Balai Pemuda Surabaya 2009

| |


Jika tak ada aral melintang, gedung eks Bioskop Mitra di Jalan Yos Sudarso direhab menjadi sentra kesenian Surabaya awal tahun 2009. Rencananya, renovasi gedung yang menelan anggaran Rp 10,8 milyar itu ditenderkan bulan depan. Dengan demikian, pengerjaan fisik segera dimulai  pada Februari mendatang.

Sebelum itu, Wakil Wali Kota Arif Afandi berencana mengumpulkan para seniman Surabaya untuk dimintai pendapat tentang pembangunan gedung tersebut.

“Masukan dari para seniman itu sangat penting. Sebab, merekalah yang lebih mengerti cita rasa seni. Mereka juga yang nanti lebih banyak memanfaatkan gedung tersebut,” katanya.

Untuk diketahui, bangunan eks Bioskop Mitra akan direhab menjadi gedung pertunjukan kesenian yang memiliki kapasitas sekitar 600 orang. Itu ditujukan agar Surabaya memiliki gedung kesenian yang representatif untuk mengadakan pertunjukan berkelas. Selain itu, gedung yang baru akan dilengkapi basement untuk parkir. “Kami sudah membuat desainnya. Desain itulah yang akan kami tunjukkan kepada para seniman agar diberi masukan,” tuturnya.

Secara garis besar, renovasi gedung eks Bioskop Mitra dibagi dua bagian. Yang pertama adalah renovasi dan perluasan gedung sisi timur Balai Pemuda. Gedung tersebut akan direhab menjadi ruang lobi dan pameran, ruang manajemen, serta toilet. Bagian kedua adalah pembangunan gedung eks Teater Mitra. Rehab gedung itu mulai teras kedatangan, lobi atau resepsionis, ruang VIP, hall utama pertunjukan, dan toilet.

Arif bahkan mengusulkan pembangunan bangunan eks Bioskop Mitra bisa digabung dengan pembangunan gedung DPRD Surabaya yang memang berdampingan. Alasannya, gedung wakil rakyat tersebut sudah tidak layak dipakai untuk mengakomodasi kepentingan anggotanya. “Sudah saatnya tiap anggota legislatif memiliki ruang sendiri. Tidak campur seperti sekarang. Dengan cara itu, mereka bisa konsultasi dengan konstituennya secara bebas,” tuturnya.

Salah satu cara untuk menjawab persoalan tersebut, lanjut Arif, adalah merelokasi gedung DPRD Surabaya ke tempat yang lebih luas. Misalnya, di Jalan Arif Rachman Hakim atau Jalan Indrapura, tepatnya belakang gedung DPRD Jatim. Gedung yang lama bisa dijadikan perpustakaan kota.

Artinya, gedung pertunjukan kesenian (bekas Bioskop Mitra) akan berdampingan dengan perpustakaan. “Harapan kami, di kawasan itu terintegrasi antara budaya dan pendidikan. Warga kota bisa menikmati fasilitas tersebut tepat di jantung kota,” tegasnya.

Berita Metropolis, Jawa Pos, Sabtu 27 Desember 2008.

*

Bergolaklah Sebelum Dibongkar

 

Nasib gedung Balai Pemuda Surabaya tamat bersama berakhirnya tahun 2008. Konon, pada tahun baru 2009, gedung eks “Simpangse Sociëteit” tinggalan kolonial Belanda abad 20 akan dibongkar. Pemkot Surabaya akan mengganti bangunan gedung kesenian senilai Rp 40 milyar. Seniman ditinggalkan?

Nasib gedung bioskop Mitra yang berada di belakang Balai Pemuda, juga sama, akan dibongkar. Di situ nanti, cita-citanya, akan dibangun gedung utama (hall). Pemkot Surabaya juga akan membangun aula pertunjukan tingkat dua satu wilayah (halaman) dengan bangunan gedung Merah Putih yang sekarang sudah ada di pojok depan. Di atasnya akan dibangun mushola pengganti Masjid As Sakinah yang juga akan dibongkar.

