HOUSE OF SAMPOERNA

| |

Saya terima

surat bunyinya begini: House of Sampoerna dan Museum Geologi Bandung mengundang dengan hormat Ibu/Bapak dalam acara Pembukaan Pameran “Museum Geologi: Sarana Pembelajaran dan Berpariwisata”. Pameran akan dibuka oleh Bapak Bambang D.H. Walikota Surabaya pada Kamis, 8 Mei 2008, pukul 18.00, di Museum di House of Sampoerna. Pameran terbuka untuk umum dari 9 hingga 28 Mei 2008, jam 0900-2200 di Art Gallery dan Museum di House of Sampoerna.

 

 

Sebetulnya saya telah lama ingin sekali mengunjungi House of Sampoerna, bukan saja karena perubahan fungsi gedung itu, tetapi terutama karena banyaknya kenangan saya pada masa lalu saya sering berada di sekitar gedung tadi.

 

 

Situated in “old

Surabaya”, this stately Dutch colonial-style compound was built in 1862 and is now a preserved historical site. Previously used as an orphanage managed by the Dutch, it was purchased in 1932 by Liem Seeng Tee, the founder of Sampoerna, with the intent of it being used as Sampoerna’s first major cigarette production facility.

 

 

Tahun 1950-an gedung tadi untuk bioskop, saya seringkali menonton ke situ. Sehari (seperti gedung bioskop lainnya di

Surabaya) main tiga kali, jam 15.30 – 17.30; 18.00 – 20.00; 20.30 – 22.30. Hari Minggu dan hari besar main empat kali, ditambah main jam 10.00 – 12.00, disebut matinee. Sepeda adalah angkutan pribadi zaman itu, maka ke manapun saya pergi menggunakan sepeda, juga ketika nonton bioskop. Karena sepeda saya tidak punya lampu, berjalan malam tanpa lampu dimarahi polisi, maka saya selalu nonton bioskop pada jam tersiang hari. Rumah saya jauh di sebelah timur

kota
, di Gersikan. Tapi yang istimewa di Bioskop Sampurna ini, titipan sepeda tidak bayar (gratis). Pada tahun-tahun 1950-an itu ada pertunjukan hiburan untuk para prajurit (yang habis berjuang merebut kemerdekaan negara) di gedung bioskop tertentu pada hari Kamis jam 10 siang, termasuk di Sampurna Theatre. Film yang diputar ya film yang sedang main di situ. Saya dan teman-teman sekolah seringkali berusaha ikut nimbrung nonton gratisan itu, karena jumlah tentara/prajurit yang nonton sangat sedikit. Kesempatan itu lebih-lebih saya gunakan ketika saya sudah lulus sekolah dan belum dapat pekerjaan (hari Kemis pagi tidak harus sekolah atau bekerja).

 

 

Tahun 1952 – 1960 saya bekerja di Kantor Telegrap. Pegawai telegrap yang menerima dan menyampaikan berita telegrap lewat langganan telepon banyak nonik-nonik

Ambon. Saya akrab dengan mereka, sering ke rumahnya, sering pesta-pesta dansah bersama mereka. Dua bersaudara pegawai kantor telegrap yang sangat akrab dengan saya, Yosie Sohouka dan Henny Sohouka rumahnya di Tambak Gringsing, di sebelah barat dari Sampurna Theatre. Seingat saya, ketika sering ke rumah Yosie, gedung itu sudah tidak digunakan jadi pertunjukan bioskop lagi.

 

 

Pergaulan akrab saya dengan orang-orang

Ambon saya tuliskan dalam novel saya Surabaya Tumpah Darahku (dimuat Kompas bersambung, 1973).

 

 

Tahun 1960 – 1967 saya bekerja di Perusahaan Dagang Negara (PDN) Djaya Bhakti, mula-mula kantornya di Jalan Rajawali 54, kemudian pindah ke Jalan Penjara 21, di sebelah kiri Penjara Kalisosok. Waktu itu saya sudah menulis cerita-cerita dalam bahasa Jawa, dan berkenalan dengan Basuki Rachmat. Basuki Rachmat rumahnya di Dapuan, yaitu kampung di belakang kompleks Sampurna Theatre. Rumahnya kecil, dindingnya anyaman bambu, berdempetan dengan tetangganya. Namun saya, ketika istirahat kantor, seringkali bertamu ke situ (dari Jalan Penjara ke Dapuan dekat) sering sampai disuguh makan segala. Pergi ke Dapuan selalu melewati belakang kompleks Sampurna, meskipun saya tidak pernah melihat khusus dalamnya saya tahu kompleks itu untuk pabrik rokok.

