SURABAYA NO MONOGATARI SURABAYA ZAMAN JEPANG

| |

Surabaya Zaman Jepang=

Pemindahan kekuasaan dari pemerintah Belanda kepada Jepang di Surabaya tidak ditandai dengan goncangan pertempuran seru. Namun batas dan perubahannya sangat terasa bagi penduduk Surabaya. Malam hari yang semula terang benderang jadi gelap gulita karena lampu harus diselubungi. Kendaraan bermotor tiba-tiba tidak kelihatan lagi di jalan-jalan kota. Sinyo dan noniek Belanda lenyap dari Bumi Surabaya. Gedung atau rumah yang dikapur putih harus diubah warna hitam, dilabur (dicat) dengan campuran arang yang ditumbuk halus atau abu bahan yang dibakar.

Waktu Belanda meninggalkan kota, sekolah ditutup. Kini dibuka kembali dengan murid-murid baru. Anak-anak pribumi memasuki gedung sekolah Belanda. Kulitnya sawo mateng, kepalanya gundul, kakinya telanjang.

Untuk membaca selangkapnya silahkan klik disini

Posted by admin on Friday, May 22nd, 2009. Filed under Stories. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

4 Comments for “SURABAYA NO MONOGATARI SURABAYA ZAMAN JEPANG”

  1. cakcuk surabaya

    benar benar blast from the past….membaca tulisan bapak serasa jalan jalan ke surabaya jaman jepang :)

  2. pak parto,mohon maaf, 3 ilustrasi novel yg bapak pesan belum bisa saya kirim,sbb masih ada sedikit yg blm selesai.tapi saya usahakan secepatnya.cuma tinggal melukis aksesorisnya saja.trim.

  3. Pak Parto, terimakasih dan matur suwun sanget. Saya benar-benar keasyikan membaca tulisan bapak yang mengalir demikian derasnya. Saya sampai hanyut mulai dari awal zaman Jepang sampai Indonesia Merdeka. Tidak terasa, sejak tahun 1943 berlayar sampai tahun 1950-an. Wau, 161 halaman karya tulis bapak tak terasa berakhir dengan, kalimat saya> Waduh, kok belum lengkap. Memang, membaca tulisan Bapak, saya selalu kehausan, masih terasa kurang kenyang. Masih memerlukan “tanduk” atau tambah lagi. Pak, banyak inspirasi yang saya peroleh dari tulisan Bapak. Memang, seharunya saya bertandang ke “kediaman dan perpustakaan” bapak. Saya memang haus dan dahaga membaca dan membaca. Boleh ya Pak?

  4. Hallo pak SupBra..saya membalas email bapak tapi balik kucing kurang tau kenapa..disini sudah mulai musim gogrok daun2 kuning dan coklat saya akan membaca Surabaya zaman Jepang..pasti tulisan2 bapak seperti yang sudah saya baca sebelumnya..sangat memikat sampai2 sangat eman kalau mau berhenti..jadi setiap kali saya program untuk membaca buku Bapak harus siap2 tidak mengerjakan lainnya supaya bisa terus berlanjut..dan buku2 bapak yang sudah saya punya selalu saya ulang membaca 3 sampai 4 kali hehehehe…

    salam
    lily

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*