MEMBACA BUKU MENGUBAH TAKDIR

| |

Saya meramalkan Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur akan gagal, kalau 12 tahun ke depan ini putera bangsa Indonesia tetap masih hanya menjalani hidup kodrati menerima takdirnya. Menjalani hidup kodrati ialah usaha mencapai segala kemakmuran hidup hanya dengan mengandalkan kepekaan indrawi (pancaindra) terutama melihat dan mendengar. Meminjam istilah Prof. DR Ayu Sutarto, MA, masyarakat Indonesia terkungkung oleh tradisi kelisanan atau orality (Mulut Bersambut, 2009). Masyarakat Indonesia masa kini terkungkung oleh tradisi kelisanan, jadi sama dengan hidupnya kakek-buyut saya yang petani di desa. Bisa menanam padi yang subur karena melihat dan mendengar tetangganya yang juga berhasil dan tidak berhasil menanami padinya di sawahnya. Dengan kata lain hidupnya primitif. Orang atau bangsa yang hidupnya primitif seperti kakek-buyut saya itu bodoh, miskin, terjajah karena sulit diajak menata kehidupan manusia (kebenaran, etika, kebaikan dan kejahatan) masa depan yang ideal pada zaman itu. Apa lagi orang primitif pada zaman teknologi modern seperti sekarang ini.

Saya meramalkan Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur akan berhasil sukses, kalau 12 tahun ke depan ini putera bangsa Indonesia bisa diberdayakan hidup sasterawi. Meminjam istilah Prof. DR. Ayu Sutarto, MA, “tantangan masyarakat Indonesia ke depan adalah mengubah dirinya dari masyarakat yang terkungkung oleh tradisi kelisanan menjadi masyarakat yang bertradisi keberaksaraan (literacy). Masyarakat bertradisi keberaksaraan (istilah saya sasterawi) adalah masyarakat yang mau membaca buku dan berpikir, kritis bukan hanya terhadap kebohongan, kekeliruan atau kemunafikan masyarakat lain, melainkan juga kepada dirinya sendiri”. Artinya cerdas dan jujur.

Saya meramal begitu bukan saja karena tantangan Ayu Sutarto, tetapi karena mengalami kemajuan diri sendiri, serta mengamati kemajuan bangsa sendiri dan bangsa-bangsa lain. Sehabis membaca setiap buku, pengetahuan saya bertambah, lalu berpikir untuk menggunakan pengetahuan baru tadi untuk meraih masa depan yang lebih baik, bersemangat dan berharap mengubah hidup masa lalu kian tebal. Itu yang saya sebut “mengubah takdir”.

Hidup sasterawi yang saya maksud adalah putera bangsa selain kiat hidupnya mengandalkan kepekaan indrawinya, juga berbudaya membaca buku dan menulis buku sebagai kiat hidupnya. Membaca buku dan menulis buku bukan kodrat. Jadi untuk berbudaya membaca buku dan menulis buku putera bangsa harus dilatih, diajar, dibiasakan membaca buku dan menulis buku. DR. Taufik Ismail tahun 1996 pernah meneliti di beberapa negara mengatakan bahwa para lulusan SMA di Jerman rata-rata telah membaca 32 judul buku, anak Belanda 30 buku, anak Rusia 12 buku, anak New York 32 buku, anak Swiss 15 buku, anak Jepang 15 buku, anak Singapura 6 buku, anak Malaysia 6 buku, anak Brunai 7 buku, anak Indonesia 0 buku. Kalau penelitian Taufik Ismail hingga sekarang masih berlangsung (pelajar SMA lulus UNAS membaca 0 buku), maka ramalan saya Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur mengalami kegagalan jelas sudah terbayang.

Bagaimana sehingga pelajar SMA lulus UNAS tidak membaca sejudul buku pun? Pasti mereka tidak hidup sasterawi. Karena pola pendidikan nasional Indonesia tidak memberi kesempatan untuk membudayakan putera bangsa membaca buku dan menulis buku. Sejak Kurikulum 1975, pelajaran Sastera Indonesia disatukan dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Untuk mempelajari Bahasa Indonesia sulit dan banyak menyita jam pelajaran (nyatanya di-UNAS-kan banyak yang gagal di mata pelajaran ini, dan orang Indonesia sampai sekarang tidak menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar), sehingga pelajaran membaca-baca sastera Indonesia tidak peroleh jam pelajaran. Contoh bahwa orang dewasa (kuasa) Indonesia tidak berbudaya membaca dan menulis bisa dilihat di tempat-tempat umum ada tulisan: DI JUAL MOTOR. Atau tulisan dengan ejaan yang salah ANTAR KOTA ANTAR PROPINSI beredar ke mana-mana, menandakan bahwa bangsa Indonesia memang tidak berbudaya membaca (buku) dan menulis (buku).

