<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suparto Brata Blog &#187; Makalah</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?cat=39&#038;feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://supartobrata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jan 2018 08:12:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>SEMANGAT NASIONALISME TOKOH TEYI DALAM NOVEL GADIS TANGSI KARYA SUPARTO BRATA DI ANTARA MASYARAKAT  MULTIKULTUR**)</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=561</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=561#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 05:30:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=561</guid>
		<description><![CDATA[Ade Husnul Mawadah ABSTRAK Bangsa Indonesia tidak pernah dapat dilepaskan dari sejarahnya sebagai bangsa jajahan Belanda. Pada tahun 1596 dipimpin oleh Houtman dan de Kyzer, Belanda datang dan menjajah Indonesia, kemudian mengakui kedaulatan Republlik Indonesia pada 27 Desember 1949. Selama itulah (±350 tahun) Belanda telah melakukan banyak hal di Indonesia, di antaranya dalam bidang ekonomi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/06/gadis-tangsi3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-602" title="gadis tangsi" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/06/gadis-tangsi3.jpg" alt="" width="369" height="366" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Ade Husnul Mawadah</p>
<p style="text-align: center;"><strong>ABSTRAK</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bangsa Indonesia tidak pernah dapat dilepaskan dari sejarahnya sebagai bangsa jajahan Belanda. Pada tahun 1596 dipimpin oleh Houtman dan de Kyzer, Belanda datang dan menjajah Indonesia, kemudian mengakui kedaulatan Republlik Indonesia pada 27 Desember 1949. Selama itulah (±350 tahun) Belanda telah melakukan banyak hal di Indonesia, di antaranya dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan sosial budaya. Hal itu tentu saja sangat mempengaruhi pembentukan mentalitas masyarkat Indonesia sebagai rakyat jajahan Belanda.</p>
<p><span id="more-561"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan masyarakat Indonesia pada masa kolonialisme Belanda menarik sejumlah pihak untuk meneliti dan menuliskannya sebagai sebuah catatan sejarah. Pada zaman itu, Indonesia yang heterogen telah menjadi wilayah yang multikultural. Budaya Barat dan Timur saling bersentuhan selama lebih dari 350 tahun. Selain sejarahwan, sejumlah sastrawan Indonesia pun tertarik untuk menuliskan kondisi masyarakat Indonesia pada zaman kolonialisme Belanda, salah satu di antaranya adalah Suparto Brata dengan novel Gadis Tangsi.</p>
<p style="text-align: justify;">Novel Gadis Tangsi karya Suparto Brata adalah gambaran kehidupan sebuah tangsi yang multikultur pada zaman kolonialisme Belanda. Barat (Belanda) dan Timur (Jawa Bangsawan dan Jawa Wong Cilik) digambarkan dalam relasi kuasa yang terstuktur dan stereotip yang ditanamkan secara turun-temurun sehingga menjadi mitos dalam masyarakat tersebut.  Teyi, tokoh utama Gadis Tangsi, berasal dari golongan masyarakat kelas bawah memandang relasi kuasa dan stereotip tersebut secara positif. Ia berusaha menaikkan kelas sosialnya dengan membangun identitas diri menjadi individu yang nasionalis di antara masyarakat multikultur. Semangat, kemauan, dan peluang yang terbuka lebar telah berhasil meletakkan dirinya pada kelas manapun di lingkungan tangsi tersebut.  Teyi berhasil menunjukkan semangat nasionalismenya sebagai perempuan Indonesia, sehingga ia bisa dihargai dan diterima di semua golongan dalam wilayah multikutur tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata Kunci: Kolonialisme, Relasi Kuasa, Konstruksi Mentalitas, Nasionalisme.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bangsa Indonesia tidak pernah dapat dilepaskan dari sejarahnya sebagai bangsa jajahan Belanda. Pada tahun 1596 dipimpin oleh Houtman dan de Kyzer, Belanda datang dan menjajah Indonesia, kemudian mengakui kedaulatan Republlik Indonesia pada 27 Desember 1949. Selama itulah (±350 tahun) Belanda telah melakukan banyak hal di Indonesia, di antaranya dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan sosial budaya.  Hal itu tentu saja sangat mempengaruhi pembentukan mentalitas masyarkat Indonesia sebagai rakyat jajahan Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan masyarakat Indonesia pada masa kolonialisme Belanda menarik sejumlah pihak untuk meneliti dan menuliskannya sebagai sebuah catatan sejarah. Pada zaman itu, Indonesia yang heterogen telah menjadi wilayah yang multikultural. Budaya Barat dan Timur saling bersentuhan selama lebih dari 350 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain sejarahwan, sejumlah sastrawan Indonesia pun tertarik untuk menuliskan kondisi masyarakat Indonesia pada zaman kolonialisme Belanda. Beberapa di antaranya telah menuliskannya dalam bentuk fiksi. Sebut saja Pramoedya Ananta Toer dengan novel tetralogi Pulau Buru, Pandir Kelana (R.M. Slamet Danusudirdjo) dengan novel Merah Putih Golek Kencana, dan Suparto Brata dengan Gadis Tangsi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertumbuhan yang sangat pesat dalam dunia sastra di Indonesia dewasa ini telah menarik perhatian sejumlah penerbit untuk menerbitkan  karya sastra yang berlatar zaman kolonialisme tersebut. Salah satunya adalah Penerbit Buku Kompas. Dari sejumlah karya sastra yang diterbitkannya, Penerbit Buku Kompas menerbitkan novel Gadis Tangsi  karya Suprapto Brata.</p>
<p style="text-align: justify;">Gadis Tangsi adalah novel yang bercerita tentang seorang gadis bernama Teyi yang hidup di lingkungan Tangsi Lorong Belawan pada masa kolonialisme Belanda. Pada masa itu, Belanda memiliki kekuasaan tertinggi di Indonesia. Di lingkungan tangsi  tersebut, terdapat orang-orang Belanda, Jawa Bangsawan, dan Jawa Wong Cilik .</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itulah, tangsi menjadi sebuah wilayah yang multikultural. Barat diwakili oleh Belanda, sedangkan Timur diwakili oleh Jawa Bangsawan dan Jawa Wong Cilik. Barat dan Timur memiliki perbedaan dalam hal relasi kuasa. Relasi kuasa di antara ketiga golongan itu sengaja disusun melalui pembagian kekuasaan dan wewenang dalam struktur militer Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Timur diwakili oleh dua golongan yang sangat bertolak belakang. Jawa Bangsawan digambarkan sebagai orang kaya, berpendidikan formal, terikat oleh nilai-nilai ketat, dan sopan, sedangkan Jawa Wong Cilik digambarkan miskin, tidak berpendidikan formal, hidup dalam norma-norma yang sangat longgar, dan  tidak sopan dalam hal berbicara maupun bertingkah laku. Oleh karena itulah, golongan Jawa Bangsawan memiliki kedudukan dan wewenang yang lebih tinggi dibandingkan Jawa Wong Cilik. Jawa Bangsawan mendapatkan perlakuan yang istimewa dari Belanda. Seperti yang dipaparkan oleh Susetyo (2002) pada zaman kolonialisme Belanda, perbedaan status etnis diberlakukan dengan tegas. Golongan pribumi (inlander) diberi status yang paling rendah, kecuali pribumi bangsawan yang diberi status seperti Eropa.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain masalah relasi kuasa, novel ini juga menghadirkan stereotip-stereotip orang Belanda, Jawa Bangsawan, dan Jawa Wong Cilik. Stereotip tersebut diperlihatkan melalui dialog-dialog tokoh, sikap dan perilaku tokoh, pekerjaan tokoh, dan jabatan tokoh dalam masyakat di Tangsi Lorong Belawan dan sekitarnya pada zaman pemerintahan Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Masing-masing golongan saling mengomentari satu sama lain. Komentar-komentar yang dilontarkan secara eksplisit mengarah pada stereotip golongan-golongan tersebut. Bagaimana Jawa Bangsawan memandang Belanda, Jawa Wong Cilik memandang Belanda, Jawa Bangsawan memandang Jawa Wong Cilik, dan sebaliknya membentuk stereotip tentang masing-masing golongan.  Stereotip-stereotip tersebut diturunkan dari generasi ke generasi sehingga menjadi mitos yang berkembang di masyarakat tangsi. Misalnya, stereotip tentang perempuan Jawa yang lembut dan sopan telah berkembang menjadi mitos bahwa laki-laki akan lebih menyukai perempuan yang lembut dan sopan sehingga anak perempuan tidak boleh berbicara dan bertindak kasar agar disukai laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">Relasi kuasa dan stereotip yang berkembang di masyarakat Tangsi Lorong Belawan ditanggapi secara positif oleh Teyi, tokoh utama novel tersebut. Ia memelajari budaya Jawa Bangsawan sampai bisa menjadi perempuan tangsi yang bersikap dan berperilaku seperti perempuan bangsawan., berlatih bahasa Belanda hingga mahir berkomunikasi dengan orang-orang Belanda, tetapi tetap hidup dalam budaya asalnya, yaitu budaya Jawa tangsi dengan nilai-nilai yang longgar.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini menunjukkan  bagaimana relasi kuasa dan stereotip Belanda, Jawa Bangsawan, dan Jawa Wong Cilik di lingkungan Tangsi Lorong Belawan pada masa kolonialisme Belanda dan pengaruhnya terhadap konstruksi mentalitas tokoh Teyi dalam novel  Gadis Tangsi karya Suparto Brata.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>II. Pembahasan</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>A. Relasi Kuasa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada zaman kolonialisme Belanda di Indonesia, Tangsi Lorong Belawan di Sumatera Utara yang menjadi latar novel Gadis Tangsi telah menjadi lingkungan yang multikultur, yaitu lingkungan yang menjadi wadah interaksi antara Barat dan Timur. Lingkungan multikultur yang dimaksud dalam hal ini adalah lingkungan masyarakat yang terdiri dari berbagai macam budaya, yang hidup bersama dan saling berinteraksi, tanpa meninggalkan ciri khas budayanya masing-masing (Watson, 2006).</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam masyarakat tangsi tersebut terjalin relasi kuasa antara Belanda, Jawa Bangsawan, dan Jawa Wong Cilik. Relasi kuasa tersebut terjadi karena adanya ketidaksejajaran pangkat, materi, dan pendidikan. Seperti yang dipaparkan Edward Said dalam studinya mengenai Orientalisme (2001) bahwa hubungan antara Barat dan Timur adalah hubungan kekuatan, dominasi, dan hubungan berbagai derajat hegemoni yang kompleks. Hubungan tersebut dapat membentuk relasi kuasa antara Barat sebagai penjajah dan Timur sebagai terjajah.</p>
