Translate into: EnglishAfrikaansالعربيةБългарскиCatalàČeskyCymraegDanskDeutschΕλληνικά EspañolEsperantoفارسیFrançaisHrvatskiBahasa IndonesiaÍslenskaItalianoעבריתLatina한국어MagyarBahasa MelayuNederlands日本語Norsk (Bokmål)PolskiPortuguês (brasileiro)RomânăРусскийSlovenščinaSrpskiSvenskaSuomiTagalogไทยTürkçeУкраїнська中文 / 漢語

Oleh Yulitin Sungkowati
Balai Bahasa Surabaya, Jalan Siwalanpanji IIA, Buduran, Sidoarjo 61252.
Email: yulitins@yahoo.com

Abstract

This writing is aimed to discuss about Indonesian history that is described and interpreted by Suparto brata in his novels, written in Indonesian and Javanese, mainly Sala Lelimengan (1965), Surabaya Tumpah darahku (1978), November Merah (1984), Kremil (2002), Saksi Mata (2002), Donyane Wong Culika (2004), Gadis Tangsi (2004), Mencari Sarang Angin (2005), Kerajaan Raminem (2005), Dom Sumurup ing Banyu (2006), and Mahligai di Ufuk Timur (2007). The course of Indonesian history in the novels ranges from Dutch colonialism era up to new sociopolitical order era. If the formal history records famous person only (usually men only), the history of Suparto Brata’s version presents the role and struggle of people from various regime all with its humanistic perspective. Indonesian history is interpreted as the struggle against stupidity and betrayal of people who didn’t learn from the past. The choice of using historical subject can be read and interpreted as an effort of the writer to question and ask readers to understand and appreciate the history of their nation as a meaningful thing, a valuable lesson for a better future. Continue Reading »

Oleh: Yulitin Sungkowati

Abstract:

The writing discusses about the trail of Jawa style traveling story in Indonesian literature, especially in novel Mencari Sarang Angin that created by Suparto Brata. The trail of Java style traveling story is seen in the identification of puppet’s character Raden Janaka, imitation theme to enrich internal experience, the background of big city such as Surabaya, Surakarta, and Yogyakarta, a symbolic tittle.

Keywords: Java style traveling story, Indonesian literature.

Identifikasi pada Tokoh Wayang Raden Janaka

Menurut Widati (1991;14), tokoh utama dalam kisah perjalanan model Jawa telah terpakem, yaitu sang tokoh adalah seorang pangeran yang menyamar menjadi orang biasa dengan semua ciri orang kecil. Penokohan seperti itu merupakan pengaruh model penceritaan wayang atau transformasi dari cerita pewayangan. Dalam Ngulandara dan Serat Riyanta ditemukan indeks konsep ksatria Raden Janaka. Konsep pahlawan seperti itu tidak ditemukan dalam kisah perjalanan model Barat karena unsur realisme dalam sastra Barat lebih menonjol. Tokoh pelaku perjalanan adalah manusia biasa. Pengembaraan tokoh dalam kisah perjalanan model Jawa biasanya didahului oleh adanya konflik. Hal itu terkait dengan falsafah Jawa, khususnya yang dianut oleh kaum priyayi yang mementingkan rasa sehingga selalu berusaha menghindari konflik terbuka. Sang tokoh mengembara atau melakukan perjalanan untuk meredakan ketegangan dalam jiwanya sebagai suatu inisiasi (Prabowo, 1995;184). Continue Reading »

 Gubernur Suryo

LELABUHANÉ GUBERNUR JAWA TIMUR I R.M.T.A.SURYO. Menceritakan riwayat hidup RMTA Suryo sejak jadi Bupati di Magetan zaman diduduki Jepang, lalu jadi Syucokan di Bojonegoro, lalu menjadi Gubernur Jawa Timur di Surabaya menghadapi pasukan Inggris pimpinan Maj.Gen.E.C.Mansergh yang mengultimatum akan menggempur Kota Surabaya dari laut, darat dan udara, membuahkan pertempuran 10 November 1945, menceritakan juga pemberontakan PKI di Madiun 1948, yang akhir-akhirnya RMTA Suryo terbunuh oleh sisa-sisa pasukan pemberontakan PKI tersebut. Cerita biografi sejarah yang perlu diketahui oleh para generasi muda.

