<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suparto Brata Blog &#187; Kata Mereka</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?cat=5&#038;feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://supartobrata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jan 2018 08:12:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Resensi Novel-novel Jawa Suparto Brata</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=781</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=781#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 May 2011 07:01:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Mereka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=781</guid>
		<description><![CDATA[I Nona Sekretaris. Gadis Sragen yang sukses menempuh hidup di Kota Metropolitan Oleh: Dra Sriyanti, M.Si “Begini. Bikinkan surat jawaban untuk Holiday on Ice ini. Katakan bahwa fasilitas gedong untuk ice skating di Surabaya tidak ada. Jadi tidak mungkin main pentas di sana. Ini suratnya dan alamatnya di Amerika.” Sirtu terima surat itu, lalu keluar. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>I</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Nona Sekretaris.</strong></p>
<p style="text-align: center;">Gadis Sragen yang sukses menempuh hidup di Kota Metropolitan</p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Dra Sriyanti, M.Si</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/05/201031.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-783" title="Nona Sekretaris" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/05/201031-216x300.jpg" alt="" width="216" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Begini. Bikinkan surat jawaban untuk Holiday on Ice ini. Katakan bahwa fasilitas gedong untuk <em>ice skating </em>di Surabaya tidak ada. Jadi tidak mungkin main pentas di sana. Ini suratnya dan alamatnya di Amerika.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sirtu terima surat itu, lalu keluar. Limabelas menit kemudian Sirtu kembali memberikan surat garapan jawabannya sudah diketik bagus.</p>
<p style="text-align: justify;">“Heh? Sudah selesai? Wah, hebat! Hebat! Belajar di mana kamu berkorespondensi bahasa Inggris?” Baharudin menyodorkan tangannya memberi salam kepada Sirtu. Digenggam erat-erat, digoncang-goncangkan&#8230;.(halaman 29).</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah salah satu gambaran kehebatan Sirtu Mekarndalu. Siapa Sirtu itu? Tidak lain ya peragatama atau nona sekretaris pada novel Suparto Brata yang berjudul Nona Sekretaris. Lalu sekolahnya apa dan gadis dari kota dan keluarga yang bagaimana kok bisa hebat dan gesit seperti tadi? Bukan sarjana, hanya lulusan SMA ditambah kursus-kursus, misalnya mengetik, steno, tata buku dan bahasa Inggris. Dari keluarga biasa, ibunya seorang guru dan almarhum ayahnya seorang pengarang. Asalnya juga dari kota kecil di kawasan provinsi Jawa Tengah, Sragen.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari judulnya novel ini sudah kelihatan jelas, meskipun menggunakan bahasa Jawa tetapi bukan cerita roman klasik yang menceritakan lelakon gadis yang lagi kena asmara dengan pria muda di daerah pedesaan yang indah, tetapi cerita kehidupan modern yang ikut kemajuan teknologi.</p>
<p style="text-align: justify;">Perihal mengamat cerita, nama Suparto Brata sudah jadi trademark atau jaminan mutu. Artinya meskipun ini hanya cerita rekaan atau crita fiksi tidak digarap serampangan. Misalnya akan menceritakan tentang bepergian pada suatu tempat, bagaimana caranya pada waktu itu, harus lewat mana, naik kendaraan apa, semua diceritakan secara komplit. Begitu pula mengenai suatu profesi, apa itu sekretaris, direktur, penari, koreografer atau malah bagian pemasaran atau mengiklankannya, semua diceritakan dengan profesional, sehingga profesi-profesi yang dilakukan para peraganya tidak hanya terkesan seperti “tempelan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu ciri khasnya Bapa Suparto Brata yang selalu saya kagumi yaitu caranya memilih nama untuk peraga-peraga dalam ceritanya. Tentu unik. Misalnya peragatamanya cerita ini, Sirtu Mekarndalu. Meskipun tidak lumrah, tetapi terasa indah dan beda, sehingga gampang diingat. Barangkali ini “kiatnya” pengarang untuk menarik perhatian para pembaca terhadap tokoh sentralnya. Tetapi juga tidak aneh, sebab bapak Si Sirtu juga seorang pengarang, makanya pandai cari nama yang indah. Dari kata mekarndalu, barangkali ‘sirtu’ itu nama sejenis kembang(?). Itu barangkali juga salah satunya cara untuk melestarikan bahasa Jawa dengan cara menamakan para putra migunakan bahasa Jawa, tetap terdengar ‘keren’ dan indah meskipun tidak ‘kebarat-baratan’ seperti selebritis.</p>
<p style="text-align: justify;">Dipandang dari alur ceritanya juga gampang dimengerti, sebab diceritakan runtut dengan alur maju, meskipun pada baberapa bagian terdapat juga ‘fash back’ untuk melengkapi keperluan cerita.</p>
<p style="text-align: justify;">Menyemak lelakon Sirtu Mekarndalu pada novel Nona Sekretaris, oleh pengarang kita diajak mengamati kehidupan kota besar Jakarta, utamanya pada dunia panggung hiburan yang bersemarak gebyar-gebyar suka-ria, tetapi juga penuh tipu-curang yang bisa menjerumuskan orang masuk jurang kesengsaraan. Seting cerita novel ini kejadian tahun 1984-an, jadi memang belum ada TV swasta di Indonesia yang tiap hari menyuguhkan dunia gembira selebritis lewat sinetron, infoteinmen, iklan dan lomba-lomba yang tujuannya memburu popularitas dan mencari kekayaan dengan gampang. Meskipun begitu, dunia hiburan juga sudah semarak di masyarakat, mulai dari yang tradisional seperti ketoprak dan wayang orang, juga yang modern seperti grup tari (dance) atau sandiwara-sandiwara yang sering-sering berpentas panggung di gedung-gedung kota besar dengan pendanaan yang besar pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Sirtu Mekarndalu, meskipun Dianugerahi wajah cantik, tubuh yang menggairahkan, apalagi di kampungnya sudah didekati oleh pegawai negeri Drs. Pambudi, tetapi tidak puas dengan keadaannya. Punya cita-cita yang lebih tinggi. Seperti Kartini pada zamannya, Sirtu mencoba mengubah jalan hidupnya dengan berkarya. Ia pergi ke Jakarta. Tetapi bukan hanya bermodal wajah cantik dan nekad pergi asal sampai Jakarta saja. Ke Jakarta Sirtu berbekal keterampilan seperti yang terceritakan tadi. Yang dituju sudah jelas, ke kantor Biro Jasa Kartika, suatu biro penyalur tenaga kerja yang alamatnya dibaca di iklan suatu suratkabar Jakarta yang beredar sampai di Sragen. Meskipun akhirnya jadi sekretaris pada Biro Pentas Artis, suatu event organizer, Sirtu tetap profesional, tidak terpengaruh dengan hura-hura dunia panggung hiburan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya jadi ingat ketika buka-buka situs di internet mengenai Bapa Suparto Brata. Saya menemukan suatu blog (Vavai.mht) yang menulis begini:</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagi wanita, bacalah buku-buku Pak Suparto Brata dan dapatkan semangat wanita yang ulet berwawasan luas. Wanita mandiri yang berpendidikan, bekerja, berkeluarga, dan bertindak tanduk halus, tidak meninggalkan sifat khas dan sopan santun keluarga.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kelihatannya penulis blog ini (menggunakan nama: Muhamad Rivai Andargini) sudah banyak membaca karya Bapa Suparto Brata, sehingga bisa punya wawasan dan ajakan seperti itu. Liwat tokoh Sirtu ini saja, saya percaya bahwa ajakan Mas Rivai tadi tidak ‘berlebihan’. Bapa Suparto Brata benar-benar beri tauladan bagi kaum wanita lewat peraga ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Konflik yang diangkat pada novel ini sebenarnya konflik yang biasa terjadi di tengah panggung hiburan, yaitu ‘persaingan’ berebut menjadi tenar, juga ‘persaingan’ berebut asmara. Kehidupan panggung dan biro yang mementaskan digambarkan dengan gamblang hingga para pembaca seakan-akan ikut menyaksikan sendiri bagaimana latihan pentas, dan panasnya swasana rapat yang merundingkan persiapan-persiapan untuk menggelar pementasan besar.  Begitu juga ketika mengisahkan tempat-tempat terjadinya cerita, rinci digambarkan bagaimana keadaannya. Misalnya ketika Bathara membawa Sirtu datang bertemu ayahnya di Nite Club. Bagaimana waktu dansah dan tatacara orang masuk ke Nite Club. Membuat cerita ini ‘hidup’. Tidak hanya asal rekaan atau fiksi.  Suasana atau tingkah laku di alam nyata yang terjadi waktu itu (misalnya perang Libanon, atau adegan Miss Piggi dan Kermit pada Muppet Show yang disiarkan di TVRI waktu itu) ikut menyumbangkan suasana kekinian sehingga cerita kehidupan Sirtu seperti benar-benar terjadi. Cara menggambarkan para peraganya, upamanya artis-artis panggung seperti Normasari, Puspita Dewi, Kuntum, Ratih dan lain-lainnya sepertinya pas dengan perannya masing-masing. Tiap peraga punya ciri badan dan karakternya sendiri-sendiri sehingga pembaca mengenal betul para artis tadi orang demi orang. Peraga Julaehaque juga mewujudkan peraga wanita yang membawa ‘misi tersendiri’ dalam novel ini. Dia ini bocah yatim piatu, dengan tekad yang kuat berhasil sukses menjalani kehidupan yang keras di Jakarta, meskipun tidak bisa lepas dari pengaruh dunia panggung.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang perlu disemak pada cerita ini barangkali khusus ceritanya Kota Sragen tempat daerah asalnya Sirtu. Di cerita ini banyak disebutkan nama-nama tempat yang di Kota Sragen sekarang barangkali sudah tidak dikenali lagi. Gedong bioskop Garuda misalnya, sekarang sudah jadi kompleks pertokoan karena pernah terbakar habis. Atau Pasar Kuwungsari (saya hingga tanya pada Bapakku yang asli priyayi Sragen, di mana letaknya pasar tadi). Begitu juga ketika menceritakan keadaan kota melalui peraga Ugrasamsi&#8230;., “Tahun berapa kira-kira kota ini dibangun?” (halaman 209). Lalu Sirtu memaparkan apa sebab Kota Sragen tidak punya bangunan-bangunan kuna, sehingga seakan-akan Sragen tadi suatu kota baru yang usianya belum genap limapuluh tahunan (halaman 210). Ternyata meskipun hanya cerita rekaan atau fiksi tetapi bisa diselipi sejarah, atau peristiwa yang benar-bvenar pernah terjadi. Selain dapat menghidupkan cerita juga meluaskan wawasan para pembaca mengenai suatu tempat. Seandainya pelajaran-pelajaran di sekolah yang dianggap sukar juga bisa dibuat seperti karya sastera yang enak dibaca tidak harus tekun berpikir begitu barangkali anak-anak Indonesia lebih gampang menerima pelajaran, dengan hati senang dan tidak terpaksa. Dan pelajaran tadi tidak gampang dilupakannya.  Mungkin saja, lho, contohnya seorang guru Fisika di Sulawesi Selatan yang namanya Arizenjaya bisa mengajari Fisika yang sukar kepada murid-muridnya dengan cara yang menyenangkan, yaitu membuat laporan atau rumus-rumus dengan gaya yang menyenangkan, misalnya puisi, seperti bermain-main tetapi serius (pernah disiarkan MetroTV pada acara Kick’s Andy). Ini merupakan tantangan bagi para bapak dan ibu guru.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang agak terlalu ideal memang tokoh Sirtu. Kok gampang sekali, seorang gadis dari kota kecil, baru datang sehari di Jakarta lalu telah dapat pekerjaan. Dan langsung jadi peraga penting di kantor impresario. Meskipun bukan perusahaan besar. Begitu juga ketika menghadapi lamaran Bathara Nainggolan yang bisa dijadikan Sirtu bagaikan ‘Cinderela’. Agak sukar terjadi pada zaman nyata sekarang. Tetapi kalau ingin dengan niatan untuk merasakan ‘keadilan’, seharusnya yang ideal terjadi dalam hidup nyata ini ya harus seperti cerita idealnya Bapa Suparto Brata ini. Seseorang itu harus dihargai bukan karena wujud keadaan jasmaninya dan sertifikat keterangan dirinya (ijazah) tetapi dari tindak-tanduknya, kepandaiannya menyelaraskan suasana dan keterampilan menguasai teknologi pada zaman yang berlaku. Menjadi teladan para wanita yang terjun pada dunia kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Konflik tentang asmara juga digarap agak luas. Meskipun terpaksa dibumbui ungkapan yang agak ‘vulgar’, tetapi mengingat ini cerita dunia panggung barangkali masih bisa dimaklumi. Yang agak menggelitik adalah adegan Sirtu dengan Ugrasamsi pada halaman 111 yang selanjutnya dipaparkan di cerita-cerita selanjutnya. Entahlah ini pesan pengarang untuk ‘membela’ kaum pria atau malah pesan agar kaum pria meskipun seorang ‘bajul buntung’, tetapi menghadapi wanita yang masih bersih harus tetap menghormati, bukannya malah merusak seperti sikap pria-pria yang punya uang dan kekuasaan zaman sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, bagaimana lelakon Sirtu seutuhnya? Ada Drs. Pambudi, Bathara Nainggolan anak konglomerat yang sudah tersebar di koran sebagai tunangan Sirtu, Ugrasamsi dan barangkali ada peraga yang muncul kemudian? Siapa yang akan jadi jodohnya? Bagaimana selanjutnya profesinya sebagai sekretaris? Betapa ramainya ‘persaingan’ antara Normasari, Kuntum apa Julaehaque di dunia panggung? Lalu apa Drs. Pambudi diam saja ketika Sirtu pergi dari Sragen lari ke Jakarta untuk menjadi sekretaris? Tentu tidak seru kalau tidak membaca sendiri bukunya. Begitulah kira-kira bayang-bayang mengenai novel Nona Sekretaris karangan Bapa Suparto Brata. Semoga dengan novel berbahasa Jawa tetapi mengangkat tema-tema cerita pada kehidupan modern seperti ini bisa menambah daya tarik cerita bahasa Jawa, juga semoga bisa menarik perhatian para muda Jawa agar lebih suka membaca cerita bahasa Jawa, sehingga sastera Jawa tidak jadi tamu di rumah sendiri. Kurang-lebihnya begitulah keinginan saya. Kalau ada yang kurang berkenan mohon dimaafkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>(Tertumpang Selamat Hari Ulang Tahun ke 79 kepada Bapa Suparto Brata tanggal 27 Februari 2011. Semoga Allah selalu memberkahi kesehatan, panjang usia, semangat menghasilkan karya-karya yang lebih baik lagi. Amin).</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Dikutip dari: Majalah Panjebar Semangat Surabaya, No.14, 2 April 2011.</p>