<p style="text-align: justify;">Hubungan relasi kuasa antara Barat dan Timur dalam Gadis Tangsi diperlihatkan melalui struktur kepemimpinan militer Belanda. Belanda menduduki urutan pertama sebagai komandan tertinggi yang dijabat oleh Anthonie van Heffleen. Urutan selanjutnya adalah Kapten Sarjubehi yang berasal dari golongan Jawa Bangsawan, dan urutan terendah adalah orang-orang dari golongan Jawa Wong Cilik yang  bekerja sebagai serdadu Belanda dengan pangkat parajurit.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbedaan kekuasaan (pangkat) tersebut juga memengaruhi tingkat kesejahteraan mereka. Komandan Belanda dan Kapten Jawa Bangsawan tinggal di sekitar tangsi, tetapi berada terpisah dari pemukiman keluarga prajurit. Wilayah pemukiman mereka oleh masyarakat tangsi disebut Kampung Landa. Mereka tinggal di rumah yang cukup besar dengan perabotan mewah yang tertata rapi, memiliki pembantu, dan memiliki anjing penjaga. Di antara keduanya pun masih terlihat memiliki perbedaan dalam tingkat ekonomi. Komandan Belanda  berada pada tingkat lebih tinggi dibandingkan Kapten Jawa Bangsawan.   Komandan Belanda memiliki fasilitas mobil pribadi bersama sopir pribadi (hlm.65), sedangkan Kapten Jawa Bangsawan (Kapten Sarjubehi) hanya memiliki sepeda mahal untuk bekerja. Jika Kapten Sarjubehi hendak pergi bersama istrinya, ia akan memesan sado yang paling bagus (hlm. 203).</p>
<p style="text-align: justify;">Tingkat perekonomian paling rendah ada pada prajurit yang dimasukkan dalam golongan Jawa Wong Cilik. Para prajurit dan keluarganya tinggal di pemukiman tangsi. Rumah mereka berdempet-dempet rampat dengan dua kamar saja. Kamar mandi dan dapur berada di ujung rentetan rumah yang digunakan secara umum. Tempat tinggal mereka seperti barak-barak di pengungsian. Setiap tanggal lima, mereka mendapatkan kupon extra voeding, yaitu makanan tambahan dari gudang Belanda. Mereka mendapatkan makanan tambahan itu dengan cara mengantri panjang dan berdesakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Para prajurit tersebut adalah orang-orang Indonesia, yang sebagian besar berasal dari Jawa Tengah. Bagi mereka, Belanda bukan sebagai penjajah bangsanya, melainkan penolong keluarganya. Terjadi simbiosis mutualisme di antara kedua golongan tersebut. Belanda memberikan mereka rumah tinggal, gaji, dan pendidikan kemiliteran, sedangkan mereka memberikan dirinya (jiwa dan raganya) untuk kepentingan Belanda sebagai prajurit militer Belanda. Belanda menjadi penguasa  “hidup” mereka. Hal itu menunjukkan bahwa pada masa itu Barat juga menjadi penguasa bagi Timur dalam masalah ekonomi.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain pangkat dan materi, relasi kuasa juga terbentuk karena adanya ketidaksejajaran tingkat pendidikan formal. Belanda yang menjadi penguasa pada saat itu, menjadi golongan yang paling terhormat. Orang-orang Belanda adalah orang-orang berpendidikan formal. Golongan bangsawan sebagai golongan masyarakat pribumi yang mendapatkan kesempatan untuk sekolah di sekolah-sekolah Belanda sebagai bentuk politik Etis  bagi kaum elite Indonesia sehingga mereka menjadi orang terpelajar dan mampu berkomunikasi dengan bahasa Belanda (Ricklefs, 2001: 329). Oleh karena itulah, mereka mendapatkan perlakuan istimewa dari Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlakuan istimewa Belanda terhadap Jawa Bangsawan, tidak semata-mata karena mereka berbeda dari pribumi golongan Wong Cilik dalam hal pendidikan formal, tetapi juga karena kepentingan politik Belanda di daerah mereka, daerah jajahan Belanda. Secara politik, golongan bangsawan adalah golongan terpelajar yang dapat membantu Belanda dalam memperkuat kuasanya di negara jajahannya. Seperti yang diungkapkan oleh Anderson (2001: 174) bahwa mereka, golongan bangsawan terpelajar tersebut dijadikan pejabat-pejabat kolonial lokal pada masa penjajahan Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>B. Stereotip Belanda, Jawa Bangsawan, dan Jawa Wong Cilik</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat Tangsi Lorong Belawan yang multikultur sangat membuka munculnya stereotip, yakni seperangkat penilaian dari kelompok lain dalam hubungannya dengan ingrup dalam situasi terkini (Smith,1999 dalam Pitaloka, 2004). Stereotip tersebut ada yang bersifat positif dan ada juga yang bersifat negatif.</p>
<p style="text-align: justify;">Stereotip orang Belanda, orang Jawa Bangsawan, dan orang Jawa Wong Cilik pada novel Gadis Tangsi diperlihatkan secara eksplisit, melalui komentar tokoh-tokohnya dan secara implisit melalui  sikap dan perilaku tokoh-tokohnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan masyarakat multikultur di Tangsi Lorong Belawan terjalin interaksi sosial.  Proses interaksi sosial tersebut menimbulkan penilaian-penilaian di antara mereka. Belanda memberikan penilaian pada golongan bangsawan, bangsawan menilai wong cilik, wong cilik menilai Belanda, dan sebaliknya. Penilaian tersebut menimbulkan stereotip tentang Belanda, Jawa Bangsawan, dan Jawa Wong Cilik. Stereotip-stereotip tersebut ditanamkan secara turun-temurun sehingga menjadi mitos yang berkembang di masyarakat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Stereotip Belanda</strong><br />
Melalui komentar tokoh-tokohnya orang Belanda digambarkan sebagai orang yang tegas dan berwibawa. Orang Belanda juga dianggap paling baik, cakap, dan pandai. Hal itu terlihat pada tentara Belanda peniup terompet. Terompet yang ditiup tentara Belanda sangat merdu dan enak didengar. Berbeda dengan terompet yang ditiup prajurit dari golongan Jawa Wong Cilik, tidak nyaring dan terdengar sumbang. Kutipan berikut ini merupakan bentuk stereotip positif orang Belanda dari sudut pandang  Jawa Wong Cilik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nah, terompet pertama sudah berbunyi. Waktu bangun telah tiba. Itu bunyi terompet tiupna Landa Dawa. Begitu nyaring, iramanya teratur, halus, dan panjang. Landa Dawa memang jago meniup terompet. Berbeda dengan tiupan Sudarmin, misalnya, yang bunyinya terasa tersengal-sengal, patah-patah, dan sering kali hilang tiba-tiba” (hlm.1).</p>
<p style="text-align: justify;">Bahasa Belanda dianggap sebagai bahasa yang tinggi derajatnya. Jika berbahasa Belanda, ia akan diterima di kalangan kelas atas. Pedagang-pedagang pun akan menyambut dan melayani hangat ketika pembeli mampu berbahasa Belanda, seperti pada kutipan berikut ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Alangkah hebatnya kalau aku juga bicara bahasa Belanda dengan pemilik tokoyang matanya sipit itu. Mau membeli apa saja bisalangsung bicara dengannya. Aku beli boneka tentu ia akan melayani dengan menghormat santun.”(hlm.208).</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, bergaul dengan bangsa Belanda memiliki citra yang baik. Ketika Teyi mampu berbahasa Belanda dan berbicara bahasa Belanda dengan lancar, komandan Belanda tertegun dan memandang baik pada Teyi. Begitu juga pandangan dari orang Jawa golongan Wong Cilik. Mereka menganggap Teyi sebagai seseorang yang terhormat karena mampu berbahasa Belanda dan dapat berkomunikasi dengan orang Belanda.  Teyi mampu menaikkan derajatnya sebagai golongan bawah setelah ia mampu berbahasa Belanda dan mampu dengan lancar bekomunikasi dengan orang Belanda. Misalnya, ketika Teyi memberitahukan perihal sakitnya Putri Parasi pada keluarga Belanda, mereka langsung mengerti apa yang dikatakan Teyi dan langsung memberikan bantuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mampu berbahasa Belanda juga dianggap sebagai orang pintar. Pandangan tersebut muncul dari golongan Jawa. Misalnya, pada tokoh adik sepupu Putri Parasi yang bersekolah di sekolah Belanda, Raden Mas Kus Bandarkum. Cakrawalanya menjadi semakin luas. Begitu juga halnya dengan Putri Parasi. Ia sebagai perempuan ningrat yang tinggal dan dibesarkan di lingkungan keraton, pola pikirnya menjadi berubah setelah sekolah di sekolahan Belanda. Ia berkeinginan besar untuk keluar dari keraton yang sangat mengikat hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama perjalanan cerita, stereotip orang Belanda sebagian besar bersifat positif. Stereotip negatif orang Belanda dari sudut pandang Jawa Wong Cilik yang dipaparkan pada cerita awal terhapus dengan peristiwa-peristiwa yang disampaikan pada cerita berikutnya. Ada ambivalensi penilaian Wong Cilik terhadap Belanda yang terlihat pada gambaran sikap dan perilaku Belanda. Misalnya pada kutipan berikut ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;. Tetapi anak-anak dan perempuan tangsi umumnya sangat takut dengan Ndara Tuan Belanda, karena kerja orang Belanda hanya mengusut perkara dan memberi hukuman.<br />
