<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Mencari Sarang Angin (Posting II )</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?feed=rss2&#038;p=63" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://supartobrata.com/?p=63</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Sep 2016 13:33:07 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>By: lina puryanti</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=63&#038;cpage=1#comment-52415</link>
		<dc:creator>lina puryanti</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Oct 2012 11:52:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=63#comment-52415</guid>
		<description>Halo pak Parto, apa kabar? lama sekali kita tidak ketemu ya. Lebih tepatnya, saya tidak sedang mengajar di Singapore, pak. Saya sedang &#039;ngangsu kawruh&#039; di negeri orang tersebut. Saya sekarang sedang belajar tentang wilayah perbatasan negara, wilayah border, sebuah liminal space antar bangsa, antar manusia. Sebuah wilayah unik yang telah diajarkan oleh bapak dan para sastrawan besar lainnya dalam karya sastra yang menjadi dasar ketertarikan saya untuk bekerja di grey areas tersebut. Matur nuwun sanget sudah menjadi salah satu guru saya, pak.  Trims untuk Aoao atas kritiknya. Sebuah kritik sastra akan menjadi makin ber-nas bila tidak mati atau di-frozen-kan di tangan satu kritikus saja. Pemahaman akan terus bergerak, kan? Yang saya tuliskan pada saat itu adalah pemahaman temporal spatial saya saat itu. Saya kira pendapat Aoao akan invisible narator yang lebih dekat kepada pengarangnya serta stereotipikal toko Abdulrokhim sebagai representasi absolut orang surabaya yang kurang tepat karena mengabaikan keberadaan tokoh2 lainnya sangat bisa diterima sebagai salah satu bentuk pembacaan. Hmmm, apa lagi ya... well, can&#039;t say a lot. Hari2 ini saya dalam proses &#039;menikmati&#039; sastra, bukan dalam konteks sebagai kritikus... karena saya sedang bergeser cukup jauh dari wilayah ini. Tapi sastra tdiak akan pernah berhenti menjadi kenikmatan hidup saya, selalu memberi makanan jiwa...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo pak Parto, apa kabar? lama sekali kita tidak ketemu ya. Lebih tepatnya, saya tidak sedang mengajar di Singapore, pak. Saya sedang &#8216;ngangsu kawruh&#8217; di negeri orang tersebut. Saya sekarang sedang belajar tentang wilayah perbatasan negara, wilayah border, sebuah liminal space antar bangsa, antar manusia. Sebuah wilayah unik yang telah diajarkan oleh bapak dan para sastrawan besar lainnya dalam karya sastra yang menjadi dasar ketertarikan saya untuk bekerja di grey areas tersebut. Matur nuwun sanget sudah menjadi salah satu guru saya, pak.  Trims untuk Aoao atas kritiknya. Sebuah kritik sastra akan menjadi makin ber-nas bila tidak mati atau di-frozen-kan di tangan satu kritikus saja. Pemahaman akan terus bergerak, kan? Yang saya tuliskan pada saat itu adalah pemahaman temporal spatial saya saat itu. Saya kira pendapat Aoao akan invisible narator yang lebih dekat kepada pengarangnya serta stereotipikal toko Abdulrokhim sebagai representasi absolut orang surabaya yang kurang tepat karena mengabaikan keberadaan tokoh2 lainnya sangat bisa diterima sebagai salah satu bentuk pembacaan. Hmmm, apa lagi ya&#8230; well, can&#8217;t say a lot. Hari2 ini saya dalam proses &#8216;menikmati&#8217; sastra, bukan dalam konteks sebagai kritikus&#8230; karena saya sedang bergeser cukup jauh dari wilayah ini. Tapi sastra tdiak akan pernah berhenti menjadi kenikmatan hidup saya, selalu memberi makanan jiwa&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Suparto Brata</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=63&#038;cpage=1#comment-47037</link>
		<dc:creator>Suparto Brata</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2012 03:32:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=63#comment-47037</guid>
		<description>&quot;Siapa lagi punya reaksi dari komentar ini? Bu dosen Lina Puryanti lagi mengajar di Singapore, kan? Belum baca ini&quot;.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Siapa lagi punya reaksi dari komentar ini? Bu dosen Lina Puryanti lagi mengajar di Singapore, kan? Belum baca ini&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aoao</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=63&#038;cpage=1#comment-46859</link>
		<dc:creator>Aoao</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2012 19:33:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=63#comment-46859</guid>
		<description>Seingat saya, saya telah membaca novel Mencari Sarang Angin sampai tuntas. Namun, setelah membaca ulasan dari bu dosen yang bernama Lina Puryanti ini, ada beberapa hal yang berkenaan dengan novel tersebut:
1. Tentang narator dalam novel. Bu Lina Puryanti menyebutkan bahwa naratornya adalah Darwan Prawirakusuma. Pernyataan ini sangat dapat diperdebatkan (untuk tidak mengatakan bahwa pernyataan ini sembrono), sebab pernyataan ini tidak menyertakan kutipan ataupun argumen yang menunjukkan bahwa narator dalam novel MSA adalah Darwan. Dan seingat pembacaan saya, narator dalam novel ini justru lebih dekat pada pengarang itu sendiri daripada tokoh Darwan.
2. Penarikan kesimpulan tentang pencitraan budaya Surabaya hanya menlalui tokoh Abdulrokhim yang bersikap keras terhadap adiknya. Lalu bagaimana dengan penokohan Rakhman, Slamet, Tuan Ayat, Rokhayah (mereka juga orang Surabaya) yang tidak menunjukkan adanya sifat keras?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Seingat saya, saya telah membaca novel Mencari Sarang Angin sampai tuntas. Namun, setelah membaca ulasan dari bu dosen yang bernama Lina Puryanti ini, ada beberapa hal yang berkenaan dengan novel tersebut:<br />
1. Tentang narator dalam novel. Bu Lina Puryanti menyebutkan bahwa naratornya adalah Darwan Prawirakusuma. Pernyataan ini sangat dapat diperdebatkan (untuk tidak mengatakan bahwa pernyataan ini sembrono), sebab pernyataan ini tidak menyertakan kutipan ataupun argumen yang menunjukkan bahwa narator dalam novel MSA adalah Darwan. Dan seingat pembacaan saya, narator dalam novel ini justru lebih dekat pada pengarang itu sendiri daripada tokoh Darwan.<br />
2. Penarikan kesimpulan tentang pencitraan budaya Surabaya hanya menlalui tokoh Abdulrokhim yang bersikap keras terhadap adiknya. Lalu bagaimana dengan penokohan Rakhman, Slamet, Tuan Ayat, Rokhayah (mereka juga orang Surabaya) yang tidak menunjukkan adanya sifat keras?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
