CERITA DETEKTIP BAHASA JAWA

| |

Ditanyakan oleh Dr. Apsanti Djokosujatno
(pengajar di FS UI)

Rungkut Asri Surabaya, 16 Juli 2009.

Ibu Apsanti Djokosujatno yang baik,

Tentu saja saya ingat. Seorang wanita berkedudukan terhormat malam-malam berkunjung ke rumah seorang pengarang buku detektip bahasa Jawa, untuk mengetahui perihal cerita detektipnya. Sungguh kunjungn itu hal yang tidak terlupakan, karena suatu kehormatan yang sangat mulia bagi si pengarang. Terima kasih, Bu.

Untuk menjawab pertanyaan Ibu tidak berani saya menjawab lewat email reply langsung. Lebih baik saya jawab yang lebih rinci.

(Tanya):Berapa jumlah novel/cerita detektip yang telah Bapak tulis?

(Jawab): Jumlah novel/detektip yang telah saya tulis: 9 judul buku. Yang pakai Detektip Handaka: Tanpa Tlatjak (PS, 1959), Emprit Abuntut Bedhug (PS, 1962), Tretes Tintrim (JB, 1964), Jaring Kalamangga (JB, 1966), Garuda Putih (PS, 1974), Kunarpa Tan Bisa Kandha (JB, 1991). Yang tidak menggunakan Detektip Handaka, tetapi jelas saya tulis dengan genre crita detektip (ada kurban, lalu cerita menuju pengusutan): Pethite Nyai Blorong (PS, 1962, ide cerita Mignon G.Eberhart While The Patient Slept). Bekasi Remeng-Remeng (PS, 2000).

Bekasi Remeng-Remeng, lebih merupakan novel biasa, karena penyelidikannya tidak khusus, tapi terseret dalam cerita tadi (Darni Ragil Suparlan, dosen FPBS Unesa Surabaya dalam buku Suparto Brata’s Omnibus, Penerbit Narasi Jogja, 2007). Begitu juga novel (buku) Kremil (Pustaka Pelajar, Jogja 2002), menurut R.M.Yunani Prawiranegara pada bedah buku Kremil tersebut Agustus 2002 di Rungkut Asri Surabaya. Novelette lain yang didahului dengan niat jahat (kurban) lalu cerita tentang pengusutannya: Pariwara Mini (DL, 1999).

(PS = Panjebar Semangat, JB = Jaya Baya, DL = Djaka Lodang).

Berapa jumlah cerpen detektip? Kalau ada?

Tidak sanggup saya menghitung/memilihi. Konon banyak para ahli penggemar saya (antara lain Pur Adie Prawata almarhum) mengatakan bahwa unsur detektip sangat jelas menjadi daya pikat karangan/cerpen saya. Misalnya terdapat pada cerpen Nglari Nakagawa (JB, 10 Desember 1961), Matine Suradrana (JB, 4 Januari 1970). Bahkan cerpen panjang Kamar Sandi (JB, 24 Maret 1968, 31 Maret 1968, 7 April 1968), jadi bahasan sebagai cerita detektip oleh Ratna Indriani, Balai Penelitian Bahasa Jogjakarta (buku Jaring Kalamangga, Penerbit Narasi Jogja 2007).

(Tanya): Saya lihat Bapak masih menulis, apakah cerita detektip yang Bapak tulis? Judulnya?

(Jawab): Saya memang masih terus menulis cerita, artikel, risalah, pengalaman pribadi yang saya siarkan pada majalah dan suratkabar, pada penerbitan buku, serta di www.supartobrata.com, www.supartobrata.blogspot.com . Banyak cerita (novel) tidak khusus cerita detektip. Lebih cenderung cerita pengalaman masa lalu (sejarah). Namun mungkin saja memenuhi genre detektip, menurut inspirasi yang tertangkap. Misalnya ketika menulis Seri Detektip Handaka Kunarpa Tan Bisa Kandha (1991), saya sudah pensiun dari pegawai negeri, pernah diperingatkan pejabat Kopkamtip bahwa cerita detektip mestinya tidak perlu ada di Indonesia (karena biasanya menceritakan polisinya yang resmi bodoh, detektip swastanya yang pintar), toh saya mengarang cerita detektip juga, yang berhubungan sekali dengan suasana kehidupan sosial bangsa waktu itu, yaitu sedang marak-maraknya lotre buntutan yang resmi dari Dinas Sosial (SDSB), saya ceritakan betapa jahatnya judi buntutan tersebut.