Orang Belanda badannya besar, matanya siwer, bahasanya asing, dan sikapnya tak pernah ramah&#8230; (hlm.2).</p>
<p style="text-align: justify;">Stereotip negatif tersebut sangat bertentangan dengan gambaran sikap dan perilaku pada cerita selanjutnya. Orang-orang yang berada di sekitar orang Belanda memberikan pujian pada Belanda. Mereka sangat hormat, segan, dan takut pada Belanda. Sebagai penjajah di wilayah itu, Belanda bukanlah sosok yang jahat, tetapi sebaliknya. Mereka mau membantu Putri Parasi saat sakit. Bahkan, saat Teyi diserahkan ke kantor polisi karena dikira hendak mencuri di toko Cina, komandan Belanda tak segan-segan mengantarnya pulang dengan menggunakan mobil pribadinya setelah terbukti bahwa Teyi tidak bersalah.  Hal itu jelas bertolak belakang dengan anggapan bahwa orang Belanda tidak ramah dan kerjanya hanya mengusut perkara dan memberi hukuman.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandangan anak-anak dan perempuan tangsi tentang Belanda tersebut terjadi karena stereotip tentang Belanda telah ditanamkan secara turun-temurun di masyarakat tangsi sehingga menjadi mitos. Mitos tersebut membentuk prasangka buruk di pikiran mereka tentang Belanda sehingga mereka merasa takut jika berhadapan dengan Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Stereotip Jawa Bangsawan</strong><br />
Golongan pribumi yang berasal dari golongan Jawa Bangsawan diperlihatkan sebagai golongan pribumi yang pandai, sopan, santun, dan sangat menjunjung tata karma dalam menjalani hidup.  Perempuan dari golongan ini ditampilkan sebagai perempuan yang sangat patuh pada sosok laki-laki, yaitu ayah dan suami. Dalam pola pikirnya, tampil cantik dan bersikap sopan adalah salah satu cara memunculkan daya tarik untuk menarik kaum laki-laki.  Stereotip perempuan Jawa Bangsawan yang diwakili oleh Putri Parasi ini telah menjadi mitos di masyarakat tangsi.  Misalnya, Stereotip tentang perempuan Jawa yang lembut dan sopan telah berkembang menjadi mitos bahwa laki-laki akan lebih menyukai perempuan yang lembut dan sopan sehingga anak perempuan tidak boleh berbicara dan bertindak kasar agar disukai laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">Kapten Sarjubehi yang berasal dari golongan Jawa Bangsawan dianggap sebagai sosok yang gagah, pintar, dan bersifat baik. Ia dipercaya Belanda untuk menggantikan Kapten Depries. Bagi penduduk tangsi, Kapten Sarjubehi dianggap sebagai sosok yang ramah. Setiap kali bertemu dengan bawahannya, ia tak segan menyapa. Begitu juga ketika ia hendak meminta Teyi untuk menemani istrinya, ia tak segan-segan datang langsung ke rumah Teyi dan mengutarakan niatnya baik-baik pada orang tua Teyi. Kapten Sarjubehi juga tergolong laki-laki yang sabar. Ia dengan sabar menghadapi ibu Teyi (Raminem) yang berbicara kasar padanya dan dengan rendah hati ia mau meminta maaf pada keluarga Teyi karena telah lancang meminta Teyi. Peristiwa itu terjadi sampai dua kali, namun Kapten Sarjubehi tidak marah. Selain itu, ia juga digambarkan sebagai laki-laki yang setia  menemani istrinya yang sakit, meskipun pada akhirnya ia segera menikah lagi setelah kematian istrinya. Berikut ini adalah kutipan stereotip petinggi Jawa Bangsawan yang dibandingkan dengan  petinggi Belanda dari sudut pandang Raminem (Jawa Wong Cilik).</p>
<p style="text-align: justify;">“Untung yang memergoki komandan Jawa. Masih ada sabarnya. Kalau Ndara Tuan Kapten Depries mungkin kita dilararang berjualan pisang goreng sama sekali.” (hlm.36).</p>
<p style="text-align: justify;">Perbandingan dalam kutipan di atas menggambarkan stereotip yang bertolak belakang antara petinggi Jawa Bangsawan dengan petinggi Belanda. Kehadiran sosok Jawa Bangsawan di tataran petinggi Belanda dianggap sebagai sesuatu yang menguntungkan bagi Wong Cilik karena petinggi Jawa Bangsawan dinilai tidak setegas petinggi Belanda. Anggapan tersebut sesungguhnya dapat bermakna negatif, yaitu petinggi Jawa tidak tegas, sedangkan petinggi Belanda  sangat tegas dalam memberlakukan peraturan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Stereotip Jawa Wong Cilik</strong><br />
Orang-orang yang masuk dalam kategori Jawa Wong Cilik adalah orang-orang yang tinggal di tangsi sebagai prajurit Belanda dan keluarganya. Mereka berasal dari Jawa Tengah  yang merantau ke Medan, Sumatera Utara, untuk menjadi serdadu Belanda. Salah satu dari mereka adalah Ayah Teyi, Wongsodirjo.</p>
<p style="text-align: justify;">Keluarga para prajurit Belanda itu digambarkan sebagai  orang-orang yang tidak berpendidikan formal dan hidup dalam nilai-nilai yang sangat longgar. Kata-kata kotor sering kali mereka ucapkan, perselingkuhan, seks bebas di kamar mandi umum, persaingan untuk menjadi gundik Kapten Sarjubehi, rumah tangga yang tidak harmonis, malas bekerja, anak-anak yang liar, pembicaraan tentang seks yang fulgar, perjudian, dan mabuk-mabukan menjadi warna-warni kehidupan penduduk tangsi.</p>
<p style="text-align: justify;">Stereotip tentang perempuan tangsi juga cukup menonjol pada novel ini. Keinginan Raminem (Ibu Teyi) untuk mendidik Teyi menjadi perempuan yang berbeda dari anak-anak tangsi lainnya, yang cenderung malas dan lebih suka bermain-main saja, menjadi sarana pemunculan stereotip tentang perempuan tangsi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau simboknya mendidik Teyi dengan kekerasan, paksaan, tekanan, ancaman, aku akan memberikan pendidikan dengan kegembiraan, kesukarelaan, sesuka hatinya, semampunya, dan sesempatnya.” (hlm.132).</p>
<p style="text-align: justify;">Pemikiran yang disampaikan Putri Parasi tentang mendidik Teyi tersebut merupakan stereotip perempuan tangsi dalam mendidik anaknya. Kekerasan, paksaan, tekanan, dan ancaman adalah cara dalam mendidik anak bagi seorang ibu dari kalangan bawah. Stereotip lain tentang masyarakat tangsi adalah pada kutipan berikut ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dasar anak tangsi! Anak kolong! Jangan begitu, Teyi! Orang menjadi cantik, menjadi ayu, bukan hanya karena pakaiannya, terlebih karena sikapnya. Karena tingkah lakunya. Meskipun kamu telah melepaskan baju tangsimu dan mengenakan baju bangsawan, tetap saja kau adalah gadis penjual pisang goreng yang mengitari tangsi!” Nenek Jidan ikut tertawa.” (hlm.167).</p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;. Ceplik, Jemini, Tukiyem tentu akan membicarakannya sepanjang hari. Kebaya sutera seindah itu tak mungkin dimiliki oleh perempuan tangsi (hlm.167).</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan kutipan tersebut, stereotip tentang anak tangsi yang tidak dapat berperilaku layaknya perempuan bangsawan telah  menjadi mitos. Anak tangsi adalah anak kolong, sikap dan perilakunya berbeda dengan bangsawan. Perempuan tangsi tidak memiliki kemampuan untuk memiliki kebaya sutera. Stereotip kemiskinan telah menjadi mitos tentang masyarakat tangsi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>C. Konstruksi Mentalitas dan Semangat Nasionalisme Tokoh Teyi</strong><br />
Mentalitas individu menjadi sesuatu yang fundamental dalam setiap interaksi sosial. Pertanyaan tentang diri sendiri, jati diri, dapat menentukan bentuk interaksi sosialnya.  Pada dasarnya setiap individu memiliki hasrat yang besar untuk membentuk identitas sosial yang positif terhadap dirinya (Lan, 2000 dalam Susetyo, 2002). Hal tersebut merupakan kerangka untuk mendapatkan pengakuan (recognition) dari pihak lain dan persamaan sosial (social equality).</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi setiap individu selalu ada upaya-upaya untuk mempertahankan identitas sosial yang positif yang memperbaiki citra jika ternyata identitas sosialnya sedang terpuruk, dalam skala individual maupun skala kelompok. Dalam konteks makro sosial, upaya mencapai identitas sosial yang positif dapat dicapai melalui dua cara, yaitu mobilitas sosial dan perubahan sosial. Mobilitas sosial adalah perpindahan individu dari kelompok yang lebih rendah ke kelompok yang lebih tinggi. Mobilitas sosial hanya mungkin terjadi jika peluang untuk berpindah itu cukup terbuka. (Hogg dan Abram,1998; Sarwono,1999 dalam Susetyo,2001)</p>
<p style="text-align: justify;">Konsep di atas dapat diaplikasikan pada tokoh Teyi dalam Gadis Tangsi.  Ia berusaha untuk bangkit dari keterpurukan identitas individunya sebagai  perempuan Jawa dari kalangan menengah ke bawah. Ia merasa sangat terpuruk ketika dicurigai hendak mencuri miniatur boneka mirip noni Belanda di sebuah toko milik orang Jepun, kemudian diserahkan kepada polisi.  Sejak peristiwa itu, terbentuk keinginan di hatinya untuk membuktikan pada pemilik toko itu bahwa dia juga layak mereka layani dengan baik dan mampu membeli boneka miniatur itu. Teyi mengetahui dari keterangan Putri Parasi bahwa  pedagang di toko itu hanya melayani dengan baik calon pembeli dari kalangan Belanda atau pribumi bangsawan yang bisa berbahasa Belanda. Kondisi tersebut telah membangkitkan semangat nasionalismenya sebagai orang Timur untuk menunjukkan pada mereka (orang Barat—Belanda) bahwa sebagai orang Timur—yang dianggap Belanda sebagai golongan kelas bawah—ia pun bisa sejajar dengan mereka. Diskriminasi yang ditunjukkan oleh pemilik toko tersebut menjadi salah satu faktor yang memicu semangat Teyi untuk berusaha lebih keras, berlatih bertata krama seperi kelompok bangsawan dan belajar bahasa Belanda sampai mahir.</p>
