STRUKTUR NARATIF DALAM NOVEL LARA LAPANE KAUM REPUBLIK KARYA SUPARTO BRATA

| |

Mochammad Fikri
Tenaga Teknis Balai Bahasa Semarang

ABSTRACT

The narrative analysis of Lara Lapane Kaum Republik aims to expose the elements of literature, such as charakter, plot, and setting. All elements become a unity which supports each other to the narrative explanation of the novel. In the structure of this narrative, the most prominent element is the existence of events which interelates one another so that it is able to describe the plot of story.

Keywords: elements of literature, narrative explanation.


kaum-republik
1. Pengantar

Struktur di dalam suatu teks harus mempunyai elemen-elemen atau unsur-unsur yang mendukung keutuhan teks tersebut. Unsur-unsur seperti tokoh, alur cerita, dan latar merupakan beberapa unsur pembangun teks yang memegang peranan penting di dalam analitis struktur suatu teks. Unsur-unsur yang mendukung teks tersebut juga terdapat di dalam suatu naratif dan merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Unsur-unsur tersebut adalah tokoh, kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang tersusun secara berurutan dan saling berhubungan sehingga membentuk alur cerita dan latar.

Struktur naratif lebih menekankan pada suatu kejadian yang saling berhubungan. Kejadian-kejadian yang saling berhubungan tersebut merupakan unsur-unsur yang membentuk alur. Menurut Christianson (1988;30), kejadian-kejadian akan menjadi suatu alur apabila kejadian-kejadian tersebut tersusun dalam suatu urutan waktu tertentu. Susunan kejadian-kejadian tersebut membentuk tipe ketegangan naratif dalam sebuah alur cerita. Lebih lanjut, Kent (1986;61) mengatakan bahwa sistem teks memaparkan kepada kejadian yang mendahuluinya berdasarkan pada beberapa kemungkinan yang berurutan. Kemungkinan-kemungkinan tersebut menjadi besar seiring dengan sistem yang berkembang sampai pada kejadian akhir dan sistem tersebut ditentukan oleh kejadian-kejadian yang mendahuluinya. Dan urutan-urutan kejadian tersebut terlihat bahwa suatu naratif bergerak dari suatu misteri menuju suatu penyelesaian.

2. Latar Belakang Novel Lara Lapane Kaum Republik dan Pengarangnya
Novel Lara Lapane Kaum Republik diterbitkan oleh Jajasan Penerbit Djaja Baja Surabaya pada tahun 1966 setebal 70 halaman. Sebelum diterbitkan dalam bentuk novel, karya sastra itu pernah diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung di majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat pada tahun 1958 dengan judul Djiwa Republik dan juga pernah dibaca di RRI Jogjakarta pada tahun 1959. Novel tersebut pernah memenangkan sayembara sebagai juara pertama, yang diadakan oleh Panjebar Semangat pada tahun 1958 (Brata,1966;3; cf Ras, 1985; 1985; cf Hutomo, 1975;18). Namun, menurut Brata (1990;26), novel Kaum Republik memenangkan sayembara roman di majalah Panjebar Semangat pada tahun 1959. Menurut Suparto Brata (1990;31) novel Lara Lapane Kaum Republik tersebut berjudul Kaum Republik. Setelah memenangkan sayembara penulisan roman berbahasa Jawa di majalah Panjebar Semangat pada tahun 1959 oleh redaktur majalah tersebut judul novel ini, tanpa sepengetahuan pengarangnya, diubah menjadi Djiwa Republik ketika dimuat sebgai cerita bersambung dalam majalah tersebut (Brata,1990;31).

Novel Lara Lapane Kaum Republik merupakan bagian pertama dari roman trilogi yang berjudul Kelangan Satang. Trilogi Kelangan Satang karya Suparto Brata adalah Lara Lapane Kaum Republik, Kaduk Wani, dan Kena Pulut (Brata, 1966;2-3; cf Ras, 1985;25). Novel Lara Lapane Kaum Republik karya Suparto Brata mengungkapkan tentang seorang pejuang pada zaman kemerdekaan yang berjuang menengok ibunya di kota, demi mendapatkan cinta dari orang tuanya kembali.