(Tanya): Manakah novel detektip yang paling disukai pembaca dan yang paling Bapak sukai? Cerpen?

(Jawab): Novel detektip saya yang paling banyak pembacanya adalah Emprit Abuntut Bedhug (EAB) ketika dimuat bersambung di majalah Panjebar Semangat 1963. Dengan perkiraan saat itu pelenggan tetap majalah PS 80.000 exp. Dibaca per keluarga (pelenggan) oleh 5 orang (suami-istri, anak dan tetangga). Cerita sambung itu diminati oleh para pembaca pelenggan karena cerita sambung Emprit Abuntut Bedhug sangat lain dengan cerita sambung yang biasanya dimuat di PS. Pengarang bahasa Jawa di majalah PS waktu itu banyak bercerita soal pengalaman perang kemerdekaan Indonesia (yang dialami oleh pengarangnya) atau kisah cinta (pengalaman pengarang muda). Sedang EAB genre detektip, tapi masih juga menceritakan suasana (setting tempat dan waktu) Surabaya saat itu. Misalnya keadaan jalan perlima Blawuran bagaimana, ada ratu luwes, naik sepeda malam hari tanpa lampu takut ditangkap polisi. Saya perhatikan betapa teman-teman sekantor saya di Jaya Bhakti (saya pegawai baru, mereka tidak tahu bahwa yang mengarang cerita sambung adalah saya) pada berkerumun membaca cerita sambung tadi dengan perhatian penuh Kira-kira sama dengan para ibu-ibu dan keluarganya sekarang menonton cerita sinetron Cinta Fitri ya. Kalau dulu keluarga itu bersama membaca cerita, sekarang bersama menonton TV. Menurut hemat saya, ini pembodohan/pemprimitifan masyarakat. (Muhammadun AS, peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies ~ CePDeS ~ Jakarta, menulis artikel dengan judul: Saatnya Sinetronisasi Agama Tiba, Jawa Pos 21-08-2009, begini: “Tragedi sinetronisasi agama merupakan malapetaka serius nan krusial dalam keberagamaan kita pada Ramadan. Sebab, sinetronisasi agama tidak hanya membuat pendangkalan nalar keberagamaan, namun juga menciptakan pribadi-pribadi pemalas, tidak produktif, dan terbukti korban industrialisasi”. Bagi saya, sinetronisasi ~ atau mengalami-menikmati kehidupan dengan menggunakan instrumen kodrati melihat dan mendengar ~ bukan saja malapetaka serius nan krusial dalam keberagamaan, melainkan dalam kita hidup berbangsa). Saya berkeyakinan cara satu-satunya untuk mencerdaskan bangsa sekali-gus memberantas kebodohan-kemiskinan-kemalasan dan untuk layak menikmati hidup modern yang mandiri adalah membudayakan bangsa membaca buku dan syukur menulis buku. Semua profesi modern seperti dokter, hakim, dosen, sastrawan, kiatnya (instrumennya) tentu punya budaya membaca buku dan menulis buku. Sedang menonton dan mendengar adalah kodrat, anak seprimitif umur 3 tahun nonton/dengar TV pun sudah mengerti artinya. Bisa menikmati/mengalami hidup tanpa belajar apa-apa (primitif). Pada hal untuk mencapai kenikmatan hidup, manusia itu harus memiliki ilmu yang sesuai kebutuhan hidupnya, dan ilmu itu harus dimiliki dengan belajar, belajar, belajar, belajar. Ilmu mengingat yang paling ampuh dan mujarab, adalah membaca buku (dan menulis buku). Maka kalau putra bangsa hidup dengan tidak belajar berbudaya membaca buku yang berakibat tidak memiliki budaya ilmu mengingat yang andal (hidup secara kodrati melihat dan mendengar saja) ya sampai dewasa mereka akan jadi orang yang tertinggal zaman. Kata lain: mereka bodoh, miskin, pemalas, hidupnya tergantung kepada orang lain. Tanpa pertolongan orang lain, mereka akan berkeluh-kesah merasakan hidup di dunia tidak ada kepenaknya. Siapa pun presidennya, kabinetnya, menterinya, kalau pemimpin bangsa itu tidak memberbudayakan rakyatnya membaca buku dan menulis buku, sampai akhir zaman pun putera bangsa akan tetap bodoh, miskin, malas, tidak kreatif, dan (merasa) hidup sengsara. Dan itulah orang Indonesia yang hidupnya hanya menggunakan instrumen kodrati: hanya menggunakan pancainderanya belaka. Hidup tidak perlu BELAJAR menggunakan instrumen (ilmu) lain.

