<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suparto Brata Blog &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?cat=56&#038;feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://supartobrata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jan 2018 08:12:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA DAN HARI BUKU SEDUNIA</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1185</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1185#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 May 2014 12:52:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1185</guid>
		<description><![CDATA[Multatuli, pengarang drama Saijah dan Adinda (Banten) pernah menulis, Kita tidak pesta memanen padi di sawah, melainkan kita pesta memanen padi yang kita tanam di sawah. Itu saya anggap sebagai kiasan mengenai buku perpustakaan Indonesia saat ini. Banyaknya penerbitan buku, banyaknya toko buku, banyaknya perpustakaan di Indonesia, termasuk Kota Surabaya yang “Kota Pertama Raih Socrates [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-sdEnzncSomw/U33213tdEoI/AAAAAAAADEQ/MnOPSk9kPRI/s1600/Surabaya_Kota_Literasi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-sdEnzncSomw/U33213tdEoI/AAAAAAAADEQ/MnOPSk9kPRI/s320/Surabaya_Kota_Literasi.jpg" /></a></div>
<p>Multatuli, pengarang drama Saijah dan Adinda (Banten) pernah menulis, <strong><em>Kita tidak pesta memanen padi di sawah, melainkan kita pesta memanen padi yang kita tanam di sawah. </em></strong>Itu saya anggap sebagai kiasan mengenai buku perpustakaan Indonesia saat ini. Banyaknya penerbitan buku, banyaknya toko buku, banyaknya perpustakaan di Indonesia, termasuk Kota Surabaya yang “Kota Pertama Raih Socrates Award, Sisihkan 110 Kota Sedunia” dalam katagori <em>city of the future,</em>keunggulan Kota Surabaya antara lain atas dua hal, yaitu tersedianya banyak taman kota yang membuat warga lebih nyaman dan tersedianya 800 perpustakaan di berbagai lokasi. Konon, terutama untuk aspek yang disebut terakhir itu, para juri takjub. Kias tadi menunjukkan bahwa banyaknya penerbitan buku, banyaknya toko buku, banyaknya perpustakaan buku merupakan <strong>pesta memanen padi di sawah. </strong>Kalau semua itu berjalan lancar, buku diterbitkan banyak, laku keras, penjualan buku di toko buku laris, perpustakaan banyak pengunjungnya, itu semua merupakan <strong>pesta. </strong>Namun, seperti yang dikiaskan Multatuli, <em>“kita tidak menanam padi di sawah”, </em>artinya kita tidak <strong><em>memproduksi pembaca (buku). </em></strong>Siapa pun yang membeli buku, membaca buku di perpustakaan, mereka itu membeli dan membaca buku karena tugas, atau kalau memang suka membaca buku, kesenangannya membaca buku karena dalam sejarah hidupnya bertemu dengan ibunya yang suka membaca buku (menurut ajaran Ibu), atau bergaul dengan gurunya yang mengajari suka membaca buku. Jadi suka beli buku dan membaca buku karena pertemuan personal dengan orang-orang yang membuat dia suka membaca buku. Tidak diproduksi <em>massal. </em>Kalau diproduksi massal, pastilah pestanya penerbit buku, toko buku, dan perpustakaan akan lebih hebat, lebih memenuhi ketakjuban para juri <em>Socrates Award.</em></p>
<p>Di mana dan bagaimana memproduksi massal pembaca buku? Ya di sekolah! Dari kelas I SD – kelas XII SMA, putera bangsa dibudayakan membaca buku membaca buku membaca buku tiap hari tanpa jeda. Dan yang dibaca berbagai bahasa dan berbagai huruf. Sehingga kalau sudah lulus SMA, mereka pandai baca buku bahasa Indonesia huruf ABC, baca buku bahasa Arab dengan huruf Arab, pandai baca buku bahasa Jepang dengan huruf katakana maupun kanji, dan lain bahasa dan huruf sedunia. Lulus SMA mereka tidak lagi berduyun berebut ke Perguruan Tinggi Negeri (lokal = katak dalam tempurung) Indonesia, melainkan bisa langsung sekolah tinggi di Mesir maupun di Jepang, atau Prancis, atau Jerman. Dan perpustakaan kota yang menyediakan buku sastera Jawa pun akan disergap para pembaca sastera Jawa, karena di sekolah selama 12 tahun awal usia putra bangsa juga dibudayakan membaca buku sastera Jawa, sastera Sunda, sastera Minangkabau. Karena BAHASA DAERAH itu merupakan <em>Intangible Cultural Heritage (ICH), </em>kekayaan kultural masyarakat Indonesia, yang wajib dilindungi. Untuk melindungi bahasa daerah tadi  Badan dunia UNESCO <em>(the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation) </em>menetapkan Hari Bahasa Ibu Internasional, pada tanggal 21 Februari diharapkan semua suku bangsa di dunia berbicara dalam bahasa daerahnya masing-masing. Alangkah indahnya andaikata Walikota Surabaya pada tanggal 21 Februari memerintahkan warga kota Surabaya berbicara dalam bahasa Surabayan. Hal semacam itu tidak pernah terjadi di Indonesia.</p>
<p>UNESCO tahun 1996 juga pernah meminta Dr.Taufik Ismail untuk meneliti para lulusan sekolah SMA di beberapa negeri rata-rata membaca berapa judul buku. Hasilnya, lulusan SMA di Jerman rata-rata telah membaca 32 judul buku, anak Belanda 30 buku, anak Rusia 12 buku, anak Jepang 15 buku, anak New York 32 buku, anak Swiss 15 buku, anak Singapura 6 buku, anak Malaysia 6 buku, anak Brunai 7 buku, anak Indonesia 0 buku. Ya, kalau anak Indonesia lulus SMA membaca 0 buku, mana mungkin penerbit buku, toko buku, perpustakaan kota, berpesta akibat kelancarannya berbisnis buku?</p>
<p>Mengapa waktu diteliti oleh Dr.Taufik Ismail (1996) anak lulus SMA di Indonesia membaca 0 buku? Sebab pada tahun 1975, kurikulum pendidikan nasional Indonesia mengadakan perubahan secara total, yaitu dari TK sampai Perguruan Tinggi hanya diajarkan satu bahasa, bahasa Indonesia. Bahasa lain (Jawa, Tionghoa, Arab, dll) dilarang masuk sekolah. Bahasa Inggeris, satu-satunya bahasa manca yang diajarkan, namun ya hanya sebagai ilmu pengetahuan saja. Lulus SMA ya tidak fasih berbahasa Inggeris. Pelajaran bahasa Indonesia disatukan dengan sastera Indonesia. Mempelajari bahasa Indonesia saja sudah banyak liku-likunya, membaca sastera sudah tidak ada waktunya. Lebih-lebih sastera Indonesia tidak di-UNAS-kan, sastera Indonesia tidak perlu dibaca. Para putera bangsa selama bersekolah dari TK sampai PT dimuati banyak ilmu, tetapi meninggal membaca buku dan menulis (buku). Maka wajarlah kalau pada tahun 1996 ketika kurikulum  sekolah tidak diajari membaca buku tiap hari telah berjalan 21 tahun (1996 – 1975), maka pelajar lulus SMA membaca 0 buku.</p>
<p>Kurikulum pendidikan nasional Indonesia sejak 1975, belum berubah sampai sekarang (2014). Yaitu dari SD murid-murid digiring untuk bisa lulus dan melanjutkan ke SMP melalui UAS, dari SMP digiring dengan menghafal soal-soal yang di-UAS-kan agar bisa lulus dan melanjutkan ke SMA, dari SMA digiring (artinya dididik dengan masif) menghafal soal-soal yang di-UNAS-kan. Mereka seperti kuda yang menarik kereta, kedua matanya di samping ditutup, tidak boleh melirik lain lingkungan, yang dituju hanya ke depan, hanya LULUS UNAS, dan itupun si kuda harus dicambuk, artinya UNAS disiapkan dengan pengawasan polisi, satpam, dan seluruh aparat pemerintahan bersama dananya dikerahkan untuk “mengamankan” UNAS, pengiriman soalnya dijaga ketat, tidak mungkin bocor, cara begitu bukankah lontaran tidak percaya terhadap kejujuran putera bangsa dan guru-gurunya, mereka dicurigai sebagai penjahat (kriminal) yang membocorkan soal-soal UNAS. Ya karena dituduh sebagai maling, akhirnya menjadi maling juga, soal-soal UNAS bocor. Tidak baik mendidik anak bangsa dengan “kekerasan” begitu. Lulus UNAS dengan baik lalu diterima ke PTN. Itulah tujuan hidup putera bangsa Indonesia sekarang ini. Lulus UNAS SMA, dan masuk ke PTN. Tapi tidak punya budaya membaca buku (sastera) dan menulis buku, apa bisa lulus Fakultas Kedokteran, atau Hukum, atau (apalagi) sastera? (Tapi kok ya didirikan Fakultas Sastera! Apa referensinya? Wong lulus SMA membaca 0 buku, dan sastera = buku. Lalu di Fakultas Sastera apa yang diajarkan? Apa dimulai dari mengulas roman Sitti Noerbaja, siapa pengarangnya, temanya apa, pengaruhnya terhadap zaman bagaimana?). Para mahasiswa lulusan UNAS itu datang ke kampus hanya mendengarkan dan menyaksikan dosen memberi kuliah, pulang bawa catatan, ke kampus lagi, pulang lagi, tanpa membaca buku, tiba-tiba lulus? Tidak mungkin!</p>
<p>Suka membaca buku harus kita budayakan. Dalam konteks kekinian, warga Jepang adalah contoh betapa membaca telah menjadi budaya. Warga di negeri itu sejak usia dini (kira-kira umur dua hingga tiga tahun) telah diperkenalkan dengan buku. Sedemikian bagus budaya membaca di Japang, sampai ada anekdot, “Orang Jepang itu tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur.” <em>(M.Anwar Djaelani, dosen Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Pos, Opini, Rabu 23 April 2014, tepat hari buku sedunia). </em>Anekdot dari saya (Suparto Brata): <em>Kalau kurikulum pendidikan nasional Indonesia diterapkan di Jepang (SD-SMP-SMA tidak membaca buku dan menulis buku), maka 10 tahun kemudian bangsa Jepang bodohnya seperti bangsa Indonesia.</em></p>
<p>UNESCO pada 2012 melaporkan bahwa indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya, dalam 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca (<a href="http://www.poskotanews.com">www.poskotanews.com</a> 27/09/2013). Nah, kalau Kota Surabaya bagaimana? Kalau sama dengan bangsa Indonesia rata-rata, maka penerimaan Socrates Award yang mengunggulkan kreteria 800 perpustakaan, ya artinya tidak menyentuh warga memiliki minat baca buku! Kalau penerimaan Socrates Award untuk Kota Surabaya itu diterima dengan rasa bangga, terselit ketidak-kejujuran. Karena banyaknya 800 perpustakaan di Kota Surabaya tidak berbanding lurus dengan warga kota berbudaya membaca buku (dan menulis buku).</p>
<p>Buku <strong>“Surabaya Sebagai Kota Literasi” </strong>ini diharapkan<strong> </strong>memuat tanggapan dan komentar dalam rangka Hari Buku Sedunia, Hari Pendidikan Nasional dan Hari Jadi Kota Surabaya yang ke-721. Saya juga dimintai untuk memberi komentar, maka saya tulis tanggapan ini. Membaca sekilas tanggapan saya di atas, jelas “Surabaya Sebagai Kota Literasi” belum bisa dicapai. Tetapi harapan mencapai masih ada. Terutama harus kita pelajari apa yang disebut Hari Buku Sedunia.</p>
<p>Hari Buku Sedunia, atau <strong>the World Book Capital and the Copyright Day, </strong>dicanangkan oleh UNESCO untuk pertama kalinya tanggal 23 April 2001 di Madrid, ibu kota Sepanyol. Mengapa tanggal 23 April? Itu untuk menghormati sasterawan Inggeris William Shakespeare, yang lahir 23 April 1564, dan meninggal pada 23 April 52 tahun kemudian. Tanggal 23 April 1616 juga tanggal wafatnya sasterawan Sepanyol, Miguel de Carvantes Saavendra, pengarang buku Don Kisot. Pas tanggal itu, di wilayah Catalonia (Sepanyol) ada perayaan Saint George dengan cara siapa pun yang membeli buku di toko diberi bunga mawar. Perayaan Saint George juga diperingati sebagai patron di Inggeris. Maka pada tanggal 23 April 2001, UNESCO menunjuk Kota Madrid untuk merayakan hari <em>the World Book Capital and the Copyright Day, </em>yang syaratnya kota yang ditunjuk UNESCO warga kotanya dari balita-kakek-nenek harus berbudaya membaca buku. Selanjutnya tiap tanggal 23 April ada kota yang ditunjuk oleh UNESCO untuk merayakan <em>the World Book Capital. </em>Tahun 2001 Madrid, 2002 Alexandria, 2003 New Delhi, 2004 Antwerp, 2005 Montreal, 2006 Turin, 2007 Bogota, 2008 Amsterdam, 2009 Beirut, 2010 Ljubljana (Slovenia), 2011 Buenos Aires, 2012 Yerevan (Armenia), 2013 Bangkok, 2014 Fort Harcourt (Republik Federasi Negeria, Afrika Barat).</p>
<p>Nah, apakah dengan mendeklarasikan Surabaya Sebagai Kota Literasi, mengharapkan Kota Surabaya ditunjuk oleh UNESCO merayakan Surabaya World Book Capital? Toh belum ditunjuk. Jadi saran saya, bukunya diberi judul <strong><em>Surabaya Menuju Kota Literasi. </em></strong>(Ketika terbit ternyata judul buku diberi tambahan kata: <em>Menuju Wujud </em>di atasnya. Cukup cerdas.</p>
<p>Ketika tahun 2013 Bangkok merayakan <em>Bangkok World Book Capital 2013, </em>sebenarnya bukan itu tujuannya semula. Tujuannya semula, pada tahun 2014 Thailand ditunjuk menjadi tuan rumah Kongres Serikat Penerbit Internasional (International Publishers Association = IPA). Dengan adanya rencana itu, maka pada 2011, Departemen Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Bangkok Metropolitan Administration menghubungi lebih dari 90 instansi segala bidang untuk mendukung gerakan Bangkok Membaca Buku, dan ikut secara tegas menciptakan masyarakat membaca buku dalam konsep <em>Bangkok Read for Life. </em>Dalam konsep <em>Bangkok Read for Life, </em>ada 3 sasaran bermakna bagi warga kota Bangkok, yaitu <em>Reading for the Past, </em>rakyat membaca negerinya masa lalu yang merupakan pusaka warisan kekayaan negeri, yang menimbulkan patriotisme bangsa. <em>Reading for the Present, </em>rakyat mengetahui keadaan negerinya serta kehidupan rakyat negeri lainnya. <em>Reading for the Future, </em>rakyat bisa memperbaiki hidupnya serta menunjang memberi perdamaian pada Thailand. Ketika Thailand mencari jalan untuk menjadi negeri yang modern sebagai kerajaan, ada beberapa jalan bisa ditempuh. Membaca buku kaya imajinasi dan analisis pemikiran hebat. Membaca buku bisa menunjang demokrasi dan perdamaian di Thailand. Maka Kota Bangkok Metropolitan menyasar simulasi membudayakan membaca buku untuk warga kota, utamanya pada pemuda dan kanak-kanak. Ada 9 missi untuk melaksanakan program konsep <em>Bangkok Read for Life. </em>Didukung lebih dari 90 instansi berbagai bidang di Kota Bangkok, 9 missi tadi adalah: <strong>1.</strong> Membangun gedung Bangkok City Hall menjadi perpustakaan kota dan museum.<strong> 2.</strong> Membangun Thai Cartoon Museum untuk menyemangati warga kota Bangkok berpikir lebih meluas. <strong>3.</strong> Menciptakan kebudayaan membaca buku menjadi kebudayaan berpikir alami (bukan instan). <strong>4.</strong> Mempromusikan membaca buku di antara para kanak-kanak dan pemuda untuk meyakinkan mereka bahwa membaca buku itu sangat bermakna bagi kehidupan. <strong>5.</strong> Mencari buku-buku kepustakaan bagi warga Kota Bangkok untuk menolong menyegarkan pikiran mereka dengan membaca buku. <strong>6.</strong> Mempromosikan mempelajari buku ilmiah untuk menyemangati berpikir ilmiah. <strong>7.</strong> Mempromosikan membaca buku untuk menyemaikan moral baik dan adil dengan tujuan terciptanya masyarakat yang segar dan damai. <strong>8.</strong> Bekerja sama dengan Kelompok Bangkok Membaca Buku menganjurkan agar warga kota selalu bertahan terus membaca buku, membaca buku menjadi pondasi kebudayaan pada masyarakat Thailand. <strong>9.</strong> Bersiap untuk menjadi tuan rumah Kongres Serikat Penerbit Buku Internasional (IPA), yang mana tahun 2014 ini Bangkok dipilih menjadi tuan rumahnya. Dalam menggalang gerakan membaca buku dan menulis buku itu, banyak semboyan-semboyan diumumkan, seperti <em>Bangkok Read foir Life; Read for Life – Life for Read.</em></p>
<p>Maka, apabila Pemerintah Kota Surabaya ingin menjadi Surabaya Sebagai Kota Literasi, setidaknya harus menirukan gerakan membaca buku <em>Bangkok Read for Life. </em>Untuk persiapan menjadi tuan rumah IPA tahun 2014 saja, Departemen Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Bangkok Metropolitan Administration membutuhkan gerakan membaca buku <em>Bangkok Read for Life </em>waktu sejak tahun 2011, selama 3 tahun.<em> </em>Tidak mustahil Surabaya akan mencapai Surabaya Sebagai Kota Literasi lebih panjang daripada Kota Bangkok. Setidaknya para penggagas Surabaya Sebagai Kota Literasi juga membuat semboyan-senboyan seperti <em>Surabaya Read for Life, </em>dengan segala konsekuennya (bekerja keras mensimulasi warga kota membudayakan membaca buku).</p>
<p>Saya tetap berharap, putera bangsa dari balita sampai kakek-nenek berbudaya membaca buku dan menulis buku, yaitu dengan pergantian Presiden Indonesia nanti, kurikulum pendidikan nasional Indonesia dirombak total. Seperti negeri-negeri maju lainnya, yaitu bersekolah 12 tahun usia bocah, dari kelas I SD – kelas XII SMA, putera bangsa dibudayakan membaca buku sastera, membaca buku, membaca buku, membaca buku. Membaca buku itu bukan kodrat, jadi harus dilatih. Dilatih tidak di bimbingan belajar seperti mau UNAS, itu instan. Segala bimbingan belajar untuk UNAS, lulus ataupun tidak lulus, setelah UNAS lampau, ilmu di bimbingan belajar itu tidak berguna untuk sarana hidup selanjutnya. Jadi untuk membudayakan membaca buku dan menulis buku (misalnya bahasa Inggeris), bukan di bimbingan belajar untuk UNAS tempatnya. Tapi di sekolah selama 12 tahun, dari klas I SD – klas XII SMA. Untuk membudayakan harus dilatih terus-menerus sampai menjadi budaya putera bangsa. Dan yang dibudayakan dibaca jangan hanya satu bahasa (bahasa Indonesia), melainkan harus sebanyak mungkin bahasa dan sebanyak mungkin macam huruf. Bahasa Mandarin, huruf Mandarin, bahasa Arab, huruf Arab, bahasa Korea, huruf Korea. Banyak bahasa dan huruf dikuasai, orang menjadi lebih sakti. <em>Language is power.</em> Dengan pergantian Presiden baru, saya juga mengharap Kurikulum Pendidikan Nasional Indonesia 1975-2014 yang pendidikan putera bangsa selama menjalani sekolah selama 12 tahun dari kelas I SD – kelas XII SMA kemungkinan melanjutkan hidupnya yang cerah atau gagal ditentukan dalam menempuh UNAS selama 7 hari dengan cara untung-untungan <em>(gambling atas menjawab soal unas</em> <em>multiple choise) </em>dihentikan saja. Kurikulum UNAS itu jelas mempersempit jalan hidup putera bangsa Indonesia. Sangat aneh, kurikulum pendidikan kok mempersempit kiat hidup bangsa. Sudah berlaku sekian lama (1975-2014) bangsa Indonesia kian diperbodoh kian diperbodoh lewat pendidikan nasionalnya. Saya mengharap Menteri Pendidikan Nasional Indonesia pada kabinet Presiden baru nanti, mengubah total kurikulum pendidikan nasional Indonesia, terutama bersekolah 12 tahun masa awal umur putera bangsa dibudayakan membaca buku dan menulis buku.</p>
<p>Bersekolah itu gunanya untuk membudayakan putera manusia membaca buku, memaknai serta memperbincangkan filosofi bacaan buku itu. Hal itu dimulai sejak filsuf Yunani Plato (428-347 S.M) mendirikan sekolah filsafat yang dinamai Academus, sesuai dengan pahlawan legendaris Athena. Karenanya sekolah itu dikenal sebagai Akademi. Dan sejak itu beribu “akademi” didirikan di seluruh dunia. Plato adalah murid Socrates. Socrates (470-399 S.M.) adalah tokoh yang paling banyak menyiarkan ilmunya dalam seluruh sejarah filsafat, sehingga dia merupakan salah seorang filosuf yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemikiran Eropa selama hampir 2500 tahun ini.  <strong>Sangat mungkin penghargaan Socrates Award yang diterima oleh Walikota Surabaya Ibu Tri Rismaharini, kata Socratesnya dari Socrates filosuf Yunani ini. </strong>Socrates banyak menyiarkan pemikiran fisafatnya hanya melalui pidato-pidatonya (bersuara, didengarkan, indrawi). Sama dengan orang Indonesia sekarang yang hidup hanya dengan mengandalkan menonton dan mendengarkan untuk kiat kemakmuran hidupnya  (terhitung berjam-jam merasa makmur menonton TV). Juga ketika Socrates mengadakan pembelaan atas hukuman mati minum racun oleh pengadilan,  pembelaannya hanya dipidatokan. Baik pemikiran filsafatnya maupun pidato pembelaannya, menjadi misi kemanusiaan yang tersebar di seluruh dunia hingga berabad-abad lamanya karena pidato-pidatonya tadi ditulis oleh Plato setelah kematian Socrates. Plato menuliskan pidato pembelaan Socrates pada buku <em>Apologi. </em>Di samping <em>Apologi, </em>Plato juga melestarikan (ditulis jadi buku) seluruh karya utama Socrates (yang dipidatokan, diucapkan secara indrawi) ~ kumpulan <em>Epistles </em>dan kira-kira 25 <em>Dialog </em>filsafat yang pernah didiskusikan dan dipidatokan Socrates. Kita bisa mendapatkan karya-karya ini (berupa buku) sekarang berkat tindakan Plato menuliskannya jadi buku yang bisa dibaca dan dipelajari sejak Plato mendirikan akademi. Kalau tidak jadi buku dan dibaca pada buku, apa manfaat filsafat Socrates yang diuraikan secara lisan demi untuk menata kehidupan manusia, yaitu kebenaran, etika, kebaikan dan kejahatan, untuk masa depan yang ideal? Lenyap seperti ketika kita menikmati menonton Inul tari mengebor di layar TV, yang sekarang tidak bisa kita ceritakan lagi nikmatnya. Begitulah sejarahnya mengapa sekolah-sekolah didirikan di seluruh dunia. Digunakan untuk membaca buku, menulis buku, mencapai akademi.  Orang pintar seluruh dunia ini pasti membaca buku dan menulis buku. Kalau bangsa Indonesia tahun emas 100 tahun merdeka tidak berbudaya membaca buku dan menulis buku, bangsa Indonesia seperti kakek-nenek saya, mengerjakan sawah ladang hanya dengan melihat dan mendengar tetangganya, kembali menjadi orang primitif.</p>
<p>Demikian harapan saya. Semoga terlaksana.</p>
<p>Suparto Brata, pengarang/story writer</p>
<p><a href="http://www.supartobrata.com">www.supartobrata.com</a> <a href="http://www.supartobrata.blogspot.com">www.supartobrata.blogspot.com</a></p>
<p>Namanya telah tercatat dalam buku <strong>Five Thousand Personalities of  the World</strong></p>
<p>Sixth Edition, 1998, terbitan The American Biographical Institute, Inc</p>
<p>5126 Bur Oak Circle, P.O.Box 31226, Raleigh, North Carolina 27622 USA.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1185</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suparto, Republiken dan Detektif Jawa</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1094</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1094#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Aug 2013 13:11:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1094</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/08/sbtempo5.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/08/sbtempo5-230x300.jpg" alt="" title="sbtempo5" width="230" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1096" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/08/sbtempo2.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/08/sbtempo2-215x300.jpg" alt="" title="sbtempo2" width="215" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1095" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1094</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DIA TETAP DATANG DI KANTOR PALING PAGI</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1009</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1009#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Sep 2012 02:20:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan Toto Sonata BADAN boleh menua, tapi jiwa tetap muda. Barangkali ungkapan ini terasa tepat untuk menggambarkan semangat Suparto Brata, 80, pengarang bereputasi nasional dari Surabaya, yang tetap produktif menulis hingga saat ini. Di usia senjanya, setiap hari dia mendisiplinkan dirinya untuk menulis, menulis dan menulis. Tentunya, diselingi dengan kegiatan membaca. Dalam perbincangan dengan Alur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tulisan Toto Sonata</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/09/Aku-dan-Bu-Walikota-001.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1011" title="Aku dan Bu Walikota 001" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/09/Aku-dan-Bu-Walikota-001-300x227.jpg" alt="suparto brata" width="300" height="227" /></a>BADAN boleh menua, tapi jiwa tetap muda. Barangkali ungkapan ini terasa tepat untuk menggambarkan semangat Suparto Brata, 80, pengarang bereputasi nasional dari Surabaya, yang tetap produktif menulis hingga saat ini. Di usia senjanya, setiap hari dia mendisiplinkan dirinya untuk menulis, menulis dan menulis. Tentunya, diselingi dengan kegiatan membaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perbincangan dengan Alur di rumahnya Rungkut Asri III/12 kompleks perumahan YKP RL-I-C 17 Surabaya, dia bercerita setiap hari mulai menulis jam 03.00 sampai jam 06.00 pagi. “Lalu baca-baca apa saja. Kalau mata sudah lelah membaca, jam 10.00 pagi, biasanya saya tertidur,” tuturnya tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Produktivitasnya dalam berkarya agaknya sulit dicari tandingannya di negeri ini. Dia mulai menulis di media massa sejak tahun 1951. Sejak saat itulah mengalir karya-karyanya, baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Tercatat, hingga saat ini, daftar karya yang dihasilkannya sebanyak 135 buku karya tulis. Baik berupa karya fiksi maupun nonfiksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sejumlah itu, hampir separuhnya berbahasa Jawa. Sedangkan karya-karyanya yang berbahasa Indonesia, telah dipublikasikan berbagai koran seperti <em>Kompas, Jawa Pos, Surabaya Post, Sinar Harapan, Indonesia Raya, </em>dan berbagai majalah seperti <em>Garuda, Aneka, Tanahair, Gelanggang Siasat, Kisah, Mimbar Indonesia, Roman, Indonesia, Sadar, Majalah sastra Horison </em>dan lain-lain. Dia menulis berita, feature, ulasan, artikel dan cerita fiksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Menulis bahasa Jawa sejak 1958, dimuat di <em>Panjebar Semangat, Mekar Sari, Jaya Baya, Djaka Lodhang, Jawa Anyar, Dharma Nyata. </em>Dharma Nyata kemudian bernama <em>Nyata</em> setelah pada tahun 1990-an di<em>-take over</em> grup <em>Jawa Pos, </em>dan berubah menjadi tabloid hiburan dan keluarga yang tetap terbit hingga kini.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir media massa cetak baik koran maupun majalah pernah memuat karyanya. Karena itulah, namanya begitu dikenal oleh kebanyakan pembaca. Baik tua maupun muda. Para pengarang dan penyair terkemuka Indonesia, di antaranya Goenawan Mohammad dan Sapardi Djoko Damono, mengenal Suparto Brata sejak mereka duduk di bangku SMA. Begitu juga Gubernur Jatim Soekarwo membaca karyanya sejak Pakde Karwo masih SMA. Ketika bertemu Gubernur Jatim dalam peringatan hari Pancasila di Balai Pemuda tahun 2011 lalu, Pakde Karwo untuk pertama kalinya bertemu dengan Suparto Brata sempat berkata bahwa beliau (Pakde Karwo) masih ingat membaca ceritanya yang dimuat bersambung di Majalah Panjebar Semangat  1963 berjudul <em>“Kadurakan Ing Kidul Dringu”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dia tak merasa dirinya sastrawan besar karena mendapat pujian orang nomor satu di Jatim itu. Ya, begitulah Suparto Brata: Sosok pribadi rendah hati, dan sejak lama dikenal tidak suka menonjolkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Patut Jadi Contoh</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika masih berdinas sebagai PNS di kantor Hubungan Masyarakat (HUMAS) Pemerintah Daerah Kodya Surabaya, dia lebih mengesankan sebagai pegawai biasa, meski banyak wartawan mengenalnya sebagai sosok yang luar biasa. Agaknya, itulah pilihan sikapnya: emoh dianggap terkenal, meski sesungguhnya  ~ diluar konteks kepegawaiannya ~ dia adalah pengarang terkenal, dan tergolong punya peran penting dalam khazanah sastra Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/09/Alur-Agustus-2012-001.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1013" title="Alur Agustus 2012 001" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/09/Alur-Agustus-2012-001-219x300.jpg" alt="suparto brata" width="219" height="300" /></a>Ketika masih menjadi abdi negara itulah, kinerja lelaki tua itu patut dijadikan contoh. Pagi-pagi sudah di kantor. Sampai suatu pagi Walikota Surabaya kala itu, Dokter Purnomo Kasidi, mengadakan sidak pagi-pagi jam 07.30 semua ruangan kantor masih banyak yang kosong, sampai di bagian HUMAS, melihat seorang pegawai dengan pakaian seragam dan eblek tanda pegawai, giat bekerja mengetik sendirian di sudut ruangan. Semangatnya luar biasa. Walikota yang diiringi para wartawan ketika sidak itu, antusias memberi pujian, menyuruh para wartawan memotretnya. Para wartawan hanya tersenyum. Ya, lelaki itu, siapa lagi kalau bukan Suparto Brata, memang tidak asing di kalangan wartawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Walikota itulah yang malah kurang mengenalnya. Walikota Surabaya silih berganti. Suparto Brata kurang dikenal oleh petingginya, sementara dia sebetulnya termasuk salah seorang pegawai yang menjalankan tugas kehumasan sejak lembaga itu dibentuk pertama kali di zaman Walikota Soekotjo pada tahun 1967. Bahkan, dia penulis teks pidato Walikota Soekotjo. Di tengah hiruk-pikuk pergantian walikota dan kepangkatan, Suparto Brata tetap berpangkat rendah.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, seperti pernah ditulis wartawan senior <em>Kompas, </em>Max Margono, pada masa awal lembaga kehumasan ini berjalan, dialah yang membuat rilis, memotret, dan memproses sendiri hasil <em>jepretannya.</em> Suparto Brata yang memberi contoh bagaimana para pegawai Humas yang baru caranya meliput berita pembangunan, caranya memotret, bahkan caranya membuat dokumen pembangunan atau sejarah kota Surabaya berupa buku tanpa menggunakan anggaran Humas. Karena itu sewaktu dia belum pensiun, banyak buku-buku sejarah maupun pembangunan Kota Surabaya dalam prosesnya didokumen menjadi buku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika lembaga humas makin maju, gedungnya baru, para sarjana masuk jadi pegawai, dia menjadi tertinggal.Termasuk tertinggal pangkat dan jabatannya. Ibaratnya, Suparto Brata “masuk kotak”. Dia tidak diberi tugas luar. Dia tidak terlibat dalam proyek-proyek yang mengucurkan uang. Dia tidak dapat kendaraan dinas seperti teman-temannya yang kariernya lebih meroket. Toh dia tetap setia. Dia tetap datang ke kantor paling pagi, meninggalkan kantor paling petang. Malah, tak jarang dia yang pagi hari membuka ruang kantornya, petang hari mengunci ruang kantornya.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah kenangan tentang Suparto Brata, semasa dia menjadi pegawai Pemda Surabaya (sekarang Pemkot Surabaya) di bagian Humas. Dia pensiun tahun 1988. Dengan demikian, dia memang tidak di tengah wartawan-wartawan lama, membuat rilis, dan semacamnya. Tidak lagi. Namun, ada yang tetap dikerjakannya, yakni mengetik, mengetik dan mengetik. Ketika kini penggunaan mesin ketik manual berubah ke komputer, Suparto pun menulis dengan komputer.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu pula dunia yang sebenarnya dari Suparto Brata. Dari sikapnya yang tidak ingin menonjol diri sejak menjadi pegawai Pemda Surabaya dulu ~ bahkan dia terbilang <em>clingus, </em>pemalu ~ Suparto Brata terus menggelontorkan karyanya ke tengah publik. Dia adalah pengarang produktif. Dia kamus berjalan sejarah kota Surabaya, namun lebih terkenal tulisan sejarahnya daripada sebagai narasumber wawancara atau seminar (karena tidak fasih bicara, <em>clingus</em>), hingga wajahnya jarang yang tahu, tidak dikenal publik. Berkat reputasi kepengarangannya, lelaki tua yang tetap energik ini namanya tercatat dalam buku <em>Five Thousand Personalities of the World Sixth Edition, </em>1998, terbitan The American Biographia Institute, Inc, 5126 Bur Oak Circle, P.O.Box 31226, Raleight, North Carolina 27622, USA.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain menulis buku fiksi dalam bahasa Jawa, dia juga menghasilkan karya tulis yang dikerjakan bersama tim, dan dengan riset. Beberapa di antaranya risalah <em>Hari Jadi Kota Surabaya </em>bersama Kolonel Laut Dokter Sugiyarto Tirtoatmojo. Tim riset dan penulisan buku atas prakarsa dan dibiayai oleh Pemda Tk. II Kotamadya Surabaya 1975.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku <em>Master Plan Surabaya 2000, </em>bersama Ir. Johan Silas. Tim diketuai oleh Kolonel Imam Sudrajat, dibiayai Pemda Tk. II Kotamadya Surabaya, 1976. Menulis buku <em>Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, </em>bersama Drs. Aminuddin Kasdi (sekarang Prof. DR) dan Drs Soedjijo. Tim diprakarsai dan dibiayai oleh Panitia Pelestarian Nilai-nilai Kepahlawanan 10 November 1945 di Surabaya, 1986, diketuai oleh Blegoh Soemarto (Ketua DPRD Tk.I Jawa Timur).</p>