<p style="text-align: justify;">Diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong>II.</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>PAWÈSTRI TANPA IDHÈNTITI</strong></p>
<p style="text-align: center;">Konvensi Detektif Pada Novel Bisnis Keluarga.</p>
<p style="text-align: center;">Oleh Dra Sriwidati</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/05/PTI.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-784" title="Pawestri" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/05/PTI-185x300.jpg" alt="" width="185" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Tiap tahun akhir-akhir ini Suparto Brata dengan ajeg menerbitkan buku-buku karyanya berbahasa Jawa, biasanya berwujud roman atau novel. Ada yang diterbitkan ulang dari novel yang pernah terbit atau dimuat sebagai cerita sambung di majalah bahasa Jawa, dan ada yang karya ciptaan baru. Menurut beliau, menulis dan menerbitkan jadi buku begitu sebab buku merupakan harta warisan bangsa/dunia yang begitu berharga tak ada tandingannya. Sebab buku dapat memberi pelajaran berkreativitas, inovasi, menggambarkan berubahan zaman kepada masyarakat, dan menggairahkan dunia kesusastraan Jawa agar bisa berkembang sebagaimana laiknya sastra dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 2010 yang baru lalu, Suparto Brata menerbitkan buku bahasa Jawa 5 judul, semua berupa roman atau novel. Yaitu <em>Cintrong Paju-Pat </em>(pernah dimuat sebagai cerita sambung di Panjebar Semangat, 2006), <em>Nona Sekretaris </em>(selesai ditulis tahun 1983-1984), <em>‘t Spookhuis </em>(cerita bersambung Panjebar Semangat Februari-April 1991), <em>Riwayat Madege Propinsi Jawa Timur, Lelabuhane Gubernur Jawa Timur I R.M.T.A.Suryo </em>(terbit pertama 2010), dan <em>Pawèstri Tanpa Idhèntiti </em>(selesai ditulis Agustus 2009, terbit tahun 2010).</p>
<p style="text-align: justify;">Dari 5 novel tadi, novel <em>Pawèstri Tanpa Idhèntiti </em>menarik perhatianku. Ada beberapa hal yang menonjol yang pantas dicatat. Pertama, salain karya baru (ditulis 2009) juga objek yang digarap sangat jarang digarap oleh para penulis novel Jawa. Yaitu bab perusahaan dagang besar, khususnya di novel ini perusahaan dagang daging sapi beku yang diimport dari Australia. Perusahaan dagang daging beku dengan nama PT. Frozenmeat Raya itu milik Panuluh Barata dan almarhumah Pandora (isterinya).  Berkantor pusat di Jalan Jatiwaringin Jakarta Timur, yang  sekalian jadi rumah keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, jika diperhatikan sejak membaca dari judulnya,  <em>“&#8230;. Tanpa Idhèntiti” </em> hingga selesai membaca ceritanya, banyak terdapat tanda-tanda misteri dan usaha melacak misteri, seperti jika kita membaca cerita detektif, atau cerita melacak misteri.  Sedang yang ketiga, novel PTI menggarap aspek-aspek feminisme, khususnya perhatian pengarang kepada kesetaraan gender. Dengan mengangkat derajat Pawèstri, peraga perempuan yang ditemu di hotel dan dituduh sebagai pelacur, khususnya oleh Pangèstu dan dianggap mencoreng kehormatan keluarga Panuluh-Pandora. Pawèstri juga dicurigai akan merebut harta kekayaan keluarga Panuluh-Pandora. Tetapi tuduhan tadi tidak benar. Peraga Pawèstri oleh penciptanya dikisahkan tidak hanya cantik wajahnya, tapi juga cantik hatinya. Juga cekatan dan giat bekerja, pandai, terampil berbisnis, dan ramah-tamah kepada siapa saja. Pendeknya, lewat perilaku Pawèstri, Suparto Brata menolak anggapan masyarakat bahwa wanita itu makhluk yang bodoh, pemalas, dan hanya suarga nunut neraka katut. Lewat peraga Pandora (almarhumah) dan Pawèstri Suparto Brata juga menampik tuduhan masyarakat bahwa posisi-sosial wanita (Jawa) yang steriotipe, yaitu yang disebut Kanca Wingking (hanya ban serep dari keluarga).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>PTI novel bisnis yang kompleks.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seperti tersebut di atas, mengamati novel PTI tanda yang terlihat pertama adalah para peraga yang punya profesi bisnis yang sama, perusahaan dagang daging beku. Mereka adalah Panuluh Barata sebagai Direktur PT Frozenmeat Raya, Victor Holiday, Direktur PT Meatcorp Inc. Lalu ada peraga wanita yang tanpa identitas (Pawèstri). Ada pula Dokter Rajiman teman Panuluh Barata, yang dalam cerita ini juga tidak lepas dari usaha bisnis daging beku. Munculnya peraga wanita tanpa identitas di Hotel Batavia Inn (Pawèstri) merupakan misteri yang tidak dimengerti oleh siapa saja. Misteri yang melekat pada diri pribadi Pawèstri itu terus meliputi sepanjang cerita novel PTI.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia sastra Jawa periode pascakamardikan, novel PTI merupakan novel Jawa yang pertama kali berbicara mengenai bisnis, yaitu bisnis daging beku yang diimport dari Australia. Novel ini mengingatkan kita kepada suatu novel zaman sebelum merdeka, yaitu novel Gawaning Wewatekan I dan II (GW I, II, 1928), terbitan Balai Pustaka, karangan Koesoemadigda. Novel GW I dan II adalah salah satu conto novel Jawa periode prakamardikan yang menceritakan: Jadi pegawai negeri itu bukan satu-satunya pekerjaan yang adiluhur. Banyak pekerjaan luhur lainnya yang juga halal, misalnya berdagang. Pada novel ini pengarang (Koesoemadigda) menyarankan para pemuda Jawa lulusan sekolah formal Belanda jangan malu tidak jadi pegawai negeri.  Para muda harus berani bekerja di bidang lain, yang juga halal dan bisa mendatangkan rezeki dan menaikkan derajat. Misalnya bisnis dagang. Lewat para peragatamanya yang punya wawasan luas dan niat yang tangguh, pada novel GW I, II, Koesoemadigda menunjukkan kepada para pembacanya agar tidak menganggap bahwa pegawai negeri itu suatu pekerjaan yang paling tinggi tanpa tanding kedudukannya.  Sebaliknya, perlu diketahui bahwa berdagang juga bukan pekerjaan yang hina. Buktinya pekerjaan dagang banyak dilakukan oleh bangsa Cina dan Arab (lihat juga novel Jawa Tan Loen Tik lan Tan Loen Chong, Ayu Ingkang Siyal, dan novel Pameleh). Seyogyanya bakat dagang juga harus dimiliki oleh bangsa Jawa seperti halnya yang diceritakan pada novel Gawaning Wewatekan I, II, tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga pada periode kemerdekaan ini, profesi dagang masih tetap jarang digarap oleh novelis Jawa. Padahal pada zaman sekarang sudah banyak sekali orang Jawa yang sukses melakukan pekerjaan bisnis dagang besar. Oleh karenanya, sepantasnyalah kalau novel Pawèstri Tanpa Idhèntiti (PTI, tahun 2010) karya Suparto Brata ini disebut novel pioneer (perintis), atau yang pertama kalinya berbicara bab bisnis dagang besar yang dilakukan oleh orang Jawa, yaitu Panuluh Barata. Novel tadi tebalnya 392 halaman, dengan ukuran buku kwarto.  Sesuai dengan majunya zaman, bisnis yang dilakukan oleh keluarga Panuluh Barata tadi bisnis daging sapi beku yang diimport dari PT Meatcrop Inc di Perth, Australia. Tetapi yang paling menarik perhatian bagi para pembaca novel ini, cara menguraikan cerita alur dasarnya hal bisnis daging diokulasi dengan alur pelacakan misteri, dan konsep feminisme sehingga merupakan suatu novel bisnis daging beku yang wutuh dan indah, lagi “njawani” (bernada kejawaan).</p>
<p style="text-align: justify;">Alur dasar (alur inti/alur primer) novel PTI ini sebenarnya hal dinamika cara berbisnis daging sapi beku yang diimport dari Australia, milik Panuluh Barata-Pandora. Tetapi, pada cerita dasar ini juga diceritakan penelusuran suatu misteri yang menempel pada diri seorang Pawèstri, sehingga ada suatu garis merah yang digarap secara lumayan jelas seperti alur cerita detektif. Suparto Brata memang terampil menulis cerita detektif bahasa Jawa pada tahun 1960-an,  misalnya yang berjudul <em>Tanpa Tlatjak, Trètès Tintrim, Garudha Putih, Pethité Nyai Blorong </em>dan <em>Jaring Kalamangga.</em> Beberapa novelnya telah diterbitkan jadi buku ukuran saku <em>(pocket book)</em> yang termasuk jenis  <em>panglipur wuyung </em>(penghibur hati), populer pada tahun-tahun 1960-1970-an. Sebagian dari cerita detektif Suparto Brata tadi ada yang dicetak ulang, misalnya <em>Emprit Abuntut Bedhug, Garudha Putih, </em>dan <em>Jaring Kalamangga. </em>Cerita detektif memang salah satu <em>subgenre </em>fiksi yang mengemukakan teknik alur yang memukau, yaitu padat (tidak banyak digresi), sehingga menimbulkan efek yang disebut <em>renggep</em>, yaitu menimbulkan tegangan <em>(suspense). </em>Dengan begitu para pembaca ikut greget para peraga melacak misteri atau laku kriminalitasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciri cerita detektif biasanya dimulai dengan adanya kurban, atau peristiwa yang misterius, seperti halnya novel PTI ini. Lalu muncul konflik yang berhubungan dengan misteri. Dan ada peraga yang mulai melacak misteri (dinamakan detektif). Biasanya, detektif yang muncul pada cerita detektif adalah detektif palsu atau gadungan. Pada novel PTI, peraga tadi adalah Pangèstu, dibantu beberapa temannya, sudah kentara sejak awal cerita jadi detektif (melakukan penyelidikan). Pangèstu menuduh ayahnya (Panuluh Barata) agar mengaku telah bercintaan dengan Pawèstri di hotel. Tidak mungkin tidak melakukan begitu, kalau pulang dari hotel membawa Pawèstri ke Rumah Sakit, apalagi malah dibawa pulang dan jadi penghuni rumah keluarga selanjutnya. Pada cerita lanjutnya Pangèstu minta agar Pawèstri mengakui dia bukan keluarga Panuluh, dan tidak bermaksud merebut harta Panuluh. Oleh karenanya bahkan Pangèstu mengusir perempuan itu beserta anaknya dari rumah Jatiwaringin, serta melepaskan semua pangkat dan hak pemilikan harta keluarga Panuluh-Pandora. Tetapi semua tuduhan kepada ayahnya sudah ditolak oleh Panuluh Barata sendiri dengan berani membuat surat perjanjian yang dikukuhkan materai Rp 6.000,00, dan disaksikan notaris. Peran Pangèstu sebagai ‘detektif gadungan’ seperti itu adalah untuk mengobarkan suasana. Alur cerita seperti itu membuat ketegangan (suspense). Memang bukan tugas detektif palsu (Pangèstu) untuk membongkar rahasia atau misteri. Selanjutnya, pada proses melacak misteri atau kejahatan tadi pasti ada <em>clue </em>(penuduh/penuntun) dan <em>alibi </em>(peristiwa lain yang terhindar dari dakwaan, bahwa dakwaan itu tidak benar), yang disertakan dalam alur cerita sehingga cerita menjadi tegang, dan mencapai puncaknya (klimaks).</p>
<p style="text-align: justify;">Alur dasar novel PTI ini menceritakan keluarga Panuluh Barata melakukan bisnis daging beku yang diimport dari Australia. Cerita dimulai dari rapat bisnis di Hotel Batavia Inn, Jatinegara Januari 2007. Rapat tadi paling penting menyepakati kontrak import daging beku dari Australia. Kontrak harus ditandatangani oleh Panuluh Barata pihak yang memesan daging dan Victor Holiday pihak yang menjual daging. Victor Holiday adalah direktur eksportir daging beku di Perth, Australia. Buntut rapat bisnis tadi, Panuluh terpaksa menolong mitra usahanya dari Australia tatkala ada gropyokan polisi di hotel. Ternyata di kamar Victor Holiday kedapatan seorang perempuan. Panuluh harus menolong agar mitra usahanya tadi terhindar dari gropyokan polisi. Perempuan tadi syok tak berdaya, kehilangan ingatan. Ditolong oleh Panuluh menghindar dari penangkapan polisi, perempuan tak berdaya tadi dibawa ke rumah sakit oleh Panuluh Barata. Karena tak sadarkan diri dan tidak diketahui namanya perempuan tadi dinamai Pawèstri oleh Panuluh. Dan selanjutnya bahkan dibawa pulang ke rumah Panuluh, dan tinggal bersamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisnis daging beku yang dilakukan Panuluh Barata adalah PT Frozenmeat Raya yang pusatnya di Jatiwaringin. Punya cabang di Depok dikelola oleh Pangèstu, putera Panuluh. Selanjutnya alur dasar ceritanya tentang bagaimana usaha bisnis daging beku tadi di Jatiwaringin, diusahakan oleh peragatama Panuluh Barata. Di kantor dibantu oleh Kuncahya (menantu), di rumah dilayani oleh Srigadhing (pramuwisma). Di RS Waluyajati Bekasi Pawèstri menderita amnesia, tidak bisa ingat hari-hari yang dilewati. Tidak ada peraga yang bisa menyembuhkan ingatan Pawèstri kepada sejarah dan jatidirinya, termasuk dokter di RS Waluyajati di Bekasi, yaitu Dokter Rajiman dan Dokter Nining. Ya tinggal amnesianya saja penyakitnya yang belum disembuhkan. Keadaan fisik dan pikirannya sudah sembuh prima. Karenanya dia harus keluar dari rumah sakit. Diboyong oleh Panuluh ke rumahnya dan kantornya di Jatiwaringin, disembuhkan dengan berobat jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ceritanya jadi ricuh ketika Pawèstri yang baru sembuh tadi di rumah Jatiwaringin ditempatkan di bilik besar, bilik yang dulu ditempati oleh Panuluh serta Pandora.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetap menderita amnesia Pawèstri dengan cepat adaptasi dengan keadaan baru seputarnya. Dan mulai belajar mengenai siapa dirinya (yang baru), berhubungan dengan orang-orang sekitarnya. Demi sedikit Pawèstri mulai belajar hal-hal baru yang belum pernah dimengerti. Dia memang tidak ingat lagi dengan apa yang telah dialami masa lalu. Yang diingat hanya masa kini dia adalah seorang perempuan bernama Pawèstri, hidup di keluarga bisnis daging beku di kantor pusat Jatiwaringin.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua peraga di Jatiwaringin mengakui bahwa Pawèstri adalah seorang perempuan yang suka belajar. Dengan cepat dia terampil menggunakan komputer, dan IT. Juga belajar mengemudi mobil, serta ikut belajar bisnis daging beku. Bahkan  dapat memberi ide-ide untuk mengembangkan bisnis dagang Panuluh. Melaksanakan inisiatif Pawèstri perusahaan dagang daging beku PT Frozenmeat Raya kian maju berkembang. Diakui oleh para pemilik saham bahwa Pawèstri adalah seorang <em>superwoman </em>yang memiliki kepandaian luar biasa hebat. Tidak mudah patah semangat. Ketika Panuluh tidak mengakui sebagai bapak dari calon bayi yang dikandung, Pawèstri bisa menerima keadaan itu. Pawèstri memelihara anaknya, Damaree Pararatu (Rere) dengan baik. Pekerti Pawèstri sebenarnya sudah merupakan alibi yang menolak dakwaan Pangèstu, bahwa Pawèstri bukan wanita tuna susila. Tetapi bagi Pangèstu, segala perbuatan Pawèstri malah memantapkan tuduhannya yaitu bahwa perempuan itu bersiasat dengan cara halus untuk merampok harta benda keluarga Panuluh Barata-Pandora.</p>
