PASARTURI HINGGA 1982

| |

Oleh Suparto Brata, pensiunan pegawai pemkot Surabaya.

Asal mula Pasarturi.

“Di Kembang Sri, Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dengan menyeberangi Bengawan. Dari 300 pengikutnya tinggal 12 orang saja. Yang lain ditangkap dan dibunuh oleh pasukan Jayakawang. Dengan letih, lesu dan putusasa Raden Wijaya melanjutkan pelariannya ke utara. Sampai di Desa Kudadu, kedatangannya disambut dengan ramah temah oleh kepala desa dan dirawat baik-baik. Kemudian oleh rakyat Kudadu Raden Wijaya dibawa ke pangkalan perahu Pejingan, dan dari pangkalan ini melalui Kali Krembangan, berlayarlah Raden Wijaya menyeberangi laut ke Madura.

Pangkalan perahu Pejingan kemudian karena peristiwa itu diubah namanya menjadi Datar, yang berarti tempat berangkatnya Sang Buruan (Raden Wijaya diburu-buru oleh pasukan Jayakatwang). Nama Datar berubah menjadi Padatar, seperti halnya “seba” menjadi “paseban”, dan lambat laun berubah lagi menjadi Padatari. Karena pangkalan perahu ini kemudian berubah menjadi tempat berkumpulnya orang mempertukarkan barang seperti pasar, maka namanya berubah lagi dari Padatari ke Pasarturi.

Jadi menurut penyelidikan sejarah, pangkalan perahu tempat Raden Wijaya menyelamatkan diri berlayar ke Madura pada tahun 1292 itu adalah di tempat ini, yang sekarang bernama Pasarturi.”

Itulah awal pidato Walikotamadya Surabaya R. Soekotjo pada tanggal 21 Juni 1971 ketika membuka bangunan baru berlantai tiga Pasarturi. Bangunan itu adalah tahap satu dari pembangunan dua tahap berikutnya. Sayang sekali tujuh tahun kemudian, tanggal 2 Mei 1978, bangunan itu terbakar habis. Dan hanya tinggal bangunan tahap tiga saja.

Kali Krembangan berangsur-angsur hilang dari wajah Kota Surabaya. Dan pangkalan perahu Padatari terlanjur menjadi pasar, melanjutkan sejarahnya untuk pusat kegiatan orang berjual beli. Padagang yang semula datang lewat sungai, dengan dibangunnya rel keretaapi OJS Madura-Ujung-Sepanjang, berpindah menggunakan kendaraan berrel besi itu. Orang-orang dari Madura menjual buah-buahan hasil bumi Madura seperti salak, juwet, jambu kluthuk, jambu mete, mangga naik keretaapi OJS turun dan dipasarkan di Pasarturi. Begitu juga para petani di sekitar Sepanjang dan Karangpilang, mengangkut hasil buminya dengan keretaapi OJS ke Pasarturi.

Sedang penjual toak dari Gresik semula masih bertahan membawa dagangannya dengan cikar (lewat Tandes) menjuju ke Jembatan Merah. Tetapi setelah dibangun jalan keretaapi NIS-SGS, mereka berganti kendaraan keretaapi dan tidak membawa toaknya ke Jembatan Merah yang mulai ramai dibangun gedung-gedung perniagaan (kantor) Belanda, berubah dipasarkan ke Pasarturi. Dengan keretaapi itu pula pedagang hasil bumi dari Lamongan yang menjual semangka, garbis, bengkoang, kedondong dan lain-lain barang dagangannya ke Pasarturi. Pasarturi menjadi pusat perdagangan buah dan hasil bumi lainnya.

