<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suparto Brata Blog &#187; Talk show</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?cat=46&#038;feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://supartobrata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jan 2018 08:12:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>TUGAS KARYA ILMIAH PELAJAR SEKOLAH CIPUTRA SURABAYA</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=544</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=544#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 04:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Talk show]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=544</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, Hari Sumpah Pemuda, dan Hari Pemuda tahun 2009 Sekolah Ciputra Surabaya telah melaksanakan serangkaian kegiatan. Sebagai puncak peringatan tersebut adalah talk show dengan tema “Nasionalisme Dalam Karya Sastra Dan Di Kalangan Anak Muda”. Acara tersebut dilaksanakan pada tanggal 4 November 2009, jam 13.30-15.00 WIB di Aula Sekolah Ciputra, dengan mengundang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, Hari Sumpah Pemuda, dan Hari Pemuda tahun 2009 Sekolah Ciputra Surabaya telah melaksanakan serangkaian kegiatan. Sebagai puncak peringatan tersebut adalah talk show dengan tema “Nasionalisme Dalam Karya Sastra Dan Di Kalangan Anak Muda”. Acara tersebut dilaksanakan pada tanggal 4 November 2009, jam 13.30-15.00 WIB di Aula Sekolah Ciputra, dengan mengundang saya sebagai narasumber pada acara tersebut. Yang menjadi pembawa acara Nadya Yusrina Putri (kelas 10B) sedang moderator Pak Amin, guru sastera Indonesia. Yang menjadi pokok (uraian tanya-jawab) dalam talk show tersebut selain kegiatan saya sebagai penulis buku, lebih mengerucut lagi kepada buku karangan saya serial Gadis Tangsi. Karena serial Gadis Tangsi selama tiga tahun belakangan sudah menjadi salah satu bacaan wajib buku sastra Indonesia di Sekolah Ciputra dari kelas 9-12. Maka para pelajar yang menghadiri talk show sudah faham betul cerita tentang Gadis Tangsi.</p>
<p><span id="more-544"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Namun, beberapa hari kemudian (26 November 2009) siang hari datang ke rumah saya 5 pelajar Sekolah Ciputra (Evelyn Halim, Indra Halley, Andrew Surya Nurhadi, Prayogo Welson, Michael Kusuma) dan sore harinya juga datang seorang lagi (Nikki Fania). Nikki Fania juga kelompok yang datang siang harinya, tertinggal dari rombongan karena rumahnya jauh terpencar dari teman-temannya tadi. Nikki Fania rumahnya di daerah Kenjeran (Surabaya sudut timur), sekolahnya di Puri Widya Kencana CitraRaya, di Surabaya barat. Pasti sekolah Nikki Fania dengan pembiayaan yang sangat mahal.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka yang datang ke rumah saya adalah para pelajar dari Sekolah Ciputra, kelas 12. Mereka datang mewawancarai saya berhubung dengan tugas karya ilmiah yang harus mereka garap. Fokus wawancara mereka juga mengenai buku-buku sastra Indonesia yang akan jadi garapan mereka (tidak hanya buku serial Gadis Tangsi). Buku serial Gadis Tangsi hanyalah salah satunya. Berarti membaca buku sastra Indonesia menjadi kurikulum sekolah. Mereka dari jurusan (pilihan mereka) bahasa Indonesia. Kata mereka, selain dari jurusan bahasa Indonesia, tugas karya ilmiah menulis makalah seperti itu juga ditugaskan kepada pelajar jurusan (pilihan) ekonomi, teknik, dan lainnya. Menurut mereka, mereka tidak menghadiri acara talk show 4 November 2009. Yang hadir acara talk show adalah pelajar kelas 9-11 saja. Kelas 12 siap-siap menggarap tugas-tugas akhir sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian hari seorang bernama Vincent Cahyadi, mengirimi hasil garapan tugas karya ilmiahnya kepada saya. Mengingat pentingnya mendorong kegiatan para pelajar sekolah menengah untuk menggarap karya ilmiah berupa makalah, berikut saya muat menyeluruh karya Vincent Cahyadi, karena saya anggap sangat bagus untuk dijadikan contoh. Pertimbangan saya, pelajar sekolah menengah sudah bisa menghasilkan karya tulis ilmiah seperti itu, tentu hebat sekali. Ini makalah di bidang bahasa/sastera Indonesia. Vincent Cahyadi, bagaimana pun juga pasti membaca buku-buku serial Gadis Tangsi yang ditelitinya. Mereka yang menggarap tugas jurusan ekonomi atau teknik, betapa pun juga pasti memabacai buku-buku ekonomi mau pun teknik. Tanpa membacai buku-buku jurusannya mana bisa menghasilkan makalah karya tulis ilmiah seperti