 

 

Sejak saya menang lomba penulisan cerita sambung di Panjebar Semangat (saya pemenang pertama dengan cerita Kaum Republik, Basuki Rachmat pemenang ke tiga dengan cerita Candhikala) saya juga mengisi cerita di Jaya Baya (kantornya sama dengan Panjebar Semangat, dan lain-lain penerbitan pers, yaitu di Gedung Pers Nasional, Jalan Penghela 2 Surabaya) dan kenal dengan Pak Tadjib Ermadi (direktur/pendiri Jaya Baya) dan pemimpin redaksinya M. Radjien. Karena Pak Tadjib Ermadi tidak mau diajak memupuk kekayaan dengan adanya subsidi kertas untuk penerbitan pers dan buku dari pemerintah, maka M. Radjien mendirikan CV Warga, penerbitan buku sendiri (mendapat subsidi kertas), dan minta mundur dari jabatannya sebagai pemimpin redaksi Jaya Baya. M. Radjien menunjuk saya sebagai sulihnya, disetujui oleh Pak Tadjib. Tetapi karena penghasilan saya di PDN Djaya Bhakti cukup makmur, saya menolak, dan saya menganjurkan Basuki Rachmat menjadi pemimpin redaksi Jaya Baya. Disetujui. Saya tetap membantu menyiapkan teks, setsel handpres, dll. penyelenggaraan penerbitan majalah Jaya Baya.

 

 

Tahun 1962, para wartawan/seniman

Surabaya: Basuki Rachmat, Farid Dimyati, Hari Rek, Wiwiek Hidayat menandatangani Manifesto Politik Kebudayaan (Manikebu). Oleh pihak PKI mereka dilarang bekerja di profesinya. Basuki Rachmat harus dipecat dari jabatannya dan tidak boleh di kantor redaksi Jaya Baya. Pak Tadjib membuat kebijaksanaan, Basuki Rachmat tetap bekerja menyiapkan teks-teks majalah Jaya Baya pada sore-malam hari di rumah Pak Tadjib (Asrama AURI Jalan Pasar Besar Wetan), tapi yang muncul di kantor redaksi Jaya Baya Suparto Brata. Pada jam-jam istirahat di Kantor Djaya Bhakti, saya duduk di meja redaksi Jaya Baya di Jalan Penghela 2

Surabaya
. Keadaan ekonomi Basuki Rachmat kian parah. Bekerja dengan ketrampilan fisik tidak bisa (misalnya mau buka tambal ban di tepi jalan), menggunakan ketrampilan berpikir diawasi ketat, dianggap musuh rakyat oleh partai politik negara (PKI).

 

 

Setelah peristiwa G30S/PKI 1965, Basuki Rachmat kembali menjadi pemimpin redaksi Jaya Baya. Oleh Totilawati Tjitrawasita (anggota redaksi Jaya Baya saat itu) Basuki Rachmat diperkenalkan dengan Pejabat Walikota Surabaya R. Soekotjo, menjadi penulis pidatonya. Sejak itu kecakapan Basuki Rachmat mengelola kesenian dan kebudayaan sangat menonjol, berpengaruh benar pada Bapak Walikota Surabaya, sehingga Pemda mengirimkan 4 lakon drama dari Surabaya ke TIM Jakarta, yang berlanjut dengan pembentukan Dewan Kesenian Surabaya tahun 1972. Itu atas pengaruh besar Basuki Rachmat. Basuki Rachmat juga yang menciptakan semboyan Surabaya Kota Indamardi (Industri, Dagang, Marine dan Pendidikan).