Suparto Brata, pengarang novel Lara Lapane Kaum Republik adalah salah seorang pengarang sastra Jawa yang tidak terpengaruh arus pada masa keemasan roman picisan atau Panglipur Wuyung ‘pelipur lara’. Pada masa itu, para pengarang sastra Jawa cenderung menulis novel-novel saku murahan. Menurut Quinn (1992;175-176) maupun Ras, 1985;25), Suparto Brata dengan gayanya yang khusus dan dengan kepandaiannya mengolah elemen-elemen sastra ke dalam cerita, ternyata mampu membentuk ciri tersendiri di tengah beredarnya roman saku murahan. Dalam dunia kepengarangan, Suparto Brata selain memakai namanya sendiri juga sering memakai nama samaran Peni, Eling Jatmiko, dan M. Sholeh (Mardianto, 2003;55).

Suparto Brata lahir pada tanggal 16 Oktober 1932. Dia mulai mengarang pada tahun 1952. Karyanya berupa crita cekak ‘cerita pendek’, novel atau cerita bersambung, sandiwara, dan esai. Selain mengarang dalam bahasa Jawa, Suparto Brata juga mengarang dalam bahasa Indonesia. Karya-karya Suparto Brata dalam bahasa Indonesia banyak dimuat di majalah berbahasa Indonesia, seperti: Kisah, Gelanggang (Siasat), Mimbar Indonesia, Genta (Majalah Merdeka), Aneka, Hidangan, Gelora, Tanah Air, Kompas, Sinar Harapan, Republika, dan lain-lain. Suparto Brata mulai mengarang dalam bahasa Jawa pada tahun 1958, dan dimuat di majalah berbahasa Jawa, seperti: Jaya Baya, Panjebar Semangat, Mekar Sari, Djaka Lodang, dan lain sebagainya (Brata, 2000:315).

Beberapa karya novel atau cerbung berbahasa Jawa dari Suparto Brata, di antaranya: Kadurakan Ing Kidul Dringu, Kaduk Wani (seri Wiradi); Kena Pulut (seri Wiradi); Titising Sepata, Tanpa Tlatjak (seri detektip Handaka); Tretes Tintrim (seri detektip Handaka); Emprit Abuntut Bedhug (seri detektip Handaka); Jaring Kalamangga (seri detektip Handaka); Sala Lelimengan; Asmarani; Katresnan Kang Angker; Pethite Nyai Blorong; Nyawa 28; Sanja Sangu Trebela; Lintang Panjer Sore; Kamar Sandi; Garuda Putih (seri detektip Handaka); nglacak Ilange Sedulur Ipe; Ngingu Kutuk Ing Suwakan; dan November Abang (Hutomo, 1975;18; cfr Mardianto, 2003;55-56).

3. Tujuan Penelitian
Analisis novel Lara Lapane Kaum Republik ini menggunakan pendekatan intrinsik. Pendekatan tersebut hanya mengambil objek penelitian dari teks yang ada, terlepas dari masalah-masalah eksternal yang turut membangun teks tersebut. Walaupun novel Lara Lapane Kaum Republik merupakan bagian dari roman trilogi yang berjudul Kelangan Satang seperti Kaduk Wani dan Kena Pulut, tetapi analisis ini hanya ditujukan pada novel Lara Lapane Kaum Republik.

Tujuan penelitian ini dirumuskan menjadi dua hal pokok sebagai berikut ini.
1) Bagaimana perkembangan watak tokoh utama di dalam menjalani kehidupannya?
2) Bagaimana peran tokoh-tokoh bawahan dalam membantu perkembangan watak tokoh utama?
Tujuan analisis naratif tersebut diajukan sesuai dengan fungsi dan peran tokoh utama yang dibantu oleh tokoh bawahan dalam menggambarkan sebuah alur cerita.

4. Landasan Teori
Pengungkapan watak serta perkembangan tokoh utama di dalam penelitian novel Lara Lapane Kaum Republik ini tidak dapat dilepaskan dari teori-teori yang disusun sesuai dengan kerangka ilmiah. Landasan teori merupakan suatu bentuk kegiatan ilmiah, sedangkan penelitian sastra memerlukan landasan kerja berupa teori yang dipilih dan berfungsi sebagai pemberi arah dalam kegiatan penelitian (Soeratno, 1994;1-11). Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif, yaitu suatu pendekatan pada karya sastra yang pengarang atau yang biasa disebut faktor ekstrinsik tidak mempengaruhinya. Seperti apa yang disebutkan oleh Abrams bahwa pendekatan tersebut memberi perhatian pada suatu karya seni dalam keterbatasannya dari beberapa referensi faktor eksternal, dan menganalisisnya dengan satu kesatuan yang semata-mata hanya berasal dari bagian internal karya itu sendiri (Abrams, 1979;26).