ini? Dan tentu saja Vincent Cahyadi juga belajar menulis. Tanpa punya kemampuan menulis, menyusun kalimat, mengeja kata, mengganti alenia, memberi tanda baca, mana mungkin dia bisa menghasilkan karya tulis ilmiah seperti ini. Dari contoh hasil garapan tugas belajar pelajar Sekolah Ciputra Surabaya ini saja, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa di Sekolah Ciputra Surabaya, An International and IB World School (International Education for Indonesian and Overseas Students) MEMBACA BUKU DAN MENULIS BUKU itu jadi kurikulum sekolah. Sekolah Ciputra Surabaya membuka International Baccalaureate, Primary Years Programme, Middle Years Programme, Diploma Programme.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini ujian-ujian nasional sekolah baru saja selesai dilaksanakan. Cara menempuh ujiannya hanya dengan mengisi titik-titik pilihan saja. Tidak mengemukakan jawaban dengan menulis, menyusun kalimat. Apakah setelah dinyatakan lulus dari sekolah, ilmu mereka bisa dipergunakan untuk kehidupan mereka selanjutnya? Apa mengemukakan pendapat atau pikirannya pada kehidupannya selanjutnya bisa cukup hanya dengan membuat titik-titik seperti waktu menggarap ujian nasional? Dan kalau membaca buku dan menulis buku tidak dijadikan kurikulum seperti di sekolah Internasional Ciputra apakah mereka (lulusan Unas) nanti di perguruan tinggi lancar menulis karya ilmiah, baik mengenai sastra, teknik, ekonomi, pendidikan, hukum, kedokteran? Atau setelah mereka jadi mahasiswa baru BELAJAR MENULIS? Hasilnya akan bagaimana? Sebab kalau belajar membaca buku dan MENULIS buku baru dibiasakan setelah di jenjang mahasiswa, mereka sama dengan orang buta huruf yang baru belajar membaca. Dan akan sulit sekali mengemukakan pendapat atau pikiran dengan bentuk tulisan. Akan susah sekali menulis (buku/karya ilmiah/skripsi) kalau kebiasaan menulisnya baru dipratikkan setelah umur dewasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sinilah kendalanya, mengapa bangsa Indonesia ketinggalan dalam segala bidang pengetahuan. Di negeri lain, anak lulusan SMP/SMA sudah lancar membaca buku dan menulis buku (seperti pelajar Sekolah Ciputra di Surabaya), sedang pelajar lulusan Unas masih harus belajar membudayakan membaca buku dan menulis buku baru setelah di perguruan tinggi. Tertinggal jauuuh!</p>
<p style="text-align: justify;">Persoalan ini pasti bukanlah karena di Sekolah Ciputra uang sekolahnya mahal dan muridnya pinter-pinter, sedang di Sekolah (Negeri) Indonesia kekurangan dana dan muridnya bodoh-bodoh. Persoalannya jelas karena sistem, atau methode pengajaran, atau pengelolaan pendidikan yang beda. Yaitu bahwa di sekolah negeri-negeri lain (manca negara) seperti apa yang dilakukan oleh Sekolah Ciputra Surabaya, pelajaran sastra, pelajaran membaca buku dan menulis buku, menjadi kurikulum utama untuk mencerdaskan dan membuat pinter anak didiknya. Pelajaran membaca buku dan menulis buku diajarkan kepada anak didik sejak si bocah belum mengerti huruf hingga akhirnya si anak didik punya budaya membaca buku dan menulis buku. Membudayakan membaca buku dan menulis buku tidak mungkin didril selama tiga bulan atau setahun pada les bimbingan belajar andaikata membaca buku dan menulis buku itu dijadikan mata pelajaran yang harus ditempuh pada Unas. Anak didik harus dibiasakan sejak masuk sekolah klas 1 hingga klas 12, setidaknya selama 12 tahun. Dan selanjutnya di perguruan tinggi membaca buku dan menulis buku tadi sudah menjadi kebiasaan atau kebudayaan hidupnya. Dengan begitu membaca buku dan menulis buku menjadi kiat, landasan, alat, prasarana, instrumen, infrastruktur dalam hidupnya untuk meraih ilmu dan ketrampilan hidup. Itu yang diajarkan di Sekolah Ciputra Surabaya: sastra atau membaca buku dan menulis buku dijadikan kurikulum utama sepanjang 12 tahun awal usia sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedang sekolah 12 tahun awal usia bocah di Indonesia, sastra tidak diajarkan (tidak masuk kurikulum). Membaca buku dan menulis buku (tiap hari di sekolah diajari/dilatih bersama membaca/menulis oleh guru) tidak dibudayakan di sekolah. Yang menjadi syarat bersekolah (di Indonesia sehingga lulus Unas) hanya BISA MEMBACA, tidak buta huruf. Yang masuk kurikulum yang nanti diujikan dalam uas dan unas adalah ilmu-ilmu pengetahuan. Yang diajarkan selama 12 tahun sekolah awal usia adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang bisa didapat dengan cara hadir dan mendengarkan guru mengajar, yaitu dengan cara (methode) MELIHAT