<p style="text-align: justify;">Klimaks alur novel PTI terjadi ketika Panuluh Barata meninggal dunia tiba-tiba. Bagi Pangèstu, meninggalnya bapaknya (Panuluh Barata) bahkan jadi senjata yang ampuh untuk mengusir Pawèstri dan anaknya, Damaree Pararatu (Rere), dari rumah Jatiwaringin dan dari PT Frozenmeat Raya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sampai di sini, alur usaha bisnis daging beku, sekalipun tanpa Panuluh, tetap bersemarak. Dan Pangèstu, sebagai peraga antagonis juga terus berusaha menjadi tokoh oposisi, yang selalu usaha merintangi kegiatan tokoh protagonis. Menurut teori peraga, jenis peraga protagonis dan antagonis perlu sekali dalam cerita agar cerita bisa bergejolak, terjadi ketegangan, sehingga alur jadi dinamis, tidak datar saja. Pada teori peraga, yang punya watak seperti Pangèstu disebut peraga antagonis. Setelah bapaknya meninggal dunia, Pangèstu wataknya sebagai peraga antagonis tidak berubah. Semangatnya mau mengusir Pawèstri dan anaknya (Rere) bahkan ditingkatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada rapat pemilihan gantinya Direktur Pratama PT Frozenmeat Raya, para pemilik saham memutuskan secara aklamasi Pawèstri terpilih jadi Direktur Pratama. Pangèstu  tidak bisa terima. Menurut dia yang wajib menggantikan kedudukan bapaknya sebagai Direktur Pratama harusnya darah Panuluh-Pandora, yang juga pemilik saham paling besar. Tidak mau menerimanya Pangèstu dan semangatnya mau mengusir Pawèstri dari bisnis dan rumah Jatiwaringin dilaporkan ke polisi dan diselesaikan di sidang Pengadilan umum. Pengadilan umum dijadikan ajang klimaks cerita novel PTI ini menang atau kalah dalam perkara tegas menurut hukum yang adil dan resmi menurut undang-undang.</p>
<p style="text-align: justify;">Mencari benar dan salah lewat Pengadilan umum sangat langka dijadikan alur pada sastra Jawa, baik sastra Jawa prakemerdekaan maupun sampai sekarang. Cerita detektif kebanyakan telah selesai kedapatan penjahatnya sebelum masuk sidang pengadilan umum. Persoalan salah atau benar dalam suatu cerita bahasa Jawa sudah terbukti pada akhir cerita tanpa harus diadili di Pengadilan resmi atau menurut undang-undang. Di Pengadilan umum menang atau kalah dalam berperkara digelar menurut undang-undang negara dengan menghadirkan pesakitan, jaksa, pembela, hakim, saksi dan bukti-bukti yang dianggap sah. Ada aturannya, ada istilahnye khusus, misalnya: <em>eksepsi, klien, attornney counsellor at law, a de charge. </em>Karena begitu barangkali maka langka sekali Pengadilan umum dijadikan alur cerita pada sastra Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada novel PTI banyak sekali peristiwa yang membetulkan (menerapkan) peraturan yang benar dan undang-undang yang berlaku. Misalnya tentang usaha dagang menurut peraturan yang benar, cara mengemudi mobil, akte kelahiran, hak waris, UU HaKI.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengarang tidak alergi menggunakan istilah manca yang mulai populer di masyarakat Jawa terpelajar untuk menggambarkan kisahnya secara jelas, misalnya istilah <em>jetlag, cluster, cyber, QHSE, click learning, cardilac arrest. </em>Istilah-istilah itu sudah dipakai dalam novel PTI.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun perkara di Pengadilan umum sekarang sudah jadi bacaan akut di suratkabar, tetapi sampai sekarang masih langka sekali dijadikan wacana pada sastra Jawa. Apakah para pengarang sastra Jawa alergi dengan perputaran zaman? Maka dari itu pengarang novel PTI ini boleh disebut pioneer. Semoga saja para pengarang sastra Jawa lainnya juga mengikuti jejaknya, tidak alergi dengan berjalannya zaman, lalu mengarang cerita yang latar peraganya berprofesi (pekerjaannya) modern, misalnya pengusaha real-estat, persaingan bank, para diplomat, bisnis pesawat terbang.  Pada berita (pers) bahasa Jawa sudah berani mengupas berkecamuknya profesi-profesi modern itu. Tetapi dalam cerita (sastra) bahasa Jawa, belum banyak yang berkisah perkara profesi modern tadi. Dalam cerita sastra Jawa hingga kini yang diceritakan masih soal (profesi/pekerjaan) lama, seperti guru, petani, tukang becak, pekerjaan tradisional, adat dan tentang asmara.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengakhiri wawasanku mengenai novel PTI ini ada beberapa hal yang saya kira penting saya kemukakan: (1) lewat novel ini Suparto Brata membuktikan bahwa novel Jawa luas kawasannya, seperti halnya novel bahasa lainnya juga; (2) novel bahasa Jawa tidak alergi dengan masalah apa saja yang terjadi pada zaman modern ini. Dengan begitu, novel Jawa juga tidak alergi dengan memasukkan istilah serapan dari bahasa asing. Juga bisa kerasukan teori-teori baru, seperti misalnya feminisme. Pada era globalisasi ini informasi apa saja bisa cepat masuk di dunia atau disiplin apa saja, termasuk di kesusastraan Jawa modern, utamanya novel; (3) novel PTI merupakan novel “hibrida” (blasteran) yang unggul, dan tetap tangguh sebagai novel Jawa yang “njawani”. Ciri itu bisa dilihat dari ciri karakteristik watak kejawaannya. Watak Panuluh sebagai bapak yang harus melindungi teman dan keluarganya, watak Pawèstri sebagai peraga wanita yang baik, dan akhirnya alur yang menuju konsep rukun bersatu meskipun pada awalnya pada bertikai. Novel, menurut arti pada kamus Inggris adalah “baru”, jadi punya sistem yang dapat menerima dan adaptasi dari segala informasi baru, dan bisa merasuk ke keadaan atau konvensi kesusastraan Jawa seperti alir zamannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada sedikit catatan tentang novel PTI yang saya rasa agak janggal, dipandang sebagai novel modern. Yaitu pertama: novel modern tidak menggurui, termasuk cara menceritakan watak para peraga dan cara menguraikan cerita sejak awal hingga akhirnya. Kedua: menyerahkan <em>interpretasi </em>karya pengarang kepada para pembaca. Jadi, pengarang tidak perlu memberi petunjuk atau nasihat kepada para pembacanya pada karangannya.  Kalau ada petunjuk, sebaiknya jangan dengan cara wajar atau terus terang (menggurui). Banyak teknik atau cara modern untuk menyampaikan informasi didaktis kepada para pembacanya. <strong><em>Nuwun.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dikutip dari Majalah  Panjebar Semangat Surabaya No. 17, 23 April 2011.</p>
<p style="text-align: justify;">Diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p>PS: Ke-dua novel dan novel bahasa Jawa Suparto Brata terbitan 2009-2010 bisa dipesan lewat poswesel biasa pada pengarangnya (Suparto Brata), Jl. Rungkut Asri III/12, Perum YKP RL-I-C 17, Surabaya 60293, per buku tambah ongkos kirim Rp 10.000,00.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=781</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saksi Mata &#124; Suparto Brata, 2002</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=736</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=736#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2010 02:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Mereka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=736</guid>
		<description><![CDATA[by ANTONIO CARLOS Published November 8, 2010 Buku ini dihadiahkan Pak Suparto Brata sendiri kepada C2O. Resensi kali ini ditulis oleh Antonio Carlos, salah satu pendiri SurabayaFood.com. Nantikan juga artikel mengenai kuliner Surabaya oleh Carlos dan ulasan buku Pak Brata lainnya! Selama bulan November 2010, C2O bekerja sama dengan komunitas Surabaya Tempo Dulu, menampilkan ulasan-ulasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">by ANTONIO CARLOS<br />
Published November 8, 2010</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/12/timthumb.php_.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-742" title="Suparto Brata" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/12/timthumb.php_-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Buku ini dihadiahkan Pak Suparto Brata sendiri kepada C2O. Resensi kali ini ditulis oleh Antonio Carlos, salah satu pendiri SurabayaFood.com. Nantikan juga artikel mengenai kuliner Surabaya oleh Carlos dan ulasan buku Pak Brata lainnya!</p>
<p style="text-align: justify;">Selama bulan November 2010, C2O bekerja sama dengan komunitas Surabaya Tempo Dulu, menampilkan ulasan-ulasan buku yang berkaitan dengan sejarah Surabaya, dengan tujuan “Membaca Kota Surabaya”: memperkenalkan dan membangkitkan semangat untuk menggali dan mengenal lebih jauh kota kita.  Bulan ini pun, STD memuat seri tulisan Pak Suparto Brata mengenai Surabaya zaman Jepang.  Mari, kenali sejarahmu!</p>
<p style="text-align: justify;">Keterangan foto: Pak Suparto Brata menunjukkan koleksi buku di kamarnya saat C2O berkunjung. <img src='http://supartobrata.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
________________________________________<br />
Suparto Brata adalah salah satu penulis yang mengangkat berbagai kenangan masa lampau menjadi bagian dari karya-karyanya.  Hal ini tercermin dari novel Saksi Mata yang berlatar belakang masa penjajahan Jepang di kota Surabaya.  Terus terang tidak banyak karya sastra dengan latar belakang masa penjajahan Jepang dibandingkan dengan novel dengan latar belakang masa penjajahan Belanda. Yang sering adalah masa penjajahan Jepang hanya muncul sekilas diantara masa panjajahan Belanda dan masa kemerdekaan.  Selain itu karya sastra yang berlatar belakang masa penjajahan Jepang sering tampil dengan wajah yang muram, menggambarkan kesulitan yang amat terasa.  Dalam novel Saksi Mata kita tidak akan merasakan hal tersebut.  Tentu ada bagian-bagian dalam novel tersebut yang menceritakan tentang beberapa kesulitan dalam penghidupan sehari-hari karena toch masa yang menjadi latar belakang novel Saksi Mata memang masa yang sulit tetapi dengan mudah kita bisa merasa bahwa kesulitan penghidupan yang terjadi di dalam novel ini dapat terjadi kapan saja… (bandingkan dengan kumpulan cerpen karya Idrus yang juga memakai masa penjajahan Jepang sebagai latar belakang).</p>
<p style="text-align: justify;">Saksi Mata menceritakan seorang pemuda pelajar sekolah menengah yang tanpa sengaja menjadi saksi mata ketika buliknya sedang bercinta dengan lelaki yang tidak dikenal. Berawal dari peristiwa inilah Kuntara (sang pemuda pelajar) terseret dalam rentetan peristiwa yang cukup menegangkan dan tentunya membingungkan bagi pemuda tanggung seusianya.  Walaupun banyak yang mengatakan bahwa gaya penulisan novel ini sederhana tetapi sesungguhnya konflik-konflik yang terjadi dalamnya sangat tidak sederhana. Sebagai contoh, konflik cinta yang rumit antara Kuntara sang keponakan dan bibinya yang  tampak platonik pada awalnya.  Dan konflik kepentingan antara Tuan Ichiro dengan Mas Wiradad yang memperebutkan Bulik Rum.  Terseretnya keluarga Suryohartanan ke dalam konflik kepentingan perwira Jepang yang berkuasa serta konflik pribadi diantara para tokoh-tokoh dalam cerita ini sungguh asyik untuk dibaca.  Menarik juga bahwa berbagai konflik yang terjadi akhirnya ditutup oleh sebuah peristiwa yang dramatis, action serta heroik</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/12/saksi_mata.psd_.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-737" title="saksi_mata" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/12/saksi_mata.psd_-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a><br />
