<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suparto Brata Blog</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://supartobrata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jan 2018 08:12:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi tahun 2016</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1279</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1279#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2016 06:28:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1279</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah puji syukur kepada Allah Swt, Ayah kami Almarhum Bapak Suparto Brata termasuk dalam 54 orang yang mendapat Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Kepada Maestro Seni Tradisi Tahun 2016 katagori GELAR TANDA KEHORMATAN (SATYALANCANA) dari Bapak Presiden Republik Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2016/09/penghargaan.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2016/09/penghargaan-206x300.jpg" alt="Anugerah_Kebudayaan_Maestro_Seni_Tradisi_Tahun_2016" title="Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Mestro Seni Tradisi 2016" width="206" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1280" /></a>
<p style="text-align: justify;">
Alhamdulillah puji syukur kepada Allah Swt,  Ayah kami Almarhum Bapak Suparto Brata termasuk dalam 54 orang yang mendapat Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Kepada Maestro Seni Tradisi Tahun 2016 katagori GELAR TANDA KEHORMATAN (SATYALANCANA) dari Bapak Presiden Republik Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan.</p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2016/09/Foto-Anugerah493.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2016/09/Foto-Anugerah493-300x215.jpg" alt="Anugerah_Budaya dan Maestro Seni_2016" title="Foto Anugerah493" width="300" height="215" class="aligncenter size-medium wp-image-1289" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan yang telah memilih Ayah kami sebagai salah satu Maestro Seni Tradisi tahun 2016 dan kepada berbagai pihak yang telah merekomedasikan Ayah kami sebagai salah satu Maestro Seni .</p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2016/09/Anugerah_Kebudayaan_Penghargaan_Kepada_Maestro_Seni_Tradisi_Tahun_2016.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2016/09/Anugerah_Kebudayaan_Penghargaan_Kepada_Maestro_Seni_Tradisi_Tahun_2016-220x300.jpg" alt="Anugerah_Kebudayaan_Penghargaan_Kepada_Maestro_Seni_Tradisi_Tahun_2016" title="Anugerah_Kebudayaan_Penghargaan_Kepada_Maestro_Seni_Tradisi_Tahun_2016" width="220" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1285" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Malam Pemberian Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi tahun 2016 diadakan di TAMAN ISMAIL MARZUKI, Jl. Cikini Raya No. 73, Menteng, Jakarta Pusat pada hari Jum’at tanggal 23 September 2016.</p>
<p style="text-align: justify;">Puncak pada acara pemberian penghargaan adalah penyematan pin mas kepada 54 peserta yang dilakukan oleh Bapak Daryanto yang mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Muhadjir Effendy.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga dengan adanya Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan kepada Maestro Tradisi ini mendorong para budayawan dan seniman untuk lebih termovitasi untuk memajukan budaya dan kesenian Indonesia.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1279</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biodata Suparto Brata</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1266</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1266#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2016 04:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1266</guid>
		<description><![CDATA[Nama: Suparto Brata Tempat/tanggal lahir:  Rumah Sakit Simpang Surabaya (sekarang Gedung Surabaya Plaza), Sabtu Legi, 27 Februari 1932 (sama dengan Elizabeth Taylor), atau 19 Sawal 1862, Je (1350 Hijriah). Di ijazah/KTP, 16 Okt. 1932. Sekolah: A. Sekolah Rakjat, SR VI Jl. Laut Probolinggo, lulus 1946. B.    Sekolah Menengah Pertama, SMPN II Jl. Kepanjen Surabaya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nama:</strong> <strong> Suparto Brata</strong></p>
<p>Tempat/tanggal lahir:  Rumah Sakit Simpang Surabaya (sekarang Gedung Surabaya Plaza),</p>
<p>Sabtu Legi, 27 Februari 1932 (sama dengan Elizabeth Taylor), atau</p>
<p>19 Sawal 1862, Je (1350 Hijriah). Di ijazah/KTP, 16 Okt. 1932.</p>
<p><strong>Sekolah: </strong></p>
<p>A. Sekolah Rakjat, SR VI Jl. Laut Probolinggo, lulus 1946.</p>
<p>B.    Sekolah Menengah Pertama, SMPN II Jl. Kepanjen Surabaya, lulus 1950.</p>
<p>C.    Sekolah Menengah Atas, SMAK St. Louis Jl. Dr. Sutomo Surabaya, tamat 1956.</p>
<p><strong>Pekerjaan: </strong></p>
<p>A. Pegawai Kantor Telegrap PTT, Jl. Niaga 1 Surabaya, (1952-1960).</p>
<p>B.    Karyawan Perusahaan Dagang Negara Djaya Bhakti, Jl. Rajawali 54 Surabaya (1960-1967).</p>
<p>C.    Wartawan freelancer (membantu berita/artikel/foto di Jaya Baya, Surabaya Post, Indonesia Raya, Sinar Harapan, Kompas, Suara Karya) (1968-1988).</p>
<p>D.    Pegawai Negeri Pemda II Kotamadya Surabaya, Bagian Hubungan</p>
<p>Masyarakat (HUMAS). (1971- 1988/pensiun).</p>
<p>E.     Pengarang merdeka (1988 &#8211; 2015).</p>
<p>F.     Wafat 11 September 2015</p>
<p>Keluarga: A.Lahir dari Bapak/Ibu Raden Suratman Bratatanaya &#8211; Raden Ajeng Jembawati</p>
<p>(keduanya dari Surakarta Hadiningrat).</p>
<p>B.    Menikah dengan Rara Ariyati (lahir di Meurudu Aceh, 27 Desember 1940)</p>
<p>di Ngombol Purworejo Kedu, 22 Mei 1962. (wafat di Surabaya 2 Juni 2002).</p>
<p><strong>Anak-anak:</strong></p>
<p><strong>Tatit Merapi Brata,</strong> lahir Surabaya tahun 1963. Lulus Sarjana Pertanian (Insinyir) UNIBRA Malang, 1988. Nikah dengan Sandra Aprilianti, S.E.(Sarjana Ekonomi UNIBRA Malang, 1989), di Blitar 10 Juli 1991. Anak-anak: <em>1. Enggar Diwangkara Brata,</em> lahir di Bekasi tahun1993. <em>2. Aditya Baswara Brata,</em> lahir di Bekasi tahun1996. Sekarang Tatit bekerja di PT. Beckjorindo Paryaweksana Jakarta, Sandra di Exportir Tekstil Mangga Dua Jakarta. Tinggal di Bekasi 1711</p>
<p><strong>Teratai Ayuningtyas,</strong> lahir Surabaya tahun1965. Lulus Akademi Sekretaris Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya, 1985. Nikah dengan Ir. Wahyudi Ramadani, MMT. (Sarjana Teknik Sipil ITS Surabaya 1988, S2-nya Magister Manajemen Teknologi ITS 2002) di Surabaya 27 Juli 1989. Anak-anak <em>1. Kapita Babullah Wicaksana,</em> lahir di Surabaya tahun 1992, <em>2. Wildan Rachmad Firdausi,</em> lahir di Surabaya, tahun 1994, <em>3. Yafi Nabil Pradibta,</em> lahir di Surabaya tahun 2001. Sekarang Wahyudi bekerja di PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (PT. SIER), tinggal di Rungkut Asri Surabaya 60293.</p>
<p><strong>Neo Semeru Brata,</strong> lahir Surabaya tahun 1969. Sarjana Teknik Elektro</p>
<p>Komputer ITS Surabaya, 1994. Nikah dengan Ir.Yetty Kusumawati (Sarjana</p>
<p>Teknik Elektro Telekomunikasi ITS Surabaya, 1994) di Madiun, 12 Mei 1996. Anak: <em>1. Innocentia Alifia Putri,</em> lahir di Bekasi tahun 1997. <em>2. Evelio Excellenta Brata,</em> lahir Jakarta tahun 2002. Sekarang Neo bekerja di Schlumberger Jakarta, Yetty di Telkomsel Jakarta. Tinggal di  Curug Indah, Kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta Timur 13620.</p>
<p><strong>Tenno Singgalang Brata,</strong> lahir Surabaya tahun 1971. Sarjana Teknik</p>
<p>Lingkungan ITS Surabaya, 1995. Nikah dengan Pierlyta Dewi Sumantri, SE,MM di Tangerang 1  September 2002. Anak: <em>Glanz Einstern Brata,</em> lahir di Tangerang,tahun 2003. Bekerja di PT Freeport Tenke Fungurume Mining, Congo, Afrika.</p>
<p>D.    Alamat: Rungkut Asri III/12 Perum. YKP RL-I-C 17 Surabaya 60293</p>
<p>Telepon (031)8702759.  E-mail : <strong><a href="mailto:sbrata@yahoo.com">sbrata@yahoo.com</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.supartobrata.blogspot.com/">www.supartobrata.blogspot.com</a> </strong>dan <strong>www.supartobrata.com</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Karya tulis:</strong></p>
<p>A.    Menulis berita, feature, ulasan, artikel dan cerita fiksi sejak 1951, dimuat di Majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Indonesia, Kisah, Seni, Buku Kita, Sastra, Aneka, Vista, Sarinah, Kartini, Putri Indonesia, dan lain-lain. Juga di suratkabar: Surabaya Post, Harian Umum, Suara Rakjat, Pikiran Rakjat, Trompet Masyarakat, Jawa Pos, Sinar Harapan, Indonesia Raya, Kompas, Suara Karya, Republika. (Hampir semua yang pernah dimuat di majalah/suratkabar diklipping baik. Pernah difotocopy oleh Labrousse, Prancis, 1982).</p>
<p>B.    Menulis bahasa Jawa sejak 1958, dimuat di Panjebar Semangat, Mekar Sari, Jaya Baya,</p>
<p>Djaka Lodang, Jawa Anyar, Dharma Nyata.</p>
<p>C.    Menulis cerita pendek, novel, drama, naskah sinetron, buku sejarah, dalam bahasa Jawa</p>
<p>dan Indonesia (lihat daftar).</p>
<p>D.    Beberapa tulisan dikerjakan bersama dan dengan riset:</p>
<p>I.       Risalah/proses <strong>Hari Jadi Kota Surabaya.</strong> Bersama dengan Kolonel Laut Dokter</p>
<p>Sugiyarto Tirtoatmojo. Tim riset dan penulisan buku atas prakarsa dan dibiayai oleh</p>
<p>Pemda Tk.II Kotamadya Surabaya. 1975.</p>
<p>II.    Buku <strong>Master Plan Surabaya 2000,</strong> bersama Ir. Johan Silas. Tim diketuai oleh</p>
<p>Kolonel Imam Sudrajat, dibiayai oleh Pemda Tk.II Kotamadya Surabaya. 1976.</p>