DAN MENDENGAR ajaran guru. Setelah lulus unas, di perguruan tinggi (atau hidup di luar pendidikan/bekerja) ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup itu masih selalu harus dicari dan diterapkan, cara pencapaian atau pengeterapan ilmunya juga dengan MELIHAT DAN MENDENGAR. Melihat dan mendengar itu kodrat, sehingga meskipun lulus bersekolah awal 12 tahun di Indonesia ini putra bangsa tidak beranjak dari kehidupan orang primitif, yaitu MELIHAT DAN MENDENGAR jadi kiat hidupnya, atau untuk menyangga hidupnya. Melihat dan mendengar thok, tidak disertai kiat ketrampilan membaca buku dan menulis buku. Itulah hasil pendidikan sekolah di Indonesia. Sudah lulus unas, penyangga hidupnya masih hanya bertutur lisan doang, seperti kodratnya. Tidak hidup dengan kiat bahasa tulisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali akan lebih jelas kalau saya beri gambaran sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Berbudaya membaca buku dan menulis buku itu adalah infrastruktur kiat hidup. Infrastruktur seperti halnya jalan (nama benda). Jadi, kalau sekolah 12 tahun dibudayakan membaca buku dan menulis buku, sama saja mereka diajari membangun infrastruktur, membangun “jalan” untuk dilalui “kendaraan”. Ilmu pengetahuan, baik sosial maupun pasti dan lain-lainnya, adalah “kendaraan”. Jadi ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah selama 12 tahun itu adalah mereka (putera bangsa) diajari membangun “kendaraan”. Kendaraan yang ditarik tenaga manusia (becak), ditarik tenaga binatang (delman, dokar), ditarik tenaga mesin (mobil, motor). Setelah lulus unas dan di perguruan tinggi ataupun bekerja, mereka juga melanjutkan menuntut ilmu pengetahuan agar hidupnya nyaman. Yaitu menuntut ilmu membangun “kendaraan” yang canggih, yang cepat sampai, yang aman, yang nyaman. Mungkin mereka sangat mahir membangun “kendaraan” seperti yang diajarkan di perguruan tinggi. Tetapi kalau mereka tidak membangun “jalan” (infrastruktur) bagaimana “kendaraan” (becak, dokar, mobil) mereka bisa melaju canggih, cepat sampai, aman dan nyaman?</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi kalau di Sekolah Ciputra Surabaya, selain ilmu pengetahuan  (“kendaraan”) juga diajarkan sastra (“jalan”) sebagai kurikulum, mereka sama saja diajari selain membuat “kendaraan” juga membuat “jalan”. Nanti setelah lulus sekolah, apa pun “kendaraan” yang dicipta bisa berjalan sebagaimana fungsinya, karena mereka juga menciptakan “jalan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedang para lulusan unas sekolah Indonesia, yang disiapkan untuk lulus unas hanyalah ajaran ilmu pengetahuan, yang di sini saya lambangkan dengan membuat “kendaraan”. Nanti setelah lulus sekolah (unas), lalu bekerja ataupun di perguruan tinggi, masih harus menuntut ilmu pengetahuan (membuat “kendaraan”), betapapun hebatnya mereka mencipta “kendaraan”, mana bisa berfungsi karena mereka selama 12 tahun usia awal sekolah tidak diajari membuat “jalan”? “Kendaraan” yang mereka ciptakan baik sebagai mata pencaharian maupun untuk meneruskan belajar di perguruan tinggi, mangkrak, tidak berfungsi, tidak tersalur. Sebab mereka (di sekolah 12 tahun) hanya diajari membuat “kendaraan”, setelah melampaui unas yang bisa dicipta (dibangun) hanya “kendaraan”. Tidak mampu membangun prasarana “jalan” karena selama sekolah 12 tahun tidak diajari membangun “jalan” (sastra, membaca buku dan menulis buku). Lalu bagaimana “kendaraan” ciptaan mereka setelah lulus unas difungsikan, wong mereka (lulusan unas) tidak bisa menciptakan “jalan”?.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengamatan saya, di Sekolah Ciputra Surabaya sastra masuk kurikulum, berarti murid atau pelajar selain menuntut ilmu pengetahuan (membuat “kendaraan”) dengan cara MELIHAT DAN MENDENGAR, di sekolah juga diajari MEMBACA BUKU DAN MENULIS BUKU. Buktinya semua tahu cerita buku Gadis Tangsi. Setelah lulus sekolah kiat hidupnya selain kodrati juga sastrawi, selain bisa membangun KENDARAAN, juga membangun PRASARANA JALAN. Seterusnya, mereka bisa membangun kendaraan yang modelnya apa saja (misalnya sepeda, becak, motor, mobil, tank) yang bisa digunakan untuk berkendaraan karena prasarana jalannya juga sudah dibangun (membaca buku dan menulis buku).</p>
