakyat masing-masing kepada murid-muridnya. Mengajar dengan lancar, berwibawa, dan dikagumi oleh murid-muridnya, karena bisa berbicara bahasa Nippon begitu lancar.

Begitu pula kalau pada lomba Yomikata dan Hanashikata 4 bulan mendatang yang jadi bahan lomba bahasa/sastera Nippon berjudul Homon, atau Momotaro, atau Semeru No Yama, atau apa saja, maka para guru pengajarnya pada sore hari di Dinas Pendidikan sudah berkumpul dilatih mengajarkan sastera Jepang judul-judul yang akan dilombakan. Makanya, meskipun Pak Suwarno, Pak Wiyasmo dan guru yang lain, sebelum Jepang datang tidak bisa bahasa Jepang, setelah 4 bulan Jepang datang mereka bisa mengajar bahasa Nippon dengan baik kepada murid-murid Sekolah Rakyat. Dan akibatnya, murid-murid Sekolah Rakyat generasiku amat patuh kepada ajaran guru kami, dan kami pun bisa membaca (Yomikata) dan bicara (Hanashikata) bahasa Nippon.

Beberapa teman saya ada yang peka diajari bahasa Nippon dengan metode seperti itu, mereka sudah berani bercakap-cakap dengan haitaisan (prajurit Nippon) yang ketemu di jalan. Pada zaman itu, banyak terdapat prajurit Nippon pada keliaran di jalan-jalan di Surabaya.

Saya teringat dengan pelajaran mendongeng dan nembang ketika di Sekolah Angka Loro di Sragen dulu. Baik dongeng maupun tembang yang diajarkan dari tahun ke tahun sejak kelas I sampai kelas IV bahannya sama. Di kelas I dan II tembang yang diajarkan lagu-lagu dolanan, di kelas I tembangnya tidak ditulis, di kelas II ditulis di papantulis dengan huruf Hanacaraka dan guru mengajarkan suara tembangnya dengan menunjuk-nunjuk tulisannya di papantulis. Di kelas III tembang yang diajarkan bukan lagu-lagu dolanan lagi, melainkan tembang sastera Jawa yang adiluhung, guru mengajarnya dengan menulis tembang tadi di papantulis dengan huruf Hanacaraka, dan caranya menyuarakan (menyanyikan) guru menunjuk-nunjuk tulisannya di papantulis. Bukankah cara ini sama persis dengan Pak Suwarno mengajarkan bahasa/sastera Nippon kepada kami? Menulis cerita pendek (sastera) huruf Katakana di papantulis kalimat-kalimat: Anata no tokei wa kin desû ka? Watakûshi no tokei wa gin desû. Kin no tokei wa takai desû, (Apa arloji tuan emas? Arloji saya perak. Arloji emas mahal), lalu Pak Suwarno dengan menunjuk-nunjuk tulisannya di papantulis menyuarakan bacaan kalimat-kalimat huruf Katakana tadi. Guru di kelas III Sekolah Angka Loro 1940 yang ditunjuki di papantulis huruf Hanacaraka bahasanya Jawa, Pak Suwarno di kelas IV Sekolah Rakyat 1943 yang ditunjuki di papantulis huruf Katakana bahasanya Nippon.

Pelajaran membaca sastera itu penting, baik sastera Jawa, Jepang, Melayu, tulisannya Hanacaraka, Katakana, ABC. Pembelajaran membaca sastera itu penting, oleh karenanya selalu diajarkan sejak dini di sekolah dasar, Sekolah Angka Loro pada zaman Belanda, Sekolah Rakyat (Kokumin Gakkő) pada zaman Jepang. Yang diajarkan bukan satu jenis bahasa, atau pun satu jenis huruf. Tetapi sebanyak-banyaknya bahasa dan sebanyak-banyaknya jenis huruf.

