<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suparto Brata Blog &#187; Seminar</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?cat=33&#038;feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://supartobrata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jan 2018 08:12:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>KRONOLOGIS PERISTIWA DI SURABAYA 	Agustus – Desember 1945</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=692</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=692#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 00:19:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seminar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diumumkan di Jakarta jam 10 pagi. Berita dengan kode morse diterima di kantor berita Domei (Jl. Pahlawan 29) jam 11 pagi. Berita sempat diralat bahwa kejadian proklamasi itu tidak benar. Tapi orang Indonesia yang bekerja di Domei kadung membaca yang sudah diketik huruf ABC. Domei merupakan kantor berita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong>17 Agustus 1945</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diumumkan di Jakarta jam 10 pagi. Berita dengan kode morse diterima di kantor berita Domei (Jl. Pahlawan 29) jam 11 pagi. Berita sempat diralat bahwa kejadian proklamasi itu tidak benar. Tapi orang Indonesia yang bekerja di Domei kadung membaca yang sudah diketik huruf ABC. Domei merupakan kantor berita yang menyuplai berita-berita ke suratkabar Suara Asia (Jl. Pahlawan 31), suratkabar sore di Jawa Timur. Meskipun sudah disensor oleh redaksi bangsa Jepang, ada juga yang menyelundupkan berita proklamasi tadi ke Suara Asia. Yang bekerja di <strong>Domei </strong>antara lain: Yacob (morsis), RM Bintarti, Sutomno (Bung Tomo),  Astuti Askabul (kemudian jadi isteri A.Azis dan pemilik Surabaya Post). Yang bekerja di <strong>Suara Asia</strong>: Mohamad Ali (adik Imam Supardi, kemudian pemilik Panjebar Semangat). Oleh Suara Asia dibikin selebaran, disebar di tempat-tempat tempelan Suara Asia di seluruh Jawa Timur. Disiarkan dalam warta berita bahasa Madura oleh <strong>Radio Hoshokyoku </strong>Surabaya tanggal 18 Agustus 1945 jam 19.00 waktu Tokyo. Yang bahasa Indonesia baru tanggal 19 Agustus 1945.</p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/11/sby.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/11/sby.jpg" alt="" title="Surabaya jaman dulu" width="229" height="140" class="aligncenter size-full wp-image-732" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>18 Agustus 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di Jakarta ada rapat yang kemudian mengsahkan Undang-undang Dasar 1945.  Para prajurit PETA dan Heiho dibubarkan oleh Jepang. Termasuk yang ada di Surabaya dan sekitarnya. PETA = Tentara Pembela Tanah Air, adalah para perwira yang dilatih dan ditugasi Jepang untuk menjaga daerahnya (Tanah Air). Heiho adalah orang Indonesia yang dilatih perang oleh Jepang, setelah terampil disuruh maju perang berasama pasukan Jepang melawan Sekutu.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>19 Agustus 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Terjadi insiden di Markas Polisi Istimewa Coen Boulevard 7 Surabaya (SMA St.Louis Jl. Dr.Sutomo), bendera Hinomaru (Jepang) diturunkan, bendera Merah Putih dikibarkan, dipelopori oleh Agen Polisi III Nainggolan..</p>
<p style="text-align: center;"><strong>21 Agustus 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Komandan Polisi Istimewa Karesidenan Surabaya (Surabaya Syu Tokubetsu Keisatsutai) Inspektur Polisi Tk II Moehammad Jasin memproklamasikan bahwa Polisi sebagai Polisi Republik Indonesia proklamasi 17 Agustus 1945. Polisi Istimewa bermarkas di gedung SMA St. Louis Jl. Dr. Sutomo 7 Surabaya. Pemimpin polisi Jepang ditahan, komandan ditetapkan M.Jasin. Hubungan telepon diputus. Gudang senjata di belakang gedung dibongkar dikuasai oleh anak buah. Mengadakan apel pagi, lalu unjuk kekuatan berkeliling Surabaya dengan senjatanya (dan kendaraannya).</p>
<p style="text-align: center;"><strong>22 Agustus 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Secara de facto  Radio Surabaya (Surabaya Hoshokyoku) menjadi Radio Republik Indonesia (RRI).</p>
<p style="text-align: center;"><strong>23 Agustus 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Instruksi Presiden membentuk Komite Nasional Indonesia (KNI semacam DPR) jatuh pada Surabaya 23 Agustus 1945. Dipelopori oleh Angkata Moeda diadakan persiapan pembentukan KNI di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jl. Bubutan 87 Surabaya. Rapat selama 3 hari (25-27 Agustus), menghasilkan susunan KNI Karesidenan Surabaya: Dul Arnowo (ketua), Bambang Soeparto dan Mr.Dwidjosewojo (wakil ketua), Ruslan Abdulgani (penulis), dan anggotanya 25 orang, antara lain: Mr. Masmuin, Radjamin Nasution, Dr. Angka Nitisastra. Untuk menyambut sidang pertama KNIP di Jakarta 29-31 Agustus, maka KNI Karesidenan Surabaya mengumumkan kepada rakyat Surabaya supaya hari itu mengibarkan bendera Merah Putih. Pengumuman itu dibendung oleh Kenpeitai (Polisi Tentara Jepang) dengan cara menyebarkan pamflet melarang pengibaran bendera Merah Putih, namun oleh orang Surabaya tidak digubris. Panflet disobek-sobek. Berarti perlawanan terhadap kekuasaan Jepang mulai tumbuh sejak itu. Oleh Ruslan Abdulgani peristiwa bendera itu disebut  Flaggen Actie.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>27 Agustus &#8211; 3 September 1945</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Residen Sudirman setelah Indonesia merdeka sebagai pejabat paling tinggi di Karesidenan Surabaya (pada zaman Jepang sebagai Wakil Residen, Residennya orang Jepang) mendapat panggilan untuk menghadiri Sidang Pertama KNIP dan Permusyawaratan Pegawai Negeri di Jakarta. Berangkat tanggal 27 Agustus, pulang tanggal 3 September sore hari. Di Surabaya tanggal 2 September sudah dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang anggota dan pemimpinnya terdiri dari para bekas anggota tentara PETA.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>28 Agustus 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Inggris dan Belanda sebagai pemenang Perang Dunia II mengadakan persetujuan Civel Affairs Agreement (CAA) bahwa Inggris akan membantu Belanda dalam memperoleh kembali menguasai bekas jajahannya (yaitu Hindia Belanda = Indonesia). Maka orang-orang Belanda juga disamarkan dimasukkan sebagai anggota badan internasional pemenangan Perang Dunia II. Antara lain bisa jadi anggota Intercross (Palang Merah Internasional yang mengurusi orang-orang yang menderita), RAPWI (Rehabilitation Allied Prisoners of War and Internees = badan yang mengurusi para tawanan orang Jepang yang kalah perang dan para tawanan asing yang selama perang ditawan oleh Jepang), dan juga lewat pemboncengan pada gerakan pasukan Inggris yang mengurusi daerah Indonesia (misalnya diaku sebagai utusan dari Angkatan Laut Inggris untuk mengurusi bekas  angkatan laut Jepang di Surabaya, seperti yang dilakukan oleh P.J.G.Heiyer. Dengan adanya CAA itu maka orang Belanda dengan leluasa masuk ke Indonesia menggunakan fasilitas persetujuan tadi, meskipun tujuan utamanya menjajah Indonesia kembali.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>2 September 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dibentuk Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) bertempat di bekas gedung Badan Pembantu Prajurit (BPP) Jalan Kaliasin 121 (Jl. Basuki Rachmat). Rapat dihadiri hampir semua bekas pimpinan PETA, Heiho, kaum pergerakan dan lain-lain. Antara lain: Suryo (bukan Gubernur Suryo), Sutopo, Mohammad, Katamhadi, Rono Kusumo, Kunkiyat, Sungkono, Mustopo, Kholil Thohir, Yonosewoyo, Abdul Wahab, Usman Aji, Sutomo (Bung Tomo). BPKKP terbentuk dengan Dul Arnowo sebagai ketua, Daidantjo Mohammad (wakil), Daidantjo Sutopo (bagian umum), Notoamiprodjo dan Abdul Syukur (bagian keuangan). BKR terbentuk dengan  Daidantjo Drg. Mustopo (ketua), Sunarso (bekas pegawai BPP, bagian tunjangan), dibantu bagian penerangan adalah:  Daidantjo Katamhadi, Cudantjo Abdul Wahab,  wartawan Antara Sutomo (Bung Tomo).</p>
<p style="text-align: center;"><strong>4 September 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penyempurnaan susunan BKR yang dirapatkan di GNI Jl. Bubutan 87 oleh para Daidantjo, Cudantjo dan Shodantjo menghasilkan tiga eselon BKR, yaitu <strong>BKR Jawa Timur, BKR Karesidenan, dan BKR Kota Surabaya. Pemimpin-pemimpinnya yang disahkan adalah:  BKR Jawa Timur: Moestopo (panglima), Suyatmo (staf umum), Mohamad Mangundiprojo (urusan darat), Atmaji (urusan laut), Suyono Prawirobismo (polisi, penerangan), Suryo (keuangan/perlengkapan), Dr.Sutoyo (kesehatan), dll. BKR Karesidenan  Ketua Abdul Wahab (cudantjo), wakil ketua Yonosewoyo, dll. BKR Kota Surabaya: Ketua Sungkono.</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>13 September 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Suratkabar Suara Asia (terbit di Surabaya) tanggal 10 September 1945 memuat ajakan: Besok hari Selasa 11/9  moelai poekoel 6 sore di Tambaksari akan diadakan rapat besar oemoem. Sebeloem rapat besar dan masing-masing Siku ke lapang Tambaksari dan tibanja pawai dilapang terseboet, diharap sebeloem poekoel 6 sore. Koendjoengilah! Boelatkanlah kemaoean rakjat dalam rapat itu. Suara Asia 11 September 1945 memuat: Rapat Raksasa dan pawai ditoeenda. Soeara Asia 14 September 1945 memuat Soeara Asia mohon diri (terbit terakhir). (Begitu surat Pak Barlan meralat tanggal rapat raksasa di Tambaksari). Pada dokumen lain tercatat bahwa Rapat Raksasa di Tambaksari tadi terlaksana pada tanggal 21 September 1945 (berarti sesudah perobekan bendera Belanda di Yamato Hoteru tanggal 19 September 1945).<br />
Dengan ditutupnya Soeara Asia dan kantor berita Jepang Domei (keduanya berkantor di Jalan Aloen-aloen 29 dan 31, sekarang Jalan Pahlawan),  para wartawannya banyak bergabung dengan kantor berita “Berita Indonesia” cabang Surabaya yang kantornya berada di Jl.Tunjungan 100, pojok Embong Malang-Tunjungan. Antara lain wartawan tadi Sutomo (Bung Tomo), Abdul Wahab (fotografer yang kemudian memotret peristiwa perobekan bendera di Yamato Hoteru, 19 September 1945).</p>
<p style="text-align: center;"><strong>15-17 September 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ada desas-desus bahwa untuk mengangkut  para tawanan bangsa asing yang ditawan oleh Jepang selama Perang Dunia II, akan diangkut oleh badan yang dibentuk oleh Pasukan Sekutu pemenang perang, yaitu RAPWI, datang ke Surabaya. Mereka bermarkas di Hotel Yamato Jalan Tunjungan. Memang benar sejak hari itu Hotel Yamato ramai dengan orang-orang bule, dan mereka juga mengendarai mobil atau truck baru dengan tulisan RAPWI. Selain itu mereka juga menamakan dirinya anggota Intercross. Ada juga mereka yang terjun payung langsung ke tempat para tawanan orang-orang Belanda di daerah Gunungsari. Oleh para penjaga tawanan (bangsa Jepang yang sudah takluk) orang-orang inipun dibawa ke Hotel Yamato, berkumpul dengan teman-teman orang bule dari RAPWI. Di depan hotel, orang-orang bule pemenang perang ini kelihatan sombong, hilir-mudik di depan gedung, dan mengusir (menyuruh menjauh) orang-orang Indonesia yang lewat di depan hotel. Orang-orang Indonesia (di surabaya) waktu itu memang miskin habis diperas oleh penjajahan Jepang selama 3,5 tahun. Kurus dan lemah.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>19 September 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak datangnya oerang-orang Belanda yang menyelundup ke Surabaya, dan hampir bersamaan waktunya dengan dibebaskannya kaum interniran Belanda dari kamp-kamp tawanan, maka suasana Surabaya mulai panas karena terjadi saling mencurigai antara fihak pemuda dengan fihak Palang Merah International (Intercross). Pemuda Surabaya baru saja melakukan serangkaian kegiatan memperingati sebulan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan menyelenggarakan rapat umum di Lapangan Pasarturi pada tanggal 17 September 1945, Ada provokasi baru tentang datangnya kelompok orang Sekutu yang pertama dari Mastiff Carbolic dibawah pimpinan Letnan Antonissen dengan parasut di Gunungsari Surabaya. Mastiff Carbolic Party merupakan salah satu dari sejumlah kelompok yang diorganisir oleh anglo Dutch Country Section (ADCS) angkatan 136. Semula selama Perang Dunia II, ADCS adalah organisasi spionase yang dikirim ke Sumatera, Malaya (Malaysia) dan Jawa secara rahasia. Setelah Jepang menyerah mereka diterjunkan antara lain di Jakarta dan Surabaya untuk menghimpun informasi tentang keadaan kamp-kamp tawanan dengan kedok RAPWI. Fihak tentara Jepang setelah mendengar tentang pendaratan itu kemudian menjemput dan mengawalnya ke Yamato Hoteru. Sebelumnya di Hotel itu telah berkumpul pula sebagian besar orang Indo dan orang Indonesia. Pada hari Rabu Wage tanggal 19 September 1945, sementara pemimpin Mastiff Carbolic mengunjungi Markas Besdar Tentara Jepang, beberapa orang anggotanya bersama orang Belanda yang bergabung dalam Komite Kontak Sosial mengibarkan bendera Belanda Merah-Putih-Biru. Itu peristiwa heroik yang pertama dilakukan oleh Arek-arek Surabaya. Sebab waktu itu keadaan orang Surabaya miskin, kurang makan, habis dijajah orang Jepang, tidak punya senjata. Namun berani melawan orang-orang Belanda yang dengan sombong berada di hotel mewah. Rasa patriotismenya tidak bisa dibendung. Penyobekan bendera warna biru bisa terlaksana, sedangkan untuk pertamakalinya pertikaian di hotel tadi menimbulkan kurban. Dari pemuda Indonesia yang menjadi kurban: Sidik, Mulyadi, Hariono dan Mulyono. Dari pihak Belanda Mr. Ploegman, tewas ditusuk dengan benda tajam.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>20 September 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada 24 Agustus 1945 secara resmi para pembesar Jepang membacakan tentang berakhirnya Perang dan pernyataan Tenno Heika dan Seiko Sikikan di hadapan Pamong Praja. Bergeraklah para pemuda Indonesia yang di bawah naungan AMI (Angkatan Muda Indonesia pimpinan <strong>Ruslan Abdulgani)</strong> yang sejak proklamiran 17 Agustus 1945 selalu mencari keterangan, berani merebut kekuasaan dari tangan Jepang. Tanggal 20 September 1945 sebuah rumah kediaman seorang perwira Jepang di Princesselaan 1 (Jalan Tidar) diambil alih para pemuda, Jepang perwiranya ditawan. Para jpemuda itu adalah Jamal (zaman Jepang jadi kaibodan), Pramudji, Sudjono, Suyono, M.Dimyati, Suwardi, Karyono YS (pelukis). Jamal mengajukan usul agar gedung itu dijadikan Markas Komando Revolusi Surabaya. Mereka lantas mendirikan Markas Besar Pemuda Republik Indonesia (PRI). Keesokan harinya Jamal telah memasang spandoek besar: MARKAS BESAR PEMUDA REPUBLIK INDONESIA. Maka berdirilah <strong>PRI</strong>.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>21 September 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dua hari kemudian setelah peristiwa perobekan bendera Belanda 19 September 1945, baru missi RAPWI  yang sesungguhnya datang, dibawah pimpinan Letnan P.G. De Back dari Dutch Navy. Mendengar laporan  Letnan Antonissen, oleh De Back Mistiff Carbolic Party yang telah membuat onar di Surabaya segera dikirimkan ke Jakarta. De Back kemudian memerintahkan kepada pihak Jepang untuk mempersiapkan evakuasi interniran wanita dan anak-anak dari Semarang ke Surabaya. Semula pihak Jepang khawatir kalau semakin banyaknya orang Belanda ke Surabaya akan menambah keruhnya keadaan. Namun akhirnya terlaksana juga pemindahan para interniran wanita dan anak-anak dari Semarang ke Surabaya tanggal 29 September sampai 2 Oktober 1945. Sebanyak 2000 orang yang baru datang ditempatkan di Darmo dan Gubeng. Kedua tempat itu berkumpul sekitar 3000-4000 orang.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>23 September 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rapat AMI diselenggarakan 23 September 1945 memutuskan AMI berintegrasi dalam bentuk organisasi pemuda, yaitu <strong>PRI</strong>. Pimpinan AMI Ruslan Abdulgani menyerahkan kepemimpinannya kepada Ketua PRI yaitu <strong>SUMARSONO</strong>. Susunan pengurus PRI awalnya adalah Ketua, I, II : Sumarsono, Kusnadi HD, Krissubanu. Sekretaris: Bambang Kaslan, Supardi. Ada bagian keuangan, bagian pembelaan, bagian penyelidik, bagian tempur penyelidik (combat intelligence). Bagian penyelidik banyak melibatkan polisi resmi seperti:  Inspektur Polisi Suyono Prawirobismo, Mujoko, <strong> SUCIPTO DANUKUSUMO</strong> , Benny Notosuroto, Kusnadi, Jayengrono, dll.<br />
Dengan begitu kegiatan PRI menjadi sangat luas sekali di Surabaya. Hampir semua organisasi pemuda bergabung pada satu organisasi PRI ini, sehingga dibentuk berbagai cabang maupun rayon, misalnya PRI angkatan bersenjata, PRI pelajar, PRI Sosial dan Wanita. Dan juga PRI  Wilayah Utara dengan kode PRI-60, dengan ketua, wakil, staf, batalyon, kompi (karena gerakan selanjutnya PRI memang ikut bertempur mati-matian melawan pasukan Inggris. Juga ada PRI Wilayah Tengah dengan kode PRI-40, dan PRI Wilayah Selatan dengan kode PRI-20, masing-masing wilayah melibatkan para pemuda dan dengan susunannya yang lengkap. Selain wilayah, juga dibentuk cabang, misalnya PRI Cabang Kampemen, Sidodadi, Ketabang, Bubutan, Kaliasin, Darmo. Banyak dari mereka itu bersenjata berat: panser, bren carier.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tanggal 23 September 1945 tiba di Surabaya Captein P.J.G.Huiyer (Belanda). Ia diutus oleh Laksamana Helfrich (komandan Angkatan Laut Hindia Belanda, setelah perang dunia selesai dia duduk di SEAC untuk mengurusi kembali daerah jajahannya), Huiyer berhasil membujuk Jendral Iwabe (panglima Angkatan Darat Jepang di Jawa Timur) menyerahkan Angkatan Laut Jepang (kaigun) di Tanjungperak dalam surat serah-terima hitam di atas putih. Setelah mendapat surat serah-terima pangkalan Angkatan Laut Jepang di Tanjungperak, Huiyer terbang meninggalkan Surabaya menunaikan tugas misi yang sama ke Kalimantan Timur, sempat memberikan informasi kepada atasannya (Admiral CEL Helfrich, The C-in-C Netherlands Forces in The East, angkatan laut Belanda yang bergabung dengan Sekutu) bahwa penduduk Surabaya merupakan kekuatan yang paling lemah di dunia.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>29 September 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak rapat raksasa di Tambaksari tanggal 21 September 1945, berkumpullah ± 30 pemuda bekas Peta, Sekolah Pelayaran Tinggi, Seinendan dan sebagainya di sebuah rumah di Julianallan (Jl.Mabes Duryat). Mereka membahas keikutsertaan mereka dalam keanggotaan BKR. Kegiatan mereka dipimpin oleh Abdul Wahab, bekas Cudantjo Peta yang menjabat sebagai Ketua BKR Karesidenan Surabaya. Mereka membahas kenapa Indonesia sudah merdeka kok Polisi Sekutu (Allied Forces Police) menugasi orang Jepang (yang sudah takluk) menjagai instalasi-instalasi militer dan tempat umum yang penting (misalnya tempat tawanan bangsa asing, penjara) dengan menggunakan kain putih dengan tulisan merah di lengan baju sebelah kanan: “ALLIED FORCES POLICE”? Mereka tidak terima di negaranya yang sudah merdeka ada pasukan asing.</p>