<p>III  Menulis buku <strong>Pertempuran 10 November 1945, </strong>bersama Drs. Aminuddin Kasdi,</p>
<p>Drs. Soedjijo. Tim diprakarsai dan dibiayai oleh Panitia Pelestarian Nilai-nilai</p>
<p>Kepahlawanan 10 November 1945 di Surabaya, 1986, diketuai oleh Blegoh</p>
<p>Soemarto (Ketua DPRD Tk.I Jawa Timur).</p>
<p>IV. Menulis <strong>Sejarah Pers Jawa Timur,</strong> bersama Drs. Moechtar, Drs. Anshari Thoyib,</p>
<p>Soemijatno, Drs. Issatriadi. Diprakarsai dan dibiayai oleh Serikat Penerbit Surat</p>
<p>Kabar (SPS) Jawa Timur. 1987.</p>
<p>V.    Menulis <strong>Sejarah Panglima-panglima Brawijaya (1945-1990),</strong> bersama Drs.</p>
<p>Nurinhwa, Drs. Wawan Setiawan, Dr. Wuri Sudjatmiko. Prakarsa dan biaya oleh</p>
<p>LIPI Jakarta dan Kodam Brawijaya. 1988.</p>
<p><strong>Lain-lain:</strong></p>
<p>Namanya telah tercatat dalam buku <strong>Five Thousand Personalities of the World</strong></p>
<p>Sixth Edition, 1998, terbitan The American Biographical Institute, Inc, 5126</p>
<p>Bur Oak Circle, P.O.Box   31226, Raleigh, North   Carolina 27622 USA, dengan</p>
<p>teks sebagai berikut:</p>
<p><strong>BRATA, Suparto</strong> oc/Writer, ad/Jl. Rungkut Asri III/12 RL-I-C 17, Surabaya 60293</p>
<p>Indonesia, pa/Story Writer, Public Servant, 1971-1988, Freelance Journalist, 1967-72</p>
<p>Operator/Teleprinter Government Telegraph Office, 1952-1960, Government Commerce Office, PDN Djaya Bhakti 1960-1967, cw/Author, <em>Eye Witness </em>1995,<em> No Other Rice </em>1958, Co-Author,<em> The Histories of the Commanders Brawijaya Division </em>1988, <em>The History of the Press in East Java </em>1987,<em> The Battle of Surabaya on November 1945, </em>1986. Hon/Numerous Award for Publications.</p>
<p>Mendapat Hadiah Gubernur Jawa Timur (Sularso) 1993, sebagai seniman pengarang tradisional.</p>
<p>Mendapat Hadiah Rancagé 2000 sebagai jasanya mengembangkan sastra dan bahasa Jawa.</p>
<p>Mendapat Hadiah Rancagé 2001, karena telah membuktikan kreatifitasnya dalam sastra Jawa dengan terbitnya buku Trèm karangannya.</p>
<p>Mendapat Hadiah Rancagé 2005, karena terbitnya buku Donyane Wong Culika.</p>
<p>Mendapat Hadiah Gubernur Jawa Timur (Imam Utomo) 2002, sebagai seniman Jawa Timur (bersama 100 orang seniman lainnya).</p>
<p>Mendapat Hadiah dari Pusat Bahasa 2007 sebagai salah seorang dari tiga sasterawan Indonesia, dan ditunjuk sebagai penerima The SEA Write Award 2007 di Bangkok.</p>
<p>Menerima Penghargaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 2013 sebagai Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka dengan Katagori  Tokoh Media yang Peduli Terhadap Pengembangan Perpustakaan dan Kegemaran Membaca</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1266</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Riwayat Hidup Suparto Brata</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1262</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1262#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2016 21:17:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1262</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini saya temukan di Hardisk Bapak yang baru saja saya copy pada tanggal 21 Agustus 2016 dari Adik saya Neo Semeru Brata, yaitu sebuah pengantar untuk buku berjudul HARI JADI KOTA SURABAYA, 682 tahun Sura Ing Baya, barangkali bermanfaat bagi yang memerlukan. KATA PENGANTAR DARI PENGARANG Buku ini jelas buku sejarah Kota Surabaya. Tetapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini saya temukan di Hardisk Bapak yang baru saja saya copy pada tanggal 21 Agustus 2016 dari Adik saya Neo Semeru Brata, yaitu sebuah pengantar untuk buku berjudul <strong>HARI JADI KOTA SURABAYA, 682 tahun Sura Ing Baya</strong>, barangkali bermanfaat bagi yang memerlukan.</p>
<h2 style="text-align: center;">KATA PENGANTAR DARI PENGARANG</h2>
<p>Buku ini jelas buku sejarah Kota Surabaya. Tetapi bukan buku pelajaran sejarah dan bukan buku teks sejarah secara akademis yang menuntut pembuktian adanya situs, prasasti, artefak, dokumen dan semacamnya. Ini buku sejarah Kota Surabaya sebab yang ditulis adalah pengalaman hidup penulisnya, yaitu pengalaman hidup saya, Suparto Brata. Yang saya tulis adalah kesaksian saya, apa yang saya ingat, yang pernah saya rasakan, saya lihat, saya dengar, baik saya dengar sendiri maupun saya dengar dari cerita orang lain, dan juga ditambah pemikiran saya, pengetahuan saya dari membaca buku. Apa yang saya saksikan, saya dengar dan pemikiran saya tadi belum tentu benar menurut faktanya, mungkin hanya ilusi, dan mungkin sangat sepele, sangat tidak penting untuk diketahui pembaca, namun karena pernah <em>kecanthol </em>pada ingatan saya, maka terus saya tulis di buku ini. Penting dan tidak penting untuk orang lain, namun terus kuingat ketika menulis buku ini, dan tidak akan diketahui orang lain kalau tidak saya tulis. Jadi ya saya tulis saja. Dan itu fakta sejarah.</p>
<p>Jadi menulis buku ini sebenarnya saya mendongeng pengalaman saya hidup di Surabaya.</p>
<p>Karena saya menulis ingatan saya, menulis pemikiran saya, maka lebih sering saya menulis perincian sebab dan akibat sesuatu persoalan. Saya tulis apa yang saya lihat pada waktu awal dan saya uraikan apa selanjutnya yang saya lihat kemudian hari. Bentuk tulisan saya jadi cerita uraian sesuatu yang saya lihat awalnya sampai saya lihat akhirnya bagaimana. Jadi pada buku ini saya tidak bercerita secara kronologis kejadian yang saya lihat awal kehidupan saya dari waktu ke waktu, secara urut sampai akhir hidup saya ketika menulis buku ini, sebagaimana biasanya buku sejarah ditulis.</p>
<p>Meskipun begitu, saya menulis buku ini memang bertujuan menulis buku sejarah Kota Surabaya, di mana saya secara runtut hidup dari bocah dulu, lalu dewasa, lalu tua, lalu menulis buku ini. Maka seharusnya urut-urutan ceritanya juga harus begitu supaya pembaca juga bisa membayangkan bagaimana kejadian-kejadian di Kota Surabaya menurut kronologis waktunya. Tapi kalau saya tulis seperti itu, konteks sebab dan akibatnya jadi kurang jelas. Mungkin pembaca hanya tahu kejadian demi kejadian masa lampau begitu saja, tidak mempelajari atau menyimpulkan sejarah sebab dan akibatnya. Padahal buku sejarah tulisan saya ini sangat memberi kesan dan pesan soal sebab dan akibat yang terjadi, yaitu yang saya saksikan waktu dulu itu, akibatnya baru kentara saat sekarang karena saya menyaksikan juga kejadian atau keadaannya yang kemudian itu, dan baru sekarang bisa saya tulis. Dengan kesan dan pesan seperti itu, sekalipun itu hanya kesimpulan saya seorang, mungkin kesimpulan tadi tidak benar, namun selain pembaca tahu sejarah peristiwanya, dari sejarah sebab akibat tadi pembaca juga bisa mengambil manfaat untuk menyusun kehidupan di Surabaya masa yang akan datang. Akibat yang jelek, tolong dihindari untuk lelakon yang akan datang, akibat yang baik bolehlah ditiru demi perbaikan hidup di Surabaya masa depan. Betapa pun sejarah adalah peristiwa masa lalu, jadi pelajaran masa kini, untuk mengunstruksi kehidupan masa depan. Tanpa mengetahui sejarah masa lalu, orang mengunstruksi masa depan secara membabi buta, dan sangat mungkin melakukan lagi dan lagi kesalahan-kesalahan dan kegagalan hidup masa lampau. Melakukan berulang kesalahan perbaikan hidup berarti memperbaiki cara hidup yang sia-sia. Pasti bukan keinginan para pembaca yang akan menjalani hidup di Surabaya masa depan.</p>
<p>Menceritakan secara kronologis memang juga memperjelas waktu-waktu kejadian. Supaya gampang para pembaca mengingat kronologis kejadian yang saya alami di Surabaya, maka berikut saya sampaikan dulu riwayat hidup saya. Di situ saya catatkan tahun-tahun kehidupan saya, agar jelas kejadian yang saya tulis ini saya alami ketika apa, zaman apa dan suasananya bagaimana, tahun berapa.</p>
<p>Mudah-mudahan riwayat hidup secara kronologis di mana saya berada ini sangat menolong pembaca membayangkan yang terjadi di Surabaya dari tahun ke tahun secara kronologis juga. Dan itulah sejarah Kota Surabaya dari waktu ke waktu.</p>
<p>Saya mulai menulis cerita ini tahun 2011, menjelang peringatan hari jadi Kota Surabaya yang ke 718, 31 Mei 2011. Merupakan kegiatan saya untuk memperingati hari jadi kota kelahiranku Surabaya secara personal. Tapi oleh karena banyaknya kesibukan lain, penulisan ini tidak juga selesai-selesainya. Kalau kemudian terbit menjadi buku seperti ini, saya sangat berterima kasih kepada Penerbit, dan bersyukur Alhamdulillah. Semoga buku ini sangat berguna seperti apa yang saya amanatkan.</p>
<p>Sebenarnya, menulis cerita Surabaya Zaman Jepang begini sudah pernah saya lakukan pada bulan Mei 1983. Tulisan tadi dimuat bersambung di suratkabar Jawa Pos tanggal 30 Mei – 21 Juni 1983, selama 20 hari.  Seperti biasanya tulisan yang dimuat di koran tadi saya kliping. Aman jadi dokumen saya. Namun, pada tahun 2005, saya ingin merayakan hari jadi Kota Surabaya secara pribadi dari nurani saya. Cara merayakan hari jadi Kota Surabaya secara peribadi maupun bersama begitu sering saya lakukan. Biasanya berwujud tulisan, saya siarkan di suratkabar, atau malahan tulisan yang berwujud buku sebagai dokumen. Yang berwujud buku misalnya buku berjudul <strong>HARI JADI KOTA SURABAYA, 682 tahun Sura Ing Baya,</strong> saya kerjakan demi membantu tugas yang diemban Kolonel Laut Dokter Sugiyarto Tirtoatmojo dari Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya, 31 Mei 1975. Secara peribadi juga pernah saya buatkan novel untuk memperingati Hari Jadi Kota Surabaya, yaitu novel berjudul <strong><em>Saputangan Gambar Naga, </em></strong>(PT.Grasindo Jakarta, 2003) untuk memperingati 700 tahun Hari Jadi Kota Surabaya. Nah, tahun 2005, muncul keinginan tiba-tiba merayakan Hari Jadi Kota Surabaya. Tidak sempat menulis buku. Maka kliping koran Jawa Pos <strong><em>Surabaya Zaman Jepang</em></strong> saya gunting-gunting menjadi buku kecil, saya fotocopy sebanyak 10 jilid. Agar berupa buku, wajah sampulnya saya beri tulisan Katakana, di bawah saya tulisi EDISI SURABAYA USIA 713 TAHUN. Buku kecil tadi habis saya berikan kepada orang-orang atau pejabat yang saya kira berperhatian dengan sejarah Kota Surabaya.</p>