 

 

Tahun 1967, karyawan PDN Djaya Bhakti harus masuk Soksi (embrio Golkar). Saya mengundurkan diri, dan ingin melulu menulis sebagai penghasilan utama. Ternyata tidak bisa hidup hanya dengan menulis. Maka 1969, oleh Basuki Rachmat saya dijadikan pengelola majalah Gapura, majalah resmi yang diterbitkan oleh Pemda Surabaya. Dan tentu saja juga bersama membangun penerbitan majalah Jaya Baya yang kami cintai. Atas hasil usaha kami (terutama Basuki Rachmat) majalah Jaya akhirnya bisa berkantor redaksi/administrasi di Embong Malang (pusat perbelanjaan), punya percetakan di Rungkut Industri, dan dibuka oleh Menteri Penerangan Harmoko. Meskipun bantuan saya dalam membangun majalah Jaya Baya besar, namun Basuki Rachmat melarang saya untuk menjadi ‘karyawan’ Jaya Baya. Dia lebih mendorong saya untuk menjadi pegawai negeri, alasannya karena mencari kehidupan di majalah Jaya Baya tidak menjamin kemakmuran kelestariannya. Yang selanjutnya saya menjadi pegawai Humas Kota Surabaya.

 

*

 

Sayang, undangan dari House of Sampoerna itu pada jam 18.00. Selama ini saya jarang sekali pergi keluar rumah malam hari, selain mata menjadi kurang awas, saya selalu ingin melakukan aktivitas saya seorang diri (tidak merepotkan orang lain). Pergi keluar rumah memenuhi undangan pada malam hari selain susah untuk mendapatkan kendaraan umum (mata tidak awas memilih kendaraan), atau harus mengganggu orang lain, minta diantar-jemput. Jadi, kalau minta diantar dan dijemput oleh anak atau menantu, harus mencari selanya mereka sedang sibuk atau tidak.

 

 

Tanggal 2 Mei 2008, siang hari saya terima telepon, menyebut namanya Amel, dari House of Sampoerna. Menanyakan apa saya sudah terima undangan. Sudah, dan karena undangan malam hari, mungkin saya tidak bisa hadir. Amel kelihatannya kecewa.

 

 

Merasa mengecewakan Amel, sejak itu keinginan saya memenuhi undangan ke House of Sampoerna jadi lebih bersemangat. Maka saya siasati, saya berangkat dari rumah jam 16.00. Naik angkutan

kota. Sampai di tempat sinar matahari masih terang (jam 17.15). Ternyata daerah sekitar sudah sangat berubah. Penjara Kalisosok sudah bukan penjara lagi. SMPN sebelah barat penjara sudah tidak jadi sekolahan lagi. Asrama polisi yang dulu rumah susun, sudah hilang dan jadi tanah lapang yang dipagari tembok, dan ada gedung megah baru di

sana.

 

 

Sampai di museum masih sepi. Setelah bertanya-tanya, sambil menanti acara saya dipersilakan masuk museum (yang dulu Sampurna Theatre). Di

sana diragakan segala barang dan foto yang berkenaan dengan sejarah dan peri kehidupan pendiri dan keturunannya pabrik rokok, Tuan Liem Seeng Tee. Para pengunjung bisa ditemani oleh para pramuwisata yang sangat baik bisa menerangkan dan menceritakan barang-barang dan foto-foto yang terpampang di

sana.

 

 

Saya terpikat sama koleksi bekas bungkus korek api. Bekas bungkus korek api seperti itu dengan gambar atau merknya masing-masing, dulu pernah saya koleksi juga. Ketika zaman Belanda, bungkusnya hanya satu macam, yaitu yang ada tulisannya PALMTREE, gambarnya pohon kelapa yang hijau, di tengah ada seorang kulit hitam legam memikul sesuatu. Konon kabarnya itu korek api import dari Swedia, dan pemerintah Hindia-Belanda biasanya memberi hak monopoli atau sangat terbatas macamnya untuk peredaran barang import begitu. Sebagai contoh, mesin jahit hanya merk Singer, barang elektronik hanya buatan Philips. Saya bergairah mengoleksi tempat korek api justru pada zaman Jepang. Membuat api pada zaman Jepang susah (karena bensin tidak ada maka korek api pakai bensin tidak ada lagi), tapi justru beredar korek api yang dikemas seperti Palmtree, tapi gambarnya beraneka warna. Antaranya banyak berkenaan dengan persenjataan perang saat itu. Misalnya gambar pesawat terbang, tank, kapal perang, bendera Hinomaru (bulatan merah). Bekas bungkus korek api yang saya koleksi pada zaman Jepang tidak ada diragakan di museum situ, sayang. Mungkin karena bukan produk Sampoerna.

