<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suparto Brata Blog &#187; catatan</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?cat=11&#038;feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://supartobrata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jan 2018 08:12:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Biodata Suparto Brata</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1266</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1266#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2016 04:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1266</guid>
		<description><![CDATA[Nama: Suparto Brata Tempat/tanggal lahir:  Rumah Sakit Simpang Surabaya (sekarang Gedung Surabaya Plaza), Sabtu Legi, 27 Februari 1932 (sama dengan Elizabeth Taylor), atau 19 Sawal 1862, Je (1350 Hijriah). Di ijazah/KTP, 16 Okt. 1932. Sekolah: A. Sekolah Rakjat, SR VI Jl. Laut Probolinggo, lulus 1946. B.    Sekolah Menengah Pertama, SMPN II Jl. Kepanjen Surabaya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nama:</strong> <strong> Suparto Brata</strong></p>
<p>Tempat/tanggal lahir:  Rumah Sakit Simpang Surabaya (sekarang Gedung Surabaya Plaza),</p>
<p>Sabtu Legi, 27 Februari 1932 (sama dengan Elizabeth Taylor), atau</p>
<p>19 Sawal 1862, Je (1350 Hijriah). Di ijazah/KTP, 16 Okt. 1932.</p>
<p><strong>Sekolah: </strong></p>
<p>A. Sekolah Rakjat, SR VI Jl. Laut Probolinggo, lulus 1946.</p>
<p>B.    Sekolah Menengah Pertama, SMPN II Jl. Kepanjen Surabaya, lulus 1950.</p>
<p>C.    Sekolah Menengah Atas, SMAK St. Louis Jl. Dr. Sutomo Surabaya, tamat 1956.</p>
<p><strong>Pekerjaan: </strong></p>
<p>A. Pegawai Kantor Telegrap PTT, Jl. Niaga 1 Surabaya, (1952-1960).</p>
<p>B.    Karyawan Perusahaan Dagang Negara Djaya Bhakti, Jl. Rajawali 54 Surabaya (1960-1967).</p>
<p>C.    Wartawan freelancer (membantu berita/artikel/foto di Jaya Baya, Surabaya Post, Indonesia Raya, Sinar Harapan, Kompas, Suara Karya) (1968-1988).</p>
<p>D.    Pegawai Negeri Pemda II Kotamadya Surabaya, Bagian Hubungan</p>
<p>Masyarakat (HUMAS). (1971- 1988/pensiun).</p>
<p>E.     Pengarang merdeka (1988 &#8211; 2015).</p>
<p>F.     Wafat 11 September 2015</p>
<p>Keluarga: A.Lahir dari Bapak/Ibu Raden Suratman Bratatanaya &#8211; Raden Ajeng Jembawati</p>
<p>(keduanya dari Surakarta Hadiningrat).</p>
<p>B.    Menikah dengan Rara Ariyati (lahir di Meurudu Aceh, 27 Desember 1940)</p>
<p>di Ngombol Purworejo Kedu, 22 Mei 1962. (wafat di Surabaya 2 Juni 2002).</p>
<p><strong>Anak-anak:</strong></p>
<p><strong>Tatit Merapi Brata,</strong> lahir Surabaya tahun 1963. Lulus Sarjana Pertanian (Insinyir) UNIBRA Malang, 1988. Nikah dengan Sandra Aprilianti, S.E.(Sarjana Ekonomi UNIBRA Malang, 1989), di Blitar 10 Juli 1991. Anak-anak: <em>1. Enggar Diwangkara Brata,</em> lahir di Bekasi tahun1993. <em>2. Aditya Baswara Brata,</em> lahir di Bekasi tahun1996. Sekarang Tatit bekerja di PT. Beckjorindo Paryaweksana Jakarta, Sandra di Exportir Tekstil Mangga Dua Jakarta. Tinggal di Bekasi 1711</p>
<p><strong>Teratai Ayuningtyas,</strong> lahir Surabaya tahun1965. Lulus Akademi Sekretaris Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya, 1985. Nikah dengan Ir. Wahyudi Ramadani, MMT. (Sarjana Teknik Sipil ITS Surabaya 1988, S2-nya Magister Manajemen Teknologi ITS 2002) di Surabaya 27 Juli 1989. Anak-anak <em>1. Kapita Babullah Wicaksana,</em> lahir di Surabaya tahun 1992, <em>2. Wildan Rachmad Firdausi,</em> lahir di Surabaya, tahun 1994, <em>3. Yafi Nabil Pradibta,</em> lahir di Surabaya tahun 2001. Sekarang Wahyudi bekerja di PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (PT. SIER), tinggal di Rungkut Asri Surabaya 60293.</p>
<p><strong>Neo Semeru Brata,</strong> lahir Surabaya tahun 1969. Sarjana Teknik Elektro</p>
<p>Komputer ITS Surabaya, 1994. Nikah dengan Ir.Yetty Kusumawati (Sarjana</p>
<p>Teknik Elektro Telekomunikasi ITS Surabaya, 1994) di Madiun, 12 Mei 1996. Anak: <em>1. Innocentia Alifia Putri,</em> lahir di Bekasi tahun 1997. <em>2. Evelio Excellenta Brata,</em> lahir Jakarta tahun 2002. Sekarang Neo bekerja di Schlumberger Jakarta, Yetty di Telkomsel Jakarta. Tinggal di  Curug Indah, Kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta Timur 13620.</p>
<p><strong>Tenno Singgalang Brata,</strong> lahir Surabaya tahun 1971. Sarjana Teknik</p>
<p>Lingkungan ITS Surabaya, 1995. Nikah dengan Pierlyta Dewi Sumantri, SE,MM di Tangerang 1  September 2002. Anak: <em>Glanz Einstern Brata,</em> lahir di Tangerang,tahun 2003. Bekerja di PT Freeport Tenke Fungurume Mining, Congo, Afrika.</p>
<p>D.    Alamat: Rungkut Asri III/12 Perum. YKP RL-I-C 17 Surabaya 60293</p>
<p>Telepon (031)8702759.  E-mail : <strong><a href="mailto:sbrata@yahoo.com">sbrata@yahoo.com</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.supartobrata.blogspot.com/">www.supartobrata.blogspot.com</a> </strong>dan <strong>www.supartobrata.com</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Karya tulis:</strong></p>
<p>A.    Menulis berita, feature, ulasan, artikel dan cerita fiksi sejak 1951, dimuat di Majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Indonesia, Kisah, Seni, Buku Kita, Sastra, Aneka, Vista, Sarinah, Kartini, Putri Indonesia, dan lain-lain. Juga di suratkabar: Surabaya Post, Harian Umum, Suara Rakjat, Pikiran Rakjat, Trompet Masyarakat, Jawa Pos, Sinar Harapan, Indonesia Raya, Kompas, Suara Karya, Republika. (Hampir semua yang pernah dimuat di majalah/suratkabar diklipping baik. Pernah difotocopy oleh Labrousse, Prancis, 1982).</p>
<p>B.    Menulis bahasa Jawa sejak 1958, dimuat di Panjebar Semangat, Mekar Sari, Jaya Baya,</p>
<p>Djaka Lodang, Jawa Anyar, Dharma Nyata.</p>
<p>C.    Menulis cerita pendek, novel, drama, naskah sinetron, buku sejarah, dalam bahasa Jawa</p>
<p>dan Indonesia (lihat daftar).</p>
<p>D.    Beberapa tulisan dikerjakan bersama dan dengan riset:</p>
<p>I.       Risalah/proses <strong>Hari Jadi Kota Surabaya.</strong> Bersama dengan Kolonel Laut Dokter</p>
<p>Sugiyarto Tirtoatmojo. Tim riset dan penulisan buku atas prakarsa dan dibiayai oleh</p>
<p>Pemda Tk.II Kotamadya Surabaya. 1975.</p>
<p>II.    Buku <strong>Master Plan Surabaya 2000,</strong> bersama Ir. Johan Silas. Tim diketuai oleh</p>
<p>Kolonel Imam Sudrajat, dibiayai oleh Pemda Tk.II Kotamadya Surabaya. 1976.</p>
<p>III  Menulis buku <strong>Pertempuran 10 November 1945, </strong>bersama Drs. Aminuddin Kasdi,</p>
<p>Drs. Soedjijo. Tim diprakarsai dan dibiayai oleh Panitia Pelestarian Nilai-nilai</p>
<p>Kepahlawanan 10 November 1945 di Surabaya, 1986, diketuai oleh Blegoh</p>
<p>Soemarto (Ketua DPRD Tk.I Jawa Timur).</p>
<p>IV. Menulis <strong>Sejarah Pers Jawa Timur,</strong> bersama Drs. Moechtar, Drs. Anshari Thoyib,</p>
<p>Soemijatno, Drs. Issatriadi. Diprakarsai dan dibiayai oleh Serikat Penerbit Surat</p>
<p>Kabar (SPS) Jawa Timur. 1987.</p>
<p>V.    Menulis <strong>Sejarah Panglima-panglima Brawijaya (1945-1990),</strong> bersama Drs.</p>
<p>Nurinhwa, Drs. Wawan Setiawan, Dr. Wuri Sudjatmiko. Prakarsa dan biaya oleh</p>
<p>LIPI Jakarta dan Kodam Brawijaya. 1988.</p>
<p><strong>Lain-lain:</strong></p>
<p>Namanya telah tercatat dalam buku <strong>Five Thousand Personalities of the World</strong></p>
<p>Sixth Edition, 1998, terbitan The American Biographical Institute, Inc, 5126</p>
<p>Bur Oak Circle, P.O.Box   31226, Raleigh, North   Carolina 27622 USA, dengan</p>
<p>teks sebagai berikut:</p>
<p><strong>BRATA, Suparto</strong> oc/Writer, ad/Jl. Rungkut Asri III/12 RL-I-C 17, Surabaya 60293</p>
<p>Indonesia, pa/Story Writer, Public Servant, 1971-1988, Freelance Journalist, 1967-72</p>
<p>Operator/Teleprinter Government Telegraph Office, 1952-1960, Government Commerce Office, PDN Djaya Bhakti 1960-1967, cw/Author, <em>Eye Witness </em>1995,<em> No Other Rice </em>1958, Co-Author,<em> The Histories of the Commanders Brawijaya Division </em>1988, <em>The History of the Press in East Java </em>1987,<em> The Battle of Surabaya on November 1945, </em>1986. Hon/Numerous Award for Publications.</p>
<p>Mendapat Hadiah Gubernur Jawa Timur (Sularso) 1993, sebagai seniman pengarang tradisional.</p>
<p>Mendapat Hadiah Rancagé 2000 sebagai jasanya mengembangkan sastra dan bahasa Jawa.</p>
<p>Mendapat Hadiah Rancagé 2001, karena telah membuktikan kreatifitasnya dalam sastra Jawa dengan terbitnya buku Trèm karangannya.</p>
<p>Mendapat Hadiah Rancagé 2005, karena terbitnya buku Donyane Wong Culika.</p>
<p>Mendapat Hadiah Gubernur Jawa Timur (Imam Utomo) 2002, sebagai seniman Jawa Timur (bersama 100 orang seniman lainnya).</p>
<p>Mendapat Hadiah dari Pusat Bahasa 2007 sebagai salah seorang dari tiga sasterawan Indonesia, dan ditunjuk sebagai penerima The SEA Write Award 2007 di Bangkok.</p>
<p>Menerima Penghargaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 2013 sebagai Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka dengan Katagori  Tokoh Media yang Peduli Terhadap Pengembangan Perpustakaan dan Kegemaran Membaca</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1266</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Riwayat Hidup Suparto Brata</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1262</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1262#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2016 21:17:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1262</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini saya temukan di Hardisk Bapak yang baru saja saya copy pada tanggal 21 Agustus 2016 dari Adik saya Neo Semeru Brata, yaitu sebuah pengantar untuk buku berjudul HARI JADI KOTA SURABAYA, 682 tahun Sura Ing Baya, barangkali bermanfaat bagi yang memerlukan. KATA PENGANTAR DARI PENGARANG Buku ini jelas buku sejarah Kota Surabaya. Tetapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini saya temukan di Hardisk Bapak yang baru saja saya copy pada tanggal 21 Agustus 2016 dari Adik saya Neo Semeru Brata, yaitu sebuah pengantar untuk buku berjudul <strong>HARI JADI KOTA SURABAYA, 682 tahun Sura Ing Baya</strong>, barangkali bermanfaat bagi yang memerlukan.</p>
<h2 style="text-align: center;">KATA PENGANTAR DARI PENGARANG</h2>
<p>Buku ini jelas buku sejarah Kota Surabaya. Tetapi bukan buku pelajaran sejarah dan bukan buku teks sejarah secara akademis yang menuntut pembuktian adanya situs, prasasti, artefak, dokumen dan semacamnya. Ini buku sejarah Kota Surabaya sebab yang ditulis adalah pengalaman hidup penulisnya, yaitu pengalaman hidup saya, Suparto Brata. Yang saya tulis adalah kesaksian saya, apa yang saya ingat, yang pernah saya rasakan, saya lihat, saya dengar, baik saya dengar sendiri maupun saya dengar dari cerita orang lain, dan juga ditambah pemikiran saya, pengetahuan saya dari membaca buku. Apa yang saya saksikan, saya dengar dan pemikiran saya tadi belum tentu benar menurut faktanya, mungkin hanya ilusi, dan mungkin sangat sepele, sangat tidak penting untuk diketahui pembaca, namun karena pernah <em>kecanthol </em>pada ingatan saya, maka terus saya tulis di buku ini. Penting dan tidak penting untuk orang lain, namun terus kuingat ketika menulis buku ini, dan tidak akan diketahui orang lain kalau tidak saya tulis. Jadi ya saya tulis saja. Dan itu fakta sejarah.</p>
<p>Jadi menulis buku ini sebenarnya saya mendongeng pengalaman saya hidup di Surabaya.</p>
<p>Karena saya menulis ingatan saya, menulis pemikiran saya, maka lebih sering saya menulis perincian sebab dan akibat sesuatu persoalan. Saya tulis apa yang saya lihat pada waktu awal dan saya uraikan apa selanjutnya yang saya lihat kemudian hari. Bentuk tulisan saya jadi cerita uraian sesuatu yang saya lihat awalnya sampai saya lihat akhirnya bagaimana. Jadi pada buku ini saya tidak bercerita secara kronologis kejadian yang saya lihat awal kehidupan saya dari waktu ke waktu, secara urut sampai akhir hidup saya ketika menulis buku ini, sebagaimana biasanya buku sejarah ditulis.</p>
<p>Meskipun begitu, saya menulis buku ini memang bertujuan menulis buku sejarah Kota Surabaya, di mana saya secara runtut hidup dari bocah dulu, lalu dewasa, lalu tua, lalu menulis buku ini. Maka seharusnya urut-urutan ceritanya juga harus begitu supaya pembaca juga bisa membayangkan bagaimana kejadian-kejadian di Kota Surabaya menurut kronologis waktunya. Tapi kalau saya tulis seperti itu, konteks sebab dan akibatnya jadi kurang jelas. Mungkin pembaca hanya tahu kejadian demi kejadian masa lampau begitu saja, tidak mempelajari atau menyimpulkan sejarah sebab dan akibatnya. Padahal buku sejarah tulisan saya ini sangat memberi kesan dan pesan soal sebab dan akibat yang terjadi, yaitu yang saya saksikan waktu dulu itu, akibatnya baru kentara saat sekarang karena saya menyaksikan juga kejadian atau keadaannya yang kemudian itu, dan baru sekarang bisa saya tulis. Dengan kesan dan pesan seperti itu, sekalipun itu hanya kesimpulan saya seorang, mungkin kesimpulan tadi tidak benar, namun selain pembaca tahu sejarah peristiwanya, dari sejarah sebab akibat tadi pembaca juga bisa mengambil manfaat untuk menyusun kehidupan di Surabaya masa yang akan datang. Akibat yang jelek, tolong dihindari untuk lelakon yang akan datang, akibat yang baik bolehlah ditiru demi perbaikan hidup di Surabaya masa depan. Betapa pun sejarah adalah peristiwa masa lalu, jadi pelajaran masa kini, untuk mengunstruksi kehidupan masa depan. Tanpa mengetahui sejarah masa lalu, orang mengunstruksi masa depan secara membabi buta, dan sangat mungkin melakukan lagi dan lagi kesalahan-kesalahan dan kegagalan hidup masa lampau. Melakukan berulang kesalahan perbaikan hidup berarti memperbaiki cara hidup yang sia-sia. Pasti bukan keinginan para pembaca yang akan menjalani hidup di Surabaya masa depan.</p>
<p>Menceritakan secara kronologis memang juga memperjelas waktu-waktu kejadian. Supaya gampang para pembaca mengingat kronologis kejadian yang saya alami di Surabaya, maka berikut saya sampaikan dulu riwayat hidup saya. Di situ saya catatkan tahun-tahun kehidupan saya, agar jelas kejadian yang saya tulis ini saya alami ketika apa, zaman apa dan suasananya bagaimana, tahun berapa.</p>
<p>Mudah-mudahan riwayat hidup secara kronologis di mana saya berada ini sangat menolong pembaca membayangkan yang terjadi di Surabaya dari tahun ke tahun secara kronologis juga. Dan itulah sejarah Kota Surabaya dari waktu ke waktu.</p>
<p>Saya mulai menulis cerita ini tahun 2011, menjelang peringatan hari jadi Kota Surabaya yang ke 718, 31 Mei 2011. Merupakan kegiatan saya untuk memperingati hari jadi kota kelahiranku Surabaya secara personal. Tapi oleh karena banyaknya kesibukan lain, penulisan ini tidak juga selesai-selesainya. Kalau kemudian terbit menjadi buku seperti ini, saya sangat berterima kasih kepada Penerbit, dan bersyukur Alhamdulillah. Semoga buku ini sangat berguna seperti apa yang saya amanatkan.</p>
<p>Sebenarnya, menulis cerita Surabaya Zaman Jepang begini sudah pernah saya lakukan pada bulan Mei 1983. Tulisan tadi dimuat bersambung di suratkabar Jawa Pos tanggal 30 Mei – 21 Juni 1983, selama 20 hari.  Seperti biasanya tulisan yang dimuat di koran tadi saya kliping. Aman jadi dokumen saya. Namun, pada tahun 2005, saya ingin merayakan hari jadi Kota Surabaya secara pribadi dari nurani saya. Cara merayakan hari jadi Kota Surabaya secara peribadi maupun bersama begitu sering saya lakukan. Biasanya berwujud tulisan, saya siarkan di suratkabar, atau malahan tulisan yang berwujud buku sebagai dokumen. Yang berwujud buku misalnya buku berjudul <strong>HARI JADI KOTA SURABAYA, 682 tahun Sura Ing Baya,</strong> saya kerjakan demi membantu tugas yang diemban Kolonel Laut Dokter Sugiyarto Tirtoatmojo dari Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya, 31 Mei 1975. Secara peribadi juga pernah saya buatkan novel untuk memperingati Hari Jadi Kota Surabaya, yaitu novel berjudul <strong><em>Saputangan Gambar Naga, </em></strong>(PT.Grasindo Jakarta, 2003) untuk memperingati 700 tahun Hari Jadi Kota Surabaya. Nah, tahun 2005, muncul keinginan tiba-tiba merayakan Hari Jadi Kota Surabaya. Tidak sempat menulis buku. Maka kliping koran Jawa Pos <strong><em>Surabaya Zaman Jepang</em></strong> saya gunting-gunting menjadi buku kecil, saya fotocopy sebanyak 10 jilid. Agar berupa buku, wajah sampulnya saya beri tulisan Katakana, di bawah saya tulisi EDISI SURABAYA USIA 713 TAHUN. Buku kecil tadi habis saya berikan kepada orang-orang atau pejabat yang saya kira berperhatian dengan sejarah Kota Surabaya.</p>
