<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suparto Brata Blog &#187; Article</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?cat=8&#038;feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://supartobrata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jan 2018 08:12:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Maca Cerkak</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1103</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1103#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Oct 2013 03:09:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1103</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/10/Maca-Cerkak2.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/10/Maca-Cerkak2-300x195.jpg" alt="Maca Cerkak" title="Maca Cerkak" width="300" height="195" class="aligncenter size-medium wp-image-1105" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1103</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meet Suparto Brata</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=577</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=577#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 09:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[I met this extraordinary person few weeks ago. Born on the February 27th, 1932, R.M. Suparto Brata is a man of letters. Often, he writes novels and short stories in Javanese. It makes him known as a Javanese literary writer. This is not a popular option in Indonesia, because mostly people don’t buy books written [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-578" style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px;" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/09/brunei-300x225.jpg" alt="" width="150" height="112" /></p>
<p style="text-align: left;">I met this extraordinary person few weeks ago. Born on the February 27th, 1932, R.M. Suparto Brata is a man of letters. Often, he writes novels and short stories in Javanese. It makes him known as a Javanese literary writer. This is not a popular option in Indonesia, because mostly people don’t buy books written in Javanese. It’s a local language here.</p>
<p style="text-align: justify;">Due to realistic condition of Javanese books selling, Suparto had to face many rejection letters from publishers. “Some of them even made me believe that they would publish my long story, which in fact then, they don’t,” he told me and laughed.</p>
<p style="text-align: justify;">So, occasionally Suparto funded his own book printing. He is just too stubborn to give up. Here are several of his about 140s books:</p>
<p><span id="more-577"></span></p>
<p style="text-align: left;">* Tanpa Tlacak<br />
* Aurora<br />
* Emprit Abuntut Bedhug<br />
* Kadurakan ing Kidul Dringu<br />
* Kerajaan Raminem<br />
* Katresnan kang Angker<br />
* Asmarani<br />
* Pethite Nyai Blorong<br />
* Dom Sumurup ing Banyu<br />
* Nyawa 28<br />
* Tretes Tintrim<br />
* Gadis Tangsi<br />
* Lara Lapane Kaum Republik<br />
* Sanja Sangu Trembela<br />
* Mahligai di Ufuk Timur<br />
* Saputangan Gambar Naga<br />
* Lintang Panjer Sore<br />
* Jaring Kalamangga<br />
* Kamar Sandi<br />
* Garuda Putih<br />
* Nglacak Ilange Sedulur Ipe<br />
* Ngingu Kutuk ing Suwakan<br />
* Donyane Wong Culika<br />
* Saksi Mata<br />
* Lelakone Si lan Man</p>
<p style="text-align: justify;">Suparto Brata had been awarded the Rancagé three times. And in 2007, he earned the South-East Asia Write Award 2007 from SEA Write Award Organizing Committee (Bangkok, Thailand). This man just wants to see that people all over the world read the fine Javanese literary, one day. Suparto lives in such idealism. And I lift my hat for that.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: justify;">Lebat sekali hujan malam itu. Padahal malam-malam sebelumnya terasa kering. Kalau saja tak ada janji dengan seorang begawan Sastra Jawa, tentu saya lebih memilih meringkuk di kamar yang hangat. Tapi, untung juga saya memutuskan tetap berangkat ke rumah pemenang Hadiah Rancagé 2000, 2001 dan 2005 yang juga peraih South-East Asia Write Award 2007 ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumnya, kami hanya bertegur sapa lewat email. Itu pun jarang. Bertatap muka? Apalagi! Baru pertama ini. Namun ternyata sambutan seorang Suparto Brata pada saya seperti seorang kawan lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Raden Mas Suparto Brata lahir di Rumah Sakit Simpang Surabaya (sekarang Surabaya Plaza), 27 Februari 1932. Senior sekali. Tapi jika Anda perhatikan, ternyata hanya suaranya yang bergetar dimakan usia. Selebihnya, dia terlihat sebagai sang penakluk umur: sehat walafiat, energik, memiliki memori kuat hingga mampu menceritakan detail peristiwa-peristiwa zaman Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Aktivitas sebagai penulis pun tetap jalan, seperti mengarang di pagi hari, membaca di siang hari, mengedit tulisan, merawat blog dan menjawab email-email. Pak Parto, demikian sapaan akrabnya, bahkan mampu melumat naskah novel saya setebal 142 halaman spasi tunggal, plus menuliskan komentar panjang-lebarnya, cuma dalam tiga hari!</p>
<p style="text-align: justify;">Passion duda beranak empat ini pada dunia tulis memang luar biasa. Saat buta huruf masih mewabah di Indonesia, Suparto kecil sudah menggemari kegiatan baca-tulis. Mulai SMA dia sudah mengirim cerita-cerita untuk media, meski terus ditolak. Waktu itu menjadi penulis benar-benar tidak bisa diandalkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Apesnya lagi, dia harus keluar dari SMAK Nonongan Solo, Jawa Tengah, lantaran sang ibu tak sanggup membayar SPP. Suparto remaja pun pergi dari Solo ke Surabaya naik sepeda angin, dengan semangat mencari pekerjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku kerja pertama tahun 1951,” kenangnya. “Di Rumah Sakit Kelamin, Jl. Dr. Sutomo Surabaya. Tapi nggak kerasan, Mas, karena nggak ada mesin tik untuk mengarang, hahaha.”</p>
<p style="text-align: justify;">Maka begitu ada iklan lowongan operator teleprinter di kantor telegraf, Suparto langsung melamar. Dan diterima, meski harus dikursuskan mengetik 10 jari dulu selama setahun. Karena sudah dapat gaji tetap selama kursus, Suparto memutuskan melanjutkan studinya. Dia lulus SMA tahun 1957.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama bekerja di kantor telegraf itu, Suparto mulai mengirim karangannya dalam ketikan yang rapi, tidak lagi dalam tulisan tangan. Satu karyanya pun dimuat majalah Aneka. Sebuah titik terang!</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, “Untuk mengikuti perkembangan Sastra Indonesia, aku mulai langganan majalah Siasat dan Mimbar Indonesia. Sekaligus sesekali mengirimkan karangan ke sana,” kisahnya. Prosedurnya sama: karangan tersebut mulanya ditulis tangan pada kertas bekas. Lalu pagi sebelum kursus dimulai, dia mengetiknya di kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasilnya menggembirakan. Nama Suparto Brata tercetak di Siasat (pimrednya saat itu Rosihan Anwar), Mimbar Indonesia (pimrednya H.B. Yasin), Garuda, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun persahabatannya dengan Sastra Jawa baru terjalin saat membaca majalah Panjebar Semangat. Merasa tertantang, Suparto pun memberanikan diri membuat dan mengirimkan cerpen berbahasa Jawa dengan nama pena Parto Printer.</p>
<p style="text-align: justify;">Beruntung, cerpen spekulasi itu langsung dimuat pada April 1958.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tahun itu juga, Suparto berhasil menyelesaikan naskah novel pertamanya, Tidak Ada Nasi Lain. Karya setebal 600-an halaman ini belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku, tapi kelak pada tahun 1990 dimuat sebagai cerbung di harian Kompas.</p>
<p style="text-align: justify;">Setahun kemudian, Parto Printer juga berhasil menggondol juara I untuk sayembara penulisan cerita bersambung (cerbung) yang diselenggarakan Panjebar Semangat. Artinya, Suparto sukses mengalahkan pengarang favorit di ranah Sastra Jawa saat itu, Any Asmara.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tahun 1960, sastrawan Jawa yang menguasai bahasa Belanda dan Inggris ini pindah kerja ke Perusahaan Dagang Negara Djaya Bhakti. Di sana, “Aku jauh lebih makmur daripada saat di kantor telegraf dulu. Jam kerjaku jadi 08.00-16.00.” Catat juga, Suparto menemukan jantung hatinya di perusahaan Belanda yang telah dinasionalisasi itu. Mereka lalu menikah pada tahun 1962.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi tahun 1967, Presdir Djaya Bhakti mewajibkan semua karyawannya masuk Soksi (embrio Partai Golkar). Suparto dan istri menolak. Mereka pun keluar. Suparto sudah berbulat tekat untuk menjadi penulis purnawaktu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ironisnya, di periode itulah dia menyadari betapa tulisan berbahasa Jawa sulit diterima masyarakat, bahkan untuk masyarakat Jawa sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Makanya, “Nulis cerita silat saja,” saran Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo. Kakek dari Desta Club 80’s itu tidak asal bicara. Kala itu cerita silat memang jadi primadona, baik di koran, majalah, komik, maupun buku stensilan.</p>
<p style="text-align: justify;">Suparto manggut-manggut. Dia mulai produktif menulis cerita-cerita silat berbahasa Indonesia untuk disetor pada Kho Ping Hoo. Diterbitkan atau tidak, penulis fiksi bersetting tanah China dan Jawa itu selalu memberi honor pada Suparto.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun ketika karya Suparto yang tidak diterbitkan semakin banyak, dia memilih berhenti. Bukan karena kecewa, melainkan lantaran merasa tidak enak memakan gaji buta.</p>
<p style="text-align: justify;">Telepon rumah berdering.</p>
<p style="text-align: justify;">Suparto menghentikan penuturannya untuk menerima telepon itu. Saya tak tahu pasti, sepertinya itu dari wartawan, atau penerbit. Mereka berbincang tentang buku-buku.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menghempaskan diri ke punggung sofa ruang tamu. Lalu menengok ke luar. Hujan yang tadinya deras tampaknya mulai menggerimis. Pamit ah, rencana saya. Tak enak bertamu sampai jam 10 malam begini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi setelah menerima telepon, Pak Parto malah mengajak saya ke kamar sekaligus ruang kerjanya. Bagaimana saya bisa menolak keramahan itu? Di lain sisi, saya penasaran juga, apakah kamar seorang sastrawan besar sama berantakannya dengan kamar saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata benar. Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamar berukuran 7×4 meter itu menyimpan 140-an buku Suparto yang telah diterbitkan, juga buku dari penulis lain, biasanya buku-buku langka. Tampak satu lemari dan dua meja yang berisi buku, komputer, printer, dan beberapa naskah kuno yang dia peroleh dari teman-temannya di Eropa atau Amerika. Naskah-naskah itulah yang menjadi bahan riset penulisan buku-bukunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dokumen-dokumen kuno itu plus daya ingat yang kuat sebagai pelaku sejarah menjadikan Suparto Brata salah satu pakar sejarah Surabaya. Meskipun dia lebih berfokus pada fiksi. Saya jadi menyesal, kenapa saat menulis Pemuja Oksigen yang bersetting Surabaya, saya tak sempat mengobrol dulu dengan beliau. Pasti bisa lebih banyak eksplorasi dalam novel thriller itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sastra tidak dilahirkan untuk majalah atau koran,” ucap Suparto, membuyarkan lamunan saya. Kalau sastra hanya untuk media, lanjutnya, ia akan terbonsai oleh ruang. Sastra yang berserakan semacam itu akan sulit diarsipkan, paling-paling hanya bisa dikliping. Tanpa catatan di perpustakaan nasional maupun internasional (ISBN), susah dirunut riwayatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sastra semestinya berbentuk seperti ini,” terang Suparto sambil menunjuk buku-buku di kamarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun bagaimana dengan keengganan penerbit, baik swasta maupun pemerintah, terhadap Sastra Jawa yang tidak berbau duit? Cerita Jawa di surat kabar, tabloid atau majalah saja kian langka! Kehadiran Hadiah Rancagé yang diprakarsai Ajip Rosjidi untuk dua kategori, pejuang sastra dan pengarang yang menerbitkan buku sastra daerah, pun belum mampu melumasi seretnya penerbitan Sastra Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Suparto tidak terhalang oleh itu. Banyak jalan menuju Roma. Tatkala menerbitkan novel Donyane Wong Culika (2005), dia patungan dengan penerbit di Jogjakarta. “Total biaya untuk 1.000 eksemplar adalah 16 juta rupiah. Nah, aku urun 8 juta. Bukunya laris, Mas. Tahun 2008 sudah ludes. Beredar sampai Belanda dan Amerika. Itu membuat namaku semakin dikenal secara internasional sebagai pengarang Sastra Jawa.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, banyak juga buku yang belum balik modal sampai sekarang. Bukan masalah. Toh, “Yang penting terus ada buku yang meramaikan khasanah Sastra Jawa. Ini agendaku tiap tahun, Mas. Bahkan di tahun 2010 ini, insya Allah ada lima judul yang diterbitkan dengan cara patungan begitu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Suparto Brata hanya ingin kelak Sastra Jawa dipunwaos tiyang sadonya. Barangkali sastrawan daerah memang harus militan seperti ini. Saya geleng-geleng. Beruntungnya Sastra Jawa memiliki seorang Suparto Brata.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam pun kian larut.</p>
<p style="text-align: justify;">Hujan sudah reda, meski langit masih merah mendung. Saya akhirnya benar-benar pamit, dan pulang sambil membawa banyak ilmu.</p>