Ketika membaca EAB, beberapa pembaca juga ingat nama Detektip Handaka yang pernah muncul di PS sebelumnya (Tanpa Tlatjak), sehingga kepopuleran Detektip Handaka pada EAB seakan menjadi riël. Mereka (pembaca cerita bahasa Jawa) belum kenal dengan Agatha Christie, Georges Simenon, Erle Stanley Garner, dan lain-lain. Sedang saya, sebelum menulis cerita bahasa Jawa, telah menekuni (menggemari) buku-buku pocket sampul hijau-putih mystery and crime PENGUIN BOOKS bahasa Inggris yang berceceran di lowak kaki lima Keputran Surabaya. Buku-buku rombeng itu ditinggalkan oleh orang-orang Belanda yang terusir dari Indonesia tahun 1956-1958. Terus terang, sejak penulisan Tanpa Tlatjak (PS.1961) pikiran saya untuk menulis cerita panjang cenderung meniru kisah-kisah detektip PENGUIN BOOKS yang telah terukir di hati saya. Dan itu hanya bisa kalau ditulis sebagai cerita sambung atau novel. Sulit kalau ditulis sebagai cerita pendek. Maka kesempatan menulis cerita sambung tadi saya manfaatkan sebagai cerita seri Detektip Handaka. Dan ternyata, EAB tidak populer hanya pada pembaca majalah PS, melainkan juga diresensi oleh para pakar sastra (Retno Asih Wulandari, Masyarakat Kebudayaan dan Politik No.02 Maret 1993, terbitan UNAIR Surabaya, buku Garuda Putih, penerbit Narasi Jogja, 2009), dan ketika EAB diterbitkan jadi buku (C.V.Ariyati Surabaya, 1966) bukunya laris. (Pada tahun-tahun itu semua terbitan buku bahasa Jawa pasti laris).

Novel detektip saya yang paling saya sukai adalah Jaring Kalamangga (penerbit Narasi Jogja, 2007), dan Garuda Putih.

Pada Jaring Kalamangga tokoh-tokohnya sangat bervariasi sesuai sejarah bangsa, dan ketika terbitnya sebagai cerita bersambung (JB, 1966) suasana G30S/PKI baru saja reda, ceritanya juga menyeret suasana sejarah saat itu. Menurut Goldmann (1977;99) karya sastra yang sempurna adalah karya sastra yang didasarkan atas keseluruhan kehidupan manusia, yaitu pengalaman subjek kreator (pengarang/saya) sebagai warisan tradisi dan konvensi. Ada kesamaan antara sosiologi dengan sastra sehingga teks sastra dapat dikaji melalui pendekatan sosiologi (Wellek & Warren, 1989;109). Sehingga, meskipun yang saya tulis cerita genre detektip, teori Goldmann dan Wellek & Warren tetap berlaku. Bagaimana pun saya menulis cerita fiktif, pengalaman hidup saya pasti saya katutkan, sehingga menjadi bumbu agar cerita fiktif itu mendekati cerita fakta. Begitulah ketika saya menulis Jaring Kalamangga yang berdekatan dengan peristiwa G30S/PKI, maka apa yang saya alami fakta sejarah tadi ikut tertulis dalam cerita detektif saya. Kata Tengsoe Tjahjono (1988), menurun peristiwa fakta dalam penulisan sastra itu imajinasi pengarang. Sedang merangkai cerita menjadi cerita fiktif yang enak dan menarik dibaca (ada tema, konflik, karakter, ceritanya mengalir, dll) itu fantasi pengarang. Mungkin karena itulah, maka penulisan buku sastra, meskipun genre detektif maupun roman picisan, yang ditulis menyangkut suasana sosial ceritanya sedekat mungkin dengan fakta zaman. Hal itu dijadikan bahan kajian perkembangan sosial-budaya oleh institusi NIOD (Nederlands-Indiesch Oorlog Documentatie) Belanda; bisa dilihat dari terbitnya buku-bukunya, antara lain: Verhalen uit het leven en de literatuur, Nederlands-Indië 1930-1960, di mana misalnya cerita fiktifnya Pandir Kelana Ibu Sinder yang menceritakan kehidupan perempuan istri pengawas (sinder) perkebunan tebu di Madugondo pada zaman Jepang, lalu menjadi muncikari di Jogya, dikaji kehidupan sosial-budayanya (kemiripannya) dengan kehidupan perempuan yang nyata pada zaman dan tempat (Indonesia) yang sama dengan cara menelusuri kehidupan Katrien Toisuta yang berhasil diwawancarai oleh peneliti dari NIOD (Marije Plomp, 2008). Juga cerita fiktif Mochtar Lubis Jalan Tak Ada Ujung yang menceritakan kehidupan Guru Isa di daerah Tjideng (Jakarta) tahun 1946-an, diperbandingkan dengan kehidupan nyata gadis remaja Clarisse Habraken yang saat itu (1946) juga hidup di Tjideng, tapi sebagai orang tawanan Jepang yang waktu itu sudah takluk, dan pasukan Inggris menduduki Kota Jakarta. Pendudukan pasukan Inggris di Jakarta menjadi bahan kajian sosial budaya (tingkah manusia, suasana, tingkat sosial, rasa ketakutan, dll) antara cerita fiktif Jalan Tak Ada Ujung dan fakta Clarissa Habraken. Cerita fiktif menjadi kajian atau cerminan cerita sejarah yang terjadi sebenarnya.