<p style="text-align: justify;">Atas kesepakatan bersama mereka membentuk “Pasukan Khusus” bertugas secara cepat merebut kekuasaan dari tangan “asing” itu termasuk pasukan Jepang yang telah dinyatakan takluk itu (tapi masih diberi tugas). Setelah persiapan bergerak siap, maka mereka lapor kepada Polisi Istimewa pimpinan M. Yasin. Gerakan akan dilakukan serentak juga dengan para Tonarigumi (Rukun Tetangga) seluruh Surabaya. Mereka diberitahu bakal ada gerakan perebutan kekuasaan terhadap orang Jepang, para Tonarigumi harus membantu secara serentak.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada pertemuan tanggal 29 September 1945 di Julianalaan diputuskan semua anggota 30 orang tersebut pada jam 18.00 harus siap menerima perintah bergerak yang disampaikan oleh Abdul Wahab. Perintah yang harus dilaksanakan sebagai berikut: 1. Melucuti senjata dan alat perang Jepang. 2. Menawan semua anggota pasukan Jepang baik laki-laki maupun perempuan. 3. Merampas menduduki tempat komunikasi tentara Jepang, dan pemerintahan Jepang. Gerakan diatur sedemikian rupa: 20.00-24.00 merampas komunikasi Jepang, 24.00 melucuti Polisi Sekutu Jepang. Jam 05.00 30 September 1945 harus sudah selesai. Jam 05.30 dengan alat pengeeras suara semua rakyat diteriaki/dipanggili “Siaaap! Siaaap! Serbu tentara Jepaaang! Serbu tentara Jepaaang!” Seluruh pelosok Surabaya tidak boleh ada yang kelewatan. Jam 06.30 seluruh anggota Pasukan Khusus 30 orang terbagi menjadi 15 kelompok masing-masing terdiri dari 2 orang, bertugas untuk memimpin rakyat untuk menyerbu dan melucuti tentara Jepang di tangsi, markas, dan dikonsentrasi tentara di seluruh pelosok Kota Surabaya. “Selamat berjuang! Merdeka!” ucap pemimpin Pasukan Khusus Abdul Wahab pada jam 19.00 29 September 1945.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>30 September 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan Pasukan Khusus pimpinan Abdul Wahab berlangsung seperti yang direncanakan. Dibantu oleh segala insstansi, kelompok pemuda, hingga seluruh penduduk Kota Surabaya. Masing-masing melaksanakan fungsinya sendiri-sendiri dengan disiplin. Misalnya para kelompok Tonarigumi (Rrukun Tetangga) seluruh kampung di Surabaya siap dengan teriakan “Siaaap!” serta menyiapkan kentongan (tabuhan) untuk dipukul titir kalau terjadi sesuatu di daerahnya. Beberapa kampung yang mewaspadai tempat orang Nippon sama mengurung tempat itu, dan kalau terjadi apa-apa yang ribut, maka segera mereka berteriak “Siaaap!” atau memukul tabuhan yang dibawa. <strong>Teriakan Siaaap! malam itu di Surabaya kemudian menjadi legenda bertempur rakyat Indonesia. Banyak buku ditulis periode perjuangan rakyat Indonesia itu disebut Periode Bersiaaap!</strong> Kalau tidak ada tabuhan ya tiang telepon dipukuli bertalu-talu. Pelaksanaan perintah 1, 2, 3 dan seterusnya berjalan mulus. Alat komunikasi utama direbut. Jepang yang jaga ditawan. Alat komunikasinya dipindahkan ke tempat lain. Pelucutan  Polisi Sekutu Jepang terlaksana dengan bantuan Polisi Istimewa. Jepangnya ditawan di Penjara Kalisosok. Setelah mewaspadai selama semalam, pagi gari jam 07.30 Markas tentera Jepang di Sekolah dagang di Reinierz Boulevard (Jl. Diponegoro) diserbu, Jepangnya dibawa ke penjara.<br />
Begitu juga markas atau tempat pembesar Jepang di mana-mana, pada direbut oleh para pemuda Indonesia. Markas di HBS-straat diduduki oleh Ketua BKR Karesidenan Surabaya, Abdul Wahab ditemani Suharyo Kecik (mahasiswa dari Jakarta), dan Hasanudin Pasopati (dari Madura). Krena luasnya tempat digunakan juga untuk menampung para heiho dari Sulawesi yang sedang mau pulang ke Pulau Jawa, tertahan di Tanjungperak. Para heiho tersebut sekaligus diajak angkat senjata merebut kekuasaan dari Jepang. Setelah Markas HBS-straat dikuasai, para Pasukan Khusus pindah menyerbu bersatu dengan Pasukan Khusus lainnya yang belum beres, antara lain ikut pasukan BKR Jawa Timur Drg.Mustopo menyerbu ke Tobu Jawa Butai, setelah selesai lalu bergabung menyerbu ke Kenpeitai yang belum mau menyerah. Malam itu direbut pula markas-markas Jepang lainnya, antara lain Kitahama Butai (bengkel kendaraan perang, truk, tank), Kohara Butai (banyak senjata dirampas dari situ atas petunjuk Cudantjo Suryo)., Kaigun Embongwungu, Markas di Hogendorplaan, Samurai di Karangrejo, markas penerbangan Morokrembangan, Rumah Sakit Karangmenjangan (untuk rumahsakit tentara Jepang) Tobu Jawa Butai. Termasuk Syucokan Kaka yang tinggal di gedung Residen (Grahadi) di Simpangweg. Terebut tanpa banyak perlawanan. Memang setelah Jepang menyerah, diperintahkan semua senjata tentera Jepang harus dikosongi pelurunya. Jadi meskipun terlihat masih membawa senjata, mereka bersiap hanya mematuhi kehendak tentara Sekutu. Yang ada perlawanan adalah di gedung General Electronica Jl. Kaliasin (menyerah pagi hari), gedung Kenpeitai (Tugu Pahlawan), gedung Kaigun Gubeng (Angkatan Laut, Grand City).</p>
<p style="text-align: justify;">Yang istimewa adalah perebutan kekuasaan di arsenal <strong>Don Bosco</strong>. Ikut mengepung markas itu adalah Bung Tomo. Ternyata komandan Jepangnya tidak melawan. Mau menyerahkan markasnya asal kepada petinggi pemerintahan. Maka ke situ didatangkan M.Jasin dari Polisi Istimewa, Mohamad Mangundiprdjo dari BKR/KNI. Serah terima ditandatangani oleh pihak Jepang dan M.Jasin dan seorang pihak KNI. Markas Don Bosco adalah suatu arsenal (tempat timbunan senjata api). Komandan Jepang hanya minta satu pedang samurainya saja karena warisan dari kakeknya, tidak boleh. Dia harus ditawan di Kalisosok. Sedang rakyat yang mengepung markas diperbolehkan membawa senjata seadanya dan sekuatnya, boleh pilih sendiri. Rakyatpun berebutan mengambili senjata. Tidak perduli pelurunya cocok apa tidak. Tidak perduli bisa menembakkan atau tidak. Dengan bersenjata seperti itu perebutan kekuasaan terhadap orang Jepang kian marak. Melihat banyaknya senjata di gudang, maka Bung Tomo mengorganisir teman-temannya mengirimkan senjata tadi ke luar Surabaya. Pengiriman senjata dari Bung Tomo sampai di Tasikmalaya dan Jakarta. Tanggal 30 Seeptember orang Surabaya masih kelihatan ngentruk miskin tak berdaya. Tanggal 1 Oktober Arek-arek Surabaya sudah bersenjata, bergerombol berlalu-lalang di jalan kota, bahkan mereka sudah naik mobil dan truk rampasan, naik kendaraan sambil menyanyi-nyanyi Dari Barat sampai ke Timur, sajaknya yang semula “bahagia” diganti “Merdeka!”</p>
<p style="text-align: center;"><strong>1 Oktober 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi-pagi sekali Drg Mustopo sebagai Ketua BKR Jawa Timur bersama pasukannya (Abdul Wahab, Mujoko, Suyono, Moh. Jasin, Rahman) berangkat dari markasnya Jalan Bubutan 87 menuju ke Comidiestraat tempat Markas Tobu Jawa Butai. Tempat itu sudah dikepung sejak malam oleh rakyat Surabaya. Tobu Jawa Butai adalah markas pusat tentara darat Jepang untuk Jawa Timur. Setelah hari terang Mustopo berseru kepada komandan pasukan Jepang yang berada di gedung (gedung HVA = Handels Vereneging Amsterdam, kantor perserikatan dagang Belanda, zaman Jepang digunakan markas Tobu Jawa Butai) agar menyerah, karena markas sudah dikepung. Jendral Iwabe, komandan, mau menerima Mustopo dan kawan-kawannya. Maka diadakan serah-terima kekuasaan dari Komandan Tobu Jawa Butai kepada Ketua BKR Jawa Timur. Pada waktu itu masih ada sisa-sisa markas pasukan Jepang yang belum menyerah, maka timbul ide dari para pemuda yang hadir, agar Jenderal Iwabe membuat surat dengan huruf kanji, agar menyuruh semua tentara Jepang menyerahkan diri tidak melawan pasukan Indonesia. Dengan surat itu ditunjukkan ke tempat-tempat markas serdadu Jepang yang tidak mau menyerah (termasuk Markas Besar Kenpeitai) maka selesailah masalah perebutan kekuasaan dari serdadu Jepang kepada pemuda Indonesia. (Konon surat itu tidak saja digunakan untuk Markas Besar Kenpeitai Surabaya, melainkan juga diedarkan untuk menaklukkan pasukan Jepang di Mojokerto dan sekitarnya).</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai pagi hari tanggal 1 Oktober 1945 pasukan Jepang yang tidak mau menyerah adalah Markas Kenpeitai di gedung dulunya Paleis van Justitie (Gedung Pengadilan). Gedung ini pada zaman Jepang digunakan untuk Markas Kenpeitai, di mana banyak pejuang Indonesia diseret ke situ. Antara lain:  Pamuji, A. Rakhman, <strong>Cak Durasim</strong>, Ir. Darmawan Mangunkusumo. Gedung itu dikepung, diserbu oleh rakyat beserta para petinggi BKR dan Polisi Istimewa. Antara lain yang mengurung dan menyerbu: Pemimpin Pasukan Khusus Abdul Wahab, Hasanudin Pasopati, <strong>Suharyo Kecik</strong>. Polisi Istimewa Mohammad Jasin, pasukan PRI  Pramudji, Rambe, Sidik Arslan. Banyak timbul kurban dalam pertempuran itu. Pertempuran baru berhenti jam 16.00, karena jasa Mohammad Jasin, Polisi Istimewa. Ia masuk ke Kenpeitai, menemui komandannya yang sudah dikenal karena sama-sama polisi pada zaman Jepang. Akhirnya komandan tadi diajak M.Jasin keluar di teras gedung dengan mengibarkan bendera Merah-Putih. Tembak-menembak berhenti, dan selesai. Pemimpin Pasukan Khusus Abdul Wahab yang juga menjabat Ketua BKR Karesidenan Surabaya terkena peluru pahanya. Terpaksa tidak bisa giat lagi dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Kedudukannya sebagai Ketua BKR Karesidenan Surabaya diganti oleh wakilnya <strong>Yonosewoyo</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Gedung Kenpeitai yang sudah damai masih ditempati oleh sebagian kecil pasukan Kenpeitai, dan separoh lainnya ditempati pasukan baru yang menamai dirinya Polisi Tentara BKR. Pemimpinnya Suharyo Kecik, wakilnya Hasanudin Pasopati. Kebetulan tanggal 5 Oktober 1945 BKR (Badan Keamanan Rakyat) diubah nama dan fungsinya menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat), sehingga nama Polisi Tentara Keamanan Rakyat bisa disingkat PTKR).</p>
<p style="text-align: justify;">Selain Markas Kenpeitai, yang masih tidak mau menyerah dan melawan adalah Markas Kaigun Gubeng. Di sini juga banyak korban jiwa di antara para pemuda pengepungnya. Pertempuran baru selesai ketika Ketua BKR Kota Sungkono dan Ruslan Wongsokusumo menemui Laksamana Shibata di Ketabang (Jagung Suprapto). Setelah berunding, maka Laksamana Shibata memerintahkan penghentian tembak-menembak. Pertempuran pun usai.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanggal 1 Oktober adalah awal kedatangan tawanan wanita Belanda dari Semarang. Kebetulan Huiyer dari Angkatan Laut Belanda yang sudah merebut Pangkalan Angkatan Laut di Perak secara administrasi datang lagi di Surabaya. Dia melaporkan ikut sibuk mengurusi baik tentang misinya sebagai utusan Helfrich, maupun kedatangan tawanan wanita dari Semarang tadi. Ia melapor kepada Residen Sudirman yang waktu itu kepala pemerintahan tertinggi di Surabaya. Huiyer datang naik pesawat terbang khusus, pinjaman dari Hellfrich. Tapi tanggal 1 Oktober itu lapangan terbang Morokrembangan sudah dikuasai oleh pemuda Indonesia. Hijyer tidak bisa lagi terbang. Ia nanti ketahuan kedoknya sebagai orang Belanda yang mau menjajah lagi Indonesia,  perginya naik keretaapi, sampai di Nganjuk ditawan oleh pemuda di sana, dan dikembalikan ke Surabaya, ditawan di Kalisosok.<br />
Peran PRI sangat mendukung. Sekarang PRI juga bersenjata. Maka untuk menyempurnakan urusan organisasi, Sumarsono menduduki Simpang-club (Balai Pemuda) menjadi Markas Besarnya.<br />
Bung Tomo yang dipilih sebagai urusan penerangan PRI pergi ke Jakarta untuk ikut rapat KNIP dengan sangu senjata rampasan cukup banyak.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>12 Oktober 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Para petinggi Surabaya menjemput Gubernur Jawa Timur RMTA Suryo di perbatasan Surabaya-Bojonegoro. RMTA Suryo adalah Gubernur Jawa Timur yang dipilih oleh Pemerintah Pusat Jakarta. Dulunya adalah Fuku Syutjo (wakil Residen) Bojonegoro, sama tingkatnya dengan Fuku Syutjo Surabaya Sudirman. Dengan datangnya Gubernur Suryo menunaikan tugas di Surabaya, kian kuatlah organisasi pemerintahan di Jawa Timur dalam suasana Indonesia Merdeka tanpa tentara asing menginjak bumi Jawa Timur.</p>
<p style="text-align: justify;">Bung Tomo pulang dari Jakarta membawa oleh-oleh pikiran bagaimana menghimpun massa dan bagaimana mendirikan pemancar radio. Dengan kedua pemikiran yang diperoleh dari pemimpin-pemimpin di Jakarta itu, Bung Tomo yang semula bertugas sebagai seksi Penerangan PRI pusat, membentuk sendiri kekuatan massa dengan nama Barisan Pemberontakan Rakyat Surabaya bermarkas di Jalan Biliton 7 Surabaya, serta bersama ahli-ahli teknik radio RRI Surabaya mendirikan pemancar radio dengan nama yang sama di Jalan Mawar 10 Surabaya.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>15 Oktober 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pemerintah Belanda (<strong>NICA </strong>= Netherlands Indies Civil Administration adalah pemerintah pengungsian Hindia Belanda di Australia bentukan H van Mook, deengan tujuan akan kembali menjajah Indonesia setelah Perang Dunia II, Belanda ikut sebagai pemenang karena membantu Sekutu) untuk menjajah Indonesia kembali kian cemas melihat perkembangan di Surabaya. Setelah melalui Intercross, RAPWI, bahkan Mistiff Carbolic dan petualangan PJG Huiyer tidak berhasil menguasai Surabaya, mereka mencoba mendaratkan angkatan lautnya dengan sekoci-sekocinya di Kedungcowek. Tapi segera ketahuan oleh penduduk, dan diteriaki “Siaaap!”, mereka gagal mendarat.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>24 Oktober 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada tanggal 24 Oktober 1945 sekira jam 11.00 pagi tampak sebuah pesawat terbang melayang-layang di tepi laut Perak. Ternyata pesawat tadi mengawal iring-iringan konvoi terdiri sekitar 6 destroyer dan kapal sejenis  LST dan sejumlah kapal biasa sebanyak ± 60 buah. Di antaranya ada yang langsun mendarat di Rotterdamweg (Jl.Zamrut) Tanjungperak. Kapal perang yang lain mendarat di gedung Armada Moderlust. Itulah pendaratan pasukan Inggris ke Surabaya yang dipimpin oleh Brigadir AWS Mallaby.  Tugas Mallaby adalah mengangkut keluar para tawanan perang asing dari Surabaya, baik orang asing yang ditawan oleh Jepang dulu (yang jumlahnya cukup banyak ± 4000 orang), maupun orang Jepang yang sudah takluk. Sebetulnya beberapa hari sebelumnya Menteri Penerangan Amir Syarifuddin telah memberi instruksi kepada Drg Mustopo bahwa akan tiba pasukan Inggris yang bertugas menjemput tawanan perang, jangan dihalang-halangi. Namun ketika mendapat laporan bahwa pasukan Inggris pimpinan  Brigadir AWS Mallaby mendarat dengan begitu banyak kapal peerang, Mustopo sebagai Ketua BKR Jawa Timur merasa tidak nyaman ada tentara asing menginjakkan kakinya di Surabaya. Malam hari itu, dikawal oleh Dr. Sugiri, AWS Mallaby menemui “pemerintah” Surabaya di Kantor Gubernur. Sebagai pusat pemerintahan di situ piket Drg. Mustopo, M.Yasin, Bung Tomo dengan mikrofonnya. Di situ untuk pertama kalinya Mallaby bertemu deengan Mustopo. Mustopo bilang, kalau mau mendarat di Surabaya harus mendapat izin dari pemerintah. Mallaby tanya, “From whome we have to get permission to land our troops?” Dijawab Mustopo, “From the Minister of Defence of The Republic of Indonesia.” Mallaby, “Where can I meet your Minister of Defence?” Mustopo, “He sits before you.” Langsung Mallaby menyebut Mr berubah menjadi “Your Excellency”. Setelah itu dirundingkan bagaimana pasukan Mallaby bisa menunaikan tugas menjemput tawanan di Surabaya. Mustopo menganjurkan pasukan Mallaby tidak perlu mendarat lebih dari 800 meter dari pelabuhan. Nanti pasukan Indonesia saja yang mengantarkan para tawanan ke pelabuhan. Tapi Mallaby menolak tawaran ini dan akan terus menerjunkan pasukannya memasuki Kota Surabaya.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>24 – 31 Oktober 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pertemuan itu hari-hari atau malam hari Mustopo beberapa kali bertemu dengan Mallaby atau stafnya. Mallaby tetap bersikeras menerjunkan pasukannya ke pusat kota. Pernah mereka bertemu dengan kapasitasnya sebagai tentara di Prapatkurung, tidak dapat persetujuan. Pernah juga Mustopo diculik dari markasnya di Gedung HVA diharuskan membebaskan kpara interniran di penjara Kalisosok. Para tawanan asing, termasuk Huiyer, dibebaskan. Dalam keadaan panik Mustopo mengumumkan akan pidato di RRI, menolak kehadiran tentara Inggris di Surabaya. Siang hari sebelum pidato, Mustopo disertai para BKR anak buahnya berkeliling naik kendaraan mengumumkan penolakannya terhadap pendaratan tentara Inggris. Para Arek-arek Surabaya yang sudah merasa merdeka dan punya senjata, dengan berapi-api mendukung penolakan Mustopo. Ketika berpidato di RRI sanja harinya, Mustopo hanya berteriak, “Nica! Nica! (baca nika) Jangan mendarat! Kamu tahu aturan!  Kamu tahu aturan, Inggris!  Kamu sekolah tinggi! Jangan mendarat!” Tetapi pasukan Mallaby secara beregu maupun berkelompok lebih banyak, dengan senjata lengkap memasuki kota, menduduki tempat-tempat yang strategis seperti: Gedung Internatio (Jembatan Merah), gedung BPM (pertamina Jl. Veteran), Gereja Kristen dan Kantor Polisi di Bubutan, Kompleks SMAN Wijayakusuma, RRI Surabaya Jl. Simpang (depan rumahsakit yang sekarang jadi Surabaya Plaza), Konsulat Inggris dan Gedung olahraga dayung di Kayun, Rumahsakit Darmo dan sekitarnya, Kantor BAT Ngagel. Dengan keadaan seperti itu Mustopo menganjurkan kepada rakyat Surabaya supaya menghalang-halangi tentara asing itu menduduki bumi Surabaya yang merdeka. Mustopo sendiri lalu mengatur siasat Himitsu senso sen (perang rahasia) dikombinasikan dengan Senga sen (perang kota). Untuk melakukan siasat itu Mustopo pergi keluar Surabaya, singgah dulu ke Markas Besar PRI di Simpangs-club. Di sana diinterogasi oleh pemuda-pemuda PRI antara lain Sumarsono. Menuju keluar Surabaya, Mustopo melalui Wonocolo, memberi instruksi perang kepada kelompok BKR di sana (pabrik kulit Wonocolo), lalu ke Sidoarjo, Krian, Mojokerto, hendak menuju ke Gresik. Di Mojokerto ditawan oleh anggota PTKR Sabarudin, ditawan di Mojosari. Baru tanggal 30 Oktober 1945 dibawa oleh Sabarudin menghadap Bung Karno/Bung Hatta di rumah Gubernur Simpang (Grahadi).</p>