Jadi metode pengajaran bahasa/sastera Nippon di Sekolah Rakyat (Kokumin Gakkõ) pada zaman Jepang (1942-1945) sama persis dengan metode pengajaran membaca buku dan pelajaran nembang di Sekolah Angka Loro di Sragen 1938-1942. Bahan yang diajarkan juga diprogram dari dan oleh Dinas Pendidikan setempat. Di Sekolah Angka Loro di Sragen kelas I yang diajarkan bertahun-tahun membaca buku: Nini lara mata. Siwa Dipa sila. Asuné Séna. Di kelas II bertahun-tahun (muridnya ganti-ganti setiap tahun) membaca buku Siti Karo Slamet. Di kelas III tiap tahun kelompok muridnya ganti tapi buku bacaannya tetap sama cerita/sastera Kuncung Karo Bawuk, Kembang Setaman, Klentreng Karo Gothang, Ontjèn-ontjèn, Matahari Terbit. Pada zaman Jepang (1943-1945) pengajaran bahasa/sastera Jepang di kelas III, IV, V, VI membaca (Yomikata) dan berbicara (Hanashikata). Diajari membaca cerita pendek (sastera) huruf Katakana di papantulis judul Homon (Bertamu), murid menghafal: Gomen kudasai, sensei wa go-zaitaku desû ka? Zaitaku de gozaimasû. Donata de irasshaimasû ka? Watakûshi wa Suparto to mőshimasû. Sensei ni o-me ni kakari ni maita no desû. Pada pengajaran cerita pendek dengan judul Momotaro, murid harus membaca dan menghafal kalimat-kalimat yang ditulis dengan huruf Katakana (disela huruf Kanji): Mukashi, mukashi, oji-san to obã-san ga arimashita. Oji-san wa yama e shiba-kari ni, obã-san wa kawa e sentaku ni ikimashita. Cara belajar begitu bukankah sama dengan waktu saya kelas II Sekolah Angka Loro di Sragen 1939, yaitu membaca terus-terusan buku Siti Karo Slamet hingga hafal: Tampa Bestelan. Wong-wong lagi wiwit padha mangan, krungu suwara, “Kulanuwun.” Slamet metu, cangkeme isih mucu-mucu. Dan di kelas III tiap hari membaca buku Tataran sehingga hafal bacaannya: “Man, Man, Sariman!” Sariman isih enak-enak olehe dhudhuk-dhudhuk. Mesthi wae ora gelem semaur.

Bersekolah itu yang paling mendasar adalah belajar membaca buku cerita/sastera, membaca buku cerita/sastera, membaca buku cerita/sastera. Pada zaman Jepang karena waktu itu belum tersedia BUKU CERITA/SASTERA Jepang, maka cerita/sasteranya ditulis oleh guru di papantulis, berwujud tulisan Katakana, dan para murid disuruh membacai tulisan itu sehingga hafal benar. Sama seperti waktu di kelas III Sekolah Angka Loro 1940, murid diajari nembang harus memahami bernyanyi sastera Jawa adiluhung: Padha gulangen ing kalbu; Dedalané guna lawan sekti; Yogyanira kang para prajurit; Suniki dutaning Nata, yang ditulis di papantulis oleh guru kelas dengan huruf Hanacaraka. Metode pengajarannya sama persis. Yang sastera Jawa kata-katanya bahasa Jawa tulisannya huruf Hanacaraka, yang sastera Jepang kata-katanya bahasa Jepang tulisannya huruf Katakana diselingi Kanji.

Mengajar sastera Jawa itu gampang. Mengajar sastera Jepang itu gampang. Yaitu asal ada (1) cerita tulisnya (huruf Hanacaraka, Katakana, maupun huruf lainnya), (2) ada gurunya yang fasih membaca tulisan tadi (Katakana/Hanacaraka/atau huruf yang lain, baik ditulis pada buku maupun pada papantulis), dan guru tadi bisa menerangkan arti katanya, dan (3) ada muridnya (syukur murid yang banyak alias massal). Caranya mengajar tidak lain ya hanya membaca tulisan cerita itu, membaca tulisan cerita itu, membaca tulisan cerita itu berkali-kali hingga murid hafal, dan selanjutnya murid punya kebiasaan membaca cerita tulis seperti itu alias berbudaya membaca cerita tulis seperti itu.

Berbudaya membaca cerita (sastera) itulah tujuan utama putera bangsa bersekolah selama 12 tahun (dari kelas I SD sampai kelas XII SMA). Selama 12 tahun usia sekolah digembleng membaca cerita, membaca cerita, membaca cerita, maka setelah lulus SMA putera bangsa punya kegemaran membaca cerita/sastera yang dikemas pada buku. Putera bangsa punya budaya membaca buku, maka wawasan hidupnya luas, tindakannya bijak, kreatif, inovatif karena membaca banyak buku. Orang pintar di seluruh dunia ini PASTI membaca buku dan menulis buku. Karena itu secara menjagad (Internasional) anak bersekolah 12 tahun awal umurnya adalah: membaca sastera, membaca sastera, membaca sastera (di papantulis), membaca sastera pada buku, membaca sastera pada buku dan menulis buku, sehingga lulus sekolah (klas XII SMA) anak-anak manusia secara Internasional pada punya kegemaran atau budaya membaca (sastera) buku. Begitulah maksudnya secara Internasional (di negara mana saja dan pada zaman kapan saja) anak-anak manusia disekolahkan selama 12 tahun awal umurnya: agar gemar membaca cerita/sastera, lebih-lebih yang ditulis pada buku. Jadi, kalau putera bangsa Indonesia mau diharapkan jadi orang pintar, wawasannya luas, tindakannya bijak, kreatif, inovatif, ya harus diberbudayakan membaca buku dan menulis buku, seperti halnya anak-anak bangsa-bangsa sejagad disekolahkan.

