EXPEDISI TARTAR DAN RADEN WIJAYA

| |

 (menyambut Hari Jadi Kota Surabaya)

 

Kekuatan Satuan Tugas Expedisi Tartar.

 

Untuk sedikit mendapatkan gambaran betapa besar kekuatan Satuan Tugas Expedisi Tartar ke Jawa penulis mencoba membuat analisa data yang disebut dalam buku W.P.Groeneveldt. Analisa ini juga untuk mendapatkan gambaran susunan dari Satuan Tugas ini. 

Armada tugas berkekuatan 1000 kapal dengan perbekalan cukup untuk satu tahun. 

Gubernur Fukien diperintahkan oleh Kubilai Khan untuk menghimpun pasukan berkekuatan 20.000 dari propinsi-propinsi

Fukien, Kiang-si dan Hukuang. Tiga propinsi ini berada di Cina Selatan;

Fukien berbatasan dengan laut selat

Taiwan
. Pasukan ini dikumpulkan di pelabuhan propinsi

Fukien bernama Chuan-chau dari mana armada diberangkatkan. 

Jadi pasukan yang dikumpulkan dari tiga propinsi adalah terdiri dari orang Cina. 

Sebagai pemimpin umum ditunjuk Shih-pi dan Ike Mese dan Kau Hsing sebagai pembantu-pembantunya. Dari namanya dapat diperkirakan, Shih-pi dan Ike Mese adalah berasal dari

Mongolia (Tartar aseli) sedang Kau Hsing adalah Cina. 

Pasukan Tartar yang menyerbu ke Eropa terkenal karena pasukan kudanya. Jadi dapat diperkirakan pasukan kavaleri yang ikut ke Jawa ini terdiri atas orang-orang Tartar. 

Selain dari tiga propinsi di atas disebut pula adanya beberapa kesatuan yang dikumpulkan di Ching-yuan (sekarang Ning-po) di sebelah selatan Syang-hai. Shih-pi dan Ike Mese lewat daratan dengan pasukan itu berjalan dari sini menuju Chuan-chou, sedang Kau Hsing mengangkut perbekalan dengan kapal. Jadi diperkirakan pasukan yang berkumpul di Ning-po ini adalah kesatuan-kesatuan berkuda (kavaleri) yang disebut dalam laporan Shih-pi berkekuatan 5000 orang, kiranya terdiri dari orang-orang Tartar. 

Maka dapat diperkirakan, expedisi yang berkekuatan 20.000 orang ini terbagi dalam infanteri 15.000 orang. Dalam kronik Cina itu tidak disebut berapa besar jumlah awak kapal yang 1000 buah itu. Kalau tiap kapal berawak kapal 10 orang maka seluruhnya akan berjumlah 10.000 orang pelaut. Jadi seluruh expedisi ini berkekuatan 1000 kapal, kira-kira 30.000 prajurit dan 5000 kuda. 

Sesampainya di Tuban expedisi tersebut, seperdua dari kekuatan tempur didaratkan di sini dan menuju Pacekan lewat darat. Bagian yang lewat darat ini dipimpin oleh Kau Hsing terdiri atas kavaleri dan infanteri sedang seorang “Commander of Ten Thousand” (Pangleksa) meminpin pasukan pelopor. Shih-pi dengan seperdua bagian lainnya menuju Ujunggaluh lewat laut membawa perbekalan armada dipimpin oleh Ike Mese. Kiranya bagian yang dengan kapal ini adalah kesatuan-kesatuan bantuan dan senjata bantuan, kesatuan perbekalan dan kesatuan senjata berat, pelempar peluru (batu?). Mengingat keadaan

medan di Jawa diperkirakan banyak terdiri dari rawa-rawa maka senjata berat ini akan selalu disiapkan di kapal saja. Bagian terbesar dari expedisi ini adalah kesatuan infanteri. 

Maka dapat diperkirakan seluruh kekuatan expedisi terbagi atas kesatuan kavaleri 5000 orang, kesatuan infanteri kira-kira 10.000 orang dan kesatuan bantuan kira-kira 5000 orang yang dapat dipakai sebagai bantuan cadangan. 