<p>Diambil dari Tulisan Brahmanto Anindito di <a href="http://warungfiksi.net/meet-suparto-brata/">warung fiksi.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=577</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Berkarya Maka Aku Ada</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=263</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=263#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 04:29:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[sastra jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Eksistensi sastra Jawa hanya bergantung pada sastrawannya. Minimnya media berbahasa Jawa mereka harus berjibaku menerbitkan karyanya sendiri. Oleh : Arief Junianto]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Eksistensi sastra Jawa hanya bergantung pada sastrawannya. Minimnya media berbahasa Jawa mereka harus berjibaku menerbitkan karyanya sendiri</em><em>.</em></p>
<p>Oleh : Arief Junianto</p>
<p><em><img class="alignnone size-full wp-image-264" style="float: left; margin: 0px 10px 10px  title="foto" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2009/04/foto.jpg" alt="foto" width="265" height="199" /> Media berbahasa Jawa boleh dikatakan sangat minim. Di Surabaya media yang ada hanya dua, Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Itupun terbit hanya untuk kalangan tertentu yang berminat dengan bahasa Jawa. Di dua media ini, bisa dikatakan budaya Jawa, secara libih luas mampu disiarkan. Selain itu bila dibandingkan dengan sastra daerah lain, sastra Jawa masih memiliki tempat yang cukup menguntungkan. Hal ini disebabkan penutur bahasa Jawa memang masih terbilang cukup banyak.</em></p>
<p><em><span id="more-263"></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Meski demikian bukan berarti praktisi sastra Jawa banyak bermunculan. Kenyataannya, tidak banyak sastrawan yang mau secara total berkarya demi kemajuan dan keberadaan sastra Jawa. Oleh karena itu, bisa dikatakan, sastra Jawa semakin terjepit di tengah banyaknya penutur bahasa Jawa. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Keterjepitan sastra Jawa tidak hanya didasarkan pada jumlah sastrawan yang sedikit, namun juga pada perkembangan wacana mengenai kesusasteraan Jawa yang hanya berkutat pada segelintir orang saja. Namun demikian, sastra Jawa punya cara sendiri untuk terus hidup. Salah satunya adalah berkarya. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Suparto Brata, seorang pengarang sastra Jawa sepakat bahwa kondisi sastra Jawa kini cukup memprihatinkan. Diakuinya, banyak sastrawan yang mengaku sastrawan Jawa, namun eksistensinya dalam membangun dan mempertahankan sastra Jawa malah harus dipertanyakan kembali. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Baginya, meski secara komersialitas tidak segemilang dengan karya-karyanya sastra Indonesia, namun dirinya masih tetap berupaya semaksimal mungkin untuk berkarya di ranah sastra Jawa. ”Yang penting bagi saya adalah berkarya. Dengan berkarya maka sastra itu ada,” papar Suparto. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Selain karya, eksistensi budaya Jawa yang didalamnya juga ada sastra Jawa dan bahasa Jawa,  harus ada perhatian dari pemerintah. Suparto mencontohkan, penetapan hari Bahasa Ibu oleh pemerintah ternyata juga tidak maksimal. Meski sudah ada perda yang mengatur untuk hal itu, namun pada kenyataanya pelaksanaan akan hal itu masih belum ada. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Selain itu, ditambahkan oleh Suparto, kongres juga diadakan sebagai salah satu jalan untuk menyatukan visi dan misi dalam mempertahankan kelestarian bahasa Jawa. Dikatakannya, kongres Bahasa Jawa yang diadakan juga seharusnya bisa menjadi jalan untuk mempertahankan kelestarian bahasa Jawa. Akan tetapi, diakuinya, kongres yang sudah berusia 15 tahun tersebut masih belum menghasilkan sesuatu yang konkret.”Malah menghabiskan dana bermilyar-milyar,” ujarnya. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Hal tersebut didukung oleh Bonari Nabonenar. Menurutnya akan lebih baik jika uang yang digunakan untuk membiayai kongres-kongres semacam itu, digunakan untuk memberikan apresiasi terhadap komunitas dan elemen-elemen lain yang mendukung keberadaan bahasa Jawa tersebut. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Ditemui secara terpisah, Widodo Basuki, pengurit sastra Jawa, sependapat dengan Suparto Broto. Menurut wartawan Jaya Baya ini, sastra Jawa hanya bisa eksis karena perjuangan para sastrawan secara mandiri. ”Banyak sastrawan Jawa yang masih separuh hati untuk bergelut dengan budaya Jawa ini,” kata Widodo yang pernah meraih penghargaan Rancage  dari Ayib Rosidi, tahun 2000. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Widodo menceritakan, selama ini dirinya, terus berusaha menerbitkan puisi-puisi Jawanya meski harus mendanai sendiri. Menurutnya ini kenyataan yang tidak bisa dihindarkan. Daripada mengeluh terus tidak adanya media massa yang menampung puisi Jawa, Widodo, berusaha mengumpulkan puisi-puisinya dengan cukup memfotokopi. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Mantan ketua komite sastra Dewan Kesenian Surabaya periode 1998-2003 ini juga pernah diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk membacakan kupulan puisi jawanya Layang Saka Tlatah Wetan (1999). “Selama ini saya terus mencoba konsisten pada sastra Jawa,” tambahnya. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Tidak berbeda dengan Sri Setyowati atau biasa disapa Trinil, juga lebih aktif menerbitkan buku karya sastranya sendiri. Keterlibatannya dengan media massa dimulai tahun 1998. sejak tahun itu Trinil aktif menulis reportase untuk majalah Jaya Baya, Tabloid Bromo, Kidung, dan Penjebar Semangat. Selain menulis dengan menggunakan dialek Suroboyoan, Trinil juga  menulis dengan gaya bahasa Mataraman (Jawa halus). </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Keterlibatan Trinil pada dunia perpuisian memang belum lama. Tetapi beberapa puisinya sudah pernah terkumpul dalam Kabar Saka Bendulmrisi, suntingan Suharmono Kasiyun yang diterbitkan Dewan Kesenian Jawa Timur dan Sastra Campursari suntingan Bonari Nabonenar yang diterbitkan oleh Taman Budaya Jawa Timur. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Selain menulis puisi, Trinil juga menulis crita cekak (cerpen, red) yang dimuat di Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Trinil ternyata juga sudah menerbitkan buku cerita anak berjudul Kasih Sayang yang Tak Padam. Selain itu Trinil juga sudah menerbitkan novel bahasa Jawa, Sarunge Jagung. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Joko Prakoso, dosen Sekolah Tinggi Karawitan Wilwatikta (STKW), menekankan seharusnya sastra Jawa dipahami sebagai wilayah tersendiri yang terpisah dari wilayah lain. Hal ini disebabkan sastra Jawa memiliki pecinta dan peminat sendiri yang berbeda dengan sastra nasional atau sastra Indonesia.”Sastra Jawa tidak bisa dipertandingkan dengan sastra-sastra lain,” ujarnya. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Agar tidak terkesan kuno dan semakin ketinggalan zaman, dikatakanyanya, harusnya sastra Jawa harus menyesuaikan dengan zamannya.”Campursari adalah bukti sastra Jawa sudah bisa diterima oleh masyarakat banyak,” pungkas Joko. </em></p>
<p><em>Diambil dari <a href="http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&amp;act=view&amp;id=715a4f8bb21abbd684d51711fa65b830&amp;jenis=d3d9446802a44259755d38e6d163e820&amp;PHPSESSID=61ea37f665bed531304c9a6f9f3fcc29">Surabaya Post co.id</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=263</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop Writing 09: Menulis Itu Mudah</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=224</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=224#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 07:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Rektorat, ITS Online &#8211; Untuk menjadi seorang penulis itu mudah. Hal inilah yang dituturkan oleh Suparto Brata, Budayawan dan Seniman Jawa Timur. &#8220;Budayakan diri membaca buku, karena membaca dan menulis itu merupakan dua perangkat instrumen ilmu yang tak terlepaskan,&#8221; tutur Suparto Brata, peraih The SEA Write Award 2007 ini. Pria kelahiran 16 Oktober 1932 ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style=text-align:justify;">Menulis itu mudah. Hal inilah yang dipaparkan kelima pakar penulis dalam Workshop Writing yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Kelautan ITS, Selasa (14/4). Selain itu pula, menurut Suparto Brata untuk memudahkan menulis dimulai dengan membaca. Walaupun peserta tak cukup ramai memadati Ruang Seminar Rektorat, hal itu tak mengurungkan minat peserta untuk mengikuti Workshop yang bertajuk Waking Up Your Writer Sense.</p>
<p><img src=" http://i571.photobucket.com/albums/ss159/supartobrata/imagephp.jpg" border="0" alt="Photobucket " width="380" /><br />
<span id="more-224"></span></p>
<p style=text-align:justify;">Rektorat, ITS Online &#8211; Untuk menjadi seorang penulis itu mudah. Hal inilah yang dituturkan oleh Suparto Brata, Budayawan dan Seniman Jawa Timur. &#8220;Budayakan diri membaca buku, karena membaca dan menulis itu merupakan dua perangkat instrumen ilmu yang tak terlepaskan,&#8221; tutur Suparto Brata, peraih The SEA Write Award 2007 ini. Pria kelahiran 16 Oktober 1932 ini juga menambahkan untuk mulai melatih disiplin untuk menulis dan membaca. &#8220;Sebisa mungkin mulailah melatih diri untuk disiplin membaca, karena membaca merupakan bekal untuk menulis,&#8221; tutur pria asal Surabaya ini.</p.</p>
<p style=text-align:justify;">Hal yang senada juga dituturkan oleh Dyah Lita Sari. &#8220;Kunci utama untuk menjadi menulis mulai dengan membekali diri dengan membaca,&#8221; tutur Dyah, Diretur KUBaca Surabaya. Tak hanya itu saja, Dyah turut pula memberikan beberapa trik bagi peserta untuk menjadi seorang penulis. Salah satunya gunakan prinsip ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). &#8220;Kita dapat meniru gaya penulisan beberapa penuls buku yang sudah terkenal, apabila kita sudah mati ide,&#8221; tutur Dyah. Selain itu, Dyah juga mengingatkan peserta untuk tidak membajak atau menjadi plagiator.</p>
<p style=text-align:justify;">Selain itu, turut pula menjadi pembicara yaitu Ir Daniel M Rosyid PhD. Menurut penulis yang juga merupakan dosen di Fakultas Teknologi Kelautan ini menjelaskan ada beberapa hal yan perlu disiapkan untuk memulai menulis. Diantaranya adalah memulai dengan membuat sistematika yang logis serta lengkap. &#8220;Yang terpenting mulai tentukan gaya penulisan serta bidang yang akan kita tulis, karena itu menjadi keunikan tersendiri dan mencerminkan diri kita masing-masing,&#8221; terangnya. Selain itu, Daniel juga memberikan kiat-kiat tersendiri ketika penulis pemula mengalami krisis ide. &#8220;Krisis ide itu dapat teratasi apabila kerangka penulisan telah dibuat sebelumnya, beda halnya apabila ide-ide liar yang muncul. Hal itu dapat kita siasiati dengan menuliskan terlebih dahulu tanpa harus mengacaukan tulisan awal yang akan kita tulis,&#8221; pungkas Daniel.</p>
<p style=text-align:justify;">Dan dua pembicara selanjutnya yakni Rosdiansyah dan Sirikit Syah lebih banyak memaparkan untuk menuliskan artikel di media massa. &#8220;Tidak perlu minder, apabila tulisan kita belum dimuat dalam surat kabar,&#8221; ucap Rosdiansyah, mantan wartawan Repuplika ini. &#8220;Tapi kita juga harus lebih proaktif, menanyakan langsung kepada penanggung jawab media massa tersebut,&#8221; imbuhnya. Dan ia juga menambahkan agar artikel dapat muat di media massa dengan menyiasati judul artikel dan membuat lead semenarik mungkin .&#8221;Artikel yang masuk di meja redaksi itu bisa mencapai ratusan judul, tidak semua artikel akan dibaca oleh redaktur, jadi kita harus pandai-pandai untuk membuat judul dan lead yang bagus. Hal itu ditujukan untuk menarik minat baca redaktur dengan tulisan yang kita buat, &#8221; terang mantan wartawan Brunai Time ini. (st/bah)</p>
<p>Diambil dari : <a href="http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=5552">Institut Teknologi Sepuluh Nopember</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=224</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jembatan Suramadu siap Beroperasi Juni</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=149</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=149#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 04:34:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Jembatan Suramadu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya Jawa Pos, 1 April 2009. Tahapan terpenting pembangunan Jembatan Suramadu terjadi menjelang dini hari tadi. Pelaksanaan proyek yang menghubungkan Surabaya-Madura itu sukses memasang main span (bentang tengah), sehingga jembatan sisi Surabaya dan sisi Madura tersambung. Jika proses selanjutnya lancar, dua bulan lagi Suramadu bisa dilalui kendaraan. Detik-detik penting penyambungan Jembatan Suramadu itu tadi malam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Surabaya  Jawa Pos, 1 April 2009.</strong> Tahapan terpenting pembangunan Jembatan Suramadu terjadi menjelang dini hari tadi.<br />
<img src="http://i571.photobucket.com/albums/ss159/supartobrata/scan0001-1.jpg" border="0" alt="Photobucket " border="0" alt="Photobucket" width="380" /></p>
<p>Pelaksanaan proyek yang menghubungkan Surabaya-Madura itu sukses memasang main span  (bentang tengah), sehingga  jembatan sisi Surabaya dan sisi Madura tersambung. Jika proses selanjutnya lancar, dua bulan lagi Suramadu bisa dilalui kendaraan. Detik-detik penting penyambungan Jembatan Suramadu itu tadi malam hingga dini hari tadi berlangsung sederhana. Menteri PU Djoko Kirmanto dan Gubernur Jatim Soekarwo yang semula direncanakan hadir, hingga berita ini diturunkan (pukul 00.00), ternyata juga berhalangan.<span id="more-149"></span></p>