 Gedhong Setan

GEDHONG SETAN (‘t SPOOKHUIS). Cerita misteri tentang Gedung Setan di Pasarkembang Surabaya pada zaman Belanda. Hampir semua studen HBS bangsa Belanda pada percaya dengan adanya setan di Gedung Setan, tetapi malah Totje yang orang Jawa tidak percaya. Maka Totje dijadikan pertaruhan berani-tidak masuk ke gedung itu pada malam hari Jumat Kliwon. Tantangan tadi diterima oleh Totje, dia akan masuk dan harus memperoleh bukti bahwa dia betul-betul masuk gedung tadi. Karena itu dipinjami kamera foto, untuk menjelaskan keberaniannya. Ternyata pada hari senja pemberangkatan ada seorang noniek Belanda yang mau ikut menemaninya masuk Gedung Setan itu. Mereka masuk ke sana pada senja hari gerimis, berbau kemenyan dibakar, lalu apa yang terjadi? Baca saja bukunya (dalam bahasa Jawa).

Nona Sekretaris

NONA SEKRETARIS. Peradaban manusia menurut futuristik Alfin Toffler, dibagi jadi 3 gelombang prahara. Yaitu Abad Pertanian, Abad Industri, dan Abad Informasi. Mengikuti pembagian tadi maka cerita roman Nona Sekretaris ini tergolong lelakon yang terjadi pada akhir Abad Industri. Abad Informasi sedang akan mulai. Siaran TV hanya ada TVRI. HP belum ada, telepon rumah masih sangat terbatas. Suratkabar Jakarta bisa menembus ke daerah, beredarnya terlambat sehari dari hari terbitnya. Sirtu seorang gadis dari Sragen, pergi ke Jakarta cari kehidupan berbekal kepandaiannya kursus-kursus ketrampilan mengetik, steno, tata buku, dan berbahasa Inggris. Dapat pekerjaan di Biro Pentas Artis, suatu kantor impresario yang mengatur pentas-pentas musik dan tari. Di situ Sirtu bergaul dengan para seniwati musik dan tari, dan juga dengan karyawan event-organisatornya. Sirtu terjerat pergaulan para seniman panggung yang sering obral kisah cinta dan perselingkuhan, seperti layaknya lelakon yang terjadi sejak dulu kala hingga saat ini. Betapa kisah cinta Sirtu tidak kalah seru dari kisah-kisah di infotement yang berlangsung saat ini. Suatu pelajaran yang berharga untuk hidup memilih jodoh.

 Cintrong Paju-pat

CINTRONG PAJU-PAT. Luhur direktur muda perusahaan iklan di Jakarta dijodohkan dengan Abrit Mayamaya, bintang senotron. Sebetulnya masih sama-sama mau mempertimbangkan keputusannya, saling menyelidik pribadi lawan masing-masing. Di kantor periklanan menerima karyawati baru bernama Lirih Nagari yang dikaryakan pada bidang komputer. Karena jaringan komputer sering rusak Lirih membawa ahli teknik Trengginas untuk memperbaiki jaringan komputer di kantornya. Ternyata Trengginas adalah teman tercinta Abrit Mayamaya ketika menjadi “Arèk ITS Cuk!” di Surabaya. Sedang Luhur, ketika kemudian bertemu Lirih, tahu bahwa karyawati baru itu pernah berjumpa mesra dengan Luhur di lokasi syuting Abrit. Lalu, bagaimana akhir kisah cinta segi empat itu? Meskipun buku sastra Jawa, hebohnya dan aktualnya tidak kalah dengan siaran Reality Shaw, Infotainment maupun Entertainment yang sedang ngetop jadi rerasanan, pelajaran budaya baru dan gaya hidup bangsa Indonesia zaman sekarang. Tetapi penulisan pada buku pasti lebih banyak kata dan ungkapan bijak yang bisa direkam dijadikan etika peradaban sopan-santun dan kesantunan tadi bisa ditularkan kepada generasi berikutnya; sedang budaya menonton (TV) dan mendengar hakekatnya (nikmatnya) tidak bisa diturunkan kepada generasi berikutnya (generasi berikutnya tidak mendapat ilmu apa-apa dari nikmatnya nonton TV generasi yang lalu).