Saksi Mata. Penerbit: Kompas, 2002. No. Panggil: F BRA Sak</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam novel ini kita juga bisa melihat bahwa ternyata tindakan yang tampaknya heroik bagi orang lain atau banyak orang ternyata juga berawal dari kepentingan dan perhitungan yang sifatnya pribadi semata. Sebuah tindakan yang luar biasa ternyata bisa hanya dilandasi oleh rasa ingin membela harga diri atau kepentingan keluarga saja. Tetapi justru karena hal inilah maka tindakan kepahlawanan yang ditampilkan dalam novel Saksi Mata menjadi tampak manusiawi dan tampil apa adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai penulis yang hidup di 3 zaman, Pak Suparto Brata mampu menangkap dengan tajam suasana dan hal-hal yang terjadi dalam tiap-tiap masa tersebut serta mampu mendeskripsikannya kembali juga dengan tajam dan bagus.  Daerah-daerah yang digambarkan dalam novel ini masih bisa ditelusuri keberadaannya hingga saat ini.  Pembaca tidak hanya sekedar berfantasi tentang apa yang terjadi dan dialami oleh para tokoh-tokoh dalam novel tersebut tetapi juga mampu membayangkan suasana jalan, rumah, atau kampung.  Bahkan suasana sunyinya kampung pada malam hari dapat ditampilkan oleh Pak Suparto Brata dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu lagi yang menarik dari tulisan-tulisan karya Pak Suparto Brata: tokoh utama perempuan seringkali  digambarkan kenes alias genit tetapi penuh dengan harga diri.  Terasa gambaran perempuan yang kuat dan sadar akan keperempuanannya.  Aura sensualitas tampil dalam kemasan yang alamiah saja.  Tampak sensual tetapi tidak saru.</p>
<p style="text-align: justify;">Baiklah… Selamat membaca novel Saksi Mata karya bapak Suparto Brata selengkapnya <img src='http://supartobrata.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=736</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsep Cantik Versi Suparto Brata pada</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=642</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=642#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Sep 2010 09:05:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Mereka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=642</guid>
		<description><![CDATA[Ser! Randha Cocak oleh: Karti Tuhu Utami, guru SMP Negeri I Bangil, Pasuruan ‘Ser! Randha Cocak’ merupakan judul buku terbaru Suparto Brata edisi 2009. Buku tersebut berisikan kumpulan 3 roman berbahasa Jawa, yakni ‘Ser! Ser! Plong!’, ‘Mbok Randha Saka Jogja’, dan ‘Cocak Nguntal Elo!’ Roman ‘Ser! Ser! Plong!’ pernah dimuat sebagai cerita bersambung pada majalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Ser! Randha Cocak</em></strong></p>
<p>oleh: Karti Tuhu Utami, guru SMP Negeri I Bangil, Pasuruan</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>‘Ser! Randha Cocak’ </em>merupakan judul buku terbaru Suparto Brata edisi 2009. Buku tersebut berisikan kumpulan 3 roman berbahasa Jawa, yakni <em>‘Ser! Ser! Plong!’, ‘Mbok Randha Saka Jogja’, </em>dan <em>‘Cocak Nguntal Elo!’</em></p>
<p>Roman <em>‘Ser! Ser! Plong!’ </em>pernah dimuat sebagai cerita bersambung pada majalah Jaya Baya Surabaya (No. 37, Mei 2006 – No.52, Agustus 2006). Roman <em>‘Mbok Randha Saka Jogja’ </em>pernah dimuat pada majalah Djaka Lodang, Yogyakarta (No. 11, 12 Agustus – No.26, 25 November 2006). Sedangkan roman <em>‘Cocak Nguntal Elo!’ </em>pernah dimuat pada majalah Damar Jati, Jakarta (No.31, 19 Oktober 2006 – No.48, 1 Agustus 2006).</p>
<p>Ada yang menarik dari ketiga roman yang bertemakan umum <em>jodoh di tangan Tuhan </em>tersebut, yakni:</p>
<p>Pertama, penamaan para pelaku yang begitu <em>njawani,</em> seperti Amrik Ngambarwangi, Wangi Lestari, Patut Raharja, Linuwih (dalam <em>Ser! Ser! Plong!</em>); Darorini, Citraresmi, Martiyas, Martinjung, Darbe Sampurna (dalam <em>Mbok Randha Saka Jogja</em>); dan Sekar, Mawardi Jalin, Wisnugraha, Wening Perbani, Surahana (dalam <em>Cocak Nguntal Elo</em>). Dengan membaca atau hanya mendengar nama-nama tersebut, kita semakin akrab dengan budaya Jawa.</p>
<p>Kedua: penerapan <em>unen-unen </em>Jawa (<em>parikan </em>atau <em>paribasan</em>) dalam konten cerita, misalnya: <em>tir padha irenge – sir padha senenge; jamu pisan rasane kecut – ketemu pisan rasane kepencut; jamu pisan kerajut taline – ketemu pisan kepencut atine; rindhik asu digitik, tumbu oleh tutup </em>(dalam <em>Ser!Ser! Plong!</em>). <em>Mengkeret kaya bekicot nlolor diuyahi; mbalang tai embuh kepriye dadine; kaya orong-orong kepidak </em>(dalam <em>Mbok Randha Saka Jogja</em>). <em>Unen-unen </em>semacam ini cukup membantu untuk mengurangi verbalisme dalam pembelajaran bahasa Jawa.</p>
<p>Ketiga, penerapan <em>candra </em>kecantikan wanita seperti:</p>
<p><em>“&#8230;. rumangsa ayu, dedege lencir, lengene nglegena mrusuh, cothange dawa. Praupane sumeh dlenger-dlenger, rambut mustika sirahe ireng ketel – dhadhane ndegeg, susune menthek-menthek, bangkekane nglungit, cethike goyang ngiwa-nengen ngiwa-nengen, ngedolake bokonge, bokong kang kaya mesine vespa” </em>(halaman 11-12).</p>
<p><em>“&#8230;. rupane ayu, rambute ireng ketel, gulune ngolan-olan, baune weweg, payudarane mlenthu menthek. Pawakan ora nguciwani. Solahe sidik lan trengginas&#8230;.” </em>(halaman 83-84).</p>
<p><em>“&#8230;. pasuryane lancap, rambute ketel ngrembyak sangisor pundhak, janggane gilig, awake weweg, payudarane menthek, roke abang mbranang gulon amba, katon lengene sing kuning mrusuh&#8230;.”</em>(halaman 225). Hal demikian ini juga berguna untuk memperkecil verbalisme, sehingga mengkonkritkan konsep penguasaan kosakata dalam pembelajaran bahasa Jawa.</p>
<p>Selanjutnya, kesan <em>njawani </em>tersebut tidak dibiarkan larut dalam kekunoannya, Suparto Brata mendampingi kesan kuno atau ketinggalan jaman itu dengan penerapan bahasa Inggris. Belanda dan Jepang. Perhatikan cuplikan-cuplikan bahasa asing dalam <em>‘Ser! Ser! Plong!’ </em>berikut ini! –<em>the gentleman from Amsterdam </em>(halaman 13); <em>Ik ben verliefd op jou! How are you today? </em>(halaman 58); <em>I rememberd the night, I was dancing, with my darling to the Tennessee waltz </em>(halaman 62); <em>first love never dies, doesn’t it </em>(halaman 70). Demikian pula dalam <em>‘Mbok Randha Saka Jogja’. </em>Selain penerapan bahasa Inggris juga ditemukan bahasa Jepang. Perhatikan cuplikan berikut! <em>This is my wife, Martinjung, that is director of Marketing Devision, Hardanung, and his secretary, Citraresmi. At your service, Sir </em>(halaman 127); <em>Watakushi no chichi wa shonin de wa arimasen, ginko-in desu </em>(halaman 129); <em>Anata no niisan wa Gaikoku-go-gakko de Indonesia-go wo benkyo shite imasu kara, sukoshi wa jozu ni natta dhesho </em>(halaman 130); dan sebagainya.</p>
<p>Bahasa dialek Suroboyoan tak ketinggalan dituangkan dalam konten cerita, seperti: <em>gendheng klelegen wedokan </em>(halaman 41); <em>lek wong wedok bisa manak ngono, aku ya bisa </em>(halaman 113); <em>edan klelegen tekek </em>(halaman 203). Semuanya itu menambah semakin <em>nges </em>jalannya cerita. Selain tersebut ada pula yang lucu terkait dialek Suparto Brata ini sehingga penulis dan mungkin pembaca lainnya bisa tertawa. Perhatikan dialog pada halaman 125 ini! <em>“Kae, sidane wonge metu. Waspadakna, tangane kiwa teles apa ora. Yen teles, ya bener Suryani, pancen mentas cawik,” ujare Peni – “Gae ngerti tas cawik apa nggak, ambunen ae tangane ika. Lek pesing, ya ngoyuh, lek kaya entut, ya entas ngesing!” Dulmawi melu ngomong.</em></p>
<p>Suparto Brata juga seorang <em>kreatif </em>dan <em>inovatif,</em> ada-ada saja bahasa baru yang beliau ciptakan, misalnya: <em>nguyuh telung dina neng Tokyo </em>– untuk menyatakan <em>tinggal </em>selama 3 hari di Tokyo; <em>sibu mundhut putu pira daklembure </em>– untuk menyatakan <em>bersetubuh; kaum rok </em>– untuk menyatakan kaum <em>wanita; polahe kaya calon bupati kalah pilkada </em>– untuk menyatakan <em>sangat-sangat sedih/susah sekali, gedrug-gedrug kaya wong miskin ora keduman BLT </em>– untuk menyatakan <em>amat bingung, </em>dan sebagainya.</p>
<p>Penulis berpendapat bahwa secara umum <em>roman telu </em>Suparto Brata merupakan cerita berbobot, menarik dan bersifat idealis. <em>Berbobot, </em>dalam arti pengarang mampu menghimpun semua komponen ke dalam karyanya (njawani tetapi menyeimbangkan dengan masa kini; dialog-dialognya ada relevansi dengan sikon yang sedang berkembang; tidak mengabaikan dialek yang beliau miliki; budaya yang beliau sajikan tidak lagi alam pedesaan tetapi sudah beralih ke industri, dan sebagainya).</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Menarik, </em>mengandung pengertian bahwa jalan cerita membikin pembaca penasaran untuk segera merampungkan kegiatan membacanya (lebih-lebih dalam roman <em>Cocak Nguntal Elo</em>), dan yang terpenting pembaca ketrembesan inovasi yang pengarang sajikan (ini amat bermanfaat bagi para guru dan mahasiswa jurusan bahasa Jawa).</p>
<p>Tentang sifat roman yang <em>idealis atau belum realistis, </em>penulis perlu uraikan sedikit di sini. Dalam tiga judul roman, pengarang selalu melukiskan tokoh-tokoh utamanya secara <em>perfek </em>(cantik, cerdas, cekatan, mumpuni, berpendidikan, berkendaraan mewah; dari keturunan keluarga kaya/terhormat, berjodoh dengan kalangan sederajatnya, dsb). Bukankah yang demikian ini langka adanya? Sejatinya isi dunia itu sebuah <em>keseimbangan, </em>misal: yang cantik – tidak cerdas; yang berparas cantik tidak menguntungkan – tapi anak orang kaya; yang miskin – tapi bisa sukses, dan sebagainya. Realita demikian tidak penulis lihat dalam tiga roman tersebut. Pembaca bukan berarti tidak suka menggambarkan kebenaran, bukan sekedar imajinasi atau bayang-bayang kesempurnaan pengarangnya.</p>
<p>Selain itu dalam mengungkapkan hasil karyanya, pengarang masih belum bebas mempergunakan beberapa kosakata tertentu. Beliau masih terikat dan <em>ngugemi nilai rasa </em>kosakata bahasa Jawa itu sendiri. Atau bisa pula dikatakan malah sebaliknya, beliau berani mempergunakan kosakata tersebut. Perhatikan bahasa dalam kalimat ini! <em>“&#8230;.dhadhane ndegeg, susune menthek-menthek&#8230;.” </em>(halaman 11-12). <em>“&#8230;. payudarane mlenthu menthek.” </em>(halaman 188); <em>“&#8230;.susune dikotangi riyin </em>(halaman 180); <em>“&#8230; lengene mrusuh, payudarane menthek&#8230;.” </em>(halaman 188); <em>“&#8230;. awake weweg, payudarane menthek&#8230;.” </em>(halaman 225). Simpulan: pengarang masih mempertimbangkan penggunaan kata ‘susu’ dan lebih memilih kata ‘payudara’ yang berasal dari bahasa Kawi tersebut. Buktinya, <em>‘payudara’ </em>disebut lebih banyak daripada <em>‘susu’. </em>Sebab <em>nilai rasa </em>bahasanya memang lebih halus <em>‘payudara’ </em>daripada kata <em>‘susu’.</em></p>
<p>Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa <em>cerkak, cerbung, roman, guritan, </em>dsb telah bertebaran di beberapa majalah berbahasa Jawa dan bahkan ada yang telah berupa buku-buku. Ibarat air mengalir, air tsb meluncur begitu saja menuju tempat yang lebih rendah dan mungkin hingga sampai pada samodra. Sebelum air sampai pada tujuan akhirnya, penulis mencoba mencegahnya dengan trancangan plastik berlubang-lubang, tetapi bukan dengan kain kasa. Dengan demikian nantinya akan didapatkan air yang berguna bagi penyegaran hasil karya sastra Jawa, bukan air yang terbuang percuma dan sia-sia. Mudah-mudahan segera menyusul karya sastra dalam kritik dan esaiku serta kritik dan esaimu di kesempatan berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=642</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trilogi Gadis Tangsi</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=227</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=227#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 09:41:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Mereka]]></category>
		<category><![CDATA[trilogi gadis tangsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Gadis Tangsi. Awalnya saya membeli buku ini karena harganya yang diobral. Diskon sampai hampir 80% menjadikan tangan saya enteng untuk merogoh kantong. Buku pertama berjudul Gadis Tangsi dan yang kedua dengan judul Kerajaan Raminem merupakan dua buku dari trilogi yang ditulis Suparto Brata. Saya terlenakan oleh trilogi ini. Kok bisa? Gambar sampul yang memberi kesan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-228" style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px;" title="gdtangsi01" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2009/04/gdtangsi01.jpg" border="0" alt="gdtangsi01" width="82" height="118" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gadis Tangsi.</strong> Awalnya saya membeli buku ini karena harganya yang diobral. Diskon sampai hampir 80% menjadikan tangan saya enteng untuk merogoh kantong. Buku pertama berjudul Gadis Tangsi dan yang kedua dengan judul Kerajaan Raminem merupakan dua buku dari trilogi yang ditulis Suparto Brata. Saya terlenakan oleh trilogi ini. Kok bisa?</p>
