<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suparto Brata Blog &#187; Stories</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?cat=10&#038;feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://supartobrata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jan 2018 08:12:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Berita Duka BREAKING NEWS : Pengarang Sepuh Suparto Brata Meninggal Dunia</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=1228</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=1228#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2015 00:12:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1228</guid>
		<description><![CDATA[SURYA.CO.ID &#124; SURABAYA &#8211; Pengarang sepuh asal Surabaya, Suparto Brata meninggal dunia dalam usia 83 tahun pada Jumat (11/9/2015). Berdasarkan informasi, pengarang produktif ini mengembuskan napas terakhir pada pukul 21.30 WIB di rumahnya di Rungkut Asri III/2 Surabaya. Jenazah pria berjuluk Begawan Sastra Jawa ini rencananya dimakamkan siang ini di Pemakaman Umum Rangkah. Diambil dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SURYA.CO.ID | SURABAYA &#8211; Pengarang sepuh asal Surabaya, Suparto Brata meninggal dunia dalam usia 83 tahun pada Jumat (11/9/2015).</p>
<p style="text-align: center;"><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-775" title="Suparto Brata" src=" http://1.bp.blogspot.com/-IO-mztMVAUE/Vfi0ce-x8lI/AAAAAAAAA_M/ADB5l8a5PFw/s320/suparto-brata_20150912_093246.jpg" alt="Suparto Brata" width="400" height="300" /></a></p>
<p>Berdasarkan informasi, pengarang produktif ini mengembuskan napas terakhir pada pukul 21.30 WIB di rumahnya di Rungkut Asri III/2 Surabaya.</p>
<p>Jenazah pria berjuluk Begawan Sastra Jawa ini rencananya dimakamkan siang ini di Pemakaman Umum Rangkah.</p>
<p>Diambil dari<a href="http://surabaya.tribunnews.com/2015/09/12/breaking-news-pengarang-sepuh-suparto-brata-meninggal-dunia"> Surya Online</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1228</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>OBITUARI</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=772</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=772#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 03:14:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[Liz Taylor, Sakit Sepanjang Hidup Kompas Sabtu 1 Maret 1997, dua hari setelah ulang tahun perempuan hebat Elizabeth Taylor ke 65 menulis: Apa yang menandai ulang tahunnya ke-65? Operasi tumor otak. Ia mampu melewati masa kritisnya sesudah seminggu terbaring di rumah sakit, dan merayakan hari jadinya tepat pada hari Kamis 27 Februari lalu di rumah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Liz Taylor, Sakit Sepanjang Hidup</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/03/Elisabet.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-775" title="Elizabeth Taylor" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2011/03/Elisabet-240x300.jpg" alt="" width="240" height="300" /></a><br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Kompas </em></strong>Sabtu 1 Maret 1997, dua hari setelah ulang tahun perempuan hebat Elizabeth Taylor ke 65 menulis: Apa yang menandai ulang tahunnya ke-65? Operasi tumor otak. Ia mampu melewati masa kritisnya sesudah seminggu terbaring di rumah sakit, dan merayakan hari jadinya tepat pada hari Kamis 27 Februari lalu di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Elizabeth Taylor, veteran bintang film populer dan peraih dua piala Oscar, menyadari dirinya kena tumor selagi memeriksakan diri awal bulan ini. Ia tidak menunjukkan rasa panik berlebihan. Ia bahkan menunda pelaksanaan operasi, agar bisa hadir di dalam sebuah pertunjukan pertengahan bulan ini di Los Angeles, Amerika Serikat. Pertunjukan itu untuk mengumpulkan dana bagi yayasan antipenyakit AIDS yang didirikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tumor yang diidapnya dari jenis tumor ganas. Tim dokter di RS Cedars Sinai, Beverly Hills, Amerika Serikat, berhasil mengangkat tumor sebesar bola golf dari dalam kepalanya. Para dokter juga optimistik, semua akan beres seperti sedia kala.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang begitulah tampaknya. Hari Rabu lalu Elizabeth Taylor melambaikan tangannya kepada para reporter, dan memasuki sebuah mobil Mercedes untuk meninggalkan rumah sakit. Kepalanya dicukur dan dikerubungi syal, seperti disiarkan kantor berita AP.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka ia bisa dengan tenang merayakan ulang tahunnya di rumah, bersama keluarga. Perhatian penuh ia peroleh sepanjang masa rawatnya di rumah sakit. Anak-anaknya (Michael Wilding, Christopher Wilding, Liza Todd, dan Maria Burton) serta para cucunya, bergantian menjenguknya. Begitu juga dengan berbagai rekannya, termasuk maha bintang Michael Jackson yang mengirimnya karangan bunga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya ingin mengucapkan terima kasih pada semua orang yang memberi dorongan semangat dan cinta,” tuturnya lewat seorang juru bicaranya, seperti dikutip kantor berita Reuter.</p>
<p style="text-align: justify;">Ulang tahun sunyi itu kontras betul dengan perayaan ulang tahun officalnya yang berlangsung meriah pertengahan Februari lalu. Sejumlah selebritis hadir, dan berhasil menangguk milyaran rupiah untuk disumbangkan ke yayasan penanggulangan penyakit AIDS.</p>
<p style="text-align: justify;">Bintang kontroversial yang filmnya <em>Evita</em> tengah beredar mengatakan, “Saya sudah mengagumi Elizabeth Taylor lewat film-filmnya, tetapi apa yang ia kerjakan untuk melawan AIDS selama 12 tahun terakhir inilah yang benar-benar membuatnya menjadi bintang.”</p>
<p style="text-align: justify;">Elizabeth – tenar dengan “Liz” – Taylor mengaku ia terdorong untuk melakukan kegiatan sosial itu karena banyak teman terutama aktor Kirk Douglas tumbang digerogotinya. Namun banyak yang percaya, ia melakukannya karena ketakutan terpendam akan penyakit mematikan, mengingat ia “bukan orang yang sungguh-sungguh sehat”. Seorang dokternya mengatakan, “telanlah pil-pil (penghilang rasa sakit itu) kalau mau cepat mati.”</p>
<p style="text-align: justify;">*</p>
<p style="text-align: justify;">MENGIRINGI karier filmnya yang melejit kencang sejak muda – film terakhirnya <em>Flintstone </em>(1994) dibuat ketika ia 63 tahun – kisah cintanya yang menggemparkan, dan kekayaannya, ia sebenarnya kehilangan sesuatu yang sangat berharga: kesehatan yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia bahkan sudah mengidap kelainan di tulang belakang, sejak lahir di London, tanggal 27 Februari 1932. Menurut majalah <em>New Idea, </em>kelainan itu terus berakibat sampai sekarang. Dalam catatan penulis biografi Alexander Walker, ada 41 krisis kesehatan yang ia idap. Walker mencatat, di usia dua tahun ia menderita infeksi tenggorokan.</p>
<p style="text-align: justify;">Catatan kesehatannya bisa sangat panjang, tak kalah panjang dibandingkan karirnya sepanjang 50 tahun di dunia film. Pengalaman di film <em>National Velvet </em>di awal kariernya selain membuatnya takjub juga memberi kenangan pahit. Ia terjatuh dari kuda, mengguncang syaraf tulang punggungnya yang sudah menderita tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Elizabeth Taylor sudah menelan lebih daripada 10.000 tablet sepanjang hidupnya. Ia sudah lebih 40 kali dirawat di rumah sakit, mendapat 30 kali operasi. Dua kali ia menjalani perawatan di Betty Ford Centre untuk menghilangkan kecanduan narkotik dan alkohol. Selain itu ia juga memerangi kegemukan, yang pernah membuat tubuhnya melembung sampai 81 kilogram.</p>
<p style="text-align: justify;">“Orang seperti Liz Taylor sepanjang hidup berharap mendapat obat ajaib,” tutur psikolog Meredith Fuller kepada majalah <em>New Idea</em> edisi 22 Februari 1997. “Ia mencari sesuatu untuk mengenyahkan rasa sakit, membuang kepahitan. Ketika dokter atau suami tak mampu memberikannya, ia akan terjatuh kembali ke lingkaran setan obat-obatan tersebut.”</p>
<p style="text-align: justify;">*</p>