<p>Beberapa tahun selanjutnya perhatian saya pada hal-hal yang lain. Tahun 2010 saya baru sadar bahwa tulisan dokumen <strong><em>Surabaya Zaman Jepang </em></strong>yang pernah dimuat di Jawa Pos dulu sudah tidak ada lagi di kliping saya. Buku kecilnya juga sudah habis saya bagikan. Padahal saya sedang ingin menulis tentang Kota Surabaya yang saya ketahui sejarahnya. Saya sedang menulis <strong><em>Nama-nama Jalan Kota Surabaya 1942. </em></strong>Yaitu nama jalan sebelum Balatentara Dai Nippon datang di Surabaya. Nama-nama jalan yang dibuat oleh pemerintah <em>Gemeente Soerabaia</em> itu masih lengkap terpampang di setiap ujung potongan jalan yang saya saksikan pada zaman Jepang. Itu yang sedang saya tulis. Tapi jadi geragapan menyadari dokumen tulisanku <strong><em>Surabaya Zaman Jepang </em></strong>tidak saya miliki lagi. Maka penulisan buku <strong><em>Nama-nama Jalan Kota Surabaya 1942 </em></strong>saya hentikan, beralih menggali lagi dokumen <strong><em>Surabaya Zaman Jepang. </em></strong>Tetapi karena tidak mungkin lagi menulis secara urut seperti yang pernah saya tulis di Jawa Pos, maka penulisan baru <strong><em>Surabaya Zaman Jepang </em></strong>jadinya seperti buku ini. Saya tulis dengan banyak ingatan yang muncul, dan yang saya alami tahun-tahun selanjutnya, maka akhirnya saya putuskan bebas merdeka menulis apa saja yang teringat di benak saat menulis buku ini.</p>
<p>Namun, karena inspirasinya dari kehilangan dokumen <strong><em>Surabaya Zaman Jepang, </em></strong>maka buku ini tetap saya juduli <strong><em>Surabaya Zaman Jepang.</em></strong></p>
<p>Ada lagi alasannya mengapa saya juduli <strong><em>Surabaya Zaman Jepang. </em></strong>Sebab pada zaman Jepang tahun 1942 itulah saya kembali dan mulai menetap di Surabaya dalam umur yang cukup jelas mempunyai ingatan, pikiran, kesan kenangan dan sebagainya. Sangat indah kalau ditulis.</p>
<p>Mari, kita mulai menyemak riwayat hidup saya.</p>
<p>*</p>
<p><em>Riwayat para leluhurku.</em></p>
<p>Saya dilahirkan di Surabaya Plaza hari Sabtu Legi 19 Sawal 1862, tahun Jawa Jé, (1350 Hijriah), sama dengan 27 Februari 1932. (Tapi di KTP/ijazah tertulis 16 Oktober 1932, ngawur ketika untuk penulisan di ijazah SMP 1950). Waktu saya lahir tahun 1932, Surabaya Plaza masih merupakan Centrale Burgelijk Hospital (CBZ) atau Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP). Saya merupakan anak ke-8 dari pasangan Bapak-Ibu saya, R.Soeratman Bratatenaja – R.A.Djembawati (anak ke-8 berarti Bapak dan Ibu telah berjodohan setidaknya lebih dari 16 tahun), namun hanya anak nomer 4 (R.M.Soewondo) yang bertahan hidup. Anak yang lain meninggal ketika masih bayi. Sedang antara saya dengan anak nomer 4 jaraknya 10 tahun. Kakak lahir 1922.</p>
<p><em>Leluhurku dari pihak Bapak.</em></p>
<p>Pada waktu saya dilahirkan, Kakak saya disekolahkan di Rooms-Katholiek HIS di Semeroestraat di Malang, diasramakan dan dibeayai oleh kemenakan ayah bernama Saparas, yang merasa berhutangbudi kepada ayah; dengan begitu pembeayaan hidup Kakak tidak bergantung kepada ayah. Menurut cerita Ibu, tahun-tahun kelahiran Kakak adalah zaman jaya-jayanya pasangan Bapak dan Ibu. Bapak bekerja sebagai <em>keurmeester </em>atau ‘mantri kewan’ (1920-1924), yaitu pejabat pemeriksa kesehatan hewan yang mau disembelih, gajinya dari pemerintah besar. Bapak dan Ibu menempati rumah besar di Jalan Jasem Sidoarjo. Selain Ibu, di rumah Jasem Bapak juga menanggung hidup ibunya (Eyang Putri), tiga orang adik-adiknya (Paklik Suyit, Bulik Sri, Paklik Har), seorang kemenakannya (Mas Saparas) yang sudah dewasa. Mas Saparas ini putera dari mbakyunya Bapak, bernama R.A.Wiryopuspito (Budhe Pus).</p>
<p>Waktu itu (1922-an) Budhe Pus mengikuti suaminya hidup di Krapyak, Pasar Kebo, Sragen. Rumah di Pasar Kebo ini saya dan Ibu  pada tahun 1937-1941 bertempattinggal.</p>
<p>Saudara Bapak yang tidak ikut Bapak (1922-an) selain Budhe Pus, ada lagi Bulik Tiyah, adik Bapak. Bulik Tiyah menikah dan ikut suaminya seorang bangsawan (Ndara Bei) di Kauman Solo. Anaknya Bulik Tiyah, Ndrajeng Ties, oleh Ndara Bei dikawinkan dengan seorang laki-laki tua tetapi kaya, berumah di Kemlayan Solo. Tahun 1950 nanti saya dan Ibu pernah mondok di Kemlayan situ.</p>
<p>Selain Budhe Pus dan Ndrajeng Ties yang nanti penting dalam hidup saya adalah Bulik Sri. Bulik Sri yang ketika perawannya ikut Bapak di Jasem Sidoarjo kemudian bekerja jadi perawat di CBZ (Rumah Sakit Simpang Surabaya), ketemu jodohnya, yaitu Raden Mas Wibisono yang sedang praktek jadi dokter muda. Perjodohan ini kemudian berhasil membuat rumah cukup besar di Gresikan gang 2 nomer 23 Surabaya. Baik Paklik Wibisono maupun rumah Gresikan gang 2 nomer 23 Surabaya ini akan menggores kehidupan saya yang saya tulis di buku ini.</p>
<p>Keluarga Bapak di Jasem Sidoarjo (1920-1924) dikerubuti oleh keluarga dari Bapak. Mereka itu manja. Ibunya Bapak (Eyang Putri) yang ikut berumah di Jasem Sidoarjo banyak permintaan untuk membeayai keluarganya. Sedang Ibuku tersisih dan tertindih di antara keluarga pihak Bapak tadi. Misalnya untuk merayakan pernikahan Bulik Sri (1921), Paklik Suyit minta dibelikan mobil untuk mengangkuti para tamu dari Solo ke Surabaya. Dituruti oleh Bapak. Kata Ibu mobil tadi minta beaya banyak, karena Paklik Suyit tidak tahu tehnik mengoperasikan mobilnya. Eyang Putri minta agar Bapak membeayai seorang kemenakannya (Mas Saparas = cucu Eyang Putri) disekolahkan jadi dokter. Karena pembeayaan keluarga berat, Bapak memakai uang jawatannya. Maka Bapak dipecat dari pekerjaannya. Jatuh miskin. Kemenakan (Mas Saparas) yang disekolahkan jadi dokter tidak bisa melanjutkan studynya. Kemenakan ini gagal jadi dokter. Tapi berhasil bekerja jadi sipir penjara besar di Sragen (kota orangtuanya, Budhe Pus). Masih jejaka kedudukan Mas Saparas jadi sipir bui cukup tinggi, dapat rumah dinas, kaya. Karena merasa berhutangbudi disekolahkan Bapak sampai tingkat mahasiswa, tahu Bapak jatuh miskin, Mas Saparas lalu ganti membeayai Kakak (R.M.Soewondo) bersekolah. Kakak diasramakan di Sekolah Katholik di Malang selama 10 tahun (1930-1940), yaitu sejak kelas satu HIS (setingkat SD, 7 tahun tamat) hingga lulus MULO (setingkat SMP, 3 tahun tamat).</p>
<p>Kakak R.M.Soewondo lulus MULO tahun 1941. Keluar asrama sekolah di Malang, Kakak ikut buliknya (Bulik Sri, adik Bapak yang sudah menikah dengan R.M.Wibisono berumah di Gersikan gang 2 nomer 23) di Surabaya, dan dikursuskan tehnik radio tetap dibeayai oleh Mas Saparas. Selesai kursus setahun dapat ijazah, Kakak R.M.Soewondo dapat pekerjaan di Marine Ujung Tanjungperak, tempat pangkalan Angkatan Laut Belanda di Surabaya. Bekerja belum lama di bagian radionya kapal-kapal, Jepang datang mendarat di Surabaya. Kakak masih tetap dipakai sebagai pekerja di Marine Ujung Tanjungperak, meskipun kepemilikannya jadi punya <em>Kaigun,</em> Angkatan Laut Jepang (1942-1945). Tapi tahun 1944 Kakak keluar dari Marine Ujung, pindah bekerja pada Jawa Denki Jigyo-sya (jawatan listrik) di Gemblongan Surabaya.</p>
<p>Waktu saya lahir di Surabaya 1932, Bapak sedang tidak punya pekerjaan, tidak punya tempat tinggal tetap, dan hidup mencari pekerjaan di sekitar daerah Gupermen (pemerintahan Belanda) di Jawa Timur.</p>
<p><em>Leluhurku dari pihak Ibu.</em></p>
<p>Karena Bapak tidak punya pekerjaan, maka Ibu membawa saya yang masih bayi umur 6 bulan ‘pulang’ ke rumah besar (istana) Gusti Kanjeng Pangeran Hario Djajadiningrat di Gajahan Surakarta Hadiningrat. Waktu kanak-kanak dulu Ibu hidup di situ ikut Buliknya, yaitu isteri GKPH Djajadiningrat. R.Ay.Djajadiningrat adalah adik Nenekku (R.Ay.Projosuwarno). R.Ay.Djajadiningrat dan Nenek R.Ay.Projosuwarno adalah putera-putera dari GKPH Kusumabrata II, istananya juga di Gajahan Solo, tapi sebelah timur dekat Alun-alun Kidul. Sedang istana GKPH Djajadiningrat di Gajahan sebelah barat.</p>
<p>Nenek R.Ayu.Projosuwarno menikah dua kali. Yang pertama dengan Eyang Wirasaraya punya rumah di Kedunglumbu Solo. Lahir seorang anak perempuan, yaitu Ibuku. Berpisah dengan Eyang Wirasaraya, Eyang putri menikah dengan R.M.Projosuwarno. Dan Ibuku sejak kecil dititipkan pada Buliknya hidup bermain sampai dewasa di istana  GKPH.Djajadiningrat.</p>
<p><em>Tahun 1932-1937 saya ikut Ibu di Istana Djajadiningratan.</em></p>
<p>Karena Bapak tidak punya pekerjaan dan tempattinggal tetap di Surabaya, maka Ibu memutuskan pulang ke Solo, ke istana GKPH Djajadiningrat di mana sewaktu kecil hingga perawan Ibu hidup berbahagia berkumpul sesama keluarga besar seleluhur. Tapi Ibu kini ‘pulang’ ke sana bawa bayi, Ibu bukan kanak-kanak lagi. Teman sepermainan Ibu juga sudah dewasa dan tidak di sana lagi. Di rumah besar itu, Ibu dan saya (bayi umur 6 bulan) hanya menumpang tempat saja. Artinya bisa dapat kamar tempat tinggal, tidak usah menyewa, karena masih keluarga seleluhur. Sandang pangan harus cari sendiri. Kebetulan Ibu mendapat harta warisan dari Kakek (R.M.Ng.Wirasaraya). Menurut cerita Ibu, Kakek R.M.Ng. Wirasaraya dan Nenek R.Ay. Projosuwarno sudah berpisah cerai sejak Ibu masih bocah, makanya Ibu sewaktu bocah ikut Buliknya di Djajaningratan, terpisah dari Kakek yang hidup berumah di Kedunglumbu Solo. Warisan Ibu didapat dari Kakek R.M.Ng.Wirasaraya. Selain barang-barang rumah tangga seperti bokor, almari, dan sebagainya, rumah dan pekarangannya di Kedunglumbu Solo itu juga diwariskan kepada Ibu dan adik tiri Ibu, yaitu Bulik Doeri Darmosaroyo. Putera Kakek R.M.Ng. Wirasaraya memang hanya dua orang puteri itu.</p>
<p>Ibu sejak kecil diperlakukan sebagai puteri bangsawan di istana Djajadiningratan, tidak punya keterampilan untuk hidup mandiri. Ketika ‘pulang’ ke istana Djajadiningratan (1932) membawa saya, bayi umur 6 bulan juga tidak dapat bekerja yang mendapatkan penghasilan apa-apa. Maka hidup membesarkan saya sejak bayi hanya dengan menjuali barang-barang warisan yang Ibu peroleh dari Kakek Wirasaraya. Tentu saja harta warisan itu akhirnya habis.</p>
<p>Dalam usaha membesarkan saya seorang diri, Ibu selalu berusaha mendekati untuk bersatu kembali dengan Bapak. Berkali-kali pada zaman Belanda saya diajak Ibu meninjau ke Surabaya, ke tempat-tempat keluarga atau bekas kenalan, termasuk ke kampung Jasem Sidoarjo di mana Bapak-Ibu pernah hidup berjaya. Semua peninjauan itu dengan maksud untuk bergabung kembali membangun kehidupan rumah-tangga bersama Bapak. Namun tidak berhasil.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Tahun 1937-1941 saya ikut Ibu berumah sendiri di Pasar Kebo Sragen.</em></p>
<p>Sebelum harta warisan dari Kakek habis, Ibu mendekat kepada Budhe Pus di Sragen, di mana Mas Saparas (putranya Budhe Pus) yang masih bujang punya kedudukan tinggi sebagai sipir di Rumah Penjara Besar di Sragen. Ibu keluar dari istana Pangeran Djajaningratan pindah menempati rumah Budhe Pus di Kampung Pasar Kebo di Sragen 1937. Waktu itu saya sudah umur 5 tahun. Rumah Budhe Pus di Pasar Kebo Sragen adalah rumah tembok satu-satunya di desa Krapyak Sragen waktu itu. Ibu dan saya menempati rumah tembok itu berdua saja, sebab Budhe Pus ikut menempati rumah dinas Mas Saparas di daerah sekitar Rumah Penjara Besar Sragen. Untuk pendekatan yang kekal terhadap keluarga Bapak, Ibu bahkan menjual tanah dan rumah warisannya di Kedunglumbu Solo kepada adiknya Bulik Doeri Darmosaroyo, uangnya dibelikan rumah dan pekarangan tetangga samping rumah Budhe Pus di Kampung Pasar Kebo di Sragen. Dengan memiliki rumah dan pekarangan di situ, maka Ibu akan selalu dekat dengan Budhe Pus (iparnya). Ibu dan saya tetap menempati rumah tembok milik Budhe Pus, sedang rumah-rumah di pekarangan baru milik Ibu disewakan kepada orang-orang yang membutuhkan. Rumah-rumah gedeg dipetak-petak, sewanya amat murah, tiap petak dua sen per hari.</p>
<p>Namun usaha Ibu mendekati keluarga Bapak dengan cara itu juga sia-sia. Sebab tahun 1940 Mas Saparas dipindah pekerjaan jadi sipir di penjara di Kota Pati. Budhe Pus ikut pindah ke Pati. Ibu dan saya tetap tertinggal berumah tembok milik Mas Saparas di Krapyak, Pasar Kebo, Sragen. Berduan saja. Ibu tidak punya penghasilan lain selain menjuali barang warisan dari Kakek. Hasil persewaan rumah gedeg tidak mungkin untuk menghidupi kami. Sedang saya sudah bersekolah, di Sekolah Angka Loro di Sragen Wetan. Tahun 1940 ketika Mas Saparas pindah ke Pati, saya sudah kelas 3. Tentu saja Ibu panik dengan keadaan seperti itu. Seorang putri bangsawan hidup berdua saja dengan anaknya umur 8 tahun di desa, tanpa penghasilan! Mau usaha apa, agar tidak meninggalkan Sragen? Sebab harta warisannya berupa pekarangan ada di Sragen, dan saya sudah terlanjur bersekolah Angka Loro (sekolah yang paling rendah zaman itu) di Sragen. Untuk memperpanjang hidupnya karena barang-barang peninggalan Kakek kian menipis, Ibu menggadaikan kain-kain batik miliknya, dan hutang uang kepada Cina Mindring, dan mencoba membuka warung pecel di rumah sendiri. Banyak kerabat Ibu yang mencela, putri bangsawan kok jualan nasi pecel! Dan memang usaha Ibu tidak jalan.</p>
<p>Selama 1937-1941 itu saya hidup sangat bebas bermain sebagai bocah desa umur 5-9 tahun: bermain layangan seharian, mencari cengkerik malam hari, adu cengkerik siang hari, makan tebu di sawah, mandi di sungai, ikut menggembala kambing, mendengarkan omongan cabul, diadu berkelahi sesama teman. Bebas bas bermain keluar rumah. Ibu tertinggal sendiri di rumah, tidak bisa melarang kebebasan saya. Tapi pagi hari masuk sekolah, pasti saya jalani.</p>
<p>Dalam usaha Ibu yang gagal mendapatkan penghasilan dan gagal mendekati keluarga Bapak, menjalani hidup kesendirian di desa begitu sangat rentan. Tidak ada kerabat yang mau menolong. Maka akhirnya Ibu melamar pekerjaan jadi <em>batur </em>(pembantu rumah tangga) pada Bupati Sragen, Mr. Raden Mas Tumenggung Ario Wongsonagoro. Diterima oleh isteri Ndara Bupati. Dan amanlah kehidupan kami berdua. Menjadi <em>batur</em>, kami berdua mendapat penginapan di rumah Bupati, tidak sendirian berdua saja di pekarangan desa, dan juga dapat makan kenyang.</p>
<p><em>Tahun 1941-1942 saya ikut Ibu menjadi </em>batur<em> di rumah Bupati Sragen.</em></p>
<p>Sebelumnya Ibu tidak kenal sama sekali dengan keluarga Bupati Sragen itu. Ibu diterima sebagai emban (pengasuh khusus) putri Bupati yang sudah remaja (anak nomer 4), Raden Ajeng Sridanarti, sedang saya menjadi pengasuh putranya yang bernama Raden Mas Tripomo (anak nomer 6). Sridanarti sudah sekolah di MULO <em>(Meer Uitgebreid Lager Onderwijs,</em> perguruan yang lebih berkembang dari sekolah rendah = SMP) di Solo karena di Sragen belum ada MULO, berangkat pagi pulang sore naik keretaapi. Ibu tetap di rumah Bupati. Sedang adik-adiknya masih sekolah di ELS <em>(Europeesche Lagere School </em>= sekolah rendah untuk bangsa Eropa) di Sragen.</p>
<p><em>Batur </em>terjemahan sesungguhnya adalah <em>budak. </em>Tapi mengikuti zaman sekarang lebih diperhalus menjadi <em>‘pembantu rumah tangga’ </em>disingkat PRT. Hidup jadi <em>batur </em>sebenarnya memang jadi <em>budak. </em>Kemerdekaannya betul-betul ditindas oleh majikannya. Apa segala perintah majikannya harus dituruti. Itu yang terjadi awal mula saya jadi <em>batur </em>Raden Mas Tripomo. Merdeka hanya waktu belajar ke sekolah, saya sekolah di sekolah Angka Loro Sragen Wetan, beliau sekolah di ELS tengah kota, pulang sekolah saya harus ikut ke mana saja R.M.Tripomo bergerak. Ya main layang-layang, belajar sepeda, berkelahi, saya harus ikut dan membela R.M.Tripomo. Tapi hak saya ikut main tidak ada. Belajar sepeda ya hanya suruh mendorong saja. Saya jadi tidak kerasan. Maka tiap kali berangkat sekolah, saya atidak pulang ke rumah bupati. Saya melanjutkan bermain di kampung lama, Pasar Kebo. Di sana ketemu lagi dengan teman-teman lama, bermain bebas. Senang sekali. Satu hal yang tidak kudapat. Ibu tidak ada di rumah Pasar Kebo, jadi juga tidak ada yang beri saya makan. Seharian bermain di Pasar Kebo saya tidak makan. Baru berani pulang ke rumah bupati, kalau kira-kira R.M.Tripomo sudah tidur. Seringkali saya pulang setelah malam hari. Berjalan sendiri di malam gelap dari Pasar Kebo ke rumah bupati. Sebenarnya saya juga takut gelap, takut jadi-jadian seperti cerita orang, takut penyamun. Tapi ya harus saya lakoni, supaya saya bisa bertemu Ibu dan tidur di dekat Ibu. Lewat depan rumah yang dijaga oleh polisi, pasti ditegur, anak umur 8 tahun seorang diri masuk rumah bupati. Bertemu Ibu, Ibu pasti menyiapkan makanan. Makanan sisa-sisa makanan keluarga Sang Bupati. Meskipun namanya sisa-sisa, tapi enak dan bergizi. Ada mi, daging, nasi putih, buah. Lebih mewah daripada kalau yang masak Ibu di Pasar Kebo dulu.</p>