 Pawestri

PAWÈSTRI TANPA IDHÈNTITI. Panuluh direktur utama PT.Frozenmeat Raya yang mengimport daging beku dari Australia kepergok kena rasia operasi penyakit masyarakat oleh kepolisian sedang berkencan dengan perempuan di hotel. Dirasia polisi perempuannya terkejut, tak sadarkan diri. Oleh Panuluh ditolong, dibawa ke rumah sakit. Sembuh, sadar, tapi amnesia, sama sekali tidak ingat riwayat hidupnya. Maka dipanggil saja dengan nama Pawèstri. Karena sehat, tapi tidak jelas identitasnya, dibawa pulang oleh Panuluh ke rumahnya di Jatiwaringin Jakarta Timur, diperlakukan sebagai keluarga. Diprotes oleh Pangèstu, putera Panuluh yang jadi agen penjualan daging beku di Depok. Pangèstu khawatir kalau kisah asmara ayahnya dengan Pawèstri berkembang biak, menikah dan mengganggu kepewarisan perusahaannya import daging itu. Maka kehidupan rumah tangga Panuluh di Jatiwaringin selalu diganggu gugat. Tetapi Pawèstri, meskipun amnesia, ternyata cekatan dan berpikir cerdas memajukan perusahaan daging beku import itu. Atas kerja ulet dan gagasan Pawèstri perusahaan daging PT Frozenmeat Raya berkembang sampai di daerah Serpong Raya, merencanakan kalau Jalan Serpong Raya telah tembus Bandara Sukarno-Hatta, akan melakukan import daging melalui udara. Dan Dengan berkembangnya perusahaan daging di Tangerang-Jakarta Barat Pawèstri telah membelikan rumah bagi stafnya di Cluster Latinos perumahan elite BSD (Bumi Serpong Damai). Pangèstu mau berbuat apa? Solusinya dikisahkan oleh Suparto Brata pada roman sastra Jawa garapan 2009. Sastera Jawa tidak selalu menceritakan kehidupan priyayi Jawa zaman feodal, atau orang desa yang hidupnya miskin bodoh tertinggal zaman, buku ini menceritakan kiat-kiat kehidupan orang Jawa pada zaman ketika buku ini terbit belum dilewatinya.