<p style="text-align: justify;">Teyi berhasil melakukan mobilitas sosial terhadap dirinya sendiri. Setelah ia bisa merubah image tentang dirinya, bersama Putri Parasi, ia dilayani dengan baik oleh pemilik toko tersebut. Dengan kebaya, kain, dan sanggul yang menunjukkan citra perempuan kelas menengah ke atas, ditambah lagi degan bahasa pengantar bahasa Belanda, Teyi diperlakukan dengan baik, berbeda ketika dia datang ke toko itu beberapa tahun lalu. Semangat nasionalismenya telah membuahkan hasil sesuai dengan apa yang diharapkannya. Dalam studi sosiologi, Teyi dapat dikatakan sebagai individu yang telah melakukan mobilitas sosial secara vertikal ke atas, yaitu mengangkat derajat sosialnya pada kelas sosial yang lebih tinggi (Soekanto, 2001).<br />
Woodward (2002) mengatakan bahwa perubahan identitas tidak hanya terjadi pada sebuah negara dalam wilayah politik yang luas, tetapi juga dapat terjadi pada wilayah lokal, yaitu individu.   Penyataan Woodward tersebut telah terbukti pada tokoh Teyi. Teyi telah berhasil melakukan perubahan identitas atas dirinya dengan usaha keras, belajar dan berlatih menjadi seperti perempuan bangsawan dengan bimbingan Putri Parasi. Oleh karena itu, Putri Parasi dapat dikatakan sebagai  agent of change bagi Teyi. Ia membuka cakrawala Teyi tentang kehidupan kelas atas,yaitu kehidupan bangsawan yang pada masa kolonialsme Belanda mendapat perlakuan yang baik dari  orang-orang Belanda. Pada masa itu, kelompok bangsawan disejajarkan dengan orang-orang Eropa (Susetyo, 2002).</p>
<p style="text-align: justify;">Teyi sebagai orang Timur memiliki salah satu ciri orang Timur yang diutarakan Poespowardojo (1989: 108), yaitu memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dengan keterbukaan menerima budaya lain. Dalam Gadis Tangsi, Teyi dapat dikatakan sebagai individu yang supel dan multikultur. Teyi sebagai ikon dari masyarakat tangsi menengah ke bawah mampu menjadi penghubung orang-orang di kelas sosialnya  pada orang-orang di kelas sosial yang lebih tinggi.  Bahkan Teyi dapat menghapus stereotip orang Belanda yang disegani dan ditakuti. Ia berani dan tak segan-segan mau diantarkan oleh Komandan Belanda dengan menaiki mobilnya. Ia juga berani berkomunikasi dengan orang Belanda. Ia seakan-akan berdiri sama tinggi dengan golongan bangsawan yang pada masa itu mendapatkan perlakuan istimewa dari Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Relasi kuasa yang dilihatnya sejak kecil telah membangun sebuah stereotip yang positif tentang Belanda dan bangsawan. Dalam pandangan Teyi, Belanda memiliki kedudukan yang terhormat di antara masyarakat lingkungannya dan golongan bangsawan mendapatkan perlakuan dan kedudukan yang baik di kalangan Belanda. Stereotip Belanda dan bangsawan tersebut sangat bertentangan dengan stereotip kelas sosialnya. Oleh karena itulah, Teyi ingin memproyeksikan dirinya seperti bangsawan yang dapat diterima oleh Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Teyi dapat diilustrasikan seperti seorang gadis desa yang bermimpi menjadi putri  dan mimpinya tersebut terwujud dengan usaha dan kerja kerasnya serta adanya peluang yang terbuka lebar. Obsesinya untuk menjadi putri bangsawan terbentuk dengan pola yang dibuat Putri Parasi. Stereotip positif tentang Keraton Jawa yang adiluhung dan perempuan bangsawan yang berkelas lebih tinggi sehingga mendapatkan perlakuan yang berbeda dari Belanda serta stereotip negatif tentang perempuan tangsi membentuk keinginan Teyi untuk masuk dalam kelompok bangsawan. Ia giat belajar tentang kehidupan bangsawan Jawa dan terobsesi untuk menikah dengan laki-laki bangsawan agar derajatnya sebagai perempuan meningkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mencapai obsesi hidupnya, seseorang harus memiliki sejumlah strategi jitu (Antari, 2006). Strategi juga digunakan Teyi untuk mencapai obsesinya. Teyi menggunakan tiga strategi, yaitu belajar bersama Putri Parasi yang dilakukan secara tertutup setelah selesai berjualan pisang goreng agar tidak diketahui ibunya, selalu menuruti perintah ibunya agar ibunya tidak mencurigai hubungannya dengan Putri Parasi, dan menuntut cerai pada Sapardal agar dapat menjalin hubungan cinta dengan Raden Mas Kus Bandarkum, seorang laki-laki bangsawan yang diimpikannya. Berikut ini adalah kutipan yang menggambarkan strategi Teyi untuk mencapai obsesinya mendapatkan cinta laki-laki bangsawan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu, Kang! Kumpul satu bilik begini tidak berbuat apa-apa! Mana ayam jantanmu? Aku kecewa sekali, Kang! Kecewaaaa sekali!” Teyi mengucapkan kata-kata ini dengan wajah seolah-olah sangat kecewa dengan malam pertamanya.<br />
“Aku belum tahu perangaimu, Dik. Bagaimana kalau kita coba lagi nanti?”<br />
“Tidak! Tidak! Semalam sudah cukup! Semalam kamu biarkan aku tidur seperti kedebok bosok, ya selamanya aku akan kamu biarkan seperti batang pisang terbujur anyep, dingin! Tidak. Batas waktu sudah habis! Cerai!” (hlm.363)</p>
<p style="text-align: justify;">Tuntutan cerai Teyi pada Sapardal, suami semalam, dilakukannya dengan alasan Sapardal tidak memberinya keindahan cinta malam pengantin. Alasan tersebut sesungguhnya adalah sebuah strategi yang dilakukan Teyi untuk mencapai cita-citanya, meningkatkan status sosialnya dengan cara menikah dengan laki-laki bangsawan, yang sempat terhapus setelah kematian Putri Parasi dan  pernikahan Kapten Sarjubehi dengan Dumilah. Kehadiran Raden Mas Kus Bandarkum dalam kehidupan Teyi telah membangkitkan semangatnya untuk mencapai cita-citanya. Oleh karena itulah, Teyi mengambil keputusan untuk mengakhiri pernikahan yang hanya berumur sehari itu dan memilih menjalin hubungan cinta dengan Raden Mas Kus Bandarkum.</p>
<p style="text-align: justify;">Proses pencapaian obsesi dalam kehidupan Teyi telah membentuk identitas dirinya menjadi individu yang multikultural. Teyi berusaha memahami perbedaan budaya di sekitarnya, kemudian menentukkan pilihannya dengan memposisikan diri sebagai individu yang dapat  diterima di  kelompok sosial manapun di tangsi tersebut. Bagi Teyi, strategi yang paling tepat untuk dapat diterima di kelompok sosial manapun pada masa itu adalah dengan memasuki golongan bangsawan, menjadi perempuan seperti perempuan bangsawan. Keputusan Teyi meninggalkan laki-laki Jawa berkedudukan sebagai  prajurit dari relasi kuasa paling rendah (Sapardal) dan memilih laki-laki bangsawan yang biasa bergaul dengan orang-orang Belanda (Raden Mas Kus Bandarkum) menjadi pilihan hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangsi sebagai wilayah multikultur telah membentuk Teyi menjadi sosok yang multikultural. Ia dapat meletakkan dirinya di kalangan manapun di lingkungan tangsi tersebut. Ia dapat diterima di kelompok sosialnya sendiri, yaitu kelompok masyarakat Jawa Wong Cilik, ia dapat diterima di kalangan Jawa Bangsawan karena memiliki kecerdasan dan mampu berperilaku layaknya perempuan bangsawan, dan dia juga dapat diterima di kalangan bangsa Belanda karena ia mampu berbahasa Belanda dengan baik. Teyi mampu bersikap seperti perempuan bangsawan dan bergaul dengan orang-orang Belanda tanpa meninggalkan budaya asalnya sebagai masyarakat tangsi golongan Jawa Wong Cilik. Hal itu merupakan gambaran semangat nasionalisme tokoh Teyi yang begitu besar. Ia berusaha meningkatkan derajatnya agar dapat sejajar dengan kalangan Belanda dengan tetap menjunjung tinggi  budaya ketimurannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>III. Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Relasi kuasa yang terkonsep dalam masyarakat dan stereotip yang hidup dan berkembang dari generasi ke generasi dapat membentuk identitas individu dalam masyarakat tersebut. Relasi kuasa dan stereotip tersebut menjadi hal yang fundamental dalam konstruksi identitas individu, seperti yang terjadi pada Teyi, tokoh utama novel Gadis Tangsi karya Suparto Brata.</p>
<p style="text-align: justify;">Identitas Teyi terkonstruksi dari relasi kuasa yang meletakkan golongan-golongan yang ada dalam masyarakat secara hierarkis, dengan urutan Belanda, Jawa Bangsawan, dan Jawa Wong Cilik. Selain itu,  relasi kuasa yang dirasakan Teyi dalam keluarganya, terutama relasi kuasa antara ibunya (Raminem) dan Teyi serta stereotip tentang perempuan yang ditanamkan Raminem dan Putri Parasi (guru sekaligus panutannya) juga menjadi faktor pendukung pembentukan identitas Teyi.</p>
<p style="text-align: justify;">Cita-cita dan keinginan Teyi untuk meningkatkan derajatnya dapat dicapai dengan usaha, kerja keras, strategi, serta peluang yang terbuka sangat lebar. Peluang tersebut dibentangkan oleh Putri Parasi dengan memberikan pendidikan informal kepada Teyi sehingga Teyi mampu memandang relasi kuasa dan stereotip tersebut secara positif. Teyi telah berhasil membentuk identitas dirinya menjadi gadis tangsi yang multikultural. Ia bersikap dan berperilaku seperti perempuan bangsawan dan mampu berkomunikasi langsung dengan orang-orang Belanda karena ia mahir berbahasa Belanda. Bahkan, ia juga dapat dikatakan sebagai penghubung bagi masyarakat di lingkungan tangsi. Ia berhasil menghubungkan Belanda, Jawa Bangsawan, dan Jawa Wong Cilik dalam beberapa peristiwa di tangsi tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi Teyi, strategi yang paling tepat bagi dirinya untuk dapat diterima di kelompok sosial manapun pada masa itu adalah dengan belajar menjadi perempuan seperti perempuan bangsawan dan berlatih bahasa Belanda secara serius dengan bimbingan Putri Parasi.  Strategi tersebut telah berhasil menempatkan  Teyi pada kelompok manapun di Tangsi Lorong Belawan. Ia dapat diterima kelompok masyarakat Jawa Wong Cilik, ia dapat diterima di kalangan Jawa Bangsawan karena mampu berperilaku layaknya perempuan bangsawan, dan dia juga dapat diterima di kalangan Belanda karena mampu berbahasa Belanda dengan baik. Hal tersebut menggambarkan bahwa Teyi telah berhasil menunjukkan semangat nasionalismenya sebagai perempuan Indonesia, sehingga ia bisa dihargai dan diterima di semua golongan dalam wilayah multikutur tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Daftar Acuan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Anderson, Benedict. 2001. Imagined Communities (Komunitas-komunitas Terbayang). Terjemahan Omi Intan Naomi. Yogyakarta: Penerbit Insist.<br />
