<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: PANJEBAR SEMANGAT SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN SASTERA JAWA</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?feed=rss2&#038;p=668" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://supartobrata.com/?p=668</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Sep 2016 13:33:07 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>By: Tomo</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=668&#038;cpage=1#comment-24388</link>
		<dc:creator>Tomo</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 01:44:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=668#comment-24388</guid>
		<description>Bahasa Ibu Sebagai Kunci Pengembangan Mental Tools

Dalam artikelnya,  Gunawan, A.W (2007) menyebutkan:
&quot;.....Tool atau piranti adalah sesuatu yang membantu kita dalam memecahkan suatu masalah, sebuah instrumen yang membantu kita melakukan suatu tindakan. Selain mengembangkan piranti untuk membantu dan memudahkan kerja, kita juga mencipta dan mengembangkan mental tools/piranti mental, atau piranti pikir, untuk mengembangkan kemampuan mental kita. Mental tools ini membantu kita untuk bisa memperhatikan, mengingat, dan berpikir lebih baik.

Ide mengenai piranti pikir atau mental tools dikembangkan oleh Lev Vygotsky, psikolog Rusia (1896-1934), yang menjelaskan bagaimana anak mengembangkan kemampuan mental yang semakin kompleks.

Para penerus Vygotsky percaya bahwa mental tools memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangkan kemampuan berpikir. Seiring dengan proses tumbuh kembangnya, anak secara aktif menggunakan piranti yang telah mereka ciptakan dan kembangkan serta mengembangkan piranti baru sesuai kebutuhan mereka.

Kekurangan atau ketiadaan mental tools membawa akibat jangka panjang negatif terhadap pembelajaran karena mental tools mempengaruhi tingkat berpikir abstrak yang dapat dicapai seorang anak.

Mental tools bermanfaat untuk mempelajari dan memahami konsep abstrak di bidang sains dan matemaika. Tanpa mental tools anak dapat menghafal dan mengeluarkan fakta-fakta saintifik dari memori mereka namun tidak bisa menerapkan pengetahuan ini untuk mencari solusi dari pertanyaan/masalah yang mereka hadapi, yang sedikit berbeda dengan contoh yang telah mereka pelajari sebelumnya.

Kemampuan berpikir abstrak dibutuhkan tidak hanya di sekolah namun juga dalam mengambil berbagai keputusan dalam banyak aspek kehidupan saat dewasa kelak, misalnya bagaimana membeli mobil, memilih investasi keuangan, berpikir level tinggi (analisa, sintesa,dan evaluasi), termasuk juga membesarkan dan mendidik anak yang sudah tentu membutuhkan kematangan dalam kecakapan berpikir.

Bahasa adalah mekanisme untuk berpikir, suatu mental tool. Bahasa membuat berpikir menjadi lebih abstrak, fleksibel, dan independen. Bahasa memungkinkan anak untuk membayangkan, memanipulasi, mencipta ide-ide baru, dan berbagi ide dengan orang lain. Dengan demikian bahasa mempunyai dua fungsi utama; bahasa penting untuk mengembangkan kemampuan pikir dan bahasa juga merupakan bagian dari proses pikir.

Bahasa dapat digunakan untuk mencipta berbagai strategi untuk menguasai banyak fungsi mental seperti atensi, memori, perasaan, dan pemecahan masalah.

Salah satu kekuatan pendekatan Vygotsky adalah ia tidak hanya berbicara pada tataran teori namun juga praktik. Apa yang ia formulasikan telah dicobakan dalam mengajar mental tools pada anak-anak. Sebagai pembanding terhadap pendekatan Vygotsky pembaca bisa mempelajari pemikiran Piaget (constructivism), Watson dan Skinner (behaviorism), Freud (psychoanalysis), Koffka (Gestalt psychology), dan Montessori.

Terdapat empat prinsip yang mendasari pendekatan Vygotsky yaitu:
- Anak mengkonstruk pengetahuan
- Pengembangan diri anak tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial
- Pembelajaran dapat membantu pengembangan diri
- Bahasa memainkan peran vital dalam pengembangan mental

Bila kita cermati maka keempat prinsip di atas semua menggunakan bahasa sebagai medianya. Tidak mungkin tanpa bahasa. Oleh sebab itu penguasaan bahasa, khususnya bahasa ibu, dengan baik mutlak dibutuhkan agar anak mampu berkembang secara optimal.....&quot;