Dalam pengamatan saya, Pak Suwarno, Pak Wiyasmo, Pak Imam Kurmen, Pak Gunadi, bisanya berbahasa Nippon dan cakapnya mengajari murid-muridnya cerita tulis Nippon karena rajin tiap sore berkumpul di Dinas Pendidikan dan di sana dibimbing belajar sastera Nippon. Sebelum ada kewajiban sore hari bertemu di Dinas Pendidikan, guru-guru orang Jawa itu tidak bisa berbahasa Nippon. Namun guru-guru tadi setelah belajar selama 4-5 bulan dalam bimbingan terprogram oleh Dinas Pendidikan bisa mengajar dengan penuh semangat, lancar, dan berwibawa di kelasnya sehingga para muridnya pun menjadi bisa berbahasa Nippon, bisa membaca sastera (cerita yang tertulis) Nippon. Untuk berhasil mengajar sastera Jawa maupun sastera Jepang, gurunya tidak harus sarjana yang tinggi-tinggi sekolahnya. Guru yang hanya bisa menghafal selembar kertas berisi satu judul cerita (sastera) Momotaro, atau cerita tulis (buku) Asuné Séna, atau Kitab Yang Baharu pun pengajaran sastera Jepang, sastera Jawa maupun sastera Melayu dengan tulisan huruf yang berbeda-beda (Katakana, Hanacaraka, ABC) bisa terlaksana dengan baik. Murid-murid sejak kelas I Sekolah Dasar sudah harus belajar membiasakan membaca cerita bahasa Jawa, Jepang, Melayu dengan huruf-huruf Hanacaraka, Katakana, ABC.

Sepanjang pengetahuan saya, selama belajar sastera Jepang saya tidak mengenal guru perempuan. Semua guru pengajar sastera Jepang, laki-laki. Mungkin ini juga adanya hambatan kalau menghadirkan guru wanita sore hari hingga malam hari di Kantor Dinas Pendidikan Jalan Jimerto 25 Surabaya. Pada zaman Jepang, malam hari sinar lampu tidak boleh terpancar keluar rumah. Jalanan gelap sekali. Dan seringkali ada serangan bahaya udara musuh, pada keadaan demikian seluruh lampu harus padam. Perempuan pergi sendiri keluar rumah sore dan malam hari sangat tidak terjamin keamanannya.

Lomba Ongaku.

Untuk lomba Ongaku agak lain caranya memilih bahan lomba. Pada zaman Jepang, lagu-lagu bahasa Jepang maupun Indonesia semarak sekali terdengar di radio. Juga ditulis nootnya di Majalah Djawa Baroe. Nyanyian atau lagu-lagu dijadikan alat propaganda untuk menyemangati rakyat Indonesia agar ikut perang Asia Timur Raya membela pihak Balatentara Dai Nippon dengan sukaria. Lagunya pendek-pendek, enak didengarkan dan dinyanyikan. Selain terdengar di siaran radio terus-terusan, lagu-lagu tadi juga disiarkan lewat pemutaran film propaganda, juga diajarkan di kelas Sekolah Rakyat, disuruh menyanyikan bersama di sela upacara-upacara, dan diterapkan untuk mengiringi berolahraga maupun baris-berbaris. Dan juga dilombakan.