<p style="text-align: justify;">ENTAH apa yang memicunya menjadi jagoan kawin cerai. Masa kecilnya yang terpacu menjadi bintang, bisa menjadi penyebab. Di usia 10 tahun ibunya Sara Taylor menjadi pendorong besar untuk memasuki dunia film – dan menjelang remaja ibunya bercerai dari ayahnya Francis Taylor. Masa remajanya yang begitu gemerlap dengan tubuh yang tampak lebih cepat matang dibanding usianya, bisa juga menjadi pendorong. Demikian juga sifatnya yang sebenarnya penyayang, atau gampang jatuh cinta. Bisa juga gabungan dari berbagai faktor.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap kali jatuh cinta, ia tampak seperti “habis-habisan”. Seolah tak ada lagi pria lain. Coba ikuti berbagai kutipannya tentang pria yang tengah ia gandrungi berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">*”Hatimu tahu kalau kamu bertemu dengan orang yang tepat. Tak pelak lagi. Nicky satu-satunya yang kuinginkan untuk menjadi pendampingku sepanjang hayat,” tuturnya tentang Conrad Nicholson Hilton. Ia menikah dengan juragan jaringan hotel megah itu tanggal 6 Mei 1950.</p>
<p style="text-align: justify;">*”Saya hanya menginginkan Michael, saya ingin menjadi isterinya. Inilah awal dari kebahagiaan sampai akhir,” katanya tentang aktor Inggris Michael Wilding. Mereka menikah tanggal 21 Februari 1952.</p>
<p style="text-align: justify;">*”Saya mencintai dia sepenuhnya dengan cinta yang abadi&#8230;. Perkawinan ini untuk selamanya. Bagi saya, ini merupakan keberuntungan yang ketiga,” tuturnya tentang pernikahan dengan pembuat film Mike Todd, yang berlangsung tanggal 2 Februari 1957.</p>
<p style="text-align: justify;">*”Kebahagiaanku begitu penuh sehingga tidak mungkin lebih berbahagia lagi&#8230;.. Kami bakal berbulan madu sampai 30 atau 40 tahun,” jelasnya menunjuk pernikahannya dengan penyanyi Eddie Fisher, tanggal 12 Mei 1959.</p>
<p style="text-align: justify;">*”Saya sungguh berbahagia&#8230;. Saya begitu mencintainya sampai layak untuk mendampinginya, tak peduli apa yang dia buat, dan saya akan selalu menunggu,” tuturnya, dengan sikap penuh pengertian terhadap tingkah laku aktor ternama Richard Burton. Itu yang diungkapnya untuk pernikahan mereka yang pertama, 15 Maret 1964.</p>
<p style="text-align: justify;">*Dari delapan kali menikah, dua di antaranya ia lakukan dengan orang yang sama, yaitu Richard Burton. Katanya untuk pernikahan kedua, “Tak akan pernah lagi perkawinan atau perceraian. Kami lengket seperti bulu-bulu ayam terkena ter – berkasihan selalu.” Pernikahan kedua itu berlangsung 10 Oktober 1975.</p>
<p style="text-align: justify;">*”John adalah kekasih paling baik. Saya ingin menikmati seluruh hidup saya bersamanya, dan saya ingin dimakamkan bersamanya,” kata Liz. Maka ia menikahi senator John Warner tanggal 4 Desember 1976.</p>
<p style="text-align: justify;">*Dan yang terakhir, Larry Forstenky. Katanya tentang pernikahannya dengan bekas buruh bangunan itu, “Saya selalu mengatakan akan menikah sekali lagi, dan Tuhan memberkahi. Perkawinan ini untuk selamanya.” Sesudah lebih dua tahun <em>kumpul kebo, </em>mereka pun menikah Oktober 1991 lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">*</p>
<p style="text-align: justify;">TAMPAKNYA, lelaki yang paling ia cintai adalah Richard Burton.</p>
<p style="text-align: justify;">Keduanya bertemu di dalam film yang masih dikenang orang, <em>Cleopatra, </em>pada tahun 1962. Burton yang semula menyepelekan Liz, menjadi tertarik melihat kemampuannya di depan kamera. Liz melihat Burton merupakan kombinasi dari berbagai pria yang pernah ia cintai.</p>
<p style="text-align: justify;">Di mata Liz, Burton sama kayanya dengan Nick si juragan hotel, sama tinggi selera humornya seperti si aktor Michael Wilding, dan sama tegarnya dengan si pembuat film Mike Todd. Perbandingan dengan pria lainnya adalah, secara fisik sekokoh Ingemar Johanson, secara intelektual setingkat Max Lerner, suaranya semerdu Frank Sinatra dan mantan suaminya Eddie Fisher.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hanya mendengar suaranya saja saya sudah orgasme,” kata Liz di tengah istirahat <em>shooting </em>film <em>Cleopatra,</em> seperti dikutip penulis Kitty Kelly di dalam bukunya <em>Elizabeth Taylor, The Last Star.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tapi itu semua masa lalu. Tengah bulan lalu ia bersumpah, “tamparlah saya kalau saya menikah lagi.”  Selamat ulang tahun, Liz <strong> (Efix Mulyadi).</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Liz Taylor, Minikah Delapan Kali Sepanjang Hidupnya</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Jawa Pos, </em></strong>Kamis 24 Maret 2011, menulis: <strong>Si Cleopatra Tutup Usia. </strong>LOS ANGELES – Dunia hiburan kembali berduka. Elizabeth Taylor aktris legendaris peraih tiga Oscar, kemarin (23/3) menutup mata untuk selamanya dalam usia 79 tahun setelah mengalami gagal jantung.</p>
<p style="text-align: justify;">Perempuan kelahiran London dari ayah dan ibu berkewarganegaraan Amerika Serikat itu meninggal dunia di Cedars-Sinai Medical Center, Los Angeles. Di tempat itulah dia dirawat selama enam pekan terakhir karena gangguan jantung yang mulai dialaminya sejak 2004.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibu saya adalah perempuan luar biasa yang menjalani hidup sangat indah, dengan penuh semangat, keceriaan, dan cinta,” kata Michael Wielding, satu dari empat anak Taylor, seperti dikutip <em>Associated Press.</em></p>
<p style="text-align: justify;">“Kita semua tahu, dunia ini menjadi lebih indah karena kehadiran ibu saya. Jejaknya tak akan pernah pudar, semangatnya akan selamanya bersama kita, dan cintanya akan selalu di hati kita semua,” lanjut Wielding dalam pernyataan yang mewakili keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga anak aktris yang akrab dikenal sebagai Liz Taylor lainnya adalah Christopher Wielding, Liza Todd, dan Maria Burton. Mereka berempat berada di sisi sang ibu yang mendapat gelar “Dame” dari Kerajaan Inggris itu di saat-saat terakhirnya. Taylor juga dikaruniai 10 cucu dan empat cicit.</p>
<p style="text-align: justify;">Taylor merebut Oscar pertamanya lewat film <em>Butterfield 8. </em>Oscar berikutnya melalui <em>Who’s Afraid of Virginia Woolf. </em>Sedangkan Oscar ketiga diberikan berkat kegigihannya dalam kampanye anti-HIV/AIDS.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, mungkin Taylor paling dikenang berkat perannya dalam film <em>Cleopatra. </em>Dia menjadi aktris Hollywood pertama yang dibayar USD 1 juta berkat film yang dibuat pada 1961 tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Di film kolosal itu pula dia bertemu Richard Burton, aktor asal Wales yang dinikahinya dua kali (1964-1974 dan 1975-1976). Total Taylor menikah sebanyak delapan kali.</p>
<p style="text-align: justify;">Hidup Taylor memang amat berwarna. Dia dianggap sebagai salah satu simbol seks di eranya. Hanya Marilyn Monroe yang dianggap bisa menyainginya. Dia juga menjadi idola kaum homoseksual.</p>
<p style="text-align: justify;">Perempuan yang di saat-saat terakhir hidupnya harus bergantung pada kursi roda itu juga dikenang sebagai sahabat sejati Michael Jackson. Dia setia berada di sisi bintang yang meninggal pada Juni 2009 tersebut di saat-saat terberatnya. Misalkan ketika kakak Janet Jackson itu diadili karena tudingan pelecehan seksual ke anak lelaki di bawah umur.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengawali karir di layar lebar lewat film <em>Lessie Come Home </em>pada 1943, karir filmnya terentang ke sekitar 50 film. Tapi kecemerlangan karir itu juga diwarnai gangguan kesehatan berkali-kali.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia tercatat lima kali mengalami masalah parah pada punggung. Pada 1990, dia bahkan nyaris meninggal dunia akibat pneumonia. Hal yang sama terulang kembali pada 1992.</p>
<p style="text-align: justify;">“Elizabeth Taylor adalah legenda Hollywood dan wanita yang amat menarik. Dia juga telah menghabiskan 25 tahun hidupnya yang terakhir untuk mengatasi epidemi HIV. Saya bangga bisa mengenalnya,” kata penyanyi terkenal George Michael, seperti dikutip <em>The Independent.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Aktor legendaris Inggris Sir Michael Caine juga merasa sangat kehilangan. “Dia tak hanya aktris  luar biasa, tapi juga seorang manusia yang sangat hebat,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pujian serupa juga dilayangkan host televisi ternama Larry King, “Elizabeth Taylor adalah seorang sahabat, bintang besar, dan wanita yang amat bernyali. Dia sangat spesial. Anda tak akan pernah melihat bintang seperti dia lagi”, ujarnya. <strong>(ttg).</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>*</strong></p>
