PANJEBAR SEMANGAT SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN SASTERA JAWA

| |

MEDIA BERBAHASA DAERAH MENGHADAPI ERA GLOBAL

DISKUSI AHLI OLEH STAF KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

DI HOTEL JW MARRIOT SURABAYA 25-09-2010

Narasumber Diskusi Ahli: Moechtar (Pemred Panjebar Semangat),

Henry Subijakto (moderator), Suparto Brata dan Mbah Brintik.

PANJEBAR SEMANGAT

SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN SASTERA JAWA

Oleh: Suparto Brata

Ketika Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia mengumumkan bahwa bangsa Indonesia mulai sekarang bebas menekuni budayanya, boleh mengembangkan bahasa ibunya atau bahasa daerahnya masing-masing, warga negara Indonesia keturunan Tionghoa seperti bersorak sorai meluapkan kegembiraannya. Mereka secara terbuka mengembangkan budayanya dengan bebas, leang-leong yang zaman sebelumnya (zaman Orde Baru) diperam tidak boleh digelarkan, dipertontonkan secara besar-besaran oleh mereka dengan keterampilan yang ahli; bahasa Tionghoa bebas berkembang, di TV swasta nasional muncul sebagai pengantar warta berita, tulisan Tionghoa muncul di suratkabar nasional berbahasa Indonesia dalam rubrik-rubrik tetap dan khusus; etnis Tionghoa seperti bersukaria menepuk dada, “Kami bangsa Indonesia keturunan Tionghoa, dengan begini bisa hidup dengan makmur, bisa kaya, bisa leluasa mendapatkan kehidupan dengan menggunakan bahasa ibu kami, bahasa Mandarin!” Sementara bangsa Indonesia etnis Jawa, dengan kebebasan yang diumumkan Presiden Republik Indonesia berkeluh kesah, “Kami ahli berbahasa Jawa, tapi keahlian kami untuk apa? Bahasa Jawa tidak bisa digunakan untuk mencari kehidupan yang makmur. Tidak ada perusahaan besar yang pasang iklan: dibutuhkan ahli berbahasa Jawa dengan gaji besar. Bahasa Jawa tidak muncul di TV swasta nasional sebagai warta berita, hanya dikutip sebagai olok-olok lelucon. Tulisan Jawa Hanacaraka tidak berkembang seperti tulisan Tionghoa di mana-mana”. Diberi kebebasan mengembangkan budaya dan bahasa Jawa, orang Jawa mengeluh.

Tanggal 16 Maret 2006 sekitar jam 2 siang, saya menerima tamu di rumah saya Rungkut Asri Surabaya, Field Director Library of Congress Office, Southeast Asia, Embassy of The United States of America, William P. Tuchrello. Sehabis menghadiri tugas diplomatik di Surabaya, dia beserta isterinya yang keduanya masih berpakaian diplomatik, tamu tadi saya silakan masuk ke rumah. Sambil memberikan kartu namanya, Tuan tadi menjabat tangan saya, langsung memberondong percakapan dalam bahasa Indonesia yang jelas, “Bahasa Jawa hari ini dituturkan oleh 80 juta orang, tapi kok tidak ada buku bahasa Jawa di masyarakat. Saya mencari di mana-mana tidak menemukan. Apa Bapak bisa menerangkan?“. Tuan Tuchrello lalu menceritakan pengamatannya, bahwa bangsa-bangsa Asia Tenggara (Thailand, Burma, Kamboja, Malaysia) sekarang ini masih mengukuhi budaya asal-usulnya, dan mereka menganggap bahwa orang Jawalah yang paling masih kokoh menekuni budaya aselinya. Maka ada pergerakan di universitasnya untuk mengetahui kebudayaan Jawa tadi. Dan Tuan Tuchrello juga lalu ingin mengetahui bagaimanakah kebudayaan Jawa itu, yang paling tepat tentunya lewat bahasa Jawa. Akar dasar atau pusat ciri budaya suatu bangsa yaitu pada bahasanya. Lebih tepat lagi kalau dari bahasa (Jawa) itu dicermati penelitiannya dari bahasa tulisnya. Tetapi dia sudah mencari buku bahasa Jawa selama berbulan-bulan baik di Jakarta sebagai kota Ibukota, maupun di Solo dan Jogja sebagai pusat Ibu budaya bangsa Jawa, tidak menemukan buku bahasa (sastera) Jawa. Tuan Tuchrello menyempatkan singgah ke rumah saya ingin mengetahui risalahnya kepada saya. Saya dipilih untuk menerangkan karena menurut risetnya saya adalah orang yang bergelut dalam buku dan bahasa Jawa.

Dari dua cerita tersebut saja sudah bisa diamati bagaimana tanggapan orang Jawa terhadap bahasanya dan orang manca mengharapkan perihal bahasa Jawa. Orang manca mengharap dengan bahasa tulis (sasteranya) ciri-ciri budaya Jawa bisa ditilik.