<p style="text-align: justify;">Apa instruksi Mustopo dilaksanakan benar oleh Arek-arek Surabaya di segala lapisan, baik yang masuk organisasi masa seperti PRI, Hisbullah, BPRI, BKR kota, maupun sebagai orang kampung perorangan. Jalan-jalan besar seluruh Kota Surabaya yang pada zaman Jepang tidak pernah dilalui kendaraan (karena kendaraan bermotor hanya untuk berperang), maka kini dirintangi dengan segala barang tak berguna, misalnya batang pohon yang ditebang, almari atau kursi, dan di perempatan jalan selalu berkerumun rayat untuk menghalangi kendaraan asing yang lewat. Selain jalan, juga rakyat banyak tadi mengepung tempat-tempat yang diduduki oleh pasukan Inggris yang jumlahnya hanya beberapa regu saja. Karena tegang, kemudian tidak lagi ada kesabaran, terjadilah tembak-menembak antara rakyat Surabaya yang mengepung gedung, dengan seregu-empat regu pasukan Inggris yang di gedung. Alioran listrik dan air dimatikan. Meskipun pasukan Inggris dilengkapi dengan senjata hingga timbul kurban di antara rakyat yang mengepung, tapi mati satu tumbuh seribu. Pengepungan rakyat tidak bakal surut. Selama tiga hari (27-28-29 Oktober) terkurung di gedung, tentara Inggris tentu tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Peluru habis, makan habis, minta pertolongan lewat udara tidak mungkin, lari lewat darat juga tidak mungkin lagi. Sebentar lagi pasti hancur. Dendam rakyat Surabaya tidak bisa dibendung. Misalnya di Gedung RRI yang tingkat dua. Semula dengan senjata otomatis pasukan Inggris (kebanyakan sewaan dari India yang disebut Gukha) bisa membunuh rakyat yang berkerumun di depan gedung, ditembaki dari tingkat dua. Namun akhirnya rakyat yang dibantu oleh Polisi Istimewa, dapat membakar gedung RRI itu dari tingkat bawah. Tentu tentara Gurkha yang di tingkat dua akan terbakar juga. Mereka terpaksa lari keluar lewat ruang bawah yang terbakar. Yang selamat bisa melintas diterima oleh rakyat yang sudah terlalu banyak menderita korban jiwa. Jadi mereka yang lari dari gedung juga langsung saja dibunuhi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanggal 28 Oktober 1945, baru dikurung dua hari saja, pasukan Inggris bisa dipastikan akan hancur seluruhnya. Brigadir Mallaby jadi was-was. Dia harus menghentikan kehancuran ini. Kepada siapa harus minta tolong? Minta tolong berdamai dari pihak pemerintah Surabaya tidak mungkin. Satu-satunya jalan minta tolong ke markas pusatnya di Jakarta. Minta dikirimkan orang yang bakal dipatuhi oleh Arek-arek Surabaya. Siapa? Setelah dirunding-runding, akhirnya jatuh pilihan mendatangkan Presiden Sukarno.  Padahal pasukan Sekutu pemenang perang belum mengakui adanya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tapi akhirnya memenuhi permintaan Mallaby, mereka meminta Presiden Sukarno mendamaikan pertempuran di Surabaya. Kabar kedatangan Presiden Sukarno sudah diumumkan. Tapi rakyat Surabaya sudah tidak mau lagi percaya dengan janji-janji orang Inggris. Sudah beberapa kali sebelum tembak-menembak di Surabaya, patinggi bangsa Indonesia di Surabaya berunding dengan pihak Mallaby, sudah disepakati sesuatu, tapi kemudian dilanggar. Maka kabar bakal datangnya Presiden Sukarno juga harus diwaspadai. Radio Pembrontakan Rakyat Surabaya dengan suara Bung Tomo yang selalu memantau perkembangan pertempuran bersuara keras, para pemuda di Lapangan Terbang Morokrembangan harus sigap. Kalau yang turun bukan Presiden Sukarno, harap ditembak saja dengan penumpangnya yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata betul. Yang datang Bung Karno diikuti Wakil Presiden Mohamad Hatta, dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin. Turun dari pesawat mereka disambut oleh pemuda, dinaikkan kendaraan, dibawa lari masuk kota dengan bendera Merah-Putih selalu dikibarkan di konvoi mubil. Waktu itu Kota Surabaya sedang hujan peluru, dan jalan-jalan besar dihalangi baik oleh barang, maupun gerombolan pemuda. Namun rombongan Presiden Sukarno bisa dilarikan ke rumah Residen Sudirman di Van Sandicctstraat (Jl. Residen Sudirman). Di sana diberi laporan dulu oleh pihak pemerintah Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru keesokan harinya berunding dengan Mallaby di rumah dinas Gubernur (Grahadi). Sebelum Mallaby tiba, datang dulu Drg. Mustopo yang digiring oleh Sabaruddin. Oleh para petinggi negara, antara lain Wakil Presiden Moh. Hatta, Mustopo dianggap sebagai pemicu pertempuran dengan pasukan Inggris di Surabaya. Perbuatan yang salah. Makanya langsung dipecat dari jabatannya oleh Presiden Sukarno.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil perundingan dengan Mallaby, harus secepatnya diumumkan gencatan senjata. Pengumuman tadi harus segera disiarkan. Di siarkan lewat mana, wong RRI Simpang sudah terbakar hangus? Akhirnya diumumkan lewat siaran Radio Pemberontakan Rakyat Surabaya Jalan Mawar 10. Bung Karno dan Mallaby bersama staf pergi ke sana untuk mengumumkan <strong>gencatan</strong> <strong>senjata</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru keesokan harinya (30 Oktober) diadakan perundingan yang mengatur jalan tugasnya Mallaby mengangkut para tawanan keluar Surabaya. Perundingan diadakan di Kantor Gubernur. Harus menunggu kedatangan Panglima Divisi India 23, Mayor Jendral D.C.Hawthorn, atasan Mallaby. Hawthorn tiba dengan pesawat dari Jakarta jam 09.15.<br />
Sementgara itu para pemuda Surabaya berdemonstrasi di depan tempat berunding, mereka dengan gagah mengendarai tank rampasan dari Jepang, berputar-putar tak berhenti di depan bekas gedung Kenpeitai yang sudah menjadi gedung PTKR. Arek-arek Surabaya saat itu sebagai pihak yang menang perang!</p>
<p style="text-align: justify;">Diperoleh hasil, bahwa pasukan Mallaby diperbolehkan mengangkut tawanan dengan mobil-mobil pasukan Inggris dari segala tempat tawanan (tawanan bangsa Eropa terbanyak di Rumah Sakit Darmo, sedang prajurit Jepang di Jaarmarkt (Hitech Plaza) dan Penjara Koblen. Jalan-jalan besar yang akan dilalui mobil angkutan harus dibuka lebar. Untuk mengawasi penyelenggaraan itu maka dibentuk Kontak Biro, yaitu yang terdiri dari petinggi pasukan Inggris dan petinggi pemerintah Kota Surabaya. Anggota Kontak Biro (Contact Bureau) Inggris adalah: Brig. AWS Mallaby, Colonel LPH Pugh, Mayor M.Hodson, Capt. H.Show, Wing Commander Groom. Dari Indonesia: Sudirman (Resident), Dul Arnowo, Atmadji, HR.Mohammad, Sungkono, Suyono, Kusnandar, Ruslan Abdulgani, T.D.Kundan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam 13 Kontak Biro sudah selesai disusun, ditandatangani oleh Hawthorn dan Presiden Sukarno. Karena Kontak Biro sudah terbentuk, tinggal pelaksanaannya saja, maka Mayor Jendral D.C.Hawthorn dan rombongan Presiden Sukarno meninggalkan tempat terbang kembali ke Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Kontak Biro terus berunding, akan bekerja menurut aturan yang ditetapkan. Rencana bekerja selesai jam 16.30. Waktu itu di sana sini masih terdengar tembak-menembak..Maka harus dicegah. Gencatan senjata harus dilaksanakan. Maka para perunding langsung bekerja akan mendatangi tempat yang masih terdengar tembak-menembak. Yaitu yang pertama di Jembatan Merah. Dengan beberapa mobil dari depan gedung Gubernur tempat mereka berunding, mereka menuju pertama kali ke Jembatan Merah. Waktu melalui jalan Societeitstraat (Jl. Veteran), rombongan mobil sering dihadang oleh pemuda-pemuda Surabaya yang memprotes mengapa harus gencatan senjata, wong kita menang. Tentara Inggris harus meninggalkan gedung, agar aman. Mendapat hadangan begitu gaanti-berganti Dul Arnowo dan Residen Sudirman memberikan penerangan tentang pentingnya gencatan senjata. “Ya, tentara Inggris harus meninggalkan gedung, baru aman!”<br />
Gedung Internatio di sebelah barat lapangan Jembatan Merah, diduduki tentara Inggris. Mereka dikurung oleh rakyat Surabaya, tapi masih saja melawan. Maka rombongan mobil Kontak Biro melalui Herenstraat (Rajawali) mendekati gedung Internatio. Berhenti di pertiga depan gedung. Hanya mobil Mallaby yang menuju depan gedung. Di sana, komandan pasukan Inggris Mayor Venu Gopal (Gurkha) keluar di teras, bercakap-cakap dengan Mallaby. Setelah itu, Mallaby dengan mobilnya berangkat lagi ke utara, lalu belok ke timur melalui Willemplein Noord (jalan sebelah utara lapangan) menuju Jembatan Merah. Sepanjang perjalanan dikerumuni para pengepung gedung Internatio, minta supaya tentara Inggris angkat kaki dari gedung. Sampai di ujung barat Jembatan Merah bertemu lagi dengan rombongan mobil dari Kontak Biro Indonesia. Permintaan rakyat kian ramai, sehingga rombongan sulit berjalan. Maunya meneruskan misi ke daerah Kembangjepun yang juga masih terdeengar tembak-menembak. Tetapi karena penuh sesak dikerumuni rakyat, para pihak Kontak Biro berunding di tempat. Akhirnya Mallaby setuju mengutus stafnya datang ke gedung, untuk membicarakan hal meninggalkan gedung. Yang diutus Kapten Show, perwira penyelidik yang sudah beberapa kali ikut berunding dengan pihak Indonesia. Kepergian Kapten Show akan diikuti oleh utusan dari Indonesia. Dipilih HR.Mohammad, yang berpakaian tentara dan yang paling tua. Untuk mengetahui bahasa mereka di gedung, pihak Indonesia menyertakan TD.Kundan (warga Surabaya keturunan India) sebagai jurubahasa. Ketiga orang tersebut menyeberangi taman Willemplein (Taman Jayengrono), lalu masuk ke gedung. Namun belum sampai 15 menit, terlihat TD Kundan lari keluar dari gedung, dan menyuruh orang bertiarap atau berlindung. Akan ada tembakan. Belum jelas teriakan TD Kundan, ternyata benar terdengar rentetan tembakan dari dalam gedung. Maka gemparlah pengepung gedung di lapangan. Termasuk para anggota Kontak Biro Indonesia. Mereka pada menyelamatkan diri, kebanyakan terjun ke Kalimas, dan menyeberang ke sebalah timur. Karena sudah berunding begitu lama (dari pagi sampai magrip) dengan akhir begitu, para petinggi Kontak Biro Indonesia tidak bertemu lagi malam itu, masing-masing pulang sendiri-sendiri. HR. Mohammad masih terkurung di dalam gedung. (Baru keesokan harinya dilepas oleh tentara Inggris di gedung itu). Keesokan harinya (31 Oktober 1945) mobil Mallaby ditemukan hancur di tempat, Dan Brigadir Mallaby tewas di dalamnya. Konon ditemukan oleh Dr. Sugiri, dan dibawa ke Rumah Sakit Simpang Surabaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari Rabu 31 Oktober 1945, Jendral Christison selaku Panglima Tentara Sekutu untuk Asia Tenggara mengeluarkan pengumuman yang mengandung ancaman (Warning to Indonesian), Presiden Sukarno mendapat perintah untuk datang jam 11 di Markas Besar Jendral Christison di Jakarta. Diberi tahu bahwa Brigadir AWS Mallaby telah dibunuh secara keji sekali, ketika menjalankan tugas berunding dengan pemimpin extremis Indonesia (Kantor Berita Belanda ANP). Dul Arnowo memberikan laporan berdasarkan kenyataan. Malam itu juga Presiden Sukarno berpidato melalui radio, menyesalkan kejadian tersebut. Dalam pidatonya antara lain mengemukakan: Surabaya merupakan satu kekuatan nasional kita. Di Surabaya TKR tersusun sangat baik. Pemuda dan kaum buruh telah membentuk persatuan-persatuan yang sangat teguh.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>1 – 10 November 1945.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hari-hari selanjutnya keadaan Kota Surabaya tidak banyak bergolak. Pelaksanaan pengangkutan tawanan perang berjalan lancar-lancar saja seperti yang telah dikukuhkan pada rapat-rapat Kontak Biro yang lalu. Gubernur RMTA Suryo melaksanakan tugas dengan sebaiki-baiknya. Pertamakali mengatur perekonomian rakyat Jawa Timur. Mengundang para pejabat datang ke Kantor Gubernur, diadakan arahan.<br />
Hari Rabu 7 November 1945, Ruslan Abdulgani selaku sekretaris Kontak Biro menerima telepon dari Wing Commander Groom, pengganti Kapten Shaw, menyampaikan undangan kepada Gubernur Suryo bersama pemimpin dan anggota Kontak Biro untuk datang ke Bataviaweg (Jl. Jakarta) berkenalan dengan Jenderal Manseergh, pengganti Brigadir Mallaby. Jam 12.00 dengan berkendaraan mobil anggota Kontak Biro dan Gubernur Suryo menuju Bataviaweg. Kolonel Pugh dan Wing Commander Groom menerima rombongan di ruang sidang. Mayor Jenderal Mansergh yang berbadan tegap dan mengempit tongkat komando di tangan kiri masuk ruangan. Setelah berjabatan tangan dengan rombongan, semua dipersilakan duduk. Mansergh lalu mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya dan minta agar TD.Kundan untuk menterjemahkan akan apa yang dibacanya. Isi surat yang bernomor G-5 12-1 semula tertanggal 3 November 1945 dicoret dengan tinta dan diganti menjadi 7 November 1945 itu menuduh  bahwa telah diinsafi sepenuhnya oleh selurujh dunia, bahwa orang-orang yang tidak bertanggung jawab dibiarkan membawa senjata, dibiarkan merampok, melakukan pengkhianatan dan pembunuhan terhadap wanita-wanita dan anak-anak yang tidak bersenjata, dan melakukan lain-lain tindakan keganasan yang sangat biadab. Itu semua menjadi tanggung jawab Tuan (Gubernur Jawa Timur). Mansergh minta supaya diatur lebih lanjut mengenai evakuasi warga negara asing yang ingin dipulangkan, dan supaya semua tentara Sekutu yang luka dan hilang, truk, peralatan dan sebagainya dengan segera dikembalikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua tuduhan Mansergh disangkal oleh Gubernur Suryo dengan tegas tapi sopan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Mansergh meninggalkan sidang dan minta Kolonel Pugh untuk mewakili fihak Inggris. Perbuatan ini ditiru oleh Gubernur Suryo. Ia berdiri dan meninggalkan sidang dan menugaskan Dul Arnowo dan Sungkono untuk meneruskan pembicaraan atas nama Indonesia. Perundingan dilanjutkan dengan suasana tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara diam-diam Sekutu memperkuat posisinya. Tanggal 1 November pukul 08.00 Laksamana Muda Patterson dengan kapal perang HMS Sussex tiba di Surabaya, 1500 pasukan didaratkan dengan kapal Carron dan Cavallier. Tanggal 3 November menyusul pula Mayor Jendral E.C.Manseergh, Panglima Divisi ke-5 Infanteri India, tiba di Surabaya dengan membawa 24.000 pasukan, lengkap dengan panser, satu divisi arteleri dilindungi dari Tanjungperak dan Ujung oleh satu kruiser dan empat destroyer dengan meriam jarak jauh yang lengkap, ditambah 21 Sherman tank dan meriam yang dilindungi 24 pesawat terbang jenis Mosquito (pemburu) dan Thunmderbolts (pelempar bom). Pesawat-pesawat ini berpangkalan di kapal-kapal perusak yang mengadakan straffing serta menjatuhkan bom-bom di Surabaya. Kekuatan laut yang dikerahkan oleh Inggris terdiri dari jenis kapal LST destroyer. Kapal itu dibawah komando Naval Commander Force 64 yang dipimpin olehCaptain RCS  Carwood. Beberapa buah kapal ini sudah beroperasi sejak kedatangan Inggris 25 Oktober 1945. Dan banyak lagi kekuatan Inggris dari laut, udara dan darat untuk menyerbu Surabaya 10 November 1945.</p>
<p style="text-align: justify;">Esok harinya, Kamis 8 November 1945, Gubernur Suryo menerima sepucuk surat dari Mayor Jendral Mansergh disampaikan melalui kurirnya. Isinya menuduh bahwa Kota Surabaya telah diduduki oleh para perampok, pihak Indonesia tidak menepati janji yang telah dimupakati bersama. Indonesia menghalangi tugas melucuti senjata Jepang. Oleh karena itu ia dengan tentaranya akan menyerbu Surabaya dan sekitarnya, demikian juga daerah lain Jawa Timur, untuk melucuti ‘gerombolan yang tak mengenal aturan tertib hukum itu’. Pada akhir surat Mansergh “memanggil” Gubernur Suryo untuk datang di kantornya hari Jumat 9 November 1945 jam 11.00 pagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Gubernur Suryo membalas kedua surat itu bernomer 1-KBK tertanggal 9 November 1945 menjawab satu per satu secara singkat apa yang dituduhkan itu. Surat itu diantarkan ke kantor Manserg oleh Residen Sudirman, Ruslan Abdulgani dan TD Kundan, tiba di tempat Mansergh jam 11.00.  Mansergh tidak mengira yang datang hanya utusannya, bukan Gubernur Suryo sendiri. Begitu menerima suratnya, Manseerg lalu memberikan dua dokumen (yang sudah dipersiapkan), yaitu satu ultimatum  kepada “All Indonesians of Surabaya” dengan “instruction”. Yang satu lagi adalah surat penjelasan atas ultimatuim tersebut yang dialamatkan kepada RMTA Suryo, tertanggal 9 November 1945 dengan nomor G-512-11.</p>
<p style="text-align: justify;">Surat ultimatum kepada bangsa Indonesia di Surabaya agar menyerahkan segala senjata yang mereka miliki.  Semua pemimpin pemerintahan, pemuda,  badan-badan perjuangan,  diharuskan melapor dan menyerahkan ddiri kepada Inggris. Surat itu juga berisi instruksi cara-cara mereka harus menyerahkan diri. Sedang surat untuk Gubernur Suryo juga dijelaskan macam senjata apa saja yang harus diserahkan. Tidak hanya senapan, pistol, tank, granat, meriam, mortir, tetapi juga  “spears, knifes, swords, sarpened bamboos, keris, blow-paper, poisoned arrows and darts”<br />
Sudah ada usaha mencegah dilaksanakan ultimatum oleh RH.Mohammad dan Residen Sudirman, dan juga oleh Dokter Sugiri dan Ruslan Abdulgani. Tetapi tidak berhasil. Surat Gubernur Suryo tidak diperdulikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada siang hari jam 12.00 pesawat terbang Inggris menyebarkan pamflet di atas Kota Surabaya. Isinya juga ultimatum itu tadi.<br />
Para pimpinan di Surabaya segera mengadakan hubungan dengan Pemerintah Pusat di Jakarta.  Maksudnya melaporkan kepada Presiden agar Presiden mendesak Inggris untuk  mencabut ultimatumnya. Sore hari itu Gubernur Suryo, Residen Sudirman dan Dul Arnowo berkumpul di Pension Marijke Embong Sawo untuk membicarakan keadaan yang genting itu.  Berkali-kali hubungan telepon ke Jakarta baru bisa sambung 1930 lansung dengan Presiden Sukarno. Presiden sudah berusaha dan Menteri Luar Negeri Akhmad Subarjo juga sudah menghubungi pimpinan tertinggi tentara Inggris di Jakarta. Presiden minta agar para pimpinan di surabaya menanti hasil pembicaraan Menteri Luar Negeri Subardjo. Sampai jam 21.00 belum ada kabar. Pukul 22.00 baru Dul arnmowo berhasil mengadakan kontak lagi dengan Jakarta. Menteri Luar Negeri Akhmad Subardjo sudah bertemu dengan Christison, tetapi tidak berhasil mengubah pendirian pimpinan tentara Inggris agar mencabut ultimatumnya itu. Akhmad Subardjo akhirnya bilang, “&#8230;. saya tidak dapat menilai keadaan di Surabaya, kalau Saudara berpendapat dapat mempertahankan kota itu, pertahankanlah!”</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan adanya keputusan Pemerintah Pusat melalui Menteri Luar Negeri Akhmad Subardjo, maka Gubernur Suryo dibantu oleh Dul arnowo yang sedang di Kantor Gubernur segera menyusun teks pidato. Teks pidato tadi kemudian disiarkan oleh Gubernur Suryo lewat pemancar RRI Surabaya yang ada di Embong Malang (sekarang jadi hotel JW Marriot).</p>
<p style="text-align: justify;">
“Saudara-saudara sekalian,</p>
<p style="text-align: justify;">Pucuk pimpinan kita di Jakarta telah mengusahakan akan membereskan peristiwa di Surabaya pada hari ini. Tetapi sayang sekali sia-sia belaka, sehingga kesemuanya diserahkan kepada kebijaksanaan kita di Surabaya sendiri. Semua usaha kita untuk berunding senantiasa gagal. Untuk mempertahankan kedaulatan negara kita, maka kita harus menegakkan dan meneguhkan tekad kita yang satu, yaitu berani menghadapi segala kemungkinan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: Lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris, kita akan memegang tegfuh sikap itu. Kita tetap menolak ultimatum itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dalam menghadapi kemungkinan besok pagi, mari kita semua memelihara persatuan yang bulat antara Pemerintah, Rakyat, TKR, Polisi dan semua Badan-badan perjuangan pemuda dan rakyat kita. Mari kita sekarang memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa, semoga kita sekalian mendapat kekuatan lahir batin serta Rahmat dan Taufik dalam perjuangan.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Selamat berjuang!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian isi pidato Gubernur suryo yang dibacakan dengan tenang, tetapi tegas dan mantap. Pidato itu telah mendapat sambutan rakyat Surabaya dan menambah semangat berjuang  mereka. Lebih-lebih sesudah mendengarkan siaran Radio Pemberontakan Rakyat pimpinan Bung Tomo.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya tanggal 10 November 1945, mulai jam 06.00 Kota Surabaya dihujani peluru dari laut, darat dan udara. Para pemuda dengan bersenjata seadanya melawan serangan-serangan Inggris yang menggunakan granat, mortir, tank raksasa. Yang dihadapi oleh para pejuang hanya jatuhan bom, peluru dan meriam. Orang Inggrisnya tidak kelihatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun begitu, Kota Surabaya yang diperkirakan akan hancur perlawanannya dan takluk selama gempuran satu minggu selesai, ternyata bertahan hingga akhir November 1945. Akhir November 1945, para pejuang Indonesia baru angkat kaki dari Gunungsari dan Waru. Pada bulan Desember 1945, masih ada sisa-sisa perlawanan di Gedangan dan Krian.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada lagi pemerintahan bangsa Indonesia di Kota Surabaya sejak itu. Sejak itu Kota Surabaya diperintah oleh A.M.A.C.A.B (Allied Military Adminstration Civil Affairs Branch). Setelah misi pasukan Inggris selesai, pemerintahan kota diberikan kepada pemerintah Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru kembali ke Pemerintah Republik Indonesia tahun 1950. Awalnya sebagai Ibu Kota Negara Jawa Timur, tetapi segera menjadi Ibu Kota Provinsi Jawa Timur, bagian dari provinsi Negara Kesatuan Indonesia Proklamasi 17 Agustus 1945.</p>