Dalam gerakannya menuju

Kediri disebut, sebagian dari pasukan lewat sungai, kesatuan bantuan dan kesatuan senjata berat? Kau Hsing, melalui jalan barat sungai dan Ike Mese mengambil jalan timur. 

Setelah Kediri berhasil direbut, maka Kau Hsing dengan 1000 infanteri mengejar seorang pangeran yang berhasil lolos menuju ke pegunungan. Sekembali dari pegunungan agaknya timbul perselisihan antara panglima Cina ini dengan panglima-panglima Tartar. Shih-pi dan Ike Mese, karena kedua orang panglima ini telah mengijinkan Wijaya kembali ke Majapahit. Kau Hsing tidak mempercayai Wijaya, maka ia mengejar dan meninggalkan

Kediri dengan divisi dan pasukan pelopor yang di bawah pimpinannya. 

 

Perjuangan Wijaya 

Semula kekuasaan pulau Jawa di Jawa Timur setelah raja Airlangga turun tahta, berada di Daha, sekarang lebih dikenal dengan

Kediri dengan rajanya Jayabaya. Sebelum turun tahta Airlangga membagi negaranya Kahuripan menjadi dua: Panjalu (Daha sebagai pusatnya) dan Jenggala bagi kedua puteranya untuk memelihara kerukunan antara kedua saudara ini. Tapi akhirnya Jenggala dihancurkan oleh raja Jayabaya. Menurut para ahli, Prof. Purbotjaroko cs, untuk membenarkan tindakannya maka raja Jayabaya memerintah Mpu Sedah menulis Barata Yuda berbentuk kidung pujaan bagi raja Jayabaya. Mpu Sedah tidak sempat menyelesaikannya, maka diteruskan oleh Mpu Panuluh. Kiranya nama

Kediri
ini mulai dipakai sejak Jayabaya mulai menjadi penguasa tunggal di Pulau Jawa, berdiri seorang diri,

Kediri

Pada tahun 1222 setelah pertempuran di Ganter, Kertajaya, raja terakhir

Kediri, terpaksa mengakui keunggulan Ken Arok di Tumapel. Pusat Pulau Jawa berpindah ke Tumapel. Nama Tumapel ini diperkirakan diganti oleh raja Kertanegara menjadi Singasari. Sebutan prabu untuk raja mulai dipakai oleh Kertanegara. Kertanegara adalah pencetus Doktrin Wawasan Nusantara: Persatuan di Nusantara dan Persahabatan dengan Negara Tetangga yang didasari oleh suatu falsafah kerukunan “Manunggaling Kawula lan Gusti” 

Belum sampai tercapai cita-citanya Prabu Kertanegara terbunuh dalam suatu serbuan pasukan Kediri yang datang melalui jalan selatan dari Kediri masuk Singasari, yang dalam keadaan kosong tanpa pasukan pertahanan, karena pasukan pertahanan tersebut di bawah pimpinan Wijaya terpancing oleh pasukan Kediri yang beramai-ramai datang dari utara. Menurut kitab Pararaton kontak pertama dengan pasukan

Kediri terjadi di Desa Mameling (sekarang disebut Meling yang berada di bagian selatan Lawang). Sampai di Bungkal ia berhasil melukai pengejarnya Kebomandarang. 

Kemudian Wijaya membagi-bagikan celana gringsing kepada pengikut-pengikutnya tiap orang sehelai dan diperintahkan ngamuk, hingga pasukan Daha banyak berkurang kekuatannya. Kembali ke Singasari untuk menjemput para puteri Kertanegara, didapatnya Singasari telah menjadi lautan api. Hanya seorang puteri yang diketemukan yang diterangi oleh api yang membakar keraton, yalah yang tertua, adiknya tidak diketemukan. 

Semalam mereka berjalan ke utara, pada pagi harinya di sebelah Telaga Pager Wijaya disusul oleh musuh dan terjadilah lagi pertempuran di mana Gajah Pagon terluka pahanya. Pasukan Daha ini tidak meneruskan mengejarnya tapi kembali ke Telaga Pager, sedang Wijaya berjalan masuk hutan dan puteri Kertanegara didukung bergantian. Sesampainya di Pandaan mereka diberi makan oleh Buyut Pandaan bernama Macan Kuping. Gajah Pegon yang terluka ditinggalkan oleh Wijaya pada Buyut Pandaan yang menyembunyikannya di sebuah gubuk di atas ladangnya. 