<p>Kurang beruntungnya saya hidup bebas begitu, saya jatuh sakit. Sakit malaria tropika. Pagi hari terasa sehat-sehat saja, berangkat sekolah, jam 10 setelah istirahat pertama, badan merasa demam amat sangat. Seringkali harus disuruh pulang oleh Pak Guru. Kalau sudah demam begitu seringkali apa yang sudah saya makan pagi itu keluar dari mulut. Tumpah di kelas. Saya langsung disuruh pulang. Sering juga selama pelajaran sekolah tidak demam. Pulang sekolah saya pun bermain ke Pasar Kebo. Main di sana tiba-tiba demam. Saya pun tidur di emper rumah teman saya. Sampai demamnya berakhir. Atau malam hari tiba, saya dengan masih merasa demam harus pulang ke rumah bupati. Akhirnya saya tidak kuat lagi, tidak pergi ke sekolah, tidur saja di mana Ibu bisa menemani saya. Akhirnya saya sembuh juga, dan terbebas dari perbudakan R.M.Tripomo. Saya bebas bermain apa saja di rumah bupati, tidak lagi harus mengikuti R.M.Tripomo. Saya ikut belajar menari dan menabuh gamelan. Bergaul dengan putra-putri bupati yang lain juga bebas. Tapi jadi istimewa bergaul dengan Raden Ajeng Tanti, mbakyunya R.M.Tripomo. Istimewanya beliau suka sekali membaca buku, dan saya disuruh mendengarkannya. Semula memang dibacakan untuk didengarkan anak-anak yang lain juga, tetapi kemudian hanya saya yang suka mendengarkan cerita buku yang dibacanya. Banyak sekali buku bahasa Jawa tulisan latin yang saya sewa dari perpustakaan sekolah maupun swasta yang kami nikmati berdua untuk membacanya. Peristiwa pembacaan buku itu menjadi salah satu pergerakan jiwa saya untuk menyenangi membaca buku. Suasana itulah gerakan jiwa saya awal mulanya.</p>
<p>Selain merasakan perbudakaan, sakit malaria tropika yang sangat payah, kegairahan membacai buku, ada lagi yang mengubah kejiwaan saya, yaitu datangnya Balatentara Dai Nippon ke Indonesia. Perang terjadi. Mr.Wongsonegoro sebagai cendikiawan tentu saja semula melawan kedatangan Dai Nippon. Kedudukan beliau dipersoalkan. Akhirnya bahkan beliau diangkat jadi Fuku Syutjokan (wakil residen) di Semarang. Saya dan para keluarga Sang Bupati merasakan benar bagaimana kerasnya pemerintahan Balatentara Dai Nippon awal mula di Sragen.</p>
<p>Pindah ke Semarang ikut keluarga Mr.Wongsonegoro Ibu tidak mau. Ingin mendekat lagi kepada Bapak. Hidup sendiri di Sragen tidak mungkin lagi. Maka diputuskan pergi saja ke Surabaya. Di Surabaya Ibu melamar jadi PRT keponakannya, yaitu Raden Ayu Sarwosri. R.Ay.Sarwosri adalah istri Mas Suharto Suryohartono, waktu itu rumahnya di van Stipriaan Luciusstraat 31 Surabaya, sedang melahirkan putra ke 3 laki-laki, dinamai Kusno Hartowo. Ibu menjadi pengasuh bayi tadi. Saya ikut Ibu pindah ke Surabaya, sekolahku pun dipindah ke Sekolah Rakyat di Jalan Mundu, sekolah dengan nama <em>Kokumin Gakkõ </em>di Moendoeweg Surabaya. Dari sinilah nanti saya memulai cerita tentang Surabaya pada zaman Jepang (1942-1945). Pada waktu itu kakak saya R.M.Soewondo sudah bekerja di Marine Ujung, pondok di rumah Bulik Sri, Gersikan gang 2 nomer 23 Surabaya. Bapak tidak di Surabaya, konon menjadi penjaga tambak milik Kaji Umar di Sidoarjo. Bapak sudah kawin lagi dengan perempuan di desa sana. Pendekatan Ibu tampaknya sia-sia. Tapi Ibu sudah punya harapan bisa hidup dengan kakak R.M.Soewondo kelak kemudian hari.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Tahun 1942 saya ikut Ibu menjadi PRT di van Stipriaan Luciusstraat 31 Surabaya.</em></p>
<p>Tahun 1942 Jepang mendarat di Pulau Jawa. Ibu mengajak saya pindah ke Surabaya, mengabdi pada keponakannya Raden Ayu Sarwosri (cucu Pangeran Djajadiningrat) yang sudah menikah dengan Raden Suharto Suryohartono. Mas Suharto bekerja sebagai sekretaris Kabupaten Surabaya, kantornya di Gentengkali, rumahnya di Van Stipriaan Luciusstraat nomer 31 Surabaya.</p>
<p><em>Tahun 1944-1945 saya mondhok di rumah Pak Broto di Karangmenjangan Surabaya.</em></p>
<p>Mas Suharto Suryohartono akhir tahun 1944 diangkat jadi Wedono di Krian, bersama keluarganya pindah ke Krian. Ibu tetap ikut ke Krian. Saya dan Mas Darkiman mondok di kerabat Solo, Ibu Subroto, di Kampung Karangmenjangan, sebelah timur dari gedung Rumah Sakit Karangmenjangan. Saya melanjutkan sekolah di Canalaan 121, tiap hari pergi-pulang sekolah berjalan kaki, kaki telanjang. Sementara itu kakak R.M.Soewondo pindah pekerjaan. Keluar dari Marine Ujung Surabaya, pindah bekerja di Jawa Denki Jigyo-sya, perusahaan Listrik di Gemblongan Surabaya.</p>
<p><em>Tahun 1945-1947 saya, Ibu dan kakak R.M.Soewondo mengungsi di Probolinggo.</em></p>
<p>Pada Perang 10 November 1945, dalam ancaman hujan peluru dari darat, laut dan udara, berbondong-bondong orang Surabaya lari mengungsi keluar kota, dengan membawa barang sekuatnya dan sebisanya. Bingung, tujuannya tidak menentu, asal segera keluar dari Kota Surabaya saja terlepas dari ancaman maut ultimatum Komandan Pasukan Sekutu di Jawa Timur, Mayor Jendral E.C.Mansergh. Dalam keadaan seperti itu saya bersama Ibu dan Kakak R.M.Soewondo, bertiga lari mengungsi ke Probolinggo. Sekilas ada niatan juga mendekati tempat Bapak berada. Konon Bapak bekerja di pabrik karung Asko di Probolinggo pimpinan Bapak Mochammad Saleh, mantan kenalan Bapak-Ibu ketika dulu hidup berjaya. Kakak R.M.Soewondo oleh jawatannya (Listrik Gemblongan) pernah ditugaskan di Probolinggo, dan ketemu Bapak. Maka ketika ribut-ribut mengungsi keluar dari Surabaya Ibu, Kakak, dan saya menuju ke Probolinggo. Ketika kami datang di Probolinggo ternyata Bapak sudah meninggal dunia. Probolinggo kota sangat asing bagi kami bertiga. Kami mengungsi tidak punya tujuan lain, maka kami diizini Pak Moch.Saleh menempati bekas rumah Bapak, di Kampung Mangunharjo dekat pabrik karung Asko tempat Bapak bekerja dulu. Kami bertiga membentuk keluarga sendiri. Kakak mendapatkan pekerjaan di Djawatan Listrik &amp; Gas, Ibu menjadi jurumasak di rumah, dan saya membantu-bantu di rumah sambil meneruskan sekolah. Kami mengungsi di Probolinggo 1945-1947, saya bersekolah dari kelas VI SR, sampai naik kelas II SMP.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Tahun 1947-1949 saya lari ke Sragen, lepas dari pendudukan tentara Belanda.</em></p>
<p>Ketika Belanda menyerbu kota-kota di daerah Jawa Timur Juli 1947, keluarga saya bubar. Kakak meninggalkan rumah kami di Probolinggo Kampung Mangunharjo pergi ke Surabaya entah di mana (takut sama pendudukan tentara Belanda), Ibu pergi ke Jasem Sidoarjo ikut membantu Haji Rokhayah yang mengusahakan makanan juadah iyas. Haji Rokhayah kenalan lama Ibu ketika masih jaya di Sidoarjo dulu. Tidak mungkin saya ikut Ibu. Saya mengembara ke pedalaman (tidak mau hidup di daerah penjajahan Belanda) sampai di Sragen dan Solo.</p>
<p><em>Tahun 1949 saya ke Surabaya, bersama Ibu dan kakak di Gresikan 2/23 Surabaya.</em></p>
<p>Baru kemudian tahun 1949 saya kembali ke Surabaya ketika Yogyakarta sebagai Ibu-Kota Republik Indonesia telah diduduki oleh tentara Kerajaan Belanda (19 Desember 1948). Saya berkumpul lagi dengan Kakak dan Ibu, dan membentuk rumah tangga bertiga lagi. Kami menempati rumah Paklik Wibisono di Gersikan II nomer 23. Rumah itu kosong ditinggal mengungsi sekeluarga ke Madiun. Kosong ditinggal ngungsi rumah tadi dalam keadaan pintu-pintu serta kusennya sudah hilang, pekarangannya ditumbuhi ilalang. Ilalang saya babat, pintu-pintu kami carikan tutupnya. Pagar sekeliling pekarangan kami bangun.</p>
<p>Keadaan kami seperti waktu di Probolinggo. Kakak R.M.Soewondo bekerja di pabrik radio PT.Philips di Ngagel. Ibu juru masak di rumah. Saya semula menganggur, tapi kemudian bisa masuk sekolah di Middelbare School (setingkat SMP) di Jalan Kalianyar Wetan. Sekarang gedungnya jadi Sekolah Petra. Dalam waktu setahun itu (1949-1950) gedung sekolah saya berpindah dua kali, pertama pindah ke Polackstraat (Sulung Sekolahan, gedung sekolah saya sekarang jadi bangunan masjid Kantor Gubernur), dan pindah lagi ke Tempelstraat (Jalan Kepanjen). Tahun 1950 namanya diubah jadi SMPN 2 Jalan Kepanjen 1 Surabaya.</p>
<p>Kemudian ketika keluarga Paklik Wibisono datang tahun 1950, keluarga saya (Ibu dan kakak) bubar lagi. Kakak dikirim study oleh PT.Philips ke Eindhoven Negeri Belanda selama 6 tahun. Karena rumah Gersikan sudah kembali ke pemiliknya, maka Ibu yang menganggur tak punya penghasilan lebih baik pergi dari rumah itu, dan paling bisa ya mencari kehidupan kembali ke keluarga besar bangsawan Surakarta di Solo. Sudah berumur 18 tahun belum lulus SMP, maka saya memaksa diri meneruskan sekolah di Surabaya hingga lulus. Banyak teman yang seusia saya bertahan bersekolah di SMPN 2 Surabaya situ 1950 seperti saya.</p>
<p>Saya boleh tetap tidur di Gersikan, tapi beaya hidup harus saya tanggung sendiri. Kebetulan waktu itu saya berkenalan dengan teman sesekolah yang rumahnya di Setro, pagi-pagi sebelum masuk sekolah mengedarkan koran Jawa Pos yang pabriknya di Kembang Jepun. Semula sering berangkat dan pulang bersama ke sekolah. Namanya Muslimin. Saya diajak Muslimin ikut jadi loper koran Jawa Pos. Saya mau. Mendapat jatah mengedarkan koran Jawa Pos di daerah Ampel. Hasil jadi loper itulah yang saya gunakan untuk membeayai hidup saya selama meneruskan bersekolah di SMPN 2 Jalan Kepanjen Surabaya tahun 1950.</p>
<p>Karena keadaan perang begitu, sekolah saya terhambat-hambat. Waktu kembali ke Surabaya 1949 sempat tidak bersekolah, tapi akhirnya bersekolah di Middelbare School di Polackstraat, lalu sekolahnya dipindah ke Tempelstraat, sekolah mana kemudian menjadi SMPN 2 Surabaya. Saya lulusan pertama sekolah di SMPN 2 Jl. Kepanjen Surabaya 1950, bersama Kadaruslan (terkenal dengan nama Cak Kadar, yang tahun  2005-2011 memimpin Pusura), Wardiman Djojonegoro, yang kemudian hari pernah jadi Menteri Pendidikan Indonesia.</p>
<p><em>Tahun 1950-1952 saya berusaha ikut Ibu kembali di Solo.</em></p>
<p>Tahun 1950 saya lulus SMPN 2 Jalan Kepanjen Surabaya, masuk ke SMAN 2 Kompleks Wijayakusuma. Saya masih boleh mondok di rumah Paklik Wibisono di Gresikan, tapi harus mencari kehidupan sendiri. Termasuk pembayaran sekolah. Pelajaran sekolah maupun pembeayaan sekolah sangat berat bagi saya. Tidak bisa lagi saya menjadi loper koran. Selain mengerjakannya membutuhkan waktu hingga mengganggu waktu belajarku, juga hasilnya tidak mungkin untuk membeayai hidupku, termasuk membayar sekolah. Karena kesulitan hidup, akhirnya saya putuskan saya menyusul Ibu saja hidup di Solo. Hidup bersama Ibu mungkin lebih baik keadaannya. Belum cukup setahun saya bersekolah di SMAN 2 Kompleks Wijayakusuma Surabaaya, saya minta pindah ke Solo.</p>
<p>Di Solo saya sempat tidak bisa bersekolah, karena kepindahan saya pada pertengahan tahun ajaran. Sekolah-sekolah SMA sudah penuh. Ternyata kehidupan Ibu di Solo juga sangat tidak memadai. Tidak punya rumah sendiri, terpaksa mondok-mondok ke tempat saudara. Penghasilan Ibu hanya diperoleh karena buruh membatik. Itupun karena Ibu sudah tua, membatiknya dibawa ke rumah. Penghasilannya sangat minim.</p>
<p>Tahun ajaran baru 1951 saya baru dapat bersekolah di SMAK di Nonongan yang dibuka baru. Sekolah ini kemudian bernama SMAK St.Joseph. Saya bisa mengikuti pelajaran dengan senang hati. Namun pembayaran sekolah saya tetap tidak bisa lancar, karena penghasilan Ibu tidak memadai. Akhirnya saya memutuskan diri minta pindah sekolah Katholiek di Surabaya, tetapi tujuan utama saya pindah ke Surabaya mencari kehidupan atau pekerjaan. Mencari pekerjaan di Surabaya lebih gampang daripada di Solo.</p>
<p>Ikut Ibu di Solo  tidak punya pekerjaan yang memadai, maka saya kembali ke Surabaya, mencari pekerjaan, 1951.</p>
<p><em>Sejak tahun 1951 dan selanjutnya saya bertempat tinggal di Surabaya.</em></p>
<p>Ditolong oleh Paklik Wibisono bekerja di Rumah Sakit Kelamin di Jalan Dr.Soetomo Surabaya, saya cari rumah pondokan gratis di rumah Pak Kir Jalan Jasem 19 Sidoarjo. Berangkat dan pulang bekerja mengayuh sepeda dari Jasem Sidoarjo ke Jalan Dr.Soetomo Surabaya.</p>
<p>Saya tidak kerasan dengan pekerjaan saya, terutama karena tidak ada mesin ketik di kantor, maka ketika ada iklan membutuhkan operator teleprinter yang harus dikursus dulu selama satu tahun, saya melamarnya dan berhasil pada pekerjaan itu. Bekerja sebagai operator teleprinter Kantor Telegrap Surabaya sejak tahun 1952-1960. Saya mencari pondokan berpindah-pindah di Kota Surabaya sejak itu.</p>
<p><em>Tahun 1960-1967 saya pindah pekerjaan dari Kantor Telegrap ke Perusahaan Dagang Negara Jaya Bhakti, </em>bekas perusahaan Belanda yang dinasionalisasi 1957. Tahun 1962 saya menikah dengan Rara Ariyati, juga karyawan PDN Jaya Bhakti.  Tahun 1967 Direktur Utamanya Bp. Soehardiman, menyuruh semua karyawan PDN Jaya Bhakti harus jadi anggota Golkar. Saya dan istri tidak mau, jadi keluar dari pekerjaan.</p>
<p><em>Tahun 1967 saya mengarang buku diterbitkan oleh Kho Ping Hoo di Solo.</em></p>
<p>Dan berusaha dagang kapok, kulak di Surabaya (PT Kapok) dijual ke Bandung.</p>
<p><em>Tahun 1969-1988 saya menjadi pegawai Pemkot Surabaya, sampai pensiun.</em></p>
<p>Berbagai pekerjaan telah saya tempuh: menjadi operator teleprinter, pegawai Perusahaan Dagang Negara, pedagang kapok, pengarang roman, wartawan <em>freelancer,</em> pegawai pemkot, pensiun 1988. Sepanjang kurun waktu itu saya juga menikah, punya anak, membesarkan anak, membangun rumah dan seterusnya, saya tetap bertempat tinggal di Surabaya.</p>
<p>Menjalani hidup dengan beraneka zaman geger seperti itu menjadi suatu pengalaman yang indah ketika saya menjalani hidup pada waktu ini. Sejak isteri saya meninggal dunia 2002, saya sebagai kepala keluarga sudah selesai, anak-anak saya empat orang sudah punya jodoh, punya anak, punya pekerjaan, tempat tinggal, dan hidup masing-masing mandiri, tidak saling tergantung kepada sesama saudara. Namun oleh Gusti Allah saya masih Diberi tiga anugerah utama istimewa, yaitu (1) <strong>Hidup sehat,</strong> (2) <strong>Bebas memilih,</strong> tidak dipenjara, tidak tergantung pada instansi/orang lain, (3) <strong>Diberi kemampuan membaca buku dan menulis buku.</strong> Ketiga anugerah utama tadi saya anggap amanah, yang harus saya ibadahkan, dan sebagai barkah. Maka sisa-sisa hidup saya saya gunakan untuk melaksanakan amanah Allah tadi. Salah satunya sisa waktu hidup saya ini saya manfaatkan untuk menulis buku. Menulis buku antara lain tentang kenangan hidup saya yang mengalami pancaroba peralihan zaman yang dahsyat karena melampaui Perang Dunia II, namun dengan Kehendak Allah saya bisa lolos hidup sampai sekarang, menjadi pengalaman yang indah kalau dikenang sekarang. Dari kegemaran membaca buku dan kemampuan menulis cerita, pengalaman dan kesaksian saya masa-masa lalu menjadi bahan penulisan yang amat beragam tentang kehidupan zaman, alias sejarah. Senang dan sengsara, jatuh dan bangkit melakoni hidup zaman perjuangan, zaman Jepang, menjadi kenangan yang indah, tidak bakal dinikmati oleh generasi anak-cucuku. Saya tuliskan cerita-cerita pengalamanku, agar generasi anak-cucuku juga dapat merasakan jatuh-bangkit hidup yang dialami generasiku. Dengan harapan yang jelek jangan terulang terjadi pada generasi anak-cucuku, yang baik agar dijadikan contoh teladan, sehingga hidup mereka menjadi lebih baik daripada kehidupan zaman generasi saya. Cerita sejarah, bukanlah cerita masa lalu, melainkan juga cerita masa kini dan masa harapan ke depan. Sebaiknya dipelajari dan diketahui oleh para putera bangsa yang akan menjalani hidup pada masa kini dan masa depan.</p>
<p>Cerita Surabaya Zaman Jepang ini, waktu saya kirimkan ke penerbit supaya dijadikan buku, semula akan saya ubah disesuaikan dengan keadaan perkembangan zaman tahun akhir-akhir ini. Namun, beberapa penggemar dan ahli sejarah menganjurkan agar diterbitkan jadi buku seperti sebagaimana waktu saya menulis cerita ini (2011). Agar pemikiran saya waktu itu tetap tertulis apa adanya saat itu. Tidak berubah dan ditandai pemikiran waktu itu, juga menjadi tonggak sejarah, saran mereka. Maka dengan segala kerendahan diri naskah buku garapan tahun 2011 ini saya kirimkan ke penerbit. Tentu saja cerita ini pengalaman diri pribadi, sangat amatir, barangkali banyak penggambaran yang tidak benar maupun kurang tepat. Tapi saya tulis dengan jujur waktu menulis tahun 2011 ini.</p>
<p>Demikianlah pengantar buku ini. Seperti yang saya sebut awal cerita, maksud penulisan cerita ini merupakan persembahan saya dalam memperingati hari jadi Kota Surabaya yang ditetapkan tanggal 31 Mei 1293, secara perorangan, sehingga tiap pada setiap tahun para warga Surabaya bisa mengingat keadaan Kota Surabaya pada zaman Jepang, dengan cara membaca buku ini. Penulisan buku ini timbul dari pemikiran sendiri, tidak didasari oleh pesanan apa pun dan dari siapa pun juga. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Dirgahayu Kota Surabaya, 31 Mei 1293 sampai sepanjang masa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1262</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DEWAN KESENIAN SURABAYA 1971</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1216</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1216#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2014 02:20:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1216</guid>