Pada suasana akhir-akhir ini citra nasionalisme dan patriotisme bangsa ditengarai sangat luntur, maka buku cerita/sastra sangat dianjurkan untuk dibaca sebagai buku sejarah, dari situ semangat nasionalisme dan patriotisme bangsa bisa digali kembali untuk menyemangati tumbuhnya kehidupan berbangsa yang berbudaya sosial patriotis dan nasionalistis lebih baik masa depan. Hal itu bisa dilihat juga dari Konferensi Internasional HISKI Agustus 2009 di Bandung yang mengambil tema MEMBACA KEMBALI FUNGSI SOSIAL SASTRA.

Sedang Garuda Putih, terbit sebagai cerita sambung (PS, 1974) ketika Orde Baru sedang jaya-jayanya, ceritanya menyangkut juga soal konperensi bupati/walikota ada bupati pesertanya yang dinilai selingkuh, dan polisinya bersemangat tetapi tidak bisa menangkap penjahatnya. Ada surat pembaca kepada redaksi PS dari seorang polisi yang mengumpat pengarangnya (oleh redaktur PS suratnya diberikan kepada saya), dituduh pengarangnya menyepelekan kemampuan polisi menyelidik perkara, kalah dengan kecerdikan penjahatnya. Dan mungkin karena cerita Garuda Putih itu saya dapat teguran dari pejabat Kopkamtip: “Cerita detektip tidak perlu ada di Indonesia”.

Cerpen yang bernuansa detektip saya sulit memilihi. Namun setidaknya sudah ada kumpulan cerpen saya Trem (20 cerpen 1960-1993, Penerbit Pustaka Pelajar Jogja, 2000), dan Lelakone Si Lan Man (20 cerpen 1960-2003, Penerbit Narasi Jogja, 2004), apa yang dimuat pada Trem tidak dimuat pada Lelakone Si Lan Man. Itulah setidaknya simbul 40 cerpen yang saya sukai, tetapi untuk memilih yang ber-genre detektip saya sulit (memilihnya). Setidaknya dari 40 cerpen itu terdapat cerita yang jelas bernuansa penyelidikan yang berakibat menangkap penjahatnya, antara lain cerpen: Nglari Nakagawa (JB, 1961), Kamar Sandi (JB, 1968), Matine Suradrana (JB, 1970), Reuni (JB, 1991), Omah Sewan Anyar (Suara Merdeka Minggu, 2003).