 Donyane

DONYANÉ WONG CULIKA. Ini cerita Jawa. Bahasa Jawa, rasa Jawa, pikiran Jawa di Tanah Jawa abad 20. Ini cerita orang Jawa di desa, di sawah, di kota, di rumah kampung, di rumah gedung, di hotel, di guest-house, di istana raja. Ini cerita penghidupan Sabar kusir dokar, Wongsotukiran yang gugontuhonen, Nini Sali janda tua tanpa keluwarga, Barman si penjual kelapa, Painem bocah kurus penyakitan, Dalimin yang setia kepada majikan bangsawannya, Kariya Mentes petani yang usaha perusahaan batu bata,, Den Darmin yang idealis, Ki Pratiknya dalang wayang, Ndara Kangjeng Jodi bangsawan yang menguber cintanya, Jumilah perawan desa yang Gerwani, Sangkarku penabuh gamelan yang seniman Lekra, Ndrajeng Manik putri kraton, Ndara Jemba putri bangsawan tanpa ayah, Sastra Kentrung guru tulis yang buta, Nyi Lurah Badrakirana pesinden istana raja, Santinet tukang kridit kain, Bonet mahasiswa, Steffy Tjia etnis Cina yang patriot Indonesia. Dan banyak lagi tokoh berkarakter beda di cerita DONYANÉ WONG CULIKA yang arti judul itu (INDONESIA) NEGERINYA ORANG CURANG. Buku ini menceritakan orang Jawa zaman Belanda, zaman perjuangan melawan Belanda, zaman Jogjakarta Ibu Kota RI, zaman Nasakom (Nasional-Agama-Komunis), zaman Orde Baru. Ini cerita orang Jawa, kebiasaannya, wataknya, perasaannya, pikirannya, pekertinya, polah-tingkahnya, pekerjaannya, sandang-pangannya, budayanya, agamanya, zamannya, negaranya, sejarahnya, buminya, keadaan alamnya, nasibnya, takdirnya, jantra kehidupannya, dan barangkali ramalan masa depannya. Cerita ini digubah dengan bahasa Jawa ngoko setebal 538 halaman, bahasa sastra Jawa standar ketika zaman cerita rekaan ini terjadi.

Buku-buku di atas akan diterbitkan tahun 2010 oleh Penerbit Narasi Jogjakarta. Hanya dicetak sedikit, sesuai kemampuan modal pengarangnya. Maka selalulah menghubungi Penerbit NARASI Jogjakarta, agar tidak kehabisan. Alamat Penerbit Narasi Jogjakarta:

PENERBIT NARASI
Jalan Irian Jaya D-24, Perum Nogotirto II Jogjakarta 55292
Telp. (0274) 7103084, Faks. (0274) 620879
Email: penerbitnarasi@yahoo.com
Blog: www.penerbitnarasi.blogspot.com

MS. Ka'ban

Foto dikutip dari Metropolis Jawa Pos, Kamis 7 Januari 2010

 RM. Yunani

Dunia kewartawanan Jawa Timur berduka kehilangan seorang wartawan seniornya Rudolf Mateus Yunani Prawiranegara, meninggal dunia tadi pagi 26 Desember 2009 jam 0830 di Graha Amerta (RS Dr. Soetomo) Surabaya. Begitu dikabarkan oleh JTV jam 1925 malam harinya.

Senin 19 Oktober 2009 saya dapat sms dari Mas JFX Hoery (PSJB Bojonegoro) harap membuka Kemah Budaya Jawa di Dander Bojonegoro tanggal 26 Oktober nanti. Saya tolak, karena saya tidak cakap berbicara. Saya anjurkan yang membuka Mas Yunani. Mas Hoery balik tanya apa Mas Yunani sudah sembuh, kabarnya masuk RS. Berita sakitnya Mas Yunani didengar ketika para pengarang sastra Jawa se provinsi Jatim diundang panitia Prakonggros Bahasa Jawa V (KBJ) di Hotel Satelit Surabaya 7-8-9 Oktober 2009. Saya tidak tahu berita sakitnya Mas Yunani itu.

Continue Reading »

BAHAN pokoknya sama: pengajaran sastera Indonesia di sekolah lanjutan.

Budi Darma dalam kertas kerjanya mengutip ejekan Paul Theroux: Indonesia, Republik Tanpa Sastra. Sastera terpencil dari sebagian besar manusia Indonesia. Dan peserta seminar agaknya setuju dengan ini. Rasa was-was menghinggapi para pembicara dalam Seminar Pengajaran Sastera Indonesia di Sekolah Lanjutan yang berlangsung tanggal 11 – 12 September 1973 di Surabaya. Betapa celakanya nanti bangsa ini apabila keasingan akan sastera berlarut-larut.