<p style="text-align: justify;">Menulis <em>Sejarah Pers Jawa Timur, </em>bersama Drs.Moechtar, Drs.Anshari Thayib, Soemijatno, dan Drs.Issatriadi. Diprakarsai dan dibiayai oleh Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Jawa Timur, 1987.</p>
<p style="text-align: justify;">Menulis <em>Sejarah Panglima-panglima Brawijaya (1945-1990), </em>bersama Drs.Nurinwa, Drs.Wawan Setiawan (keduanya kini Doktor) dan Dr.Wuri Sudjatmiko. Dibiayai LIPI Jakarta dan Kodam Brawijaya, 1988.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa penghargaan yang diterimanya seperti mendapat Hadiah Gubernur Jawa Timur Sularso 1993, sebagai seniman pengarang tradisional. Mendapat Hadiah Rancage 2000 sebagai jasanya mengembangkan sastra dan bahasa Jawa. Mendapat Hadiah Rancage 2001, karena telah membuktikan kreativitasnya dalam sastra Jawa dengan terbitnya buku <em>Trèm </em>karangannya. Mendapat Hadiah Rancage 2005, karena terbitnya buku <em>Donyané Wong Culika.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Mendapat Hadiah Gubernur Jawa Timur Imam Utomo 2002, sebagai seniman Jawa Timur (bersama 100 orang seniman se Jawa Timur lainnya).</p>
<p style="text-align: justify;">Mendapat Hadiah dari Pusat Bahasa 2007 sebagai salah seorang dari tiga sastrawan Indonesia, dan ditunjuk sebagai penerima <em>The SEA Write Award 2007 </em>di Bangkok.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">SUPARTO BRATA lahir di Rumah Sakit Simpang Surabaya (kini rumah sakit itu sudah lenyap berganti jadi bangunan mal Plaza Surabaya), Sabtu Legi, 27 Februari 1932 (sama dengan kelahiran Elizabeth Taylor, seorang bintang film Hollywood yang cantik jelita). Namun, di ijazah dan KTP tertulis 16 Oktober 1932. Dia putra pasangan Raden Suratman Bratatenaya dengan Raden Ajeng Jembawati (keduanya dari Surakarta Hadiningrat).</p>
<p style="text-align: justify;">Sewaktu bersekolah di SMAK St.Louis Jalan Dr.Sutomo 7 Surabaya ~ tamat 1996 ~ dia sekelas dengan Ir.Johan Silas. Dia pernah bekerja sebagai pegawai kantor Telegrap (PTT), 1952-1960). Jadi, waktu bersekolah di SMAK St.Louis berstatus “sekolah sambil bekerja”.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu menjadi karyawan Perusahaan Dagang Negara Djaya Bhakti (1960-1967), sekantor dengan Eddy E.Samson, BA (kini pemerhati cagar budaya). Pernah menjadi wartawan <em>freelancer </em> di beberapa media cetak. Setelah pensiun dari Pemda Surabaya 1988, pernah direkrut Arswendo Atmowiloto/group Komas-Gramedia 1990, jadi pemimpin redaksi <em>Tabloid Praba, </em>tabloid bahasa Jawa di Jogyakarta. <em>Tabloid Praba </em>tidak dapat izin SIUPP dari Menteri Penerangan Harmoko, Suparto Brata pulang ke Surabaya. Lalu direkrut oleh Drs.N.Sakdani Solo untuk menjadi pemimpin redaksi <em>Tabloid Jawa Anyar </em>(group Jawa Pos) 1991-1992. Merasa sudah tua, sebagai kepala rumah tangga sudah selesai karena anak-anaknya sudah <em>mentas </em>semua, maka dia mengundurkan diri <em>Jawa Anyar</em>, mau bekerja bebas merdeka saja, tidak tergantung kepada siapa-siapa. Sejak itulah dia menjadi pengarang merdeka sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Suparto Brata menikah dengan Rara Ariyati, dan dikaruniai empat anak, masing-masing Tatit Merapi Brata, Teratai Ayuningtyas, Neo Semeru Brata dan Tenno Singgalang Brata. Keempat anaknya lulusan pendidikan tinggi, dan semuanya sudah berkeluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam acara memperingati 40 hari wafatnya Sang Isteri diselenggarakan pertemuan dengan para penulis di rumahnya, sekali gus memperbincangkan terbitnya buku karyanya, <em>Kremil, (</em>yang pernah dimuat secara bersambung di harian <em>Kompas), </em>Suparto Brata sempat bercerita tentang kehidupan rumahtangga bersama istri tercinta yang meninggal dunia di Surabaya pada 2 Juni 2002. Selama hidup berumahtangga bersama istri yang dinikahi pada 22 Mei 1962, yang diingatnya tidak pernah terjadi pertengkaran di dalam rumah tangga. Sekali pun itu cekcok kecil. Memang Suparto Brata tidak pernah cekcok dengan siapa pun juga, berbantah pun tidak, mendesakkan kemauannya pun hanya di tulisannya. “Dalam kesempatan ini, sudilah bapak atau ibu serta saudara-saudara yang mengenal istri saya, saya mohon maaf bila ada kesalahan baik disengaja atau tidak semasa hidupnya. Saya juga mohon doanya untuk istri saya,” ujarnya saat itu dalam bahasa Jawa halus, dengan mata berkaca-kaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Hadirin hanya bisa terdiam seperti tenggelam dalam momen yang mengharukan. Sekelumit cerita pengalaman hidup rumahtangganya, yang tak sekali pun terjadi cekcok pasutri itu, benar-benar amat langka sekaligus sungguh membanggakan. Dengan demikian, itu menunjukkan keberhasilannya dalam membina rumahtangga. Dan itu, kiranya patut dijadikan contoh.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Budaya Membaca dan Menulis</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Saya sudah tua. Tanggungjawab sebagai kepala keluarga sudah selesai. Namun masih Dianugerahi oleh Allah (1) sehat, (2) bebas memilih, mengerjakan apa saja yang saya anggap bermanfaat bebas, menolak pekerjaan dari siapapun juga bebas, (3) mampu membaca buku dan menulis buku. Tiga anugerah Allah ini saya anggap amanah, harus saya syukuri, saya ibadahkan, dan sekaligus jadi barkah saya. Karena amanah, maka sisa hidup saya ini paling banyak akan saya gunakan untuk membaca buku dan menulis buku,” ujar pengarang yang saat ini sedang dalam proses menulis buku tentang seorang pahlawan pejuang pada Revolusi Surabaya 1945, yaitu HR.Mohamad Mangoendiprodjo.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menuturkan, pengalaman hidupnya sejak awal merintis karier sebagai penulis hingga memiliki reputasi sebagai penulis terkenal seperti sekarang penuh liku-liku perjuangan. Dia mengaku, dari pekerjaannya menulis belum bisa dijadikan sebagai sumber mata pencaharian pokok. “Namun, bisa saya jadikan sport dan support segalanya dalam perjalanan hidup saya, baik jasmani, rohani, ekonomi, etika, intelektualitas, dan bidang lain kehidupan,” ujarnya sambil menambahkan, membaca buku dan menulis buku dipahaminya sebagai laku amanah, ibadah dan barokah.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, dia merasa amanah itu tetap diperjuangkan dengan mendorong terciptanya budaya membaca buku dan menulis buku. Perjuangan yang dianggap paling penting adalah mengubah kurikulum pendidikan nasional. Yaitu pelajaran membaca buku dan menulis buku menjadi tujuan dasar utama di sekolah dasar (kelas I SD) hingga sekolah menengah atas (kelas XII SMA). Artinya, di mana pun anak sekolah berhenti bersekolah, mereka sudah punya dasar berbudaya membaca buku. Apalagi lulus SMA, harus sudah punya budaya (kegemaran) membaca buku dan menulis buku. Sedangkan pelajaran lain, seperti matematika, IPS, bahasa, KB, Lalu-lintas dan lain-lain itu muatan ilmu. Bisa diajarkan atau tidak, boleh pilih-pilih menurut keinginan dan kemampuan murid. Tetapi membaca buku dan menulis buku, di sekolah jurusan apa pun, apa agama, tata boga, teknik, dokter, hukum harus menjadi budaya putera bangsa. Dalam sekolah agama, tidak diajari tata boga ya tidak apa-apa, tapi fasih membaca kitab suci harus; dan itu akan sulit kalau tidak sejak kelas I SD – kelas XIX SMP tidak diajari membaca buku bahasa dan huruf macam-macam. Dalam sekolah tata boga, tidak diajari pengetahuan teknik ya tidak apa-apa, tetapi membaca buku resep-resep masakan harus menjadi budayanya; dan membaca dan menulis buku resep itu akan lancar kalau sejak kelas I SD – kelas XIX SMP setidaknya sudah lancar membaca buku dan menulis buku. Untuk meneruskan study di teknik, tidak diajari tentang ilmu hewan ya tidak apa-apa, tetapi membaca buku teknik harus lancar. Pendeknya membaca buku dan menulis buku itu harus jadi dasar utama putera bangsa pada awal umur sekolah 12 tahun, sehingga membaca buku dan menulis buku itu menjadi budaya putra-puteri bangsa (seperti putera-puteri bangsa maju yang lain).</p>
<p style="text-align: justify;">“Sejak Kurikulum Pendidikan Nasional 1975, pelajaran Sastra dan Bahasa Indonesia digabung. Mempelajari bahasa Indonesia saja amat sulit (bisa dilihat dari hasil UNAS tiap tahun, bahasa Indonesia banyak yang angkanya jeblok), sehingga menghabiskan waktu. Dan pelajaran membaca sastra tidak sempat diajarkan di sekolah, waktunya habis untuk menerangkan pelajaran bahasa Indonesia. “Namun para selebritis ketika tampil di TV masih saja bilang <em>‘goa ditemenin bokap datang ke sini’,</em> meskipun bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak ada akhiran <em>in; </em>menandakan bahwa orang di TV itu gagal menyerap bahasa Indonesia selama sekolah 12 tahun di SD-SMA”, kata Suparto Brata memberi contoh betapa sulitnya mempelajari bahasa Indonesia di sekolah.<em> </em>“Mestinya sastera menjadi pelajaran tersendiri, ada sempat waktu mempelajari sastra, yang tidak lain terutama adalah membaca buku, membaca buku, membaca buku. Dengan begitu, para siswa akan terangsang kegemarannya membaca buku. Dari kegemaran membaca akan timbul keinginan untuk menulis,” papar Suparto Brata dalam wawancara dengan Alur di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurikulum pendidikan nasional kita 12 tahun awal sekolah sejak berlakunya kurikulum pendidikan nasional 1975 hingga sekarang tidak memperlembut karakter bangsa. Mungkin mencerdaskan bangsa karena matematikanya hebat, tetapi karakternya&#8230;. banyak yang menjadi curang, suka tawuran, gampang tersinggung, jadi konflik kekerasan. Itu akibat karena putera bangsa lulus SMA tidak punya budaya atau kegemaran membaca buku (sastera). “Jangankan siswa SMA, para sarjana lulusan SMA kurikulum pendidikan nasional 1975 sekarang pun susah payah membaca buku, apalagi menulis buku. Mereka yang mampu menulis buku dan gemar membaca buku, bukan karena hasil pendidikan sekolah di Indonesia dan/atau kurikulum Indonesia, tapi sekolah asing baik di Indonesia ataupun di luar negeri. Atau, orang Indonesia yang mampu menulis buku dan gemar membaca buku tadi adalah karena mereka bertemu dengan para penggemar baca buku (orangtua, guru, atau sahabat) secara pribadi atau belajar secara otodidak. Bukan hasil pendidikannya di SD sampai SMA. Apakah kurikulum pendidikan nasional kelas 1 SD sampai kelas 12 SMA (Kurikulum 1975) yang tidak membudayakan membaca dan menulis buku seperti ini akan kita lanjutkan begitu terus?” ujarnya lagi dengan nada menggugat kebijakan pendidikan nasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut dia, sekarang ini dengan pendidikan tidak membaca buku, maka kita hidup dalam budaya “melihat dan mendengar”. Ini hanya mengaktifkan panca indera saja, alias hidup kodrati, hidup menurut kodratnya. Melihat dan mendengar itu kodrat. Anak umur 3 tahun menonton TV sudah mengerti artinya. Untuk bisa hidup orang tidak hanya menggantungkan diri pada kodrat, tapi harus menempuh kesukaran. Untuk hidup menjadi sopir taksi, ya tidak bisa tiba-tiba bisa menyopir taksi, karena menyopir taksi bukan kodrat. Untuk bisa menyopir taksi, harus menempuh kesukaran, yaitu mengadakan latihan-latihan menyopir dulu. Begitu juga membaca buku dan menulis buku, bukan kodrat. Harus ada pelatihan. Kalau menyopir taksi dilatih satu bulan sudah mahir, kalau membaca buku dan menulis buku harus menjadi budaya, tidak bisa ditempuh hanya dalam 3-6 bulan seperti les matematika di bimbingan belajar. Pelatihan membaca buku dan menulis buku harus terus menerus sehingga menjadi budaya, yang tepat ya selama 12 tahun di sekolah. Semua orang pintar di seluruh dunia ini pasti membaca buku dan menulis buku. Tapi bangsa Indonesia yang kiat hidupnya berbudaya membaca buku dan menulis buku setelah berlakunya kurikulum 1975, tidak sampai 10%.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir semua kehidupan orang Indonesia hanya didasari kodratnya, terutama kemampuan  “melihat dan mendengar” saja. Pelatihan ketrampilan fisik ditempuh hanya sampai “bisa” atau mahir. Budaya membaca buku dan menulis buku yang selain pemberdayaan intelektual juga penghalus budi pekerti, tidak disertakan sebagai kiat kehidupan bangsa. Lalu, di mana dan bagaimana agar putera bangsa berkarakter baik, berbudaya membaca buku dan menulis buku? “Dimulai dari keluarga,” banyak yang bilang begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, tidak! Jangan dimulai dari keluarga. Sebab keluarga di Indonesia sekarang, Ibu-Bapak bekerja keluar rumah, yang di rumah pembantu. Kalau murid sekolah punya PR, dibawa di rumah, yang ikut mengerjakan PR ya pembantu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak. Bukan dari keluarga, tetapi di sekolah. Di sekolah pelajaran membaca buku dan menulis buku harus menjadi dasar pendidikan dan kebudayaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu cerita Suparto Brata dalam obrolannya dengan Alur di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika disinggung soal kurangnya penghargaan terhadap bangunan cagar budaya di Surabaya sebagai “dokumen kota”, kata dia, itu salah satu dampak akibat tidak membaca dan menulis buku. sehingga tidak ada kesadaran sejarah, dan pentingnya menjaga dokumen sejarah kotanya. <em>No document no history.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, dia mengajak untuk mengubah keadaan itu. Keadaan (yang sekarang) memang tidak bisa diubah, namun kita bisa dan sempat mengubah keadaan yang akan datang. Dimulai dari sekarang! Sekolah usia dini 12 tahun putra bangsa dididik massal, berbudaya membaca buku dan menulis buku, tiap hari tanpa jeda. Di sekolah. Bersekolah gunanya yang paling utama putera bangsa harus punya kiat hidup berbudaya membaca buku dan menulis buku. Diajarkan sebanyak mungkin berbagai tulisan dan berbagai bahasa sebanyak-banyaknya. Jangan hanya satu bahasa Indonesia dan tulisan ABC saja. Ajarkanlah di Aceh bahasa Indonesia, Aceh, Inggris, Arab, masing-masing dengan hurufnya. Ajarkanlah di Tanah Jawa bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Madura, Inggris, Cina, Jepang, masing-masing dengan hurufnya. Begitu pula di daerah lain, masing-masing dengan bahasa daerahnya juga. Kalau seperti sekarang, sejak TK sampai PT putera bangsa hanya diajari satu bahasa, bahasa Indonesia (amanat kurikulum 1975) maka jelas setelah dewasa bangsa Indonesia jadi orang yang bodoh. Mengajarkan membaca buku dan menulis buku berbagai bahasa dan huruf akan membawa bangsa kita pintar, dengan sendirinya memberantas kemiskinan dan kebodohan. “Membaca buku itu jalan mengubah takdir, dan menjadikan nurani lebih bijak,” ujar Suparto Brata.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Dikutip dan disesuaikan dari:</span> MAJALAH <strong>ALUR </strong>majalah seni dan budaya edisi 006 / juli-agustus 2012.</p>
<p style="text-align: justify;">Diterbitkan oleh <strong>Dewan Kesenian Surabaya</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1009</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanggapan Wisata Petjinan</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=943</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=943#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2012 06:38:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=943</guid>
		<description><![CDATA[Foto Suparto Brata, baju putih berdiri nomer 4 dari kanan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/pecinan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-947" title="pecinan" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/pecinan-213x300.jpg" alt="" width="213" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/530041_10150950918092400_793950143_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-946" title="530041_10150950918092400_793950143_n" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/530041_10150950918092400_793950143_n-300x225.jpg" alt="Masjid ChengHoo" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Foto Suparto Brata, baju putih berdiri nomer 4 dari kanan.</p>
<p style="text-align: center;">
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/makamtjoa1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-945" title="makamtjoa" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/makamtjoa1-300x224.jpg" alt="makam tjoa" width="300" height="224" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=943</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dukung HR. Muhammad sebagai Pahlawan Nasional</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=927</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=927#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jul 2012 06:54:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=927</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/07/dukung.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/07/dukung-226x300.jpg" alt="" title="dukung hr. muhammad" width="226" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-928" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=927</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suparto Brata, Feodalisme dan Komunisme</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=909</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=909#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jul 2012 02:10:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=909</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/07/2860_001.png"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/07/2860_001-150x150.png" alt="" title="2860_001" width="150" height="150" class="alignnone size-thumbnail wp-image-922" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=909</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Buku Untuk Apa?</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=878</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=878#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 02:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=878</guid>
		<description><![CDATA[Menulis cerita dan diterbitkan jadi buku adalah kerja intelektual. Tanpa berbudaya membaca buku dan menulis buku seseorang tidak pantas disebut intelek, terpelajar ataupun ilmuwan. Orang menulis cerita dan diterbitkan jadi buku pasti ada niatan (berambisi): Bukunya dibaca oleh orang lain. Namanya menjadi terkenal. Mendapat keuntungan finansial. Untuk tercapainya ke tiga niatan itu, pengarang cerita harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/05/berlawan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-880" title="berlawan" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/05/berlawan-206x300.jpg" alt="" width="206" height="300" /></a>Menulis cerita dan diterbitkan jadi buku adalah kerja intelektual. Tanpa berbudaya membaca buku dan menulis buku seseorang tidak pantas disebut intelek, terpelajar ataupun ilmuwan.</p>
<p>Orang menulis cerita dan diterbitkan jadi buku pasti ada niatan (berambisi):</p>
<ol>
<li>Bukunya dibaca oleh orang lain.</li>
<li>Namanya menjadi terkenal.</li>
<li>Mendapat keuntungan finansial.</li>
</ol>
<p>Untuk tercapainya ke tiga niatan itu, pengarang cerita harus menyebarkan bukunya sebanyak mungkin, dan banyak berpromosi tentang bukunya. Memperbanyak karya tulisannya berawal dari mengirimkan naskah agar diterbitkan oleh Penerbit profesional komersial, pengarang tinggal menunggu royaltinya. Hal ini sangat umum dilaksanakan oleh tiap pengarang cerita untuk diterbitkan jadi buku. Kalau tidak satupun Penerbit profesional komersial mau menerbitkan naskahnya, bisa pengarang mencetak bukunya lewat penerbitan buku atau pencetakan buku, dengan syarat penyebaran dan penjualan buku terbitannya itu ditanggung sendiri oleh pengarang. Berarti pengarang harus membeayai sendiri produksi penerbitan bukunya, serta menjualnya. Sangat penting untuk memperoleh hak cipta (Copyright), maka dalam penerbitan bukunya sebaiknya terdaftar memperoleh pengayoman internasional ISBN dan Katalog Dalam Terbitan (KDT) Perpusnas RI. Pendaftaran ISBN maupun KDT bisa dilakukan perorangan, maupun oleh pencetak buku atau penerbit buku. Dengan diperolehnya Copyright, maka kapan pun buku itu diterbitkan ulang oleh siapa pun, pengarangnya harus mendapat royalty. Kalau tidak, pencetak atau penerbit ulang disebut membajak, melanggar hukum intelektual.</p>
<p>Namun ada pengarang atau penulis buku yang paling penting adalah bukunya dibaca orang lain, terutama orang lain yang disasar atau ditebak agar membaca karangannya, menerbitkan buku tidak usah pakai terdaftar di ISBN maupun KDT. Buku seperti itu biasanya buku propaganda, iklan, katalog atau brosur. Sebagai contoh, buku berjudul: <em>Orang-orang Yang Berlawan, </em>karangan Wilson terbitan Opressiabook; <em>Copyleft: Buku ini dapat diperbanyak tanpa seijin penulis.</em> Tidak memerlukan Copyright.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Untuk niatan (1) agar buku dibaca oleh orang lain:</span> buku bisa diberikan begitu saja kepada orang lain tanpa dibeli, maka rugi finansial (keuntungan finansial tidak tercapai). Promosi bisa ditempuh dengan pasang iklan, penyelenggaraan bedah buku, banyak berdiskusi tentang bukunya, mengirimkan ke teman atau kenalan, ke redaksi penerbit majalah/suratkabar, yang diharapkan bukunya bisa diresensi. Kalau soal tulisannya agar bisa dibaca oleh orang lain pada zaman ini ada yang lebih praktis, yaitu ditulis pada akun website atau facebook. Tapi kita sekarang bicara soal <em>Menulis Buku Untuk Apa?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Untuk niatan (2) agar nama pengarang menjadi terkenal:</span> isi buku harus istimewa menarik, dibutuhkan pengarang yang benar-benar berbakat menulis cerita. Bentuk buku diusahakan harus menarik, termasuk gambar samak depan dan endrosmen samak luar belakang. Untuk isi yang istimewa pengarang harus betul-betul tepat menebak keinginan orang membaca bukunya. Antara lain isi cerita buku harus (1) sangat mirip dengan buku yang sangat populer, (2) sangat beda dengan buku cerita yang lain, (3) ceritanya inovatif, (4) pengarangnya produktif. Imajinasi pengarang buku ceritanya ditujukan kepada: (a) orang kuasa, (b) orang kaya, (c) orang pintar, (d) orang muda. Untuk menjadi terkenal seorang pengarang belum tentu dengan sendirinya harkat kepengarangannya bisa digunakan untuk pembeayaan hidupnya. Belum tentu pengarang menjadi kaya raya. Tidak semua penciptaan orang yang menjadikan dia terkenal membuat penciptanya memetik hasil ciptaannya bisa untuk hidup.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Untuk niatan (3) agar penerbitan bukunya bisa membuat si pengarang kayaraya:</span> diupayakan penerbitan bukunya bisa terjual banyak-banyak. Untuk itu segala cara bisa ditempuh. Misalnya terjadi pada tahun 1970-1985 di mana ada buku Impres untuk sekolah dasar. Pengarang buku cerita kanak-kanak yang bukunya per judul dibeli oleh Pemerintah sebanyak 80.000 exp untuk disebarkan di seluruh sekolah dasar di Indonesia, pengarangnya tiap judul buku mendapat uang jutaan rupiah. Pada tahun-tahun belakangan tidak ada lagi buku Inpres. Waktu itu bukan pengarang pun bisa menjadi pengarang dadakan, asal bisa menerbitkan buku cerita, yang naskahnya di-acc oleh dewan juri buku Inpres. Hasil produksi buku Inpres selama 15 tahun itu sekarang di mana? Sama sekali tidak ada bekasnya. Baik bekas bukunya, maupun putra bangsa yang berbudaya membaca buku lewat membaca buku di perpustakaan sekolah dasar, di mana buku Inpres digelar pada tiap sekolah dasar. Mengapa begitu? Karena yang diperbanyak produksinya dengan dana Inpres hanya buku. Sedang murid sekolah tidak diajari berbudaya membaca buku. Jadi sekian buku hasil Inpres selama 15 tahun dulu itu hasilnya kosong melompong.</p>
<p>Kini baik pemerintah, pihak swasta, penerbit buku maupun para pengarang buku pada cenderung meningkatkan produksi buku. Dengan produksi buku diperbanyak, perpustakaan diperbanyak agar dekat dengan orang sekitarnya, toko buku diperbanyak dan memberi diskon lumayan besar agar harga buku terjangkau oleh peminat baca buku, dan banyak kelompok masyarakat mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan pembacaan buku maupun menulis buku. Bahkan Menteri pun mulai Agustus 2012 nanti memberi sanksi siapapun calon sarjana harus sudah menulis karya ilmiah yang disebarkan ke masyarakat. Calon sarjana diharuskan biasa menulis karangan ilmiah. Tapi, putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku tidak diproduksi, tidak ikut diperbanyak, maka usaha memproduksi buku tadi agar bukunya banyak dibaca oleh masyarakat tidak akan mencapai hasil yang diinginkan. Karena memproduksi massal putra bangsa membaca buku dan menulis buku tidak dilakukan di negeri ini, maka memperbanyak produksi buku dan usaha lain pendekatan buku kepada masyarakat dengan harapan putra bangsa juga membeli dan membaca buku, tidak akan berhasil maksimal. Sebab putera bangsa memang tidak punya kebiasaan membaca buku dan menulis buku.</p>