<p>Beberapa tahun selanjutnya perhatian saya pada hal-hal yang lain. Tahun 2010 saya baru sadar bahwa tulisan dokumen <strong><em>Surabaya Zaman Jepang </em></strong>yang pernah dimuat di Jawa Pos dulu sudah tidak ada lagi di kliping saya. Buku kecilnya juga sudah habis saya bagikan. Padahal saya sedang ingin menulis tentang Kota Surabaya yang saya ketahui sejarahnya. Saya sedang menulis <strong><em>Nama-nama Jalan Kota Surabaya 1942. </em></strong>Yaitu nama jalan sebelum Balatentara Dai Nippon datang di Surabaya. Nama-nama jalan yang dibuat oleh pemerintah <em>Gemeente Soerabaia</em> itu masih lengkap terpampang di setiap ujung potongan jalan yang saya saksikan pada zaman Jepang. Itu yang sedang saya tulis. Tapi jadi geragapan menyadari dokumen tulisanku <strong><em>Surabaya Zaman Jepang </em></strong>tidak saya miliki lagi. Maka penulisan buku <strong><em>Nama-nama Jalan Kota Surabaya 1942 </em></strong>saya hentikan, beralih menggali lagi dokumen <strong><em>Surabaya Zaman Jepang. </em></strong>Tetapi karena tidak mungkin lagi menulis secara urut seperti yang pernah saya tulis di Jawa Pos, maka penulisan baru <strong><em>Surabaya Zaman Jepang </em></strong>jadinya seperti buku ini. Saya tulis dengan banyak ingatan yang muncul, dan yang saya alami tahun-tahun selanjutnya, maka akhirnya saya putuskan bebas merdeka menulis apa saja yang teringat di benak saat menulis buku ini.</p>
<p>Namun, karena inspirasinya dari kehilangan dokumen <strong><em>Surabaya Zaman Jepang, </em></strong>maka buku ini tetap saya juduli <strong><em>Surabaya Zaman Jepang.</em></strong></p>
<p>Ada lagi alasannya mengapa saya juduli <strong><em>Surabaya Zaman Jepang. </em></strong>Sebab pada zaman Jepang tahun 1942 itulah saya kembali dan mulai menetap di Surabaya dalam umur yang cukup jelas mempunyai ingatan, pikiran, kesan kenangan dan sebagainya. Sangat indah kalau ditulis.</p>
<p>Mari, kita mulai menyemak riwayat hidup saya.</p>
<p>*</p>
<p><em>Riwayat para leluhurku.</em></p>
<p>Saya dilahirkan di Surabaya Plaza hari Sabtu Legi 19 Sawal 1862, tahun Jawa Jé, (1350 Hijriah), sama dengan 27 Februari 1932. (Tapi di KTP/ijazah tertulis 16 Oktober 1932, ngawur ketika untuk penulisan di ijazah SMP 1950). Waktu saya lahir tahun 1932, Surabaya Plaza masih merupakan Centrale Burgelijk Hospital (CBZ) atau Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP). Saya merupakan anak ke-8 dari pasangan Bapak-Ibu saya, R.Soeratman Bratatenaja – R.A.Djembawati (anak ke-8 berarti Bapak dan Ibu telah berjodohan setidaknya lebih dari 16 tahun), namun hanya anak nomer 4 (R.M.Soewondo) yang bertahan hidup. Anak yang lain meninggal ketika masih bayi. Sedang antara saya dengan anak nomer 4 jaraknya 10 tahun. Kakak lahir 1922.</p>
<p><em>Leluhurku dari pihak Bapak.</em></p>
<p>Pada waktu saya dilahirkan, Kakak saya disekolahkan di Rooms-Katholiek HIS di Semeroestraat di Malang, diasramakan dan dibeayai oleh kemenakan ayah bernama Saparas, yang merasa berhutangbudi kepada ayah; dengan begitu pembeayaan hidup Kakak tidak bergantung kepada ayah. Menurut cerita Ibu, tahun-tahun kelahiran Kakak adalah zaman jaya-jayanya pasangan Bapak dan Ibu. Bapak bekerja sebagai <em>keurmeester </em>atau ‘mantri kewan’ (1920-1924), yaitu pejabat pemeriksa kesehatan hewan yang mau disembelih, gajinya dari pemerintah besar. Bapak dan Ibu menempati rumah besar di Jalan Jasem Sidoarjo. Selain Ibu, di rumah Jasem Bapak juga menanggung hidup ibunya (Eyang Putri), tiga orang adik-adiknya (Paklik Suyit, Bulik Sri, Paklik Har), seorang kemenakannya (Mas Saparas) yang sudah dewasa. Mas Saparas ini putera dari mbakyunya Bapak, bernama R.A.Wiryopuspito (Budhe Pus).</p>
<p>Waktu itu (1922-an) Budhe Pus mengikuti suaminya hidup di Krapyak, Pasar Kebo, Sragen. Rumah di Pasar Kebo ini saya dan Ibu  pada tahun 1937-1941 bertempattinggal.</p>
<p>Saudara Bapak yang tidak ikut Bapak (1922-an) selain Budhe Pus, ada lagi Bulik Tiyah, adik Bapak. Bulik Tiyah menikah dan ikut suaminya seorang bangsawan (Ndara Bei) di Kauman Solo. Anaknya Bulik Tiyah, Ndrajeng Ties, oleh Ndara Bei dikawinkan dengan seorang laki-laki tua tetapi kaya, berumah di Kemlayan Solo. Tahun 1950 nanti saya dan Ibu pernah mondok di Kemlayan situ.</p>
<p>Selain Budhe Pus dan Ndrajeng Ties yang nanti penting dalam hidup saya adalah Bulik Sri. Bulik Sri yang ketika perawannya ikut Bapak di Jasem Sidoarjo kemudian bekerja jadi perawat di CBZ (Rumah Sakit Simpang Surabaya), ketemu jodohnya, yaitu Raden Mas Wibisono yang sedang praktek jadi dokter muda. Perjodohan ini kemudian berhasil membuat rumah cukup besar di Gresikan gang 2 nomer 23 Surabaya. Baik Paklik Wibisono maupun rumah Gresikan gang 2 nomer 23 Surabaya ini akan menggores kehidupan saya yang saya tulis di buku ini.</p>
<p>Keluarga Bapak di Jasem Sidoarjo (1920-1924) dikerubuti oleh keluarga dari Bapak. Mereka itu manja. Ibunya Bapak (Eyang Putri) yang ikut berumah di Jasem Sidoarjo banyak permintaan untuk membeayai keluarganya. Sedang Ibuku tersisih dan tertindih di antara keluarga pihak Bapak tadi. Misalnya untuk merayakan pernikahan Bulik Sri (1921), Paklik Suyit minta dibelikan mobil untuk mengangkuti para tamu dari Solo ke Surabaya. Dituruti oleh Bapak. Kata Ibu mobil tadi minta beaya banyak, karena Paklik Suyit tidak tahu tehnik mengoperasikan mobilnya. Eyang Putri minta agar Bapak membeayai seorang kemenakannya (Mas Saparas = cucu Eyang Putri) disekolahkan jadi dokter. Karena pembeayaan keluarga berat, Bapak memakai uang jawatannya. Maka Bapak dipecat dari pekerjaannya. Jatuh miskin. Kemenakan (Mas Saparas) yang disekolahkan jadi dokter tidak bisa melanjutkan studynya. Kemenakan ini gagal jadi dokter. Tapi berhasil bekerja jadi sipir penjara besar di Sragen (kota orangtuanya, Budhe Pus). Masih jejaka kedudukan Mas Saparas jadi sipir bui cukup tinggi, dapat rumah dinas, kaya. Karena merasa berhutangbudi disekolahkan Bapak sampai tingkat mahasiswa, tahu Bapak jatuh miskin, Mas Saparas lalu ganti membeayai Kakak (R.M.Soewondo) bersekolah. Kakak diasramakan di Sekolah Katholik di Malang selama 10 tahun (1930-1940), yaitu sejak kelas satu HIS (setingkat SD, 7 tahun tamat) hingga lulus MULO (setingkat SMP, 3 tahun tamat).</p>
<p>Kakak R.M.Soewondo lulus MULO tahun 1941. Keluar asrama sekolah di Malang, Kakak ikut buliknya (Bulik Sri, adik Bapak yang sudah menikah dengan R.M.Wibisono berumah di Gersikan gang 2 nomer 23) di Surabaya, dan dikursuskan tehnik radio tetap dibeayai oleh Mas Saparas. Selesai kursus setahun dapat ijazah, Kakak R.M.Soewondo dapat pekerjaan di Marine Ujung Tanjungperak, tempat pangkalan Angkatan Laut Belanda di Surabaya. Bekerja belum lama di bagian radionya kapal-kapal, Jepang datang mendarat di Surabaya. Kakak masih tetap dipakai sebagai pekerja di Marine Ujung Tanjungperak, meskipun kepemilikannya jadi punya <em>Kaigun,</em> Angkatan Laut Jepang (1942-1945). Tapi tahun 1944 Kakak keluar dari Marine Ujung, pindah bekerja pada Jawa Denki Jigyo-sya (jawatan listrik) di Gemblongan Surabaya.</p>
<p>Waktu saya lahir di Surabaya 1932, Bapak sedang tidak punya pekerjaan, tidak punya tempat tinggal tetap, dan hidup mencari pekerjaan di sekitar daerah Gupermen (pemerintahan Belanda) di Jawa Timur.</p>
<p><em>Leluhurku dari pihak Ibu.</em></p>
<p>Karena Bapak tidak punya pekerjaan, maka Ibu membawa saya yang masih bayi umur 6 bulan ‘pulang’ ke rumah besar (istana) Gusti Kanjeng Pangeran Hario Djajadiningrat di Gajahan Surakarta Hadiningrat. Waktu kanak-kanak dulu Ibu hidup di situ ikut Buliknya, yaitu isteri GKPH Djajadiningrat. R.Ay.Djajadiningrat adalah adik Nenekku (R.Ay.Projosuwarno). R.Ay.Djajadiningrat dan Nenek R.Ay.Projosuwarno adalah putera-putera dari GKPH Kusumabrata II, istananya juga di Gajahan Solo, tapi sebelah timur dekat Alun-alun Kidul. Sedang istana GKPH Djajadiningrat di Gajahan sebelah barat.</p>
<p>Nenek R.Ayu.Projosuwarno menikah dua kali. Yang pertama dengan Eyang Wirasaraya punya rumah di Kedunglumbu Solo. Lahir seorang anak perempuan, yaitu Ibuku. Berpisah dengan Eyang Wirasaraya, Eyang putri menikah dengan R.M.Projosuwarno. Dan Ibuku sejak kecil dititipkan pada Buliknya hidup bermain sampai dewasa di istana  GKPH.Djajadiningrat.</p>
<p><em>Tahun 1932-1937 saya ikut Ibu di Istana Djajadiningratan.</em></p>