Berdasarkan uraian artikel diatas, maka bahasa ibu masyarakat Indonesia adalah berbeda2 sesuai dengan daerahnya masing2. Jika kita hidup di pulau jawa ya berarti &quot;basa Jawa&quot; yg menjadi bahasa Ibu, Jika orang luar Jawa misalnya orang bugis, ya &quot;bahasa Bugis&quot; yg menjadi bahasa Ibu. Sementara Bahasa Resmi Negara adalah Bahasa Indonesia atau bisa menggunakan beberapa bahasa besar sebagai bahasa resmi menurut daerahnya masng2, seperti yang terjadi di negara Papua New Guinea yang bahasa resminya menurut wilayahnya, serta Filiphina yang bahasa resminya ada 3. Malaysia Juga menerapkan hal yang sama yaitu menggunakan beberapa bahasa sebagai pengantar dalam pendidikannya. Sementara Bangsa Indonesia yang mempunyai banyak bahasa seperti negara papua new guinea tidak pernah menggunakan bahasa lokal (bahasa Ibu) sebagai bahasa dalam pengantar pendidikan anak2 di sekolah apalagi sebagai bahasa resmi di daerahnya masing2. Pertanyaannya Bagaimana dengan realisasi konsep hubungan pikiran dan bahasa yang disampaikan oleh Gunawan A.W (2007) serta telah dikukuhkan dengan teori Bahasa dan Pikiran oleh Lev Vigotsky, yang dari keduanya menyebutkan sangat pentingnya bahasa Ibu dalam alat serta proses berfikir manusia Indonesia?  Akankah kita akan membiarkan diri tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lain yang melesat jauh karena mereka menggunaka bahasa Ibu mereka dan kita tidak menggunakan bahasa Ibu kita da terus tertinggal? Akankah kerusakan moral di negeri Ini dibiarkan terus beitu saja, sementara nilai-nilai luhur budaya yang terkandung dalam bahasa Ibu masing2  daerah luntur dan terus luntur seperti yang kita saksikan selama ini? akankah budaya adiluhur masing2 daerah akan hilang karena bersama dengan hilangnya kosakata bahasa Ibu masing2 daerah? apakah tidak mungkin bangsa Indonesia memberikan kesempatan bagi penggunaan bahasa Ibu masing2 daerah dalam pemerintahan resmi daerah, sehingga menurunkan angka korupsi? demikian juga dalam pendidika sehingga anak-anak kita bisa bersekolah dengan penuh riang gembira dan berperilaku santun sesuai budayanya masing-masing? 
Coba anda bayangkan di sekitar kita sehari2 memakai bahasa Ibu lokal, misalnya bahasa jawa, sementara di sekolah kita menggunakan bahasa Indonesia, nah kira2 berapa %kah pelajaran yang mampu anak-anak dan kita aplikasikan di kehidupan sehari-hari kalau sekembalinya kita di lingkungan kita kembali menggunakan bahasa lokal? seperti ada semacam jurang pemisah disana antara bahasa di pemerintahan dan pendidikan dengan bahasa aplikasi di lingkungan sehari-hari masyarakat Indonesia. Dan alasan Ilimiah seperti yang dituliskan oleh Gunawan alam artikel dan bukunya, serta Teori Ilmuwan Lev Vigotsky kesemuanya tentang &quot;hubungan antara Bahasa dan Pikiran&quot; yang saat ini bangsa Indonesia belum menyadarinya. 
Mari Kita Mulai melakukan sesuatu Untuk mengembalikan Bahasa Ibu,  Agar bangsa Indonesia bisa menjadi Bangsa yang Gemah Ripah Loh Jinawi Ayem tentrem karta raharja.

Demikian artikel yang ditulis oleh saudara Gunawan, A.W. Artikel selngkapnya bisa Anda akses dari daftar pustaka yag saya lampirka disini. Artikel Ini juga ditulis dalam buku karangan beliau yang insyaallah setelah ini saya postka juga di halaman ini. Semoga artikel ini bisa menjadi salah satu pemikiran kita semua, mengapa bangsa kita dari masa kemasa tidak kunjung2 gemah ripah loh jinawi (sejahtera adil dan makmur), malah banyak sekali penyimpangan2 perilaku mulai dari rakyatnya sampai perintahnya, mulai dari yang anak2 muda sampai yg tua, kita sering mendengar hal tersebut. salah satu contoh kecil misalnya orang2 tua kita berkata kalau anak2 sekarang sudah tidak begitu ngajeni sama orang tua, nah itu contoh di kehidupan sehari2, bagaimana di sisi bidang lain, bisa kita amati sendiri. Semoga artikel ini bisa menjadi bahan renungan kita semua dan sebagai langkah awal bagi pentingnya pengembangan bahasa Ibu bagi kita semuanya. dan akhirnya bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar adil, makmur, sejahtera aman sentosa, bangsa sing gemah ripah loh jinawi karta raharja saka sabang teka merauke.