Antari, Nis.2006. “Menggali Potensi Diri”. Intisari, Edisi Maret 2006.<br />
Keesing, Elisabeth. 1999. Betapa Besar pun Sebuah Sangkar (Hidup, Suratan, dan Karya Kartini). Jakarta: Djambatan.<br />
Pitaloka, 2004. “Kontak dalam Masyarakat Multikultur”. e.psikologi.com.<br />
Poespowardojo, Soerjanto. 1989. Strategi Kebudayaan Suatu Pendekatan Filosofis. Jakarta: PT Gramedia.<br />
Pusat Bahasa Depdiknas. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.<br />
Ricklefs, M.C. 2001. Zaman Penjajahan Baru. Yogyakarta: Insist<br />
Said, Edward W. 2001. Orientalisme. Bandung: Penerbit Pustaka.<br />
Soekanto, Soejono.2001. Sosiologi (Suatu Pengantar). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.<br />
Susetyo, DP.Budi. 2002. “Krisis Identitas Etnis Cina di Indonesia”. www.unika.ac.id.<br />
Watson, C.W. 2006. “Multiculturalism: It’s Strengths and Weaknessess”. pps.upiedu/org/sqwatson.html.</p>
<p style="text-align: justify;">**)Makalah dipresentasikan pada Konferensi Internasional HISKI (Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia) di Gedung Universitas Pendidikan Indonesia Bandung tanggal 5-7 Agustus 2009, dengan tema: MEMBACA KEMBALI FUNGSI SOSIAL SASTRA.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=561</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>STRUKTUR NARATIF DALAM NOVEL LARA LAPANE KAUM REPUBLIK KARYA SUPARTO BRATA</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=514</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=514#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 02:15:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[Mochammad Fikri Tenaga Teknis Balai Bahasa Semarang ABSTRACT The narrative analysis of Lara Lapane Kaum Republik aims to expose the elements of literature, such as charakter, plot, and setting. All elements become a unity which supports each other to the narrative explanation of the novel. In the structure of this narrative, the most prominent element [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Mochammad Fikri</strong><br />
Tenaga Teknis Balai Bahasa Semarang</p>
<p style="text-align: center;">ABSTRACT</p>
<p style="text-align: justify;"><em>The narrative analysis of Lara Lapane Kaum Republik aims to expose the elements of literature, such as charakter, plot, and setting. All elements become a unity which supports each other to the narrative explanation of the novel. In the structure of this narrative, the most prominent element is the existence of events which interelates one another so that it is able to describe the plot of story.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align: left;">Keywords: <em>elements of literature, narrative explanation.</em></p>
<p><em> </em><br />
<img class="aligncenter size-medium wp-image-518" title="kaum-republik" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/03/kaum-republik-217x300.jpg" alt="kaum-republik" width="217" height="300" /><br />
<strong>1. Pengantar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Struktur di dalam suatu teks harus mempunyai elemen-elemen atau unsur-unsur yang mendukung keutuhan teks tersebut. Unsur-unsur seperti tokoh, alur cerita, dan latar merupakan beberapa unsur pembangun teks yang memegang peranan penting di dalam analitis struktur suatu teks. Unsur-unsur yang mendukung teks tersebut juga terdapat di dalam suatu naratif dan merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Unsur-unsur tersebut adalah tokoh, kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang tersusun secara berurutan dan saling berhubungan sehingga membentuk alur cerita dan latar.</p>
<p><span id="more-514"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Struktur naratif lebih menekankan pada suatu kejadian yang saling berhubungan. Kejadian-kejadian yang saling berhubungan tersebut merupakan unsur-unsur yang membentuk alur. Menurut Christianson (1988;30), kejadian-kejadian akan menjadi suatu alur apabila kejadian-kejadian tersebut tersusun dalam suatu urutan waktu tertentu. Susunan kejadian-kejadian tersebut membentuk tipe ketegangan naratif dalam sebuah alur cerita. Lebih lanjut, Kent (1986;61) mengatakan bahwa sistem teks memaparkan kepada kejadian yang mendahuluinya berdasarkan pada beberapa kemungkinan yang berurutan. Kemungkinan-kemungkinan tersebut menjadi besar seiring dengan sistem yang berkembang sampai pada kejadian akhir dan sistem tersebut ditentukan oleh kejadian-kejadian yang mendahuluinya. Dan urutan-urutan kejadian tersebut terlihat bahwa suatu naratif bergerak dari suatu misteri menuju suatu penyelesaian.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Latar Belakang Novel <em>Lara Lapane Kaum Republik</em> dan Pengarangnya</strong><br />
Novel Lara Lapane Kaum Republik diterbitkan oleh Jajasan Penerbit Djaja Baja Surabaya pada tahun 1966 setebal 70 halaman. Sebelum diterbitkan dalam bentuk novel, karya sastra itu pernah diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung di majalah berbahasa Jawa <em>Panjebar Semangat</em> pada tahun 1958 dengan judul <em>Djiwa Republik</em> dan juga pernah dibaca di RRI Jogjakarta pada tahun 1959. Novel tersebut pernah memenangkan sayembara sebagai juara pertama, yang diadakan oleh <em>Panjebar Semangat</em> pada tahun 1958 (Brata,1966;3; cf Ras, 1985; 1985; cf Hutomo, 1975;18). Namun, menurut Brata (1990;26), novel <em>Kaum Republik</em> memenangkan sayembara roman di majalah <em>Panjebar Semangat</em> pada tahun 1959. Menurut Suparto Brata (1990;31) novel <em>Lara Lapane Kaum Republik</em> tersebut berjudul <em>Kaum Republik</em>. Setelah memenangkan sayembara penulisan roman berbahasa Jawa di majalah <em>Panjebar Semangat</em> pada tahun 1959 oleh redaktur majalah tersebut judul novel ini, tanpa sepengetahuan pengarangnya, diubah menjadi <em>Djiwa Republik</em> ketika dimuat sebgai cerita bersambung dalam majalah tersebut (Brata,1990;31).</p>
<p style="text-align: justify;">Novel Lara Lapane Kaum Republik merupakan bagian pertama dari roman trilogi yang berjudul Kelangan Satang. Trilogi Kelangan Satang karya Suparto Brata adalah Lara Lapane Kaum Republik, Kaduk Wani, dan Kena Pulut (Brata, 1966;2-3; cf Ras, 1985;25). Novel Lara Lapane Kaum Republik karya Suparto Brata mengungkapkan tentang seorang pejuang pada zaman kemerdekaan yang berjuang menengok ibunya di kota, demi mendapatkan cinta dari orang tuanya kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Suparto Brata, pengarang novel Lara Lapane Kaum Republik adalah salah seorang pengarang sastra Jawa yang tidak terpengaruh arus pada masa keemasan roman picisan atau Panglipur Wuyung ‘pelipur lara’. Pada masa itu, para pengarang sastra Jawa cenderung menulis novel-novel saku murahan. Menurut Quinn (1992;175-176) maupun Ras, 1985;25), Suparto Brata dengan gayanya yang khusus dan dengan kepandaiannya mengolah elemen-elemen sastra ke dalam cerita, ternyata mampu membentuk ciri tersendiri di tengah beredarnya roman saku murahan. Dalam dunia kepengarangan, Suparto Brata selain memakai namanya sendiri juga sering memakai nama samaran Peni, Eling Jatmiko, dan M. Sholeh (Mardianto, 2003;55).</p>
<p style="text-align: justify;">Suparto Brata lahir pada tanggal 16 Oktober 1932. Dia mulai mengarang pada tahun 1952. Karyanya berupa crita cekak ‘cerita pendek’, novel atau cerita bersambung, sandiwara, dan esai. Selain mengarang dalam bahasa Jawa, Suparto Brata juga mengarang dalam bahasa Indonesia. Karya-karya Suparto Brata dalam bahasa Indonesia banyak dimuat di majalah berbahasa Indonesia, seperti: Kisah, Gelanggang (Siasat), Mimbar Indonesia, Genta (Majalah Merdeka), Aneka, Hidangan, Gelora, Tanah Air, Kompas, Sinar Harapan, Republika, dan lain-lain. Suparto Brata mulai mengarang dalam bahasa Jawa pada tahun 1958, dan dimuat di majalah berbahasa Jawa, seperti: Jaya Baya, Panjebar Semangat, Mekar Sari, Djaka Lodang, dan lain sebagainya (Brata, 2000:315).</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa karya novel atau cerbung berbahasa Jawa dari Suparto Brata, di antaranya: Kadurakan Ing Kidul Dringu, Kaduk Wani (seri Wiradi); Kena Pulut (seri Wiradi); Titising Sepata, Tanpa Tlatjak (seri detektip Handaka); Tretes Tintrim (seri detektip Handaka); Emprit Abuntut Bedhug (seri detektip Handaka); Jaring Kalamangga (seri detektip Handaka); Sala Lelimengan; Asmarani; Katresnan Kang Angker; Pethite Nyai Blorong; Nyawa 28; Sanja Sangu Trebela; Lintang Panjer Sore; Kamar Sandi; Garuda Putih (seri detektip Handaka); nglacak Ilange Sedulur Ipe; Ngingu Kutuk Ing Suwakan; dan November Abang (Hutomo, 1975;18; cfr Mardianto, 2003;55-56).</p>
<p style="text-align: left;">3. Tujuan Penelitian<br />
Analisis novel Lara Lapane Kaum Republik ini menggunakan pendekatan intrinsik. Pendekatan tersebut hanya mengambil objek penelitian dari teks yang ada, terlepas dari masalah-masalah eksternal yang turut membangun teks tersebut. Walaupun novel Lara Lapane Kaum Republik merupakan bagian dari roman trilogi yang berjudul  Kelangan Satang seperti Kaduk Wani dan Kena Pulut, tetapi analisis ini hanya ditujukan pada novel Lara Lapane Kaum Republik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tujuan penelitian ini dirumuskan menjadi dua hal pokok sebagai berikut ini.<br />