Pada zaman Jepang banyak toko tutup karena barang dagangan tidak ada. Tidak banyak barang baru diperjualbelikan. Banyak orang kaya terutama yang bertempat tinggal di daerah Darmo kehilangan pekerjaannya, terpaksa menjuali barang kekayaannya kepada tukang loak. Tukang loak yang keluyuran di seluruh kota, setelah memperoleh barang-barang dagangan yang kebanyakan berupa alat-alat rumahtangga atau perabot rumah, membawanya ke pasar. Kendaraan umum pada zaman Jepang hanya ada tram listrik yang melintas di tengah kota, dan keretaapi OJS yang lewat Pasarturi. Kendaraan umum lainnya dokar atau becak. Jadi yang praktis para tukang loak (rombeng) yang sudah dapat barang-barang dari daerah perumahan orang kaya di Darmo, ya naik keretaapi OJS menuju Pasarturi. Di sana dipasarkan. Orang kaya baru yang menginginkan barang yang berkualitas tidak lagi mencari barang di toko, toko yang berjualan barang semua tutup karena tidak ada barang yang dijual, maka mereka memburu barang bekas di Pasarturi. Maka sejak zaman Jepang (1942-1945) terkenallah Pasarturi sebagai pasar barang rombeng alias pasar loak.

Ciri khas dan kebesaran Pasarturi sebagai tempat pasar rombeng berkembang hingga zaman Indonesia Merdeka (1950-1970).

Konon kisahnya, sejak Indonesia Merdeka, Pasarturi sudah enam kali terbakar. Termasuk kebakaran kena mortir pasukan Inggris Mansergh. Pasarturi paling banyak kena sasaran mortir pada zaman perang melawan Inggris-Gurkha-Nica. Kata orang Masjid Kemayoran yang diincar musuh karena tempat itu tempat kaum muslimin berlindung dan berkukuh hati melawan pendaratan tentara Inggris. Tapi Masjid Kemayoran utuh, sedang Gereja Kepanjen di depan Masjid Kemayoran atap kuncupnya yang meruncing tinggi hancur terkena peluru mortir. Juga Markas Pemuda Indonesia (PTKR = Polisi Tentara Keamanan Rakyat) di depan Kantor Gubernur, sekarang Tugu Pahlawan) menjadi incaran peluru meriam dari laut, darat dan bom dari udara. Seluruh kampung dan bangunan di selatan rel keretaapi viaduk (dari Kapasari hingga Pasarturi) hancur berantakan oleh peluru meriam dari kapal-kapal Inggris, kecuali (yang tetap utuh) gedung Kantor Gubernur. Oleh pasukan Mansergh pucuk jam kantor Gubernur ini dijadikan tetenger jauh-dekatnya peluru meriam laut sampai ke sasaran, jadi menara jam yang tinggi letaknya itu tidak dihancurkan. Tetapi peluru-peluru meriam lainnya banyak yang berjatuhan di pasar yang malang ini sehingga los-los pasar banyak yang hancur.

Pada zaman pendudukan Belanda (1945-1949) Pasarturi termasuk salah satu pasar yang mendapat perbaikan, karena paling parah rusak akibat pertempuran 10 November 1945. Pasar-pasar tradisional yang lain di Surabaya keadaannya tidak separah Pasarturi. Namun belum lagi tiga tahun dari perbaikan pada zaman pendudukan Belanda tadi, pada tahun 1950 (sudah zaman Merdeka), api mengamuk di pasar itu. Akibatnya bukan musna, tapi tumbuh kedai-kedai terbuat dari papan mengelilingi bangunan pusat. Orang jual-beli tidak selalu di dalam pasar lagi, tetapi juga bisa dilakukan sambil berdiri, tanpa memiliki stand tetap, dan di jalanan sekeliling pasar. Dijual di sini barang-barang penemuan baru yang dicoba pemasarannya, seperti sabun, kain, baju jadi, kopor, ban, alat-alat listrik. Maklum, barang-barang itu pada zaman pendudukan Jepang sampai zaman akhir perjuangan termasuk barang langka, tidak ada barang dari keluaran pabrik, sedang waktu itu (1950-1960) Bung Karno tidak mau import barang, inginnya segala produksi barang dibikin sendiri oleh putera bangsa. Barang-barang penemuan baru seperti sabun, apa sabun batangan, apa sabun tolet, apa sabun cair, masih terasa baru zaman itu, maka banyak diperkenalkan di Pasarturi. Barang-barang penemuan baru maupun barang rombeng berupa perabot rumah dan lain-lain itu kemudian berkembang pesat (jumlah pedagang maupun pembeli kian banyak), sehingga memerlukan perluasan tempat. Maka lapangan hijau dan tempat penggergajian kayu di sebelah barat pasar diubah menjadi tempat peragaan perabot rumah tangga (barang-barang besar seperti almari, pintu model baru, kursi, diperagakan di sana). Masih berlanjut dari asal-muasal pedagangnya yang tukang loak, maka pemilik stand ini kebanyakan juga keluarga tukang loak.

