<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suparto Brata Blog &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://supartobrata.com/?cat=1&#038;feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://supartobrata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jan 2018 08:12:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi tahun 2016</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1279</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1279#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2016 06:28:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1279</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah puji syukur kepada Allah Swt, Ayah kami Almarhum Bapak Suparto Brata termasuk dalam 54 orang yang mendapat Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Kepada Maestro Seni Tradisi Tahun 2016 katagori GELAR TANDA KEHORMATAN (SATYALANCANA) dari Bapak Presiden Republik Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2016/09/penghargaan.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2016/09/penghargaan-206x300.jpg" alt="Anugerah_Kebudayaan_Maestro_Seni_Tradisi_Tahun_2016" title="Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Mestro Seni Tradisi 2016" width="206" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1280" /></a>
<p style="text-align: justify;">
Alhamdulillah puji syukur kepada Allah Swt,  Ayah kami Almarhum Bapak Suparto Brata termasuk dalam 54 orang yang mendapat Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Kepada Maestro Seni Tradisi Tahun 2016 katagori GELAR TANDA KEHORMATAN (SATYALANCANA) dari Bapak Presiden Republik Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan.</p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2016/09/Foto-Anugerah493.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2016/09/Foto-Anugerah493-300x215.jpg" alt="Anugerah_Budaya dan Maestro Seni_2016" title="Foto Anugerah493" width="300" height="215" class="aligncenter size-medium wp-image-1289" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan yang telah memilih Ayah kami sebagai salah satu Maestro Seni Tradisi tahun 2016 dan kepada berbagai pihak yang telah merekomedasikan Ayah kami sebagai salah satu Maestro Seni .</p>
<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2016/09/Anugerah_Kebudayaan_Penghargaan_Kepada_Maestro_Seni_Tradisi_Tahun_2016.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2016/09/Anugerah_Kebudayaan_Penghargaan_Kepada_Maestro_Seni_Tradisi_Tahun_2016-220x300.jpg" alt="Anugerah_Kebudayaan_Penghargaan_Kepada_Maestro_Seni_Tradisi_Tahun_2016" title="Anugerah_Kebudayaan_Penghargaan_Kepada_Maestro_Seni_Tradisi_Tahun_2016" width="220" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1285" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Malam Pemberian Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi tahun 2016 diadakan di TAMAN ISMAIL MARZUKI, Jl. Cikini Raya No. 73, Menteng, Jakarta Pusat pada hari Jum’at tanggal 23 September 2016.</p>
<p style="text-align: justify;">Puncak pada acara pemberian penghargaan adalah penyematan pin mas kepada 54 peserta yang dilakukan oleh Bapak Daryanto yang mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Muhadjir Effendy.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga dengan adanya Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan kepada Maestro Tradisi ini mendorong para budayawan dan seniman untuk lebih termovitasi untuk memajukan budaya dan kesenian Indonesia.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1279</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wasiat Suparto Brata Kepada Anak dan Cucunya</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1241</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1241#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2015 07:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1241</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Desember 2014 Bapak mendapat undangan untuk menjadi Pembicara mengenai Sastra Jawa dari SMA dan SMK Pemalang, karena di Pemalang tidak ada yang kenal dan baru pertama kali kesana maka Bapak di temani dengan Teratai , anak perempuannya. Biasanya kalau mendapat undangan dari kota seperti Solo, Yogya, Bojonegoro, Tulungagung walaupun sudah sepuh Bapak berangkat sendiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bulan Desember 2014 Bapak mendapat undangan untuk menjadi Pembicara mengenai Sastra Jawa dari SMA dan SMK Pemalang, karena di Pemalang tidak ada yang kenal dan baru pertama kali kesana maka Bapak di temani  dengan Teratai , anak perempuannya.  Biasanya kalau mendapat undangan dari kota seperti Solo, Yogya, Bojonegoro, Tulungagung walaupun sudah sepuh Bapak berangkat sendiri dan di kota-kota tersebut Bapak banyak teman.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Pemalang Bapak ingin pergi ke Jakarta untuk menengok Anak dan cucunya.  Kereta Api yang menuju Jakarta hanya berhenti di stasiun Tegal, stasiun Pemalang tidak berhenti. Karena pada waktu itu jembatan yang menghubungkan Pemalang dengan Tegal sedang di perbaiki dan jalan takut macet sehingga tidak bisa mengejar kereta api yang akan ke Jakarta di stasiun Tegal, maka oleh Panitia disarankan naik kereta api reguler dari Pemalang ke Tegal.
<p/>
<p style="text-align: justify;">Sampai di Stasiun Pemalang kereta reguler yang akan menuju ke Tegal segera datang. Loket penjualan Karcis dan pintu masuk stasiun Pemalang tutup tidak ada petugas satupun, Bapak dengan kakinya yang sakit dan Teratai lari-lari sambil menenteng barang bawaan yang begitu berat mencari petugas stasiun.  Petugas Stasiun Pemalang tidak menyangka kalau ada penumpang yang  akan naik, karena jarak Pemalang &#8211; Tegal yang dekat sehingga jarang ada penumpang yang naik dari Stasiun Pemalang.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Stasiun Jatinegara, Bapak saya jemput, dalam perjalanan dari Stasiun Jatinegara ke Bekasi beliau dengan semangat bercerita mengenai kegiatannya dan cita cita yang belum tercapai.  Bagi kami anak-anaknya, kata-kata “sebagai manusia harus gemar membaca dan menulis” adalah makanan sehari-hari kalau ketemu Beliau, mungkin bagi sebagian orang yang sering ketemu dengan Bapak kata-kata itu sangat membosankan.  Mungkin kata-kata tersebut untuk mendorong generasi muda agar senang membaca dan menulis, karena dilihat oleh Bapak generasi muda telah termakan oleh tehnologi seperti Gadget, Handphone, tablet dan sejenisnya, sehingga mereka asyik dengan handphonenya, dari bangun tidur sampai akan tidur.  Untuk menulis sesuatu pun mereka tiggal cari di google, copy paste, selesai.  Itulah yang dikuatirkan oleh Bapak.</p>
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-CJNCAFNC6FY/Vfu6Fd8kTHI/AAAAAAAAA_k/e0kk7evXeug/s320/Srawungku_Karo_Basa_Jawa_Suparto_Brata.jpg" alt="Srawungku Karo Basa Jawa"/></div>
<p style="text-align: justify;">Selama di Bekasi, Bapak sempat mengunjungi temannya yang di Bandung yaitu Bapak Bambang Hidayat dan keponakannya, tak lupa juga mengujungi cucu-cucunya yang di Jl. Elang Malindo X dan di  BSD, Perumahan De Latinos. Kepada saya dan cucu-cucunya Cyntyia, sekarang kuliah di Belanda, dan Eins, Beliau memberi kami sebuah buku berjudul “<strong> SRAWUNGKU KARO SASTRA</strong>” dengan pesan buku ini jangan di buka sebelum aku meninggal dunia.  Pada hari ini 18 September 2015 buku tersebut telah saya buka, dan saya belum sempat membacanya, Insya Allah di lain waktu akan saya sampaikan kepada para pembaca.