Dari Pandaan menurut prasasti Gunung Butak, Wijaya menuju Desa Kedungpeluk di mana terjadi kontak dengan musuh. Dari sini ia menuju ke barat ke Desa Lembak. Di sini tidak bertemu musuh maka perjalanan dilanjutkan ke Batang di mana pasukan perintis Wijaya menjumpai musuh yang mundur tanpa melawan. 

Wijaya terus ke barat menuju Kepulungan, di mana ia berjumpa lagi dengan musuh dan terjadi pertempuran di mana pasukan musuh banyak berkurang dan melarikan diri. Maka Wijaya berjalan terus ke Rabut Carat di mana ia berjumpa lagi dengan musuh yang datang dari barat yang dapat dialahkan oleh Wijaya. 

Dari Rabut Carat ini tampak bendera Daha berkibar di sebelah timur Hanyiru berwarna merah putih. Melihat bendera ini anak Jayakatwang yang menjadi menantu Kertanegara bernama Ardaraja dengan pasukannya meninggalkan Wijaya menuju Kepulungan. 

Dari Rabut Carat Wijaya menyeberangi sungai menuju ke Pamotan yang berada di sebelah utara sungai dengan pasukannya yang hanya tinggal 600 orang. Paginya ia bertemu lagi dengan musuh, banyak prajurit yang putus asa dan meninggalkannya, hingga pengikutnya tinggal sedikit. Maka Wijaya bermaksud meneruskan perjalanan menuju ke Terung untuk minta bantuan kepada Akuwu Terung, Warwagraya, mengumpulkan orang di sebelah timur dan timur laut Terung. Maka pengikut Wijaya menjadi gembira dan pada malam harinya mereka berangkat ke barat melalui Kulawan (Tulangan?) yang telah dijadikan benteng oleh musuh, di mana ia menjumpai musuh yang besar jumlahnya. Wijaya dikejar oleh musuh dan lari ke utara menuju Kembangsri (Bangsri), di mana ia berjumpa lagi dengan musuh, hingga ia terpaksa bergegas mencebur ke Bengawan dan menyeberanginya. Di sungai ini banyak prajuritnya yang tewas terkena tumbak musuh. Banyak yang lari mencari hidup sendiri-sendiri. Sesampainya di seberang sungai pengikut Wijaya tinggal duabelas orang. Pada pagi hari rombongan Wijaya diketemukan oleh rakyat Kudadu yang menolongnya dan memberinya makan. Oleh mereka Wijaya disembunyikan agar jangan sampai diketemukan oleh musuh. Maka akhirnya ditunjukkannya dan diantarkannya Wijaya ke tempat penambangan di Desa Rembang untuk menyeberang ke Madura. 

Tujuan terakhir di Madura adalah Sumenep, di mana Wiraraja berada sebagai Adipati yang diangkat oleh Kertanegara. Demikian menurut kitab Pararaton. Oleh Wiraraja dinasihatkan supaya Wijaya kembali ke Jawa untuk mengabdi pada Jayakatwang. Setelah mendapat kepercayaan supaya minta izin untuk membangun desa di sebuah hutan di wilayah Desa Tarik. 

Dengan bantuan prajurit dari Madura yang dipimpin sendiri oleh Wiraraja dibangunlah oleh Wijaya sebuah desa di tengah hutan yang penuh dengan pohon maja yang rasanya pahit. Maka desa baru itu disebut Majapahit. Mendengar akan adanya desa baru Majapahit yang dibangun oleh Wijaya menantu Kertanegara ini, maka berdatanganlah rakyat dari Singasari mengabdi Wijaya. Makin lama Majapahit makin menjadi besar dan ramai. Mengalirnya rakyat ke Majapahit ini menimbulkan kecurigaan pada Jayakatwang. 

Berkembangnya Majapahit menimbulkan kecurigaan pada Jayakatwang. Di samping itu Wijaya pun jadi khawatir adanya serangan dari

Kediri

Bersamaan waktunya dengan suasana curiga-mencurigai ini satuan tugas expedisi Tartar tiba di Tuban dalam bulan Desember tahun 1292. Maksud kedatangan tentara Tartar ini diketahui oleh Wijaya. Maka timbullah gagasan untuk menampar lawan dengan meminjam tangan. Maksudnya memukul Jayakatwang dengan orang-orang Tartar. 