Pendekatan objektif di dalam analisis ini digunakan untuk mendukung teori yang dipakai, sedangkan struktur naratif yang digunakan dalam penelitian ini memakai skema seperti yang dipaparkan oleh Jobling (1986) untuk meneliti kitab suci Yahudi. Skema naratif ini mengacu pada skema naratif yang dikemukakan oleh Vladimir Propp (1968) dalam penelitiannya tentang cerita rakyat di Slavia. Jobling mengemukakan 5 tahap situasi yang dialami oleh tokoh utama, yaitu sebagai berikut ini:
a. Initial Situation ‘Situasi Awal’
Tahap penggambaran situasi awal cerita seperti menggambarkan siapa tokoh
utama, keadaan hidupnya dan sifat-sifat awal tokoh utama tersebut.
b. Villainy ‘Munculnya Gangguan-Gangguan’.
Tahap penggambaran munculnya suatu permasalahan. Tahap tersebut penting
karena merupakan kunci untuk pengembangan masalah lebih lanjut tokoh utama.
Permasalahan yang muncul tersebut berupa “gangguan-gangguan” yang terjadi
terhadap tokoh utama yang diakibatkan oleh munculnya tokoh-tokoh bawahan.
c. Counteraction and Combat ‘Tindakan dan Cara memerangi Masalah’.
Tahap ini menunjukkan suatu keadaan yang semakin memuncak dan
mengakibatkan konflik-konflik yang penting antartokoh. Tokoh utama melakukan
tindakan atau antisipasi dan berusaha mengatasi masalah yang dihadapinya.
d. Marking The Hero ‘Menandai Munculnya Seorang Pahlawan’.
Tahap ini memunculkan seseorang yang mampu keluar sebagai “pahlawan”, dan
mampu memecahkan segala persoalan yang muncul melalui konflik-konflik yang
terjadi. Pemunculan tokoh utama sebagai pahlawan yang mampu mengatasi
permasalahan yang terjadi. Tokoh utama bertindak sebagai seorang yang mampu
mengatasi masalah dan juga mampu untuk menyuarakan kebenaran terhadap
sikap-sikap tokoh bawahan yang perlu dibenarkan.
e. The Hero’s Return Home ‘Sang Pahlawan Pulang dengan Kemenangan’.
Tahap ini adalah tahap terakhir yang menunjukkan keadaan sang ‘pahlawan’ atau
tokoh utama pada akhir cerita dengan membawa kemenangan dan menyelesaikan
permasalahan yang dihadapinya dan mampu mendapat serta meraih cita-cita dan
harapannya (Jobling, 1986;24-25).

5. Pembahasan
Novel Lara Lapane Kaum Republik ini dianalisis dengan menggunakan skema naratif yang dikemukakan oleh Jobling (1986) yang mengacu dari skema Propp. Pemaparan skema struktur naratif novel Lara Lapane Kaum Republik ini terdiri dari 9 episode yang termuat di dalam novel ini. Setiap tahap dalam struktur naratif ini mencakup beberapa episode cerita.

5.1 Initial Situation, ‘Situasi Awal’

Wiradi adalah seorang pejuang kemerdekaan yang sedang bergerilya bersama dengan adiknya, Wiranta, melawan penjajah Belanda di desa Bekonang yang terletak di sebelah timur Kota Solo. Dia mendengar kabar bahwa ibunya sedang sakit depresi di Kota Solo, yang baru dikuasai oleh Belanda. Wiradi tidak seperti penggambaran seorang pahlawan perang karena dia bukanlah seorang pahlawan perang kemerdekaan yang pintar dan pandai membaca situasi. Meskipun demikian, dia tetap bersikukuh dan bertekad menjenguk ibunya di kota padahal tentara Belanda sedang giat-giatnya selalu melakukan operasi penangkapan terhadap laki-laki muda yang terlihat sehat untuk ditahan.
(episode I, 5: 1-10, 6: 17-36).

