Translate into: EnglishAfrikaansالعربيةБългарскиCatalàČeskyCymraegDanskDeutschΕλληνικά EspañolEsperantoفارسیFrançaisHrvatskiBahasa IndonesiaÍslenskaItalianoעבריתLatina한국어MagyarBahasa MelayuNederlands日本語Norsk (Bokmål)PolskiPortuguês (brasileiro)RomânăРусскийSlovenščinaSrpskiSvenskaSuomiTagalogไทยTürkçeУкраїнська中文 / 漢語

I met this extraordinary person few weeks ago. Born on the February 27th, 1932, R.M. Suparto Brata is a man of letters. Often, he writes novels and short stories in Javanese. It makes him known as a Javanese literary writer. This is not a popular option in Indonesia, because mostly people don’t buy books written in Javanese. It’s a local language here.

Due to realistic condition of Javanese books selling, Suparto had to face many rejection letters from publishers. “Some of them even made me believe that they would publish my long story, which in fact then, they don’t,” he told me and laughed.

So, occasionally Suparto funded his own book printing. He is just too stubborn to give up. Here are several of his about 140s books:

Continue Reading »

100_0965

Saya masuk sekolah tahun 1938, zaman Belanda. Di sekolah desa, Angka Loro, di Sragen. Sekolah Angka Loro adalah sekolah yang paling rendah. Bahasa pengantar bahasa Jawa, 5 tahun tamat. Tidak diajar bahasa Belanda. Pada zaman itu mencari murid di desa agar mau masuk sekolah sangat susah. Banyak sekali anak desa teman-temanku bermain tidak mau masuk sekolah. Takut. Mengapa aku tidak takut? Sebab saudara-saudara sepupuku yang tinggal di Solo semua bersekolah. Sekolah HIS, yang pelajarannya pakai bahasa Belanda, tamat kelas 7. Jadi aku kalau sudah umur 6-7 tahun ya harus bersekolah. Sebab di desa adanya hanya sekolah Angka Loro (5 tahun tamat), bukan HIS (7 tahun tamat), tidak diajari bahasa Belanda, aku tetap harus masuk sekolah agar BISA MEMBACA DAN MANULIS
Continue Reading »

Ade Husnul Mawadah

ABSTRAK

Bangsa Indonesia tidak pernah dapat dilepaskan dari sejarahnya sebagai bangsa jajahan Belanda. Pada tahun 1596 dipimpin oleh Houtman dan de Kyzer, Belanda datang dan menjajah Indonesia, kemudian mengakui kedaulatan Republlik Indonesia pada 27 Desember 1949. Selama itulah (±350 tahun) Belanda telah melakukan banyak hal di Indonesia, di antaranya dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan sosial budaya. Hal itu tentu saja sangat mempengaruhi pembentukan mentalitas masyarkat Indonesia sebagai rakyat jajahan Belanda.

Continue Reading »

*

*

Eka Mayasari, aku ingat. Beberapa kali namanya masuk emailku. Pernah juga telepon. Mengundang mengikuti acara yang diselenggarakan oleh House of Sampoerna. Misalnya Pameran foto “sosok” Surabaya karya Hariyong (saya jadi salah seorang model sosoknya); Seminar sejarah napak tilas muhibah Hayamwuruk; Menjajal Surabaya Heritage Track (sayang undangannya per telepon tidak saya catat tempat dan waktunya, karena dijanjikan undangan tertulisnya menyusul, namun tidak saya terima, jadi saya tidak bisa hadir). Continue Reading »

Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, Hari Sumpah Pemuda, dan Hari Pemuda tahun 2009 Sekolah Ciputra Surabaya telah melaksanakan serangkaian kegiatan. Sebagai puncak peringatan tersebut adalah talk show dengan tema “Nasionalisme Dalam Karya Sastra Dan Di Kalangan Anak Muda”. Acara tersebut dilaksanakan pada tanggal 4 November 2009, jam 13.30-15.00 WIB di Aula Sekolah Ciputra, dengan mengundang saya sebagai narasumber pada acara tersebut. Yang menjadi pembawa acara Nadya Yusrina Putri (kelas 10B) sedang moderator Pak Amin, guru sastera Indonesia. Yang menjadi pokok (uraian tanya-jawab) dalam talk show tersebut selain kegiatan saya sebagai penulis buku, lebih mengerucut lagi kepada buku karangan saya serial Gadis Tangsi. Karena serial Gadis Tangsi selama tiga tahun belakangan sudah menjadi salah satu bacaan wajib buku sastra Indonesia di Sekolah Ciputra dari kelas 9-12. Maka para pelajar yang menghadiri talk show sudah faham betul cerita tentang Gadis Tangsi.