Lapangan hijau yang saya sebut tadi, dulunya pada zaman Hindia Belanda merupakan lapangan tempat belajar menembak para serdadu KNIL (mungkin dari situ asal nama Jalan Tembaan). Sebenarnya lapangan hijau tadi merupakan lapangan yang bersejarah, karena ketika memperingati satu bulan umur Republik Indonesia para pemuda Surabaya merayakan upacara sebulan kemerdekaan, 17 September 1945 di lapangan situ. Waktu itu meskipun Indonesia sudah merdeka, keadaan Kota Surabaya masih diselimuti suasana zaman penjajahan Jepang yang kejam, heitaisan Jepang masih berjaga-jaga dengan senjata di markasnya, maka untuk merayakan sebulan Indonesia Merdeka para pemuda Surabaya mencari tempat yang tidak terlalu mencolok. Yaitu di lapangan tembak Pasarturi tadi. Upacara tadi kemudian memicu pergerakan pemuda Surabaya merebut senjata Jepang. Ditambah rapat samudra besar-besaran yang lebih berani di Tambaksari 21 September 1945, keberanian pemuda itu menjadi pergerakan perebutan kekuasaan terhadap tentara Jepang, terjadi pada 29-30 September 1945, dilakukan serentak oleh seluruh rakyat Surabaya, baik dari kalangan pemerintah sipil, BKR, sampai rakyat-rakyat di kampung-kampung. Malam itu hampir semua rakyat Surabaya tidak ada yang tidur, semua siap merebut kekuasaan Jepang, semua bersiap-siap dengan teriakan “Siaaap!!” dan memukul tabuhan bertalu-talu kalau terjadi perlawanan dari pihak (markas) Jepang. Dari kejadian malam itulah kemudian rakyat Surabaya gampang sekali berteriak “Siaaap!” dan pukul tabuhan, kadang-kadang bukan kenthongan tapi tiang listrik pun dipukul bertalu-talu. Teriakan “Siaaap!” kemudian sangat ampuh ketika Kota Surabaya menjadi ajang pertempuran September-Desember 1945. Teriakan “Siaaap!” kemudian menjalar ke mana-mana di seluruh Indonesia selama periode perjuangan melawan agresi Belanda (1945-1950). Tiap kali patriot Indonesia di mana pun kapan pun berada melihat musuh, langsung berteriak, “Siaaap! Siaaap!”. Rakyat Surabayalah yang awal mula berani melawan kekuasaan Jepang dengan teriakan “Siaaap!” itu sehingga kemudian Indonesia Merdeka dengan perjuangan bersenjata juga dari Surabayalah awalnya. Tidak ada teriakan “Siaaap!” oleh rakyat Surabaya yang digemakan 29-30 September 1945, mungkin Indonesia tidak merdeka yang dicapainya dengan perlawanan bersenjata. Mungkin merdeka karena dapat hadiah dari Ratu Belanda. DR.H.TH.Bussemaker (orang Belanda) tahun 2005 menulis buku tentang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dijuduli “Bersiap!”. Saking ampuhnya teriakan “Bersiap!” pada periode perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka.

Yang juga berkembang pesat di Pasarturi zaman Orde Lama adalah jual-beli sepeda dan alat-alat perlengkapannya. Pasar “sepeda” ini menempati sepanjang jalan dari rel keretaapi Viaduk di utara pasar sampai ke Jalan Babadan.

Pada zaman Orde Baru, perhatian Pemerintah terhadap pasar sebagai prasarana kota dan organisme kebutuhan kota besar sekali. Pasarturi yang merupakan pasar besar untuk dagangan basah dan kering, serbaada, dan punya ciri khas, mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kotapraja Surabaya.