Wiradi adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang sangat mencintai dan mengasihi orang tuanya terutama ibunya. Dia mempunyai dua adik kandung, satu laki-laki bernama Wiranta dan satu perempuan yang bernama Wirastuti. Pada waktu terjadi pemberontakan PKI di Madiun yaitu beberapa saat sebelum Belanda menguasai kota Solo, adik bungsunya yang bernama Wirastuti sedang membantu di Biro Perjuangan Putri. Adiknya tersebut menghilang dan tidak pulang kembali ke rumah orang tuanya. Kemudian, ketika Belanda menyerbu untuk menguasai kota Solo, keluarga Wiradi menjadi tercerai-berai.
(episode I, 5: 5-7, 7: 16-30).

5.2 Villainy, ‘Munculnya Gangguan-Gangguan’

Wiradi mencoba membujuk Wiranta agar mau menjenguk ibunya yang sedang sakit di kota. Menurut Wiradi, ibunya sakit karena memikirkan ketiga anaknya termasuk Wiradi yang tidak ketahuan rimbanya. Wiranta tidak menyetujuinya dengan alasan penjagaan pasukan Belanda yang begitu ketat di kota. Pada akhirnya Wiranta mau menuruti kehendak Wiradi setelah tempat mereka tinggal mendapat serangan dari pesawat-pesawat udara Belanda.
(episode I, 5: 11-35, 6: 1—24, 8: 36-37, 9: 1-23).

Penyusupan yang dilakukan Wiradi bersama teman-temannya kepergok tank patroli Belanda sehingga menyebabkan Wiradi dan teman-temannya menjadi tercerai-berai dalam kelompok-kelompok kecil. Wiranta tertembak kakinya sehingga dia tidak dapat melanjutkan perjalanan. Atas perintah Wiranta, Wiradi tetap melanjutkan perjalanan didampingi oleh Kusnarna dan Sukardiman.
(episode II, 15: 1-33; 16: 1-32).

Wiradi ditemani oleh Sukardiman masuk ke rumahnya, sedangkan Kusnarna berjaga-jaga di jalan untuk memberi tahu apabila ada patroli Belanda. Kemudian pintu dibuka oleh Pak Najadisastra dengan kepala yang dibalut perban putih. Pak Naja tinggal di rumah itu ketika rumah tersebut ditinggal mengungsi oleh orang tua Wiradi. Melihat pemunculan Pak Naja tersebut Sukardiman teman Wiradi lari tunggang-langgang karena ketakutan.
(episode II, 17: 1-5, 18: 22-37).

Kepulangan Wiradi ke rumah tersebut bukannya membuat ibunya menjadi senang, tetapi malah membencinya. Ibunya kecewa atas kedatangan Wiradi karena anak yang diharapkan kedatangannya adalah Wirastuti. Wiradi dipersalahkan oleh ibunya karena dia telah mengantarkan Wirastuti ke Biro Perdjuangan Putri. Selain itu, Wiradi juga dianggap bersalah oleh ibunya karena tidak mengajak pulang adiknya. Wiradi kecewa atas perlakuan ibunya tersebut. Padahal, dia bisa sampai di rumah untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit itu harus melalui perjuangan yang berat dan sulit.
(episode III, 21: 12-38, 22: 1-21).

Kusnarna memberi tanda peringatan kepada Wiradi akan kedatangan pasukan patroli Belanda. Peringatan agar Wiradi segera pergi dari rumah itu tidak sempat diikuti oleh Wiradi karena pada saat itu tentara-tentara Belanda sudah sampai di jalan dekat rumahnya. Wiradi terpaksa tetap tinggal di rumahnya dan bersembunyi di bawah tempat tidur di kamar ibunya. Wiradi merasa nasibnya buruk sekali. Dia merasa kedatangannya ke rumah untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit dan melepaskan kerinduan pada ibunya itu sia-sia belaka karena kedatangannya tidak diterima dengan baik oleh ibunya dan kemudian dia malah terjepit di daerah musuh. Kedatangan tentara Belanda membuat jantung Wiradi berdetak kencang sampai-sampai keluar keringat dingin karena apablia dia sampai ketahuan, nyawa taruhannya. Ditambah lagi, setelah mengetahui kalau dia lupa di mana menaruh pistolnya. Wiradi yang telah ditinggalkan oleh Kusnarna tidak akan berani seorang diri kembali ke desa.
(episode III, 23: 23-33, 24: 6-37)