<p style="text-align: justify;">Sedang putera bangsa yang selama bersekolah 12 tahun tidak dibudayakan membaca buku dan menulis buku (membangun prasarana jalan), kurikulumnya hanya diajarkan ilmu pengetahuan (membangun kendaraan) dengan cara MELIHAT DAN MENDENGARKAN ajaran guru (hadir di sekolah), maka setelah lulus unas, kiat hidupnya hanya kodrati (seperti orang primitip, mengandalkan melihat dan mendengar), kiat hidupnya hanya membangun KENDARAAN. Biarpun membangun kendaraan (sepeda, becak, motor, mobil, tank) yang canggih kalau prasarana jalannya tidak dibangun bagaimana kendaraan ciptaan mereka berfungsi dengan baik? Biarpun ilmu pengetahuan yang dituntut telah begitu tinggi (misalnya bidang kedokteran) kalau mereka tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku, ilmu pengetahuan yang mereka serap hanya dari pertemuan mereka dengan dosen (melihat dan mendengar) sampai seberapa jauh bisa bermanfaat?</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tidak diajarkannya sastera (membaca buku dan menulis buku) selama awal 12 tahun sekolah di Indonesia, maka rata-rata penduduk Indonesia kiat hidupnya hanya secara kodrati. Hidup hanya dengan mengandalkan bahasa lisan. Sedang warga dunia lainnya selain lisan juga tulisan (membaca buku dan menulis buku). Bangsa Indonesia jadi tertinggal jauh. Apalagi dengan selalu dipermudahnya teknik penyerapan melihat dan mendengar, yaitu dipermudahnya menikmati radio, telepon, televisi, handphon, musik, sehingga putera bangsa sangat terpesona menggunakannya (bisa menikmati tanpa bersusah payah belajar), kian terlena tidak membaca buku dan menulis buku. Bangsa Indonesia menjadi TIDAK PRODUKTIF, TIDAK MANDIRI, tetapi terjajah oleh teknologi, konsumtif, hidup sangat ketergantungan dari produk asing, dan selalu kekurangan (miskin/bodoh). Karena konsumtif biasanya lalu serakah, merasa selalu kekurangan, ingin selalu bisa mendapatkan kenyamanan hidup, lalu berbuat yang paling cepat dan mudah memperoleh kenikmatannya, yaitu korupsi, atau merampok.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi sebetulnya mengajarkan/membudayakan anak didik awal sekolah 12 tahun dengan membaca buku dan menulis buku, adalah instrumen pondasi memberantas kemiskinan dan kebodohan. Dan kalau tidak membaca buku dan menulis buku, pemberantasan kemiskinan dan kebodohan dengan cara apapun (tidak ada pondasinya) akan muspra. Kalau begitu mengapa sastra (membaca buku dan menulis buku) tidak masuk kurikulum sekolah 12 tahun usia awal? Mengapa tidak seperti di Sekolah Ciputra Surabaya, atau sekolah-sekolah di manca negara? Sastra (membaca buku dan menulis buku) menjadi kurikulum utama pada sekolah 12 tahun awal usia, karena di situlah para peserta anak didik bangsa diajari (dibudayakan) membuat “jalan” sebagai kiat hidupnya sepanjang usianya (sampai tua masih membaca buku dan menulis buku).</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah pendapat dan usul saya. Sastra (membaca buku dan menulis buku) masuk kurikulum 12 tahun sekolah awal usia. Lo, nanti menempuh unasnya bagaimana? Yang menentukan guru-guru sekolahnya, dengan nilai yang bagaimana pelajarnya boleh mengikuti unas. Karena sastra tidak bisa dinilai hanya lewat les bimbingan belajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Marilah sekarang kita kaji makalah Vincent Cahyadi, pelajar kelas 12 Sekolah Ciputra Surabaya. Apakah putera bangsa yang baru lulus Unas juga punya kemampuan “membangun infrastruktur jalan” seperti para pelajar Sekolah Ciputra Surabaya? Kalau tidak mampu persoalannya bukan karena pelajar Sekolah Ciputra Surabaya kaya dan pintar, pelajar Indonesia di sekolah lain kekurangan dana dan bodoh, melainkan karena methode pendidikan sekolah 12 tahun mereka yang beda.</p>
<p>Selamat membaca.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=544</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TALK SHOW SEKOLAH CIPUTRA</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=415</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=415#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 13:28:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Talk show]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=415</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 4 November 2009 Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, Hari Sumpah Pemuda, dan Hari Pemuda, Sekolah Ciputra (Surabaya) melaksanakan serangkaian kegiatan. Sebagai puncak peringatan tersebut adalah talk show dengan tema “Nasionalisme Dalam Karya Sastra Dan Di Kalangan Anak Muda”. Acara tadi dilaksanakan pada hari Rabu 4 November 2009, jam 13.30-15.00 WIB di Aula Sekolah Ciputra [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rabu, 4 November 2009</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, Hari Sumpah Pemuda, dan Hari Pemuda, Sekolah Ciputra (Surabaya) melaksanakan serangkaian kegiatan. Sebagai puncak peringatan tersebut adalah <em>talk show</em> dengan tema “<strong>Nasionalisme Dalam Karya Sastra Dan Di Kalangan Anak Muda</strong>”. Acara tadi dilaksanakan pada hari Rabu 4 November 2009, jam 13.30-15.00 WIB di Aula Sekolah Ciputra Surabaya, dengan narasumber pengarang trilogi Gadis Tangsi, Suparto Brata, yang bukunya tersebut dalam tiga tahunan ini menjadi pelajaran wajib dibaca oleh para pelajar klas 10-12. Pembawa acaraNadya Yusrina Putri (klas 10B). Moderator Bapak Amin (guru bahasa Indonesia).</p>