1) Bagaimana perkembangan watak tokoh utama di dalam menjalani kehidupannya?<br />
2) Bagaimana peran tokoh-tokoh bawahan dalam membantu perkembangan watak tokoh utama?<br />
Tujuan analisis naratif tersebut diajukan sesuai dengan fungsi dan peran tokoh utama yang dibantu oleh tokoh bawahan dalam menggambarkan sebuah alur cerita.</p>
<p style="text-align: left;">4. Landasan Teori<br />
Pengungkapan watak serta perkembangan tokoh utama di dalam penelitian novel Lara Lapane Kaum Republik ini tidak dapat dilepaskan dari teori-teori yang disusun sesuai dengan kerangka ilmiah. Landasan teori merupakan suatu bentuk kegiatan ilmiah, sedangkan penelitian sastra memerlukan landasan kerja berupa teori yang dipilih dan berfungsi sebagai pemberi arah dalam kegiatan penelitian (Soeratno, 1994;1-11). Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif, yaitu suatu pendekatan pada karya sastra yang pengarang atau yang biasa disebut faktor ekstrinsik tidak mempengaruhinya. Seperti apa yang disebutkan oleh Abrams bahwa pendekatan tersebut memberi perhatian pada suatu karya seni dalam keterbatasannya dari beberapa referensi faktor eksternal, dan menganalisisnya dengan satu kesatuan yang semata-mata hanya berasal dari bagian internal karya itu sendiri (Abrams, 1979;26).</p>
<p style="text-align: justify;">Pendekatan objektif di dalam analisis ini digunakan untuk mendukung teori yang dipakai, sedangkan struktur naratif yang digunakan dalam penelitian ini memakai skema seperti yang dipaparkan oleh Jobling (1986) untuk meneliti kitab suci Yahudi. Skema naratif ini mengacu pada skema naratif yang dikemukakan oleh Vladimir Propp (1968) dalam penelitiannya tentang cerita rakyat di Slavia. Jobling mengemukakan 5 tahap situasi yang dialami oleh tokoh utama, yaitu sebagai berikut ini:<br />
a. Initial Situation ‘Situasi Awal’<br />
Tahap penggambaran situasi awal cerita seperti menggambarkan siapa tokoh<br />
utama, keadaan hidupnya dan sifat-sifat awal tokoh utama tersebut.<br />
b. Villainy ‘Munculnya Gangguan-Gangguan’.<br />
Tahap penggambaran munculnya suatu permasalahan. Tahap tersebut penting<br />
karena merupakan kunci untuk pengembangan masalah lebih lanjut tokoh utama.<br />
Permasalahan yang muncul tersebut berupa “gangguan-gangguan” yang terjadi<br />
terhadap tokoh utama yang diakibatkan oleh munculnya tokoh-tokoh bawahan.<br />
c. Counteraction and Combat ‘Tindakan dan Cara memerangi Masalah’.<br />
Tahap ini menunjukkan suatu keadaan yang semakin memuncak dan<br />
mengakibatkan konflik-konflik yang penting antartokoh. Tokoh utama melakukan<br />
tindakan atau antisipasi dan berusaha mengatasi masalah yang dihadapinya.<br />
d. Marking The Hero ‘Menandai Munculnya Seorang Pahlawan’.<br />
Tahap ini memunculkan seseorang yang mampu keluar sebagai “pahlawan”, dan<br />
mampu memecahkan segala persoalan yang muncul melalui konflik-konflik yang<br />
terjadi. Pemunculan tokoh utama sebagai pahlawan yang mampu mengatasi<br />
permasalahan yang terjadi. Tokoh utama bertindak sebagai seorang yang mampu<br />
mengatasi masalah dan juga mampu untuk menyuarakan kebenaran terhadap<br />
sikap-sikap tokoh bawahan yang perlu dibenarkan.<br />
e. The Hero’s Return Home ‘Sang Pahlawan Pulang dengan Kemenangan’.<br />
Tahap ini adalah tahap terakhir yang menunjukkan keadaan sang ‘pahlawan’ atau<br />
tokoh utama pada akhir cerita dengan membawa kemenangan dan menyelesaikan<br />
permasalahan yang dihadapinya dan mampu mendapat serta meraih cita-cita dan<br />
harapannya (Jobling, 1986;24-25).</p>
<p style="text-align: justify;">5. Pembahasan<br />
Novel Lara Lapane Kaum Republik ini dianalisis dengan menggunakan skema naratif yang dikemukakan oleh Jobling (1986) yang mengacu dari skema Propp. Pemaparan skema struktur naratif  novel Lara Lapane Kaum Republik ini terdiri dari 9 episode yang termuat di dalam novel ini. Setiap tahap dalam struktur naratif ini mencakup beberapa episode cerita.</p>
<p style="text-align: Justify;">5.1 Initial Situation, ‘Situasi Awal’</p>
<p style="text-align: justify;">Wiradi adalah seorang pejuang kemerdekaan yang sedang bergerilya bersama dengan adiknya, Wiranta, melawan penjajah Belanda di desa Bekonang yang terletak di sebelah timur Kota Solo. Dia mendengar kabar bahwa ibunya sedang sakit depresi di Kota Solo, yang baru dikuasai oleh Belanda. Wiradi tidak seperti penggambaran seorang pahlawan perang karena dia bukanlah seorang pahlawan perang kemerdekaan yang pintar dan pandai membaca situasi. Meskipun demikian, dia tetap bersikukuh dan bertekad menjenguk ibunya di kota padahal tentara Belanda sedang giat-giatnya selalu melakukan operasi penangkapan terhadap laki-laki muda yang terlihat sehat untuk ditahan.<br />
(episode I, 5: 1-10, 6: 17-36).</p>
<p style="text-align: justify;">Wiradi adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang sangat mencintai dan mengasihi orang tuanya terutama ibunya. Dia mempunyai dua adik kandung, satu laki-laki bernama Wiranta dan satu perempuan yang bernama Wirastuti. Pada waktu terjadi pemberontakan PKI di Madiun yaitu beberapa saat sebelum Belanda menguasai kota Solo, adik bungsunya yang bernama Wirastuti sedang membantu di Biro Perjuangan Putri. Adiknya tersebut menghilang dan tidak pulang kembali ke rumah orang tuanya. Kemudian, ketika Belanda menyerbu untuk menguasai kota Solo, keluarga Wiradi menjadi tercerai-berai.<br />
(episode I, 5: 5-7, 7: 16-30).</p>
<p style="text-align: Justify;">5.2 Villainy, ‘Munculnya Gangguan-Gangguan’</p>
<p style="text-align: justify;">Wiradi mencoba membujuk Wiranta agar mau menjenguk ibunya yang sedang sakit di kota. Menurut Wiradi, ibunya sakit karena memikirkan ketiga anaknya termasuk Wiradi yang tidak ketahuan rimbanya. Wiranta tidak menyetujuinya dengan alasan penjagaan pasukan Belanda yang begitu ketat di kota. Pada akhirnya Wiranta mau menuruti kehendak Wiradi setelah tempat mereka tinggal mendapat serangan dari pesawat-pesawat udara Belanda.<br />
(episode I, 5: 11-35, 6: 1—24, 8: 36-37, 9: 1-23).</p>
<p style="text-align: justify;">Penyusupan yang dilakukan Wiradi bersama teman-temannya kepergok tank patroli Belanda sehingga menyebabkan Wiradi dan teman-temannya menjadi tercerai-berai dalam kelompok-kelompok kecil. Wiranta tertembak kakinya sehingga dia tidak dapat melanjutkan perjalanan. Atas perintah Wiranta, Wiradi tetap melanjutkan perjalanan didampingi oleh Kusnarna dan Sukardiman.<br />
(episode II, 15: 1-33; 16: 1-32).</p>
<p style="text-align: justify;">Wiradi ditemani oleh Sukardiman masuk ke rumahnya, sedangkan Kusnarna berjaga-jaga di jalan untuk memberi tahu apabila ada patroli Belanda. Kemudian pintu dibuka oleh Pak Najadisastra dengan kepala yang dibalut perban putih. Pak Naja tinggal di rumah itu ketika rumah tersebut ditinggal mengungsi oleh orang tua Wiradi. Melihat pemunculan Pak Naja tersebut Sukardiman teman Wiradi lari tunggang-langgang karena ketakutan.<br />
(episode II, 17: 1-5, 18: 22-37).</p>
<p style="text-align: justify;">Kepulangan Wiradi ke rumah tersebut bukannya membuat ibunya menjadi senang, tetapi malah membencinya. Ibunya kecewa atas kedatangan Wiradi karena anak yang diharapkan kedatangannya adalah Wirastuti. Wiradi dipersalahkan oleh ibunya karena dia telah mengantarkan Wirastuti ke Biro Perdjuangan Putri. Selain itu, Wiradi juga dianggap bersalah oleh ibunya karena tidak mengajak pulang adiknya. Wiradi kecewa atas perlakuan ibunya tersebut. Padahal, dia bisa sampai di rumah untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit itu harus melalui perjuangan yang berat dan sulit.<br />
(episode III, 21: 12-38, 22: 1-21).</p>
<p style="text-align: justify;">Kusnarna memberi tanda peringatan kepada Wiradi akan kedatangan pasukan patroli Belanda. Peringatan agar Wiradi segera pergi dari rumah itu tidak sempat diikuti oleh Wiradi karena pada saat itu tentara-tentara Belanda sudah sampai di jalan dekat rumahnya. Wiradi terpaksa tetap tinggal di rumahnya dan bersembunyi di bawah tempat tidur di kamar ibunya. Wiradi merasa nasibnya buruk sekali. Dia merasa kedatangannya ke rumah untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit dan melepaskan kerinduan pada ibunya itu sia-sia belaka karena kedatangannya tidak diterima dengan baik oleh ibunya dan kemudian dia malah terjepit di daerah musuh. Kedatangan tentara Belanda membuat jantung Wiradi berdetak kencang sampai-sampai keluar keringat dingin karena apablia dia sampai ketahuan, nyawa taruhannya. Ditambah lagi, setelah mengetahui kalau dia lupa di mana menaruh pistolnya. Wiradi yang telah ditinggalkan oleh Kusnarna tidak akan berani seorang diri kembali ke desa.<br />
(episode III, 23: 23-33, 24: 6-37)</p>
<p style="text-align: justify;">Wiradi meraskan kesedihan atas kemalangan yang menimpa keluarganya, seperti ibunya sakit; Wiranta luka tertembak; Wirastuti hilang tanpa kabar berita; dan bapaknya telah bekerja membantu Belanda. Selain itu, Wiradi juga khawatir tentara Belanda yang sewaktu-waktu datang untuk menangkapnya karena mengetahui keberadaannya di rumah orang tuanya.<br />
(episode IV, 27: 25-32).</p>
<p style="text-align: justify;">5.3 Counteraction and Combat, ‘Tindakan dan Cara mengatasi Masalah’<br />