Wiradi meraskan kesedihan atas kemalangan yang menimpa keluarganya, seperti ibunya sakit; Wiranta luka tertembak; Wirastuti hilang tanpa kabar berita; dan bapaknya telah bekerja membantu Belanda. Selain itu, Wiradi juga khawatir tentara Belanda yang sewaktu-waktu datang untuk menangkapnya karena mengetahui keberadaannya di rumah orang tuanya.
(episode IV, 27: 25-32).

5.3 Counteraction and Combat, ‘Tindakan dan Cara mengatasi Masalah’
Wiradi yang khawatir atas keselamatan dirinya berharap agar malam hari segera tiba supaya dia dapat segera pergi meninggalkan rumahnya, sebelum tentara Belanda datang untuk menangkapnya. Menurut dugaannya, Pak Naja yang dicurigainya sebagai mata-mata Belanda telah melaporkannya kepada tentara Belanda.
(episode IV, 27: 31-36).

Pikiran Wiradi menjadi bingung, apakah yang menjadi mata-mata Belanda itu bapaknya ataukah Pak Naja. Dia mencoba membandingkan antara Pak Naja dan bapaknya. Bapaknya bekerja pada Belanda hanya untuk menyambung hidup keluarganya, sedangkan Pak Naja tidak jelas dari mana sumber penghasilan untuk menghidupi keluarganya. Kecurigaan Wiradi pada Pak Naja tersebut membuat dia membayangkan tentara Belanda datang untuk menangkapnya. Wiradi tidak tahu siapakah orang yang telah melaporkannya, apakah Pak Wiradad ataukah Pak Naja.
(episode IV, 31: 3, 32: 5-7).

Setelah Pak Naja dan Pak Wiradad pergi dari rumah karena urusan masing-masing, Wiradi berbincang-bincang dengan Elok di dapur. Wiradi bercerita tentang keadaan adik-adiknya, Wiranta dan Wirastuti, serta keadaan di desa tempatnya bergerilya pada Elok. Selain bercerita, Wiradi juga ingin menyelidiki dan mengetahui lebih banyak tentang Pak Naja melalui Elok. Dari cerita Elok, Wiradi mengetahui bahwa Pak Naja adalah seorang ‘Republikein’ sejati dan tidak seperti apa yang dibayangkan Wiradi sebelumnya.
(episode V, 32: 1-21, 33: 1-6, 34: 15-38, 35: 1-12, 38: 18-29).

Pada jam satu siang Pak Naja tiba. Dia membawa surat kabar dari Jakarta. Wiradi merasa bahwa Pak Naja mengetahui dan menganggap kalau dirinya adalah seorang prajurit yang pengecut.
(episode V, 38: 30-31, 39: 1-6).

Pak Wiradad yang sudah kembali dari kantor membawa oleh-oleh roti tawar. Pak Wiradad menginformasikan kepada Wiradi kalau Belanda nanti malam akan mengetatkan penjagaan dengan patroli yang lebih banyak dan dengan persenjataan lengkap. Wiradi disuruh bapaknya untuk tetap tinggal di rumah karena apabila tetap memaksakan untuk pergi, nyawanya sebagai taruhan. Wiradi menjadi patah semangat dan gentar setelah mendengar dari bapaknya bahwa Belanda telah menyiapkan persenjataan lengkapnya untuk mengetatkan patrolinya nanti malam.
(episode V, 39: 7-25, 40: 4-6).

5.4 Marking The Hero, ‘Menandai Munculnya Seorang Pahlawan’
Wiradi jengkel dengan perilaku bapaknya. Dia menjelaskan kepada bapaknya bahwa orang Indonesia, khususnya orang Jawa, yang makan roti tawar adalah seorang mata-mata Belanda. Wiradi bertanya pada bapaknya apakah bapaknya seorang mata-mata Belanda. Melihat kelakuan bapaknya itu, Wiradi menjadi sedih hati, sumpek, dan malu bercampur-baur menjadi satu. Apalagi setelah dia tahu bahwa ternyata Elok, perempuan yang ditaksirnya, mendengar juga semua perbincangan dan pertengkaran dengan bapaknya.
(episode V, 41: 4-26).