<p style="text-align: justify;">Sekolah Ciputra Surabaya adalah sekolah Internasional Baccalaureate yang dari primary-middle-diploma programnya bahasa pengantarnya bahasa Inggris.Tempatnya di daerah Ciputra-land, daerah baru Kota Surabaya Barat.</p>
<p><span id="more-415"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan berikut adalah daftar pertanyaan yang disusun tertulis diajukan kepada narasumber sebelumnya untuk arahan agar jalannya talk show lancar.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Mengapa tertarik menulis bahasa Jawa?</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak klas 1 SD Desa (1938) diajari MEMBACA BUKU dan menulis/mengarang cerita (bahasa/huruf Jawa). Klas 4-5 sudah membaca BUKU-BUKU bahasa/huruf Jawa dan huruf Latin: ABIMANYU KEREM, SRIKANDHI ANJAR MANAH, ALIBABA, KRATON MARMER. Klas 5 pindah Surabaya, jaman Jepang (1942-1945) baca BUKU dari perpustakaan sekolah bahasa Indonesia dan Jawa: SITI NURBAYA, CINTA YANG MEMBAWA MAUT, ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN, AYU INGKANG SIYAL, SERAT RIYANTA, NGULANDARA.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelas 5-6 SD mengungsi di Probolinggo (1945-1947) baca BUKU perpustakaan sekolah: DON KISOT (Miguel Cervantes), ANJING SETAN (Arthur Conan Doyle), TIGA ORANG PANGLIMA PERANG (Alexandre Dumas).</p>
<p style="text-align: justify;">Bekerja di Kantor Telegrap Surabaya (1952-1960) mengarang di majalah bahasa Indonesia: Mimbar Indonesia, Aneka, Kisah, Siasat. Baca BUKU Penguin bahasa Inggris AGATHA CHRISTIE, DOROTHY L. SAYERS, GEORGES SIMENON, ERLE STANLEY GARNER,</p>
<p style="text-align: justify;">Ingin mengarang cerita panjang (novel), tapi di koran/majalah Indonesia tidak ada kesempatan (tidak ada rebriek cerita sambung). Tahun 1958 majalah bahasa Jawa PENJEBAR SEMANGAT mengadakan lomba menulis cerita sambung. Saya langsung menang nomer satu. Maka menyalurkan cerita panjang (novel) lewat cerita bahasa Jawa. Apalagi cerita bahasa Jawa, pembacanya lipat ganda banyaknya dari koran bahasa Indonesia (1950-1965-an pelenggan Panjebar Semangat 80.000, sedang majalah Indonesia paling banter 10.000). Menulis cerita dalam bahasa Jawa baik ceritanya maupun nama pengarangnya jadi populer sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebablasen sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Target Pembaca karya Suparto Brata siapa dan mengapa?</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan menulis bahasa Indonesia targetnya pembaca bahasa Indonesia. Untuk agar bisa menarik, yang ditulis banyak pengalaman hidup pengarang, yaitu pengalaman hidup pada ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA, JEPANG, PERJUANGAN INDONESIA MERDEKA. Berarti sejarah. Antara lain: GADIS TANGSI (Buku Kompas 2004), SAKSI MATA (Buku Kompas, 2002), MENCARI SARANG ANGIN (Grasindo 2004), KREMIL (Pustaka Pelajar 2002), REPUBLIK JUNGKIR BALIK (Narasi 2009).</p>
<p style="text-align: justify;">Karya yang berbahasa Jawa semula target pembacanya pembaca majalah bahasa Jawa (Panjebar Semangat, Jaya Baya), karena pelenggannya cukup banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun akhir-akhir ini pembaca dan penutur bahasa Jawa merosot jumlahnya, sehingga saya perlu memperjuangkan penulisan sastra bahasa Jawa. Targetnya bukan saja pelenggan majalah sastra Jawa, tapi juga di luar itu. Sastra itu buku, jadi saya usahakan berbentuk buku, buku sastra bahasa Jawa. Maka target pembaca BUKU bahasa Jawa saya adalah: (1) ORANG MUDA (supaya BUKU bahasa Jawa populer di kalangan kaum muda), (2) ORANG PINTAR (orang pintar selalu mencari ilmu dengan membaca BUKU, dan bukunya harus sesuai dengan kepintarannya), (3) ORANG KAYA (yang mampu membeli buku itu orang kaya, karena itu buku saya harus indah baik rupanya maupun isi ceritanya), (4) ORANG KUASA (kalau buku saya digemari oleh orang kuasa, maka dengan perintahnya buku saya jadi objek pembacaan buku negeri ini).