		<description><![CDATA[Harian SINAR HARAPAN Jakarta, Senin, 28 Oktober 1971: Laporan Suparto Brata Pada tanggal 14 September 1971, Walikota Surabaya Sukotjo mengundang para seniman Surabaya untuk berkumpul di ruang sidang kantor Kotamadya Surabaya. Undangan itu pelaksanaannya diserahkan kepada seniman-seniman yang berdekatan dengan Walikota, yakni yang pada bulan Pebruari sebelumnya ikut terkirim sebagai offisial/produser drama “Suara-suara Mati” ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Harian SINAR HARAPAN Jakarta, Senin, 28 Oktober 1971:</span></em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em></strong></p>
<p style="text-align: center;">Laporan Suparto Brata</p>
<p>Pada tanggal 14 September 1971, Walikota Surabaya Sukotjo mengundang para seniman Surabaya untuk berkumpul di ruang sidang kantor Kotamadya Surabaya.</p>
<p>Undangan itu pelaksanaannya diserahkan kepada seniman-seniman yang berdekatan dengan Walikota, yakni yang pada bulan Pebruari sebelumnya ikut terkirim sebagai offisial/produser drama <em>“Suara-suara Mati” </em>ke Jakarta.</p>
<p>Seperti diketahui dalam pementasan Drama 4 Kota di Jakarta itu, Pemerintah Kotamadya Surabaya ikut menjadi sponsor dengan mengirimkan drama <em>“Suara-suara Mati”.</em></p>
<p>Beranjak dari hubungan itu, maka Walikota meneruskan gagasannya untuk “menyegarkan” kehidupan seniman-seniman Surabaya, di lain pihak para seniman yang telah terkirim ke Jakarta itu banyak membawa “oleh-oleh” tentang tata kehidupan seniman Jakarta dan hubungannya dengan Pemerintah DKI Jakarta.</p>
<p>Pada malam pertemuan tanggal 14-09-1971 itu, Walikota sekali lagi membeberkan gagasannya akan memberikan ‘bantuannya’ kepada para seniman. Sekali ini tidak berupa kanvas, atau cat, atau mesin ketik dan samacamnya yang diperlukan seniman dalam menggarap karyanya, tapi lebih menyeluruh: sebuah gedung kesenian (Balai Pe,muda) yang sedang dibangun.</p>
<p>Pak Kotjo dengan bantuannya itu mengharap seniman-seniman bisa “mengurus dirinya” sendiri, dan tidak menghendaki adanya main politik-politikan dalam mengurusi diri itu. Para seniman sekali ini dipandang untuk melakukan bagaimana mengaturnya agar nantinya bantuan Walikota itu tidak sia-sia atau kapiran, sedangkan para seniman menerimanya dengan perasaan senang, tidak merasa diperlakukan tidak adil, saling sikut-sikutan, irihati dan jangan ada yang menggunakan kesempatan ini untuk “tempat pencari nafkah” perorangan.</p>
<p>Para seniman dekat Walikota, cukup bijaksana dalam mengedarkan undangan. Selain undangan-undangan yang dikirimkan kepada seniman-seniman yang mereka kenal nama dan alamatnya, diberikan juga dalam koran-koran, sehingga bagi mereka yang merasa dirinya seniman bisa datang menghadiri pertemuan itu. Untuk menertibkan, maka sebnelum hadir mereka diwajibkan mendaftarkan namanya dan pada bidang seni apa mereka melakukan kegiatan.</p>
<p>Lebih dari itu, senimn yang dekat Walikota itu memberikan ‘guiding-guiding’ bagaiman kira-kira “wadah” yang digunakn para seniman nanti untuk menerima ‘bantuan’ Walikota itu.</p>
<p>“Guiding-guiding” yang berupa konsep ‘wadah’ yang disusun oleh: Drs. Putro Sumantono, Basuki Rachmat, Farid Dimyati, Amang Rachman, dan Sanyoto Suwito. Mereka ini disebut pemrakarsa dalam konvensi seniman (untuk membedakan dengan musyawarah atau pertemuan-pertemuan seniman yang sudah beberapa kali diadakan, maka  mereka sebut saja peristiwa ini konvensi).</p>
<p>Di luar dugaan, di antara para hadirin juga ada yang menyiapkan konsep-konsep terperinci. Hal ini menjadi karena memang kepada mereka diminta sumbangan-sumbangan pikiran. Kericuhan terjadi karena sepintas lalu terdapat perbedaan landasan yang prinsipiil.</p>
<p>Para seniman ‘undangan’ terutama pada ‘paper’ yang dibacakan oleh Gatut Kusuma, melandaskan diri bahwa seniman itu harus bebas, tidak terikat, jangan pemerintah ikut mendikte dalam mengerjakan karya-karyanya. Sedang “konsep” pemrakarsa menyadari bahwa ‘wadah’ yang bakal dibentuk itu adalah karena niat Pemerintah Walikota memberikan “bantuan”. Karena itu, “wadah” tadi berfungsi menjadi “pembantu Walikota”.</p>
<p>Karena suara hadirin bagaimana pun juga lebih kuat dari suara-suara pemrakarsa, maka diadakan pembicaraan <em>‘yok-apa-enake’</em> (bagaimana enaknya, Red). Malam itu mereka berhasil memilih panitya perumus yang bakal merumuskan betapa “wadah” kagiatan seniman Surabaya itu, lengkap dengan anggaran dasar dan personalianya.</p>
<p>Panitia perusmus itu terdiri dari: Wiwik Hidayat, Karyono Js, Basuki Rachmat, Gatut Kusuma, dan Agil H.Ali. Panitia ini berkewajiban “melaporkan” hasil kerjanya pada sidang yang bakal diadakan lagi.</p>
<p>Sidang yang kedua konvensi para seniman Surabaya itu diadakan tanggal 30 September 1971. Panitya perumus membacakan hasilnya, yaitu “wadah” itu disebut Dewan Kesenian, lengkap dengan Anggaran Dasar dan personalia Dewan Kesenian. Sebagai bahan pembentukan Dewan Kesenian itu adalah: Pidato sambutan Walikota (tanggal 14-09-1971), konsep pemrakarsa, paper Gatut Kusuma dan saran-saran hadirin.</p>
<p>Duapuluh tiga orang seniman tercatat oleh Panitya perumus untuk menjadi anggota Dewan Kesenian, dengan masa kerja dua tahun. Tapi oleh sidang terpilih 13 orang saja:</p>
<p>1.Drs. Putro Sumantono (cendikiawan-pejabat Kotamadya Surabaya); 2. Gatut Kusuma (pelukis-cineas); 3. Amang Rachman (pelukis); 4. Agil H.Ali (wartawan); 5. Basuki Rachmat (sastrawan-wartawan); 6. Farid Dimyati (dramawan-wartawan); 7. Wiwiek Hidayat (pelukis-wartawan); 8. Krishna Mustadjab (pelukis); 9. Karyono Js (pelukis); 10. Sunarto Timur (dramawan); 11. Teguh (pemusik-show business); 12. Hasjim Amir MA (dramawan); 13. M.Daryono (pelukis).</p>
<p>Terpilihnya 13 orang ini justru karena mereka malam itu hadir dan dikenal oleh sidang. Mereka itu terpilih menurut ketentuan anggaran dasar yang baru dibacakan (1/2 hadirin +1), dan ternyata semuanya terpilih. Sedang seniman yang diajukan perumus tapi tidak tampak batang hidungnya malam itu, dicoret.</p>
<p>Di antara yang dicoret ini terdapat nama-nama Drs. Budi Darma (cendikiawan-pengarang), Drs. Suripan Sadihutomo (sasterawan), Sanjoto Suwito (dramawan), Totilowati (pengarang-wartawan).</p>
<p>Ketigabelas nama yang terpilih ini kemudian akan diajukan kepada Walikota untuik dimintakan persetujuan Walikota (dan diangkat dengan surat keputusan Walikota). Walikota berhak menambah/mengurangi jumlah personalia ini.</p>
<p>Sementara itu dari Walikota Surabaya didapat kabar bahwa gedung kesenian yang sekarang sedang dibangun dan diharapkan bisa digunakan untuk menampung kegiatan-kegiatan para seniman itu, (yaitu balai bilyar di kompleks Balai Pemuda yang sedang dibangun jadi gedung bioskop/sandiwara Mitra) akan selesai akhir bulan Desember yang akan datang dengan beaya Rp 70 juta.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>*</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Akhirnya para anggota Dewan Kesenian Surabaya dilantik oleh Walikota Surabaya Kolonel Sukotjo pada tanggal 14 Februari 1972. Ketua Dewan Kesenian Jakarta sebagai lembaga Dewan Kesenian yang sukses perlu mendapat kehormatan diundang sebagai tamu saksi perhelatan tersebut, yaitu Dr.Umar Kayam. Selain sebagai saksi tamu, Dr.Umar Kayam juga diacarakan bertemu dengan para seniman Surabaya, untuk menularkan kesuksesannya dalam mengelola suatu Dewan Kesenian Jakarta sebagai contoh. Acara pertemuan para seniman Surabaya dengan Dr.Umar Kayam diselenggarakan terpisah dari acara pelantikan para anggota DKS, yaitu diselenggarakan di Sanggar Aksera Balai Pemuda Surabaya.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-tQ01sgTeh8k/VD3Y-7ZpXjI/AAAAAAAAA8w/ZE20dCGvJiM/s1600/Image%2B(22).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-tQ01sgTeh8k/VD3Y-7ZpXjI/AAAAAAAAA8w/ZE20dCGvJiM/s320/Image%2B(22).jpg" /></a></div>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Harian SINAS HARAPAN Jakarta, Senin 6 Maret 1972</span></em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>PENGELOLAAN SATU DEWAN KESENIAN</strong></p>
<p style="text-align: center;">Laporan: Suparto Brata</p>
<p>Dalam suatu acara terpisah dari pelantikan personalia DewanKesenian Surabaya tanggal 14 Februari 1972 yang lalu, Umar Kayam menyempatkan diri berdialog dengan seniman-seniman di sanggar Aksera Surabaya. Menurut Umar Kayam, mungkin terasa aneh, jika dalam jaman pembangunan ini kita memilih berbudayaan sebagai prasarana pembangunan. Pada umumnya orang pada tempatnya bicara soal pembangunan untuk mengejar kebutuhan kehidupan materiel, hingga masalah-masalah ekonomis menjadi fokus kegiatan, di samping prasarana-prasarana yang langsung dengan itu, perbaikan jalan, jembatan, administrasi, organisasi dan lain-lain. Kalaupun bisa lebih jauh, orang memikirkan juga Keluarga Berencana.</p>
<p><strong>Tapi jarang sekali terlintas di pikiran orang, bagaimana manusianya. Jarang sekali orang merenungkan bahwa yang hendak dibikin sejahtera itu tiada lain adalah manusia. Manusia yang tidak bisa hidup sendiri dan harus bermasyarakat.</strong></p>
<p>Sekarang ini orang masih banyak yang berpikir bahwa mengadakan prasarana pendidikan kebudayaan, dengan seni sempit seperti adanya Dewan Kesenian, suatu hal yang mewah. Sewajarnya di tiap kota-kota besar di Indonesia ini didirikan Dewan Kesenian, tapi hendaklah bukan karena sikap latah. Berdirinyta suatu lembaga penduidikan kebudayaan atau Dewan Kesenian, haruslah berdasarkan pemikiran bahwa terdapat ketimpangan-ketimpangan dalam meletakkan dasar-dasar atau unsur-unsur sepihak antara gerak pembangunan dan gerak kebudayaan.</p>
<p><strong>Pengisian acara kesenian:</strong></p>
<p>Selanjutnya Umar Kayam mengatakan, bahwa untuk mengisi acara-acara di TIM, mengusahakan bagaimana masyarakat atau rakyat Jakarta agar tidak takut masuk ke halaman TIM. Hendaknya disadari, bahwa melihat gedung-gedung dan pemelihaharaannya yang tidak seperti tempat-tempat umum orang kebanyakan akan takut atau curiga. Makanya diadakan pekan seni rakyat, pertunjukan lenong, wayang orang, ludrug, pendeknya kesenian yang digemari rakyat. Kalau mereka itu sudah tidak takut, diusahakan supaya mereka itu gemar mengunjungi.</p>
<p>Dalam alir kunjungan-kunjungan seperti itu kita tawarkan kepada mereka hasil kesenian “pilihan” kita dengan menyisipkan pertunjukan-pertunjukan drama, pameran seni lukis modern yang belum mereka kenal, tari yang masih asing. Mungkin mula-mula mereka mengutuk, ketemu hal-hal yang tidak seperti “biasanya”, tapi tidak apa. Mengutuk berarti sudah ada komunikasi. Ini harus dipelihara. Begitulah maka Dewan Kesenian Jakarta berjalan hingga sekarang.</p>
<p>Memang ada perbedaan-perbedaan paham atau selera antara orang kebanyakan dan pengurus Dewan Kesenian Jakarta. Tapi justru itu perlunya diadakan Dewan Kesenian untuk memperkecil perbedaan itu. Dalam pengurus Dewan Kesenian Jakarta terpilih seniman-seniman yang punya selera atau penilaian tertentu. Di antara mereka itu sendiri memang timbul perdebatan karena perbedaan pandangan. Tapi perbedaan di antara mereka tentulah tidak sejauh antara mereka dan rakyat kebanyakan.</p>
<p>Dengan gambaran ini Umar Kayam menghibur seniman-seniman Surabaya, hendaknya dalam mengurusi Dewan Kesenian Surabaya jangan terlalu ekstrim mempertahankan pendapat sendiri. <strong>Yang diperlukan orang dengan berdirinya Dewan Kesenian bukanlah memenuhi kehendak para seniman-seniman, tetapi menghidupkan kesenian-kesenian tradisional yang ada, memperkenalkan kesenian-kesenian yang masih asing dan mencari bentuk-bentuk baru kesenian yang lebih sesuai dengan jaman seperti lenong, kesenian yang dulu hampir pounah. Sekarang kembali ditonton oleh segala lapisan masyarakat Jakarta.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sikap seniman pengurus.</strong></p>
<p>Atas masalah yang dikemukakan oleh pelukis Krishna Mustadjab dinyatakan kemungkinan menjadi mandulnya seorang seniman kreatip yang duduk dalam pengurus Dewan Kesenian. Sebaliknya Umar Kayam mengemukakan bahwa memang <strong>untuk mengurusi suatu Dewan Kesenian itu memerlukan “pengorbanan” dari seniman. Maka untuk menjaga kestabilan pengurusan ini, kita harus menawarkan kesanggupan siseniman dalam mengorbankan kreativitasnya.</strong></p>
<p>Umar Kayam sendiri menghendaki agar paling banyak seorang seniman menyanggupkan dirinya terpilih menjadi pengurus dua kali masa jabatan, untuk memberikan kesempatan padanya untuk tidak terlalu sibuk mengurusi “administrasi” Dewan Kesenian serta ada peluang mencipta baginya. Cara “cuti-kreatip” selama tiga bulan dalam masa jabatannya seperti yang dibayangkan Krishna Mustadjab kurang disetujui. Waktu cuti justru masa itu sang seniman tidak kreatip. Atau kalau cuti itu diberikan pada masa-masa kreatip jangan-jangan berbarengan dengan dia harus menyelesaikan suatu proyek. Pemberian cuti akan membuat proyek itu kapiran.</p>
<p>Di Amerika, beberapa lembaga kesenian kota, pengurusnya seringkali tidak diarahkan kepada seniman. Tetapi seorang manager atau administrator yang tahu kesenian. Dengan begitu mereka bisa ngeladeni kehendak masyarakat akan seni. Bisa melayani tamu-tamu yang membutuhkan informasi, dan tidak kuatir dirinya tekekang daya ciptanya, karena toh tidak menciptakan kerja seni.</p>
<p>Di Indonesia, mungkin lambat-laun bisa demikian. Pengurusan Dewan Kesenian kita percayakan kepada administrator. Tapi pada waktu ini, jika suatu Dewan Kesenian pengurusnya tidak diserahkan kepada seniman, perkembangannya “tidak lucu”. Yang dimaksud oleh Umar Kayam dengan “tidak lucu” itu perkembangan Dewan Kesenian itu tidak semarak, tidak gairah. Akan gersang dan salah sasaran.</p>
<p>Maka bagi Dewan Kesenin yang baru berdiri, sebaiknya memawas diri apakah anggota-anggotanya itu seniman kreatip yang pura-pura mengorbankan kekreativitasannya, atau pura-pura seniman, mengundurkan diri dulu; agar tidak terjadi perkembangan yang “tidak lucu”.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>*</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span> Berita di Harian SINAR HARAPAN di atas ditulis dengan ejaan lama. EYD di sini untuk memudahkan pembacaan. (Suparto Brata).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1216</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku saksikan jatuhnya Kota Jogja</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1109</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1109#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2013 13:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1109</guid>
		<description><![CDATA[(Beberapa kenangan pribadi) Hari 19 Desember 1948 memang merupakan hari yang penuh dengan pengalaman dan kenang-kenangan dari suatu fase baru dalam perjuangan antipenjajah yang entah untuk berapa lama. Di bawah ini kesan-kesan beberapa di antara mereka: Ibu Sudirman: “Lebih baik mati daripada ditangkap Belanda”. Sungguh saat yang membutuhkan kesabaran hati dan kelapangan dada bagi seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>(Beberapa kenangan pribadi)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hari 19 Desember 1948 memang merupakan hari yang penuh dengan pengalaman dan kenang-kenangan dari suatu fase baru dalam perjuangan antipenjajah yang entah untuk berapa lama. Di bawah ini kesan-kesan beberapa di antara mereka:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Ibu Sudirman: “Lebih baik mati daripada ditangkap Belanda”.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh saat yang membutuhkan kesabaran hati dan kelapangan dada bagi seorang isteri melepaskan suaminya, justru karena yang belakangan ini dapat dikatakan masih sakit. Tapi kewajiban memanggil. Negara dalam bahaya. Wanita itu ialah Ibu Sudirman, isteri Panglima Besar. Berkatalah Bu Dirman mengenai saat-saat itu, sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">“Penyerangan Belanda atas Jogja ialah hari Minggu. Sabtunya Pak Dirman masih memerlukan ke rumah sakit Panti Rapih untuk rontgenopname. Ia sesungguhnya belum sembuh betul dari sakitnya, sekalipun sudah keluar dari rumah sakit, belum lagi seminggu. Di Panti Rapih Pak Dirman dirawat selama 40 hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekalipun sesungguhnya masih harus istirahat, tapi dapat dikatakan Pak Dirman tidak pernah mempergunakan kesempatan ini. Ia selalu sibuk dengan pekerjaan, hingga tidak sedikit membikin repot dokter Suwondo, yang waktu itu merawatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari Minggu itu, segera setelah mendengar laporan tentang serangan atas Maguwo, maka segera Pak Dirman meninggalkan rumah menuju ke RRI dan Istana, sekalipun kesehatannya sesungguhnya belum mengizinkan meninggalkan rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah itu, maka Pak Dirman kembali lagi ke rumah yang kami tempati waktu itu (Bintaran) dan dengan seluruh keluarga kami pindah ke Kadipaten, dalam kompleks kraton, di mana menurut rencana semula Pak Dirman akan juga beristirahat sementara waktu. Tapi agaknya situasi tidak memungkinkan lagi, hingga Pak Dirman segera harus keluar kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu waktu saya sedang mengandung. Dan Kadipaten menjadi tempat persembunyian saya dengan anak-anak untuk waktu selanjutnya, sampai Jogja kembali. Sekalipun selalu dicari-cari oleh Belanda, dan pernah tempat kami digeledah, tapi berkat rakhmat Tuhan, Belanda sampai sekian lama itu tidak pernah dapat mengenal dan mengetahui bahwa saya adalah isteri Pak Dirman.</p>