<p>Karena Bapak tidak punya pekerjaan dan tempattinggal tetap di Surabaya, maka Ibu memutuskan pulang ke Solo, ke istana GKPH Djajadiningrat di mana sewaktu kecil hingga perawan Ibu hidup berbahagia berkumpul sesama keluarga besar seleluhur. Tapi Ibu kini ‘pulang’ ke sana bawa bayi, Ibu bukan kanak-kanak lagi. Teman sepermainan Ibu juga sudah dewasa dan tidak di sana lagi. Di rumah besar itu, Ibu dan saya (bayi umur 6 bulan) hanya menumpang tempat saja. Artinya bisa dapat kamar tempat tinggal, tidak usah menyewa, karena masih keluarga seleluhur. Sandang pangan harus cari sendiri. Kebetulan Ibu mendapat harta warisan dari Kakek (R.M.Ng.Wirasaraya). Menurut cerita Ibu, Kakek R.M.Ng. Wirasaraya dan Nenek R.Ay. Projosuwarno sudah berpisah cerai sejak Ibu masih bocah, makanya Ibu sewaktu bocah ikut Buliknya di Djajaningratan, terpisah dari Kakek yang hidup berumah di Kedunglumbu Solo. Warisan Ibu didapat dari Kakek R.M.Ng.Wirasaraya. Selain barang-barang rumah tangga seperti bokor, almari, dan sebagainya, rumah dan pekarangannya di Kedunglumbu Solo itu juga diwariskan kepada Ibu dan adik tiri Ibu, yaitu Bulik Doeri Darmosaroyo. Putera Kakek R.M.Ng. Wirasaraya memang hanya dua orang puteri itu.</p>
<p>Ibu sejak kecil diperlakukan sebagai puteri bangsawan di istana Djajadiningratan, tidak punya keterampilan untuk hidup mandiri. Ketika ‘pulang’ ke istana Djajadiningratan (1932) membawa saya, bayi umur 6 bulan juga tidak dapat bekerja yang mendapatkan penghasilan apa-apa. Maka hidup membesarkan saya sejak bayi hanya dengan menjuali barang-barang warisan yang Ibu peroleh dari Kakek Wirasaraya. Tentu saja harta warisan itu akhirnya habis.</p>
<p>Dalam usaha membesarkan saya seorang diri, Ibu selalu berusaha mendekati untuk bersatu kembali dengan Bapak. Berkali-kali pada zaman Belanda saya diajak Ibu meninjau ke Surabaya, ke tempat-tempat keluarga atau bekas kenalan, termasuk ke kampung Jasem Sidoarjo di mana Bapak-Ibu pernah hidup berjaya. Semua peninjauan itu dengan maksud untuk bergabung kembali membangun kehidupan rumah-tangga bersama Bapak. Namun tidak berhasil.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Tahun 1937-1941 saya ikut Ibu berumah sendiri di Pasar Kebo Sragen.</em></p>
<p>Sebelum harta warisan dari Kakek habis, Ibu mendekat kepada Budhe Pus di Sragen, di mana Mas Saparas (putranya Budhe Pus) yang masih bujang punya kedudukan tinggi sebagai sipir di Rumah Penjara Besar di Sragen. Ibu keluar dari istana Pangeran Djajaningratan pindah menempati rumah Budhe Pus di Kampung Pasar Kebo di Sragen 1937. Waktu itu saya sudah umur 5 tahun. Rumah Budhe Pus di Pasar Kebo Sragen adalah rumah tembok satu-satunya di desa Krapyak Sragen waktu itu. Ibu dan saya menempati rumah tembok itu berdua saja, sebab Budhe Pus ikut menempati rumah dinas Mas Saparas di daerah sekitar Rumah Penjara Besar Sragen. Untuk pendekatan yang kekal terhadap keluarga Bapak, Ibu bahkan menjual tanah dan rumah warisannya di Kedunglumbu Solo kepada adiknya Bulik Doeri Darmosaroyo, uangnya dibelikan rumah dan pekarangan tetangga samping rumah Budhe Pus di Kampung Pasar Kebo di Sragen. Dengan memiliki rumah dan pekarangan di situ, maka Ibu akan selalu dekat dengan Budhe Pus (iparnya). Ibu dan saya tetap menempati rumah tembok milik Budhe Pus, sedang rumah-rumah di pekarangan baru milik Ibu disewakan kepada orang-orang yang membutuhkan. Rumah-rumah gedeg dipetak-petak, sewanya amat murah, tiap petak dua sen per hari.</p>
<p>Namun usaha Ibu mendekati keluarga Bapak dengan cara itu juga sia-sia. Sebab tahun 1940 Mas Saparas dipindah pekerjaan jadi sipir di penjara di Kota Pati. Budhe Pus ikut pindah ke Pati. Ibu dan saya tetap tertinggal berumah tembok milik Mas Saparas di Krapyak, Pasar Kebo, Sragen. Berduan saja. Ibu tidak punya penghasilan lain selain menjuali barang warisan dari Kakek. Hasil persewaan rumah gedeg tidak mungkin untuk menghidupi kami. Sedang saya sudah bersekolah, di Sekolah Angka Loro di Sragen Wetan. Tahun 1940 ketika Mas Saparas pindah ke Pati, saya sudah kelas 3. Tentu saja Ibu panik dengan keadaan seperti itu. Seorang putri bangsawan hidup berdua saja dengan anaknya umur 8 tahun di desa, tanpa penghasilan! Mau usaha apa, agar tidak meninggalkan Sragen? Sebab harta warisannya berupa pekarangan ada di Sragen, dan saya sudah terlanjur bersekolah Angka Loro (sekolah yang paling rendah zaman itu) di Sragen. Untuk memperpanjang hidupnya karena barang-barang peninggalan Kakek kian menipis, Ibu menggadaikan kain-kain batik miliknya, dan hutang uang kepada Cina Mindring, dan mencoba membuka warung pecel di rumah sendiri. Banyak kerabat Ibu yang mencela, putri bangsawan kok jualan nasi pecel! Dan memang usaha Ibu tidak jalan.</p>
<p>Selama 1937-1941 itu saya hidup sangat bebas bermain sebagai bocah desa umur 5-9 tahun: bermain layangan seharian, mencari cengkerik malam hari, adu cengkerik siang hari, makan tebu di sawah, mandi di sungai, ikut menggembala kambing, mendengarkan omongan cabul, diadu berkelahi sesama teman. Bebas bas bermain keluar rumah. Ibu tertinggal sendiri di rumah, tidak bisa melarang kebebasan saya. Tapi pagi hari masuk sekolah, pasti saya jalani.</p>
<p>Dalam usaha Ibu yang gagal mendapatkan penghasilan dan gagal mendekati keluarga Bapak, menjalani hidup kesendirian di desa begitu sangat rentan. Tidak ada kerabat yang mau menolong. Maka akhirnya Ibu melamar pekerjaan jadi <em>batur </em>(pembantu rumah tangga) pada Bupati Sragen, Mr. Raden Mas Tumenggung Ario Wongsonagoro. Diterima oleh isteri Ndara Bupati. Dan amanlah kehidupan kami berdua. Menjadi <em>batur</em>, kami berdua mendapat penginapan di rumah Bupati, tidak sendirian berdua saja di pekarangan desa, dan juga dapat makan kenyang.</p>
<p><em>Tahun 1941-1942 saya ikut Ibu menjadi </em>batur<em> di rumah Bupati Sragen.</em></p>
<p>Sebelumnya Ibu tidak kenal sama sekali dengan keluarga Bupati Sragen itu. Ibu diterima sebagai emban (pengasuh khusus) putri Bupati yang sudah remaja (anak nomer 4), Raden Ajeng Sridanarti, sedang saya menjadi pengasuh putranya yang bernama Raden Mas Tripomo (anak nomer 6). Sridanarti sudah sekolah di MULO <em>(Meer Uitgebreid Lager Onderwijs,</em> perguruan yang lebih berkembang dari sekolah rendah = SMP) di Solo karena di Sragen belum ada MULO, berangkat pagi pulang sore naik keretaapi. Ibu tetap di rumah Bupati. Sedang adik-adiknya masih sekolah di ELS <em>(Europeesche Lagere School </em>= sekolah rendah untuk bangsa Eropa) di Sragen.</p>
<p><em>Batur </em>terjemahan sesungguhnya adalah <em>budak. </em>Tapi mengikuti zaman sekarang lebih diperhalus menjadi <em>‘pembantu rumah tangga’ </em>disingkat PRT. Hidup jadi <em>batur </em>sebenarnya memang jadi <em>budak. </em>Kemerdekaannya betul-betul ditindas oleh majikannya. Apa segala perintah majikannya harus dituruti. Itu yang terjadi awal mula saya jadi <em>batur </em>Raden Mas Tripomo. Merdeka hanya waktu belajar ke sekolah, saya sekolah di sekolah Angka Loro Sragen Wetan, beliau sekolah di ELS tengah kota, pulang sekolah saya harus ikut ke mana saja R.M.Tripomo bergerak. Ya main layang-layang, belajar sepeda, berkelahi, saya harus ikut dan membela R.M.Tripomo. Tapi hak saya ikut main tidak ada. Belajar sepeda ya hanya suruh mendorong saja. Saya jadi tidak kerasan. Maka tiap kali berangkat sekolah, saya atidak pulang ke rumah bupati. Saya melanjutkan bermain di kampung lama, Pasar Kebo. Di sana ketemu lagi dengan teman-teman lama, bermain bebas. Senang sekali. Satu hal yang tidak kudapat. Ibu tidak ada di rumah Pasar Kebo, jadi juga tidak ada yang beri saya makan. Seharian bermain di Pasar Kebo saya tidak makan. Baru berani pulang ke rumah bupati, kalau kira-kira R.M.Tripomo sudah tidur. Seringkali saya pulang setelah malam hari. Berjalan sendiri di malam gelap dari Pasar Kebo ke rumah bupati. Sebenarnya saya juga takut gelap, takut jadi-jadian seperti cerita orang, takut penyamun. Tapi ya harus saya lakoni, supaya saya bisa bertemu Ibu dan tidur di dekat Ibu. Lewat depan rumah yang dijaga oleh polisi, pasti ditegur, anak umur 8 tahun seorang diri masuk rumah bupati. Bertemu Ibu, Ibu pasti menyiapkan makanan. Makanan sisa-sisa makanan keluarga Sang Bupati. Meskipun namanya sisa-sisa, tapi enak dan bergizi. Ada mi, daging, nasi putih, buah. Lebih mewah daripada kalau yang masak Ibu di Pasar Kebo dulu.</p>
<p>Kurang beruntungnya saya hidup bebas begitu, saya jatuh sakit. Sakit malaria tropika. Pagi hari terasa sehat-sehat saja, berangkat sekolah, jam 10 setelah istirahat pertama, badan merasa demam amat sangat. Seringkali harus disuruh pulang oleh Pak Guru. Kalau sudah demam begitu seringkali apa yang sudah saya makan pagi itu keluar dari mulut. Tumpah di kelas. Saya langsung disuruh pulang. Sering juga selama pelajaran sekolah tidak demam. Pulang sekolah saya pun bermain ke Pasar Kebo. Main di sana tiba-tiba demam. Saya pun tidur di emper rumah teman saya. Sampai demamnya berakhir. Atau malam hari tiba, saya dengan masih merasa demam harus pulang ke rumah bupati. Akhirnya saya tidak kuat lagi, tidak pergi ke sekolah, tidur saja di mana Ibu bisa menemani saya. Akhirnya saya sembuh juga, dan terbebas dari perbudakan R.M.Tripomo. Saya bebas bermain apa saja di rumah bupati, tidak lagi harus mengikuti R.M.Tripomo. Saya ikut belajar menari dan menabuh gamelan. Bergaul dengan putra-putri bupati yang lain juga bebas. Tapi jadi istimewa bergaul dengan Raden Ajeng Tanti, mbakyunya R.M.Tripomo. Istimewanya beliau suka sekali membaca buku, dan saya disuruh mendengarkannya. Semula memang dibacakan untuk didengarkan anak-anak yang lain juga, tetapi kemudian hanya saya yang suka mendengarkan cerita buku yang dibacanya. Banyak sekali buku bahasa Jawa tulisan latin yang saya sewa dari perpustakaan sekolah maupun swasta yang kami nikmati berdua untuk membacanya. Peristiwa pembacaan buku itu menjadi salah satu pergerakan jiwa saya untuk menyenangi membaca buku. Suasana itulah gerakan jiwa saya awal mulanya.</p>