Pada bulan Juni 1968 terbentuk Badan Otorita sebagai alat untuk menyelenggarakan Proyek-proyek Pemerintah Dalam Kota. Dan Pasarturi yang fungsinya begitu vital tetapi situasi dan kondisinya begitu jelek, mendapat sorotan pertama dari badan ini. Pada bulan September 1968, beberapa pedagang Pasarturi yang tergabung dalam H.P.S.P.T. berdialog dengan Walikotamadya Surabaya di Ruang Sidang Taman Surya. Dicapai kesepakatan, bahwa Pasarturi harus dibangun dengan rencana yang matang. Dalam bangunan pasar yang diremajakan itu nanti dari bakul pecel pun akan ditampung dan diperhatikan. Beaya peremajaannya meliputi Rp 300.000.000,00 – Rp 400.000.000,00, berlangsung dalam empat tahap dan diperkirakan selesai dalam jangka waktu empat tahun. Luas bangunan pasar akan menjadi tiga kali lebih luas daripada pasar lama karena dibangun bertingkat. Jalan di sebelah barat yang tertutup oleh pedagang-pedagang sepeda akan dibuka lagi setelah pasar diundurkan 15 meter. Sejak itu persiapan peremajaan bangunan Pasarturi pun dimulai.

Namun, sebelum peremajaan terlaksana, pada tanggal 11 Maret 1969 Pasarturi terbakar lagi. Sekali ini yang paling parah, yaitu 80% bangunan pasar hangus jadi abu. Malapetaka telah melanda para pedagang yang mempertaruhkan hidupnya di pasar itu. Pedagang mebel 80, pecah belah 153, alat sepeda/radio 71, kacamata/arloji 234, rosokan besi 210, rombengan/konpeksi 335, keris/plastik/antik 19, sayur/rempah 296……. Jumlah punya jumlah ada 2.363 pedagang!

Pada waktu itu Pasarturi telah menjadi pasar supplier bagi barang-barang keperluan di daerah Jawa Timur, bahkan sampai Bali dan Lombok. Pedagang alat-alat listrik, barang pecah-belah, sepeda, konpeksi telah punya hubungan tetap dengan pedagang-pedagang di daerah.

Dikelola oleh swasta.

Akhirnya turunlah pernyataan Walikotamadya Kepala Daerah Kotamadya Surabaya 11 Juni 1969. Persoalan Pasarturi bukanlah soal pedagang-pedagang Pasarturi saja,  tetapi kepentingannya dirasakan dan dimiliki oleh seluruh warga, penduduk, bahkan sampai ke warga Jawa Timur umumnya. Dengan demikian maka soal pembangunan kembali Pasarturi adalah persoalan Pemerintah Daerah Kotamadya Surabaya dan langsung dimasukkan dalam kegiatan penunjang Repelita. (Rencana Pembangunan 5 tahunan).

Tanggal 11 Mei 1970 diadakan pengecoran beton pertama untuk pondasi lantai datar blog I. Ketika upacara dilakukan Walikotamadya Surabaya R. Soekotjo menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada pihak swasta yang telah membantu membangun Pasarturi dengan bertindak sebagai investor. Patut diketahui bahwa Pasarturi adalah proyek pembangunan pasar yang pertama yang diserahkan kepada investor swasta dalam hal ini CV. Sinar Galaxy. Pada saat itu bayangan bahwa keuntungan segera bisa diperoleh dari pengelolaan pasar amat kabur, sebab sebegitu banyak pasar yang dikelola oleh Dinas Perusahaan Pasar tidak banyak memberikan keuntungan kepada Pemerintah Daerah. Karena itu menanam modal dengan mengharapkan imbalan dari hasil pengelolaan pasar sulit dibayangkan.

Setelah Pasarturi, oleh Walikotamadya Surabaya R. Soekotjo berturut-turut banyak pasar-pasar di Surabaya dibangun dengan modal investor dari swasta, antara lain Pasar Genteng, Pasar Kapasan, Pasar Tambahrejo. Kalau pasar-pasar tradisional lama yang kena perbaikan dengan investor swasta biasanya sudah merupakan bangunan pasar yang lalu direnovasi total, maka Pasar Tambahrejo waktu itu masih merupakan lapangan rumput. Pasar krempyeng (tidak resmi) tumbuh di sepanjang Jalan Kapaskrampung.