Bahasa Jawa tulis (buku) dicari-cari, Tuan Tuchrello tidak menemukan. Apa memang tidak ada bahasa Jawa tulis? Apa tidak ada sastera Jawa yang bisa dianggap menyemarakkan aura ciri-ciri budaya Jawa? Diberondong pertanyaan begitu, jawab saya: ADA. Sebab sepanjang hidup saya hampir setengah abad belakangan ini, saya selalu menulis dalam bahasa Jawa, baik buku maupun pada media masa bahasa Jawa. Antara lain (yang tidak pernah jeda) di majalah Panjebar Semangat. Awal penulisan saya bahasa tulis (sastera) Jawa di Panjebar Semangat 1959, setengah abad yang lalu, sejak itu sampai sekarang pun saya tidak pernah lowong menulis di Panjebar Semangat. Menulis dengan tekun dan senang hati, tidak berkeluh kesah. Bahwa Tuan Tuchrello tidak menemukan buku (sastera) Jawa, memang tidak gampang menemukannya. Sebab para penerbit buku profesional komersial, tidak mau menerbitkan buku bahasa Jawa. Takut rugi. Orang Jawa tidak membaca buku bahasa Jawa, bahkan dari peristiwa pengumuman Presiden Republik Indonesia di atas, orang Jawa sendiri sudah tidak mau lagi berbahasa Jawa (kalau jadi ahlinya bahasa Jawa berkeluh-kesah), menganggap bahasa Jawa itu kuna, tidak ilmiah, ditinggalkan saja. Orang Jawa yang begitu menolak takdir. Dilahirkan sebagai orang Jawa, adalah takdir, kehendak Allah. Makanya orang itu tidak dilahirkan sebagai orang Amerika atau Israel. Tapi menampik berbahasa Jawa karena bahasa Jawa – katanya — tidak bisa digunakan untuk hidup modern. Dalam hati orang-orang seperti itu tentulah mengumpati Allah, kecewa kok dilahirkan sebagai orang Jawa. Tingkah perbuatannya cenderung (ingin) menghilangkan ciri-cirinya budaya Jawa dari pribadinya. Yang paling disemangati adalah tidak menggunakan bahasa Jawa, meskipun tidak bisa menghindar bahwa orang-orang itu tetap mencari sandang pangan dan kehidupan lainnya (kawin, beranak-pinak) tetap di Tanah Jawa sekalipun.

Majalah Panjebar Semangat didirikan oleh Dokter Soetomo tahun 1933. Dokter Soetomo diakui sebagai pahlawan Kebangkitan Bangsa karena ikut memprakarsai mendirikan pergerakan Boedi Oetomo Mei 1908, membentuk Partai Parindra, menerbitkan suratkabar Soeara Oemoem, mendirikan Bank Nasional Indonesia, membangun kompleks Gedung Nasional sebagai pusat kegiatan politiknya, dan masih juga menolong menyembuhkan orang sebagai dokter. Namun Dokter Soetomo juga menerbitkan majalah Panjebar Semangat berbahasa Jawa, dibantu dengan jiwa-raga oleh Imam Supardi. Kreteria penerbitan majalah bahasa Jawa Panjebar Semangat waktu itu antara lain (yang terpenting) adalah: (1) Ditulis dengan huruf ABC (2) Bahasanya gancaran (tidak menggunakan guru lagu, guru wilangan, guru gatra) (3) Bahasa narasinya ragam ngoko.