Lalu ke mana galeri, Yayasan 66, KNPI, Bengkel Muda Surabaya, DKS, dan Kantor UPTD yang selama ini berkantor di sana? Bisa juga tetap di Balai Pemuda, tetapi bisa juga diboyong ke gedung baru. Semua masih kurang jelas, karena para seniman Surabaya sendiri  peri hubungannya dengan “impian pembangunannya” tidak pernah diajak bicara. Padahal, sebagai stake holder  yang seperti itu bersama-sama Pemkot menggunakan serta meramekan gedung kesenian tadi, sudah sepantasnya dimintai pendapatnya mengenai apa yang dibutuhkan untuk mengembangkan kesenian di Surabaya. Khususnya yang berkenaan dengan pembangunan gedung kesenian itu. Tetapi kok tidak.

Autar Abdillah, Sekretaris Dewan Kesenian Surabaya (DKS) mengatakan, andaikata diajak bicara, dari invertarisasi permasalahan dan usulannya para seniman tadi, sebenarnya Pemkot bisa menampung saran-saran seniman perihal bentuk fisik dan arsitektur bangunannya. Dinas Tata Kota dan Permukiman Kota Surabaya mengakui memang belum pernah mengajak bicara para seniman mengenai rencana pembangunan gedung kesenian tadi. Tetapi sudah minta masukan dari Kepala UPTD Balai Pemuda, Nirwan Yudha. Yang menjadi pertanyaan, apa pejabat UPTD cukup representatif menampung aspirasi para seniman?

Maka dari itu, Musyawarah DKS yang akan memilih pengurus baru periode 2008-2011 awal tahun 2009 ini, menurut keterangan Drs. Aribowo (mantan Ketua DKS), cukup strategis dan sangat penting perannya. ”Seniman harus bisa memberikan pertimbangan kepada Pemkot untuk meramekan gedung kesenian tadi,” begitu usulnya.

 

Pertimbangan Tim Cagar Budaya, mana?

Gedung bioskop Mitra yang berdiri dekat gedung DPRD Surabaya, memang tidak termasuk bangunan cagar budaya, tetapi lokasinya pada lingkungan situs bangunan cagar budaya Balai Pemuda. Karena itu, pembangunan eks Gedung Mitra itu harus menurut Peraturan Walikota (Perwali) Surabaya No. 59 Tahun 2005 tanggal 28 Desember 2007. Tentang Pelaksanaan Perda No. 5 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya.

Pada Pasal 14, Bab VIII ayat a, b, c, secara rinci mengatur prosedur izin pemugaran bagi bangunan atau lingkungan cagar budaya.  Yaitu, pertama: permohonan izin pemugaran harus diajukan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata selaku Ketua Tim Cagar Budaya. Kedua: permohonan dilengkapi persyaratan antara lain foto bangunan atau lingkungan cagar budaya disertai rencana gambar teknis (tampak dari depan, potongan, dan perspektif) bangunan yang bakal dipugar. Ketiga, sesudah menerima permohonan, Kepala Dikbudpar meninjau lokasi yang hasilnya akan dibicarakan bersama Tim Cagar Budaya (TCB) dan Kepala Dinas Tata Kota dan Permukiman untuk mendapatkan pertimbangan tertulis. Dari sini baru bisa diberi Izin Membongkar Bangunan dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Maka dari itu, ketika Dinas Tata Kota mengundang TBC dan Bapekot Surabaya ke kantornya untuk mendengarkan presentasi konsultan perencana (PT Papertan) mengenai rencana renovasi Balai Pemuda, ada prosedur yang dilanggar. Selama ini, semua pembangunan dan pemugaran gedung yang tercantum sebagai cagar budaya, selalu lebih dahulu dimintakan pertimbangan kepada TCB sebagaimana diatur di Perwali No. 59/2007. Tentang renovasi gedung Bioskop Mitra ini kok tidak?

Sebelum Pemkot membangun pendestrian yang berkenaan dengan sisa bangunan Toko Nam (cagar budaya) Wawali Arif Afandi minta pertimbangan dahulu kepada TCB. Begitu pula ketika pemilik akan membangun kantor di Gereja Jawi Wetan Jl. Diponegoro 24, membangun Hypermarket Giant Jl. Krembangan Besar 17, garasi Jalan Veteran 26 dan gedung Jalan Darmo 54. Semua lebih dulu diminta pertimbangan kepada TCB. Memang Mitra, bangunan-bangunan tadi tidak termasuk cagar budaya. Tetapi karena lokasinya di lingkungan cagar budaya, pemugaran dan pembangunannya harus lewat pertimbangan TCB. Begitu juga seharusnya dilakukan untuk pembangunan gedung kesenian eks Mitra.