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Proses kreatif. Dari mana mendapatkan inspirasi. Pengalaman menarik apa yang pernah dialami selama dalam proses kreatif. Waktu yang dibutuhkan berapa lama?</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sudah sejak masuk sekolah rakyat klas 1 (umur 7 tahun) sampai SMA (meskipun berganti zaman, zaman Belanda, zaman Jepang, zaman Perjuangan, zaman Orde Lama) di kelas-kelas sekolah setiap hari sudah dibudayakan (diajari tanpa henti hingga punya budaya) MEMBACA BUKU. Karena banyak membaca buku, lalu ingin menulis cerita seperti buku yang dibaca. Inspirasi pertama mengadabtasi dari BACAAN BUKU ORANG LAIN. Lalu menuliskan IMAJINASI (membayangkan yang saya ingat) dari pengalaman hidup yang saya saksikan lewat melihat dan mendengar sendiri. Selain imajinasi jalannya cerita yang saya karang saya susun menurut daya FANTASI saya.<br />
Saya menulis buku (semua pengarang tentulah begitu) berdasarkan IMAJINASI dari pengalaman/kesaksian melihat dan mendengar, dan pengalaman intelektual (MEMBACA BUKU). Karena selama ini saya TIADA HARI TANPA MEMBACA BUKU, dan pengalaman hidup saya juga tidak berhenti (tiap hari saya tetap menyaksikan, melihat dan mendengar lelakon serta alam sekitar saya), maka INSPIRASI untuk menulis buku Alhamdulillah tidak pernah macet. Selalu ada saja yang mau saya tulis, baik dari pengalaman hidup saya yang saya ingat (imajinasi), maupun timbul terdorong dari buku-buku yang saya baca (menimbulkan fantasi). Tiap hari pasti ada yang saya tulis (untuk BUKU). Sisa hidupku saya manfaatkan tiada hari tanpa membaca buku, tiada hari tanpa menulis di komputer.<br />
Buku cerita GADIS TANGSI yang sudah jadi bacaan wajib di Sekolah Ciputra ini, inspirasi timbul dari apa yang saya dengar dari cerita ibu mertua saya ketika bekerja keras ikut suami jadi tentara KNIL di Aceh (1925-1942). Cerita ibu mertua saya bayangkan (imajinasi) dan saya susun ceritanya (fantasi). Fantasi saya berkembang, misalnya ketika menceritakan orang Jepang yang memancung leher para musuhnya yang ditawan dalam trilogi buku Gadis Tangsi, saya imajinasikan dari pengalaman sesungguhnya di Kota Sragen, ketika balatentara Jepang masuk kota itu (1942). Ada lima orang tawanan yang dipancung secara terbuka di kuburan, diumumkan sebelumnya agar penduduk Kota Sragen bisa menyaksikan pemancungan tadi. Kisah pemancungan leher itu ceritanya seperti yang saya tulis pada buku trilogi Gadis Tangsi itu. Saya gabungkan IMAJINASI (daya ingat) saya tadi menjadi FANTASI (daya cipta) saya menyusun buku trilogi GADIS TANGSI.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga dalam menulis buku novel yang lain, IMAJINASI dan FANTASI saya selalu “kerjasama”, dan dari situlah timbul INSPIRASI..</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menulis novel pertama bahasa Indonesia 1958, judulnya TAK ADA NASI LAIN. Waktu itu suratkabar maupun majalah bahasa Indonesia belum ada yang muat karya sastra (cerita pendek, apalagi cerita sambung). Karya sastra hanya dimuat pada majalah khusus sastra, atau diterbitkan jadi buku. Novel ya mesti diterbitkan jadi BUKU. Namun penerbit buku Pembangunan (yang biasa menerbitkan buku sastra waktu itu) menolaknya. Tahun 1972 TAK ADA NASI LAIN saya ketik lagi jadi Ejaan Yang Disempurnakan. Saya kirim ke penerbit Dunia Pustaka Jaya (direktur Ayip Rosidi). Ditolak. Baru tahun 1991 ketika saya kirim ke Harian Kompas, dimuat sebagai cerita bersambung. Saya perlu menunggu 33 tahun (1958 – 1991) untuk menyiarkan kepada umum buku novel saya yang pertama. Itupun belum dalam bentuk buku, dompleng di suratkabar (tidak abadi, hanya terbaca ketika suratkabar yang memuat cerita sastra itu terbit; setelah ada koran baru yang terbit, cerita yang lalu tidak dibaca orang lagi).<br />