 

 

Selain bungkus korek api, ada juga bermacam-macam bungkus rokok sigaret. Mungkin yang dikoleksi di situ hanya bungkus rokok yang pernah diproduksi oleh Sampoerna dan kerabatnya. Dan bungkus rokok sigaret seperti itupun mengingatkan saya pada zaman Jepang. Bungkus rokok sigaret zaman Jepang sangat populer bagi anak-anak sebaya saya, karena bungkus rokok tadi bisa dibuat mainan sebagai uang (kalau mengoleksi bungkus korek api tadi hanya saya pribadi, kalau bungkus rokok sigaret ini dikoleksi anak-anak pada umumnya). Seperti permainan monopoli menggunakan uang palsu, maka bungkus rokok zaman Jepang populer sekali bagi anak-anak sebagai uang pembayaran dalam permainan. Hanya ada 4 macam bungkus rokok sigaret (orang

Surabaya mengatakan rokok putih) saat itu. Yaitu KooA, Semangat, Shirahoo, dan Mishuhoo. KooA dan Semangat, isinya lebih banyak, besarnya seperti Bentoel Biru zaman sekarang (tapi bahan bungkusnya kertas, bukan kardus), sedang Shirahoo dan Mishuhoo lebih ramping, isinya lebih sedikit. Konon KooA diproduksi di

Cirebon
, bekas pabrik sigaret Davros zaman Hindia-Belanda. Semangat pabriknya di

Malang
, bekas pabriknya Faroka. Sedangkan Shirahoo dan Mishuhoo kata orang rokok import dari luar Indonesia. Bungkus rokok menjadi sangat populer pada waktu itu, hingga ada teman yang merangkai kata-kata merk rokok tadi menjadi begini: Shirahoo-Semangat-Mishuhoo-KooA-plok. Kalau dikatakan lebih cepat jadi: Sira Semangata, Misuha, Koaplok. Menjadi ucapan bahasa Jawa yang artinya, Kamu semangatlah, (kalau) mengumpat kutempeleng.

Keempat bungkus rokok yang mengingatkan nostalgia saya pada zaman Jepang itu pun tidak ada dipamerkan atau diragakan di House of Sampoerna.

 

 

Tapi saya masih penasaran mencari lembar atau bungkus rokok yang diproduksi Sampoerna, yang juga pernah menjadi koleksi saya ketika saya masih kecil. Saya ingin bernostalgia dengan cap-cap atau gambar waktu itu. Ternyata juga tidak ada di

sana.

 

 

Tahun-tahun 1937-1939, ada rokok sigaret Djie Sam Soe yang bungkusnya kertas bening. Isinya mungkin 10 atau 12 batang, karena besarnya seperti produk-produk rokok zaman sekarang yang isinya sekian itu. Sebagai identitasnya bahwa itu Djie Sam Soe, dalamnya diseliti selembar kertas yang ada simbulnya seperti huruf H diceret tengahnya warna merah (Chinese character “Wang” means “King”). Waktu itu, saya dan teman-teman (saya klas satu SR) bersemangat sekali mencari bekas bungkus rokok itu. Karena di balik simbol Djie Sam Soe tadi terdapat gambar dua orang badut, yang bermain akrobat (zaman itu namanya standen), kedua orang tadi membentuk huruf. Misalnya dua orang tadi membentuk huruf S, huruf O, huruf E. Tiap lembar simbul Djie Sam Soe (dibaliknya) ada satu huruf. Kami anak-anak bersemangat mencari bekas tempat rokok Djie Sam Soe tadi, karena kata orang kalau pengumpulan huruf-huruf badut tadi bisa berbunyi Djie Sam Soe, maka si pengumpul akan dapat hadiah besar. Saya mencari bungkus rokok Djie Sam Soe tadi sampai di pasar-pasar hewan, tempat-tempat sampah tepi jalan, bahkan ibu saya yang tidak merokok Djie Sam Soe pun saya suruh beli rokok merk itu, perlunya untuk memburu gambar huruf pada badut di balik simbol Djie Sam Soe. Ternyata tidak pernah dapat lengkap. Yang paling banyak huruf S. Yang paling tidak ada huruf I dan J. Tapi saya pernah dapat huruf J, dan sangat senang sekali, saya kabarkan kepada teman-teman yang juga memburu bekas bungkus rokok Djie Sam Soe.