<p>Demikian, semoga bermanfaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Surabaya, 10 November 2010.  .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=692</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RAKYAT MISKIN DAN PEREBUTAN RUANG KOTA DI SURABAYA 1900-1960-AN</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=678</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=678#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Oct 2010 04:27:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seminar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[Moderator, Johny Alfian Khusairi, Purnawan Basundoro, Suparto Brata Senja hari Minggu 10 Oktober 2010 saya terima telepon dari Pak La Ode Rabani, mengaku dari Fakultas Ilmu Budaya Unair, minta saya ikut menjadi narasumber kuliah umum. Disebutkan temanya, kedengarannya sangat akademis, (tidak begitu jelas karena disampaikan pertelepon lisan), apa saya mampu menjadi pembicara? Yang saya ingat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/10/rm2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-685" title="Suparto Brata" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/10/rm2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Moderator, Johny Alfian Khusairi, Purnawan Basundoro, Suparto Brata</p>
<p style="text-align: justify;">Senja hari Minggu 10 Oktober 2010 saya terima telepon dari Pak La Ode Rabani, mengaku dari Fakultas Ilmu Budaya Unair, minta saya ikut menjadi narasumber kuliah umum. Disebutkan temanya, kedengarannya sangat akademis, (tidak begitu jelas karena disampaikan pertelepon lisan), apa saya mampu menjadi pembicara? Yang saya ingat, diharap hadir hari Kamis 14 Oktober, jam 09.30, itu saya berminat hadir karena siang hari dan saya tidak ada acara lain (memang biasanya di rumah melulu). Saya jawab saya berminat hadir, tapi ragu apa ilmu saya sesuai dengan tema yang disebutkan. Saya hanya disuruh bercerita tentang pengalaman saya hidup di Surabaya, itu saja. Wah, pengalaman hidup saya panjang dan memang banyak yang mau saya tulis, tetapi undangan yang saya terima secara lisan itu temanya sangat kabur bagi pemikiran saya. Pak Rabani mengatakan undangan tertulis akan disampaikan besok pagi. Saya sampaikan terima kasih.<br />
Keesokan harinya, Senin, sampai malam hari tidak ada undangan. Baru senja hari Pak Rabani menelepon, bahwa mahasiswa yang disuruh mengantar undangan baru lapor bahwa tidak bisa menemukan alamat rumah saya, maka undangan belum sampai. Pak Rabani minta alamat email saya, undangan mau diemailkan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya biasa buka email pagi hari. Saya buka ada undangan dari Pak La Ode Rabani, M.Hum, tertulis lengkap: Kuliah umum, tema “Rakyat Miskin dan Perebutan Ruang Kota Di Surabaya 1900-1960-an”, pembicara:1 Purnawan Basundoro (Dosen Prodi Ilmu Sejarah UA), 2. Suparto Brata (Budayawan dan Saksi Sejarah Kota Surabaya), 3. Johny Alfian Khusairi, M.A.(Dosen FISIP UA). Saya diharap menjadi salah satu pemateri, topiknya berkaitan dengan Pengalaman saya sebagai saksi sejarah yang mengikuti perkembangan dan menjadi bagian dari Masyarakat Kota Surabaya sejak awal kemerdekaan sampai 1960-an. Saya diharapkan menyiapkan makalah/tulisan kurang lebih 3-8 halaman sebagai pengantar diskusi. Jika tidak ada catatan, cerita tentang pengalaman saya dalam forum tersebut sangat berarti untuk mengetahui perkembangan masyarakat Kota Surabaya pada periode tersebut. Catatan harap diemailkan ke Pak Rabani. (surat email tertanggal 1 Oktober 2010).</p>
<p style="text-align: justify;">Penasaran karena masih merasa tidak tercapai tema dan apa yang mau saya ceritakan, dan karena sempitnya waktu untuk bikin tulisan, maka saya reply mungkin saya tidak membawa catatan apa-apa, dan seperti permintaan undangan, saya cerita saja pengalaman saya. Reply saya itu berdasarkan pengalaman saya melayani para mahasiswa jurusan sejarah baik Unair maupun Unesa (juga bukan dari jurusan sejarah, maupun bukan mahasiswa, misalnya dari pelajar SMA Ciputra), yang datang berkelompok maupun perorangan, mereka langsung memberikan pertanyaan tentang bahan yang mau ditulis, saya bisa menjawab berdasarkan ingatan-ingatan saya. Yang akhir-akhir ini bahkan banyak mahasiswa Unair yang mau menulis skripsinya tentang kota Surabaya secara detail, misalnya khusus tentang Jalan Tunjungan, tentang Pasar Malam, tentang Rumah Sakit Simpang. Dan banyak lagi. Saya mampu menjawab, karena saya masih ingat (berdasar pengalaman atau kesaksian,, tapi tidak pengamatan secara teliti). Kalau seperti itu yang dimaksud di Unair tadi, saya kira saya mampu menyesuaikan diri berbicara tentang pengalaman (bukan penelitian) saya hidup di Surabaya 1950-1960.</p>
<p style="text-align: justify;">Menutup email subuh hari itu, meskipun sudah saya reply seperti itu, saya tetap merasa tidak nyaman berbicara tanpa catatan. Saya tahu diri, lebih cepat dan jelas mengemukakan pikiran dengan jari-jemari mengetik daripada dengan bicara di bibir. Saya harus bicara dengan terencana sebagai pengantar, dan itu harus saya catat sebelumnya. Melihat pengantar tadi cukup ditulis 3-8 halaman (lihat undangan), saya pun bertekad membuat catatan. Komputer yang sudah saya matikan, saya buka lagi. Dan sayapun mengingat pengalaman saya hidup di Surabaya tahun 1950-1970. Saya ingat, saya tulis, saya cari hal-hal yang sekiranya penting dan jadi pengamatan saya, segera saya ketik. Karena itu merupakan catatan pengantar sebagai pembicara, maka bagian-bagian yang tidak saya sempat menulis secara detail, saya tulis dengan huruf lebih besar dan tebal. Saya tulis dengan cepat dan singkat, tanpa menengok dokumen, sehingga tentu saja mungkin saja salah eja atau keliru tahun. Tapi harus saya ingat masalahnya kalau nanti saya bicara sebagai pengantar. Terus terang saja, masih belum bisa menyesuaikan pemikiran diri dengan tema yang begitu bersifat akademis (“Rakyat Miskin dan Perebutan Ruang Kota Di Surabaya 1900-1960-an”). Saya hidup di Surabaya zaman Belanda, zaman Jepang, dan juga membaca buku, tentunya banyak mengetahui tentang Kotga Surabaya zaman-zaman itu, tetapi yang harus saya omongkan perkembangan Kota Surabaya sejak awal kemerdekaan sampai 1960-an. Saya menulis dengan pikiran harus cepat selesai (3 lembar saja cukup, menurut permintaan) lalu segera diemailkan, agar perkuliahan nanti tidak buta dengan apa yang saya antarkan. Begitu tulisan selesai, saya garap secara periode tahun-tahun, terus saja saya emailkan sore harinya. Direply oleh Pak Rabani, katanya tulisan saya itu merupakan dokumen yang bagus dan memberi penerangan bagi para mahasiswa nanti. Saya senang. Namun saya masih ragu, apakah yang saya tulis itu sesuai dengan tema. Yang saya tulis hanya peristiwa yang saya ingat itu peristiwa penting bagi diri saya dan Surabaya. Tidak bicara khusus tentang Rakyat Miskin, dan Perebutan Ruang.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya Kuliah Umum hari Kamis 14 Oktober 2010 diUnair itu terselenggara. Berikut adalah naskah pengantar yang saya kirimkan ke Pak Rabani. Dan ternyata ADA yang sesuai dengan arti Rakyat Miskin danPerebutan Ruang Kota Di Surabaya 1900-1960. Ya itu saja yang saya omongkan, lebih khusus dan singkat, yang lain-lain seperti yang saya tulis itu, tidak perlu saya omongkan.</p>
<p style="text-align: center;">Ikhtisar Pengalaman Saya Hidup Di Surabaya 1950-1970<br />
*<br />
1950</p>
<p style="text-align: justify;">Saya lulus SMP Negeri Tempelstraat (Jl. Kepanjen 1) Surabaya. Teman setingkat saya Cak Kadaruslan, Wardiman Djoyonegoro. Wakil Presiden Tri Sutrisno adik kelas saya. Meneruskan sekolah ke SMA 2 (VHO), bekas sekolah Belanda, kurikulum dan gurunya masih melanjutkan VHO, berbahasa Belanda, bahasa Prancis, gurunya juga Belanda. Anak pintar lebih suka melanjutkan ke SMA 1, yaitu jilmaan dari SMA swasta Dr.Sutomo. Mereka republikein, jadi minta tempat jadi nomer satu. Begitu juga SMPN Kepanjen yang berbau Belanda, dijadikan SMPN 2, sedang SMP Dr. Sutomo dinegerikan jadi SMPN 1 Jalan Pacar. Kemudian karena guru-gurunya memang berkualitas (hasil dari sekolah Belanda) maka SMAN 2 Wijayakusuma menjadi tujuan para anak yang pintar dan kaya.* Sudah ada usaha dari pemerintah membangun perumahan rakyat yang bisa dibeli secara nyicil, sehingga tercapai oleh rakyat. Yang berhasil dibangun adalah kompleks Darmorakyat (Karanggayam), Pantidarmo (Raden Saleh). * Lapangan terbang Juanda mulai dibangun oleh perusahaan Prancis. Pemerintah juga sedang merombak besar-besaran saluran air minum, juga diborong oleh perusahaan Prancis. Pipa-pipa besi yang besar-besar dikumpulkan di tanah lapang Tambakrejo (sekarang jadi mall Kapaskrampung).<br />
Terjadi urbanisasi yang luar biasa derasnya, para pejuang dan orang sipil dari daerah pedalaman datang ke Surabaya, kekurangan tempat dan pekerjaan. Para bekas pejuang banyak menguasai gedung dan kantor. Para pemuda bekas pejuang ada yang meneruskan sekolah, dan ada yang mendirikan sekolah swasta. Tapi orang biasa yang tidak punya kekuatan pada ngebroki tanah-tanah tak bertuan. Sangat banyaknya orang masuk ke Surabaya, sehingga terjadi gubuk-gubuk pelacuran di segala tempat, antara lain: sepanjang jalan keretaapi dari Wonokromo sampai Semut. Sepanjang kali Pengampon/Pecindilan. Sepanjang Kali Wonokromo, jalan Kutai. Tambakrejo jadi kompleks pelacuran. * Bagi mereka yang berhasil bekerja, bisa menempati rumah bagus, menonton film Amerika di gedung-gedung bioskop (Capitol, Kranggan, Metropole, Rex, Luxor, Amelto. Filmnya Amerika, teks bawahnya mula-mula bahasa Belanda, kemudian bahasa Indonesia. Kendaraan umum: trem listrik di tengah kota, trem OJS dari Madura-Ujung-MasMansur-Cantian-Kebonraja-Pasarturi-Semarang-Arjuna-Diponegoro-Wonokromo-Sepanjang-Krian. Dokar. Becak. Kendaraan pribadi: sepeda, mobil (bekas) tinggalan MTD 1946, kebanyakan mobil Amerika  Tidak impor mobil. Jadi yang punya mobil sangat jarang. Sepeda bermotor merk mosquito (mesinnya ditempelkan ke ban).* Walikota Dul Arnowo mengganti nama-nama jalan yang berbau Belanda. Coen Boulevard jadi Raya Dr. Sutomo, van Hogendorplaan jadi Kartini. Strippiaan jadi Kalasan. Van Sandictstraat jadi Residen Sudirman, Palmenlaan jadi Panglima Sudirman. Didaerah Jembatan Merah diubah menjadi nama-nama burung. Yang repot nama burung Kenari juga dicantumkan di sana. Padahal sudah ada Kenaristraat yang tidak diubah namanya karena itu nama tumbuhan. Akhirnya Jalan Kenari (burung) urung dipakai, diganti Jalan Penjara. Masih mengenai penggantian nama jalan oleh Walikota Dul Arnowo, baru-baru ini (2009) saya dapat kiriman buku dari Mbak Kathleen yang menyelenggarakan perpustakaan C2O di Surabaya, buku Kota Lama Kota Baru, ketika saya buka tentang penggantian nama jalan di Surabaya, nama jalan-jalan Cina dan perubahannya (halaman 571) tertulis: Chinese Tempelstraat, tahun 1949 diganti Dj.Kepandjen, tahun 1962 diganti Jl.Cokelat. Ini pasti tidak benar. Sebab tahun 1950 saya masih bersekolah di jalan yang namanya masih Tempelstraat. Tahun itu (1950) baru diganti jadi Dj. Kepandjen, dan berlaku sampai sekarang, bukan Jl.Cokelat. Jl.Cokelat memang digunakan sebagai nama jalan (mungkin tahun 1962 seperti tercantum di buku), tetapi untuk mengganti nama jalan berbau Cina: Teepekongstraat, terletak di mana di ujungnya terdapat klenteng (Chinese tempel) di daerah Songoyudan.. Juga pada halaman 563, terdapat tulisan: Tampaknya Jepang tidak punya banyak waktu untuk mendirikan simbol yang akan dikenang oleh banyak orang. Dalam masa pendudukannya yang sangat singkat, Jepang hanya sibuk dengan latihan perang. Anak-anak sekolah lebih banyak latihan baris-berbaris dan menanam dan mencari jarak (Samson, wawancara) Satu-satunya nama jalan yang diganti oleh Jepang adalah Jalan Prambanan menjadi Jalan Kenpeitai. Di jalan ini sebenarnya tidak ada markas kenpeitai dan balatentara Jepang, tetapi di jalan ini serta Kalasan, dan sebagainya merupakan pemukiman orang-orang Jepang Sakura, yaitu orang-orang Jepang yang bukan tentara tetapi sipil&#8230;&#8230; Ini juga tidak benar. Zaman Jepang saya tinggal di Jalan Kalasan 31 (dulu namanya Van Strippiaan Leusesstraat), induk semang saya (Sujohartono, sekretaris Bupati Surabaya, kantornya di Gentengkali 87) menjadi Azatjok atau RW. Saya sering-sering disuruh mengantarkan undangan untuk warga yang meliputi ke utara sampai Jl.Jolotundo (dulu Dammestraat), ke barat sampai Jl.Sawentar (dulu namanya Wenckebachstraat) dan Penataran (dulu namanya Ruysstraat), ke selatan sampai Jl. Indrakila (dulu Maarschalstraat). Jl.Prambanan termasuk wilayah RW saya, namanya dulu Kempeestraat (bukan Kenpeistraat). Wilayah WR saya itu yang sekarang jadi nama jalan dari nama candi-candi, nama-nama jalan di situ untuk nama-nama penulis buku Belanda. Jadi Kempee, Ruys, Wenckebach, Weyerman, Van Sandict, Derx, adalah nama-nama penulis buku bangsa Belanda. Saya dengar zaman dulu, belum pernah saya cek sampai sekarang. Pernah saya tanyakan kepada Pak Rob van Albada, tetapi belum dapat jawaban sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: center;">1952.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sudah bekerja di Kantor Telegrap Jalan Niaga 1 (sekarang Veteran) Surabaya sebagai operator teleprinter. (pengetikan jarak jauh yang akan menggantikan pengiriman telegrap sistem radio morse). Gaji saya cukup untuk hidup seorang bujang. Kontrak rumah bersama kakak di Keputran Kejambon (1952-1954) dan pindah ke Rangkah 5/23B (1954).* Ada peristiwa penting saat itu. Perayaan 10 November dirayakan besar-besaran. Seluruh kota dan penduduknya diharapkan merayakan hari itu dengan suasana seperti keadaan peristiwa 10 November 1945. Semua orang yang keluar rumah dan terlihat di jalan harus menggunakan pakaian seperti tahun 1945, pakai lencana merah-putih, pakai peci seperti Bung Tomo, berpakaian hitam-hitam. Dan ada juga peristiwa-peristiwa yang dilakukan oleh para pejuang atau sukarelawan, mengadakan pertempuran kecil-kecilan dengan senjata sesungguhnya. Daerah Jembatan Merah ditutup, digunakan untuk mengenang kembali pertempuran 10 November 1945. Di Hotel Majapahit kembali dilaksanakan perobekan warna biru bendera merah-putih-biru. Gedung-gedung dan trem listrik yang sudah bersih catnya, kembali dicorat-coret dengan semboyan-semboyan seperti zaman 1945. Tembok-tembok kantor jadi kotor lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">1954.</p>
<p style="text-align: justify;">Teman-teman pegawai kantor telegrap seangkatan pada bermupakat dinas dengan sift tetap, yang malam ya malam terus, yang pagi ya pagi terus, yang siang ya siang terus. Saya memilih dinas jam 1300-1900. Pagi harinya saya gunakan untuk sekolah, yaitu di SMAK Sint Louis Jl. Dr.Sutomo 7 Surabaya. Hidup saya (seorang diri di Rangkah 5/23B) pagi jam 0700-1300 sudah harus masuk sekolah, 1300-1900 bekerja di kantor (Jl. Niaga), 1900 pulang ke Rangkah, beli roti di Jagalan untuk makan malam (pulang dari kantor), makan pagi (sebelum berangkat ke sekolah), dan makan siang (di kantor). Teman sekolah hampir semua orang Tionghoa (kelas saya 40 orang, orang Jawanya 7 orang, orang Menado dan Ambon 3-4 orang). Salah seorang di antaranya Johan Silas. Saya paling tua di sekolah, dan tiap hari pakai celana panjang (karena terus bekerja) sementara yang lain masih mengenakan celana pendek. SMAK Sint Louis muridnya lelaki melulu. Tahun 1954 terjadi Konperensi Asia-Afrika diselenggarakan oleh Bung Karno di Bandung. Para delegasi dari negeri Asia Afrika pada datang. Kami semua bangga. Teman-teman keturunan Tionghoa tidak suka dengan delegasi dari RRT. Mereka mengaku orang Indonesia sejati, lahir dan mencari kehidupan di Indonesia. Itulah teman-temanku di SMAK. Mereka pandai-pandai. * Oleh pemerintah dibentuk Panitia pembangunan perumahan rakyat yang diinstruksikan dari Pusat (Jakarta) terus berlanjut. Karena sulitnya perumahan yang dicapai oleh rakyat, maka diakali bisa dibangunkan rumah yang pembayarannya dicicil. Menabung dulu sampai separoh dari harga rumah, lalu bisa diperoleh rumah, ditempati, dan separohnya lagi dicicil dilanjutkan. Panitia pembangunan perumahan rakyat waktu itu berhasil berkembang di daerah Pucang (Pucang Adi, Pucang Anom, Pucang Rinenggo). Rumah-rumah tadi sudah berupa gedung (batu). Selain berkelompok Panitia Perumahan juga membangun satu-satu misalnya yang terdapat di Rangkah Besar, dan lain-lain. Ada pula kompleks perumahan yang lebih sederhana lagi, yaitu di kompleks Tambakrejo (di belakang RS Dr.Suwandi). Daerah itu dulunya daerah brok-brokan, tempat pelacuran. Mereka itu (pelacuran) dipindahkan ke daerah Bangunrejo (namanya rejo diambil dari Tambakrejo). Di bekas tempat pelacuran tadi dibangun perumahan yang lebih sederhana, dari gedeg, untuk pegawai rendahan. * Terjadi pemindahan makam WR.Supratman dari Jl.Kapasan (pertigaan dengan Kampung Seng) ke seberang makam Rangkah (Jalan Kenjeran), ternyata hasil pembangunan makam baru itu tidak sesuai dengan pembeayaannya (dikorupsi). Para seniman kecewa.</p>
<p style="text-align: center;">1956.</p>
<p>Terjadi Pekan Pemuda, di mana kekuatan partai politik PKI memperlihatkan geliatnya. * Jaarmarkt (pasar tahunan) yang dulunya diselenggarakan tiap bulan Agustus (kelahiran Ratu Wilhelmina) dilanjutkan juga tiap bulan Agustus untuk merayakan hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Jaarmarkt jadi pusat keramaian penyelenggaraan Pekan Pemuda. Namanya  diganti Pekan Raya Surabaya (PRS=THR, sekarang Hiteck Mall). Kegiatan PRS tahun-tahun itu masih mengikuti peran Jaarmarkt zaman Belanda, dipentingkan peragaan hasil pertanian dan kegiatan budaya (tuintoon stelling, pameran hasil pekerjaan tangan seperti batik, wayang), untuk menarik penonton juga ada pertunjukan ludruk, pencak, permainan radmolen, draimolen, warung, restoran dengan musik jazz-band (saya ingat Bing Slamet menyanyi di sana dengan lagu favoritnya Begin the bequin, menirukan lagunya Bing Crosby yang sedang populer waktu itu sering terdengar di radio, dari situlah kata Bing melekat pada Bing Slamet), permainan yang mengandung pertaruhan. * Tahun 1952 ketika bekerja di kantor telegrap saya sudah mulai menulis di majalah dan suratkabar. Di sekolah SMAK, tulisan saya pamerkan pada teman-teman. Tulisan di suratkabar di Surabaya tidak mendapat honorarium, namun senang kalau bisa dimuat (dimuat tanpa diberi hr berlangsung hingga berakhirnya Orde Lama, 1965). Kalau dimuat di majalah sastra penerbitan Jakarta seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Aneka, baru dapat honorarium.</p>