Saya rencanakan TAK ADA NASI LAIN terbit jadi BUKU tahun 2010.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu yang saya butuhkan untuk pengarang/menulis novel: biasanya singkat saja. Tiga bulan, selesai. KREMIL 782 halaman saya kerjakan 9 November 1994 &#8211; 8 Maret 1995. SAKSI MATA 432 halaman, saya garap 7 Oktober – 3 Desember 1995. Tahun 2006 saya menyelesaikan 4 novel untuk 4 majalah bahasa Jawa (Panjebar Semangat, Jaya Baya, Djaka Lodang, Damarjati), yaitu: CINTRONG PAJU-PAT, SER! SER! PLONG!, MBOK RANDHA SAKA JOGJA, COCAK NGUNTAL ELO. Tiga di antaranya sudah terbit jadi buku 2009, yaitu Ser! Randha Cocak. Cintrong Paju-pat Insyallah terbit jadi buku tahun 2010, bersamaan empat buku sastra Jawa karangan saya lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi ya sering juga ada novel yang saya tulis sampai berbulan-belan tidak selesai. Malah akhirnya macet, tidak selesai.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Tema novel-novel Suparto Brata secara umum. Apa dan mengapa.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak saya sadari, menurut Bp. Suripan Sadi Hutomo (pakar sastra Jawa), tema novel saya ada tiga macam: <em>Kisah-kisah Perjuangan Republik Indonesia; Kisah Remaja (percintaan); Kisah detektif (menelusuri kejahatan).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut saya, perjalanan hidup saya ikut mengisi tema-tema maupun gaya penulisan novel (cerita sastra) saya.<br />
Tahun 1955-1960-an ketika novel hanya bisa dibaca pada penerbitan buku (bukan bersambung di koran/majalah) saya menulis TAK ADA NASI LAIN, temanya sangat melankolis, karena melihat suasana negeri ini begitu memelas (kehidupan bangsa yang sangat sederhana, banyak konflik, UUD diubah-ubah, ketidakadilan terjadi, yang patriot bangsa menderita, yang berkhianat menjadi wakil rakyat), sesuai dengan perasaan, pemikiran dan kesaksian saya yang masih jelas mengingat dan membayangkan perjalanan kehidupan bangsa dari penjajahan hingga merdeka (sampai tahun novel itu saya tulis, 1958) sehingga bagaimana pun juga TAK ADA NASI LAIN merupakan catatan buku harian saya.<br />
Tahun 1967 ketika saya berhenti dari pekerjaan karena emoh menjadi anggota SOKSI (embrio Golkar), saya ingin hidup dari hanya mengarang buku, saya kirimkan karangan saya (bahasa Jawa) ke Kho Ping Hoo. Oleh Kho Ping Hoo dianjurkan saya menulis cerita silat. Maka saya menulis cerita silat Jawa seperti halnya Kho Ping Hoo (agar bisa hidup dengan menulis cerita). Tema maupun modelnya bukan perjuangan bangsa atau romantisme seperti kata Pak Suripan.<br />
Ketika saya mulai menulis novel (menulis cerita panjang agaknya sudah menjadi keinginan saya yang tidak bisa dibendung) bahasa Jawa di mana memuat cerita panjang (bersambung) sudah jadi tradisi majalah bahasa Jawa (cerita sambung di koran bahasa Indonesia belum ada), cerita detektif yang penulisannya harus panjang (tidak mungkin hanya jadi cerita pendek) belum dikenal di majalah bahasa Jawa, maka saya menulis cerita detektif, menirukan cerita-cerita yang saya baca punya orang lain (buku Penguin 1940-an bahasa Inggris). Maka tema tulisan saya detektif. Dan jadi populer karena genre cerita detektif seperti itu belum banyak ditulis oleh sastrawan bahasa Jawa.<br />
Sekarang orang Jawa kehilangan pembaca/penulis sastra Jawa, saya berjuang agar sastra Jawa menjadi bacaan (sastra) dunia. Maka tema sastra Jawa tulisanku memotivasi bahwa bangsa Jawa yang bertutur basa Jawa juga sah hidup sebagai bangsa pada zaman modern. Bertutur dan bersastra Jawa tidak kuna.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tema-tema nasionalisme/patriotisme dan latar masa perang kemerdekaan dalam beberapa novel karya Suparto Brata.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pikiran saya, saya menulis novel bahasa Indonesia lebih berdasarkan pengalaman hidup saya (sejarah yang saya alami) baik yang saya lihat dan dengar, maupun cerita/pengalaman orang lain. Pendeknya tema umumnya sejarah hidup saya yang sejajar dengan proses perjuangan NKRI, juga romantisme, dan ada hasrat juga memburu pasar (agar bukunya laku). Saya pilih begitu karena penulis sastra Indonesia yang menulis zaman-zaman itu sudah tidak banyak. Sedangkan yang menulis peristiwa zaman kini (karena mengalami hidup zaman sekarang), banyak sekali. Tetapi saya juga menulis novel peristiwa zaman kini, hanya lebih saya curahkan dalam bahasa Jawa, karena bagaimana pun juga zaman kini juga saya alami, jadi ya memenuhi kreteriaku menulis novel berdasarkan pengalaman dan pengetahuan hidupku masa kini.<br />
GADIS TANGSI imajinasi dari cerita mertua saya (RAMINEM) ketika mengikuti tugas suaminya jadi tentara KNIL di Aceh, Ceritanya ya begitu, di Tangsi buka gadai, jual barang kreditan dan puteranya nomer 2 disuruh jual pisang goreng, para perempuan ditinggal di tangsi, yang laki-laki dibubarkan di Bandung (Belanda menyerah kepada Jepang), lalu bapak mertua menyusul ibu ke Kabanjahe, dibawa pulang ke Jawa berjalan kaki seadanya. Imajinasi Gadis Tangsi saya gabungkan dengan imajinasi dari cerita ibu saya yang bangsawan Surakarta Hadiningrat (jadi PUTRI PARASI).<br />
