Makalah Trilogi Gadis Tangsi

| |

PEREMPUAN DALAM TRILOGI GADIS TANGSI KARYA SUPARTO BRATA:
MIMIKRI DALAM HUBUNGAN BANGSAWAN DENGAN RAKYAT BIASA **)

Lina Puryanti

ABSTRAK

Dalam wacana Pascakolonial, mimikri (peniruan) menjadi wacana yang paling kontradiktif karena selalu mengingatkan pada hubungan antara kaum penjajah dan terjajah yang ambivalen. Homi Babha menyatakan bahwa dalam mimikri warga terjajah dididik untuk menjadi almost the same, but not quite, atau dengan kiasan rasialis yang tepat, almost the same but not white (Bhabha, 1994: 89).

Konsep mimikri ternyata juga bisa diaplikasikan untuk menjelaskan hubungan antara kelompok priyayi/ bangsawan dan rakyat biasa pada masa penjajahan. Bila dalam hubungan dengan bangsa penjajah kelompok bangsawan sebagai kelompok ‘perantara’ banyak direpresentasikan sebagai subyek kolonial yang melakukan mimikri, maka dalam konteks hubungan Gusti (pusat) – kawula (pinggir) model hubungan yang sama juga terjadi. Dalam trilogi Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem dan Maghligai di Ufuk Timur yang ditulis oleh Suparto Brata hubungan ’mimikri’ antara kedua kelompok yang dibedakan stratifikasi sosialnya ini terepresentasikan pada tokoh –tokoh perempuannya. Narasi cerita menunjukkan adanya reproduksi yang terus menerus gagasan mengenai arogansi dan superioritas serta budaya patriarki yang sangat kental. Perempuan masyarakat biasa dalam trilogi tersebut adalah bagian dari kelompok sosial yang tidak berdaya yang harus dibela dan bahkan dididik oleh kaum bangsawan agar menjadi lebih ’beradab’.

Selanjutnya klik disini

Posted by admin on Tuesday, October 6th, 2009. Filed under Makalah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*