<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: INDONESIA REPUBLIK TANPA SASTRA</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?feed=rss2&#038;p=420" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://supartobrata.com/?p=420</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Sep 2016 13:33:07 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>By: Rini T P</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=420&#038;cpage=1#comment-3229</link>
		<dc:creator>Rini T P</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 02:48:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=420#comment-3229</guid>
		<description>Gambaran pas untuk bangsa kita saat ini. Sekarang Sangkuni, Durna, dll telah menjelma dan mulai mengobrak-abrik kehidupan bernegara. Lihatlah bagaimana mereka sedang berusaha menyemangati  Yudistira agar bersedia mempertaruhkan negaranya di atas meja judi dadu. Terlepas bhw sastra jawa tak bisa lepas dr warna wayang, sangat dimungkinkan karena penulis sastra jawa sangat nglothok dlm hal tersebut. Yang sangat menakjubkan adalah: bagaimana &#039;kondisi negara pewayangan&#039; menitis ke negeri ini. Bagaimana para birokrat negeri antah berantah tersebut menjelma nyata di negara ini. Saya jd takut  untuk mengingat akhir dari mahabarata. Jangan-jangan endingnya akan benar-benar terjadi di negeri ini. Ohhh....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gambaran pas untuk bangsa kita saat ini. Sekarang Sangkuni, Durna, dll telah menjelma dan mulai mengobrak-abrik kehidupan bernegara. Lihatlah bagaimana mereka sedang berusaha menyemangati  Yudistira agar bersedia mempertaruhkan negaranya di atas meja judi dadu. Terlepas bhw sastra jawa tak bisa lepas dr warna wayang, sangat dimungkinkan karena penulis sastra jawa sangat nglothok dlm hal tersebut. Yang sangat menakjubkan adalah: bagaimana &#8216;kondisi negara pewayangan&#8217; menitis ke negeri ini. Bagaimana para birokrat negeri antah berantah tersebut menjelma nyata di negara ini. Saya jd takut  untuk mengingat akhir dari mahabarata. Jangan-jangan endingnya akan benar-benar terjadi di negeri ini. Ohhh&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Eva Dwi Kurniawan</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=420&#038;cpage=1#comment-3173</link>
		<dc:creator>Eva Dwi Kurniawan</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:03:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=420#comment-3173</guid>
		<description>solusi akhir yang menurut saya sesuai ialah dengan bergelut dalam dunia birokrat. Sebab kebijakan dibuat oleh para birokrat. Orang yang mau peduli dengan urusan baca tulis, harus mau masuk ke dalam sistem pemerintah yang mengurusi pendidikan. Sebab, pendidikan inilah yang sangat tepat untuk membidik sasaran, yakni menciptakan masyrakat baca-tulis. Dengan adanya orang-orang yang berkomitmen untuk merombak kurikulum dan menerapkan pengajaran sastra dan yang lainnya lebih proporsional, maka kemungkinan terciptanya masyrakat yang berbudaya sebab baca buku, bisa terwujdukan. Persoalannya, kendala akan hal ini ialah malah makin banyak yang mengalami terkikisan komitmen untuk merubah sistem ketika berada di dunia birokrat. Berbagai alasan kerap didengungkan. Nah, langkah awal, tampaknya, jadilah teladan pemabaca dan penulis yang baik, yakni yang selalu aktif berkarya. Lalu tunjukkan perilaku yang berbudaya, yang santun dan beradab. Dengan demikian, akan terlihat adanya korelasi yang sangat kuat tentang pentingnya baca-tulis bagi kehidupan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>solusi akhir yang menurut saya sesuai ialah dengan bergelut dalam dunia birokrat. Sebab kebijakan dibuat oleh para birokrat. Orang yang mau peduli dengan urusan baca tulis, harus mau masuk ke dalam sistem pemerintah yang mengurusi pendidikan. Sebab, pendidikan inilah yang sangat tepat untuk membidik sasaran, yakni menciptakan masyrakat baca-tulis. Dengan adanya orang-orang yang berkomitmen untuk merombak kurikulum dan menerapkan pengajaran sastra dan yang lainnya lebih proporsional, maka kemungkinan terciptanya masyrakat yang berbudaya sebab baca buku, bisa terwujdukan. Persoalannya, kendala akan hal ini ialah malah makin banyak yang mengalami terkikisan komitmen untuk merubah sistem ketika berada di dunia birokrat. Berbagai alasan kerap didengungkan. Nah, langkah awal, tampaknya, jadilah teladan pemabaca dan penulis yang baik, yakni yang selalu aktif berkarya. Lalu tunjukkan perilaku yang berbudaya, yang santun dan beradab. Dengan demikian, akan terlihat adanya korelasi yang sangat kuat tentang pentingnya baca-tulis bagi kehidupan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sugeng K</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=420&#038;cpage=1#comment-3169</link>
		<dc:creator>Sugeng K</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 01:08:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=420#comment-3169</guid>
		<description>Indonesia bukan Republik Tanpa Sastra ? Menapa kinten-kinten boten kados &quot;pambengok ing satengahing segara wedhi?&quot;. Kula kinten kathah para guru sastra (bahasa) ingkang nggadhahi pamanggih bilih langkung sae sinau ngadhepi UNAS tinimbang maos buku sastra (sanajanta punika kedah dipun wontenaken panaliten).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia bukan Republik Tanpa Sastra ? Menapa kinten-kinten boten kados &#8220;pambengok ing satengahing segara wedhi?&#8221;. Kula kinten kathah para guru sastra (bahasa) ingkang nggadhahi pamanggih bilih langkung sae sinau ngadhepi UNAS tinimbang maos buku sastra (sanajanta punika kedah dipun wontenaken panaliten).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