 

 

Soal memburu-buru gambar huruf pada bungkus rokok Djie Sam Soe yang saya alami itu, pernah saya tulis/singgung dalam novel saya Mencari Sarang Angin (PT Grasindo 2004). Yang mencari gambar huruf rokok itu Darwan, tokoh utama novel Mencari Sarang Angin, novel sejarah

Surabaya 1936-1945 itu.

 

*

 

Keinginan saya menggali kenangan dengan House of Sampoerna yang semula karena kenangan saya secara fisik sering mendatangi sekitar gedung tadi, ternyata menemukan yang lebih berarti dan aktual bagi saya (semoga bagi Anda juga). Yaitu ketika saya masuk museum.

Para pramuwisata mempersilakan kita masuk. Di sebelah kanan pintu masuk, ada terpampang lembar (dua halaman) majalah STAR WEEKLY. Halaman sebelah kiri (judul majalah) tertulis lengkap di situ: Penerbit PT. Pers Dag. & Pertjet: “Keng Po”. Kantor Pintu Besar 86-88, telp. Kota 589 & 590 Jakarta

Kota
. STAR WEEKLY, Diterbitkan Tiap Hari Sabtu, Pem. Red. Mr. Auwjong Peng Koen, Wakilnya Tan Hian Lay. Harga Rp 2.50 per jilid. No. 556 th ke XI.  Jakarta

Kota 25 Agustus 1956.

 

 

Halaman sebelah kanan (halaman 15) terbaca artikel sebagai berikut: (saya ubah ejaan baru)

 

 

DARI BURUH ROKOK MENJADI RAJA ROKOK. 

 

Pada hari Jumat tgl 10 Agustus telah meninggal dunia Tuan Liem Seeng Tee, raja rokok yang namanya tidak asing lagi, teristimewa di Jawa Timur.Tuan Liem, sesudah jadi buruh rokok sekian tahun lamanya, lalu memulai pabrik rokoknya yang besar, NV. Sampoerna dengan modal “gilingan” rokok dari kayu, dengan dua orang buruh, ialah Tuan Liem  sendiri dan isterinya. 

Itulah yang saya baca di lembar sebelah kanan, yang merupakan halaman dalam halaman 15. Sedang pada lembar sebelah kiri yang merupakan halaman depan atau sampul, terbaca berita seperti ini (saya ubah ejaan yang disempurnakan):

 

Pemandangan Dalam Negeri. 

Jakarta, Kamis 23 Agustus. 

Pemerintah Daerah akan berotonomi. Kalau DPR menerima baik rencana itu perimbangan keuangan antara negara dan daerah yang diumumkan dalam surat-surat kabar akan mengalami perubahan. Sumber-sumber penghasilan yang diserahkan oleh RUU ini dari tangan pemerintah pusat kepada daerah-daerah tidak sedikit. Malahan kalau dilihat sepintas lalu mungkin pemerintah pusat akan mengalami kesukaran-kesukaran keuangan lebih besar setelah RUU ini dijalankan. 

 

Menurut RUU itu pasal 5 dan 6, maka 90 pCt dari pajak peralihan, pajak upah dan pajak meterei diserahkan kepada daerah. 

 

Sebagian (berapa banyak belum ditentukan) dari pajak perserohan, sebagian dari penerimaan bea masuk , bea keluar dan cukai juga akan diserahkan kepada daerah. Post-post itu bisa berjumlah besar. 

 

Selainnya dari pada itu, daerah-daerah yang menghasilkan barang-barang export dapat diberi ekstra lagi sebagian dari bea export dan cukai atas barang yang dihasilkan oleh daerah-daerah. Belum lagi pajak-pajak kecilan seperti retribusi pasar, penning, pajak kendaraan bermotor, verponding, pajak rumah tangga, pajak jalanan, pajak potong dsb. 