<p style="text-align: center;">1957-1958-1959-1960.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya selesai sekolah SMA. Tapi tetap minta bekerja di kantor jam 1300-1900. Pagi harinya yang semula saya gunakan untuk sekolah, saya gunakan untuk pinjam buku di USIS (Jl. Pemuda) dan baca buku. Saya mulai membacai buku-buku bahasa Inggris (meskipun dengan susah payah), namun akhirnya dari USIS itu saya kenal pengarang-pengarang Amerika seperti Theodore Dreiser, John Dos Passos, Ernest Hemingway, Robert Penn Warren, John Hersey, Sinclair Lewis, Lloyd Douglas dll. * Selain itu saya juga belajar dansa di Pendidikan Umum (sekarang SMA Trimurti). Di Surabaya hari Sabtu-Minggu pasti ada band hidup, yaitu di Pemandian Tegalsari, Gedung Helendoorn (Jl. Tunjungan), dan Gedung Utama THR. Saya banyak berkenalan dengan orang-orang Ambon, baik di kantor maupun di tempat dansa. Termasuk Bob Tutopoli sering menyanyi di band hidup tempat dansa-dansi. Lagu-lagu populernya Banana Booth Song, A Place in the Sun. Dansa-dansi seperti itu memuncak sampai tahun 1958, yaitu ketika bioskop memutar film Rock Around The Clock, dan film-film Elvis Presley. Dilarang oleh Presiden Soekarno. Selain dansa-dansi juga berkembang tari Serampang 12 yang dikembangkan dari Medan. Berkembang di Jakarta, Bandung, Surabaya. Lalu diadakan lomba antarkota-kota itu. Di Surabaya (1960) juga diselenggarakan.lomba itu, istilahnya sayembara. Saya gencar sekali menulis tentang Tari Serampang 12 ini di majalah dan suratkabar di Surabaya, tapi yaitu tanpa menerima honorarium. * Tahun 1957-1958 terjadi nasionalisasi, pengusiran orang-orang Belanda. Waktu itu masih banyak orang Belanda yang menempati gedung-gedung dan kantor dagang (miliknya sejak zaman penjajahan dahulu), dan di kantor-kantor pemerintah masih banyak formulir-formulir yang berbahasa Belanda. Suratkabar bahasa Belanda juga masih sangat kuat pelengganannya (Het Soerabaiasch Nieuws Handelsblad, dan de Vrije Pers). Dinasionalisasi orang-orang Belanda harus pulang ke Negeri Belanda. Mereka pergi tentu tidak bisa bawa barang-barangnya, maka dilelang atau dirombeng. Termasuk rumah hak milik mereka dijual murah. Saya dapat beli mesin ketik Remington standard, yang lalu saya pergunakan mengetik karangan-karanganku di rumah, bebas segala waktu, tidak tergantung mesin ketik kantor. * Di kaki lima Keputeran berserakan penjual buku rombeng peninggalan Belanda dengan harga yang murah sekali, Rp 1,- Rp 1,50 Padahal gaji saya Rp 100, sebulan. Saya yang sudah terbiasa membaca buku bahasa Inggris di USIS jadi bergairah membeli buku loak dan membacanya. Banyak buku keluaran Pengquin bersampul hijau (mystery &amp; crime) yang saya beli, yang membuat saya kenal dengan tokoh-tokoh seperti Freeman Will Crofts, Agatha Christie, Georges Simenon, Erle Stanley Garner, John Dickson Carr, dll. Nama-nama itu dan tulisannya tidak terdapat di USIS. * Tahun 1958 setelah orang Belanda diusir dari Indonesia, berdirilah Perusahaan-perusahaan Dagang Negara yang terdiri dari bekas perusahaan dagang Belanda (Javastal-stockvis, Internatio, Lindeteves, dll jadi Djaya Bhakti, Sejati Bhakti, Panca Niaga, Tjipta Niaga, dll). * Tahun 1958 didirikan Tugu Pahlawan. Semula diusulkan untuk dijadikan perumahan rakyat, tapi akhirnya dibangun Tugu Pahlawan. Tahun 1958 didirikan pabrik Semen Gresik, yang sangat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja ke sana. * Tahun 1958 diselenggarakan pemilihan umum yang pertama di Indonesia. Ketika itu tiga pemenang besar yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Masyumi. Namun sistem parlementer waktu itu bahkan tidak jalan, sehingga tahun 1959 Presiden Sukarno mengumumkan dekrit kembali ke UUD 1945. Dan selanjutnya beberapa partai dilarang antara lain PSI (Partai Sosial Indonesia) dan Masyumi. * Kehidupan pers di Surabaya tahun-tahun itu (1956-1965) mendapat subsidi kertas dari pemerintah. Yang populer waktu itu adalah Harian Umum, Suara Rakjat, Terang Bulan, Panjebar Semangat (ini berkantor dan dicetak di gedung Pers Nasional Jalan Penghela 2), Surabaja Post, Trompet Masyarakat, Liberty (ini berkantor dan dicetak di de Brantas, Jalan Alun-alun 30 Surabaya), lalu Perdamaian kantor/cetak di Jalan Pecinan Kulon (sekarang Jalan Karet), Djawa Pos (di Jalan Kembang Jepun). Subsidi kertas itu diberikan kepada penerbit surat kabar yang ikut SPS, dan penerbit buku yang ikut keanggotaan IKAPI. Banyak di antara pers yang sebenarnya dicetak hanya 20.000 exp, tapi disebutkan dicetak 30.000 exp. Kelebihan kertasnya dijual bebas, laku keras. Maka penerbit suratkabar maupun buku, kalau sudah ikut organisasi, tidak bakal bangkrut. Meskipun begitu, untuk majalah bahasa Jawa Panjebar Semangat, subsidi kertas itu selalu kurang. Sebab yang dicetak per minggu adalah 80.000. Dan tersebar sampai di desa. Sedang pada penerbitan surat kabar bahasa Indonesia paling banyak tirasnya 20.000. * Surabaya Post pimpinan Abdul Azis agak lain. Dulu diterbitkan seperti format tabloid 1956, kantornya di Alun-alun 30 bersama dengan Het Soerabaiasch Nieuws Handelsblad. Ketika orang Belanda diusir dari Indonesia, suratkabarnya juga harus ditutup, Het Soerabaiasch Nieuws Handelsblad yang tirasnya lebih dari 100.000, dengan pemasukan dari iklan yang banyak sekali itu dihibahkan kepada Surabaja Post. Baik para pelengganannya yang banyak sekali itu, baik pegawainya administrasi maupun redaksi/wartawan, serta pemasukan iklannya juga, semua dihibahkan kepada Surabaja Post.. Maka Surabaja Post waktu itu koran yang paling makmur di Surabaya, di samping Panjebar Semangat.</p>
<p style="text-align: center;">1961-1962-1964-1965.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak tahun 1958-1965 Kota Surabaya dipimpin oleh Walikota Komunis, Dr.Satrio dan Murachman. Pendudukan liar terus berkembang dengan pesat, apalagi dengan kekuatan Partai Komunis Indonesia yang sangat mendukung politik sistem kerakyatan. PKI minta didirikannya angkatan bersenjata ke-5 (selain AD,AU,AL,Kepolisian). Tanah-tanah kosong segera diseroboti oleh pendudukan liar. Dulu, di sebelah timur dari rel Wonokromo-Gubeng adalah persawahan yang subur, milik BPM (minyak), Pengairan, PJKA, Baswedan. Selama tahun 1962-1964 seluruh wilayah itu (antara rel keretaapi dan Jalan Karangmenjangan-Menur-Jembatan Ijo Nginden) yang dulunya merupakan sawah subur sudah terbagi-bagi menjadi perkampungan liar dengan nama Gubeng Klingsingan, Gubeng Trowongan, Bratang, Ngagel, Krukah. (Untung di Pucang telah berdiri Perumahan Rakyat, sehingga tidak diseroboti penduduk liar. Dan Karangwismo dulu lebih dulu diduduki oleh AD, selamat dari serobotan liar). Juga sawah-sawah yang lebih ke utara dari Kedungtarukan yang semula milik PJKA juga diseroboti oleh penduduk liar: Jolotundo, Bronggalan, Ploso, Rangkah, Sidotopo, Wonokusumo. Begitu juga di daerah barat kota. Yang semula tambak tak bertuan dan pekuburan diserobot menjadi perkampungan liar seperti Bangunrejo, Kremil, Mbah Ratu, Tembok Bolong (sekarang Petemon/Kupangkrajan), Kembang Kuning. Tahun 1964 kekuatan politik PKI bertambah kuat. Banyak sekali kekuatan politik ditunjukkan dengan pentas-pentas, pertunjukan, lagu-lagu. Hari-hari ulang tahun partai dirayakan sampai 40 hari, dengan unjuk kekuatan kampanye. Lagu-lagu Genjer-genjer, Turi-turi Putih dipopulerkan sebagai kekuatan politik. Tiap ada hari peringatan nasional, diadakan unjuk kekuatan drum-band. Jor-joran drum-band. Barisan dari NU pakaiannya bagus-bagus (hijau), dari PNI hitam, dari PKI juga hitam. Dari angkatan juga bagus-bagus. Barisan PKI protes dengan demonstrasi ingin menurunkan Gubernur Jawa Timur Wiyono. Jalan Darmo diganti (oleh Walikota Murachman) dengan nama Jalan Patrice Lumumba. Pendudukan liar kian marak, antara lain sungai Gembong/Bunguran dijadikan petak-petak untuk pasar (Pasar Atom), dan merambat ke selatan Kali Pecindilan/Pengampon jadi petak-petak pelesiran. Sungai besar Gentengkali dan Peneleh sudah menjadi gedung-gedung pertokoan. Di Peneleh dibangun pertokoan di atas sungai, sehingga jalan Peneleh sudah diapit-apit oleh gedung pertokoan. * Selama itu hampir tidak ada pembangunan fisik di Surabaya. Jalan-jalan juga tidak bertambah, maupun tidak terpelihara (tidak diaspal lagi). Juga tidak membuat jalan baru. Tetapi semua itu tidak menjadikan kendala dalam berlalu-lintas, karena toh kendaraan bermotor (roda empat atau lebih) juga tidak ada. * Pasar juga masih pasar-pasar lama, seperti Pasar Pacarkeling, Genteng, Blauran, Pabean, Keputeran, Pasarkembang. Wonokromo belum jadi pasar. Terjadi pasar-pasar tumpah, artinya orang berjualan makan jalan, terjadi di sepanjang Pasar Kembang, sepanjang Jalan Pandegiling, sepanjang Jalan Ngaglik-Kapaskrampung (Kapaskrampung/Tambahrejo belum jadi pasar). Ada perayaan hari besar Maulud Nabi yang khusus dirayakan oleh penduduk Surabaya. Pada peringatan hari Maulud Nabi, maka di pasar-pasar tradisional Pabean, Pacarkeling, Blauran, Genteng, Peneleh, penuh dengan orang jualan mainan (pedang-pedangan, topeng-topengan, manten-mantenan). Pada kesempatan itu para gadis-gadis berkerudung pada keluar ke pasar. Dan para jejaka (termasuk saya) sangat senang ikut berdesakan di pasar-pasar tadi. Sangat ramai sehingga berdesakan tadi mbludag sampai ke jalan besar (Genteng Besar, Peneleh, Pabean). Perayaan Maulud Nabi dengan orang jualan mainan dan gadis-gadis keluar itu masih terjadi hingga tahun 1974 * Kekuatan Partai Komunis menggerakkan masa terus bergejolak. Pemutaran bioskop yang semula dikuasai oleh agen-agen Hollywood, didemonstrasi, dibakar (salah satunya di sudut perempatan Jl. Sumatra-Karimunjawa, milik MGM/MPEA) oleh orang-orang PKI. Presiden Sukarno berusaha keras untuk menyatukan kekuatan nasional dengan jurus-jurus Nasakom (Nasional-Agama-Komunis), namun kekuatan rakyat (komunis) minta kekuasaan lebih, sehingga pidato-pidato Presiden mengenai MANIPOL/USDEK, Jasmerah, Nawasanga tidak mampu membendung kekuatan komunis. Suratkabar Harian Rakjat tiap hari memuat berita-berita provokasi, misalnya terus-menerus memuat cerita Jagal Husein (Islam) dari Mojokerto yang katanya membantai korbannya, tiap hari ada kurban yang ditemukan dan ditulis secara detail di Harian Rakjat. Konon di desa-desa, aksi komunis ini sangat kejam, di Kanigoro (Blitar) orang yang sedang sholat subuh dibantai semua. Terjadi juga di Kediri. * Para wartawan/seniman yang tidak pro dengan komunis (antikomunis) mengadakan aksi dengan menggelar Manifesto Kebudayaan (manikebu), akibatnya dihancurkan oleh kubu komunis. Mereka dilarang bekerja, harus dipecat dari jawatannya (wartawan manikebu yang jadi kurban adalah Wiwiek Hidayat dari Antara, Hari Rek dan Purnomo Tjondronegoro dari majalah Terang Bulan, Farid Dimyati dari Harian Umum, Basoeki Rachmat dari Djaja Baja, mereka dipecat dari jabatannya sebagai wartawan). * Kegiatan seni waktu itu juga meriah, ada saling adu unggul-unggulan antara para seniman Lekra dan bukan Lekra (Islam atau nasional). Itu bisa dibuktikan tiap ada pentas seni di Balai Pemuda, baik diskusi sastra, pentas panggung, atau seni deklamasi. Seni deklamasi sering dipentaskan dan mendapat perhatian cukup meriah. Juara dari Lekra adalah Sukaris. Dari senilukis yang terkenal Marah Jibal, Darjono, Karyono JS. Begitu pula seni teater, ada lomba drama pelajar yang diadakan setiap tahun. Juga ada lomba drama untuk umum. Unair biasa mengikuti lomba drama ini, disuteradarai oleh Muktijo. Sedang di pihak lain yang terkenal Pentas 21 pimpinan Farid Dimyati (saya ikut di pentas ini). Banyak lagi kelompok drama yang lain, misalnya pimpinan Sanyoto Suwito, Hari Matrais. Pentas seni drama biasa dipanggungkan di Balai Pemuda dan di Balai Budaya (ujung utara Jalan Bubutan, sekarang jadi tempat parkir Bank Indonesia). * Di jawatan-jawatan negara (PJKA, PTT,) dibangun perserekatan buruh yang dikemudikan sentral SOBSI (komunis) dan non-komunis. Tindakan mereka sangat anarkitis. Misalnya buruh percetakan Pers Nasional di Jalan Pengenal 2 tempat koran-koran dicetak dengan mesin intertype, mesinnya dirusak karena perusahaan pers itu dianggap perusahaan kapitalis. * Akhirnya pada puncaknya terjadi pemberontakan PKI yang gagal terkenal dengan G30S/PKI. Akibat kalahnya PKI ini, di Surabaya terjadi pembalasan besar-besaran, yaitu di kampung-kampung yang dulunya terdapat orang-orang komunis (waktu jayanya kelihatan sekali tingkah polah tokoh-tokoh itu) diserbu oleh orang-orang agama yang didatangkan dari kampung lain. Sangat mengerikan. Mereka itu terang-terangan menyerbu dan mengambil orang-orang komunis tadi. Pembalasan ini juga terlihat dari Kali Brantas (Surabaya), tiap hari terdapat mayat-mayat mengapung di sana. Walikota komunis Murachman juga harus hilang. * Selama pemerintahan Orde Lama (1950-1965) tidak ada kegiatan menambah jumlah kendaraan. Tahun 1962 ada didatangkan becak-bermotor (kemudian disebut bemo) kendaraan umum roda tiga, menjalani rute Kebon Binatang-Diponegoro-Arjuno-Rajawali-Perak; dari Kebon Binatang-Darmo-Kaliasin-Tunjungan-Gemlongan-Jembatan Merah, dari Kebon Binatang-Dinoyo-Ngagel-Sumatra-Kusumabangsa-Sidotopo-Sidorame. (Maaf, saya tidak begitu hafal, karena tidak pernah naik bemo kendaraan umum ini). Selain itu memang ada bus kota, yang rutenya juga dari Kebon Binatang. Kendaraan pribadi masih banyak yang menggunakan sepeda ontel. Pengganti mosquito ada bromfiet Ducati buatan Italy, ada scooter juga dari Italy, ada sepeda motor DKW dari Jerman. Kendaraan umum kota adalah dokar, tram listrik, keretaapi OJS, kereta kosong (roda empat ditarik oleh kuda, biasanya hanya melayani pesanan), ada juga atak atau (berfungsi seperti taksi, namun amat jarang sekali). Ada pula opelet yang berfungsi dengan rute tetap seperti halnya angkutan kota sekarang. Opelet di Surabaya hanya menjalani Kapasari-Krian, atau Kapasari-Sidoarjo. (Kata opelet dari opel nama mobil buatan Jerman, let artinya kecil. Tapi yang saya lihat opelet di Surabaya seperti angkutan kota zaman sekarang. Bukan mobil Opel yang kecil). * Bus dari luar kota masuk ke Kota Surabaya terminalnya di Jembatan Merah. Dari Wonokromo menembus Jalan Ngagel, Sumatra, Gubeng, Kusumabangsa, Ambengan, Undaan Kulon, Nyamplungan, Kembang Jepun, Jembatan Merah.</p>
<p style="text-align: center;">1965-1973.</P><br />
Setelah pemerintahan Orde Lama berakhir, Walikota Murachman hilang, penggantinya dijabat oleh komandan Korem, R. Soekotjo. R. Soekotjo ini semula diangkat menjadi PJS, kemudian menjadi Walikota resmi, kekuasaannya selama 7 tahun. Dalam 7 tahun kekuasaannya itulah R. Soekotjo betul-betul menghilangkan kesan-kesan keberhasilan kaum komunis yang lalu. Gedung pertokoan di Gentengkali dan Peneleh digusur habis, dikembalikan jadi tepi kali yang seperti semula. Menurut Undang-undang nomer 1 tahun 1957, Kota Surabaya disebut Kota Besar (disingkat KBS). Dengan Undang-undang Nomer 18 tahun 1965, sebutan KBS diubah jadi Kotapraja Surabaya (KPS). Dan terjadi penambahan wilayah 5 Kacamatan baru yang diambil dari Kabupaten Surabaya (Gresik), yaitu  Tandes, Sukolilo, Rungkut, Wonocolo, Karangpilang. Sebutannya jadi Kotamadya Surabaya, atau KMS. Dengan perubahan tambahan 5 kecamatan tadi, Walikotamadya Surabaya R.Soekotjo bergerak cepat mendekatkan wilayah kecamatan baru itu ke pusat kota lama dengan mengimpreskan pelebaran jalan dari pusat kota lama menuju sampai keperbatasan kota (yang baru), misalnya jalan dari Nginden melalui Rungkut menuju tapal batas Sidoarjo, dari Karangpilang menuju Menganti, dari Pasarkembang menuju Benowo, dari Kedungcowek menuju Tambakwedi. Juga daerah yang diduduki penduduk liar ditata ulang, misalnya dibangun jalan dari Pabrik Es Petojo, melalui Darmawangsa menuju Pucang-Ngagel Jaya Selatan (sebelum dibangun jalan lurus besar itu, daerah situ kumuh dan berbelit-belit), juga dari Jalan Sulawesi lewat trowongan (Gubeng Trowongan, sekarang Kertajaya) sampai Menur (Menur sudah jalan besar). Ketika R.Soekotjo menjabat Walikotamadya (1965-1973), saya ditarik menjadi pegawai Kotamadya Surabaya (sejak 1969), jadi sedikit banyak tahu tentang kegiatan Walikotamadya. Dan saya aktip membuat tulisan di suratkabar maupun tulisan berupa buku saat menjadi pelayan Kota Surabaya waktu itu, maka tidak usah saya percakapkan saat ini. Lagi pula cerita itu termasuk riwayat Kota Surabaya 1965-an sampai sekarang, tidak masuk sawala Surabaya 1900-1960. Jadi saya akhiri saja sawala saya ini. Semoga berguna. Amin.<br />
Terimakasih.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p style="text-align: justify;">Suparto Brata<br />
Jl. Rungkut Asri III/12<br />
Perum. YKP RL-I-C 17<br />
Surabaya 60293<br />
Telepon 8702759<br />
sbrata@yahoo.com<br />
www.supartobrata.com<br />
www.supartobrata.blogspot</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=678</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PANJEBAR SEMANGAT SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN SASTERA JAWA</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=668</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=668#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2010 07:24:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seminar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[MEDIA BERBAHASA DAERAH MENGHADAPI ERA GLOBAL DISKUSI AHLI OLEH STAF KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA DI HOTEL JW MARRIOT SURABAYA 25-09-2010 Narasumber Diskusi Ahli: Moechtar (Pemred Panjebar Semangat), Henry Subijakto (moderator), Suparto Brata dan Mbah Brintik. PANJEBAR SEMANGAT SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN SASTERA JAWA Oleh: Suparto Brata Ketika Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia mengumumkan bahwa bangsa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><strong>MEDIA BERBAHASA DAERAH MENGHADAPI ERA GLOBAL</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>DISKUSI AHLI OLEH STAF KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>DI HOTEL JW MARRIOT SURABAYA 25-09-2010</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/10/SB-2.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-669" title="SB 2" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2010/10/SB-2-1024x768.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Narasumber Diskusi Ahli: Moechtar (Pemred Panjebar Semangat),</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Henry Subijakto (moderator), Suparto Brata dan Mbah Brintik.</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>PANJEBAR SEMANGAT</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN SASTERA JAWA</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> Oleh: Suparto Brata </strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Ketika Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia mengumumkan bahwa bangsa Indonesia mulai sekarang bebas menekuni budayanya, boleh mengembangkan bahasa ibunya atau bahasa daerahnya masing-masing, warga negara Indonesia keturunan Tionghoa seperti bersorak sorai meluapkan kegembiraannya. Mereka secara terbuka mengembangkan budayanya dengan bebas, leang-leong yang zaman sebelumnya (zaman Orde Baru) diperam tidak boleh digelarkan, dipertontonkan secara besar-besaran oleh mereka dengan keterampilan yang ahli; bahasa Tionghoa bebas berkembang, di TV swasta nasional muncul sebagai pengantar warta berita, tulisan Tionghoa muncul di suratkabar nasional berbahasa Indonesia dalam rubrik-rubrik tetap dan khusus; etnis Tionghoa seperti bersukaria menepuk dada, “Kami bangsa Indonesia keturunan Tionghoa, dengan begini bisa hidup dengan makmur, bisa kaya, bisa leluasa mendapatkan kehidupan dengan menggunakan bahasa ibu kami, bahasa Mandarin!” Sementara bangsa Indonesia etnis Jawa, dengan kebebasan yang diumumkan Presiden Republik Indonesia berkeluh kesah, “Kami ahli berbahasa Jawa, tapi keahlian kami untuk apa? Bahasa Jawa tidak bisa digunakan untuk mencari kehidupan yang makmur. Tidak ada perusahaan besar yang pasang iklan: dibutuhkan ahli berbahasa Jawa dengan gaji besar. Bahasa Jawa tidak muncul di TV swasta nasional sebagai warta berita, hanya dikutip sebagai olok-olok lelucon. Tulisan Jawa Hanacaraka tidak berkembang seperti tulisan Tionghoa di mana-mana”. Diberi kebebasan mengembangkan budaya dan bahasa Jawa, orang Jawa mengeluh.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanggal 16 Maret 2006 sekitar jam 2 siang, saya menerima tamu di rumah saya Rungkut Asri Surabaya, Field Director Library of Congress Office, Southeast Asia, Embassy of The United States of America, William P. Tuchrello. Sehabis menghadiri tugas diplomatik di Surabaya, dia beserta isterinya yang keduanya masih berpakaian diplomatik, tamu tadi saya silakan masuk ke rumah. Sambil memberikan kartu namanya, Tuan tadi menjabat tangan saya, langsung memberondong percakapan dalam bahasa Indonesia yang jelas, “Bahasa Jawa hari ini dituturkan oleh 80 juta orang, tapi kok tidak ada buku bahasa Jawa di masyarakat. Saya mencari di mana-mana tidak menemukan. Apa Bapak bisa menerangkan?“. Tuan Tuchrello lalu menceritakan pengamatannya, bahwa bangsa-bangsa Asia Tenggara (Thailand, Burma, Kamboja, Malaysia) sekarang ini masih mengukuhi budaya asal-usulnya, dan mereka menganggap bahwa orang Jawalah yang paling masih kokoh menekuni budaya aselinya. Maka ada pergerakan di universitasnya untuk mengetahui kebudayaan Jawa tadi. Dan Tuan Tuchrello juga lalu ingin mengetahui bagaimanakah kebudayaan Jawa itu, yang paling tepat tentunya lewat bahasa Jawa. Akar dasar atau pusat ciri budaya suatu bangsa yaitu pada bahasanya. Lebih tepat lagi kalau dari bahasa (Jawa) itu dicermati penelitiannya dari bahasa tulisnya. Tetapi dia sudah mencari buku bahasa Jawa selama berbulan-bulan baik di Jakarta sebagai kota Ibukota, maupun di Solo dan Jogja sebagai pusat Ibu budaya bangsa Jawa, tidak menemukan buku bahasa (sastera) Jawa. Tuan Tuchrello menyempatkan singgah ke rumah saya ingin mengetahui risalahnya kepada saya. Saya dipilih untuk menerangkan karena menurut risetnya saya adalah orang yang bergelut dalam buku dan bahasa Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari dua cerita tersebut saja sudah bisa diamati bagaimana tanggapan orang Jawa terhadap bahasanya dan orang manca mengharapkan perihal bahasa Jawa. Orang manca mengharap dengan bahasa tulis (sasteranya) ciri-ciri budaya Jawa bisa ditilik.