Continue Reading »

(ANALISIS PERBANDINGAN BAHASA, PANDANGAN HIDUP DAN TATA KRAMA)

Oleh:

Vincent Cahyadi
12 Science 1
2629 Words
SEKOLAH MENENGAH UMUM CIPUTRA
SURABAYA
2009

Daftar Isi

1. Kata Pengantar———————————————————————— 2
2. Abstrak ——————————————————————————– -3
3. Pendahuluan
- Latar Belakang ——————————————————————- 3
- Rumusan Masalah ————————————————————— 5
- Tujuan Penelitian —————————————————————- 5
- Manfaat Penelitian ————————————————————— 5
- Lingkup Penelitian ————————————————————— 5
- Metode Penelitian —————————————————————- 6
- Landasan teori ——————————————————————– 6
4. Pembahasan
- Penggunaan Bahasa Jawa Halus ———————————————–7
- Wayang Dimata Adat Istiadat keraton————————————— 9
- Tata Krama dalam Bersosialisasi———————————————– 11
5. Kesimpulan —————————————————————————– 13
6. Daftar Pustaka ————————————————————————– 14
7. Lampiran ——————————————————————————– 14

KATA PENGANTAR

Terima kasih dan syukur yang sebesar-besarnya saya berikan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya dan berkat-Nyalah saya dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah yang berjudul “BUDAYA KERATON DALAM NOVEL GADIS TANGSI, KERAJAAN RAMINEM DAN MAHLIGAI DI UFUK TIMUR KARYA SUPARTO BRATA” ini disusun sebagai pemenuhan tugas karya ilmiah.
Makalah ini tentu saja tidak akan dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kepada:
1. Erik Hoekstra selaku koordinator kepala SMU Ciputra Surabaya;
2. Drs. Endro S Eklas, M. Psi, selaku kepala sekolah SMU Ciputra Surabaya;
3. Ibu Meta, selaku supervisor dan juga guru bahasa Indonesia yang membimbing murid-murid SMU Ciputra;
4. Bu Desia serta Pak Widodo selaku penjaga LRC, yang telah memberikan banyak bantuan dan kesempatan dalam menyelesaikan makalah ini;
5. Suparto Brata selaku pengarang trilogi Gadis Tangsi
6. Keluarga yang senantiasa membantu;
7. dan teman-teman yang telah banyak membantu.
Walaupun penulis telah berusaha dengan maksimal, penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun supaya dalam kesempatan yang mendatang, penulis dapat membuat makalah yang jauh lebih baik.
Surabaya, 18 Maret 2009

ABSTRAK

Makalah yang berjudul “BUDAYA KERATON DALAM NOVEL GADIS TANGSI, KERAJAAN RAMINEM DAN MAHLIGAI DI UFUK TIMUR KARYA SUPARTO BRATA” secara umum mempunyai tujuan untuk membandingkan budaya dan adat istiadat keraton yang digambarkan oleh Suparto Brata dalam trilogi novel Gadis Tangsi. Perbandingan dilakukan dengan membandingkan budaya dan adat istiadat kraton dalam trilogi tersebut dengan budaya dan adat istiadat kraton yang sebenarnya. Latar waktu yang diambil oleh Suparto Brata dalam triloginya adalah masa penjajahan Belanda dan awal pendudukan Jepang. Oleh karena itu, makalah ini berisi tentang perbandingan budaya dan adat istiadat kraton dalam trilogi Gadis Tangsi dengan budaya dan adat istiadat kraton yang sebenarnya dalam kurun waktu yang bersamaan, yaitu sekitar tahun 1930-1945. Metode yang dipakai dalam makalah penelitian ini adalah studi pustaka dimana makalah ini menggunakan data tertulis sebagai landasan teori. Jadi secara kesimpulan di bagian akhir dari makalah ini kita dapat mengetahui kebenaran dari budaya Keraton yang dituliskan oleh Suparto Brata dalam karyanya.