<p><span id="more-227"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Gambar sampul yang memberi kesan kuno menarik minat saya, ketika saya jalan-jalan di tempat obral buku yang sering digelar di depan toko buku Gramedia di Mal Ekalokasari Bogor. Sampul itu mengingatkan saya pada tetralogi Bumi Manusia milik Pram. Saya ingin tahu lebih lanjut tentang isinya, apakah juga sejenis dengan tetraloginya Pram. Oleh karena itu, saya beli dua buku tersebut. Sayangnya buku ketiganya tidak saya temukan di tempat obral itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sempat buka-buka buku pertama yang berjudul Gadis Tangsi sebelum benar-benar membacanya. Di buku itu alur ceritanya merambat pelan. Teyi yang menjadi tokoh utama digambarkan sebagai gadis kecil anak seorang prajurit di sebuah tangsi. Karena dendam ibunya terhadap istri dari kakak suami menyebabkan Teyi harus keliling tangsi berdagang pisang goreng setiap hari. Teyi menyiapkan dagangannya sejak adzan subuh bersama ibunya. Setelah hari menjadi terang, pisang goreng itu baru dijual dengan menyusuri gang-gang di dalam tangsi. Semua itu dilakukan demi ambisi ibunya dalam mengumpulkan kekayaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisah yang awalnya biasa-biasa saja dalam Gadis Tangsi lama-kelamaan menjadi menarik. Rupanya memang harus sabar dalam membaca novel ini. Konflik yang dibangun berjalan dengan pelan. Suparto Brata tidak buru-buru dalam membangun konflik. Dia dengan teliti menggambarkan tokoh-tokoh yang ada dan memunculkan satu per satu. Pelan tapi pasti. Namun percayalah, buku ini menarik. Suparto Brata sebagai penulisnya menjadi jaminan. Dia bukan penulis kacangan. Dia merupakan penulis yang pernah mendapat penghargaan dari Yayasan Rancage. Sebuah yayasan pemberi penghargaan setiap tahun kepada sastrawan yang digagas oleh Ajip Rosyidi.</p>
<p style="text-align: justify;">Novel Gadis Tangsi ini sempat saya abaikan. Bahkan buku ini pernah saya taruh di kamar mandi sebagai teman ‘nongkrong’. Itu artinya, memang saya baca setiap pagi karena saat itulah saya biasa nongkrong, namun hanya pada saat itu saja. Begitu selesai nongkrong, buku itu akan masuk keranjang buku yang sengaja saya sediakan di kamar mandi. Baru besoknya buku itu saya baca lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata setelah dapat hampir setengahnya, ceritanya mulai menarik. Buku itu saya tarik dari keranjang kamar mandi. Saya kebut membacanya agar segera mengetahui akhirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Gadis Tangsi berakhir dengan happy ending. Itu merupakan akhir yang saya senangi bila membaca buku cerita apapun, dan saya kira banyak pembaca yang juga senang dengan akhir seperti itu. Bukankah begitu? Kerja keras Teyi dan ibunya membuahkan hasil. Kekayaan yang didambakan akhirnya terkumpul. Namun anda jangan berharap bisa menjumpai ibunya Teyi melampiaskan dendamnya di buku pertama ini. Keingintahuan anda tentang dendam kesumat itu baru akan dituangkan oleh Suparto Brata di buku kedua.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-229" style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px;" title="gdtangsi02" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2009/04/gdtangsi02.jpg" border="0" alt="gdtangsi02" width="63" height="96" /></p>
<p style="text-align: justify;">Judul buku kedua, <strong>Kerajaan Raminem</strong>, didasarkan pada dendam seorang perempuan bernama Raminem, ibu Teyi. Di buku pertama Raminem akan membalas dendam dengan menguasai sawah-sawah nomor satu yang ada di desa asalnya. Dia ingin membangun kerajaan Raminem dari kekayaan yang dia kumpulkan selama tinggal di tangsi. Dengan menjadi kaya, dia tidak akan dilecehkan lagi oleh iparnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Novel Kerajaan Raminem berlatar belakang penjajahan Jepang yang menggantikan kekuasaan Belanda. Tangsi di mana Teyi dan keluarganya tinggal awalnya di bawah kekuasaan Belanda. Ketika Jepang datang, seluruh penghuni tangsi yang masih tinggal hanya kaum perempuan dan anak-anak. Sedangkan suami dan bapak mereka telah dikirim ke medan perang. Mereka harus keluar dari tangsi untuk mengungsi. Perjalanan para pengungsi ini diceritakan dengan menarik. Begitu juga dengan perlakuan tentara Jepang terhadap para perempuan pengungsi ini.</p>
<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-230" style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px;" title="gdtangsi03" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2009/04/gdtangsi03.jpg" border="0" alt="gdtangsi03" width="64" height="96" /> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mahligai di Ufuk Timur</strong> merupakan buku terakhir dari trilogi Gadis Tangsi. Saya menemukan buku ini secara tidak sengaja. Saat jalan ke toko buku, saya lihat buku ini terpajang di rak yang saya hadapi. Langsung saja saya ambil dan saya lihat harganya. Alamak… harganya lima kali lipat dari dua buku sebelumnya. Entah oleh pihak penerbitnya buku itu sengaja dikeluarkan terakhir sehingga orang seperti saya yang sudah memiliki buku pertama dan keduanya mau nggak mau terpaksa harus beli, atau memang mereka tidak memiliki maksud apa-apa. Saya dalam keadaan dipaksa membeli meskipun harganya yang lima kali lipat demi melengkapi trilogi Gadis Tangsi yang kurang satu itu. Kali ini dengan berat hati tetapi tidak bisa menolak, tangan saya merogoh begitu dalam kantong celana saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di buku ketiga ini, Teyi sudah menjadi perempuan dewasa sepenuhnya. Dialah yang menjalankan kehidupan keluarganya semenjak ayanya meninggal. Kisah meninggalnya suami Raminem ini dikisahkan di buku pertama. Dalam Mahligai di Ufuk Timur, Teyi berjuang untuk dapat membangun rumah tangga dengan pria yang menjadi idamannya. Siapa dia, anda akan mengutuk saya bila saya katakan di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang menarik sekaligus membuat geregetan adalah adanya sepasang tokoh antagonis yang merupakan bapak anak. Tokoh Manguntaruh dan Dasiyun yang menjadi anaknya seperti duri dalam daging. Dua tokoh ini sudah muncul sejak di buku pertama. Dengan adanya bapak anak ini, cerita jadi menarik. Ibarat makan sayur anda akan ketemu dengan cabe yang ada kalanya mengganggu namun bila dihilangkan akan mengurangi kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Membaca buku-buku dari trilogi Gadis Tangsi membuat saya seperti mendaki gunung. Ada klimaks yang menjadi puncaknya. Namun dalam perjalanan menuju puncak itu, ada kejutan-kejutan yang menjadikan saya terus bersemangat. Anda boleh mencobanya jika tidak percaya dengan saya. Mencoba membaca trilogi Gadis Tangsi boleh, mencoba mendaki gunung juga silakan.</p>
<p>Diambil dari :<a href="http://kampungantenan.blogspot.com/2009/02/gadis-tangsi.html">Catatan Asli Orang Kampung</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=227</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komentar dari Fahmi</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=100</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=100#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 01:25:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Mereka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Komentar Fahmi mengenai novel Mencari Sarang Angin : sampai dengan saat ini, satu-satunya novel yang pernah aku baca sampai tamat adalah novel karya bapak yang berjudul ‘Mencari Sarang Angin’. Salam buat mas Darwan, hehe….]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Komentar Fahmi mengenai novel Mencari Sarang Angin :</strong><a href="http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=202.152.32.28"></a></p>
<p>sampai dengan saat ini, satu-satunya novel yang pernah aku baca sampai tamat adalah novel karya bapak yang berjudul ‘Mencari Sarang Angin’. Salam buat mas Darwan, hehe….</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=100</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kata Mereka</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=79</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=79#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 04:55:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Mereka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Hamid Nuru : Wah saya begitu kagum dengan Pak Suparto Brata.Selain tulisannya begitu produktif.Beliau juga mau ‘nggetih’ dalam menerbitkan karya-karyanya.Selain yang membuat salut.Pak Parto begitu melek teknologi.Memang perlu ditiru. Ibnu Wibi : saya baru mulai senang membaca roman panglipur wuyung tahun 2006 saat mendapatkan buku2 sejenis ratusan buah dari seorang teman, namun hanya beberapa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Hamid Nuru :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">
<p>Wah saya begitu kagum dengan Pak Suparto Brata.Selain tulisannya begitu produktif.Beliau juga mau ‘nggetih’ dalam menerbitkan karya-karyanya.Selain yang membuat salut.Pak Parto begitu melek teknologi.Memang perlu ditiru.</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#C28D38"><strong>Ibnu Wibi :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#C28D38; font-size:12px;">
<p>saya baru mulai senang membaca roman panglipur wuyung tahun 2006 saat mendapatkan buku2 sejenis ratusan buah dari seorang teman, namun hanya beberapa yang saya dapat merupakan karanran bapak, kebanyakan any asmara, any, soedharmo kd dll. Saat ini roman panglipur wuyung karya bapak yang saya punyai hanya 2-3, semuanya roman panglipur wuyung sudah saya bikin resensi sederhana (5-10 kalimat). Tapi yang paling lain dari karya bapak adalah desain covernya-saya sangat suka.</p>
<p>Menyimpang dari hal buku, kira2 bapak tahu atau masih ingat atau punya teman yang dulu jadi ilustrator/tukang gambar umbul pak?saya mau bikin resensi sederhana untuk para seniman marginal ini. Jasa mereka sudah banyak namun tidak pernah terpikirkan karena produk masal untuk anak2.</p>
<p>terima kasih pak. salam kenal</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Dewa Kusuma ST :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">
<p>Saya ingin mendapatkan buku Bpk Suparto Brata yang berjudul JARING KALAMANGGA dan EMPRIT ABUNTUT BEDHUG. Tapi saya ga tau hrus mencari dimana karena di kota saya, Madiun, tidak ada toko buku yang cukup lengkap. Apakah saya bisa mendapatkan melalui Internet atau pos ? Kalau bisa gimana caranya dan berapa harga buku dan ongkos kirimnya ? Saya sangat tertarik mendapatkan buku tersebut. Oleh karena itu saya mohon dengan sangat bantuannya. </p>
<p>Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#C28D38"><strong>Ardi :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#C28D38; font-size:12px;">
<p>sungguh-2 langka mendapatkan catatan dokumen sejarah dan tak sia-sia runtut dalam penuturan kata apik …perang kemerdekaan tak menyisakan catatan/monumen/ tetenger [selayaknya zaman kerajaan dulu kala ada pujangga] beruntunglah kita yang muda-muda ini masih ada fatwa pujangga, tak sampai kehilangan mata rantai sejarah paska kolonialisme, mampu mencatat sejarah menurut versi karya Repoeblik Indoenesia.<br />
Matur nuwun kagem Bapak Suparto Broto kerso ngleluri ugi nuhoni zaman…. sampun kagungan panerusing karya yang melanjutkan [sampun kados Mahapatih Gadjah Mada alm.]<br />
eman saestu lho…</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Himknigt :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">
bagus pak..saya suka dengan tulisan bapak  untuk bekal anak cucu biar tidak melupakan sejarah bangsa dan negaranya.</p>
<p>Salam</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#C28D38"><strong>Rachma :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#C28D38; font-size:12px;">
<p>arek suroboyo so pasti bangga lahir dan besar di kota pahlawan. tapi sayang….. banyak bangunan bersejarah yg menjadi artefak cagar budaya dipugar oleh “oknum” demi bisnis dan disulap menjadi mall. kasihan anak cucu tdk bisa melihat bangunan kokoh nan indah tempoe doloe. pak Suparto Brata, saya bangga dengan karya bapak. salam….</p></div>
</td.<br />
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Imam Safawi :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">
Salam,</p>
<p>Wah ternyata tadi pagi saya barusan berkunjung, bertamu sekaligus mengacak-acak kamar beliau. Tanpa saya sadari di balik keramahan dan raut muka yang selalu menyiratkan semangat tinggi memang Bapak Suparto Brata adalah manusia langka dalam sastra etnik Jawa. Selamat atas perghargaan SEA write award 2007. Akan saya ingat Indonesia negeri “Bejo atawa Ciloko” hehe…<br />
Semoga tambah produktif dan memotivasi yang lebih muda….</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong>Fahmi :</strong></p>
<p class="MsoNormal">sampai dengan saat ini, satu-satunya novel yang pernah aku baca sampai tamat adalah novel karya bapak yang berjudul ‘Mencari Sarang Angin’. Salam buat mas Darwan, hehe….</p>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Brahm :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">Saya sudah selesai menamatkan buku Mencari Sarang Angin. Bagus sekali pak. Sayang sungguh disayang mengapa Yayi harus tewas dibunuh kempeitai, padahal saya berpengharapan agar Yayi yang menjadi isteri Darwan, bukan Rokhayah. Saya berandai-andai, setting ceritanya berbelok, saat dalam perjalanan ke pameran, Yayi tak sengaja memeriksa tas dan menemukan emblem yang berbahaya tersebut dan kemudian menginsyafi bahwa Yayi dan Darwan harus lebih waspada.</p>
<p>Saya sampai tidak bisa tidur, kasihan pada Yayi <img src='http://supartobrata.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> . Jadi ingat buku bapak yang Saksi Mata, yang tokoh sentralnya juga terbunuh diawal cerita.</p>