<p>Membaca buku dan menulis buku itu harus dibudayakan. Untuk membudayakan, tidak mungkin hanya diserahkan pada kegiatan kelompok masyarakat mengadakan kursus gemar membaca buku dan menulis buku. Ya, kalau matematika atau ilmu sosial yang mau diujikan pada UNAS, agar bisa lulus UNAS bisa lewat bimbingan belajar selama 3 bulan. (Lalu apa gunanya bersekolah 3 tahun di SMA?). Tapi kalau berbudaya membaca buku maupun menulis buku, tidak mungkin kita produksi massal lewat bimbingan belajar selama 3 bulan bahkan selama 1 tahun. Misalnya bisa lewat bimbingan belajar satu tahun putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku, apakah kita akan memproduksi massal putera bangsa lewat bimbingan belajar saja? Lalu apa gunanya bersekolah selama 12 tahun? Belajar <span style="text-decoration: underline;">membaca</span> buku dan menulis buku, bisa diajarkan selama 3 bulan atau 1 tahun. Tetapi <span style="text-decoration: underline;">membudayakan</span> membaca buku dan menulis buku, sarananya adalah bersekolah selama 12 tahun usia dini. Itulah mengapa negara di seluruh dunia ini mendirikan rumah sekolah yang kurun waktu belajarnya selama 12 tahun. Gunanya yang utama agar putera manusia punya budaya membaca buku dan menulis buku.</p>
<p>Jadi kalau hanya buku dan perbukuan yang diperbanyak, diproduksi maupun didekatkan kepada masyarakatnya, tetapi putera bangsa tidak diproduksi massal membaca buku dan menulis buku di sekolah selama 12 tahun usia dini, maka peristiwa buku Inpres 1970-1985 yang dibeayai oleh UNESCO akan berulang lagi. Penghamburan dana dan tahun-tahun ajaran yang sia-sia. Tolong diingat peristiwa itu!</p>
<p>Kalau hanya buku yang diproduksi banyak-banyak, disodor-sodorkan kepada masyarakat, tetapi Pemerintah TIDAK memproduksi massal putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku, ya selama negara Indonesia merdeka warga negaranya akan tetap menjadi bodoh, bukan ilmuwan ataupun orang terpelajar. Sebab orang yang disebut ilmuwan masa kini, pasti berbudaya membaca buku dan menulis buku. Orang pintar seluruh dunia ini, pasti membaca buku dan menulis buku. Kalau rakyat Indonesia tidak membaca buku dan menulis buku, ya bukan orang pintar pada zaman ini.</p>
<p>Kita ambil contoh di Jepang. Untuk menjadi orang terpelajar harus berbudaya membaca buku dan menulis buku. Membaca buku dan menulis buku bahasa Jepang, hurufnya kanji. Hampir tiap kata bahasa Jepang punya huruf kanji sendiri. Kalau kata bahasa Jepang banyaknya ada 2000, tulisannya juga 2000 huruf kanji. Kalau belajar 12 tahun sekolah usia dini <span style="text-decoration: underline;">tidak diajari</span> membaca dan menulis huruf kanji, apa setelah lulus UNAS dan menjadi mahasiswa langsung bisa hafal 2000 huruf kanji dan lalu bisa membaca buku dan menulis buku? Tidak mungkin. Jadi huruf kanji yang banyaknya 2000 itu harus diangsur diajarkan selama bersekolah 12 tahun itu. Padahal bersekolah 12 tahun di Indonesia sekarang ini (sejak berlakunya kurikulum pendidikan nasional 1975) tidak dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Lulus SMA putera Indonesia membaca buku 0 buku (penelitian Dr.Taufik Ismail 1996). Jadi kalau bersekolah 12 tahun Indonesia ini mulai tahun 2012 diterapkan di Jepang, di sekolah tidak diangsur diajari membaca dan menulis huruf kanji, maka setelah 10 tahun berjalan (2012-2022) orang Jepang lulus SMA juga membaca 0 buku, dan goblognya juga seperti bangsa Indonesia saat ini (karena tidak berbudaya membaca buku huruf kanji dan menulis buku huruf kanji)..</p>
<p>Zaman sekarang usaha penerbitan buku bisa dijual kepada kawan, handai taulan, pejabat atasannya, dijual kepada muridnya, pokok harga buku dipenuhi (buku dibeli). Tapi cara ini memang untuk memenuhi niatan 3, agar penerbitan buku tidak merugi finansial saja. Penerbitan buku tidak merugi, namun mungkin tidak memenuhi niatan 1, yaitu pembeli buku (pejabat, murid-murid) tidak membaca bukunya. Mereka membeli buku karena kenal dengan pengarang, atau memang ada sistem memaksa pembelian buku karangan pengarang.</p>
<p><strong>PRODUKSI BUKU TIDAK BERBANDING LURUS DENGAN PRODUKSI PEMBACA</strong></p>
<p>Hambatan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang terpelajar adalah karena sebagian besar putera bangsa Indonesia tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku.</p>
<p>Para penggemar atau mereka yang berbudaya membaca buku dan menulis buku pada umumnya bukanlah hasil pendidikan sekolah Indonesia. Gemar membaca buku bukan karena di sekolah Indonesia dididik berbudaya membaca buku dan menulis buku. Mereka kemudian hari menjadi penggemar membaca buku dan juga berbudaya menulis buku karena dalam lintas hidupnya mereka mengalami pertemuan dengan para penggemar buku (misalnya gurunya, atau orangtuanya). Jadi gemar membaca buku karena pengaruh pergaulan mereka. Siapapun putera bangsa Indonesia yang sekarang ini suka pergi ke perpustakaan, suka pergi ke toko buku dan membeli buku, suka hadir pada acara bedah buku, pasti mereka sudah tahu gunanya buku, sudah punya wawasan bahwa buku itu sangat berguna untuk memperluas keilmuannya. Tapi berapa jumlah mereka yang suka pergi ke toko buku dan membeli buku, serta membaca buku, dibanding dengan masyarakat yang tidak pernah pergi ke toko buku, tidak pernah membeli buku, tidak pernah membaca buku? Lebih dari 90% bangsa Indonesia tidak berbudaya membaca buku dan menulis buku. Sebagian besar bangsa Indonesia bisa hidup puas bukan sebagai orang terpelajar, mengandalkan hidup dengan melihat dan mendengar dan berlatih menggunakan alat, maka itulah yang menjadi nafkah pencahariannya. Kakek saya seorang petani, bisa menanam padi dan menuai padi dengan baik, karena melihat dan mendengar cara menanam padi sawah para tetangganya, kakek saya menjadi petani yang berhasil. Ada tetangga belajar menyopir selama satu bulan, melihat dan mendengar bagaimana cara-cara mengemudikan mobil, maka tetangga tadi mata pencahariannya menjadi sopir angkot. Ada teman suka melihat sepakbola, maka dengan mengandalkan penglihatannya dan pendengarannya dia berlatih sepak bola, akhirnya dia bisa hidup dengan sepak bola. Kakek saya, tetangga saya, teman saya, bisa hidup tanpa kegiatan membaca buku dan menulis buku. Mereka bukan orang-orang terpelajar. Tetapi untuk menjadi sasterawan, untuk menjadi dosen, untuk menjadi dokter atau hakim atau insinyir, dapatkah orang hanya pergi ke kampus melihat dan mendengarkan dosen mengajar, lalu pulang, dan ke kampus lagi terus begitu selama 9 tahun tanpa membaca buku dan menulis-nulis bisa menjadi sasterawan, dosen, dokter, hakim atau insinyir? Tidak mungkin. Sasterawan atau ahli sastera, dosen, dokter, hakim, insinyir itu orang terpelajar. Kiat hidupnya harus membaca buku dan menulis buku. Maka untuk menjadikan mereka orang terpelajar, haruslah pada sekolah usia dini selama 12 tahun selagi bocah dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Tidak usah diajari matematika secara mendalam di sekolah, asal berbudaya membaca buku dan menulis buku, orang bisa menjadi sasterawan, ahli sastera, dosen, insinyir dan lain-lain. Pandai matematika, tetapi tidak berbudaya membaca buku dan menulis buku, tidak mungkin jadi sasterawan, dosen, dokter, insinyir dan lain-lain pekerjaan orang terpelajar.</p>
<p>Sebagian besar bangsa Indonesia saat ini bisa hidup tanpa membaca buku dan menulis buku. Dan tidak masalah disebut bukan orang intelek, bukan terpelajar, bukan ilmuwan. Sedang pengarang dan penerbit buku yang ingin bukunya dibaca oleh orang lain, pada memproduksi buku sebanyak-banyaknya agar ambisi mencapai 3 niatan itu terlaksana. Pihak penyelenggara negara pun ingin warga negaranya terpelajar. Produksi buku pun sangat disokong, difasilitasi, dibeayai oleh negara. Maka, hasilnya produksi buku berhamburan mubajir banyak sekali, tapi sulit laku alias tidak sampai ke tangan pembacanya. Mengapa? Sebab produksi buku tidak berbanding lurus dengan produksi pembaca buku. Produksi buku dengan segala caranya, disebar-edarkan sebanyak mungkin dan seluas mingkin, dijual semurah mungkin, bahkan dibagikan secara gratis, diperbanyak perpustakaan, namun tujuan utama orang Indonesia memproduksi buku tidak tercapai. Sebab orang Indonesia rata-rata bukan orang terpelajar. Bisa hidup tanpa membaca buku. Bahkan meskipun sudah sarjana, mungkin masih susah membaca buku apalagi menulis buku. Mengapa begitu?</p>
<p>Karena kurikulum pendidikan nasional Indonesia tidak membudayakan putra bangsa membaca buku dan menulis buku secara massal selama bersekolah 12 tahun usia dini. Putera bangsa Indonesia tidak diproduksi secara massal membaca buku dan menulis buku. Itulah kurikulum pendidikan nasional Indonesia sejak tahun 1975 hingga sekarang. Tidak mencerdaskan bangsa! Tidak menjadikan warga negara Indonesia terpelajar!</p>
<p>Oleh karena itu, marilah kurikulum pendidikan nasional ini kita ubah. Menyongsong generasi emas 100 tahun NKRI, marilah selama bersekolah 12 tahun usia dini putera bangsa Indonesia harus diproduksi massal berbudaya membaca buku dan menulis buku. Tiap hari selama sekolah 12 tahun usia dini putra bangsa Indonesia harus diajari membaca buku, membaca buku, membaca buku, membaca buku, terus saja. Tiap hari berbagai buku diajarkan dibaca di sekolah. Tidak hanya buku bahasa Indonesia, tetapi juga dibudayakan membaca buku cerita berbagai bahasa dan berbagai macam tulisan. Dengan begitu lulus SMA putra bangsa gemar membaca buku, menulis buku dan pandai bertutur dan bertulis berbagai huruf dan bahasa, tidak hanya satu bahasa Indonesia saja, tapi juga bahasa ibu, bahasa daerah, bahasa asing sebanyak-banyaknya, tulisan hanacaraka, katakana, latin, arab, paku dan sebagainya dikuasai.</p>
<p>Dengan keterpelajaran mereka lalu mereka juga membeli buku, dibaca, menambah ilmu, jadi pintar. Orang pintar seluruh dunia ini pasti membaca buku dan menulis buku. Kamu? Anakmu? Sarjana kita? Ya harus jadi orang pintar alias terpelajar.</p>
<p>Mari kita produksi buku-buku, mari juga kita produksi massal putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku. Membaca buku dan menulis buku harus menjadi kiat hidup generasi emas bangsa Indonesia. Tanpa memproduksi pembaca buku dan penulis buku, generasi 100 tahun NKRI akan menjadi bangsa Indonesia seperti sekarang ini. Banyak orang curang, tidak jujur, korupsi, anarkitis. Indonesia menjadi <em>Donyan</em><em>é</em><em> Wong Culika, “The State of Treacherous People”.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Memproduksi massal putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku pada kurun waktu 12 tahun bersekolah usia dini, itulah usaha kita agar putera bangsa Indonesia bisa menjadi terpelajar, intelek, tidak bodoh, tidak malas, tidak miskin, tidak konsumtip, tidak curang, jujur, banyak kreatif, inovatif, moral dan karakter baik. Mari kita perjuangkan, kurikulum utama bersekolah 12 tahun usia dini adalah membudayakan putera bangsa membaca buku dan menulis buku, membaca dan menulis buku segala bahasa dan berbagai tulisan, bahasa daerah, bahasa asing, tulisan apa saja, tidak hanya satu bahasa Indonesia saja. <em>Taal is macht. </em>Banyak menguasai bahasa itu adalah kesaktian.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Suparto Brata, email: </strong><a href="mailto:sbrata@yahoo.com"><strong>sbrata@yahoo.com</strong></a><strong> </strong><a href="http://www.supartobrata.com"><strong>www.supartobrata.com</strong></a><strong> telp.(031)8702759</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=878</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CULTURE SHOCK PADA TOKOH DARWAN DALAM NOVEL MENCARI SARANG ANGIN  KARYA SUPARTO BRATA</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=856</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=856#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2012 09:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dheny Jatmiko 1.      Latar Belakang Sastra sebagai sebuah karya imaji yang dipandang lebih menenkan sisi fiksionalitas, sebenarnya menyimpan beragam persoalan yang dekat dengan kehidupan manusia. Karya sastra merupakan sebuah dokumen yang sangat berharga. Sebab karya sastra hadir dari interpretasi terhadap realitas yang ada. Realitas dibaca oleh pengarang dan diinterpretasi lalu dibentuk dalam dunia yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Dheny Jatmiko</p>
<p><strong>1.      Latar Belakang</strong></p>
<p>Sastra sebagai sebuah karya imaji yang dipandang lebih menenkan sisi fiksionalitas, sebenarnya menyimpan beragam persoalan yang dekat dengan kehidupan manusia. Karya sastra merupakan sebuah dokumen yang sangat berharga. Sebab karya sastra hadir dari interpretasi terhadap realitas yang ada. Realitas dibaca oleh pengarang dan diinterpretasi lalu dibentuk dalam dunia yang lain dalam sebuah karya. Maka untuk mengungkap isi dari karya sastra diperlukan kecermatan dan ketepatan memaknai tanda-tanda yang hadir.</p>
<p>Karya sastra merupakan entitas budaya yang mana di dalamnya juga membicarakan persoalan-persoalan budaya. Karya sastra selalu membentuk sebuah ruang yang mana unsur-unsur dalam karya sastra merupakan tanda-tanda yang mempresentasikan kebudayaan tersebut. Sebagai contoh, ketika karya sastra menggunakan ruang A, maka unsur-unsur yang lain seperti tokoh dan penokohan akan membentuk satu <em>unity</em> kebudayaan A. Pembentukan tersebut dapat dilakukan dengan membentuk tokoh-tokoh yang mencerminkan kebudayan ruang tersebut atau menghadirkan tokoh dengan kebudayaan lain yang dijadikan untuk membaca atau menarik garis hubungan antarbudaya.</p>
<p>Sehubungan dengan hal di atas, novel <em>Mencari Sarang Angin </em>karya Supato Brata menggunakan Surabaya sebagai latar penciptaan novelnya. Lebih dari itu, novel tersebut mempresentaikan persoalan benturan budaya di dalam tokohnya. Pertemuan antara budaya keraton Surakarta dengan budaya Surabaya menyebabkan adanya benturan budaya pada tokohnya. Benturan budaya mengakibatkan terjadinya <em>culture shock</em> pada tokoh tersebut, sebagaimana yang dialami tokoh Darwan.</p>
<p>Untuk litu, tulisan ini akan membahas tentang wujud <em>culture shock</em> yang ada dalam novel <em>Mencari Sarang Angin.</em> Pembahasan ini dengan sendirinya juga akan membahas entitas budaya Surabaya dan budaya keraton Surakarta.</p>
<p><strong>2.      Landasan Teori</strong></p>
<p><strong>2.1.   Interkulturalisme</strong></p>
<p>Berbeda dengan multikultural yang lebih menekankan pada perbedaan budaya tetapi memandang dalam derajat yang sama, interkultural justru beroperasi dengan saling bergantian antara sikap yang membedakan dan proses berfikir yang merekonstruksi universalitas. Multikultural memberikan penghargaan terhadap perbedaan serta memandang suatu keberagaman sebagai suatu kewajaran sehingga konflik yang dilatrarbelakangi perbedaan kebudayaan dapat tekan. Artinya sisi perbedaan yang ditonjolkan. Sedangkan interkultural pada satu sisi menyadari bahwa terdapat perbedaan antara budaya satu dengan budaya lain, tetapi bukan perbedaan tersebut yang ditonjolkan, melainkan relasi (hubungan) yang mengkonstruksi satu kesatuan dengan mencari persamaan-persamaan antara budaya satu dengan budaya lain.</p>
<p>Menurut Leonard Hammer (2004:9), pendekatan interkultural mengakui peran yang luas dalam hubungan sosial budaya. Tidak seperti multikulturalisme di mana gagasan budaya terkait dengan otonomi pribadi atau untuk klaim universalisme konteks yang berbeda, interkulturalisme mengakui pentingnya pemahaman yang luas dari budaya yang berkaitan dengan identitas dan komposisi pribadi individu dan hubungan ke masyarakat yang lebih besar. Interkultural dapat diartikan sebagai pemahaman bahwa persepsi diri dan sosial menentukan cara melihat dan menempatkan kebudayaan lain dalam kebudayaan sendiri.</p>
<p>Interkultural menekankan proses dan interaksi yang bersatu dan menentukan individu dan kelompok dalam suatu relasi antara satu dengan lainnya. Relasi antarbudaya merupakan penekanan dalam perspektif interkultur. Lebih jauh, perspektif interkultu mengambil pemikiran dari Balandier (1985) bahwa pengetahuan bukan dipahami melalui karakteristik, tetapi melalui fenomena budaya dan proses: akulturasi, assimilasi, identitas, hibriditas, dll. (Abdallah-Pretceille, 2006:476)</p>
<p><strong>2.2.<em> Culture Shock</em></strong></p>
<p>Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Kalervo Oberg (1958) untuk menyatakan apa yang disebutnya sebagai suatu penyakit jabatan dari orang-orang yang tiba-tiba dipindahkan ke dalam suatu kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaannya sendiri. Semacam penyakit mental yang tidak disadari oleh korbannya.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><em>Culture shock</em> biasanya dipicu oleh rasa kecemasan sebagai akibat dari kehilangan semua tanda-tanda akrab seorang atau sekelompok orang, dan simbol-simbol hubungan sosial. Tanda-tanda atau isyarat-isyarat dan berbagai cara  yang dapat dilakukan seorang atau sekelompok orang tersebut dalam mengorientasikan diri pada situasi kehidupan sehari-hari. Ketika seorang individu memasuki suatu kebudayaan asing, semua atau sebagian besar isyarat dikenalnya ini dihapus.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Apa yang kita katakan sebagai identitas sosial (subjektivitas seorang individu) di atas, berbenturan dengan identitas sosial yang lain. Simbol-simbol atau tanda-tanda yang terkandung dalam sebuah esensi kebudayaan suatu kelompok masyarakat—yang dapat dimaknai melalui tanda selera, kepercayaan, sikap dan gaya hidup—, harus dihilangkan oleh simbol-simbol kebudayaan lain.</p>
<p>Konsep identitas—seperti yang sudah diutarakan di atas—terkait erat dan secara virtual tak dapat dipisahkan dengan subjektivitas. Maka, setiap individu sangat berbeda dalam tingkat kejutan budaya yang mempengaruhi mereka. Ada beberapa tahap yang membentuk terjadinya siklus <em>culture shock</em>, di antaranya yaitu;</p>
<ol>
<li>Tahap inkubasi, atau biasa disebut juga tahap bulan madu. Pada tahapan ini seorang individu merasa tertarik akan pengalaman barunya tinggal di lingkungan dengan kondisi sosio-kultural yang berbeda dengan tempat asalnya. Hal ini dapat terjadi selama beberapa hari, minggu atau bahkan hingga enam bulan. Sepulang dari tempat tersebut, mungkin ia akan menulis atau bercerita tentang pengalaman pertamanya di tempat tersebut kepada orang lain.</li>
<li>Tahap krisis. Pada tahapan ini ditandai dengan adanya suatu perasaan dan sikap menolak, bermusuhan dan agresif terhadap sosio-kultural tempat tersebut. Sikap antipati atau permusuhan ini timbul dari kesulitan yang dialami seorang individu dalam proses penyesuaian dengan lingkungan barunya.</li>
<li>Tahap kesembuhan. Pada tahapan ini, seorang individu berhasil mendapatkan pengetahuan tentang bahasa dan kehidupan sosial lingkungan barunya. Meskipun masih mengalami beberapa kesulitan, tetapi kini ia mulai membuka jalan ke lingkungan budaya yang baru.</li>
<li>Tahap penyesuaian diri. Pada tahap ini seorang indivudu sudah menerima kebiasaan sosio-kultural yang baru itu sebagai cara lain untuk hidup. Seorang individu bersosialisasi dengan lingkungan barunya tanpa rasa kecemasan meskipun sesekali terjadi ketegangan. Dalam tahapan ini, seorang individu tidak hanya menerima makanan, minuman, kebiasaan, dan adat istiadat tetapi sebenarnya mulai menikmatinya.<a href="#_ftn3">[3]</a></li>
</ol>
<p>Penyesuaian diri antar budaya dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor intern dan faktor ekstern. Fakotr intern, menurut Brislin (1981), ialah faktor watak (<em>traits</em>) dan kecakapan (<em>skills</em>). Watak adalah segala tabiat yang membentuk keseluruhan kepribadian seseorang. Kecakapan atau <em>skills</em> menyangkut segala sesuatu yang dapat dipelajari mengenai lingkungan budaya yang akan dimasuki, seperti bahasa, adat-istiadat, tata krama, keadaan geografi, keadaan ekonomi, situasi politik dan sebagainya.</p>
<p>Selain kedua faktor ini, sikap (<em>attitude</em>) seseorang berpengaruh terhadap penyesuaian diri antar budaya. Menurut Alport, yang dimaksud dengan sikap di sini adalah kesiagaan mental atau saraf yang terbina melalui pengalaman yang memberikan pengarahan atau pengaruh terhadap seseorang dalam menanggapi segala macam objek atau situasi yang dihadapinya.</p>
<p>Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap penyesuaian diri antar budaya, diantaranya yakni;</p>
<ol>
<li>besar kecilnya perbedaan antara kebudayaan tempat asalnya dengan kebudayaan lingkungan yang dimasukinya.</li>
<li>pekerjaan dan kegiatan yang dilakukannya.</li>
<li>suasana lingkungan sosial tempat ia tinggal.</li>
</ol>
<p><em>Culture shock</em>—seperti yang sempat disinggung pada pembahasan sebelumnya—yang dialami oleh seorang individu maupun sekelompok individu dapat terjadi karena adanya perbedaan (benturan) satu atau lebih simbol-simbol dari esensi kebudayaan. Misalnya berupa tanda kepercayaan, sikap, gaya hidup, atau tanda selera, sebagai produk budayanya.</p>
<p><strong>3.      <em>Culture Shock</em> pada Tokoh dalam Novel <em>Mencari Sarang Angin</em></strong></p>
<p>Novel <em>Mencari Sarang Angin</em> karya Suparto Brata (2005) mengambil Surabaya sebagai latar penceritaannya. Kebudayaan Surabaya dipresentasikan melaui bahasa dan peristiwa-peristiwa budaya. Namun dalam novel ini, budaya Surabaya tidak hadir sendirian, tetapi ada kebudayaan lain yang dibawa oleh tokoh Darwan.</p>
<p>Tokoh Darwan adalah tokoh dengan atribut budaya keraton Surakarta yang hadir dalam ruang kultural Surabaya. Kehadiran tokoh ini mengakibatkan terjadinya proses benturan budaya, sehingga tokoh Darwan mengalami <em>culture shock</em>. <em>Culture shock</em> yang dialami dapat ditemukan dari beberapa tanda budaya, yaitu bahasa dan adat istiadat. Meskipun sama-sama dalam teritori budaya Jawa, ternyata terdapat perbedaan dalam hal pemakaian bahasa.</p>
<p>Selain bahasa, peristiwa budaya lain yang mengakibatkan Darwan mengalami <em>culture shock</em> adalah adat. Adat yang merupakan gagasan <a title="Kebudayaan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kebudayaan">kebudayaan</a> yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan <a title="Hukum adat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_adat">hukum adat</a> yang lazim dilakukan di suatu daerah. Selain sebagai sebuah kebiasaan, adat juga dipandang memiliki nilai-nilai dalam tata kehidupan manusia. Tiap daerah memiliki adat yang berbeda-beda. Jika adat yang telah dipercaya tidak dijalankan, maka dipercaya akan menimbulkan dampak negatif.</p>
<p>Dalam novel <em>Mencari Sarang Angin</em> dimunculkan dua adat masyarakat Surabaya, yaitu tentang <em>andhokan </em>atau <em>adu doro</em> (balap merpati) dan perkawinan. Dua adat tersebut merupakan adat yang tidak ada atau berbeda dalam kehidupan keraton Surakarta.</p>
<p><strong>3.1.   Bahasa </strong></p>
<p>Mata pencaharian masyarakat Jawa pada umumnya adalah petani. Pada masyarakat petani terdapat susunan hirarki yang menjadi pedoman bermasyarakat di dalam pola kehidupannya. Sistem semacam ini juga mengarah pada sistem kepemilikan tanah ataupun feodalisme, dan berpengaruh pada bahasa juga, karena harus menghormat kepada orang-orang yang lebih tinggi baik dari usia, status di masyarakat, maupun wibawanya.</p>
<p>Hal inilah yang menyebabkan bahasa Jawa mengenal beberapa ragam, yaitu  kromo, madya dan ngoko. Pembagian semacam ini muncul pada masa awal Kerajaan Mataram pimpinan Sultan Agung. Sebelumnya, bahasa Jawa Kuno tidak mengenal bentuk-bentuk semacam ini. Dalam tingkat tutur ngoko, tidak ada perbedaan antara lawan bicara disamping digunakan kepada orang-orang yang ada di lapisan sama ataupun sebaya. Sedangkan kromo dicitrakan sebagai tingkatan sopan santun dalam berbicara, menunjukkan ‘keanggunan’ dalam berbicara serta dianggap <em>njawani</em>. Tingkatan ini dipakai oleh para bawahan atau orang-orang dibawah maupun dalam keadaan resmi, serta untuk orang yang belum dikenal.</p>
<p>Dalam novel <em>Mencari Sarang Angin</em>, persoalan bahasa direpresentasikan sebagai persoalan yang problematik. Persoalan tersebut ditunjukkan dengan kehadiran Darwan, sebagai tokoh yang berasal dari Keraton Surakarta, ke Surabaya, yang mana terdapat perbedaan pemahaman tentang bahasa. Darwan yang dibesarkan di lingkungan keraton Surakarta dengan tradisi bahasa Jawa keraton (hirearki bahasa Jawa), datang ke Surabaya yang mana Surabaya adalah sebuah ruang dengan bahasa yang ngoko yang kurang mengindahkan hirearki bahasa. Perbedaan tersebut menjadikan Darwan mengalami perasaan-perasaan yang tidak nyaman, yang diperlihatkan dengan kekikukannnya. Hal tersebut tampak pada kutipan di bawah ini:</p>
<p>[...] Tanggapan dengan bahasa ngoko tadi saja sudah kikuk. Meskipun di rumah Darwan termasuk bangsawan yang layak saja bicara ngoko terhadap budak maupun abdinya, juga yang umurnya lebih tua, namun percakapan pertama dengan kenalan baru biasanya menggunakan bahasa kromo. [...] (Brata, 2005:12)</p>
<p>Bahasa merupakan sebuah kebiasaan, merupakan tanda budaya yang akrab pada diri seseorang. Maka ketika seseorang kehilangan tanda-tanda budayanya secara tiba-tiba, orang tersebut akan mengalami <em>culture shock.</em> Pengalaman Darwan terhadap persoalan bahasa dapat dikatakan bahwa Darwan mengalami <em>culture shock</em> yang ditunjukkan dengan rasa kikuk yang disebabkan perbedaan tanda budaya: bahasa. Namun, orang yang mengalami <em>culture shock</em> memiliki kecenderungan untuk segera menyembuhkan penyakitnya tersebut. Demikian juga dengan Darwan, meskipun terdapat beberapa kesulitan. Proses adaptasi (penyembuhan) Darwan dalam <em>Mencari Sarang Angin</em> juga mendapat bantuan dari faktor eksternal yaitu tempat Darwan bekerja. Dalam kutipan di bawah ini ditunjukkan bagaimana proses adaptasi Darwan:</p>
<p>Ia namanya Slamet, bicara ngoko seperti bahasa Jawa yang digunakan dalam <em>Dagblad Expres.</em> (Brata, 2005:4)</p>
<p>Slamet bercerita banyak, bertanya. Ketika Darwan menjawab dengan bahasa kromo, langsung dicegah oleh Slamet. “Jangan kromo. Bericaralah ngoko. Kami membiasakan bicara ngoko. Lebih demokratis, ya, <em>to</em>? Tidak feodalistis!”</p>
<p>Darwan mengangguk. Ia sebenarnya sudah membiasakan hal itu dalam menulis untuk <em>Dgblad Expres</em>. Tetapi dalam praktik bicara, rasanya masih sulit. Apalagi dengan Slamet yang beru dikenal dan umurnya jelas lebih tua daripada dirinya. Canggung, merasa kurang sopan, dan berdosa. Tapi Darwan harus merombak perasaan itu karena ia sadar bahwa pemikiran bangsa Jawa baru mulai tumbuh, mau melangkah maju menuju tingkat kesetaraan bersama, dan membedakan taraf hidup dari cara berpikirnya, bukan dari derajat keturunan atau kekayaan warisannya. Dan, Darwan ingin ikut saham dalam menuntun memajukan bangsanya. (Brata, 2005:5)</p>
<p>Yang terpenting dari proses adaptasi adalah sikap (<em>attitude</em>). Sikap (<em>attitude</em>) seseorang berpengaruh terhadap penyesuaian diri antar budaya. Menurut Alport, yang dimaksud dengan sikap di sini adalah kesiagaan mental atau saraf yang terbina melalui pengalaman yang memberikan pengarahan atau pengaruh terhadap seseorang dalam menanggapi segala macam objek atau situasi yang dihadapinya. Dari kutipan di atas, tampak jelas bahwa Darwan memiliki kesiagaan dalam menghadapi perbedaan kebudayaan tersebut.</p>
<p><strong>3.2.   Budaya <em>Adu Doro</em></strong></p>
<p><em>Adu doro</em> adalah mengadu kecepatan merpati, dan orang-orang diperbolehkan untuk memasang taruhan. Suparto Brata mendeskripsikan tentang kegemaran orang kampung Surabaya dalam kutipan di bawah ini:</p>
<p>“Mereka sedang apa?” tanya Darwan</p>
<p>“<em>Andhokan.</em> Mengadu merpati dengan taruhan. Kau belum mengerti? Ah, asyik. Merpatiku, Gambiran, seminggu ini jadi andalam kampung. Banyak yang bertaruh memuhakku. Kemarin saja aku hampir menang dua ketip. Huh, kalau terus menerus menang besar begitu rasanya malas bekerja. […] (Brata, 2005:56)</p>
<p>Permaian <em>adu doro</em> merupakan permainan khas Surabaya yang menjadi kegemaran masyarkat, terutama kaum laki-laki. R.N. Bayu Aji (2007) menjelaskan bahwa terdapat dua argumen tentang kegemaran masyarakat kampung Surabaya tersebut. Pertama, adu doro merupakan ajang untuk melupakan sejenak kepenatan hidup dan persoalan-persoalan pelik dalam kehidupan. Sehingga, banyak orang mendapatkan kepuasan dengan menyaksikan kehebatan doro ketika menukik tajam menuju ke sangkaranya. Kedua, adu doro merupakan ajang sampingan mencari uang. Jika nasib baik menghampiri, lumayan bisa mendapat uang kejutan apabila doro jagoannya menang dalam aduan.</p>