<p/>
Tatit Merapi Brata<br />
Email : tatitbrata@gmail.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1241</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunjungan Tamu dari Belanda</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1209</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1209#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2014 03:48:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1209</guid>
		<description><![CDATA[Beste meneer Suparto Brata, In de e-mail die meneer Bambang Hidayat stuurde zag ik uw e-mail adres en besloot u een bericht te sturen. Hoe gaat het met u, apa kabar? Hierbij de leuke foto die we maakten toen ik met Ady Setyawan u bezocht: Afgelopen vrijdag stond er een artikel over mijn werk in [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beste meneer Suparto Brata,<br />
In de e-mail die meneer Bambang Hidayat stuurde zag ik uw e-mail adres en besloot u een bericht te sturen. </p>
<p>Hoe gaat het met u, apa kabar?<br />
Hierbij de leuke foto die we maakten toen ik met Ady Setyawan u bezocht:<br />
<img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-VaczJmQCyOU/VAPrtBvqAlI/AAAAAAAAA8k/PfbGicR0cFg/s320/asd.jpg" /></p>
<p/>
Afgelopen vrijdag stond er een artikel over mijn werk in de Nederlandse krant &#8216;NRC Handelsblad&#8217;.<br />
Het gaat over een massagraf op Madoera uit 1947, dit verhaal heb ik uitgezocht samen met Ady.<br />
Onderaan deze e-mail kunt u het hele stuk lezen. </p>
<p>In het Nederlands of in het Engels. Later zal ik het ook in het Indonesisch laten vertalen.<br />
Ik ben benieuwd of u ooit over deze gebeurtenis hebt gehoord?</p>
<p>Salam hangat,<br />
Marjolein van Pagee</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1209</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paguyuban Pengarang Sastra Jawa</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1198</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1198#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2014 05:46:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1198</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-j2RvrZMEyg4/U-r6SIOU6fI/AAAAAAAAA7o/QBYAz0wMwi8/s320/Suparto_Brata_PPJS.jpg" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1198</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KATRESNAN KANG ANGKER</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1188</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1188#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jun 2014 02:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1188</guid>
		<description><![CDATA[Urip mawa katresnan iku angker, gawat, ngemu dosa, ora praktis, ngruntuhake bebrayan donya. Dhek biyen kene iki wong murka, marga urip nandhang katresnan. Saiki sakathahe katresnan marang wong liya-liya diilangi kabeh wae. Katresnan kita iki, anaku mung kowe, anamu mung aku. Dheweke tresna marang kowe, tresna kang paling suci, tresnane seniman. Dheweke wani kurban apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-kt0fj0ITvh0/U5u2USDxVjI/AAAAAAAAAwI/MmAlTY1Q6lA/s320/Katresnan_Kang_Angker.jpg" border="0" alt="Katresnan Kang Angker" /></div>
<p style="text-align: justify;">Urip mawa katresnan iku angker, gawat, ngemu dosa, ora praktis, ngruntuhake bebrayan donya. Dhek biyen kene iki wong murka, marga urip nandhang katresnan. Saiki sakathahe katresnan marang wong liya-liya diilangi kabeh wae. Katresnan kita iki, anaku mung kowe, anamu mung aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dheweke tresna marang kowe, tresna kang paling suci, tresnane seniman. Dheweke wani kurban apa wae kanggo mbelani kowe, kanggo kasenenganmu. Delengen tangane kang abang gluprut getih iku. Iku uga bukti katresnane. Tampanana. Yen ora, kowe deksiya, kowe nyiksa dheweke.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasugihan iku apa kanggo wong urip? Kasugihan iku mung bandha lair. Bandha batin kang marakake urip iki krasa seger, nuwuhake semangat, iku katresnan, tresna asmara. Tanpa kuwi urip iki dudu apa-apa, urip iki muspra!</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kudu nampani paukuman. Aku pasrah, mlebu bui salawase daklakoni. Nanging aku rumangsa menang bisa mungkasi reregeding donya lan katresnanku keetampan. Aku menang!</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Buku karangane Pèni iki bisa dipundhut liwat:<br />
Ibu Guru Rini, HP +628157704313</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1188</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Potions &amp; Paper Cranes (Gadis Kembang Jepun)</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1146</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1146#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Dec 2013 22:11:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1146</guid>
		<description><![CDATA[Potions &#38; Paper Cranes (trans. Gadis Kembang Jepun) with Lian Gouw (Dalang Publishing) Friday 29 November 2013, 18.30 – 21.00 C2O library, Jl. Dr. Cipto 20, Surabaya 60264 A stark, honest portrayal of cursed love during the Japanese occupation of Java and the struggle for Indonesian independence. Sulis is a young woman selling potions in Surabaya’s harbor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Potions &amp; Paper Cranes</strong> (trans. <em>Gadis Kembang Jepun</em>)<br />
with Lian Gouw (Dalang Publishing)</p>
<p>Friday 29 November 2013, 18.30 – 21.00<br />
C2O library, Jl. Dr. Cipto 20, Surabaya 60264</p>
<p><em>A stark, honest portrayal of cursed love during the Japanese occupation of Java and the struggle for Indonesian independence.</em></p>
<p>Sulis is a young woman selling potions in Surabaya’s harbor district. She meets Sujono, a coolie with dreams of becoming a freedom fighter, and whose passion for Matsumi, a geisha called to Java by a Japanese general, is destined to ruin all of them. In <em>Potions and Paper Cranes</em>, each tells the story of their lives during the end of World War II and Indonesia’s transition from a Dutch colony to an independent republic.</p>
<p>***</p>
<p>Award-winning, late author Lan Fang began publishing short stories in teen magazines. She soon graduated to novels and became renowned for her intense first person narratives about women in ethnic and culture conflicts. Critics have praised Lan Fang for her ability to cross the borders of gender, race, and religion. She passed away at the age of forty-one, leaving behind nine novels and many short stories much loved by readers around the world.</p>
<p>Japan and Java clash and intertwine in Lan Fang’s <em>Potions and Paper Cranes, </em>set in the old commercial center of Surabaya during the Second World War. Themes of domestic violence, misplaced romance, passionate sex, separation, and reunion drive the narrative, but it is the fate of women and children in war that is at the heart the novel. The story is told with lush and unashamedly melodramatic emotion yet remains memorably authentic. Ultimately <em>Potions and Paper Cranes </em>affirms the fragility of hatred, and the capacity of memory and love to endure a lifetime of separation.<br />