<p style="text-align: justify;">ELIZABETH TAYLOR perempuan cantik yang spesial ini berita meninggalnya saya punggah di akun saya, karena hari lahirnya melihat dunia bersama saya. Semoga tingkah laku perbuatannya yang bermanfaat untuk keindahan sosial kemasyarakatannya bisa jadi teladan penghayatan hidup kita semua, terutama saya. Selamat jalan, Liz, semoga mendapat tempat abadi di sisi Tuhanmu. (<strong>Suparto Brata</strong>).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=772</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SURABAYA NO MONOGATARI SURABAYA ZAMAN JEPANG</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=284</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=284#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 02:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[zaman jepang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[Pemindahan kekuasaan dari pemerintah Belanda kepada Jepang di Surabaya tidak ditandai dengan goncangan pertempuran seru. Namun batas dan perubahannya sangat terasa bagi penduduk Surabaya. Malam hari yang semula terang benderang jadi gelap gulita karena lampu harus diselubungi. Kendaraan bermotor tiba-tiba tidak kelihatan lagi di jalan-jalan kota. Sinyo dan noniek Belanda lenyap dari Bumi Surabaya. Gedung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-229" style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px;" title="Surabaya Zaman Jepang" src=" http://i571.photobucket.com/albums/ss159/supartobrata/scan0006.jpg " border="0" alt="Surabaya Zaman Jepang=" height="160" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pemindahan kekuasaan dari pemerintah Belanda kepada Jepang di Surabaya tidak ditandai dengan goncangan pertempuran seru. Namun batas dan perubahannya sangat terasa bagi penduduk Surabaya. Malam hari yang semula terang benderang jadi gelap gulita karena lampu harus diselubungi. Kendaraan bermotor tiba-tiba tidak kelihatan lagi di jalan-jalan kota. Sinyo dan noniek Belanda lenyap dari Bumi Surabaya. Gedung atau rumah yang dikapur putih harus diubah warna hitam, dilabur (dicat) dengan campuran arang yang ditumbuk halus atau abu bahan yang dibakar.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu Belanda meninggalkan kota, sekolah ditutup. Kini dibuka kembali dengan murid-murid baru. Anak-anak pribumi memasuki gedung sekolah Belanda. Kulitnya sawo mateng, kepalanya gundul, kakinya telanjang.</p>
<p>Untuk membaca selangkapnya silahkan klik <a href="http://www.supartobrata.com/wp-content/download/Surabaya.pdf">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=284</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PETUALANGAN SABARUDIN</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=93</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=93#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 10:23:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia 17 Agustus 1945 tidak segera disambut dengan perubahan keadaan di Surabaya. Kekuasaan Balatentera Jepang masih terlihat begitu menakutkan. Rakyat Surabaya yang terlihat berjalan di jalan-jalan tengah kota masih seperti sedia kala, yaitu tidak bersemangat, tunduk karena ketakutan, dan tampak miskin akibat dijajah Jepang tiga setengah tahun. Datangnya orang-orang Belanda yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman';">Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia 17 Agustus 1945 tidak segera disambut dengan perubahan keadaan di Surabaya. Kekuasaan Balatentera Jepang<span> </span>masih terlihat begitu menakutkan. Rakyat Surabaya yang terlihat berjalan di jalan-jalan tengah kota masih seperti sedia kala, yaitu tidak bersemangat, tunduk karena ketakutan, dan tampak miskin akibat dijajah Jepang tiga setengah tahun. Datangnya orang-orang Belanda yang menyelundup ke Surabaya hampir bersamaan waktunya dengan dibebaskannya kaum interniran Belanda dari kamp-kamp tawanan, maka suasana Surabaya mulai panas karena terjadi saling mencurigai antara fihak pemuda dengan fihak Palang Merah International. Pemuda Surabaya baru saja melakukan serangkaian kegiatan memperingati sebulan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan menyelenggarakan rapat umum di Lapangan Pasarturi pada tanggal 17 September 1945. </span><span id="more-93"></span><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman';">Pada saat itu ada provokasi baru tentang datangnya kelompok orang Sekutu yang pertama dari Mastiff Carbolic dibawah pimpinan Letnan Antonissen diterjunkan dengan parasut di Gunungsari Surabaya. Mastiff Carbolic Party merupakan salah satu dari sejumlah kelompok yang diorganisir oleh Anglo Dutch County Section (ADCS) angkatan 136. ADCS selama Perang Dunia II adalah organisasi spionase yang dikirim ke Sumatera, Malaya, dan Jawa secara rahasia. Setelah Jepang menyerah mereka diterjunkan antara lain di Jakarta dan Surabaya untuk menghimpun informasi tentang keadaan kamp-kamp tawanan dengan pihak RAPWI (Rehabilitation Allied Priseners of War and Internees = pemulangan tawanan perang asing dan interniran yang dibentuk oleh badan dunia pemenang perang). </span></p>
<p>Kisah selengkapnya silahkan klik <a href="/wp-content/download/PetualanganSabarudi1.pdf">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=93</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>30TH SEA WRITE ANTHOLOGY</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=78</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=78#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 03:49:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Seminggu yang lalu saya mendapat email dari PR Oriental Bangkok, yang akan menerbitkan buku kumpulan cerita dari para pengarang pemenang S.E.A Write. Sebagai pemenang, saya juga diharapkan ikut mengirimkan cerita saya untuk dimuat dalam anthology tersebut. Permintaannya segera saya penuhi, cerita pendek saya yang saya kirimkan adalah cerita bahasa Jawa subdialek Surabaya. Agar cerita itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="130" src="http://qqhandicraft.googlepages.com/trem.jpg" alt="Trem" height="190" /></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Seminggu yang lalu saya mendapat email dari PR Oriental Bangkok, yang akan menerbitkan buku kumpulan cerita dari para pengarang pemenang S.E.A Write. Sebagai pemenang, saya juga diharapkan ikut mengirimkan cerita saya untuk dimuat dalam anthology tersebut. Permintaannya segera saya penuhi, cerita pendek saya yang saya kirimkan adalah cerita bahasa Jawa subdialek <city w:st="on"></city></p>
<place w:st="on"></place>Surabaya. Agar cerita itu tidak saja diumumkan (diterbitkan) dari S.E.A Write (Thailand, Bangkok) dan dinikmati oleh yang mendapat buku anthology tersebut, maka saya pasang di website saya, agar pengunjungnya juga bisa membaca/menikmati cerita saya tadi. Silakan.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span id="more-78"></span></font></p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">DIAMPUT! SEPATUKU ILANG NDHUK MEJID</font></span></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Diamput! Sepatuku ilang ndhuk mejid. Iki gara-gara sholat Jumat ndhuk mejid anyar cedhake kantorku. Diamput, ejik enyar <state w:st="on"></state></p>
<place w:st="on"></place>wis nggawa kurban! Cik nemene!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ngene critane. Dina Jumat, aku telat mlebu kantor. Nggelani, esuk-esuk udan! Lagek musime pancene. Rada daksrantekna mendhane grimis, cik gak nemen-nemen kebes. Jumat hare! Aku pengin sembahyang ndhuk mejid anyar cedhak kantor. Nganyari. Mulakna ojok sampek kebes.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ran! Koën diteleki Pak Darji! Kaèt maëng! Cepet ngadhepa!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ook, pancet aé, Pak Ganda iku! Isuk-isuk <state w:st="on"></state></p>