<p>Pada satu sisi, <em>adu doro</em> merupakan perjudian, tetapi pada sisi lain ada lain di luar judi yang membuat <em>adu doro</em> menjadi permainan yang menarik. Taruhan, mungkin, mula-mula hanyalah untuk membuat meriah permainan tersebut. Namun, seperti halnya adat dan kesenian yang memiliki sisi (yang dianggap) negatif, maka ke-negatif-an tersebut yang justru diekspos berlebihan, sehingga sisi permainan dan hal-hal yang bersifat menghibur dan menyenangkan semakin tereduksi, seperti yang terjadi ada kesenian tayub, sandhor di Madura, dan <em>adu doro.</em> Sisi menyenangkan dari permainan <em>adu doro</em> diurai dalam kutipan di bawah ini:</p>
<p>Rokhim tampak senang sekali menceritakan keunggulan burung merpatinya. Agaknya bertaruh adu merpati demikian mempunyai keindahan seni sendiri sehingga disenangi oleh penduduk kampung Surabaya. (Brata, 2005:57)</p>
<p>Kalau bicara soal pekerjaan, wajah Rokhim ditinggalkan senyum. Bicara soal merpati, matanya bersinar-sinar, bicaranya lepas berjejal-jejalan, dan dengan rasa bangga ia berkisah. Darwan kurang tertarik karena banyak istilah asing yang sama sekali tidak diketahui maknanya. (Brata, 2005:57-58)</p>
<p>Tentang adat <em>adu doro</em> ini, Darwan menunjukkan sikap yang tidak tertarik. Dalam novel <em>Mencari Sarang Angin</em> dijelaskan bahwa ketidaktertarikan Darwan dikarenakan ketidakpahamannya terhadap istilah-istilah dalam <em>adu doro.</em> Namun jika diteliti lebih jauh, maka ketidaktertarikan Darwan merupakan wujud dari <em>culture shock</em>.</p>
<p>Seperti yang telah dijelaskan bahwa Darwan berlatar belakang keraton Surakarta yang ke Surabaya untuk mencari pengalaman hidup, yaitu dengan menjadi redaktur (sekaligus wartawan) di <em>Dagblad Expres</em>. Berpindah dari satu ruang ke ruang lain yang memilki perbedaan kebudayaan, tentunya memiliki konsekwensi logis untuk melakukan adaptasi. Salah satu adaptasi yang dilakukan adalah dengan mempelajari segala kebudayaan baru, apalagi Darwan adalah seorang redaktur yang semestinya memiliki kepekaan terhadap fenomena-fenomena yang baru.</p>
<p>Uraian tersebut mengindikasikan bahwa ketidaktertarikan Darwan terhadap budaya <em>adu doro</em> bukan sekedar karena ketidakpahamannya terhadap istilah-istilah, melainkan karena terdapat benturan budaya antara budaya yang membentuk Darwan (keraton Surakarta) dan budaya baru (budaya Surabaya). Budaya keraton tentunya merupakan budaya tinggi (jika menggunakan terma dikotomi budaya tinggi dan budaya rendah) yang mana hal-hal yang dianggap barbar dan tidak beradab dapat merusak kemapanan budayanya. Hal ini diperkuat dengan latar belakang Darwan yang merupakan seorang kaum terpelajar. Perjudian dan hal-hal yang sifatnya hanya pemenuhan hasrat (fetis) merupakan hal-hal yang harus dihindari.</p>
<p><strong>3.3.   Adat-istiadat Perkawinan</strong></p>
<p>Upacara perkawinan merupakan upacara yang penuh keskralan. Dalam pelaksanaannya terdapat tata aturan yang harus dilaksanakan, sebab perkawinan merupakan peralihan manusia pada dunia yang baru, yaitu peralihan dari sendiri ke dunia bersama, dunia dimana seseorang harus keluar dari keluarga dan membentuk keluarga sendiri. Tata aturan perkawinan setiap budaya berbeda-beda. Novel <em>Mencari Sarang Angin</em> menceritakan pula tata perkawinan masyarakat Surabaya, yang tentunya dengan kehadiran tokoh Darwan, sekaligus membandingkannya dengan adat perkawinan di keraton Surakarta.</p>
<p>Dimulai dengan upacara <em>srah-srahan</em> (penyerahan), Suparto Brata menceritakan bahwa pada masyarakat Surabaya penyerahan pengantin lelaki pada pengantin perempuan dilakukan dengan membuat mabuk pengantin laki-laki, sebagaimana yang tertera dalam kutipan di bawah ini:</p>
<p>[…] Begitu selesai penyerahan, para tamu langsung pulang. Rokhayah juga mengajak Darwan berdiri, dan pergi mengikuti rombongannya. Kini rombongan pengiring pengantin lelaki bergegas melalui gang becek yang panjang dan gelap, menuju dokar yang telah diputar balik ke arah pulang. Darwan heran, mereka sama sekali tidak disuguh minum atau makanan kecil oleh tuan rumah, meskipun di sana tadi makanan dalam stoples dipajang di atas meta.</p>
<p>Mana sempat, Cak. Tugas kita malam ini menyerahkan pengantin laki-laki, tanda bahwa Cak Rokhim sudah siap dinikahkan. Terserah situ, bagaimana perlakuannya terhadap Cak Rokhim,” keterangan Rokhayah.</p>
<p>“Tetapi mengapa Cak Rokhim dibuat mabuk tak berdaya demikian?”</p>
<p>“Harus pada keadaan yang paling jelek mereka menerima calon pengantin laki-laki. Biar tidak terkejut nanti kalau keadaan Cak Rokhim begitu!” (Brata, 2005:397)</p>
<p>Upacara <em>srah-srahan </em>yang dilakukan masyarkat Surabaya berbeda dengan adat Jawa (adat Jawa di sini menunjuk pada adat keraton). Masyarakat Surabaya justru menunjukkan segala hal yang jelek dengan tujuan agar pihak keluarga perempuan dapat menerima pengantin laki-laki secara apa adanya, sebab pada dasarnya manusia memiliki sifat baik dan buruk sehingga ketika pengantin laki-laki, yang nantinya menjadi bagian keluarga pengantin perempuan, tidak membuat kaget keluarga perempuan. Penerimaan secara menyeluruh, secara utuh, merupakan nilai yang terkandung dari pelaksanan ucapa <em>srah-srahan</em> masyarakat Surabaya.</p>
<p>Berbeda dengan upacara <em>srah-srahan</em> pada adat Jawa yang menyerahkan pengantin laki-laki dalam keadaan yang baik dan membawa hadiah serta benda-benda simbolik. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa pengantin laki-laki bukanlah pilihan yang salah, bahwa pengantin laki-laki adalah laki-laki baik-baik. Selain itu pengantin laki-laki juga membawa benda-benda yang memiliki makna, yiatu <em>cincin emas</em>, yang dibuat bulat tidak ada putusnya, maknanya agar cinta mereka abadi tidak terputus sepanjang hidup; <em>seperangkat busana putri</em>, yang bermakna bahwa masing-masing pihak harus pandai menyimpan rahasia terhadap orang lain; <em>perhiasan yang terbuat dari emas, intan dan berlian,</em> yang mengandung makna agar calon pengantin putri selalu berusaha untuk tetap bersinar dan tidak membuat kecewa; <em>makanan tradisional yang semuanya terbuat dari beras ketan</em>, yang mana beras ketan sebelum dimasak hambur, tetapi setelah dimasak, menjadi lengket, begitu pula harapan yang tersirat, semoga cinta kedua calon pengantin selalu lengket selama-lamanya; <em>buah-buahan, </em>yang<em> </em>bermakna penuh harap agar cinta mereka menghasilkan buah kasih yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.; dan daun sirih, yang memiliki makna bermakna satu hati, berbulat tekad tanpa harus mengorbankan perbedaan, sebab daun sirih memiliki muka dan punggung yang berbeda rupa, tetapi kalau digigit sama rasanya. (lubisgrafura.wordpress.com/f-kejawen/mengenal-tata-upacara-pengantin-adat-jawa/).</p>
<p>Dalam hal pesta pernikahan, juga terjadi perbedaan. Meskipun ada persamaan bahwa dalam masyarakat Jawa semua tamu yang hadir dalam pesta pernikahan (resepsi) selalu memberikan sumbangan berupa bahan makanan dan uang, namun cara pemberian sumbangan tersebut berbeda. Pada masyarakat Surbaya, Suparto Brata menjelaskan sebagai berikut:</p>
<p>“Yang menyumbang lewat duduk di kursi begitu jamaknya perempuan. Tamu atau undangan yang laki-laki, cara memberikan sumbangan lewat main kartu, minum-minuman, atau nanti kalau nanggap tayuban. […] Semua tetangga laki-laki yang sudah punya penghasilan tentu diulemi dan pasti datang, bahkan kalau tidak diundang bisa sakit hati. Sebab di arena perayaan itulah mereka pamer terbuka ramai-ramai bagaimana kekayaannya, bagaimana kejantanannya dalam minum atau <em>nayub tandhak</em>, bagaimana bisa menang main kartu dan untung besar. Tapi, yang paling untung besar adalah yang punya gawe. Oleh karena itu di Surabaya banyak orang mampu yang mau menjadi wali untuk menyunatkan atau menikahkan anak orang miskin, dirayakan besar-besaran untuk meraup keuntungan.” (Brata, 2005:403-404)</p>
<p>“Ya, itu memang tempat tamu mabuk-mabukan. Mereka bergiliran minum tuak, tiap minum juga harus bayar. Yang melayani disebut ‘bandar’, uang yang terkumpul untuk yang punya <em>gawe</em>. (Brata, 2005:405)</p>
<p>Masyarakat Surabaya memberikan sumbangan melalui pesta mabuk dan judi. Di sini judi dan mabuk bukan menjadi hal yang buruk, justru menjadi hal yang membahagiakan, hal yang bermanfaat. Hal ini sungguh berbeda dengan adat Jawa, yang mana sumbangan dilakukan secara wajar, yaitu dengan membawa beras, gula atau bahan makanan lainnya serta uang yang dimasukkan ke kotak sumbangan atau diserahkan langsung ke pihak pengantin.</p>
<p>Dari kutipan di atas juga dapat dilihat bagaimana pola pikir masyarakat Surabaya yang cenderung ekonomis, yang mana beberapa hajat seperti pernikahan, sunatan, atau kelahiran digunakan untuk mencari keuntungan. Sifat semacam ini mungkin ada hubungannya dengan kota Surabaya sebagai kota kerja<a href="#_ftn4">[4]</a>. Kota dengan iklim kerja yang tinggi sangat memungkinkan mempengaruhi pola pikir masyarakat, yaitu pola pikir untuk memanfaatkan segala kemungkinan yang dapat memberikan keuntungan.</p>
<p>Sehgala Perbedaan inilah yang membuat Darwan menjadi terheran-heran dan tidak mengerti makna tata upacara perkawinan masyarakat Surabaya. <em>Culture shock</em> memang tidak sebera terlihat pada peristiwa ini, selain sebuah sikap heran. Hal ini dikarenakan Darwan sudah tinggal cukup lama tempatnya yang baru, di Surabaya. <em>Culture shock</em> yang terjadi pada Darwan pada peristiwa budaya ini justru hadir melalui tindakan Darwan yang menuliskan upacara perkawinan masyarakat Surabaya pada sebuah media Belanda. Penulisan ini dilatarbelakangi karena rasa heran yang berlebih yang dirasakan Darwan. Selain itu, keheranan Darwan juga terlihat dari ujarannya: “Wah! Orang Surabaya ini memang rukun kalau mabuk-mabukan! Mau saling ikhlas mentraktir teman,” komentar Darwan.</p>
<p><strong>4.      Simpulan</strong></p>
<p>Dari peneltian singkat ini, maka simpulan yang dapat ditarik adalah bahwa meskipun sama-sama berakar budaya Jawa terdapat perbedaan antara budaya Jawa Keraton dan budaya Surabaya. Perbedaan budaya ini mengakibatkan terjadinya <em>culture shock</em> pada masyarakat yang masuk pada ruang kultural lainnya, seperti yang terjadi pada tokoh Darwan.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Abdallah-Preceille, Martine. 2006. “Interculturalism as a paradigm for thinking abaout diversity” dalam <em>Intercultural Educatin</em> Vol. 17, No. 5, Desember. Routledge.</p>
<p>Aji, R.N. Bayu. 2007. “Budaya Adu Doro dalam Masyarakat Suroboyo” dalam Purnawan Basundoro, dkk (ed). <em>Tempoe Doeloe Selaloe Aktoeal</em>. Yogyakarta: Ar-Ruzz.</p>
<p>Brata, Suparto. 2005. <em>Mencari Sarang Angin</em>. Jakarta: Grasindo.</p>
<p>Dick, Howard D. 2002. <em>Surabaya City of Work, A Socioeconomic History 1900-2000</em>. Ohio: Ohio University Press.</p>
<p>Hammer, Leonar. 2004. “Interculturalism and Migrant Workers in Israel” dalam Diane Powell and Fiona Sze. <em>Interculturalism: Exploring Critical Issues</em>. Oxford: Inter-Disciplinary Press.</p>
<p>Soelaeman<em>.</em> 2005.<em> Ilmu Budaya Dasar: Suatu Pengantar</em>. Bandung: PT. Refika Aditama.</p>
<p>Oberg, Kalervo. 1954. “Culture Shock” dalam makalah yang disajikan pada <em>Women&#8217;s Club of Rio de Janeiro</em>, Brazil, 3 Agustus 1954 (Copyright, 1954, Kalervo Oberg All rights reserved).</p>
<p><strong>Sumber Internet</strong></p>
<p>http://lubisgrafura.wordpress.com/f-kejawen/mengenal-tata-upacara-pengantin-adat-jawa/</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Soelaeman<em>. Ilmu Budaya Dasar: Suatu Pengantar</em>. Cetakan Kesembilan  (Bandung: PT. Refika Aditama, 2005), 48.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Oberg, “Culture Shock”. Makalah yang disajikan pada <em>Women&#8217;s Club of Rio de Janeiro</em>, Brazil, 3 Agustus 1954 (Copyright, 1954, Kalervo Oberg All rights reserved).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Soelaeman, 2005, 48-49; Oberg, 1954.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Howard W. Dick dalam <em>Surabaya City of Work, A Socioeconomic History 1900-2000</em> mengungkap sisi lain dari Surabaya, dengan menelusuri aspek sejarah ekonomi kota yang pernah menjadi penentu perekonomian kolonial Belanda, sejak abad ke-18, sampai terjadi resesi dunia di awal abad ke-20, hingga kondisi Surabaya pada masa kemerdekaan yang menjadi kota kedua setelah Jakarta atau Batavia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=856</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGAJAR SASTERA JAWA ITU MUDAH</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=829</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=829#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 08:59:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=829</guid>
		<description><![CDATA[Aku masuk sekolah pertama kalinya tahun 1938 di Sekolah Angka Loro Sragen Wetan, kota Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Gedung sekolahnya sekarang sudah jadi terminal angkutan kota. Sekolah Angka Loro adalah sekolah paling rendah pada zaman Hindia Belanda. Lima tahun tamat (selesai). Tidak diajari bahasa Belanda. Bahasa pengantarnya bahasa Jawa. Kelas I Sekolah Angka Loro. Masuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku masuk sekolah pertama kalinya tahun 1938 di Sekolah Angka Loro Sragen Wetan, kota Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Gedung sekolahnya sekarang sudah jadi terminal angkutan kota. Sekolah Angka Loro adalah sekolah paling rendah pada zaman Hindia Belanda. Lima tahun tamat (selesai). Tidak diajari bahasa Belanda. Bahasa pengantarnya bahasa Jawa.</p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/10/0011.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-835" title="001" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/10/0011-300x292.jpg" alt="" width="300" height="292" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Kelas I Sekolah Angka Loro.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Masuk kelas sekolah kelas satu, diajari membaca huruf Hanacaraka. Tidak disuruh menghafalkan jenis-jenis banyaknya huruf HA-NA-CA-RA-KA sampai hafal semua, melainkan langsung diajari satu dua huruf yang disusun sudah punya arti kata. Misalnya hanya dua huruf MA dan TA ditulis oleh guru di papantulis, dan murid sekelas disuruh menghafal bentuknya, disuruh mengucapkan tuturnya, disuruh menulisnya di batutulisnya. Batutulis atau sabak adalah ajang penulisan terbuat daripada batu, dipinjami dari sekolah, tetap ditinggal di kelas, tidak boleh dibawa pulang. Sebagai pensilnya juga dari batu disebut anak batutulis (grip), diberi gratis secara periodik oleh sekolah, jadi milik peribadi, boleh dibawa pulang. Grip milik pribadi kalau hilang atau patah, tidak bisa dapat lagi gratis dari sekolah, harus menunggu pembagian gratis periodik. Terpaksa murid harus beli grip dari toko-toko di luar sekolah. Menulis di batutulis dengan anak batutulis hasilnya hanya untuk sementara, bisa dengan mudah dihapus. Jadi kalau hasil tulisan sudah tidak dipakai lagi, ya dihapus saja. Batutulisnya bisa untuk ditulis-tulisi lagi dengan anak batutulis. Dengan menulis di batutulis murid bisa mudah dilatih menulis dan dihapus, tidak perlu tiap kali ganti ajang penulisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Guru menulis lagi susunan huruf LA dan RA, dan lagi murid disuruh menghafal bentuknya, disuruh mengucapkan tuturnya (membacanya lantang), disuruh menulisnya di batutulisnya. Dengan tulisan guru di papan tulis MA TA dan LA RA, maka murid sekelas yang jumlahnya 30 anak, mulai mengenal huruf-huruf tadi, dan kalau disusun begitu sudah menjadi kata yang berarti. MATA artinya <em>mata, </em>LARA artinya <em>sakit.</em> Tambah hari guru menulis di papan tulis tambah banyak jenis huruf, dan murid pun tambah hari tambah banyak mengenali jenis huruf Jawa Hanacaraka, bisa membaca huruf, bisa menulisnya, hafal bentuknya, mengerti kegunaannya, dan bisa mengucapkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Huruf Hanacaraka jumlahnya ada 20. Cara membacanya bersuara <strong><em>a </em></strong>semua. Disebut <em>nglegena </em>(= telanjang)<em>.</em> Agar bisa bersuara <strong><em>i </em></strong>huruf <em>nglegena </em>tersebut harus diberi <em>pakaian, </em>yang berupa bulatan kecil di atas huruf <em>nglegena</em> tadi, disebut <em>wulu. </em>Huruf MA diberi <em>pakaian wulu </em>dibaca MI, huruf TA diberi <em>pakaian wulu </em>di atasnya dituturkan menjadi TI. Begitu seterusnya. Jenis-jenis <em>pakaian </em>berguna untuk mengubah bunyi huruf <em>nglegena, </em>misalnya <em>pakaian suku </em>yang diletakkan di kaki huruf <em>nglegena </em>MA, huruf MA bunyinya berubah menjadi MU. Diberi <em>pakaian taling </em>yang terletak di depan huruf <em>nglegena </em>MA, huruf MA bunyinya berubah menjadi MĒ, diberi <em>pakaian taling tarung </em>yang terletak di depan dan belakang huruf <em>nglegena </em>MA, huruf MA bunyinya berubah menjadi MO. Selanjutnya huruf <em>nglegena </em>MA diberi <em>pakaian wignyan </em>jadi MAH, diberi <em>pakaian cakra </em>jadi MRA, diberi <em>pakaian cecak </em>jadi MANG, diberi <em>pakaian layar </em>menjadi MAR. Dan seterusnya dan seterusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menghafal beberapa bentuk huruf dengan diberi <em>pakaian </em>ganti-ganti saja guru harus berulang-ulang mengajarkan bagaimana agar murid hafal menengarai bentuk huruf dan bagaimana suara bacaannya. Memerlukan latihan berulang-ulang pada jam pelajaran di kelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari mulanya dua huruf MA dan TA, kemudian ditambah LA dan RA, ditambah lagi NA, DA, GA dan seterusnya, maka setelah berminggu lamanya belajar di kelas guru bisa menulis dari kata menjadi kalimat. Dan murid juga harus hafal membacanya dan hafal menulisnya. Misalnya ketika baru diajari beberapa huruf <em>nglegena </em>dan <em>pakaian wulu,</em> guru sudah bisa mengajari susunan huruf yang berupa kalimat:  NINI LARA MATA <em>(nenek sakit mata), </em>SIWA DIPA SILA <strong><em> </em></strong><em>(paman Dipa duduk bersila).</em> Kian hari kian banyak huruf, kata, kalimat yang bisa disusun di papan tulis oleh guru dan murid menghafalkan tulisannya, menulisnya dan membacanya.<em> </em>Tiap hari di kelas, guru menunjuk tulisan di papan tulis, murid seorang demi seorang disuruh membacanya dengan lantang. Kalau suara lantangnya tidak benar, murid lainnya yang tahu hal itu salah berteriak, <em>“Lepaaat!”(bahasa Jawa artinya “Salaaah!”).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berminggu-minggu tiap hari guru mengajar membaca dan menulis huruf-huruf, kata-kata dan kalimat-kalimat di papan tulis, dan murid sudah pandai membacanya tiap tulisan guru di papan tulis, maka guru mengeluarkan setumpuk buku bacaan dari dalam almari kelas. Sebanyak murid di kelas (30 anak) mendapat pinjaman buku tadi seorang satu. Buku bacaan tadi hanya dibaca di kelas, tidak boleh dibawa pulang, selesai pelajaran membaca buku, ya buku ditumpuk dan dimasukkan lagi ke dalam almari kelas. Buku dibuka oleh murid, ternyata lembar-lembar pertama buku tadi juga berisi huruf, kata, kalimat tulisan Hanacaraka yang pernah ditulis oleh guru dan dihafalkan oleh murid selama belajar di kelas sebelumnya. Jadi, segera saja para murid bisa membaca pada lampir-lampir halaman awal dari buku tadi. Apa lagi di buku tadi ada gambarnya. MATA ada gambarnya <em>mata. </em>KALA ada gambarnya <em>jerat </em>atau <em>laso. </em>LAWA ada gambarnya <em>kelelawar. </em>Murid menjadi lebih tertarik membacai huruf, kata, kalimat pada buku yang bergambar menerangkan arti kata-kata tadi. Sejak itulah saya sebagai murid diperkenalkan dengan buku dan membaca tulisan-tulisan di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiap hari tidak pernah lowong, buku pelajaran membaca tadi dibagikan pada murid. Berganti-ganti murid disuruh membacanya. Seorang membaca, yang lain menyemak. Apabila bacaan salah, para penyemak menegur, <em>“Lepaat!”. </em>Bergiliran membaca begitu kepandaiannya tiap anak dicatat oleh guru, nilainya sebagai bahan kenaikan kelas muridnya. Kadang-kadang cara menggilir pembacaan buku diwarnai kejutan. Seseorang sedang membaca, tiba-tiba disuruh berhenti, dan guru menunjuk murid lain untuk meneruskan bacaannya. Kalau murid yang ditunjuk tadi tidak menyemak dengan saksama, tentu tidak bisa membaca lanjutan cerita pada buku. Jadi, sementara seorang murid membaca lantang, murid lainnya harus terus  menyemaknya, ikut membaca buku yang sama-sama dipelajari.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain membaca buku setiap hari, guru juga tetap mengajari murid menulis. Guru menulis di papantulis, murid menulis pada sabaknya. Guru menulis suatu kalimat dengan tulisan halus SIWA DIPA LARA MATA. Murid disuruh menulis di sabaknya berkali-kali,, tiap kali harus menunggu aba-aba dari guru. Guru menyuruh, <em>“Selarik!”, </em>maka murid mulai menulis halus di batutulis masing-masing mencotoh tulisan guru di papantulis. Ditulis sebaik-baiknya sehingga tulisan tadi secara metodik bisa dibaca oleh orang lain. Guru memeriksa baik hasil tulisan maupun cara murid-muridnya menulis. Kalau ada murid yang tulisannya jelek (tidak metodik) guru memberi contoh tulisan di batutulisnya, sehingga murid tidak lagi perlu mencotoh tulisan di papantulis. Cara-cara menulis juga diperhatikan oleh guru. Bagaimana cara memegang anak batutulis, metode tulisan harus miring sehingga batutulisnya harus juga miring (diganjal alat kayu segitiga), jarak antara mata dan tulisan harus 30 Cm. Kalau semua murid sudah selesai menulis tulisan guru di papantulis (dan guru sudah memeriksanya dengan baik-baik), maka guru memerintahkan menulis lagi tulisan SIWA DIPA LARA MATA di bawah tulisan yang pertama. <em>“Rong larik!” </em>perintah guru. Dan setelah selesai penulisan deretan ke dua, guru memerintahkan lagi menulis di bawahnya, <em>“Telung larik!”</em> Murid pun mulai menulis deretan ke tiga SIWA DIPA LARA MATA.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan pelajaran menulis cara begitu, anak (murid) bisa menulis dengan metode yang benar, hasil tulisan terbaca dengan baik, dan badan (mata) pun sehat.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan saja caranya menulis halus dengan mencontoh tulisan di papan tulis, murid pun diberi pelajaran menulis dari ucapan guru (dikte). Guru bicara, murid menulis apa yang diucapkan guru.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi sejak kelas I sekolah Angka Loro, anak sekolah di desa generasiku, paling penting adalah diajari MEMBACA BUKU dan menulis kata dengan baik-baik dan sehat. Karena sekolahnya Angka Loro, tulisan yang diajarkan oleh guru ya tulisan Jawa Ha-na-ca-ra-ka.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berlangsung berbulan-bulan, murid-murid kelas I Sekolah Angka Loro tahun 1938 sudah pandai membaca cerita di buku bacaan sekolah:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong><strong>ASUNĒ SĒNA</strong></p>
<p><strong>Asuné Séna ana loro. Asuné Séna lemu-lemu.</strong></p>
<p><strong>Asuné Séna mlayu mrana. Asuné Séna ora lara.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Membaca cerita yang ditulis, berarti membaca sastera. Tulisan yang dibaca tulisan Jawa huruf Ha-na-ca-ra-ka, berarti yang diajarkan oleh guru adalah sastera Jawa. Jadi sejak kelas I sekolah dasar Angka Loro sudah diajari membaca sastera Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Cara guru mengajarkan membaca cerita, juga tidak asal bisa baca saja. Melainkan diajarkan juga cara-cara memaknai tanda-tanda baca. Kalau bacaan kalimatnya diberi tanda baca <em>pada lingsa (= koma), </em>bagaimana irama lagunya, kalau bacaan kalimatnya diberi tanda baca <em>pada lungsi (= titik), </em>nada suaranya harus bagaimana. Murid bergiliran membaca cerita yang sama dari buku, guru memperbaiki nada lagunya. Juga diajari cara-cara agar murid bisa membaca dengan cepat. Selalu dilatih.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kelas I, tiap hari hanya diberi 3 jam pelajaran. Jumlah murid kelas I ada 60 orang, maka bergantian tiap bulan bertukar waktu pagi dan siang, sementara separoh (30 anak) masuk pagi, separoh masuk siang. Tiap hari diajari membaca buku yang dikeluarkan dari almari kelas. Dan ada jam pelajaran menulis tersendiri, untuk melatih menulis halus, dikte dan semacamnya, juga hampir tiap hari. Sedang sisa jam pelajaran lainnya digunakan untuk pelajaran <strong>Mendongeng, Nembang (menyanyi), Berhitung, Pekerjaan tangan, Budi Pekerti. </strong>Mata pelajaran <strong>Membaca Buku</strong> tiap hari diajarkan, berarti seminggu 6 kali. Saban masuk sekolah pasti ada pelajaran membaca buku. <strong>Berhitung </strong>3 kali, <strong>Mendongeng, Nembang, Pekerjaan tangan, Budi Pekerti </strong>masing-masing 1 kali. <strong>Membaca buku dan menulis </strong>lebih penting daripada mata pelajaran yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelas II Sekolah Angka Loro.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Naik kelas II jam pelajarannya masih sama, separoh murid masuk pagi, separoh masuk siang, bergantian waktu tiap bulan. Pelajaran membaca buku tetap tiap hari diajarkan, caranya pun tetap sama. Buku dikeluarkan dari almari kelas, dibagi, dibaca lantang bergiliran seorang demi seorang, selesai jam pelajaran buku ditumpuk dan dimasukkan ke dalam almari lagi. Pada kelas II bahan ajar yang dibaca tiap hari adalah buku <strong><em>Siti Karo Slamet, </em></strong>merupakan kumpulan cerita suatu keluarga. Cerita lelakon buku <strong><em>Siti Karo Slamet </em></strong>diterbitkan dalam bahasa Jawa, dengan tulisan Hanacaraka. Berarti mengajari membaca buku cerita <strong><em>Siti Karo Slamet </em></strong>adalah mengajarkan sastera Jawa. Dibaca di kelas tiap hari, bergiliran dan disemak bersama sehingga semua murid dapat giliran membaca lantang. Dengan cara begitu maka <strong>satu bab</strong> saja bisa dibaca bersama berkali-kali, memerlukan waktu pembelajaran selama satu bulan. Ceritanya dan tulisan pada bukunya merasuk ke sanubari tiap murid, karena membaca berulang-ulang satu bab tadi. Setelah semua dapat giliran membaca lantang di kelas, kecakapan tiap murid dicatat oleh guru untuk bahan kenaikan kelas, maka baru cerita bab selanjutnya diajarkan membaca oleh guru. Karena dibaca berkali-kali, sampai sekarang saya masih hampir hafal cerita pada bab III:</p>
<p><strong>III. TAMPA BESTELAN.</strong></p>
<p><strong>Wong-wong lagi wiwit padha mangan, krungu swara, “Kulanuwun.”</strong></p>
<p><strong>Slamet metu, cangkemé isih mucu-mucu.</strong></p>
<p><strong>“Ana wong nggawa bèsèk, Pak.”</strong></p>