<p>Selain merasakan perbudakaan, sakit malaria tropika yang sangat payah, kegairahan membacai buku, ada lagi yang mengubah kejiwaan saya, yaitu datangnya Balatentara Dai Nippon ke Indonesia. Perang terjadi. Mr.Wongsonegoro sebagai cendikiawan tentu saja semula melawan kedatangan Dai Nippon. Kedudukan beliau dipersoalkan. Akhirnya bahkan beliau diangkat jadi Fuku Syutjokan (wakil residen) di Semarang. Saya dan para keluarga Sang Bupati merasakan benar bagaimana kerasnya pemerintahan Balatentara Dai Nippon awal mula di Sragen.</p>
<p>Pindah ke Semarang ikut keluarga Mr.Wongsonegoro Ibu tidak mau. Ingin mendekat lagi kepada Bapak. Hidup sendiri di Sragen tidak mungkin lagi. Maka diputuskan pergi saja ke Surabaya. Di Surabaya Ibu melamar jadi PRT keponakannya, yaitu Raden Ayu Sarwosri. R.Ay.Sarwosri adalah istri Mas Suharto Suryohartono, waktu itu rumahnya di van Stipriaan Luciusstraat 31 Surabaya, sedang melahirkan putra ke 3 laki-laki, dinamai Kusno Hartowo. Ibu menjadi pengasuh bayi tadi. Saya ikut Ibu pindah ke Surabaya, sekolahku pun dipindah ke Sekolah Rakyat di Jalan Mundu, sekolah dengan nama <em>Kokumin Gakkõ </em>di Moendoeweg Surabaya. Dari sinilah nanti saya memulai cerita tentang Surabaya pada zaman Jepang (1942-1945). Pada waktu itu kakak saya R.M.Soewondo sudah bekerja di Marine Ujung, pondok di rumah Bulik Sri, Gersikan gang 2 nomer 23 Surabaya. Bapak tidak di Surabaya, konon menjadi penjaga tambak milik Kaji Umar di Sidoarjo. Bapak sudah kawin lagi dengan perempuan di desa sana. Pendekatan Ibu tampaknya sia-sia. Tapi Ibu sudah punya harapan bisa hidup dengan kakak R.M.Soewondo kelak kemudian hari.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Tahun 1942 saya ikut Ibu menjadi PRT di van Stipriaan Luciusstraat 31 Surabaya.</em></p>
<p>Tahun 1942 Jepang mendarat di Pulau Jawa. Ibu mengajak saya pindah ke Surabaya, mengabdi pada keponakannya Raden Ayu Sarwosri (cucu Pangeran Djajadiningrat) yang sudah menikah dengan Raden Suharto Suryohartono. Mas Suharto bekerja sebagai sekretaris Kabupaten Surabaya, kantornya di Gentengkali, rumahnya di Van Stipriaan Luciusstraat nomer 31 Surabaya.</p>
<p><em>Tahun 1944-1945 saya mondhok di rumah Pak Broto di Karangmenjangan Surabaya.</em></p>
<p>Mas Suharto Suryohartono akhir tahun 1944 diangkat jadi Wedono di Krian, bersama keluarganya pindah ke Krian. Ibu tetap ikut ke Krian. Saya dan Mas Darkiman mondok di kerabat Solo, Ibu Subroto, di Kampung Karangmenjangan, sebelah timur dari gedung Rumah Sakit Karangmenjangan. Saya melanjutkan sekolah di Canalaan 121, tiap hari pergi-pulang sekolah berjalan kaki, kaki telanjang. Sementara itu kakak R.M.Soewondo pindah pekerjaan. Keluar dari Marine Ujung Surabaya, pindah bekerja di Jawa Denki Jigyo-sya, perusahaan Listrik di Gemblongan Surabaya.</p>
<p><em>Tahun 1945-1947 saya, Ibu dan kakak R.M.Soewondo mengungsi di Probolinggo.</em></p>
<p>Pada Perang 10 November 1945, dalam ancaman hujan peluru dari darat, laut dan udara, berbondong-bondong orang Surabaya lari mengungsi keluar kota, dengan membawa barang sekuatnya dan sebisanya. Bingung, tujuannya tidak menentu, asal segera keluar dari Kota Surabaya saja terlepas dari ancaman maut ultimatum Komandan Pasukan Sekutu di Jawa Timur, Mayor Jendral E.C.Mansergh. Dalam keadaan seperti itu saya bersama Ibu dan Kakak R.M.Soewondo, bertiga lari mengungsi ke Probolinggo. Sekilas ada niatan juga mendekati tempat Bapak berada. Konon Bapak bekerja di pabrik karung Asko di Probolinggo pimpinan Bapak Mochammad Saleh, mantan kenalan Bapak-Ibu ketika dulu hidup berjaya. Kakak R.M.Soewondo oleh jawatannya (Listrik Gemblongan) pernah ditugaskan di Probolinggo, dan ketemu Bapak. Maka ketika ribut-ribut mengungsi keluar dari Surabaya Ibu, Kakak, dan saya menuju ke Probolinggo. Ketika kami datang di Probolinggo ternyata Bapak sudah meninggal dunia. Probolinggo kota sangat asing bagi kami bertiga. Kami mengungsi tidak punya tujuan lain, maka kami diizini Pak Moch.Saleh menempati bekas rumah Bapak, di Kampung Mangunharjo dekat pabrik karung Asko tempat Bapak bekerja dulu. Kami bertiga membentuk keluarga sendiri. Kakak mendapatkan pekerjaan di Djawatan Listrik &amp; Gas, Ibu menjadi jurumasak di rumah, dan saya membantu-bantu di rumah sambil meneruskan sekolah. Kami mengungsi di Probolinggo 1945-1947, saya bersekolah dari kelas VI SR, sampai naik kelas II SMP.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Tahun 1947-1949 saya lari ke Sragen, lepas dari pendudukan tentara Belanda.</em></p>
<p>Ketika Belanda menyerbu kota-kota di daerah Jawa Timur Juli 1947, keluarga saya bubar. Kakak meninggalkan rumah kami di Probolinggo Kampung Mangunharjo pergi ke Surabaya entah di mana (takut sama pendudukan tentara Belanda), Ibu pergi ke Jasem Sidoarjo ikut membantu Haji Rokhayah yang mengusahakan makanan juadah iyas. Haji Rokhayah kenalan lama Ibu ketika masih jaya di Sidoarjo dulu. Tidak mungkin saya ikut Ibu. Saya mengembara ke pedalaman (tidak mau hidup di daerah penjajahan Belanda) sampai di Sragen dan Solo.</p>
<p><em>Tahun 1949 saya ke Surabaya, bersama Ibu dan kakak di Gresikan 2/23 Surabaya.</em></p>
<p>Baru kemudian tahun 1949 saya kembali ke Surabaya ketika Yogyakarta sebagai Ibu-Kota Republik Indonesia telah diduduki oleh tentara Kerajaan Belanda (19 Desember 1948). Saya berkumpul lagi dengan Kakak dan Ibu, dan membentuk rumah tangga bertiga lagi. Kami menempati rumah Paklik Wibisono di Gersikan II nomer 23. Rumah itu kosong ditinggal mengungsi sekeluarga ke Madiun. Kosong ditinggal ngungsi rumah tadi dalam keadaan pintu-pintu serta kusennya sudah hilang, pekarangannya ditumbuhi ilalang. Ilalang saya babat, pintu-pintu kami carikan tutupnya. Pagar sekeliling pekarangan kami bangun.</p>
<p>Keadaan kami seperti waktu di Probolinggo. Kakak R.M.Soewondo bekerja di pabrik radio PT.Philips di Ngagel. Ibu juru masak di rumah. Saya semula menganggur, tapi kemudian bisa masuk sekolah di Middelbare School (setingkat SMP) di Jalan Kalianyar Wetan. Sekarang gedungnya jadi Sekolah Petra. Dalam waktu setahun itu (1949-1950) gedung sekolah saya berpindah dua kali, pertama pindah ke Polackstraat (Sulung Sekolahan, gedung sekolah saya sekarang jadi bangunan masjid Kantor Gubernur), dan pindah lagi ke Tempelstraat (Jalan Kepanjen). Tahun 1950 namanya diubah jadi SMPN 2 Jalan Kepanjen 1 Surabaya.</p>
<p>Kemudian ketika keluarga Paklik Wibisono datang tahun 1950, keluarga saya (Ibu dan kakak) bubar lagi. Kakak dikirim study oleh PT.Philips ke Eindhoven Negeri Belanda selama 6 tahun. Karena rumah Gersikan sudah kembali ke pemiliknya, maka Ibu yang menganggur tak punya penghasilan lebih baik pergi dari rumah itu, dan paling bisa ya mencari kehidupan kembali ke keluarga besar bangsawan Surakarta di Solo. Sudah berumur 18 tahun belum lulus SMP, maka saya memaksa diri meneruskan sekolah di Surabaya hingga lulus. Banyak teman yang seusia saya bertahan bersekolah di SMPN 2 Surabaya situ 1950 seperti saya.</p>
<p>Saya boleh tetap tidur di Gersikan, tapi beaya hidup harus saya tanggung sendiri. Kebetulan waktu itu saya berkenalan dengan teman sesekolah yang rumahnya di Setro, pagi-pagi sebelum masuk sekolah mengedarkan koran Jawa Pos yang pabriknya di Kembang Jepun. Semula sering berangkat dan pulang bersama ke sekolah. Namanya Muslimin. Saya diajak Muslimin ikut jadi loper koran Jawa Pos. Saya mau. Mendapat jatah mengedarkan koran Jawa Pos di daerah Ampel. Hasil jadi loper itulah yang saya gunakan untuk membeayai hidup saya selama meneruskan bersekolah di SMPN 2 Jalan Kepanjen Surabaya tahun 1950.</p>
<p>Karena keadaan perang begitu, sekolah saya terhambat-hambat. Waktu kembali ke Surabaya 1949 sempat tidak bersekolah, tapi akhirnya bersekolah di Middelbare School di Polackstraat, lalu sekolahnya dipindah ke Tempelstraat, sekolah mana kemudian menjadi SMPN 2 Surabaya. Saya lulusan pertama sekolah di SMPN 2 Jl. Kepanjen Surabaya 1950, bersama Kadaruslan (terkenal dengan nama Cak Kadar, yang tahun  2005-2011 memimpin Pusura), Wardiman Djojonegoro, yang kemudian hari pernah jadi Menteri Pendidikan Indonesia.</p>
<p><em>Tahun 1950-1952 saya berusaha ikut Ibu kembali di Solo.</em></p>
<p>Tahun 1950 saya lulus SMPN 2 Jalan Kepanjen Surabaya, masuk ke SMAN 2 Kompleks Wijayakusuma. Saya masih boleh mondok di rumah Paklik Wibisono di Gresikan, tapi harus mencari kehidupan sendiri. Termasuk pembayaran sekolah. Pelajaran sekolah maupun pembeayaan sekolah sangat berat bagi saya. Tidak bisa lagi saya menjadi loper koran. Selain mengerjakannya membutuhkan waktu hingga mengganggu waktu belajarku, juga hasilnya tidak mungkin untuk membeayai hidupku, termasuk membayar sekolah. Karena kesulitan hidup, akhirnya saya putuskan saya menyusul Ibu saja hidup di Solo. Hidup bersama Ibu mungkin lebih baik keadaannya. Belum cukup setahun saya bersekolah di SMAN 2 Kompleks Wijayakusuma Surabaaya, saya minta pindah ke Solo.</p>
<p>Di Solo saya sempat tidak bisa bersekolah, karena kepindahan saya pada pertengahan tahun ajaran. Sekolah-sekolah SMA sudah penuh. Ternyata kehidupan Ibu di Solo juga sangat tidak memadai. Tidak punya rumah sendiri, terpaksa mondok-mondok ke tempat saudara. Penghasilan Ibu hanya diperoleh karena buruh membatik. Itupun karena Ibu sudah tua, membatiknya dibawa ke rumah. Penghasilannya sangat minim.</p>
<p>Tahun ajaran baru 1951 saya baru dapat bersekolah di SMAK di Nonongan yang dibuka baru. Sekolah ini kemudian bernama SMAK St.Joseph. Saya bisa mengikuti pelajaran dengan senang hati. Namun pembayaran sekolah saya tetap tidak bisa lancar, karena penghasilan Ibu tidak memadai. Akhirnya saya memutuskan diri minta pindah sekolah Katholiek di Surabaya, tetapi tujuan utama saya pindah ke Surabaya mencari kehidupan atau pekerjaan. Mencari pekerjaan di Surabaya lebih gampang daripada di Solo.</p>