<place w:st="on"></place>wis gaé gegeran!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Lho, gak guyon aku! Gak percaya, mranaa tah!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ran! Mrenea, Ran!” swarane Pak Darji saka kamare. Temen, gak guyon Pak Ganda esuk iki.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Mboktalah! Masiya jenengku Yadiran, ojok banter-banter apaa ngundang ngono. Sing gak ngreti rak dikira ngundang ‘jaran!’. Diamput, kepalaku sitok iki! Telat pisan aé katene dioring-oring!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Koën wis tau nyang Borobudhur, Ran?”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Empun, Pak! Tapine riyin, sik sekolah dhasar nika.” Soal apa maneh, iki? Rèk,<span>  </span>cik mumete! Perkara telat thik macem-macem! Gak papa, srengeni juragan <state w:st="on"></state></p>
<place w:st="on"></place>wis lumrah, wong ancene aku pegawe celik, rak iya? Tapi kathik nyebut-nyebut Borobudhur iku, lo, katene yok apa? Kemalan temen Pak Darji iku!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Koën gak kepengin, tah, mrana maneh? Bareng <state w:st="on"></state></p>
<place w:st="on"></place>wis dipugar iki jare bagus, Ran! Gelem melok aku, Koën?”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Lho, niki kantor ajenge piknik, ngoten, tah?”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Piknik gondhulmu! Koën iku lo dakjak nyang Borobudhur! Gelem, tah? Aku katene nyang Munthilan. Jipe ngglondhang. Kancanana, ya!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Nggih. Kapan brangkate?”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Dhiluk engkas. Mari kantor. Langsung aé.”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Mari kantor? Langsung? Rak gak jumatan? Wah, sholat nganyari mejid worung. Borobudhur luwih menjila.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Munthilan iku nggone maratuwane juragan.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Sakeluwarga, tah, Pak?”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Jane arek-arek ya prei. Tapi wong iki perlune mung sethithik! Lan kesusu. Dadi ya kene wong loro dhewe wae. Aku botuh kanca lan sopir serepan!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ē, tahlah! Ngono, tah? Pancene botuh sopir kathik muter-muter. Kepalaku iki pancen gak duwe sopir khusus. Mulakna nek katene lunga ndhuk luwar <city w:st="on"></city></p>
<place w:st="on"></place>kota, ngajak pegawene sing isok nyopir. Biyasane Cak Kadir. Tapi<span>  </span>wektune iki wonge lagek mantu. Terang gak isok diajak. Aku oleh kethuk!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pengin ancene nyang Borobudhur. Cumak, katene mrana dhewe iku thik ngayane. Sajege kerja iki rasane mamang lunga adoh-adoh ngono! Sangu cupet! Padha hal <state w:st="on"></state></p>
<place w:st="on"></place>wis dakrewangi lembur, lho! Botuh iki rasane ana aé! Dioyak cumak ketok buntute. Mulakna mopung ana sing ngajak nyang Borobudhur gratis, kathik sing ngajak kepalane dhewe, ‘ayo!’ ngono aé.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sayange gak sida nganyari jumatan ndhuk mejid anyar! Tapi Gusti Allah rak maklum, la apa aku ngilangna kesempatan iki. Borobudhur-é, gak cedhak iku mono! Sholat Jumat ndhuk mejid anyar isok Jumat ngarep maneh! Jumate esik akeh.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Nek gelem, moliha dhesik njopuk salin. Rencanaku sampek Senen kaet balik molih.” Ngono Pak Darji notugna ngomong.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Yok napa?! Mantuk riyin, tah, kula niki?”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Mbok, ndadak ngene iki sing gak kuwat! Tapine ancene kepala kantor esik enom. Kongkon lan duwe karep dadakan ngono iku ya <state w:st="on"></state></p>
<place w:st="on"></place>wis biyasa!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Diamput! Ila-ilane katene weruh Borobudhur sepisan maneh! Gremis ngene dilabuhi sepedhah-montoran molih! Ya, kebes. Gak papa, mengko balik nyang kantor numpak becak! Langsung aku kandha mbarek Bu Dhe sing dakpondhoki apa perluku molih esuk. Mbarek tata-tata sandhangan, blesek-blesek mlebu tas rangsel. Sepatu teles. Ganti sepatu simpenan sing esik enyar. Kate nyang luwar <city w:st="on"></city></p>
<place w:st="on"></place>kota, harene! Cepetan aé, mergane Pak Darji mau nyusu-nyusu.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Prasaku <state w:st="on"></state></p>
<place w:st="on"></place>wis cepet! Becak dakkon mbandhang aé, gak kathik dakenyang. Sik meksa ketilapan! Tekan kantor, gak nututi! Kantor <state w:st="on"></state></p>
<place w:st="on"></place>wis totup. Diamput! O, iya, sé, Jumat! Totupe jam sewelas.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Pak Darji nggih kondur?” takonku marang Dul, penjaga kantor. Sik nyapu ngresiki jogane kantor areke.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“O, enggih! Sampiyan kèn tengga mriki dhesik. Anu, murugi setrine. Dijak pisan teng luwar <city w:st="on"></city></p>
<place w:st="on"></place>kota, turene wau.”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Oh, brubah pikiran. Maëng kandhane ijen aé!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Diamput! Tiwas kesusu-susu! Omahe juraganku adoh, Rèk, saka kantor! Sing wedok dorung tata-tata! Isok jam siji lagek teka ndhuk kantor!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Nalikane iku aku krungu takhrim. Maca ayat suci ndhuk mejid anyar cedhak kantor. Eling, aku! Iya! Sholat dhesik rak isok! Perlu Rèk, iku! Suwara ayat suci iku ngethik-ethik ati, koyok ngawe-awe nyeluk aku kon sembahyang!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Tetip rangsel, nggih, Wak Dul! Kula katene kesah teng mejid riyin. Jumatan!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Udan dhong terang. Dadi gak kathik mlayu-mlayu. Gak kuwatir kebes maneh. Cumak sepatuku enyar, mlangkahku kudu pelih-pelih. Dalane jembrot, jemeke nggelani hare. Eman, Rèk, sepatu esik enyar!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Lha iku! Marine sholat, sepatuku ilang! Diamput! Dakteleki mumet gak nemu! Nggelakna! Gak kira ketlesut. Jelas dicolong mbarek tangan jahil, nggrathil, melikan duweke liyan! Sepatu enyar, Rèk! Diamput-oput-oput!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sidane balik nyang kantor nyeker! Getun aku! Lah apa aku mau kathik ketarik ayat suci barang! Lah apa kathik mampir sholat! <state w:st="on"></state>Wis genah katene nyang luwar <city w:st="on"></city></p>
<place w:st="on"></place>kota rak pantes sé gak sholat Jumat! Gusti Allah rak maklum lèk gak disowani Yudiran sakjumatan aé!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Lho! Saweg mawon Pak Daruji mongkur! Rangsel sampiyan pun katut teng jipe. Anu, sing setri wau nyuwun ditumbaske oleh-oleh pelem teng Peken Gentheng! Anake kalih dibeta sedaya. Mengke mriki melih ngampiri sampiyan!” ujare Dul, penjaga kantor.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Beneran! Kula nyambut kendharakane! Sepatu kula ical teng mejid. Ajenge mendhet sepatu riyin teng griya!” omongku ndhesek. Kesusu. Lha mongsok katene nyang Borobudhur nyeker aé, Rèk?!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Yamahane Wak Dul dakgawa molih. Ngebut aé. Balapan mbarek sing nyang Pasar Gentheng. <state w:st="on"></state></p>
<place w:st="on"></place>Wis gak udan maneh, mulakna gak kuwatir kebes.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Lho, Ran! Dorung budhal, Koën, Nak?”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Dereng, Dhe. Mendhet sepatu! Sepatu kula amblas teng mejid!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Yok apa sé?!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Aah! Kesuwen! Sepatu kebes mau dakenggo maneh, sret, cepetan aku balik nyengklak Yamaha. Weerrr!! Buuanter! Gak preduli rodha mburi nyiprat kabeh ndhuk geger! Sampek ndhuk kantor, jip dorung katok! Lega! Ēh, engatase golek gratisan nyang Borobudhur aé, ngos-ngosan kaya ndhas sepur ireng langsir! Yamaha langsung mlebu plataran kantor. Srrooogg!! Langsung dakoperna mbarek Wak Dul. Areke nyengir.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“O-alaah, sampiyan niku! Pun disosul mriki niki wau. Sareng kula beja sampiyan mendhet sepatu, langsung Pak Daruji murugi sampiyan teng griyane awak sampiyan. Kesusu selak siyang, turene! Selak awan, ngoten criyose sing setri, mboten kanti.”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ē-alah! Thik apese awakku dina iki!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ngga saniki kula terke mantuk pisan! Kajenge nututi!” ujare Wak Dul sing nunggu kantor. “Kalih dene kula nggih perlu sepedhahmontore, kesah Pandhegiling!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Nggih, pun, ngga!” wangsulanku setuju, mbarek nyengklak ngguk mburine Dul sing <state w:st="on"></state></p>