Dengan bantuan modal swasta ini Pasarturi 400 hari kemudian, pada tanggal 21 Juni 1971, disaksikan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud, bangunan Pasarturi wajah baru, megah dan tiga lantai, diresmikan penggunaannya. Dengan bangunan pasar yang megah dan luas itu, fungsi Pasarturi sebagai prasarana perdagangan meningkat pesat. Bukan lagi tempat orang Jawa Timur dan Bali berbelanja atau melakukan kegiatan candak-kulak, melainkan juga menjadi pasar interinsuler, pasar antarpulau Indonesia bagian timur. Banyak pedagang dari Banjarmasin, Ambon, Jayapura, Ujungpandang, Menado, Nusa Tenggara datang ke Pasarturi memilih barang dan kemudian memperjual-belikan barang yang dipilih di Pasarturi itu di daerah asal masing-masing.

Meskipun rel keretaapi OJS sudah tidak beroperasi lagi (relnya dibongkar 1969 ketika Surabaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional VII), tetapi kemajuan transportasi kendaraan bermotor dapat menggantikannya, sehingga pergantian masalah transportasi ini tidak mengganggu ramainya lalu-lintas barang, uang dan pengunjung Pasarturi.

Dengan cepat bangunan tahap kedua dan ketiga diselesaikan. Maka sempurnalah Pasarturi Surabaya, bisa berfungsi dan berjalan sepenuhnya. Barang perdagangan yang meningkat sekali omzetnya antara lain alat-alat listrik, konpeksi, kain, alat sepeda, mesin jahit, alat dapur, pecah-belah, dan lain-lain. Untuk perabot rumah-tangga yang dulu mendapat tempat luas masih memperoleh tempat pada pasar baru ini, tetapi agaknya kurang berkembang pesat. Hal ini disebabkan pengunjung Pasarturi punya perhatian besar pada barang dagangan yang tersebut terdahulu, dan lagi toko perabot rumah yang ideal tidak mungkin dipasarkan di bangunan Pasarturi baru. Begitu juga sepeda dan loak, terpaksa mendapatkan tempat di luar bangunan baru. Sedang pasar basah untuk keperluan dapur sehari-hari mendapat tempat di bangunan tahap III.

Dengan dioperasikannya bangunan baru ini, Pasarturi tidak hanya berfungsi sebagai pasar, tetapi juga tempat berrekreasi. Baik warga kota Surabaya maupun pengunjung dari luar kota banyak datang, bukan hendak berbelanja melainkan sekedar mencari suasana lain dari kehidupan sehari-hari.

Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pada tanggal 2 Mei 1978, Pasarturi yang megah dan berfungsi penuh itu terbakar lagi! Bangunan tahap satu dan dua hangus jadi abu. Hanya bangunan tahap III luput dari amukan api, yaitu bangunan di sebelah barat yang ada jarak ruang kosong antara dari tahap I dan II.

Dibangun kembali dengan dana Inpres 8/1979.

Pemerintah tetap bermaksud mendirikan kembali bangunan di atas tanah tempat bangunan lama untuk pengganti Pasarturi yang terbakar. Dan pada hari Minggu tanggal 17 Agustus 1980 Gubernur Jawa Timur Soenandar Prijosoedarmo meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan kembali Pasarturi.

Berbeda dengan pembangunan Pasarturi 1971, pembangunan yang baru ini tidak dibeayai oleh pihak swasta sebagai investor, melainkan dengan dana Inpres nomor 8 tahun 1979. Sedangkan pelaksanaan pembangunannya menggunakan sistem Constructions Management. Dengan sistem Constructions Managements pekerjaan dibagi menjadi banyak paket untuk bisa diserahkan kepada banyak kontraktor. Dan tidak diserahkan hanya kepada kontraktor tunggal. Dengan ikut sertanya banyak kontraktor maka kecepatan selesainya pembangunan tercapai dan beayanya bisa dihemat. Menurut perhitungan, ada keuntungan waktu sekitar 6 bulan bila dibanding dengan sistem borongan tunggal.