<p><strong>“Cangkemu resikana dhisik. Banjur wongé takonana, arep apa.”</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitu sasteranya huruf Hanacaraka. Harus dibaca tiap hari di kelas tiap bab berulang-ulang, agar murid biasa membaca cerita buku sastera Jawa huruf Jawa, memahami dan menggemari baik tulisannya (Hanacaraka) maupun ceritanya. Menggemari ceritanya harus didapatkan dari membaca tulisannya. Saya hafal kalimat-kalimat ceritanya, karena saya mulai senang mambaca cerita itu yang dicetak dalam huruf Hanacaraka.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain pengajaran membaca huruf Hanacaraka dengan jalan membaca buku <strong><em>Siti Karo Slamet </em></strong>yang tiap bab harus dibaca di bangku sekolah bergiliran seorang demi seorang sehingga sampai berminggu-minggu menyemak bab itu, ada cara lain guru memperlancar pembacaan aksara Hanacaraka kepada murid-muridnya. Yaitu pada pelajaran <strong>Nembang </strong>atau <strong>Menyanyi </strong>yang diajarkan pada hari Sabtu jam terakhir. Kalau pada kelas I pelajaran <strong>Nembang </strong>itu hanya dengan menirukan guru menyanyi, lalu para murid disuruh mengikuti sekalimat demi sekalimat bersama, sehingga seluruh tembang bisa dilagukan oleh murid-murid karena menirukan tuturan guru, maka pada kelas II guru tidak hanya menyanyikan dengan suara. Guru memperkenalkan <strong>tembang </strong>yang diajarkan dengan menulis di papantulis. Yang diajarkan <strong>tembang </strong>dolanan kanak-kanak. Ditulis dengan huruf Hanacaraka. Selesai ditulis oleh guru, guru mengajari menyanyikannya dengan menunjuk tulisan di papantulis. Dengan sendirinya murid yang coba menembang harus awas melihat tulisan Hanacaraka yang ditunjuk oleh guru, yang iramanya dinyanyikan oleh guru. Dengan begitu bertambah pandailah murid-murid membaca huruf Hanacaraka. Tidak saja di BUKU cerita (sastra Jawa)  <strong><em>Siti Karo Slamet, </em></strong>melainkan murid juga lancar membaca aksara Hanacaraka yang ditulis di papantulis, disuarakan dengan irama <strong>tembang. </strong>Membaca tulisan Hanacaraka bisa berguna untuk <strong>nembang. </strong>Akhirnya setelah para murid diajari menuruti irama gurunya dalam pelajaran <strong><em>Nembang</em></strong> lancar, maka para murid seorang demi seorang disuruh membaca huruf Hanacaraka di papantulis dengan melagukan sebagai tembang. Suara bacaan para murid dan irama cengkoknya masing-masing murid dicatat oleh guru, untuk bahan kenaikan tingkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Di kelas II pelajaran <strong><em>Nembang </em></strong>caranya mengajari beda dengan ketika di kelas I. Di kelas I gurunya memberi contoh menyanyi, para murid menirukan; di kelas II guru menulis <strong>tembang </strong>di papantulis, dan lalu menyanyi dengan menunjuk-nunjuk tulisan di papantulis, agar murid selain hafal irama lagunya juga membaca dengan tekun tulisan di papantulis. Yang ditulis dan diajarkan adalah <strong><em>lagu-lagu dolanan </em></strong>seperti: <strong><em>Cempa, Kupu Kuwi, Ménthok-ménthok, Ilir-ilir, Katé Dipanah, Pendhisil, Soyang, Jalak Pita </em></strong>dan lain-lain. Saya masih hafal lagu-lagu itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>JALAK PITA</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jalak-jalak pita, dolanan wis ditata,</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ayo para kanca padha suka-suka,</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sing ramé, sing tata, gawé ramé nèng negara,</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dhuk-nong dhuk-gung, dhuk-nong dhuk-gung,</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jèjèr sandhing ringin kurung, atepung temu gelang,</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yèn diétung aja kurang.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Priyagung padha nyawang, priyagung padha nyawang.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tandang tulung saguh wadhang.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selain pelajaran <strong><em>Nembang </em></strong>yang caranya mengajar di kelas I dan kelas II kadang-kadang beda, adalah pelajaran <strong><em>Mendongèng.</em></strong> Pelajaran <strong><em>Mendongèng </em></strong>di kelas I guru bercerita bahasa Jawa, murid mendengarkan, kemudian ganti-gantian murid disuruh maju ke depan kelas menceritakan cerita guru yang tadi didongengkan, juga dengan bahasa Jawa. Di kelas II, juga begitu. Hanya apa yang didongengkan oleh guru, kadang-kadang pada dinding kelas sudah dipasang gambar-gambar cerita yang didongengkan oleh guru. Gambar tadi luasnya 20X30 Cm2, dicetak pada kertas putih. Di dalamnya dibagi menjadi 4 <em>frame </em>pesegi panjang. Tiap <em>frame, </em>dari 1 sampai 4 urut,<em> </em>digambari urut lakon yang didongengkan oleh guru. Jadi setelah didongengkan oleh guru, murid-murid melihat gambar hiasan dinding ruang kelas tadi seperti melihat gambar komik yang besar. Gambar itu diambil dipindahkan ke papantulis di depan kelas, waktu dongeng itu sedang diajarkan, dan ketika para murid seorang demi seorang disuruh guru bercerita di depan kelas. Dengan begitu murid sama dengan anak menikmati melihat gambar komik zaman sekarang. Hanya berbeda pelajaran di kelas, si murid harus bercerita runtut di depan kelas dengan bahasa Jawa, cerita dalam gambar tadi. Melihat bahwa gambar cerita di dinding kelas tadi sudah lama digantung di sana, maka saya mengira bahwa murid-murid senior saya waktu di kelas II juga diajari cara mendongeng seperti itu dengan cerita itu juga. Yang didongengkan guru sudah diprogram dari Dinas Pendidikan setempat.</p>
<p style="text-align: justify;">Di kelas II mulai diajarkan tulisan ABC. Caranya mengajarkan juga seperti waktu mengajarkan aksara Hanacaraka. Tidak disuruh menghafal banyaknya huruf ABC melainkan diajarkan membaca susunan huruf ABC yang sudah berbentuk kata. Misalnya BATA, BABI, DADA, GADA. Lalu disusun jadi kalimat pendek-pendek. Guru menulis di papan tulis, murid disuruh membacanya dan menulis pada bukunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di kelas II sudah tidak dipinjami batutulis lagi, melainkan diberi buku tulis secara gratis. Pada buku tulis itulah para murid disuruh belajar menulis baik-baik, tulisannya baik-baik, cara menulisnya juga baik-baik. Dan itu juga memerlukan jam-jam pelajaran tersendiri. Pada buku tulis itulah murid-murid mencontoh tulisan di papan tulis. Menulisnya menggunakan tangkai pena, yang penanya dicelup pada tinta. Tangkai pena, pena tiap murid diberi, dan tinta di kelas disediakan. Seperti waktu di kelas I, bagaimana caranya pegang tangkai pena, bagaimana caranya menulis yang baik dan sehat, selalu dibimbing oleh guru. Dan cara menulis halus seperti itu tentu saja memerlukan pelajaran menulis yang memakan waktu pelajaran tersendiri berbulan-bulan. Tidak dilepas dari pelajaran di sekolah, harus menurut sebagaimana ajaran guru. Pelajaran menulis halus pada buku tulis murid, murid juga tetap harus sesuai dengan perintah guru. Guru menulis suatu kalimat dengan huruf ABC di papantulis, murid menulis di bukunya kalimat itu. Satu kalimat itu ditulis berderet-deret ke bawah sampai 10 kali. Dan murid menulisnya juga menunggu perintah guru. Setelah guru memerintah menulis, <em>“Selarik!” </em>baru semua menulis kalimat di papantulis di bukunya satu baris. Guru berkeliling kelas mengawasi para murid menulis kalimat yang pertama. Setelah semua sudah selesai, maka guru memerintahkan lagi, <em>“Rong larik!” (artinya mulailah menulis kalimat yang sama pada deret garis ke dua). </em>Murid menulis kalimat yang sama di buku tulisnya di bawah tulisan yang pertama. Setelah selesai semua, guru memerintahkan lagi, <em>“Telung larik!” </em>yang berarti murid disuruh mulai menulis kalimat yang itu juga untuk deret yang ke tiga. Begitu seterusnya hingga 10 deret ke bawah tulisan murid pada buku tulisnya. Sementara mengajari menulis kalimat pada buku tulis tadi, guru seringkali memberi contoh tulisannya di buku tulis muridnya. Dengan begitu murid selanjutnya tidak perlu harus menoleh ke papantulis, cukup melihat contoh tulisan yang dibuat oleh guru di buku tulisnya. Contoh tulisan guru di buku tulis murid menggunakan tinta merah (jadi guru sudah siap dengan tangkai pena tersendiri, dan juga tinta merahnya tersendiri, bukan yang digunakan oleh para murid).</p>
<p style="text-align: justify;">O, ya. Buku tulis yang dibagikan kepada murid ada 3. Satu untuk menulis halus kalimat huruf ABC, satu untuk menulis halus kalimat huruf Hanacaraka, dan satu untuk mengerjakan hitung, dikte, dan lain-lain. Tiap kali guru memeriksa tulisan murid pada buku-buku tulis tadi, dan diberi angka (nilai) dengan tinta merah. Banyakny angka nilai 0 – 10. Buku yang ke-3 (untuk mengerjakan hitung dan lain-lain) ini paling cepat habis lembarannya, maka murid segera diberi buku tulis baru sebagai ganti yang lama yang sudah penuh coretan. Buku yang penuh coretan boleh dibawa pulang..</p>
<p style="text-align: justify;">Sewaktu masih digunakan di kelas, buku-buku tulis tadi semua tidak dibawa pulang oleh murid, tetapi selalu ditumpuk di kelas. Hanya pada waktu untuk ditulisi pada pelajaran menulis pada buku tulis buku-buku tadi dibagikan pada murid di kelas. Jadi pada kelas II, murid-murid pergi ke sekolah dan pulang dari sekolah TIDAK MEMBAWA APA-APA. Juga tidak diberi beban mengerjakan apa-apa di luar sekolah. Tidak ada Pekerjaan Rumah (PR). Kegiatan utama di sekolah adalah: pelajaran <strong>membaca-menulis-membaca-menulis-membaca-menulis. </strong>Yang jadi bacaan utama ya buku <strong><em>Siti Karo Slamet </em></strong>itu. Tiap hari pasti ada pelajaran membaca buku <strong><em>Siti Karo Slamet. </em></strong>Berarti tiap hari diajari, dibiasakan, dibudayakan MEMBACA BUKU SASTERA (cerita yang ditulis adalah sastera). Dalam hal buku <strong><em>Siti Karo Slamet, </em></strong>adalah buku bahasa Jawa tulisan Hanacaraka, maka tiap hari di Sekolah Angka Loro saya (dan teman-teman generasi saya) diajar membaca buku sastera Jawa.</p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/10/0062.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-836" title="006(2)" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/10/0062-300x204.jpg" alt="" width="300" height="204" /></a></p>
<p><strong>Membaca buku adalah dasar anak bersekolah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di kelas II sudah mulai diajari membaca dan menulis huruf ABC. Tetapi belum ada buku bacaan yang dibaca bersama di kelas. Di kelas III sehari ada 7 jam pelajaran, kecuali hari Jumat 5 jam pelajaran. Baru di kelas III itulah pelajaran membaca buku cerita tulisan huruf ABC diajarkan. Yaitu buku yang judulnya <strong><em>Tataran. </em></strong>Seperti halnya buku <em>Siti Karo Slamet </em>yang diajarkan di kelas II, buku <em>Tataran </em>juga merupakan buku cerita yang menceritakan kehidupan sehari-hari Kuncung dan Bawuk. Juga guru cara mengajarnya sama, yaitu tiap hari murid dibagikan buku <em>Tataran, </em>berganti-ganti murid disuruh baca lantang-lantang yang lain menyemak, habis jam pelajaran membaca buku dikumpulkan lagi, dimasukkan almari kelas. Hasil kepandaian para murid membaca diberi angka oleh guru, dijadikan bahan kenaikan kelas.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tataran </em>bukan satu-satunya buku cerita yang harus dibaca bergiliran di kelas tiap hari. <em>Tataran </em>adalah buku cerita bahasa Jawa huruf ABC. Selain itu di kelas III murid juga harus membaca bergiliran buku cerita bahasa Jawa dengan huruf Hanacaraka judulnya <strong><em>Ngrewangi Apa Ngrusuhi. </em></strong>Buku <em>Ngrewangi Apa Ngrusuhi </em> ada tiga jilid, masing-masing jilid menceritakan kehidupan binatang yang berbeda-beda. Jilid I menceritakan kehidupan anak bajing yang bernama Perkis. Jilid II menceritakan kehidupan nyamuk yang bernama Gothang lan Klentreng. Jilid yang lain menceritakan kehidupan ular, saya lupa nama ularnya, karena baru dibaca beberapa bab saya harus naik ke kelas IV.Di kelas III itu juga diajarkan membaca buku bahasa Jawa huruf Hanacaraka berjudul <em>Kembang Setaman. </em>Buku <em>Kembang Setaman </em>bukunya tebal, berisi kumpulan cerita pendek. Juga berjilid-jilid. Namun di kelas III saja kami tidak habis membaca <em>Kembang Setaman </em>jilid I sampai habis. Jilid II dan III akan dibaca di kelas lanjutan (kelas IV).</p>
<p style="text-align: justify;">Ya. Buku-buku bacaan di kelas III tadi tiap hari harus dibaca di kelas bergiliran, yang lain menyemak. Tiap murid harus pernah mendapat giliran membaca tiap bab, dan membacanya harus lancar. Kalau tidak lancar, murid tadi disuruh mengulang-ulang lagi bab itu diberi kesempatan giliran ulang. Dengan cara begitu, maka satu bab dari tiap buku saja bisa dibaca berulang tiap hari di kelas selama kurun waktu satu bulan. Baru beranjak bab baru berikutnya. Karena tiap hari murid sekelas menyemak ikut membaca giliran satu bab berulang-ulang, tiap hari membaca bersama bergiliran cerita <em>Kuncung Karo Bawuk, </em>tiap hari membaca cerita kehidupan <em>Perkis, </em>tiap hari membaca cerita pendek dari buku <em>Kembang Setaman,</em> maka ada beberapa kalimat atau ungkapan yang mengesan sekali hingga sampai sekarang saya masih hafal. Dari buku <em>Tataran </em>(bahasa Jawa huruf ABC) misalnya, saya masih hafal bab I, <strong><em>“Man, Man, Sariman!” Sariman isih énak-énak olèhé dhudhuk-dhudhuk. Mesthi waé ora gelem sumaur. Wong sing karan parabané; yaiku Kuncung. </em></strong>Dari buku <em>Kembang Setaman </em>(bahasa Jawa huruf Hanacaraka)<em> </em>saya hafal beberapa ungkapan: <strong><em>“Wong tangi ésuk kuwi cepak rejekiné”. “Aja nganti reged ora bisa, aja tansah reged kuwi bisa”.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selain <em>Tataran</em> di kelas III itu kami juga harus baca tiap hari bergiliran buku bahasa Jawa huruf ABC berjudul <strong><em>Ontjèn-Ontjèn. Ontjèn-Ontjèn </em></strong>merupakan buku kumpulan cerita pendek. Saya juga masih hafal cerita pendek di antaranya, meskipun tidak hafal per kata atau kalimat, karena membaca huruf ABC kami baru awal pembelajaran, sangat sulit membacanya. Namun karena ceritanya menarik, saya juga dengan semangat ingin menguasainya (membaca buku itu). Yaitu cerita tentang Petruk-Gareng-Bagong mau bepergian naik pesawat terbang. Petruk lubang telinganya kemasukan semut, Dikorek-korek tetap saja semutnya tidak kena atau mati. Maka oleh Petruk lubang telinganya dimasuki daging dendeng. Dengan harapan ujung dendeng nanti digigit oleh semut, lalu dendeng ditarik keluar, seperti orang mancing. Ternyata daging dendeng tadi seluruhnya masuk ke lubang telinganya. Petruk lalu mencari tikus, ditangkap dimasukkan ke lubang telinganya. Tikus diharapkan bisa makan daging dendeng yang di dalam lubang telinganya. Ternyata tikus tadi juga masuk ke lubang telinga Petruk. Lalu Petruk segera mencari kucing. Karena kucing adalah binatang yang suka makan tikus, diharapkan kalau dimasukkan ke lubang telinganya, kucing akan mengganyang tikus&#8230;&#8230;! Begitulah cerita dari buku <em>Ontjèn-Ontjèn </em>yang diajarkan di kelas III (taun 1940) Sekolah Angka Loro di desa, yang masih saya hafal pokok ceritanya. Banyak ceritanya yang menarik hati, sehingga meskipun waktu itu membaca buku tulisan ABC masih sangat susah, namun semangat murid-murid begitu menggebu untuk membacanya. Saya ingat buku bacaan di kelas biasanya hanya dibaca pada jam pelajaran, buku <em>Ontjèn-Ontjèn </em>diminta oleh para murid untuk dibaca di luar kelas waktu mengaso. Dan guru memperbolehkan.</p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/10/0072.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-840" title="007(2)" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/10/0072-300x223.jpg" alt="" width="300" height="223" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Di kelas III, sudah tiap hari pada jam pelajaran kami diharuskan membaca bergiliran buku-buku sebanyak itu, masih juga kurang banyak. Kami masih harus belajar membaca buku bahasa Melayu. Yaitu <strong><em>Matahari Terbit. </em></strong>Jadi mengajar bahasa Melayu itu bukan dengan mencari arti kata-kata, bukan bagaimana menguraikan kalimat, bukan mencari kesamaan kata atau lawan kata, bukan begitu. Tetapi langsung <strong><span style="text-decoration: underline;">membaca buku cerita bahasa Melayu</span></strong>. Buku <em>Matahari Terbit </em>itu juga kumpulan cerita bahasa Melayu huruf ABC. Buku <em>Matahari Terbit </em>setahuku sampai 3 jilid. Tetapi saya paling ingat membaca jilid I pada pelajaran di kelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Kitab jang baharoe.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemarin kami disekolah. Djam jang ketiga kami akan membatja.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi kitab batjaan tak ada. Kitab jang lama soedah tammat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dipapan toelispoen tak poela ada batjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami amat heran. Kami memandang kepada goeroe. Ia menoenggoe</p>
<p style="text-align: justify;">sampai kami diam sekaliannja. Soedah itoe ia pergi kelemari.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa dikeloearkannja dari dalam lemari itoe?</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi di kelas III, Sekolah Angka Loro di desa 1940, pelajaran yang kami terima adalah: <strong><em>tiap hari membaca buku Tataran </em></strong>(bahasa Jawa huruf ABC), <strong><em>Ngréwangi Apa Ngrusuhi </em></strong>(bahasa Jawa huruf Hanacaraka), <strong><em>Kembang Setaman </em></strong>(bahasa Jawa huruf Hanacaraka), <strong><em>Ontjèn-Ontjèn </em></strong>(bahasa Jawa huruf ABC), <strong><em>Matahari Terbit </em></strong>(bahasa Melayu huruf ABC). Jam-jam pelajaran sehari-hari habis digunakan untuk belajar membaca buku. Dan buku tadi buku cerita, bukan buku pelajaran matematika, atau buku pelajaran bahasa Jawa. Buku cerita sama artinya dengan sastera. Cerita yang ditulis adalah sastera. Jadi artinya pelajaran awal sekolah itu yang paling penting adalah MEMBACA BUKU CERITA, alias membaca buku sastera. Karena selain <em>Matahari Terbit </em>semua buku cerita bahasa Jawa, berarti yang diajarkan utama sekolah di Sekolah Angka Loro tadi adalah MEMBACA BUKU SASTERA JAWA.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jadi mengajar sastera Jawa itu mudah. Yaitu asal ada guru yang bisa lancar membaca buku cerita bahasa Jawa. Ada buku cerita bahasa Jawa. Dan ada muridnya. Padahal orang yang lancar membaca buku cerita bahasa Jawa banyak. Tidak harus sarjana S1, S2 atau S3. Asal pelajaran sastera Jawa dilakukan seperti ketika saya kelas III Sekolah Angka Loro (1938-1941), yakni murid tiap hari diajari membaca buku cerita bahasa Jawa, maka murid pasti <span style="text-decoration: underline;">gemar membaca buku sastera Jawa</span>.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada kelas III Sekolah Angka Loro di Sragen (desa) tahun 1941 itu, pada pelajaran membaca buku bergiliran, tiap hari membaca 5 judul buku yang ditulis dengan 2 macam huruf (Hanacaraka dan ABC) dan dalam 2 bahasa (bahasa Jawa dan bahasa Melayu). Berbagai cara membaca buku diajari oleh guru. Guru mengajar dan membimbing bagaimana murid agar bisa membaca buku dengan cepat, sehat, tekun dan senang. Kalau membaca kepalanya jangan ikut menggeleng-geleng, yang bergerak pandang matanya saja. Adanya tanda-tanda bacaan, harus mengatur nada dan irama caranya membaca: kalau ada koma membacanya bagaimana, kalau ada tanda tanya caranya bersuara bagaimana. Itu tiap kali diajarkan kepada murid-muridnya ketika pelajaran membaca buku cerita itu. Cara membaca cepat, tidak lamban, bagaimana. Misalnya setelah sebulan para muridnya disuruh bergiliran membaca pada bab III buku <strong><em>Ontjèn-Ontjèn</em></strong>, semua sudah mendapat giliran dan membacanya sudah cukup baik, maka buku dibagi lagi pada awal pelajaran membaca buku, murid-murid disuruh membuka bab IV. Tidak disuruh membaca langsung bergiliran, melainkan selama 15 menit murid-murid disuruh membaca dalam hati cerita dalam bab IV, bab yang baru. Tiap murid membaca dalam hati bab IV yang baru mulai dibaca hari itu. Selagi para murid membaca dalam hati, guru tetap membimbing caranya membaca: Kalau membaca dalam hati bibirnya jangan ikut bergerak. Setelah 15 menit, beberapa murid disuruh menceritakan apa saja yang baru saja dibaca dalam hati tadi. Di situ bisa dilihat, kalau seorang murid betul membaca ceritanya tentu bisa menceritakan kisahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, selain tiap hari membaca buku di sekolah, juga diajari caranya membaca cepat, membaca tekun, membaca dalam hati. Tidak dibiarkan asal bisa membaca saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apakah selain membaca buku cerita tidak ada pelajaran lain?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ada. Ada pelajaran <strong>Bahasa Jawa </strong>(2X seminggu, bukan pelajaran membaca buku); <strong>Berhitung </strong>(3X seminggu); <strong>Olahraga </strong>(2X mata pelajaran, waktunya digabung, sehingga seminggu ada pelajaran olahraga 1X), <strong>Nembang </strong>(1X seminggu), <strong>Mendongeng </strong>(1X seminggu), <strong>Budi Pekerti </strong>(1X seminggu, yang mengajarkan Budi Pekerti bukan guru kelas, tetapi Kepala Sekolah). Kepada murid-murid juga dibagikan buku tulis untuk pelajaran <strong>menulis halus, dikte, berhitung </strong>seperti waktu di kelas II. Buku tulisnya tidak boleh dibawa pulang, tetap ditumpuk di kelas. Baru setelah buku tulisnya habis ditulisi, boleh dibawa pulang oleh murid yang bersangkutan, dan murid tadi diberi lagi buku tulis gratis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Pelajaran Bahasa Jawa</span></strong><strong>.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran Bahasa Jawa bukan dengan membaca buku bahasa Jawa. Pelajaran Bahasa Jawa bukan pelajaran sastera Jawa. Pelajaran Bahasa Jawa adalah pelajaran bagaimana murid bisa menulis bahasa Jawa dengan baik, dikte, mencari padanan kata, makna kata, menyusun kalimat. Untuk itu ada sendiri buku ajarnya (bukan buku bacaan cerita), yaitu judulnya: <strong><em>Maca Titi, Basa lan Carita. </em></strong>Buku ajar bahasa Jawa ini tidak tiap hari harus dibagi dan disuruh mempelajari, tetapi hanya 2 kali dalam seminggu. Tiap bab isinya: suatu cerita sangat pendek. Lalu di bawahnya ditulis ajaran bahasa yang harus dipelajari. Yaitu: (1) <strong>Ceritakan kembali luar kepala cerita tadi, </strong>(2)<strong> Uraikan arti kata-kata, cari persamaan dan lawan <em>(kosokbaliné) </em>sebuah kata, </strong>(3)<strong> Buatlah kalimat dengan suatu kata sehingga kalimat tadi bisa jelas arti katanya </strong>( kata yang digunakan untuk membuat kalimat harus yang ada di bacaan cerita sangat pendek tadi),<strong> </strong>(4) <strong>Tulislah lagi cerita di atas dengan kalimatmu sendiri.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di situlah guru betul mengajarkan BAHASA Jawa. Itulah <strong>buku ajar bahasa Jawa, </strong>bukan <strong>buku sastera Jawa. </strong>(<span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span> Pada kurikulum Pendidikan Nasional Indonesia 1975, pelajaran Sastera Indonesia disatukan dengan pelajaran Bahasa Indonesia, maka sejak itu pelajaran Sastera Indonesia tidak sempat lagi diajarkan di sekolah karena untuk membahas pelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar saja sudah sangat susah, sampai detik ini pun para selibriti tidak sanggup berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sastera Indonesia pun tidak di-UNAS-kan. Dan karena itu orang Indonesia tidak membaca sastera, tidak gemar membaca buku, tidak punya budaya membaca buku. Tapi sungguh mengherankan mengapa mendirikan Fakultas Sastera, dan di situ justru ada Sastera Jepang, Sastera Inggris. Artinya SASTERA ITU PENTING BAGI KEHIDUPAN MANUSIA. Mengapa pelajaran sastera ~ dibiasakan membaca buku cerita ~ dihilangkan dari sekolah dasar kelas I SD – kelas XII SMA?).</p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa bab dalam buku <strong><em> Maca Titi, Basa lan Carita </em></strong>tadi dihiasi dengan gambar cerita seperti komik. Satu cerita gambar terdiri dari 3 atau 4 <em>frame, </em>isi gambarnya urut dari gambar terkiri menuju ke kanan gambar anak desa menangis ditinggal emaknya pergi, dan gambar yang kemudian anak tadi kegirangan karena emaknya kembali membawa olèh-olèh. Seperti halnya bab lain yang menceritakan cerita sangat pendek, maka di bawah cerita gambar tadi juga ditanyakan: <strong>Ceritakan rangkaian gambar itu dengan kalimatmu sendiri,</strong> atau <strong>tulislah dengan kata-katamu sendiri cerita gambar di atas. </strong>Gambar-gambar pada buku itu mengingat saya pada gambar-gambar dongeng yang digantungkan di dinding kelas II. Jadi di dinding kelas II dulu itu gambar komik yang dicetak besar, dan yang di buku ajar bahasa Jawa tadi gambar komik di buku. Pada zaman saya itu, cara melihat komik saja dihubungkan dengan cara belajar bahasa Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada zaman itu, zaman Hindia Belanda, 1938-1941, di Sragen tidak beredar suratkabar atau majalah. Hampir seluruh penduduk buta huruf, hanya orang-orang tertentu bisa membaca dan menulis. Meskipun hanya sangat sedikit, mereka yang bisa membaca dan menulis tadi PASTI berbudaya membaca buku cerita/sastera. Ini bisa ditilik di Sragen waktu itu ada persewaan buku swasta, yang saya tahu dan pernah menyewa bukunya di Kuwungsari dan di Sragen Wetan dekat sekolah saya. Perpustakaan swasta tadi meminjam-sewakan buku cukup banyak, dan para peminjamnya juga cukup banyak. Sehingga bisa ditarik kesimpulan meskipun di Sragen (kota kecil) hampir seluruh penduduknya buta huruf, hanya sedikit yang melek huruf, namun membuka perpustakaan bisa mendapatkan penghasilan mencukupi. Yang disewa-pinjamkan setahu saya, atau yang saya mau pinjam, hanya buku cerita, baik buku cerita bahasa Jawa, Melayu, Belanda, baik buku cerita huruf ABC dan huruf Hanacaraka. Tidak menyewakan buku komik, majalah maupun suratkabar. Tidak menyediakan ruangan baca, jadi yang datang ke situ hanya untuk meminjam/menyewa buku, buku cerita atau sastera. Bukunya terletak berderet pada rak buku, para penyewa bisa mencarinya dan memilih sendiri langsung.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pun, meskipun waktu itu masih kelas III dan naik kelas IV Sekolah Angka Loro, suka meminjam buku di perpustakaan swasta tadi, dengan membayar dua sèn <em>(f 0,02) </em>tiap pinjam, boleh pinjam 2 buku dan lamanya meminjam 2 minggu. Pelajaran membaca buku cerita di sekolah membuat saya ingin membaca buku cerita buku-buku di luar pelajaran sekolah. Ingin membaca buku cerita yang beredar di masyarakat umum. Karena membaca buku cerita/sastera itu menyenangkan hati, menambah pengetahuan saya lebih meluas, mengubah takdir saya mengarungi hidup masa depan dengan arif bijaksana dan penuh cita-cita yang positif. <strong><em>Dulce et utile, </em></strong>kata Horace. Berpikir positif.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Pelajaran Nembang</span></strong><strong>.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran Berhitung, Pelajaran Olahraga, Pelajaran Budi Pekerti, merupakan mata pelajaran baru di kelas III, tetapi tidak menimbulkan perubahan mendasar dalam cara ajar-mengajar di kelas III. Pelajaran Mendongeng, caranya seperti pelajaran Mendongeng di kelas I dan II. Guru mendongeng, murid pada pelajaran mendongeng minggu berikutnya disuruh mendongengkan cerita yang diajarkan guru minggu lalu bergiliran seorang demi seorang di depan kelas. Tidak lagi menggunakan gambar komik yang di dinding kelas II tahun lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran <strong>Nembang, </strong>caranya masih seperti pelajaran Nembang pada kelas II, yaitu guru menulis tembang di papantulis dengan huruf Hanacaraka, dan guru mengajarkan caranya murid harus menyanyikan <strong>lagu dolanan </strong>dengan menunjuk-nunjuk tulisan di papantulis. Tapi objek lagunya yang berbeda. Yang ditulis di papantulis bukan lagi <strong>lagu dolanan, </strong>melainkan <strong>tembang macapat </strong>alias <strong>SASTRA JAWA </strong>tingkat tinggi. Jadi sejak kelas III Sekolah Dasar Angka Loro, kami telah diajari bagaimana luhurnya penciptaan sastra Jawa zaman itu. Yang ditulis guru di papantulis dan para murid disuruh menghafalkan nada dan irama lagunya adalah syair lagu tembang Kinanthi: <strong><em>Padha gulangen ing kalbu&#8230;., </em></strong>tembang Mijil: <strong><em>Dedalané guna lawan sekti&#8230;., </em></strong>tembang Dhandhanggula: <strong><em>Yogyanira kang para prajurit, ingkang bisa sira anulada&#8230;..,</em></strong> tembang Sinom: <strong><em>Sun iki dhutaning nata, Prabu Kenya Majapait&#8230;..</em></strong>Sasstra Jawa gaya lama semua dicipta menggunakan tembang, ceritanya dicipta dengan dasar memperhitungkan <strong><em>guru gatra, guru lagu, guru wilangan. </em></strong>Tiap kalimat, baris maupun kata akhir harus disesuaikan dengan aturan tembang macapat tadi. Peraturan mencipta cerita atau sastera seperti itu tidak mungkin bisa kita nikmati kalau kita tidak diajari sastra Jawa, dan tidak mungkin kita tiba-tiba menciptakan cerita sastra Jawa dengan berlagu seperti itu kalau sebelumnya kita tidak diajari aturan-aturan menulis sastra Jawa adiluhung seperti itu. Lalu di mana kita bisa belajar menikmati dan mencipta peraturan sastra Jawa seperti itu kalau di sekolah tidak diajarkan sastra Jawa?