<p><strong>Pasang Surut Suramadu</strong><br />
Tahun 2002:<br />
Tahap awal pembangunan Jembatan Suramadu dimulai.</p>
<p>Agustus 2003:<br />
Pemancangan proyek Suramadu oleh Presiden Megawati.</p>
<p>Tahun 2006:<br />
Suramadu kembali dilanjutkan. Targetnya akhir 2007 selesai.<br />
Proyek molor karena berbagai permasalahan pelik. Mulai pendanaan yang macet sampai sulitnya pembebasan lahan.<br />
Target rampung direvisi menjadi akhir 2008. Lagi-lagi meleset karena terganjal dana.</p>
<p>Pertengahan 2008:<br />
Dana dari investor akhirnya cair.<br />
Pembebasan lahan akses juga hampir final.<br />
Pelaksana proyek menargetkan April 2009 Suramadu beroperasi.<br />
Target rampung kembali direvisi menjadi Juni 2009. Kali ini karena alasan teknis.</p>
<p>Maret 2009.<br />
Causeway sisi Surabaya dan Madura bisa diselesaikan.<br />
Approach bridge sisi Madura tuntas.<br />
Pemasangan konstruksi sisa bentang tengah, yakni dengan melakukan closure bentang terakhir.</p>
<p>1 April 2009:<br />
Pemasangan main span (bentang tengah).</p>
<p><strong>Dikutip dari Jawa Pos, Rabu 1 April 2009.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=149</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panggih/Temu (Traditional Javanese Wedding Ceremony)</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=130</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=130#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 02:05:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[panggih]]></category>
		<category><![CDATA[perkawinan jawa]]></category>
		<category><![CDATA[temu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Sanggan. Upacara panggih adat Jawa diawali dengan penyerahan Sanggan yang terdiri dari pisang raja dan daun sirih, sebagai lambang mohon ijin untuk bertemunya kedua mempelai. The family of the Groom presents a bunch of banana named “Pisang Sanggan” to the Bride’s family. The meaning behind is that the groom is ready to carry out of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sanggan.</strong><br />
Upacara panggih adat Jawa diawali dengan penyerahan Sanggan yang terdiri dari pisang raja dan daun sirih, sebagai lambang mohon ijin untuk bertemunya kedua mempelai.</p>
<p>The family of the Groom presents a bunch of banana named “Pisang Sanggan” to the Bride’s family. The meaning behind is that the groom is ready to carry out of the Javanese Wedding Caremony “Panggih”.<span id="more-130"></span></p>
<p><strong>Kembar Mayang.</strong><br />
Pertukaran Kembar Mayang (rangkaian daun kelapa) dari masing-masing keluarga melambangkan kedua mempelai telah siap untuk melaksanakan upacara pernikahan.<br />
Diletakkan di sebelah kanan dan kiri pelaminan.<br />
Kembar Mayang lengkap dengan Cengkir Gading adalah simbol Dewa Cinta yaitu Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih.</p>
<p>The presentation of “Kembar Mayang” signifies that the Bride and Groom are ready to carry out the wedding ceremony.<br />
“Kembar Mayang” is an arrangement of coconut leaves as a symbol of the Javanese Love Gods Kamajaya and Kamaratih.</p>
<p><strong>Balangan sirih (Betel-nut Leave Throwing)</strong><br />
Kedua mempelai saling melempar gulungan sirih yang diikat dengan benang lawe. Melambangkan keduanya telah saling mengikat cinta, seperti halnya daun sirih yang walaupun mempunyai dua sisi yang berbeda, jika digigit rasanya sama. Ini artinya mulai saat ini kedua mempelai telah menjadi satu, sama-sama menghadapi tantangan hidup, baik manis maupun pahit.</p>
<p>The wedded couple throws betel-nut leaf to each other. The betel-nut leaf has two sides, but even though its shape is different, the taste is the same. The throwing signifies the good hope that the Bride and Groom (two persons with different backgrounds) will now enjoy the same life.</p>
<p><strong>Injak Telur dan Cuci Kaki. (Breaking Egg).</strong><br />
Mempelai pria menginjak telur sampai pecah, melambangkan agar setelah hidup bersama mudah-mudahan segera dikurniai putra dan putri.<br />
Mempelai wanita akan membasuh kaki mempelai pria yang menginjak telur, melambangkan dukungan dan kesetiaan.<br />
Mempelai pria akan membantu mempelai wanita untuk berdiri dengan memegang tangannya, melambangkan rasa terima kasih atas kesetiaan yang diberikan.</p>
<p>The Groom will break an egg using his foot, signifies that he is ready to become a father with all responsibilities borne upon hun.<br />
The Bride will wash and clean the Groom’s foot, as a symbol of support and loyalty.<br />
The Groom will help the Bride to stand up by holding her hands, as a gesture of thank you for her loyalty.</p>
<p>Sindur Binayung.<br />
Ibu mempelai wanita akan melingkarkan “sindur” (selendang berwarna merah dengan warna putih di tengah-tengah) di bahu kedua mempelai.<br />
Ayah mempelai  wanita akan berjalan pelahan di depan kedua mempelai menuju pelaminan, melambangkan arah dan bimbingan dari beliau kepada kedua mempelai.<br />
Kedua mempelai memegang ujung baju ayah yang berjalan di depan.<br />
Ibu mempelai wanita memegang bahu kedua mempelai dari belakang dan mengiringi ke pelaminan, melambangkan dukungan dan doa restu.</p>
<p>The mother of the Bride puts a ”sindur”, a piece of red cloth, upon the couple’s shoulder during the procession  to the bridal throne.<br />
Father of the Bride walks in front, signifies guidance for the couple’s future life. The couple follows the guidance, while the mother from behind giving them blessing and support.</p>
<p><strong>Tandur (Weighing).</strong><br />
Sesampainya di pelaminan, ayah mempelai wanita duduk di tengah dan memangku kedua mempelai. Mempelai pria pada paha sebelah kanan, mempelai wanita di paha sebelah kiri.<br />
Ibu mempelai wanita akan bertanya, “Berat mana, Pak?”<br />
Ayah mempelai wanita menjawab, “Sama beratnya&#8230;.”<br />
Ini melambangkan bahwa  di antara menantu dan anak kandung sudah  tidak ada lagi perbedaan, keduanya akan sama-sama dikasihi sebagai anak sendiri.</p>
<p>Father of the Bride sits on the bridal throne. The couple sits on his lap, the Bride on the left side, the Groom on the right side. Mother of the Bride asks, “Who is heavier?” The father replies, “Same.”<br />
The part of ceremony signifies that from now on, the Groom will be treated the same as their own son.</p>
<p><strong>Tanem (Seating).</strong><br />
Ayah mempelai wanita memegang bahu kedua mempelai dan mendudukkan keduanya di pelaminan. Ini melambangkan restu bagi kedua mempelai untuk hidup mandiri.</p>
<p>Father of the Bride stands facing the couple, puts his hands on their soulders and sit them on the bridal throne. This is a symbol of blessing.</p>
<p><strong>Rujak Degan (Young Coconut Cocktail).</strong><br />
Ibu mempelai wanita memberikan segelas rujak degan (kelapa muda) kepada ayah mempelai wanita. Setelah dicicipi, ibu mempelai wanita akan bertanya, “Bagaimana rasanya?”<br />
Ayah mempelai wanita  akan menjawab, “Segar dan manis. Saya harap seluruh keluarga  akan menikmatinya.” Rujak degan yang rasanya manis adalah lambang suatu harapan agar seluruh keluarga selalu merasakan manisnya hidup.</p>
<p>Mother of the Bride gives a glass of young coconut cocktail to the father. After he tastes it, she asks, “How is it?” The father answers, “It’s sweet and fresh. I hope that everyone  in the family will enjoy it.”<br />
It signifies a hope that  the whole family will have happiness in their lives.</p>
<p><strong>Kucar kucur (Pouring Wealth).</strong><br />
Suatu bingkisan kacar kucur terdiri dari tujuh macam kacang-kacangan dicampur uang receh dan beras kuning digunakan untuk upacara kacar kucur ini. Mempelai pria akan menuangkan kacar kucur ke dalam sehelai kain yang diletakkan di atas pangkuan mempelai wanita. Ini melambangkan bahwa seorang suami mempunyai kewajiban memberikan nafkah kepada isterinya, sedangkan sang isteri berkewajiban menghormati dan menyimpan harta suami. Bingkisan kacar kucur kemudian diserahkan mempelai wanita  kepada ibunya, sebagai tanda bakti dan terima kasih kepada orangtua.</p>
<p>The Groom pours seven kinds of beans mixed with yellow rices and coins, symbolizing the Groom’s wealth, into a piece of cloth, spread on the Bride’s lap.<br />
It means, the Groom as a husband is prepared to give his income to his wife, while the wife should manage the wealth wisely. The Bride will  then entrust the cloth to her mother, signifies that the couple will always take care  and respect their parents.</p>
<p>Dahar Klimah (Feeding Each Other)<br />
Kedua mempelai akan saling menyuapi sebanyak tiga kali. Mempelai pria menyuapi mempelai wanita dahulu, baru sebaliknya.<br />
Melambangkan tekad untuk saling berbagi suka duka dalam kehidupan rumah tangga, saling menghargai dan tenggang rasa.</p>
<p>The Bride and Groom feed each other, starting by the Groom first. This is signifying that they will enjoy the good luck and prosperity of their future lives; they will support each other and have mutual understanding.</p>
<p><strong>Minum Air Putih (Drinking Water).</strong><br />
Kedua mempelai saling mengambilkan air putih untuk minum, melambangkan  harapan agar hati keduanya selalu bening dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.</p>
<p>The Bride and Groom give each other a glass of water and drink it, symbolizing a hope  that their hearts will always  be crystal clear in solving all problems.</p>
<p><strong>Jemput Besan (Welcoming the Inlaws).</strong><br />
Orang tua mempelai wanita akan menjemput kedatangan orangtua mempelai pria di pintu  masuk  dan mengantar mereka untuk duduk di pelaminan.</p>
<p>The parents of the Bride welcome the parents of the Groom at the entrance and they  sit together at the bridal throne.</p>
<p><strong>Sungkeman (Paying Respect).</strong><br />
Kedua mempelai akan melakukan sungkem kepada orangtua dan kakek neneknya.<br />
Dimulai dengan mempelai wanita dahulu, diikuti  mempelai pria. Urutan sungkem dimulai dari ayah mempelai wanita, ibu mempelai wanita, ayah mempelai pria, ibu mempelai pria dan diikuti keluarga lainnya.</p>
<p>The couple pays their respect to their parents and grand parents, offering  their devotion, respect, and thankfulness. At the same time the couple asks for the family’s blessing.</p>
<p><strong>Bubak Kawah (Grabbing Kitchen Utilities).</strong><br />
Acara ini berupa alat-alat dapur yang akan dihaturkan kepada para tamu, khususnya para ibu atau para gadis, untuk diperebutkan. Yang mendapatkannya akan  cepat mendapat mantu atau jodoh.<br />
Merupakan lambang bahwa keluarga mempelai wanita mengadakan acara ‘mantu’ putri yang pertama kali.</p>
<p>A presentation of kitchen utensils will be carried out by a young man, symbolizing the wedding. Ladies with daughters are expected to grab a utensil, with hope that they will soon have the blessing to wed their daughters. For young  ladies who  haven’t get married are expected  to grab a utensil, with hope that they will soon find a husband.<br />
This is symbolizing the first wedding ceremony which perform by the Bride’s parents.</p>
<p><strong>Tumplak Punjen (Giving Gift).</strong><br />
Ibu mempelai wanita akan melakukan saweran ‘tumplak punjen’ yang berupa tujuh jenis kacang-kacangan dicampur uang receh  dan beras kuning.<br />
Ini melambangkan  bahwa keluarga  mempelai wanita mengadakan acara “mantu putri yang terakhir kali”.</p>
<p>Mother of the Bride will sow seven kinds of beans with yellow rice and coins from a container that signifies the wealth for the newly wedding  couple. At the end of the  ceremony  the mother breaks  the container as a symbol that they will  never organize another wedding.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=130</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LASKAR PELANGI DAN IHWAL FILM NASIONAL</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=94</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=94#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 09:09:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Fahrudin Nasrulloh Penggiat Majavanjava Cinema Club Dan Komunitas Lembah Pring Jombang Memperingati 10 November 1945 adalah mengenang pekik hidup-mati, geriung tank yang merangsek, dan simbahan getih di Jembatan Merah Surabaya. Ini lelayap bayangan saya kiranya, sebelum saya menyimak memoar Bung Tomo dalam bukunya 10 Nopember (Penerbit Balapan Jakarta, 1951). Tersebab itu, saya memburu berbulan-bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong>Oleh Fahrudin Nasrulloh</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center">Penggiat Majavanjava Cinema Club</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center">Dan Komunitas Lembah Pring Jombang</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt"><strong>Memperingati 10 November 1945 </strong>adalah mengenang pekik hidup-mati, geriung tank yang merangsek, dan simbahan getih di Jembatan Merah Surabaya. Ini lelayap bayangan saya kiranya, sebelum saya menyimak memoar Bung Tomo dalam bukunya <em>10 Nopember </em>(Penerbit Balapan Jakarta, 1951).<span> </span>Tersebab itu, saya memburu berbulan-bulan film garapan Imam Tantowi yang berjudul <em>Soerabaia 45: Hidup atau Mati! </em>Susah memang, tapi akhirnya ketemu juga di rentalan film di depan GOR Jombang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt"><span id="more-94"></span>Film itu tidak bejibun aktor terkenal. Hanya beberapa, seperti Anneke Putri, S.Bono, Ade Irawan, dan Rudy Wowor. Selebihnya aktor-aktor anyar orbitan Imam Tantowi. Meski begitu, mantap aktingnya. Di film itu, Leo Kristi memerankan sebagai Bung Tomo yang berapi-api mengobarkan perlawanan <em>arek-arek Suroboyo. </em>Dukungan Gubernur Imam Soelarso pada era 90-an, sungguh sangat menentukan. Imam Tantowi juga menggarap skenarionya bersama Gatut Kusuma.