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahasa Jawa tulis (buku) dicari-cari, Tuan Tuchrello tidak menemukan. Apa memang tidak ada bahasa Jawa tulis? Apa tidak ada sastera Jawa yang bisa dianggap menyemarakkan aura ciri-ciri budaya Jawa? Diberondong pertanyaan begitu, jawab saya: ADA. Sebab sepanjang hidup saya hampir setengah abad belakangan ini, saya selalu menulis dalam bahasa Jawa, baik buku maupun pada media masa bahasa Jawa. Antara lain (yang tidak pernah jeda) di majalah Panjebar Semangat. Awal penulisan saya bahasa tulis (sastera) Jawa di Panjebar Semangat 1959, setengah abad yang lalu, sejak itu sampai sekarang pun saya tidak pernah lowong menulis di Panjebar Semangat. Menulis dengan tekun dan senang hati, tidak berkeluh kesah. Bahwa Tuan Tuchrello tidak menemukan buku (sastera) Jawa, memang tidak gampang menemukannya. Sebab para penerbit buku profesional komersial, tidak mau menerbitkan buku bahasa Jawa. Takut rugi. Orang Jawa tidak membaca buku bahasa Jawa, bahkan dari peristiwa pengumuman Presiden Republik Indonesia di atas, orang Jawa sendiri sudah tidak mau lagi berbahasa Jawa (kalau jadi ahlinya bahasa Jawa berkeluh-kesah), menganggap bahasa Jawa itu kuna, tidak ilmiah, ditinggalkan saja. Orang Jawa yang begitu menolak takdir. Dilahirkan sebagai orang Jawa, adalah takdir, kehendak Allah. Makanya orang itu tidak dilahirkan sebagai orang Amerika atau Israel. Tapi menampik berbahasa Jawa karena bahasa Jawa – katanya &#8212; tidak bisa digunakan untuk hidup modern. Dalam hati orang-orang seperti itu tentulah mengumpati Allah, kecewa kok dilahirkan sebagai orang Jawa. Tingkah perbuatannya cenderung (ingin) menghilangkan ciri-cirinya budaya Jawa dari pribadinya. Yang paling disemangati adalah tidak menggunakan bahasa Jawa, meskipun tidak bisa menghindar bahwa orang-orang itu tetap mencari sandang pangan dan kehidupan lainnya (kawin, beranak-pinak) tetap di Tanah Jawa sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;">Majalah Panjebar Semangat didirikan oleh Dokter Soetomo tahun 1933. Dokter Soetomo diakui sebagai pahlawan Kebangkitan Bangsa karena ikut memprakarsai mendirikan pergerakan Boedi Oetomo Mei 1908, membentuk Partai Parindra, menerbitkan suratkabar Soeara Oemoem, mendirikan Bank Nasional Indonesia, membangun kompleks Gedung Nasional sebagai pusat kegiatan politiknya, dan masih juga menolong menyembuhkan orang sebagai dokter. Namun Dokter Soetomo juga menerbitkan majalah Panjebar Semangat berbahasa Jawa, dibantu dengan jiwa-raga oleh Imam Supardi. Kreteria penerbitan majalah bahasa Jawa Panjebar Semangat waktu itu antara lain (yang terpenting) adalah: <strong>(1) Ditulis dengan huruf ABC (2) Bahasanya gancaran (tidak menggunakan guru lagu, guru wilangan, guru gatra) (3) Bahasa narasinya ragam ngoko.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Waktu majalah Panjebar Semangat didirikan (1933) saya baru berumur belum cukup dua tahun. Selama masa bocahku bersekolah di Sekolah Angka Loro, sejak masuk sekolah zaman Belanda sampai zaman Jepang (umur 7-13 tahun, 1938-1944) saya tidak bisa bicara bahasa lain kecuali bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan masyarakat sekitarku baik di sekolah maupun di luar sekolah, kaya dan sempurna untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran. Masyarakat sekelilingku berbahasa Jawa krama dan ngoko, menembang, menonton dan bertutur bahasa Jawa kuna (menirukan tuturan pentas wayang purwa) dan “modern” (kontektual zaman). Tidak ada hambatan atau kesulitan. Sedang buku-buku bahasa Jawa yang beredar di masyarakat maupun di perpustakaan sekolah banyak ditulis dalam huruf Hanacaraka. Huruf Hanacaraka masih sangat dominan untuk membuat surat maupun dicetak jadi buku. Meskipun begitu Dr. Soetomo sebagai pemimpin bangsa bersama dan dibantu dengan sungguh hati oleh Imam Supardi sebagai pengelola khusus menerbitkan majalah bahasa Jawa Panjebar Semangat dengan kreteria: <strong>(1) Ditulis dengan huruf ABC (2) Bahasanya gancaran (tidak menggunakan guru lagu, guru wilangan, guru gatra) (3) bahasa narasinya ragam ngoko. </strong>Dengan kreteria seperti itu, Dr. Soetomo sudah banyak menghilangkan beberapa kreteria bahasa dan sastera Jawa yang (sedang) populer zaman itu demi menyederhanakan masalah. Dengan penyederhanaan begitu diperkirakan majalah Panjebar Semangat akan bisa hidup makmur, banyak pelenggan dan pembacanya, sesuai dengan nama majalah bisa menyebarkan semangat kebangsaan (Jawa), panjang umurnya dan modern, yang berarti juga mempertahankan dan mengembangkan bahasa Jawa secara khusus dalam bidang pers dan sastera. Berkembangnya suatu bahasa dalam bidang pers dan sastera sejak dahulu hingga hari ini adalah merupakan ciri-ciri keluhuran bahasa bangsa-bangsa di dunia. Bangsa yang luhur mempunyai ciri bahasa sasteranya (bahasa tulisnya) berkembang indah. Dengan cara “menyederhanakan sastera Jawa lama” dalam penerbitan majalah Panjebar Semangat seolah-olah Dr. Soetomo sudah punya wawasan bahwa seperti itulah kemudian hari pers dan sastera Jawa masa depan, sekali gus sebagai bahasa tulis yang modern. Dan ternyata dalam perjalanan hidupnya Panjebar Semangat berumur panjang. Andaikata tidak disederhanakan (tetap menggunakan huruf Hanacaraka, susunan kalimatnya harus mengeterapkan guru lagu, guru gatra, guru wilangan sebagaimana sastera Jawa adiluhung berkembang tahun 1933, dan bahasanya ragam krama), maka mungkin sekali umur Panjebar Semangat tidak sampai hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada sejarah umurnya yang panjang tiap terbit Panjebar Semangat telah memuat berita dan cerita. Dalam hal cerita, dimuat jenis-jenis sastera yaitu geguritan, cerita pendek dan cerita bersambung. Dan terbitnya cerita tertulis itulah yang disebut sastera. Dalam sejarah penerbitan Panjebar Semangat sastera itulah yang paling memukau pembacanya, hingga selama terbitnya yang berumur panjang tadi Panjebar Semangat tidak pernah sakalipun meninggalkan memuat gurit, cerita pendek dan cerita sambung. Kalau media cetak lain (misalnya koran bahasa Indonesia) bisa terbit dengan hanya memuat berita saja (pers), Panjebar Semangat tidak mungkin berumur panjang kalau meniru penerbitan pers seperti itu. Dan dengan dimuatnya seni sastera (gurit, cerita pendek dan panjang) Panjebar Semangat telah melahirkan sasterawan bahasa Jawa seperti Imam Supardi, Srihadijaja, Soenarno Sisworahardjo, Poerwadhie Atmodihardjo, Soebagijo Ilham Notodidjojo, Sudarmo KD, Any Asmara, Widi Widayat, Satim Kadarjono, Esmiet, Tamsir AS, St. Iesmaniasita, Suryadi WS, Suparto Brata, dan lain-lain, yang selalu rajin menulis karya sasteranya di majalah Panjebar Semangat. Mereka itu para pengarang sastera Jawa tersohor pada zamannya. Namun tanpa ada terbitnya Panjebar Semangat, mereka akan berkaryasastera di mana? Tanpa Panjebar Semangat, mereka bukan sasterawan bahasa Jawa. Memang betul sejalan dengan terbitnya Panjebar Semangat juga ada majalah yang terbit punya pola kreteria seperti Panjebar Semangat (dicetak dengan huruf ABC, bahasa gancaran, narasi ngoko), tapi mereka itu umurnya tidak sepanjang Panjebar Semangat. Ada yang lahir bersamaan zaman (misalnya Dagblad Expres), ada yang lahirnya setelah Panjebar Semangat berumur panjang, seolah hanya meniru pola kreteria Panjebar Semangat saja. Jadi tetap majalah Panjebar Semangat adalah pelopor merintis pers dan sastera Jawa sepanjang usianya sejak lahir hingga masa kini, alias pers dan sastera Jawa “modern”.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai saat ini yang disebut sebagai zaman informasi global, Alhamdulillah majalah Panjebar Semangat masih terbit tetap dengan pola kreteria bertahan sebagaimana sejak dulunya. Yaitu memuat berita dan cerita, atau menjadi media pers dan sastera. Bahasanya tetap bahasa Jawa, kreterianya tetap, penyelenggaranya tetap (independent), sehingga merupakan penerbitan pers tertua di Indonesia. Namun, karena sifatnya yang bertahan itu maka juga mengalami penurunan pelenggannya (dengan sendirinya juga tirasnya) dan kepopulerannya, seolah-olah ketinggalan zaman. Orang Jawa generasi muda yang mengikuti gempuran gelombang zaman global dan tidak sempat mengamati dan menikmati penerbitan majalah Panjebar Semangat, menganggap bahasa dan sastera Jawa seperti yang dimuat di Panjebar Semangat kuna, dan tidak revelan mengikuti zamannya. Terjadilah seperti yang dikeluhkan orang Jawa setelah Gus Dur mengumumkan bangsa Indonesia bebas berbudaya. Padahal sebenarnya bukan soal bahasanya, bukan soal Panjebar Semangatnya, melainkan soal mereka tidak terlatih mengikuti perkembangan bahasa Jawa dan Panjebar Semangat. Karena tidak mengikuti, maka tidak menikmati, dan mengatakan tidak bisa menggunakan atau kuna. Sama dengan cucuku, menganggap menggunakan kendaraan mobil itu kuna, menjengkelkan. Karena dia terbiasa pergi dari kota ke kota menggunakan pesawat terbang. Apakah mobil itu kendaraan kuna bagi setiap orang? Persoalan seperti anggapan cucu saya bahwa mobil itu kendaraan kuna itulah apa yang terjadi pada Panjebar Semangat seperti sekarang. Dianggap kuna, tidak banyak yang mempergunakan sebagai kiat kehidupan masa kini alias modern. Penggemar dan pelengganan terus susut, generasi muda tidak menggunakannya lagi. Kalau dibiarkan dikelola tetap seperti itu, tentu saja akhirnya Panjebar Semangat akan punah juga. (Dengan murahnya tarif pesawat terbang, kendaraan bus sudah tidak mendapatkan penumpang lagi).</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu sebab terbesar dari hilangnya kepopulerannya adalah karena orang Jawa menolak takdirnya seperti yang diuraikan pada awal makalah ini. Lalu, apa perlu terbitnya Panjebar Semangat dipertahankan bahkan dikembangkan, atau dibiarkan seperti sekarang ini, mati perlahan-lahan?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya yang sekarang disebut-sebut sebagai Begawan Sastera Jawa yang setidaknya juga dikenal menjadi salah seorang dari 5000 orang terkenal di dunia tahun 1998 (Five Thousand Personalities of the World) karena sampai detik ini masih bergembira mengarang cerita bahasa Jawa, bergabung dengan majalah Panjebar Semangat tahun 1959. Mengarang cerita sambung bahasa Jawa pertama kalinya untuk ikut sayembara menulis di Panjebar Semangat, langsung mendapat juara nomer satu (cerita sambung Kaum Republik). Dan sejak itu saya menjadi kecanduan menulis cerita (sastera) Jawa, terutama dimuat di Panjebar Semangat, karena waktu itu Panjebar Semangat mempunyai pelenggan yang amat besar sebagai media cetak di Indonesia. Panjebar Semangat mempunyai pelenggan 70-80 ribu, tersebar sampai pelosok tanahair, sementara media cetak bahasa Indonesia paling banter tirasnya hanya 20.000 dan beredar di kota-kota besar saja. Dalam menulis cerita di Panjebar Semangat, meskipun saya juga menguasai bahasa Jawa tembang/gancaran, ragam krama/ngoko, baca tulis Hanacaraka/ABC, namun saya hanya mengikuti apa yang ditetapkan oleh Panjebar Semangat 1933/Dr.Soetomo (yaitu ditulis dengan huruf ABC, tanpa guru lagu guru wilangan guru gatra, narasinya ragam ngoko, yang kemudian kami mupakati sebagai penulisan sastera Jawa modern – konvensi Sasanamulya 1979) cara penulisan tadi mengantarkan saya menjadi pribadi seperti sekarang. Mengarang dengan bahasa Jawa tidak merasa kuna. Buku-buku saya yang dulu merupakan cerita sambung dimuat di Panjebar Semangat, diterbitkan tahun 2009 terjual laris. Dan selanjutnya sepanjang kehidupan saya sebagai pengarang sastera Jawa saya memperjuangkan sastera Jawa tidak saja menjadi sastera yang dimuat di majalah, tetapi juga sastera Jawa menjadi sastera yang diterbitkan jadi buku. Itu karena sejak semula saya mengenal sastera (Jawa, Indonesia, Dunia) adalah ditulis pada buku. <strong>Sastera adalah buku.</strong> Sastera buku dibaca oleh orang sedunia. Maka saya pun berusaha mengarang sastera Jawa berwujud buku, sebagai pemenuhan syarat bahwa sastera Jawa juga anggota sastera dunia. Saya maklum akan kebingungan Tuan Tuchrello geragapan bertamu ke rumah saya menanyakan keberadaan buku sastera Jawa, karena sangat minimnya sastera Jawa diterbitkan menjadi buku. Penerbit buku profesional komersial tidak mau menerbitkan buku sastera Jawa karena sulit laku. Jarangnya buku sastera Jawa, gejalanya lagi-lagi, karena orang Jawa menolak takdir. Malu berbahasa Jawa karena berbahasa Jawa dianggap kuna, tidak bisa digunakan sebagai kiat hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan alasan yang sama, maka apakah majalah semacam Penjebar Semangat (bahasa Jawa) juga akan dibiarkan hilang seperti buku sastera Jawa?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tetap bersemangat mengarang sastera Jawa bukan saja karena saya hanya bisa mengarang dalam bahasa Jawa (hal itu memang keahlian saya), melainkan serta merta juga mengingat tentang kesemarakan budaya dunia. Ingin <em>memahayu-hayune bawana.</em> Ingin menikmati indahnya keaneka-ragaman dunia, bagi saya khususnya indahnya keaneka-ragaman sosial-budaya di mana budaya-sastera Jawa ikut berperan aktif menyemarakkannya. Selain menikmati, saya ikut urun mengembangkan kaidah keindahan dunia tadi. Saya sangat bersyukur dan gembira mampu menjalankan peran saya mengembangkan sastera Jawa, kegiatan yang sesuai benar dengan anugerah Allah yang saya terima, yaitu kemampuan pribadi saya berkarya sastera Jawa. Dan saya yakin benar bahwa anugerah Allah yang saya terima sebagai pribadi yang mampu berkarya sastera Jawa itu TIDAK JATUH DARI LANGIT SECARA TIBA-TIBA, melainkan melalui pelatihan penulisan yang bertahun-tahun saya upayakan, saya biasakan, saya budayakan tanpa jeda sepanjang perjalanan umur. Allah selalu Memberi apa yang kita inginkan dan mampu mengerjakan serta kita upaya-kerjakan dengan sungguh-sungguh. Saya ingin sastera Jawa yang mengandung segala ciri-ciri budaya bangsa ikut mewarnai aneka ragam keindahan sastera dunia. Sastera Jawa juga anggota sastera dunia. Harus ada wujudnya. Wujud keanggotaannya, yaitu dibaca sebagai sastera dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Indonesia sebanyak 726 bahasa daerah ditengarai terancam punah akibat globalisasi dan perkembangan teknologi yang cenderung makin canggih dan meluas (Drs. Bagong Suyanto, Msi, 2008). Di sisi lain, yaitu mereka yang prihatin tapi tetap berusaha menanggulangi lunturnya bahasa Jawa, sangat merasa sayang dengan perkembangan tadi. Mereka ingin bahasa Jawa itu dilestarikan, dikembangkan, digunakan untuk alat komunikasi antarkeluarga/etnis/bangsa/dunia. Dengan berbagai alasan foundamental sosial budaya, mereka berjuang mempertahankan dan menumbuhkembangkan bahasa Jawa. Berbagai cara ditempuh, terutama memberi pemahaman pentingnya bahasa Jawa bagi identitas dan kiat kehidupan berbangsa. Fungsi dan kebesaran bahasa Jawa masa lalu, yang kini masih berlaku, dan harapan masa depan digali, diwacanakan perkembangannya. Dipacu semangat penggiatannya menggunakan folklor, simbul atau semboyan. Misalnya: <em>Bahasa menunjukkan bangsa, dan bahasa Jawa yang hukumnya penuh unggah-ungguh akan membuat penuturnya berlaku sopan-santun. </em>Sangat baik untuk mengendalikan tingkah-laku putra bangsa yang akhir-akhir ini sangat beringas. <em>Bahasa Jawa tidak kuna. Bahasa daerah adalah identitas kebesaran budaya bangsa, sehingga UNESCO pun menciptakan peringatan Hari Bahasa Ibu (22 Februari), agar aneka budaya dunia tidak lenyap jadi satu ragam saja (global satu budaya).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Serta merta untuk itu saya tetap mengarang sastera Jawa. Dan majalah bahasa Jawa (Panjebar Semangat, Jaya Baya, Djaka Lodang, dan lain-lain), saat ini dan yang akan datang, tetap menjadi ajang penulisan sastera Jawa, sekalipun mungkin tidak memberikan keuntungan finansial. Oleh karena itu keberadaannya masih sangat diperlukan untuk penciptaan karya sastera, dan mempertahankan ciri-ciri identitas bangsa. Dengan adanya ajang penciptaan sastera Jawa, maka sastera Jawa akan berkembang dan berkembangnya menuju kualitas yang lebih baik. Sastera menurut para ahli, misalnya Horace: <em>dulce et utile </em>(menyenangkan dan berguna). Gianbattista Vico: <em>Pulchrum continetur in bono. Bonum enum quod placet. Pulchrum authem estquod visum placet </em>(yang indah biasanya bersatu dengan kebaikan).</p>
<p style="text-align: justify;">Salain terancam punah karena tidak dituturkan, bahasa Jawa tulis meskipun sudah disederhanakan seperti niat-niat Dr.Soetomo menerbitkan majalah Panjebar Semangat, juga akan tidak dibaca. Karena menurut penelitian Dr. Taufik Ismail 1996, putera bangsa lulusan SMA membaca 0 buku. Sama sekali tidak punya budaya membaca buku.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut pengamatan saya sebagai orang yang selalu bergelut dengan buku (tiada hari tanpa menulis buku, tiada hari tanpa membaca buku) kiat manusia untuk memenuhi kepuasan hidupnya itu bisa digolongkan menjadi tiga. <strong>(1)</strong> Mereka yang memenuhi kepuasan hidupnya hanya menggunakan kodratnya, yaitu mencapai kepuasan hidupannya hanya dengan kekuatan inderanya (panca indera, antara lain melihat dan mendengar), mereka itu hidup seperti halnya <strong>binatang.</strong> Mau makan, mau kawin, mau memuaskan hidupnya yang lain hanya menggunakan kekuatan kodratnya. Contohnya para profesional pelacur, pengemis, penyanyi kalau caranya menyanyi tanpa alat (musik). <strong>(2)</strong> Mereka yang memenuhi kepuasan hidupnya selain dengan kekuatan kodratnya juga menggunakan alat. Misalnya mata pencahariannya jadi sopir maka dia menggunakan mobil. Mata pencahariannya petani, dengan panca inderanya melihat cara mengerjakan sawah orang lain bisa meniru menyuburkan sawahnya dengan alat mencangkul, seperti halnya orang-orang primitif zaman dulu. Mereka saya namai <strong>Manusia Kodrati.</strong> <strong>(3)</strong>. Mereka yang memenuhi kepuasan hidupnya selain mengandalkan panca inderanya dan menggunakan alat-alat, juga punya kiat budaya membaca buku dan menulis buku. Misalnya mata pencahariannya sebagai sasterawan, dosen, dokter, insinyir, hakim. Mereka tidak mungkin berprofesi menjadi seperti itu kalau tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku. Karena itu saya sebut <strong>Manusia Sasterawi.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk memuaskan hidupnya tiap makhluk rumusnya:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Binatang (insting-kodrat).</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Manusia primitif atau kodrati (insting-kodrat-indrawi +  menggunakan alat).</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Manusia modern atau sasterawi (insting-indrawi + menggunakan alat +</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>membaca buku dan menulis buku).</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalau rumus itu kita terapkan pada riset Dr. Taufik Ismail 1996, maka putera bangsa Indonesia selama ini termasuk golongan orang primitif yang hidup di zaman modern. Mereka memuaskan hidupnya tidak dengan membaca buku (sastera), hidupnya sama dengan orang-orang primitif zaman dulu. Karena tidak membaca sastera maka keberadaan majalah Panjebar Semangat pun tidak terjamah oleh mereka. Harap maklum.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menangkal keprimitifan manusia Indonesia seperti hasil riset Dr. Taufik Ismail, yaitu manusia (putera bangsa) yang bodoh dan miskin (yang tidak bisa berprofesi modern seperti jadi dokter, insinyir, hakim), sebaiknya putera bangsa Indonesia harus dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Membaca buku dan menulis buku bukan kodrat (bukan seperti melihat dan mendengar). Membudayakan membaca buku dan menulis buku tidak bisa hanya dibimbingkan-belajar selama setahun seperti halnya les matematika. Menurut pengalaman saya yang sampai hari tua ini giat membaca buku dan menulis buku, cara membudayakan putera bangsa membaca buku dan menulis buku harus dididik atau dibelajarkan selama 12 tahun awal usia sekolah. Berarti sejak kelas 1 SD sampai kelas 12 SMA. Dengan pendidikan seperti itu, maka riset Dr. Taufik Ismail bahwa sampai lulus SMA putera bangsa tidak membaca buku sama sekali, akan tertangkal. Dengan lulus SMA putera bangsa punya budaya membaca buku dan menulis buku (seperti yang saya alami sekolahku zaman Belanda, Jepang dan Orde Lama, 1938-1950) maka putera bangsa tidak lagi jadi manusia kodrati (primitif), berubah menjadi manusia sasterawi. Dan kalau dalam pendidikan membaca buku di sekolah itu sastera Jawa juga dijadikan mata pelajaran (utamanya untuk Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI Jogjakarta yang penutur bahasa Jawanya masih berjumlah 80 juta orang lebih), maka generasi muda tentu juga akan rajin membaca Panjebar Semangat dan buku-buku sastera Jawa. Problem orang Jawa berkeluh kesah bertutur bahasa Jawa tidak berguna, Insyaallah akan terhapus. Untuk mempertahankan, melestarikan, mengembangkan bahasa dan sastera Jawa dengan niat-niat menjungjung tinggi budaya Indonesia diperlukan patriot budaya bangsa. Maka harus ditempuh pembudayaan seperti pengalaman saya itu (sejak 12 tahun umur bersekolah diajarkan membaca buku dan menulis buku tiap hari tanpa jeda. Di mana? Di sekolah. Tidak di bimbingan belajar selama tiga tahun atau di tempat lain).</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah pengamatan saya tentang bahasa Jawa, sastera Jawa, selama saya ikut giat menyumbangkan karya sastera bahasa Jawa. Majalah Panjebar Semangat, tetap menjadi acuan saya untuk melatih kemampuan, kecerdasan, kreativitas dan innovasi dalam berkarya. Mudah-mudahan Panjebar Semangat tetap berfungsi begitu untuk masa-masa selanjutnya. Para patriot budaya bangsa Indonesia harus juga ikut giat mempertahankan bahkan ikut campur mengembangkan Panjebar Semangat itu, apa pun kedudukannya baik sebagai rakyat jelata, maupun pejabat negara.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah yang ada di benak saya. Itulah harapan saya. Semoga diapresiasi dan terkabul menjadi kenyataan. Amin.</p>