Waktu majalah Panjebar Semangat didirikan (1933) saya baru berumur belum cukup dua tahun. Selama masa bocahku bersekolah di Sekolah Angka Loro, sejak masuk sekolah zaman Belanda sampai zaman Jepang (umur 7-13 tahun, 1938-1944) saya tidak bisa bicara bahasa lain kecuali bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan masyarakat sekitarku baik di sekolah maupun di luar sekolah, kaya dan sempurna untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran. Masyarakat sekelilingku berbahasa Jawa krama dan ngoko, menembang, menonton dan bertutur bahasa Jawa kuna (menirukan tuturan pentas wayang purwa) dan “modern” (kontektual zaman). Tidak ada hambatan atau kesulitan. Sedang buku-buku bahasa Jawa yang beredar di masyarakat maupun di perpustakaan sekolah banyak ditulis dalam huruf Hanacaraka. Huruf Hanacaraka masih sangat dominan untuk membuat surat maupun dicetak jadi buku. Meskipun begitu Dr. Soetomo sebagai pemimpin bangsa bersama dan dibantu dengan sungguh hati oleh Imam Supardi sebagai pengelola khusus menerbitkan majalah bahasa Jawa Panjebar Semangat dengan kreteria: (1) Ditulis dengan huruf ABC (2) Bahasanya gancaran (tidak menggunakan guru lagu, guru wilangan, guru gatra) (3) bahasa narasinya ragam ngoko. Dengan kreteria seperti itu, Dr. Soetomo sudah banyak menghilangkan beberapa kreteria bahasa dan sastera Jawa yang (sedang) populer zaman itu demi menyederhanakan masalah. Dengan penyederhanaan begitu diperkirakan majalah Panjebar Semangat akan bisa hidup makmur, banyak pelenggan dan pembacanya, sesuai dengan nama majalah bisa menyebarkan semangat kebangsaan (Jawa), panjang umurnya dan modern, yang berarti juga mempertahankan dan mengembangkan bahasa Jawa secara khusus dalam bidang pers dan sastera. Berkembangnya suatu bahasa dalam bidang pers dan sastera sejak dahulu hingga hari ini adalah merupakan ciri-ciri keluhuran bahasa bangsa-bangsa di dunia. Bangsa yang luhur mempunyai ciri bahasa sasteranya (bahasa tulisnya) berkembang indah. Dengan cara “menyederhanakan sastera Jawa lama” dalam penerbitan majalah Panjebar Semangat seolah-olah Dr. Soetomo sudah punya wawasan bahwa seperti itulah kemudian hari pers dan sastera Jawa masa depan, sekali gus sebagai bahasa tulis yang modern. Dan ternyata dalam perjalanan hidupnya Panjebar Semangat berumur panjang. Andaikata tidak disederhanakan (tetap menggunakan huruf Hanacaraka, susunan kalimatnya harus mengeterapkan guru lagu, guru gatra, guru wilangan sebagaimana sastera Jawa adiluhung berkembang tahun 1933, dan bahasanya ragam krama), maka mungkin sekali umur Panjebar Semangat tidak sampai hari ini.

Pada sejarah umurnya yang panjang tiap terbit Panjebar Semangat telah memuat berita dan cerita. Dalam hal cerita, dimuat jenis-jenis sastera yaitu geguritan, cerita pendek dan cerita bersambung. Dan terbitnya cerita tertulis itulah yang disebut sastera. Dalam sejarah penerbitan Panjebar Semangat sastera itulah yang paling memukau pembacanya, hingga selama terbitnya yang berumur panjang tadi Panjebar Semangat tidak pernah sakalipun meninggalkan memuat gurit, cerita pendek dan cerita sambung. Kalau media cetak lain (misalnya koran bahasa Indonesia) bisa terbit dengan hanya memuat berita saja (pers), Panjebar Semangat tidak mungkin berumur panjang kalau meniru penerbitan pers seperti itu. Dan dengan dimuatnya seni sastera (gurit, cerita pendek dan panjang) Panjebar Semangat telah melahirkan sasterawan bahasa Jawa seperti Imam Supardi, Srihadijaja, Soenarno Sisworahardjo, Poerwadhie Atmodihardjo, Soebagijo Ilham Notodidjojo, Sudarmo KD, Any Asmara, Widi Widayat, Satim Kadarjono, Esmiet, Tamsir AS, St. Iesmaniasita, Suryadi WS, Suparto Brata, dan lain-lain, yang selalu rajin menulis karya sasteranya di majalah Panjebar Semangat. Mereka itu para pengarang sastera Jawa tersohor pada zamannya. Namun tanpa ada terbitnya Panjebar Semangat, mereka akan berkaryasastera di mana? Tanpa Panjebar Semangat, mereka bukan sasterawan bahasa Jawa. Memang betul sejalan dengan terbitnya Panjebar Semangat juga ada majalah yang terbit punya pola kreteria seperti Panjebar Semangat (dicetak dengan huruf ABC, bahasa gancaran, narasi ngoko), tapi mereka itu umurnya tidak sepanjang Panjebar Semangat. Ada yang lahir bersamaan zaman (misalnya Dagblad Expres), ada yang lahirnya setelah Panjebar Semangat berumur panjang, seolah hanya meniru pola kreteria Panjebar Semangat saja. Jadi tetap majalah Panjebar Semangat adalah pelopor merintis pers dan sastera Jawa sepanjang usianya sejak lahir hingga masa kini, alias pers dan sastera Jawa “modern”.

