Bahasa Indonesia Harus Jadi Kiat Hidup Modern

| |

Kiat hidup modern atau global sudah tidak bisa lagi hanya dengan mempertajam kepekaan indrawi, misalnya menghayati kehidupan hanya dengan kepekaan melihat dan mendengar. Orang tidak bisa menunaikan kewajiban agamanya hanya dengan mendengarkan dan melihat mubalik berkhodbah. Dokter, arsitek, pengacara, tidak akan menjalankan profesinya dengan baik kalau ilmu pengetahuannya hanya dari mendengarkan kuliah dosen-dosennya. Supaya mereka baik dan benar melaksanakan kewajiban hidupnya harus punya kebiasaan, atau malah berbudaya membaca buku dan menulis buku. Kalau tidak disertai kiat membaca buku dan menulis buku, keagamaan mereka, profesi mereka akan rentan, mudah membelok ke arah yang tidak benar.

Bangsa Indonesia, 99% kehidupannya tidak disertai kiat membaca buku dan menulis buku. Oleh karena itu menjadi bangsa yang hidupnya rentan, menjalani hidup miskin, bodoh dan tidak berdaya, bahkan sesat. Untuk mengatasi hal ini, jalan satu-satunya adalah mencerdaskan bangsa. Yaitu membudayakan putra bangsa MEMBACA BUKU DAN MENULIS BUKU. 

Seorang guru SD, PNS, telah mengajar selama 15 tahun dengan baik, hampir kehilangan profesinya ketika ia harus kuliah lagi, gagal karena ia tidak bisa menyusun kalimat tertulisnya untuk membuat skripsinya. Karena guru tersebut tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku.

Puluhan tahun yang lalu terpampang tulisan ANTAR KOTA ANTAR PROPINSI, dijajakan dari propinsi ke propinsi lain dengan ejaan bahasa Indonesia yang salah. Pada hal pembuat peraturan itu maupun penulisnya, bukanlah orang bodoh, miskin dan tidak berdaya (punya kekuasaan). Tetapi menyesatkan pengguna bahasa Indonesia, karena mereka itu (yang membuat peraturan atau yang menulis) tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku.

Begitu juga teks iklan atau judul sinetron di televisi, antara lain DIANTARA DUA PILIHAN yang ditayangkan beberapa tahun lalu, penulisnya bukan orang yang bodoh, miskin, tak berdaya. Tetapi karena tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku, mereka menyebarkan ejaan bahasa Indonesia yang salah.

Pada hal, kalau kita mengamati brosur atau majalah bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh kedutaan atau konsulat asing, hampir tidak ada salah eja. Ya, karena mereka (staf jawatan bangsa asing itu) memang punya budaya membaca buku dan menulis buku. Membaca buku dan menulis buku sudah menjadi kiatnya dalam menjalankan profesi hidupnya jadi duta maupun konsul. (Alangkah malunya kalau duta kita membuat brosur bahasa negeri tempat dia bekerja dengan ejaan salah. Sungguh, membaca buku dan menulis buku, menjadi kiat hidup modern di negeri mana pun abad ini).

Membaca buku dan menulis buku, sebenarnya sudah menjadi kiat kehidupan modern sejak Plato (428 – 347 SM) mendirikan Academus (akademi). Plato adalah murid Socrates (470 – 399 SM). Socrates adalah seorang filosof yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemikiran Eropa, yang kemudian dihukum mati minum racun cemara oleh pengadilan Athena karena mempertahankan misi filosofinya. Misi Socrates tidak akan berhasil karena segala ilmunya tidak pernah sebaris pun ditulisnya. Plato berusia 29 tahun ketika Socrates minum racun cemara. Plato menulis karya Socrates Apologi, yang semula hanya diucapkan lisan dalam bentuk dialog oleh Socrates, dan juga oleh tulisan-tulisan Plato lainnya, maka misi Socrates berhasil mempengaruhi pemikiran Eropa selama 2500 tahun ini. Karena pemikiran Socrates ditulis oleh Plato, dari tulisan Plato itu bisa dibaca, dipelajari, disawalakan dan menjadi kiat hidup orang-orang sesudahnya, meskipun Plato menuliskannya setelah Socrates tewas dihukum minum racun di hadapan teman-temannya. Socrates sebenarnya bisa terhindar dari hukuman mati minum racun, yaitu kalau dia mau keluar dari Athena, seperti halnya filosof Anaxagoras. Anaxagoras (500 – 428 SM) dihukum oleh pengadilan Athena karena menyalahi kepercayaan orang Athena, yaitu mengatakan bahwa matahari bukanlah dewa, melainkan sebuah batu merah panas yang lebih besar daripada seluruh jazirah Peloponesia. Dia (boleh pilih) dihukum mati, atau keluar dari Athena. Anaxagoras memilih keluar dari Athena. Dia memang bukan orang kelahiran Athena, baru masuk ke Athena ketika umur 40 tahun. Tetapi Socrates memilih mati minum racun, demi kebenaran pemikirannya dan untuk tanahairnya (Socrates dilahirkan di Athena).