<p>Jika membandingkan buku Mencari Sarang Angin dengan buku Mahligai di Ufuk Timur, saya kok mendapat kesan bapak terburu mengakhiri cerita.</p>
<p> Jalinan kisah diakhir cerita kurang sekompleks dan kurang sehalus diawal dan tengah cerita. Mencari Sarang Angin diakhir cerita misalnya, menjadikan Darwan terlalu lemah dan terkesan kurang menghargai pengorbanan Yayi yang harus meninggal karena disiksa Kempetai. Mohon maaf, ini adalah daya tangkap saya, mungkin bapak punya pertimbangan lain yang saya belum dapat memaknainya.</p>
<p>Oh ya, kalau ada pembaca blog bapak yang datang dari Planet Terasi, itu adalah artikel yang saya tulis tentang bapak. Saya ingin lebih banyak orang yang bisa mendengar, membaca dan mengapresiasi tulisan bapak. Sedikit banyak saya yakin akan bisa membantu Indonesia kearah perbaikan.</p>
<p>Salam Hormat dan Terima Kasih</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong>Brahm :</strong></p>
<p class="MsoNormal">Yg selalu saya suka dari blog ini adalah eksplorasi sejarah Surabayanya. Sedikit2 saya jd ngerti. Shg kadang2 timbul ide setelah membaca blog panjenengan.</p>
<p class="MsoNormal">Ngomong2, mumpung blm telat. Saya mengucapkan minal aidzin wal faidzin, Pak Suparto Brata. Mohon maaf lahir batin.</p>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Benyamin :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">
“Gadis Tangsi “, bener2 novel yang bagus, baru 2 hari lalu beli sekarang udah baca yang buku ke-2. Pak Suparto memang hebat!! Semoga di beri kesehatan terus agar selalu menghasilkan karya yang indah. Sukses buat bapak selalu…</div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong>Vavai :</strong></p>
<p class="MsoNormal">Tulisan bapak benar-benar menggetarkan hati. Bagaimana mungkin saya baru mengenal sosok seperti bapak pada tahun-tahun belakangan ini saja (meski itupun tidak saya sesali karena saya bisa belajar banyak dari bapak melalui buku-buku).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Semestinya tulisan ini dibaca dan diresapi oleh banyak orang. Jika dia pejabat dibidang pendidikan, mestilah hatinya tergerak untuk merealisasikan ide ini. Jika yang membaca bukan dari kalangan pejabat / pemerintahan seperti saya, artikel ini memberikan ide membangun bangsa dengan cara mendorong generasi muda membaca buku.</p>
<p class="MsoNormal">Kita kan tidak perlu jadi pejabat dulu, atau harus tergantung pada pemerintah dulu untuk mau merealisasikan ide ini. Kita bisa mulai dari adik dan kakak, dari keluarga, dari teman dan dari lingkungan sekitar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Mudah-mudahan saya bisa menjadi salah satu pembaca yang merealisasikan visi dan ide bapak ini.</p>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Arpeni :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">Nalika sepindhah ningali novel Donyane Wong Culika, ngrasa mumet amargi ngantos 500-an halman. Ananging nalika sepindhah maos novel Donyane Wong Culika, langsung kesengsem marang karyanipun Pak Brata.</p>
<p>Sakmenika kula tasih nyusun skripsi ingkang sumberipun novel Donyane wong Culika.wonten ingkang ‘unik’ antaraning kula kalian Pak Brata. Ngengingi bab nama, Nami kula Arpeni Rahmawati utawi Peni. Menawi mboten klentu kala rumiyin (ing taun2 kepengker) Pak Brata nate nyerat novel kang ugi migunakaken asma ’samaran’ Peni. Lajeng ngengingi tanggal lair, kula lair tanggal 27 Pebruari 1983, dinten ahad malem senin, Jebul Pak Brata ugi miyos ing tanggal 27 Pebruari 1932.</p>
<p>Mboten dipunsengaja nanging kok saged sami. Mugi kanthi nama lan tanggal lair menika ndadosaken semangat lan adreng kula marang sastra Jawa. Kula kepengin sanget saged nyerat karya sastra modern kados Pak Brata. Mugi Pak Brata saged langkung makarya, nglairaken karya ingkang agung. Saengga kula saged nuladhani labuh labete Pak Brata marang sastra Jawa.</p>
<p>Maturnuwun.</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong>Niki Putrayana :</strong></p>
<p class="MsoNormal">Saya baru baca buku Bapak yang berjudul Mencari Sarang Angin. Disana saya tidak hanya mendapat kesenangan membaca semua alur kisahnya tapi juga beragam informasi terutama sejarah dan budaya Surabaya. Sehingga saya yang seorang pendatang di kota Surabaya ini bisa “melek” tentang Suroboyo.</p>
<p class="MsoNormal">Pada awalnya saya pengagum Pramoedya, namun walaupun saya tidak bermaksud untuk memperbandingkan para pengarang, bolehlah saya ikut menambahkan koleksi saya dan ikut mengecap keindahan buku &#8211; buku karangan Bapak.</p>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Herdjuno Darpito :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">Saya juga terkesan dengan “GADIS TANGSI” gampang dibaca, cerita simple tapi bermakna. sampai sekarang buku itu dipinjam pinjam teman teman yang ada di belgium, france, dan holland. semua tertawa setelah membaca “gadis tangsi”<br />
apalagi dengan tokoh “Teyi”….</p>
<p>Kalau ada electronic formatnya (PDF) saya rasa akan tambah bagus. Permasalahannya hampir tidak bisa mencari buku bapak di europe.</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong>Sammywirianiata :</strong></p>
<p class="MsoNormal">Sangat gembira dan kagum bisa membaca tulisan-tulisan Bapak Suparto Brata. Saya sangat sulit mencari buku-buku karangan Bapak di Australia. Pemesanan melalui pos sangat mahal biaya pengirimannya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Besar harapan saya banyak generasi muda yang setelah membaca tulisan-tulisan Bapak, tergerak hatinya dan terdorong semangatnya untuk meneruskan perjuangan Bapak. Kita perlukan lebih banyak lagi pahlawan-pahlawan tinta seperti Bapak untuk mengubah watak bangsa kita yang banyak dipengaruhi dan dihinggapi penyakit mumpung, masa bodo, dan bagaimana nanti saja!</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Walaupun saya tidak mempunyai buku-buku Bapak, tapi saya senang bisa membaca artikel-artikel Bapak.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Semoga diberikan kesehatan prima, umur panjang dan pikiran yang dipenuh ilham terus untuk memberikan wejangan tanpa lelah terhadap kawula muda yang masih punya sedikit kerinduan melihat negara ini bisa maju dan tidak terpuruk terus.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Wassalam dari benua Kang Uru</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Imron Wahyudi :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">
Sangat bagus sekali tulisan mbah Parto &#8211; saya juga menyukai tulisan-tulisan yang lain terutama cerita pendek dan cerita sambung yang dimuat di majalah. Tetapi saya belum pernah beli bukunya.</p>
<p>Ada satu hal yang saya tidak percaya dari tulisan di atas, yaitu Mbah parto masih naik angkutan umum ke/dari acara tersebut. Seorang penulis/budayawan terkenal masih mau naik angkutan umum. Begitu sederhananya sosok seorang Soeparto Broto.</p>
<p>Padahal seorang anggota DPR yang suka teriak-teriak sebagai wakil rakyat selalu bermewah-mewah suka ganti-ganti mobil.</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong>Budhi Setyawan :</strong></p>
<p class="MsoNormal">Selamat kepada Bpk Suparto Brata, atas penghargaan dari Pemerintah Thailand. saya ikut bangga dengan ketekunan dan kegigihan ‘panjenengan’ dalam berkarya sastra dalam bahasa jawa.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Karya2 nyata yang berbobot, dinikmati masyarakat dan sekaligus ‘nguri-uri’ kabudayan jawi, terutama di bidang sastra tulisan. saya juga sedang belajar menulis geguritan, dan beberapa dimuat di Majalah Panjebar Semangat dan Damarjati. beberapa bisa dibaca di blog saya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Mangga menawi badhe dipun waos….klik!</p>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Udin :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">
selamat sore,</p>
<p>saya sudah mendapatkan cerbung bapak yang berjudul cerbung “cintrong Traju papat” saya sangat terkesan dengan pengungkapannya tentang citra wanita ideal yang penuh dengan semangat jaman. dimana dalam cerbung tersebut juga ditampilkan sosok yang bertolak belakang dari sosok wanita ideal. untuk itu saya akan menjadikanya skripsi sebagai tugas akhir. untuk itu saya mohon bantuan bapak untuk melakukan wawancara tentang cerbung tersebut. apabila bapak bersedia saya akan melakukan wawancara lewat surat pos karena mengingat jarak yang jauh. cukup sekian.</p>
<p class="MsoNormal">terima kasih.</div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong>Suryatmojo :</strong></p>
<p class="MsoNormal">Eyang Brata,</p>
<p class="MsoNormal">Saya suka sekali buku-buku Eyang. Selama ini saya mengikuti kabar Eyang dari Majalah Panjebar Semangat. Meskipun sudah 15 tahun saya tinggal di tlatah sunda, saya rajin membaca sastra jawa supaya tidak lupa dan sebagai upaya melestarikan budaya jawa.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Buku-buku Eyang yang sudah menjadi koleksi saya di antaranya Trilogi Gadis Tangsi, Mencari Sarang Angin, Aurora Sang Pengantin, Dom Sumurup ing Banyu, Lakone Si lan Man, Donyaning Wong Culika dan Sapu Tangan Gambar Naga. Sampai sekarang saya masih memburu buku Eyang yang berjudul Trem dan Kremil. Bahkan kedua buku itu saya buru sampai ke penerbitnya, tidak ada sisa 1 buku pun.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Begitu baca blog Eyang, wow… ternyata luar biasa Eyang ini. Saya langsung berburu ke toko2 buku, sayang… belum terpajang di sana, terutama buku Eyang yang diterbitkan oleh Grasindo tahun 2007. Ohya, Cintrong Traju Papat yang dimuat bersambung di PS sudah jadi buku belum Eyang?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Matur sembah nuwun.</p>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Farischa Indri :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">
dear Eyang Parto..</p>
<p>Setelah buku terakhir trilogi Teyi, kami selalu menunggu-nunggu buku yg laen kami tanya mbak Yeti (king mantu panjenengan), kata beliau, eyang parto sedang proses ama penerbit kami senang sekali, eh lha kok ini udah terbit.. tiga buku…<br />
saya orang jawa, dan saya nggak ada kesulitan membaca, tetapi temen-temen saya orang jakarta dan sunda.. mereka mboten ngerti Yang… he he he.. mohon dialihbahasakan ke bahasa indonesia.. banyak yg ingin menikmati karya-karya eyang, tetapi ada kendala bahasa kebetulan kami penggemar novel bersetting masa lalu, dan tulisan eyang yahud untuk diikutin dan divisualkan.<span> </span>Yang, kami kan udah bawa buku karya Eyang rencananya mau dititipin ke mbak yeti untuk minta ditandatangani Eyang… tapi kayaknya Yang Parto sampun balik dateng Suroboyo.<span> </span>Permohonan kami sebagai fans Yang, mohon ditranslate ke bahasa indonesia… supaya yg tidak ngerti bahasa Jawa bisa dapat menikmati.</p>
<p>Semangat ya Yang, semoga diberi kesehatan, kekuatan dan berkah agar selalu bisa berkarya… amin amin. ditunggu ya yang…dari penggemar berat di Jakarta…</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong>L. Soeryo :</strong></p>
<p class="MsoNormal">Sewaktu saya membaca Gds Tangsi dan Kerajaan Raminem, saya benar2 terhanyut se olah2 saya menyaksikan semua yang dialami oleh Teyi..sayang saya hanya punya buku itu dan Mencari Sarang Angin..</p>
<p class="MsoNormal">Salut kagem pak Brata dan saya sangat bangga dengan anugerah yang diterima dari negara tetangga (negara sendiri malah adem ayem)</p>
<p class="MsoNormal">salam dari Milano-Italy</p>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Sucipto Hadi :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">
Mbah Parto,<br />
Kula ndherek bingah, mongkog, sarta mangayubagya dene Panjenengan nampi S.E.A. Write Award. Salam.</div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong>Erwin :</strong></p>
<p class="MsoNormal">Selamat atas penghargaan SEA Write Award dari Bangkok Thailand, semoga lebih produktif lagi dan menghasilkan karya yang lebih bagus lagi. Bravo</p>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<p class="MsoNormal">
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Vavai :</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">
Yth Pak Suparto Brata,</p>
<p>Menyesal sekali saya baru bisa berkenalan dengan bapak melalui email saat saya membaca buku bapak, &#8220;Kerajaan Raminem&#8221;. Melalui Teyi yang trengginas dan lincah, saya bisa menyelami perkehidupan dan pola pikir masyarakat Jawa, paling tidak untuk memahami isteri saya yang kelahiran Jawa.</p>
<p>Sebelum buku ini saya sudah pernah membaca buku bapak, Saksi Mata.  Jika tidak ada halangan, saya berharap bisa berkunjung ketempat bapak atau berjumpa dengan bapak jika bapak ada jadwal kegiatan.</p>
<p>Terima kasih untuk pesan-pesan moral yang bapak sampaikan, bagaimana agama dimaknai dan bagaimana kita semestinya menyikapi hidup. Saya membayangkan, orang yang hendak bunuh diri kalau mau menyempatkan diri membaca buku bapak niscaya akan mengurungkan niatnya</p>
<p> Really appreciated. Kalau bapak ada datang ke Jakarta atau ke Bekasi, silakan main ke rumah ya pak. Bapak bisa hubungi saya di 0818 48xxxx atau telp rumah : 021 881xxxx</p>
<p>Best Regards,<br />
Masim &#8220;Vavai&#8221; Sugianto</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong>Vanda Kemala Sari :</strong></p>