Continue Reading »

Dari artikel saya “Surabaya 63 tahun yang lalu” ada comment dari seorang Cousin begini: Saya sedang mencari segala info tentang seseorang yang belum pernah saya lihat dan itu kakek saya, Katamhadi. Bisakah bapak membantu saya?
Tulisan berikut adalah pengetahuan saya tentang Katamhadi.

Continue Reading »

Mochammad Fikri
Tenaga Teknis Balai Bahasa Semarang

ABSTRACT

The narrative analysis of Lara Lapane Kaum Republik aims to expose the elements of literature, such as charakter, plot, and setting. All elements become a unity which supports each other to the narrative explanation of the novel. In the structure of this narrative, the most prominent element is the existence of events which interelates one another so that it is able to describe the plot of story.

Keywords: elements of literature, narrative explanation.


kaum-republik
1. Pengantar

Struktur di dalam suatu teks harus mempunyai elemen-elemen atau unsur-unsur yang mendukung keutuhan teks tersebut. Unsur-unsur seperti tokoh, alur cerita, dan latar merupakan beberapa unsur pembangun teks yang memegang peranan penting di dalam analitis struktur suatu teks. Unsur-unsur yang mendukung teks tersebut juga terdapat di dalam suatu naratif dan merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Unsur-unsur tersebut adalah tokoh, kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang tersusun secara berurutan dan saling berhubungan sehingga membentuk alur cerita dan latar.

Continue Reading »

kanggo Bp. Suparto Brata
Ing tanggap warsa ka-78, tgl 27 Pebruari 2010

Amung tembung kang dadi pisungsung
dudu kembang mawar abang
awit kembang mawar abang
duweke kanoman kang lagi kasmaran

amung tembung kang dadi pisungsung
dakulungake saka kadohan
ing pangajap bisaa dadi sesulih
sakalir rasa kang tumpuk undhung

najan amung tembung kang dakduweni
nanging iku prentule ati
mula tampanana kanthi legawa
sapa ngerti bisa ndhudhah nostalgia mangsa kawuri
nalika urip kasangsaya
nalika adus kringet mbela negara

kang dakelingi tembungmu:
mendhak mendhukule kahanan
iku pasrening panguripan
ngelak lan luwe
iku winih kang sinebar
bakal thukul, ngrembuyung, ngembang,
banjur awoh dadi woh kabagyan lan kawicaksanan

matur nuwun, bapa
wis kok parengake nyinaoni ilmu
kang ora kamot ing kamus lan ensiklopedi

lan saiki
amung tembung kang dadi pisungsung
dudu kembang mawar abang
awit kembang mawar abang
duweke kanoman kang lagi kasmaran.

Salatiga, Pebruari 2010.

Dikutip dari:
Majalah Panjebar Semangat No.12
20 Maret 2010 halaman Taman Geguritan.

Ulang tahun ke-78

Surabaya 27 Februari 1932-2010

5

Sampul buku karya Veronica Myra Wijaya.

Veronica Myra Wijaya merupakan mahasiswa aktif jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra Surabaya. Desain dan keindahan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perempuan kelahiran Surabaya 22 Januari 1989. Semangatnya untuk memberi yang terbaik dalam setiap desainnya membuat ia selalu berusaha untuk membuat ide-ide kreatif yang unik.

Mahasiswa yang sekarang aktif sebagai salah satu himpunan mahasiswa Desain Komunikasi Visual ini sangat mencintai fotografi dan budaya tradisional Indonesia. Maka suatu anugrah berkat kerajinannya surfing di internet bisa bertemu dengan nama Suparto Brata, yang selalu berusaha melestarikan budaya Indonesia melalui karya-karya sastra Jawa. Dari situ Myra lalu menemuinya di rumahnya.

Continue Reading »

Back to Top

Suparto Brata Blog is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!