<p style="text-align: justify;">“Adakah mungkin Pak Dirman meninggalkan pesan-pesan sebelum beliau keluar kota?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Memang ada. Dipesankan kepada saya terutama, ialah untuk tetap besar hati, jangan khawatir apa-apa. Kalau ditakdirkan selamat, ya selamat. Tentu kita akan berjumpa lagi nanti. Begitulah pesan Pak Dirman sebelum berangkat. Selanjutnya Pak Dirman berpesan pula, supaya tetap teguh, dan lebih baik mati daripada ditangkap Belanda!”</p>
<p>Demikian kesan-kesan Bu Dirman tentang 19 Desember 1948. Bu Dirman sampai  14 Desember 1955 (saat wawancara kesan-kesan ini) tetap tinggal di Jogja, di Jalan Batanawarsa, Kotabaru. Penglima Besar Sudirman meninggal dunia sesudah  clash II (Perang Kemerdekaan II), dalam bulan Januari 1949 di Magelang dan dimakamkan di Makam Pahlawan Semaki, Jogja.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Walikota Jogjakarta: “Sembunyi dalam kepatihan”.</strong></p>
<p style="text-align: left;">Mr.Sudarisman Purwokusumo yang sejak 22 Juli 1947, sehari sesudah clash I (Perang Kemerdekaan I) menjabat Walikota Jogjakarta sampai wawancara ini, memberikan kesan-kesan pengalamannya pada hari penyerbuan tentara Belanda itu sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: left;">“Serangan Belanda atas Jogja itu memang tidak terduga-duga. Saya bahkan mengira hari itu mulai latihan perang, seperti yang sudah diumumkan beberapa hari lampau. Dan juga menurut rencana Presiden hari itu akan ke India. Lagi pula perundingan masih berlangsung di Kaliurang. Anggota Komisi Tiga Negara masih berada di tempat tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Pada waktu itu saya memegang dua fungsi. Kecuali sebagai Walikota Ibukota RI, juga sebagai sekretaris Dewan Pertahanan Daerah. Hari itu juga semua mobil-mobil milik perorangan dimobilisasi seperti yang telah direncanakan, tidak terkecuali juga mobil saya. Cepat-cepat saya pergi ke kantor, ialah Dewan Pertahanan Daerah di Kepatihan, untuk bersama-sama mempersiapkan segala siasat pertahanan kota.</p>
<p style="text-align: left;">Mobil saya sendiri yang waktu itu dipergunakan untuk kepentingan pertahanan, telah diburu dan ditembaki oleh pesawat Belanda. Hingga terpaksa berhenti dan rusak kena peluru. Sopir mobil (AB 158) Pak Sastro tewas seketika. Sedangkan lainnya dapat loncat dari maut.</p>
<p style="text-align: left;">Sejak hari itu saya terus tinggal di Kepatihan (tidak pernah lagi pulang), sampai Jogja kembali, dengan berpegang teguh pada sebuah instruksi yang seharusnya berlaku pada clash I, yang waktu itu sebagai persiapan untuk berjaga-jaga, kalau-kalau serbuan Belanda sampai menduduki Jogja.</p>
<p style="text-align: left;">Instruksi itu antara lain ialah bahwa Sri Sultan sejak hari itu meletakkan pekerjaannya sebagai kepala daerah, hingga tidak memungkinkan bagi Belanda untuk memaksa beliau bekerjasama. Begitupun kami selaku “abdidalem”, hanya tunduk kepada instruksi dari Sri Sultan saja.</p>
<p style="text-align: left;">Sejak hari itu pula saya membiarkan jenggot dan kumis saya tumbuh. Dengan demikian saya dapat bergerak dengan leluasa keluar-masuk kraton sebagai penghubung antara kraton dan fihak pertahanan di dalam dan luar kota, dengan tidak dikenal dan dicurigai. Bahkan banyak orang menyangka, karena diketahui mobil saya sudah rusak berantakan, bahwa saya sendiri juga tentunya sudah tewas”.</p>
<p>Demikian Mr.Sudarisman Purwokusumo, Walikota Jogjakarta, mengisahkan selintas pengalaman-pengalamannya.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Pak Besut: “Sembunyi dalam selokan”.</strong></p>
<p style="text-align: left;">Nama Pak Besut (P.Wardojo) bukan nama yang asing lagi zaman awal merdeka. Terutama bagi para pecinta siaran RRI Jogjakarta dengan acara “<em>Obrolan Pak Besut</em>”-nya tiap hari malam Rebo dan Sabtu jam 21.20.  Di samping itu iapun menjabat sebagai penanggungjawab redaksi harian “Nasional” di Jogja. Karena obrolan-obrolan di muka corong radio itulah, ia menjadi <em>suatu klikip</em> di mata Belanda waktu itu.  Dan sebuah brosur Tijgerbrigade Belanda menyebutnya sebagai  “<em>Pak Besut met de scherpe tong, die de scerpter zwaaide over Republiek Djokja</em>”. Ia menuturkan kesan-kesannya pada hari penyerbuan tentara Belanda itu sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: left;">“Pada tanggal 19 Desember 1948 itu karena hari Minggu, maka sebagai seorang Katholik saya pergi ke gereja.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika saya mau memasuki pintu gereja Kotabaru yang letaknya tidak jauh dari rumah saya, (Jalan Mahameru 2), maka saya melihat di arah atas lapangan terbang Maguwo kelihatan ada beberapa pesawat terbang yang sedang  beraksi. Meskipun sebelumnya saya telah mendengar kabar, bahwa hari itu Bung Karno akan pergi ke India dan ada pengumuman adanya latihan perang, maka seketika saya depat memastikan, bahwa kapal-kapal terbang yang saya lihat itu terang bukan milik kita, tetapi pesawat musuh.</p>
<p style="text-align: left;">Ketetapan ini saya ambil dari pengalaman ditembaknya pesawat terbang dari Singapura oleh dua pesawat pemburu Belanda di atas Kota Jogja pada clash I yang menyebabkan tewasnya almarhum Komodor Muda Udara Adisutjipto dan Dr.Abdulrachman Saleh. Sebab saya tahu, bahwa kita tidak mempunyai pesawat-pesawat pemburu seperti yang saya lihat dari muka gereja itu.</p>
<p style="text-align: left;">Karena rumah saya dipergunakan sebagai tempat pemancar “Siaran Radio Indonesia Merdeka” yang kemudian diganti dengan “Siaran Radio Pemberontakan Rakyat Indonesia” dengan antenenya yang malang-melintang di atas rumah dengan ditalikan di pohon cemara tinggi yang sudah dihilangkan daun-daunnya, sedang seorang anak saya yang baru berumur 9 bulan masih tidur di rumah, maka saya terus kembali mengambil anak saya itu dari tempat tidurnya.</p>
<p style="text-align: left;">Besar dugaan saya, kalau pembom-pembom Belanda lebih dulu akan mengebom rumah saya sebagai tempat pemancar yang terang dianggap lawannya yang paling dibenci. Selain radio pemberontakan, juga Belanda tentu tahu, kalau tempat itu adalah tempatnya Pak Besut yang tiap malam memperdengarkan obrolannya, yang tiap memperdengarkan obrolannya, yang 3 kali seminggu direlay oleh RRI.</p>
<p style="text-align: left;">Dugaan saya itu betul. Baru saja saya membawa keluar anak saya dan memerintahkan keluar anak-anak buah saya, maka pesawat-pesawat pemburu Belanda sudah melayang-layang di atas rumah saya dengan menghambur-hamburkan peluru dari mitralyur, tapi tidak ditujukan ke rumah saya. Sebuah boneka diturunkan dengan payung udara melayang-layang di atas kompleks Kotabaru dan jatuh di dekat rumah Komodor Surjadarma yang letaknya hanya kuranglebih 100 meter dari rumah saya. Waktu itu tentara yang bermarkas di Jalan Mahameru 1 dengan karabinnya akan menembak pesawat-pesawat tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Dari tempat persembunyian saya di dalam selokan yang penuh najis manusia, saya berteriak-teriak memperingatkan tentara-tentara yang mau menembak dengan karabin itu. Hal ini persis seperti peristiwa penembakan kapal terbang India yang membawa Adisutjipto dalam clash I. Hanya bedanya, kalau dulu dengan pengertian bahwa kapal terbang yang melayang-layang itu kawan sendiri, tapi sekarang tidak bandingnya, sebab saya khawatir mereka akan mati konyol.</p>
<p style="text-align: left;">Setelah pesawat-pesawat terbang berlalu, maka saya naik dari atas parit. Saya melihat Dr.Halim, kemudian Saudara Asmara Hadi, berlalu di muka rumah saya. Kepada kedua kawan tersebut saya tidak banyak sempat untuk bercakap-cakap. Tiap pesawat terbang Belanda kembali, saya masuk selokan lagi, dan juga isteri saya yang sudah pulang dari gereja.</p>
<p style="text-align: left;">Karena serbuan atas Kota Jogja tentu akan lebih hebat terjadi, maka saya menyuruh isteri dan anak-anak saya mengungsi ke rumah seorang kawan di belakang hotel “Merdeka”, sekarang hotel “Garuda”. Ketika isteri dan anak-anak saya berangkat, maka pesawat terbang Belanda menghamburkan pelurunya di sekitar hotel “Garuda” yang antara lain mengenai Sekjen Kempen Ruslan Abdulgani.</p>
<p style="text-align: left;">Untuk mengetahui keselamatan isteri dan anak-anak saya maka dengan bersepeda dan hanya membawa sepasang sepatu, saya pergi ke tempat pemondokan keluarga saya. Waktu saya mau kembali ke Kotabaru, rakyat yang mengetahui kalau saya adalah Pak Besut mencegahnya, karena serdadu-serdadu Belanda sudah ada yang masuk kota.</p>
<p style="text-align: left;">Seterusnya saya bertempat tinggal di belakang “markas” Belanda yang waktu itu menempati hotel “Merdeka”. Untuk mengetahui keadaan dan apa yang terjadi di dalam hotel itu, tiap-tiap hari saya berhubungan dengan Pak Rachim (mertua Bung Hatta) yang waktu itu sebagai kuasa Hotel “Merdeka”. Setelah Pak Rachim diusir oleh Belanda, hubungan itu terpaksa putus.”</p>
<p style="text-align: left;">Demikian antara lain kesan-kesan Pak Besut. Ia ditangkap oleh Belanda tanggal 15 Januari 1949, dan kemudian berturut-turut ditawan di IVG selama 10 hari, penjara Wirogunan 30 hari, penjara Mlaten (Semarang) 1 hari, dan penjara Pekalongan 9 bulan. Pak Besut bebas kembali pada tanggal 3 Desember 1949.</p>
<p style="text-align: left;">Dari dokumen pribadi, SIASAT Desember 1955.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1109</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Edisi HUT 81 tahun Suparto Brata</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1038</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1038#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2013 09:32:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1038</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/02/hut-81.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1039" title="hut 81" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/02/hut-81-217x300.jpg" alt="" width="217" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1038</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanam Sebelas Ribu Pohon Masih Kurang</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1033</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1033#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2013 01:08:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1033</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/02/001.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1034" title="001" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/02/001-300x222.jpg" alt="" width="300" height="222" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1033</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TRAGEDI MENEBANG POHON DI SURABAYA</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1023</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1023#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2013 02:55:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1023</guid>
		<description><![CDATA[Sejak Walikota Surabaya Bambang DH bersemboyan Surabayaku Hijau, tahun 2007 saya menanam pohon duwet dari bijinya yang tumbuh, di tepi sungai Jl. Rungkut Asri Utara sisi selatan (seberang rumah Bapak Menteri Pendidikan Nasional M.Nuh), dan di berm sisi barat rumah Rungkut Asri Utara no. 2 Surabaya. Tepi sungai itu semula merupakan tempat pembuangan sampah, sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/02/4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1024" title="Tanam Juwet" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/02/4-300x228.jpg" alt="" width="300" height="228" /></a>Sejak Walikota Surabaya Bambang DH bersemboyan Surabayaku Hijau, tahun 2007 saya menanam pohon duwet dari bijinya yang tumbuh, di tepi sungai Jl. Rungkut Asri Utara sisi selatan (seberang rumah Bapak Menteri Pendidikan Nasional M.Nuh), dan di berm sisi barat rumah Rungkut Asri Utara no. 2 Surabaya. Tepi sungai itu semula merupakan tempat pembuangan sampah, sehingga waktu saya menanam tumbuhan biji duwet itu saya harus membersihkan sampah plastik yang mendominasi lahan. Saya gali hingga tanah asalnya terlihat, saya belikan pupuk kandang beberapa karung untuk menggantikan sampah plastik. Sedang rumah Rungkut Asri Utara no.2 merupakan rumah kontrakan, berganti-ganti para pengontraknya tidak merawat berm sekeliling rumahnya, hingga bermnya kumuh tumbuh rumput liar ilalang tak terpelihara, tak sedap dipandang mata tetangga seputar lingkungannya, termasuk rumah saya yang berjarak sekitar 200 meter. Untuk ditanami tumbuhan biji duwet di lahan berm tadi harus saya babat rumputnya, saya gali bermnya, ternyata dasar berm itu merupakan kuburan sisa bangunan rumah seperti pecahan keramik dan penggalan batu semen. Saya harus membongkari tanah berm itu, akar ilalang dan penggalan beton saya ganti pupuk kandang atau pupuk organik, agar tumbuhan biji duwetku tumbuh subur. Selanjutnya tumbuhan biji duwet tadi saya rawat, tiap sore setelah sholat asar saya sirami tak pernah jeda, meski rumahku terletak 200 meter dari situ.</p>
<p>Dari kecambah tumbuhan biji duwet, akhirnya tumbuh batang pohon duwet. Kian lama kian tinggi. Jumlah pohon duwet di pinggir sungai sebanyak 35 batang, di berm tetangga sebanyak 25 batang. Subur, karena selain saya sirami, saya rawat tumbuhnya, saya beri tambahan pupuk segala.</p>
<p>Ketika Mbak Veronica Myra Wijaya, mahasiswi aktif jurusan Desain Komunikasi Visual Universistas Krinten Petra Surabaya pada tahun 2009 mendapat tugas dari dosennya membranding seseorang untuk dijadikan objek karya latihan semesternya, dia memilih saya sebagai tokoh yang dibranding. Jadilah karyanya yang merupakan buku sangat lux penuh cetak gambar tatawarna dan kertas tebal mengkilap, diberi judul: SUPARTO BRATA Begawan Sastra Jawa. Selain menceritakan kehidupan saya dengan foto-foto dokumen hitam-putih saya sejak kecil hingga dewasa, juga dicantumkan foto-foto segala sesuatunya tentang saya waktu itu (2009), ya foto keluarga saya (anak, mantu, cucu, lengkap), sejumlah foto-foto halaman depan buku-buku karya saya, rumah saya, dan juga aktivitas saya MENANAM POHON DUWET yang waktu itu sudah berumur 2 tahun. Foto-foto karya Mbak Myra Wijaya ini semua tatawarna. Saya membawa ember mau menyiram pohon duwet, sedang menyiram pohon duwet di tepi kali Rungkut Asri Utara Surabaya, semua dipotret dan dicantumkan pada buku karya Veronica Myra Wijaya: SUPARTO BRATA Begawan Sastra Jawa, 2009.</p>
<p>Ketika di Surabaya diselenggarakan Lomba Kampung menanam 1000 pohon, juaranya sudah diumumkan,  ada yang kampungnya menjadi sangat rindang mendapat pujian. RW saya tidak ikut lomba. Namun diam-diam saya bangga, betapa pun dari 1000 pohon di RW saya, saya telah menyumbang 60 batang pohon duwet, yang tingginya sudah mencapai 2-3 bahkan 4 meter di kampung saya. Dan ditambah pohon buah lainnya (pohon mangga, srikaya, sawo kecik) yang juga saya tanam di lahan duwet saya. Meski belum serindang pohon kampung juara lomba menanam 1000 pohon. Dan tetap bersemangat merasa bangga, selama 2007 -2013 sejak tumbuh dari kecambah menjadi pohon-pohon tadi tiap sehabis sholat asar saya sirami, tiap batang satu ember air. Sudah berganti-ganti RW/RT dan para tetangga sama tahu kerja saya menyirami pohon-pohon saya itu. “Sudah besar, Pak, tidak usah disiram pasti hidup,” banyak tetangga yang menegur. “Sudah mendung, mau hujan, Pak, tidak usah disirami”, tegur yang lain. “Sore mundung, belum tentu hujan jatuh. Dan menyiram 60 batang pohon duwet begini termasuk seni olahraga saya, dan kecintaan saya seni menanam pohon,” jawab saya.</p>