<p style="text-align: justify;">Rungkut Asri Surabaya,  12-14 September 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=668</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wong Jawa Ilang Jawane</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=315</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=315#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 12:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seminar]]></category>
		<category><![CDATA[balai soedjamoko solo]]></category>
		<category><![CDATA[house of danar hadi]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[wong jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Makalah pada seminar WONG JAWA ILANG JAWANÉ (Balai Soedjatmoko Solo &#38; House of Danar Hadi 14 Juni 2009) Menurut cerita Ibuku, saya lahir di Centrale Burgere Ziekenhuis (CBZ) Surabaya, hari Sabtu Legi, bulan Sawal tahun Jé. Itu diucapkan tiap kali. Ketika saya masuk sekolah, ketika saya umur 7 tahun, ketika jadi pelajar, ketika saya nikahan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Makalah pada seminar<br />
WONG JAWA ILANG JAWANÉ<br />
(Balai Soedjatmoko Solo &amp; House of Danar Hadi 14 Juni 2009)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut cerita Ibuku, saya lahir di Centrale Burgere Ziekenhuis (CBZ) Surabaya, hari Sabtu Legi, bulan Sawal tahun Jé. Itu diucapkan tiap kali. Ketika saya masuk sekolah, ketika saya umur 7 tahun, ketika jadi pelajar, ketika saya nikahan. Pernah juga tiap hari Sabtu Legi dibikinkan sesajen ketan 3 warna, dan kembang setaman. Itu kata Ibu. <em>Dongenge Sibu</em>. Sedikit demi sedikit saya selidiki, saya lalu mengerti, bahwa saya dilahirkan di RSUP Surabaya, tanggal Masehinya 27 Februari 1932. Penyelidikan lebih lanjut, hari itu juga lahir seorang bayi perempuan, yang kemudian hari jadi perempuan cantik jelita dan termasyur, yaitu Elizabeth Taylor. Sejarahnya lebih lanjut, CBZ itu adalah yang sekarang menjadi Surabaya (Delta) Plaza. Sebuah plaza di tengah Kota Surabaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan saya tuliskannya “dongeng” Ibu saya itu, (juga saya tulis pada beberapa bukuku), maka “dongeng” itu diketahui oleh masyarakat sekarang, oleh pembaca bukuku. Menjadi abadi, dapat ditelusuri setiap saat. Padahal, kalau tidak saya tulis, “dongeng” Ibu itu, tempat-tempat yang ditunjukkan Ibu, saksi-saksi dalam “dongeng” Ibu, hilang musna.</p>
<p><span id="more-315"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Segala apa yang saya alami, saya lihat, saya dengar, saya rasakan, yang merupakan riwayat hidup dan budaya serta peradaban masyarakat yang terlibat, akan lenyap tak terketahui lagi. Tetapi karena saya tulis, menjadi karya tulis buku, maka dapat diketahui oleh orang-orang generasi selanjutnya. Padahal, sampai hari ini, umur saya 77 tahun, saya telah menulis banyak buku, saya jadi pengarang, penulis cerita, atau istilah elitenya sasterawan. Saya telah menulis sastera.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Goldmann (1977;99) karya sastra yang sempurna adalah karya sastra yang didasarkan atas keseluruhan kehidupan manusia, yaitu pengalaman subjek kreator (pengarang) sebagai warisan tradisi dan konvensi. Sastra menyajikan kehidupan, dan kehidupan tersebut sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial walaupun karya sastra juga meniru alam dan dunia subjektif manusia. Ada kesamaan antara sosiologi dengan sastra sehingga teks sastra dapat dikaji melalui pendekatan sosiologi (Wellek &amp; Warren, 1989;109).</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak saya pungkiri, bahwa sebanyak itu buku yang saya tulis, sebagian besar saya kutip dari pengalaman saya, apa yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, yang terkesan jelas di ingatan saya. Padahal hidup saya mengarungi zaman Belanda, zaman Jepang, Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, zaman perjuangan kemerdekaan, zaman Orde Lama, Orde Baru, dan sampai sekarang. Tentu saja ditambah pengetahuan dari bacaan saya. Justru dari pembacaan itu awalnya saya jadi punya keterampilan dan kegemaran menulis. Kalau begitu, dengan kegemaran saya membaca buku dan menulis buku, saya sudah “mengabadikan” dan “mempertahankan” warisan tradisi dan konvensi sosial budaya masyarakat zaman-zaman yang saya lalui. Yaitu zaman dengan budaya masyarakatnya orang Jawa. Saya dilahirkan sebagai orang Jawa, ketika kecil hidup di lingkungan bangsawan, di Kota Kerajaan Surakarta Hadiningrat, diperlakukan dan bertingkahlaku cara Jawa, berbicara bahasa Jawa, membaca dan menulis bahasa Jawa. Banyak suka-dukanya yang saya lakoni, namun setelah lampau dan kini kukenang, maka kehidupan saya itu sangat indah. Sayang sekali zaman bergeser, keindahan yang kualami tidak berlaku lagi pada zaman sekarang. Tata kota, peradaban, bahkan bahasa Jawa, yang sekarang kukenang begitu indah, sudah tidak trend lagi untuk digunakan. Alangkah sayangnya. Karena rasa sayang itulah mungkin, barangkali, saya selalu ingin menuliskan kisah-kisah kehidupan yang saya saksikan, saya alami, saya ketahui, dalam sastra Jawa dan sastra Indonesia, atau karya tulis buku..</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah, dalam waktu yang panjang, saya berpikir, bahwa hidup saya ini <em>sarwa kebeneran</em>. Kebetulan saya lahir sebagai orang Jawa. Bangsawan. Hanya orangtua tunggal (ibu) yang tidak punya warisan kekayaan maupun ketrampilan. Kebetulan Ibu mengajakku hidup di Sragen (desa). Kebetulan disekolahkan di Sekolah Angka Loro yang pelajaran membaca dan menulisnya bahasa Jawa huruf Hanacaraka. Kebetulan sebagai Ibu dan saya yang hidup berduaan di desa, malam hari ngeloni saya dengan membaca buku macapat <em>Wong Agung Menak.</em> Kebetulan di sekolah itu pelajaran membaca buku dan menulis halus diajarkan tiap hari sejak kelas 1 hingga kelas 5. Kebetulan murid kelas 4 diwajibkan pinjam buku di perpustakaan, dan diuji buku tadi dibaca atau tidak. Kebetulan Jepang datang. Kebetulan ibu melamar jadi PRT di Surabaya. Kebetulan saya hidup di zaman Revolusi. Kebetulan saya menangi zaman Orde Lama di Surabaya. Kebetulan langka buku bahasa Indonesia terbit, sehingga saya cari buku bacaan bahasa Inggris. Membacanya susah payah, tapi kok kebetulan bukunya ada di lowakan. Kebetulan terbit majalah Kisah, Siasat, Mimbar Indonesia yang saya mampu berlengganan dan belajar menulis sastra di situ. Kebetulan saudara sepupuku yang berlengganan Panjebar Semangat menyuruh saya ikut sayembara menulis cerita sambung di majalah bahasa Jawa. Kebetulan dengan berbekal bacaan saya bahasa Inggris saya membacai cerita detektip, dan saya cakkan di bahasa Jawa hebat sekali. Ya, kebetulan, kebetulan, kebetulan sebagaimana kodratnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kemudian saya berubah. Karena kegemaran saya membaca buku dan menulis (buku), bukanlah kodrat. Saya di sekolah diajari, dibimbing, dibiasakan setiap hari, dibudayakan membaca buku dan menulis (buku). Jadi, kebudayaan saya membaca buku dan menulis buku sehingga sampai sekarang berusaha mengembangkan sastra Jawa sebagai bacaan dunia, harus saya capai dengan latihan-latihan. Pengalaman, <em>weruh lan krungu</em>, memang kodrat. Tetapi membaca dan menulis, bukan kodrat. Harus ada pembelajarannya, latihannya, memberbudayakannya. Akhirnya, pengalaman hidup saya itu tidak kebetulan, <em>ora sarwa kebeneran,</em> karena saya raih dengan pencapaian juga, yaitu pelajaran membaca buku dan menulis (buku) yang terus-menerus tiap hari selama 12 tahun sekolah dasar. Maka ungkapan <em>sarwa kebeneran</em> itu jadi <em>kersaning Allah.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sampai umur 77 tahun ini, saya mendapat tiga hadiah terbesar dari Allah, yaitu <em> (1) sehat wal’afiat (2) bebas memilih, (3) mempu membaca buku dan menulis buku</em>. Menyadari akan hal itu, maka tiga hadiah besar tadi saya anggap sebagai <em>amanah,</em> harus<em> ibadhah</em>, dan Alhamdulillah<em> barkah</em>. Setidaknya dengan anggapan seperti itu saya wajib menulis buku, yang menceritakan hal-hal yang berkenaan dengan pengalaman hidup saya, yaitu saya sebagai orang Jawa, lahir di Jawa, bergaul dan berbahasa Jawa, dan bercita-cita sastra Jawa jadi bacaan dunia, riwayat serba Jawa jadi perpustakaan dunia. Dengan dipustakakan segala yang Jawa, maka Jawa tidak hilang dari dunia, melainkan abadi dan mungkin sekali malah bertkembang. Dinasorus mati beribu tahun yang lalu diketahui kehidupannya karena meninggalkan fosil, manusia Jawa mati 100 tahun yang lalu dapat ditilik gerak sosial kehidupannya karena meninggalkan tulisan-tulisan pada buku. Misalnya karya tulis buku Ranggawarsita.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengetahui Serbajawa yang saya alami dan ketahui yang saya kutip dalam buku-buku karya tulis saya, berikut saya kutipkan riwayat singkat keberadaan saya:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1932</strong> lahir di Surabaya, sebagai anak nomer 8. Karena waktu saya lahir Bapak yang sudah diikuti oleh Ibu selama itu (sampai lahir anak ke 8 ) tidak punya tempat tinggal dan tidak punya pekerjaan, maka umur 6 bulan saya dibawa Ibu pulang ke habitatnya. Yaitu di Istana Jayaningratan. Eyang Putri Gusti Jayaningrat, adalah adik Eyang Putri saya, Eyang Putri Prajasuwarna (Prajasuwarna adalah suami yang kedua). Eyang Gusti punya putra putri Bu Gusti (Suryabrata), Eyang Putri punya anak Ibu saya. Sejak kecil Bu Gusti dan Ibu bertempat tinggal di Jayaningratan. Maka ketika umur 6 bulan dibawa ke Surakarta, saya dibawa ke habitat Ibu, Jayaningratan, hidup di sana.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1932-1936</strong> di Jayaningratan. Meskipun sekecil itu, saya ingat Dalem Jayaningrat itu bentuknya bagaimana, ada pintu gerbangnya yang dilalui kereta kuda, pintunya besar, kalau ditutup masih ada pintu kecil yang bisa dilalui orang. Di halaman yang luas ada pohon sawo kecik. Di halaman belakang ada pohon duwet gentong, disebut gentong karena buahnya besar-besar. Di sekeliling istana dialiri serokan yang airnya mengalir kebiru-biruan. Ada kakus umum untuk para abdi dalem terletak di sudut belakang barat-laut, bentuknya terbuka hanya dengan diberi atap. Para yang buang hajat bisa buang hajat berjemaah sambil omong-omong. Bukan hanya benda mati budaya yang terkesan, tapi juga tingkah laku manusianya. Saya ingat misalnya, kalau duduk bersila yang benar, kaki kanan di depan. Menghadap para bangsawan harus laku-dodok. Kepada Ibu saya harus berbahasa Jawa krama, bahasa ngoko hanya kepada orang yang sedrajat atau lebih rendah derajatnya dari saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1936-1937</strong> karena Kanjeng Pangeran Jayadiningrat wafat, maka Eyang Gusti (garwanya) beserta keluarga seluruhnya (termasuk Eyang Putri, Ibuku dan saya) pindah ke rumah menantunya (suami Bu Gusti) yaitu Kanjeng Pangeran Suryabrata di Gading Kulon 121. Saya sudah lebih tua, lebih banyak yang saya alami, lihat, dengar. Bentuk bangunannya di depan ada tembok setinggi 4 meter, ada pintu gerbangnya bercat hitam dua tempat, di barat dan timur. Di sebelah barat ada rumah loteng yang digunakan untuk surau. Di sebelah timur ada rumah loteng yang katanya (saya tidak pernah lihat) untuk gudang senjata. Di sebelah depannya tembok pinggir jalan raya ada halaman, ada sederet pohon kelapa. Ibu dan saya dapat kamar di belakang, menghadap halaman yang ada sumurnya di sebelah timur. Saya pernah sakit mata hingga tidak bisa melihat sama sekali (bèlèken). Ke mana-mana digendong Ibu. Dan digoda oleh ndrajeng-ndrajeng putra putri Kanjeng Pangeran Suryabrata. “Siapa aku?” Saya lempar dengan roti yang sedang saya makan, “Ndrajeng Sarwosri! Ndrajeng Ambar!”. Meskipun akhir tahun Ibu menetapkan hidupnya pindah ke Sragen mengikuti anjuran kakak iparnya (mbakyunya Bapak) dalam usaha merapatkan diri ke keluarga suami (Bapak), tetapi sampai zaman Jepang Ibu masih sering mengajak saya pergi ke Istana Suryabratan, cukup dewasa saya mengetahui kehidupan di Suryabratan. Kanjeng Pangeran Suryabrata dibuang ke Ambon oleh Sinuwun X, makanya selama hidup di Suryabratan yang saya ketahui hanya istri-istri serta putri-putrinya saja. Putra lakinya hanya seorang, Ndaramas Teguh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1937-1941</strong>, bersama Ibu seorang menempati rumah di Pasar Kebo Sragen. Ibu mengikuti saran iparnya (Bu Pus) bertempat tinggal di Sragen, ternyata Bu Pus bersama anaknya (Saparas) pindah rumah ke Pati. Hidup sendiri bersama Ibu yang tidak punya keterampilan apa-apa, saya masuk sekolah desa (Sekolah Angka Loro di Sragen Wetan). Hidup bermain dengan anak-anak desa, ya ikut angon kambing, mandi di sungai, mencari cengkerik malam hari di kebun orang, nonton wayang semalam suntuk. Kehidupan cara desa waktu itu saya alami benar-benar. Dari Pak Guru di sekolah saya tahu hidup para petani waktu itu dihargai dua sen per hari per jiwa. Saya menyaksikan sendiri bagaimana para gadis-gadis desa memocok tebu (memilih ruas tebu yang mulai tumbuh tunasnya untuk ditanam), mereka itu digaji sehari dua sen. Saya menunggui mereka, karena ruas tebu yang dibuang, boleh diambil oleh anak-anak (termasuk saya) dan dimakan. Malam hari, Ibu mengantar tidur saya dengan tiduran membaca macapatan (dinyanyikan) buku Wong Agung Menak, saya ikut menyemaknya. Pada sepenggal cerita harus ganti tembang, Ibu seringkali tebak-tebakan, dengan kalimat akhir dari penggalan cerita terdahulu, maka tembangnya harus ganti tembang apa. Tembang cerita berikutnya selalu dibikin sandi dari tembang yang ceritanya berakhir. Misalnya akhir tembang cerita akhir ada kalimatnya ‘kemambang kèli’ maka penggalan cerita barunya digubah tembang Maskumambang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1941-1942</strong>, karena suasana mau perang mulai terasa, misalnya di kampung-kampung diadakan latihan menyelamatkan diri dari bahaya bom dari udara, lampu harus padam, dan lain-lain, Ibu ketakutan. Bingung karena tidak ada lagi sanak saudara yang bisa <em>dingèngèri,</em> maka Ibu melamar pekerjaan jadi PRT pada Bupati Sragen, KRT. Mr. Wongsonegoro. Ibu dan saya masuk ke Dalem Kabupaten. Ibu menjadi pengasuh (emban) Ndrajeng Sri Danarti, putri ke 4 yang sudah sekolah di SMP di Solo, sedang saya menjadi<em> batur</em> Ndaramas Tripomo, yang sekolah di ELS (Europeesche Lagere School) Sragen. Ke mana pun Ndaramas Tri pergi, saya harus ikut. Karena Ndaramas Tri ini nakal sekali, maka saya sering berontak, lebih baik seharian pergi dari Dalem Kabupaten. Pagi berangkat sekolah (Angka Loro) langsung tidak pulang sampai malam hari, yang saya perkirakan tidak bakal ketemu dengan Ndaramas Tri. Saya lebih suka bermain-main dengan teman-teman lama di Pasar Kebo. Seringkali tidak makan seharian siang hari, karena ya tidak ada orang yang memberi makan. Tapi pulang di Dalem Kabupaten, Ibu pasti sudah menyiapkan makanan yang enak-enak, yang diperoleh dari <em>lorotan</em> (sisa-sisa makanan) keluarga Ndara Kanjeng. Misalnya bakmi, panggang ayam, buahnya durian dibakar, mempelam. Makanan yang bergisi. Suasana lain, setelah jadi <em>baturnya</em> Ndaramas Tri sudah agak mereda, damai, yaitu suasana membaca majalah dan buku. Waktu itu saya sudah kelas 4, di sekolah sudah ada wajib pinjam buku perpustakaan sekolah, dan Gusti (Nyonya) Wongsonegoro suka menyuruh saya pinjam-pinjam buku sekolah, sedang Ndrajeng Tanti, (putri ke 5) yang juga sekolah di ELS Sragen juga suka sekali membaca buku, hingga suasana baca-membaca buku menjadikan kegairahan saya. Persahabatan saya dengan Ndrajeng Tanti menjadi lebih akrap karena sama-sama suka membaca buku dan didiskusikan bersama. Dan karena Mr. Wongsonegoro menyewa<em> post-trommel</em>, kotak yang berisi majalah-majalah tiap minggu diganti, maka saya mulai mengenal bahasa Belanda. Ndrajeng Tanti dengan semangat sering menterjemahkan cerita-cerita di majalah bahasa Belanda tadi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1942-1945</strong>, Jepang masuk, akhirnya Mr. Wongsonegoro dipindahkan jadi Fuku Syucokan di Semarang. Sebelum Mr. Wongsonegoro dipindahkan ke Semarang, Ibu sudah keluar dari Dalem Kabupaten, dan lalu melamar jadi PRT pada Ndrajeng Sarwosri (putra putrinya Suryabratan) yang menjadi istri Mas Soeharto Suryohartono di Surabaya. Alasan Ibu, ikut Mr. Wongsonegoro sudah tidak nyaman lagi (suasana pendudukan Jepang, menekan kehidupan di Dalem Kabupaten Sragen), dan ingin mendekat ke pihak Bapak yang punya saudara di Surabaya (Bu Lik Wibisono di Gersikan Surabaya) dan Bapak masih berkutat di daerah Jawa Timur (Malang, Sidoarjo, Probolinggo). Selain saudara dari Bapak, kakak saya R.M.Soewondo (anak nomer 4 usianya 10 tahun lebih tua daripada saya ~ <em>wafat di Bandung tanggal 15 Juni 2009, selagi saya pulang dari Seminar di Solo ini ke Surabaya) </em>konon sudah bekerja. Jadi Ibu ingin tidak lagi selalu menjadi PRT, tapi berumahtangga sendiri dengan puteranya (saya dan Mas Wondo). Sebagai anak PRT, saya di Surabaya sekolah di SR.Moendoeweg, sekolahnya anak-anak kampung. Maka saya segera akrap dengan anak-anak kampung Surabaya. Menggunakan bahasa Surabaya, melakukan apa yang dialami oleh anak-anak kampung Surabaya, tapi juga terkendali sebab saya tetap ikut bergaul serumah dengan keluarga bangsawan Jawa (puteri Kanjeng Pangeran Suryabrata).