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Film itu dibuka dengan kidungan ludruk yang ritmis: <em>Gunung guntur segara kocak / ana lindu gede munclak / aja mundur cak pucuke tumbak / asal awakmu gelem bersatu.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Seketika saya teringat pada sajak karya Trinil berjudul <em>“Getih Nang Treteg”: ‘Lo, gak iya tah? Treteg abang iku / Sing biyen kudanan getih / Nyekseni jaman / Nduk kono arek-arek / To-tohan nyawa.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Ternyata lanskap film itu tak kalah jika dibandingkan dengan film-film perang Hollywood. Cita rasa garapan Tantowi terbilang nyaris mencerminkan kecamuk psikologis <em>arek-arek Suroboyo </em>kala itu. Semisal, dialog sejumlah pejuang saat terpukul mundur oleh tank-tank Inggris: <em>“Mundur, onok tank, onok tank!!” </em>Pejuang lain malah bikin gojekan. <em>“La po mondur, wong mek gudir ae wedi!!”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Ya, pejuang pertama merasa bedilnya tak mempan menghalau tank dan terdesak, sedangkan pejuang kedua hanya menganggap tank-tank itu tak lebih cuma gudir (kue agar-agar). Akhirnya pejuang ini nekad menghamburkan diri ke tengah lingkaran roda besi tank dengan bom molotov yang tergenggam di tangannya sambil memekik, “Allahu Akbar. Allahu Akbar!!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Bung Tomo dalam buku yang ia tulis di Malang pada November 1951 tersebut coba melukiskan betapa gentingnya situasi <em>arek-arek Suroboyo </em>melawan arogansi tentara Sekutu. Kenang Bung Tomo: Karena Inggeris kemudian memastikan, bahwa penumpang mobil jang hangus-terbakar tersebut adalah Djenderal Brigadir Mallaby jang dibinasakan oleh rakjat Indonesia! Peristiwa itu lalu dinamakan <em>“a new turn to the situation in Java”. </em>Maka komandan angkatan perang Inggris di Indonesia, Djenderal Christison sendiri menamakan peristiwa tersebut sebagai <em>foul murder, </em><span> </span>pembunuhan jang kejam. Ia berseru, <em>bring the whole of sea, land and air forces and all the weapon of modern war against the Indonesians who committed these act.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Bung Tomo menyebut bahwa: Pertempuran jang dimulai tanggal 10 Nopember 1945 didahului dengan suatu ‘ultimatum’, suatu pernjataan terang2an jang merupakan tantangan terhadap rakjat Republik Indonesia. Untuk pertama kalinja dalam sejarahnja, Republik Indonesia menerima tantangan kekuasaan asing jang hendak melanggar kedaulatannja, dan untuk pertama kali pula Republik Indonesia melawan!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">
<p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt" align="right"><strong>Laskar Pelangi.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Beranjak dari film tersebut, sutradara-sutradara di Indonesia kini masih belum tergerak untuk menggarap film-film perjuangan semacam. Memang belakangan kita layak berdecak kagum pada sineas-sineas muda seperti Riri Reza yang sukses mengangkat novel inspiratif <em>Laskar Pelangi </em>karya Andrea Hirata menjadi film fenomenal dengan judul yang sama. Sejumlah media cetak dan TV mengekspos besar-besaran pemutaran film bertema pendidikan itu. Dari sini, peleburan antara idealisme, modernisme, dan logika pasar telah menentukan sejauh mana arus budaya global secara tersamar membentuk atau memurukkan kepribadian bangsa. Mungkin spirit nasionalisme tidak sepenuhnya mengungkit yang lama dan adiluhung sebagaimana yang digarap oleh Imam Tantowi di atas. Nasionalisme dan pemaknaan heroisme, dalam konteks yang lebih luas, juga dapat kita temukan dalam tokoh-tokoh di <em>Laskar Pelangi. </em>Namun tema nasionalisme dalam film kita yang mengangkat tragedi perang dan para tokoh perjuangan tidak (dan belum) dilakukan oleh kalangan sineas sekarang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Dalam ranah diskursif, sebuah novel dan film merupakan katalisator penting untuk menakar sejauh mana perkembangan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa, selalu sebagai budaya tanding (atau propaganda?). Banyak novel di sejumlah negara maju di Eropa yang diangkat ke dalam film. Contohnya <em>War and Peace-</em>nya Leo Tolstoy. Dengan judul yang sama, novel itu diangkat ke dalam sebuah film dalam beberapa kurun lampau. Sebelumnya, <em>War and Peace, </em>bahkan menjadi bacaan wajib di sekolah umum Rusia, karena mengangkat peristiwa momentum ihwal pergolakan politik di Rusia di awal abad 20-an.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Di tanah air, sejak masa kejayaan Usmar Ismail hingga sekian tahun kemudian, hanya beberapa gelintir film perjuangan yang digarap. Misalnya, <em>November 1928 </em>(Teguh Karya) atau <em>Cut Nyak Dien </em>(Eros Djarot). Selain itu, ada sederet film yang berdasarkan skenario keroyokan atau individu yang berdasarkan naskah dari cerita fiksi atau cerita rakyat atau cerita kuno atau babad seperti <em>Jaka Sembung, Si Buta dari Gua Hantu, Fatahillah, Tutur Tinular, Mahkota Mayangkara, </em><span> </span>atau yang terbaru dalam bentuk serial <em>Laksamana Cheng Ho.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Di pengujung 2006, saya pernah membaca sebuah wawancara di<span> </span><em>Koran Tempo </em>tentang seorang produser kenamaan Indonesia yang berupaya mengangkat novel tetralogi <em>(Bumi Manusia, Rumah Kaca, Jejak Langkah </em>dan <em>Anak Semua Bangsa) </em>karya Pramoedya Ananta Toer ke layar lebar. Baginya, ikhtiar itu adalah iimpian gila sekaligus kerja raksasa yang membutuhkan dana miliaran rupiah untuk mewujudkan. Kendati pernah ditawarkan kepada Ang Lee (yang tahun itu meraih penghargaan Piala Oscar sebagai sutradara terbaik) agar berkenan menyuteradarainya, entah mengapa sampai sekarang rencana besar iktu tak terdengar lagi kabarnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Sejak itu saya berharap besar (jika bukan berkhayal), bahwa kita juga memiliki warisan karya sastra yang bisa digarap secara serius oleh ssutradara-sutradara muda. Bertolak dari itu, kita bisa mengambil contoh sejumlah film manca yang digarap dengan cemerlang dan berbobot seperti <em>Ben Hur, Helen of Troy, Spartacus, Nero, The Lion of the Desert, Lawrence of Arabia, Gladiator, Brave Heart, The Last Emperor, The Last Mohigan, Dawn Fall, Schandler’s List, The Passion of the Christ, </em>atau <em>Kingdom of Heaven.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Kiranya kita juga patut melongok sejenak pada Jepang yang memiliki sutradara tangguh semacam Akira Kurosawa yang memfilmkan novel <em>Rashomon </em>karya Yasunari Kawabata. Film besutannya yang lain adalah <em>Ran, Kaghemusa, Mamadayo </em>atau <em>Dersu Uzala. </em>Konon, menurut sebagian kritikus film dunia, film-film garapan Kurosawa telah mengilhami sejumlah sutradara Hollywood seperti David Lean, Sergio Leone, Steven Spielberg, Oliver Stone, Martin Scorsese atau Clint Eastwood dalam berkarya. Film-film mereka pun kerap mendulang pujian dan apresiasi yang prestisius di kancah penghargaan Piala Oscar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Saat membayangkan kiprah Kurosawa, saya jadi balik bertanya: bagaimana kabar sederet novel bermutu kita bila disinggungkan dengan sejauh mana respons kreatif para sutradara mutakhir Indonesia terhadapnya?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Ketika film <em>Daun di Atas Bantal-</em>nya Garin Nugroho muncul pada 1997, sontak saya melonjak girang sosok baru sutrada film Indonesia telah lahir. Film-film karya Garin sebelumnya: <em>Cinta dalam Sepotong Roti </em>(1991), <em>Surat Untuk Bidadari </em>(1993), <em>Bulan Tertusuk Ilalang </em>(1995), <em>Puisi Tak Terkuburkan </em>(1999), <em>Aku ingin menciummu Sekali Saja </em>(2002), <em>Rindu Kami Padamu </em>(2005), dan terakhir <em>Opera Jawa </em>(2006). Saya curiga, apa motivasi dan gagasan mendasar Garin dalam menggarap tema-tema alternatif ihwal fenomena krisis sosial-budaya kekinian Indonesia selain film <em>Puisi Tak Terkuburkan </em>yang mengangkat pertarungan batin seorang penyair pada masa kolonial di Sumatera.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Ihwal lain yang cukup disayangkan adalah naskah skenario film karya Sjumandjaya berjudul <em>Aku,</em> yang bercerita tentang perjalanan kepenyairan Chairil Anwar di masa pergolakan kemerdekaan Indonesia yang tampaknya telah diniatkan untuk difilmkan, namun dengan sebab tertentu tak terselesaikan. Karya itu, menurut saya, wajib difilmkan, karena untuk mengetahui era perpuisian Indonesia modern. Chairil Anwarlah yang pertama harus disebut. Memang masih banyak tokoh lain dalam berbagai bidang yang layak digarap mulai Diponegoro, Raden Saleh, Tan Malaka, Soekarno, Affandi, H.B.Jassin, dll. Dalam hal ini kita bisa bercermin pada sejumlah film terkait semisal pada <em>Byron </em>(Lord Byron, penyair Inggris), <em>Surviving Picasso </em>(Pablo Picasso, pelukis Prancis), <em>Patton </em>(Jenderal Patton dari Amerika pada masa Perang Dunia I), <em>A Beautiful Mind </em>(tentang sosok John Nash, peraih Nobel di bidang matematika), dan sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Tampaknya kini sutradara-sutradara Hollywood mulai melirik bahkan ada beberapa yang sudah menggarap film dengan mengacu pada setting Asia. Baik yang berdasarkan novel maupun catatan harian seperti film <em>Anne Fank. </em>Sejumlah film berlatar Asia telah dibesut oleh sutradara Hollywood seperti <em>The Legend of Suriyothai </em>dan <em>Heaven and Earth </em>(Oliver Stone), atau <em>Memoirs of A Geisha </em>(Rob Marshall).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Bertolak dari film <em>Laskar Pelangi, </em>alangkah menarik jika sutradara muda kita melirik untuk menggarap novel <em>Kremil </em>(Suparto Brata), <em>Merahnya Merah </em>(Iwan Simatupang), <em>Surabaya </em>(Idrus), <em>Olenka</em><strong> </strong>(Budi Darma), <em>Ronggeng Dukuh Paruk </em>(Ahmad Tohari), <em>Burung-burung Manyar </em>(Y.B.Mangunwijaya), atau <em>Arus Balik </em>(Pramoedya Ananta Toer). Hal itu pantas dipikirkan para insan perfilman dan pemerintah, untuk merealisasikannya. Kapan lagi kita dapat mengapresiasi secara bermartabat khazanah sastra bangsa sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt">Menjamurnya sinetron-sinetron picisan, dan film-film horor tak bermutu yang sekedar berorientasi pada pasar justru menunjukkan indikasi dari rendah-lumpuh dan pudarnya jati diri bangsa dan kian terseretnya generasi muda dalam arus besar <em>leviathan </em>budaya modern. Karena itu, sepakat atau tidak, terasa hambar jika kita menggagas korelasi antara dunia novel dan film Indonesia sekarang. Sebab, televisi, keringnya kegelisahan kreatif, dan kemakmuran yang korup dan menggila, telah mengubur watak dan kemandirian bangsa ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt" align="right"><em>Dikutip dari</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt" align="right"><em>Ruang BUDAYA, Jawa Pos, Minggu, 19 Oktober 2008.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=94</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENCARI SARANG ANGIN</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=90</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=90#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 00:18:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yulitin Sungkowati Latar Belakang Mencari Sarang Angin (MSA) karya Suparto Brata ditulis pertama kali pada tanggal 17 Januari – 26 April 1991 dan telah terbit di Jawa Pos sebagai cerita bersambung pada tanggal 23 Oktober – 27 Desember 1991. Sebelum diterbitkan dalam bentuk buku oleh Grasindo pada tahun 2005, MSA telah diubah kembali pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center" align="center"><span style="font-family: Times New Roman;">Oleh: Yulitin Sungkowati</span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: Times New Roman;">Latar Belakang</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify"><a title="100_09771.JPG" href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2008/10/100_09771.JPG"><img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2008/10/100_09771.thumbnail.JPG" border="0" alt="100_09771.JPG" width="103" height="132" /></a><span style="font-family: Times New Roman;"><em>Mencari Sarang Angin </em>(MSA) karya Suparto Brata ditu</span><span style="font-family: Times New Roman;">lis pertama kali pada tanggal 17 Januari – 26 April 1991 dan telah terbit di Jawa Pos sebagai cerita bersambung pada tanggal 23 Ok</span><span style="font-family: Times New Roman;">tober – 27 Desember 1991. Sebelum diterbitkan dalam bentuk buku oleh Grasindo pada tahun 2005, MSA telah diubah kembali pada tanggal 17 Januari – 26 April 2004. Novel ini hampir mewakili semua ciri novel Suparto Brata yang banyak dikenal orang selama ini, seperti menceritakan kehidupan bangsawan Surakarta, mewakili tiga zaman (zaman Belanda, zaman Revolusi, dan zaman kemerdekaan/G30S/PKI), berlatar Surabaya dan Surakarta, menyajikan relasi priyayi dan wong cilik, priyayi sentris, serta mengandung unsur detektif. Di samping itu, novel ini memperlihatkan ciri yang kental sebagai kisah perjalanan model Jawa, seperti Ngulandara. Unsur yang dapat dikatakan “baru” adalah tokoh utamanya yang berperan sebagai jurnalis dan mengisahkan “sejarah” kehidupan pers di</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman;">Surabaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span id="more-90"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span style="font-family: Times New Roman;">Di samping sejarah kota, sejarah pers, kehidupan sosial budaya masyarakat Surabaya, novel ini juga menarik dilihat dari ambivalensi-ambivalensi dalam kaitannya dengan usaha peniruan atau mimikri yang dilakukan bangsa terjajah terhadap bangsa penjajah, Belanda. Dengan adanya ciri kisah perjalanan, dari segi bentuk, novel ini juga sudah menunjukkan sebuah peniruan atau mimikri terhadap kisah perjalanan model Barat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span style="font-family: Times New Roman;">Persoalan menarik lainnya adalah munculnya gagasan yang dibawa oleh protagonis Darwan ketika menetapkan diri memilih profesi sebagai penulis, yaitu ingin turut menyongsong rekonstruksi masyarakat Jawa modern. Persoalan ini menyiratkan adanya upaya mencari identitas “baru” dengan jalan mimikri terhadap budaya dominan kolonial Belanda yang terepresentasikan dalam tokoh Darwan. Dalam usaha menunjukkan dirinya itu, Darwan selalu menjadikan Belanda sebagai referensinya sehingga ia pun mencoba melakukan peniruan, baik dalam</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman;">gaya hidup maupun cara berpikir. Akan tetapi, sebagai bangsawan Jawa, ia juga tidak dapat melepaskan begitu saja kebangsawanannya sehingga muncul ambivalensi dalam upaya peniruannya itu. Persoalan ambivalensi itulah yang menarik untuk dibicarakan karena tidak hanya tampak pada tokoh Darwan, tetapi juga dalam struktur naratif, ruang, dan waktu. Persoalan ambivalensi ini belum banyak dibicarakan sehingga masih pada dibahas untuk melihat relasi penjajah-terjajah dan memperluas serta memperkaya kajian terhadap karya-karya Suparto Brata. Pembicaraan terhadap karya-karya Suparto Brata selama ini masih terbatas pada pengungkapan alur detektif dan spirit feminis yang terpancar di dalamnya.