</p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran <strong>Nembang </strong>di kelas III waktu itu yang diajarkan oleh guru tembang macapat, dan pada jam pelajaran Nembang minggu berikutnya para murid disuruh menirukan Nembang di depan kelas, tidak membuat murid sangat kesukaran. Sebab pada zaman itu, semua penduduk Kota Sragen berbicara bahasa Jawa, dan meskipun buta huruf tidak bisa membaca buku, mereka dengan nonton wayang maupun kethoprak atau tontonan yang lain, telah hafal pula lagu-lagu tembang macapat seperti itu. Oleh para penggiat seni Jawa, buku-buku sastera Jawa sudah disawalakan, dijabarkan dan disiarkan menjadi senisuara dan senitontonan yang bisa diperdengarkan dan ditonton. Dari pusat kerajaan yang pusatnya seniman Jawa terpelihara dan berkreasi/inovasi hingga bocah angon (penggembala ternak) di puncak gunung sudah hafal secara lisan jenis-jenis lagu sastera Jawa yang dicipta tertulis dan terdapat di buku-buku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan mengajari <strong>Nembang </strong>seperti yang dilakukan oleh guru kelas III Sekolah Angka Loro di desa seperti itu, maka mengajarkan sastera Jawa yang penuh aturan sehingga peliknya begitu rupa ya ternyata gampang saja. Yaitu asal ada guru yang bisa menulis dan menuturkan nada tembang sastera Jawa adiluhung, ada tulisan yang dijadikan pedomannya, dan ada muridnya, ya teknik mengajarkan sastera Jawa itu mudah. Para murid tidak usah mencatat tulisan guru di papantulis. Hanya mengikuti saja apa yang guru memimpinnya menyuarakan nada tembang sambil menunjuk tulisannya di papantulis, maka pada pelajaran <strong>Nembang</strong> minggu berikutnya ketika para murid seorang demi seorang berdiri di depan kelas untuk menyanyikan tembang macapat yang diajarkan minggu lalu sudah pada hafal. Gampang banget. Namun, juga harus diajarkan di sekolah oleh guru. Kalau tidak, ya sastera Jawa adiluhung hanya akan ditemukan oleh orang Jawa dalam bentuk lisan dari mulut ke mulut (karena banyak orang Jawa zaman itu ~ dan zaman sekarang ~ tidak membaca buku, maka ‘pelajaran hidup’ yang diterimanya (termasuk tembang Jawa adiluhung) pelajaran hidup yang diubah-ubah secara lisan mungkin sekali sudah berubah menjadi pelajaran hidup yang menyesatkan. Segala hal yang diterima secara indrawi, atau secara lisan, sangat rawan diterima dengan baik, hingga menimbulkan salah tangkap dan kalau dijadikan pedoman hidup menjadi kelakuan yang melenceng dari kebaikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelas IV Sekolah Angka Loro (1941-1942)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saya naik kelas IV tahun 1941. Mata pelajaran yang diajarkan di kelas banyak berubah dari mata pelajaran di kelas III. Tambahan mata pelajaran yang baru adalah Ilmu Bumi. Di kelas III belum diajari Ilmu Bumi. Ilmu Bumi diajarkan 2X seminggu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada mata pelajaran Ilmu Bumi yang diajarkan pertama kalinya adalah menggambar peta wilayah Kabupaten Sragen. Di dinding kelas IV ada tergantung gambar-gambar besar peta wilayah Kabupaten Sragen, peta wilayah Kerajaan Surakarta, peta wilayah Kerajaan Jogjakarta, peta wilayah Jawa Tengah, serta gambar peta seluruh dunia. Gambar peta wilayah Kabupaten Sragen, Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Jogjakarta, dasarnya putih, gambarnya garis-garis hitam dan merah (dua warna). Sedangkan peta wilayah Jawa Tengah dan Dunia cetakannya warna warni, misalnya untuk laut berwarna biru, untuk darat dataran rendah berwarna hijau, daerah pegunungan dan gunungnya berwarna cokelat. Saya ingat, pada peta wilayah Kerajaan Surakarta ada dimasukkan wilayah Imagiri juga digambar, gambarnya terlihat di luar batas wilayah Kerajaan Surakarta, sehingga pada peta tadi gambar wilayah Imagiri seperti merupakan pulau di luar batas wilayah Kerajaan Surakarta..</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk pelajaran menggambar peta wilayah Kabupaten Sragen, kami diberi buku gambar (polos, tidak bergaris, dan kertasnya tebal) gratis. Kami juga diberi buku tulis yang bergaris seperti waktu di kelas II dan kelas III. Bahkan banyaknya sampai 5 buku tulis, untuk mencatat beberapa mata pelajaran. Pada kelas IV ini buku tulis yang dipakai untuk mencatat pelajaran boleh dibawa pulang. Oleh karena itu sejak kelas IV murid-murid bersekolah membawa tas.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu dari mata pelajaran Ilmu Bumi digunakan menggambar peta, satu yang lain digunakan untuk mencatat (mencoto) tulisan guru di papantulis. Pelajaran menggambar peta wilayah Kabupaten Sragen, guru hanya memindahkan gambar besar peta wilayah Kabupaten Sragen dari dinding kelas ke papantulis. Lalu menerangkan sedikit bahwa untuk batas-batas kabupaten tandanya deretan tanda “tambah-titik-tambah-titik” (+.+.+.+), untuk batas kaonderan (kecamatan) tanda “suda-titik-suda-titik” (~.~.~.~). Lalu jalan raya digambar dengan warna merah, pegunungan dengan warna cokelat. Warna-warna lainnya (tanah datar warna hijau seperti gambar peta wilayah Jawa Tengah, laut berwarna biru) tidak usah diikuti pada gambar yang dibuat oleh murid-murid. Pensil warna disediakan oleh sekolah, dipakai berganti-gantian oleh murid, tidak boleh dibawa pulang. Buku gambarnya boleh dibawa pulang, tetapi pensilnya tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran menggambar peta wilayah Kabupaten Sragen berlangsung tiga empat kali jam pelajaran (satu bulan), satu gambar selesai. Diberi angka oleh guru. Namun pelajaran menggambar peta Kabupaten Sragen tidak hanya digambar satu kali. Tetapi sampai tiga kali. Jadi untuk pelajaran menggambar peta wilayah Kabupaten Sragen saja dibutuhkan waktu 3 bulan. Setelah itu baru pada pelajaran menggambar peta, murid disuruh menggambar peta wilayah Kerajaan Surakarta. Seperti halnya menggambar peta wilayah Kabupaten Sragen, murid juga disuruh menggambar tiga kali wilayah Kerajaan Surakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum kami beranjak menggambar peta wilayah berikutnya (Jogjakarta atau Jawa Tengah?) Balatentara Dai Nippon datang menyerbu Pulau Jawa (Maret 1942). Dan saya dibawa Ibu pindah ke Surabaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada jam pelajaran Ilmu Bumi yang lain digunakan untuk mencatat pelajaran Ilmu Bumi yang ditulis oleh guru di papantulis. Guru menulis di papantulis dengan huruf ABC Latin (tulis tangan, bukan tulis huruf cetak). Karena di kelas III murid-murid sudah dengan tekun disuruh belajar menulis tangan huruf ABC, maka mencoto tulisan guru di papantulis tidak menimbulkan kesulitan. Kami murid-murid sudah dengan cepat dan lancar menulis huruf Hanacaraka dan huruf ABC tulisan tangan (bersambung, tidak per huruf seperti huruf cetak, dan biasanya kami menyebut tulisan latin). Yang ditulis guru di papantulis juga tidak banyak. Misalnya:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Kabupaten Sragen</span></p>
<p style="text-align: justify;">Kabupaten Sragen klebu wengkoné Krajan Surakarta Hadiningrat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Watesé:</span> Sisih wétan Kabupaten Ngawi. Kulon Kabupaten Bojolali.</p>
<p style="text-align: justify;">Elor Kabupaten Jepara-Rembang. Kidul Kabupaten Wonogiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Seterusnya ditulis terbagi jadi berapa Kawedanan utawa Onder-district, masing-masing Onder-district disebut namanya, misalnya <strong>Sambung-macan, Kedhawung, Sukoharjo, Masaran, Tangen, Gemolong.</strong> Keadaan tanahnya: bagian besar dataran rendah yang subur, dipetak-petak jadi persawahan dan perdesaan. Hasil sawah digilir antara padi yang digarap oleh petaninya, dan tebu yang digarap/sewa oleh pabrik gula Mojosragen. Tanah di sebelah utara ada Pegunungan Kendeng yang berbatu kapur, ditanami hutan jati milik Pemerentah Hindia Belanda. Di manapun pohon jati tumbuh, misalnya di kebun seorang warga di luar hutan jati, adalah milik Pemerintah Hindia Belanda, semua warga perorangan tidak boleh memilikinya, menebang, dan menjual-belikan. Di sebelah selatan termasuk sedikit kaki Gunung Lawu, tanahnya subur, dijadikan tanah <strong><em>onderneming</em></strong> <em>(= budidaya perkebunan) </em>hutan karet dan kopi juga milik perusahaan Belanda. Penduduk Kabupaten Sragen paling banyak petani, hidup dari menanam padi dan hasil persewaan kebun tebu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, Ilmu Bumi seperti itulah yang dicatat oleh guru di papantulis, yang juga dicontoh oleh murid-murid kelas IV. Kalau penulisan selesai, lalu diterangkan (diulas) oleh guru. Guru menunjuk gambar batas Onder-district Tangen yang letaknya pada bagian atas (utara) dari gambar peta Kabupaten Sragen, murid disuruh melihat dan menghafalkan. Pada pelajaran selanjutnya, murid disuruh berdiri di depan kelas, menjawab pertanyaan guru tentang Ilmu Bumi yang ditulis oleh guru di papantulis pelajaran yang lalu, atau disuruh menunjuk di gambar peta Kabupaten Sragen di mana batas-batas Onder-district Sambung-macan. Tentu saja pelajaran Ilmu Bumi tentang Kabupaten Sragen begitu harus berlangsung berminggu-minggu. Kalau semua murid sudah mendapat giliran menjawab pertanyaan guru, baru pelajaran Ilmu Bumi seperti itu dilanjutkan dengan Wilayah Karesidenan Surakarta, yang terdiri atas dua wilayah Kerajaan, yaitu Kerajaan Surakarta Hadiningrat dan Kerajaan Mangkunegaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Membaca buku cerita di kelas bergiliran masih berlanjut, yaitu buku <strong><em>Kembang Setaman </em></strong>jilid III (kumpulan cerita pendek bahasa Jawa huruf Hanacaraka), <strong><em>Ontjèn-ontjèn </em></strong>(kumpulan cerita pendek bahasa Jawa huruf ABC), <strong><em>Matahari Terbit </em></strong>jilid II (kumpulan cerita pendek bahasa Melayu huruf ABC). Buku cerita satu buku satu lelakon keluarga seperti <em>Siti Karo Slamet, Kuncung Karo Bawuk, Gothang Karo Klentreng, </em>yang pernah diajarkan di kelas II dan III, tidak ada lagi. Tetapi ada keharusan tiap murid harus meminjam buku (gratis) ke perpustakaan sekolah, yaitu buku-buku penerbitan Balai Pustaka. Letak buku perpustakaan tadi di kelas V, tiap jam istirahat pertama ada guru yang melayani peminjaman buku-buku tadi. Yang boleh dan harus pinjam buku murid kelas IV. Murid kelas V saya tidak tahu, karena waktu pinjam buku di perpustakaan kelas V yang saya lihat hanya murid-murid kelas IV teman saya sekelas, itupun murid kelas IV waktunya dibagi 6 hari, dilayani pinjam buku sejak hari Senin sampai dengan Sabtu. Jadi jumlah yang dilayani peminjaman buku tiap hari tidak terlalu banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiap murid kelas IV boleh meminjam buku tiap kali 2 buku, dipinjam dibawa ke rumah paling lama selama 2 minggu. Selain yang melayani peminjaman di perpustakaan, murid kelas IV yang pinjam buku pun bukunya dicatat oleh guru kelas IV (ditunjukkan kepada guru kelas IV). Nah, meskipun tidak lagi diajari membaca satu buku cerita keluarga berganti-ganti bersama murid satu kelas di kelas IV, dari buku pinjaman perpustakaan sekolah kami membaca buku lakon-lakon cerita (novel atau roman). Bagaimana pun juga, setelah diajari budaya membaca buku cerita (sastera), di kelas IV kami sudah punya kegemaran baca buku cerita lakon seperti itu. Buku Balai Pustaka di perpustakaan sekolah dibagi jadi 3 golongan, yaitu A (bahasa Jawa huruf Hanacaraka), B (bahasa Jawa huruf ABC), dan C (bahasa Melayu huruf ABC). Murid kelas IV bebas memilih buku yang dipinjam. Tapi kebanyakan yang dipinjam golongan A dan B. Ceritanya mudah (karena bahasa Jawa) dan jadi populer karena para murid kelas IV yang telah meminjam dan membaca buku tadi lalu bercerita kepada temannya. Dan teman yang lain juga bergairah untuk membaca buku tadi. Yang meminjam dan membaca buku golongan C jarang, dan tidak terdengar cerita tentang buku bahasa Melayu yang dipinjam tadi. Saya sendiri juga tidak pernah pinjam buku golongan C. Selain bukunya tebal-tebal, bahasanya bukan bahasa Jawa, ceritanya lelakon yang asing.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun begitu, dengan meminjam gratis di perpustakaan sekolah, kegiatan dan kegairahan kami murid kelas IV membaca buku sangat tinggi. Belum sampai 2 minggu, sudah habis kami baca, lalu kami kembalikan dan meminjam lagi 2 buku cerita yang lain. Dari meminjam dan membaca buku dari perpustakaan sekolah tadi, di kelas IV saya sudah membacai buku-buku: <em>Alap-alap Dursilawati, Alap-alap Surtikanthi, Abimanyu Kerem, Srikandhi Meguru Manah </em>(cerita wayang, huruf Hanacaraka, format bukunya besar, mungkin 21X28Cm, ada gambar-gambar wayang yang sedang dalam cerita, kebanyakan gambar wayang tadi lukisan A.Kasidi), <em>Pak Banjir Jamu Turu, Kraton Marmer, Ni Wungkuk, Sri Kumenyar, Ngulandara </em>(bahasa Jawa huruf ABC). Sangat biasa, sebelum memilih pinjam buku yang judulnya <em>Anu, </em>kami sudah diceritai dulu oleh murid cerita tentang buku <em>Anu </em>tadi. Dan setelah sama-sama kami baca, kami jadi saling bicara mengenai buku <em>Anu </em>tadi waktu mengaso. Buku <em>Anu </em>tadi jadi hidup di antara kami murid-murid kelas IV Sekolah Angka Loro tahun 1941-1942.</p>
<p style="text-align: justify;">Peminjaman buku di perpustakaan sekolah bukan saja diperbolehkan, melainkan oleh guru kelas IV diharuskan. Karena pasti buku yang dipinjam ditunjukkan kepada guru kelas IV, dicatat. Dan ada jam pelajaran khusus seminggu 2X guru kelas IV menanyai murid-muridnya bagaimana saja cerita buku yang dipinjam oleh murid. Dari tanya jawab tadi guru kelas IV mengetahui buku-buku yang dipinjam dari perpustakaan kelas itu dibaca dinikmati atau tidak. Jawaban murid tadi diberi angka yang menentukan kenaikan kelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya para murid kelas IV bebas memilih buku apa saja yang dipinjam di perpustakaan sekolah. Namun, dari pelajaran membaca buku bersama di kelas yang masih diajarkan, guru kelas IV tahu kemampuan para muridnya membaca buku. Kalau ada yang lambat membaca buku di pelajaran kelas, guru bisa menganjurkan agar murid tadi meminjam buku judul tertentu di perpustakaan sekolah. Dan pembacaannya pun diperhatikan khusus oleh guru kelas IV. Jadi, meskipun di luar pelajaran membaca buku bersama di kelas, guru tetap membimbing murid-muridnya membaca buku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kelas IV tadi beberapa teman kegairahannya membaca buku cerita sangat tinggi, mereka pun mengajak mencari bacaan buku lain di luar perpustakaan kelas. Saya ikut ajakannya, meminjam buku di perpustakaan swasta di dekat sekolah kami, dan bahkan di persewaan buku di Kuwungsari (yang letaknya jauh dari tempat tinggal saya). Selain itu, suasana sekeliling saya mendukung kegemaran saya membaca buku. Yaitu Ibu saya bekerja sebagai pembantu di rumah Bupati Sragen (Mr. Wongsonegoro), saya bergaul serumah dengan putera-putera Pak Bupati, yang sebaya dengan saya bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School). ELS adalah sekolah dasar untuk orang-orang Belanda, hanya orang Jawa yang sangat berpengaruh (seperti halnya Bupati) anaknya boleh masuk sekolah di ELS. Masuk halaman sekolah sudah harus bicara bahasa Belanda. Lama belajar 7 tahun tamat. Bergaul dan bertempat tinggal dengan mereka, maka suasana kehidupan saya berbeda. Di sana tersedia juga <em>trommel-tijdschrift, </em>yaitu persewaan berbagai majalah dan tabloid bahasa Belanda yang terbit di Hindia Belanda, ditempatkan pada sebuah kotak. Penghuni rumah Bupati, termasuk putera-puteranya dan saya juga, bebas melihat-lihat majalah apa saja yang berada di kotak sewaan tadi. Di situ saya mengenal majalah-majalah bahasa Belanda, dengan gambar-gambarnya yang bagus, ada juga <em>strip </em>atau cerita gambar (komik). Ada putera Pak Bupati (Ndrajeng Tanti) yang sekolahnya sudah kelas V ELS, bahasa Belandanya sudah <em>flot, </em>suka menterjemahkan cerita yang sedang kami lihati. Suasana membukai majalah-majalah bahasa Belanda kian menarik bagi saya. Tiap 2 minggu sekali kotak berisi majalah dan tabloid itu diganti oleh pemilik kotak. Tiap kali ada majalah dan tabloid serta gambar komik baru yang dengan gairah kami lihati. Majalah yang saya ingat dan suka menyemaknya adalah: <em>De Lacht </em>(cerita dan gambarnya lucu-lucu). Dan ada majalah <em>D’Oriënt, </em>yang sangat terkesan ketika salah satu cerita yang dimuat di situ diterjemahkan oleh Ndrajeng Tanti. Ndrajeng Tanti sangat menyukai buku-buku yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Kami seringkali bersawala dengan buku-buku yang habis kami baca. Akhirnya buku pinjaman dari perpustakaan sekolah tidak lagi memuasakan, saya pun mencari buku bacaan di persewaan buku swasta, di dekat sekolah saya dan di Kuwungsari. Dari perpustakaan swasta tadi saya ingat berhasil membacai buku yang bukan diterbitkan oleh Balai Pustaka, misalnya: <em>Solo Peteng, Topèng Emas, Tarzan Kethèk Putih, Tarzan Bali.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Bulan Maret 1942 Jepang datang ke Indonesia. Suasana di rumah Bupati Sragen Wongsonegoro berubah. Ibu keluar dari menjadi pembantu di sana, dan mengajak pindah ke Surabaya (bulan Agustus 1942).  Di Surabaya Ibu menjadi pembantu kemenakannya, yang suaminya menjadi Asisten Bupati Kabupaten Surabaya (kantor dan rumah bupatinya di Jalan Gentengkali 85 – 87 Surabaya). Dengan begitu saya mendapat pelajaran di kelas IV Sekolah Angka Loro di Sragen terputus di tengah jalan. Namun, saya sudah suka membaca buku, terutama buku bahasa/sastera Jawa. Pelajaran sastera Jawa yang diajarkan di Sekolah Angka Loro di Sragen itu yang membuat saya gemar membaca buku. Yaitu tiap hari masuk sekolah pelajaran yang paling utama ya <span style="text-decoration: underline;">membaca buku cerita, membaca buku cerita, membaca buku cerita, membaca buku cerita.</span> Cerita yang tertulis adalah sastera. Jadi membaca buku cerita bahasa Jawa ya artinya membaca buku sastera Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata mengajar sastera Jawa itu mudah. Yaitu ada guru yang bisa membaca bahasa Jawa, ada bukunya sastera Jawa, dan ada muridnya yang belajar sastera Jawa. Tiap hari guru membimbing murid membaca buku sastera Jawa. Hanya begitu setiap hari masuk sekolah, maka selama 4 tahun sekolah di Sekolah Angka Loro di Sragen saya (dan teman-teman sekelas saya) sudah gemar membaca buku sastera Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengingat-ingat pelajaran yang diberikan guru sejak kelas I sampai kelas IV di Sekolah Angka Loro di Sragen, tiap tahun berganti-ganti murid, pelajaran yang diajarkan di tiap kelas sama seperti yang saya alami. Di kelas I (1938), saya diajari membaca huruf Hanacaraka, dan membaca kalimat di buku: NINI LARA MATA. SIWA DIPA SILA. Setelah saya kelas IV (1941-1942) saya dengar adik-adik saya di kelas I juga diajari membaca buku seperti itu: NINI LARA MATA. SIWA DIPA SILA. Lalu waktu tahun ajaran berjalan agak lama terdengar murid kelas I belajar membaca: ASUNĒ SĒNA. Ketika saya di kelas III dan IV, saya dengar murid kelas I waktu itu diajari <strong><em>lagu dolanan, </em></strong>lagu-lagu yang diajarkan ya lagu yang diajarkan kepada saya waktu saya kelas I. Dan saya dengar murid kelas II diajari <strong><em>nembang lagu dolanan</em></strong> dengan cara guru menulis lagunya dengan huruf Hanacaraka di papantulis, lagu: <strong><em>Pendhisil, Katé Dipanah, Jalak Pita, </em></strong>persis yang saya alami waktu kelas II dulu. Dan ketika saya di kelas IV, pelajaran <strong><em>nembang </em></strong>di kelas III cara mengajarnya guru menulis di papantulis huruf Hanacaraka, murid diajari nembang bait-bait sastera Jawa adiluhung seperti: <strong><em>Padha gulangen ing kalbu&#8230;.</em></strong> <strong><em>Dedalané guna lawan sekti&#8230;. Yogyaniru kang para prajurit&#8230;.. Suniki dutaning Nata&#8230;.</em></strong> Begitu pula pelajaran <strong><em>mendongeng. </em></strong>Yang didongengkan di kelas I ya dongeng yang dulu waktu saya kelas I.<strong><em> </em></strong>Di kelas II ya dongeng yang diajarkan kepada saya sewaktu saya kelas II, dan caranya pun menggunakan gambar komik yang besar yang digantung di dinding kelas II. Dan eloknya, guru kelas I, guru kelas II, dan seterusnya ya guru-guru yang dulu mengajar saya waktu kelas I, kelas II dan seterusnya. Dengan cara mengajarkan mambaca ASUNĒ SĒNA tiap tahun ganti murid seperti itu, mengajarkan lagu: <strong><em>Jalak-jalak pita </em></strong>tiap tahun ganti murid seperti itu, mengajarkan tembang: <strong><em>Dedalané guna lawan sekti</em></strong> tiap tahun ganti murid seperti itu, tentu saja para guru tadi pasti sudah hafal betul bagaimana mengajarnya tiap tahun ganti murid. Dan karena hal itu selalu berulang pada tahun pengajaran yang sama, maka saya berkesimpulan bahwa semua apa yang diajarkan di kelas-kelas Sekolah Angka Loro sudah diprogramkan secara baku dari dinas pendidikan setempat (Kabupaten), atau bahkan se-Karesidenan, se-Provinsi. Pengetahuan saya lebih jauh tentang cara mengajar dan bahan ajar di sekolah dasar seperti itu tetap diterapkan pada zaman awal Kemerdekaan RI (1950-1960), Mas Tamsir AS, yang usianya 5 tahun lebih muda daripada saya, belajar di Sekolah Dasar pada tahun-tahun Indonesia telah merdeka di Tulungagung, juga diajari membaca buku <strong><em>Kuntjung Karo Bawuk.</em></strong> Mas Tamsir AS adalah sasterawan Jawa yang terkenal dengan mendirikan Sanggar Sastera Triwida di Blitar, Tulungagung, Trenggalek. Dalam pimpinan dan bimbingannya Sanggar Sastera Triwida melahirkan banyak pengarang sastera Jawa dan panulis buku-buku ajar bahasa Jawa dan Indonesia. Mas Tamsir AS sangat cenderung membimbing anggota sanggarnya atau juga muridnya (dia guru SD) agar gemar membaca buku dan sedapat mungkin menulis buku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahwa pergantian guru kelas tentulah pasti berlangsung, itu bisa ditandai dengan adanya calon guru yang diikutkan suruh praktik mengajar ketika saya kelas II. Beberapa calon guru disuruh mengajar beberapa mata pelajaran, ditunggui dan diamati oleh guru kelas kami. Para calon guru tadi ikut mengajar hanya pada jam-jam tertentu, atau pelajaran tertentu saja. Setelah itu pergi. Sekali gus yang ikut praktik mengajar sampai 3-4 orang. Dan mereka juga datang praktik mengajar begitu sampai berulang kali datang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>II</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>MENGAJAR SASTERA JEPANG ITU MUDAH</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Oleh Suparto Brata</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jepang menyerbu Tanah Jawa bulan Maret 1942. Saya pindah dari Sragen ke Surabaya bulan Agustus 1942. Masuk Sekolah Rakyat di Moendoeweg, tempatnya di depan Stadion Tambaksari. Sekolah Rakyat di Moendoeweg ketika itu sudah dibuka sejak kelas I sampai kelas VI. Saya langsung masuk belajar di kelas IV.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sekolah Rakyat Moendoeweg.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada zaman Jepang, tingkat-tingkat sekolah disamakan. Awal belajar di sekolah namanya Sekolah Rakyat <strong><em>(Kokumin Gakkõ), </em></strong>lama belajar 6 tahun tamat. Jadi lain dengan pada zaman Hindia Belanda, ada Sekolah Angka Loro (sekolah desa, 5 tahun tamat), ada sekolah HIS, HCS, ELS (7 tahun tamat). Sampai sekarang sekolah rakyat 6 tahun tamat tadi terus berlangsung.</p>
<p style="text-align: justify;">Gedung Sekolah Rakyat Moendoeweg jelas bahwa dulunya yang menggunakan anak-anak bangsa Belanda (Europeesche Lagere School). Bangunan gedungnya maupun fasilitas alat-alat sekolahnya sangat mewah. Ya karena dulu yang sekolah di situ anak Belanda melulu, pada zaman Jepang muridnya kosong. Sekolahnya ditutup. Karena yang dimusuhi Jepang adalah penjajah Belanda. Jadi kini dibuka sebagai Sekolah Rakyat oleh pemerintah Balatentara Dai Nippon, guru-gurunya dan murid-muridnya juga baru semua. Baru dikumpulkan dari sekolah-sekolah yang dulunya dari sekolah swasta atau Sekolah Angka Loro seperti sekolah saya di Sragen itu. Langsung dibuka dari kelas I – VI lengkap dengan guru-gurunya yang semuanya juga orang Jawa. Muridnya anak-anak Jawa semua yang rumahnya di dekat-dekat sekolah Moendoeweg itu, yaitu anak-anak dari kampung Tambaksari, Bogen, Jagiran, Karanggayam, Ora-Ora. Betul-betul <strong><em>arèk-arèk kampung Surabaya.</em></strong> Orangtuanya bekerja sebagai kuli, buruh pabrik, tukang bangunan, petani. Semua anak laki-laki. Tidak ada anak perempuan kampung bersekolah. Semua murid Sekolah Rakyat Moendoeweg telanjang kaki (tidak bersepatu), kepalanya semua digundul. Begitu juga saya.</p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/10/00821.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-842" title="008(2)" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/10/00821-300x214.jpg" alt="" width="300" height="214" /></a></p>
<p><strong>Pak Suwarno Guru sastera Jepang.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di seluruh sekolah yang saya tahu yang mengajar bahasa Jepang Pak Suwarno. Yang jelas Pak Suwarno mengajar bahasa Jepang di kelas IV, V dan VI. Kelas I, II, III entah siapa yang mengajar bahasa Jepang, atau apakah di kelas I, II, III juga sudah diajari bahasa Jepang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Suwarno caranya mengajar bahasa Jepang seperti halnya guru kelas II atau kelas III Sekolah Angka Loro di Sragen mengajarkan pelajaran <strong><em>Nembang. </em></strong>Yaitu guru menulis di papantulis, lalu mengajari murid mengucapkan tulisan guru di papantulis sambil menunjuk huruf demi huruf banyi haruf yang ditulis oleh guru tadi. Bedanya, guru yang mengajarkan pelajaran <strong><em>Nembang </em></strong>dulu kami murid-murid tidak disuruh mencatatnya. Karena yang diajarkan <strong>tembang </strong>bahasa Jawa, dan murid semua di Sragen bertutur bahasa Jawa, bunyi <strong>tembang </strong>tadi setelah diajari caranya menuturkan (menyuarakan/menyanyikan) segera hafal karena artinya pun dengan sendirinya sudah pada dimengerti (bahasa Jawa). Sedang yang diajarkan oleh Pak Suwarno bahasa Jepang, yang ditulis di papantulis juga bahasa Jepang huruf Katakana, oleh karena muridnya tidak bertutur bahasa Jepang, jadi murid harus mencatat apa yang ditulis di papantulis oleh Pak Suwarno, agar di luar kelas murid bisa menghafalkan bahasa Jepang yang ditulis oleh Pak Suwarno dari catatan tulisannya si murid sendiri. Dengan begitu, selain murid belajar <span style="text-decoration: underline;">membaca</span> huruf Katakana dan tahu artinya, juga dibiasakan <span style="text-decoration: underline;">menulis</span> huruf Katakana.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Suwarno menulis di papantulis bahasa Jepang dengan huruf Katakana. Huruf Katakana itu coraknya (gambarnya) sangat beda dengan huruf Hanacaraka, tetapi sistemnya hampir sama dengan huruf Hanacaraka. Yaitu tiap bunyi, ada gambar hurufnya. Ada bunyi HA, maka gambar hurufnya ada satu buah. Ada bunyi Na, maka gambar hurufnya juga ada satu buah. Kalau bunyinya digabung HANA, maka gambar huruf Hanacarakanya juga dua buah, dan huruf Katakananya juga dua buah, yaitu gambar huruf HA dan gambar huruf NA. Hanya bedanya, kalau huruf Hanacaraka, jumlah seluruhnya 20 gambar bunyinya <strong>“aaa” </strong>semua, kalau mau mengganti bunyi jadi <strong>“iii” </strong>tiap huruf harus diberi tambahan “pakaian” <em>(sandhangan), </em>tanda bulatan kecil di atas huruf <strong>“aaa”</strong>, kalau mau diganti bunyi <strong>“uuu” </strong>huruf yang bunyinya semula <strong>“aaa” </strong>ditambah “pakaian” tanda panjang di bawah huruf <strong>“aaa”,</strong> dan seterusnya bisa diubah bunyi huruf yang asalnya bernada <strong>“aaa” </strong>menjadi <strong>“iii” </strong>atau <strong>“uuu”. </strong>Asal muasal 20 huruf Hanacaraka yang nadanya (bunyinya) <strong>“aaa” </strong>disebut <em>“nglegena” (= telanjang). </em>Agar berbunyi <strong>“iii”, “uuu”, “ééé”, “ooo”,</strong> diberi <em>“pakaian” (= sandhangan)</em> yang tandanya berbeda-beda pula tetapi huruf  asal muasal <em>“nglegena” </em>harus ditulis. Tanda gambar “pakaian” <strong>“iii” </strong>namanya <em>“wulu”, </em>“pakaian” <strong>“uuu” </strong>namanya <em>“suku”, </em><strong>“ééé” </strong>namanya <em>“taling”, </em><strong>“ooo” </strong>namanya <em>“taling-tarung”. </em>Maka, huruf Hanacaraka yang asal mulanya <em>telanjang </em> berbunyi <em>Hanacaraka, </em>agar bisa berbunyi <em>Hiniciriki </em>tiap huruf harus diberi <em>pakaian </em>“wulu”, agar bisa berbunyi <em>Hunucuruka </em>tiap huruf harus diberi <em>pakaian </em>“suku”, kalau bunyinya <em>Hénécéréké pakaiannya </em>“taling”, kalau bunyinya <em>Hoonoocoorookoo pakaiannya </em>“Taling-tarung”. Sedang huruf gambar hurf Katakana jumlahnya ada 50, karena tiap huruf yang <em>nglegena </em>pada huruf Hanacaraka, agar bunyinya menjadi <strong>“iii”, “uuu”, “ééé”, “ooo”, </strong>bukan diberi tanda “pakaian” melainkan ada gambarnya sendiri. Jumlah gambar huruf Katakana adalah gambar huruf  A, KA, SA, TA, NA, HA, MA, YA, RA, WA (10 gambar huruf) dikalikan huruf yang bersuara <strong>“aaa”, “iii”, “uuu”, “ééé’,”ooo” </strong>(5 macam bunyi), (10X5) ada 50 huruf. Ada beberapa bunyi huruf yang sama gambarnya, yaitu huruf KA = GA, TA = DA, HA=PA=BA, hanya diberi semacam tanda kutip, sehingga dengan demikian gambar hurufnya tidak bertambah (tetap 50 macam gambar).</p>