Lagu atau nyanyian yang baru baik Jepang maupun Indonesia selalu diajarkan di kelas Sekolah Rakyat (kelas I – VI). Dan juga diajarkan pada acara siaran radio. Pada acara siaran radio anggotanya terdiri dari para anak-anak Sekolah Rakyat yang mendaftarkan diri ikut kelompok bersiaran radio. Lagu baru Indonesia yang pernah diajarkan di kelas dan menggema di siaran radio antara lain lagu: Bekerja, Pohon Ditebang Dari Hutan, Amat Heiho, Penyakit Malaria, Muda Menabung Tua Beruntung, Tentara Pembela Tanahair, Awaslah Inggeris dan Amerika, Asia Berpadu, dan banyak lagi. Begitu lagu baru diajarkan di kelas, dan dinyanyikan pada kesempatan apa saja, maka di radio pun bergema lagu-lagu itu. Bahkan ketika lagu Tentara Pembela Tanahair berkumandang, ada film propaganda yang disiarkan secara umum di lapangan-lapangan terbuka menunjukkan betapa Tentara Pembela Tanahair (PETA) digembleng untuk membela tanahair. (Tentera PETA ini kemudian menjadi tulangpunggung Tentara Keamanan Rakyat ketika rakyat Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan melawan tentara Belanda 1945-1949. Nama-nama seperti Mohamad Mangundiprodjo, Mustopo sebagai mantan anggota PETA telah menghias sebagai nama jalan di Surabaya). Sedang lagu-lagu Jepang (Nippon no Uta) yang diajarkan di kelas yang bersama itu juga menggema di radio, antara lain: Aiba Singgung Ka, Kuroga ne No Cikara, Kono Sora Kono Hikari, Kuni No Hana, Todoroku Ashi wo Tő-A, Tő-A No Yoi Kodomo, Kureshii Azia No Ko, Yashukuni Jinjai, dan banyak lagi. Maaf, saya tidak tepat mengeja judul lagu bahasa Nippon, karena lebih hafal menyanyikannya dan tidak memperhatikan benar ejaan yang ditulis di papantulis. Dan sangat sering bisa menyanyikan dengan ucapan yang benar, tetapi tidak tahu artinya.

Cara guru mengajar nyanyian-nyanyian tadi juga persis sama dengan waktu saya kelas II dan III Sekolah Angka Loro di Sragen 1939-1940 ketika diajar nembang. Yaitu guru menulis nyanyian (Nippon no Uta) tadi di papantulis dengan noot lagunya Doremifasol, lalu guru mengajarkan menyanyi: “Seishi n-no ji wa, ashahi to mo ete. Miyota karaga ni…” dengan menunjuk-nunjuk nada di papantulis. Sama dengan ketika guru mengajarkan nembang, murid tidak usah mencatat, dengan sendirinya pada pelajaran menyanyi berikutnya sudah pada hafal. Juga sama dengan ketika guru kelas mengajarkan nembang, guru kelaslah yang mengajarkan menyanyi. Jadi seorang guru kelas, baik zaman Sekolah Angka Loro maupun zaman Jepang, harus pandai mengajarkan nembang/menyanyi. Kalau guru kelas III Sekolah Angka Loro mengajarkan nembang Yogyanira kang para prajurit, bisa menerangkan artinya karena bahasa Jawa adalah bahasa seharian penduduk di Sragen, maka guru kelas IV, V, VI zaman Jepang yang mengajarkan menyanyi: Asahi wo abite o-karagani, tidak mengerti artinya, karena guru kelas tidak ikut ditatar oleh Dinas Pendidikan. Lain dengan pelajaran membaca sastera Jepang, yang mengajar bukan guru kelas, melainkan guru-guru khusus yang telah ditatar mengajarkan sastera Jepang di Dinas Pendidikan.

Untuk ikut lomba Ongaku guru-guru kelas juga yang mengadakan penyaringan peserta. Tentu saja lagu yang akan dinyanyikan pada lomba sudah 4 bulan sebelumnya ditentukan oleh Dinas Pendidikan. Sekali lagi, semua pelajaran yang diajarkan di kelas, pasti sudah direncanakan dengan baik-baik oleh Dinas Pendidikan setempat, pada zaman apa pun juga, pada mata pelajaran apa pun juga. Termasuk pelajaran Nippon no Uta yang diprogram untuk bahan lomba Ongaku yang diselenggarakan tiap 4 bulan sekali.

Mengajar sastera Belanda: membaca cerita buku, membaca cerita buku.