Daftar Acuan:

Gunawan, A.W (2007). Bahasa Ibu Sebagai Kunci Pengembangan Mental Tools.   (http://adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&amp;mode=detil&amp;ID=40 ,diakses 14 Desember 2011).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bahasa Ibu Sebagai Kunci Pengembangan Mental Tools</p>
<p>Dalam artikelnya,  Gunawan, A.W (2007) menyebutkan:<br />
&#8220;&#8230;..Tool atau piranti adalah sesuatu yang membantu kita dalam memecahkan suatu masalah, sebuah instrumen yang membantu kita melakukan suatu tindakan. Selain mengembangkan piranti untuk membantu dan memudahkan kerja, kita juga mencipta dan mengembangkan mental tools/piranti mental, atau piranti pikir, untuk mengembangkan kemampuan mental kita. Mental tools ini membantu kita untuk bisa memperhatikan, mengingat, dan berpikir lebih baik.</p>
<p>Ide mengenai piranti pikir atau mental tools dikembangkan oleh Lev Vygotsky, psikolog Rusia (1896-1934), yang menjelaskan bagaimana anak mengembangkan kemampuan mental yang semakin kompleks.</p>
<p>Para penerus Vygotsky percaya bahwa mental tools memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangkan kemampuan berpikir. Seiring dengan proses tumbuh kembangnya, anak secara aktif menggunakan piranti yang telah mereka ciptakan dan kembangkan serta mengembangkan piranti baru sesuai kebutuhan mereka.</p>
<p>Kekurangan atau ketiadaan mental tools membawa akibat jangka panjang negatif terhadap pembelajaran karena mental tools mempengaruhi tingkat berpikir abstrak yang dapat dicapai seorang anak.</p>
<p>Mental tools bermanfaat untuk mempelajari dan memahami konsep abstrak di bidang sains dan matemaika. Tanpa mental tools anak dapat menghafal dan mengeluarkan fakta-fakta saintifik dari memori mereka namun tidak bisa menerapkan pengetahuan ini untuk mencari solusi dari pertanyaan/masalah yang mereka hadapi, yang sedikit berbeda dengan contoh yang telah mereka pelajari sebelumnya.</p>
<p>Kemampuan berpikir abstrak dibutuhkan tidak hanya di sekolah namun juga dalam mengambil berbagai keputusan dalam banyak aspek kehidupan saat dewasa kelak, misalnya bagaimana membeli mobil, memilih investasi keuangan, berpikir level tinggi (analisa, sintesa,dan evaluasi), termasuk juga membesarkan dan mendidik anak yang sudah tentu membutuhkan kematangan dalam kecakapan berpikir.</p>
<p>Bahasa adalah mekanisme untuk berpikir, suatu mental tool. Bahasa membuat berpikir menjadi lebih abstrak, fleksibel, dan independen. Bahasa memungkinkan anak untuk membayangkan, memanipulasi, mencipta ide-ide baru, dan berbagi ide dengan orang lain. Dengan demikian bahasa mempunyai dua fungsi utama; bahasa penting untuk mengembangkan kemampuan pikir dan bahasa juga merupakan bagian dari proses pikir.</p>
<p>Bahasa dapat digunakan untuk mencipta berbagai strategi untuk menguasai banyak fungsi mental seperti atensi, memori, perasaan, dan pemecahan masalah.</p>
<p>Salah satu kekuatan pendekatan Vygotsky adalah ia tidak hanya berbicara pada tataran teori namun juga praktik. Apa yang ia formulasikan telah dicobakan dalam mengajar mental tools pada anak-anak. Sebagai pembanding terhadap pendekatan Vygotsky pembaca bisa mempelajari pemikiran Piaget (constructivism), Watson dan Skinner (behaviorism), Freud (psychoanalysis), Koffka (Gestalt psychology), dan Montessori.</p>
<p>Terdapat empat prinsip yang mendasari pendekatan Vygotsky yaitu:<br />
- Anak mengkonstruk pengetahuan<br />
- Pengembangan diri anak tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial<br />
- Pembelajaran dapat membantu pengembangan diri<br />
- Bahasa memainkan peran vital dalam pengembangan mental</p>
<p>Bila kita cermati maka keempat prinsip di atas semua menggunakan bahasa sebagai medianya. Tidak mungkin tanpa bahasa. Oleh sebab itu penguasaan bahasa, khususnya bahasa ibu, dengan baik mutlak dibutuhkan agar anak mampu berkembang secara optimal&#8230;..&#8221;</p>