— George Quinn, Adjunct Professor, College of Asia and the Pacific, Australian National University</p>
<p>A sensitive translation of a novel that is by turns profoundly emotional and deeply violent.<br />
— Harry Aveling, Associate Professor of Asian Studies, La Trobe University, Melbourne, Australia</p>
<p><em>Potions and Paper Cranes </em>breaks the popular romance mold through its narrative strategy to give each character a voice…making the fictional world more complex than just a black and white dichotomy. Underneath the novel is a critique against the chauvinistic, masculine nationalist paradigm that sanctions violence against women and breaks families. Written by an Indonesian female of Chinese descent about the WWII era, the novel opens up rich material to uncover issues of historical memory, representations, identity, and transnational engagement.<br />
— Melani Budianta, Professor of Literary and Cultural Studies, Faculty of Humanities, University of Indonesia</p>
<p>INFO:<br />
info@c2o-library.net<br />
Telp +62 816 1522 1216</p>
<p>The post <a href="http://c2o-library.us6.list-manage.com/track/click?u=cd7b97cfda8ffc39d79e6dc3d&amp;id=d3fac6a691&amp;e=e14fb470dd" target="_blank">Potions &amp; Paper Cranes (Gadis Kembang Jepun)</a> appeared first on <a href="http://c2o-library.us6.list-manage.com/track/click?u=cd7b97cfda8ffc39d79e6dc3d&amp;id=746e1a17c3&amp;e=e14fb470dd" target="_blank">c2o library &amp; collabtive</a>.</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="600">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="600" align="left">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">Copyright © 2013 c2o library &amp; collabtive.<br />
Some rights reserved under <a href="http://c2o-library.us6.list-manage.com/track/click?u=cd7b97cfda8ffc39d79e6dc3d&amp;id=eabbd3744b&amp;e=e14fb470dd" target="_blank">Creative Commons BY-NC-SA 3.0</a>.</p>
<p><strong>Our mailing address is:</strong></p>
<p>c2o library &amp; collabtive</p>
<p>Jl. Dr. Cipto 20</p>
<p>Surabaya 60264</p>
<p>Indonesia<br />
<a href="http://c2o-library.us6.list-manage2.com/vcard?u=cd7b97cfda8ffc39d79e6dc3d&amp;id=d5246a7551" target="_blank">Add us to your address book</a></p>
<p>Email ini dikirim kepada semua kawan dan anggota C2O, atau karena Anda       mendaftarkan email Anda di situs kami. You are receiving this email       because you are registered as C2O members and friends, or because you       signed up for subscription through our website.<br />
<a href="http://c2o-library.us6.list-manage.com/unsubscribe?u=cd7b97cfda8ffc39d79e6dc3d&amp;id=d5246a7551&amp;e=e14fb470dd&amp;c=d814496c2e" target="_blank">unsubscribe from this list</a> <a href="http://c2o-library.us6.list-manage.com/profile?u=cd7b97cfda8ffc39d79e6dc3d&amp;id=d5246a7551&amp;e=e14fb470dd" target="_blank">update subscription preferences</a></p>
<p><a href="http://www.mailchimp.com/monkey-rewards/?utm_source=freemium_newsletter&amp;utm_medium=email&amp;utm_campaign=monkey_rewards&amp;aid=cd7b97cfda8ffc39d79e6dc3d&amp;afl=1" target="_blank"> </a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Tanggapan   Bedah Buku Potions &amp; Paper Cranes</span></strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Mbak Juliana, penyelenggara perpustakaan C2O, yth,</p>
<p>Mbak, sayang sekali saya tidak bisa ikut hadir pada bedah buku Potions &amp; Paper Cranes (Gadis Kembang Jepun) undangan di atas. Buku tersebut terjemahan dari buku karya Lan Fang, yang judul aselinya Perempuan Kembang Jepun, diterbitkan PT.Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2006. Saya memang belum tahu dan belum baca buku terjemahannya yang dibedah di C2O tadi. Tapi kalau itu terjemahan dari Perempuan Kembang Jepun, ada yang penting mau saya katakan. Yaitu almarhumah Lan Fang, suatu hari datang ke rumah saya, menyerahkan bundel naskah, untuk saya baca dan saya beri endorsement atau setidaknya komentar, karena naskah tadi akan diterbitkan jadi buku. Lan Fang setelah menyerahkan langsung pulang, mau kembali ambil komentar saya beberapa hari lagi. Setelah naskah saya baca, tidak lain ya naskah novel Perempuan Kembang Jepun itu. Lan Fang datang lagi ke rumah saya. Saya tidak dapat memberikan endorsement, tapi saya beri catatan-catatan saja yang berujud kritik. Saya terangkan kepada Lan Fang, bahwa banyak cerita yang menyalahi fakta sejarah. Sedikitnya ada tiga yang masih saya ingat keberatan saya tentang cerita Perempuan Kembang Jepun itu. Yaitu:</p>
<p>(1). Tokoh utama novel tadi, Sujono. Setelah bertengkar dengan isterinya memecahi botol jualan jamunya, sehingga isterinya tidak bisa lagi jual jamu cari uang, maka Sujono kembali mau bekerja mencari uang menjadi kuli angkutan gelondongan kain cita pada Babah Oen, orang Cina yang punya toko kain itu. Itu terjadi pada zaman Jepang. Pada zaman Jepang (1942-1945) tidak ada lagi toko buka, lebih-lebih toko cita. Tidak ada. Kain cita dan pakaian amat sulit didapat, yang bisa dijual-belikan hanya pakaian bekas, itupun tidak di toko. Jadi pekerjaan Sujono pada zaman Jepang tidak mungkin jadi kuli tukang angkut kain cita. Dengan jadi kuli tukang angkut kain tadi akhirnya Sujono dipertemukan dengan Tjoa Kim Hwa, gadis geisha Jepang yang menyamar jadi perempuan Cina di Kembang Jepun Surabaya.</p>
<p>(2) Sulis, isteri Sujono, yang pekerjaannya sejak perawan menjadi penjual jamu gendong di Surabaya, disebutkan berasal dari Blitar. Orang jual jamu gendong sejak dulu di mana saja berasal dari Sukoharjo-Wonogiri. Bukan dari Blitar.</p>
<p>(3) Pada zaman Jepang, nama-nama jalan di Surabaya masih nama zaman Hindia Belanda. Jalan Coklat namanya masih Tee Pee Kong straat. Jalan Karet namanya masih Chinees-voor straat. Nama jalan Coklat dan Karet baru menggantikan pada tahun 1977. Nama Jalan Karet, pernah diubah menjadi Jalan Petjinan Kulon (1950-1977).</p>
<p>Selain itu juga ada beberapa perbuatan atau peristiwa yang tidak mungkin dilakukan pada zaman Jepang. Misalnya di dapur ada kompor. Kompor minyak tanah, baru ada tahun 1952. Pada zaman Jepang minyak tanah hampir tidak ada. Didistribusikan dengan menunjukkan kupon keluarga, itupun hanya untuk menyalakan lampu teplok atau pelita. Dan pelitanya malam hari ketika menyala harus dikerobongi sehingga sinarnya tidak sampai keluar rumah. Surabaya malam hari gelap gulita. Sinar lampu tidak boleh keluar rumah, dikhawatirkan akan terlihat dari pesawat terbang musuh (Amerika) yang sering mengadakan serangan malam hari ke daerah yang diduduki oleh Balatentara Dai Nippon 1942-1945.</p>