Hal yang hampir serupa juga menjadi catatan sejarah dengan kasus Yesus, yang matinya juga dihukum. Kita tidak dapat merasa yakin bahwa Yesus dalam sejarahnya benar-benar mengucapkan kata-kata yang dituliskan oleh Matias dan Lukas berasal darinya. Dengan ditulisnya oleh Matias dan Lukas, maka misi Yesus berhasil seperti sekarang ini. Begitu pula Muhammad, nabi yang buta huruf, “syair-syairnya” yang diucapkan menjadi ayat-ayat suci, karena “syair-syair” yang diucapkan kemudian hari disuruh tulis oleh tawanan perangnya menjadi al-Qur’an, kemudian ikrok, disuruh baca oleh para penganutnya atau siapa saja, abadi, terpelihara, menjadi tuntunan hidup yang benar. (Namun 90% lebih orang Indonesia menganut agamanya hanya dari kepekaan indrawinya, yaitu hanya dari mendengar dan melihat, tidak dari membaca buku dan menulis buku, sehingga mereka itu rentan hidupnya, mudah tersesat).

Jadi sekali lagi, kiat hidup modern tidak bisa lagi hanya ditopang oleh kekuatan indrawi atau kodrat. Tetapi harus disanggari dengan ilmu hidup yang diperoleh, direkam, dilestarikan, dikuasai, digunakan dari membaca buku dan menulis buku.

Oleh karena itu, untuk menjadikan bahasa Indonesia menjadi kiat kehidupan bangsa, hendaknya jangan hanya bersifat verbal atau lisan saja, jangan hanya jadi bahasa pengantar mempelajari ilmu pengetahuan secara lisan saja di sekolah, tetapi harus ditanamkan sedalam mungkin dengan membudayakan membaca buku dan menulis buku. Sebaiknya ditegaskan dalam undang-undang kebahasaan, bahwa PUTRA BANGSA HARUS DIBUDAYAKAN MEMBACA BUKU DAN MENULIS BUKU (bahasa Indonesia khususnya). Untuk membudayakan membaca buku dan menulis buku, putra bangsa harus sejak masuk sekolah dasar hingga perguruan tinggi terus-menerus dilatih, dibiasakan, dibudayakan membaca buku dan menulis buku bahasa Indonesia. (Di negara-negara maju yang lain juga begitu, anak diajari membaca buku dan menulis buku sejak masuk sekolah. Membaca buku dan menulis buku adalah hal yang terpenting anak masuk sekolah, karena membaca buku dan menulis buku adalah kiat mengarungi hidup modern).

Di mana tempat dan waktu untuk memperkenalkan, melatih, membudayakan membaca buku dan menulis buku? Ya di sekolah, selama menempuh sekolah 12 tahun atau lebih. Sebab, hanya di sekolah putra bangsa (sekarang ini) terlepas dari menonton televisi. Untuk memahami siaran televisi itu kiatnya kodrat, indrawi, yaitu melihat dan mendengar. Anak umur 3 tahun, menonton televisi langsung sudah bisa faham, karena secara kodrati bisa melihat dan mendengar. Tetapi main piano, mengendarai mobil, main badminton, membaca buku dan menulis buku, bukan kodrat. Untuk bisa menguasainya harus ada pengenalan, latihan terus-menerus, dan menjadi budayanya, bisa untuk jadi profesinya, menjadi kiat hidupnya. Berlatih piano, badminton, mengendarai mobil di mana memperkenalkan lalu melatihnya? Mungkin di bengkel dalam waktu singkat sudah bisa menguasainya. Tetapi membaca buku dan menulis buku perkenalan dan lalu berlatihnya di mana dan kapan? Ya di sekolah, sejak masuk sekolah hingga seumur hidupnya. Membaca buku dan menulis buku itu bukan kodrat. Anak lulus SMA berikanlah buku, belum tentu bisa memahami atau menikmati buku itu (Taufik Ismail 1996). Karena itu membaca buku dan menulis buku harus diperkenalkan, diajarkan, dibudayakan, baru bisa memahami dan menikmati isi buku tadi. Hanya di sekolah dan selama di rumah sekolah, putra bangsa bisa bersama bergiat belajar bersama-sama. Di sanalah tempatnya putra bangsa digembleng agar punya budaya membaca buku dan menulis buku. Oleh karena itu pelajaran membaca buku dan menulis buku harus jadi kurikulum utama mata pelajaran sekolah. Membaca buku dan menulis buku harus diajarkan setiap hari tanpa jeda selama anak masuk sekolah, sehingga membaca buku dan menulis buku menjadi budaya putra bangsa, bukan hanya asal-asalan bisa membaca saja. Anak masuk sekolah yang paling utama adalah dari tidak tahu apa-apa tentang huruf, untuk menjadi bisa membaca buku dan menulis buku. Tidak hanya ASAL BISA membaca saja. Melainkan harus menjadi BUDAYA manusia membaca buku dan menulis buku. Dan itu sebenarnya tidak memerlukan biaya besar. Asal ada murid (seberapa pun jumlahnya, seorang maupun 40 orang), ada guru yang bisa mengajar membaca dan menulis, dan buku (tidak usah tiap kali buku baru), maka pengajaran membaca buku dan menulis buku bisa dijalankan. Cara itu bisa dilakukan di rumah sekolah yang bobrok (tetapi pengajaran tetap berjalan), bahkan ditenda pengungsian, muridnya tidak usah pakai baju seragam pun jadi. Bisa dilakukan di zaman penjajahan Jepang seperti yang dialami penulis, meskipun pada zaman itu sandang-pangan mahal, ke sekolah tidak pakai baju seragam, bahkan kertas maupun pensil saja amat sangat susah didapatkan (anak harus cari sendiri untuk mendapatkan kertas kosong; waktu itu penulis ~ dan juga teman-teman lainnya ~ mengumpulkan bungkus rokok KooA, yang bagian dalam bungkus rokok tadi terdapat kertas kosong, dapat digunakan berlatih menulis dan membaca pelajaran di sekolah). Juga bisa dilakukan pada zaman perang kemerdekaan (zaman tidak aman), ketika seluruh bangsa harus angkat senjata bersama melawan agresi Belanda. Jadi mestinya mengajari, melatih, membiasakan, membudayakan anak bangsa membaca buku dan menulis buku itu bisa dilakukan dengan biaya tidak mahal, pada keadaan apa pun juga, asal ada kemauan (dan jangan banyak alasan untuk menghindar), tapi lebih baik dimulai ketika anak mulai masuk sekolah (dasar), dan berakhir seumur hidup.