Sampai saat ini yang disebut sebagai zaman informasi global, Alhamdulillah majalah Panjebar Semangat masih terbit tetap dengan pola kreteria bertahan sebagaimana sejak dulunya. Yaitu memuat berita dan cerita, atau menjadi media pers dan sastera. Bahasanya tetap bahasa Jawa, kreterianya tetap, penyelenggaranya tetap (independent), sehingga merupakan penerbitan pers tertua di Indonesia. Namun, karena sifatnya yang bertahan itu maka juga mengalami penurunan pelenggannya (dengan sendirinya juga tirasnya) dan kepopulerannya, seolah-olah ketinggalan zaman. Orang Jawa generasi muda yang mengikuti gempuran gelombang zaman global dan tidak sempat mengamati dan menikmati penerbitan majalah Panjebar Semangat, menganggap bahasa dan sastera Jawa seperti yang dimuat di Panjebar Semangat kuna, dan tidak revelan mengikuti zamannya. Terjadilah seperti yang dikeluhkan orang Jawa setelah Gus Dur mengumumkan bangsa Indonesia bebas berbudaya. Padahal sebenarnya bukan soal bahasanya, bukan soal Panjebar Semangatnya, melainkan soal mereka tidak terlatih mengikuti perkembangan bahasa Jawa dan Panjebar Semangat. Karena tidak mengikuti, maka tidak menikmati, dan mengatakan tidak bisa menggunakan atau kuna. Sama dengan cucuku, menganggap menggunakan kendaraan mobil itu kuna, menjengkelkan. Karena dia terbiasa pergi dari kota ke kota menggunakan pesawat terbang. Apakah mobil itu kendaraan kuna bagi setiap orang? Persoalan seperti anggapan cucu saya bahwa mobil itu kendaraan kuna itulah apa yang terjadi pada Panjebar Semangat seperti sekarang. Dianggap kuna, tidak banyak yang mempergunakan sebagai kiat kehidupan masa kini alias modern. Penggemar dan pelengganan terus susut, generasi muda tidak menggunakannya lagi. Kalau dibiarkan dikelola tetap seperti itu, tentu saja akhirnya Panjebar Semangat akan punah juga. (Dengan murahnya tarif pesawat terbang, kendaraan bus sudah tidak mendapatkan penumpang lagi).

Salah satu sebab terbesar dari hilangnya kepopulerannya adalah karena orang Jawa menolak takdirnya seperti yang diuraikan pada awal makalah ini. Lalu, apa perlu terbitnya Panjebar Semangat dipertahankan bahkan dikembangkan, atau dibiarkan seperti sekarang ini, mati perlahan-lahan?

Saya yang sekarang disebut-sebut sebagai Begawan Sastera Jawa yang setidaknya juga dikenal menjadi salah seorang dari 5000 orang terkenal di dunia tahun 1998 (Five Thousand Personalities of the World) karena sampai detik ini masih bergembira mengarang cerita bahasa Jawa, bergabung dengan majalah Panjebar Semangat tahun 1959. Mengarang cerita sambung bahasa Jawa pertama kalinya untuk ikut sayembara menulis di Panjebar Semangat, langsung mendapat juara nomer satu (cerita sambung Kaum Republik). Dan sejak itu saya menjadi kecanduan menulis cerita (sastera) Jawa, terutama dimuat di Panjebar Semangat, karena waktu itu Panjebar Semangat mempunyai pelenggan yang amat besar sebagai media cetak di Indonesia. Panjebar Semangat mempunyai pelenggan 70-80 ribu, tersebar sampai pelosok tanahair, sementara media cetak bahasa Indonesia paling banter tirasnya hanya 20.000 dan beredar di kota-kota besar saja. Dalam menulis cerita di Panjebar Semangat, meskipun saya juga menguasai bahasa Jawa tembang/gancaran, ragam krama/ngoko, baca tulis Hanacaraka/ABC, namun saya hanya mengikuti apa yang ditetapkan oleh Panjebar Semangat 1933/Dr.Soetomo (yaitu ditulis dengan huruf ABC, tanpa guru lagu guru wilangan guru gatra, narasinya ragam ngoko, yang kemudian kami mupakati sebagai penulisan sastera Jawa modern – konvensi Sasanamulya 1979) cara penulisan tadi mengantarkan saya menjadi pribadi seperti sekarang. Mengarang dengan bahasa Jawa tidak merasa kuna. Buku-buku saya yang dulu merupakan cerita sambung dimuat di Panjebar Semangat, diterbitkan tahun 2009 terjual laris. Dan selanjutnya sepanjang kehidupan saya sebagai pengarang sastera Jawa saya memperjuangkan sastera Jawa tidak saja menjadi sastera yang dimuat di majalah, tetapi juga sastera Jawa menjadi sastera yang diterbitkan jadi buku. Itu karena sejak semula saya mengenal sastera (Jawa, Indonesia, Dunia) adalah ditulis pada buku. Sastera adalah buku. Sastera buku dibaca oleh orang sedunia. Maka saya pun berusaha mengarang sastera Jawa berwujud buku, sebagai pemenuhan syarat bahwa sastera Jawa juga anggota sastera dunia. Saya maklum akan kebingungan Tuan Tuchrello geragapan bertamu ke rumah saya menanyakan keberadaan buku sastera Jawa, karena sangat minimnya sastera Jawa diterbitkan menjadi buku. Penerbit buku profesional komersial tidak mau menerbitkan buku sastera Jawa karena sulit laku. Jarangnya buku sastera Jawa, gejalanya lagi-lagi, karena orang Jawa menolak takdir. Malu berbahasa Jawa karena berbahasa Jawa dianggap kuna, tidak bisa digunakan sebagai kiat hidup.

Dengan alasan yang sama, maka apakah majalah semacam Penjebar Semangat (bahasa Jawa) juga akan dibiarkan hilang seperti buku sastera Jawa?