<p>Ya, meskipun novel adalah hasil pemikiran seorang pengarang, tidak harus fakta sejarah, namun karena populernya novel tadi (secara sastera Perempuan Kembang Jepun memang bagus sekali), bisa saja pembaca terpengaruh bahwa begitulah fakta sejarah yang ada. Karena novel Lan Fang ini tempat dan waktunya jelas, yaitu Kembang Jepun Surabaya pada zaman Jepang, sedangkan Kota Surabaya menjadi suatu kota yang amat penting di dunia, yaitu kota yang penduduk aselinya (Arek-arek Surabaya) berhasil mempelopori gerakan melawan bersenjata terhadap bangsa penjajahnya (kolonialis Belanda), dan berhasil memerdekakan negaranya Indonesia. Gerakan melawan penjajahan itu tahun-tahun berikutnya juga diikuti oleh bangsa-bangsa lain di Asia dan Afrika yang negaranya juga dijajah oleh bangsa lain, maka bangsa-bangsa Asia dan Afrika tahun-tahun berikut (1945-1965) bersama pada memperjuangkan kemerdekaan negaranya masing-masing, sehingga semua negara jajahan di dunia ini merdeka, kolonialisme lenyap dari dunia! Arek-arek Surabaya menjadi pelopornya, yaitu dari awal penyobekan warna biru bendera Belanda di Oranje Hotel pada tanggal 19 September 1945 yang langsung berakibat dengan perlawanan patriotik Pertempuran 10 November 1945, yang meraih Kota Surabaya menjadi Kota Pahlawan. Begitu pentingnya Kota Surabaya ini hadir di dunia, maka  banyak sekali para akademisi maupun orang awam meneliti riwayat maupun sejarah kota ini. Begitu pentingnya cerita masa lalu Surabaya ini, maka perlu cerita almarhumah Lan Fang ini saya beri catatan.</p>
<p>Saya sendiri telah menulis Surabaya Zaman Jepang, itupun saya tulis dari pengalaman saya waktu zaman Jepang hidup di Surabaya, yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan. Tapi tidak selalu bisa dibuktikan lewat artefak, dokumen resmi maupun buku-buku penelitian sejarah sahih. Jadi sangat mungkin tulisan saya tadi juga tidak akurat. Namun begitu yang saya alami itu saya tulis, sebab yang saya alami itu tidak akan dialami oleh orang-orang sesudah saya. Termasuk para akademisi peneliti sejarah, termasuk almarhumah Lan Fang. Maka kalau ada yang tidak sesuai dengan pengalaman saya, perlu saya beri catatan, agar para peminat sejarah Surabaya tidak salah membayangkan bagaimana Kota Surabaya pada zaman Jepang. Namun tiap penulisan sejarah, bagaimana pun juga tetap belum tentu benar, oleh karenanya saya terus menganjurkan agar penelitian sejarah maupun penulisan sejarah (terutama Kota Surabaya) digiatkan terus, lebih banyak yang menulis lebih banyak orang tahu wujud Kota Surabaya masa lampau yang sebenarnya. Mengetahui masa lampau memberikan pengetahuan masa kini, bisa digunakan untuk merencanakan hidup masa depan agar lebih baik daripada masa-masa lalu. Itulah perlunya diperbanyak penulisan sejarah.</p>
<p>Demikian tanggapanku tentang bukunya Lan Fang Perempuan Kembang Jepun tadi. Semoga menjadi perhatian para yang menghadiri bedah buku C2O, Jumat 29 November 2013 dan para pemerhati buku-buku sejarah Surabaya, fiksi maupun fakta, lainnya. Terima kasih.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Suparto Brata.</span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1146</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEPAHLAWANAN TERGUSUR OLEH KEKUASAAN DAN KEKAYAAN</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1135</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1135#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Nov 2013 03:15:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1135</guid>
		<description><![CDATA[Suparto Brata tak hanya rajin mencatat sejarah perjuangan arek-arek Surabaya.  Eyang 81 tahun itu juga masih aktif mengikuti berbagai diskusi dengan berbagai kalangan di Surabaya. Hany Akasa/Lambertus Hurek, Wartawan Radar Surabaya Kemarin siang (9/11) Suparto Brata menjadi salah satu penanggap dalam diskusi di sela pameran foto jurnalistik Ipphos di House of Sampoerna, Surabaya. Pria yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/Suparto-Brata-Kepahlawanan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1138" title="Suparto-Brata-Kepahlawanan" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/Suparto-Brata-Kepahlawanan-279x300.jpg" alt="Suparto Brata Kepahlawanan Tergusur" width="279" height="300" /></a></p>
<p><strong>Suparto Brata tak hanya rajin mencatat sejarah perjuangan arek-arek Surabaya.  Eyang 81 tahun itu juga masih aktif mengikuti berbagai diskusi dengan berbagai kalangan di Surabaya.</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Hany Akasa/Lambertus Hurek, Wartawan Radar Surabaya</span></strong></p>
<p>Kemarin siang (9/11) Suparto Brata menjadi salah satu penanggap dalam diskusi di sela pameran foto jurnalistik Ipphos di House of Sampoerna, Surabaya. Pria yang sudah menerbitkan 160 judul buku tersebut kembali menyampaikan kegundahannya tentang lunturnya semangat kepahlawanan di negeri ini.</p>
<p>Berikut petikan percakapan santai <em>Radar Surabaya </em>dengan Suparto Brata sembari menikmati jajan pasar di ruang serbaguna House of Sampoerna, Surabaya.</p>
<p><strong>Apa yang Anda kenang dari peristiwa 10 November 1945?</strong></p>
<p>Itu peristiwa heroik yang luar biasa. Arek-arek Surabaya secara spontan melawan tentara sekutu yang ingin mengembalikan penjajahan di tanah air. Semangat antipenjajahan sangat terasa saat itu. Arek-arek Surabaya berjuang tanpa rasa takut. Itu peristiwa yang membawa dampak sejarah. Tidak saja bagi Indonesia, tapi juga bagi negara-negara lain yang saat itu masih dijajah oleh kekuasaan asing.</p>
<p><strong>Waktu itu, Anda berusia berapa tahun? Apakah Anda tidak takut melihat suasana perang yang dahsyat di Surabaya?</strong></p>
<p>Saya saat itu berusia 12 tahun, masih anak-anak. Saya bersama ibu saya tinggal di Gresikan II/23 dan kakak saya yang berusia 10 tahun lebih tua daripada saya. Ya, tentu saja kami sangat ketakutan karena suasana sangat genting. Semua warga sipil yang tidak ikut berperang diperintah untuk mengungsi ke luar kota. Ke mana saja asal keluar dari Surabaya yang terus dibombardir oleh pihak sekutu.</p>
<p><strong>Evakuasi penduduk ke luar kota ini berlangsung berapa hari?</strong></p>
<p>Sekitar tiga minggu. Tepatnya 18 hari. Pada 28 November 1945, Kota Surabaya sudah kosong. Tinggal para pejuang. BKR (Badan Keamanan Rakyat), dan laskar-laskar yang terus bertempur melawan sekutu.</p>
<p><strong>Anda sendiri mengungsi ke mana?</strong></p>
<p>Probolinggo. Waktu itu, penduduk Surabaya dievakuasi dengan keretaapi. Ada petugas khusus yang disebut BOO (Barisan Oesoeng-Oesoeng) mengurusi evakuasi penduduk ke luar Surabaya. BOO hanya mendampingi sampai di Gedangan, Sidoarjo. Kemudian, kami menunggu keretaapi lain yang akan membawa pengungsi ke berbagai kota di Jawa Timur. Di tengah jalan ada warga yang turun ke tempat tinggal familinya. Kami terus ke Probolinggo.</p>
<p><strong>Ada rumah keluarga di sana?</strong></p>
<p>Tidak ada. Kami ditempatkan di kantor listrik (semacam PLN sekarang) karena kakak saya, Suwondo, bekerja di jawatan listrik di Surabaya. Di situ sudah disediakan tempat pengungsian dalam jumlah cukup besar. Nah, suasana pertempuran 10 November mencekam di Surabaya. Kemudian, pengungsian masal warga Surabaya ini saya tulis menjadi novel <em>Republik Jungkir Balik.</em></p>
<p><strong>Novel itu ditulis dengan berdasar pada kisah nyata, <em>true story?</em></strong></p>