</span><em><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: Times New Roman;">Kerangka Teori</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span style="font-family: Times New Roman;">Ambivalensi merupakan sikap mendua yang dalam wacana pasca-kolonial dipahami sebagai konsekuensi adanya usaha peniruan yang dilakukan oleh bangsa terjajah terhadap bangsa penjajah. Peniruan atau mimikri muncul karena keinginan bangsa terjajah untuk meningkatkan martabatnya agar sejajar dengan bangsa penjajah (Faruk, 2001;75) akibat kolonialisme yang tidak hanya menempatkan tanah jajahan sebagai wilayah yang darinya dapat dieksploitasi sumber-sumber ekonomi, tetapi juga sebagai dunia asing yang berbeda dengan budaya si penjajah dan perbedaan itu tidak dipahami sebagai perbedaan yang netral, horisontal, melainkan hierarkis, vertikal sebagai bangsa terjajah ditempatkan sebagai bangsa yang inferior berhadapan dengan bangsa penjajah yang menempatkan diri sebagai yang superior (Faruk, 2001; 73-74). Kolonialisme Belanda di Indonesia juga disertai serangkaian representasi mengenainya. Oleh karena itu, supremasi Belanda sebagai penjajah tertanam kuat dalam kekuasaan sosial dan psikologis penduduk jajahan, seperti dalam kemampuannya menciptakan mentalitas dan cara berpikir bahwa orang-orang kulit putih adalah yang paling benar, <em>whiteness is rightness, </em>dan panutan bagi orang-orang kulit berwarna. Terhadap dominasi kolonial itu, bangsa terjajah tidak tinggal diam, tetapi melakukan perlawanan meskipun tidak selalu dalam bentuk penegasan identitas nasional sekaligus karena problem pertama masyarakat terjajah dalam menghadapi wacana penjajah sesungguhnya adalah problem emansipasi atau peningkatan martabat diri agar setara dengan bangsa penjajah. Emansipasi itu ditempuh melalui cara peniruan yang ambivalen karena di situ pihak membangun identitas atau persamaan, tetapi di lain pihak mempertahankan perbedaan (Faruk, 2001; 73-75).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span style="font-family: Times New Roman;">Peniruan tidak dapat dihindari lagi ketika terbuka peluang pendidikan di tanah jajahan dengan diberlakukannya politik Etis pada tahun 1899. Kelompok yang paling banyak mengenyam atau memanfaatkan pendidikan Belanda ini adalah kaum bangsawan dan kelas menengah atas. Dengan membuka peluang pendidikan bagi bangsa terjajah, pihak penjajah juga mendapatkan keuntungan dengan<span> </span>terciptanya priyayi baru atau kelas sosial baru yang dapat berlaku sebagai perantara penjajah dalam berhubungan dengan penduduk jajahan. Pihak penjajah menguasai penduduk jajahan tidak secara langsung karena terkendala faktor bahasa dan budaya, tetapi memanfaatkan para bangsawan dan priyayi hasil didikan Belanda yang ditempatkan sebagai Bupati di daerah-daerah kekuasaan Belanda sebagai perantaranya. Strategi Belanda itu telah menempatkan para bangsawan dan priyayi terpelajar dalam posisi ambivalen. Politik Etis yang dicetuskan T. Ch. Van Deventer tampaknya lulus untuk meningkatkan taraf hidup penduduk jajahan, tetapi sesungguhnya untuk mengukuhkan kolonialismenya di Indonesia dengan terbentuknya suatu lapisan sosial yang merasa berhutang budi karena telah ditingkatkan peradabannya menjadi “seolah-olah” sederajat dengan Belanda (Foulcher, 1994).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span style="font-family: Times New Roman;">Peniruan yang paling mudah dilakukan adalah peniruan</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman;">gaya hidup orang Eropa yang merebak pada pertengahan kedua abad ke-19 (Sutherland dlm Faruk, 2001;76) dan menurut Adam (dlm Faruk, 2001;76) merupakan perwujudan kehendak zaman untuk mencapai kemajuan dan meningkatkan diri sederajat dengan bangsa Eropa. Dalam menghadapi gejala mimikri ini, pihak penjajah juga bersikap ambivalen. Di satu sisi membuka peluang pihak terjajah untuk mengenyam pendidikan Eropa, di sisi lain berusaha menghambatnya dengan memberlakukan politik identitas karena takut akan menggoncang struktur kekuasaan kolonial (Faruk, 2001;77). Politik identitas merupakan konsep masyarakat plural, yaitu ideologi pemisahan dan pemeringkatan penduduk berdasarkan golongan, agama, dan juridiksi sehingga tidak saling bergaul. Politik itu mempertajam kontras orang-orang kulit putih sebagai penguasa dan penduduk sebagai jajahan (Furnivali dlm Maemunah, 2005;15). Penduduk jajahan dapat diajar untuk meniru, tetapi bagi penjajah peniruan itu tetap akan terhambat oleh sifat-sifat kodrati yang membedakan mereka dengan Eropa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span style="font-family: Times New Roman;">Karena wataknya yang ambivalen dalam relasi penjajah-terjajah, mimikri tidak akan menghasilkan gambar yang sama persis, tetapi berupa salinan yang kabur <em>‘blurred copy’.</em>.Berbeda dengan wacana antikolonial yang mengacu pada perlawanan kaum terjajah terhadap penjajah, wacana pascakolonial lebih memperhatikan sifat-sifat dan alam kolonial dan warisannya di alam pascakolonial yang ditandai oleh perebutan, ambivalensi, dan kekaburan makna karena tidak sanggup menghasilkan simpulan yang “konkret”, bahkan mengelabui perlawanan yang menjadi kenyataan “objektif” dalam eksploitasi kolonial yang masih berlangsung (Foukcher, 1994). Menurut Bhabha (Gandhi, 2001;vii) tidak ada budaya atau bahasa baik dari bangsa penjajah maupun yang terjajah, yang bisa direpresentasikan dalam bentuk ‘murni’. Bahasa dan budaya mereka tidak dapat dipisahkan satu sama lain sehingga memunculkan hibriditas yang menjadi budaya ketiga, yang sama validnya dengan budaya kolonial dominan.</span></p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: Times New Roman;">Pretensi sejarah</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span style="font-family: Times New Roman;">Sebagai novel yang memiliki pretensi sejarah, novel ini menunjukkan pentingnya masa lalu agar sejarah yang buruk tidak terulang. Secara jelas, pada awalnya novel ini hendak meninggalkan masa lalu dan membuang semua yang ada di masa lalu untuk menggapai masa depannya. Darwan yang hidup di “masa kini” berusaha menggapai masa depan dengan meninggalkan masa lalu.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt"><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Arial Narrow'">Darwan memandang Surakarta adalah kehidupan kemarin, sementara</span></span></p>
<p>Surabaya hari esok. Yang kemarin tidak bisa diulang, yang hari esok bisa dirancang. (Brata, 2005;39).<span style="font-size: 11pt; font-family: 'Arial Narrow'"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span style="font-family: Times New Roman;">Akan tetapi, novel ini selanjutnya menunjukkan bahwa masa lalu tidak dapat ditinggalkan begitu saja karena masa depan merupakan rangkaian dari masa lalu dan masa kini. Masa lalu didudukkan dalam posisi penting sebagai cermin agar yang buruk di masa lalu tidak terulang di masa kini dan masa depan. Masa lalu juga tidak harus ditinggalkan karena masa depan yang diinginkan juga belum pasti.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Arial Narrow'">“O, itu lagu lama. Alasan klasik. Menuntut berkuasa karena mengklaim anggotanya paling banyak dan merasa menderita akibat diperlakukan tidak adil. Lalu, mereka membenci penguasa yang tidak sepaham dengannya, berjuang memenangkan segala cara untuk merebut kekuasaan atau sekedar merugikan lawan, melakukan teror, menohok kawan seiring, melumpuhkan kekuatan bangsa sendiri. Tiap orang Jawa hafal dengan lagu itu. Tercermin dalam cerita wayang Pandawa dan Ngastina. Orang Ngastina itu orangnya banyak, mengaku diperlakukan tidak adil, meneror dan membenci orang Pendawa, tetapi selalu kalah. Karena apa? Karena bodoh. Banyak tetapi bodoh, itu akan membuat bangsa jadi terpuruk. <span> </span>PKI itu persis seperti orang Ngastina. Barangkali lagu seperti itu akan terus berulang dan berlanjut, apabila kita tidak mendidik dan mencerdaskan bangsa. Hanya bangsa yang cerdas bisa menolong negara ini adil makmur. Orang PKI sudah lupa jadi orang Jawa maka buta bercermin pada cerita wayang yang begitu mencolok dipagelarkan di depan matanya. Yang diserap dan dianut paham asing, ditonjolkan sebagai paham superior, tidak peduli hal itu cocok atau tidak dengan kebudayaan kita di sini,” kilah Kanjeng Rama.</span><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Arial Narrow'">“Nanti dulu, Kanjeng Rama. <em>Nandalem </em>tadi setengahnya meramal cerita klasik perang saudara Pendawa-Ngastina itu mungkin berulang dan berlanjut kalau orang Jawa kehilangan Jawanya, seperti peristiwa yang kini dilakukan oleh orang-orang PKI komunis yang lari ke Madiun itu. Akan berulang kalau bangsa kita tetap bodoh. Apa Musa yang anggota Commintern dan Amir Syarifuddin yang menguasai empat bahasa Eropa itu bukan orang pintar? Apa mereka tidak mendidik bangsa kita menjadi cerdas seperti pemimpinnya?”</span><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Arial Narrow'">“Betul, orang pintar. Tetapi, cara mendidik rakyatnya atau umatnya tidak benar. Dididik untuk merebut kekuasaan. Maka, yang terjadi tentu konflik antara bangsa <em>dewek</em><span> </span>seperti sekarang ini. Perang saudara, seperti Pendawa dan Ngastina. Bangsa tidak akan rukun, sejahtera, dan berdiri tegak, kalau yang dididikkan saling membenci karena berbeda paham dan berebut kekuasaan.”</span><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Arial Narrow'">“Kalau <em>Nandalem </em><span> </span>bisa meramal perang saudara seperti itu akan berulang dan berlanjut, tentunya <em>Nandalem </em>bisa memberi pandangan mengapa bisa berulang dan bagaimana supaya tidak berulang. Sebab kalau perang saudara berulang-ulang, bangsa kita tentulah pecah sebagai ratna.”</span><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Arial Narrow'">“Coba kita lihat cerita klasik perang saudara Pendawa dan Ngastina dengan cerdas. Penyebab perang sejatinya adalah perbedaan. Ngastina dan Pendawa itu beda. Celakanya, pemimpin Ngastina, orang pandai seperti Sengkuni, Durna, Adipati Karna, selalu mengasah perbedaan ini menjadi hasutan dendam kesumat. Ngastina umatnya banyak, Pendawa sedikit. Kalau perang pasti menang Ngastina. Ngastina miskin, Pendawa kaya, ini tidak adil. Yang kaya harus direbut kekayaannya. Sama dengan PKI dan Negara Republik kita sekarang ini. Kepercayaan PKI beda sama Republik kita, jadi kekuasaan Republik kita harus ditumpas, direbut, dikalahkan. PKI yang dimenangkan. Itulah kesalahan pemimpin Ngastina. Segala perbedaan ditonjolkan sehingga menimbulkan dendam dan diselesaikan dengan tindak kekerasan. Motif pendidikan seperti itu adalah menghasut. Kalau berlangsung terus, tentu konflik di negara kita tidak akan selesai-selesai. Sebab betapa pun juga Gusti Allah itu tidak pernah menciptakan dua benda, atau manusia, atau kelompok manusia, atau apa saja, yang sama persis satu sama lain. Tidak pernah. Yang tertakdir adalah serbabeda. Jadi, paham atau kepercayaan pun pasti beda. Sedang dalam Ngastina atau PKI, perbedaan itu ditonjol-tonjolkan kepada rakyatnya. Bahwa yang dianutnya itu paham superior benar, superior adil. Maka, harus diperjuangkan agar menang dan pegang kekuasaan. PKI harus mengalahkan paham yang beda dengan cara kekerasan, dengan konflik, dengan teror, dan dengan perang saudara.”</span><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Arial Narrow'">“Jadi, supaya tidak berulang perang saudara, bagaimana?”