 

Salah satu akibat daripada UU perimbangan keuangan ini, ialah bahwa daerah-daerah yang kaya dalam penghasilan barang export (seperti daerah-daerah karet di Sumatera) dan daerah-daerah yang mempunyai banyak perusahaan-perusahaan dan hartawan seperti Jakarta Raya, akan mendapatkan penghasilan lebih besar daripada menurut pembagian sekarang. 

 

Pemerintahan-pemerintahan ditiap-tiap daerah akan mempunyai kepentingan langsung untuk menganjurkan perkembangan ekonomi yang akan menjadi dasar dan pokok penghasilan pemerintah-pemerintah itu masing-masing. 

 

Diharapkan saja bahwa undang-undang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah, bersama-sama dengan terbentuknya DPR-DPR Daerah peralihan akan membawa pengaruh baik.Dengan adanya keadaan baru ini, daerah-daerah dan suku-suku bangsa mendapat hasil lebih baik untuk membela kepentingannya masing-masing sehingga sentimen kesukuan dapat diharapkan akan berkurang. 

 

Akan tetapi otonomi saja tidak cukup sebab akhirnya soal-soal yang terpenting toh akan diputuskan oleh parlemen dan pemerintah pusat. Maka sentimen-sentimen itu baru bisa dapat diredakan, kalau masih diadakan sistim dua kamar, yaitu disampingnya Dewan Pewakilan Rakyat, harus juga ada sebuah senat yang tidak mewakili rakyat, melainkan mewakili daerah-daerah. 

 

Seperti dikatakan, PNI dan PKI sampai sekarang masih menentang sistim dua kamar itu dengan (bersambung di hal. 2). 

 

Maaf, hanya itu yang bisa saya kutip dan ada di

sana.

 

Selain kutipan di atas, pada halaman itu juga tertera gambar karikatur. Gambar tadi memperlihatkan rangkaian gerbong keretaapi yang ditarik lokomotip. Di lokomotip ada wajah: Ali Sastroamidjaya. Di luar gerbong ada “rakyat” yang berkata: “Lho sudah lewat 5 bulan kok belum kelihatan bergerak!” 

 

Di bawah gambar (caption) tertulis: Setelah bekerja 5 bulan, apakah hasil yang dicapai oleh kabinet pertama setelah pemilihan umum? 

Begitulah kesan sekilas kunjungan saya ke Museum House of Sampoerna. Merupakan kunjungan nostalgia tetapi juga menggugat pemikiran untuk masa depan. Misalnya tentang “Otonomi Daerah”, ternyata sudah jadi wacana pemikiran “leluhur” pemimpin bangsa kita sejak tahun 1956. Kini aktual lagi, dan agaknya mengalami krusial yang sama. Bangsa kita tidak mau belajar dari sejarah, oleh karenanya akan selalu mengalami kesalahan-kesalahan yang sama. Apa lagi mau belajar dari museum, yang bersemboyan “Jelajahi Bumi Kita, Temukan Jejak Kehidupan di Dalamnya”. 

 

Karena tekun mencatat artikel tadi, saya terlena tidak tahu bahwa persiapan acara pembukaan pameran “Museum Geologi: Sarana Pembelajaran dan Berpariwisata” yang akan dibuka oleh Walikota Surabaya sudah akan dilaksanakan. Tamu-tamu penting sudah datang, dan sedang berbincang dengan pemimpin pembawa acara. Ketika saya mendekat, pemimpin tadi, seorang wanita cantik bertubuh tinggi semampai, menyambut saya dengan sapaan, “Pak Suparto Brata. Terima kasih, mau berkunjung ke tempat kami.” Saya tercengang. Kok kenal saya? Apa dia itu Amel, yang telepon saya kemarin? Karena masih dikurung para tamu penting, antara lain utusan Walikota, maka saya tidak sempat bicara lagi dengan dia.

 

 

Ada penerima tamu lain (ditilik dari seragam dan lencana dadanya) menemui saya dan bertanya apa yang bisa dibantu. Dia juga kenal saya dan telah membaca buku-buku saya. “Apakah pemimpin acara itu Bu Amel?” Jawabnya, bukan. Itu Bu Ina.

 

 

Waktu pembukaan acara dengan banyak pidato-pidato, terlalu lama berdiri, saya pun cari tempat duduk di lain ruangan.