<p>Buku <em>Republik Jungkir Balik </em>itu tetap cerita fiktif, rekaan saya, namun dibebani data dan fakta sejarah. Kefiktifan cerita saya pertahankan agar mudah memikat serta terserap untuk dibaca dan pembaca tahu akan sejarah bangsa. Menilik sejarahnya, negara Republik Indonesia ini dibangun dengan cita-cita luhur memerdekakan dan memakmurkan bangsa, memperbaiki moral dan budaya bangsa, serta membangun negara yang setara dengan negara-negara maju.</p>
<p>Perjuangan untuk mewujudkan Indonesia merdeka itu dengan mengorbankan jiwa, raga, harta benda, tempat tinggal, dan kesejahteraan keluarga. Berkorban dan menderita saat itu untuk masa mendatang. Korban memang berjatuhan saat itu. <em>Republik (Indonesia) Jungkir Balik </em>bukan kata sindiran.</p>
<p><strong>Anda sering menyebut bahwa heroisme warga Surabaya sebetulnya sudah terlihat sebelum 10 November 1945. Bisa dijelaskan secara singkat?</strong></p>
<p>Begini. Ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta, pemerintahan kolonial Jepang masih bercokol di tanah air. Informasi bahwa Indonesia sudah merdeka sudah menyebar ke mana-mana, termasuk ke Surabaya. Maka, arek-arek Surabaya yang dipimpin Abdul Wahab, komandan BKR Karesidenan Surabaya dan Hariyo Kecik (Soeharjo Padmowirjo) merebut senjata Jepang. Semua senjata Jepang di markas-maskas tentara Jepang bisa dikuasai dalam satu malam, tinggal di Markas Kenpeitai (sekarang Tugu Pahlawan) dan Kaigun (Angkatan Laut Jepang) Gubeng (sekarang jadi Grand City) yang tetap mempertahankan senjatanya. Terpaksa harus direbut dengan kekerasan, diserbu. Abdul Wahab memimpin perebutan senjata di Markas Kenpeitai (markas pulisi tentara Jepang). Namun dia kena tembak pahanya. Meskipun akhirnya Markas Kenpeitai Jepang bisa ditaklukkan, Abdul Wahab tidak bisa meneruskan kepemimpinannya sebagai Komandan BKR Karesidenan Surabaya. Dan yang menguasai Markas Kenpeitai Jepang (sekarang Tugu Pahlawan) adalah Hariyo Kecik. Untuk sementara gedung Markas Kenpeitai dibagi dua, sisi utara untuk sisa-sisa Kenpeitai Jepang (nonaktif), sisi selatan gedung dipakai oleh Hariyo Kecik, yang diangkat jadi Wakil Komandan Polisi Keamanan Rakyat (kemudian jadi PTKR = Polisi Tentara Keamanan Rakyat). Pendudukan Markas Kenpeitai itu terjadi pada akhir September 1945.</p>
<p>Nah, pada 19 September 1945, sebelum peristiwa perebutan senjata di Kenpeitai itu, terjadi peristiwa penyobekan bendera di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit), Jalan Tunjungan, oleh arek-arek Surabaya. Warga Surabaya sangat marah karena di atas hotel itu dikibarkan bendera Belanda, merah putih biru. Padahal Indonesia sudah merdeka satu bulan yang lalu. Peristiwa itu kemudian menjadi inspirasi bagi negara-negara lain yang masih dijajah negara asing. Jadi, menurut saya, arek-arek Surabaya ini menyebarkan semangat kepada bangsa-bangsa lain untuk bangkit melawan penjajahan di muka bumi ini. Dimulai di Surabaya 19 September 1945 suatu bangsa yang telah terjajah ratusan tahun, memberontak melawan bangsa penjajahnya dengan kekerasan bersenjata untuk merdeka, hingga terjadilah perang kemerdekaan. Pemberontakan untuk merdeka di Surabaya tadi segera menular ke negara-negara lain di Asia dan Afrika yang juga dijajah oleh bangsa lain. Dan akhirnya perjuangan kemerdekaan negara-negara terjajah Indonesia, Vietnam, Cambodia, Burma, India, Malaya, dan negara-negara terjajah di Afrika itu berhasil jadi negara merdeka. Terhapuslah kolonialisme di muka bumi, perjuangannya dimulai dari penyobekan bendera bangsa kolonialist oleh arek-arek Surabaya 19 September 1945 di Hotel Yamato Surabaya!</p>
<p><strong>Menurut Anda, apakah semangat kepahlawanan, berjuang tanpa pamrih, dan pengorbanan yang habis-habisan seperti pada 10 November 1945 masih ada di Indonesia saat ini?</strong></p>
<p>Sayang sekali, semangat kepahlawanan itu sudah sangat kurang, bahkan tidak ada lagi. Yang ada sekarang ini adalah semangat untuk mencari kekuasaan dan kekayaan. Makanya, begitu banyak orang yang berlomba-lomba menjadi calon anggota dewan, pejabat dan sebagainya supaya punya kekuasaan. Nah, setelah punya kekuasaan, dia memanfaatkannya untuk mendapat kekayaan sebanyak-banyaknya. Karena itu, korupsi semakin menjadi-jadi di Indonesia.</p>
<p><strong>Mengapa bisa terjadi krisis semangat kepahlawanan seperti sekarang?</strong></p>
<p>Karena rakyat Indonesia sekarang merebut kemakmuran hidupnya tidak disaranai membaca buku. Mana ada orang-orang sekarang yang mau membaca buku-buku sejarah?</p>
<p>Itu tidak lepas dari kebijakan pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang tidak gencar mengajari murid-murid di sekolah untuk membaca buku. Karena bisa hidup meskipun dengan perjuangan kekerasan (kebodohan dan kemiskinan), orang Indonesia hanya hidup untuk masa kini dan masa mendatang. Tidak membaca sejarah, maka mereka selalu melakukan ulang kegagalan-kegagalan hidup bernegara para generasi yang lalu. Bagaimana generasi muda kita bisa tahu dan paham nilai-nilai kepahlawanan kalau tidak membaca buku? Susah kalau orang-orang sekarang hanya mencari kekuasaan dan kekayaan saja.</p>
<p><strong>Kedengarannya Anda kecewa dengan situasi sekarang. Tapi, mengapa Anda masih rajin menulis buku-buku fiksi dan nonfiksi yang berlatar sejarah?</strong></p>
<p>Saya ini mendapat karunia umur panjang dari Gusti Allah. Ada tiga amanah dari Allah yang harus saya lakoni. Pertama, saya masih sehat walafiat meskipun sudah berusia 81 tahun. Kedua, saya bisa bebas memilih untuk melakukan apa saja. Kalau diundang pejabat atau siapa pun, saya bebas untuk tidak datang dan bebas untuk datang. Ketiga, saya diberi kemampuan untuk membaca dan menulis buku yang mungkin berguna untuk orang lain. Maka, tiga amanah itu harus selalu saya jalani agar generasi muda tidak melupakan sejarah. Persoalannya, mau membaca atau tidak, putera bangsa Indonesia ini?</p>
<p><strong>Dikutip dari <em>RADAR SURABAYA, </em>Minggu 10 November 2013.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1135</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Begawan Sastra Yang Gaul</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1114</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1114#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Nov 2013 00:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1114</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-brata.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1133" title="suparto brata" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-brata-211x300.jpg" alt="Begawan Sastra yang gaul" width="211" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1114</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenang-kenangan Djatuhnja Jogya 19 Desember 1948:</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1127</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1127#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Nov 2013 00:45:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1127</guid>