Selain itu, pola pengajaran sekolah Indonesia akhir-akhir ini lebih mengutamakan mengajarkan muatan ilmu. Dari SD diajarkan ilmu banyak-banyak (agar cerdas?) dengan pamrih agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Di SMP juga diajarkan ilmu banyak-banyak, agar bisa melanjutkan sekolah di SMA. Di SMA pelajar juga dibebani ilmu banyak-banyak agar nanti bisa lulus menempuh UNAS. Tiap jenjang sekolah (SD, SMP. SMA) muridnya, gurunya, sekolahnya berusaha keras untuk lulus bisa melanjutkan sekolah. Kalau tidak, muridnya malu, gurunya malu, sekolahnya malu. Dan para putera bangsa itu tidak hidup sasterawi, tidak berbudaya hidup keberaksaraan, maka akan sulit diajak menata kehidupan yang ideal, tidak berpikir kritis terhadap kebohongan, kekeliruan dan kemunafikan masyarakat lain, apalagi terhadap (kebohongan) dirinya sendiri. Dari sini kegagalan “jujur” sudah kentara. Dan banyaknya muatan ilmu selama sekolah 12 tahun yang di-UAS/UNAS-kan apakah membuat putera bangsa “cerdas”?

Saya mengalami sekolah pendidikan dasar (SD) zaman Belanda, zaman Jepang, dan zaman Perjuangan (1938-1949). Kelas I sampai kelas IV (zaman Belanda) tiap hari diajar membaca buku cerita (sastera). Tidak ada hari sekolah tanpa membaca buku. Di kelas III, jam pelajaran 6 kali sehari, kecuali hari Jumat (3X). Buku yang dibaca tiap hari tanpa lowong: (1) Tataran (cerita kehidupan Koentjoeng Karo Bawoek, bahasa Jawa huruf ABC), (2) Ngréwangi Apa Ngrusuhi (cerita kehidupan anak bajing bernama Perkis, dan nyamuk bernama Gothang, bahasa Jawa huruf Hanacaraka), (3) Kembang Setaman (kumpulan cerita pendek bahasa Jawa huruf Hanacaraka), (4) Ontjen-ontjen (kumpulan cerita pendek bahasa Jawa huruf ABC), (5) Matahari Terbit (bahasa Melayu huruf ABC). Lima macam buku bacaan itu tiap hari harus dibaca bersama, sehingga hampir seluruh jam pelajaran di SD adalah MEMBACA BUKU. Pelajaran lain: berhitung (3X seminggu), olahraga (2X), menggambar, mendongeng, menyanyi masing-masing satu kali seminggu. Di kelas IV masuk halaman sekolah harus bertutur bahasa Belanda, dan tiap hari juga membaca buku cerita bahasa Belanda. Di kelas IV Jepang datang, Belanda pergi. Tiap hari diajari MEMBACA DAN MENULIS huruf dan bahasa Jepang 7 jam pelajaran seminggu. Padahal masuk sekolah seminggu hanya 5 hari, hari Sabtu hari krida tidak ada jam pelajaran. Jadi ada jam-jam pelajaran bahasa Nippon sehari 2X. Tiap hari membaca: “Gakkő wa haci ji han ni hajimarimasu”, “Otõto-san to imőto-san wa mada gakkő wo sotsugyő shimasen ka?” (ditulis dengan huruf Katakana dan Kanji). Tiap hari masuk kelas, cerita-cerita seperti itu harus dibaca dan ditulis. Pada zaman Jepang buku bacaan bahasa Jepang belum banyak beredar, sehingga pelajaran membaca cerita begitu ditulis oleh guru di papan tulis, dan untuk menghafal di rumah murid-murid harus mencatatnya di buku catatan masing-masing. Huruf Kanji satu kata satu gambar. Kalau ada 2000 kata bahasa Jepang, tentunya ada 2000 huruf Kanjinya.

Kelas IV saya sudah diajari menghafal membaca dan menulis puluhan huruf Kanji. Andai kata sampai kelas XII, tentulah saya sudah hafal 2000 huruf Kanji, jadi saya bisa membaca buku bahasa Jepang. Jadi pelajaran utama sekolah dasar (kelas I-XII) adalah membaca-membaca-membaca cerita dan menulis. Pada zaman Belanda pelajaran sekolah terbanyak adalah membaca-buku-membaca-buku-membaca-buku berbagai bahasa dan huruf, pada zaman Jepang pelajaran sekolah terbanyak juga membaca-membaca-membaca huruf Kanji, sehingga nantinya lulus sekolah 12 tahun sudah hafal 2000 huruf Kanji. Bisa membaca buku-buku bahasa Jepang.