Bila okol tidak dipunyai maka akallah yang dipakai, demikianlah kiranya semboyan mereka. 

 

Desa Majapahit menghalau Tartar 

Sebelum dimulai uraian tentang gerakan-gerakan operasi militer oleh Wijaya terhadap kesatuan-kesatuan Tartar, lebih dahulu kita berusaha mendapatkan gambaran mengenai keadaan

medan di mana kesatuan-kesatuan baik dari Majapahit maupun dari Tartar. Keuntungan Majapahit adalah, bahwa prajurit Majapahit lebih mengenal keadaan

medan
yang bagi orang Tartar masih sangat asing. 

Penulis memperkirakan, di sebelah barat sungai terdapat

medan berbukit-bukit dan sebagian besar tersusun oleh tanah keras atau bongkah-bongkah karang. Di sebelah timur sungai diperkirakan keadaan tanahnya masih lunak, bahkan banyak yang merupakan rawa-rawa dan di dekat desa di sana-sini berupa tanah persawahan. Kalau ada jalan tentu jalan-jalan ini tidak dikeraskan dengan diberi dasar batu. Baik di barat maupun di timur sungai masih terdapat banyak hutan-hutan lebat. 

Betapa sukarnya daerah ini dilalui, apa lagi oleh suatu kesatuan militer yang besar, dapat kita perkirakan dari waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak antara Pacekan sampai

Kediri

Dalam kronik Cina laporan Shih-pi menyebut, ia harus bertempur sepanjang kurang-lebih 300 li dari

Kediri sampai ke kapal-kapalnya. Memang jarak antara Surabaya dan Kediri adalah kira-kira 130 kilometer lewat jalan berbelok-belok, kalau ditarik garis lempang dari Surabaya sampai Kediri kira-kira jarak itu adalah kurang-lebih 100 kilometer. 

Jarak Majapahit-Kediri yang kira-kira tujuhpuluh kilometer itu oleh kesatuan Tartar ditempuh dalam waktu 4 hari (tanggal 15 sampai 19) berjalan. Jadi tiap harinya hanya dapat menyelesaikan jarak kira-kira 17 kilometer. Kalau sehari selama 2 hari masih terang mereka dapat berjalan kira-kira 9 jam, maka tiap jam kiranya dapat diselesaikan 2 km. Maka dari sini kita dapat membuat perkiraan, betapa beratnya keadaan

medan pada waktu itu. 

Kronik Cina menyebut, Wijaya pada hari ke dua bulan ke empat diizinkan kembali ke Majapahit dengan pasukannya disertai oleh dua orang perwira Tartar dan 200 orang prajurit untuk menyiapkan persembahan bagi kaisar Tartar, jadi 13 hari setelah Kediri menyerah. Tanggal 9 Mei ia berangkat, sampai di Majapahit tanggal 13 Mei. Dengan diam-diam Wijaya menyiapkan pasukan dan rakyatnya. 

Kau Hsing yang sejak tanggal dikalahkannya

Kediri mengejar seorang pangeran yang lari ke pegunungan sekembalinya ke

Kediri
baru mengetahui, bahwa Wijaya telah berangkat dengan ijin Shih-pi dan Ike Mese. Tindakan rekan-rekannya ini tidak disetujui oleh Kau Hsing, agaknya timbullah perselisihan antara para pembesar ini. Diperkirakan Kau Hsing berada di pegunungan selama dua minggu lebih, kita buat 16 hari. Maka ia diperkirakan kembali pada tanggal 14 Mei. Setelah mengumpulkan divisinya ia segera mengejar Wijaya yang telah sempat menyiapkan pasukan di tempat-tempat pengadangan. 

Menurut kitab-kitab Pararton, Ronggolawe dan sebagainya pasukan Tartar pengantar Wijaya sesampainya di Majapahit (tanggal 13 Mei?) dipesilakan meletakkan senjata dengan alasan para puteri telah jera melihat senjata, sehingga tidak mau dijemput oleh orang-orang yang bersenjata. Pasukan Tartar pengantar Wijaya ini diselesaikan (dihabisi) oleh Ronggolawe dan Sora. 