<place w:st="on"></place>wis nyetarter Yamahane. Wong iki ketoke ngreti kesusune wong! Pandhegiling mbarek omahku jurusane padha ngidule saka kantorku.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Lé! Sampiyan sing nyetir! Mongsok ngretos kula griya sampiyan!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ook! Gombal!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tekan ngomah dipapag mbarek Bu Dhe. “Oo, semalakathak! Pak Darwi maëng ngampiri mrene, Nak Ran! Kepalamu iku, lho! Dakbejani koën nggak onok, terus warah lèk awak pena ditinggal aé, gak sida melok. Terus katene langsung budhal! Koën worung dijak! Moring-moring Pak Darwi mau! Katene brangkat isuk, ndadakna sampek setengah loro esik nguthek ndhuk njero kutha aé!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Wah, diamput!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ngono iku critane! Gara-gara katene oleh gratisan telik Borobudhur, sepatu enyar ilang ndhuk mejid! Worung pisan nontok Borobudhur! Diamput gak ilok-ilok!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Esuke Sabtu, gak enak aku gak mlebu kantor. Gak mlebu iku apa alesane? Karo maneh katene lah apa ndhekem ndhuk omah? Mulakna aku mlebu kantor koyok biyasane!</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Totuk kantor, mlebu ruwangan kerja, Pak Ganda menthelengi aku! Pancet aé, Pak Ganda iku, guyone! Ketoke srengen, tapine ngenyek. Aku dipendeliki tapine gak disapa! Ook, koyok lodrug Markesa aé! Marakna aku salah tingkah aé.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Napaa, Pak! Diteleki Pak Darji melih, tah, kula?” ujarku ngimbangi guyone, nirokna omongane wingi ika.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Sik, tah! Koën iku esik orip?!” takone mbarek ngulu idu. Cleguk, kalamenjinge obah-obah. Esik mentheleng, gak ngguyu, gak mesem. Malah semu mendelik.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Mbok-alah! Pak Ganda iki, gak enak temen guyone. Wong genah obah, omong, ambune kringete kecut ngene dianggep gak orip! Ampun ngoten napaa, Paaak-pak! Ambakna dadi kepala makili Pak Darji lagek sedina aé, <state w:st="on"></state></p>
<place w:st="on"></place>wis ngono, Rèk, sumbunge!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Lho, yok apa, sé?! Kantor iki geger, Ran! Dakkira koën ya katut matek! Koën wingi lak melok Pak Darji luwar <city w:st="on"></city></p>
<place w:st="on"></place>kota, tah? Esuk iki mau aku <city w:st="on"></city></p>
<place w:st="on"></place>nampa tilpun saka pulisi Nganjuk. Jare jipe kantor kene ringsek tabrakan mbarek trek gandheng ndhuk Wilangan! Penumpange matek kabeh! Siji aé gak ana sing orip! Pak Darji sekeluwarga! Termasuk awakmu! Onok tas rangsel nganggo jenengmu, jare pulisi ndhuk tilpun mau! Yok apa, sé, iki? Arek-arek saiki dakkerahna, ngabari keluwargane Pak Darji mbarek menyang omah pondhokanmu pisan…..!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Yok napa?! Ah, ampun guyon, ah! Leres, tah, jipe Pak Darji kecelakakan?!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Sumpah, Ran! Koën iku esik orip temen, tah…..?!”</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sanalika aku eling nggonku misuh-misuh merga sepatuku ilang ndhuk mejid. Diamput! Gara-gara mejid anyar, sepatuku ilang! Saiki gak diamput maneh! Jelas, Gusti Allah Mahaagung! Gak gelem digothangi sowane Yadiran sajumatan aé! Gak kersa dikalahna ajine lan pesonane ditandhing mbarek Borobudhur. Luwih pinter ngatur lelakon! Saiki aku ngreti maknane suwara ayat suci sing ngawe-awe aku wingi ika. Lan maknane sepatuku enyar ilang ndhuk mejid! Ya anguran sepatu enyar ilang timbangane nyawa! Wis! Gak isok mesuh diamput-diamputan maneh aku! Sepatu ilang ya babahna, pokok nyawanku esik cemanthel ndhuk awakku! Diamp….! Gak notuk mesuh maneh. Anu, ganti syukurlah Alhamdullillah!</font></p>
<p><strong><em><font face="Times New Roman">Majalah Jaya Baya, 2 Oktober 1983.</font></em></strong><strong><em><font face="Times New Roman"> </font></em></strong></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><em><u>Dipethik saka:</u></em> Buku Anthology crita cekak <strong>Trèm </strong>karangane Suparto Brata, diterbitake dening Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><strong><em><u>Catatan:</u></em></strong> Buku <strong>Trem, Antologi Crita Cekak </strong>karangan Suparto Brata</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Penerbit: <strong>PUSTAKA PELAJAR, 2000,</strong></font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Alamat: Celeban Timur UH III/548 Yogyakarta 55167</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Telepon: (0274)381542 Fax (274)415232</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Email: </font><a href="mailto:pustaka@yogya.wasantara.net.id"><font face="Times New Roman">pustaka@yogya.wasantara.net.id</font></a></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><em><u>Resensi Buku <strong>Trem </strong></u></em><span> </span>oleh Yoseph Bambang bisa dikunjungi di</font></p>
<p><a href="http://www.supartobrata.blogspot.com/"><font face="Times New Roman">www.supartobrata.blogspot.com</font></a><font face="Times New Roman"> : <strong>Cathetan Tumrap “Trem” Suparto Brata</strong></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=78</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>EXPEDISI TARTAR DAN RADEN WIJAYA</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=67</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=67#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 08:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[ (menyambut Hari Jadi Kota Surabaya) &#160; Kekuatan Satuan Tugas Expedisi Tartar. &#160; Untuk sedikit mendapatkan gambaran betapa besar kekuatan Satuan Tugas Expedisi Tartar ke Jawa penulis mencoba membuat analisa data yang disebut dalam buku W.P.Groeneveldt. Analisa ini juga untuk mendapatkan gambaran susunan dari Satuan Tugas ini.  Armada tugas berkekuatan 1000 kapal dengan perbekalan cukup untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify" class="MsoNormal"> <span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman'">(menyambut Hari Jadi Kota Surabaya)</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Kekuatan Satuan Tugas Expedisi Tartar.</font></strong></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p>Untuk sedikit mendapatkan gambaran betapa besar kekuatan Satuan Tugas Expedisi Tartar ke Jawa penulis mencoba membuat analisa data yang disebut dalam buku W.P.Groeneveldt. Analisa ini juga untuk mendapatkan gambaran susunan dari Satuan Tugas ini. </p>
<p>Armada tugas berkekuatan 1000 kapal dengan perbekalan cukup untuk satu tahun. <span id="more-67"></span></p>
<p>Gubernur Fukien diperintahkan oleh Kubilai Khan untuk menghimpun pasukan berkekuatan 20.000 dari propinsi-propinsi</p>
<place>Fukien</place>, Kiang-si dan Hukuang. Tiga propinsi ini berada di Cina Selatan;</p>
<place>Fukien</place> berbatasan dengan laut selat <country-region></p>
<place>Taiwan</place></country-region>. Pasukan ini dikumpulkan di pelabuhan propinsi</p>
<place>Fukien</place> bernama Chuan-chau dari mana armada diberangkatkan. </p>
<p>Jadi pasukan yang dikumpulkan dari tiga propinsi adalah terdiri dari orang Cina. </p>
<p>Sebagai pemimpin umum ditunjuk Shih-pi dan Ike Mese dan Kau Hsing sebagai pembantu-pembantunya. Dari namanya dapat diperkirakan, Shih-pi dan Ike Mese adalah berasal dari <country-region></p>
<place>Mongolia</place></country-region> (Tartar aseli) sedang Kau Hsing adalah Cina. </p>
<p>Pasukan Tartar yang menyerbu ke Eropa terkenal karena pasukan kudanya. Jadi dapat diperkirakan pasukan kavaleri yang ikut ke Jawa ini terdiri atas orang-orang Tartar. </p>
<p>Selain dari tiga propinsi di atas disebut pula adanya beberapa kesatuan yang dikumpulkan di Ching-yuan (sekarang Ning-po) di sebelah selatan Syang-hai. Shih-pi dan Ike Mese lewat daratan dengan pasukan itu berjalan dari sini menuju Chuan-chou, sedang Kau Hsing mengangkut perbekalan dengan kapal. Jadi diperkirakan pasukan yang berkumpul di Ning-po ini adalah kesatuan-kesatuan berkuda (kavaleri) yang disebut dalam laporan Shih-pi berkekuatan 5000 orang, kiranya terdiri dari orang-orang Tartar. </p>