Menurut arsitekture gedung Balai Pemuda memiliki karakteristik yang khas, misalnya elektisisme kubah, gavel, dan gent perisai yang bentuknya unik dan langka. Apa gedung kesenian eks Gedung Mitra yang bakal dibangun nanti bisa menangkap “roh” arsitektural Simpangse Sosiëteit sehingga menyatu jiwa yang harmonis, perlu pembahasan yang  serius oleh TCB.

Sebenarnya Walikota Surabaya, Bambang DH, sudah lama ingin memugar gedung Mitra jadi Gedung Kesenian, mengingat Surabaya belum punya gedung kesenian yang elite dan representatif. Dari sini, Dinas Tata Kota menilai Ir. Salatun (arsitek Gedung DPRD Surabaya) sebagai konsultan perancang gedung kesenian tadi. Sayang, hanya  sekualitas sketsa ide dari Ir. Salatun. Dinas Tata Kota lalu menyelenggarakan tender dan lalu menetapkan PT Papertan sebagai konsultan perencana. Dari sketsa dan studi lapangan, PT Papertan lalu merancang gambar teknis bangunan yang katanya sudah rampung 90%. Rancangan ini sudah dipresentasikan kepada Walikota. Awal taun depan gedung Mitra sudah dirobohkan. “Disain yang sekarang jauh berbeda dengan rancanganku,” ujar Ir. Salatun.

 

Markas PRI

Balai Pemuda tercatat sebagai salah satu dari puluhan bangunan peninggalan kolonial Belanda di Surabaya seperti halnya Gedung Borsumij (Jalan Rajawali), Kantor Pos Besar (Jalan Kebonraja), Internatio (Jalan Taman Jayengrono), Grahadi (Jalan Pemuda), Balai Kota (Taman Surya). Gedung “Simpang Club” di Simpang-weg (sekarang Jalan Pemuda atau Gubernur Surya 15) itu dulu digunakan sebagai tempat hiburan malam untuk masyarakat Eropa, khususnya orang Belanda di Surabaya. Gedung ini dibangun atas prakarsa masyarakat Belanda di Surabaya: “anjing dan orang-orang pribumi dilarang masuk” seperti yang tertulis di prasasti marmer di halaman gedung. Gedung utama sebelah timur, dibangun tahun 1907 oleh arsitek Wakan Westmaes, sedangkan gedung pelengkap yang sekarang dikenal dengan Gedung Merah Putih (sebelah barat) dibangun 1930.

Pada awal revolusi, gedung ini jadi markas badan perjuangan Pemuda Republik Indonesia (PRI). Tahun 1947, “Simpang Club” dikembalikan fungsinya sebagai tempat hiburan. Setelah diurusi oleh Divisi Brawijaya, tahun 1957 diserahkan kepada Pemkot Surabaya yang selanjutnya dinamai jadi Balai Pemuda. Tentang gedung Mitra yang pernah dibongkar tadi masih sekompleks dengan gedung Balai Pemuda. Pada zaman Walikota Poernomo Kasidi, gedung Mitra dipermak jadi gedung bioskop biasa. Baru setelah zaman pemerintahan Walikota Soenarto Soemoprawiro gedung bioskop dipugar jadi gedung Sinepleks-21. Bioskop Mitra pernah mencatat sejarah top di persepakbolaan Surabaya 1980-an dengan tim kesebelasannya yang legendaris: Niac Mitra.

RM. Yunani.

(Dikutip dari majalah bahasa Jawa JAYA BAYA  No. 18, Januari 2009)

Diterjemahkan secara bebas oleh Suparto Brata.

Posted by Suparto Brata on Thursday, January 8th, 2009. Filed under catatan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

2 Comments for “Balai Pemuda Surabaya 2009”

  1. saya adalah orang yang pernah lama tinggal di surabaya sangat senang mendengar bahwa balai pemuda akan dipugar dan betul-betul difungsikan sebagai pusat kesenian. surabaya memang sudah waktunya menunjukkan dirinya dalam konteks perdaban modern. sejak lama saya berambisi menjadikan surabaya sebagai pusat pertemuan budaya antara indonesia wilayah barat dan indonesia wilayah timur. tolong sampaikan hal ini kepada wakil walikota ya. tk

  2. saya sangat mengapresiasi Bapak Suparto yang masih menjunjung tinggi nilai budaya Surabaya Tempo Dulu.. great job!!

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*