(Tanya): Apakah Bapak mempunyai target dalam menulis novel/cerita detektip? Misalnya sekali setahun? Terima kasih sebelumnya. Semoga Bapak berkenan menjawab pertanyaan saya. (Apsanti Djokosujatno)

(Jawab): Baik dulu maupun kini, saya tidak punya target dalam menulis novel/cerita detektip. Semua tergantung kepada ilham. Dan ilham ternyata bisa diraih dengan banyak cara, tidak harus merenung dan menanti. Agar semangat untuk menulis tidak kendor dan kualitas kepengarangan saya tetap terjaga, cara saya meraih ilham adalah dengan perasaan bersaing sesama para penulis buku, saya membaca buku-buku karangan orang lain. Oleh karena itu tiap hari agenda hidup saya adalah membaca buku (siang hari ketika sinar matahari bisa untuk penerangan membaca buku), dan menulis. Tiap hari, pasti ada yang saya tulis (reguler jam 03.00-06.30) dan pasti ada buku yang saya baca (07.00-17.00). Meskipun tidak ada target, namun semangat untuk (bersaing) menulis novel terus saja muncul. Kalau disebut target, maka target saya (kini) adalah menulis buku novel bahasa Jawa terbit jadi buku, yang kisah/bukunya bisa menarik untuk dibeli/dibaca oleh pembaca muda, atau kaya, atau cerdas, atau berkuasa, dan gabungan dari itu. Karena sastra bagiku adalah ditulis pada penerbitan buku, dan dibaca pada penerbitan buku. Dengan dibaca dari buku, maka sastra (Jawa juga) akan menjadi instrumen hidup modern bagi pembacanya, instrumen untuk memenuhi kegairahan hidup yang tidak berpihak, tanpa kekerasan, dan merupakan kekuatan moral yang tangguh dalam diri pembaca sastra, karena sastra (membaca buku dan menulis buku) selalu bercerita tentang perikemanusiaan.

Apakah ada kegairahan menulis buku untuk menjadi juara, terkenal atau kaya (bukunya jadi best-seller)?

Target semacam itu pasti ada pada semua orang (bukan saja pengarang) dalam meraih dan sebagai pertanda sukses hidupnya. Namun seperti bisa dilihat dari pengalaman saya menulis cerita, penulisan cerita saya tidak dapat dijadikan andalan bagi mata pencaharian hidup saya, dan buku-buku saya tidak populer (belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa lain, tidak pernah dicetak ulang oleh satu penerbitnya yang sama dalam waktu terbatas). Namun saya tetap saja menulis cerita, dan target menjadi juara, populer maupun kaya, sudah terkalahkan oleh niat saya menulis cerita (karya tulis buku saya) jadi buku bacaan yang bermanfaat bagi masyarakat. Niat saya menulis dan menerbitkan buku yang terpenting buku saya itu bermanfaat bagi masyarakat pembacanya. Dan usaha untuk bermanfaat bagi masyarakat itu, ternyata melalui kurun waktu yang sangat panjang, (saya menulis cerita sejak 1952), berarti ketermanfaatan saya sebagai pengarang saat ini tidak sekedar jatuh dari langit seketika. Namun, kalau putera bangsa Indonesia 96% tidak punya budaya membaca buku (meski telah lulus SMA), tentu saja buku-buku saya tetap tidak bermanfaat. Apa lagi buku yang saya terbitkan berbahasa Jawa. Sekalipun saya sudah berusaha mengikuti nasihat Mas Arswendo Atmowiloto (1990), “Aja adol sing kowe bisa gawe, nanging gawea sing kowe bisa ngedol”. Saya sudah berusaha menerbitkan buku bahasa Jawa dengan cerita yang menarik, bukunya dengan ketebalan yang cukup, sampulnya dengan gambar yang menarik, untuk meraih pembeli saya pasang iklan (mengikuti trend niaga dunia), dan pemasaran buku saya saya serahkan ke penerbit yang punya devisi pemasaran (profesional). Penerbitan buku bahasa Jawa tetap saja saya usahakan, bukan karena saya hanya bisa mengarang cerita sastra Jawa (apa sing aku bisa gawe), tapi juga untuk kontribusi sastra Jawa sebagai anggota sastra dunia. Bahasa Jawa dituturkan oleh 80 juta orang lebih, dan menjadi urutan ke-11 terbanyak dituturkan orang di dunia. Jauh lebih banyak sekali dibandingkan misalnya dengan bahasa Prancis atau bahasa Belanda. Namun, meskipun bahasanya dituturkan oleh bangsa yang lebih sedikit warga-negaranya, tetapi mengenai kesejahteraan rakyatnya, keamanannya, ekonominya, politiknya, keagamaannya, kepekatan rasa nasionalnya, keberhasilan pemerintahannya, kehebatan pembangunan negerinya di alam global modern, pendidikan sekolahnya, lebih-lebih perpustakaannya (jumlah buku bahasa ibu mereka dan bahasa asingnya) yang menunjukkan bahwa mereka membaca buku dan menulis buku, bangsa Indonesia jauh tertinggal. Karena apa? Karena cara mereka menyejahterakan rakyatnya, menyelenggarakan pemerintahannya yang modern, mempertebal rasa nasionalnya, semua didukung oleh warga-negaranya yang seratus prosen membaca buku dan menulis buku. Untuk mengatur ekonominya, mereka menggunakan ekonomi modern mutakhir yang diambil dan dipelajari dari membaca buku dan menulis buku yang juga dipahami oleh rakyatnya yang betapapun sedikit-banyaknya telah cerdas bijaksana karena punya budaya membaca buku dan menulis buku tentang ekonomi; untuk membangun negerinya menjadi modern meskipun alam berlimpahnya tidak menyediakan bahan-bannya, tapi didukung oleh warga-negaranya yang paham pembangunan hidup modern dari membaca buku dan menulis buku. Pendeknya segala sektor kehidupan modern yang dilaksanakan oleh mereka, telah dengan arif difahami oleh rakyatnya lewat kecerdasan berbangsa yang diinstrumeni atau dikiati membaca buku dan menulis buku. Membaca buku dan menulis buku adalah kiat hidup modern di segala tempat, di segala zaman. Di sini terlihat, bahwa membaca buku dan menulis buku merupakan kekuwatan sastrawi yang mengkiati segala aspek kehidupan modern.