<p>Maka dapat diperkirakan, expedisi yang berkekuatan 20.000 orang ini terbagi dalam infanteri 15.000 orang. Dalam kronik Cina itu tidak disebut berapa besar jumlah awak kapal yang 1000 buah itu. Kalau tiap kapal berawak kapal 10 orang maka seluruhnya akan berjumlah 10.000 orang pelaut. Jadi seluruh expedisi ini berkekuatan 1000 kapal, kira-kira 30.000 prajurit dan 5000 kuda. </p>
<p>Sesampainya di Tuban expedisi tersebut, seperdua dari kekuatan tempur didaratkan di sini dan menuju Pacekan lewat darat. Bagian yang lewat darat ini dipimpin oleh Kau Hsing terdiri atas kavaleri dan infanteri sedang seorang “Commander of Ten Thousand” (Pangleksa) meminpin pasukan pelopor. Shih-pi dengan seperdua bagian lainnya menuju Ujunggaluh lewat laut membawa perbekalan armada dipimpin oleh Ike Mese. Kiranya bagian yang dengan kapal ini adalah kesatuan-kesatuan bantuan dan senjata bantuan, kesatuan perbekalan dan kesatuan senjata berat, pelempar peluru (batu?). Mengingat keadaan <city></p>
<place>medan</place></city> di Jawa diperkirakan banyak terdiri dari rawa-rawa maka senjata berat ini akan selalu disiapkan di kapal saja. Bagian terbesar dari expedisi ini adalah kesatuan infanteri. </p>
<p>Maka dapat diperkirakan seluruh kekuatan expedisi terbagi atas kesatuan kavaleri 5000 orang, kesatuan infanteri kira-kira 10.000 orang dan kesatuan bantuan kira-kira 5000 orang yang dapat dipakai sebagai bantuan cadangan. </p>
<p>Dalam gerakannya menuju <city></p>
<place>Kediri</place></city> disebut, sebagian dari pasukan lewat sungai, kesatuan bantuan dan kesatuan senjata berat? Kau Hsing, melalui jalan barat sungai dan Ike Mese mengambil jalan timur. </p>
<p>Setelah Kediri berhasil direbut, maka Kau Hsing dengan 1000 infanteri mengejar seorang pangeran yang berhasil lolos menuju ke pegunungan. Sekembali dari pegunungan agaknya timbul perselisihan antara panglima Cina ini dengan panglima-panglima Tartar. Shih-pi dan Ike Mese, karena kedua orang panglima ini telah mengijinkan Wijaya kembali ke Majapahit. Kau Hsing tidak mempercayai Wijaya, maka ia mengejar dan meninggalkan <city></p>
<place>Kediri</place></city> dengan divisi dan pasukan pelopor yang di bawah pimpinannya. </p>
<p> </p>
<p><strong>Perjuangan Wijaya</strong> </p>
<p>Semula kekuasaan pulau Jawa di Jawa Timur setelah raja Airlangga turun tahta, berada di Daha, sekarang lebih dikenal dengan <city></p>
<place>Kediri</place></city> dengan rajanya Jayabaya. Sebelum turun tahta Airlangga membagi negaranya Kahuripan menjadi dua: Panjalu (Daha sebagai pusatnya) dan Jenggala bagi kedua puteranya untuk memelihara kerukunan antara kedua saudara ini. Tapi akhirnya Jenggala dihancurkan oleh raja Jayabaya. Menurut para ahli, Prof. Purbotjaroko cs, untuk membenarkan tindakannya maka raja Jayabaya memerintah Mpu Sedah menulis Barata Yuda berbentuk kidung pujaan bagi raja Jayabaya. Mpu Sedah tidak sempat menyelesaikannya, maka diteruskan oleh Mpu Panuluh. Kiranya nama <city></p>
<place>Kediri</place></city> ini mulai dipakai sejak Jayabaya mulai menjadi penguasa tunggal di Pulau Jawa, berdiri seorang diri, <city></p>
<place>Kediri</place></city>. </p>
<p>Pada tahun 1222 setelah pertempuran di Ganter, Kertajaya, raja terakhir <city></p>
<place>Kediri</place></city>, terpaksa mengakui keunggulan Ken Arok di Tumapel. Pusat Pulau Jawa berpindah ke Tumapel. Nama Tumapel ini diperkirakan diganti oleh raja Kertanegara menjadi Singasari. Sebutan prabu untuk raja mulai dipakai oleh Kertanegara. Kertanegara adalah pencetus Doktrin Wawasan Nusantara: Persatuan di Nusantara dan Persahabatan dengan Negara Tetangga yang didasari oleh suatu falsafah kerukunan “Manunggaling Kawula lan Gusti” </p>
<p>Belum sampai tercapai cita-citanya Prabu Kertanegara terbunuh dalam suatu serbuan pasukan Kediri yang datang melalui jalan selatan dari Kediri masuk Singasari, yang dalam keadaan kosong tanpa pasukan pertahanan, karena pasukan pertahanan tersebut di bawah pimpinan Wijaya terpancing oleh pasukan Kediri yang beramai-ramai datang dari utara. Menurut kitab Pararaton kontak pertama dengan pasukan <city></p>
<place>Kediri</place></city> terjadi di Desa Mameling (sekarang disebut Meling yang berada di bagian selatan Lawang). Sampai di Bungkal ia berhasil melukai pengejarnya Kebomandarang. </p>
<p>Kemudian Wijaya membagi-bagikan celana gringsing kepada pengikut-pengikutnya tiap orang sehelai dan diperintahkan ngamuk, hingga pasukan Daha banyak berkurang kekuatannya. Kembali ke Singasari untuk menjemput para puteri Kertanegara, didapatnya Singasari telah menjadi lautan api. Hanya seorang puteri yang diketemukan yang diterangi oleh api yang membakar keraton, yalah yang tertua, adiknya tidak diketemukan. </p>
<p>Semalam mereka berjalan ke utara, pada pagi harinya di sebelah Telaga Pager Wijaya disusul oleh musuh dan terjadilah lagi pertempuran di mana Gajah Pagon terluka pahanya. Pasukan Daha ini tidak meneruskan mengejarnya tapi kembali ke Telaga Pager, sedang Wijaya berjalan masuk hutan dan puteri Kertanegara didukung bergantian. Sesampainya di Pandaan mereka diberi makan oleh Buyut Pandaan bernama Macan Kuping. Gajah Pegon yang terluka ditinggalkan oleh Wijaya pada Buyut Pandaan yang menyembunyikannya di sebuah gubuk di atas ladangnya. </p>
<p>Dari Pandaan menurut prasasti Gunung Butak, Wijaya menuju Desa Kedungpeluk di mana terjadi kontak dengan musuh. Dari sini ia menuju ke barat ke Desa Lembak. Di sini tidak bertemu musuh maka perjalanan dilanjutkan ke Batang di mana pasukan perintis Wijaya menjumpai musuh yang mundur tanpa melawan. </p>
<p>Wijaya terus ke barat menuju Kepulungan, di mana ia berjumpa lagi dengan musuh dan terjadi pertempuran di mana pasukan musuh banyak berkurang dan melarikan diri. Maka Wijaya berjalan terus ke Rabut Carat di mana ia berjumpa lagi dengan musuh yang datang dari barat yang dapat dialahkan oleh Wijaya. </p>
<p>Dari Rabut Carat ini tampak bendera Daha berkibar di sebelah timur Hanyiru berwarna merah putih. Melihat bendera ini anak Jayakatwang yang menjadi menantu Kertanegara bernama Ardaraja dengan pasukannya meninggalkan Wijaya menuju Kepulungan. </p>
<p>Dari Rabut Carat Wijaya menyeberangi sungai menuju ke Pamotan yang berada di sebelah utara sungai dengan pasukannya yang hanya tinggal 600 orang. Paginya ia bertemu lagi dengan musuh, banyak prajurit yang putus asa dan meninggalkannya, hingga pengikutnya tinggal sedikit. Maka Wijaya bermaksud meneruskan perjalanan menuju ke Terung untuk minta bantuan kepada Akuwu Terung, Warwagraya, mengumpulkan orang di sebelah timur dan timur laut Terung. Maka pengikut Wijaya menjadi gembira dan pada malam harinya mereka berangkat ke barat melalui Kulawan (Tulangan?) yang telah dijadikan benteng oleh musuh, di mana ia menjumpai musuh yang besar jumlahnya. Wijaya dikejar oleh musuh dan lari ke utara menuju Kembangsri (Bangsri), di mana ia berjumpa lagi dengan musuh, hingga ia terpaksa bergegas mencebur ke Bengawan dan menyeberanginya. Di sungai ini banyak prajuritnya yang tewas terkena tumbak musuh. Banyak yang lari mencari hidup sendiri-sendiri. Sesampainya di seberang sungai pengikut Wijaya tinggal duabelas orang. Pada pagi hari rombongan Wijaya diketemukan oleh rakyat Kudadu yang menolongnya dan memberinya makan. Oleh mereka Wijaya disembunyikan agar jangan sampai diketemukan oleh musuh. Maka akhirnya ditunjukkannya dan diantarkannya Wijaya ke tempat penambangan di Desa Rembang untuk menyeberang ke Madura. </p>
<p>Tujuan terakhir di Madura adalah Sumenep, di mana Wiraraja berada sebagai Adipati yang diangkat oleh Kertanegara. Demikian menurut kitab Pararaton. Oleh Wiraraja dinasihatkan supaya Wijaya kembali ke Jawa untuk mengabdi pada Jayakatwang. Setelah mendapat kepercayaan supaya minta izin untuk membangun desa di sebuah hutan di wilayah Desa Tarik. </p>
<p>Dengan bantuan prajurit dari Madura yang dipimpin sendiri oleh Wiraraja dibangunlah oleh Wijaya sebuah desa di tengah hutan yang penuh dengan pohon maja yang rasanya pahit. Maka desa baru itu disebut Majapahit. Mendengar akan adanya desa baru Majapahit yang dibangun oleh Wijaya menantu Kertanegara ini, maka berdatanganlah rakyat dari Singasari mengabdi Wijaya. Makin lama Majapahit makin menjadi besar dan ramai. Mengalirnya rakyat ke Majapahit ini menimbulkan kecurigaan pada Jayakatwang. </p>