Wiradi yang khawatir atas keselamatan dirinya berharap agar malam hari segera tiba supaya dia dapat segera pergi meninggalkan rumahnya, sebelum tentara Belanda datang untuk menangkapnya. Menurut dugaannya, Pak Naja yang dicurigainya sebagai mata-mata Belanda telah melaporkannya kepada tentara Belanda.<br />
(episode IV, 27: 31-36).</p>
<p style="text-align: justify;">Pikiran Wiradi menjadi bingung, apakah yang menjadi mata-mata Belanda itu bapaknya ataukah Pak Naja. Dia mencoba membandingkan antara Pak Naja dan bapaknya. Bapaknya bekerja pada Belanda hanya untuk menyambung hidup keluarganya, sedangkan Pak Naja tidak jelas dari mana sumber penghasilan untuk menghidupi keluarganya. Kecurigaan Wiradi pada Pak Naja tersebut membuat dia membayangkan tentara Belanda datang untuk menangkapnya. Wiradi tidak tahu siapakah orang yang telah melaporkannya, apakah Pak Wiradad ataukah Pak Naja.<br />
(episode IV, 31: 3, 32: 5-7).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Pak Naja dan Pak Wiradad pergi dari rumah karena urusan masing-masing, Wiradi berbincang-bincang dengan Elok di dapur. Wiradi bercerita tentang keadaan adik-adiknya, Wiranta dan Wirastuti, serta keadaan di desa tempatnya bergerilya pada Elok. Selain bercerita, Wiradi juga ingin menyelidiki dan mengetahui lebih banyak tentang Pak Naja melalui Elok. Dari cerita Elok, Wiradi mengetahui bahwa Pak Naja adalah seorang ‘Republikein’ sejati dan tidak seperti apa yang dibayangkan Wiradi sebelumnya.<br />
(episode V, 32: 1-21, 33: 1-6, 34: 15-38, 35: 1-12, 38: 18-29).</p>
<p style="text-align: justify;">Pada jam satu siang Pak Naja tiba. Dia membawa surat kabar dari Jakarta. Wiradi merasa bahwa Pak Naja mengetahui dan menganggap kalau dirinya adalah seorang prajurit yang pengecut.<br />
(episode V, 38: 30-31, 39: 1-6).</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Wiradad yang sudah kembali dari kantor membawa oleh-oleh roti tawar. Pak Wiradad menginformasikan kepada Wiradi kalau Belanda nanti malam akan mengetatkan penjagaan dengan patroli yang lebih banyak dan dengan persenjataan lengkap. Wiradi disuruh bapaknya untuk tetap tinggal di rumah karena apabila tetap memaksakan untuk pergi, nyawanya sebagai taruhan. Wiradi menjadi patah semangat dan gentar setelah mendengar dari bapaknya bahwa Belanda telah menyiapkan persenjataan lengkapnya untuk mengetatkan patrolinya nanti malam.<br />
(episode V, 39: 7-25, 40: 4-6).</p>
<p style="text-align: justify;">5.4 Marking The Hero, ‘Menandai Munculnya Seorang Pahlawan’<br />
Wiradi jengkel dengan perilaku bapaknya. Dia menjelaskan kepada bapaknya bahwa orang Indonesia, khususnya orang Jawa, yang makan roti tawar adalah seorang mata-mata Belanda. Wiradi bertanya pada bapaknya apakah bapaknya seorang mata-mata Belanda. Melihat kelakuan bapaknya itu, Wiradi menjadi sedih hati, sumpek, dan malu bercampur-baur menjadi satu. Apalagi setelah dia tahu bahwa ternyata Elok, perempuan yang ditaksirnya, mendengar juga semua perbincangan dan pertengkaran dengan bapaknya.<br />
(episode V, 41: 4-26).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Elok mencoba menghibur dan bersimpati kepada Wiradi yang sedang sakit hati. Sepertinya Elok ingin ikut merasakan kesedihan hati Wiradi. Hal itu menyebabkan hati Wiradi menjadi tenteram dan tenang. Dia merasakan sedikit kebahagian dengan adanya Elok. Perhatian Elok bagi Wiradi bagaikan kasih sayang ibunya yang telah lama hilang semenjak kelahiran Wiranta dan Wirastuti. Anggapan Wiradi, semenjak kelahiran Wiranta dan Wirastuti, dia merasa telah kalah bersaing dalam memperebutkan kasih sayang ibunya. Ibunya setiap saat hanya selalu membanggakan Wiranta karena dia lebih pintar, cerdas, sekolahnya naik terus dan tegas. Wiradi merasa tidak kebagian tempat di hati ibunya. Setelah sekian lama Wiradi merasa tersisihkan ibunya baru menemukan tempat berlindung yang sangat menyejukkan hatinya, yaitu uluran kasih sayang dari Elok.<br />
(episode V, 41: 26-38, 42: 1-9).</p>
<p style="text-align: justify;">Pasukan baret merah Belanda berada di dekat rumah Wiradi. Keluarga Wiradi menyembunyikan Wiradi bersembunyi di atas langit-langit rumahnya agar terhindar dari penangkapan pasukan Baret Merah Belanda yang terkenal amat kejam.<br />
(episode V, 42: 34-38, 43: 7-35, 44:1-30).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melihat tindakan orang seisi rumahnya, termasuk bapaknya, Wiradi yang masih berada di atas langit-langit rumah beranggapan bahwa orang seisi rumah ternyata sangat menyayanginya. Hal itu membuat Wiradi merasa berdosa dan dia menyesal telah mencurigai dan menuduh bapaknya sebagai seorang mata-mata Belanda.<br />
(episode V, 45: 8-12).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah jam lima sore dan hari mulai gelap, Wiradi keluar dari tempat persembunyiannya.<br />
(episode V, 45: 30-34),</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Lodang, orang desa Bekonang yang berjualan ketela di kota dan sering dititipi kabar oleh para pejuang untuk keluarga mereka di kota bertamu ke rumah Wiradi. Dia ingin bertemu dengan Wiradi karena dia membawa pesan dari Wiranta, adiknya. Pak Lodang memberitahukan keadaan Wiranta yang selamat sampai di Desa Bekonang. Wiranta sekarang ini masih dalam perawatan dukun setempat karena lukanya. Selain itu, Pak Lodang juga menceritakan pada Wiradi tentang Wirastuti yang datang ke Desa Bekonang, tetapi karena terlalu banyak orang yang titip kabar untuk keluarganya pada Pak Lodang, maka lupa kabar mengenai Wirastuti tersebut. Pak Lodang hanya teringat namanya saja.<br />
(episode VII, 48: 24-25, 49: 12-13, 50:6-33, 51:3-16).</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Lodang pergi dari rumah Wiradi. Elok yang melihat Pak Lodang akan pergi, cepat-cepat menghadang Pak Lodang dan menitipkan surat untuk Wiranta.<br />
(episode VII, 51: 18-20, 52:1-11).</p>
<p style="text-align: justify;">Mengetahui hal tersebut, Wiradi menjadi terkejut bukan main. Dia memberitahu Elok bahwa tindakannya tersebut sangat berbahaya karena setiap orang yang keluar-masuk kota akan digeledah tentara Belanda. Apabila surat tersebut sampai ketahuan tentara Belanda, akibatnya Belanda akan mengetahui keberadaan Wiradi di rumah tersebut.<br />
(episode VII, 52: 31-38,53: 4-14).</p>
<p style="text-align: justify;">Elok mengejar Pak Lodang atas suruhan Wiradi, tetapi tidak menemukan Pak Lodang. Kemudian Elok memutuskan pulang kembali ke rumah untuk menemui Wiradi.<br />
(episode VII, 52: 16-38, 54: 1-13).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tiba kembali di rumah, Elok segera memberitahukan kepada Wiradi bahwa Pak Lodang tidak diketemukan olehnya. Hal itu membuat Wiradi hanya bisa pasrah menerima keadaan dan menunggu kedatangan tentara Belanda yang akan menangkapnya.<br />
(episode VII, 54: 14-19).</p>
<p style="text-align: justify;">Suhebat bercerita kalau Pak Lodang telah tertangkap pasukan Belanda.<br />
(episode VII, 54: 27-37, 55: 1-26).</p>
<p style="text-align: justify;">5.5 The Hero’s return Home, ‘Sang Pahlawan Pulang dengan Kemenangan’<br />
Setelah seisi rumah mengetahui berita tentang Pak Lodang yang ditangkap oleh tentara Belanda, mereka bersiasat untuk menyembunyikan Wiradi agar tidak ditangkap tentara Belanda. Akan tetapi, mereka semua, termasuk Wiradi, hanya bisa menunggu kedatangan tentara Belanda sampai malam tiba. Apabila malam hari telah tiba dan tentara Belanda tidak datang, Wiradi selamat dan segera dapat meninggalkan rumahnya.<br />
(episode VIII, 56: 1-25, 58: 11-23).</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya setelah malam tiba, kejadian yang ditunggu-tunggu tersebut tidak terjadi. Seisi rumah menjadi gembira dan mengucapkan syukur. Kemudian Wiradi bersiap-siap meninggalkan rumahnya.<br />
(episode VIII, 58: 24-38, 59: 1-4).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berpamitan pada ibunya, Wiradi pergi dengan hati bangga dan bahagia setelah mengetahui bahwa seisi rumah, termasuk ibunya, sebenarnya menyayangi dan membantunya. Hal itu terbukti dari cara mereka melepas kepergian Wiradi.<br />
(episode VIII, 59: 9-22).</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya, Wiradi bergegas meninggalkan rumahnya. Karena ketidakhati-hatiannya dan kekurangwaspadaannya, Wiradi kepergok oleh satu regu tentara Belanda yang sedang berjaga-jaga di daerah tersebut. Kemudian Wiradi dihujani tembakan. Tembakan tersebut membuat Wiradi lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Tanpa sadar ketiak kirinya terasa panas. Wiradi mengira dia telah terluka karena tembakan tadi. Wiradi merasa badannya menjadi lemas dan merasa sebentar lagi akan pingsan. Sebelum pingsan Wiradi memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Wiradi ingin segera mendapat pertolongan, dirawat dan dikasihi oleh orang-orang di rumahnya.<br />
(episode VIII, 59: 26-34, 60: 14-38, 61: 1-26).</p>
<p style="text-align: justify;">Pada keesokan harinya Pak Lodang datang dengan dikawal oleh tentara Belanda. Wiradi bingung dan menjadi ketakutan karena sudah tidak mungkin lagi untuk bersembunyi. Kemudian Wiradi masuk ke kamar besar dan menguncinya. Tubuh Wiradi gemetar, dia berniat untuk melawan, tetapi seperti terpaku menghadapi tentara Belanda yang akan menangkapnya.<br />
(episode IX, 65: 17-25, 66: 7-22, 67: 12-15, 68: 1-3).</p>
<p style="text-align: justify;">Wiradi tertangkap oleh tentara Belanda. Elok melihat Wiradi telah dibekuk oleh tentara Belanda. Ketika Wiradi dibawa pergi oleh tentara Belanda, membuat Elok menangis. Di dalam hatinya, Elok tetap menghargai dan menghormati Wiradi sebagai seorang pahlawan kemerdekaan.<br />