Sekarang televisi menjadi guru besar budaya bangsa. Sangat mudah disemak, dimaknai, ditiru oleh putra bangsa menjadi budayanya, pekertinya, wataknya, gaya bahasanya. Sayangnya dalam hal perbahasaan

Indonesia, tokoh-tokohnya yang muda, cantik, kaya dan kuasa tertayang di televisi itu sering berbicara dengan bahasa yang seronok, atau merendahkan akidah bahasa

Indonesia. Misalnya kata “cewek”, “gue”, “temenin” terhambur tidak terkendali. Coba bandingkan dengan telenovela, kisah asing (

Brasil, Mexico,

Korea) yang dialihsuarakan.

Para pemain telenovela (orang asing, orang bule, orang sipit) juga sehat, cantik, cerdas, yang semua sifat mereka itu juga diungkapkan dalam berbicara bahasa Indonesia yang baik, intelek, eksekutip dan tidak kampungan. Bahasa Indonesia bisa digunakan oleh orang-orang cerdas asal digunakan dengan benar. Dalam alih suara dari cerita asing tidak pernah diucapkan kata “cewek”, “gue”, “temenin”. Gambar orang asing yang sehat, cantik, berpikir cerdas itu sangat kentara dari bicara bahasa Indonesianya tadi.

Untuk mencegah kemerosotan ini, (berbahasa Indonesia mencerminkan kecerdasan bangsa) saya kira sensor terhadap penggunaan ucapan “cewek”, “gue”, “temenin” dan semacamnya ini harus diperketat, misalnya dihapus ketika diucapkan atau dicekal-tayangkan. Ini bukan tindakan pemberangusan kreativitas, melainkan memberlakukan adanya undang-undang kebahasaan.

Demikianlah harapan saya. Mudah-mudahan kurikulum membaca buku dan menulis buku tadi bisa dilaksanakan SETIAP HARI sejak anak masuk sekolah sampai seumur hidupnya, sehingga membaca buku dan menulis buku menjadi kiat hidup modern bangsa Indonesia.

(Semaklah juga Donyane Wong Culika Jilid II). *

Surabaya, 20 Agustus 2007

Posted by admin on Sunday, January 6th, 2008. Filed under Article. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

1 Comment for “Bahasa Indonesia Harus Jadi Kiat Hidup Modern”

  1. dear Eyang Parto..
    setelah buku terakhir trilogi Teyi, kami selalu menunggu-nunggu buku yg laen..
    kami tanya mbak Yeti (king mantu panjenengan), kata beliau, eyang parto sedang proses ama penerbit..
    kami senang sekali, eh lha kok ini udah terbit.. tiga buku…
    saya orang jawa, dan saya nggak ada kesulitan membaca, tetapi temen-temen saya orang jakarta dan sunda.. mereka mboten ngerti Yang… he he he.. mohon dialihbahasakan ke bahasa indonesia.. banyak yg ingin menikmati karya-karya eyang, tetapi ada kendala bahasa…
    kebetulan kami penggemar novel bersetting masa lalu, dan tulisan eyang yahud untuk diikutin dan divisualkan…
    Yang, kami kan udah bawa buku karya Eyang rencananya mau dititipin ke mbak yeti untuk minta ditandatangani Eyang… tapi kayaknya Yang Parto sampun balik dateng Suroboyo…
    Permohonan kami sebagai fans Yang, mohon ditranslate ke bahasa indonesia… supaya yg tidak ngerti bahasa Jawa bisa dapat menikmati…
    Semangat ya Yang, semoga diberi kesehatan, kekuatan dan berkah agar selalu bisa berkarya… amin amin. ditunggu ya yang…
    dari penggemar berat di Jakarta…

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*