Elok mencoba menghibur dan bersimpati kepada Wiradi yang sedang sakit hati. Sepertinya Elok ingin ikut merasakan kesedihan hati Wiradi. Hal itu menyebabkan hati Wiradi menjadi tenteram dan tenang. Dia merasakan sedikit kebahagian dengan adanya Elok. Perhatian Elok bagi Wiradi bagaikan kasih sayang ibunya yang telah lama hilang semenjak kelahiran Wiranta dan Wirastuti. Anggapan Wiradi, semenjak kelahiran Wiranta dan Wirastuti, dia merasa telah kalah bersaing dalam memperebutkan kasih sayang ibunya. Ibunya setiap saat hanya selalu membanggakan Wiranta karena dia lebih pintar, cerdas, sekolahnya naik terus dan tegas. Wiradi merasa tidak kebagian tempat di hati ibunya. Setelah sekian lama Wiradi merasa tersisihkan ibunya baru menemukan tempat berlindung yang sangat menyejukkan hatinya, yaitu uluran kasih sayang dari Elok.
(episode V, 41: 26-38, 42: 1-9).

Pasukan baret merah Belanda berada di dekat rumah Wiradi. Keluarga Wiradi menyembunyikan Wiradi bersembunyi di atas langit-langit rumahnya agar terhindar dari penangkapan pasukan Baret Merah Belanda yang terkenal amat kejam.
(episode V, 42: 34-38, 43: 7-35, 44:1-30).

Setelah melihat tindakan orang seisi rumahnya, termasuk bapaknya, Wiradi yang masih berada di atas langit-langit rumah beranggapan bahwa orang seisi rumah ternyata sangat menyayanginya. Hal itu membuat Wiradi merasa berdosa dan dia menyesal telah mencurigai dan menuduh bapaknya sebagai seorang mata-mata Belanda.
(episode V, 45: 8-12).

Setelah jam lima sore dan hari mulai gelap, Wiradi keluar dari tempat persembunyiannya.
(episode V, 45: 30-34),

Pak Lodang, orang desa Bekonang yang berjualan ketela di kota dan sering dititipi kabar oleh para pejuang untuk keluarga mereka di kota bertamu ke rumah Wiradi. Dia ingin bertemu dengan Wiradi karena dia membawa pesan dari Wiranta, adiknya. Pak Lodang memberitahukan keadaan Wiranta yang selamat sampai di Desa Bekonang. Wiranta sekarang ini masih dalam perawatan dukun setempat karena lukanya. Selain itu, Pak Lodang juga menceritakan pada Wiradi tentang Wirastuti yang datang ke Desa Bekonang, tetapi karena terlalu banyak orang yang titip kabar untuk keluarganya pada Pak Lodang, maka lupa kabar mengenai Wirastuti tersebut. Pak Lodang hanya teringat namanya saja.
(episode VII, 48: 24-25, 49: 12-13, 50:6-33, 51:3-16).

Pak Lodang pergi dari rumah Wiradi. Elok yang melihat Pak Lodang akan pergi, cepat-cepat menghadang Pak Lodang dan menitipkan surat untuk Wiranta.
(episode VII, 51: 18-20, 52:1-11).

Mengetahui hal tersebut, Wiradi menjadi terkejut bukan main. Dia memberitahu Elok bahwa tindakannya tersebut sangat berbahaya karena setiap orang yang keluar-masuk kota akan digeledah tentara Belanda. Apabila surat tersebut sampai ketahuan tentara Belanda, akibatnya Belanda akan mengetahui keberadaan Wiradi di rumah tersebut.
(episode VII, 52: 31-38,53: 4-14).

Elok mengejar Pak Lodang atas suruhan Wiradi, tetapi tidak menemukan Pak Lodang. Kemudian Elok memutuskan pulang kembali ke rumah untuk menemui Wiradi.
(episode VII, 52: 16-38, 54: 1-13).