Saya bersekolah di kelas VI Sekolah Rakyat (Kokumin Gakkő) Canalaan tidak sampai lanjut, karena Jepang kalah perang. Dan bersama keluarga terpaksa keluar dari Kota Surabaya pada tanggal 26 November 1945, ketika Kota Surabaya digempur oleh pasukan Mayjen E.C.Mansergh (Commander Allied Land-Forces, East-Java) hampir tiga minggu (sejak 10 November 1945). Dan kembali masuk Surabaya menjelang Pemulihan Kedaulatan Republik Indonesia (Desember 1949). Selagi mengikuti perjuangan bangsa melawan pasukan Belanda sekolah saya di daerah Republik Indonesia terbengkalai, sehingga waktu kembali masuk sekolah di Surabaya saya berumur 18 tahun belum lulus SMP. Waktu itu saya masuk sekolah di Middelbare School di Polackstraat (Jalan Sulung Sekolahan, sekarang gedung sekolahnya menjadi bagian dari Kompleks Kantor Gubernur Jawa Timur). Pelajaran sekolah belum sempat diubah, masih seperti tahun-tahun sebelumnya (zaman Kota Surabaya diduduki Belanda), masih juga diajarkan bahasa Belanda. Sekolah saya ini kemudian dipindahkan ke Tempelstraat no 1 (sekarang Jalan Kepanjen, sekolahnya menjadi SMPN II). Saya lulus di situ tahun 1950.

Karena perpindahan status sekolah dari Pemerintahan Belanda ke Republik Indonesia, maka pelajaran bahasa Belanda yang saya terima di kelas Middelbare School belum sampai setahun juga terputus. Tidak diajari lagi bahasa Belanda. Yang mengajar bahasa Belanda waktu itu adalah Meneer Jansen, orang Belanda totok. Apa yang diajarkan? Tiap mata pelajaran bahasa Belanda dibagikan buku bacaan De Nieuw Wereld. Buku itu merupakan kumpulan cerita (sastera). Dan tiap kali pelajaran, kami murid seluruh kelas harus membaca cerita-cerita di buku itu. Selesai pelajaran, buku ditumpuk lagi, dan disimpan kembali di almari kelas. Jadi tiap jam pelajaran bahasa Belanda, kami murid-murid membacai cerita-cerita: Alie Baba met de viertig dieven; Sinbad de Sailor; Princes die Honderd jaar sliep. Persis ketika saya kelas III Sekolah Angka Loro di Sragen 1940, tiap hari harus membaca buku-buku: Kuncung Karo Bawuk, Kembang Setaman, Gothang Karo Klentreng, Kitab Jang Baharoe. Metode pangajaran bahasa/sastera Belanda waktu itu sama persis dengan pengajaran bahasa/sastera Jawa, Melayu, dan juga Jepang. Gampang saja, dan sederhana. Pokok  (1) ada guru yang fasih membaca cerita yang ditulis (bahasa apa saja, huruf apa saja), (2) ada tulisan yang harus dibaca berulang-ulang (biasanya buku, tetapi pada zaman Jepang buku belum siap, jadi ya guru menulis bahasa/sastera Jepang di papantulis), dan (3) ada murid sekelas (massal) yang diajar agar para murid tadi gemar membaca sastera yang diajarkan tersebut.

Meskipun saya menerima pelajaran bahasa Belanda tidak cukup satu tahun, namun karena pada kehidupan saya selanjutnya sering menemukan buku-buku bahasa Belanda, sudah terlanjur suka membaca buku, maka sampai sekarang saya juga BISA membaca buku bahasa Belanda. Tetapi tulisan/huruf Jepang tidak saya alami lagi setelah Jepang pergi, maka saya TIDAK BISA membaca buku/koran bahasa/tulisan Jepang.

Demikianlah urun rembug saya terhadap Pendidikan Nasional kita. Semoga bisa digunakan sebagai acuan pendidikan yang berkualitas. Amin.

Surabaya, 3 Oktober 2011.

Posted by admin on Tuesday, October 4th, 2011. Filed under Artikel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

2 Comments for “MENGAJAR SASTERA JAWA ITU MUDAH”

  1. Baguuuuus sekali tulisan P Bagawan Suparto Brata ini, saya membaca sambil mengenang masa lalu (saya kelahiran 1951), juga membayangkan sistim pendidikan jaman dahulu & sekarang, kelihatannya kok masih bagus jaman dahulu, karena buku nggak pernah ganti dari tahun ketahun ya buku itu saja yang dipakai. Masih ada lagi buku yang harus dibaca isinya kalau nggak salah ada kata do….do… …li …do..li…bret (saya lupa, mungkin P Suparto Brata ingat) ada lagi buku raden Gatutkoco satrio Pringgondani dst nya. Saya termasuk pengagum cerita pendek Bapak juga Ani Asmoro, nuwun ……14 Oktober 2011

  2. [...] Brata Blog – http://www.supartobrata.com. Usia beliau kini 77 tahun. Beliau adalah seorang penulis buku produktif, [...]

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*