SAKSI MATA, jelas sekali tergambar kehidupan bangsawan Surakarta (riwayat ibu saya) di sana, saya gabung dengan pengalaman saya pada zaman Jepang di Surabaya.<br />
MENCARI SARANG ANGIN, juga menceritakan keadaan Kota Surabaya zaman Belanda yang saya alami, ditambah pengalaman mengungsi ke daerah Republik Indonesia yang diganggu dengan peristiwa pemberontakan komunis Madiun 1948, serta pengalaman saya meneliti Pers Jawa Timur tugas dari SPS Jawa Timur. Sejarah pers bahasa Jawa di novel itu banyak dari kehidupan nyata hasil penelitian saya.</p>
<p style="text-align: left;">Menulis novel bahasa Jawa, punya niatan sastra Jawa juga menjadi sastra dunia. Dengan memberdayakan penutur basa Jawa tidak hanya bicara lisan, tetapi juga membaca tulisan (membaca sastra), maka penutur basa Jawa hidup modern, tidak miskin, bodoh, kuna. Mengapa? Ya dengan berbudaya membaca buku ingin mengangkat bahwa bangsa/bahasa Jawa itu patut juga hidup modern di zaman dunia modern.</p>
<p style="text-align: center;">Sesi Tanya-jawab:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pendapat Suparto Brata mengenai perkembangan dunia ‘kepengarangan’ dewasa ini.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pengarang sastra dunia: Hebat sekali. Banyak penulis, banyak pembacanya. Semua warga dunia yang modern pasti membaca sastra, maka pengarang sastra dunia pasti dikenal warga dunia modern. Mereka berbudaya membaca buku dan menulis buku, sehingga membaca buku dan menulis buku menjadi kiat hidup modern mereka (bangsa yang maju). Ilmu sastra (membaca buku dan menulis buku) diajarkan sejak usia dini (masuk SD) hingga dewasa, hingga seumur hidupnya. Membaca sastra/buku telah menjadi kiat hidupnya sejak kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengarang Indonesia: Juga hebat sekali. Namun karena bangsa Indonesia tidak sejak dini (mulai sekolah) diajari membaca buku dan menulis buku, maka kepengarangan mereka tumbuh atas prakarsa pribadi. Lebih berjuang sendirian daripada didukung oleh lingkungan hidupnya. Begitu pula pembaca sastra Indonesia, tidak diajari menikmati membaca sastra sejak dini, sehingga tidak suka (berbudaya) membaca buku. Akibatnya jumlah pengarang dan pembaca sastra Indonesia sangat sedikit. Sastra yang di negara maju menjadi kiat hidup modern, ilmunya direkam dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, di Indonesia baru di perguruan tinggi ilmu sastra diterapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengarang sastra Jawa: selain lahannya (tempat berkarya hanya di 3 majalah bahasa Jawa) maka mereka (pengarang sastra Jawa) mengarang dengan tujuan bisa dimuat pada majalah bahasa Jawa itu saja. Objek kepengarangannya jadi kerdil. Oleh karena itu saya berusaha menerbitkan cerita saya jadi BUKU. Sastra adalah buku. Hidup modern adalah membaca buku dan menulis buku. Agar pengarang sastra Jawa juga bersemarak di sastra dunia, mereka juga harus mengarang dengan sasaran pembacanya tidak hanya pelenggan majalah bahasa Jawa saja, tetapi juga pembaca sastra dunia. Yaitu mengarang untuk diterbitkan jadi BUKU. Jadi dunia sastra Jawa tidak hanya berlangsung pada 3 majalah bahasa Jawa itu tadi.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Peran novel sastra bagi generasi muda.</em><br />
Membaca buku dan menulis buku adalah kiat hidup modern. Baik menggeluti agama, politik, hukum, dokter, insinyir, akan bisa dikuasai dengan baik kalau dikiati dengan membaca buku dan menulis buku. Paling dulu untuk gemar membaca buku (dan menulis buku) haruslah berwujud CERITA. Membaca buku baru senang kalau berwujud cerita. Baik agama, politik dan profesi hidup modern lainnya, pasti awalnya dikembangkan dari cerita. CERITA YANG DITULIS ADALAH SASTRA. Dan cerita yang panjang adalah NOVEL. Novel (sastra) sudah amat jelas dulce et utile, menyenangkan dan berguna.<br />
Jadi generasi muda yang ingin mencapai profesi modern (insinyir, dokter, hakim, dll) hendaklah paling dulu membudayakan membaca buku dan menulis buku. Dan itu terdapat pada BUKU NOVEL. Tanpa gemar membaca buku novel, akan sulit generasi muda untuk punya budaya membaca buku dan menulis buku, akan sulit memahami agama, politik, ekonomi, budaya tanpa kegemaran membaca cerita yang latihan membaca cerita adalah membaca sastra (novel), dan tanpa membaca buku/sastra/novel akan sulit generasi muda untuk menjabat sebagai profesi modern.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=415</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