Setelah tiba kembali di rumah, Elok segera memberitahukan kepada Wiradi bahwa Pak Lodang tidak diketemukan olehnya. Hal itu membuat Wiradi hanya bisa pasrah menerima keadaan dan menunggu kedatangan tentara Belanda yang akan menangkapnya.
(episode VII, 54: 14-19).

Suhebat bercerita kalau Pak Lodang telah tertangkap pasukan Belanda.
(episode VII, 54: 27-37, 55: 1-26).

5.5 The Hero’s return Home, ‘Sang Pahlawan Pulang dengan Kemenangan’
Setelah seisi rumah mengetahui berita tentang Pak Lodang yang ditangkap oleh tentara Belanda, mereka bersiasat untuk menyembunyikan Wiradi agar tidak ditangkap tentara Belanda. Akan tetapi, mereka semua, termasuk Wiradi, hanya bisa menunggu kedatangan tentara Belanda sampai malam tiba. Apabila malam hari telah tiba dan tentara Belanda tidak datang, Wiradi selamat dan segera dapat meninggalkan rumahnya.
(episode VIII, 56: 1-25, 58: 11-23).

Akhirnya setelah malam tiba, kejadian yang ditunggu-tunggu tersebut tidak terjadi. Seisi rumah menjadi gembira dan mengucapkan syukur. Kemudian Wiradi bersiap-siap meninggalkan rumahnya.
(episode VIII, 58: 24-38, 59: 1-4).

Setelah berpamitan pada ibunya, Wiradi pergi dengan hati bangga dan bahagia setelah mengetahui bahwa seisi rumah, termasuk ibunya, sebenarnya menyayangi dan membantunya. Hal itu terbukti dari cara mereka melepas kepergian Wiradi.
(episode VIII, 59: 9-22).

Selanjutnya, Wiradi bergegas meninggalkan rumahnya. Karena ketidakhati-hatiannya dan kekurangwaspadaannya, Wiradi kepergok oleh satu regu tentara Belanda yang sedang berjaga-jaga di daerah tersebut. Kemudian Wiradi dihujani tembakan. Tembakan tersebut membuat Wiradi lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Tanpa sadar ketiak kirinya terasa panas. Wiradi mengira dia telah terluka karena tembakan tadi. Wiradi merasa badannya menjadi lemas dan merasa sebentar lagi akan pingsan. Sebelum pingsan Wiradi memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Wiradi ingin segera mendapat pertolongan, dirawat dan dikasihi oleh orang-orang di rumahnya.
(episode VIII, 59: 26-34, 60: 14-38, 61: 1-26).

Pada keesokan harinya Pak Lodang datang dengan dikawal oleh tentara Belanda. Wiradi bingung dan menjadi ketakutan karena sudah tidak mungkin lagi untuk bersembunyi. Kemudian Wiradi masuk ke kamar besar dan menguncinya. Tubuh Wiradi gemetar, dia berniat untuk melawan, tetapi seperti terpaku menghadapi tentara Belanda yang akan menangkapnya.
(episode IX, 65: 17-25, 66: 7-22, 67: 12-15, 68: 1-3).

Wiradi tertangkap oleh tentara Belanda. Elok melihat Wiradi telah dibekuk oleh tentara Belanda. Ketika Wiradi dibawa pergi oleh tentara Belanda, membuat Elok menangis. Di dalam hatinya, Elok tetap menghargai dan menghormati Wiradi sebagai seorang pahlawan kemerdekaan.
(episode IX, 68: 4-38, 69: 1-15).

Setelah mobil jip tentara Belanda yang membawa Wiradi dan Pak Lodang pergi, Elok yang mendengar suara Bu Wiradad segera masuk ke kamar untuk merawat dan menghibur hati Bu Wiradad, seorang ibu yang ketiga putra-putrinya sedang mengalami musibah. Perjuangan kaum Republik masih panjang dan perlu korban, tetapi perjuangan hati manusia lebih panjang lagi waktunya.
(episode IX, 69: 27-33, 70: 12-21).