<p>Ikut Ibu di Solo  tidak punya pekerjaan yang memadai, maka saya kembali ke Surabaya, mencari pekerjaan, 1951.</p>
<p><em>Sejak tahun 1951 dan selanjutnya saya bertempat tinggal di Surabaya.</em></p>
<p>Ditolong oleh Paklik Wibisono bekerja di Rumah Sakit Kelamin di Jalan Dr.Soetomo Surabaya, saya cari rumah pondokan gratis di rumah Pak Kir Jalan Jasem 19 Sidoarjo. Berangkat dan pulang bekerja mengayuh sepeda dari Jasem Sidoarjo ke Jalan Dr.Soetomo Surabaya.</p>
<p>Saya tidak kerasan dengan pekerjaan saya, terutama karena tidak ada mesin ketik di kantor, maka ketika ada iklan membutuhkan operator teleprinter yang harus dikursus dulu selama satu tahun, saya melamarnya dan berhasil pada pekerjaan itu. Bekerja sebagai operator teleprinter Kantor Telegrap Surabaya sejak tahun 1952-1960. Saya mencari pondokan berpindah-pindah di Kota Surabaya sejak itu.</p>
<p><em>Tahun 1960-1967 saya pindah pekerjaan dari Kantor Telegrap ke Perusahaan Dagang Negara Jaya Bhakti, </em>bekas perusahaan Belanda yang dinasionalisasi 1957. Tahun 1962 saya menikah dengan Rara Ariyati, juga karyawan PDN Jaya Bhakti.  Tahun 1967 Direktur Utamanya Bp. Soehardiman, menyuruh semua karyawan PDN Jaya Bhakti harus jadi anggota Golkar. Saya dan istri tidak mau, jadi keluar dari pekerjaan.</p>
<p><em>Tahun 1967 saya mengarang buku diterbitkan oleh Kho Ping Hoo di Solo.</em></p>
<p>Dan berusaha dagang kapok, kulak di Surabaya (PT Kapok) dijual ke Bandung.</p>
<p><em>Tahun 1969-1988 saya menjadi pegawai Pemkot Surabaya, sampai pensiun.</em></p>
<p>Berbagai pekerjaan telah saya tempuh: menjadi operator teleprinter, pegawai Perusahaan Dagang Negara, pedagang kapok, pengarang roman, wartawan <em>freelancer,</em> pegawai pemkot, pensiun 1988. Sepanjang kurun waktu itu saya juga menikah, punya anak, membesarkan anak, membangun rumah dan seterusnya, saya tetap bertempat tinggal di Surabaya.</p>
<p>Menjalani hidup dengan beraneka zaman geger seperti itu menjadi suatu pengalaman yang indah ketika saya menjalani hidup pada waktu ini. Sejak isteri saya meninggal dunia 2002, saya sebagai kepala keluarga sudah selesai, anak-anak saya empat orang sudah punya jodoh, punya anak, punya pekerjaan, tempat tinggal, dan hidup masing-masing mandiri, tidak saling tergantung kepada sesama saudara. Namun oleh Gusti Allah saya masih Diberi tiga anugerah utama istimewa, yaitu (1) <strong>Hidup sehat,</strong> (2) <strong>Bebas memilih,</strong> tidak dipenjara, tidak tergantung pada instansi/orang lain, (3) <strong>Diberi kemampuan membaca buku dan menulis buku.</strong> Ketiga anugerah utama tadi saya anggap amanah, yang harus saya ibadahkan, dan sebagai barkah. Maka sisa-sisa hidup saya saya gunakan untuk melaksanakan amanah Allah tadi. Salah satunya sisa waktu hidup saya ini saya manfaatkan untuk menulis buku. Menulis buku antara lain tentang kenangan hidup saya yang mengalami pancaroba peralihan zaman yang dahsyat karena melampaui Perang Dunia II, namun dengan Kehendak Allah saya bisa lolos hidup sampai sekarang, menjadi pengalaman yang indah kalau dikenang sekarang. Dari kegemaran membaca buku dan kemampuan menulis cerita, pengalaman dan kesaksian saya masa-masa lalu menjadi bahan penulisan yang amat beragam tentang kehidupan zaman, alias sejarah. Senang dan sengsara, jatuh dan bangkit melakoni hidup zaman perjuangan, zaman Jepang, menjadi kenangan yang indah, tidak bakal dinikmati oleh generasi anak-cucuku. Saya tuliskan cerita-cerita pengalamanku, agar generasi anak-cucuku juga dapat merasakan jatuh-bangkit hidup yang dialami generasiku. Dengan harapan yang jelek jangan terulang terjadi pada generasi anak-cucuku, yang baik agar dijadikan contoh teladan, sehingga hidup mereka menjadi lebih baik daripada kehidupan zaman generasi saya. Cerita sejarah, bukanlah cerita masa lalu, melainkan juga cerita masa kini dan masa harapan ke depan. Sebaiknya dipelajari dan diketahui oleh para putera bangsa yang akan menjalani hidup pada masa kini dan masa depan.</p>
<p>Cerita Surabaya Zaman Jepang ini, waktu saya kirimkan ke penerbit supaya dijadikan buku, semula akan saya ubah disesuaikan dengan keadaan perkembangan zaman tahun akhir-akhir ini. Namun, beberapa penggemar dan ahli sejarah menganjurkan agar diterbitkan jadi buku seperti sebagaimana waktu saya menulis cerita ini (2011). Agar pemikiran saya waktu itu tetap tertulis apa adanya saat itu. Tidak berubah dan ditandai pemikiran waktu itu, juga menjadi tonggak sejarah, saran mereka. Maka dengan segala kerendahan diri naskah buku garapan tahun 2011 ini saya kirimkan ke penerbit. Tentu saja cerita ini pengalaman diri pribadi, sangat amatir, barangkali banyak penggambaran yang tidak benar maupun kurang tepat. Tapi saya tulis dengan jujur waktu menulis tahun 2011 ini.</p>
<p>Demikianlah pengantar buku ini. Seperti yang saya sebut awal cerita, maksud penulisan cerita ini merupakan persembahan saya dalam memperingati hari jadi Kota Surabaya yang ditetapkan tanggal 31 Mei 1293, secara perorangan, sehingga tiap pada setiap tahun para warga Surabaya bisa mengingat keadaan Kota Surabaya pada zaman Jepang, dengan cara membaca buku ini. Penulisan buku ini timbul dari pemikiran sendiri, tidak didasari oleh pesanan apa pun dan dari siapa pun juga. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Dirgahayu Kota Surabaya, 31 Mei 1293 sampai sepanjang masa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1262</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wasiat Suparto Brata Kepada Anak dan Cucunya</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1241</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1241#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2015 07:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1241</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Desember 2014 Bapak mendapat undangan untuk menjadi Pembicara mengenai Sastra Jawa dari SMA dan SMK Pemalang, karena di Pemalang tidak ada yang kenal dan baru pertama kali kesana maka Bapak di temani dengan Teratai , anak perempuannya. Biasanya kalau mendapat undangan dari kota seperti Solo, Yogya, Bojonegoro, Tulungagung walaupun sudah sepuh Bapak berangkat sendiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bulan Desember 2014 Bapak mendapat undangan untuk menjadi Pembicara mengenai Sastra Jawa dari SMA dan SMK Pemalang, karena di Pemalang tidak ada yang kenal dan baru pertama kali kesana maka Bapak di temani  dengan Teratai , anak perempuannya.  Biasanya kalau mendapat undangan dari kota seperti Solo, Yogya, Bojonegoro, Tulungagung walaupun sudah sepuh Bapak berangkat sendiri dan di kota-kota tersebut Bapak banyak teman.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Pemalang Bapak ingin pergi ke Jakarta untuk menengok Anak dan cucunya.  Kereta Api yang menuju Jakarta hanya berhenti di stasiun Tegal, stasiun Pemalang tidak berhenti. Karena pada waktu itu jembatan yang menghubungkan Pemalang dengan Tegal sedang di perbaiki dan jalan takut macet sehingga tidak bisa mengejar kereta api yang akan ke Jakarta di stasiun Tegal, maka oleh Panitia disarankan naik kereta api reguler dari Pemalang ke Tegal.
<p/>
<p style="text-align: justify;">Sampai di Stasiun Pemalang kereta reguler yang akan menuju ke Tegal segera datang. Loket penjualan Karcis dan pintu masuk stasiun Pemalang tutup tidak ada petugas satupun, Bapak dengan kakinya yang sakit dan Teratai lari-lari sambil menenteng barang bawaan yang begitu berat mencari petugas stasiun.  Petugas Stasiun Pemalang tidak menyangka kalau ada penumpang yang  akan naik, karena jarak Pemalang &#8211; Tegal yang dekat sehingga jarang ada penumpang yang naik dari Stasiun Pemalang.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Stasiun Jatinegara, Bapak saya jemput, dalam perjalanan dari Stasiun Jatinegara ke Bekasi beliau dengan semangat bercerita mengenai kegiatannya dan cita cita yang belum tercapai.  Bagi kami anak-anaknya, kata-kata “sebagai manusia harus gemar membaca dan menulis” adalah makanan sehari-hari kalau ketemu Beliau, mungkin bagi sebagian orang yang sering ketemu dengan Bapak kata-kata itu sangat membosankan.  Mungkin kata-kata tersebut untuk mendorong generasi muda agar senang membaca dan menulis, karena dilihat oleh Bapak generasi muda telah termakan oleh tehnologi seperti Gadget, Handphone, tablet dan sejenisnya, sehingga mereka asyik dengan handphonenya, dari bangun tidur sampai akan tidur.  Untuk menulis sesuatu pun mereka tiggal cari di google, copy paste, selesai.  Itulah yang dikuatirkan oleh Bapak.</p>
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-CJNCAFNC6FY/Vfu6Fd8kTHI/AAAAAAAAA_k/e0kk7evXeug/s320/Srawungku_Karo_Basa_Jawa_Suparto_Brata.jpg" alt="Srawungku Karo Basa Jawa"/></div>
<p style="text-align: justify;">Selama di Bekasi, Bapak sempat mengunjungi temannya yang di Bandung yaitu Bapak Bambang Hidayat dan keponakannya, tak lupa juga mengujungi cucu-cucunya yang di Jl. Elang Malindo X dan di  BSD, Perumahan De Latinos. Kepada saya dan cucu-cucunya Cyntyia, sekarang kuliah di Belanda, dan Eins, Beliau memberi kami sebuah buku berjudul “<strong> SRAWUNGKU KARO SASTRA</strong>” dengan pesan buku ini jangan di buka sebelum aku meninggal dunia.  Pada hari ini 18 September 2015 buku tersebut telah saya buka, dan saya belum sempat membacanya, Insya Allah di lain waktu akan saya sampaikan kepada para pembaca.