Ada penerima tamu di situ, memperkenalkan diri Pamela Ryanto, Marketing Senior Executive. Dari dia saya tahu bahwa pemimpin acara itu Bu Ina Silas, puteri Johan Silas. Johan Silas, adalah teman saya satu kelas waktu di SMAK St.Luis. Satu kelas isinya 40 anak, orang Jawanya 7, suku luar Jawa beberapa hitungan jari, yang banyak etnis Tionghoa. Mereka pintar-pintar. Saya bergaul rukun dengan mereka, pernah nonton bioskop bersama (termasuk Johan Silas) di Metropole Theatre, lakonnya White Christmas. Ketika diselenggarakan Konperensi Asia Afrika di Bandung (1954), para etnis Tionghoa ini tidak suka dengan delegasi RRT. Mereka mengaku bangsa

Indonesia
sejati. Sekarang, di mana putera-putera bangsa yang pintar-pintar itu? Yang saya temui hanya Johan Silas seorang. Pernah saya mendapat kabar bahwa Steffy Tjia, salah seorang yang terpandai di kelas saya, memimpin sebuah rumah sakit di Amerika. Seorang lagi yang namanya saya lupa, menjadi pialang bursa effek sukses di

USA
. Agaknya mereka itu mempergunakan kepandaiannya untuk hidup di

sana, karena di negeri sendiri kurang dilindungi hak-haknya sebagai warga negara.

 

 

Nama dan sukses Steffy Tjia di negeri orang saya pinjam menjadi tokoh pada buku novel saya Donyane Wong Culika (State of the Deceitful People). Dalam novel, ketika Steffy mau mengabdikan diri pada bangsanya, mendirikan rumah sakit di

Jakarta, alat-alat medisnya dibantu dari almamaternya (Amerika), oleh orang-orang PKI dianggap musuh rakyat (1964). Rumah sakitnya dihancurkan, Steffy Tjia dianiaya.

 

 

Negara tidak melindungi hak-hak hidup warga negaranya tidak hanya terjadi pada 1964. Juga terjadi pada sepanjang tahun kemerdekaan. Bangsa ini tidak mau belajar dari sejarah, maka akan selalu melakukan kesalahan-kesalahan yang sama. Yaitu nekrofilia. Potensi bangsa tidak untuk membangun bersama, melainkan digunakan untuk menjegal pemimpin yang sedang berusaha membangun kesejahteraan bangsa. “Pemimpin itu sesat, karena yang memimpin bukan aku (golonganku)”.

 

*

 

Ketika saya belajar di SMAK St.Luis, yang menjadi direktur Broeder Rosarius. Beliau juga mengajar sejarah dunia. Caranya mengajar sangat memukau, sehingga saya menjadi sangat berperhatian dengan sejarah. Ketika menerangkan sejarah Napoleon Bonaparte, begitu rinci ceritanya hingga terkesan sekali peristiwa-peristiwa itu di hatiku. Antara lain ketika Napoleon Bonaparte memerangi bangsa-bangsa di Eropa, berkata kepada para prajuritnya, “Hai, prajuritku. Empat abad mendatang orang sedang menatapmu apa yang sedang kamu kerjakan sekarang!” Itu saya catat dari cara Broeder Rosarius mengajarkan sejarah.

 

 

Dan pada tahun 2003, saya membaca buku Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong, (Penerbit Buku Kompas, Oktober 2002) karya Ong Hok Ham. Pada halaman Pengantar (halaman XIX), terbaca begini:

 

Sejak usia muda saya sudah tertarik pada sejarah. Setamat dari ELS (

Europese Lagere School), setingkat sekolah dasar, di Surabaya pada 1950-an saya masuk ke HBS (Hogere Burgerschool) di

kota
yang sama. Di sekolah menengah itu saya mendapat pelajaran sejarah Belanda dan Eropa dari Broeder Rosarius, yang kini berumur 70-an dan hidup dengan istrinya di Belanda. Guru sejarah itu menceritakan berbagai kisah sejarah dengan sangat menarik dan dramatis. Angka yang saya peroleh dalam ujian sejarah sering 19 dan dalam laporan semester sering mencapai angka 9.
 