		<description><![CDATA[DJATUHNJA LAPANGAN TERBANG MAGUWO Tanggal 19 Desember 1948 tentara Belanda dengan mendadak menjerbu ibukota RI Jogjakarta. Delegasi Belanda telah meninggalkan tempat perundingan di Kaliurang jang dapat dikatakan belum selesai. Komisi Tiga Negara, begitupun delegasi Indonesia masih di Kaloiurang. Pemerintah RI hari 18 Desember 1948 masih menerima kabar, bahwa Konsul Djendral Inggris tgl 19 Desember pagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>DJATUHNJA LAPANGAN TERBANG MAGUWO</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tanggal 19 Desember 1948 tentara Belanda dengan mendadak menjerbu ibukota RI Jogjakarta. Delegasi Belanda telah meninggalkan tempat perundingan di Kaliurang jang dapat dikatakan belum selesai. Komisi Tiga Negara, begitupun delegasi Indonesia masih di Kaloiurang. Pemerintah RI hari 18 Desember 1948 masih menerima kabar, bahwa Konsul Djendral Inggris tgl 19 Desember pagi akan datang di Jogja untuk mentjari djalan keluar dan mengatasi ketegangan jang timbul dalam perundingan di Kaliurang waktu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari sebelumnja ada diumumkan dengan resmi akan adanja latihan perang. Bahkan Presiden Sukarno menurut rentjana hari itu pula akan bertolak ke India.</p>
<p>Mengingat faktor2 ini, maka bukan tidak mustahil kalau banjak orang sekali2 tidak menduga2 akan adanja penjerbuan itu.</p>
<p>Apa jang terdjadi, banjak orang sudah mendjadi kenang-kenangan jang kabur, bagi orang-orang lain masih tertjatat dengan tadjam dalam ingatan. Banjak airmata dan darah mengalir, tapi sang tempo jang maha-murah telah berhasil melunakkan kepedihan2 dari masa jang silam ini.</p>
<p>Ada menarik djuga kenjataan bahwa tjatatan orang-orang jang berada dikota Jogja waktu itu, banjak jg sudah terlupa, sebaliknja sering hal2 jang ketjil diingatkannja. Djuga karena orang2 itu menjaksikannja dari tempat2 jang berlainan atau hanja karena mendengarnja dari berbagai2 fihak, maka sering tjerita2nja berlainan.</p>
<p>Tjatatan kisah2 ini adalah dokumen pribadi jang dihimpun pada tahun 1955, alias 7 tahun setelah peristiwa Jogja diserbu tentara Belanda pada tanggal 19 Desember 1948.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Sastrosuwito, seorang kepala dukuh dalam desa Maguwohardjo, tidak djauh dari lapang terbang Maguwo menjaksikan dari dekat pagi2 serangan pesawat2 Belanda, jg bukan sadja ditujukan pada lapangterbang, djuga desa2 disekitarnja.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menuturkan kesan2nja sbb:</p>
<p style="text-align: justify;">“Kl. djam 5.30 kapal terbang tampak terbang berkeliling,  semakin lama semakin lebar lingkarannja. Semua tidak saja duga sama sekali bahwa itu adalah pesawat2 terbang Belanda. Maklum masih agak remang2. Dan lagi pula, hari itu katanja akan ada latihan perang. Pula Bung Karno kabarnja akan berangkat ke India.<br />
Pesawat2 terbang jang mula2 muntjul ialah pemburu2, tjotjor merah. Tidak antara lama berkeliling2 itu, sekonjong mereka menembak2, menghambur2-kan pelurunja. Seketika saja tahu, itu pesawat musuh. Pesawat terbang jang saja saksikan datangnja dalam 3 gelombang. Pertama2 pemburu, kemudian pembom, dan jang mendjatuhkan pajung2 udara.<br />
Peluru dan bom djatuh dan meledak berserakan. Rakjat waktu itu sebagian ada jang segera masuk lobang perlindungan, jang memang telah lama tersedia. Djuga tidak sedikit jang segera mengungsi.<br />
Saja tidak tahu lagi apa jang terdjadi sesudah djam 08.30. Karena pada waktu itu saja segera keluar desa menudju utara. Ini terdorong oleh gelagat2 jang tidak enak, terutama ketika saja melihat pesawat2 itu tidak hanja memuntahkan peluru, tapi djuga mendjatuhkan parasut2,  jang ternjata bukan hanja membawa barang, tapi djuga pasukan2.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p style="text-align: justify;">George Mc. Turnan Kahin dalam bukunja “Nationalism and Revolution ing Indonesia” (terbitan Cornell University Press) menulis:</p>
<p>“Kabar pertama tentang pelanggaran Persetudjuan Renville jang dilakukan oleh Belanda, diterima di Jogjakarta pada djam setengah enam pagi, dengan adanja penjerangan2 atas lapangan terbang Maguwo. Kapal2 terbang pembom Mitchell menghantjurkan seluruh pasukan jang sedang bertugas dilapangan terbang Maguwo, dalam satu djam. Kemudian k.l. 900 parasutyis Belanda turun kebawah dan menguasai lapangan terbang ini. Sesudah itu mengalirlah pasukan2 Belanda dengan perbekalannja, dari pangkalan udara Belanda dekat Semarang k.l. 80 mil dari Jogjakarta&#8230;.”</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p style="text-align: justify;">Sugiono dalam buku “Kissah djatuhnja ibu kota Republik Indonesia: Jogjakarta” (penerbitan “Nusantara” Jogjakarta) menulis:</p>
<p>“Lapangan terbang Maguwo sedjak pagi itu telah dikepung oleh pembom2 Belanda jg kemudian menghantjurkan bangunan2 jang berada disekitar lapangan tersebut, antara lain gedung2 asrama keluarga anggota2 Angkatan Udara.</p>
<p>Banjak pula diantara mereka jang mendjadi korban keganasan pembom2 Belanda ini, baik jang mati maupun jang menderita luka2.</p>
<p>Seorang ibu terpaksa melahirkan anak ditengah2 djalan, meskipun belum waktunja lahir, disebabkan oleh karena terkedjut dan terpaksa harus lari dalam djarak djauh.</p>
<p>Banjak pula diantara pradjurit2 pengawal lapangan terbang tersebut gugur akibat serangan2 jang dahsjat dari pembom2 Belanda. Mereka mempertahankan Maguwo hingga peluru jang penghabisan dan achirnja hingga gugur sebagai pahlawan bangsa”.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p style="text-align: justify;">“Buku peringtatan “Sewindu AURI” jang dikeluarkan oleh MB Auri dalam tahun 1954 menulis tentang peristiwa ini sbb:</p>
<p>“Dengan setjara mendadak pada tgl. 19 Desember dilakukan serangan udara terhadap lapangan terbang Maguwo dan kemudian menduduki ibu-kota Jogja.</p>
<p>Pangkalan Maguwo dipertahankan oleh Kadet Udara Kasmiran dengan djumlah anggauta jang lebih ketjil daripada musuh jang diturunkan dari udara, setelah mereka melakukan penembakan dan pemboman.</p>
<p>Namun meskipun begitu ia tetap bertahan dan gugur sebagai kusuma bangsa bersama dengan praktis semua anggauta2 bawahannja, baik militer maupun sipil.</p>
<p>Sebuah pesawat terbang lalu-lintas “De Havilland” 86 jang baru dibeli oleh Republik dan jang masih berada di Maguwo dibawa oleh Belanda ke Andir.</p>
<p>Selain dari itu pada tgl. 19 Desember djatuh djuga ketangan musuh sebuah Catalina kepunjaan James Felming dengan nomor pendaftaran Republik RI-006. Ia mendarat dengan tidak setahu tentang adanja peristiwa penjerangan dan pendudukan Maguwo oleh Belanda”.</p>
<p style="text-align: center;">*<br />
<strong>PRESIDEN R.I. DITANGKAP</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bekas pelajan Istana:</strong></p>
<p>Sdr2 Gendon, Giman dan Kabul adalah bekas pelajan Istana negara jang kini masih bekerdja di Gedung Negara, bekas istana tsb. Mereka termasuk diantara 5 orang pelajan jang ikut tertawan pada saat itu. Mereka menuturkan apa jang mereka saksikan pada saat2 genting itu sbb:</p>
<p>“Sekalipun kapal2 terbang Belanda meraung2 dan menjemburkan peluru mautnja, keadaan di Istana dapat dikatakan tenang. Tiap pelajan melakukan kewadjiban masing2 seperti hari2 biasa, dengan diselang-seling masuk lobang perlindungan. Banjak pembesar2 waktu itu berkumpul, bersidang diruang belakang.<br />