<p>Sampai tanggal 24 Januari 2013, ketika musim hujan sudah tiba tetapi daerah Rungkut Asri belum turun hujan, saya masih berolah seni menyirami pohon-pohon saya itu. Saya sirami 60 ember air 60 batang pohon duwet di tepi sungai dan di berm tetangga yang jaraknya 200 meter dari rumah saya, bukan setelah sholat asar lagi, jadwalnya saya pindah pagi hari panas jam 10-12 siang sebelum sholat lohor, menghindari ramainya jalan sekitarnya. Sebab pada akhir-akhir ini lahan sekitar tanamanku duwet dipakai bermain sepakbola oleh warga (dewasa) kampung Rungkut Lor.</p>
<p>Setelah itu hujan deras jatuh di Rungkut Asri Utara. Saya tidak menyirami lagi tanamanku. Dan tidak saya tengok, karena rumah saya sendiri bocor, hari-hari hujan konsentrasi memperbaiki atap rumah yang bocor. Tapi pagi hari terang cuaca tanggal 28 Januari 2013 saya menengoki tanaman duwet saya, sangat terkejut, karena pohon duwet yang di berm, semua dipangkas pucuk pohonnya 1-2 meter, dan sebanyak 15 batang pohon yang tingginya sudah 3-4 meter, yang saya rawat seperti merawat bayi manusia selama 2007-2013, ditebang pada pokoknya, pasti mati.</p>
<p>Siapa yang menebangi saya tidak tahu. Tapi pasti bukan para tetangga, bukan penguasa RT/RW setempat, bukan pekerja pembuang sampah yang sering dimintai tolong untuk mempercantik taman rumah tetangga, karena mereka semua tahu benar saya telah merawat bayi tumbuhan duwet dengan susah payah sejak lama, sejak biji bayi tumbuhan duwet hingga kini waktunya berkembang.</p>
<p>Ini contoh mini tragedi penebangan hutan di Indonesia yang berlangsung di Surabaya. Untuk membesarkan tanaman pohon (hutan ataupun duwet) dibutuhkan waktu bertahun-tahun dan perawatan yang penuh kasih sayang, tapi untuk menebang pohon dibutuhkan waktu setengah hari, habis!</p>
<p>Suparto Brata, pecinta seni menanam pohon di Surabaya.</p>
<p>Jl. Rungkut Asri III/12, Perum. YKP RL-I-C 17 Surabaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1023</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GAGASAN</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1018</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1018#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2012 22:14:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1018</guid>
		<description><![CDATA[POHON KURMA BERBUAH DI SURABAYA Tanggal 24 November 2012 tetangga saya mengunduh buah kurma dari pohon yang tumbuh di berm depan rumahnya Jalan Rungkut Asri III Surabaya. Sayang sekali mereka tidak tahu caranya membumbui buah kurma yang masak tadi supaya bisa dimakan enak. Ternyata pohon kurma bisa tumbuh dan berbuah masak di Surabaya. Apakah pihak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>POHON KURMA BERBUAH DI SURABAYA</strong></p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/12/siram-001.jpg"><img class="size-medium wp-image-1019 alignleft" title="siram 001" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/12/siram-001-300x266.jpg" alt="" width="300" height="266" /></a>Tanggal 24 November 2012 tetangga saya mengunduh buah kurma dari pohon yang tumbuh di berm depan rumahnya Jalan Rungkut Asri III Surabaya. Sayang sekali mereka tidak tahu caranya membumbui buah kurma yang masak tadi supaya bisa dimakan enak. Ternyata pohon kurma bisa tumbuh dan berbuah masak di Surabaya.</p>
<p>Apakah pihak Dinas Pertanian, atau Dinas Petamanan atau pihak lain di Surabaya tidak ada yang ingin menanam lebih banyak lagi pohon kurma di Surabaya? Ya meskipun tidak berupa perkebunan kurma yang ditanam dengan tujuan berpanen buah kurmanya berkilo-kilo, namun tumbuhnya pohon kurma bisa untuk variasi jenis pepohonan di Surabaya sebagai hiasan kota. Misalnya ditanam berderet di tengah boulevard, tepi sungai, taman wisata. Waktu yang baik pertama menanam pohon 20 tahun yang lalu, waktu terbaik kedua menanam pohon hari ini.</p>
<p>Suparto Brata</p>
<p>Penggemar menanam pohon di Surabaya</p>
<p>Jalan Rungkut Asri Surabaya 60293</p>
<p>dimuat di Jawa Pos, Sabtu 8 Desember 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1018</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Hidup Jokowi Masa kecil</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=994</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=994#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Aug 2012 00:52:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=994</guid>
		<description><![CDATA[Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya. Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya.<br />
Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusiri tanpa rasa kemanusiaan, pedagang ketakutan untuk berdagang. Ia prihatin, ia merasa sedih kenapa kota tak ramah pada manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk dikumpulkan biaya sekolah, ia mandiri sejak kecil tak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu. Ia mengumpulkan uang receh demi receh dan ia celengi di tabungan ayam yang terbuat dari gerabah. Kadang ia juga mengojek payung, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, ia jadi kuli panggul. Sejak kecil ia tau bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi di sini ia menemukan sisi kegembiraannya.<br />
Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki. Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia gembira menjalani kehidupan itu, baginya “Luwih becik rengeng-rengeng dodol dawet, tinimbang numpak mercy mbrebes mili”. Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ia berangkat ke Yogyakarta, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, jurusan kehutanan. Ia pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana pemanfaatannya serta teknologinya. Di masa kuliah ia jalani dengan amat prihatin, karena tak ada biaya hidup yang cukup. Kuliahnya disambi dengan kerja sana sini untuk biaya makan, ia sampai lima kali indekost karena tak mampu membayar biaya kost dan mencari yang lebih murah.<br />
Setamat kuliah ia tetap menjadi tukang gergaji kayu, tapi ia sudah memiliki wawasan, ia melihat industri kayu berkembang pesat, ia mendalami mebel. Di sini ia pertaruhkan segalanya, rumah kecil satu-satunya milik bapaknya ia jaminkan ke Bank. Dan ia berhasil, ia bukan saja pengambil resiko yang cerdas, ia berhasil dari sebuah bengkel mebel dengan gedek di samping pasar yang kumuh berhasil dikembangkan. Ia menangis ketika pekerja-pekerjanya bisa makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu saat ia kedatangan orang Jerman bernama Micl Romaknan, orang Jerman ini kebetulan tidak membawa grader (ahli nilai) kayu, ia ngobrol dengan Jokowi, kata orang Jerman itu : “Wah, di Jepara saya ketemu orang namanya Joko, baiklah kamu kunamakan saja Djokowi, kan mirip Djokovich” akhirnya terciptalah sebuah nickname Jokowi yang melegenda itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan bisnisnya bagus, ia dipercaya kerena ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan pekerja keras, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja. Ia tak pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri. Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan kontainer dan ia berjalan-jalan di Eropa.<br />
Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura atau foto sana, foto sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya. Jokowi di Eropa berpikir reflektif. “Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap ruang gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan” lama ia merenung ini, akhirnya ia menemukan jawabannya “Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran”. Tiga cara itulah yang kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo.<br />
Setelah sukses di bisnis, Jokowi berpikir “Bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya” lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan seluruh rasa tanggung jawab. Pertanggung jawaban politiknya adalah pertanggungjawaban moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, ia ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih pada bangsanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia masuk ke dalam dunia politik, awalnya tidak dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun kidul tinimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan ‘bleger’ yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok kurus, ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung bagi Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu saja, mereka mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Jokowi menang tipis.<br />
Masyarakat mempercayainya dan ia menjawabnya dengan “Kerja” ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia datangi tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan, ia hadir pada selamatan-selamatan kecil, ia terus diundang bahkan untuk meresmikan pos ronda sebuah RW sekalipun. Ia bekerja dari akarnya sehingga ia mengerti anatomi masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari Jokowi didatangi Kepala Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada perintah pemberian senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak meja “Gila apa aku menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku sendiri…keluar kamu…!!” kepala Satpol PP itupun dipecat dan diganti dengan seorang perempuan, pesan Jokowi pada kepala Satpol PP perempuan itu “Kerjalah dengan bahasa cinta, karena itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah Jokowi membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta….”.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah di Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta. Tapi apa kata Jokowi “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan”</p>
<p style="text-align: justify;">Jokowi berangkat dalam alam paling realistisnya. Kepemimpinan yang realistis, bertanggungjawab dan kredibel. Beruntung Indonesia masih memiliki Jokowi, pada Jokowi : “Merah Putih ada harapan berkibar kembali dengan rasa hormat dan bermartabat sebagai bangsa.</p>
<p style="text-align: justify;">ANTON DH NUGRAHANTO</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=994</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WISATA PETJINAN SOERABAJA SUASANA RAMADHAN</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=936</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=936#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Aug 2012 07:09:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=936</guid>
		<description><![CDATA[25 Juli 2012 Mbak Paulina Mayasari mengontak saya, Melantjong Petjinan Soerabaya bulan Ramadhan ini mau mengadakan wisata pecinan yang bersuasana Islam, yaitu ke Klentheng Mbah Ratu dan Masjid Cheng Hoo. Dan sekali gus wisata ke kompleks Ampel. Apakah saya mau ikut? Saya respon langsung saya mau ikut. Sebab saya memang belum pernah mengunjungi Makam Mbah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/wisata.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-939" title="wisata" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2012/08/wisata-300x253.jpg" alt="masjid cheng ho" width="300" height="253" /></a>25 Juli 2012 Mbak Paulina Mayasari mengontak saya, Melantjong Petjinan Soerabaya bulan Ramadhan ini mau mengadakan wisata pecinan yang bersuasana Islam, yaitu ke Klentheng Mbah Ratu dan Masjid Cheng Hoo. Dan sekali gus wisata ke kompleks Ampel. Apakah saya mau ikut? Saya respon langsung saya mau ikut. Sebab saya memang belum pernah mengunjungi Makam Mbah Ratu, dan Masjid Cheng Hoo. Bahkan tentang Masjid Cheng Hoo ada di Surabaya, saya belum pernah dengar. Wisata mau diselenggarakan hari Minggu tanggal 29 Juli 2012, dimulai kumpul di Jalan Bibis 3 (rumahnya Mbak Maya) jam 13.30, dari sana nanti naik bemo yang disewa pergi ke Mbah Ratu, ke Ampel, dan berakhir di Masjid Cheng Hoo diperkirakan tepat pada jam buka puasa. Beaya untuk wisata ini Rp 110.000,00 sudah termasuk takjil dan makan berbuka puasa di Masjid Cheng Hoo. Saya langsung ikut didaftar jadi peserta. Namun saya ragu juga, berapa orang etnis Cina di Surabaya yang berperhatian terhadap suasana Islami Ramadhan ini? Saya kira tidak terlalu banyak. Dan karenanya sangat mungkin Wisata Petjinan Surabaya yang dikelola Mbak Paulina Mayasari ini tidak mencukupi korum. Maka saya sertakan direspon pendaftaran saya jadi peserta: “Kalau batal segera saya diberitahu”.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata tidak batal. Mbak Maya menelepon saya, kalau pergi ke Bibis 3 lebih jauh daripada Kampus Universitas Petra Siwalankerto, saya disuruh ke Kampus Siwalankerto saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya datang di Bibis 3 jam 13.00. Sepi. Hanya ada beberapa orang peserta, tidak lebih 7 orang. Tapi sudah ada Debby, Diana, Andy, Ivana, para “relawan” yang selalu membantu Mbak Maya pabila menyelenggarakan Melantjong Petjinan Soerabaya. Saya kenal mereka. Dan langsung menyelesaikan sebagai peserta, dapat kalung nama. Mbak Maya tidak ada. Ditunggu-tunggu sampai jam 14.00 tetap belum datang. Ternyata busnya macet di tengah kota. Mungkin karena hari Minggu, ada <em>car-free-day. </em>Tapi sudah jam 14.00, mestinya <em>car-free-day </em>sudah selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu di Bibis 3 ada Mas Gigik, kameraman JTV. Dia giat merekam kami yang ada di Bibis 3. Katanya di JTV ada program menelusuri kampung-kampung di Surabaya, maka moment Wisata Pecinan ini juga dijadikan bahan acara tadi. Saya juga di-<em>shoot </em>khusus. Selain mengenakan kaos Melantjong Petjinan, saya memakai destar (tutup kepala) Jawa tengah. Jelas beda dengan peserta lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang saya herankan, mengapa tidak disiapkan bemo-bemo (angkutan kota). Biasanya kami melancong diangkut beberapa bemo, sampai 10 bemo, saking banyaknya peserta. Ternyata sekarang angkutannya bus! Yang ikut langsung pergi ke Bibis 3 hanya sedikit, tapi yang dari Universitas Kristen Petra cukup banyak. Karena itu Mbak Maya memerlukan menjemput ke sana, dan menyewa bus pariwisata. Yang ikut adalah para mahasiswa UK.Petra berkebangsaan Jepang, Thailand, dan juga para dosennya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam 14.30 bus masuk ke Jalan Bibis 3, kami semua segera masuk ke kendaraan. Juga sangu-sangu yang disiapkan diboyongi ke kendaraan. Lalu segera berangkat ke makam Mbah Ratu. Sementara di perjalanan, Mbak Maya menerangkan tujuan wisata yang pertama, yaitu makam Mbah Ratu. Menerangkannya dengan bahasa Inggris, Indonesia, dan Mandarin.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk diabsen dan bahasa Mandarin tugas diserahkan kepada Diana, terutama untuk para mahasiswi dari Thailand. Jumlahnya mahasiswi Thailand 7 orang semua perempuan. Mereka itu belajar bahasa Tionghoa (Mandarin) di UK.Petra. Mereka tidak bisa bahasa Inggris, di bus saling bicara bahasa mereka sendiri, riuh tapi ya hanya dimengerti oleh mereka. Ketika Diana mengabsen dengan memanggil nama seorang mahasiswa Jepang terdengar seperti nama “Suzuki”, langsung para mahasiswi Thailand menyambung dengan riuh kata-kata, “Suzuki! Yamaha! Honda!”, sambil tertawa gelak-gelak. Ada ditambah 2 orang Indonesia mahasiswi UK.Petra yang belajar bahasa Tionghoa bergabung dengan mahasiswi dari Thailand tadi. Mahasiswi Indonesia ini yang seringkali menerangkan kepada para mahasiswi Thailand barang-barang asing yang ditemui di wisata ini. Misalnya ketika dibagikan jajanan dalam plastik, terdapat <em>“kue tok”</em> mahasiswi ini yang menerangkan kepada kelompok mahasiswi Thailand, apa nama jajanan itu. Cara mengucapkan <em>“kue tok”</em> terpaksa pelan dengan gerakan bibir dijelas-jelaskan, dan diulang dipertunjukkan kepada para mahasiswi yang duduk di sekelilingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mahasiswa dari Jepang jumlahnya 8 orang, semua laki-laki. Mereka mahasiswa ASP, belum bisa berbahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari UK.Petra juga ada 2 dosen wanita yang ikut wisata ini, yang seorang Bu Priskila (dari Jogya) mengajar akunting dan seorang lagi dosen bahasa Jepang ASP. Ada lagi seorang perempuan yang membawa anaknya masih kecil, juga membawa pembantu perempuan untuk menggendongnya. Nyonya ini juga belum fasih berbahasa Indonesia, menurut Mbak Maya dia gurunya Mbak Maya bahasa Mandarin. Baru 4 bulan di Surabaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semula Mbak Maya dan pembantunya memang memang bergantian memberi penerangan kepada para peserta wisata dengan 3 bahasa tadi. Tetapi kemudian rata-rata mengerti bahasa Inggris, jadi lebih banyak digunakan bahasa Inggris.</p>