Kau Hsing menyebut dalam laporannya waktu ia mengejar Wijaya, setelah mengumpulkan prajurit dalam jumlah yang besar Wijaya menyerang angkatan darat (army) kaisar, tapi ia dengan orang-orangnya (sambil terus menuju Ujunggaluh tempat kapal-kapal berlabuh) berkelahi secara gagah berani dan mematahkan serangan ini. Setelah selamat sampai di kapal ia membunuh Jayakatwang dan puternya (tawanan dari

Kediri) dan berangkat kembali ke negerinya. 

Kalau ia memerlukan waktu lebih dari biasa untuk mencapai Ujunggaluh yalah lebih dari 6 hari akibat penghadangan oleh Wijaya umpamanya 8 hari, maka bisa  ia berangkat dari Kediri pada tanggal 17 Mei 1293, sampainya di Ujunggaluh sebelum tanggal 30 Mei, yalah sekitar tanggal 25 Mei. 

Laporan Kau Hsing dapat diartikan, seolah-olah ia berangkat kembali ke negerinya tanpa menunggu Shih-pi dan Ike Mese. 

Betapa hebatnya serangan Wijaya ini dapat kita perkirakan dari laporan lain yang menyebutkan, bahwa Shih-pi sampai terputus dari pasukan yang lain. Ini berarti bahwa daerah sepanjang jalan antara

Kediri dan Ujunggaluh benar-benar dikuasai oleh pasukan dan rakyat Desa Majapahit. 

Shih-pi yang meninggalkan

Kediri beberapa hari kemudian dan terputus dari pasukan yang lain terpaksa harus dengan bertempur membuka jalan menuju Pacekan dan Ujunggaluh yang dicapainya dengan susah-payah. Untuk mencapai kapal-kapalnya di muara sungai ia harus bertempur sepanjang jalan kira-kira 300 li, kira-kira 100 km. Ia kehilangan lebih dari 3000 orang tewas dalam pertempuran ini. 

Ini dapat dibayangkan, bagaimana jalan pertempuran dan mengapa Shih-pi terpaksa harus menelan kekalahan. Kalau Kau Hsing yang memimpin divisi infanteri dengan pasukan perintisnya yang terlatih dapat mematahkan serangan Wijaya, maka pasukan berkuda Tartar yang berada dalam devisi Shih-pi merupakan makanan empuk bagi pasukan panah Majapahit, belum lagi kalau kuda-kuda ini dipancing masuk rawa-rawa maka orang-orang di atas kuda ini merupakan sasaran yang baik bagi anak panah Majapahit. Tiga ribu orang yang tewas ini kira-kira sabagian besar adalah dari kavaleri. 

Shih-pi rupa-rupanya dengan tergesa-gesa masuk kapal, karena ia dikejar oleh pasukan Wijaya sampai dekat Pacekan, di Tegal Bobot Sari. 

 

Expedisi Tartar meninggalkan Pulau Jawa. 

Dalam buku W.P.Groeneveldt mengenai kedatangan expedisi Tartar ini terdapat laporan-laporan para panglima masing-masing. Tidak seluruh laporannya akan disebut pada tulisan ini tapi hanya mengenai keberangkatannya kembali ke negerinya saja. 

Kau Hsing yang lebih dulu kembali dari

Kediri ke Ujunggaluh melaporkan: Ia sangat kecewa mengenai diizinkannya Wijaya kembali (dari mengantar pasukan Tartar bertempur menaklukkan

Kediri
, pulang kembali ke Majapahit), karena ia mencurigainya. Benar saja, Wijaya membunuh orang-orang yang mengantarkannya (Tartar) dan berbalik memusuhi orang-orang Tartar. Wijaya mengumpulkan prajurit dalam jumlah yang besar dan menyerang Kau Hsing dalam perjalannya kembali ke Ujunggaluh. Mereka bertempur dengan gagah berani dan berhasil mematahkan serangan Wijaya. Setelah itu (sesampainya di Ujunggaluh) Kau Hsing membunuh Jayakatwang dan anaknya, dan kembali ke Cina. 