Perhatikan ungkapan Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A. tentang Tantangan Ke Depan bangsa kita: “Tantangan masyarakat Indonesia ke depan adalah mengubah dirinya dari masyarakat yang terkungkung oleh tradisi kelisanan (orality) menjadi masyarakat yang bertradisi keberaksaraan (literacy). Masyarakat yang bertradisi keberaksaraan adalah masyarakat yang mengenal aksara, masyarakat yang mau membaca dan berpikir, masyarakat yang kritis bukan hanya terhadap kebohongan, kekeliruan, atau kemunafikan masyarakat lain, melainkan juga kepada dirinya sendiri. Dengan bertradisi keberaksaraan, maka masyarakat Indonesia akan dapat membedakan mana opini masa fakta, mana dunia cerita mana dunia nyata, mana kebohongan dan mana kebenaran”. (Mulut Bersambut, Kompyawisda Jatim; 2009).

Memahami hal yang demikian, maka wajarlah kalau buku sastra Jawa harus diperjuangkan kehadirannya sebagai kontribusi sastra dunia. Sastra itu berujud buku! Ditulis, diterbitkan, dan dibaca pada buku! Dan itu menjadi kiat hidup modern. Bahasa Jawa (dan juga bahasa Indonesia, Sunda, Madura, Bali dan lain-lain bahasa ibu etnis Indonesia) juga harus jadi sarana dan kiat hidup modern, karena penuturnya masih sangat banyak dan terbesar bermukim di Negeri Indonesia. Yaitu tidak sebagai bahasa tutur lisan saja, melainkan harus ditulis dan dibaca pada buku. Indonesia tidak berbahasa satu, melainkan kaya raya dengan berbahasa dan berseni-budaya bhineka tunggal ika. Mari kita jaga dan perjuangkan kebhinekaan kita dalam kesatuan bersama dengan kapasitas warga negaranya bertradisi keberaksaraan atau berbudaya membaca buku dan menulis buku. Dengan begitu kita layak hidup modern.

Begitulah mengapa antara lain saya akhir-akhir ini bersemangat menerbitkan buku-buku bahasa Jawa. Meskipun tidak bathi satak (keuntungan finansial), tetapi bermanfaat bagi mereka (meskipun bukan orang Indonesia) yang gemar membaca buku sastra Jawa.

Akhir-akhir ini yang saya semangati adalah penerbitan buku (sastra/cerita) bahasa Jawa, baik yang lama maupun cerita yang baru dan yang masih akan dikarang. Yang lama termasuk yang ber-genre detektip. Yang baru misalnya yang judulnya Ser! Ser! Plong!, Mbok Randha Saka Jogja, Cocak Nguntal Elo, Cintrong Paju-Pat, Pawestri Tanpa Idhentiti.