<p style="text-align: justify;">Makam Mbah Ratu saya kenal sejak lama. Terletak di sisi barat Kota Surabaya, pojok Jalan Demak menatap jalan besar dari Gresik, merupakan makam lama terluas di daerah barat-laut Kota Surabaya. Kata Mbah Ratu saya kenal sebagai seorang yang sangat terkenal sebagai penyebar agama Islam masa lalu. Tapi saya tidak pernah mengurus siapa Mbah Ratu tadi dalam cerita sejarah yang sebenarnya. Sebagai makam lama yang luas di Surabaya, saya pernah melayat keluarga saya dimakamkan di situ, yaitu Mbakyu Bagio, ibu Subodro, pesepak bola Persebaya terkenal 1990-an. Rumahnya dulu di Kantor Pos Perak, waktu meninggal dimakamkan di Makam Mbah Ratu situ. Meskipun nama Makam Mbah Ratu sudah sangat terkenal karena adanya rumah yang panjang di situ sebagai tempat makam khusus Mbah Ratu, tapi saya tidak tertarik untuk melihatnya. Ya sudah terkenal, dan saya kenal di situ ada makam Mbah Ratu yang bentuk makamnya panjang, begitu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Namanya sudah terkenal sejak zaman dahulu, sekarang kok jadi tujuan wisata pecinan bernuansa Islami Ramadhan yang dikelola Mbak Mayasari, itulah maka saya antusias untuk ikut. Ingin tahu kisahnya siapakah sebenarnya Mbah Ratu?</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu naik taksi dari Rungkut ke Bibis tadi, tahu saya mau bersama rombongan pergi ke Makam Mbah Ratu, sopir taksi yang Arèk Surabaya, bahkan sudah tahu bahwa Makam Mbah Ratu itu juga disebut Klenteng Cheng Hoo. Dan punya nama lain Makam Sapujagad. Saya menjadi lebih penasaran. Karena memang tidak mengerti sejarahnya. Dan keadaannya sekarang, kok disebut Klentheng Cheng Hoo alias Makam Sapujagad, saya juga baru tahu sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di Makam Mbah Ratu, saya sudah tidak bisa menandai lagi bahwa kami sampai di Makam Mbah Ratu yang seperti dulu. Bus kami berhenti di tepi jalan persis di depan bangunan klentheng Cina, megah, dan dilengkapi ornamen-ornamen perklenthengan dengan banyak warna merah meriah. Itu terlihat dari pelataran depan, hingga bangunan emper depan dan seterusnya bangunan belakangnya. Penuh dengan ornamen klentheng pada umumnya, termasuk dominasi warna merahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di ruang emperan depan klentheng yang cukup luas, di sisi tembok kiri tertata meja panjang dengan kursi-kursi yang menghadapi meja. Di situ telah duduk banyak panitia penerima tamu klentheng, baik perempuan maupun laki-laki. Kedatangan rombongan kami tidak segera tampak berduyun masuk emperan, karena sejak di depan klentheng para rombongan sama antusias membuat foto-foto untuk kenangan sendiri-sendiri, hingga masuknya ke klentheng tidak berduyun-duyun. Para penerima tamu, melihat rombongan kami datang sudah pada ingin menyambutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada dua orang yang paling giat menyambut kami. Seorang sudah tua, yang lain lebih muda. Suara yang tua sulit saya dengar, maka saya lebih mendekat pada yang muda. Dan dia dengan semangat bercerita kepada saya tentang bagaimana riwayat Cheng Hoo serta apa yang ditinggalkan di tempat itu. Cheng Hoo adalah seorang nakoda dari dinasti Ming di China, mendapat tugas dari Raja untuk berdagang mengelilingi dunia. Bukan untuk menjajah menguasai negeri di mana kapal-kapalnya mendarat seperti orang Eropa, tetapi lebih bersifat mencari persahabatan, pertukaran ilmu dan barang keperluan hidup, serta menggalang peradaban harmoni. Dalam menjalankan tugasnya Cheng Hoo sudah mengelilingi dunia 7 kali, singgah berbagai negeri. Pada suatu ketika pada tahun 1405, waktu sampai di Selat Madura, kebetulan ada perahu armadanya yang rusak, maka kapal yang rusak itu ditinggalkan di situ. Ya di tempat Mbah Ratu yang kemudian berkembang jadi daratan digunakan sebagai tanah makam, tanah makam yang paling tua dan luas di daerah Surabaya barat laut itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bekas kayu kapal rusak itu sampai sekarang jadi salah satu barang tinggalan yang disimpan di klentheng itu. Sebagai buktinya saya ditunjuki sebatang kayu bekas kapalnya tadi, disimpan di belakang tempat persembahyangan. Sebatang kayu tadi disimpan pada suatu kotak atau lemari khusus yang amat panjang. Panjangnya 14 meter. Konon kayu tadi sejak dahulu kala tiap kali dipertunjukkan kepada para tamu yang berkunjung, banyak yang mencukil-cukil keroposannya, disimpan digunakan untuk jimat. Begitu banyak orang Jawa berbuat begitu, sebagai kepercayaannya. Tapi pengelola Klentheng Cheng Hoo atau Sapujagad, tidak melarang orang-orang yang berbuat dan kepercayaannya begitu. Cheng Hoo tidak mempermasalahkan kepercayaan masing-masing bangsa. Yang perlu persahabatan. Ketika armada Cheng Hoo berlabuh di Tanah Jawa, orang Jawa sudah punya kepercayaan (agama) yang kuat. Dan Cheng Hoo menghormati kepercayaan orang Jawa tadi. Maka silakan saja mengunjungi klentheng situ dengan menganut agama apa pun kepercayaannya. Silakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tanya tentang nama Mbah Ratu, panitia muda itu menerangkan bahwa yang disebut Mbah Ratu itu dulunya sebenarnya juru kunci, orang yang menunggu makam yang ada tinggalannya kayu kapal rusak tadi. Setelah meninggal juru kunci tadi dikuburkan di tempat penyimpanan kayu tadi. Juru kunci itulah yang mendapat julukan nama Mbah Ratu. Maka kuburannya beserta penyimpanan kayu kapal itu jadi terkenal sebagai Makam Mbah Ratu. Sekarang kuburan Mbah Ratu sudah dipindah. Sedang tempat penyimpanan kayu bekas kapal rusak dibangunkan gedung jadi Klentheng Cheng Hoo tadi. Dikelola baik-baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendekati jam 16.00 rombongan Wisata Pecinan Surabaya menuju ke Kompleks Masjid Ampel. Dalam perjalanan ke sana, Mbak Maya dibantu para panitia menerangkan tujuan yang kedua wisata itu. Yaitu siapa Raden Rakhmat, dan bagaimana Masjid Ampel dan kompleks sekitarnya. Karena kompleks ini amat luas, dan dihubungkan dengan gang-gang yang sempit, tapi ramai sekali baik dipenuhi oleh orang berjualan sovenir, makanan khas Timur Tengah, serta para wisatawan domestik maupun luar negeri, dan juga wisatawan religius, maka rombongan diharap selalu memperhatikan gerak perjalanan para rombongannya. Jangan sampai terlepas tersendiri. Dan juga dijaga barang-barang bawaannya sendiri-sendiri. Dalam acara Wisata Pecinan ini juga akan mengunjungi tempat yang kaki harus telanjang. Kepada para cewek dianjurkan mengenakan kerudung. Dan nanti juga ada tempat di mana para perempuan yang sedang datang bulan, dilarang masuk. Maka pihak Mbak Maya sudah memberikan kantong plastik kepada para peserta, untuk tempat pembungkus sepatunya masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Ampel. Daerah ini sudah saya kenal dengan sangat biasa sekali. Sebab, tahun 1950, ketika saya harus meneruskan sekolah di SMPN 2 Jalan Kepanjen 1 Surabaya, saya masih bisa dan boleh menginap di rumah Bulik Wibisono Gersikan gang 2 nomer 23 Surabaya. Di rumah itu dulu saya, kakak dan Ibu bertempat tinggal, karena Bulik Wibisono sekeluarganya mengungsi ke Madiun waktu perang 10 November 1945. Tapi tahun 1950 keluarga Bulik Wibisono sudah kembali ke rumah itu, jadi saya, kakak dan Ibu harus cari rumah tempat tinggal lain. Ibu ikut keluarga Dokter Subandi ke Tabanan Bali, Kakak dikirim studi ke Eindhoven Negeri Belanda, tinggal saya belum dapat tempat pondokan, masih boleh bertempat tinggal di Gersikan situ. Kamar-kamar yang kosong pada disewakan untuk kost, jadi kalau saya harus tetap di situ ya harus bayar kost. Saya masih sekolah SMP, jadi ya belum bisa bayar kost. Untuk meneruskan sekolah saja saya belum tahu membayar uang sekolah dengan apa. Jadi saya mohon pada Bulik, agar diperkenankan hanya bermalam saja di rumah situ sampai saya lulus dari sekolah SMP Jalan Kepanjen 1 Surabaya itu, yaitu ujian terakhir Agustus 1950. Sambil sekolah saya terpaksa harus cari makan sendiri. Mula-mula saya mengandalkan bisa menjual tulisan ke suratkabar, namun karena tidak punya mesin ketik, karangan-karangan saya tulis tangan, selalu dikembalikan oleh redaksi. Tidak bisa hidup dengan menulis karangan. Maka terpaksa cari pekerjaan lain, yaitu menjadi loper koran Java Post. Yang mengajak saya jadi loper koran teman sesekolah saya di SMPN 2 Jalan Kepanjen 1, yaitu Muslimin. Rumahnya di Setro. Dia ngampiri saya dulu ketika ambil koran di Kembang Jepun. Hasil loper koran itulah penghidupan saya antara Februari – September 1950, dengan kost (tanpa makan) gratis di Gersikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tempat edar meloper koran saya di daerah Ampel. Tiap hari saya blusukan di gang-gang Kampung Ampel. gangnya sempit, tidak boleh naik sepeda, sepeda harus saya tuntun. Rumah-rumah di sana kebanyakan serambinya ditutup dengan keré, jadi orang di serambi depan rumah tidak kelihatan dari gang, tetapi yang di serambi bisa leluasa melihat orang yang lewat di gang. Meskipun begitu, saking seringnya melewati gang-gang itu untuk mengantar koran, saya tahu saja ada gadis-gadis di balik keré serambi depan rumah pada mengolok-olok atau menggoda saya. Dan akhirnya saya juga kenal sama beberapa gadis yang selalu bersembunyi di balik keré itu. Saya yang mengenal mereka atau mereka yang mengenali saya, begitulah. Ini terbukti ketika ada hari besar Sawalan di Surabaya. Dulu kala, tiap bulan Sawal, di pasar-pasar Surabaya, seperti Pasar Pacarkeling, Genteng, Blawuran, Peneleh, lebih-lebih Pabean, banyak dikunjungi muda-mudi dan anak-anak. Anak-anak laki-laki pada beli dan pakai barang mainan seperti pedang-pedangan, topeng-topengan, plembungan. Para pemuda biasanya topeng-topengannya dipakai, sehingga main colek gadis-gadis ya tidak ketahuan wajahnya. Para gadis juga senang berdesakan ke pasar Mulutan, biasanya yang dibeli manten-mantenan, tempattidur-tempattiduran. Nah, waktu pasar Sawalan saya ke Pasar Pabean, bertemu berdesak-desakan, berimpit-impitan sama gadis-gadis yang biasanya bersembunyi di balik keré serambi rumahnya. Saya tidak pakai topeng ataupun pakai topeng, mereka bisa saja panggil-panggil saya si loper koran Java Post. Kalau saya coleki, ada yang cemberut, tapi kalau mereka tidak sendiri lebih berani membalas menyemprot dengan kata-kata. Itulah gadis-gadis Ampel tahun 1950-an. Sekarang tradisi pasar Sawalan sudah hilang sama sekali di Surabaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya hafal benar gang-gang di kampung itu zaman itu. Saya bahkan sangat kenal dengan keluarga gang Ampel Kedjeron I nomer 20. Temanku di situ namanya Abdul Azis, kakinya pincang karena kena sasaran peluru pada zaman pertempuran 10 November 1945. Saya kenal dengan Abdul Azis di Probolinggo tahun 1945-1947, dia juga mengungsi di sana, dan satu sekolah dengan saya. Dia punya kakak namanya Soejoenoes, juga di Probolinggo jadi teman kakak. Tidak pada waktu mengantar koran, saya sering bermain di rumah Abdul Azis, karena keluarganya berlangganan majalah Mimbar Indonesia. Saya boleh pinjam saya bawa pulang majalah yang sudah kedaluwarsa. Di Mimbar Indonesia itulah (redaksinya HB.Jasin) saya belajar tentang sastra. Tidak bisa beli majalah, ya pinjam-pinjam, meskipun rumah saya di Gersikan, pinjamnya di Ampel Kedjeron. Saya lakoni.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, sekarang saya ikut Wisata Petjinan Suasana Ramadhan kelolaan Mbak Mayasari. Jalan besar Nyamplungan yang melintas di Ampel sangat ramai sekali. Bus pariwisata berhenti di tepi jalan, para penumpang disuruh segera turun agar tidak mengganggu lalu-lintas kendaraan. Turun, yang menyambut para penjual makanan khas Timur Tengah. Penjualnya banyak, pembelinya banyak. Meskipun kini bulan Ramadhan, baru menjelang Asyar. Dan saya tidak tahu lagi bentuk gang-gang pada kampung Ampel ini. Mungkin saya tepat di mulut gang Ampel Kedjeron I gang rumahnya Abdul Azis dulu. Bentuknya sudah lain sekali. Rombongan wisata digiring masuk, serambi rumah di gang itu bukan lagi keré. Bukan lagi model serambi depan rumah yang menyembunyikan wajah-wajah ayu perawan Ampel. Melainkan toko, kios, rumah tertutup tapi juga berjualan benda-benda religius Islamis seperti kopiah, tasbeh, buku berbagai buku. Kian mendalami gang mendekati masjid, kios-kios berjualan keperluan riligius kian marak: baju muslim laki-laki maupun perempuan, sarung, mukena. Orang yang lalu-lalang juga luar biasa ramainya, bukan saja wajah dan berdandan Asia, tetapi juga berbondong wajah Eropa. Saya jadi tidak terlalu merasa asing dengan rombongan saya yang bermata sipit dan perempuannya tidak berjilbab.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami datang ke situ memang berwisata. Mbak Maya dengan pembantunya sudah semayan dengan salah seorang pemandu yang punya tempat dan bisa bercerita tentang kompleks serta sejarah Masjid Ampel. Kami temui Pak Sholeh, pak pemandu tadi, di tempatnya, sebelah sisi selatan Masjid Ampel. Dalam keramaian baik orang lalu-lalang maupun suara ceramah masjid, kami disuruh masuk ke suatu ruangan yang cukup luas, kaki harus telanjang. Pak Sholeh agak grogi melihat yang datang cukup banyak, 24 orang, sebagian baik yang laki maupun perempuan wajah orang asing. Dan disebutkan oleh Mbak Maya bahwa mereka itu dari Thailand, Jepang, Indonesia, banyak yang tidak bisa bahasa Indonesia, maka ceritanya nanti diterjemahkan bahasa Inggris dan Mandarin. Tugas Pak Sholeh hanyalah bercerita tentang sejarah masjid dan para pendiri yang terlibat, dalam bahasa Indonesia. Nanti akan diterjemahkan oleh panitia. Tapi tetap saja, Pak Sholeh grogi, sehingga ceritanya tersendat-sendat. Dan hanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris, baik oleh Mbak Maya, Mbak Diana maupun Mas Andy.</p>
<p style="text-align: justify;">Pokok cerita, pembangun Masjid Ampel itu adalah Sunan Ampel, yang dalam bahasa Jawa disebut Raden Rakhmat. Raden Rakhmat adalah putera dari seorang Campa (Cambodia?), datang ke Tanah Jawa karena dipanggil oleh tantenya, untuk mengembangkan diri di Kerajaan Majapahit, sambil memberi pertolongan terhadap orang pribumi, memberi arahan peribadatan Islam. Tantenya itu sudah jadi isteri keluarga Kerajaan Majapahit. Raden Rakhmat beragama Islam, sedang keluarga Kerajaan Majapahit beragama Hindu-Budha. Waktu itu Kerajaan Majapahit sudah mendekati keruntuhannya dengan banyaknya perselisihan kepercayaan dalam negeri. Termasuk putera tantenya Raden Rakhmat yang ada di Demak. Tidak mau dengan kekerasan perang, Raden Rakhmat untuk mengembangkan kepercayaannya <em>meminjam </em>sebidang tanah bernama Denta di sebuah muara sungai kepada Raja Majapahit. Meminjam bahasa Jawanya <em>ngampil, </em>jadi tanah Denta adalah tanah ampilan, atau Ampel Denta. Di sini Raden Rakhmat membangun pemukiman muslim, di mana agama Islam dikembangkan syiarnya. Raden Rakhmat datang di Ampel Denta 1392. Kemudian mulai membangun Masjid Ampel tahun 1396.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah memberi keterangan sejarah, Pak Sholeh memandu para wisatawan menuju ke makam Sunan Ampel. Letaknya di belakang bangunan masjid. Pada pintu masuk arena makam, para wisatawan harus melepas alas kakinya. Yang laki-laki masuk ke arena makam lewat sisi kiri, yang perempuan lewat sisi kanan. Karena ini merupakan rombongan wisata, maka dengan dipandu oleh Pak Sholeh kami laki-laki boleh masuk bersama rombongan lewat pintu sebelah kanan. Tempat ini sebenarnya lebih sempit daripada arena yang sisi laki-laki. Di kedua sisi arena makam Sunan Ampel waktu itu juga sedang banyak para penziarah yang sedang mengaji dan berdoa. Selain makam Sunan Ampel, di sekitarnya, termasuk yang kami injaki waktu itu, terdapat nisan-nisan tanda kuburan orang, yang tanpa tanda identitas. Dalam keterangannya Pak Sholeh salah satu dari makam di situ adalah sahabat yang membantu Raden Rakhmat membangun masjid, yaitu keluarga China marga Tjoa. Oleh karena itu hiasan dalam masjid tidak saja kaligrafi Timur Tengah, juga model oriental lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai panduan Pak Sholeh, rombongan pamit keluar lingkungan masjid tidak lagi kembali melalui gang di depan masjid yang dilalui tadi, melainkan dari samping masjid sisi selatan langsung masuk gang yang menjurus ke selatan. Di sini sifat gang sudah berubah menjadi lorong dalam pasar. Bukan saja penuh orang buka toko pakaian, tetapi gangnya yang memanjang diberi atap atau payon, sehingga kami tidak lagi berada di bawah langit bebas. Rombongan berjalan berimpitan di lorong toko pakaian. Hal seperti ini sungguh tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, sebab setengah abad lebih yang lalu saya juga sering menelusuri gang-gang di sekitar Masjid Ampel waktu mengantarkan koran kepada para pelanggan, suasananya sangat terbuka bebas, saya menuntun sepedaku lewat gang-gang ini lancar saja dari arah Jalan Nyamplungan sebelah timur masjid menembus Jalan Haji Mas Mansyur sebelah barat masjid. Guru bahasa Mandarin Mbak Maya yang baru 4 bulan di Surabaya, berkata, <em>“I never imagine that Surabaya likes this!