Ike Mese tidak menyebut kembalinya, tapi dalam buku Groeneveldt disebut, supaya melihat laporan Shih-pi. Rupa-rupanya Shih-pi dan Ike Mese kembali bersama dari

Kediri

Shih-pi melaporkan, Wijaya minta izin kembali ke Majapahit dan ia dan Ike Mese menyetujuinya. Wijaya disertai pengawal dua orang perwira dengan 200 orang prajurit. Wijaya membunuh pengawal-pengawal ini dan berbalik melawan Tartar. Pasukan Tartar (baik devisi Kau Hsing yang berangkat duluan, maupun Shih-pi dan Ike Mese yang menyusul kemudian) dicegat dan diserang dari sebelah kanan dan kiri. Shih-pi berada di belakang dan terputus hubungannya dengan pasukan darat yang lain. Ia terpaksa bertempur sepanjang 300 li untuk dapat mencapai kapal-kapalnya, dan akhirnya ia naik kapal dan mencapai Chuan Chou setelah berlayar selama 68 hari. 

Setelah para panglima kembali berkumpul di Ujunggaluh, maka dalam perundingan diputuskan untuk kembali saja, karena tugas menghukum raja Jawa telah selesai, dan tidak ada gunanya untuk meneruskan pertempuran, karena mereka tak mengenal keadaan medan, mereka dapat terrpancing masuk rawa-rawa, di mana mereka tak bisa bergerak dan dengan mudah diserang oleh orang-orang Majapahit. Kiranya selain itu mereka juga memperhitungkan keadaan angin yang pada akhir bulan Mei biasanya sudah mulai meniup ke Barat (angin timur) dengan tetap. Selama kira-kira tiga bulan. Untuk bisa cepat sampai di Cina mereka harus segera berangkat, kalau mereka tidak ingin menjumpai rintangan berupa taifun atau angin yang tidak menentu. Maka mereka dapat sampai di Chuang Chou setelah 68 hari meninggalkan Jawa. 

Juga kemungkinan kejangkitan wabah mereka perhitungkan. Kalau mereka lebih lama berada di rawa-rawa di muara sungai ini, dikuatirkan akan bertambahnya korban disebabkan oleh malaria dan penyakit lain. 

Maka diputuskan lebih baik kembali daripada menderita lebih banyak kerugian, untuk menghindari kegagalan total, karena tidak mengenal

medan, penyakit dan kehancuran oleh tifun di laut. 

Di mana-mana Tartar menang, tapi di

Indonesia mereka gagal. 

Dikutip dari buku:“682 tahun Sura Ing Baya” (terbitan Pemkot Surabaya 1975)Tulisan: Kol. Laut Dr. Sugiyarto Tirtoatmojo.

Posted by admin on Wednesday, April 30th, 2008. Filed under Stories. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

7 Comments for “EXPEDISI TARTAR DAN RADEN WIJAYA”

  1. Terima kasih mbah brata, Terung desaku telah menjadi ampiran R. Wijaya dalam melakukan ekspedisinya. Terung yang mbah maksud sekarang berada di kecamatan Krian, kabupaten sidoarjo, yakni desa Terungwetan, dulu namanya Terung, kemudian karena terlalu luas akhirnya Terung dirubah menjadi dua desa yakni Terungwetan dan Terungkulon. memang didesa itu ada banyak peninggalan-peninggalan (walaupun terpendam dibawah pepohonan) berupa pagar dan bekas bangunan kuno. kemudian did esa tersebut (Terungwetan) juga ada pesarean (makam) Raden Ayu Putri OTW, konon beliau itu putri dari adipati Terung. namun kebenarannya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. mungkin mbah Brata punya cerita tentang Raden ayu Putri OTW tersebut. Kami sangat memerlukan informasi tersebut, soalnya cerita hanya dari mulut ke mulut. tentang Raden ayu Putri OTW sendiri memang ada cerita khusus di masyarakat sana. tapi asal usulnya masih perlu diselidiki lagi. (bukti sejarahnya). juga edisi khusus tentang adipati Terung mohon mbah Brata menulisnya. kami bangga jadi warga Terung (Terungwetan). salam SR