<p class="MsoNormal">Sungguh amat berkesan ketika pertama kali membaca buku karangan bapak yang berjudul &#8220;Aurora sang pengantin&#8221;. Buku tersebut kebetulan dipinjami oleh kenalan saya Mahesa Winardi (mungkin terdengar familiar bagi bapak?). Pada buku ini, saya dibuat terkagum &#8211; kagum atas penyelidikan yang dilakukan oleh Aurora dan peristiwa pembunuhan yang terjadi.</p>
<p>Setelah itu, saya membaca &#8220;KREMIL&#8221;. Saya (lagi &#8211; lagi) dibuat terpesona dengan penokohan yang bisa dikatakan rumit. Mengambil lokasi salah satu tempat prostitusi yang ada di Surabaya, bapak dengan gamblang menceritakan detail dari lokasi tersebut. Buku ini (lagi &#8211; lagi) dipinjami oleh Mahesa Winardi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Buku ketiga yang saya baca adalah &#8220;Saksi Mata&#8221; yang mengambil setting masa penjajahan Jepang. Saya cukup dibuat bingung dengan beberapa pengulangan kisah yang terkadang lebih dari 1 kali. Katakanlah saat tokoh utama memergoki bibinya melakukan perbuatan tidak senonoh.. Buku ini saya pinjam di Perpustakaan Daerah Jawa Timur.</p>
<p class="MsoNormal">Sejak saat itu, saya &#8220;terobsesi&#8221; dengan buku karangan bapak. Dan ternyata, pada tahun 2006, saya mendapat kado ulang tahun dari kenalan saya sebuah buku yang berjudul &#8220;Mencari Sarang Angin&#8221;. Penokohan yang unik dengan penggambaran kehidupan keraton yang sakral. Semangat hidup dari tokoh utama yang terus berusaha hidup tanpa bantuan dari ayahandanya, sekalipun kota sedang diserang oleh Jepang dan diteruskan dengan gerak &#8211; gerik Partai Komunis.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Beberapa waktu yang lalu, saya jalan &#8211; jalan ke Gramedia dan menemukan buku bapak &#8220;Kerajaan Raminem&#8221;. Ketika saya baca resensi di halaman belakang, taulah saya bahwa buku tersebut adalah buku kedua dari trilogi Gadis Tangsi, sedangkan pada saat itu, tidak ada buku pertama maupun buku ketiga. Sungguh tidak menyenangkan membaca suatu cerita tidak dari awal.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tidak lama setelah itu, akhirnya saya menemukan &#8220;Gadis Tangsi&#8221; dan &#8220;Mahligai di Ufuk Timur&#8221;. Saya tidak pernah tidak terkesan dengan buku karangan bapak.</p>
<p class="MsoNormal">Nilai positif yang bisa saya berikan kepada bapak adalah karena bapak selalu dapat menjelaskan setting maupun lokasi yang bapak gunakan secara detail.Dan kebanyakan, Bapak mengambil setting Soerabaia tempo doeloe..</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Saya sangat menunggu buku terbaru dari Bapak..<br />
Saya harap Bapak berkenan memberikan kabar kepada saya apabila bapak telah mengeluarkan buku baru (dalam bahasa Indonesia karena saya tidak terlalu mengerti bahasa Jawa), baik judul maupun harganya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Terima kasih.</p>
<p class="MsoNormal">Salam hormat,</p>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#EFBC82"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;color:#F8F7F5"><strong>Rudi, Surabaya:</strong></p>
<div align="left" style="margin-bottom :6pt; color:#F8F7F5; font-size:12px;">
Mendadak Kagum.</p>
<p>Bingung. Harus dimulai dari mana. Yang jelas semua terkesan mendadak. Seperti jatuh begitu saja.</p>
<p>Ya, memang demikianlah jika saya mendadak kagum kepada Bapak. Ke-mendadak-an ini muncul ketika saya selesai menghabiskan “Gadis Tangsi”. Novel yang sangat indah. Bukan karena keindahan bahasa ataupun kata-katanya. Namun indah karena kemanusiaan.</p>
<p>Rupanya tak berlebihan jika saya mengutip apa yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer: “Keindahan itu terletak pada kemanusiaan…. Bukan dalam mengutak-utik bahasa….”.</p>
<p>Bagi saya, “Gadis Tangsi” merupakan konplik kemanusiaan yang komplit. Membacanya saya seperti berkenalan, bertatap muka langsung, dengan Teyi, Raminem, Keminik, Parasi dan lainnya. Sungguh saya seperti berada di lingkungan Tangsi.<br />
Karena hidup adalah yang absurd. Jika tidak berlebihan maka saya juga memaknai kekaguman saya juga sebagai hal yang absurd. Seperti pada judul di atas: Semua terkesan mendadak.</p>
<p>Hanya inilah yang mampu saya tuliskan untuk Bapak Suparto. Sengaja saya tulis, lalu saya kirimkan dalam bentuk surat. Karena saya ingin surat pertama (yang saya kirimkan) dalam seumur hidupku ini terkirim buat orang besar yang saya kagumi, secara mendadak.</p>
<p>Terima kasih atas kesudiannya membaca tulisan ini. Dan saya harap, saya mendapatkan balasan surat dari orang yang kukagumi. Ya, saya akan menunggu surat balasan “pertama” seumur hidup saya ini. He he he…..!</p>
<p>Surabaya, 10 September 2007</p></div>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<table border="0" cellpadding="3" width="467" height="135" bgcolor="#934F2E"/>
<tr>
<td>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong>Hangesti :</strong></p>
<p class="MsoNormal">Selamat sore paka Brata,Setelah mahligai di ufuk timur ada lagikah tulisan bapak yang baru yang sejenis itu?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Diantara tulisan bapak rasanya saya menemukan tokoh teyi sebagai tokoh yang lain dari pada yang lain. Biasanya tokoh-tokoh bapk banyak yang abu-abu. Tapi si teyi ni sesudah dewasa dapat dikatakan hampir sempurna ( manusia kan tidak mungkin sempurna ya?).</p>
<p class="MsoNormal">
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Tapi teyi ini ya pekerja keras, ya rajin ya jujur ya baik hati ya tidak pelit ya sadar akan hakikat manusia yang tidak berhak merasa sempurna. Di jaman yang amburadul ini menemukan tokoh teyi sepertinya jadi masih yakin bahwa di dunia ini masih ada orang-orang baik gitu lho.Mudah-mudahan ada yang baru yang sejenis itu.Salam</span>
</td>
</tr>
</table>
<p></br></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=79</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Email dari Pak Bambang</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=61</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=61#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 05:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Mereka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Rekan-rekan yang saya hormati, Semenjak Minggu (2-03) saya sakit dan mengukur tempat tidur. Tetapi hari Rabu siang ddibangunkan karena ada kurir membawa kiriman tebal, berat dari KITLV. Betapa gembira saya menerima pemberian buku sangat bermutu dan berharga dari KITLV, antara lain woordenboek (Javans nederlancsch karya Rob van Albada yang bagus, 1300 halaman). Hari Jumaat (07-03) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New Roman">Rekan-rekan yang saya hormati,<br />
Semenjak Minggu (2-03) saya sakit dan mengukur tempat<br />
tidur. Tetapi hari Rabu siang ddibangunkan karena ada<br />
kurir membawa kiriman tebal, berat dari KITLV. Betapa<br />
gembira saya menerima pemberian buku sangat bermutu<br />
dan berharga dari KITLV, antara lain woordenboek<br />
(Javans nederlancsch karya Rob van Albada yang bagus,<br />
1300 halaman).<br />
Hari Jumaat (07-03) ini saya kebetulan memperoleh tamu<br />
beberapa orang tua Jawa. Saya pameri kamus<br />
Jawa-Belanda Rob van Albada (1300 halaman) yang baru<br />
dua hari di tangan saya (baru beberapa minggu<br />
beredar). Aristokrat itu geleng kepala melihat<br />
kontribusi van Albada (yang Bapaknya dulu Direktur<br />
Observatorium Bosscha professor saya, saya mengenal<br />
dia semenjak tahun 1954). dan banyaknya kata2 kuno<br />
yang dia dengar ketika masih kecil sampai pada tahun<br />
1970-an. Tidak mengira dia memberi penghargaan kalimat<br />
bagus kepada saya (dari &#8216;Donyane Wong Culika&#8217; dia<br />
memperoleh entree 3000 kata &#8212; lalu dia saya<br />
perkenalkan kepada penulisnya di <span style="background: none transparent scroll repeat 0% 0%; cursor: hand; border-bottom: #0066cc 1px dashed" id="lw_1205557050_0" class="yshortcuts">Surabaya</span>, yang saya<br />
kenal baik, Pak Suparto Brata). Novel historis Pak<br />
Suparto Brata itu, 600 halaman, memang hebat sekali.<br />
Dan saya mengusulkannya dia dua tempat untuk hadiah<br />
Rancage dan penghargaan UGAMA)<br />
Bambang Hidayat<br />
PPR ITB G-17</p>
<p>Terima kasih.<br />
</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=61</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menakar Obsesi Suparto Brata</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=46</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=46#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 03:07:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Mereka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[SUPARTO BRATA, sastrawan kawakan dari Surabaya, menerima SEA Write Award 2007 dari Kerajaan Thailand, 12 Oktober lalu. Sebuah penghargaan yang pantas diterima Su­parto karena lebih dari setengah abad kehidupan pria berusia 75 tahun itu diabdikan untuk dunia tulis-menulis. Meski penghargaan itu diterima lewat novel yang berbahasa Indonesia, Saksi Mata, Suparto Brata justru mendedi­kasikan itu untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New Roman"><strong><span>SUPARTO BRATA, </span></strong><span>sastrawan kawakan dari Surabaya, menerima SEA Write Award 2007 dari Kerajaan Thailand, 12 Oktober lalu. Sebuah penghargaan yang pantas diterima Su­parto karena lebih dari setengah abad kehidupan pria berusia 75 tahun itu diabdikan untuk dunia tulis-menulis. Meski penghargaan itu diterima lewat novel yang berbahasa Indonesia, <em>Saksi Mata, </em>Suparto Brata justru mendedi­kasikan itu untuk bahasa dan sastra Ja­wa <em>(Jawa Pos, </em>10 &amp; 15 Oktober 2007).</span><span style="font-size: 9pt">**)</span><span> Kecintaan dan obsesi Suparto terhadap bahasa dan sastra Jawa ini sudah sering diutarakan dalam berbagai kesempatan. <span id="more-46"></span></span></font><font face="Times New Roman"><span>Suparto Brata punya obsesi yang sa­ngat kuat untuk menjadikan bahasa dan sastra Jawa <em>go international. </em>Per­tanyaannya, lewat pintu mana keingin­an itu bisa diwujudkan? Suparto Brata telah lama memulai dengan menerbitkan karya sastra Jawa-nya secara swa­dana. Strategi itu pula yang diterapkan sehingga dia memperoleh tiga kali ber­turut-turut Hadiah Sastra Rancagé (2000-2001-2005). Hadiah yang diterimanya dari Kerajaan </span><country-region></p>
<place><span>Thailand</span></place></country-region><span> kali ini pun direncanakan untuk itu. Tahun ini Suparto bersama para anggota Pa­guyuban Pengarang Sastra Jawa Su­rabaya (PPSJS) juga telah menerbitkan buku-buku cerita rakyat dari Jawa Ti­mur. Ketua PPSJS Bonari Nabonenar optimistis dengan terbitnya buku-buku cerita rakyat tersebut.</span></font><font face="Times New Roman"><span>Dunia sastra dibangun oleh tiga komponen, yaitu pengarang, karya, dan pembaca. Suparto Brata dan kar­yanya sudah jelas ada. Sedangkan un­tuk pembaca sastra Jawa hingga hari ini kondisinya masih sangat minim. Buku sastra Jawa yang dipajang di toko-toko buku jumlahnya relatif tetap utuh alias tanpa pembeli. Pembaca sastra Jawa, termasuk majalahnya, adalah pembaca tradisiona. Ketika po­sisi bahasa Jawa semakin tergantikan oleh bahasa </span><country-region></p>
<place><span>Indonesia</span></place></country-region><span>, kondisi ini ten­tu semakin menipiskan eksistensinya.</span></font><font face="Times New Roman"><span>Pintu masuk bahasa dan sastra Jawa ke arah <em>go international </em>idealnya harus dibangun dari akarnya di dalam. Kong­res Bahasa Jawa di Semarang tahun la­lu kembali merekomendasikan perlu­nya bahasa Jawa diajarkan di sekolah. Ini memang langkah strategis jangka panjang untuk mencetak generasi pe­nerus bahasa dan sastra Jawa. Yang menjadi masalah, sekolah sendiri ma­sih setengah hati untuk itu. Guru ba­hasa dan sastra Jawa semakin langka sehingga tugas tersebut dirangkap oleh guru yang bukan bidangnya alias “asal ada&#8221;. Meski sudah ada konsep yang baik, praktik pembelajaran bahasa dan sastra Jawa di lapangan cenderung ke arah menghafal nama biji-bijian, daun-daunan, anak-anak binatang, pusaka, tatabahasa, tetapi sangat minim unsur kreatif-apresiatif. Lebih parah lagi, mata pelajaran tersebut diajarkan dengan bahasa pengantar bahasa </span><country-region></p>
<place><span>Indo­nesia</span></place></country-region><span>, padahal setiap hari para siswa sudah mampu berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Pendekatan kontekstual dan komunikatif menjadi barang lang­ka dalam pembelajaran bahasa Jawa. Kesannya, pelajaran itu menjadi lebih sulit dan tidak menarik.</span></font><font face="Times New Roman"><span>Suparto Brata pernah usul agar tele­novela dari Amerika Latin di televisi disulih suara dengan bahasa Jawa. Untuk beberapa film, termasuk film Mandarin, ide ini sudah dilaksanakan oleh JTV untuk wilayah Jawa Timur.<em><span> </span></em>Hasilnya cukup menarik, bahkan lucu. </span><city></p>