</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah kehidupan saya berlanjut (untuk cermin kehidupan saya di Surabaya zaman Jepang, kunjungi <a href="http://supartobrata.com">www.supartobrata.com</a> <em>Surabaya no Monogatari)</em>. Tetap bergaul dengan “rakyat rendahan” Jawa, tapi juga terkendali karena berasal dari bangsawan Jawa. Nilai-nilai budaya rendahan juga saya alami, saya saksikan, saya lihat dan saya dengar, (mencari pocokan tebu, mandi di kali, ikut andhokan merpati, tahu caranya ramai-ramai minum towak, biasa mendengarkan dan terlibat dialog bahasa Surabayan). Tapi juga pergaulan dengan keluarga di rumah yang ningrat dan sopan, misalnya bicara kepada siapa harus krama atau ngoko, memanggil seseorang pun harus disebutkan panggilannya yang sesuai drajatnya dilihat dari sudut pandangnya. Saya selalu memanggil nama orang lain pakai awalan <em>Mas, Mbak, Bu, Pak, Jeng, Dhimas, Nakmas, Ndrajeng, Ndaramas</em>. Ini mendarah daging saya sebagai orang Jawa. Semua saya lakukan tanpa kesukaran ataupun keberatan apa pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendeknya baik riwayat hidup saya sebelum ke Surabaya, maupun setelah jadi orang Jawa dewasa hingga tua, tata kehidupan saya tetap berorientasi mau pun terlibat langsung dengan<em>wong Jawa, di Tanah Jawa, pada keluarga ningrat maupun rendahan</em>. Semua penuh tantangan dan kegembiraan kalau sudah berhasil dilewati. Dan nyatanya saya kini hidup sampai tua, meski zaman terus bergeser, peralatannya untuk hidup kian beraneka dan canggih untuk menopang kehidupan. Tetapi segala peradaban hidup sepanjang umurku yang Jawa, yang saya kenang dengan rasa keindahan dinamika kehidupan dengan cara mengalami sendiri, menyaksikan, menonton dan mendengarkan, itu semua akan lenyap tanpa ada bekasnya. Apalagi orang-orangnya (pelaku budaya) juga berganti. Dengan berkembangnya teknologi, membeludaknya pengaruh global, yang semuanya tadi untuk merangsang kehidupan masa kini, yaitu mengecap kehidupan masa kini dengan cara-cara kodrati, (menggunakan cara indrawi: melihat, mendengar, merasa,) maka segalanya akan lenyap ketika zaman bergeser, ketika generasi berubah. Segalanya hanya untuk dinikmati pada zaman yang berlaku. Setelah zaman berlalu, lenyaplah semua peradaban yang dirasakan dengan cara kodrati, dengan cara indrawi melulu. Kalau pun yang mengalaminya bisa menceritakan pengalamannya dengan cara indrawi (bercerita dengan suara mulut atau gerakan isyarat tangan) itu hanya sebagai “dongeng” saja. Tidak bisa ditularkan kepada orang lain apalagi generasi lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan yang saya alami di Jayaningratan, di Suryabratan, wujud rumah bangsawan Jawa, pergaulan sosial bangsawan Jawa, seperti yang saya “dongengkan” di acara ini, sudah lenyap. Hanya jadi “dongeng”. Mendengar ceritaku ini sekarang bisa membayangkan bagaimana rumah bangsawan Jawa zaman itu, dan bagaimana pergaulan orang-orang Jawa ketika itu, tetapi begitu Saudara-saudara pergi dari ruang acara ini, yah, semua hanya jadi “dongeng”. Saudara-saudara tidak bisa menceritakan persis seperti cerita saya tadi kepada orang lain. Maka lenyaplah gambaran kehidupan orang Jawa zaman yang saya alami.</p>
<p style="text-align: justify;">Untunglah, sejak masuk sekolah, sejak kelas 1 sampai seterusnya, saya diajari menikmati kehidupan tidak dengan cara inderawi melulu, melainkan (ini yang paling penting dalam sistem pendidikan bangsa dan dalam hal mentransfer budaya!) dengan membudayakan membaca buku dan menulis buku. Dengan kebudayaan saya membaca buku dan menulis buku, apa yang saya alami dalam hidup saya sebagai orang Jawa, segala peradaban dan kesaksian saya tidak semuanya lenyap. Dengan saya tuliskan (pada buku) pengalaman saya hidup sebagai orang Jawa, maka meskipun zaman bergeser, orangnya ganti-ganti, budaya Jawa yang kualami itu masih bisa dirasakan. Tidak lenyap. Dan bisa dibaca lewat karya tulis bukuku (artinya orangnya yang ingin tahu juga harus punya budaya membaca buku, biarpun dia orang asing, bukan orang Jawa. Kalau orangnya tidak punya budaya membaca buku, ya karya tulis bukuku itu sia-sia). Dan kalau mau melestarikan, atau bahkan mengembangkan kembali, dengan membaca buku orang tidak saja bisa membayangkan (menikmati) masa lampau, tapi juga bisa berimajinasi merancang hidup masa depan dengan bekal-bekal kehidupan masa lampau. Bisa merancang masa depan bangsa Jawa dengan bekal peradaban bangsa Jawa masa lampau. Karya tulis buku pengalaman saya masa lalu bisa digunakan untuk merekonstruksi masa depan yang lebih baik. Membaca buku dan menulis buku adalah kiat hidup modern, kiat hidup untuk menengok masa lampau, dan bisa digunakan sebagai bahan perbaikan untuk menatap masa depan yang lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Setidaknya dengan “dongeng” saya jadikan karya tulis buku, saya sudah mengabadikan serbasedikit dari kehidupan saya sebagai orang Jawa. Ini sudah pasti berguna untuk masa kini dan mendatang. Entah digunakan untuk sekedar mengenang zaman dulu, atau memberikan rangsangan untuk menyusun masyarakat Jawa yang akan datang. Karena itu saya yakin (dan sudah banyak buktinya) menulis buku dan membaca buku adalah kebudayaan yang memperpanjang umur manusia. Dan kalau yang dibaca dan ditulis tentang bangsa Jawa, maka kebudayaan Jawa pun akan panjang umurnya. Tidak lenyap.</p>
<p style="text-align: justify;">*</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Saran:</em>/</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau dalam seri seminar<em> “Wong Jawa Ilang Jawane”</em> ini ada maksud untuk mencari identitas tentang bangsa Jawa, saya kira dengan menuliskan “dongeng” saya menjadi karya tulis buku, saya sudah “berhasil” mempertahankan agar<em> “Wong Jawa ora ilang Jawane”.</em> Meskipun ini hanya sedikit dari usaha yang besar (seri seminar). Sedikit karena apa? Karena suku bangsa Jawa yang menulis pengalamannya pada buku sedikit, dan yang membacanya juga sedikit. Bagaimana bisa urun lebih besar, kalau 95% orang Jawa tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku? Dan menurut gejalanya, dengan berkembangnya teknologi modern yang lebih memanjakan penggunaan indrawi (terutama melihat dan mendengar, radio, TV, telepon, HP), presentase orang Jawa tidak berbudaya membaca buku dan menulis buku meningkat naik menjadi lebih dekat lagi ke 100%. Kian engganlah bangsa Jawa belajar berbudaya membaca buku dan menulis buku. Sebab, melihat dan mendengar itu kodrat, tidak usah diajari orang bisa menikmati penglihatan dan pendengaran. Sedang membaca buku dan menulis buku itu bukan kodrat, untuk menjadikan kiat hidup harus belajar terus-menerus dulu, harus berbudaya dulu, baru bisa digunakan untuk menikmati kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan membludaknya alat-alat yang memanjakan kodrat, membuat orang jadi enggan belajar untuk menikmati kehidupan dengan susah payah harus belajar dulu. Kalau menonton TV sudah tahu nikmatnya tanpa harus belajar. Lain dengan mengemudikan mobil. Harus belajar dulu, harus dewasa dulu. Begitu juga penikmatan hidup lain misalnya pemain piano, pemain bulu tangkis. Harus ada alatnya, harus ada latihannya mempergunakan alat itu. Baru bisa menikmati setelah lancar berlatih. Apalagi membaca buku dan menulis buku. Untuk bisa menikmati latihannya bukan hanya sebulan (mengemudi mobil) atau setahun (main piano), melainkan harus dilatih tiap hari selama paling tidak 12 tahun usia dini. Mengapa kian lama presentase tidak-berbudayanya orang Jawa membaca buku dan menulis buku menanjak ke angka 100%? Karena di sekolah selama 12 tahun usia dini, sekarang tidak ada pelajaran membaca buku dan menulis buku yang dilatih setiap hari ketika masuk kelas. Syaratnya masuk sekolah, asal bisa membaca a-b-c, masuk. Tapi selanjutnya tidak dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Maka setelah lulus sekolah SMA, anak-anak bangsa Jerman rata-rata telah membaca 32 judul buku, anak bangsa Belanda 30 buku, anak Rusia 12 buku, anak New York 32 buku, anak Swiss 15 buku, anak Jepang 15 buku, anak Singapura 6 buku, anak Malaysia 6 buku, anak Brunai 7 buku, anak Indonesia 0 buku (penelitian Drh Taufik Ismail 1996).</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, sebenarnya untuk mempertahankan agar <em> “Wong Jawa ora ilang Jawane”</em> yang dimaksud dengan seri seminar ini, salah satunya tiru saja cara saya mengabadikan budaya Jawa. Yaitu perbanyak saja manusia Jawa yang menulis buku dan membaca buku, terutama buku-buku bahasa Jawa. Caranya memperbanyak orang Jawa berbudaya membaca buku dan menulis buku bagaimana? Berlatih (dengan guru) membaca buku dan menulis buku tiap hari selama paling tidak 12 tahun usia dini (dari klas 1 SD – klas 12 SMA). Dengan begitu, lulus SMA putera Indonesia sudah bisa mencari ilmu sendiri secara mandiri, tidak tergantung pada lulus UNAS yang hendak meneruskan ke sekolah yang lebih tinggi. Contonya, Ayip Rosidi, bisa hidup berbakti menyemarakkan bahasa daerah tanpa mengantongi ijazah.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbudaya membaca buku dan menulis buku bukan saja berguna untuk mempertahankan agar<em> “Wong Jawa ora ilang Jawane”, </em>melainkan juga bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa.</p>
<p>Coba, perhatikan uraian berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Anjing dan kucing (binatang) </strong>, untuk mencapai kenikmatan hidupnya (kawin, makan) menggunakan insting. <strong>(Binatang: + insting).</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Manusia (purba), untuk mencapai kenikmatan hidupnya, menggunakan insting (panca indra) dan alat (making tool animal). Seorang petani bisa menanam padinya di sawah dengan subur setelah dia melihat dan mendengar cara menanam padi tetangganya (indrawi) lalu mencangkul sawahnya (pakai alat pacul). Supaya bisa hidup (mendapat pekerjaan) seseorang harus menjadi sopir taksi (melihat dan mendengar), maka ia berlatih nyopir mobil sebulan, sudah lancar, dia dapat hidup dengan nyopir taksi (alatnya mobil). Seseorang ingin hidup dengan main musik (melihat dan mendengar), maka ia harus belajar main piano selama setahun, akhirnya ia pun menikmati hidup dengan main piano (alatnya piano). Pendeknya untuk mendapat pekerjaan (menikmati hidup) manusia harus menggunakan (terampil) alat. <strong>(Manusia purba: insting + alat)</strong></p>
<p>.</p>
<p style="text-align: justify;">Anjing dan kucing, untuk mencapai kenikmatan hidupnya, tidak pernah menggunakan alat apa-apa. Maka dari itu kalau manusia mencapai kenikmatan hidupnya tidak menggunakan alat apa-apa, ia sama dengan anjing dan kucing. Mencapai kenikmatan hidupnya hanya dengan indranya saja. Contoh orang yang menikmati hidup tanpa menggunakan alat yaitu: pelacur, maling, kawin-cerai dengan orang kaya, pembunuh. (Meskipun di sini, akal juga berperan serta pada manusia-manusia tadi).</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi, dengan hanya mahir mempergunakan alat saja, orang tidak bisa menjadi dosen, insinyir, hakim, dokter (profesi modern). Sebab untuk menikmati hidup dengan profesi modern, ada tambahan syarat lagi: <strong>harus berbudaya membaca buku dan menulis buku</strong>. Tidak mungkin orang (meskipun kuliah) menjadi dokter, tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku (hanya mendengarkan kuliah melulu = melihat dan mendengar = kodrat indrawi) bisa jadi dokter.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Manusia (modern):</strong> untuk mencapai kenikmatan hidupnya berlaku rumus: <strong>(Manusia modern: insting + alat + membaca buku dan menulis buku).</strong></p>
<p>Jadi <strong>membaca buku dan menulis buku adalah kiat hidup modern.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kapankah membaca buku dan menulis buku menjadi kiat hidup manusia, sehingga disebut modern? Sejak filosof Yunani Plato (428-347 S.M) mendirikan sekolah filsafat yang dinamai Academus, sesuai dengan pahlawan legendaris Athena. Karenanya sekolah itu dikenal sebagai Akademi. Dan sejak itu beribu “akademi” didirikan di seluruh dunia. Plato adalah murid Socrates. Socrates (470-399 S.M) adalah tokoh yang paling banyak menyiarkan ilmunya dalam seluruh sejarah filsafat, sehingga dia merupakan  salah seorang filosof yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemikiran Eropa selama hampir 2500 tahun ini. Socrates banyak menyiarkan pemikiran filsafatnya hanya melalui pidato-pidatonya (bersuara, didengarkan, indrawi). Juga ketika dia mengadakan pembelaan atas hukuman mati minum racun oleh peengadilan, hanya dipidatokan. Baik pemikiran filsafatnya maupun pidato pembelaannya menjadi misi kemanusiaan yang tersebar di seluruh dunia hingga berabad-abad karena ditulis oleh Plato setelah kematian Socrates. Plato menuliskan pidato pembelaan Socrates pada buku <em>Apologi</em>. Di samping<em> Apologi,</em> Plato juga melestarikan (ditulis jadi buku) seluruh karya utama Socrates (yang dipidatokan, diucapkan secara indrawi) ~ misalnya kumpulan <em>Epistle</em>s dan kira-kira 25 <em>Dialog</em> filsafat yang pernah didiskusikan dan dipidatokan Socrates. Kita bisa  mendapatkan karya-karya ini (berupa buku) sekarang berkat tindakan Plato menuliskannya jadi buku yang bisa dibaca dan dipelajari sejak Plato mendirikan akademi. Kalau tidak jadi buku dan dibaca pada buku, apa manfaat filsafat Socrates yang diuraikan secara lisan demi untuk menata kehidupan manusia ~ kebenaran, etika, kebaikan dan kejahatan ~ masa depan yang ideal? Socrates tidak pernah menuliskan apapun, meskipun banyak orang sebelumnya melakukan (menulis). Muspra! Buku, ditulis dan dibaca, itulah kuncinya memperbaiki kehidupan manusia masa depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Baik Yesus, maupun Socrates adalah conto tokoh yang penuh teka-teki, juga bagi  rekan-rekan sezaman mereka. Tak satu pun di antara mereka menuliskan sendiri ajaran-ajarannya, maka terpaksa kita mempercayai gambaran yang kita dapatkan tentang mereka dari murid-murid mereka. Tapi kita tahu bahwa mereka adalah jagoan dalam seni berdiskusi. Mereka menentang kekuasaan masyarakat dengan mengecam segala bentuk ketidakadilan dan korupsi. Dan akhirnya, aktivitas-aktivitas mereka mengakibatkan  mereka kehilangan nyawa. Yesus dan Socrates tidak menuliskan sekalimat tentang ajaran-ajarannya. Plato menyelamatkan dan mengembangkan ajaran Socrates dengan cara menuliskannya jadi buku. Lucas, Mateus, Markus dan Johanes menyelamatkan, mengabadikan, menyiarkan dan mengembangkannya dengan menulis ajaran Yesus jadi Kitab Injil.</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad juga tidak menulis sekalimat pun aktivitasnya. Agama Islam berhasil disiarkan dan banyak pemeluknya hingga masyarakat sekarang lewat pembacaan Al-Qur’an yang ditulis dan dikumpulkan oleh Zaid bin Tsabit, yang sejak umur 12 tahun menjadi “sekretaris” Rasulullah, menulis <em>wahyu</em> yang diterima oleh Rasulullah. Wahyu tertulis itu merupakan bait-bait Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak pernah dibukukan secara utuh pada zaman Nabi SAW. Namun ketika Abu Bakar menjadi khalifah, tulisan-tulisan Al-Qur’an yang berserakan dikumpulkan dan disatukan. Zaid bin Tsabit yang diperintahkan oleh Abu Bakar yang menyetujui usul Umar bin Khattab, memimpin kodifikasi Al-Qur’an yang semula tulisan lepas-lepas berserakan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu contoh lagi, bahwa untuk memenuhi kemakmurannya, manusia modern selain kodrat indrawinya serta menggunakan alat, juga harus membaca buku dan menulis buku. Misi Socrates disiarkan lewat Apologi, Epistles, misi Yesus lewat Kitab Injil, misi Muhammad lewat Al-Qur’an. Semua berhasil diabadikan, disiarkan, dipeluk, dianut dipercaya lewat tulisan buku dan dibaca intensip pada buku.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh yang lain yang tulisannya pada buku mempengaruhi dianut dan dipercaya masyarakat luas adalah (sekedar contoh) buku tulisan Karl Marx <em>(1818-1883 Das Capital 1867)</em>, Adolf Hitler <em>(Meinkamf)</em>, Charles Darwin <em>(1809-1882, The Descent of Man, 1871, The Origin of Species, 1859)</em>,  Sigmund Freud <em>(1856-1939, Libido Sexualita, apa yang kita kerjakan desakan dari seks)</em>, Sir Isaac Newton <em>(1642-1727 teori gravitasi, tentang jatuhnya apel)</em>, Dale Cornegie <em>(How to Win Friends and Influence People)</em>, Syaikh Muhammad Al-Ghazali, Karen Armstrong <em>( A History of God)</em>, Thomas Stamford Raffles <em>(The History of Java)</em>, Ranggawarsita, R.A.Kartini, Tan Malaka, Bung Karno, Sutan Syahrir, Himawan Soetanto <em>(Yogyakarta 19 Desember 1948)</em>, Nurcholis Madjid, Mario Teguh, Andrea Hirata. Siapa pun  yang membaca bukunya dengan intensif pasti mendapatkan tambahan ilmu, dan dengan tambahan ilmunya tadi dirinya tentu lebih siap menghadapi zaman karena banyak akal dan daya upaya berprakarsa. Takdirnya berubah daripada sebelum membaca buku-buku tadi. Tetapi kalau sepanjang hidupnya tidak membaca buku sama sekali, orang akan hidup sebagaimana kodrat-fitrah-alamiahnya. Yaitu bodoh. Miskin. Ketinggalan zaman. <strong>Maka berbudaya membaca buku dan menulis buku, adalah kiat hidup modern. Berbudaya membaca buku berpotensi mengubah takdir menjadi yang lebih baik.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">*</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia modern (yang punya kiat berbudaya membaca buku dan menulis buku) telah dimulai sejak Pluto (428-347 S.M.) mendirikan sekolah filsafat Academus. Kalau suku bangsa Jawa yang hidup sekarang ini tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku, maka manusia tadi adalah orang kuna atau premitif yang hidup di zaman modern. Hidup ketinggalan zaman 25 abad (4 abad S.M + Abad 21 kini).</p>
<p>Untuk memuaskan hidupnya tiap makhluk rumusnya:</p>
<p><strong>Binatang (insting-kodrati);<br />
Manusia primitif (insting-kodrat-indrawi + menggunakan alat);<br />
Manusia modern (insting-indrawi + menggunakan alat + membaca buku dan menulis buku) </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berbudaya membaca buku dan menulis buku mutlak menjadi kiat hidup modern. Sebab dengan berbudaya membaca buku dan menulis buku, manusia bisa mengubah takdirnya, yaitu bisa menjalani profesi modern (jadi guru, dokter, insinyir, professor, sastrawan). Kalau tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku mulanya hanya bisa jadi petani dengan cangkulnya (hidup zaman dulu), atau sopir taksi dengan mobilnya (hidup zaman sekarang tetapi pengetahuannya kuna). Rumusnya: (kodrat-indrawi + menggunakan alat). Tidak bisa jadi dokter, hakim, insinyir, sastrawan, karena tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku, yang rumusnya (kodrat-indrawi + menggunakan alat + berbudaya membaca buku dan menulis buku).</p>
<p style="text-align: justify;">Agar berbudaya membaca buku dan menulis buku tidak saja mencerdaskan manusia Jawa yang hidup modern pada zaman modern, tetapi juga menjadi <em>“Orang Jawa ora ilang Jawane”</em>, maka sebaiknya diperbanyak penerbitan buku-buku bahasa Jawa. Terutama di sekolah di mana anak-anak Jawa belajar membaca buku dan menulis buku, di sana harus tersedia banyak buku bahasa Jawa, dan pengajaran membaca buku selama 12 tahun juga dengan diajarkan pembacaan buku bahasa Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah sekelumit saran, bagaimana agar <em>“Wong Jawa ora ilang Jawane”</em>. Semoga bisa diterima dan dilaksanakan. Amin.</p>
<p>Surabaya, 5 Juni 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=315</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