 

Ya. Ternyata saya dan Pak Ong Hok Ham menjadi suka sejarah antara lain karena kami mendapatkan ajaran dari guru yang sama.

 

 

Kunjungan saya untuk memenuhi undangan House of Sampoerna hari itu, memang mengaduk-aduk ingatan, kenangan, dan ingin mencatatnya guna pelajaran agar untuk memperbaiki masa depan kehidupan bangsa dan negara kita tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang sama. Maka saya tulis artikel ini.

 

 

Begitu teraduk-aduknya ingatan saya sehingga acara khusus hari itu, “Pembukaan Pameran Museum Geologi: Sarana Pembelajaran dan Berpariwisata” tidak bisa saya simak dengan saksama. Namun tidak mengapa, karena saya pernah mengunjungi Museum Geologi aslinya di Jalan Diponegoro 57

Bandung. Waktu melihat fosil-fosil rasaksa di

sana
, saya sempat berpikir, “Dinasorus yang mati beribu tahun yang lalu diingat wujudnya oleh manusia sekarang karena meninggalkan fosil. Kalau manusia mati, supaya diingat oleh manusia beribu tahun kemudian meninggalkan apa? Saya jawab sendiri: Meninggalkan tulisan dalam buku”. Pulang dari House of Sampoerna sudah jam 8 malam, saya berjalan seorang diri menyusuri bekas Penjara Kalisosok yang sepi menuju pangkalan angkutan kota di Jembatan Merah, masih diberati oleh pikiran jawaban saya tadi: “Makanya tulislah buku”.

Semoga bermanfaat bagi pembelajaran kita semua.

Posted by admin on Monday, May 12th, 2008. Filed under Article. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

4 Comments for “HOUSE OF SAMPOERNA”

  1. Sangat bagus sekali tulisan mbah Parto – saya juga menyukai tulisan-tulisan yang lain terutama cerita pendek dan cerita sambung yang dimuat di majalah. Tetapi saya belum pernah beli bukunya.
    Ada satu hal yang saya tidak percaya dari tulisan di atas, yaitu Mbah parto masih naik angkutan umum ke/dari acara tersebut. Seorang penulis/budayawan terkenal masih mau naik angkutan umum. Begitu sederhananya sosok seorang Soeparto Broto.
    Padahal seorang anggota DPR yang suka teriak-teriak sebagai wakil rakyat selalu bermewah-mewah suka ganti-ganti mobil.

  2. Bapak Suparto yang baik, jadi ingat, waktu saya telepon bapak, itu adalah pertama kalinya saya menelepon para undangan untuk konfirmasi bisa datang atau tidaknya. Jadi, waktu bapak ragu-ragu untuk bisa datang, saya tidak bisa menutupi rasa kecewa, hehe, maklum pak masih bingung…masih gugup juga
    Saya jauh lebih tercengan karena memori bapak akan Kawasan House of Sampoerna yang masih tajam, wow, bapak bisa sangat detail sekali, saya salut pak.
    Jujur ya pak, Saya belum pernah tau karya-karya bapak, tapi sehabis baca web dan blog bapak, serta komen-komen yang ada, saya jadi tertarik, mudah-mudahan saya bisa baca karya-karya bapak, secepatnya.
    Bapak, terima kasih banyak telah menyempatkan dan bela-belain datang di Pameran bulan Mei kemarin, semoga kalau ada event lagi saya bisa berkenalan dengan bapak. Selamat berkarya terus pak!

  3. sampai dengan saat ini, satu-satunya novel yang pernah aku baca sampai tamat adalah novel karya bapak yang berjudul ‘Mencari Sarang Angin’. Salam buat mas Darwan, hehe….

  4. Apa kabar Pak?hehehe salam kenal dari saya, sebenarnya ini perkenalan kedua kita, waktu bapak datang ke acara House, kebetulan saya yang sedang in charge sebagai part time disana. Tak henti saya berucap kagum dalam hati saat bertemu bapak, saya masih ingat betul bagaimana sangat besar ketertarikan bapak terhadap sejarah. Sebagai guide, saya merasa sangat beruntung karena yang sedang saya pandu adalah orang yang tau banyak tentang sejarah. sukses selalu buat Bapak.

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*