Saya tetap bersemangat mengarang sastera Jawa bukan saja karena saya hanya bisa mengarang dalam bahasa Jawa (hal itu memang keahlian saya), melainkan serta merta juga mengingat tentang kesemarakan budaya dunia. Ingin memahayu-hayune bawana. Ingin menikmati indahnya keaneka-ragaman dunia, bagi saya khususnya indahnya keaneka-ragaman sosial-budaya di mana budaya-sastera Jawa ikut berperan aktif menyemarakkannya. Selain menikmati, saya ikut urun mengembangkan kaidah keindahan dunia tadi. Saya sangat bersyukur dan gembira mampu menjalankan peran saya mengembangkan sastera Jawa, kegiatan yang sesuai benar dengan anugerah Allah yang saya terima, yaitu kemampuan pribadi saya berkarya sastera Jawa. Dan saya yakin benar bahwa anugerah Allah yang saya terima sebagai pribadi yang mampu berkarya sastera Jawa itu TIDAK JATUH DARI LANGIT SECARA TIBA-TIBA, melainkan melalui pelatihan penulisan yang bertahun-tahun saya upayakan, saya biasakan, saya budayakan tanpa jeda sepanjang perjalanan umur. Allah selalu Memberi apa yang kita inginkan dan mampu mengerjakan serta kita upaya-kerjakan dengan sungguh-sungguh. Saya ingin sastera Jawa yang mengandung segala ciri-ciri budaya bangsa ikut mewarnai aneka ragam keindahan sastera dunia. Sastera Jawa juga anggota sastera dunia. Harus ada wujudnya. Wujud keanggotaannya, yaitu dibaca sebagai sastera dunia.

Di Indonesia sebanyak 726 bahasa daerah ditengarai terancam punah akibat globalisasi dan perkembangan teknologi yang cenderung makin canggih dan meluas (Drs. Bagong Suyanto, Msi, 2008). Di sisi lain, yaitu mereka yang prihatin tapi tetap berusaha menanggulangi lunturnya bahasa Jawa, sangat merasa sayang dengan perkembangan tadi. Mereka ingin bahasa Jawa itu dilestarikan, dikembangkan, digunakan untuk alat komunikasi antarkeluarga/etnis/bangsa/dunia. Dengan berbagai alasan foundamental sosial budaya, mereka berjuang mempertahankan dan menumbuhkembangkan bahasa Jawa. Berbagai cara ditempuh, terutama memberi pemahaman pentingnya bahasa Jawa bagi identitas dan kiat kehidupan berbangsa. Fungsi dan kebesaran bahasa Jawa masa lalu, yang kini masih berlaku, dan harapan masa depan digali, diwacanakan perkembangannya. Dipacu semangat penggiatannya menggunakan folklor, simbul atau semboyan. Misalnya: Bahasa menunjukkan bangsa, dan bahasa Jawa yang hukumnya penuh unggah-ungguh akan membuat penuturnya berlaku sopan-santun. Sangat baik untuk mengendalikan tingkah-laku putra bangsa yang akhir-akhir ini sangat beringas. Bahasa Jawa tidak kuna. Bahasa daerah adalah identitas kebesaran budaya bangsa, sehingga UNESCO pun menciptakan peringatan Hari Bahasa Ibu (22 Februari), agar aneka budaya dunia tidak lenyap jadi satu ragam saja (global satu budaya).

Serta merta untuk itu saya tetap mengarang sastera Jawa. Dan majalah bahasa Jawa (Panjebar Semangat, Jaya Baya, Djaka Lodang, dan lain-lain), saat ini dan yang akan datang, tetap menjadi ajang penulisan sastera Jawa, sekalipun mungkin tidak memberikan keuntungan finansial. Oleh karena itu keberadaannya masih sangat diperlukan untuk penciptaan karya sastera, dan mempertahankan ciri-ciri identitas bangsa. Dengan adanya ajang penciptaan sastera Jawa, maka sastera Jawa akan berkembang dan berkembangnya menuju kualitas yang lebih baik. Sastera menurut para ahli, misalnya Horace: dulce et utile (menyenangkan dan berguna). Gianbattista Vico: Pulchrum continetur in bono. Bonum enum quod placet. Pulchrum authem estquod visum placet (yang indah biasanya bersatu dengan kebaikan).

Salain terancam punah karena tidak dituturkan, bahasa Jawa tulis meskipun sudah disederhanakan seperti niat-niat Dr.Soetomo menerbitkan majalah Panjebar Semangat, juga akan tidak dibaca. Karena menurut penelitian Dr. Taufik Ismail 1996, putera bangsa lulusan SMA membaca 0 buku. Sama sekali tidak punya budaya membaca buku.