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sendat karena harus mengawasi keutuhan rombongan menempuh keramaian orang, kami meneruskan perjalanan keluar dari lingkungan masjid, mengarah kembali ke Jalan Nyamplungan, karena bus kami menunggu di sana. Sampai di Jalan Nyamplungan tempat kami turun dari bus tadi, kami masih harus berjalan berimpit-impitan lagi menuju ke terminal bemo, di mana bus kami parkir. Jalan Nyamplungan sudah berubah sama sekali. Dahulu sunyi, menelusuri Kali Pegirikan. Disebut Kali Pegirikan, sebab sisi sana dari Jalan Nyamplungan terdapat Jalan Pegirikan. Sekarang juga begitu, sementara rombongan kami bercampur juga dengan rombongan lain serta lintas pepat lintas kendaraan mengalir ke utara, tampak di seberang kali sana Jalan Pegirikan yang sepi luang, kendaraan melaju cepat ke arah ke selatan. Akhirnya kami juga menyeberang jembatan sempit ke Jalan Pegirikan, sampailah kami di tempat bus parkir.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami segera masuk ke kendaraan. Setelah lengkap diabsen, hari sudah mulai rembang petang, Mas Andy memberitahu rombongan bahwa kini kami akan menuju <em>last destination, </em>yaitu Masjid Cheng Hoo<em>. </em>Bus pun berjalan, langsung menempuh perjalanan dari ujung utara Jalan Pegirian tepi sungai lancar ke selatan. Menyeberangi perempatan Jalan Kapasan-Kembangjepun tetap langsung ke selatan mengikuti alir Kali Pegirikan, nama jalan ganti Jalan Gembong. Bus menyeberangi rel keretaapi dekat Stasiun Semut, tetap melaju mengikuti alir sungai, nama jalan berganti nama Jalan Pecindilan. Bus pun melewati Jalan Kalianyar, tetap melaju menyusuri tepi kali, nama jalan berganti Jalan Undaan Wetan. Menyeberangi Jalan Ambengan bus tetap melaju menelusuri jalan tepi sungai, namun sungainya kini menjadi lebih besar, dan itulah bagian dari sungai besar yang membelit Kota Surabaya, bernama Kalimas. Sedang nama jalan yang dilewati bus adalah Jalan Ngemplak.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru setelah di ujung selatan Jalan Ngemplak, di perempatan Jalan Walikota Mustajab-Jembatan Genteng Besar dan kalau mengikuti alir sungai nama jalannya Ketabangkali, maka bus baru membelok ke kiri, berpisah tidak menelusuri alir tepi kali lagi. Bus melewati Jalan Walikota Mustajab. Selanjutnya mengikuti arus lalu-lintas, belok ke kiri melewati Jalan Jaksa Agung Suprapto, terus lurus ke utara menyeberangi Jalan Ambengan lagi, tetap melaju lurus. Tadi dari utara (Undaan Wetan) sudah menyeberangi Jalan Ambengan, sekarang dari selatan (Jaksa Agung Suprapto) menyeberangi lagi Jalan Ambengan. Mengapa tadi tidak belok saja dari Undaan Wetan ke kiri lewat Jalan Ambengan? Karena Jalan Ambengan arus lalu-lintasnya satu jurusan ke barat saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada waktu itulah Mas Andy mengumumkan bahwa sekarang jam 17.30, para peserta wisata yang berpuasa waktunya berbuka puasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Di ujung utara Jalan Jaksa Agung Suprapto bus berjalan pelan, dibelokkan ke Jalan Gading. Di situlah letak Masjid Cheng Hoo. Terlalu sempit, dijaga oleh Satpam, bus pengunjung wisata masjid diharapkan mundur dan diparkir di tepi ujung utara Jalan Jaksa Agung Suprapto saja. Di situ para penumpang turun, dan diberitahu oleh panitia langsung menuju ke tempat Masjid Cheng Hoo, tapi jangan masuk ke wilayah masjid, melainkan ke tempat restoran atau warung di emperan masjid, kursinya sebanyak peserta wisata telah disediakan oleh panitia. Peserta wisata akan makan dulu di situ, sebelum melihat-lihat Masjid Cheng Hoo.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun keadaan sudah mulai gelap, saya masih kenal benar dengan suasana waktu ketika bus tadi berbelok masuk ke Jalan Gading. Setahu saya, di situ dulu tidak ada masjid. Kok sekarang ada masjid yang bernama Masjid Cheng Hoo, dan nama Cheng Hoo pastilah berhubungan dengan sejarah Laksamana Cheng Hoo yang kuna itu. Kok aneh ada masjid peninggalan zaman kuna di situ? Sungguh lebih membuat penasaran saya. Dulu di Gadingstraat itu tidak ada kok, masjidnya. Yang ada tanah lapang yang cukup luas, seperti biasanya cara orang Belanda membangun wilayah realestat, di antara deretan rumah-rumah gedung ada diberi lapangan kosong (tidak dibangun gedung di situ). Dan Gadingstraat juga terbangun di wilayah bangunan realestat Belanda. Artinya di wilayah sekitar situ sudah dibangun gedung-gedung gaya Belanda, bukan kampung tradisional Jawa lagi, tapi loji. Bahkan bukan saja gedung-gedungnya yang berupa loji bernuansa kolonial Belanda, nama jalannya pun sudah dikolonial-belandakan. Misalnya di wilayah situ ada nama jalan Ketoepastraat, Sroenistraat, Kemoeningstraat, Kembodjastraat, Patjarweg, Canalaan, Canaplein. Nama-nama apakah itu kok saya menyebutnya sudah “dikolonial-belandakan”? Ya, maksud saya sudah pada zaman kolonial Hindia Belanda, nama jalan di Surabaya sudah digolong-golongkan dengan nama-nama pahlawan Belanda (misalnya Coen Boulevard, Carpentierstraat, Julianalaan), nama-nama sungai di Hindia Belanda (misalnya Koeteistraat, Kapoeasstraat, Brantasstraat, Tjiliwoengstraat, Bogowontostraat), nama-nama pulau (misalnya Soematrastraat, Soembawastraat, Celebesstraat), nama-nama pohon berbuah (misalnya Tamarindelaan, Palmenlaan, Embong Gayam, Embong Kemiri, Kenariweg), nama-nama bunga-bungaan (misalnya Sedepmalemweg, Melatiweg, Kenikirweg, Canalaan, Canaplein). Nah, Gadingstraat termasuk golongan tanaman yang bunganya berbau, tapi tidak berbuah, misalnya Kemoeningstraat, Kembodjastraat. Lo, <em>gading&#8230;..</em>tanaman berbunga berbau apa? Itu sudah pernah menjadi gagasan saya waktu saya menemukan Gadingstraat di situ pada zaman Balatentara Dai Nippon menduduki Pulau Jawa, termasuk Surabaya. Waktu itu sekolah saya di Kokumin Gakkõ Canalaan 121 (Jalan Kusumabangsa 121), jadi juga berada di daerah Gadingstraat situ. Tiap pelajaran olah-raga, berdurasi 2 jam pelajaran, sudah dipastikan kami murid kelas IV, V, VI laki-laki pasti olah-raga kasti di lapangan Canaplein, tidak lain yang sekarang jadi Taman Makam Pahlawan Kusumabangsa. Dulu merupakan taman lapangan yang bernama Canaplein, di situ saya dan teman-teman main kasti (1943-1945). Gadingstraat tentu saja saya dan murid-murid Kokumin Gakkõ Canalaan tidak asing lagi dengan Gadingstraat, ditelusuri ketika kami punya tugas mengumpulkan biji buah jarak. Di tepi-tepi jalan daerah situ bermnya pasti ditumbuhi dan ditanami buah biji jarak. Tapi sungguh, di Gadingstraat tidak kami temukan bangunan masjid yang namanya berbau sejarah kuna Cheng Hoo. Tidak ada bangunan masjid tua di situ.</p>
<p style="text-align: justify;">Memperhatikan nama-nama jalan yang tertulis rapi pada zaman Hindia Belanda, saya berpikir keras, mengapa di situ papan nama jalannya ditulis Gadingstraat. Hubungannya apa dengan penggolongan nama Kembodjastraat, Sroenistraat? Pikir punya pikir akhirnya ketemu juga. Yang dimaksud <em>gading </em>bukan gading gajah, melainkan bunga <em>srigading. </em>Bunga <em>srigading </em>pohonnya juga besar seperti kemuning, bunganya putih-putih dengan tangkai bunganya warna oranye atau kuning kunyit, kalau dipandang bunganya cukup indah, dan baunya menyengat. Saya tidak bisa mengatakan bahwa bau kembang srigading harum, sebab baunya yang menyengat saya tidak suka menciumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Agaknya Belanda kurang teliti memberikan nama Gadingstraat tidak disempurnakan sebagai Srigadingstraat. Sebab pada zaman itu, di Surabaya sudah ada kampung lama yang juga bernama Gading. Yang sampai sekarang pun namanya juga kampung Gading, yaitu nama kampung tradisional dekat Kedungcowek.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami digiring masuk ke Jalan Gading, dan setelah melalui penjagaan satpam yang juga tempat parkir kendaraan, sampailah kami pada bangunan kompleks, yang pastinya itu kompleks Masjid Cheng Hoo! Betul dugaanku. Itu bukan bangunan masjid kuna! Di situ dulu bukan berupa kompleks masjid, melainkan tanah lapang yang cukup luas. Saya masih ingat benar!</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berbuka puasa di restoran di serambi bangunan Masjid Cheng Hoo. Masih bersama para peserta wisata Pecinan. Setelah makan buka, saya minta kepada Mbak Maya, di mana jalannya ke masjid, saya mau sholat Magherip. Letaknya di balik bangunan restoran yang juga jadi bangunan tempat kantor Masjid Cheng Hoo. Selesai sholat, saya kembali menemui para peserta wisata. Dan setelah mereka selesai makan hidangan yang disediakan oleh pelayan restoran atas pesanan panitia, mereka pun diajak menuju ke balik bangunan kantor dan restoran masjid tadi. Mbak Maya menghubungi penjaga atau takmir masjid, yang sudah dipesan untuk menerangkan tentang sejarah Masjid Cheng Hoo. Waktu itu keadaannya ramai sekali, ada kelompok yang sedang pendarasan, pengajian, mendengarkan penerangan panduan, ada yang sholat. Mereka tersebar di segala tempat, ada yang di dalam masjid, di serambi, di halaman depan masjid yang luas. Malam terang cuaca, masjid dan halamannya juga didterangi oleh lampu yang menyala terang. Rombongan kami tidak sendirian. Meskipun tidak seramai seperti di gang-gang Masjid Ampel tadi, namun kelompok-kelompok yang ada di sekitar Masjid Cheng Hoo kelihatan lebih khusuk beritual keagamaan daripada hanya sekedar berwisata. Tidak ada penjualan barang-barang sovenir keagamaan seperti di Masjid Ampel.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain kami menerima penerangan dari pemandu yang telah dipesan oleh Mbak Maya, kami juga menerima booklet yang menceritakan rinci soal Masjid Cheng Hoo ini. Berikut saya kutipkan dari buku yang kami terima.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang Tionghoa masuk Islam bukan merupakan hal yang luar biasa, tetapi merupakan hal yang biasa karena pada 600 tahun yang lalu, terdapat seorang Laksamana beragama Islam yang taat bernama Muhammad Cheng Hoo dan beliau telah turut mensyi’arkan agama Islam di Tanah Indonesia pada jaman itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau adalah utusan Raja Dinasti Ming yang menjalani kunjungan ke Asia sebagai “Utusan/Duta Perdamaian”. Sebagai seorang bahariawan dan Laksamana, Muhammad Cheng Hoo berhasil mengelilingi dunia selama 7 kali berturut-turut dan menjalin hubungan perdagangan dengan negara-negara yang dikunjunginya termasuk di antaranya adalah bersilaturahmi mengunjungi Kerajaan Majapahit untuk menjalin hubungan perdagangan. Barang-barang yang dibawanya adalah sutra, keramik, obat-obatan dan teh, oleh sejarah perjalanan ini dikenal sebagai <em>Perjalanan/Perdagangan Sutera.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Guna mempererat hubungan dengan Kerajaan Majapahit, diberikanlah Puteri Campa untuk dipersunting oleh Raja Majapahit. Keturunan Puteri Campa pertama adalah Raden Patah, kemudian Sunan Ampel dan Sunan Giri (termasuk 9 Sunan atau Wali Songo) yang kemudian melakukan syi’ar agama Islam di Tanah Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pelayaran Muhibah yang dilakukan oleh Muhammad Cheng Hoo dapatlah diambil pelajaran oleh para penerusnya, bahwa seluruh umat hendaklah bersatu mempererat tali silaturrohim, saling menghormati sesama umat agama, tidak mencampuri urusan rumah tangga orang lain dan hidup rukun serta damai antarsesama umat (QS.Al-Imron; 112).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“dhuribat alaihimudzdzillatu aina maa tsuqifuu illa bihablimminallah wa hablimminannas”</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia (QS.Ali-Imron; 112).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>They are covered by humiliation anywhere, unless when they hold to Allah (religion) and (agreement) with men (QS.Ali-Imron; 112).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sampai sekarang Cheng Hoo dijuluki sebagai <strong>‘San Pau Ta Ren/San Poo Tua Lang’</strong>, semua ini karena sifatnya yang sholeh, taat beragama, tidak membeda-bedakan orang lain dan agama. Di manapun Cheng Hoo berlabuh tidak pernah menjajah Negara-negara yang dikunjunginya meski armada beliau dibekali dengan perlengkapan senjata lengkap, bahkan Cheng Hoo banyak membantu kaum miskin dan duafa tanpa memandang suku, agama dan harta. Atas dasar tersebut, banyak yang memberikan penghormatan kepada Cheng Hoo berdasarkan agama/kepercayaan masing-masing hingga sekarang, terutama mereka yang beragama Budha dan Tao.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah cerita tentang Laksamana Muhammad Cheng Hoo sebagai utusan Raja Dinasti Ming (dari Tiongkok) sekaligus sebagai pensyi’ar agama Islam di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentang bangunan masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia di Jalan Gading, kisahnya begini:</p>
<p style="text-align: justify;">Atas gagasan dari HMY Bambang Sujanto dan teman-teman PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia), pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia dimulai dari tanggal 15 Oktober 2001, diawali dengan upacara peletakan batu pertama yang dihadiri oleh sejumlah tokoh Tionghoa Surabaya antara lain: Liem Ou Yen (Ketua Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya), Bintoro Tanjung (Presiden Komisaris PT.Gudang Garam Tbk), Henry J.Gunawan (Direktur PT.Surya Inti Permata Tbk) dan Bengky Irawan (Ketua Makatin Jawa Timur), serta puluhan pengusaha dan tokoh-tokoh masyarakat Tionghoa yang lain yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu.</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh tokoh masyarakat Jawa Timur yang turut hadir di antaranya: HRP.Moch.Noer dan Mayjend. Pol (Purn) Drs.H.Sumarsono,SH,MBA. Sedangkan dari jajaran pengurus PITI dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia sendiri hadir: HM Trisno Adi Tantiono (Ketua DPP PITI), H.Moch.Gozali (Ketua Korwil PITI Jawa Timur), HMY Bambang Sujanto (Ketua Umum Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia).</p>
<p style="text-align: justify;">Selesainya tahap pertama pembangunan Masjid ini pada tanggal 13 Oktober 2002, maka dilakukanlah peresmian pembangunan masjid (soft opening). Dengan selesainya tahap pertama ini, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sudah dapat digunakan untuk beribadah dan selanjutnya tinggal melakukan beberapa penyempurnaan bangunan masjid. Oleh seluruh anggota Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia dan PITI disepakati tanggal tersebut sebagai hari ulang tahun Yayasan dan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, betul dugaan saya sejak semula. Di Jalan Gading Surabaya di seberang Taman Makam Pahlawan Surabaya Kusumabangsa, dulunya tidak ada bangunan masjid peninggalan sejarah zaman dahulu kala. Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia yang nama Cheng Hoo-nya membayangi bahwa itu nama tokoh sejarah zaman dulu, mestinya mesjidnya juga peninggalan zaman itu, memang tidak benar. Karena bangunan masjid tadi ternyata baru dibangun dan diresmikan tahun 2002. Sebagai orang yang berumur panjang dan ingin tahu sejarah serta menulis pengalaman hidup saya, terjawablah teka-teki yang hinggap di pikiran saya mengenai Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia, yang membuat saya antusias untuk mengikuti ajakan Mbak Paulina Mayasari melakukan Wisata Petjinan Surabaja Suasana Ramadhan 1432 H (2012). Sejarah terus berlangsung, kalau tidak saya tulis, generasi masa depan tidak akan tahu ceritanya. Sejarah bukanlah hanya cerita masa lalu, tetapi juga cerita masa kini untuk digunakan membangun masa depan yang lebih baik, jangan sampai kembali melakukan kesalahan-kesalahan masa lalu yang membuat masa depan semrawut. Sejarah adalah <strong>remembering the past, understanding the present, and preparing the future.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, saya akhiri tulisan ini. Semoga bermanfaat. Surabaya, 10 Agustus 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=936</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