Sayang bukan genre detektip yang sedang menjadi pusat perhatian Ibu Apsanti dalam email ini. Namun buku genre detektip juga saya terbitkan baru-baru ini. Novel seri Detektip Handaka, dari 6 judul, 5 judul tahun 2007 dan 2009 saya terbitkan jadi buku lewat Penerbit Narasi Jogja. Hanya Tanpa Tlatjak yang belum. Karena, bagaimana pun juga cerita genre detektip masih sangat relevan dibaca zaman sekarang, sesuai dengan perkembangan nalar sastra dunia saat ini (misalnya buku The Davinci Code karangan Dan Brown yang berbau thriller detektip diakui sebagai buku sastra yang banyak pembacanya). “Penulis memandang perlunya dengan segera memasyarakatkan cerita detektif bahasa Jawa bagi pembaca, pengarang, sekaligus bagi peneliti. Alasan ini berlandaskan bahwa dengan mengenalkan segera cerita detektif pada anak sedini mungkin, akan mengasah daya pikir dalam memecahkan setiap persoalan sebab cerita detektif kekuatannya terletak pada kalkulasi rasional, tidak hanya sekedar imajinasi pengarang belaka”. (Skripsi Eddy Susilo, ‘Aspek Kejiwaan Tokoh dalam Cerita Detektip Pethite Nyai Blorong’, Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta 1992, kutipan itu juga saya lampirkan pada buku Kunarpa Tan Bisa Kandha, penerbit Narasi Jogja, 2009).

Perkembangan cerita/sastra bahasa Jawa sekarang, baik pengarangnya maupun karyannya, masih terus berlanjut digarap dan diterbitkan. Tidak ada penulisan yang vakum pada kepengarangan sastra Jawa. Sayangnya media sastra tempatnya berkarya dan mengamati karya sastra masih sangat bertumpu pada penerbitan di majalah-majalah. Kelemahannya adalah apabila karya sastra tadi sudah selesai dimuat di majalah, maka setelah terbit nomor majalah yang baru, karya yang lama sudah tidak dibaca lagi oleh pelenggan majalah. Cerita sastranya terputus dan terkubur. Pengarang sastra Jawa masa kini masih berkutat mengenai pengalaman dan kesaksian lingkungan hidupnya. Kurang disemangati menggubah/meniru/mengikuti trend cerita seperti buku bacaan orang lain. Dan karena karya mereka (pengarang sastra Jawa kini) hanya bertumpu pada majalah bahasa Jawa (yang pembaca pelenggannya tetap, kebanyakan orang tua), bukan pada penerbitan buku, maka umur karya mereka pun pendek. Habis dimuat di majalah, habis pula pembacanya. Tidak ada yang membaca karya sastra itu lagi.

Andaikata cerita karyanya diterbitkan jadi buku, karena orientasi pengarang sastra Jawa saat ini kebanyakan yang dikarang masih berkutat pada pengalaman hidup dan pandangan hidup lingkungan sekitarnya, lebih banyak mengemukakan imajinasi (meniru pengalaman dan apa yang dilihat) daripada fantasi (berkreasi menciptakan nalar yang fantastis), maka kalau karya sastranya yang berhasil dimuat di majalah itu diterbitkan jadi buku, masih sulit diterima pembaca buku yang kian cerdas memilih buku cerita.

Demikianlah, Bu, apa yang bisa saya jawabkan pada pertanyaan-pertanyaan Ibu. Semoga jawabannya mengena dan bermanfaat bagi Ibu dan pembaca situs ini lainnya. Amin.

Hormat saya,
Suparto Brata

Posted by Suparto Brata on Saturday, August 29th, 2009. Filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

2 Comments for “CERITA DETEKTIP BAHASA JAWA”

  1. Mas,aku merasa makin bodoh membaca tulisan Mas Parto di situs ini. Gagasan besar Mas Parto dan kegigihan berjuang mengajak generasi muda etnik Jawa mempertahankan bahasa ibu dengan cara membaca dan menulis buku tentu bukan perkara gampang di saat budaya membaca yng pernah ada kemudian hilang oleh politik pemerintah yang lebih mendahulukan perlombaan hidup untuk menjadi kaya harta
    dan bukan kaya budaya.Aku baca situs ini berkali-kali agar aku bisa tidak merasa bodoh lagi dan dapat berbuat.
    Terima kasih. (AnieS)

  2. pak, saya suka cara bapak menyelipkan kebudayaan jawa dalam ‘KunarpaTan Bisa Kandha’nya

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*