Keuntungan lain adalah bestek tiap paket bisa dikerjakan secara bertahap. Sistem ini melaksanakan instruksi Pemerintah Pusat, yaitu proyek dipecah dalam berbagai paket, dan dengan demikian dapat menyerap lebih banyak keikutsertaan pihak swasta golongan ekonomi lemah atau menengah. Maka ada pemerataan dalam berpartisipasi dalam pembangunan, khususnya bagi kontraktor golongan ekonomi lemah.

Dengan sistem Constructions Management pelaksanaan pembangunan proyek Pasarturi tahap demi tahap dapat diawasi dengan teliti, dikendalikan dan diarahkan, sehingga para kontraktor tidak akan menyimpang dari perencanaan yang telah digariskan. Sesuai dengan jiwa instruksi Presiden nomor 8 tahun 1979, penggunaan bangunan Pasarturi juga berpegang pada ketentuan bahwa 60% stand untuk pedagang golongan ekonomi lemah dan 40% stand untuk kgolongan yang lain.

Bangunan Pasarturi tadi dibangun dengan dana Inpres 8/1979, mula-mula direncanakan akan menelan beaya Rp 7.409.034.000,00 (termasuk pemberian ganti rugi pada CV Sinar Galaxy). Namun karena pengaruh kenaikan BBM beaya konstruksi yang semula direncanakan berjumlah Rp 5.126.481.000,00 tidak mencukupi. Maka untuk itu mendapat tambahan beaya sebesar Rp 981.129.528,02.

Bangunan baru ini merupakan bangunan yang terdiri dari tiga zone, masing-masing terdiri dari tiga lantai dengan luas efektif 20.503,44 M2 (87,72% dari luas efektif bangunan yang terbakar). Penyusutan terjadi karena adanya tambahan ruang terbuka yang tidak digunakan untuk tempat berjualan.

Pasarturi yang diresmikan penggunaannya bulan Desember 1982 ini dilengkapi dengan 8 unit escalator (tangga berjalan), sedang untuk mencegah bahaya kebakaran disediakan 16 fire house pada masing-masing lantai. Di kompleks itu juga disediakan 11 tife hidrant dan 9 sumur pemadam kebakaran.

Halaman parkir cukup luas, diperkirakan mampu menampung kendaraan pengunjung. Bangunan Pasarturi ini terdiri dari 3350 stand dan los dengan luas 20.503,44 M2, terdiri dari:

Lantai I 880 stand luas 5.709,60 M2, — 184 los luas 894,24 M2

Lantai II 928 stand luas 5.916,96 M2 – 232 los luas 1.127,52 M2

Lantai III 894 stand luas 5.727,60 M2 – 232 los luas 1.127,52 M2.

Bangunan Pasarturi  selesai dibangun dengan dana dan persyaratan sesuai dengan yang ditentukan oleh Inpres Pasar Nomor8 tahun 1979. Persyaraatan itu antara lain penempatan pedagang di dalamnya antara yang lemah ekonominya dan nonpribumi setidaknya mutlak minimal berbanding 60% : 40%. Izin penempatan tadi telah diatur oleh Pemerintah Daerah Kotamadya Surabaya sebagai berikut:

Lanatai I – jumlah kios/los 1.064 buah, disediakan untuk pedagang pribumi 62,59%, disediakan untuk pedagang nonpribumi 37,41%.

Lantai II – jumlah kios/los 1.158 buah, disediakan untuk pedagang pribumi 62,59% disediakan untuk pedagang nonpribumi 37,41%.

Lantai III – jumlah kios/los 1.128 buah, disediakan untuk pedagang pribumi 70,43%, disediakan untuk pedagang nonpribumi 29,57%.

Jumlah kios/los seluruhnya 3.350 buah, diberikan kepada pedagang lama yang sebelumnya sudah berjualan di Pasarturi sejumlahy 2.265 buah kios. Sisanya disediakan kepada pedagang pribumi yang menyewa di tempat penampungan dan pedagang pemohon baru.