(episode IX, 68: 4-38, 69: 1-15).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mobil jip tentara Belanda yang membawa Wiradi dan Pak Lodang pergi, Elok yang mendengar suara Bu Wiradad segera masuk ke kamar untuk merawat dan menghibur hati Bu Wiradad, seorang ibu yang ketiga putra-putrinya sedang mengalami musibah. Perjuangan kaum Republik masih panjang dan perlu korban, tetapi perjuangan hati manusia lebih panjang lagi waktunya.<br />
(episode IX, 69: 27-33, 70: 12-21).</p>
<p style="text-align: justify;">6. Penutup<br />
Dengan menggunakan skema naratif didapatkan suatu struktur naratif yang mengemukakan perkembangan watak tokoh utama yang dipertajam oleh para tokoh bawahan. Struktur naratif di atas memaparkan suatu kejadian-kejadian yang berurutan yang dialami oleh tokoh utama. Tokoh-tokoh bawahan yang juga disebut “villain” muncul dan berinteraksi dengan tokoh utama melalui dialog dan tindakan atau action. Di dalam setiap tahapan struktur naratif digambarkan perkembangan watak, sikap dan pola pikir tokoh utama Wiradi karena berinteraksi dengan para “villain”. Tokoh utama Wiradi sebagai seorang pejuang kemerdekaan tidak mendapatkan kasih sayang atau cinta kasih dari ibunya dan dia berupaya untuk mendapatkan kasih sayang tersebut. Kasih sayang dari ibunya maupun seluruh keluarganya tersebut akhirnya dia dapatkan dan itulah kemenangan yang dicapai Wiradi sebagai tokoh utama meskipun Wiradi tertangkap oleh Belanda. Lebih lanjut, struktur naratif membantu memberikan gambaran untuk analisis penokohan yang berfokus pada perkembangan watak tokoh utama Wiradi yang berinteraksi dengan tokoh-tokoh bawahan seperti Wiranta, Bu Wiradad, Elok, Pak Naja, Pak Wiradad, Kusnarna, Pak Lodang, Suhebat, dan Sukardiman. Keberadaan tokoh-tokoh bawahan tersebut menggambarkan bagaimana tokoh utama Wiradi dalam menjalani kehidupannya pada saat berada di desa, perjalanan ke rumahnya di kota, di rumahnya, dan pertemuan dengan bapak dan ibu kandungnya untuk mendapatkan kasih sayang, sampai akhirnya tertangkap oleh tentara Belanda.</p>
<p style="text-align: centre;">DAFTAR PUSTAKA</p>
<p style="text-align: justify;">Abrams, M.H. 1979. Mirror and The Lamp. New York: Oxford University Press.<br />
Brata, Suparto. 1966, Lara Lapane Kaum Republik. Surabaya: Jajasan Penerbitan Djaja<br />
Baja.<br />
&#8212;, 1990. Jatuh Bangun Bersama Sastra Jawa. Departemen Pendidikan Dan<br />
Kebudayaan.<br />
&#8212;, 2000, Trem: Antologi Crita Cekak. Cet. 1, November 2000. Yogyakarta: Pustaka<br />
Pelajar.<br />
Christianson, E.S. 1988. “A Time To Tell. Narrative Strategies in Eclessiates”. Dalam<br />
David J.A. Clines dan Philip R. Davies (Ed.). Journal For The study of The Old<br />
Testament Supplement Series. Sheffield: Sheffield Academy Press.<br />
Hutomo, Suripan Sadi. 1975. Telaah Kesusastraan Jawa Modern. Jakarta: Pusat<br />
Peembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan<br />
Kebudayaan.<br />
Jobling. D. 1986. The Sense of Biblical Narrative. Structural Analyses in The Hebrew<br />
Bible. Sheffield: Redwood Burn Ltd. Trowbridge, Wiltshire.<br />
Kent, Thomas. 1986. Interpretation and Genre. The Role of Generic Perception in The<br />
Study of Narrative Text. London and Toronto; Associated University Press.<br />
Mardianto, Herry. 2003. “Dunia Kepengarangan Suparto Brata”. Dalam Widyaparwa vol.<br />
31, No. 1, Juni 2003: 55-68. Yogyakarta.<br />
Propp, Vladimir. 1968. Morphology of The Folktale. Terj. L.Scott. Edisi Kedua oleh L.A.<br />
Wagner, Austin: University of Texas Press.<br />
Quinn, George. 1992. Novel Berbahasa Jawa.  Terj. Raminah Baribin. Semarang: IKIP<br />
Semarang Press.<br />
Ras, J.J. 1985. Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir.  Terj. Hesri. Jakarta:<br />
PT.Grafitipers.<br />
Soeratno, Siti Chamamah. 1994. “Studi Filologi Sebagai Satu Disiplin”, dalam: Siti<br />
Baroroh Baried, dkk. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: BPPF Seksi Filologi,<br />
Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.</p>
<p style="text-align: left;">Dikutip dari:<br />
ALAYASASTRA, Jurnal Ilmiah Kesusastraan, Volume 3, Desember 2007. PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL  Halaman 43-51.<br />
Pada laman ini tambahan gambar sampul novel Lara Lapane Kaum Republik (Jajasan Djaja Baja, Surabaya 1966)  dari Suparto Brata.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=514</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makalah Trilogi Gadis Tangsi</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=376</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=376#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 07:39:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[PEREMPUAN DALAM TRILOGI GADIS TANGSI KARYA SUPARTO BRATA: MIMIKRI DALAM HUBUNGAN BANGSAWAN DENGAN RAKYAT BIASA **) Lina Puryanti ABSTRAK Dalam wacana Pascakolonial, mimikri (peniruan) menjadi wacana yang paling kontradiktif karena selalu mengingatkan pada hubungan antara kaum penjajah dan terjajah yang ambivalen. Homi Babha menyatakan bahwa dalam mimikri warga terjajah dididik untuk menjadi almost the same, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">PEREMPUAN DALAM TRILOGI GADIS TANGSI KARYA SUPARTO BRATA:<br />
MIMIKRI DALAM HUBUNGAN BANGSAWAN DENGAN RAKYAT BIASA **)</p>
<p style="text-align: center;">Lina Puryanti</p>
<p style="text-align: center;">ABSTRAK</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam wacana Pascakolonial, mimikri (peniruan) menjadi wacana yang paling kontradiktif karena selalu mengingatkan pada hubungan antara kaum penjajah dan terjajah yang ambivalen. Homi Babha menyatakan bahwa dalam mimikri warga terjajah dididik untuk menjadi almost the same, but not quite, atau dengan kiasan rasialis yang tepat, almost the same but not white (Bhabha, 1994: 89).</p>
<p><span id="more-376"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Konsep mimikri ternyata juga bisa diaplikasikan untuk menjelaskan hubungan antara kelompok priyayi/ bangsawan dan rakyat biasa pada masa penjajahan. Bila dalam hubungan dengan bangsa penjajah kelompok bangsawan sebagai kelompok ‘perantara’ banyak direpresentasikan sebagai subyek kolonial yang melakukan mimikri, maka dalam konteks hubungan Gusti (pusat) – kawula (pinggir) model hubungan yang sama juga terjadi. Dalam trilogi Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem dan Maghligai di Ufuk Timur yang ditulis oleh Suparto Brata hubungan ’mimikri’ antara kedua kelompok yang dibedakan stratifikasi sosialnya ini terepresentasikan pada tokoh –tokoh perempuannya. Narasi cerita menunjukkan adanya reproduksi yang terus menerus gagasan mengenai arogansi dan superioritas serta budaya patriarki yang sangat kental. Perempuan masyarakat biasa dalam trilogi tersebut adalah bagian dari kelompok sosial yang tidak berdaya yang harus dibela dan bahkan dididik oleh kaum bangsawan agar menjadi lebih ’beradab’.</p>
<p>Selanjutnya klik <a href="http://www.supartobrata.com/wp-content/download/Backup%20of%20Makalah%20KIK%20HISKI%20XX%202009%20-%20Lina%20Puryanti.pdf">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=376</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makalah Gadis Tangsi</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=372</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=372#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 07:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=372</guid>
		<description><![CDATA[SEMANGAT NASIONALISME TOKOH TEYI DALAM NOVEL GADIS TANGSI KARYA SUPARTO BRATA DI ANTARA MASYARAKAT MULTIKULTUR Ade Husnul Mawadah ABSTRAK Bangsa Indonesia tidak pernah dapat dilepaskan dari sejarahnya sebagai bangsa jajahan Belanda. Pada tahun 1596 dipimpin oleh Houtman dan de Kyzer, Belanda datang dan menjajah Indonesia, kemudian mengakui kedaulatan Republlik Indonesia pada 27 Desember 1949. Selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">SEMANGAT NASIONALISME TOKOH TEYI DALAM NOVEL GADIS TANGSI KARYA SUPARTO BRATA DI ANTARA MASYARAKAT  MULTIKULTUR</p>
<p style="text-align: center;">Ade Husnul Mawadah</p>
<p style="text-align: center;">ABSTRAK</p>
<p style="text-align: justify;">Bangsa Indonesia tidak pernah dapat dilepaskan dari sejarahnya sebagai bangsa jajahan Belanda. Pada tahun 1596 dipimpin oleh Houtman dan de Kyzer, Belanda datang dan menjajah Indonesia, kemudian mengakui kedaulatan Republlik Indonesia pada 27 Desember 1949. Selama itulah (±350 tahun) Belanda telah melakukan banyak hal di Indonesia, di antaranya dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan sosial budaya. Hal itu tentu saja sangat mempengaruhi pembentukan mentalitas masyarkat Indonesia sebagai rakyat jajahan Belanda.</p>
<p><span id="more-372"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan masyarakat Indonesia pada masa kolonialisme Belanda menarik sejumlah pihak untuk meneliti dan menuliskannya sebagai sebuah catatan sejarah. Pada zaman itu, Indonesia yang heterogen telah menjadi wilayah yang multikultural. Budaya Barat dan Timur saling bersentuhan selama lebih dari 350 tahun. Selain sejarahwan, sejumlah sastrawan Indonesia pun tertarik untuk menuliskan kondisi masyarakat Indonesia pada zaman kolonialisme Belanda, salah satu di antaranya adalah Suparto Brata dengan novel Gadis Tangsi.</p>
<p>Selanjutnya klik <a href="http://www.supartobrata.com/wp-content/download/Makalah%20KIK%20HISKI%20XX%202009%20-%20Ade%20Husnul.pdf">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=372</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