<p/>
Tatit Merapi Brata<br />
Email : tatitbrata@gmail.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1241</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berita Duka BREAKING NEWS : Pengarang Sepuh Suparto Brata Meninggal Dunia</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1228</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1228#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2015 00:12:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1228</guid>
		<description><![CDATA[SURYA.CO.ID &#124; SURABAYA &#8211; Pengarang sepuh asal Surabaya, Suparto Brata meninggal dunia dalam usia 83 tahun pada Jumat (11/9/2015). Berdasarkan informasi, pengarang produktif ini mengembuskan napas terakhir pada pukul 21.30 WIB di rumahnya di Rungkut Asri III/2 Surabaya. Jenazah pria berjuluk Begawan Sastra Jawa ini rencananya dimakamkan siang ini di Pemakaman Umum Rangkah. Diambil dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SURYA.CO.ID | SURABAYA &#8211; Pengarang sepuh asal Surabaya, Suparto Brata meninggal dunia dalam usia 83 tahun pada Jumat (11/9/2015).</p>
<p style="text-align: center;"><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-775" title="Suparto Brata" src=" http://1.bp.blogspot.com/-IO-mztMVAUE/Vfi0ce-x8lI/AAAAAAAAA_M/ADB5l8a5PFw/s320/suparto-brata_20150912_093246.jpg" alt="Suparto Brata" width="400" height="300" /></a></p>
<p>Berdasarkan informasi, pengarang produktif ini mengembuskan napas terakhir pada pukul 21.30 WIB di rumahnya di Rungkut Asri III/2 Surabaya.</p>
<p>Jenazah pria berjuluk Begawan Sastra Jawa ini rencananya dimakamkan siang ini di Pemakaman Umum Rangkah.</p>
<p>Diambil dari<a href="http://surabaya.tribunnews.com/2015/09/12/breaking-news-pengarang-sepuh-suparto-brata-meninggal-dunia"> Surya Online</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1228</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Sastra Jawa anyar Suparto Brata 2015</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1222</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1222#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2015 06:19:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1222</guid>
		<description><![CDATA[Srawungku Karo Sastra Jawa Iki buku kumpulan lelabete, lelakone, conto tulisane para jamhur sastra Jawa modern sing kasrawungan dening Suparto Brata. Kaya ta Winter (Kejawen 1864), M.Ng.Kramapawira (1874), S.Darsono 1930 bab Dedalane Guna Lawan Sekti. Dr.Soetomo (Panjebar Semangat Setu 2 September 1933). Polemik Dr.Soetomo vs S.Ajat, Hoofdredacteur DAGBLAD “EXPRES” 16 Des 1930 lan 1 Juli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2015/02/Buku_Suparto_Brata.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2015/02/Buku_Suparto_Brata-198x300.jpg" alt="Srawungku Karo Sastra Jawa" title="Buku_Suparto_Brata" width="198" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1225" /></a>Srawungku Karo Sastra Jawa<br />
Iki buku kumpulan lelabete, lelakone, conto tulisane para jamhur sastra Jawa modern sing kasrawungan dening Suparto Brata. Kaya ta Winter (Kejawen 1864), M.Ng.Kramapawira (1874), S.Darsono 1930 bab Dedalane Guna Lawan Sekti. Dr.Soetomo (Panjebar Semangat Setu 2 September 1933). Polemik Dr.Soetomo vs S.Ajat, Hoofdredacteur DAGBLAD “EXPRES” 16 Des 1930 lan 1 Juli 1938. Lelabete Tajib Ermadi ngedegake Djojobojo ing Kediri 1945, mlebu Surabaya pas 10 November 1945, bisa  nggawa mulih klise lan leter duweke NV.de Brantas sing nyithak Suara Asia jaman Nippon.Cerkake Soebagio IN (Pandji Poestaka 15 Maret 1944, Nyoewoen Pamit Kyai). Poerwadie Atmodihardjo (Dara Kapidara, Djaja Baja, April 1964), Sar BS (kondhang Sang Prajaka, Djaja Baja). M.Radjien, Basoeki Rachmat, Soenarno Sisworahardjo, Any Asmara, Widi Widayat, Satim Kadarjono, Totilawati Tjitrawasita, St.Iesmaniasita, Esmiet. Agustus 1966 Hardjono HP, Susilomurti, Handung Sudiyarsana  madeg OPSD ing Sanggar Bambu Jogyakarta. Drs. Gendon Humardani ngelola PKJT ing Sasanamulya 1977-1980. Muncul para jamhur sastra Jawa: N.Sakdani Darmopamudjo, Poer Adhie Prawoto, Ruswandiyatmo, Sukardo Hadisukarno, Anjar Any, Moh. Nursahid Purnomo, Arswendo Atmowiloto, Sudharmo KD, Muryalelana, Tamsir AS. Bambang Widoyo SP. Kabeh lelabetan lan conto karyane kapacak ing buku iki. Regane Rp 70.000,-<br />
Bisa dipundhut marang Rini T.Puspohardini, email: tripuspohardini@gmail.com HP +628157704313</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1222</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DEWAN KESENIAN SURABAYA 1971</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1216</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1216#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2014 02:20:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1216</guid>
		<description><![CDATA[Harian SINAR HARAPAN Jakarta, Senin, 28 Oktober 1971: Laporan Suparto Brata Pada tanggal 14 September 1971, Walikota Surabaya Sukotjo mengundang para seniman Surabaya untuk berkumpul di ruang sidang kantor Kotamadya Surabaya. Undangan itu pelaksanaannya diserahkan kepada seniman-seniman yang berdekatan dengan Walikota, yakni yang pada bulan Pebruari sebelumnya ikut terkirim sebagai offisial/produser drama “Suara-suara Mati” ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Harian SINAR HARAPAN Jakarta, Senin, 28 Oktober 1971:</span></em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em></strong></p>
<p style="text-align: center;">Laporan Suparto Brata</p>
<p>Pada tanggal 14 September 1971, Walikota Surabaya Sukotjo mengundang para seniman Surabaya untuk berkumpul di ruang sidang kantor Kotamadya Surabaya.</p>
<p>Undangan itu pelaksanaannya diserahkan kepada seniman-seniman yang berdekatan dengan Walikota, yakni yang pada bulan Pebruari sebelumnya ikut terkirim sebagai offisial/produser drama <em>“Suara-suara Mati” </em>ke Jakarta.</p>
<p>Seperti diketahui dalam pementasan Drama 4 Kota di Jakarta itu, Pemerintah Kotamadya Surabaya ikut menjadi sponsor dengan mengirimkan drama <em>“Suara-suara Mati”.</em></p>
<p>Beranjak dari hubungan itu, maka Walikota meneruskan gagasannya untuk “menyegarkan” kehidupan seniman-seniman Surabaya, di lain pihak para seniman yang telah terkirim ke Jakarta itu banyak membawa “oleh-oleh” tentang tata kehidupan seniman Jakarta dan hubungannya dengan Pemerintah DKI Jakarta.</p>
<p>Pada malam pertemuan tanggal 14-09-1971 itu, Walikota sekali lagi membeberkan gagasannya akan memberikan ‘bantuannya’ kepada para seniman. Sekali ini tidak berupa kanvas, atau cat, atau mesin ketik dan samacamnya yang diperlukan seniman dalam menggarap karyanya, tapi lebih menyeluruh: sebuah gedung kesenian (Balai Pe,muda) yang sedang dibangun.</p>
<p>Pak Kotjo dengan bantuannya itu mengharap seniman-seniman bisa “mengurus dirinya” sendiri, dan tidak menghendaki adanya main politik-politikan dalam mengurusi diri itu. Para seniman sekali ini dipandang untuk melakukan bagaimana mengaturnya agar nantinya bantuan Walikota itu tidak sia-sia atau kapiran, sedangkan para seniman menerimanya dengan perasaan senang, tidak merasa diperlakukan tidak adil, saling sikut-sikutan, irihati dan jangan ada yang menggunakan kesempatan ini untuk “tempat pencari nafkah” perorangan.</p>
<p>Para seniman dekat Walikota, cukup bijaksana dalam mengedarkan undangan. Selain undangan-undangan yang dikirimkan kepada seniman-seniman yang mereka kenal nama dan alamatnya, diberikan juga dalam koran-koran, sehingga bagi mereka yang merasa dirinya seniman bisa datang menghadiri pertemuan itu. Untuk menertibkan, maka sebnelum hadir mereka diwajibkan mendaftarkan namanya dan pada bidang seni apa mereka melakukan kegiatan.</p>
<p>Lebih dari itu, senimn yang dekat Walikota itu memberikan ‘guiding-guiding’ bagaiman kira-kira “wadah” yang digunakn para seniman nanti untuk menerima ‘bantuan’ Walikota itu.</p>
<p>“Guiding-guiding” yang berupa konsep ‘wadah’ yang disusun oleh: Drs. Putro Sumantono, Basuki Rachmat, Farid Dimyati, Amang Rachman, dan Sanyoto Suwito. Mereka ini disebut pemrakarsa dalam konvensi seniman (untuk membedakan dengan musyawarah atau pertemuan-pertemuan seniman yang sudah beberapa kali diadakan, maka  mereka sebut saja peristiwa ini konvensi).</p>
<p>Di luar dugaan, di antara para hadirin juga ada yang menyiapkan konsep-konsep terperinci. Hal ini menjadi karena memang kepada mereka diminta sumbangan-sumbangan pikiran. Kericuhan terjadi karena sepintas lalu terdapat perbedaan landasan yang prinsipiil.</p>
<p>Para seniman ‘undangan’ terutama pada ‘paper’ yang dibacakan oleh Gatut Kusuma, melandaskan diri bahwa seniman itu harus bebas, tidak terikat, jangan pemerintah ikut mendikte dalam mengerjakan karya-karyanya. Sedang “konsep” pemrakarsa menyadari bahwa ‘wadah’ yang bakal dibentuk itu adalah karena niat Pemerintah Walikota memberikan “bantuan”. Karena itu, “wadah” tadi berfungsi menjadi “pembantu Walikota”.</p>
<p>Karena suara hadirin bagaimana pun juga lebih kuat dari suara-suara pemrakarsa, maka diadakan pembicaraan <em>‘yok-apa-enake’</em> (bagaimana enaknya, Red). Malam itu mereka berhasil memilih panitya perumus yang bakal merumuskan betapa “wadah” kagiatan seniman Surabaya itu, lengkap dengan anggaran dasar dan personalianya.</p>
<p>Panitia perusmus itu terdiri dari: Wiwik Hidayat, Karyono Js, Basuki Rachmat, Gatut Kusuma, dan Agil H.Ali. Panitia ini berkewajiban “melaporkan” hasil kerjanya pada sidang yang bakal diadakan lagi.</p>
<p>Sidang yang kedua konvensi para seniman Surabaya itu diadakan tanggal 30 September 1971. Panitya perumus membacakan hasilnya, yaitu “wadah” itu disebut Dewan Kesenian, lengkap dengan Anggaran Dasar dan personalia Dewan Kesenian. Sebagai bahan pembentukan Dewan Kesenian itu adalah: Pidato sambutan Walikota (tanggal 14-09-1971), konsep pemrakarsa, paper Gatut Kusuma dan saran-saran hadirin.</p>
<p>Duapuluh tiga orang seniman tercatat oleh Panitya perumus untuk menjadi anggota Dewan Kesenian, dengan masa kerja dua tahun. Tapi oleh sidang terpilih 13 orang saja:</p>
<p>1.Drs. Putro Sumantono (cendikiawan-pejabat Kotamadya Surabaya); 2. Gatut Kusuma (pelukis-cineas); 3. Amang Rachman (pelukis); 4. Agil H.Ali (wartawan); 5. Basuki Rachmat (sastrawan-wartawan); 6. Farid Dimyati (dramawan-wartawan); 7. Wiwiek Hidayat (pelukis-wartawan); 8. Krishna Mustadjab (pelukis); 9. Karyono Js (pelukis); 10. Sunarto Timur (dramawan); 11. Teguh (pemusik-show business); 12. Hasjim Amir MA (dramawan); 13. M.Daryono (pelukis).</p>
<p>Terpilihnya 13 orang ini justru karena mereka malam itu hadir dan dikenal oleh sidang. Mereka itu terpilih menurut ketentuan anggaran dasar yang baru dibacakan (1/2 hadirin +1), dan ternyata semuanya terpilih. Sedang seniman yang diajukan perumus tapi tidak tampak batang hidungnya malam itu, dicoret.</p>
<p>Di antara yang dicoret ini terdapat nama-nama Drs. Budi Darma (cendikiawan-pengarang), Drs. Suripan Sadihutomo (sasterawan), Sanjoto Suwito (dramawan), Totilowati (pengarang-wartawan).</p>
<p>Ketigabelas nama yang terpilih ini kemudian akan diajukan kepada Walikota untuik dimintakan persetujuan Walikota (dan diangkat dengan surat keputusan Walikota). Walikota berhak menambah/mengurangi jumlah personalia ini.</p>
<p>Sementara itu dari Walikota Surabaya didapat kabar bahwa gedung kesenian yang sekarang sedang dibangun dan diharapkan bisa digunakan untuk menampung kegiatan-kegiatan para seniman itu, (yaitu balai bilyar di kompleks Balai Pemuda yang sedang dibangun jadi gedung bioskop/sandiwara Mitra) akan selesai akhir bulan Desember yang akan datang dengan beaya Rp 70 juta.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>*</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Akhirnya para anggota Dewan Kesenian Surabaya dilantik oleh Walikota Surabaya Kolonel Sukotjo pada tanggal 14 Februari 1972. Ketua Dewan Kesenian Jakarta sebagai lembaga Dewan Kesenian yang sukses perlu mendapat kehormatan diundang sebagai tamu saksi perhelatan tersebut, yaitu Dr.Umar Kayam. Selain sebagai saksi tamu, Dr.Umar Kayam juga diacarakan bertemu dengan para seniman Surabaya, untuk menularkan kesuksesannya dalam mengelola suatu Dewan Kesenian Jakarta sebagai contoh. Acara pertemuan para seniman Surabaya dengan Dr.Umar Kayam diselenggarakan terpisah dari acara pelantikan para anggota DKS, yaitu diselenggarakan di Sanggar Aksera Balai Pemuda Surabaya.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-tQ01sgTeh8k/VD3Y-7ZpXjI/AAAAAAAAA8w/ZE20dCGvJiM/s1600/Image%2B(22).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-tQ01sgTeh8k/VD3Y-7ZpXjI/AAAAAAAAA8w/ZE20dCGvJiM/s320/Image%2B(22).jpg" /></a></div>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Harian SINAS HARAPAN Jakarta, Senin 6 Maret 1972</span></em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>PENGELOLAAN SATU DEWAN KESENIAN</strong></p>