<p>Berkembangnya Majapahit menimbulkan kecurigaan pada Jayakatwang. Di samping itu Wijaya pun jadi khawatir adanya serangan dari <city></p>
<place>Kediri</place></city>. </p>
<p>Bersamaan waktunya dengan suasana curiga-mencurigai ini satuan tugas expedisi Tartar tiba di Tuban dalam bulan Desember tahun 1292. Maksud kedatangan tentara Tartar ini diketahui oleh Wijaya. Maka timbullah gagasan untuk menampar lawan dengan meminjam tangan. Maksudnya memukul Jayakatwang dengan orang-orang Tartar. </p>
<p>Bila okol tidak dipunyai maka akallah yang dipakai, demikianlah kiranya semboyan mereka. </p>
<p> </p>
<p><strong>Desa Majapahit menghalau Tartar</strong> </p>
<p>Sebelum dimulai uraian tentang gerakan-gerakan operasi militer oleh Wijaya terhadap kesatuan-kesatuan Tartar, lebih dahulu kita berusaha mendapatkan gambaran mengenai keadaan <city></p>
<place>medan</place></city> di mana kesatuan-kesatuan baik dari Majapahit maupun dari Tartar. Keuntungan Majapahit adalah, bahwa prajurit Majapahit lebih mengenal keadaan <city></p>
<place>medan</place></city> yang bagi orang Tartar masih sangat asing. </p>
<p>Penulis memperkirakan, di sebelah barat sungai terdapat <city></p>
<place>medan</place></city> berbukit-bukit dan sebagian besar tersusun oleh tanah keras atau bongkah-bongkah karang. Di sebelah timur sungai diperkirakan keadaan tanahnya masih lunak, bahkan banyak yang merupakan rawa-rawa dan di dekat desa di sana-sini berupa tanah persawahan. Kalau ada jalan tentu jalan-jalan ini tidak dikeraskan dengan diberi dasar batu. Baik di barat maupun di timur sungai masih terdapat banyak hutan-hutan lebat. </p>
<p>Betapa sukarnya daerah ini dilalui, apa lagi oleh suatu kesatuan militer yang besar, dapat kita perkirakan dari waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak antara Pacekan sampai <city></p>
<place>Kediri</place></city>. </p>
<p>Dalam kronik Cina laporan Shih-pi menyebut, ia harus bertempur sepanjang kurang-lebih 300 li dari <city></p>
<place>Kediri</place></city> sampai ke kapal-kapalnya. Memang jarak antara Surabaya dan Kediri adalah kira-kira 130 kilometer lewat jalan berbelok-belok, kalau ditarik garis lempang dari Surabaya sampai Kediri kira-kira jarak itu adalah kurang-lebih 100 kilometer. </p>
<p>Jarak Majapahit-Kediri yang kira-kira tujuhpuluh kilometer itu oleh kesatuan Tartar ditempuh dalam waktu 4 hari (tanggal 15 sampai 19) berjalan. Jadi tiap harinya hanya dapat menyelesaikan jarak kira-kira 17 kilometer. Kalau sehari selama 2 hari masih terang mereka dapat berjalan kira-kira 9 jam, maka tiap jam kiranya dapat diselesaikan 2 km. Maka dari sini kita dapat membuat perkiraan, betapa beratnya keadaan <city></p>
<place>medan</place></city> pada waktu itu. </p>
<p>Kronik Cina menyebut, Wijaya pada hari ke dua bulan ke empat diizinkan kembali ke Majapahit dengan pasukannya disertai oleh dua orang perwira Tartar dan 200 orang prajurit untuk menyiapkan persembahan bagi kaisar Tartar, jadi 13 hari setelah Kediri menyerah. Tanggal 9 Mei ia berangkat, sampai di Majapahit tanggal 13 Mei. Dengan diam-diam Wijaya menyiapkan pasukan dan rakyatnya. </p>
<p>Kau Hsing yang sejak tanggal dikalahkannya <city></p>
<place>Kediri</place></city> mengejar seorang pangeran yang lari ke pegunungan sekembalinya ke <city></p>
<place>Kediri</place></city> baru mengetahui, bahwa Wijaya telah berangkat dengan ijin Shih-pi dan Ike Mese. Tindakan rekan-rekannya ini tidak disetujui oleh Kau Hsing, agaknya timbullah perselisihan antara para pembesar ini. Diperkirakan Kau Hsing berada di pegunungan selama dua minggu lebih, kita buat 16 hari. Maka ia diperkirakan kembali pada tanggal 14 Mei. Setelah mengumpulkan divisinya ia segera mengejar Wijaya yang telah sempat menyiapkan pasukan di tempat-tempat pengadangan. </p>
<p>Menurut kitab-kitab Pararton, Ronggolawe dan sebagainya pasukan Tartar pengantar Wijaya sesampainya di Majapahit (tanggal 13 Mei?) dipesilakan meletakkan senjata dengan alasan para puteri telah jera melihat senjata, sehingga tidak mau dijemput oleh orang-orang yang bersenjata. Pasukan Tartar pengantar Wijaya ini diselesaikan (dihabisi) oleh Ronggolawe dan Sora. </p>
<p>Kau Hsing menyebut dalam laporannya waktu ia mengejar Wijaya, setelah mengumpulkan prajurit dalam jumlah yang besar Wijaya menyerang angkatan darat (army) kaisar, tapi ia dengan orang-orangnya (sambil terus menuju Ujunggaluh tempat kapal-kapal berlabuh) berkelahi secara gagah berani dan mematahkan serangan ini. Setelah selamat sampai di kapal ia membunuh Jayakatwang dan puternya (tawanan dari <city></p>
<place>Kediri</place></city>) dan berangkat kembali ke negerinya. </p>
<p>Kalau ia memerlukan waktu lebih dari biasa untuk mencapai Ujunggaluh yalah lebih dari 6 hari akibat penghadangan oleh Wijaya umpamanya 8 hari, maka bisa<span>  </span>ia berangkat dari Kediri pada tanggal 17 Mei 1293, sampainya di Ujunggaluh sebelum tanggal 30 Mei, yalah sekitar tanggal 25 Mei. </p>
<p>Laporan Kau Hsing dapat diartikan, seolah-olah ia berangkat kembali ke negerinya tanpa menunggu Shih-pi dan Ike Mese. </p>
<p>Betapa hebatnya serangan Wijaya ini dapat kita perkirakan dari laporan lain yang menyebutkan, bahwa Shih-pi sampai terputus dari pasukan yang lain. Ini berarti bahwa daerah sepanjang jalan antara <city></p>
<place>Kediri</place></city> dan Ujunggaluh benar-benar dikuasai oleh pasukan dan rakyat Desa Majapahit. </p>
<p>Shih-pi yang meninggalkan <city></p>
<place>Kediri</place></city> beberapa hari kemudian dan terputus dari pasukan yang lain terpaksa harus dengan bertempur membuka jalan menuju Pacekan dan Ujunggaluh yang dicapainya dengan susah-payah. Untuk mencapai kapal-kapalnya di muara sungai ia harus bertempur sepanjang jalan kira-kira 300 li, kira-kira 100 km. Ia kehilangan lebih dari 3000 orang tewas dalam pertempuran ini. </p>
<p>Ini dapat dibayangkan, bagaimana jalan pertempuran dan mengapa Shih-pi terpaksa harus menelan kekalahan. Kalau Kau Hsing yang memimpin divisi infanteri dengan pasukan perintisnya yang terlatih dapat mematahkan serangan Wijaya, maka pasukan berkuda Tartar yang berada dalam devisi Shih-pi merupakan makanan empuk bagi pasukan panah Majapahit, belum lagi kalau kuda-kuda ini dipancing masuk rawa-rawa maka orang-orang di atas kuda ini merupakan sasaran yang baik bagi anak panah Majapahit. Tiga ribu orang yang tewas ini kira-kira sabagian besar adalah dari kavaleri. </p>
<p>Shih-pi rupa-rupanya dengan tergesa-gesa masuk kapal, karena ia dikejar oleh pasukan Wijaya sampai dekat Pacekan, di Tegal Bobot Sari. </p>
<p><strong> </p>
<p></strong><strong>Expedisi Tartar meninggalkan Pulau Jawa.</strong> </p>
<p>Dalam buku W.P.Groeneveldt mengenai kedatangan expedisi Tartar ini terdapat laporan-laporan para panglima masing-masing. Tidak seluruh laporannya akan disebut pada tulisan ini tapi hanya mengenai keberangkatannya kembali ke negerinya saja. </p>
<p>Kau Hsing yang lebih dulu kembali dari <city></p>
<place>Kediri</place></city> ke Ujunggaluh melaporkan: Ia sangat kecewa mengenai diizinkannya Wijaya kembali (dari mengantar pasukan Tartar bertempur menaklukkan <city></p>
<place>Kediri</place></city>, pulang kembali ke Majapahit), karena ia mencurigainya. Benar saja, Wijaya membunuh orang-orang yang mengantarkannya (Tartar) dan berbalik memusuhi orang-orang Tartar. Wijaya mengumpulkan prajurit dalam jumlah yang besar dan menyerang Kau Hsing dalam perjalannya kembali ke Ujunggaluh. Mereka bertempur dengan gagah berani dan berhasil mematahkan serangan Wijaya. Setelah itu (sesampainya di Ujunggaluh) Kau Hsing membunuh Jayakatwang dan anaknya, dan kembali ke Cina. </p>
<p>Ike Mese tidak menyebut kembalinya, tapi dalam buku Groeneveldt disebut, supaya melihat laporan Shih-pi. Rupa-rupanya Shih-pi dan Ike Mese kembali bersama dari <city></p>
<place>Kediri</place></city>. </p>