Kebanyakan pemrasaran utama serta pembanding yang tidak kurang dari 9 orang berasal dari kaum pendidik, merasa gelisah karena terlibat, bahwa dunia tempatnya berbakti ternyata menelorkan suasana kering sastera. Mereka mengorek-orek dunia pangajaran sastera Indonesia. Apa gerangan penyebab bangsa Indonesia kalis sastera. Continue Reading »

Rabu, 4 November 2009

Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, Hari Sumpah Pemuda, dan Hari Pemuda, Sekolah Ciputra (Surabaya) melaksanakan serangkaian kegiatan. Sebagai puncak peringatan tersebut adalah talk show dengan tema “Nasionalisme Dalam Karya Sastra Dan Di Kalangan Anak Muda”. Acara tadi dilaksanakan pada hari Rabu 4 November 2009, jam 13.30-15.00 WIB di Aula Sekolah Ciputra Surabaya, dengan narasumber pengarang trilogi Gadis Tangsi, Suparto Brata, yang bukunya tersebut dalam tiga tahunan ini menjadi pelajaran wajib dibaca oleh para pelajar klas 10-12. Pembawa acaraNadya Yusrina Putri (klas 10B). Moderator Bapak Amin (guru bahasa Indonesia).

Sekolah Ciputra Surabaya adalah sekolah Internasional Baccalaureate yang dari primary-middle-diploma programnya bahasa pengantarnya bahasa Inggris.Tempatnya di daerah Ciputra-land, daerah baru Kota Surabaya Barat.

Continue Reading »

Trillium Office & Residence

Gambar Trillium Office & Residence diambil dari Jawa Pos tanggal 16 November 2009

Novel bahasa Indonesia Suparto Brata 2009

cooltext439297486

scan00012

Saya punya tetangga, sepasang suami-istri. Istrinya bekas pelacur, suaminya bekas pelengganannya. Hidupnya rukun bahagia. Namun, dilanda gegernya zaman, Si Suami disekap di penjara. Si Istri terpaksa hidup kembali menjual tubuhnya. Maka, saya tulislah riwayatnya menjadi cerita pendek dengan judul Kembali Ke Pangkalan, dimuat di majalah SIASAT (Jakarta, redaksi Rosihan Anwar), No. 357 Th. VIII, 11 April 1954.

Continue Reading »

Saya heran sekali. Kata orang sudah diselenggarakan Konggres Bahasa Jawa 4 kali, berjarak lima tahunan selang seli pada tiga propinsi, yaitu Jateng, Jatim, dan DIJ. Niatnya agar bahasa Jawa dan sastra Jawa bisa bersemarak kembali jadi bahasa harian orang Jawa di tiga propinsi itu. Sudah diselenggarakan empat kali, artinya niatan tadi kan sudah berlangsung 20 tahun. Ternyata keadaan bahasa Jawa maupun sastra Jawa sebelum dilaksanakan konggres-konggres dan saat ini sama saja. Bahasa Jawa zaman sekarang juga tidak semarak seperti zaman sebelum diselenggarakannya konggres-konggres. Sastra Jawa, siapapun yang ingin berkarya, maupun siapa pun yang ingin membaca sastra Jawa ya hanya pada majalah bahasa Jawa Penjebar Semangat, Jaya Baya dan Djaka Lodang. Tidak berkembang lagi, bahkan boleh dikatakan surut, karena jumlah pelenggan majalah-majalah tadi kian hari kian surut, sehingga jumlah yang beredar sebelum ada konggres bahasa Jawa lebih banyak daripada masa kini. Dengan begitu dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil konggres-konggres yang mestinya diikuti langkah-langkah peraturan pemerintah yang seharusnya dipatuhi di tiga propinsi itu, ternyata sangat minim dilakukan. Kalau pun ada Perdanya, juga tidak dipatuhi pelaksanaannya oleh masyarakatnya di tiga propinsi tadi. Sia-sia?
Continue Reading »

Back to Top

Suparto Brata Blog is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!