Menurut pengamatan saya sebagai orang yang selalu bergelut dengan buku (tiada hari tanpa menulis buku, tiada hari tanpa membaca buku) kiat manusia untuk memenuhi kepuasan hidupnya itu bisa digolongkan menjadi tiga. (1) Mereka yang memenuhi kepuasan hidupnya hanya menggunakan kodratnya, yaitu mencapai kepuasan hidupannya hanya dengan kekuatan inderanya (panca indera, antara lain melihat dan mendengar), mereka itu hidup seperti halnya binatang. Mau makan, mau kawin, mau memuaskan hidupnya yang lain hanya menggunakan kekuatan kodratnya. Contohnya para profesional pelacur, pengemis, penyanyi kalau caranya menyanyi tanpa alat (musik). (2) Mereka yang memenuhi kepuasan hidupnya selain dengan kekuatan kodratnya juga menggunakan alat. Misalnya mata pencahariannya jadi sopir maka dia menggunakan mobil. Mata pencahariannya petani, dengan panca inderanya melihat cara mengerjakan sawah orang lain bisa meniru menyuburkan sawahnya dengan alat mencangkul, seperti halnya orang-orang primitif zaman dulu. Mereka saya namai Manusia Kodrati. (3). Mereka yang memenuhi kepuasan hidupnya selain mengandalkan panca inderanya dan menggunakan alat-alat, juga punya kiat budaya membaca buku dan menulis buku. Misalnya mata pencahariannya sebagai sasterawan, dosen, dokter, insinyir, hakim. Mereka tidak mungkin berprofesi menjadi seperti itu kalau tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku. Karena itu saya sebut Manusia Sasterawi.

Untuk memuaskan hidupnya tiap makhluk rumusnya:

Binatang (insting-kodrat).

Manusia primitif atau kodrati (insting-kodrat-indrawi +  menggunakan alat).

Manusia modern atau sasterawi (insting-indrawi + menggunakan alat +

membaca buku dan menulis buku).

Nah, kalau rumus itu kita terapkan pada riset Dr. Taufik Ismail 1996, maka putera bangsa Indonesia selama ini termasuk golongan orang primitif yang hidup di zaman modern. Mereka memuaskan hidupnya tidak dengan membaca buku (sastera), hidupnya sama dengan orang-orang primitif zaman dulu. Karena tidak membaca sastera maka keberadaan majalah Panjebar Semangat pun tidak terjamah oleh mereka. Harap maklum.

Untuk menangkal keprimitifan manusia Indonesia seperti hasil riset Dr. Taufik Ismail, yaitu manusia (putera bangsa) yang bodoh dan miskin (yang tidak bisa berprofesi modern seperti jadi dokter, insinyir, hakim), sebaiknya putera bangsa Indonesia harus dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Membaca buku dan menulis buku bukan kodrat (bukan seperti melihat dan mendengar). Membudayakan membaca buku dan menulis buku tidak bisa hanya dibimbingkan-belajar selama setahun seperti halnya les matematika. Menurut pengalaman saya yang sampai hari tua ini giat membaca buku dan menulis buku, cara membudayakan putera bangsa membaca buku dan menulis buku harus dididik atau dibelajarkan selama 12 tahun awal usia sekolah. Berarti sejak kelas 1 SD sampai kelas 12 SMA. Dengan pendidikan seperti itu, maka riset Dr. Taufik Ismail bahwa sampai lulus SMA putera bangsa tidak membaca buku sama sekali, akan tertangkal. Dengan lulus SMA putera bangsa punya budaya membaca buku dan menulis buku (seperti yang saya alami sekolahku zaman Belanda, Jepang dan Orde Lama, 1938-1950) maka putera bangsa tidak lagi jadi manusia kodrati (primitif), berubah menjadi manusia sasterawi. Dan kalau dalam pendidikan membaca buku di sekolah itu sastera Jawa juga dijadikan mata pelajaran (utamanya untuk Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI Jogjakarta yang penutur bahasa Jawanya masih berjumlah 80 juta orang lebih), maka generasi muda tentu juga akan rajin membaca Panjebar Semangat dan buku-buku sastera Jawa. Problem orang Jawa berkeluh kesah bertutur bahasa Jawa tidak berguna, Insyaallah akan terhapus. Untuk mempertahankan, melestarikan, mengembangkan bahasa dan sastera Jawa dengan niat-niat menjungjung tinggi budaya Indonesia diperlukan patriot budaya bangsa. Maka harus ditempuh pembudayaan seperti pengalaman saya itu (sejak 12 tahun umur bersekolah diajarkan membaca buku dan menulis buku tiap hari tanpa jeda. Di mana? Di sekolah. Tidak di bimbingan belajar selama tiga tahun atau di tempat lain).

Begitulah pengamatan saya tentang bahasa Jawa, sastera Jawa, selama saya ikut giat menyumbangkan karya sastera bahasa Jawa. Majalah Panjebar Semangat, tetap menjadi acuan saya untuk melatih kemampuan, kecerdasan, kreativitas dan innovasi dalam berkarya. Mudah-mudahan Panjebar Semangat tetap berfungsi begitu untuk masa-masa selanjutnya. Para patriot budaya bangsa Indonesia harus juga ikut giat mempertahankan bahkan ikut campur mengembangkan Panjebar Semangat itu, apa pun kedudukannya baik sebagai rakyat jelata, maupun pejabat negara.