<p style="text-align: center;">Laporan: Suparto Brata</p>
<p>Dalam suatu acara terpisah dari pelantikan personalia DewanKesenian Surabaya tanggal 14 Februari 1972 yang lalu, Umar Kayam menyempatkan diri berdialog dengan seniman-seniman di sanggar Aksera Surabaya. Menurut Umar Kayam, mungkin terasa aneh, jika dalam jaman pembangunan ini kita memilih berbudayaan sebagai prasarana pembangunan. Pada umumnya orang pada tempatnya bicara soal pembangunan untuk mengejar kebutuhan kehidupan materiel, hingga masalah-masalah ekonomis menjadi fokus kegiatan, di samping prasarana-prasarana yang langsung dengan itu, perbaikan jalan, jembatan, administrasi, organisasi dan lain-lain. Kalaupun bisa lebih jauh, orang memikirkan juga Keluarga Berencana.</p>
<p><strong>Tapi jarang sekali terlintas di pikiran orang, bagaimana manusianya. Jarang sekali orang merenungkan bahwa yang hendak dibikin sejahtera itu tiada lain adalah manusia. Manusia yang tidak bisa hidup sendiri dan harus bermasyarakat.</strong></p>
<p>Sekarang ini orang masih banyak yang berpikir bahwa mengadakan prasarana pendidikan kebudayaan, dengan seni sempit seperti adanya Dewan Kesenian, suatu hal yang mewah. Sewajarnya di tiap kota-kota besar di Indonesia ini didirikan Dewan Kesenian, tapi hendaklah bukan karena sikap latah. Berdirinyta suatu lembaga penduidikan kebudayaan atau Dewan Kesenian, haruslah berdasarkan pemikiran bahwa terdapat ketimpangan-ketimpangan dalam meletakkan dasar-dasar atau unsur-unsur sepihak antara gerak pembangunan dan gerak kebudayaan.</p>
<p><strong>Pengisian acara kesenian:</strong></p>
<p>Selanjutnya Umar Kayam mengatakan, bahwa untuk mengisi acara-acara di TIM, mengusahakan bagaimana masyarakat atau rakyat Jakarta agar tidak takut masuk ke halaman TIM. Hendaknya disadari, bahwa melihat gedung-gedung dan pemelihaharaannya yang tidak seperti tempat-tempat umum orang kebanyakan akan takut atau curiga. Makanya diadakan pekan seni rakyat, pertunjukan lenong, wayang orang, ludrug, pendeknya kesenian yang digemari rakyat. Kalau mereka itu sudah tidak takut, diusahakan supaya mereka itu gemar mengunjungi.</p>
<p>Dalam alir kunjungan-kunjungan seperti itu kita tawarkan kepada mereka hasil kesenian “pilihan” kita dengan menyisipkan pertunjukan-pertunjukan drama, pameran seni lukis modern yang belum mereka kenal, tari yang masih asing. Mungkin mula-mula mereka mengutuk, ketemu hal-hal yang tidak seperti “biasanya”, tapi tidak apa. Mengutuk berarti sudah ada komunikasi. Ini harus dipelihara. Begitulah maka Dewan Kesenian Jakarta berjalan hingga sekarang.</p>
<p>Memang ada perbedaan-perbedaan paham atau selera antara orang kebanyakan dan pengurus Dewan Kesenian Jakarta. Tapi justru itu perlunya diadakan Dewan Kesenian untuk memperkecil perbedaan itu. Dalam pengurus Dewan Kesenian Jakarta terpilih seniman-seniman yang punya selera atau penilaian tertentu. Di antara mereka itu sendiri memang timbul perdebatan karena perbedaan pandangan. Tapi perbedaan di antara mereka tentulah tidak sejauh antara mereka dan rakyat kebanyakan.</p>
<p>Dengan gambaran ini Umar Kayam menghibur seniman-seniman Surabaya, hendaknya dalam mengurusi Dewan Kesenian Surabaya jangan terlalu ekstrim mempertahankan pendapat sendiri. <strong>Yang diperlukan orang dengan berdirinya Dewan Kesenian bukanlah memenuhi kehendak para seniman-seniman, tetapi menghidupkan kesenian-kesenian tradisional yang ada, memperkenalkan kesenian-kesenian yang masih asing dan mencari bentuk-bentuk baru kesenian yang lebih sesuai dengan jaman seperti lenong, kesenian yang dulu hampir pounah. Sekarang kembali ditonton oleh segala lapisan masyarakat Jakarta.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sikap seniman pengurus.</strong></p>
<p>Atas masalah yang dikemukakan oleh pelukis Krishna Mustadjab dinyatakan kemungkinan menjadi mandulnya seorang seniman kreatip yang duduk dalam pengurus Dewan Kesenian. Sebaliknya Umar Kayam mengemukakan bahwa memang <strong>untuk mengurusi suatu Dewan Kesenian itu memerlukan “pengorbanan” dari seniman. Maka untuk menjaga kestabilan pengurusan ini, kita harus menawarkan kesanggupan siseniman dalam mengorbankan kreativitasnya.</strong></p>
<p>Umar Kayam sendiri menghendaki agar paling banyak seorang seniman menyanggupkan dirinya terpilih menjadi pengurus dua kali masa jabatan, untuk memberikan kesempatan padanya untuk tidak terlalu sibuk mengurusi “administrasi” Dewan Kesenian serta ada peluang mencipta baginya. Cara “cuti-kreatip” selama tiga bulan dalam masa jabatannya seperti yang dibayangkan Krishna Mustadjab kurang disetujui. Waktu cuti justru masa itu sang seniman tidak kreatip. Atau kalau cuti itu diberikan pada masa-masa kreatip jangan-jangan berbarengan dengan dia harus menyelesaikan suatu proyek. Pemberian cuti akan membuat proyek itu kapiran.</p>
<p>Di Amerika, beberapa lembaga kesenian kota, pengurusnya seringkali tidak diarahkan kepada seniman. Tetapi seorang manager atau administrator yang tahu kesenian. Dengan begitu mereka bisa ngeladeni kehendak masyarakat akan seni. Bisa melayani tamu-tamu yang membutuhkan informasi, dan tidak kuatir dirinya tekekang daya ciptanya, karena toh tidak menciptakan kerja seni.</p>
<p>Di Indonesia, mungkin lambat-laun bisa demikian. Pengurusan Dewan Kesenian kita percayakan kepada administrator. Tapi pada waktu ini, jika suatu Dewan Kesenian pengurusnya tidak diserahkan kepada seniman, perkembangannya “tidak lucu”. Yang dimaksud oleh Umar Kayam dengan “tidak lucu” itu perkembangan Dewan Kesenian itu tidak semarak, tidak gairah. Akan gersang dan salah sasaran.</p>
<p>Maka bagi Dewan Kesenin yang baru berdiri, sebaiknya memawas diri apakah anggota-anggotanya itu seniman kreatip yang pura-pura mengorbankan kekreativitasannya, atau pura-pura seniman, mengundurkan diri dulu; agar tidak terjadi perkembangan yang “tidak lucu”.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>*</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span> Berita di Harian SINAR HARAPAN di atas ditulis dengan ejaan lama. EYD di sini untuk memudahkan pembacaan. (Suparto Brata).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1216</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunjungan Tamu dari Belanda</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1209</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1209#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2014 03:48:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1209</guid>
		<description><![CDATA[Beste meneer Suparto Brata, In de e-mail die meneer Bambang Hidayat stuurde zag ik uw e-mail adres en besloot u een bericht te sturen. Hoe gaat het met u, apa kabar? Hierbij de leuke foto die we maakten toen ik met Ady Setyawan u bezocht: Afgelopen vrijdag stond er een artikel over mijn werk in [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beste meneer Suparto Brata,<br />
In de e-mail die meneer Bambang Hidayat stuurde zag ik uw e-mail adres en besloot u een bericht te sturen. </p>
<p>Hoe gaat het met u, apa kabar?<br />
Hierbij de leuke foto die we maakten toen ik met Ady Setyawan u bezocht:<br />
<img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-VaczJmQCyOU/VAPrtBvqAlI/AAAAAAAAA8k/PfbGicR0cFg/s320/asd.jpg" /></p>
<p/>
Afgelopen vrijdag stond er een artikel over mijn werk in de Nederlandse krant &#8216;NRC Handelsblad&#8217;.<br />
Het gaat over een massagraf op Madoera uit 1947, dit verhaal heb ik uitgezocht samen met Ady.<br />
Onderaan deze e-mail kunt u het hele stuk lezen. </p>
<p>In het Nederlands of in het Engels. Later zal ik het ook in het Indonesisch laten vertalen.<br />
Ik ben benieuwd of u ooit over deze gebeurtenis hebt gehoord?</p>
<p>Salam hangat,<br />
Marjolein van Pagee</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1209</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paguyuban Pengarang Sastra Jawa</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1198</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1198#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2014 05:46:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1198</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-j2RvrZMEyg4/U-r6SIOU6fI/AAAAAAAAA7o/QBYAz0wMwi8/s320/Suparto_Brata_PPJS.jpg" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1198</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BUKU ANYAR SUPARTO BRATA 2014</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1204</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1204#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2014 23:25:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1204</guid>
		<description><![CDATA[Vijfde Cologne, organisasi mata-mata mungsuh. Gampangane ya spionage. Embuh wong Landa kok nyebutke ngono. Cologne kuwi jenenge kutha ing Kali Rhine, Jerman. Kali mau uga ngliwati Prancis. Bisa uga nalika Perang Donya I, utawa malah jaman Perang Napoleon, Kutha Cologne dadi rebutan, padha gawe siyasat nelukake mungsuhe, sarana padha ngorganisasi spionage. Spionage-spionage mau saking canggihe [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-HouWXu9Y19g/U54qrmTmiYI/AAAAAAAADWk/jGMYtJ1Tijk/s1600/buku_Sala_Lelimengan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-HouWXu9Y19g/U54qrmTmiYI/AAAAAAAADWk/jGMYtJ1Tijk/s320/buku_Sala_Lelimengan.jpg" alt="Sala Lelimengan" title="Sala Lelimengan" /></a></div>
<p><strong><em>Vijfde Cologne, </em></strong><strong>organisasi mata-mata mungsuh. Gampangane ya spionage. Embuh wong Landa kok nyebutke ngono. Cologne kuwi jenenge kutha ing Kali Rhine, Jerman. Kali mau uga ngliwati Prancis. Bisa uga nalika Perang Donya I, utawa malah jaman Perang Napoleon, Kutha Cologne dadi rebutan, padha gawe siyasat nelukake mungsuhe, sarana padha ngorganisasi <em>spionage. Spionage-spionage </em>mau saking canggihe banjur saben organisasi mata-mata mungsuh katalah <em>Vijfde Cologne </em>alias <em>Kolone Kalima, </em>basa Indonesiane. Perang siyasate Jendral Spoor, panglima perange tentera NICA Walanda ing Indonesia 1945-1950, pemerintah pusat Republik Indonesia ing Jogjakarta, Gusti Mutu Manikam, Baidowi, ngene iki ya mesthi ngendelake kajuligan, kaprigelan, kaprawirane para paragane <em>spionagene </em>anggone padha luru katrangan kepriye obah-mosike mungsuh. Kuwi sing diarani <em>Vijfde Cologne.</em></strong></p>
<p><strong>Sapa sing kokweruhi bala Baidowi apa bala mungsuhe?</strong></p>
<p><strong>Ora akeh. Siji, Gusti Bandara Raden Ayu Mutu Manikam. Loro, Raden Mas Biangga. Telu, Kapten Dhondhi Suhirman. Lan isih akeh maneh. Nganggo jeneng sandi, kaya ta Nyonya Kapten, Letkol Beja, Bisu, Cuwosangiing, kuwi mesthi dudu jeneng sing tenan, jeneng sandi.</strong></p>
<p><strong>Atiku mangro. Apa bener Nyonya Kapten kuwi Gusti Mutu Manikam? Durung mesthi, wong letnan Baidowi nalika meh les uripe wanti-wanti tenan yen surat kuwi kudu diaturake tenan marang Nyonya Kapten sing Republikein, aja nganti kecekel tangane mungsuh sing jeneng samarane Bisu! Mangka Bisu, Nyonya Kapten, Cuwosangiing, Letkol Beja, lan sapa maneh pasrawungan para nandhang asma sandi kuwi akeh sing aku durung dhong.</strong></p>
<p><strong>Yen Gusti Mutu kuwi uga mungsuh, balane Landa, ya disikat pisan wae!</strong></p>
<p><strong>Hi-hi-hi. Sing arep nyikat sapa? Wong kahanane pasrawungan sakupenge kaya ngono. Jan, nyakrabawani tenan, pasrawungan tingkah ndhuwuran kana kuwi,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Buku <em>Sala Lelimengan</em> saha buku <em>Katresnan Kang Angker</em> menika saged punpundhut dhumateng Ibu Guru Rini, kanthi sesambetan HP. +6281 5770 4313 .</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1204</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