  2. Mbah brata, kisah menarik ini mulai sedikit menguatkan keyakinan bahwa Terung dulu menjadi sebuah daerah penting. menurut cerita, Terung dulunya ada sebuah bengawan (sungai besar) disebelah utara desa. ini dibuktikan dengan banyak pasir dipermukaan tanah. juga terkadang ditemukan bekas perangkat kapal dibawah tanah atau sungai yang tersisa.
    hal ini begitu nyambung (sesuai) dengan cerita mbah Brata, dimana R. Wijaya dan pengawalnya sempat berenang di bengawan sampai ke Desa Bangsri ( sekitar 1 KM timur Terung).
    Namun kami juga bingung tentang silsilah R. Ayu Putri (pesarean Terung). apakah benar beliau anak dari Adipati Terung atau cuma kerabat dari Adipati Terung. hal ini sangat kami perlukan untuk menulis silsilah beliau. pasalnya, keluarga adipati Terung menurut cerita banyak yang diboyong ke Demak. atau Raden Ayu Putri meninggal sebelum Adipati Terung ke Demak. hal inilah yang masih perlu kami ketahui. misalnya saja makam Adipati Terung kini berada di Demak (Komplek para Raja Demak). sehubungan dengan semakin sulitnya mencari sumber sejarah, maka dengan hormat kepada Mbah Brata untuk menulis Edisi khusus tentang Adipati Terung dan Keturunannya. matursuwun Mbah. Salam juga kepada Kaji Sudi Roy

  3. Mbah Broto yang terhormat
    Saya punya cerita, yang kurang lebih berkaitan dengan penyerbuan tentara mongol ke kediri. Cerita saya ini hasil wawancara dengan tokoh asal Desa Kedung cangkring, Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo, namanya Mubin, 68 tahun. Mubin adalah keturunan mongl dan penduduk setempat. Menurutnya Mubin adalah keturunan Mongol. Cerita ini ia dapatkan dari Mbahnya, Ma’ani yang parasnya wajahnya adalah mongolia asli. menurut Mubin, Mbahnya adalah keturunan pasukan mongol yang nyerbu kediri sekitar tahun 1292 M. Cerita ini persis sama yang dalam refernsi buku sejarah berdiriya majapahit. Bahkan menurunya, Ma’ani yang hidup sekitar tahun 1800an awal ini juga sebagai juragan batik di desa Kedung Cangkring. bahkan, menurutnya batik di Kedung cangkring yang mebawa adalah orang-orag mongol tersebut. Bahkan, Batik Pekalongan yang terkenal itu juga dulu belajarnya di Kedung Cangkring. Namun, samapi hari ini saya belum juga menemukan siapa sebenarnya yang babad desa Kedung Cangkring. Banrng kali punya refernsi, mohon diberi jawaban.

    Misbachul Munir

  4. Selamat siang Bp. Suparto Brata. Saya senang sekali membaca tulisan Bapak. Kebetulan saat ini saya sedang mencoba menulis (baca: belajar) tentang ekspedisi Mongolia di Jawa pada 1293. saya mengutip beberapa bagian dari tulisan bapak. Sebelum dan sesudahnya kami mengucapkan terima kasih.

  5. Kepada Bp. Misbachul Munir. Tulisan Bp. menarik sekali. Ngomong2 bagaimana caranya kami bisa menemui Bp. Mubin yang masih keturunan Mongol itu? kalau boleh kami ingin sowan, berkenalan dan ngobrol2 seputar Mongol ketika di Jawa pada 1293. Terima kasih.

  6. Salam kenal kimas Brata,

    Sangat mengagumkan, sebuah penulisan sejarah yang sangat rinci.
    Mempejelas wacana serta memperluas wawasan, khususnya bagi Generasi Muda Penerus Bangsa.
    Semoga dapat menjadi panduan langkah2 kedepan dalam kiprahnya membangun Nuswantara.

    Saya sendiri dalam rangka Peringatan Hari Pahlawan, mengangkat Kertanegara sebagai “SANG PAHLAWAN BESAR”
    pada http://dbo911.wordpress.com/SANG_PAHLAWAN_BESAR

    Salam untuk kimas Brata dan para Generasi Muda NKRI
    JAYALAH NUSWANTARA SEBAGAI NEGARAKRTAGAMA…

  7. Saya senang dengan tulisan Bp. dan saya mohon ijin untuk menjadikan tulisan Bp ini sebagai referensi Novel Fiksi Sejarah yang saya tulis. Dan, saya mengucapkan terima kasih..

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*