</span><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Arial Narrow'">“Ya, rakyat dididik untuk memahami perbedaan, tetapi penyelesaiannya kebangsaan. Tidak perlu dengan konflik dan kekerasan. Jangan menganggap benarnya sendiri yang baik dan yang beda harus diperangi. Biarlah yang beda itu beda seperti <em>kersaning </em>(kehendak)<em> </em>Allah. Mari kita hidup berbeda, tetapi sama-sama makmur. Perbedaan tidak harus diselesaikan dengan kekerasan memenangkan paham superiornya sendiri, paham komunis, tetapi sebaiknya dilakukan pembelajaran kepemahaman atau kecerdasan bangsa. Bangsa jangan bodoh, tetapi harus cerdas. Supaya cerdas harus dididik dalam wadah yang saling menghormati paham-paham yang beda. Hanya dengan pendidikan pemahaman begitu maka bangsa kita bisa hidup makmur bersama.” </span><span style="font-family: Times New Roman;">(Brata, 2005; 694-697)</span><span style="font-family: 'Arial Narrow'"> </span><span style="font-family: 'Arial Narrow'"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span style="font-family: Times New Roman;">Masa lalu dengan tradisinya dimaknai sebagai sumber teladan kebaikan dan kebajikan yang akan tetap hidup dan berguna untuk masa kini dan masa depan. Pendidikan yang dimaksud dalam kutipan itu tidak hanya pendidikan untuk menghargai dan menghormati perbedaan, tetapi juga untuk menengok dan belajar dari masa lalu sebagaimana yang dicontohkan oleh Kanjeng Rama dengan cerita wayang. Cerita wayang yang berasal dari tradisi atau masa lalu memiliki nilai-nilai dan mengandung pelajaran yang baik serta masih relevan untuk kehidupan masa kini. Oleh karena itu, masyarakat Jawa tidak boleh melupakan ajaran yang ada di dalam wayang agar peperangan dan penderitaan tidak terus menerus berulang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: center" align="center"><span style="font-family: Times New Roman;">* * *</span></p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'">Dikutip dari:</span></span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'">Buku: AMBIVALENSI DALAM NOVEL</span><em><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'">MENCARI SARANG ANGIN</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'">KARYA SUPARTO BRATA</span><em><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'">Latar Belakang (halaman 1-3),</span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'"><span> </span>Kerangka Teori (halaman 6-9),</span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'">Pretensi Sejarah (halaman 57-59<span style="text-decoration: underline;">) </span></span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'">Pengarang: </span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'"><span> </span>YULITIN SUNGKOWATI</span><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'">Balai Bahasa </span></p>
<p>Surabaya<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Arial Narrow'">Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo. 2007.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=90</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penjaga Ingatan Melawan Lupa</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=84</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=84#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 03:15:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[“Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa”.   Kalimat lugas itu diucapkan tokoh Mirek dalam novel kontroversial The Book of Laughter and Forgetting yang ditulis Milan Kundera, seorang novelis, buruh, dan musisi jazz asal Ceko. Kundera juga menulis pembantaian berdarah di Bangladesh dengan cepat menutupi kenangan akan invasi Rusia atas Ceko, pembunuhan Allende [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in">“Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><o:p> </o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in">Kalimat lugas itu diucapkan tokoh Mirek dalam novel kontroversial <em>The Book of Laughter and Forgetting </em>yang ditulis Milan Kundera, seorang novelis, buruh, dan musisi jazz asal Ceko. Kundera juga menulis pembantaian berdarah di Bangladesh dengan cepat menutupi kenangan akan invasi Rusia atas Ceko, pembunuhan Allende mengurangi rintihan Bangladesh, perang di Padang Pasir Sinai membuat orang melupakan Allende, pembantaian bangsa Kamboja membuat orang melupakan Sinai, dan seterusnya dan seterusnya, hingga akhirnya setiap orang membiarkan segala sesuatunya terlupakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><o:p> </o:p><span id="more-84"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in">Peristiwa yang datang sambit-menyambit di negeri kita menjadi arena bagaimana pelupaan itu terjadi. Kenaikan BBM yang menyulut demonstrasi di mana-mana mendadak surut karena kasus FPI beringas di Monas. Peristiwa suap anggota DPR dan pejabat Bank <st1:place w:st="on"><st1:country-region w:st="on">Indonesia</st1:country-region></st1:place> menenggelamkan soal kekerasan atas nama agama itu. Hiruk-pikuk pemberitaan soal pembunuhan berantai di Jombang membuat orang perlahan-lahan melupakan kasus suap itu. Sementara, kasus bencana lumpur Lapindo kian hari kian abstrak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><o:p> </o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in">Demikianlah, seheboh apa pun peristiwa akan segera terlupakan oleh peristiwa lain yang lebih baru dan lebih gegantik. Bagi para pemegang kuasa, teori lupa akan menjadi senjata paling ampuh untuk mengalihkan perhatian publik, sepenting dan seserius apa pun persoalannya. Mereka bukan saja memanfaatkan naluri hasrat ingin tahu yang ada pada setiap orang, tetapi juga memanfaatkan kelemahan dasar manusia, yakni cepat melupakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><o:p> </o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in">Dan cara melawan manusia akut yang dimanfaatkan mesin kekuasaan politik dan ekonomi itu adalah dengan belajar kepada para penulis dan begawan. Di setiap bangsa, di tiap-tiap <st1:place w:st="on"><st1:city w:st="on">kota</st1:city></st1:place>, kelompok asketis inilah yang menjadi tumpuan terakhir masyarakat untuk tetap waras dan waskita atas serbuan alienasi yang datang berlimpah-limpah. Beruntunglah di Surabaya dengan hutan pabrik dan mall-nya yang aduhai, masih memiliki beberapa benteng terakhir kebudayaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><o:p> </o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in">Kita menyebut tiga begawan buku yang terus berupaya melawan lupa, mereka inilah laskar-laskar terakhir yang menjadi penjaga-penjaga ingatan dengan caranya sendiri-sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><o:p> </o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in">Adalah Oei Hiem Hwie, 76, mencoba merekam setiap detail peristiwa hari demi hari dengan cara mengkliping dan mengoleksi semua produk teks (koran, majalah, buku, brosur) yang datang dari mana pun. Perpustakaan yang dikelolanya, Medayu Agung, adalah monumen ingatan yang barangkali tak dimiliki oleh perpustakaan mana pun di <st1:place w:st="on"><st1:city w:st="on">kota</st1:city></st1:place> ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><o:p> </o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in">Laku sebagai kolektor teks dan pengkliping yang dirintis Pak Oei datang dari tradisi muda saat menjadi wartawan di harian <em>Trompet Masjarakat. </em>Hobi itu akhirnya terhenti saat gempa politik G30S meletus dan ia dijebloskan ke Pulau Buru karena kedudukannya sebagai sekretaris Badan Persaudaraan Kewarga-negaraan <st1:place w:st="on"><st1:country-region w:st="on">Indonesia</st1:country-region></st1:place> (Baperki) yang dinilai berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Buku-bukunya dirampas dan dibakar. Hanya beberapa saja yang selamat karena berhasil disembunyikan di atas plafon, di gudang, dan di tempat-tempat tak terjaga lainnya. Itu pertama kali Pak Oei memperjuangkan sendiri warisan ingatannya dari vandalisme. Sisa-sisa itulah yang jadi cikal berdirinya Perpustakaan Medayu Agung.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><o:p> </o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in">Pak Oei adalah sosok pencinta buku. Baginya buku adalah artefek ingatan. Kegiatannya terhadap artefek itu tiada lain adalah usahanya merawat ingatan agar generasi muda <st1:place w:st="on"><st1:country-region w:st="on">Indonesia</st1:country-region></st1:place> tak terus-menerus dibodohi penguasa. Dan Pak Oei sadar betul bahwa apa yang ada di kepalanya bisa sewaktu-waktu hilang ketika kelak usianya pangkas. Maka, dikumpulkannya buku-buku dan kliping koran sebagai bagian dari upaya kodefikasi penuturan sejarah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><o:p> </o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in">Tak jauh dari kediaman Pak Oei, ada begawan sastra yang dengan tekun menulis dalam bahasa Jawa dan <st1:place w:st="on"><st1:country-region w:st="on">Indonesia</st1:country-region></st1:place> sekaligus. Suparto Brata, 76, adalah sosok yang enerdjik, penuh semangat. Cintanya tak pernah susut pada buku. Padahal, apa yang ditulisnya jarang mendapat apresiasi yang layak, baik dari publik maupun pemerintah. Baru ketika ia mendapat anugerah penulis Asia Tenggara Terbaik 2007 dari Kerajaan <st1:place w:st="on"><st1:country-region w:st="on">Thailand</st1:country-region></st1:place>, pemerintah mulai melirik. Ironis memang, justru bangsa lain yang menghargai usahanya merawat tradisi Jawa dan <st1:country-region w:st="on"><st1:place w:st="on">Indonesia</st1:place></st1:country-region>. Inilah wajah bangsa kita yang kerap abai atas kekayaan tradisi yang dipunyai dan baru kebakaran jenggot ketika milik kita itu dicuri bangsa lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><o:p> </o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in">Suparto Brata bercita-cita ingin menduniakan sastra Jawa dan menciptakan perdamaian dunia melalui karya-karya novelnya. Maka, tak bosan-bosan ia menulis dengan disiplin laiknya seorang laskar budaya terakhir. Mbah Parto hingga kini memiliki jadwal menulis teratur mulai pukul 04.00 subuh hingga 09.00. Rutin setiap hari. Dengan disiplin itu ia telah menghasilkan 130 buku hingga kini. Walau sudah uzur, Mbah Parto juga tak gaptek-gaptek amat. Sosok yang rendah hati ini juga menjajal tradisi anak-anak muda sekarang dengan <em>ngeblog. </em>Tak tanggung-tanggung,<span>  </span>Mbah Parto mempunyai dua blog sekaligus, <a href="http://www.supartobrata.com/">www.supartobrata.com</a> dan <a href="http://www.supartobrata.blogspot.com/">www.supartobrata.blogspot.com</a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><o:p> </o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in">Seorang lagi begawan penjaga ingatan di Suirabaya yang patut dicatat adalah Budi Darma. Sastrawan, akademisi, peraih Sea Write Award, Anugerah Akademi Jakarta, dan Anugerah Ahmad Bakrie ini juga tak pernah berhenti keliling dunia. Posisinya sebagai guru besar dan salah satu sosok penting di lembaga kebudayaan MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) membawanya pada sebuah kerja mulia: membimbing cerpenis dan esais muda berbakat dari <st1:country-region w:st="on">Brunei</st1:country-region> <st1:city w:st="on">Darusalam</st1:city>, <st1:country-region w:st="on">Malaysia</st1:country-region>, dan <st1:country-region w:st="on"><st1:place w:st="on">Indonesia</st1:place></st1:country-region>. Kiprahnya ini menjadikannya sebagai sosok penyemai lahirnya generasi yang sadar literasi. Ia adalah begawan penjaga berlangsungnya kontinuitas tradisi literer di <st1:city w:st="on">Surabaya</st1:city> khususnya dan di <st1:place w:st="on"><st1:country-region w:st="on">Indonesia</st1:country-region></st1:place> umumnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><st1:place w:st="on"><st1:city w:st="on">Surabaya</st1:city></st1:place> beruntung masih mempunyai benteng terakhir asketisme seperti tiga sosok itu. Mereka inilah ~ dan juga nama-nama anonim lain yang tersebar di kamar-kamar senyap ~ yang akan menjadi penjangga ingatan akan laku perjalanan <st1:place w:st="on"><st1:city w:st="on">kota</st1:city></st1:place> ini hingga warganya tak akan alpa dari mana berasal dan ke mana akan kembali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in"><o:p> </o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in" align="right"><strong>Diana A.V. Sasa,</strong> ketua Forum Nusantara Madani,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in" align="right">Tinggal di Surabaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-family: 'Arial Narrow'"><o:p> </o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-family: 'Arial Narrow'">Dikutip dari:<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-family: 'Arial Narrow'">Jawa Pos, Minggu 24 Agustus 2008.<o:p></o:p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-family: 'Arial Narrow'">Halaman 6 BUKU, Di Balik Buku.<o:p></o:p></span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=84</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMBACA DAN MENULIS ITU BUKAN KODRAT</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=72</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=72#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 04:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Anak umur 3 tahun menonton televisi, sudah bisa mengerti artinya dan menikmati (konsumtif) siaran televisi. Sebab televisi adalah alat hasil rekayasa teknologi yang mempertajam atau memperpeka melihat dan mendengar. Dan melihat dan mendengar adalah kodrat indrawi, tiap manusia lahir normal tentu bisa melihat dan mendengar. Putra bangsa umur 18 tahun lulus SMA diberi setumpuk buku, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Anak umur 3 tahun menonton televisi, sudah bisa mengerti artinya dan menikmati (konsumtif) siaran televisi. Sebab televisi adalah alat hasil rekayasa teknologi yang mempertajam atau memperpeka melihat dan mendengar. Dan melihat dan mendengar adalah kodrat indrawi, tiap manusia lahir normal tentu bisa melihat dan mendengar.