<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: EMBRIO DEWAN KESENIAN SURABAYA</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?feed=rss2&#038;p=135" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://supartobrata.com/?p=135</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Sep 2016 13:33:07 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>By: jil kalaran</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=135&#038;cpage=1#comment-2161</link>
		<dc:creator>jil kalaran</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2009 17:39:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=135#comment-2161</guid>
		<description>Saya kira tradisi konvensi perlu diperluas wawasannya. kalo selama ini konvensi cuma berurusan dengan pemilihan ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS), maka ke depan haruslah diawali dengan perbincangan strategi kebudayaan dimana semua unsur seni dan budaya diperbincangkan secara mendalam, kritis dan tajam. Dari berbagai point perbincangan strategi kebudayaan itulah baru kemudian memilih kepengurusan DKS. Dengan demikian, kepengurusan DKS akan memiliki pedoman (semacam GBHN gitu) dalam melaksanakan aktivitasnya. Dengan pedoman inilah kita bisa melihat keberhasilan dan kegagalan pengurus DKS. Jadi parameternya juga jelas. Terlalu sederhana jika konvensi yang hebat itu cuma memilih kepengurusan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya kira tradisi konvensi perlu diperluas wawasannya. kalo selama ini konvensi cuma berurusan dengan pemilihan ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS), maka ke depan haruslah diawali dengan perbincangan strategi kebudayaan dimana semua unsur seni dan budaya diperbincangkan secara mendalam, kritis dan tajam. Dari berbagai point perbincangan strategi kebudayaan itulah baru kemudian memilih kepengurusan DKS. Dengan demikian, kepengurusan DKS akan memiliki pedoman (semacam GBHN gitu) dalam melaksanakan aktivitasnya. Dengan pedoman inilah kita bisa melihat keberhasilan dan kegagalan pengurus DKS. Jadi parameternya juga jelas. Terlalu sederhana jika konvensi yang hebat itu cuma memilih kepengurusan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