<place><span>Ada</span></place></city><span> gairah baru penggunaan bahasa Jawa setelah dipakai di televisi lokal. Tapi, ini adalah tradisi lisan, sementara sastra modern lebih mengedepankan bahasa dan sastra tulis. Televisi lokal memberi penguatan pada ranah domestik, meski di sisi lain terjadi dekonstruksi budaya dan penyempitan terhadap film yang disulih.</span></font><span><font face="Times New Roman">Sulih suara adalah usaha adopsi, sementara <em>go in</em><span>­</span><em>ternational </em>adalah eks­pansi. Film asing yang di­sulih dengan bahasa Jawamerupakan internalisasi berbagai budaya agar menjadi lebih akrab dengan penuturnya. Sedangkan <em>go international </em><span>lebih<em> </em></span>mementingkan eksternalisasi budaya kita untuk dilempar keluar negeri. Lan­tas dari pintu mana lagi bahasa dan sastra Jawa bisa <em>go international?</em></font></span><font face="Times New Roman"><span>Suparto Brata juga menyatakan bah­wa dia meniru format Amerika untuk menjual dan mempromosikan bahasa dan sastra Jawa ke luar negeri. Ini me­mang langkah ideal. Tetapi, seberapa ba­nyak orang luar negeri yang menguasai dan berminat pada bahasa dan sastra Jawa? Penyanyi Anggun C. Sasmi menjadi <em>go international </em><span>bukan<em> </em></span>karena dia menggunakan bahasa Jawa atau </span><country-region></p>
<place><span>Indonesia</span></place></country-region><span>, tetapi dia menyanyi dengan bahasa asing (Prancis dan Inggris).</span></font><font face="Times New Roman"><span>Sastra Jawa menjadi <em>go international </em>tentu sangat kecil kemungkinannya jika tetap menggunakan bahasa Jawa. Jalan yang harus ditempuh adalah me­nerjemahkannya ke berbagai bahasa asing. Implikasi negatifnya, usaha un­tuk mempromosikan bahasa Jawa ke luar negeri sudah terputus di sini. Yayasan Obor </span><country-region></p>
<place><span>Indo­nesia</span></place></country-region><span> sangat getol mener­bitkan karya sastra ter­jemahan dari negara-ne­gara ketiga. Seperti Ya­yasan Obor itulah yang sangat diperlukan untuk menyebarkan sastra Jawa ke ranah internasional. Usaha terjemahan ini sudah ditempuh oleh sas­trawan </span><country-region></p>
<place><span>India</span></place></country-region><span>, Rabindra­nath Tagore, hingga dia memperoleh Hadiah Nobel Sastra pada 1913 . </span></font><font face="Times New Roman"><span>Bila usaha ini berhasil, kita harus berlapang dada bahwa yang terangkat ke permukaan bukanlah sastra Jawa, melainkan sastra </span><country-region></p>
<place><span>Indone­sia</span></place></country-region><span>. Sastra Jawa adalah sastra minor, sedangkan sastra mayornya adalah </span><country-region></p>
<place><span>In­donesia</span></place></country-region><span>. Di ranah internasional, yang dikedepankan biasanya sastra mayor­nya. Anggun C. Sasmi di luar negeri dikenal sebagai penyanyi dari </span><country-region></p>
<place><span>Indone­sia</span></place></country-region><span>, bukan dari Jawa. </span></font><font face="Times New Roman"><span>Arswendo Atmowiloto pernah me­ngatakan, sastra Jawa lebih mungkin menerima hadiah nobel karena lebih memiliki ciri khas dibandingkan sastra </span><country-region></p>
<place><span>Indonesia</span></place></country-region><span>. Suparto Brata juga pernah menyatakan hal yang sama. Saya per­caya bahwa kekhasan sastra Jawa itu terletak pada cara bertutur atau bentuk, ungkapan bahasa, terutama pada puisi. Mungkin semacam kekhasan Ranggawarsita. Tetapi, ketika diterjemahkan ke bahasa asing, bentuknya akan ber­ubah, bahkan rusak. Secara ekstrem, sebenarnya pantun, <em>wangsalan, </em>atau tembang-tembang Jawa itu tak dapat diterjemahkan karena kendala bentuk. Harapan terhadap kekhasan bentuk de­ngan demikian sangat rawan.</span></font><span><font face="Times New Roman">Sastra Jawa menjadi <em>go international </em>bertumpu pada tema. Memang, sastra Jawa modern sudah tidak terlalu terikat pada bentuk, termasuk puisinya. Teta­pi, tema yang dieksplor sastra Jawa te­rasa &#8220;kurang keras&#8221;, masih banyak mengangkat kehidupan kaum ping­giran tradisional. Karya Suparto Brata pada periode yang lalu terasa lebih pe­kat karena ada unsur heroisme dan nasionalismenya, tetapi karya-karya terbarunya yang dimuat berseri di majalah berbahasa Jawa mengarah pada kehidupan populer. Suparto mengaku berguru pada buku-buku <em>best seller </em>yang ditulis pengarang asing seinacam Jackie Collins, Sidney Sheldon, Danielle Steel, dan yang lainnya. Di ru­mahnya, saya banyak dipameri novel­-novel populer terjemahan yang ada tulisan &#8220;best seller&#8221;-nya.</font></span><span><font face="Times New Roman">Hadiah nobel sastra secara tipikal cenderung diberikan kepada karya-­karya dengan nuansa sosial politik yang kuat, bahkan cenderung ke sastra perlawanan. Pengarang berada pada pihak oposisi dengan penguasa. Mochtar Lubis, Rendra, dan Pra­moedya Ananta Toer konon pernah masuk nominator juga dengan alasan tema. Jika ingin <em>go international </em>atau meraih hadiah nobel, Suparto Brata juga harus memikirkan hal itu. Jika tidak, dapat pula berpaling ke tema-tema psikologis, filsafat, dan religi seperti yang dilakukan Doris Lessing, penerima Nobel Sastra 2007, perempuan Inggris imigran dari Iran yang ba­nyak menulis novel dengan tema ko­munis, psikologis, dan sufi.</font></span><font face="Times New Roman"><em><span>Go international </span></em><span>&#8216;memiliki dua pintu masuk. Jika yang dituju adalah semacam hadiah nobel, unsur kekuatan dan nilai intrinsik dan ekstrinsik literernya menjadi sangat penting. Bila yang diinginkan semacam seni populer yang <em>marketable, </em>masuklah ke seni in­dustri yang berguru pada selera pasar.</span></font><span><font face="Times New Roman">Usaha untuk mengangkat bahasa dan sastra Jawa ke forum internasional bukan semata-mata kewajiban Suparto Brata seorang. Terlalu banyak kendala; jika proyek besar itu ditumpukan pada pundak seorang. Di tengah-tengah arus global modernisasi dan industrialisasi budaya, usaha untuk mengangkat ba­hasa dan sastra Jawa tentu semakin berat. Nilai-nilai eksotis bahasa dan sastra Jawa, di satu sisi, bisa dijadikan modal. Maraknya <em>culture studies </em>dan sastra multikulturalisme adalah ken­daraan yang juga dapat dimanfaatkan untuk usaha di atas.</font></span><font face="Times New Roman"><span>Idealisme Suparto Brata masih akan ditakar oleh sejarah. Kita tentu senang dan mendukung berbagai usaha ke arah itu. </span></p>
<place>
<placename><span>Dengan</span></placename><span> </span></p>
<placename><span>diterimanya</span></placename><span> </span></p>
<placetype><span>SEA</span></placetype></place><span> Write Award 2007 oleh Suparto Brata semoga menambah energi dan sema­ngat kreatifnya semakin berkobar-kobar. Selamat. <span>***</span></span></font><span><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p></span><font face="Times New Roman"><span>*) </span><span style="font-size: 10pt">Dimuat Jawa Pos Minggu 11 November 2007, rubriek Budaya.</span><span></span></font><font face="Times New Roman"><span><span>    </span><span> </span></span><em><span style="font-size: 10pt">M. Shoim Anwar, pengarang, tinggal di Surabaya,</span></em></font><font face="Times New Roman"><em><span style="font-size: 10pt"><span>   </span><span> </span>editor buku kumpulan cerpen <strong>‘Interogasi’</strong> karya </span></em><span style="font-size: 10pt"><span> </span></span><em><span style="font-size: 10pt">Suparto Brata</span></em></font><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Times New Roman'">**) Ungkapan <em>Sastra Jawa go international,</em> dimuat Jawa Pos 15 Oktober 2007 mungkin kesimpulan wartawan Jawa Pos setelah mendengarkan ucapan Suparto Brata ketika bicara 2 menit di Gala Dinner di Royal Ballroom, The Oriental Hotel, Bangkok, tgl. 12 Oktober 2007, di hadapan Princess Sirivannavari Nariratana dan para undangan (antara lain para duta besar manca negara), yaitu ucapannya: <em>“Sekarang ini saya berusaha membangkitkan sastra Jawa, karena sastra Jawa juga anggota sastra dunia, karena itu sastra Jawa juga patut dibaca oleh bangsa-bangsa di dunia. Siapa tahu Tuhan berkenan, dengan membaca sastra Jawa, dunia menjadi damai dan sejahtera. Dan saya ikut serta berusaha menciptakan itu lewat menulis cerita”. </em>(Teks pidato dalam bahasa Inggris tercantum di meja para tamu Gala Dinner). Tentang maksud-maksud Suparto Brata menerbitkan buku/membangkitkan sastra Jawa, bisa disemak pada (klik): <strong><em><a href="http://supartobrata.com/?p=4">Donyane Wong Culika Jilid II </a></em></strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=46</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Gadis Tangsi</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=11</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=11#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Sep 2007 06:09:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Mereka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Mendadak Kagum. Bingung. Harus dimulai dari mana. Yang jelas semua terkesan mendadak. Seperti jatuh begitu saja. Ya, memang demikianlah jika saya mendadak kagum kepada Bapak. Ke-mendadak-an ini muncul ketika saya selesai menghabiskan “Gadis Tangsi”. Novel yang sangat indah. Bukan karena keindahan bahasa ataupun kata-katanya. Namun indah karena kemanusiaan. Rupanya tak berlebihan jika saya mengutip apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Mendadak Kagum.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bingung. Harus dimulai dari mana. Yang jelas semua terkesan mendadak. Seperti jatuh begitu saja.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ya, memang demikianlah jika saya mendadak kagum kepada Bapak. Ke-mendadak-an ini muncul ketika saya selesai menghabiskan “Gadis Tangsi”. Novel yang sangat indah. Bukan karena keindahan bahasa ataupun kata-katanya. Namun indah karena kemanusiaan.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Rupanya tak berlebihan jika saya mengutip apa yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer: “Keindahan itu terletak pada kemanusiaan…. Bukan dalam mengutak-utik bahasa….”.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bagi saya, “Gadis Tangsi” merupakan konplik kemanusiaan yang komplit. Membacanya saya seperti berkenalan, bertatap muka langsung, dengan Teyi, Raminem, Keminik, Parasi dan lainnya. Sungguh saya seperti berada di lingkungan Tangsi.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Karena hidup adalah yang absurd. Jika tidak berlebihan maka saya juga memaknai kekaguman saya juga sebagai hal yang absurd. Seperti pada judul di atas: Semua terkesan mendadak.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Hanya inilah yang mampu saya tuliskan untuk Bapak Suparto. Sengaja saya tulis, lalu saya kirimkan dalam bentuk <city></city></p>
<place></place>surat. Karena saya ingin <city></city></p>
<place></place>surat pertama (yang saya kirimkan) dalam seumur hidupku ini terkirim buat orang besar yang saya kagumi, secara mendadak.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Terima kasih atas kesudiannya membaca tulisan ini. Dan saya harap, saya mendapatkan balasan <city></city></font><font face="Times New Roman"></p>
<place></place>surat dari orang yang kukagumi. Ya, saya akan menunggu <city></city></p>
<place></place>surat balasan “pertama” seumur hidup saya ini. He he he…..!</p>
<p></font><font face="Times New Roman">Surabaya, <date Year="2007" Day="10" Month="9"></date>10 September 2007</font></p>
<p><font face="Times New Roman">RUDI, Balong Sari 6K/16</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><city></city></p>
<place></place>Surabaya 60186</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=11</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Mahligai di Ufuk Timur</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=7</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=7#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Sep 2007 05:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Mereka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Selamat sore paka Brata,Setelah mahligai di ufuk timur ada lagikah tulisan bapak yang baru yang sejenis itu? Diantara tulisan bapak rasanya saya menemukan tokoh teyi sebagai tokoh yang lain dari pada yang lain. Biasanya tokoh-tokoh bapk banyak yang abu-abu. Tapi si teyi ni sesudah dewasa dapat dikatakan hampir sempurna ( manusia kan tidak mungkin sempurna [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="PT-BR"><font face="Times New Roman">Selamat sore paka Brata,</font></span><span lang="PT-BR"><font face="Times New Roman">Setelah mahligai di ufuk timur ada lagikah tulisan bapak yang baru yang sejenis itu?<br />
Diantara tulisan bapak rasanya saya menemukan tokoh teyi sebagai tokoh yang lain dari pada yang lain. Biasanya tokoh-tokoh bapk banyak yang abu-abu. Tapi si teyi ni sesudah dewasa dapat dikatakan hampir sempurna ( manusia kan tidak mungkin sempurna ya?). Tapi teyi ini ya pekerja keras, ya rajin ya jujur ya baik hati ya tidak pelit ya sadar akan hakikat manusia yang tidak berhak merasa sempurna. Di jaman yang amburadul ini menemukan tokoh teyi sepertinya jadi masih yakin bahwa di dunia ini masih ada orang-orang baik gitu lho.</font></span><span lang="PT-BR"><font face="Times New Roman">Mudah-mudahan ada yang baru yang sejenis itu.</font></span><span lang="PT-BR"><font face="Times New Roman">Salam<br />
Hangesti</font></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=7</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