Itulah yang ada di benak saya. Itulah harapan saya. Semoga diapresiasi dan terkabul menjadi kenyataan. Amin.

Rungkut Asri Surabaya,  12-14 September 2010.

Posted by admin on Friday, October 15th, 2010. Filed under Seminar. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

1 Comment for “PANJEBAR SEMANGAT SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN SASTERA JAWA”

  1. Bahasa Ibu Sebagai Kunci Pengembangan Mental Tools

    Dalam artikelnya, Gunawan, A.W (2007) menyebutkan:
    “…..Tool atau piranti adalah sesuatu yang membantu kita dalam memecahkan suatu masalah, sebuah instrumen yang membantu kita melakukan suatu tindakan. Selain mengembangkan piranti untuk membantu dan memudahkan kerja, kita juga mencipta dan mengembangkan mental tools/piranti mental, atau piranti pikir, untuk mengembangkan kemampuan mental kita. Mental tools ini membantu kita untuk bisa memperhatikan, mengingat, dan berpikir lebih baik.

    Ide mengenai piranti pikir atau mental tools dikembangkan oleh Lev Vygotsky, psikolog Rusia (1896-1934), yang menjelaskan bagaimana anak mengembangkan kemampuan mental yang semakin kompleks.

    Para penerus Vygotsky percaya bahwa mental tools memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangkan kemampuan berpikir. Seiring dengan proses tumbuh kembangnya, anak secara aktif menggunakan piranti yang telah mereka ciptakan dan kembangkan serta mengembangkan piranti baru sesuai kebutuhan mereka.

    Kekurangan atau ketiadaan mental tools membawa akibat jangka panjang negatif terhadap pembelajaran karena mental tools mempengaruhi tingkat berpikir abstrak yang dapat dicapai seorang anak.

    Mental tools bermanfaat untuk mempelajari dan memahami konsep abstrak di bidang sains dan matemaika. Tanpa mental tools anak dapat menghafal dan mengeluarkan fakta-fakta saintifik dari memori mereka namun tidak bisa menerapkan pengetahuan ini untuk mencari solusi dari pertanyaan/masalah yang mereka hadapi, yang sedikit berbeda dengan contoh yang telah mereka pelajari sebelumnya.

    Kemampuan berpikir abstrak dibutuhkan tidak hanya di sekolah namun juga dalam mengambil berbagai keputusan dalam banyak aspek kehidupan saat dewasa kelak, misalnya bagaimana membeli mobil, memilih investasi keuangan, berpikir level tinggi (analisa, sintesa,dan evaluasi), termasuk juga membesarkan dan mendidik anak yang sudah tentu membutuhkan kematangan dalam kecakapan berpikir.

    Bahasa adalah mekanisme untuk berpikir, suatu mental tool. Bahasa membuat berpikir menjadi lebih abstrak, fleksibel, dan independen. Bahasa memungkinkan anak untuk membayangkan, memanipulasi, mencipta ide-ide baru, dan berbagi ide dengan orang lain. Dengan demikian bahasa mempunyai dua fungsi utama; bahasa penting untuk mengembangkan kemampuan pikir dan bahasa juga merupakan bagian dari proses pikir.

    Bahasa dapat digunakan untuk mencipta berbagai strategi untuk menguasai banyak fungsi mental seperti atensi, memori, perasaan, dan pemecahan masalah.

    Salah satu kekuatan pendekatan Vygotsky adalah ia tidak hanya berbicara pada tataran teori namun juga praktik. Apa yang ia formulasikan telah dicobakan dalam mengajar mental tools pada anak-anak. Sebagai pembanding terhadap pendekatan Vygotsky pembaca bisa mempelajari pemikiran Piaget (constructivism), Watson dan Skinner (behaviorism), Freud (psychoanalysis), Koffka (Gestalt psychology), dan Montessori.

    Terdapat empat prinsip yang mendasari pendekatan Vygotsky yaitu:
    - Anak mengkonstruk pengetahuan
    - Pengembangan diri anak tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial
    - Pembelajaran dapat membantu pengembangan diri
    - Bahasa memainkan peran vital dalam pengembangan mental

    Bila kita cermati maka keempat prinsip di atas semua menggunakan bahasa sebagai medianya. Tidak mungkin tanpa bahasa. Oleh sebab itu penguasaan bahasa, khususnya bahasa ibu, dengan baik mutlak dibutuhkan agar anak mampu berkembang secara optimal…..”