<p>Berdasarkan uraian artikel diatas, maka bahasa ibu masyarakat Indonesia adalah berbeda2 sesuai dengan daerahnya masing2. Jika kita hidup di pulau jawa ya berarti &#8220;basa Jawa&#8221; yg menjadi bahasa Ibu, Jika orang luar Jawa misalnya orang bugis, ya &#8220;bahasa Bugis&#8221; yg menjadi bahasa Ibu. Sementara Bahasa Resmi Negara adalah Bahasa Indonesia atau bisa menggunakan beberapa bahasa besar sebagai bahasa resmi menurut daerahnya masng2, seperti yang terjadi di negara Papua New Guinea yang bahasa resminya menurut wilayahnya, serta Filiphina yang bahasa resminya ada 3. Malaysia Juga menerapkan hal yang sama yaitu menggunakan beberapa bahasa sebagai pengantar dalam pendidikannya. Sementara Bangsa Indonesia yang mempunyai banyak bahasa seperti negara papua new guinea tidak pernah menggunakan bahasa lokal (bahasa Ibu) sebagai bahasa dalam pengantar pendidikan anak2 di sekolah apalagi sebagai bahasa resmi di daerahnya masing2. Pertanyaannya Bagaimana dengan realisasi konsep hubungan pikiran dan bahasa yang disampaikan oleh Gunawan A.W (2007) serta telah dikukuhkan dengan teori Bahasa dan Pikiran oleh Lev Vigotsky, yang dari keduanya menyebutkan sangat pentingnya bahasa Ibu dalam alat serta proses berfikir manusia Indonesia?  Akankah kita akan membiarkan diri tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lain yang melesat jauh karena mereka menggunaka bahasa Ibu mereka dan kita tidak menggunakan bahasa Ibu kita da terus tertinggal? Akankah kerusakan moral di negeri Ini dibiarkan terus beitu saja, sementara nilai-nilai luhur budaya yang terkandung dalam bahasa Ibu masing2  daerah luntur dan terus luntur seperti yang kita saksikan selama ini? akankah budaya adiluhur masing2 daerah akan hilang karena bersama dengan hilangnya kosakata bahasa Ibu masing2 daerah? apakah tidak mungkin bangsa Indonesia memberikan kesempatan bagi penggunaan bahasa Ibu masing2 daerah dalam pemerintahan resmi daerah, sehingga menurunkan angka korupsi? demikian juga dalam pendidika sehingga anak-anak kita bisa bersekolah dengan penuh riang gembira dan berperilaku santun sesuai budayanya masing-masing?<br />
Coba anda bayangkan di sekitar kita sehari2 memakai bahasa Ibu lokal, misalnya bahasa jawa, sementara di sekolah kita menggunakan bahasa Indonesia, nah kira2 berapa %kah pelajaran yang mampu anak-anak dan kita aplikasikan di kehidupan sehari-hari kalau sekembalinya kita di lingkungan kita kembali menggunakan bahasa lokal? seperti ada semacam jurang pemisah disana antara bahasa di pemerintahan dan pendidikan dengan bahasa aplikasi di lingkungan sehari-hari masyarakat Indonesia. Dan alasan Ilimiah seperti yang dituliskan oleh Gunawan alam artikel dan bukunya, serta Teori Ilmuwan Lev Vigotsky kesemuanya tentang &#8220;hubungan antara Bahasa dan Pikiran&#8221; yang saat ini bangsa Indonesia belum menyadarinya.<br />
Mari Kita Mulai melakukan sesuatu Untuk mengembalikan Bahasa Ibu,  Agar bangsa Indonesia bisa menjadi Bangsa yang Gemah Ripah Loh Jinawi Ayem tentrem karta raharja.</p>
<p>Demikian artikel yang ditulis oleh saudara Gunawan, A.W. Artikel selngkapnya bisa Anda akses dari daftar pustaka yag saya lampirka disini. Artikel Ini juga ditulis dalam buku karangan beliau yang insyaallah setelah ini saya postka juga di halaman ini. Semoga artikel ini bisa menjadi salah satu pemikiran kita semua, mengapa bangsa kita dari masa kemasa tidak kunjung2 gemah ripah loh jinawi (sejahtera adil dan makmur), malah banyak sekali penyimpangan2 perilaku mulai dari rakyatnya sampai perintahnya, mulai dari yang anak2 muda sampai yg tua, kita sering mendengar hal tersebut. salah satu contoh kecil misalnya orang2 tua kita berkata kalau anak2 sekarang sudah tidak begitu ngajeni sama orang tua, nah itu contoh di kehidupan sehari2, bagaimana di sisi bidang lain, bisa kita amati sendiri. Semoga artikel ini bisa menjadi bahan renungan kita semua dan sebagai langkah awal bagi pentingnya pengembangan bahasa Ibu bagi kita semuanya. dan akhirnya bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar adil, makmur, sejahtera aman sentosa, bangsa sing gemah ripah loh jinawi karta raharja saka sabang teka merauke.</p>
<p>Daftar Acuan:</p>
<p>Gunawan, A.W (2007). Bahasa Ibu Sebagai Kunci Pengembangan Mental Tools.   (<a href="http://adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&amp;mode=detil&amp;ID=40" rel="nofollow">http://adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&amp;mode=detil&amp;ID=40</a> ,diakses 14 Desember 2011).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