<p>Shih-pi melaporkan, Wijaya minta izin kembali ke Majapahit dan ia dan Ike Mese menyetujuinya. Wijaya disertai pengawal dua orang perwira dengan 200 orang prajurit. Wijaya membunuh pengawal-pengawal ini dan berbalik melawan Tartar. Pasukan Tartar (baik devisi Kau Hsing yang berangkat duluan, maupun Shih-pi dan Ike Mese yang menyusul kemudian) dicegat dan diserang dari sebelah kanan dan kiri. Shih-pi berada di belakang dan terputus hubungannya dengan pasukan darat yang lain. Ia terpaksa bertempur sepanjang 300 li untuk dapat mencapai kapal-kapalnya, dan akhirnya ia naik kapal dan mencapai Chuan Chou setelah berlayar selama 68 hari. </p>
<p>Setelah para panglima kembali berkumpul di Ujunggaluh, maka dalam perundingan diputuskan untuk kembali saja, karena tugas menghukum raja Jawa telah selesai, dan tidak ada gunanya untuk meneruskan pertempuran, karena mereka tak mengenal keadaan medan, mereka dapat terrpancing masuk rawa-rawa, di mana mereka tak bisa bergerak dan dengan mudah diserang oleh orang-orang Majapahit. Kiranya selain itu mereka juga memperhitungkan keadaan angin yang pada akhir bulan Mei biasanya sudah mulai meniup ke Barat (angin timur) dengan tetap. Selama kira-kira tiga bulan. Untuk bisa cepat sampai di Cina mereka harus segera berangkat, kalau mereka tidak ingin menjumpai rintangan berupa taifun atau angin yang tidak menentu. Maka mereka dapat sampai di Chuang Chou setelah 68 hari meninggalkan Jawa. </p>
<p>Juga kemungkinan kejangkitan wabah mereka perhitungkan. Kalau mereka lebih lama berada di rawa-rawa di muara sungai ini, dikuatirkan akan bertambahnya korban disebabkan oleh malaria dan penyakit lain. </p>
<p>Maka diputuskan lebih baik kembali daripada menderita lebih banyak kerugian, untuk menghindari kegagalan total, karena tidak mengenal <city></p>
<place>medan</place></city>, penyakit dan kehancuran oleh tifun di laut. </p>
<p>Di mana-mana Tartar menang, tapi di <country-region></p>
<place>Indonesia</place></country-region> mereka gagal. </p>
<p><u>Dikutip dari buku:</u>“682 tahun Sura Ing Baya” (terbitan Pemkot Surabaya 1975)Tulisan: Kol. Laut Dr. Sugiyarto Tirtoatmojo.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=67</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peristiwa Surabaya 11 Agustus 1949</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=12</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=12#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Sep 2007 07:23:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 10 Agustus 1949 malam komandan Batalyon 503 Mayangkara Mayor Djarot dengan beberapa perwira staf menemui perwira UNCI (komisi PBB untuk urusan pertikaian Indonesia – Belanda) Kapten Knight di tempatnya di Oranje Hotel, disambut pula oleh perwira UNCI Braseur Kermadec. Pada pagi harinya, tanggal 11 Agustus 1949, ketika diumumkan cease fire, Mayor Djarot secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 10 Agustus 1949 malam komandan Batalyon 503 Mayangkara Mayor Djarot dengan beberapa perwira staf menemui perwira UNCI (komisi PBB untuk urusan pertikaian Indonesia – Belanda) Kapten Knight di tempatnya di Oranje Hotel, disambut pula oleh perwira UNCI Braseur Kermadec.</p>
<p><span id="more-12"></span>Pada pagi harinya, tanggal 11 Agustus 1949, ketika diumumkan <em>cease fire</em>, Mayor Djarot secara resmi lapor kepada perwira UNCI bahwa TNI dengan senjata lengkap dan seragam lengkap (pakai lencana Mayangkara yang baru diresmikan empat hari sebelumnya) telah berada di Kota Surabaya. Sore hari pukul 16.00 datang Chef Staf A Divisie (kepala staf Divisi A tentera Kerajaan Belanda) Kolonel Rietveld mengadakan perundingan dengan pihak TNI, disaksikan oleh pihak UNCI. Tetapi selesai perundingan semua pasukan TNI, termasuk Mayor Djarot dan perwira pengikutnya, ditangkapi oleh tentara Belanda dan dilokasikan pada suatu tempat.Di Kota Surabaya sejak tahun 1946 praktis tidak pernah terjadi pertempuran lagi. <city></city></p>
<place></place>Selengkapnya klik  <a href="http://www.supartobrata.com/wp-content/download/Peristiwa%20Surabaya%2011%20Agustus%201949.pdf">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=12</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petualangan Huijer</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=10</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=10#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Sep 2007 05:53:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Minggu sore 23 September 1945, tiba di stasiun Pasarturi Surabaya seorang Kapten Angkatan Laut Belanda bernama P.J.G. Huijer. Ia langsung pergi ke Hotel Oranje, tempat yang lima hari sebelumnya terjadi peristiwa perobekan bendera Belanda dengan mengakibatkan tewasnya Mr. Ploegman. Namun apa yang dilihat Huijer di depan hotel bukanlah pemuda Indonesia yang dengan penuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pada hari Minggu sore <date Year="1945" Day="23" Month="9"></date>23 September 1945, tiba di stasiun Pasarturi <city></city></p>
<place></place>Surabaya seorang Kapten Angkatan Laut Belanda bernama P.J.G. Huijer. Ia langsung pergi ke Hotel Oranje, tempat yang <city></city></p>
<place></place>lima hari sebelumnya terjadi peristiwa perobekan bendera Belanda dengan mengakibatkan tewasnya Mr. Ploegman.<span id="more-10"></span></font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Namun apa yang dilihat Huijer di depan hotel bukanlah pemuda Indonesia yang dengan penuh semangat meneriakkan “Merdeka!”, melainkan wajah-wajah pribumi yang kurang makan, miskin, hormat ketakutan kalau berpapasan dengan orang asing. Mereka baru memancarkan pandang dendam kebencian kalau melihat serdadu Jepang yang membawa senapan, menjaga keamanan hotel.</font></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Selengkapnya silahkan klik <a href="http://www.supartobrata.com/wp-content/download/Huijer.pdf">disini</a></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=10</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMICU PERTEMPURAN 10 NOVEMBER 1945</title>
		<link>https://supartobrata.com/?p=6</link>
		<comments>https://supartobrata.com/?p=6#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Sep 2007 04:52:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Berita akan mendaratnya Tentara Sekutu tanggal 25 Oktober 1945 di Surabaya dikawatkan pertama oleh Menteri Penerangan Amir Syarifuddin dari Jakarta. Dalam berita tersebut menteri menjelaskan tugas Tentara Sekutu di Indonesia, yaitu mengangkut orang Jepang yang sudah kalah perang, dan para orang asing yang ditawan pada zaman Jepang. Menteri berpesan agar pemerintah daerah di Surabaya menerima [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="PT-BR"><font face="Times New Roman">Berita akan mendaratnya Tentara Sekutu tanggal 25 Oktober 1945 di Surabaya dikawatkan pertama oleh Menteri Penerangan Amir Syarifuddin dari Jakarta. Dalam berita tersebut menteri menjelaskan tugas Tentara Sekutu di Indonesia, yaitu mengangkut orang Jepang yang sudah kalah perang, dan para orang asing yang ditawan pada zaman Jepang. Menteri berpesan agar pemerintah daerah di Surabaya menerima baik dan membantu tugas Tentara Sekutu tersebut.<span id="more-6"></span></font></span><span lang="PT-BR"><font face="Times New Roman"> </font></span><span lang="PT-BR"><font face="Times New Roman">Sikap politik pemerintah pusat tersebut sulit diterima rakyat <city></city></font></span><span lang="PT-BR"><font face="Times New Roman"></p>
<place></place>Surabaya pada umumnya. <span lang="PT-BR">Rakyat Surabaya mencurigai kedatangan Inggris sebagai usaha membantu mengembalikan kolonialisme Belanda di Indonesia. Kasus Kolonel P.J.G. Huijer, perwira Tentara Sekutu berkebangsaan Belanda, menjadi salah satu alasannya kecurigaan itu. Kolonel P.J.G. Huijer yang datang di Surabaya pertama kali pada tanggal 23 September sebagai utusan Laksamana Pertama Patterson, Pimpinan Angkatan Laut Sekutu di Asia Tenggara, ternyata membawa misi rahasia pula dari pimpinan Tertinggi Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Huijer yang bersikap dan bertindak terang-terangan menentang revolusi Indonesia akhirnya ditangkap dan ditawan di Kalisosok oleh aparat keamanan Indonesia.</span></font> </span></p>
<p><span lang="PT-BR"></span><span lang="PT-BR"><span lang="PT-BR"><font face="Times New Roman"> Selengkapnya bisa klik<a href="http://www.supartobrata.com/wp-content/download/moestopo.pdf">disini</a>.</font></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=6</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