Dari riset Taufik Ismail bahwa lulus SMA anak Indonesia rata-rata membaca nol buku, berarti selama bersekolah awal usia 12 tahun putera Indonesia tidak dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Kalau sistem pendidikan nasional Indonesia diterapkan di Jepang, maka 12 tahun kemudian bangsa Jepang lulus SMA bakal membaca nol buku juga. Bodohnya bakal sama dengan orang Indonesia menurut risetnya Taufik Ismail. Sebab semua buku dan suratkabar Jepang ditulis dalam huruf Kanji. Banyaknya huruf Kanji sama dengan banyaknya kata-kata Jepang, 2000 bahkan mungkin 8000 kata. Kalau di sekolah 12 tahun tidak dicicil diajari membaca buku (huruf Kanji), mana mungkin setelah jadi mahasiswa tiba-tiba hafal 8000 huruf Kanji?

Dari sini bisa diamati, pelajaran utama bersekolah 12 tahun awal umur anak manusia, baik zaman Belanda maupun zaman Jepang, zaman dulu maupun zaman sekarang, adalah membaca-buku-membaca-buku-membaca-buku. Bersekolah 12 tahun gunanya agar anak manusia berbudaya membaca buku dan menulis buku, alias hidup sasterawi. Membaca buku dan menulis buku merupakan gerbong angkutan ilmu (kruiwagen), sedang pelajaran ilmu lain seperti berhitung, menggambar, matematika, bahasa (Indonesia, Belanda, Jepang, Inggris) merupakan muatan. Zaman Belanda dibudayakan membaca buku, muatannya bahasa Belanda, di zaman Jepang dibudayakan membaca huruf Kanji, muatannya diganti bahasa Jepang. Kapan pun dan di negara mana pun, bersekolah awal 12 tahun itu gunanya putera bangsa dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Kecuali di Indonesia. Di Indonesia sekolah 12 tahun yang perlu dimuati ilmu banyak-banyak. Diajari ilmu matematika, ilmu bahasa Indonesia, ilmu kejujuran, ilmu koperasi, nanti diuji dengan UNAS. Membaca buku dan menulis buku tidak dibudayakan, berarti gerbong wadah ilmunya tidak ada.

Membaca buku dan menulis buku seperti gerbong keretaapi. Berangkat dari Gubeng menuju Malang, di mana Malang sebagai orang hidup global modern. Penumpang naik dari Gubeng sampai Wonokromo (sekolah 12 tahun), yaitu pelajaran matematika, bahasa Indonesia, IPS, ilmu kejujuran, ilmu kecerdasan. Namun gerbong keretaapinya dari Wonokromo membelok menuju Mojokerto. La kapan penumpang muatannya sampai di Malang? Itu kalau ada gerbong angkutannya (membaca buku dan menulis buku). La kalau tidak ada gerbongnya (membaca buku dan menulis buku tidak dibudayakan di sekolah 12 tahun), ilmu muatan matematika, ilmu bahasa Indonesia, ilmu kejujuran, apa harus berjalan kaki ke Malang?

Kalau Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur ingin berhasil, mumpung Menteri Pendidikan Nasionalnya juga orang Surabaya, ubahlah pola sistem pendidikan nasional Indonesia, membaca buku dan menulis buku menjadi kurikulum utama sekolah awal 12 tahun. Putera bangsa dibudayakan membaca buku dan menulis buku, tiap hari tanpa jeda saban masuk kelas selama 12 tahun. Nanti ilmu kecerdasan dan ilmu kejujuran dengan sendirinya akan terangkut dalam putera bangsa membacai buku-buku dan menulis buku-buku. Membaca buku itu mengubah takdir menjadi nurani lebih bijak. Sudah terbukti sejak Plato murid Socrates (470-399 S.M.) mendirikan Akademus dan menulis buku Apology yang menceritakan pembelaan Socrates ketika dihukum mati, dan pidato-pidato ilmu filsafat Socrates dalam buku Epistles. Dan sudah terbukti bahwa bangsa Indonesia sekarang banyak yang tidak cerdas dan tidak jujur, suka menyalahkan orang lain, munafik, bertindak beringas membuat onar, mengritik orang lain hingga orang lain hancur menjadi kegairahan hidupnya para pengritik. Dale Cornegie bilang,“Semua orang bodoh bisa mengritik, mencerca dan mengeluh ~ dan hampir semua orang bodoh melakukannya”. Mengapa orang Indonesia masa kini berbuat begitu sehingga orang Surabaya memerlukan Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur? Sebab meskipun telah pada lulus SMA bangsa Indonesia tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku. Berarti pola atau sistem pendidikan nasional Indonesia sejak awal sampai lulus SMA tidak mencerdaskan bangsa. Dan adanya UNAS memicu ketidakjujuran bangsa. Seharusnya diubah!  Diubah seperti negara-negara maju yang lain, yaitu bersekolah 12 tahun awal umur putera bangsa utamanya digunakan untuk menggembleng putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku.

Jangan berkoar deklarasi saja. Mari kita buktikan di ranah pendidikan nasional kita.

Surabaya, 20 Juli 2011.

Suparto Brata

pengarang novel bahasa Jawa

Dimuat OPINI Jawa Pos, Kamis 21 Juli 2011

PS. di atas naskah aseli.

Posted by admin on Sunday, July 31st, 2011. Filed under Artikel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*