6. Penutup
Dengan menggunakan skema naratif didapatkan suatu struktur naratif yang mengemukakan perkembangan watak tokoh utama yang dipertajam oleh para tokoh bawahan. Struktur naratif di atas memaparkan suatu kejadian-kejadian yang berurutan yang dialami oleh tokoh utama. Tokoh-tokoh bawahan yang juga disebut “villain” muncul dan berinteraksi dengan tokoh utama melalui dialog dan tindakan atau action. Di dalam setiap tahapan struktur naratif digambarkan perkembangan watak, sikap dan pola pikir tokoh utama Wiradi karena berinteraksi dengan para “villain”. Tokoh utama Wiradi sebagai seorang pejuang kemerdekaan tidak mendapatkan kasih sayang atau cinta kasih dari ibunya dan dia berupaya untuk mendapatkan kasih sayang tersebut. Kasih sayang dari ibunya maupun seluruh keluarganya tersebut akhirnya dia dapatkan dan itulah kemenangan yang dicapai Wiradi sebagai tokoh utama meskipun Wiradi tertangkap oleh Belanda. Lebih lanjut, struktur naratif membantu memberikan gambaran untuk analisis penokohan yang berfokus pada perkembangan watak tokoh utama Wiradi yang berinteraksi dengan tokoh-tokoh bawahan seperti Wiranta, Bu Wiradad, Elok, Pak Naja, Pak Wiradad, Kusnarna, Pak Lodang, Suhebat, dan Sukardiman. Keberadaan tokoh-tokoh bawahan tersebut menggambarkan bagaimana tokoh utama Wiradi dalam menjalani kehidupannya pada saat berada di desa, perjalanan ke rumahnya di kota, di rumahnya, dan pertemuan dengan bapak dan ibu kandungnya untuk mendapatkan kasih sayang, sampai akhirnya tertangkap oleh tentara Belanda.

DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M.H. 1979. Mirror and The Lamp. New York: Oxford University Press.
Brata, Suparto. 1966, Lara Lapane Kaum Republik. Surabaya: Jajasan Penerbitan Djaja
Baja.
—, 1990. Jatuh Bangun Bersama Sastra Jawa. Departemen Pendidikan Dan
Kebudayaan.
—, 2000, Trem: Antologi Crita Cekak. Cet. 1, November 2000. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Christianson, E.S. 1988. “A Time To Tell. Narrative Strategies in Eclessiates”. Dalam
David J.A. Clines dan Philip R. Davies (Ed.). Journal For The study of The Old
Testament Supplement Series. Sheffield: Sheffield Academy Press.
Hutomo, Suripan Sadi. 1975. Telaah Kesusastraan Jawa Modern. Jakarta: Pusat
Peembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Jobling. D. 1986. The Sense of Biblical Narrative. Structural Analyses in The Hebrew
Bible. Sheffield: Redwood Burn Ltd. Trowbridge, Wiltshire.
Kent, Thomas. 1986. Interpretation and Genre. The Role of Generic Perception in The
Study of Narrative Text. London and Toronto; Associated University Press.
Mardianto, Herry. 2003. “Dunia Kepengarangan Suparto Brata”. Dalam Widyaparwa vol.
31, No. 1, Juni 2003: 55-68. Yogyakarta.
Propp, Vladimir. 1968. Morphology of The Folktale. Terj. L.Scott. Edisi Kedua oleh L.A.
Wagner, Austin: University of Texas Press.
Quinn, George. 1992. Novel Berbahasa Jawa. Terj. Raminah Baribin. Semarang: IKIP
Semarang Press.
Ras, J.J. 1985. Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir. Terj. Hesri. Jakarta:
PT.Grafitipers.
Soeratno, Siti Chamamah. 1994. “Studi Filologi Sebagai Satu Disiplin”, dalam: Siti
Baroroh Baried, dkk. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: BPPF Seksi Filologi,
Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.

Dikutip dari:
ALAYASASTRA, Jurnal Ilmiah Kesusastraan, Volume 3, Desember 2007. PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL Halaman 43-51.
Pada laman ini tambahan gambar sampul novel Lara Lapane Kaum Republik (Jajasan Djaja Baja, Surabaya 1966) dari Suparto Brata.

Posted by admin on Tuesday, March 30th, 2010. Filed under Makalah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

1 Comment for “STRUKTUR NARATIF DALAM NOVEL LARA LAPANE KAUM REPUBLIK KARYA SUPARTO BRATA”

  1. [...] STRUKTUR NARATIF DALAM NOVEL LARA LAPANE KAUM REPUBLIK KARYA SUPARTO BRATA [...]

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*