<span id="more-72"></span></font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Putra bangsa umur 18 tahun lulus SMA diberi setumpuk buku, dapatkah membaca dan menikmati gunanya buku? Menurut riset Taufiq Ismail 1996, putera bangsa Jerman lulus SMA rata-rata telah membaca buku 22 judul, putera New York 32, Rusia 12, Belanda 30, Swiss 15, Jepang 15, Singapur/Malaysia 6, Brunei 7, putera Indonesia 0. Mengapa? Karena buku bukan alat yang mempertajam atau memperpeka melihat, mendengar, merasa atau kodrat indrawi yang lain. Untuk menikmati (konsumtif) atau menggunakan buku sama dengan alat buatan manusia lain seperti piano, mobil dan lain-lain. Yaitu dengan pembelajaran atau pelatihan bagaimana cara-cara menggunakan alat-alat tadi (kreatif).</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Untuk bisa menggunakan atau menikmati mobil orang harus belajar dulu satu dua minggu, lalu bisa, dan sekarang berapa banyak putera bangsa yang menikmati mengemudikan mobil (konsumtif dan kreatif)? Tak terhingga. Betapapun banyaknya mobil diproduksi, segera dinikmati oleh putra bangsa. Karena mobil juga alat hasil rekayasa teknologi yang sudah dilengkapi begitu rupa sehingga cara menikmatinya cukup dengan latihan beberapa minggu saja. Sedang untuk bisa menggunakan piano, perlengkapan teknologinya (masih terus diusahakan kemudahan penggunaannya) tidak semudah mobil. Untuk menikmati menggunakan harus ada tambahan kekuatan dasar lain dari manusia pengguna, yaitu bakat. Bakat juga unsur kodrat, tiap orang pasti punya, hanya jenis atau besarnya tiap orang tidak sama. Untuk mengemudikan mobil pun perlu juga bakat, tetapi rekayasa teknologi telah terlengkapi sedemikian rupa hingga untuk mengemudikan mobil tidak perlu bakat khusus. Bakat itu pun tidak berkembang tanpa ada pembelajaran atau pelatihan. Jadi untuk menggunakan dan menikmati bermain piano harus ada pengenalan alat dan penikmatinya, pembelajaran, pelatihan dan bakat khusus yang cukup besar. Sebaliknya, meski berlatih dan belajar bertahun-tahun, kalau tidak punya bakat khusus yang cukup besar, ya kemampuannya main piano tidak terlalu baik. Tetapi tetap bisa bermain piano karena bertahun-tahun belajar tadi. Oleh karena itu produksi piano tidak bisa sebanyak produksi mobil, karena putera bangsa yang berbakat khusus main piano juga terbatas jumlahnya. Lingkungan hidup, seni budaya setempat, konvensi masyarakat dan lain-lain ikut mendorong kemampuan dan semangat mencurahkan bakat. Buku? Untuk menggunakan dan menikmati buku, juga harus ada pengenalan bendanya dan penikmatinya, pembelajaran dan pelatihan. Hanya, pembelajarannya sedini usia manusia, latihannya harus terus-menerus, sehingga menjadi kebiasaan, tradisi atau budaya. Jadi untuk menggunakan atau menikmati buku dibutuhkan pembelajaran (membaca dan menulis), pelatihan terus-menerus, sehingga menjadi budaya (konsumtif dan kreatif).</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Jangan Paksa Masyarakat Baca Buku!</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Itulah judul tulisan Muhidin M. Dahlan, kerani di Indonesia Buku, yang dimuat Jawa Pos Minggu 18 Mei 2008. Saya kutip potongan-potongan kalimat selanjutnya: <em>Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, memiliki buku bukan perkara mudah. Selain karena tradisi lisan (dan menonton) lebih dominan, penetrasi buku hanya berlangsung di perkotaan. // Yang saya herankan juga membiak semacam anggapan dari kelompok yang sombong diri ini </em>(maksudnya orang-orang IKAPI = Ikatan Penerbit Indonesia) <em>bahwa tidak membaca buku adalah “dosa”. // Membaca buku, mengapa harus jadi keharusan! Heran. Lalu mereka mengecam dengan semena-mena bahwa segala malapetaka ini disebabkan oleh televisi. Mereka tuding televisi sebagai sumber gegarbudaya, kotak idiot, kotak dungu, tuhan kedua, bahkan setan jahat citra. Padahal, televisi bagi keluarga Indonesia saat ini sudah menjadi kebutuhan utama keluarga.Televisi sejatinya hanya pengulangan paling modern dari tradisi visual yang sudah berkembang turun-menurun di Indonesia. Panggung yang biasanya terbuka di lapangan kini dipersempit hanya dalam sebuah kotak kecil di tengah ruang keluarga. Bagi aktivis perbukuan yang sombong dan angkuh itu, televisi tak lain hanyalah sebuah kedangkalan berpikir.</em></font><em><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p></em><strong><font face="Times New Roman">Kado Pahit di Peringatan Hari Buku</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p></strong><font face="Times New Roman">Itulah judul tulisan Edy Firmansyah, Peneliti Institute of Research Social, Politic and Democracy Surabaya di Jawa Pos (Metropolis) Senin 19 Mei 2008. Saya kutipkan beberapa kalimat tulisannya: <em>Berdasarkan pernyataan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo Provensi Jawa Timur menduduki peringkat pertama jumlah penduduk buta aksara di antara seluruh provinsi di Indonesia. Setidaknya, sekitar 4,5 juta jiwa penduduk Jatim berusia 15 tahun ke atas mengalami buta aksara. Jumlah tersebut merupakan 11,97 persen dari total jumlah penduduk Jatim atau dua kali lipat lebih tinggi dari target nasional pengentasan buta aksara yang ditetapkan, yakni lima persen. // Jatim memiliki jumlah universitas paling banyak se-Indonesia. Sebut saja Universitas Airlangga, Institut Tehnologi Sepuluh Nopember, Universitas Jember, Universitas Brawijaya, Universitas Islam Negeri Malang, Universitas Negeri Surabaya, dan beberapa sekolah tinggi agama Islam negeri yang menyebar hampir di setiap kabupaten dan kota. // Harus diakui bahwa realitas kelompok buta aksara adalah cenderung miskin, bodoh, dan terbelakang. Mereka juga rendah untuk berpikir maju, sulit menghadapi tantangan dan perubahan, serta sulit menerima informasi pembaharuan (adopsi-inovasi), termasuk partisipasi pembangunan. Satu-satunya hal yang mampu menggerakkan mereka melakukan perubahan hanyalah faktor ekonomi.</em></font><em><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p></em><strong><font face="Times New Roman">Seribu Orang Baca Buku Bersama</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p></strong><font face="Times New Roman">Itulah judul berita di Jawa Pos (Metropolis) Senin 19 Mei 2008. Saya kutipkan beberapa beritanya: <em>Sekitar seribu orang dari berbagai kalangan dan profesi menghelat aksi membaca buku bersama kemarin (18/5). Aksi Indonesia Membaca itu merupakan rangkaian peringatan Hari Buku Nasional, HUT Ikapi, HUT Kota Surabaya, dan HUT Perpustakaan Nasional yang jatuh pada 18 Mei. Di Surabaya, aksi diadakan di Taman Flora. Para peserta serius membaca buku yang disediakan oleh panitia. Selesai membaca, mereka diminta membuat resume. “Dengan begitu, mereka tahu tentang inti bacaan yang sudah dibaca,” ujar Dyah Litasari, direktur Kubaca, salah satu elemen dalam gerakan tersebut. Beberapa penulis kondang menghadiri acara itu untuk berbagi pengalaman. Di antaranya, Agus Mustofa dan Lan Fang. // Menurut Dyah, konsentrasi merupakan salah satu unsur penting dalam membaca buku. Selami dulu judul buku, pengarang, dan kata pengantarnya. Niscaya, itu akan membantu memahami gambaran isi buku yang dibaca. “Melihat daftar isi juga penting untuk menuju ke pokok persoalan,” terangnya. Teknik tersebut dikenal dengan scheming. “Ketika sudah memilih pokok, bahasan penting buku itu, bacalah dengan pelan dan usahakan memahaminya,” katanya. Dyah menambahkan, pembaca juga bisa menandai bagian-bagian penting buku dengan memakai pena atau stabilo.</em></font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dyah sempat bertanya kepada hadirin, buku apa yang sekarang sedang populer? Jawab hadirin <em>‘Ayat-Ayat Cinta’. </em>Dyah minta maaf kepada Agus Mustofa dan Lang Fang, karena itu suara publik.</font></p>
<p><em><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p></em></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Saya juga hadir di Taman Flora pagi itu (Minggu, 18 Mei).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dalam menceritakan pengalamannya Agus Mustofa mengatakan, dia mulai gemar menulis setelah di perguruan tinggi, menjelang menulis skripsinya (Teknik Nuklir UGM, 1987). Dia mulai gemar menulis, bisa, dan skripsinya lulus dengan baik. Maka ia kebablasan gemar menulis. Menulis di koran, ditawari menjadi wartawan (1990), jadi wartawan Jawa Pos, di situ kian dapat gemblengan cara-cara menulis (caranya bikin berita cepat memburu deadline, bikin berita yang tidak membosankan, cara bikin judul, cara menyusun dan memilih bahasa dan lain-lain), lalu mulai menulis buku, terbit bukunya <em>Pusaran Energi Ka’bah</em> kok laris. Waktu itu memang sedang boom buku-buku Islam dalam bahasa Indonesia. (Ustad) Agus Mustofa mengamati buku-buku Islam itu kok terjemahan dari karangan orang-orang Timur Tengah dan kebanyakan tulisan masa lalu. Itulah yang menggelitik nurani Ustad Agus Mustofa untuk menulis buku Islam dengan versi sekarang yang sesuai dengan penguasaan ilmunya (tehnik nuklir), yaitu Islam dipahami secara scientific. Buku kedua <em>Ternyata Akhirat Tidak Kekal </em>(judul yang kontroversial, tetapi dia tidak menipu pembaca lho), juga laris. Maka dia keluar dari wartawan, dan membuat penerbitan buku sendiri (PADMA press). Sekarang sudah tidak bisa lagi berhenti menulis buku, tiap hari 20 lembar, tiap 3-4 bulan sekali terbit bukunya. Selama 4 tahun ini ia sudah menerbitkan bukunya 17 judul, dan semuanya laris manis.<em></em></font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Lan Fang (pengarang novel <em>Perempuan Kembang Jepun – </em>Gramedia 2006) merasa bahagia bulan Mei ini, karena Mei ternyata merupakan hari-hari pusat perayaan ulang tahun yang berkenaan dengan buku. Dan Hari Kebangkitan Nasional, Hari Buruh Internasional. Perayaan Hari Jadi Kota Surabaya beberapa tahun belakangan ini sudah secara tradisi melibatkan para penulis, yaitu dalam kegiatan Festival Seni Surabaya menerbitkan kumpulan cerpen dan puisi (yang dikarang khusus dan baru) karya sastrawan Surabaya dan mengadakan Malsasa (Malam Sastra Surabaya). Juga Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo tiap menjelang 1 Syawal memberikan hadiah kepada para seniman Jawa Timur, termasuk para pengarang atau sastrawannya. Lan Fang mengharap “tradisi” itu diteruskan oleh para Gubernur penggantinya, tapi waktunya jangan tiap menjelang 1 Syawal, melainkan tiap bulan Mei, sekalian disatukan dengan perayaan-perayaan hari ini. Bulan Mei juga dekat dengan peringatan Hari Chairil Anwar, seorang sastrawan besar Indonesia.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Bersekolah adalah Sistem Pembudayakan Membaca Buku dan Menulis Buku.</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Selesai upacara-upacara pembukaan, saya dikerubuti gadis-gadis berpakaian sama (kaos putih lengan oranye), minta foto bersama, ada yang berkelompokan, ada pula yang minta berduaan khusus dengan saya (dengan HP masing-masing atau kamera digital). Berbuat begitu tentu saja karena mereka kenal saya. Saya tanya seorang, dia dari mana. Mahasiswi FISIP Unair. Teman-temannya juga mahasiswi yang sama. Tentu saja ada juga wartawan. Dilihat dari model kameranya maupun bajunya yang bukan kaos putih lengan oranye.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ada yang nyelentuk bertanya, “Bagaimana pendapat Bapak mengenai acara Seribu Orang Baca Buku Bersama ini?” Ini tentu pertanyaan wartawan, karena dia memerlukan wawancara khusus (pisah dari kelompok), dan mendengarkan jawaban saya dengan menyodorkan tape-recorder. (Syukurlah kalau itu juga mahasiswi FISIP Unair, yang mewawancarai khusus bukan untuk disiarkan di media massa, melainkan untuk penelitian di bidang sosial kemasyarakatan yang dia pelajari). Saya jawab dengan terbata-bata, mungkin kurang jelas. Namun pokoknya saya tulis saja berikut ini:</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Acara ini hanya gebyar Indonesia Membaca. Hanya suatu simbol atau slogan. Belum memenuhi sasaran kenyataan, bahwa bangsa Indonesia bertabiat membaca buku. IKAPI maupun penerbit buku lainnya masih bersusah payah berusaha menjual bukunya agar laku dan mendapat keuntungan komersial.”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ada kiat lain bagaimana agar penjualan buku laris seperti yang diinginkan?”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ada. Yaitu bangsa Indonesia harus punya budaya membaca buku dan menulis buku. Di mana membudayakan membaca buku dan menulis buku? Di sekolah dan selama bersekolah setidaknya 12 tahun, sehingga lulus sekolah putera bangsa sudah berbudaya membaca buku dan menulis buku…..”</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Lalu saya menerangkan hal berikut:</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Di Negeri Belanda, 100% orang dewasa tentu berbudaya membaca buku dan menulis buku. Bahkan bukan saja berbicara dan menulis bahasa Belanda, tapi fasih bicara dan menulis dengan baik bahasa-bahasa lainnya, yaitu Inggris, Prancis, Jerman. Di mana mereka itu akhirnya berbudaya membaca buku dan menulis buku? Di sekolah. Sejak masuk hingga lulus sekolah 12 tahun kemudian.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Orang Jepang selain huruf katakana dan hiragana, mempunyai huruf kanji sebanyak 5000 gambar huruf, yang digunakan untuk menulisan buku atau masyarakat umum yang tergolong melek baca (tidak buta huruf ~ huruf bukan untuk pembelajaran baca-tulis saja). Setelah menjadi mahasiswa, tidak mungkin mereka berbuat seperti Ustad Agus Mustofa, tiba-tiba gemar menulis buku dan membaca buku. Tidak mungkin mereka menghafal 5000 huruf kanji baru setelah jadi mahasiswa. Di mana mereka menghafal sehingga menjadi berbudaya membaca buku dan menulis buku, menghafal huruf kanji sebanyak 5000? Di sekolah. Sejak masuk awal hingga lulus sekolah setidaknya 12 tahun kemudian (sebelum jadi mahasiswa).</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Jadi bersekolah adalah sistem membudayakan putera bangsa (Belanda, Jepang, Jerman, dan lain-lain bangsa maju) membaca buku dan menulis buku. Apabila membaca buku dan menulis buku menjadi budaya putera bangsa, maka menjual buku akan laris, setidaknya memenuhi keinginan penerbit buku.