    Berdasarkan uraian artikel diatas, maka bahasa ibu masyarakat Indonesia adalah berbeda2 sesuai dengan daerahnya masing2. Jika kita hidup di pulau jawa ya berarti “basa Jawa” yg menjadi bahasa Ibu, Jika orang luar Jawa misalnya orang bugis, ya “bahasa Bugis” yg menjadi bahasa Ibu. Sementara Bahasa Resmi Negara adalah Bahasa Indonesia atau bisa menggunakan beberapa bahasa besar sebagai bahasa resmi menurut daerahnya masng2, seperti yang terjadi di negara Papua New Guinea yang bahasa resminya menurut wilayahnya, serta Filiphina yang bahasa resminya ada 3. Malaysia Juga menerapkan hal yang sama yaitu menggunakan beberapa bahasa sebagai pengantar dalam pendidikannya. Sementara Bangsa Indonesia yang mempunyai banyak bahasa seperti negara papua new guinea tidak pernah menggunakan bahasa lokal (bahasa Ibu) sebagai bahasa dalam pengantar pendidikan anak2 di sekolah apalagi sebagai bahasa resmi di daerahnya masing2. Pertanyaannya Bagaimana dengan realisasi konsep hubungan pikiran dan bahasa yang disampaikan oleh Gunawan A.W (2007) serta telah dikukuhkan dengan teori Bahasa dan Pikiran oleh Lev Vigotsky, yang dari keduanya menyebutkan sangat pentingnya bahasa Ibu dalam alat serta proses berfikir manusia Indonesia? Akankah kita akan membiarkan diri tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lain yang melesat jauh karena mereka menggunaka bahasa Ibu mereka dan kita tidak menggunakan bahasa Ibu kita da terus tertinggal? Akankah kerusakan moral di negeri Ini dibiarkan terus beitu saja, sementara nilai-nilai luhur budaya yang terkandung dalam bahasa Ibu masing2 daerah luntur dan terus luntur seperti yang kita saksikan selama ini? akankah budaya adiluhur masing2 daerah akan hilang karena bersama dengan hilangnya kosakata bahasa Ibu masing2 daerah? apakah tidak mungkin bangsa Indonesia memberikan kesempatan bagi penggunaan bahasa Ibu masing2 daerah dalam pemerintahan resmi daerah, sehingga menurunkan angka korupsi? demikian juga dalam pendidika sehingga anak-anak kita bisa bersekolah dengan penuh riang gembira dan berperilaku santun sesuai budayanya masing-masing?
    Coba anda bayangkan di sekitar kita sehari2 memakai bahasa Ibu lokal, misalnya bahasa jawa, sementara di sekolah kita menggunakan bahasa Indonesia, nah kira2 berapa %kah pelajaran yang mampu anak-anak dan kita aplikasikan di kehidupan sehari-hari kalau sekembalinya kita di lingkungan kita kembali menggunakan bahasa lokal? seperti ada semacam jurang pemisah disana antara bahasa di pemerintahan dan pendidikan dengan bahasa aplikasi di lingkungan sehari-hari masyarakat Indonesia. Dan alasan Ilimiah seperti yang dituliskan oleh Gunawan alam artikel dan bukunya, serta Teori Ilmuwan Lev Vigotsky kesemuanya tentang “hubungan antara Bahasa dan Pikiran” yang saat ini bangsa Indonesia belum menyadarinya.
    Mari Kita Mulai melakukan sesuatu Untuk mengembalikan Bahasa Ibu, Agar bangsa Indonesia bisa menjadi Bangsa yang Gemah Ripah Loh Jinawi Ayem tentrem karta raharja.

    Demikian artikel yang ditulis oleh saudara Gunawan, A.W. Artikel selngkapnya bisa Anda akses dari daftar pustaka yag saya lampirka disini. Artikel Ini juga ditulis dalam buku karangan beliau yang insyaallah setelah ini saya postka juga di halaman ini. Semoga artikel ini bisa menjadi salah satu pemikiran kita semua, mengapa bangsa kita dari masa kemasa tidak kunjung2 gemah ripah loh jinawi (sejahtera adil dan makmur), malah banyak sekali penyimpangan2 perilaku mulai dari rakyatnya sampai perintahnya, mulai dari yang anak2 muda sampai yg tua, kita sering mendengar hal tersebut. salah satu contoh kecil misalnya orang2 tua kita berkata kalau anak2 sekarang sudah tidak begitu ngajeni sama orang tua, nah itu contoh di kehidupan sehari2, bagaimana di sisi bidang lain, bisa kita amati sendiri. Semoga artikel ini bisa menjadi bahan renungan kita semua dan sebagai langkah awal bagi pentingnya pengembangan bahasa Ibu bagi kita semuanya. dan akhirnya bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar adil, makmur, sejahtera aman sentosa, bangsa sing gemah ripah loh jinawi karta raharja saka sabang teka merauke.

    Daftar Acuan:

    Gunawan, A.W (2007). Bahasa Ibu Sebagai Kunci Pengembangan Mental Tools. (http://adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=40 ,diakses 14 Desember 2011).

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*