<p style="text-align: justify;">Tentang belajar menghafal corak huruf Katakana (sebanyak 50 macam gambar tadi), sewaktu saya masih di kelas IV Sekolah Angka Loro di Sragen, setelah Jepang mendarat di Pulau Jawa, sudah diajari menghafal 50 macam huruf Katakana. Dan ditambah gambar yang diberi tanda kutip KA, TA, HA. Serta diajari bagaimana cara menulisnya. Diajari selama April-Agustus 1942 (pendudukan Jepang sampai saya pindah ke Surabaya), yang mengajari ya guru kelas IV Sekolah Angka Loro, maka kami semua ~ termasuk saya ~ sudah hafal. Namun, waktu di kelas IV di Sragen tadi, kami belajar dengan menggunakan buku <strong><em>Maki It, </em></strong>(buku pelajaran bahasa Nippon jilid I yang juga dibagi, dibaca dan disemak bersama satu kelas, dan disimpan lagi di almari sekolah). Caranya belajar-mengajar ya seperti ketika kami di kelas I, membaca dan menulis Hanacaraka, dan mulai membaca <strong><em>Nini lara mata, Siwa Dipa Sila,</em></strong><em> </em>tetapi kini bahasa Jepang dengan huruf Katakana: <strong><em>Inu to Neko. Kono kami wa shiroi desû. </em></strong>Guru kelas IV di Sragen, dengan sangat patuh mengikuti pelajaran di buku <strong><em>Maki It. </em></strong>Persis seperti guru kelas I Sekolah Angka Loro dulu mengajarkan membaca dan menulis Hanacaraka, yaitu membaca cerita-cerita mengikuti petunjuk yang ada di buku. Dasarnya belajar di sekolah adalah <strong><em>membaca buku, membaca buku, membaca buku.</em></strong> Bukunya bahasa apa saja, tulisannya huruf apa saja, tapi yang paling penting tujuan anak bersekolah adalah <strong><em>membaca buku, membaca buku, membaca buku. </em></strong>Ini terbukti dari bagaimana saya harus bersekolah pada zaman di Sekolah Angka Loro belajar membaca huruf Hanacaraka, ABC, Katakana, dan bahasa Jawa, Melayu (Matahari Terbit), Nippon (Maki It).</p>
<p>.</p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/10/0092.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-844" title="009(2)" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/10/0092-300x211.jpg" alt="" width="300" height="211" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang ditulis di papantulis oleh Pak Suwarno adalah <em>cerita pendek </em>yang terdiri dari 10-15 kalimat bahasa Nippon huruf Katakana. Setelah murid juga mencatatnya, Pak Suwarno dengan suara lantang mengajari bagaimana membacanya cerita yang ditulis di papantulis. Mengajar membaca begitu berulang-ulang. Dan murid pun setelah bersama bersuara mengikuti pelajaran guru membaca di papantulis, ganti-berganti tiap murid disuruh membaca lantang tulisan Pak Suwarno di papantulis. Begitu sampai semua dapat giliran membaca. Untuk melaksanakan begitu, kadang diperlukan dua tiga hari jam pelajaran bahasa Nippon. Tulisan Pak Suwarno di papantulis tidak dihapus dulu. Baru dihapus setelah dikira semua sudah lancar membacanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran bahasa Nippon selanjutnya, murid satu per satu disuruh berdiri di depan kelas, membaca cerita pendek yang diajarkan oleh Pak Suwarno, membaca dari catatan murid sendiri. Buku catatan murid sendiri itu dipegang oleh kedua tangan, lengan direntangkan lurus-lurus ke depan wajah, lalu murid membaca catatannya sendiri tadi. Sementara seorang murid mendapat giliran membaca dari catatannya sendiri di depan kelas, murid yang lain juga menyemak dari kertas catatannya sendiri cerita yang sama. Jadi kalau yang membaca ada yang salah, para murid lain bisa menegurnya, “Salah!”. Pelajaran bahasa Nippon dengan murid membaca catatannya sendiri begitu namanya <strong><em>Yomikata.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi pelajaran bahasa Nippon seperti itu sebenarnya sama saja metodenya dengan ketika di kelas II seluruh kelas membaca buku <strong><em>Siti Karo Slamet, </em></strong>di kelas III murid seluruh kelas membaca buku-buku cerita <strong><em>Kuncung Karo Bawuk, Gothang Karo Klentreng, </em></strong>dan buku wajib baca bersama di kelas III seperti buku <strong><em>Kembang Setaman </em></strong>(bahasa Jawa, tulisan Hanacaraka), <strong><em>Ontjèn-ontjèn </em></strong>(bahasa Jawa huruf ABC), <strong><em>Matahari Terbit </em></strong>(bahasa Melayu huruf ABC). Yang diajarkan oleh Pak Suwarno itu juga pelajaran membaca bersama murid seluruh kelas, cuma yang dibaca bukan berupa buku, melainkan catatan murid-murid sendiri. Kalau buku-buku yang dibaca di kelas III terdiri dari berbagai bahasa dan huruf-huruf yang berbeda, maka yang dibaca bersama pada pelajaran Pak Suwarno adalah bahasa Nippon huruf Katakana. Dan cerita yang dibaca tadi adalah <em>cerita bahasa Nippon, yang tertulis. </em>Cerita yang tertulis adalah sastera. Jadi Pak Suwarno dengan metode yang sama dengan guru yang mengajar di kelas III mengajari sastera Jawa, sastera Melayu dengan cara <em>membaca cerita tertulis pada buku <strong>(bahasa Jawa huruf Hanacaraka)</strong>, membaca cerita tertulis pada buku <strong>(bahasa Jawa huruf ABC), </strong>membaca cerita tertulis pada buku <strong>(bahasa Melayu huruf ABC), </strong></em>Pak Suwarno mengajarkan <em>membaca cerita tertulis pada catatan murid: <strong>sastera Nippon huruf Katakana.</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tiap hari<em> Yomikata, Hanashikata.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah seminggu dua minggu diajari membaca cerita bahasa Nippon tulisan Katakana begitu <em>(= Yomikata) </em>semua murid dapat giliran, maka hari-hari pelajaran bahasa (sastera) Nippon tidak lagi membaca <em>(= Yomikata), </em>melainkan bicara menghafalkan cerita yang telah dipelajari minggu-minggu yang lalu. Murid-murid disuruh maju ke depan kelas tanpa membawa catatan, melainkan disuruh mengucapkan hafalannya pelajaran bahasa Nippon tadi, luar kepala. Pelajaran menghafal bahasa Nippon begitu namanya <strong><em>Hanashikata.</em></strong> Setelah pelajaran bahasa (sastera) Nippon berjalan berbulan-bulan, cerita yang ditulis oleh Pak Suwarno dan diajarkan kepada para muridnya telah menginjak beberapa judul cerita, misalnya judulnya <strong><em>Gakkõ </em></strong>(= sekolah), <strong><em>Jitengsia </em></strong>(= sepeda), <strong><em>Semeru no Yama </em></strong>(= Gunung Semeru), <strong><em>Kin no Ushi </em></strong>(= Sapi Emas), maka pelajaran <strong><em>Yomikata </em></strong> dan <strong><em>Hanashikata </em></strong>bisa tiap hari dilaksanakan. Tiap hari ada pelajaran <strong><em>Yomikata, </em></strong>yaitu membaca pelajaran yang dicatat oleh murid di depan kelas, bisa catatan/judul yang lama maupun yang baru saja ditulis oleh guru, dan juga pelajaran berbicara bahasa Nippon hafalan para murid yang pernah diajarkan, baik judul yang lama maupun yang baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan adanya pelajaran bahasa Nippon <strong><em>Yomikata </em></strong>dan <strong><em>Hanashikata </em></strong>cara begitu, di rumah saya juga harus belajar dengan giat membacai secara lantang, dan menghafal luar kepala juga berbicara secara lantang. <em>“Gakkõ. Gakkõ wa haji jihan ni hajimarimasu!” </em>Itu kalau cerita pendeknya berjudul <strong><em>“Gakkõ” </em></strong>(= Sekolah).</p>
<p style="text-align: justify;">Jam pelajaran bahasa Nippon seminggu 7X. Seminggu diajar masuk kelas 5 hari, yaitu hari Senin-Selasa-Rabu-Kamis-Jumat. Hari Sabtu tidak masuk kelas, dan tidak diajar oleh guru, melainkan hari krida, <em>Kerja Bakti. </em>Bahasa Nipponnya: <strong><em>Kingrohoshi no Doyõ-bi.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tiap hari masuk kelas murid harus membaca cerita pendek huruf Katakana terus-terusan begitu, kadang-kadang sehari diajari bahasa Nippon 2X jam pelajaran, lama-lama para murid pada bisa membaca, menulis dan berbicara bahasa Nippon. Karena cerita yang kami hafalkan ditulis dengan huruf Katakana (huruf Jepang), maka artinya oleh Pak Suwarno kami diajar Sastera Jepang. Mengajar Sastera Jepang tidak sulit.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sekolah Rakyat Canalaan.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tahun berikutnya kenaikan kelas. SR.Moendoeweg dibubarkan, seluruh muridnya dipindah ke bekas gedung sekolah HCS (Holland Chineesch School) di Canalaan nomer 121 Surabaya. Jalan Canalaan sekarang namanya diubah menjadi Jalan Kusuma Bangsa. Gedung sekolahnya ya besar dan halamannya luas. Murid etnis Cina yang dulu menempati gedung sekolah tadi sudah tidak ada. Diganti murid sekolah pindahan dari SR.Moendoeweg. Selain dari sekolahku SR.Moendoeweg juga dimasuki murid pindahan gabungan dari sekolah-sekolah HIS atau ELS yang pada zaman Jepang semua sudah diubah menjadi Sekolah Rakyat 6 tahun tamat. Jumlah kelasnya SR.Canalaan bertambah banyak dibandingkan dengan SR.Moendoeweg. Kelas III, IV, V, VI jumlahnya dua kali lipat, masing-masing ditempati oleh murid laki-laki saja, atau perempuan saja. Jadi murid laki-laki tidak campur sama murid perempuan. Adanya murid perempuan masuk ke SR.Canalaan menandakan bahwa mereka itu pada zaman Hindia Belanda bersekolah di HIS atau ELS. Yang bisa diterima di HIS atau ELS hanya anaknya orang kaya atau pejabat. Dan hanya anaknya orang kaya atau pejabat anak perempuan bisa masuk sekolah di situ. Beda dengan Sekolah Angka Loro (sekolahku di Sragen), dan yang muridnya anak petani atau buruh pabrik (sekolahku SR.Moendoeweg), tidak ada anak perempuannya yang masuk sekolah pada zaman itu (zaman Hindia Belanda). Guru-gurunya juga tambah banyak, tidak seorangpun guru kami dari SR.Moendoeweg yang ikut dipindah ke SR.Canalaan. Jadi bagi kami, seluruh guru di SR.Canalaan juga baru, tidak ada yang kami kenal sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena banyaknya kelas, guru bahasa Nipponnya juga tidak hanya seorang. Pak Suwarno sudah tidak mengajar lagi di sekolahku yang baru (SR.Canalaan). Entah dipindah ke mana. Guru bahasa Nipponnya semua laki-laki, yaitu Pak Wiyasmo, Pak Imam Kurmen, dan Pak Gunadi. Yang saya ketahui, guru-guru tadi mengajar di kelas III, IV, V, VI. Selama bersekolah di SR.Canalaan tahun 1943, 1944, 1945, saya pernah diajar bahasa Nippon oleh ketiga guru laki-laki tadi. Caranya mengajar persis sama dengan Pak Suwarno di kelas IV SR.Moendoeweg dulu. Guru menulis cerita pendek (10-15 kalimat huruf Katakana) di papantulis, murid disuruh mencatat di buku tulisnya masing-masing, murid harus membacanya berkali-kali hingga hafal di luar kepala cerita pendek tadi. Jadi ya tiap hari diajar <strong><em>Yomikata </em></strong>(= membaca huruf Katakana) dan <strong><em>Hanashikata </em></strong>(= berbicara bahasa Jepang). Pelajaran bahasa Nippon, tidak lain ya murid tiap hari disuruh <em>membaca cerita yang ditulis Katakana, </em>tiap hari tanpa jeda, diulang-ulang sampai lancar dan hafal. Gampang saja. Asal ada orang (guru) yang bisa membaca dan menerangkan apa artinya tulisan sastera tadi, ada cerita yang dibaca dan dihafalkan, ada murid yang diajari, maka mengajar sastera Jepang (atau sastera bahasa dan huruf apa saja), pasti beres. Yang paling penting, dibiasakan setiap hari pada jam pelajaran sekolah di kelas, dibimbing oleh guru.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pelajaran bahasa/sastera Jepang pada zaman itu (1942-1945) di Sekolah Rakyat yang agak mengherankan adalah adanya <strong>guru </strong>yang mengajar bahasa/sastera Jepang. Kok ada guru orang Jawa (Pak Suwarno, Pak Wiyasmo, Pak Imam Kurmen, Pak Gunadi, semua orang Jawa) yang bisa mengajar bahasa/sastera Jepang seperti yang dilakukan seperti pada zaman itu. Jepang menduduki Pulau Jawa pada bulan Maret 1942, bulan Agustus 1942 ketika saya masuk SR.Moendoeweg kok Pak Suwarno sudah bisa mengajar bahasa dan sastera Nippon begitu lancar. Apa Pak Suwarno (orang Jawa, guru) dulu-dulunya sebelum Jepang datang sudah bisa berbahasa Nippon? <em> </em>Padahal, Sekolah Rakyat di Surabaya waktu Jepang baru menduduki Pulau Jawa (Surabaya) bukankah tidak hanya SR.Moendoeweg saja? Banyak sekolah HIS, HCS, ELS, Angka Loro yang sekaligus dilebur jadi Sekolah Rakyat <strong><em>(Kokumin Gakkõ)</em></strong> yang dibuka lengkap dengan murid dan gurunya? Tiap Sekolah Rakyat harus guru pengajar bahasa/sastera Nippon. Lalu dibutuhkan berapa guru bahasa/sastera Nippon-kah waktu itu. Apakah banyaknya sekolah dan kelas yang membutuhkan guru bahasa/sastera Nippon bisa dipenuhi dengan guru orang Jawa yang sudah fasih bahasa Nippon saat itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Pada zaman sekarang kata orang pengajaran bahasa/sastera Jawa TERPAKSA TIDAK diberikan di SD, SMP, SMA karena guru ahli (sarjana) bahasa Jawa tidak ada, buku ajar dan buku cerita/sastera bahasa Jawa tidak ada. Tapi mengapa pada zaman saya sekolah <em>Kokumin Gakkõ </em>1943-1945 bahasa/sastera Nippon bisa diajarkan 7X dalam seminggu? Begitu ketat dan semangat pelajaran bahasa/sastera Nippon waktu itu hingga murid-murid kelas III, IV, V, VI <em>Kokumin Gakkõ </em>pada fasih <em>Yomikata </em>dan <em>Hanashikata!</em> Apa pada waktu itu sudah banyak orang Jawa guru yang sudah fasih bahasa Nippon?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya kira jika pada zaman sekarang bahasa/sastera Jawa tidak diajarkan di SD, SMP, SMA bukan karena gurunya tidak ada, melainkan karena politik pengajaran bahasa Jawa memang dibikin sulit. Atau memang metode guru mengajar murid tidak difahami dan dijiwai oleh para pendidik kita (guru/dosen).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mulai diajar huruf kanji.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ada proses yang beda setelah setahun Balatentera Dai Nippon menduduki Pulau Jawa.  Saya sudah kelas V di SR.Canalaan (1943-1944). Yang mengajar bahasa Nippon Pak Wiyasmo. Yang mengajar bahasa Nippon di kelas VI Pak Gunadi. Cara menulis cerita pendek-pendek bahasa Nippon di papantulis para guru tidak lagi melulu menggunakan huruf Katakana, melainkan disela huruf Kanji. Huruf Kanji adalah huruf Nippon cara lain dengan huruf Katakana. Huruf kanji digunakan untuk menulis buku, suratkabar dan tulisan umum lainnya. Kalau Katakana per gambar menerangkan huruf, kalau gambar huruf Kanji per gambar menerangkan kata. Bukan huruf lagi. Tiap kata bahasa Nippon punya gambarnya sendiri huruf Kanji.  Misalnya kata YAMA (=gunung), jika ditulis dengtan huruf Katakana akan terdiri dari dua gambar huruf, yaitu huruf YA dan MA (sama dengan huruf Jawa Hanacaraka, dua suku kata ya dua huruf Jawa). Tetapi kalau dieja dengan huruf Kanji, kata YAMA hanya digambar dengan satu gambar saja. Begitu juga kata-kata lain bahasa Nippon, kalau ditulis dengan huruf Kanji, tiap kata punya gambar hurufnya sendiri-sendiri. Andaikata kata-kata Jepang banyaknya 8000 kata, ya gambarnya huruf Kanji 8000 juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Cara para guru menulis 10-15 kalimat cerita pendek bahasa Nippon di papantulis dengan huruf Katakana seperti biasanya. Hanya di antara kalimat-kalimat huruf Katakana tadi, disela gambar huruf Kanji untuk suatu kata. Misalnya pada kalimat: <em>Anata no tokei wa kin desu ka? </em>Semua ditulis dengan huruf Katakana, artinya tiap suku kata dapat satu huruf Katakana, hanya pada kata <em>tokei (=arloji) </em>ditulis dengan huruf Kanji (hanya satu gambar huruf Kanji). Pada satu pelajaran cerita pendek bahasa Nippon yang terdiri dari 10-15 kalimat ditulis oleh guru di papantulis dengan huruf Katakana, hanya 4 – 5 kata yang digambar dengan huruf Kanji. Huruf Katakana murid sudah hafal semua sejak setahun lalu (1942) diajar bahasa Nippon. Tahun ke-2 (1943-1944) pelajaran bahasa Nippon, saya duduk di kelas V, murid mulai diperkenalkan dengan huruf Kanji. Cara memperkenalkan huruf Kanji tidak serentak seluruh huruf Kanji diperkenalkan, melainkan sedikit demi sedikit. Yaitu dalam suatu pelajaran cerita pendek bahasa Nippon yang ditulis oleh guru di papantulis dengan huruf Hanacaraka, ada disela 4 – 5 kata ditulis dengan huruf Kanji. Pada setahun di kelas V guru sempat mengajarkan 10 cerita pendek, dan tiap cerita pendek disela 4 – 5 kata ditulis dengan huruf Kanji, maka selesai kelas V saya hafal huruf Kanji 10X5 = 50 huruf Kanji. 50 kata bahasa Nippon bisa saya tulis dengan huruf Kanji. Andaikata saya bisa belajar sampai jadi mahasiswa, dengan cara mengenalkannya huruf Kanji sejak kelas 5 begitu, maka ketika saya duduk sebagai mahasiswa, saya sudah mengenal huruf Kanji sebanyak 3000 gambar. 3000 kata bahasa Nippon sudah saya kuasai gambar huruf Kanjinya, berarti saya sudah bisa MEMBACA BUKU, SURATKABAR, dan tulisan umum lain bahasa Nippon.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya saya kelas VI belum sampai setahun, Jepang kalah perang. Dan setelah Jepang kalah perang (1945), sampai sekarang saya tidak belajar bahasa Nippon lagi, bahkan membaca cerita pendek bahasa Nippon dengan huruf Katakana pun tidak saya biasakan (tidak ada lagi cerita pendek (sastera Jepang) yang ditulis dengan huruf Katakana sampai di tanganku sejak itu. Saya pun tidak bisa berbahasa Nippon (lagi).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lomba <em>Yomikata, Hanashikata, Ongaku.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran bahasa/sastera Nippon pada Sekolah Rakyat <em>(Kokumin Gakkõ) </em>1942-1945 sangat terkesan di hati para murid (termasuk saya) sebab tiap 4 bulan sekali diselenggarakan lomba bahasa/sastera Nippon untuk seluruh Sekolah Rakyat se-Surabaya Shi. Yang dilombakan adalah <em>Yomikata </em>(membaca bahasa Nippon tulisan Katakana), <em>Hanashikata </em>(berbicara bahasa Nippon), dan <em>Ongaku </em>(menyanyikan lagu-lagu Nippon). Tempat menyelenggarakan lomba di aula Dinas Pendidikan Surabaya-Shi, di Jalan Jimerto no. 25 yang sekarang jadi bangunan Masjid Muhajirin. Dahulu di situ terdapat gedung yang memiliki aula cukup luas, dan di sampingnya terdapat lapangan tennis. Untuk mengikuti lomba-lomba bahasa Nippon tadi, tiap Sekolah Rakyat harus mengirimkan 2 anak untuk tiap jenis mata lomba, seorang laki-laki, dan seorang perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi tiap 4 bulan sekali, murid SR se-Surabaya-Shi (Kota Besar Surabaya) dengan bimbingan guru masing-masing menyiapkan diri untuk menjadi peserta lomba bahasa Nippon. Seperti penyelenggaraan <em>Indonesia Idol </em>atau <em>Indonesia Mencari Bakat </em>pada acara TV zaman sekarang. Selama 4 bulan menjelang lomba berikutnya, para guru bahasa Nippon Sekolah Rakyat pada bekerja keras menyiapkan murid-muridnya untuk dipilih menjadi peserta lomba di Kantor Dinas Pendidikan Surabaya nantinya. Yang boleh menjadi peserta lomba adalah murid-murid SR kelas III, IV, V, VI. Siapa pun murid dari keempat kelas itu yang dinilai paling baik dalam jenis-jenis lomba <em>Yomikata, Hanashikata </em>dan <em>Ongaku, </em>bisa diajukan jadi peserta lomba. Tiap jenis lomba dari satu sekolah SR hanya bisa mengajukan seorang murid laki-laki, dan seorang murid perempuan untuk jenis lomba yang sama. Meskipun murid tadi masih di kelas III, tetapi kalau caranya membaca cerita pendek bahasa Nippon yang diajarkan oleh guru lebih baik daripada murid kelas V atau VI, ya murid kelas III ini yang diikutsertakan menjadi peserta lomba <em>Yomikata. </em>Begitu pula kalau murid yang diajari guru menghafalkan cerita bahasa Nippon yang ditulis oleh guru saat itu bisa bercerita hafalannya dengan amat baik, dialah yang dijadikan peserta lomba <em>Hanashikata </em>mewakili Sekolah Rakyat tempat dia belajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana caranya menyaring para murid dari kelas III sampai VI terpilih menjadi yang terbaik? Ternyata selama periode 4 bulan menjelang lomba yang sama, para guru pengajar bahasa Nippon sudah mengajarkan cerita pendek huruf Katakana (ditulis di papantulis) yang sama, baik di kelas III, IV, V dan VI. Misalnya murid kelas III diajari pelajaran bahasa Nippon cerita pendek judul baru: <em>Momotaro. </em>Pada periode 4 bulan yang sama di kelas IV, V, VI juga diajarkan cerita pendek <em>Momotaro, </em>meski yang mengajar Pak Wiyasmo di kelas III dan V, dan Pak Imam Kurmen di kelas IV, dan Pak Gunadi di kelas VI. Tulisannya Katakana yang disela huruf Kanji pada pelajaran cerita pendek <em>Momotaro</em> semua ya sama apa saja huruf Kanji yang diperkenalkan. Dan pelajaran cerita pendek <em>Momotaro </em>tadi diajarkan secara ketat pada waktu 4 bulan di kelas masing-masing, oleh guru bahasa Nippon masing-masing. Kemudian nanti dipilih secara intern di sekolah oleh guru pengajar bahasa Nippon siapa yang akan maju jadi peserta lomba <em>Yomikata </em>dan <em>Hanashikata </em>di Dinas Pendidikan Jalan Jimerto 25 mendatang. Yang dipilih juga dari murid kelas III – VI, yang sudah diajari (membaca dan menghafal) cerita pendek <em>Momotaro.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan selanjutnya yang dilombakan di Dinas Pendidikan Jalan Jimerto 25 untuk <em>Yomikata </em>dan <em>Hanashikata, </em>juga pelajaran cerita pendek terbaru tadi, <em>Momotaro</em>. Tiap 4 bulan sekali, judul cerita pendeknya juga baru. Empat bulan ini yang jadi bahan bacaan <em>Yomikata </em>dan bercakap-cakap <em>Hanashikata </em>judulnya <em>MOMOTARO. </em>Pada lomba 4 bulan yang lain judulnya: <em>SAN-NIN NO KATAWA-MONO (Tiga Orang Cacad) </em>dan <em>HOMON (Bertamu). </em>Ya, ternyata apa yang dilombakan 4 bulan sebelum lomba diselenggarakan sudah diajarkan di sekolah-sekolah. Dengan kata lain, apa bahan yang mau dilombakan telah <strong><span style="text-decoration: underline;">diprogram</span></strong> oleh Dinas Pendidikan Sekolah Rakyat wilayah Surabaya-Shi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari penemuan bahwa segala bahan untuk lomba <em>Yomikata </em>dan <em>Hanashikata </em>di Dinas Pendidikan 4 bulan sekali sebelumnya sudah diajarkan oleh guru di Sekolah Rakyat masing-masing, maka akhirnya saya tidak heran lagi mengapa para guru bahasa/sastera Nippon seperti Pak Suwarno, Pak Wiyasmo, Pak Imam Kurmen dan Pak Gunadi fasih mengajar bahasa/sastera Nippon, sekali pun sebelum Jepang menduduki Pulau Jawa mereka itu sama sekali tidak bisa berbahasa Nippon. Ternyata para guru itu, pada sore hari harus berkumpul di Dinas Pendidikan. Di sana mereka diajari caranya mengajar murid berbahasa Nippon. Yaitu masing-masing diberi selembar kertas, misalnya yang berisi cerita pendek <em>Gakkõ </em>yang ditulis dengan huruf Katakana. Semua guru calon pengajar bahasa Nippon disuruh menghafalkan caranya menulis (Katakana), dan membaca. Tiap sore diajari begitu, setelah hafal, maka serentak di seluruh kelas III, IV, V, VI Sekolah Rakyat di Surabaya-Shi diajari <em>Yomikata </em>dan <em>Hanashikata </em>dengan bahan ajar cerita/sastera <em>Gakkõ. </em>Karena sudah dilatih tiap sore di Dinas Pendidikan, maka para guru pengajar bahasa/sastera Nippon dengan fasih bicara menjelaskan arti kata pada bahan ajar bahasa Nippon yang judulnya <em>Gakkõ </em>tadi di Sekolah Rakyat masing-masing kepada murid-muridnya<em>.</em> Mengajar dengan lancar, berwibawa, dan dikagumi oleh murid-muridnya, karena bisa berbicara bahasa Nippon begitu lancar.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pula kalau pada lomba <em>Yomikata </em>dan <em>Hanashikata </em>4 bulan mendatang yang jadi bahan lomba bahasa/sastera Nippon berjudul <em>Homon, </em>atau <em>Momotaro,</em> atau <em>Semeru No Yama, </em>atau apa saja, maka para guru pengajarnya pada sore hari di Dinas Pendidikan sudah berkumpul dilatih mengajarkan sastera Jepang judul-judul yang akan dilombakan. Makanya, meskipun Pak Suwarno, Pak Wiyasmo dan guru yang lain, sebelum Jepang datang tidak bisa bahasa Jepang, setelah 4 bulan Jepang datang mereka bisa mengajar bahasa Nippon dengan baik kepada murid-murid Sekolah Rakyat. Dan akibatnya, murid-murid Sekolah Rakyat generasiku amat patuh kepada ajaran guru kami, dan kami pun bisa membaca <em>(Yomikata) </em>dan bicara <em>(Hanashikata)</em> bahasa Nippon.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa teman saya ada yang peka diajari bahasa Nippon dengan metode seperti itu, mereka sudah berani bercakap-cakap dengan <em>haitaisan </em>(prajurit Nippon) yang ketemu di jalan. Pada zaman itu, banyak terdapat prajurit Nippon pada keliaran di jalan-jalan di Surabaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya teringat dengan pelajaran <strong><em>mendongeng </em></strong>dan <strong><em>nembang </em></strong>ketika di Sekolah Angka Loro di Sragen dulu. Baik <strong><em>dongeng </em></strong>maupun <strong><em>tembang </em></strong>yang diajarkan dari tahun ke tahun sejak kelas I sampai kelas IV bahannya sama. Di kelas I dan II tembang yang diajarkan lagu-lagu <em>dolanan,</em> di kelas I tembangnya tidak ditulis, di kelas II ditulis di papantulis dengan huruf Hanacaraka dan guru mengajarkan suara tembangnya dengan menunjuk-nunjuk tulisannya di papantulis. Di kelas III tembang yang diajarkan bukan lagu-lagu <em>dolanan </em>lagi, melainkan tembang <em>sastera Jawa yang adiluhung, </em>guru mengajarnya dengan menulis tembang tadi di papantulis dengan huruf Hanacaraka, dan caranya menyuarakan (menyanyikan) guru menunjuk-nunjuk tulisannya di papantulis. Bukankah cara ini sama persis dengan Pak Suwarno mengajarkan bahasa/sastera Nippon kepada kami? Menulis cerita pendek (sastera) huruf Katakana di papantulis kalimat-kalimat: <strong><em>Anata no tokei wa kin desû ka? Watakûshi no tokei wa gin desû. Kin no tokei wa takai desû, </em></strong><em>(Apa arloji tuan emas? Arloji saya perak. Arloji emas mahal),</em> lalu Pak Suwarno dengan menunjuk-nunjuk tulisannya di papantulis menyuarakan bacaan kalimat-kalimat huruf Katakana tadi. Guru di kelas III Sekolah Angka Loro 1940 yang ditunjuki di papantulis huruf Hanacaraka bahasanya Jawa, Pak Suwarno di kelas IV Sekolah Rakyat 1943 yang ditunjuki di papantulis huruf Katakana bahasanya Nippon<em>.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran <span style="text-decoration: underline;">membaca sastera</span> itu penting, baik sastera Jawa, Jepang, Melayu, tulisannya Hanacaraka, Katakana, ABC. Pembelajaran membaca sastera itu penting, oleh karenanya selalu diajarkan sejak dini di sekolah dasar, Sekolah Angka Loro pada zaman Belanda, Sekolah Rakyat <em>(Kokumin Gakkő)</em> pada zaman Jepang. Yang diajarkan bukan satu jenis bahasa, atau pun satu jenis huruf. Tetapi sebanyak-banyaknya bahasa dan sebanyak-banyaknya jenis huruf.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi metode pengajaran bahasa/sastera Nippon di Sekolah Rakyat <strong><em>(Kokumin Gakkõ) </em></strong>pada zaman Jepang (1942-1945) sama persis dengan metode pengajaran <strong>membaca buku </strong>dan pelajaran <strong>nembang </strong>di Sekolah Angka Loro di Sragen 1938-1942. Bahan yang diajarkan juga <strong><span style="text-decoration: underline;">diprogram</span></strong> dari dan oleh Dinas Pendidikan setempat. Di Sekolah Angka Loro di Sragen kelas I yang diajarkan bertahun-tahun membaca buku: <strong><em>Nini lara mata. Siwa Dipa sila. Asuné Séna. </em></strong>Di kelas II bertahun-tahun (muridnya ganti-ganti setiap tahun) membaca buku <strong><em>Siti Karo Slamet. </em></strong>Di kelas III tiap tahun kelompok muridnya ganti tapi buku bacaannya tetap sama cerita/sastera <strong><em>Kuncung Karo Bawuk, Kembang Setaman, Klentreng Karo Gothang, Ontjèn-ontjèn, Matahari Terbit. </em></strong>Pada zaman Jepang (1943-1945) pengajaran bahasa/sastera Jepang di kelas III, IV, V, VI membaca <em>(Yomikata) </em>dan berbicara <em>(Hanashikata). </em>Diajari membaca cerita pendek (sastera) huruf Katakana di papantulis judul <strong><em>Homon (Bertamu), </em></strong>murid menghafal: <strong><em>Gomen kudasai, sensei wa go-zaitaku desû ka? Zaitaku de gozaimasû. Donata de irasshaimasû ka? Watakûshi wa Suparto to mőshimasû. Sensei ni o-me ni kakari ni maita no desû. </em></strong> Pada pengajaran cerita pendek dengan judul <strong><em>Momotaro, </em></strong>murid harus membaca dan menghafal kalimat-kalimat yang ditulis dengan huruf Katakana (disela huruf Kanji): <strong><em>Mukashi, mukashi, oji-san to obã-san ga arimashita. Oji-san wa yama e shiba-kari ni, obã-san wa kawa e sentaku ni ikimashita. </em></strong>Cara belajar begitu bukankah sama dengan waktu saya kelas II Sekolah Angka Loro di Sragen 1939, yaitu membaca terus-terusan buku Siti Karo Slamet hingga hafal: <strong><em>Tampa Bestelan. Wong-wong lagi wiwit padha mangan, krungu suwara, “Kulanuwun.” Slamet metu, cangkeme isih mucu-mucu. </em></strong>Dan di kelas III tiap hari membaca buku <em>Tataran </em>sehingga hafal bacaannya: <strong><em>“Man, Man, Sariman!” Sariman isih enak-enak olehe dhudhuk-dhudhuk. Mesthi wae ora gelem semaur.