Dari seluruh bangunan kompleks Istana hanja satu bagian sadja rusak genting2nja, karena kedjatuhan mortir. Untung tidak ada korban djatuh.</p>
<p>Tembak menembak seru siang hari terdjadi didepan Istana, sampai dikibarkan bendera putih tanda menjerah. Itu waktu kl. pukul 15.00. Tentara Belanda mulai memasuki Istana. Ada sementara pelajan jang dapat meloloskan diri.</p>
<p>Saja waktu itu sebetulnja sudah berhasil keluar Istana, demikian sdr. Giman. Tapi serenta mendengar perintah berkumpul bagi pasukan2 pengawal, saja ikut kembali masuk. Saja tidak tahu bahwa sudah menjerah, dan dengan begitu saja ikut tertawan, bersama dgn 4 orang pelajan lainnja, ialah Gendon, Kabul, Martosuhardjo dan Gondopawiro, jang tidak sempat lagi meloloskan diri.</p>
<p>Mereka menjaksikan pula Presiden dan Wakil Presiden diangkut dengan jeep oleh Belanda keluar dari Istana hari Senen paginja. Sementara itu mereka saksikan pula pembesar2 pemerintahan lainnja diangkut dan dikumpulkan mendjadi satu di Istana Negara sbg tawanan, dan setjara berangsur2 pula diangkut keluar Istana ketempat pembuangan.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Bekas Intendans Istana:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pak Ngatidjo, seorang pegawai Sek. Musik di Jogja, djuga memiliki pengalaman2 pada saat penjerangan tentara Belanda itu. Waktu itu ia masih mendjabat anggota Staf Rumah Tangga Istana Negara, sebagai Intendans. Dituturkan pengalaman dan kesan2nja pada saat2 genting itu sbb:</p>
<p>“Presiden pada saat penjerangan itu pagi2 sudah bangun, tapi masih dalam pijama. Saja waktu itu sedang sibuk2nja mengurusi anak2 anggota CPM jang semalam2an baru sadja mengadakan razzia.</p>
<p>Kalau tidak salah, orang jang pertama2 datang di Istana ialah Komodor Surjadarma, kl. djam 06.30. Bung Sjahrir waktu itu menginap di Istana, belum lama datang dari Djakarta.</p>
<p>Antara lain jang dapat saja saksikan waktu itu ialah perundingan2 jang dilakukan diruang belakang. Tapi apa jang dirundingkan saja tidak tahu. Kesibukan2 memang tampak waktu itu. Tapi semuanja berdjalan dengan tenang.</p>
<p>Benteng Vredenburg dimuka Istana dibom. Bu Fatmawati dengan semua wanita dan anak2 dikumpulkan dalam sebuah kamar diruang paviljun disebelah utara.</p>
<p>Pendek kata sampai sekian lama dalam Istana semuanja tenang. Tapi ini berobah dengan segera ketika dikibarkan bendera putih. Waktu itu saja melihat gelagat2 jang tidak enak. Begitupun saja rasa anggota2 pengawal jang sampai waktu itu tetap mengadakan perlawanan seru.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Suasana panik&#8230;..</strong><br />
Suasana panik timbul. Apa jg terdjadi kemudian saja tidak tahu. Melihat gelagat jg tidak enak itu, saja segera melontjat melalui tembok belakang, keluar &#8212; dan dgn setjara kebetulan bertemu dengan Letkol Latief, jang segera mengadjak saja keluar kota, Bantul, untuk membikin verslag tentang apa jang saja ketahui tentang keadaan Istana waktu itu”.</p>
<p>Demikian Pak Ngatidjo, jang pernah mendjabat Intendans Istana Negara di Jogja.</p>
<p>*</p>
<p style="text-align: justify;">George MC.Turnan Kahin menulis:</p>
<p>“Kira2 tengah hari, setelah kota Jogja dikepung, Brigade Marine Belanda, ditambah dengan pasukan2 Ambon dari KNIL telah berhasil menjusup kedalam pusat kota, ketempat Istana Presiden.<br />
Para pengawal Istana mempertahankan diri, tetapi kemudian diperintahkan oleh Sukarno untuk menjerah, karena penjerang2 terlalu banjak&#8230;..”</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p style="text-align: justify;">Dan beginilah tjeriteranja wartawan Antara Sugiono dalam bukunja:</p>
<p>“Kira2 pada djam 16.00 pasukan pelopor Belanda telah mengepung Istana Presiden. Perlawanan dari pasukan pengawal Istana berdjalan dengan seru, sehingga menjebabkan banjak korban dari pihak Belanda. Pasukan pengawal Istana itu walaupun telah diperintahkan oleh pihak atasan untuk tidak mengadakan perlawanan, namun sekali itu mereka “tidak mau taat” kepada perintah tersebut. Mereka tidak ingin Istana dan Presidennja dihina oleh orang lain.</p>
<p>Pasukan2 pelopor Belanda membalas perlawanan pengawal2 Istana itu dengan tembakan sendjata berat. Ketika mengetahui bahwa pengawal tidak mau menjerah begitu sadja, maka pihak tentara Belanda mengantjam hendak menghantjur-leburkan Istana serta seisinja apabila pihak Istana tidak menghentikan perlawanannja.</p>
<p>Dengan pertimbangn2 jang mungkin memakai perasaan seisi Istana dan pengawal2 maka terpaksalah perlawanan dihentikan, meskipun dengan hati parah.</p>
<p>Kemudian kain putih dikembangkan orang didepan Istana tanda tiada perlawanan lagi. Dengan dilambai2kannja kain putih oleh seorang pegawai Istana tersebut, mengertilah Belanda bahwa seisi Istana telah menghentikan perlawanannja. Antjaman2 jang berupa tembakan granat dan tembakan2 lainnja oleh Belanda segera dihentikan”.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p style="text-align: justify;">Nasibnja 3 maklumat pemerintah jg terachir<br />
Sebelum Belanda berhasil menduduki seluruh kota Jogjakarta, dan menangkap presiden Sukarno beserta lainnja, pemerintah R.I. dalam sebuah sidang kabinet jang kilat telah membikin 3 maklumat Pengumuman pemerintah RI, amanat pres. dan wk.pres. jg a.l. mengandjurkan kepada rakjat untuk meneruskan perdjuangan melawan Belanda, dan bahwa Pemerintah tetap melakukan kewadjibannja apapun.</p>
<p>Maklumat wk. Presidenlah, jang djuga merangkap menteri Pertahanan a.l. telah merupakan suatu order Harian, dan memberi kuasa kepada Angkatan Perang dan semua instansi Negara untuk berdjuang terus.<br />
Soalnja sekarang ialah apakah ke-3 maklumat ini dapat tertangkap oleh orang banjak atau tidak, dan apa sebab2nja.</p>
<p>Menarik djuga laporan masing2 orang mengenai hal ini:</p>
<p>Sugiono menulis dalam bukunja:</p>
<p>“Kantor berita “Antara” jang sedjak pagi itu telah siap dengan pemantjarnja, segera dapat menjiarkan berita2 keseluruh dunia. Djuga amanat Presiden dan wkl presiden jg ditudjukan kepada seluruh rakjat Indonesia sebagian besar masih dapat disiarkan oleh KB tersebut sampai pada saat2 keadaan tidak memungkinkan lagi bagi marconist untuk mendjalankan kewadjibannja.</p>
<p>Djuga RRI masih sempat pula menjiarkan pengumuman pemerintah dan amanat Presiden dan Wk. presiden. Radio2 umum dan radio2 jang ada didalam rumah, segera dikerumuni oleh orang guna mendengarkan siaran2 jang sangat penting itu, jang diachiri dengan amanat Presiden dan Wk.Presiden jang sangat mengharukan bagi seluruh rakjat jang mendengarnja”.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknja George Kahin menulis:</p>
<p>“Jang sangat penting buat orang2 Belanda ialah kenjataan bahwa mereka berhasil membungkemkan stasion RRI Jogja, sebelum Sukarno, Hatta dan Natsir berhasil mengutjapkan pidato2nja berisi andjuran2 dan petundjuk2 kepada rakjat. Pidato2 ini disiapkan tidak lama setelah sidang kabinet di Istana Presiden djam 10 pagi.</p>