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Manusia itu adalah binatang yang menjalani hidupnya dengan alat dan pikiran. Untuk memenuhi kepuasan hidupnya, atau kemakmurannya atau kesejahteraannya, manusia menggunakan alat dan pikiran. Alat diciptakan oleh pikiran untuk mempermudah perolehan kemakmurannya, dan agar alat yang telah terciptakan memenuhi fungsinya, maka manusia harus berlajar, berlatih terus-menerus agar bisa menggunakan alat tadi untuk mencapai kemakmurannya. Jadi untuk memenuhi kepuasannya atau kemakmuran hidupnya, selain mengandalkan kodratnya, manusia menggunakan alat dan pikiran sebagai sarana pencapaian itu. Penggunaan alat dan pikiran tadi namanya <em>kawruh, </em>atau ilmu pengetahuan. Manusia hidup untuk mencapai kemakmurannya harus disaranai ilmu pengetahuan. Alat dan pemikiran sebagai ilmu pengetahuan selalu bertambah-bertambah untuk menyiasati kemudahan hidup. Alat diciptakan oleh pikiran, direkayasa sedemikian rupa agar manusia bisa mencapai kemakmurannya dengan lebih mudah dengan menggunakan alat ciptaan baru tadi. Dan penciptaan alat ini terus-menerus tidak berhenti selama manusia ingin mencapai kemakmuran hidupnya. Dulu kala orang pergi hanya dengan berjalan kaki (menurut kodratnya), kemudian diciptakan kereta yang ditarik kuda, kemudian diciptakan mobil, bepergian menjadi lebih mudah, kemudian diciptakan pesawat terbang, begitu seterusnya. Dulu orang bicara keras untuk sampai pada pendengaran orang lain, kemudian diciptakan radio dan telepon, kemudian alatnya direkayasa lagi menjadi televisi, sehingga dari jarak jauh sekali pun orang bisa bicara yang terdengar dengan yang dituju.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Manusia adalah binatang yang menjalani hidupnya dengan kekuatan kodratnya, untuk mencapai kemakmuran hidupnya disarani alat dan pikirannya. Kalau orang menjalani hidupnya hanya dengan kekuatan kodratnya (anak umur 3 tahun menonton televisi, konsumtif) maka dia adalah…..(?). Katakan saja dia adalah manusia primitif (alat dan pikiran belum/tidak dikembangkan, masih konsumtif, belum/tidak kreatif).</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pengembangan alat dan pemikiran yang disebut ilmu pengetahuan, tidak bisa tidak harus menjadi sarana orang untuk mencapai kemakmuran hidupnya (diaktifkan, kreatif). Untuk hidup makmur manusia harus menguasai ilmu pengetahuan. Kalau tidak disaranai ilmu pengetahuan, ia hidup hanya dengan kemampuan kodratnya (konsumtif), ia tidak mungkin mencapai kemakmurannya pada hidup duniawi yang ilmu pengetahuan sudah menjadi sarana umum menurut perubahan zamannya. Ilmu pengetahuan harus dikuasai oleh manusia untuk mencapai kemakmuran hidupnya pada zamannya. Di mana bisa memperoleh ilmu pengetahuan? Bisa dari pengalaman, bisa berguru dari orang yang punya ilmu pengetahuan. Tetapi perkembangan alat dan pemikiran manusia dari zaman ke zaman, semuanya sudah direkam dalam buku. Jadi orang bisa memperoleh ilmu pengetahuan tentang alat (perkembangan teknologi) dan pemikiran zamannya dengan membaca buku. Dengan membaca buku, orang akan memperoleh ilmu pengetahuan (sarana memudahkan pencapaian kemakmuran hidup) lebih dalam dan handal daripada hanya berguru kepada orang lain. Sebanyak guru yang ditemui secara fisik dan indrawi untuk memperoleh ilmu pengetahuannya, masih akan kalah baik kuantitas maupun kualitasnya dari orang menyerap ilmu pengetahuan dari membaca buku, sebab buku bisa diperoleh banyak sekali dan ditulis oleh para ahli yang kedalaman ilmunya benar-benar bisa dikaji. Dengan kata lain, orang yang berjuang mencapai kemakmuran hidupnya dengan hanya mengandalkan kodrat adalah primitif (konsumtif), yang disaranai dengan membaca buku (berarti mengikuti perkembangan perolehan ilmu pengetahuan dari zaman ke zaman) adalah modern (konsumtif dan kreatif).</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Orang hidup supaya mapan mengikuti perubahan zamannya, selain dengan kemampuan kodratnya, harus disertai penguasaan ilmu pengetahuan. Misalnya ilmu pengetahuan pertanian bagi petani, ilmu pengetahuan kesehatan bagi dokter. Kalau ilmu pengetahuan telah dikuasainya, maka orang bisa hidup mapan dengan ilmu pengetahuan sebagai profesinya. Kalau hidup tanpa menguasai ilmu pengetahuan apa-apa, bisa dipastikan orang tadi bodoh, miskin dan hidupnya sengsara, karena menjalani hidupnya (profesinya) hanya dengan kekuatan kodratnya (primitif)..</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Di zaman modern (mutakhir ini) segala ilmu pengetahuan sudah direkam dalam buku. Ilmu pengetahuan apa saja, bisa dipelajari, akhirnya dikuasai dengan jalan membaca buku tentang ilmu pengetahuan itu. Sampai di mana pun kekuatan seseorang untuk menguasai ilmu pengetahuan bisa diambil dari membacai buku. Hal ini (kiat hidup modern = hidup dengan menguasai ilmu pengetahuan lewat membacai buku) sudah dimulai sejak Plato (428 – 347 SM) mendirikan Akademus, ketika Plato berusia 29 tahun menulis karya Socrates (gurunya yang telah tewas dihukum minum racun) <em>Apologi, </em>karya yang sebelumnya hanya diucapkan oleh Socrates. Sejak itu kalau orang mau hidup mapan makmur mengikuti zamannya (saya sebut hidup modern) harus disertai menguasai ilmu pengetahuan yang telah terekam dalam buku. Termasuk beragama, supaya mapan kukuh makmur, harus membaca kitab suci. Itulah awal kata akademis, orang yang menjalani hidupnya termasuk profesinya dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari membacai buku-buku.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Itu yang saya coba menerangkan kepada “wartawan” di Taman Flora itu.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Komentar si wartawan, “Sayang, anggaran untuk pendidikan belum memenuhi seperti bunyi UUD, sehingga sekolah di Indonesia masih terlalu susah.”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bukan itu persoalannya. Seperti UNAS dinargetkan mencapai 5,4 atau 6,0 sekalipun, tidak meningkatkan kecerdasan putra bangsa. Karena untuk menempuh UNAS putra bangsa tidak disaranai budaya membaca buku dan menulis buku. Menggarap UNAS meskipun bodoh bisa lulus kalau jawabannya tepat, dan ketepatan itu bisa ditolong orang lain (cari bocoran), karena putera bangsa tidak usah bisa membaca buku dan menulis buku. Mereka menggarap ujian dengan kekuatan kodratnya belaka, mendengarkan dan melihat guru di sekolah. Coba soal ujian tadi harus dengan menulis prosesnya hingga hasilnya, maka kebocoran atau pertolongan orang lain, tidak mungkin terjadi.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Misalnya soal ujian penghabisan SMP pada zamanku. Saya lulus sekolah SMP 1950. Hari pertama ujian (Jumat, 11 Agustus 1950, jam 8 – 10) mata pelajaran Bahasa Indonesia, yang diujikan: <em>Mengarang.</em> Yang jadi judul karangan boleh pilih satu dari lima judul, yakni: 1. Mengenangkan temanku yang gugur, 2. Belajar dan berjuang, 3. Kitab yang indah, 4. Tanah airku Indonesia, 5. Berani karena benar.<em> </em>Apa bisa guru atau joki menolong saya dengan SMS atau krepekan hasil jawaban? Dengan catatan, kalau Bahasa Indonesia (2 mata pelajaran ujian: <em>Mengarang </em>dan <em>Pengetahuan Bahasa, </em>yang diujikan Sabtu, 12 Agustus 1950 jam 9.30 – 11.)<em> </em>dapat nilai 4 mata ujian lain dapat 10 pun tidak lulus. Dari materi ini dapat disimpulkan bahwa seumur saya bersekolah, yakni sejak zaman Belanda (1938), zaman Jepang, zaman Perjuangan RI di pengungsian, sepanjang waktu sekolah itu saya dan teman seangkatan dibudayakan membaca buku dan menulis buku.”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Jadi bagaimana pendapat Bapak agar pendidikan di Indonesia ini bisa mencerdaskan putera bangsa?”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya putera bangsa harus dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Sejak kapan, di mana? Sejak masuk sekolah, di sekolah.”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa kalau putera bangsa bisa masuk sekolah 12 tahun gratis baru hal itu tercapai? Itu yang diperjuangkan bersama saat ini.”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Persoalannya bukan itu. Persoalannya bersekolah di Indonesia keluar dari sistem. Bersekolah 12 tahun di Indonesia tidak dimanfaatkan agar putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku. Karena itu setelah lulus sekolah 12 tahun, mereka tidak hidup dengan kiat hidup modern, mencari ilmu pengetahuan untuk kiat hidupnya tidak sarana membaca buku dan menulis buku, hanya menggunakan kekuatan kodratnya (antara lain melihat dan mendengarkan, konsumtif), dan oleh karena itu hidupnya tetap bergantung kepada pertolongan orang lain, tidak mandiri. Bisa kita lihat dari sejarah bangsa setelah merdeka, karena hidup sebagian rakyat hanya mengandalkan kekuatan kodratnya saja, konsumtif, tidak kreatif, maka kekuatan berbangsa dan bernegara pun konsumtif, tergantung pertolongan bangsa lain. Tidak bisa hidup dengan kekuatan bangsa sendiri.”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Jadi sebaiknya harus bagaimana?”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bersekolah 12 tahun dikembalikan kepada fitrahnya, yaitu <em>‘Bersekolah 12 tahun adalah sistem membudayakan anak manusia membaca buku dan menulis buku’</em>. Yaitu sekolah adalah tempat menggembleng manusia primitif agar punya budaya membaca buku dan menulis buku. Karena membaca buku dan menulis buku adalah kiat hidup modern, mencapai kehidupan mapan makmur dengan disaranai penguasaan ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan itu apa saja sudah direkam dalam buku, maka untuk menguasai ilmu pengetahuan tadi tidak bisa lagi hanya dengan kekuatan kodratnya saja, melainkan harus sarana membaca buku dan menulis buku. Tanpa membaca buku dan menulis buku, sama saja dengan anak berumur 3 tahun menonton televisi, yaitu menjalani kehidupan zaman kini (modern) hanya dengan kekuatan kodrat indrawinya (melihat dan mendengar, primitif, konsumtif). Kalau bangsa 90% rakyatnya hidup konsumtif, ya pasti hidupnya tergantung melulu dari pertolongan bangsa lain. Apa lagi jumlahnya 200 juta lebih! Kesuburan tanahairpun akan habis dikonsumsi dalam beberapa tahun saja.”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kalau anggaran pendidikan telah memenuhi UUD dan anak Indonesia selama 12 tahun sekolah gratis, apa hal itu tidak memperbaiki taraf hidup bangsa Indonesia?”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kalau bersekolah 12 tahun tidak dikembalikan pada fitrahnya, siapapun menteri pendidikannya, siapa pun presidennya, bangsa Indonesia tetap mengalami keterpurukan sosial dan intelektual, tidak mungkin menyamai kemakmuran negara lain yang rakyatnya telah punya budaya membaca buku dan menulis buku. Meskipun bersekolah 12 tahun sesusah sekarang, tetapi bersekolah jadi sistem pembudayaan anak manusia membaca buku dan menulis buku, lulusan SMA pun akan memperoleh kemakmuran hidupnya (bisa berdiri sendiri tanpa tergantung pertolongan orang lain, menjalankan profesinya dengan ilmu yang didapat dari membaca buku dan menulis buku ~ meskipun bukan sastrawan/pengarang buku) karena bersarana ilmu pengetahuan yang dikuasainya (dari budayanya membaca buku dan menulis buku).”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Jangankan membaca buku dan menulis buku menjadi budaya bangsa, menjadi kiat kehidupan bangsa dalam mengarungi zaman modern, sekarang ini saja sekitar 4,5 juta jiwa penduduk Jatim berusia 15 tahun ke atas masih mengalami buta aksara, primitif. Antara buta aksara dengan berbudaya membaca buku dan menulis buku masih amat jauh, masih diperlukan 12 tahunan secara intensip diajarkan, dilatih, ditradisikan berkelanjutan untuk berbudaya membaca buku dan menulis buku. Saya prihatin. <em>Harus diakui bahwa realitas kelompok buta aksara adalah cenderung miskin, bodoh, dan terbelakang. Mereka juga rendah untuk berpikir maju, sulit menghadapi tantangan dan perubahan, serta sulit menerima informasi pembaharuan (adopsi-inovasi), termasuk partisipasi pembangunan (Edy Firmansyah, Jawa Pos 19 Mei 2008). </em></font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Cucuku, Yafi Nabil Pradibta, bulan Juli tahun 2008 ini dari TK akan masuk ke SD Mohamadiyah IV Pucang Surabaya. Untuk itu bulan lalu dites kriterianya masuk ke sekolah tersebut, antara lain membaca. Lulus. Artinya Yafi tidak buta huruf. Namun untuk menempuh hidupnya mencapai kemakmurannya atau kesejahteraannya di kemudian hari, ia disaranai kiat membaca buku dan menulis buku atau tidak, masih harus kita nantikan 12 tahun prosesnya membudayakan di sekolah itu. Kalau pengajaran mencari ilmu pengetahuan di sekolah masih seperti sekarang ini, bersekolah bukan sistem membudayakan anak manusia membaca buku dan menulis buku, maka Jafi (kalau tidak dipengaruhi kemauan otodidak) akan menjadi warga negara yang primitif-konsumtif, mencari sandang pangannya tidak dengan kiat membaca buku dan menulis buku. Dia akan bersemangat hidup hanya dengan mengandalkan kodrat indrawinya. Akan sulit diajak bersama membangun bangsa, dan kalau pemimpin negara tidak sesuai dengan emosi perkembangan kodratnya, ia dan kelompoknya (generasinya) akan justru menjegali kebijaksanaan pemimpin bangsa yang sedang mengatur negara. Nekrofilia.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ah, semoga cucuku tidak demikian. Semoga bersekolah 12 tahun di Indonesia kembali pada fitrahnya, yaitu bersekolah adalah sistem membudayakan anak manusia membaca buku dan menulis buku. Itu sistem bersekolah di seluruh dunia, barangkali kecuali di Indonesia. Semoga pemimpin bangsa segera menyadari hal ini. Amin! Amin! Amin!</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=72</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