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bersekolah itu yang paling mendasar adalah belajar <strong><em>membaca buku cerita/sastera, membaca buku cerita/sastera, membaca buku cerita/sastera. </em></strong>Pada zaman Jepang karena waktu itu belum tersedia BUKU CERITA/SASTERA Jepang, maka cerita/sasteranya ditulis oleh guru di papantulis, berwujud tulisan Katakana, dan para murid disuruh membacai tulisan itu sehingga hafal benar. Sama seperti waktu di kelas III Sekolah Angka Loro 1940, murid diajari <strong><em>nembang </em></strong>harus memahami bernyanyi sastera Jawa adiluhung: <strong><em>Padha gulangen ing kalbu; Dedalané guna lawan sekti; Yogyanira kang para prajurit; Suniki dutaning Nata, </em></strong>yang ditulis di papantulis oleh guru kelas dengan huruf Hanacaraka. Metode pengajarannya sama persis. Yang sastera Jawa kata-katanya bahasa Jawa tulisannya huruf Hanacaraka, yang sastera Jepang kata-katanya bahasa Jepang tulisannya huruf Katakana diselingi Kanji.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengajar sastera Jawa itu gampang. Mengajar sastera Jepang itu gampang. Yaitu asal ada (1) <strong><span style="text-decoration: underline;">cerita tulisnya</span></strong> (huruf Hanacaraka, Katakana, maupun huruf lainnya), (2) <strong><span style="text-decoration: underline;">ada gurunya yang fasih membaca tulisan tadi</span></strong> (Katakana/Hanacaraka/atau huruf yang lain, baik ditulis pada buku maupun pada papantulis), dan guru tadi bisa menerangkan arti katanya, dan (3) <strong><span style="text-decoration: underline;">ada muridnya</span></strong> (syukur murid yang banyak alias massal). Caranya mengajar tidak lain ya hanya <strong><span style="text-decoration: underline;">membaca tulisan cerita itu, membaca tulisan cerita itu, membaca tulisan cerita itu</span></strong> berkali-kali hingga murid hafal, dan selanjutnya murid punya <strong><span style="text-decoration: underline;">kebiasaan membaca cerita tulis seperti itu</span></strong> alias berbudaya membaca cerita tulis seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berbudaya membaca cerita (sastera) itulah tujuan utama putera bangsa bersekolah selama 12 tahun (dari kelas I SD sampai kelas XII SMA). </strong>Selama 12 tahun usia sekolah digembleng membaca cerita, membaca cerita, membaca cerita, maka setelah lulus SMA putera bangsa punya kegemaran membaca cerita/sastera yang dikemas pada buku. Putera bangsa punya budaya membaca buku, maka wawasan hidupnya luas, tindakannya bijak, kreatif, inovatif karena membaca banyak buku. Orang pintar di seluruh dunia ini PASTI membaca buku dan menulis buku. Karena itu secara menjagad (Internasional) anak bersekolah 12 tahun awal umurnya adalah: <strong><em>membaca sastera, membaca sastera, membaca sastera (di papantulis), membaca sastera pada buku, membaca sastera pada buku dan menulis buku, </em></strong>sehingga lulus sekolah (klas XII SMA) anak-anak manusia secara Internasional pada punya kegemaran atau budaya membaca (sastera) buku.<strong><em> </em></strong>Begitulah maksudnya secara Internasional (di negara mana saja dan pada zaman kapan saja) anak-anak manusia disekolahkan selama 12 tahun awal umurnya: <span style="text-decoration: underline;">agar gemar membaca cerita/sastera</span>, lebih-lebih yang ditulis pada <span style="text-decoration: underline;">buku</span>. Jadi, kalau putera bangsa Indonesia mau diharapkan jadi orang pintar, wawasannya luas, tindakannya bijak, kreatif, inovatif, ya harus diberbudayakan membaca buku dan menulis buku, seperti halnya anak-anak bangsa-bangsa sejagad disekolahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pengamatan saya, Pak Suwarno, Pak Wiyasmo, Pak Imam Kurmen, Pak Gunadi, bisanya berbahasa Nippon dan cakapnya mengajari murid-muridnya cerita tulis Nippon karena rajin tiap sore berkumpul di Dinas Pendidikan dan di sana dibimbing belajar sastera Nippon. Sebelum ada kewajiban sore hari bertemu di Dinas Pendidikan, guru-guru orang Jawa itu <span style="text-decoration: underline;">tidak bisa berbahasa Nippon.</span> Namun guru-guru tadi setelah belajar selama 4-5 bulan dalam bimbingan <span style="text-decoration: underline;">terprogram</span> oleh Dinas Pendidikan bisa mengajar dengan penuh semangat, lancar, dan berwibawa di kelasnya sehingga para muridnya pun menjadi bisa berbahasa Nippon, bisa membaca sastera (cerita yang tertulis) Nippon. Untuk berhasil mengajar sastera Jawa maupun sastera Jepang, gurunya tidak harus sarjana yang tinggi-tinggi sekolahnya. Guru yang hanya bisa menghafal selembar kertas berisi satu judul cerita (sastera) <em>Momotaro, </em>atau cerita tulis (buku) <em>Asuné Séna, </em>atau <em>Kitab Yang Baharu </em>pun pengajaran sastera Jepang, sastera Jawa maupun sastera Melayu dengan tulisan huruf yang berbeda-beda (Katakana, Hanacaraka, ABC) bisa terlaksana dengan baik. Murid-murid sejak kelas I Sekolah Dasar sudah harus belajar membiasakan membaca cerita bahasa Jawa, Jepang, Melayu dengan huruf-huruf Hanacaraka, Katakana, ABC.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang pengetahuan saya, selama belajar sastera Jepang saya tidak mengenal guru perempuan. Semua guru pengajar sastera Jepang, laki-laki. Mungkin ini juga adanya hambatan kalau menghadirkan guru wanita sore hari hingga malam hari di Kantor Dinas Pendidikan Jalan Jimerto 25 Surabaya. Pada zaman Jepang, malam hari sinar lampu tidak boleh terpancar keluar rumah. Jalanan gelap sekali. Dan seringkali ada serangan bahaya udara musuh, pada keadaan demikian seluruh lampu harus padam. Perempuan pergi sendiri keluar rumah sore dan malam hari sangat tidak terjamin keamanannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lomba <em>Ongaku.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk lomba <em>Ongaku </em>agak lain caranya memilih bahan lomba. Pada zaman Jepang, lagu-lagu bahasa Jepang maupun Indonesia semarak sekali terdengar di radio. Juga ditulis nootnya di Majalah Djawa Baroe. Nyanyian atau lagu-lagu dijadikan alat propaganda untuk menyemangati rakyat Indonesia agar ikut perang Asia Timur Raya membela pihak Balatentara Dai Nippon dengan sukaria. Lagunya pendek-pendek, enak didengarkan dan dinyanyikan. Selain terdengar di siaran radio terus-terusan, lagu-lagu tadi juga disiarkan lewat pemutaran film propaganda, juga diajarkan di kelas Sekolah Rakyat, disuruh menyanyikan bersama di sela upacara-upacara, dan diterapkan untuk mengiringi berolahraga maupun baris-berbaris. Dan juga dilombakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lagu atau nyanyian yang baru baik Jepang maupun Indonesia selalu diajarkan di kelas Sekolah Rakyat (kelas I – VI). Dan juga diajarkan pada acara siaran radio. Pada acara siaran radio anggotanya terdiri dari para anak-anak Sekolah Rakyat yang mendaftarkan diri ikut kelompok bersiaran radio. Lagu baru Indonesia yang pernah diajarkan di kelas dan menggema di siaran radio antara lain lagu: <strong><em>Bekerja, Pohon Ditebang Dari Hutan, Amat Heiho, Penyakit Malaria, Muda Menabung Tua Beruntung, Tentara Pembela Tanahair, Awaslah Inggeris dan Amerika, Asia Berpadu, </em></strong>dan banyak lagi. Begitu lagu baru diajarkan di kelas, dan dinyanyikan pada kesempatan apa saja, maka di radio pun bergema lagu-lagu itu. Bahkan ketika lagu <strong><em>Tentara Pembela Tanahair </em></strong>berkumandang, ada film propaganda yang disiarkan secara umum di lapangan-lapangan terbuka menunjukkan betapa Tentara Pembela Tanahair (PETA) digembleng untuk membela tanahair. (Tentera PETA ini kemudian menjadi tulangpunggung Tentara Keamanan Rakyat ketika rakyat Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan melawan tentara Belanda 1945-1949. Nama-nama seperti Mohamad Mangundiprodjo, Mustopo sebagai mantan anggota PETA telah menghias sebagai nama jalan di Surabaya). Sedang lagu-lagu Jepang <em>(Nippon no Uta) </em>yang diajarkan di kelas yang bersama itu juga menggema di radio, antara lain: <strong><em>Aiba Singgung Ka, Kuroga ne No Cikara, Kono Sora Kono Hikari, Kuni No Hana, Todoroku Ashi wo Tő-A, Tő-A No Yoi Kodomo, Kureshii Azia No Ko, Yashukuni Jinjai, </em></strong>dan banyak lagi. Maaf, saya tidak tepat mengeja judul lagu bahasa Nippon, karena lebih hafal menyanyikannya dan tidak memperhatikan benar ejaan yang ditulis di papantulis. Dan sangat sering bisa menyanyikan dengan ucapan yang benar, tetapi tidak tahu artinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Cara guru mengajar nyanyian-nyanyian tadi juga persis sama dengan waktu saya kelas II dan III Sekolah Angka Loro di Sragen 1939-1940 ketika diajar <strong><em>nembang. </em></strong>Yaitu guru menulis nyanyian <em>(Nippon no Uta) </em>tadi di papantulis dengan noot lagunya Doremifasol, lalu guru mengajarkan menyanyi: <em>“Seishi n-no ji wa, ashahi to mo ete. Miyota karaga ni&#8230;”</em> dengan menunjuk-nunjuk nada di papantulis. Sama dengan ketika guru mengajarkan <strong><em>nembang, </em></strong>murid tidak usah mencatat, dengan sendirinya pada pelajaran menyanyi berikutnya sudah pada hafal. Juga sama dengan ketika guru kelas mengajarkan <strong><em>nembang, </em></strong><span style="text-decoration: underline;">guru kelaslah</span> yang mengajarkan menyanyi. Jadi seorang guru kelas, baik zaman Sekolah Angka Loro maupun zaman Jepang, harus pandai mengajarkan nembang/menyanyi. Kalau guru kelas III Sekolah Angka Loro mengajarkan nembang <strong><em>Yogyanira kang para prajurit, </em></strong>bisa menerangkan artinya karena bahasa Jawa adalah bahasa seharian penduduk di Sragen, maka guru kelas IV, V, VI zaman Jepang yang mengajarkan menyanyi: <strong><em>Asahi wo abite o-karagani, </em></strong>tidak mengerti artinya, karena guru kelas tidak ikut ditatar oleh Dinas Pendidikan. Lain dengan pelajaran membaca sastera Jepang, yang mengajar bukan guru kelas, melainkan guru-guru khusus yang telah ditatar mengajarkan sastera Jepang di Dinas Pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk ikut lomba <em>Ongaku </em>guru-guru kelas juga yang mengadakan penyaringan peserta. Tentu saja lagu yang akan dinyanyikan pada lomba sudah 4 bulan sebelumnya ditentukan oleh Dinas Pendidikan. Sekali lagi, semua pelajaran yang diajarkan di kelas, pasti sudah direncanakan dengan baik-baik oleh Dinas Pendidikan setempat, pada zaman apa pun juga, pada mata pelajaran apa pun juga. Termasuk pelajaran <em>Nippon no Uta </em>yang diprogram untuk bahan lomba <em>Ongaku </em>yang diselenggarakan tiap 4 bulan sekali.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengajar sastera Belanda: membaca cerita buku, membaca cerita buku.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saya bersekolah di kelas VI Sekolah Rakyat <em>(Kokumin Gakkő) </em>Canalaan tidak sampai lanjut, karena Jepang kalah perang. Dan bersama keluarga terpaksa keluar dari Kota Surabaya pada tanggal 26 November 1945, ketika Kota Surabaya digempur oleh pasukan Mayjen E.C.Mansergh (Commander Allied Land-Forces, East-Java) hampir tiga minggu (sejak 10 November 1945). Dan kembali masuk Surabaya menjelang Pemulihan Kedaulatan Republik Indonesia (Desember 1949). Selagi mengikuti perjuangan bangsa melawan pasukan Belanda sekolah saya di daerah Republik Indonesia terbengkalai, sehingga waktu kembali masuk sekolah di Surabaya saya berumur 18 tahun belum lulus SMP. Waktu itu saya masuk sekolah di Middelbare School di Polackstraat (Jalan Sulung Sekolahan, sekarang gedung sekolahnya menjadi bagian dari Kompleks Kantor Gubernur Jawa Timur). Pelajaran sekolah belum sempat diubah, masih seperti tahun-tahun sebelumnya (zaman Kota Surabaya diduduki Belanda), masih juga diajarkan bahasa Belanda. Sekolah saya ini kemudian dipindahkan ke Tempelstraat no 1 (sekarang Jalan Kepanjen, sekolahnya menjadi SMPN II). Saya lulus di situ tahun 1950.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena perpindahan status sekolah dari Pemerintahan Belanda ke Republik Indonesia, maka pelajaran bahasa Belanda yang saya terima di kelas Middelbare School belum sampai setahun juga terputus. Tidak diajari lagi bahasa Belanda. Yang mengajar bahasa Belanda waktu itu adalah Meneer Jansen, orang Belanda totok. Apa yang diajarkan? Tiap mata pelajaran bahasa Belanda dibagikan buku bacaan<strong><em> De Nieuw Wereld. </em></strong>Buku itu merupakan kumpulan cerita (sastera). Dan tiap kali pelajaran, kami murid seluruh kelas harus membaca cerita-cerita di buku itu. Selesai pelajaran, buku ditumpuk lagi, dan disimpan kembali di almari kelas. Jadi tiap jam pelajaran bahasa Belanda, kami murid-murid membacai cerita-cerita: <strong><em>Alie Baba met de viertig dieven; Sinbad de Sailor; Princes die Honderd jaar sliep.</em></strong> Persis ketika saya kelas III Sekolah Angka Loro di Sragen 1940, tiap hari harus membaca buku-buku: <strong><em>Kuncung Karo Bawuk, Kembang Setaman, Gothang Karo Klentreng, Kitab Jang Baharoe.</em></strong> Metode pangajaran bahasa/sastera Belanda waktu itu sama persis dengan pengajaran bahasa/sastera Jawa, Melayu, dan juga Jepang. Gampang saja, dan sederhana. Pokok  (1) ada guru yang fasih membaca cerita yang ditulis (bahasa apa saja, huruf apa saja), (2) ada tulisan yang harus dibaca berulang-ulang (biasanya buku, tetapi pada zaman Jepang buku belum siap, jadi ya guru menulis bahasa/sastera Jepang di papantulis), dan (3) ada murid sekelas (massal) yang diajar agar para murid tadi gemar membaca sastera yang diajarkan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun saya menerima pelajaran bahasa Belanda tidak cukup satu tahun, namun karena pada kehidupan saya selanjutnya sering menemukan buku-buku bahasa Belanda, sudah terlanjur suka membaca buku, maka sampai sekarang saya juga BISA membaca buku bahasa Belanda. Tetapi tulisan/huruf Jepang tidak saya alami lagi setelah Jepang pergi, maka saya TIDAK BISA membaca buku/koran bahasa/tulisan Jepang.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah urun rembug saya terhadap Pendidikan Nasional kita. Semoga bisa digunakan sebagai acuan pendidikan yang berkualitas. Amin.</p>
<p style="text-align: justify;">Surabaya, 3 Oktober 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=829</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMBACA BUKU MENGUBAH TAKDIR</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=790</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=790#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 03:38:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=790</guid>
		<description><![CDATA[Saya meramalkan Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur akan gagal, kalau 12 tahun ke depan ini putera bangsa Indonesia tetap masih hanya menjalani hidup kodrati menerima takdirnya. Menjalani hidup kodrati ialah usaha mencapai segala kemakmuran hidup hanya dengan mengandalkan kepekaan indrawi (pancaindra) terutama melihat dan mendengar. Meminjam istilah Prof. DR Ayu Sutarto, MA, masyarakat Indonesia terkungkung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/07/baca.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-793" title="baca buku" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/07/baca-300x203.jpg" alt="" width="300" height="203" /></a>Saya meramalkan Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur akan gagal, kalau 12 tahun ke depan ini putera bangsa Indonesia tetap masih hanya menjalani hidup kodrati menerima takdirnya. Menjalani hidup kodrati ialah usaha mencapai segala kemakmuran hidup hanya dengan mengandalkan kepekaan indrawi (pancaindra) terutama melihat dan mendengar. Meminjam istilah Prof. DR Ayu Sutarto, MA, masyarakat Indonesia terkungkung oleh tradisi kelisanan atau <em>orality (Mulut Bersambut, 2009).</em> Masyarakat Indonesia masa kini terkungkung oleh tradisi kelisanan, jadi sama dengan hidupnya kakek-buyut saya yang petani di desa. Bisa menanam padi yang subur karena melihat dan mendengar tetangganya yang juga berhasil dan tidak berhasil menanami padinya di sawahnya. Dengan kata lain hidupnya primitif. Orang atau bangsa yang hidupnya primitif seperti kakek-buyut saya itu bodoh, miskin, terjajah karena sulit diajak menata kehidupan manusia (kebenaran, etika, kebaikan dan kejahatan) masa depan yang ideal pada zaman itu. Apa lagi orang primitif pada zaman teknologi modern seperti sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya meramalkan Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur akan berhasil sukses, kalau 12 tahun ke depan ini putera bangsa Indonesia bisa diberdayakan hidup sasterawi. Meminjam istilah Prof. DR. Ayu Sutarto, MA, “tantangan masyarakat Indonesia ke depan adalah mengubah dirinya dari masyarakat yang terkungkung oleh tradisi kelisanan menjadi masyarakat yang bertradisi keberaksaraan <em>(literacy).</em> Masyarakat bertradisi keberaksaraan (istilah saya sasterawi) adalah masyarakat yang mau membaca buku dan berpikir, kritis bukan hanya terhadap kebohongan, kekeliruan atau kemunafikan masyarakat lain, melainkan juga kepada dirinya sendiri”. Artinya cerdas dan jujur.<span id="more-790"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saya meramal begitu bukan saja karena tantangan Ayu Sutarto, tetapi karena mengalami kemajuan diri sendiri, serta mengamati kemajuan bangsa sendiri dan bangsa-bangsa lain. Sehabis membaca setiap buku, pengetahuan saya bertambah, lalu berpikir untuk menggunakan pengetahuan baru tadi untuk meraih masa depan yang lebih baik, bersemangat dan berharap mengubah hidup masa lalu kian tebal. Itu yang saya sebut <em>“mengubah takdir”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hidup sasterawi yang saya maksud adalah putera bangsa selain kiat hidupnya mengandalkan kepekaan indrawinya, juga berbudaya membaca buku dan menulis buku sebagai kiat hidupnya. Membaca buku dan menulis buku bukan kodrat. Jadi untuk berbudaya membaca buku dan menulis buku putera bangsa harus dilatih, diajar, dibiasakan membaca buku dan menulis buku. DR. Taufik Ismail tahun 1996 pernah meneliti di beberapa negara mengatakan bahwa para lulusan SMA di Jerman rata-rata telah membaca 32 judul buku, anak Belanda 30 buku, anak Rusia 12 buku, anak New York 32 buku, anak Swiss 15 buku, anak Jepang 15 buku, anak Singapura 6 buku, anak Malaysia 6 buku, anak Brunai 7 buku, anak Indonesia 0 buku. Kalau penelitian Taufik Ismail hingga sekarang masih berlangsung (pelajar SMA lulus UNAS membaca 0 buku), maka ramalan saya Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur mengalami kegagalan jelas sudah terbayang.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana sehingga pelajar SMA lulus UNAS tidak membaca sejudul buku pun? Pasti mereka tidak hidup sasterawi. Karena pola pendidikan nasional Indonesia tidak memberi kesempatan untuk membudayakan putera bangsa membaca buku dan menulis buku. Sejak Kurikulum 1975, pelajaran Sastera Indonesia disatukan dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Untuk mempelajari Bahasa Indonesia sulit dan banyak menyita jam pelajaran (nyatanya di-UNAS-kan banyak yang gagal di mata pelajaran ini, dan orang Indonesia sampai sekarang tidak menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar), sehingga pelajaran membaca-baca sastera Indonesia tidak peroleh jam pelajaran. Contoh bahwa orang dewasa (kuasa) Indonesia tidak berbudaya membaca dan menulis bisa dilihat di tempat-tempat umum ada tulisan: DI JUAL MOTOR. Atau tulisan dengan ejaan yang salah ANTAR KOTA ANTAR PROPINSI beredar ke mana-mana, menandakan bahwa bangsa Indonesia memang tidak berbudaya membaca (buku) dan menulis (buku).</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, pola pengajaran sekolah Indonesia akhir-akhir ini lebih mengutamakan mengajarkan muatan ilmu. Dari SD diajarkan ilmu banyak-banyak (agar cerdas?) dengan pamrih agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Di SMP juga diajarkan ilmu banyak-banyak, agar bisa melanjutkan sekolah di SMA. Di SMA pelajar juga dibebani ilmu banyak-banyak agar nanti bisa lulus menempuh UNAS. Tiap jenjang sekolah (SD, SMP. SMA) muridnya, gurunya, sekolahnya berusaha keras untuk lulus bisa melanjutkan sekolah. Kalau tidak, muridnya malu, gurunya malu, sekolahnya malu. Dan para putera bangsa itu tidak hidup sasterawi, tidak berbudaya hidup keberaksaraan, maka akan sulit diajak menata kehidupan yang ideal, tidak berpikir kritis terhadap kebohongan, kekeliruan dan kemunafikan masyarakat lain, apalagi terhadap (kebohongan) dirinya sendiri. Dari sini kegagalan “jujur” sudah kentara. Dan banyaknya muatan ilmu selama sekolah 12 tahun yang di-UAS/UNAS-kan apakah membuat putera bangsa “cerdas”?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mengalami sekolah pendidikan dasar (SD) zaman Belanda, zaman Jepang, dan zaman Perjuangan (1938-1949). Kelas I sampai kelas IV (zaman Belanda) tiap hari diajar membaca buku cerita (sastera). Tidak ada hari sekolah tanpa membaca buku. Di kelas III, jam pelajaran 6 kali sehari, kecuali hari Jumat (3X). Buku yang dibaca tiap hari tanpa lowong: (1) Tataran (cerita kehidupan <em>Koentjoeng Karo Bawoek, </em>bahasa Jawa huruf ABC), (2) Ngréwangi Apa Ngrusuhi (cerita kehidupan anak bajing bernama <em>Perkis, </em>dan nyamuk bernama <em>Gothang, </em>bahasa Jawa huruf Hanacaraka), (3) Kembang Setaman (kumpulan cerita pendek bahasa Jawa huruf Hanacaraka), (4) Ontjen-ontjen (kumpulan cerita pendek bahasa Jawa huruf ABC), (5) Matahari Terbit (bahasa Melayu huruf ABC). Lima macam buku bacaan itu tiap hari harus dibaca bersama, sehingga hampir seluruh jam pelajaran di SD adalah MEMBACA BUKU. Pelajaran lain: berhitung (3X seminggu), olahraga (2X), menggambar, mendongeng, menyanyi masing-masing satu kali seminggu. Di kelas IV masuk halaman sekolah harus bertutur bahasa Belanda, dan tiap hari juga membaca buku cerita bahasa Belanda. Di kelas IV Jepang datang, Belanda pergi. Tiap hari diajari MEMBACA DAN MENULIS huruf dan bahasa Jepang 7 jam pelajaran seminggu. Padahal masuk sekolah seminggu hanya 5 hari, hari Sabtu hari krida tidak ada jam pelajaran. Jadi ada jam-jam pelajaran bahasa Nippon sehari 2X. Tiap hari membaca: <em>“Gakkő wa haci ji han ni hajimarimasu”, “Otõto-san to imőto-san wa mada gakkő wo sotsugyő shimasen ka?” </em>(ditulis dengan huruf Katakana dan Kanji). Tiap hari masuk kelas, cerita-cerita seperti itu harus dibaca dan ditulis. Pada zaman Jepang buku bacaan bahasa Jepang belum banyak beredar, sehingga pelajaran membaca cerita begitu ditulis oleh guru di papan tulis, dan untuk menghafal di rumah murid-murid harus mencatatnya di buku catatan masing-masing. Huruf Kanji satu kata satu gambar. Kalau ada 2000 kata bahasa Jepang, tentunya ada 2000 huruf Kanjinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelas IV saya sudah diajari menghafal membaca dan menulis puluhan huruf Kanji. Andai kata sampai kelas XII, tentulah saya sudah hafal 2000 huruf Kanji, jadi saya bisa membaca buku bahasa Jepang. Jadi pelajaran utama sekolah dasar (kelas I-XII) adalah membaca-membaca-membaca cerita dan menulis. Pada zaman Belanda pelajaran sekolah terbanyak adalah membaca-buku-membaca-buku-membaca-buku berbagai bahasa dan huruf, pada zaman Jepang pelajaran sekolah terbanyak juga membaca-membaca-membaca huruf Kanji, sehingga nantinya lulus sekolah 12 tahun sudah hafal 2000 huruf Kanji. Bisa membaca buku-buku bahasa Jepang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari riset Taufik Ismail bahwa lulus SMA anak Indonesia rata-rata membaca nol buku, berarti selama bersekolah awal usia 12 tahun putera Indonesia tidak dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Kalau sistem pendidikan nasional Indonesia diterapkan di Jepang, maka 12 tahun kemudian bangsa Jepang lulus SMA bakal membaca nol buku juga. Bodohnya bakal sama dengan orang Indonesia menurut risetnya Taufik Ismail. Sebab semua buku dan suratkabar Jepang ditulis dalam huruf Kanji. Banyaknya huruf Kanji sama dengan banyaknya kata-kata Jepang, 2000 bahkan mungkin 8000 kata. Kalau di sekolah 12 tahun tidak dicicil diajari membaca buku (huruf Kanji), mana mungkin setelah jadi mahasiswa tiba-tiba hafal 8000 huruf Kanji?</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sini bisa diamati, pelajaran utama bersekolah 12 tahun awal umur anak manusia, baik zaman Belanda maupun zaman Jepang, zaman dulu maupun zaman sekarang, adalah membaca-buku-membaca-buku-membaca-buku. Bersekolah 12 tahun gunanya agar anak manusia berbudaya membaca buku dan menulis buku, alias hidup sasterawi. Membaca buku dan menulis buku merupakan gerbong angkutan ilmu <em>(kruiwagen)</em>, sedang pelajaran ilmu lain seperti berhitung, menggambar, matematika, bahasa (Indonesia, Belanda, Jepang, Inggris) merupakan muatan. Zaman Belanda dibudayakan membaca buku, muatannya bahasa Belanda, di zaman Jepang dibudayakan membaca huruf Kanji, muatannya diganti bahasa Jepang. Kapan pun dan di negara mana pun, bersekolah awal 12 tahun itu gunanya putera bangsa dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Kecuali di Indonesia. Di Indonesia sekolah 12 tahun yang perlu dimuati ilmu banyak-banyak. Diajari ilmu matematika, ilmu bahasa Indonesia, ilmu kejujuran, ilmu koperasi, nanti diuji dengan UNAS. Membaca buku dan menulis buku tidak dibudayakan, berarti gerbong wadah ilmunya tidak ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Membaca buku dan menulis buku seperti gerbong keretaapi. Berangkat dari Gubeng menuju Malang, di mana Malang sebagai orang hidup global modern. Penumpang naik dari Gubeng sampai Wonokromo (sekolah 12 tahun), yaitu pelajaran matematika, bahasa Indonesia, IPS, ilmu kejujuran, ilmu kecerdasan. Namun gerbong keretaapinya dari Wonokromo membelok menuju Mojokerto. La kapan penumpang muatannya sampai di Malang? Itu kalau ada gerbong angkutannya (membaca buku dan menulis buku). La kalau tidak ada gerbongnya (membaca buku dan menulis buku tidak dibudayakan di sekolah 12 tahun), ilmu muatan matematika, ilmu bahasa Indonesia, ilmu kejujuran, apa harus berjalan kaki ke Malang?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur ingin berhasil, mumpung Menteri Pendidikan Nasionalnya juga orang Surabaya, ubahlah pola sistem pendidikan nasional Indonesia, membaca buku dan menulis buku menjadi kurikulum utama sekolah awal 12 tahun. Putera bangsa dibudayakan membaca buku dan menulis buku, tiap hari tanpa jeda saban masuk kelas selama 12 tahun. Nanti ilmu kecerdasan dan ilmu kejujuran dengan sendirinya akan terangkut dalam putera bangsa membacai buku-buku dan menulis buku-buku. Membaca buku itu mengubah takdir menjadi nurani lebih bijak. Sudah terbukti sejak Plato murid Socrates (470-399 S.M.) mendirikan Akademus dan menulis buku <em>Apology</em> yang menceritakan pembelaan Socrates ketika dihukum mati, dan pidato-pidato ilmu filsafat Socrates dalam buku <em>Epistles. </em>Dan sudah terbukti bahwa bangsa Indonesia sekarang banyak yang tidak cerdas dan tidak jujur, suka menyalahkan orang lain, munafik, bertindak beringas membuat onar, mengritik orang lain hingga orang lain hancur menjadi kegairahan hidupnya para pengritik. Dale Cornegie bilang,<em>“Semua orang bodoh bisa mengritik, mencerca dan mengeluh ~ dan hampir semua orang bodoh melakukannya”. </em>Mengapa orang Indonesia masa kini berbuat begitu sehingga orang Surabaya memerlukan Deklarasi Surabaya Cerdas dan Jujur? Sebab meskipun telah pada lulus SMA bangsa Indonesia tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku. Berarti pola atau sistem pendidikan nasional Indonesia sejak awal sampai lulus SMA tidak mencerdaskan bangsa. Dan adanya UNAS memicu ketidakjujuran bangsa. Seharusnya diubah!  Diubah seperti negara-negara maju yang lain, yaitu bersekolah 12 tahun awal umur putera bangsa utamanya digunakan untuk menggembleng putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan berkoar deklarasi saja. Mari kita buktikan di ranah pendidikan nasional kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Surabaya, 20 Juli 2011.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="text-decoration: underline;">Suparto Brata</span></em></p>
<p style="text-align: justify;">pengarang novel bahasa Jawa</p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="text-decoration: underline;">Dimuat OPINI Jawa Pos, Kamis 21 Juli 2011</span></em></p>
<p style="text-align: justify;">PS. di atas naskah aseli.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=790</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