<p>Isi daripada pidato ini tidak diketahui oleh orang2 Indonesia diluar Jogjakarta, dan djuga tidak diketahui oleh Komisi Djasa2 Baik dari PBB. Mereka baru memperolehnja pada pertengahan bulan Djanuari 1949, setelah seorang Amerika memperolehnja dari Gerakan Bawah Tanah di Jogja, dengan bantuan dua wanita Indonesia jang berani, nona2 Jo Abdurachman dan Jo Kurianingrat”.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p style="text-align: justify;">Dan menurut buku “Sedjarah Radio di Indonesia” (terbitan RRI 1953), duduk perkaranja adalah sebagai berikut:</p>
<p>“Siaran2 berdjalan terus. Sebab pemantjar2 masih diudara. Tidak lama kemudian ada bunji tilpon mendering dari Kaliurang, mendering terus, segera diterima. Kawan2 Seksi Dalam Negeri, maupun Luar Negeri berkumpul mendengarkan pengumuman Pemerintah jang didiktekan dari Kaliurang. Ini segera disiarkan, disiarkan dengan segenap pemantjar.</p>
<p>Dalam pada itu pengeboman dengan bomber penjelundup berdjalan terus. Sasarannja benteng, jang terletak didepan studio RRI. Sekali bom djatuh. Kawan2 masih bertahan, sambil menjiapkan apa2 jang perlu.<br />
Bom kedua didekat benteng. Pegawai2 Radio melontjat dari tembok belakang, lewat alun2 mentjari tempat. Tidak antara lama djuga pemantjar2 lenjap dari udara&#8230;..”</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p style="text-align: justify;">Duduk perkara jang sebenarnja menurut laporan Sumarmadi, tadinja kepala studio Jogja, jang sekarang bekerdja sebagai kepala bagian siaran di Djakarta ialah sbb: “Selagi orang2 distudio menjiarkan maklumat2 tadi, sebetulnja pemantjar2 jang letaknja lebih dekat Maguwo sudah diduduki Belanda terlebih dahulu dan dibungkemkan sehingga apa jang diutjapkan didalam studio, toh tidak terdengar orang”.</p>
<p>Dan maklumat2 perintah ini kemudian disebar2kan didalam kota setjara “dibawah tanah”, hal mana djuga ditulis oleh George Kahin, dan oleh pelapor kita jang lain Pak Besut sbb:</p>
<p>“Selama 1 bulan saja “bergerilja” dalam kota dengan menjebarkan surat2 selebaran amanat Bung Hatta sebelum ditangkap, dll, disamping mentjari penghidupan dengan sdr2 Harjoto, Suirjodipuro dari RRI siaran luar negeri, dll. Pada tg. 15 Djanuari 1949 ketika sedang berunding dengan kawan2 redaksi “Nasional” di Bedji, maka datang Letnan Bakker dari IVG atas petundjuk seorang mata2 bangsa Indonesia mentjari seorang jg bernama “Pisut”.</p>
<p>Dari petundjuk mata2 jang berada didjalan raja, maka diketahui saja adalah Pak Besut dan dengan antjaman stengun harus berdiri didekat tembok muka kantor. Bersama2 dengan sdr Mashud Hardjokusumo dan sdr. S.Bromartojo (sekarang anggota konsulat RI di Bangkok) saja dibawa kekantor IVG.</p>
<p>Dengan surat Mgr.Sugijopranoto S,J., Apostolis Vicaris di Semarang jang waktu itu berada di Jogja, maka isteri saja berhasil menemukan saja di IVG setelah berdebat dengan komandan IVG Major Vosveld. Mungkin oleh karena itu, maka selama di IVG saja terhindar dari pukulan2 dan penganiajaan lain2, lebih2 hilang tak tertentu kuburnja seperti kepala PTT Suharto jang ditangkap oleh Belanda sore hari sesudah penangkapan saja.</p>
<p>Beberapa djam sebelum ditangkap, saja masih bertemu dengan sdr.Suharto didjembatan Kewek, tempat ditembaknja sdr.Ruslan Abdulgani sebulan jl. Dan dalam pertemuan itu sdr.Suharto mengutjapkan “andum slamet” kepada saja, ternjata utjapan itu sebagai kata terachir.<br />
Dari dokumen pribadi/SIASAT 1955.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1127</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malam Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka 2013</title>
		<link>http://supartobrata.com/?p=1111</link>
		<comments>http://supartobrata.com/?p=1111#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Nov 2013 04:14:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://supartobrata.com/?p=1111</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 22 Oktober 2013 saya menerima email dari Humas Perpustakaan Nasional Undangan untuk menghadiri Acara Gemilang Perpustakaan Nasional dalam Rangka Penghargaan Nugraha Jasa Darma Pustaloka 2013 yang akan diadakan di Taman Ismail Marzuki.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/Suparto-Brata1.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/Suparto-Brata1-199x300.jpg" alt="" title="Suparto Brata" width="199" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1121" /></a><br />
Pada tanggal 22 Oktober 2013 saya menerima email dari Humas Perpustakaan Nasional Undangan untuk menghadiri Acara Gemilang Perpustakaan Nasional dalam Rangka Penghargaan Nugraha Jasa Darma Pustaloka 2013 yang akan diadakan di Taman<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-brata-perpustakaan-nasional.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1118" title="suparto-brata-perpustakaan-nasional" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-brata-perpustakaan-nasional-300x225.jpg" alt="Malam Penghargaan Nugra jasadarma Pustaloka 2013" width="300" height="225" /></a> Ismail Marzuki.<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-malam-penghargaan-nugraha-jasadarma-pustaloka.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1112" title="suparto-malam-penghargaan-nugraha-jasadarma-pustaloka" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-malam-penghargaan-nugraha-jasadarma-pustaloka-300x225.jpg" alt="Gemilang Perpustakaan Nasional" width="300" height="225" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-brata-penghargaan-gemilang-perpustakaan-nasional.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1115" title="suparto-brata- penghargaan-gemilang-perpustakaan-nasional" src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-brata-penghargaan-gemilang-perpustakaan-nasional-300x225.jpg" alt="Malam Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka 2013" width="300" height="225" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-brata-nugraha-jasadarma-pustaloka-2013.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-brata-nugraha-jasadarma-pustaloka-2013-300x225.jpg" alt="Malam Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka 2013" title="suparto-brata-nugraha-jasadarma-pustaloka-2013" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1123" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-brata-gemilang-perpustakaan-nasional.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-brata-gemilang-perpustakaan-nasional-300x225.jpg" alt="Malam Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka 2013" title="suparto-brata- gemilang-perpustakaan nasional" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1124" /></a><br />
<a href="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-brata-malam-penghargaan-nugraha-jasadarma-pustaloka-2013.jpg"><img src="http://supartobrata.com/wp-content/uploads/2013/11/suparto-brata-malam-penghargaan-nugraha-jasadarma-pustaloka-2013-300x235.jpg" alt="Malam Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka 2013" title="suparto-brata-malam penghargaan-nugraha-jasadarma-pustaloka-2013" width="300" height="235" class="alignleft size-medium wp-image-1125" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://supartobrata.com/?feed=rss2&amp;p=1111</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