Agar harga penebusan kios/los dapat dijankau oleh para pedagang pribumi yang mereka berksempatan untuk mendapatkan tempat yang strategis, maka Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II surabaya bersama-sama DPRD Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya telah menetapkan harga kios/los sebagai berikut:

Harga kios (stand) lantai I dan II – Rp 408.000,00 per M2

Harga los lantai I dan II – Rp 326.000,00 per M2

Harga kios (stand) lantai III – Rp 286.000,00 per M2

Harga los lantai III – Rp 229.000,00 per M2.

Selain itu untuk membantu para pedagang pribumi pada waktu yang tepat kepada mereka nanti diusahakan mendapatkan KIK guna memperoleh kios/los mereka. Persyaratan bunga KIK 10½% setahun dan jangka waktu pengembalian antara 8 – 10 tahun. Oleh BRI Cabang Pasarturi akan diadakan uji coba kesungguhan para pedagang antara 3 sampai 6 bulan sebelum KIK diberikan.

Dengan strategi pemberian keringanan dan kesempatan berkembang kepada para pedagang ekonomi lemah seperti itu diharapkan dioperasikannya Pasarturi dengan bangunannya yang baru (1982) akan merupakan sarana ekonomi yang tepat untuk Kota Surabaya, dan menjadi pola andalan perkembangan peranan perdagangan baru nasional.

Kiranya perlu juga dikemukakan di sini bahwa dalam pelaksanaan pembangunan Pasarturi 1982 ini sebagian besar bahan yang digunakan, sejauh mungkin diusahakan barang produksi dalam negeri dan kontraktor lokal. Seperti misalnya PT ADHI KARYA Jl. Pasar Besar No. 1 Surabaya yang mengerjakan fondasi/tiang pancang, PT PP Jl. Raya Darmo 29 Surabaya mengerjakan Super Structure Zone I, PT MERCU BUANA Jl. Tanjungsadari 3 Surabaya mengerjakan Super Structure Zone II dan CV PARVITA SARANA Jl. Tembok Dukuh 66-68 Surabaya mengerjakan Super Structure Zone III. Sedang barang-barang atau bahan yang tidak bisa dibuat di dalam negeri terpaksa diimport, misalnya escalator dan lift yang dikerjakan oleh CV RAYA METAL Jl. Gatotan No. 45 Surabaya.

Demikianlah, maka kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan sejak awal hingga terwujudnya sampai selesai pembangunan kembali Pasarturi hingga 1982 ini, Pimpinan Proyek pembangunan Pasarturi (Baru) Ir. T. Soedarsono Hatmosoewarno menyampaikan terimakasih.

Bangunan Pasarturi 1982 ini kemudian terbakar lagi pada tahun 2002. Sampai tahun 2010 ini belum dibangun lagi. Masih dalam perbincangan yang tidak gampang solusinya. Mudah-mudahan dengan Walikota yang baru ini pembangunan Pasarturi yang lebih baru akan segera selesai dan lebih bermanfaat pemerataan fungsinya, baik bagi pedagang, pembeli, dan Kota Surabaya pada umumnya. Amin.

*

Posted by admin on Thursday, November 18th, 2010. Filed under catatan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

4 Comments for “PASARTURI HINGGA 1982”

  1. wah…….sekarang jadi tahu asal mula nama jalan tembaan hehehe…. maturnuwun pak ;)

  2. hmm, nuwun sewu loh pak, bukannya kebakarannya sekitar taun 2006 apa 2007 yah pak? soalnya saya inget waktu itu saya udah kuliah di ITS semester 7…. tahun 2002 pasar turi masih ada kok, soalnya saya masih sma waktu itu dan tiap hari kalo mbemo selalu lewat situ. matur nuwun ya pak :)

  3. Mas Dinyo benar. Pasarturi terbakar terakhir tahun 2006 atau 2007. Yang terbakar tahun 2002 pasar Wonokromo. Waktu itu bulan Mei 2002 isteri saya sakit ngamar di RS Islam Wonokromo, jadi bisa melihat kebakaran itu. Isteri saya meninggal di RS itu 2 Juni 2002. Terimakasih atas koreksinya.

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*